. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label banda aceh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label banda aceh. Tampilkan semua postingan

Selasa, 04 Juni 2019

Ini Jagoan Utama Destinasi Aceh, Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang & Aceh Tengah Spesial Lebaran

Provinsi Aceh dan beberapa kota serta kabupatennya, masing-masing punya jagoan utama destinasi khusus edisi Lebaran 2019.

Dimulai dari Provinsi Aceh yang menempatkan Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh sebagai jagoan utama dari 10 Top Destinasinya, sebagaimana diunggah di akun Instagram (IG) @genpi_aceh.

Selanjutkan diurutan 2 sampai 10 terpilih Museum Tsunami juga di Banda Aceh, Pantai Lampuuk (Aceh Besar), Pantai Iboih (Sabang), Kilometer Nol Indonesia (Sabang), Hutan Mangrove (Langsa), Taman Bunga Celola (Aceh Jaya), Danau Lut Tawar (Aceh Tengah), Tuan Tapa (Aceh Selatan), dan Pantai Ujong Blang di Lhokseumawee.

Sama seperti Provinsi Aceh, Kota Banda Aceh pun menjadikan Masjid Raya Baiturrahman sebagai jagoan utama dari 10 Top Destinasinya.

Berikutnya diposisi 2 sampai 10 terpilih Museum Tsunami Aceh, Taman Bustanussalatin, PLTD Apung, Taman Sari Gunongan, Pantai Ulee Lheue, Masjid Agung Al-Makmur, Museum Aceh, Kapal di Atas Rumah, dan Makam Syiah Kuala.

Pemilihan Masjid Raya Baiturrahman sebagai jagoan utama dari 10 Top Destinasi baik di tingkat Provinsi Aceh maupun Ibukota Provinsi Aceh, TravelPlus Indonesia nilai juga amat tepat.

Alasan utamanya karena amat selaras dengan gelar yang disandang Aceh sebagai salah satu destinasi halal terbaik di Indonesia.

Masjid Raya Baiturrahman menjadi landmark atau ikon wisata religi bukan cuma buat Banda Aceh, pun Aceh secara keseluruhan, yang sampai saat ini belum tergantikan dengan bangunan lain.

Alasan penguatnya, Masjid Raya Baiturrahman punya sejarah panjang.

Masjid ini dibangun oleh Sultan Iskandar Muda di abad ke-16 tepatnya tahun 1612. Namun ada juga yang mengatakan kalau Masjid Raya Baiturrahman didirikan oleh Sultan Alauddin Johan Mahmudsyah tahun 1292.

Masjid di jantung Banda Aceh ini pun bukan semata simbol agama, pun budaya, semangat, kekuatan, perjuangan dan nasionalisme rakyat Aceh.

Menariknya lagi, paras masjid ini sejak 13 Mei 2017 terlihat lebih indah bak Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi ini.

Ada payung-payung elektrik menggantikan hamparan rumput hijau yang dulu tumbuh di pekarangan masjid.

Selain itu, ada kolam persegi panjang di depan masjid yang meneduhkan.

Masjid ini pun menjadi salah satu bangunan penyelamat warga Banda Aceh dari gelombang tsunami setinggi 21 meter yang menghantam pesisir Banda Aceh pada 26 Desember 2004 silam.

Menilik sederet alasan utama dan penguat itu, sepertinya tidak terbantahkan lagi kalau Masjid Raya Baiturrahman memang pantas menyandang predikat jagoan utama destinasi bukan cuma bagi Kota Banda Aceh, pun Provinsi Aceh.

Lain lagi dengan Kabupaten Aceh Besar yang memilih Pantai Lampuuk sebagai jagoan utama dari 10 Top Destinasinya.

Di ranking 2 sampai 10 terpilih Pantai Lhokseudu, Gampong Nusa, Masjid Thuha Indrapuri, Taman Rusa, Jambo Rujak U Groh Indrapuri, Rumoh Cut Nyak Dhien, Pantai Lhok Mee, Tahura Saree, dan Kebun Kurma Barbatee.

Sementara Kota Sabang mantap memposisikan Kilometer Nol Indonesia sebagai jagoan utama dari 10 Top Destinasinya.

Di tempat kedua hingga kesepuluh, ada Pantai Iboih, Sunset Sabang Fair, Pulau Rubiah, Pantai Pasir Putih, Pantai Anoi Itam, Menara Merah Putih, Gua Sarang, Benteng Jepang, dan Pantai Gapang.

Lain halnya dengan Kabupaten Aceh Tengah yang memastikan Danau Lut Tawar sebagai jagoan andalan utama dari 10 Top Destinasinya khusus edisi libur Lebaran tahun ini, sebagaimana unggahan IG @wisata_gayo.

Di urutan 2 sampai 10, destinasi yang terpilih adalah Pantan Terong, Bur Telege, Ujung Paking, Goa Putri Pukes, Ujung Nunang, Pante Menye, Arung Jeram, Dermaga Nosar, dan Bur Rintis.

Nah, buat wisatawan yang ingin berwisata ke Tanah Rencong saat libur Lebaran tahun ini, sepertinya 10 Top Destinasi di Aceh, Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, dan Aceh Tengah itu patut disambangi satu per satu.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Masjid Raya Baiturrahman di Banda Aceh sebagai jagoan utama dari 10 Top Destinasi Provinsi Aceh dan Kota Banda Aceh edisi libur Lebaran 2019.
2. Museum Tsunami Aceh di Banda Aceh
3. Perahu di Atas Rumah salah satu objek wisata tsunami di Banda Aceh.
4. Masjid Raya Baiturrahman punya sejarah panjang.
5. Menikmati sunset Pantai Lampuuk, Aceh Besar.
6. Kilometer Nol Indonesia di Sabang. (dok.disbudpar sabang)
7. Sepenggal pesona Danau Lut Tawar di Aceh Tengah.


Read more...

Kamis, 07 Januari 2016

Wisata Halal Bakal Ngetren di 2016: Lombok, Banda Aceh, Padang & Jakarta Bakal Diminati

Wisata halal di Indonesia bakal diminati wisatawan, baik dari dalam maupun luar negeri pada tahun 2016 ini. Modalnya, ada 3 penghargaan World Halal Travel Award (WHTA) 2015 yang berhasil diraih Indonesia. Selain itu sudah ada 3 daerah yang ditetapkan sebagai destinasi wisata halal, ditambah tersedianya sejumlah hotel dan restoran yang mengusung konsep halal. 

Berdasarkan pengamatan penulis, ketiga daerah yang sudah ditetapkan sebagai destasi halal oleh pemerintah yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam hal ini Pulau Lombok, kemudian Aceh (Kota Banda Aceh) dan Sumatera Barat (Kota Padang), diperkirakan akan ramai dikunjungi wisatawan yang ingin menikmati sejumlah obyek wisata dan fasilitasnya yang berkonsep halal.

Di antara tiga daerah itu, Lombok paling diincar wisatawan, mengingat daerah bergunung Rinjani ini berhasil mendapatkan 2 penghargaan WHTA 2015 untuk kategori destinasi bulan madu halal terbaik dunia (The World Best Halal Honeymoon Destination) dan destinasi wisata halal terbaik dunia (The World Best Halal Tourism Destination).

Dua penghargaan tersebut menambah imej positif bernuansa islami lainnya. Maklum selama ini Lombok mendapat predikat Pulau Seribu Masjid. Dijuluki seperti itu lantaran banyak masjid megah dan mewah di setiap desa di sepanjang perjalanan di pulau yang bertetangga dengan Bali ini. Lombok terbagi dalam 4 kabupaten yakni Lombok Barat, Tengah, Timur, dan yang terbaru adalah Lombok Utara.

Faktor pendukung lainnya, Pemprov NTB sudah menyiapkan beragam agenda wisatanya selama 2016. Bahkan agenda wisatanya yang berlangsung di dua pulau utamanya yakni Lombok dan Sumbawa itu sudah diluncurkan sejak akhir 2015 di Jakarta.

Pada bulan Februari, misalnya ada Pesta Rakyat Bau Nyale yang akan digelar di Pantai Kute, Seger A’an, Lombok Tengah. Lalu di bulan Maret, tepatnya tanggal 19, ada Pagelaran Wayang Kulit Sasak yakni pementasan yang mengkolaborasikan antara wayang dengan teater, sendra tari, dan kesenian lainnya.

Bulan berikutnya, tepatnya mulai 3-10 April ada rangkaian peringatan Tambora Menyapa, memperingati peristiwa erupsi super dasyat Tambora ke-201, di antara ada Festival Mbojo atau pacuan kuda yang dilakukan oleh joki anak-anak kecil.

Di bulan Juni ada Lombok Sumbawa Pearl Festival, yakni pameran mutiara berkualitas dunia dari Lombok dan Sumbawa dengan mendatangkan berbagai buyers. Kemudian di bulan Agustus, ada Festival Mentaram, yakni festival yang menghadirkan seluruh budaya yang ada di Kota Mataram, di antaranya budaya Suku Sasak, Sumbawa, Mbojo, Bali, dan masih banyak lagi.

Di bulan September ada Fesival Senggigi selama sepekan, dimulai pada tanggal 16 di Lombok Barat, tepatnya di Pantai Senggigi yang sudah mendunia kesohorannya. Festival ini dimeriahkan oleh berbagai atraksi, pameran, dan pesta rakyat. 

Masih di bulan September, ada Festival Gili Indah di Lombok Utara yang semarakkan dengan lomba perahu layar, volly pantai, pesta kuliner, dan lainnya. Selain itu ada Festival Moyo di Sumbawa pada 23 September hingga 30 Oktober. Acara tahunan yang diikuti 24 kecamatan ini akan kembali menyuguhkan atraksi Temung Nguri dan Tarian Gelap Junjung Pasajiu. 

Sementara di bulan November 2016, ada Festival Taliwang yang diramaikan dengan balapan kebo biasa dan kebo hias serta olah dirgantara paralayang.

Faktor pendukung lainnya, NTB dianugerahi sejumlah obyek wisata alam berkelas dunia. Destinasi alam yang menjadi unggulannya antara lain Gili Trawangan, Gili Meno, Gili Air, Pantai Senggigi, Gunung Rinjani, dan Gunung Tambora. 

Aneka makanan khas yang ada di resto dan rumah-rumah makan di Lombok otomatis semua halal, mengingat mayoritas penduduknya muslim.

Wisatawan yang konsen dengan makanan halal tentu tidak perlu khawatir apalagi bingung menyantap makanan di Lombok. Pilihan kulinernya beragam, ada Sate Bulayak, Plecing Kangkung, Ayam Taliwang, dan lainnya. 

Sejumlah resort di Lombok juga mulai banyak yang menerapkan konsep halal, salah satunya Svarga Resort yang berada Senggigi, Lombok Barat. Resort ini berkonsep bebas alkohol artinya tidak menjual minuman alkohol dan mengaplikasikan halal food and beverage antara lain dengan menghindari makanan yang mengandung gelatin dari unsur babi.

Penginapan atau hotel yang muslim friendly atau halal ready juga banyak, minimal yang menyediakan petunjuk arah kiblat, alat salat, dan kitab suci di dalam kamar hotelnya. Bukan cuma itu, untuk promosi wisata halal, Bandara Internasional Lombok juga akan diberi label halal.

Modal 2 penghargaan WHTA 2015, predikat Pulau Seribu Masjid, obyek alam yang menawan, makanan halal, dan sejumlah penginapan ready halal serta sejumlah event andalannya, jelas akan menarik minat para turis muslim. Tak heran kalau Kadisbudpar NTB Lalu Mohammad Faozal menargetkan jumlah wisatawan yang akan berkunjung ke NTB tahun 2016 ini sebanyak 3 juta yang terdiri atas 1,5 juta wisnus dan sisanya wisman. Target itu dinilai beberapa pihak terlalu kecil, NTB diprediksi bisa meraup wisatawan lebih dari jumlah itu. 

Daerah lain yang juga bakal dimintai wisatawan penyuka wisata halal adalah Sumatera Barat (Sumbar). Modalnya, kultur masyarakat Minang yang menganut budaya Islam dan berpredikat sebagai daerah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah.

Wisata halal yang berprinsip menghilangkan hal-hal yang tidak sesuai dengan Syariat Islam ini, juga dipandang sangat sesuai dengan falsafah orang Minang yaitu Ambiak nan elok jadi pusako, sado nan buruok kito pelokkan

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Sumbar Burhasman mengatakan masyarakat Minang sebenarnya sudah menerapkan asas syariah dalam kehidupan sehari-hari sejak lama, termasuk dalam sektor pariwisata. 

Dengan predikat dan falsafah tersebut, memungkinkan Sumbar mengembangkan wisata halal, memiliki banyak penginapan, dan lainnya yang bersertifikat halal.

Burhasman mengatakan sejumlah hotel di wilayahnya sudah memberlakukan standardisasi syariah, namun belum tertuang dalam aturan baku atau sertifikasi. Pihaknya akan mengoptimalkan aturan tersebut pada 2016, termasuk pada restoran, kuliner, hingga rumah potong hewan. 

Kendati belum semuanya mendukung konsep halal, namun ada hotel yang sudah besertifikat halal seperti Hotel Sofyan Inn Rangkayo Basa di Koto Padang. Bukan Cuma hotelnya, restoran di hotel ini pun sudah bersertifikat halal. 

Faktor pendukung lainnya makanan yang disajikan juga sudah pasti halal, mengingat mayoritas masyarakatnya Muslim. Ditambah dengan sejumlah obyek wisata alam berpanorama pegunungan seperti di Bukittinggi dengan landmark Jam Gadang-nya dan obyek bahari yang indah antara lain Pantai Padang, budaya yang khas antara lain Tarian Piring, kuliner yang sudah mendunia kelezatannya seperti rendang daging, dan lainnya. 

Berikutnya, Aceh juga bakal dimintai wisatawan yang ingin merasakan kelebihan dan atmosfir wisata halalnya. Modalnya, Aceh menjadi satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan hukum Syariah Islam. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Pahlev mengatakan Aceh sangat ideal untuk menjadi destinasi wisata halal karena menerapkan Syariah Islam, yang mana dalam kehidupan masyarakatnya berlaku norma, nilai, dan aturan yang berlandaskan Syariat Islam. 

Kemudian Banda Aceh sebagai ibukota Aceh pun sudah lama berpredikat islami yakni sebagai Kota Serambi Mekkah. Berdasarkan hal itu, Pemerintah Kota Banda Aceh bekerja sama dengan PATA Indonesia Chapter (PIC) menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) di Jakarta, Selasa, 31 Maret 2015 lalu yang disaksikan langsung Menteri Pariwisata Arief Yahya dan sekaligus meresmikan peluncuran branding baru pariwisata Banda Aceh sebagai “World Islamic Tourism”. 

Obyek-obyek wisata di Aceh yang diperkirakan akan dikunjungi wisatawan tahun ini terkait wisata halal antara lain Masjid Raya Banda Aceh atau Masjid Baiturrahman yang menjadi ikon utama pariwisatanya. Disamping itu sejumlah masjid yang terkenal dengan julukan masjid-masjid kebal tsunami seperti Masjid baiturahim di pinggir Pantai Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh dan Masjid Rahmatullah atau Masjid Lampuuk di Desa Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar. 

Obyek lainnya yang juga bakal diminati masih berkaitan dengan tsunami, antara lain Museum Tsunami Aceh yang menyimpan beragam koleksi yang mengingatkan pengunjung akan masa-masa terjadinya gelombang tsunami 2004. Lokasi museum yang arsitekturnya dirancang Ridwan Kamil (Walikota Bandung saat ini) berada di tengah-tengah Kota Banda Aceh, tepatnya di Jalan Iskandar Muda. 

Lalu Monumen Aceh Thanks to the World, yakni monumen ucapan terima kasih kepada relawan dari sejumlah negara yang membantu Aceh saat dilanda tsunami. Lokasinya di Lapangan Blang Padang, salah satu tempat yang sangat parah ketika tsunami menerpa. 

Kemudian PLTD Apung yakni obyek berupa sebuah kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung seberat 2.600 ton yang terseret gelombang tsunami hingga lima kilometer dari Pantai Ulee Lheue. Lokasinya di Gampong Punge Blang Cut, Kota Banda Aceh.

Satu lagi Kapal Apung Lampulo yakni sebuah kapal nelayan yang terhempas gelombong Tsunami Aceh lalu terdampar tepat di atas rumah warga. Letaknya di Gampong Lampulo, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh. 

Wisatawan juga ingin menikmati menu masakan khas Aceh yang jelas-jelas halal mengingat mayoritas masyarakatnya muslim. Beberapa makanan khas Aceh yang dipastikan bakal diminati wisatawan pemburu kuliner halal antara lain Gulee Pliek Ue yang hampir terdapat di seluruh warung-warung nasi di seputaran Banda Aceh, Warung Sie Kameng atau rumah makan nasi daging kambing yang sudah sangat terkenal bagi warga Aceh. Selain itu Ayam Tangkap, Mie Aceh, dan lainnya. 

Mereka juga pasti akan memborong panganan sebagai oleh-oleh khas Aceh yang tentunya juga halal seperti Dendeng Aceh, Dodol Aceh, Kopi Gayo dan Ulee Kareung, ikan kayu (Keumamah), Emping Melinjo (Kerupuk Meuling), keripik nangka, manisan asam (Asam Kana), dan masih banyak lainnya. 

Kota lain yang juga bakal diminati wisatawan untuk berwisata halal adalah Jakarta. Pasalnya di Jakarta ada sejumlah hotel yang sudah berkonsep halal, bahkan salah satunya ada yang berhasil meraih penghargaan WHTA 2015 sebagai The World Best Family Friendly Hotel, yakni Hotel Sofyan Betawi yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dekat Masjid Cut Mutia. 

Faktor pendukung lainnya, Jakarta memiliki masjid-masjid yang kerap dikunjungi wisnus dan wisman dan sudah tersohor namanya seperti Masjid Istiqlal di Jakarta Pusat, Masjid Agung Al-Azhar di Jakarta Selatan, dan Masjid Kubah Emas yang berada di pinggiran Jakarta tepatnya di Depok.

Jakarta juga punya obyek wisata buatan yang juga menyediakan fasilitas yang ramah dengan muslim seperti fasilitas musolah dan lainnya yakni Tugu Monas, TMII, Taman Impian Jaya Ancol, dan Kebun Binatang Ragunan. 

Komisaris Utama Hotel Sofyan Betawi yang juga Ketua Asosiasi Hotel dan Restauran Syariah Indonesia (AHSIN) Riyanto Sofyan mengatakan wisata halal juga sudah menjadi tren dunia seiring peningkatan wisatawan muslim dunia. Dia memprediksi 5 juta wisatawan muslim akan berkunjung ke Indonesia tahun ini. 

Anggota Dewan Masyarakat Ekonomi Syariah Sapta Nirwandar berharap semakin banyak hotel, restoran dan obyek-obyek wisata yang berkonsep halal di Indonesia untuk menjaring wisman muslim sebanyak-banyaknya. Menurut Sapta, Indonesia jangan sampai kalah dengan negara-negara lain yang penduduk muslimnya minoritas tapi sudah sangat perhatian dengan kebutuhan fasilitas halal bagi para wisatawan muslim. Ia mencontohkan restoran di Singapura banyak yang sudah bersertifikat halal. Bahkan Korea Selatan sudah mengumumkan 50 restoran halalnya yang tersebar disejumlah tempat, beberapa waktu lalu.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (kembaratropis@yahoo.com

Read more...

Minggu, 27 Desember 2009

Keliling Obyek Tsunami Usai Meeting




Usai mengi-kuti rapat (meet-ing), konvensi (convention) maupun pameran (exhibition) di Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh, sebaiknya jangan langsung pulang. Nikmati dulu sejumlah obyek tsunaminya sebagai insentif (incentive) pelepas lelah. Pastinya, Anda bakal menemukan obyek wisata khas tsunami yang tak mungkin Anda temukan di kota lain.

Pasca gempa berkekuatan 9,8 Skala Richter dan disusul tsunami dasyat yang meluluhlantahkan beberapa wilayah di Aceh 5 tahun silam, membuat wajah Banda Aceh berubah lebih baik, termasuk obyek wisatanya yang ternyata semakin bertambah.

Dulu, sebelum bencana tujuan utama wisatawan ke Banda Aceh tentu untuk melihat Masjid Baiturrahman. Tapi usai gelombang dasyat itu berlalu, bukan cuma Masjid Raya Banda Aceh itu yang menjadi obyek tujuan melainkan pula obyek-obyek wisata dari sisa-sisa keganasannya.

Obyek-obyek tersebut, kini justru menjadi primadona wisata baru di kota berjuluk Serambi Mekah ini. Pasalnya selain khas dan bikin heran, obyek-obyek itu hanya ada di Banda Aceh. Karenanya pula, kota ini pun kemudian mendapat sebutan baru sebagai Tsunami Memorial City.

“Obyek wisata khas tsunami di Aceh bisa menjadi alternatif incentive usai melakukan meeting, convention maupun exhibition di Banda Aceh,” jelas Betty Anita, Kasi Asosiasi Luar Negeri Direktorat MICE, Depbudpar saat mengunjungi salah satu obyek tsunami usai membawa rombongan media dari Jakarta untuk meliput acara peringatan 5 tahun tsunami yang dihadiri Wapres Boediono di Pelabuhan Ulee Lheue, Gampong Pante Cermin, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh (26/12).

Sebelum acara puncak peringatan 5 tahun tsunami Aceh di Pelabuhan Ulee Lheue, diselenggarakan seminar international bertajuk Aceh’s Development Prospect Post Tsunami (17/12) di Hermes Palace Hotel, Pameran berjudul Exhibition of Success Story (14-19/12) di Museum Tsunami Aceh, dan Pagelaran Budaya Aceh (18-19/12) juga di Museum Tsunami Aceh.

Obyek wisata yang terjadi akibat tsunami yang dapat Anda lihat di Banda Aceh antara lain Kapal Pembangkit Tenaga Listrik Diesel (PLTD) Apung I di Kelurahan Punge Blang Cut. Ketika kali pertama melihat kapal ini mungkin Anda bakal heran. Bagaimana tidak, tongkang berbobot mati 2.500 ton dan luas lambung 1.600 meter persegi ini terempas tsumani dari Dermaga Ulee Lheue sejauh 4 Km ke tengah permukiman padat penduduk hingga menelan korban nyawa dan juga merusak bangunan.

Di tongkang PLTD Apung yang sudah tak berfungsi lagi itu, Anda dapat naik ke atas geladak setinggi lebih kurang 20 meter lewat tangga besi di sisi tongkang. Dari atas geladaknya, Anda dapat menyaksikan pemandangan luas ke berbagai belahan kota di Banda Aceh, termasuk ke Dermaga Ulee Lheue, tempat tongkang itu semula berlabuh.

Dalam rangka memperingati 5 tahun tsunami, di kapal ini digelar sejumlah kegiatan antara lain tabligh dan zikir akbar oleh warga setempat yang disponsori beberapa produk. Sejumlah warga dari luar Banda Aceh bahkan dari Medan berdatangan ke kapal ini untuk bertakbir bersama atau sekadar melihat kapal besar ini.

Usai menaiki tongkang PLTD Apung 1, Anda bisa rehat sejenak di Taman Edukasi Tsunami, sekitar 50 meter dari tongkang itu. Di sana Anda bisa duduk-duduk di teras sambil melihat aneka tanaman bunga seperti mawar dan lainnya atau mendatangi pusat kreasi seni yang memamerkan sejumlah foto-foto tsunami.

Obyek sama yang mungkin juga mampu membuat Anda heran dan mengakui betapa dasyatnya tsunami ketika itu adalah obyek kapal kayu di atas rumah di Kelurahan Lampulo, Kecamatan Kuta Alam.

Semula kapal nelayan itu berlabuh di Dermaga Pantai Aceh. Akibat tsunami, kapal itu terbawa arus hingga lebih kurang 3 Km ke daratan. Yang mencengangkan, meski terbawa arus super deras, kapal itu berhasil menyelamatkan 165 orang dari terjangan gelombang karena mereka menyelamatkan diri ke atas kapal tersebut. Untuk memudahkan pengunjung melihat kapal melayan ini dari dekat, Pemkot Banda Aceh membangun sebuah jembatan.

Kuburan Massal
Selain mengunjungi sisa-sisa kedayatan tsunami di atas, Anda bisa melanjutkan kunjungan ke obyek-obyek wisata baru yang masih berkaitan dengan tsunami seperti Kuburan Massal, Museum Tsunami Aceh, dan Tugu Peringatan Tsunami.

Kuburan Massal Meuraxa semula merupakan halaman Puskesmas Meuraxa yang luluh lantah oleh tsunami. Lokasinya sekitar 6 Km dari pusat Kota Banda Aceh atau beberapa ratus meter dari Pantai Ulee Lheue. Di kuburan massal itu tidak ada batu nisan. Hanya berupa lapangan dan gundukan tanah berlapis rumput.

Pada hari-hari tertentu, termasuk pas perayaan peringatan 5 tsunami, sejumlah warga Aceh berziarah ke kuburan massal ini. Mereka sengaja datang untuk mendoakan sanak-saudara, istri-suami, anak, tetangga, maupun sahabat yang menjadi korban tsunami dan dimakamkan secara bersama di perkuburan tersebut.

Di lahan kuburan tersebut ada plang kecil berbentuk menara masjid bertulisan “Kuburan Dewasa”. Di depannya ada gapura dengan pintu besi bercat hijau bertuliskan kata-kata yang mengingatkan pengunjung supaya sadar bahwa kematian itu mutlak adanya. Di kuburan massal tersebut, Anda bisa memanjatkan do’a buat para korban tsunami.

Selanjutnya ke Tugu Peringatan Tsunami di Lapangan Blang Padang, Banda Aceh. Tugu yang dibangun oleh Yayasan Harapan Bangsa Nusantara dan didanai oleh yayasan dari USA ini diresmikan pembuatannya oleh Panglima Kodam Iskandar Muda, Majend TNI Supiadin AS, Juni 2008.

Selain tugu di lapangan ini juga ada Prasasti Taman Internasional “Aceh Thanks The World” yang berbentuk gelombang tsunami bercat putih. Serta ratusan prasasti ucapan dari bermacam negara berbentuk pucuk perahu yang tertancap di tanah mengeliligi tengah lapangan, bertuliskan terimakasih dalam bahasa masing-masing negara.

Keberadaan Prasasti Taman Internasional dan Tugu Peringatan Tsunami membuat Lapangan Blang Padang semakin menarik untuk dikunjungi. Sebelumnya sudah ada Tugu Pesawat Seulawah RI-001 di lapangan yang menjadi kebanggaan warga Banda Aceh itu.

Dari Lapangan Blang Padang, Anda tinggal menyeberang ke Museum Tsunami Aceh, di sebelah Makam Belanda (Kherkhof) dekat simpang jam, tepatnya di Jalan Iskandar Muda.

Yang menarik dari museum yang diresmikan Presiden SBY Februari 2008, arsitekturnya unik. Desainnya berbentuk Rumoh Aceh Escape Hill karya M Ridwan Kamil. Eksteriornya berbentuk kapal terdiri 4 tingkat dan hiasan motif Islam. Koleksi museum ini antara lain sejumlah foto-foto tsunami.

Melihat banyaknya obyek baru pascatsunami guna mengenang bencana alam maha dasyat itu, wajar kalau Banda Aceh kini berpredikat Tsunami Memorial City.

Tips Perjalanan
Usai meeting, convention maupun exhibition, Anda bisa mengunjungi semua obyek baru pascatsunami di Banda Aceh dalam satu atau dua hari saja sebagai incentive-nya. Sebab, lokasinya mudah dijangkau dan berdekatan. Anda bisa menyewa bus damri, mobil travel, taksi, labi-labi (angkot) atau kalau ingin irit ongkos pilih saja bentor (becak motor) yang sudah lama menjadi kendaraan khas warga Banda Aceh dan sekitarnya.

Untuk tempat menginap, ada sejumlah hotel berbintang di Banda Aceh antara lain Hermes Palace Hotel di Jalan Nyak Makam sekitar 5 Km dari Masjid Baiturrahman, Oasis Atjeh Hotel dan Hotel Grand Nanggroe keduanya di Lueng Bata, sekitar 5 Km pusat kota, atau Sulthan Hotel di Jalan Panglima Polem, kawasan bisnis dan pertokoan Peunayong. Sedangkan hotel yang lebih murah antara lain Hotel Mirah (belakang Sulthan), Hotel 61 Jalan Panglima Polem (depan Sulthan) atau Hotel Diana di Kuta Alam.

Di sela-sela city tour Banda Aceh, sempatkan menikmati wisata kuliner setempat seperti Mie Aceh di Rumah Makan Mie Lala di Jalan Syiah Kuala Kuata Alam dan Resto Mie Rajalie di Jalan Panglima Polem. Jangan lupa menikmati bermacam makanan khas Tanah Rencong ini seperti Ayam Tangkap, Ikan Kayu Tumis, Sambal Udang, Gule Kambing, Sate Matang, dan Ikan Bakar Rambeu di Retoran Banda Seefood di Jalan Raya Kp. Blang, Ulee Lheue.

Kalau mau minum kopi tarik khas Aceh datang saja ke kedai kopi seperti Kedai Kopi Solong di Ulee Kareng yang berdiri sejak 1974 dan diklaim sebagi kedai kopi tertua di Banda Aceh. Di kedai ini Anda bisa minum aneka jenis kopi atau membeli kopi bubuknya. Atau bisa juga ke Dapu Kupi di Jalan Simpang Surabaya, Banda Aceh yang buka 24 jam. Kalau ingin membeli Dendeng Aceh pergi saja di Toko Seulawah di Jalan Tengku Cik Ditiro.

Bila ingin membawa cendramata khas Aceh seperti baju koko, sajadah, tas, rencong, batik Aceh, gantungan kunci, dan lainnya pergi saja ke Toko Putroe Aceh di Jalan KH Ahmad Dahlan, Toko Rencong Aceh di seberang Masjid Baiturrahman, dan Koperasi Souvenir Mutiara Intan di dekat Masjid Baiturahim. Kalau suka dengan kaos berkata-kata humor atau bijak khas Aceh, semacam Dagadu-Yogya atau Joger-Bali, datang saja ke Toko Celoteh di dekat Kapal PLTD Apung.

Selama berwisata di Bumi Iskandar Muda termasuk di Banda Aceh, bagi muslimah dewasa sebaiknya mengenakan pakaian muslimah atau minimal berkeredung. Bagi muslim dewasa, sebaiknya pula berbusana pria santun. Selamat ber-incentive mengelilingi obyek wisata tsunami di Banda Aceh.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP