. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label Ini Alasannya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ini Alasannya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 04 April 2019

April Ini Waktu Terbaik Nanjak Gunung Andong dan Prau, Ini Alasannya

Bulan April ini merupakan waktu terbaik buat para pemburu atap-atap bumi yang ingin mendaki dua gunung mungil namun berpanorama spektakuler di Jawa Tengah, yakni Gunung Andong dan Gunung Prau.

Kenapa? Karena berdasarkan informasi pemilik akun Instagram (IG) @andongviapendem selepas April, Gunung Andong bakal ditutup lama.

"Temen2 pingin naik Andong, silakan bulan April ini, dikarenakan Gunung Andong akan ditutup untuk semua jalur pendakian mulai 6 Mei sampai 5 Juni 2019," tulis akun tersebut baru-baru ini.

Di kolom komentar, akun tersebut menjelaskan Andong jarang sekali ditutup, bulan puasa nanti Perhutani mau menutupnya untuk memulihkan ekosistem.

"Tiap Minggu Andong dijejali ribuan pendaki jadi perlu istirahat, kasian dieksploitasi terus," terang akun itu.

Dengan penutupan itu, lanjut akun itu, ke depan Andong bisa lebih alami dan lestari rimbanya. "Sehingga lebih eksotis untuk dikunjungi," jelasnya.

Kalau tidak bisa/sempat mendaki Andong April ini, sambung akun itu, berarti mendakinya baru bisa nanti pas Lebaran 1 hari, tanggal 5 Juni, bisa sambil bawa kue kering.

Informasi penutupan Andong itu kemudian diteruskan oleh pemilik akun IG @pesonagunung.

"Ada yang rencana mau ke Gunung Andong? Bulan April ini dipuas2in, sebelum ditutup guys😊," tulis akun tersebut.

Seperti disebut di atas, kendati Andong yang berada di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah merupakan gunung berukuran kecil hanya ketinggian 1.726  meter di atas permukaan laut (Mdpl), namun gunung bertipe perisai ini memiliki pemandangan yang amat menawan dari puncaknya.

Gunung ini disebut-sebut cocok untuk pendaki pemula karena jalur pendakiannya terbilang cukup mudah, sebab sudah dibuat berbentuk tangga oleh pengelola setempat.

Sekurangnya ada 2 jalur pendakian umum yang biasa digunakan para pendaki untuk mencapai puncak Andong, yaitu Jalur Sawit dan Jalur Pendem.

Via Jalur Sawit, pendaki cuma melewati 2 pos pendakian saja  yaitu Pos 1 yang bernama Gili Cino dan Pos 2 yang disebut Watu Wayang.

Pendaki akan bertemu perkebunan warga di lereng Gunung Andong di awal perjalanan, lalu memasuki hutan pinus yang merupakan titik permulaan pendakian ke puncak.

Jalur tersebut sudah berbentuk tangga dan jelas arahannya sehingga tidak perlu khawatir tersesat.

Kendati begitu jalur itu cukup menguras tenaga lantaran hanya terdapat sedikit bonus (jalan datar). Selebihnya pendaki harus melewati tanjakan sampai puncak.

Di batas akhir hutan pinus, ada vegetasi semak di kanan kiri jalur pendakian sehingga pendaki bisa menyaksikan pemandangan ke arah bawah yang cukup indah.

Cuma butuh sekitar 2 jam dari titik permulaan pendakian untuk  bisa sampai di puncak Gunung Andong.

Ada 4 puncak di atap gunung ini yaitu Puncak Makam yang ditandai sebuah makam, Puncak Jiwa yang kerap digunakan sebagai tempat berkemah, Puncak Alap-Alap, dan yang terakhir Puncak Andong yang merupakan puncak tertinggi.

Di puncaknya, pendaki bisa menikmati suguhan sejumlah gunung besar seperti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu di sisi Timur, lalu Gunung Sumbing, Sindoro, dan Gunung Slamet jauh di sisi Barat.

Kalau ingin melihat sunset dan sunrise, disarankan pendaki naik saat sore hari. Sebaiknya membawa tenda dome untuk bermalam.

Kalau malas membawanya, bisa numpang di warung yang ada di puncak.

Di warung itu Anda bisa memesan minuman hangat dan camilan gorengan buat menghangatkan badan.

Kalau mau mendapatkan suasana yang agak tenang (tidak penuh sesak), disarankan mendaki Andong diluar akhir pekan.

Sementara Gunung Prau, setelah ditutup selama tiga bulan sejak Minggu, 6 Januari 2019 lalu, akan dibuka kembali pada Jumat, 5 April 2019.

Menurut petugas Basecamp Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng, Mujib Syafii sebagaimana dikutip kompas.com, pembukaan kembali pendakian ke Prau setelah dilakukan sejumlah perbaikan.

Di area Basecamp Patak Banteng di Jalan Dieng Km 24, Desa Kejajar, Wonosobo, misalnya warung yang berada di tengah area parkir dipindahkan lalu dibangun taman yang berfungsi sebagai tempat briefing sebelum melakukan pendakian.

Selanjutnya perbaikan di jalur pendakian via Patak Banteng  di antaranya Pos 3 sampai Plawangan atau camp ground, antara lain penambahan anak tangga agar mudah dilewati.

Selain itu penambahan kursi untuk istirahat pendaki. Total ada 60 kursi yang ditambahkan pihak basecamp di sepanjang jalur pendakian sampai area kemah. Sedangkan di area kemah juga ditambah lima paket kursi panjang.

Gunung Prau yang berada di Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateu), secara administratif masuk dalam tiga wilayah Kabupaten Kendal, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Batang di Jawa Tengah ini hanya berketinggian 2.565 Mdpl.

Kendati termasuk gunung berukuran kecil, namun memiliki pesona dari puncaknya yang luar biasa indah.

Dari atapnya, duabelas (12) gunung terlihat jelas, seolah memagari dan menjaganya.

Dari puncaknya ke arah Timur, selain pesona sunrise juga ada 9 gunung yang bersemayam di Jawa Tengah, 5 di antaranya gunung populer yakni Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, dan Unggaran.

Sisanya, 4 gunung yang tak populer yakni Kembang, Telomoyo, Tlerep, dan Bukit Batok.

Sementara ke arah Barat ada 3 gunung yang nampak, 2 di antaranya gunung yang sangat populer yakni Gunung Slamet dan Gunung Ceremai yang berada paling jauh

Sisanya Gunung Sikunir serta tentunya pesona sunset-nya. Ke arah ini juga terlihat jelas keseluruhan Dieng, dari teras-teras perkebunan kentang, kubis, dan bawah prei, rumah-rumah penduduk di sejumlah desa, masjid, dan tentu saja Telaga Warna dan Telaga Pengilon serta hutan yang semakin menyusut luasnya.

Untuk melihat panorama ke arah Barat, terlebih dulu meniti tanjakan ber-savana di kiri-kanannya, yang mirip sekali dengan "Tanjakan Cinta" di Gunung Semeru.

Yang menarik lagi, untuk menikmati 12 gunung dan obyek alam lain dari puncak gunung ini, tak perlu berjam-jam mendakinya. Dan medannya pun tidak terlalu sulit.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Sejumlah gunung bisa dilihat dari puncak Gunung Prau.
2. Pesona Gunung Andong (foto: dok.@andongviapendem)
3. Menikmati sunrise di puncak Gunung Prau.

Read more...

Jumat, 29 Maret 2019

Jalur Pendakian Sembalun dan Senaru Gunung Rinjani Masih Ditutup, Ini Alasannya

Kegiatan pendakian ke puncak Gunung Rinjani baik lewat jalur Sembalun maupun Senaru masih ditutup.

Penutupan kedua jalur pendakian paling popular di gunung aktif di Lombok, NTB itu berdasarkan kesepakatan tim survei dan lainnya dalam rapat yang dipimpin Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) Ir. Sudiyono, M.Si di Kantor Balai TNGR, Rabu (27/3/2019).

Tim survei terdiri dari unsur TNGR, Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) NTB, Trakking Orgnizer (TO), ahli dari Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Dinas Pariwisata NTB, Basarnas Mataram, dan unsur TNI.

Mereka berangkat Sabtu, 16 Maret pagi, terbagi dua tim, sebagian menjajal jalur Sembalun dan tim lainnya ke Senaru.

Dalam surat rumusan rapat yang ditandatangani Sudiyono, dijelaskan alasan penutupan jalur pendakian lewat Sembalun dan Senaru tersebut mengingat masih terjadinya gerakan tanah dan gempa.

Alasan lain, berdasarkan hasil tim survei di jalur Sembalun, kondisinya sampai Pelawangan Sembalun terjadi kerusakan di 14 titik, 3 di antaranya rusak berat sehingga tim membuat 2 jalur alternatif.

Sebagian besar lereng menuju Puncak Rinjani pun longsor serta menutup Mata Air Pelawangan dan Mata Air Sambor.

Satu lagi, sebagian besar Pelawangan Sembalun rusak berat.

Sedangkan hasil evaluasi yang dilakukan PVMBG pada saat survei, telah terjadi gempa 161 tektonik lokal dan 9 kali tektonik lokal MMI II-IV serta gempa vulkanik.

Untuk jalur dari Pos 4 Bukit Penyesalan menuju Pelawangan Sembalun terputus dan sangat berbahaya jika dilalui akibat jalan yang tidak stabil.

Berdasarkan hasil tim survei di jalur Senaru, kondisi jalurnya relatif baik, hanya ditemukan retakan di Pos II dan pohon tumbang mulai dari KM 0,5 hingga sebelum Pos III.

Namun jalur menuju Danau Segara Anakan terputus dan tidak dapat dilewati.

Selain menutup sementara kedua jalur pendakian Sembalun maupun Senaru, dalam surat yang diunggah di akun Instagram (IG) @himpalarinjani tersebut, disepakati pula akan dilakukan survei kembali guna memastikan kelayakan jalur untuk aktivitas pendakian.

Jalur yang ada saat ini berada di daerah rawan pergerakan tanah sehingga perlu dipindahkan melalui daerah yang relatif aman.

Kesepakatan lain, pendakian melalui pintu masuk Sembalun harus memiliki jalur alternatif sebagai upaya antisipasi bencana yang terjadi.

Demikian juga jalur Senaru menuju Danau Segara Anak, masih terjal dan berisiko.

“Kesimpulannya, kami belum bisa buka jalur pendakian Sembalun dan Senaru April ini mengingat jalurnya masih berbahaya. Kami belum bisa putuskan kapan dibuka sampai dilakukan survei berikutnya,” kata Sudiyono sebagaimana dikutip Suara NTB.

Sebelumnya TNGR sempat memastikan akan membuka jalur Rinjani pada April mendatang, seraya melakukan penataan.

Empat jalur yang siap dibuka itu lewat Sembalun, Senaru Timbanuh, dan Aik Berik. Tapi ternyata dari hasil survei Sembalun dan Senaru, kondisi kedua jalur favorit pendaki ke Puncak Rinjani itu belum memungkinkan untuk dibuka sebagaimana hasil kesepakatan rapat gabungan tersebut.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. @himpalarinjani

Captions:
1. Pendakian Gunung Rinjani sebelum terjadi gempa.
2. Surat rumusan rapat gabungan hasil survei jalur pendakian Sembalun dan Senaru.

Read more...

Selasa, 27 November 2018

Kemenpar Imbau JAFF Digelar di Destinasi Digital, Ini Alasannya

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) lewat Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural, Esthy Reko Astuty berharap Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) dapat digelar di destinasi digital yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Harapan Esthy disampaikan  Koordinator Tim PIC Wilayah Jawa, Kemenpar I Gusti Ngurah Putra dalam acara pembukaan JAFF 2018 di Jogja National  Museum (JNM), Kota Jogja, Selasa (27/11) malam.

Kata Esthy wisata digital mampu  memberikan pengalaman baru bagi wisatawan berbentuk pengakuan diri di media sosial.

Selain itu event di daerah wisata digital dapat diviralkan dengan cepat melalui jejaring sosial.

"Jadi tempat pemutaran film yang eksotis diberbagai pelosok DIY dan kota lainnya dapat dipadukan dengan digital destination," ujarnya.

Melalui program itu, lanjut Esthy, penggemar film dari dalam dan luar negeri akan mendapatkan pengalaman baru menonton film yang berlatar keindahan alam.

Tentu ini akan jadi daya tarik tersendiri bagi festival yang sedang berkembang.

"Karena itu di kesempatan ini saya mengajak para pihak berkepentingan di dunia perfilman dan pariwisata untuk bekerjasama menyukseskan JAFF, agar event ini dapat menjadi agenda resmi internasional," terangnya.

Lebih lanjut Eshty menjelaskan kenapa JAFF harus digelar destinasi digital, sebab tahun ini Kemenpar mengusung program digital destination dan nomadic tourism yang didasari oleh kecenderungan masyarakat yang bersandar pada informasi daring dalam menentukan tujuan wisata.

"Wisatawan era sekarang gemar berburu tempat wisata yang dapat dijadikan tempat berfoto yang menarik," terang Esthy.

Saat bersamaan, para wisatawan kekinian itu ingin menjangkau sebanyak mungkin tempat pada satu kali periode perjalanan, sehingga mereka membutuhkan akomodasi diberbagai tempat.

"Untuk menyukseskan program Kemenpar itu, kami berharap JAFF dapat mendesain kegiatannya yang mampu menjadi event yang menarik lebih banyak wisatawan dengan menggelarnya di destinasi digital," jelasnya.

Esthy yang juga menjabat sebagai Ketua Calender of Event (CoE) Kemenpar mengatakan JAFF merupakan salah satu event nasional yang ada di DIY yang telah ditetapkan Kemenpar dari 100 Wonderful Event Indonesia di tahun 2018, tentunya setelah sebelumnya diseleksi oleh tim kurasi Kemenpar.

"Festival atau event seperti ini,  merupakan salah satu cara yang efektif untuk mempromosikan suatu daerah atau destinasi pariwisata, yang akhirnya akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.

Sejumlah sineas ternama hadir dalam acara pembukaan JAFF 2018, antara lain Christine Hakim, Garin Nugroho, Joko Anwar, dan Ifa Isfansya, serta tentunya President JAFF Budi Irawanto.

Acara pembukaan dibuka dengan persembahan tarian tentang  Hanoman, dan akhiri dengan pemutaran film berlatar tsunami berjudul Umi O Kakeru (The Man from the Sea) garapan sutradara asal Jepang Koji Fukada.

Sebelum acara pembukaan dimulai, terlebih dulu pengunjung disuguhkan aneka kuliner bakmi Jawa, bakso, wedang ronde, dan jagung rebus.

Meskipun Jogja, termasuk venue JAFF 2018 diguyur hujan sejak sore hingga malam hari, namun tak menyurutkan para pecinta film termasuk wisatawan untuk bertandang.

JAFF 2018 yang publikasi dan promosinya juga didukung  Kemenpar ini berlangsung sampai 4 Desember mendatang.

Selama sepekan penuh selain pameran di JNM, juga ada pemutaran 124 judul film dari 27 negara Asia termasuk film-film Indonesia bermutu yang diputar di Empire XXI dan Cimemaxx serta sejumlah workshop.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Gedung utama Jogja National  Museum (JNM) di  Kota Jogja, menjadi venue pameran dan acara pembukaan Jogja Netpac Asian Film Festival (JAFF) 2018.
2. Koordinator Tim PIC Wilayah Jawa, Kemenpar I Gusti Ngurah Putra membacakan kata sambutan Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural,  Kemenpar Esthy Reko Astuty dalam pembukaan JAFF 2018 di JNM, Selasa (27/11) malam.
3. Venue acara pembukaan acara pembukaan JAFF 2018 di  belakang gedung utama JNM.
4. Bakmi Jawa salah satu kuliner yang disajikan di acara pembukaan JAFF 2018.
5. Tulisan JAFF di halaman depan gedung utama JNM.
6. Pemutaran film Umi O Kakeru (The Man from the Sea) garapan sutradara asal Jepang Koji Fukada sebagai film pembuka JAFF 2018.
7. Pameran di JNM selama JAFF berlangsung.


Read more...

Senin, 03 September 2018

Tanjung Puting Diusulkan Jadi 'New Bali' ke-11, Ini Alasannya

Usulan menjadikan Taman Nasional Tanjung Puting kembali mencuat. Usulan tersebut didasari sejumlah alasan kuat. 

Dalam jumpa pers ‘Wonderful Sail to Indonesia 2018 in Kumai’ di Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta, Senin (3/9), terkuak alasan-alasannya.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Dwisuryo Indroyono Soesilo melihat dari 10 'Bali Baru' yang sudah ada atau ditetapkan, belum ada yang mewakili Kalimantan.

"Satu pun tidak ada 10 'Bali Baru' itu di Kalimantan," ujarnya.

Bukan cuma itu, lanjut Indroyono, dari 10 'Bali Baru' lebih banyak menonjolkan pantai, belum ada yang khusus hutan berikut habitat spesialnya.

"Nah, TN Tanjung Puting ini daya tarik utamanya hutan tropis sebagai habitat asli orang utan di Indonesia. Nuansanya berbeda dengan 10 'Bali Baru' lainnya ," terang Indroyono.

Alasan lainnya, Taman Nasional yang berada di Kabupaten Kotawaringin Barat, Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) ini sudah menjadi destinasi kelas dunia.

"Buktinya dulu di sana, pernah diadakan konferensi kera besar internasional. Kera besar itu antara lain simpanse dan orang utan," tambah Indroyono.

"Melihat modal yang dimiliki Tanjung Puting,  tahu-tahu bisa lebih dulu maju dibanding 'Bali Baru' yang diprioritaskan," ujarnya.

Lewat event Wonderful Sail to Indonesia 2018 in Kumai’ ini, sambung Indroyono merupakan kesempatan baik untuk mengangkat usulan Tanjung Puting menjadi Bali Baru ke-11.

"Saya harap teman-teman media bisa membantu mengangkatnya," imbaunya.

Usulan senada juga diutarakan  Ketua Tim Percepatan Pembangunan Kalimantan Tengah (Kalteng) Laksamana Purn. Marsetio.

Menurut Marsetio yang juga menjabat sebagi Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Pengembangan dan Pengamanan Wisata Bahari, Ekosistem, Petualangan, dan Obyek Vital Wisata Nasional ini, dari sisi aksesibilitas pun, letak TN Tanjung Puting pun sangat mendukung.

"Sekarang ada tiga bandara untuk menuju Tanjung Puting yakni di Palangkaraya (ibukota provinsi), Pangkalan Bun (Kota Waringin Barat) yang paling dekat ke lokasi, dan Kantingan serta Pelabuhan Kumai," terangnya.

Begitupun dari sisi Amenitas. "Sudah banyak fasilitas hotel berbintang di Kota Pangkalan Bun," ungkapnya.

Dengan ditetapkan Tanjung Puting sebagai ‘New Bali’ ke-11 nantinya diharapkan akan melengkapi atraksi yang dimiliki di 10 New Bali yaitu atraksi danau (Danau Toba-Sumut); atraksi pantai/bahari (Belitung-Babel, Tanjung Lesung-Banten, Kepulauan Seribu-DKI Jakarta, Mandalika-Lombok NTB, Pulau Komodo-NTT, Taman Nasional Wakatobi-Sulawesi Tenggara, dan Morotai-Maluku Utara); atraksi gunung (Gunung Bromo-Jatim); atraksi budaya (Candi Borobudur-Jateng), dan nantinya dilengkapi dengan atraksi hutan dalam hal ini TN Tanjung Puting.

“Usulan TN Tanjung Puting sebagai New Bali ke-11 ini merupakan satu-satunya yang ada di Pulau Kalimantan,” ungkap Marsetio.

Dalam jumpa pers yang juga dihadiri Kadis Budpar Pemprov Kalteng Guntur Talajan dan Kadis Budpar Pemkab Kotawaringin Barat H. Gusti Imansyah ini, Sekda Prov Kalteng Fahrizal Fitri menambahkan saat ini sudah ada penerbangan dari  kota-kota utama Indonesia seperti Jakarta dan Surabaya ke Pangkalan un.

"Waktu tempuh Jakarta-Pangkalan Bun dengan kapal terbang sekitar 1 jam. Dari Bandara di Pangkalan Bun ke Kumai atau pelabuhan menuju TN Tanjung Puting sekitar 13 Km atau cuma lebih kurang 10 menit dengan mobil," terangnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Orangutan di TN. Tanjung Puting, Kalteng.
2. Dalam Jumpa Pers Wonderful Sail to Indonesia 2018 in Kumai, terkuak usulan TN Tanjung Puting jadi 'Bali Baru' ke-11.

Read more...

Rabu, 02 Mei 2018

10 Destinasi Digital Vegetarian Indonesia Bidik Pasar India, China, dan AS, Ini Alasannya

Indonesia kini tengah mengembangkan 10 destinasi digital vegetarian dengan tujuan untuk menjaring wisatawan baik nusantara maupun mancanegara terutama yang vegetarian.

Ke-10 destinasi degital vegetarian yang tengah dikembangkan itu adalah Batam, Bali, Jakarta, Palembang, Medan, Belitung, Banten, Garut, Tomohon, dan Pontianak.

Adapun wisatawan mancanegara (wisman) yang dibidik untuk destinasi-destinasi digital vegetarian tersebut, terutama tiga negara dengan jumlah vegetarian terbesar di dunia yakni India, China, dan Amerika Serikat.

Kenapa? “Jumlah vegetarian dunia mencapai 500 juta orang, terbesar di India sebanyak 350 juta orang, China 50 juta, dan ketiga ditempati Amerika Serikat. Sementara jumlah vegetarian Indonesia relatif kecil baru 2 juta orang dan berada di posisi ke-12,” kata Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya ketika me-launching Konser Budaya Alam Nusantara (KBAN) 2018 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (2/5) siang.

Arief Yahya menjelaskan India dan China masuk dalam Top-5 pasar wisman Indonesia, yakni China, Eropa, Australia, Singapura, dan India.

Kunjungan wisman dari China, lanjut Arief Yahya menempati urutan teratas karena size terbanyak 2,2 juta wisman, untuk pertumbuhan (sustainability) tertinggi mencapai 42%, sedang perolehan devisa (spread) terbesar.

“Sedangkan wisman India baru tahun ini masuk ke dalam urutan kelima dalam Top-5 pasar wisman, ditargetkan 700 ribu wisman dengan pertumbuhan sebesar 40%,” ungkapnya seraya menambahkan bahwa tahun lalu jumlah wisman India yang berkunjung ke Indonesia sebanyak 485.000 wisman atau mengalahkan Korea, dan tahun ini akan menyalip posisi Jepang.

The Global Vegetarian Index yang dikeluarkan oleh Oliver’s Travel mencatat posisi Indonesia berada diperingkat ke-16 dari 183 negara yang ramah vegetarian atau masuk Top-20 Vegetarian-Friendly Countries.

“Ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi menjadi salah satu negara tujuan destinasi wisata vegetarian kelas dunia dan banyak diminati para wisatawan dari komunitas vegetarian dunia,” kata Arief Yahya.

Posisi Top-20 Vegetarian-Friendly Countries, negara Seychelles berada di urutan teratas, sedangkan Thailand urutan kedua, dan Malaysia urutan ketiga.

Sementara untuk jumlah restoran vegetarian, Indonesia terbilang masih sedikit dibanding dengan penduduknya yang besar, baru ada 438 restoran. Jumlahnya kalah dengan Malaysia (1.185), Thailand (908), dan Singapura memiliki 654 restoran vegetarian.

Pemilihan 10 detinasi digital vegetarian, selain memiliki banyak resto vegetarian, juga tersedia paket-paket wisata vegetarian ke daerah-daerah tersebut. Di Batam misalnya ada sekitar 50 resto vegeterian.

Klix Travel yang mengklaim sebagai agen tour & travel vegetarian pertama di Indonesia,  menyediakan sejumlah paket wisata vegetarian antara lain paket tur vegetarian ke Bali 3D2N Rp 1,65 juta, 4D3N 1,95 juta, dan 5D4N 2,25 juta per pax, minimal 5 pax per booking.

“Di Bali kita juga akan membawa wisatawan ke restoran yang menyiapkan menu vegetarian,” ungkap salah seorang staf Klix Travel.

Sementara paket wisata ke Belitung berdurasi 3 hari 2 malam (3D2N) Rp 1,7 juta per pax dan 4D3N Rp 2,9 juta per pax minimal 5 pax per booking.

Pesertanya selain diajak ke senjumlah objek wisata menarik, juga akan menyantap bermacam makanan vegeterian di Rumah Makan Rimba Alam Bahagia di Jalan Bandara, Manggar, Kabupaten Belitung.

Menurut staf itu, paket wisata vegetarian ini juga terbuka untuk umum, dengan kata lain umat Muslim juga bisa ikut serta.

“Soalnya sudah pasti halal, kami sama sekali tidak menyediakan atau menyantap masakan berbahan daging,” terangnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Palembang salah satu destinasi digital vegetarian.
2. Banten, termasuk destinasi vegetarian
3. Garut, juga termasuk destinasi vegetarian.
4. Tomohon, salah satu dari 10 destinasi digital vegetarian.
5. Belitung sudah pasti masuk dalam 10 destinasi digital vegetarian.

Read more...

Senin, 19 Maret 2018

Kemenpar Bikin Coaching Penyelenggaraan CoE 2018, Ini Alasannya

Mengaku kerap ditegur Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal penyelenggaraan event di Tanah Air, Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya segera memerintahkan anak buahnya menggelar Workshop/Coaching Penyelenggaraan Calendar of Event (CoE) 2018.

“Presiden Jokowi berkali-kali menegur saya ada banyak acara festival di berbagai daerah tapi belum berstandar global. Presiden minta harus berstandar dunia. Jadi penyelenggaraan event berstandar dunia ini permintaan Bapak Presiden,” kata Menpar Arief Yahya saat memberi sambutan dalam acara pembukaan workshop tersebut yang berlangsung di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta, Senin (19/3).

“Dengan adanya teguran dan permintaan dari Presiden Jokowi itu, saya menugaskan Staf Ahli Multikultural selaku Ketua Tim Pelaksana CoE 2018 Esthy Reko Astuti untuk menyelenggarakan workshop atau coaching clinic tentang bagaimana memproduksi, mengemas serta mempromosikan event yang berstandar nasional,” terangnya.

Kata Arief Yahya kegiatan Workshop Penyelenggaraan CoE 2018 ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas sebuah event agar menjadi spetakuler dan diperhitungkan.

“Ini sesuai amanat Presiden Jokowi ketika menyaksikan Jember Fashion Carnival (JFC) di Kota Jember, Jawa Timur pada tahun 2017 lalu,” ungkap Arief Yahya yang membuka sekaligus menjadi keynote speech pada acara ini.

Presiden Jokowi, lanjutnya meminta agar kota-kota di Indonesia bisa memiliki festival/karnaval yang khas dan unik menjadi agenda kesenian yang diselenggarakan secara rutin; ada kalender event dan kalender tahunannya seperti JFC.

”Presiden Jokowi menegaskan bahwa keragaman budaya kita adalah sebuah kekuatan sekaligus keunggulan kita dibandingkan dengan bangsa-bangsa yang lainnya,” kata Menpar Arief Yahya menyampaikan pesan Presiden Jokowi.

Ketua Tim Pelaksana CoE 2018 Esthy Reko Astuti menambahkan kegiatan workshop yang berlangsung sehari dengan menghadirkan 6 narasumber yang ahli dibidangnya antara lain Dwiki Darmawan dan Dynand Fariz ini dimaksudkan sebagai coaching clinic.

“Tujuannya untuk meningkatkan kualitas event yang diselenggarakan oleh pemerinah daerah (Pemda) maupun private/komunitas agar minimal penyelenggaraannya berskala nasional dan layak ‘dijual’,” tambah Esthy.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: agung-humas kemenpar & adji

Captions:
1. Menpar Arief Yahya membuka acara Workshop/Coaching Penyelenggaraan Calendar of Event (CoE) 2018 dengan memukul gong didampingi Ketua Tim Pelaksana CoE 2018 Esthy Reko Astuti.
2. Musisi Dwiki Dharmawan dan Presiden Jember Fashion Carnival Dynand Fariz menjadi pembicara pada sesi kedua di coaching clinic tersebut.

Read more...

Kamis, 08 Maret 2018

Tiga Perusahaan Besar Dukung Film Anak-Anak Terbaru Miles Films, Ini Alasannya

Tiga perusahaan besar yakni Go-jek, Ideosource, dan BASE turut mendukung produksi film anak-anak terbaru garapan Miles Films berjudul Ku Lari ke Pantai.


Go-jek sendiri mau mendukung produksi film ini karena menilai Miles Films selalu konsisten dalam meningkatkan standar dan kualitas produksi film Indonesia.

Menurut SVP Content and Distribution Go-jek Christopher Smith dalam siaran pers mengatakan pihaknya mengapresiasi Miles Films sebagai salah satu pionir dan kontributor terbesar di industri perfilman Indonesia yang secara konsisten meningkatkan standar dan kualitas produksi film tanah air.

“Sebagai karya anak bangsa, Go-jek akan terus mendukung para pionir industri film Indonesia,” ungkapnya dalam siaran pers yang dibagikan ke sejumah media pada acara di Kedai Kopi 89 Kemang, Jakarta Selatan, Rabu (7/3/2018).

Sementara Ideosource, sebagai venture capital pertama yang masuk ke pendanaan film mengaku sangat bangga dapat berpartisipasi dalam film Ku Lari ke Pantai dengan alasan sudah lama Indonesia tidak memiliki film anak-anak yang besar.

Alasan lainnya menurut Andi Boediman dari Ideosource Venture Capital, Miles Films juga merupakan rumah produksi yang memiliki track record sebagai pencetak film anak-anak box office melalui Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi.

“Saya yakini Miles Films dapat mengisi kekosongan ini dengan karya yang berkualitas,” jelas Andi.

Pendapat senada juga disampaikan oleh Base, studio film yang bergerak dalam pendanaan, produksi, dan distribusi film.

"Base sangat antusias dapat mendukung film Ku Lari ke Pantai," kata Shanty Harmayn selaku produser eksekutif dari Base.

Miles Films, lanjut Shanty kembali mempertemukan bakat-bakat Indonesia dalam sebuah cerita keluarga yang seru dan menyenangkan dengan menyentuh tema penting saat ini.

“Kami merasa bangga Ku Lari ke Pantai menjadi proyek film Base yang pertama,” ungkapnya.

Film Ku Lari ke Pantai akan mulai diproduksi pada bulan Maret 2018 oleh duo produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza, yang telah berhasil mencetak dua film anak-anak legendaris, yaitu Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi.

Setelah melakukan persiapan selama kurang lebih 3 bulan, film Ku Lari ke Pantai akan memulai proses pengambilan gambar dari bulan Maret hingga pertengahan April 2018 di lebih dari 20 titik lokasi sepanjang Jakarta-Banyuwangi dan di Rote, Nusa Tenggara Timur.

Didukung oleh lebih dari 20 orang aktor dan aktris serta lebih dari 100 orang kru profesional di bidangnya.

“Ini saat yang tepat untuk menggairahkan kembali film anak-anak. Anak-anak perlu melihat film Indonesia yang berkualitas dan menghibur, tapi juga memiliki unsur edukasi yang tidak menggurui,” ungkap Mira Lesmana.

Film Ku Lari ke Pantai akan bercerita tentang dua tokoh utamanya, Sam (10 tahun) yang diperankan oleh Maisha Kanna, dan Happy (12 tahun) yang diperankan oleh Lil’li Latisha, dua sepupu dengan karakter yang bertolak belakang.

Bersama Uci, ibu Sam yang diperankan oleh Marsha Timothy, mereka akan melewati masa liburan dengan melakukan perjalanan darat sejauh lebih dari 1.000 km dari Jakarta ke Banyuwangi.

Perbedaan karakter kedua tokoh utamanya akan membawa kita ke dalam perjalanan yang penuh komedi seru dan menyenangkan, juga drama yang hangat dan mengharukan.

“Mengapa film perjalanan? Karena perjalanan itu menyenangkan. Ketika dua karakter yang berbeda terjebak dalam sebuah perjalanan, mau tidak mau mereka akan harus saling berkomunikasi. Melalui komunikasi, mau tidak mau mereka harus belajar untuk kompromi dan saling bertoleransi,” jelas Riri Riza mengenai pilihan cerita untuk film ini.

“Indonesia adalah ruang yang tepat untuk membuat film perjalanan. Ada banyak cerita dan drama yang bisa digali selama perjalanan, dan itu bisa menggambarkan kita yang sebenarnya,” lanjut Riri.


Selain tiga pemeran utama tersebut, film Ku Lari ke Pantai juga akan didukung oleh para pemeran pendukung, yaitu Lukman Sardi, Karina Suwandi, Ibnu Jamil, Edward Suhadi, M. Adhiyat, serta deretan komika ternama seperti Dodit Mulyanto, Mo Sidik, Praz Teguh, serta figur yang cukup dikenal di media sosial seperti Ligwina Hananto dan Suku_Dani.

Salah satu pengisi soundtrack, Mira Lesmana mempercayakannya kepada RAN, kelompok musisi muda yang warna musiknya dapat mewakili genre film ini.

Film Ku Lari ke Pantai rencananya akan tayang di bioskop pada masa liburan sekolah, Juni 2018.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Mira Lesmana dan Riri Riza serta sejumlah pemain film Ku Lari ke Pantai saat jumpa pers di Kemang, Jaksel.
2. Marsha Timothy pemain utama Ku Lari ke Pantai produksi Miles Films.
3. Ini salah satu pemain utama anak-anak di film Ku Lari ke Pantai.
4. Para pendukung berfoto dengan produser dan para pemain film Ku Lari ke Pantai.

Read more...

Rabu, 06 Desember 2017

KKN-PPM STP Bandung 2017 Fokus di Destinasi Prioritas, Ini Alasannya

Kuliah Kerja Nyata - Program Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) yang dilakukan oleh puluhan mahasiswa semester 7 Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung selama sebulan, 23 Oktober s/d 24 November 2017 berlangsung di enam lokasi. Empat di antaranya merupakan bagian dari destinasi prioritas pariwisata.

Head of Research & Community Service Center (RCSC) atau Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puslitabmas) STP NHI Bandung Beta Budisetyorini menjelaskan pemilihan lokasi KKN-PPM tahun ini berdasarkan dua pendekatan.

“Pendekatan pertama mengacu pada kebijakan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bahwa KKN-PPM perlu dilaksanakan di 4 lokasi yang mewakili top ten destinasi prioritas pariwisata yang menjadi pertanggungajawaban dari STP Bandung yaitu Kepulauan Seribu, Kota Tua Jakarta, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Lesung,” terang Beta Budisetyorini dalam sambutannya di acara pembukaan seminar tersebut di Lantai 2, Gedung Mandalawangi, STP NHI Bandung, Rabu (6/12/2017).

Satu pendekatan lainnya, lanjut Beta, STP NHI Bandung melakukan kerjasama dengan desa/hutan yang akan dibina selama 3 tahun ke depan sejak tahun 2017 ini yaitu Desa Wisata Alamendah dan hutan penelitian Cikole di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Besok, hari kedua seminar, kelompok mahasiswa yang melakukan Program Kerjasama Luar Negeri (PKLN) di Belanda, bekerjasama dengan NHTV atau Breda University of Applied Sciences akan memaparkan hasil penelitiannya.

Menurut Beta PKLN tahun ini mengambil topic Branding Wonderful Indonesia, khususnya tanggapan wisatawan Belanda terhadap in factor yang memang menjadi prioritas pembangunan pariwisata di Indonesia yaitu homestay, digital, dan connectivity.

PKLN tersebut dilakukan para mahasiswa STP Bandung semester 5 selama kurang lebih sebulan. Beta menambahkan tujuan PKLN itu untuk mendapatkan perspektif atau sudat pandang wisatawan Belanda yang sudah pernah ke Indonesia terhadap kondisi perkembangan pariwisata di Indonesia khususnya di top ten destinasi prioritas.

Ketua Pembantu I (Bidang Akademik) STP NHI Bandung Drs. Jacob Ganef Pah, MS yang membuka Seminar Hasil KKN-PPM tahun ini mengatakan program penelitian dan pengabdian masyarakat harus menjadi salah fokus di STP NHI Bandung.

“KKN-PPM-nya harus spesifik, bisa menyalurkan kompetensi para mahasiswa di bidang hospitality dan tourism bagi masyarakat terutama di desa-desa wisata penunjang di 3 destinasi prioritas,” ungkapnya.

Ganef Pah berharap RCSC dapat terus mengembangkan KKN-PPM terus-menerus dari tahun ke tahun, supaya bisa menjadi program ungulan STP NHI Bandung.

Ketua KKN-PPM di Desa Alamendah, Muhammad Elgad mengaku banyak manfaat yang didapat dari KKN-PPM.

Selain dituntut cakap berkomunikasi, pun harus menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat.

"Lewat program ini, saya bisa beradaptasi langsung dengan masyarakat sehingga saya punya gambaran bagaimana caranya memghadapi masyarakat di dunia kerja nanti," aku Elgad.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Kelompok KKN-PPM Desa Alamendah berfoto bersama ketua Puslitabmas STP NHI Bandung, Beta Budisetyorini dan lima unsur pentahelix.
2. Head of RCSC STP NHI Bandung Beta Budisetyorini memberi kata sambutan di pembukaan Seminar Hasil KKN-PPM 2017.
3. Ketua Pembantu I (Bidang Akademik) STP NHI Bandung Drs. Jacob Ganef Pah, MS membuka secara resmi Seminar Hasil KKN-PPM 2017.

Read more...

Senin, 04 September 2017

Touring Manaqib Bakal Berlanjut di Pekan Pesona Pesantren Berikut, Ini Alasannya

Touring Manaqib dalam Pekan Pesona Pesantren 2017 yang digelar di Pesantren Sirnarasa, Dusun Ciceuri, Desa Ciomas, Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat sepertinya bakal dimasukkan kembali di acara serupa tahun depan.

Alasannya acara yang kental dengan nuansa syiar Islamnya ini mendapat apresiasi dan respon positif masyarakat setempat.

Bahkan sejumlah masyarakat dan peserta berharap syiar ini harus diadakan di Pekan Pesona Pesantren tahun depan.

“Tanggapan masyarakat dan peserta Touring Manaqib sangat apresiatif dan responsif. Mereka mengharapkan syiar seperti ini harus dilanjutkan di tahun-tahun berikutnya,” ujar da'i muda Dadang Mulyawan selaku Ketua Panitia Pekan Pesona Pesantren 2017 kepada TravelPlus Indonesia lewat pesan WA baru-baru ini.

Touring Manaqib sudah berlangsung pada Minggu (3/9) pagi atau hari terakhir Pekan Pesona Pesantren 2017 bertema “Satu Suara untuk Menyelamatkan Sumber Daya Dunia”, yang digelar selama seminggu, sejak 31 Agustus s/d 3 September.

Pantauan TravelPlus Indonesia, sebelum Shalat Subuh berjamaah di Masjid Pesantren Sirnarasa, peserta sudah berdatangan.

Banyak juga peserta touring yang bermalam di dan sekitar pesantren, salah satunya Usman, pemuda asal Paminjahan, Tasikmalaya, yang datang bersama seorang rekannya naik motor sejak sore.

Menurut Usman, tujuannya ke Pesantren Sirnarasa untuk menonton Ki Dalang Wayang Ajen tampil.

Tapi sayangnya tidak ada, kabarnya dalangnya sedang pergi haji digantikan anak didiknya. “Besoknya baru saya ikutan Touring Manaqib. Mumpung masih bujangan,” ujar Usman.

Pria yang kerap berpeci satu ini berharap touring bermuatan syiar seperti ini bisa diteruskan dalam penyelenggaraan event-event yang diadakan Pesantren Sirnarasa selanjutnya.

Selepas sarapan, seluruh peserta touring yang berjumlah ratusan orang bergerak menuju Jalan Raya Ciomas. Selanjutnya berkelompok sesuai kendaraan yang digunakan, sebelum ber-konvoi dengan tertib dan teratur.

Sesuai pengumuman panitia yang disampaikan lewat pengeras suara masjid, ada 14 kelompok peserta Touring Manaqib pada Pekan Pesona Pesantren yang juga mendapat dukungan dari Pesona Indonesia-nya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini.

Urutan pertama diisi kendaraan patwal forader oleh korps militer, diteruskan kendaraan Abah Aos, Ajudan Abah Aos, kendaraan militer, motor gede (moge), motor kecil, mobil keluarga inti Abah Aos, mobil wakil talkin, mobil kecil, bis ¾, bis besar, ambulance, mekanik, dan mobil tim penyapu. Seluruh peserta bergerak mulai pukul 8 pagi dan selesai pukul 10 pagi.

Rute yang dilalui dari Pesantren Sirnarasa menuju Islamic Center Ciamis selama 2 jam lebih. Semua peserta mengenakan syal berwarna hijau.

Malam harinya, selepas Shalat Isya berjamaah di Masjid Pesantren Sirnarasa, peserta Touring Manaqib, warga, dan pengunjung dihibur dengan suguhan Parade Da’i dan Da’iyah, jebolan TPI/MNC.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. dadang mulyawan/pesantren sirnarasa

Captions:
1. Komunitas motor gede (moge) ikut touring manaqib Pekan Pesona Pesantren 2017.
2. Da'i Dadang Mulyawan (tengah) dan Da'i kondang Zacky Mirza (kanan) serta da’i lainnya pun jadi peserta touring manaqib.
3. Seluruh peserta touring manaqib berkumpul di Islamic Center Ciamis sebagai titik finish.

Read more...

Jumat, 18 Agustus 2017

Biaya Pendakian Cartenz Mahal Tapi Tetap Diincar Pendaki, Ini Alasannya

“Gue pengen banget ke Cartenz. Berapa ya biayanya?” begitu kata Nia asal Jakatta, usai menonton special screening film Negeri Dongeng di Theatre 1, XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-72, Kamis (17/8/2017).

Gue juga mau banget. Berapa besar budget-nya, mana gue tahu,” timpal Ani rekannya.

Hal senada juga diutarakan beberapa penonton pria yang kebanyakan para pendaki gunung lainnya selepas menyaksikan film garapan sutradara Anggi Frisca itu.

Rupanya dari 7 puncak tertinggi atau seven summits Indonesia yang dimuat dalam film berdurasi 90 menit tersebut yakni pendakian Gunung Kerinci (Sumatera) November 2014, Gunung Semerau (Jawa) Desember 2014, Gunuung Rinjani (Lombok-NTB) Januari 2015, Bukit Raya (Kalimantan) Februari 2015, Gunung Rantemario (Sulawesi) Mei 2015, Gunung Binaiya (Pulau Seram-Maluku) November 2015, dan pendakian ke Gunung Cartenz di Papua yang termasuk dalam seven summits dunia pada April 2016, pendakian ke Cartenz-lah yang cukup menyita perhatian penonton.

Abis ngiri gue liat Nadine Chandrawinata yang bukan pendaki aja bisa sampe Cartenz, puncak tertinggi di Indonesia ini. Masa gue ga bisa,” ujar Nia.

Seperti diketahui Nadine Chandrawinata yang gemar berpetualang terutama menyelam (diving) dan pernah menyandang gelar Puteri Indonesia 2005 itu selain sebagai produser pendamping di film produksi Aksa 7 ini juga menjadi guest expeditor atau  ekspeditor tamu untuk pendakian Cartenz di Papua.

Kalo gue tertantang sama trek medannya. Pas lihat Nadine manjat pake tali karmantel dan nyebrangi jurang dengan meniti tali di film itu. Widiiih keren abiess..,” timpal Ani.

Lalu berapa biaya pendakian ke Cartenz yang berketinggian 4.884 Mdpl di Papua itu? Data dari berbagai sumber yang TravelPlus Indonesia kumpulkan, harga paket pendakian Carstenz seharga Rp 55 juta per orang.

Itu harga  tahun lalu. Bisa jadi tahun ini atau tahun depan naik hargan paketnya. Harga tersebut sudah termasuk transportasi pergi pulang (PP) Jakarta - Nabire, pesawat Nabire-Sugapa, biaya porter, dan pemandu selama dua minggu pendakian, serta peralatan pendakian kelompok, makanan, dan minuman.

Lalu apa yang bikin mahalnya biaya pendakian Cartenz? TravelPlus Indonesia kembali mencatat beberapa faktor.

Pertama tentu saja lantaran akses ke puncak tersebut sangat sulit. Buktinya kalau dari Jakarta, pendaki harus menggunakan pesawat menuju Nabire, Papua selama sekitar enam jam.

Kalau dengan kapal Pelni bisa berhari-hari. Dari Nabire masih harus menyambung lagi dengan pesawat kecil ke Desa Sugapa di Kabupaten Intan Jaya.

Lalu biaya porter-nya juga mahal. Biaya porter untuk sekali perjalanan pendakian Cartenz bisa mencapai Rp 8 juta bahkan lebih. Biasanya setiap pendaki membutuhkan dua porter.

Tak ketinggalan faktor keamanan. Kalau ada konflik, biaya pendakian semakin mahal lantaran ada biaya tak terduga, misalnya biaya porter yang terkadang bisa naik 100 persen.

Terakhir, biaya hidup mahal dan tidak pasti lantaran jaraknya jauh dan sulit sehingga biaya alat tranportasinya juga mahal.

Kendati mahal, tetap saja sejumlah pendaki banyak yang mengincar Cartenz. Maklum keberhasilan mencapai Puncak Cartenz merupakan gengsi tersendiri di mata para pendaki.

Kenapa bisa begitu? Karena selain sebagai atapnya Indonesia, Cartenz pun menjadi salah satu dari 7 atapnya dunia bersama Mount Everest (Asia), Kilimanjaro (Afrika), Elbrus (Eropa), Aconcagua (Amerika Selatan), Mckinley (Amerika Utara), dan Vinson Massif (Antartika).

Melihat predikat Cartenz yang menggiurkan itu, wajar rasanya banyak pendaki di dalam negeri seperti Nia, Ani, dan beberapa pendaki lainnya usai menonton film Negeri Dongeng, kepincut hatinya untuk mewujudkan mimpinya mengibarkan Bendera Merah-Putih lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya di Puncak Cartenz sebagaimana berhasil dilakukan Nadine Chandrawinata.

Namun ketika ditanya pendakian mana yang paling mengerikan di film yang juga dibintangi Media Kamil alias Memed sebagai ekspeditor tamu di pendakian Bukit Raya, Kang Bongkeng pendakian Rinjani, Matthew Tandioputra-pendaki termuda di pendakian Semeru, dan Darius Sinathrya di pendakian Binaiya, kedua perempuan muda yang mulai menggemari mendaki gunung 2 tahun belakangan ini kompak menjawab ya pendakian Gunung Bukit Raya.

“Gue takut sama paceeeet. Pas lihat adegan beberapa pendaki sampe berdarah-darah disedot pacet di Gunung Bukit Raya, hiiii..., sumpah gue merinding,” aku Nia diamini Ani.



Film ber-genre petualangan semi dokumenter ini selain memamerkan pesona keindahan alam masing-masing gunung, baik di perjalanan maupun di puncaknya, pun juga menghadirkan suka-duka serta hambatan yang dialami para pemainnya, seperti susahnya melewati medan jalan tanah dan berlumpur dengan sepeda motor seperti yang di alami Memed, harus dorong truk yang terperosok di kubangan berlumpur menuju desa terakhir dalam pendakian Rantemario, dan lainnya.

Termasuk bagaimana menguasai teknik panjat tebing (rockclimbing) dengan menggunakan peralatan panjat untuk melewati medan terjal menuju Puncak Cartenz sebagainama dipertontonkan Nadine Chandrwianata yang bikin Nia, Ani, dan sejumlah pendaki muda lainnya jadi ngiri.

Rencananya, film Negeri Dongeng tentang perjalanan pendakian seven summits di Indonesia oleh 6 movie maker muda Indonesia yang tergabung dalam Aksa7 dan 1  ekspeditor tamu  akan ditayangkan serentak di seluruh Indonesia pada September 2017 mendatang.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: @nadinelist & adji

Captions:
1. Salah satu medan terjal yang harus dilalui para pendaki untuk menggapai Puncak Cartenz sebagaimana tertuang di film Negeri Dongeng.
2. Beberapa penonton film Negeri Dongeng saat acara special screening.
3. Registrasi jurnalis/travel blogger special screening film Negeri Dongeng.
4. Tas mungil berisi kaos, stiker film Negeri Dongeng dan lainnya.
5. Nadine Chandrawinata saat syuting film Negeri Dongeng di Cartenz, Papua.

Read more...

Selasa, 07 Februari 2017

Ambon City of Music Diusulkan Jadi Tourism Branding Kota Ambon, Ini Alasannya

Usai Ambon dicanangkan sebagai Kota Musik Dunia berdasarkan standar Unesco pada 29 Oktober 2016, sejumlah pihak di Ambon makin bersemangat mempersiapkan diri agar Kota Ambon Manise ini berhasil mendapatkan predikat membanggakan itu. Angin usulan agar branding Pariwisata Ambon menggunakan tagline Ambon City of Music, pun berhembus kencang.

Terkait pengusulan Ambon City of Music sebagai tourism branding atau branding pariwisata Kota Ambon Manise itu, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Esthy Reko Astuty melihat hal itu sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja mengingat Ambon memang punya potensi itu.

Menurut Esthy lahirnya usulan itu karena terkait pencanangan tersebut. Kenapa sampai ada pencanangan itu? Karena potensi sumber daya manusia di Kota Ambon dan Maluku secara keseluruan memang berbakat dalam bidang musik. Warganya pun dekat dengan musik dalam kehidupan keseharian, ditambah selama ini potensial mencetak para musisi dan penyanyi andal yang berprestasi nasional bahkan internasional.

Kendati begitu Esthy menyarankan agar sebelum tagline itu dipilih dan kemudian ditetapkan sebagai branding parwisata Kota Ambon, harus tetap diteliti, dicermati, dan dibahas lebih jauh.

Secara nama Ambon City of Music memang sudah menarik, mudah diingat dan berkesan mendunia, namun harus tetap disurvei apakah benar-benar iconic dan positioning-nya tinggi,” ujar Esthy usai membuka secara resmi Seminar bertema The Power of Branding: Membranding Maluku” dengan memukul tifa, kemudian tampil memaparkan makalah bertajuk “Strategi dan Kebijakan Pariwisata Kementerian Pariwisata” di Islamic Center, Kota Ambon, Rabu (7/2).

Seminar yang digelar oleh Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara (Asdep SP2N) ini merupakan salah satu dari 7 acara dukungan Kemenpar dalam rangka meramaikan dan mensukseskan Hari Pers Nasional (HPN) 2017 di Ambon yang digelar 5-9 Februari.

Menurut Esthy, selain tagline Ambon City of Music, masih ada dua ikonik yang bisa dibicarakan dan diangkat untuk menjadi branding pariwisata Kota Ambon yakni Ambon Kota Perdamaian Dunia dan Ambon Kota Jalur Rempah

“Namun untuk tagline Perdamaian Dunia dan Jalur Rempah seperti lebih cocok ditujukan untuk provinsi bukan Kota Ambon. Jadi Maluku Provinsi Perdamaian Dunia dan Maluku Provinsi Jalur Rempa seperti itu misalnya dengan tagline yang menarik, mudah diingat, dan mendunia bukan bersifat lokalan,” kata Esthy.

Kenapa? Lebih lanjut Esty menjelaskan karena Maluku menjadi salah satu lokasi jalur rempah sebagai penghasil cengkeh, dua lagi yakni Pulau Timor untuk cendana dan Pulau Banda sebagai penghasil pala.

Dukungan usulan tagline Ambon City of Music sebagai branding pariwisata Ambon pun datang dari pakar marketing Hermawan Kartajaya.

“Kalau tagline Ambon itu Kota Musik itu sudah benar. Untuk dijadikan sebagai branding pariwisatanya juga tepat. Tapi untuk branding Maluku harus diramu dulu mana yang pas,” ujar Hermawan setelah selesai menyampaikan materi berjudul “Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara: Pemasaran Wisata Maluku” dalam seminar yang dikuti ratusan peserta dari seluruh perwakilan SKPD di Ambon dan anggota Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Maluku serta sejumlah tamu undangan tersebut.

Sebelumnya, Penjabat Walikota Ambon Frans Johanes Papilaya menyatakan Pemkot Ambon siap menjadikan Ambon menjadi kota musik dunia.

Menurut Frans Pemkot Ambon bersama tim konsultan sudah menyiapkan rencana aksi setelah melalui beberapa tahapan, yakni konsultasi dan diskusi dengan pera pelaku usaha, komunitas musisi, dan seniman di Kota Ambon.

Aksi tersebut terbagi dalam lima pilar, yakni musisi dan komunitas, infrastruktur, proses belajar, pengembangan industri dan nilai sosial budaya.

Berdasarkan hasil diskusi dengan mendengar masukan dari para seniman dan pelaku usaha serta konsultasi dengan Pemkot Ambon, lanjut Frans akan ada 25 rencana aksi Ambon menuju kota musik dunia.

Sebagai informasi tambahan, agar Ambon berhasil ditetapkan sebagai kota musik dunia, harus memenuhi 7 kriteria utama Unesco. Ketujuh kriteria tersebut antara lain tersedia pembangunan infrastruktur penunjang berupa penyiapan SDM, studio rekaman, gedung pertunjukan seni, dan juga sekolah musik.

Menurut Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kota Ambon, Sherly, dari ketujuh kriteria tersebut, Ambon tengah membangun sebuah sekolah musik yang berkualitas untuk generasi muda dari tingkat SD sampai SMA.

Sekolah musik ini nantinya akan memiliki kurikulum pendukung yang jelas dan bagus serta dilengkapi oleh tenaga pengajar yang berkompeten.

Kata Sherly, Unesco memberi batas waktu tiga tahuh kepada kota-kota di dunia yang sudah dicanangkan sebagai kota musik, terasuk kota Ambon untuk mempersiapkan ketujuh kriteria utaman yang sudah ditentukan Unesco.

“Siapa yang siap, kota itulah yang nanti mendapat gelar Kota Musik Dunia. Mudah-mudahan Kota Ambon yang mendapatkannya,” harap Sherly, dan tentunya itu jadi harapan masyarakat Kota Ambon, provinsi Maluku, dan seluruh rakyat Indonesia.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. Youtube & WAG Tim HPN Kemenpar


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP