. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label Ah Serunya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ah Serunya. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 September 2017

Ke Danau Limboto Saat Festival, Ah Serunya

Berwisata ke Danau Limboto memang bisa kapan saja. Tapi kalau datang bertepatan dengan penyelenggaraan Festival Pesona Danau Limboto, pasti akan jauh lebih seru lagi.

Soalnya selain dapat beraktivitas wisata di Danau Limboto, seperti memancing bersama nelayan setempat, menikmati pesona sunrise lalu mengabadikannya, bersampan mengelilingi danau di Kampung Kayudurian, dan mencicipi kuliner khasnya seperti Ikan  Lajang, Oci, Huluu, Payangga, Tola/Gabus, Mangaheto, Botua, Bulalao, dan Ikan Boidelo Bakar serta Milu Siram, Anda akan disuguhkan beragam acara terkait Festival Pesona Danau Limboto.

Festival Pesona Danau Limboto (FPDL) 2017 yang dudukung oleh Pesona Indonesia-nya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akan berlangsung tanggal 21-25 September, bertempat di kawasan Pentadio Resort, tepian Danau Limboto, Kabupaten Gorontalo.

FPDL tahun ini mengangkat tema Cintai dan Lestarikan Danau Limboto. Kenapa diadakan bulan September? Karena diperkirakan ada kedatangan lebih dari 30 spesies burung migran dari belahan bumi utara ke kawasan danau ini sehingga menjadi sebuah atraksi wisata yang menarik.

Selain carnival budaya multietnik, lomba dayung perahu, festival kuliner nusantara, lomba lari 10 K, pemilihan Nou dan Uti, Gorontalo Expo, karapan kerbau, dan triathlon, FPDL 2017 juga akan dimeriahkan dengan Konferensi Danau Nusantara yang diikuti oleh sejumlah kepala daerah di Indonesia yang daerahnya memiliki danau.

Danau Limboto ternasuk berperairan mesotrof, terletak di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bone Bolango yang terhampar di ketinggian 4.50 Mdpl dengan kedalaman 2,5 meter dan luas sekitar 3.000 hektar.

Ada 4 sungai besar yang bermuara di Danau Limboto yaitu Sungai Alo, Daenaa, Bionga, dan Sungai Molalahu. Danau ini juga merupakan ulu dari Sungai Tapodo yang muaranya menyatu dengan Sungai Bone Bolango dan mengalir terus ke laut.

Danau ini dikelilingi lima kecamatan yakni Kecamatan Limboto, Telaga, Telaga Alo, Sungai Daenaa, dan Kecamatan Kota Barat yang merupakan wilayah Gorontalo Kota.

Tak sulit menjangkau danau yang berjarak sekitar 16 km dari Bandara Djalaludin Tantu ini. Anda bisa menggunakan taksi ataupun sewa mobil travel.

Selepas menyaksikan FPDL 2017, usahakan mampir ke sejumlah objek wisata sekitarnya antara lain berwisata budaya ke Rumah Adat Bantayo Poboide di Kecamatan Limboto, lalu berwisata religi ke Masjid Kubah Walima Emas di Desa Bongo, Kecamatan Batudaa Pantai dan ke Pesantren Alam, masih di Desa Bongo serta ke Masjid Agung Baiturahman di Kecamatan Limboto.

Lanjutkan berwisata sejarah ke Museum Pendaratan Soekaro di Kecamatan Batudaa, kemudian berwisata bahari ke Pantai Itoduti di Desa Biluhu Timur Kecamatan Biluhu.

Tak ketinggalan berwisata buatan ke Tambatan Perahu Hitadaa, Limboto Tekno Sains park, dan Pakaya Tower di Kecamatan Limboto.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Sepenggal pesona  Danau Limboto.
2. Pesona Indonesia-nya dukung  Festival Pesona Danau Limboto 2017.
3. Objek wisata Pentadio Resort di tepian  Danau Limboto.

Read more...

Jumat, 11 November 2016

Berwisata Bareng Ayah dari Mandi Hujan, ke Mall, Museum Hingga Naik Gunung, Ah Serunya

Akhir Pekan, Long Weekend, apalagi Liburan Sekolah adalah hari-hari yang ditunggu anak-anak. Ya apa lagi kalau bukan liburan bersama Ayah dan tentunya Ibu. Tapi kali ini fokus bersama Ayah saja. Kenapa? Karena terkait dengan peringatan Hari Ayah yang diperingati di Indonesia setiap tanggal 12 November, besok.

Lalu kemana biasanya sang Ayah membawa anak-anak liburan? Jawabnya tentu bermacam, disesuaikan dengan umur si anak, minat si anak, kondisi keuangan, waktu, keamanan, dan kenyamanan serta manfaatnya bagi si anak.

Kesimpulan jawaban itu berhasil Travelplusindonesia rangkum dari hasil obrolan santai beberapa Ayah via WA, Jumat (11/11).

Wawan S. Gunawan, dalangnya Wayang Ajen. Ayah tiga putri ini selalu mengajak ketiga putrinya ke kampung halamannya di Ciamis.

“Saya ajak ke kebun, sawah, main air, dan mancing ikan kecil di parit atau sungai kecil. Si bungsu neng Antiq, seneng banget Om,” terangnya.

Wawan yang juga tertcatat sebagai PNS di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini menambahkan tempat wisata yang paling bagus buat anak-anak itu yang bisa menambah kecerdasan anak, mendidik tapi tidak menggurui.

“Kita bisa mengajak anak-anak ke tempat wisata buatan, petualangan, dan objek wisata edukasi budaya. Pokoknya yang bisa membuat anak-anak terjun langsung ke alam bebas dan berkesenian. Jadi bisa merasakan pengalaman langsung,” ungkapnya.

Lain lagi dengan Jemmy, dosen di Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung yang kerap mengajak anak-anaknya berlibur ke berbagai lokasi di Bandung dan sekitarnya.

Maklum Ayah tiga anak (paling besar kelas 1 SMA, kedua kelas 1 SMP, dan ketiga masih kelas 4 SD) ini tinggal di Bandung.

“Kalau di Bandung paling ke Ciwidey atau ke Ciater. Pilihan lain ke mall dan Masjid Raya Bandung atau ke rumah neneknya di Rangkasbitung, Kalau liburnya panjang paling ke Candi Borobudur dan Prambanan di Jogja,” terang Kasubag Kependidikan dan Kerjasama STP Bandung ini.

Jemmy pun sesekali anak-anaknya diajak ke museum untuk menambah wawasan dan pengetahuan. “Paling ke Museum Geologi di Bandung. Pulangnya bawa oleh-oleh cerdas,” akunya.

Beberapa Ayah muda yang anaknya masih kecil pun punya cara sendiri membawa buah hatinya untuk berlibur santai.

Hafiz pengusaha rental car di Palembang, Sumatera Selatan misalnya selalu meluangkan waktu bersama Aqmal, yang masih berusia jelang 2 tahun.

“Kalau di Palembang saya bawa ke mall terdekat, pas akhir pekan. Makan bareng sama bundanya juga. Soalnya masih kecil, belum bisa dibawa yang jauh-jauh,” terangnya.

Lain lagi dengan Arri Canis di Aceh. Ayah satu balita berjenis kelamin laki-laki bernama Muhhamd Adam Al Ghaffar ini justru mengajak anaknya mandi hujan.

“Karena masih bayi jadi belum bisa dibawa kemana-mana. Apalagi naik gunung. Paling mandi hujan bareng. Eh dia senang banget. Nanti kalau dah beberapa tahun baru saya ajak naik gunung,” aku Arri yang memang pecinta alam dan pendaki gunung ini.

Sejumlah Ayah, teman penulis semasa kuliah dulu pun punya cara tersendiri dalam mengisi liburan bersama-anak-anaknya.

Julian Bernardi di Padang, Sumbar misalnya kadang membawa putri satu-satunya yang kini duduk kelas 7 atau 1 SMP berwisata ke sejumlah lokasi wisata di Sumbar. “Kalau lagi liburan agak panjang ya ke Jakarta,” aku Julian jebelon S-2 yang kini berwiraswasta.

Sutrisno lain lagi. Ayah tiga anak (paling besar kelas 1 SMP, kedua 3,5 tahun, dan yang ketiga masih 1,3 tahun), biasanya membawa anak-anaknya berwisata ke daerah Bandung dan Cipanas, Garut.

“Belum bias ngajak anak-anak  jauh-jauh. Apalagi yang balita, paling jauh baru Jogja aja,” ujar mantan wartawan yang kini beralih menjadi wiraswasta di bidang penyedia AC untuk pengeboran minyak lepas pantai.

Iwan Maumere, sohib penulis lainnya memilih mengajak anaknya liburan di sekitar wilayah tinggalnya di daerah Cijantung Jakarta Timur dengan pertimbangan dekat dengan rumah dan nyaman.

“Paling gue ajak ke mall main game dan makan. Kadang renang di Cijantung juga,” akunya.

Apa yang dilakukan para Ayah di atas terlihat wajar dan baik-baik saja buat masing-masing buah hatinya.

Namun ada juga segelintir Ayah yang mengajak anaknya liburan dengan kegiatan yang lebih menantang atau lebih bernuansa petualangan.

Beberapa rekan yang hobi mendaki gunung misalnya membawa anaknya juga mendaki gunung. Alasannya ingin memperkenalkan gunung sejak dini. Kebetulan sang Ayah memang pendaki gunung yang masih aktif hingga sekarang.

Rizki asal Sumatera Barat contohnya. Ayah muda satu putri bernama Raesa Nabilla Rizki (4,5 tahun) ini memperkenalkan gunung kepada putrinya yang biasa di sapa Caca itu sejak berusia 3 tahun.

“Alhamdulillah sampai sekarang Caca sudah naik tiga gunung di Sumbar. Bahkan Gunung Marapi sudah 3 kali, Gunung Singgalang satu setengah kali, dan Gunung Talang sekali,” terang Rizki saat ngobrol dengan Travelplusindonesia di kedai Dangau Kawa, Sumbar beberapa waktu lalu.

“Sejak awal Caca yang memaksa nanjak gunung mungkin karena dia melihat teman-teman ayahnya yang datang ke rumah kebanyakan para pendaki gunung. Saya sebagai orang tua ya mendampinginya saja,” kata Rizki yang biasa dipanggil Abah (ayah) oleh Caca.

Kata Rizki, bahagia itu berada di gunung bersama orang yang disayang.

“Buat saya ya bersama Caca, apalagi Caca mau jalan sendiri saat nanjak gunung. Jadi tidak selalu saya gendong,” jelas Rizki sebagaimana tertera di akun instagramnya yang diberi label nama lengkap buah hatinya itu.

Terbukti, para Ayah di atas menganggap beriwisata bersama anak itu penting, apapun itu jenis wisatanya lantaran banyak manfaatnya. 

Menurut Wawan, selain bermanfaat lebih mendekatkan hubungan antara anak dengan Ayah, pun bisa digunakan sebagai media pendidikan luar ruang.

Lewat cara itu, anak bisa mendapatkan ilmu pengetahuan, wawasan, dan pengalaman yang tidak didapat di bangku sekolah atau di rumah.

Salut buat para Ayah yang masih meluangkan waktu buat anak-anaknya sesibuk apapun.

Selamat Hari Ayah 12 November, buat para Ayah di manapun, khususnya di seluruh penjuru Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo, ig:@adjitropis)
Foto” dok. jemmy, arri canis, hafiz, @raesa-nabilla-rizki, & @wawanajen.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP