. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label mice. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label mice. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2011

Keuntungan Tuan Rumah WEC Buat Sektor Pariwisata


Pertemuan ekonom tingkat internasional, World Economic Forum (WEF) digelar di Hotel Shangri-La Hotel Jakarta pada 12-13 Juni 2011, rencananya dibuka Presiden SBY, Minggu, (12/6/2011). Forum diikuti 40 negara dari Asia, Eropa, dan Amerika. Manfaat apa saja yang didapat Indonesia di sektor pariwisata sebagai tuan tumah WEC?

Ini adalah kali pertama Indonesia menjadi tuan rumah World Economic Forum on East Asia (WEFEA) ke-20. Banyak keuntungan yang didapat Indonesia menjadi penyelenggara forum bertajuk Commited to Improving The State of The World ini.

Menurut Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu forum ini akan membahas berbagai kemungkinan kolaborasi dan kerja sama untuk menemukan solusi dari tantangan-tantangan bersama, yang tentunya memberi hasil terbaik bagi kita semua, termasuk Indonesia.

Forum ini juga akan membahas bagaimana mengatasi permasalahan inflasi, kelangkaan sumber daya alam, degradasi lingkungan yang kian meningkat, masalah ketahanan pangan dan energi, pembangunan infrastrutur, konektivitas, penanggualangan bencana alam, dan dampak bencana alam Jepang bagi ekonomi Asia Timur.

Dari sektor pariwisata, dalam hal ini Meeting, Incentive, Convention, & Exhibition (MICE) membuktikan Indonesia dipercaya aman sebagai venue sebuah forum tingkat dunia. Lebih dari 600 peserta dari 40 negara akan ambil bagian dalam forum ini yang terdiri dari berbagai kalangan seperti akademisi, CEO, kepala negara, dan sejumlah menteri di Kabinet Indonesia Bersatu II.

Dengan menjadi tuan rumah WEC, jelas nama Indonesia kian tersohor, dan kepercayaan dunia kepada Indonesia dalam menggelar MICE berskala internasional semakin tinggi. Selama ini Jakarta menjadi Kota MICE utama untuk pertemuan tingkat kepala negara dan menteri. Selain itu Bali, keduanya memiliki fasilitas MICE memadai utuk sebuah perhelatan MICE internasional.

Indonesia dipilih menjadi tuan rumah WEC bukan tanpa sebab. Faktor peyebabnya karena peningkatan rangking yang cukup signifikan sebanyak 10 di antara negara G20 lainnya. Indonesia sendiri menjadi negara urutan ke 44 dari 139 negara yang masuk dalam Global Competitiveness Index (GCI) 2010-2011.

Faktor pendukung lain dari sektor ekonomi, pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai cepat, pengelolaan fiskal dan pajak di Indonesia dianggap cukup kompetitif.

Namun Director and Head of Asia Of the WEF Sushant Palakurthi Rao mengakui Indonesia juga memiliki banyak kekurangan, seperti birokrasi dan peraturan dalam perdagangan yang masih menghambat, infrastruktur yang masih buruk seperti pelabuhan, jalan, dan jalur kereta api, lalu pasokan listrik sangat kurang, serta komunikasi dan teknologi Informasi masih terbatas.

Agenda acara WEC dibagi dalam enam waktu, dimulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu akan membuka forum tentang perkembangan keberlanjutan pertumbuhan ekononi Indonesia hari Minggu. Dia menjadi pembicara dalam tema kegagalan keuangan di Asia. Sedangkan Menlu RI akan bicara mengenai pengelolaan bahaya geopolitik di Asia.

Acara ini akan ditutup dengan jamuan makan malam resmi bersama Presiden SBY di Istana Merdeka, Jakarta.

Sejumlah negara sudah menjadi tuan rumah WEC. Sebelumnya WEC Annual Meeting 2011 sukses digelar di Davos, Swiss pada Januari 2011. Indonesia hadir dalam pertemuan tersebut.

Selama tahun ini WEC digelar berdasarkan wilayah, WEC on Europe and Central Asia digelar di Vienna, Austria pada 8-9 Juni 2011, lalu WEC on Latin America di Rio de Janeiro, Brasil pada 27-29 April, WEC on Africa di Cape Town, Afrika Selatan pada 3-6 Mei, dan WEC on East Asia pada 12-13 Juni, Indonesia menjadi tuan rumahnya.

Selanjutnya WEC on the Middle East and North Africa akan digelar di Laut Mati, Jordania pada 21-23 Oktober 2011 dana WEC Annual Meeting 2012 di Davos, Swiss pada 25-29 Januari 2012.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Ist.

Read more...

Jumat, 13 Mei 2011

Iwan Fals Tamu Spesial Indonesia Reggae Festival


Penggemar musik rege di Tanah Air bakal punya pentas musik tersendiri berlabel Indonesia Reggae Festival (IRF) 2011. Acaranya akan digelar di Jakarta International Expo, PRJ, Kemayoran, 21 Mei. Ada 50 band pengusung musik asal Jamaika ini yang akan tampil, berikut Iwan Fals sebagai bintang tamu spesial. Kenapa penyanyi balada ini diikutsertakan?

Pihak penyelenggara Boy dari B n R Production menjelaskan 50 band rege yang tampil antara lain Ras Muhammad dari Jakarta, Tony Q Rastafara (Jakarta), Joni Agung & Double T (Bali), Joe Mellow Mood (Lombok), Shaggydog (Yogyakarta), Steven and Coconuts Trees (Jakarta), Souljah, Cozy Republic, dan masih banyak lagi. Termasuk band rege asing, Big Mountain yang akan jadi bintang tamu spesial dari Negeri Paman Sam, AS.

“Festival ini menelan biaya dua miliar untuk perlengkapan acara, mengundang artis dalam dan luar negeri, keamanan, dan pengeluaran lain,” bebernya.

Festival yang akan berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 24.00 WIB ini juga akan menampilkan Tribute to Mbah Surip, dimana bukan cuma diperdengarkan lagu-lagunya tapi juga dipamerkan alat-alat musik dan perlengkapan yang pernah digunakan almarhum yang dinilai banyak musisi rege kemunculannya sempat menaikkan pamor rege ketika itu.

Vokalis Steven and Coconuts Trees, Stevan Jam yang juga panitia festival ini mengundang Iwan Fals untuk menjadi bintang tamu khusus festival ini dengan alasan lagu-lagu Iwan Fals menginspirasi musisi rege di Indonesia.

Iwan Fals menurut panitia memberikan sambutan positif atas penyelenggraan IRF 2011 ini. Musisi balada yang sejumlah lagunya sarat dengan kritik sosial dan lingkungan ini akan membawakan beberapa lagu hitsnya dalam nuansa rege, antara lain single ”Mabuk Cinta” yang kental aroma rege-nya.

Kalau musisi jazz dan penggemarnya punya Java Jazz dan Jak Jazz, musisi blues dan peminatnya punya Blues Festival, serta musisi dan pecinta musik rock punya Java Rockin' Land, Djarum Super Rock Festival dan berbagai festival musik lainnya, kini giliran pengusung musik rege dan pengikutnya memiliki IRF.

IRF perdana ini akan menyajikan dua (2) panggung utama dengan slogan “Salam Damai, Jabat Erat, One Love, One Heart”.

Anda siap be-rege-ria, pastikan datang ke IRF 2011. Tiketnya presale 75.000, on the spot 100.000. Bagi yang ingin dapatkan 20 tiket nonton gratis IRF 2011, ketik : IRFNAMA#DAERAH kirim ke 9333 Rp. 2000/sms.

Mampukah IRF 2011 menjaring wisatawan bukan cuma dari luar Jakarta dan Jawa tapi mancanegara sebagaimana Java Jazz? Kita tunggu tanggal mainnya. Panitia sendiri berharap festival ini bisa menjaring sekitar 25.000 penonton. Hhmmm, jumlah yang fantastis untuk sebuah festival yang baru pertama kali digelar.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 04 Mei 2011

2011 Indonesia Kebanjiran MICE


Tak berlebihan jika Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) menetapkan MICE (Meeting, Incentive, Conference, and Exhibition) sebagai salah satu dari tema tahun kunjungan Indonesia tahun ini selain tema Eco Tourism dan Culture. Pasalnya ada 600 meeting tahun ini yang digelar di Tanah Air, terkait terpilihya Indonesia menjadi ketua (chairman) ASEAN 2011.

Jakarta dan Bali menjadi tempat penyelenggaraan pertemuan tingkat tinggi ASEAN dari mulai tingkat kepala negara dan tingkat menteri. Pembukaan ASEAN Summit yang akan digelar pada 7-8 Mei, bertempat di Jakarta termasuk ASEAN Youth and Festival. Sedangkan pertemuan ASEAN tingkat SOM, hingga pertemuan para pihak swasta di kawasan ASEAN disebar ke 12 kota lain lainnya.

Selain Jakarta dan Bali, ke-12 kota MICE itu tersebar di Indonesia bagian Timur, seperti Lombok, Makassar, dan Manado, dan Balikpapan. Sementara di Sumatera ada Medan, Palembang dan Batam, Bintan, dan Bukittinggi. Sedangkan di Jawa digelar di Surabaya, Bandung, Solo, dan Yogyakarta.

“Bila semua meeting itu berjalan sukses, bukan cuma memberi keuntungan ekonomi yang besar tapi juga menambah jumlah wisman yang datang sekaligus kesempatan berpromosi pariwisata untuk mencapai target kunjungan wisman maksimal 7,7 juta tahun ini,” jelas Menbudpar Jero Wacik.

Penyebaran venue meeting ASEAN ke 12 kota MICE lain selain Jakarta dan Bali, lanjut Jero Wacik untuk memberikan pemerataan ekonomi, disamping meningkatkan semangat daerah lain agar lebih serius membangun sektor pariwisatanya biar kelak dapat bersaing dengan dunia internasional seperti Bali.

Senada dengan Jero Wacik, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan dipilihnya lokasi selain Jakarta dan Bali, agar kota lain bisa menggali dan mengenalkan potensi ekonomi masing-masing daerahnya.

Menurut Direktur Pemasaran Pariwisata Kemnbudpar Sapta Nirwandar, terkait dengan agenda ASEAN tahun ini juga ada 300 event yang digelar di Tanah Air.

"Acaranya beragam meliputi ASEAN Fair di beberapa tempat termasuk Bali, ada gelaran jazz, ASEAN Youth and Festival, dan lain-lain," katanya.

Sapta Nirwandar optimis pertemuan-pertemuan tersebut dapat mendorong pertumbuhan sektor pariwisata bidang MICE di Tanah Air.

Selain acara-acara yang berkaitan dengan ASEAN, tahun ini juga Indonesia menjadi tuan rumah untuk acara East Asia Summit di Bali pada Oktober 2011. Pada tanggal 12-13 Juni di Jakarta akan digelar World Economic Forum East Asia, juga akan berlangsung WTO Regional Aid for Trade Meeting. Regional Entrepreneurship Summit juga akan berlangsung di Bali pada Juli 2011.

Khusus mengenai forum East Asia Summit, pada tahun ini mulai bergabungnya AS dan Rusia ke dalam forum ini. East Asia Summit beranggotakan 10 negara ASEAN dan mitra ASEAN seperti Jepang, China, India, Korea, Australia, dan Selandia Baru.

Mari Elka Pangestu menambakan, posisi Indonesia yang kini menjadi pemimpin ASEAN menjadi penting dalam melaksanakan cetak biru di bidang ekonomi, sosial-budaya, dan politik-keamanan menuju masyarakat ASEAN pada tahun 2015.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 03 Mei 2011

Forum dan Festival Pemuda Asean Jelang Pembukaan ASEAN Summit 2011

Jelang pembukaan ASEAN Summit yang akan diadakan di Jakarta, Sabtu (7/5/2011), digelar forum dan festival untuk pemuda ASEAN atau ASEAN Youth Forum and Festival 2011. Apa tujuannya dan apa saja acaranya?

ASEAN Youth Forum and Festival 2011 digelar InAction (Indonesia in Action) bekerjasama dengan ASEAN Secretariat dan kementereian terkait pada 3-8 Mei 2011 di Jakarta.

Acara ini diikuti perwakilan pemuda berprestasi dari sejumlah negara ASEAN. Tujuannya untuk sharing menambah wawasan di bidang kepemimpinan, kewirausahaan, dan pendidikan.

Untuk forumnya diadakan pada 4-5 Mei 2011. Pembicara utamanya Hermawan Kartajaya, pendiri dan pemilik perusahaan konsultan marketing MarkPlus Inc. Forum ini bertujuan menghasilkan Joint Action Statement pemuda se-ASEAN untuk mendukung pencapaian ASEAN Sosio-Cultural 2015 dengan berbagai kerjasama di bidang pendidikan, sosial, dan pengembangan kebudayaan. Rencananya Joint Action Statement ini dibacakan pada saat pembukaan ASEAN Summit 2011, Sabtu 7 Mei 2011.

Sedangkan festivalnya yang merupakan ajang promosi dan pengenalan eksplorasi kekayaan budaya ASEAN, digelar pada 6 Mei 2011, sehari sebelum pembukaan ASEAN Summit di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta.

Festival ini menghadirkan praktisi budaya yang dinilai berhasil mengangkat budaya tradisional bangsa dengan kemasan kontemporer, antara lain Angklung Mang Udjo, KunoKini, dan tim Jember Fashion Carnival.

Untuk meramaikan festival ini ditampilkan pertunjukan seni dan budaya tradisional dari seluruh negara ASEAN. Ada juga pameran yang mempromosikan keanekaragaman kebudayaan tradisional anggaota ASEAN, antara lain kuliner, bahasa, dan kesenian negara-negara ASEAN.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 16 Desember 2010

Gaya Jogja Memulihkan Sektor Pariwisatanya



Usai Merapi mereda, Jogjapun berbenah. Untuk memulihkan pariwisatanya termasuk citra kurang kondusif yang sempat tercoreng semasa erupsi, diambillah beberapa langkah. Salah satunya dengan membentuk Jogja Tourism Forum dengan mencanangkan gerakan Go Jogja. Apa saja kegiatannya dan berhasilkah mengembalikan Jogja sebagai destinasi favorit wisatawan baik nusantara dan mancnegara?

Tak bisa dipungkiri akibat erupsi Gunung Merapi 26 Oktober 2010, terlebih penutupan Bandara Adi Sutjipto selama dua pekan, berimbas pada penurunan jumlah kunjungan wisatawan ke Jogja, baik wisatawan mancanegara maupun nusantara termasuk penundaan sejumlah event internasional.

Akibat penurunan wisatawan, sejumlah hotel berbintang di Jogja pun mengalami penurunan tamu. Djulkarnain selaku General Manager Hotel Ibis Malioboro Jogjakarta mengatakan bulan November 2010 tingkat hunian hotel di Jogja umumnya turun hingga 50%. ”Dibandingkn bulan yang sama, November tahun lalu, okupansinya di atas 70%. November tahun ini cuma 30%,” jelasnya.

Hotel Sheraton misalnya mengaku turun 40 % dibanding tahun lalu. “Sekarang sudah mulai membaik,” jelas Fadil selaku Director of Sales & Marketing Hotel Sheraton. Sementara Hotel Hyatt Regency Yogyakarta mengalami penurunan sampai dengan 20 % sama seperti Hotel Ibis Malioboro.

Hal sama dirasakan sejumlah perusahaan angkutan travel. Selama November 2010, penyewaan bis PO Bima di Jogja turun 70%. “Jumlah bus kami yang 50 seat ada 50 bus, yang beroperasi hanya beberapa bus saja,” jelas Bambang, sopir bis PO Bima.

Untuk memulihkan pariwisata Jogja, bermacam strategipun dilakukan. Menurut Kadisbudpar DIY Tazbir langkah pertama yang diterapkan untuk mempercepat recovery pariwisata Jogja adalah dengan menginformasikan kepada khayalak bahwa saat ini kondisi Jogja secara umum cukup kondusif untuk dikunjungi wisatawan, kecuali kawasan Kaliurang yang masih tertutup. “Semua obyek wisata dan fasilitas wisata lain berfungsi normal. Hotel restoran dan berbagai atraksi wisata berjalan seperti biasa,” jelasnya.

Selanjutnya mengadakan familiarizion trip atau pengenalan kembali Jogja pascaerupsi dan memperbanyak kegiatan MICE (meeting, incentive, conference, and exebition). “Dan pastinya dengan memperbanyak event, seperti kenduri Jogja di Malioboro, perayaan malam satu suro, pergelaran malam tahun baru, dan lainnya untuk menarik pengunjung,” terangnya.

Kalangan industri pariwisata Jogja pun tak mau kalah. Mereka membentuk Jogja Tourism Forum (JTF). Menurut ketua JTF, Djulkarnain, meskipun pembentukannya berlangsung cepat, namun wadah yang terdiri dari ASITA, beberapa hotel di Jogja, Maskapai Penerbangan Garuda, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, serta didukung oleh Disbudparprov DIY ini punya pekerjaan besar yakni memulihkan pariwisata Jogja seperti sediakala.

Sejumlah langkah JTF pun sudah ditempuh, misalnya dengan menggelar travel dialog di Bali pada 3 Desember 2010, dengan mengundang sejumlah travel agent. “Ada 65 travel agent yang ikut travel dialog ini,” jelas Djulkarnain.

Langkah selanjutnya mengadakan media trip dengan mengundang sejumlah media baik elektronik, cetak maupun online dari Jakarta ke Jogja pada 5-6 Desember 2010. “Kami pun menggelar jumpa pers dan kunjungan ke beberapa obyek wisata utamanya seperti Candi Prambanan, Candi Borobudur, dan Jalan Maliobro,” terangnya.

Masih di bulan Desember ini, tepatnya tanggal 13-14, giliran media trip dari negara Malaysia, Thailand, dan Singapura yang diundang untuk melakukan hal sama. “Masing-masing negara diundang 6 media. Tujuannya untuk menyiarkan bahwa Jogja sudah nyaman untuk dikunjungi,” kata Djul.

Di ujung Desember, sekaligus dalam rangka merayakan tahun baru, Jogja mengelar konser akbar bertajuk Legend of Nation dari tanggal 25-31 Desember 2010 di area Candi Prambanan. “Ada sekitar 17 artis ibukota yang akan tampil dengan iringan Purwacaraka Orkestra,” jelas Djul.

Diskon Hotel
Disamping langkah pemulihan di atas, hotel-hotel di Jogja pun memberikan harga diskon selama Desember untuk menarik tamu. “Tarif diskon selama bulan recovery ini berkisar antara 20-40%,” jelas Djul.

Hotel bintang 3 Ibis Malioboro misalnya memberi diskon 20%-30% untuk semua kamar sampai dengan pertengahan Desember 2010. Sejumlah hotel bintang 5 di Jogja pun melakukan hal yang sama. Hotel Melia Purosani misalnya memberikan potongan 20%-25 % untuk semua kamar. Hotel Sheraton menawarkan diskon 30% sejak 20 November hingga akhir Desember 2010 khusus untuk kamar garden vie dan volcano view. Sedangkan Hotel Hyatt Regency memberikan recovery promo dengan potongan 20%-30%. Diskon ini sudah berlaku sejak November sampai 24 Desember 2010." kata Syarial R. Lubis selaku Dirctor of Sales Hotel Hyatt Regency Yogyakarta.

Paket Wisata Pemulihan
Untuk mempercepat pemulihan pariwisata Jogja, Ben suka selaku Ketua Umum ASITA menyarankan industri pariwisata Jogja untuk membuat paket-paket yang menarik seperti paket lava tour tracking, paket bersama 2 malam 3 hari dengan tur ke Candi Borobudur dan Prambanan seharga Rp 800ribu, serta mengusulkan pembuatan monumen Mbah Maridjan. “Proses pemulihan wisata harus cepat dilakukan. Sebelum 15 Desember 2010 paket-paket wisata pemulihan tersebut, diharapkan sudah siap jual kepada masyarakat luas,” imbau Ben.

Bila dalam enam bulan semua pihak peduli Jogja dan wisatawan domestik tidak mengalihkan liburan akhir tahun ke destinasi lain, Ben Sukma mengaku optimis pariwisata Jogja pascaerupsi Merapi, dapat pulih dalam beberapa bulan saja.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 18 November 2010

2011 Indonesia Kebanjiran Meeting Tingkat ASEAN


Tahun depan Indonesia bakal kebanjiran pertemuan (meeting) ASEAN terlebih pada tahun tersebut Indonesia akan menjadi ketua (chairman) ASEAN. Dampak dari penyelenggaraan meeting tersebut memberikan keuntungan ekonomi yang besar selain kesempatan melakukan pomosi pariwisata Indonesia.

Demikian disampaikan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik usai menerima anggota Komite Wakil Tetap untuk Asean atau Committe of Permanent Representativeto ASEAN di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, (18/11 2010).

“Di Jakarta akan digelar Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT ASEAN, dan pada tahun depan juga akan diadakan KTT ASEAN dan East Asia. Pokoknya akan banyak meeting selama 2011 yang memberi keuntungan ekonomi besar,” jelas Jero Wacik.

Sebelum pertemuan dua KTT ASEAN tersebut, lanjut Jero Wacik juga akan ada sejumlah pertemuan tingkat menteri negara-negara ASEAN dan pertemuan setingkat Direktur Jenderal. “Saya akan sebar lokasi pertemuan-pertemuan tersebut di sejumlah kota konvensi di Indonesia seperti Manado, Lombok, Makassar, Medan, Bandung, Padang, Palembang, termasuk Yogyakarta agar dampak ekonominya merata dan dapat dirasakan oleh mayarakat kota tersebut,” terangnya.

Persiapan secara khusus terkait pertemuan-pertemuan ASEAN tahun 20011 nanti seperti membangun venue pertemuan memang tidak. “Cukup menggunakan fasilitas baik hotel maupun convention center yag sudah ada. Tapi memang sejumlah hotel baru bermunculan akhir-akhir ini, namun bukan khusus untuk tempat khusus meeting-meeting tersebut, melainkan karena pertumbuhan pariwisata di Tanah Air sangat baik,” jelas Jero Wacik lagi.

Wakil tetap RI untuk ASEAN H.E. Amb. Ngurah Swajaya menambahkan tahun ini CPR to ASEAN sudah melakukan 450 meeting di Indonesia selama tahun 2009 dan 460 meeting sampai November 2010. “Tahun depan akan banyak lagi meeting yang digelar baik terkait pertemuan CPR to ASEAN maupun pertemuan antarnegara ASEAN itu sendiri dan ASEAN plus negara-negara di kawasan Asia lainnya,” jelasnya.

Ngurah Swajaya menjelaskan CPR to Asean yang terbentuk berdasarkan Piagam ASEAN dan mulai beroperasi sejak Januari 2009 terdiri atas 10 anggota dari negara-negara ASEAN. Kesepuluh anggota CPR to ASEAN tersebut; Pengiran Basmillah Pengiran Haji Abbas yang merupakan wakil tetap dari Brunei Darussalam untuk ASEAN, Kan Pharidh (Kamboja), Ngurah Swajaya (Indonesia), Prasith Sayasith (Laos), Dato’ Hsu King Bee (Malaysia), U Nyan Lynn (Miyanmar), Lim Thuan Kuan (Singapura), Manasvi Srisodapol (Thailand), Vu Dang Dung (Vietnam), dan Wakil Tetap dari Filipina yamg saat ini sedang kosong dan sedang menunggu pengganti.

CPR to ASEAN sudah melakukan berbagai kegiatan kerjasama dengan para Duta Besar negara-negara non-ASEAN yang berkedudukan di Jakarta. “Sampai bulan Oktober 2010, sudah ada 52 negara Non-Asean yang telah ditunjuk Duta Besar untuk ASEAN. Ada 30 Duta Besar yang sudah menyerahkan kredensial, 8 masih menunggu penyerahan, 8 lainnya menunggu persetujuan dari negara anggota ASEAN, dan 6 Duta Besar lainnya dalam proses pergantian,” jelas Ngurah Swajaya.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Tri Akbar Handoko, Pusformas Kemenbudpar

Read more...

Rabu, 27 Oktober 2010

Medan dan Makassar Kandidat Tuan Rumah IETBFM 2011



Banjar-masin sukses menjadi lokasi penye-lengga-raan serangkaian acara International Eco Tourism Business Forum and Mart atau IETBFM ke-6 yang digelar Kemenbudpar dan Pemprov Kalimantan Selatan, 21-25 Oktober 2010. Tahun depan giliran Medan atau Makassar yang menjadi tuan rumah. Apa saja kelebihan dan kekurangan Banjarmasin? Mengapa Medan dan Makassar dikandidatkan? Dan kota mana yang lebih siap dan layak jadi tuan rumah IETBFM ke-7?

Setelah Banjarmasin tahun ini jadi tuan rumah IETBFM ke-6 yang hanya diikuti 4 negara termasuk Indonesia, dan tahun sebelumya Lombok. Tahun depan giliran Medan atau Makassar yang menjadi calon kuat sebagai venue IETBFM ke-7.

Medan merupakan kota utama dan tersibuk di Pulau Sumatera. Kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya ini punya akomodasi yang memadai untuk menampung kegiatan forum dan seminar berskala internasional. Di kota yang terkenal dengan penganan bika ambon, kuliner Soto Medan dan obyek penangkaran buaya-nya ini tersedia sejumlah hotel berbintang 5 dengan beberapa meeting room dan convention centre yang mampu menampung puluhan hingga ribuan orang.

Begitu pula dengan Makassar yang menjadi kota utama di Sulawesi Selatan sekaligus pintu gerbang ke wilayah Indonesia bagian Timur lainnya. Kota yang dikenal dengan Pantai Losari, pisang epek-epek, Cotto Makassar, dan pusat hiburan keluarga Trans Studio ini memiliki akomodasi dan venue untuk kegiatan meeting berskala dunia.

Kekurangan Medan, bandaranya (Polonia) masih seperti dulu. Kecil dan bukan bertaraf internasional. Sementara bandara di Makassar (Bandara Internasional Sultan Hassanudin) lebih keren dan tentu luas karena sudah bertarap internasional.

Kelebihan Medan justru dari obyek ekowisata yang belakangan ini kian diminati wisatawan minat khusus dari mancanegara. Nama obyeknya Tangkahan yang berada di luar Kota Medan. Wisman yang datang ke sana biasanya menikmati pemandangan alam sambil menunggang gajah, menelusuri sungai dan setapak hutan. Ada aktivitas beratmosfir ekologi yang kuat di obyek ini, sebagaimana menoreh getah pohon karet (rubber tapping activity) dan berarungjeram dengan rakit bambu (bamboo rafting) yang diikuti peserta IETBFM ke-6 di Loksado, Kalsel yang sekaligus menjadi kelebihan acara tahun ini.

Lain halnya dengan Makassar yang obyek eco tourism terdekatnya adalah Taman Nasional Bantimurung. Kawasan ini dijuluki kerajaan kupu-kupu karena menjadi habitat beragam jenis hewan bersayap cantik ini. Kawasan ini juga memiliki obyek Air Terjun Bantimurung yang bertingkat-tingkat. Sayangnya di depan pintu masuk kawasan ini mudah dijumpai penjual aneka ragam kupu-kupu dan serangga lain yang diairkeraskan lalu di bingkai ataupun dijadikan gantungan kunci. Cara-cara tersebut jelas bertentangan dengan prinsip dasar eco tourism yang justru berusaha menjunjung tinggi nilai-nilai konservasi atau menjaga kelestarian alam dan isinya serta memanfaatkannya dengan bijak. Bila peserta IETBFM beserta media asing diajak ke sini bisa jadi bumerang.

Bila melihat dari sisi obyek ekowisatanya, rasanya Medan lebih layak menjadi tuan rumah IETBFM ke-7 dengan obyek eco tourism Tangkahannya.

Belajar dari penyelenggaraan IETBFM ke-6 di Banjarmasin yang menurut beberapa peserta taste ekowisatanya kurang kental, lantaran tempat menggelar table-top, breafing, dan business forum antara buyers dan sellers maupun tempat pamerannya berada di hotel pusat kota. Ada baiknya penyelenggaraan IETBFM ke-7 tahun depan mengambil venue di resort yang berkonsep back to nature agar nuansa eco tourism-nya lebih dapat.

Perbaikan lain yang perlu diperhatikan adalah dengan melibatkan media atau wartawan peliput forum internasional ini lebih banyak lagi, baik cetak, elektronik maupau online yang konsen dan loyal meliput bidang pariwisata khususnya eco tourism dan MICE (Meeting, Incentif, Convention & Exebition).

Tujuannya tentu agar gema acara ini lebih terdengar dan obyek-obyek ekowisata yang dipilih sebagai tempat pretour-nya lebih terekspos luas. Maklum sampai penyelenggaraan IETBFM ke-6, gaungnya kurang bergema lantaran sedikitnya media atau wartawan khusus tadi yang dilibatkan baik sebelum, sesaat maupun setelah acara ini berlangsung. Sayang bukan, padahal forum ini berlabel internasional.

Para buyer dan seller yang ikut IETBFM 2011 nanti pun harus benar-benar pemain asli dari travel agent besar, berkulitas, dan yang biasa menjual-membeli paket-paket eco tourism. Mereka didatangkan dari negara atau kota asalnya. Bukan kebanyakan pemain lokal saja seperti buyers dan sellers yang ikut IETBFM 2010. Atau orang asing yang diambil dari Bali atau kota lain di Indonesia, padahal mereka bukan orang travel agent melainkan guru Bahasa Inggris dan lainnya. Mereka disuruh berpura-pura menjadi buyers ataupun sellers, seperti terjadi di IETBFM ke-5 di Lombok dan beberapa forum bisnis dan pasar wisata lainnya untuk sekadar pemenuhan predikat internasional tadi.

Bila semua itu dibenahi dan dipenuhi penyelenggara, pastinya IETBFM ke-7 dan berikutnya, bukan cuma lebih bergema dan bergengsi, pun ke depan mampu menarik minat lebih banyak lagi travel agent nasional, internasional, dan pihak terkait yang ikut serta. Kalau sudah begitu, ujung-ujungnya obyek ekowisata kita pastinya akan jauh lebih terpromosikan, terkenal, dan terjual.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 19 Oktober 2010

Indonesia Menuju Tempat Pembahasan Kebudayaan Dunia


Kalau Swiss tepatnya di Davos sudah lebih dulu dikenal sebagai tempat pembahasan ekonomi tingkat dunia atau World Economic Forum (WEC) setiap tahun. Indonesia, dalam hal ini Bali bisa menjadi tempat pembahasan mengenai kebudayaan berskala dunia atau World Culture Forum (WCF).

Indonesia pantas menjadi tempat WEC mengingat negeri ini kaya akan kebudayaan. “Kalau bersaing di bidang teknologi, Indonesia bisa tapi masih jauh tertinggal. Tapi di bidang budaya, kita bukan mengejar justru gudangnya kearifan lokal yang menjadi akar budaya Indonesia yang jika dibahas dalam forum dunia dapat menginspirasi dunia untuk menyelesaikan segala permasalahan dunia,” jelas Menbudpar Jero Wacik di Jakarta, Senin (18/10/2010) seraya menambahkan bahwa ide ajang ini berasal dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk menjadikan WEC sebagai pasangan WEF di Davos, Swiss.

Untuk menuju penyelenggaraan WEC yang rencananya akan digelar di Bali tahun 2010, lanjut Jero Wacik sebagai batu loncatan (stepping stone) atau persiapan, pemerintah menyambut baik dan mendukung penuh perhelatan akbar World Conference on Culture, Education, and Scinece (WISDOM) 2010 di Yogyakarta pada 8-11 November 2010.

Selain Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, penyelenggaraan WISDOM 2010 juga didukung oleh Kementerian Pendidikan Nasional, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Lingkungan Hidup serta 30 perguruan tinggi utama Indonesia, salah satunya Universitas Gajah Mada (UGM) di Yogyakarta selaku tuan rumah.

Menurut Jero Wacik lagi, Indonesia memiliki ribuan kearifan lokal yang belum terdata secara akurat. Kearifan lokal yang mencangkup seluruh bangsa Indonesia antara lain Bhinneka Tunggal Ika. “Belum lagi kearifan lokal cara pengobatan tradisional, pawang hujan, penangkapan ikan dengan mantra di Pulau Sangirta Laut, dan masih banyak lagi,” jelasnya.

Rektor UGM Prof. Dr. Sudjarwadi menambahkan bahwa kearifan lokal Indonesia yang jumlahnya ribuan bersumber dari jaman dulu yang dibuat oleh nenek moyang untuk menciptakan harmoni atau keseimbangan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, dan manusia dengan tuhan. “kearifan lokal bisa dipelajari untuk memberikan inspirasi penyelesaian permasalahan dunia di bidang lingkungan dan lainnya,” jelasnya.

Wisdom 2010 yang bertema besar “Local Wisdom Inspiring Global Solutions” ini akan diikuti 750 peserta dari 15 negara. Tokoh-tokoh akademis besar yang akan tampil antara lain peraih nobel perdamaian 2006 Prof. Dr. Muhammad Yunus dari Bangladesh, Prof Michael Hitchock, PhD (Inggris), Prof. Dr. Datuk Mohd. Noh Dalimin (Malaysia), dan Prof. Alice Dewey (USA).

Agenda utama lainnya Colloquium in Honor of Dr. Ann Dunham Soetoro dan Prof. Dr. Mubyanto berupa diskusi untuk menghormati hasil karya mereka di bidang pengembangan ekonomi rakyat. “Dr. Ann Dunham Soetoro dipilih bukan karena dia mendiang ibunda Barack Obama, Presiden Amerika Serikat. Tapi karena dia dan juga Prof. Dr. Mubyarto sama-sama pejuang ekonomi berbasis kerakyatan,” jelas Sudjarwadi.

Venue Wisdom 2010 di Yogyakarta ada beberapa tempat, antara lain kampus UGM, Benteng Vredenburg, Batik Winotosastro, Candi Prambanan, Rumah Budaya Tembi, Museum Ullen Sentalu, dan Museum Affandi. “Jadi seluruh peserta dari sejumlah negara yang ikut Wisdom 2010 ini, selain berdiskusi menentukan kearifan lokal untuk dijadikan sebagai solusi masalah dunia, pun akan diajak mengenal dan menikmati beberapa tempat budaya dan sejarah yang ada di Yogyakarta,” tambah Jero Wacik.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Tri Akbar Handoko, Kemenbudpar

Read more...

Sabtu, 07 Agustus 2010

Jambiya & Bantal Antik Di Museum Nasional



Ada Jambiya, senjata sejenis golok pendek asal Arab dan juga alat penopang kepala (bantal) dari Cina, yang dapat Anda lihat dalam Pameran “Warisan Budaya Bawah Air: Apakah Harus Dilelang?” di Museum Nasional, Jakarta hingga 15 Agustus. Jambiya berbahan emas, biasa dipakai di bagian perut dengan cara diselipkan dalam sabuk. Sedangkan bantal antik bermotif dari keramik, sudah dikenal sejak abad 9-19 M.

Selain Jambiya yang ditemukan di Situs Cirebon dan bantal antik dari Situs Intan yang sama-sama mengoleksi aneka benda bawah air dari abad 10 Masehi tersebut, juga ada sejumlah benda dan foto dari situs bawah air lain yang tersebar di Indonesia.

Koleksi dari Situs Teluk Sumpat yang mengoleksi benda bawah air abad 13-14 M misalnya Figurin berbahan tanah liat berbentuk manusia yang merupakan komoditi dagang dari Cina. Dari wujudnya, diduga figurin tersebut berbentuk orang Turki, terlihat dari topi yang digunakan serupa tulban, yakni topi khas dalam kebudayaan Turki.

Koleksi dari Situs Selat Gelasa (abad 15M) antara lain Cepuk, keramik berbentuk mangkuk, tempat menyimpan candu. Komoditi dagang dari Cina ini dulu banyak diperjualbelikan di Nusantara.

Koleksi dari Situs Karang Heliputan (abad 14-17 M) seperti aneka keramik berlabel Batavian Ware yang berciri warna glasir coklat di bagian luar dan biru putih di bagian dalam. Keramik buatan Cina itu merupakan pesanan khusus Kota Batavia (Jakarta tempo doeloe).

Koleksi Situs Batu Hitam (abad 6-9 M) antara lain piring keramik glasir tiga warna yang bagian dalamnya berhiaskan ornamen sulur-suluran bunga dari ragam hias budaya Timur Tengah.

Koleksi lain Situs Cirebon, berupa keramik dengan warna putih susu yang biasa disebut Blanc de Chine atau si Putih dari Cina yang diperkirakan berasal dari abad 10 M. Mangkung keramik tersebut tepiannya berbentuk kelopak bunga mekar yang melambangkan kejayaan.

Informatif & Interaktif
Pameran yang dibuka oleh Hari Untoro Drajat selaku Direktur Jenderal Sejarah Purbakala (Dirjen Sepur) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Rabu (4/8) ini juga memamerkan artefak dari kapal tenggelam koleksi negara yang baru kali ini dipamerkan untuk umum.

Pengunjung pameran dapat mendengar cerita dan menonton video rekaman penyelaman pengangkatan Benda Berharga asal Muatan Kapal yang Tenggelam (BMKT). Bahkan dapat berinteraksi langsung untuk mendapatkan informasi lebih rinci mengenai BMKT dengan membuka panel teks, mencium bau rempah-rempah yang menjadi komoditi primadona perdagangan Indonesia masa lalu, dan bermain giant board game semacam permainan ular tangga mengenai seputar BMKT.

Pengunjung diperbolehkan menulis pendapatnya di secarik kertas origami berwarna yang di gantung di dinding terkait setuju atau tidaknya jika warisan budaya bawah air dilelang.

Pameran yang bertujuan untuk menjawab kontroversi akan lelang BMKT yang belakangan ramai diekspos media ini, terselenggara berkat kerjasama Direktorat Peninggalan Bawah Air, Dirjen Sepur, Kemenbudpar dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Pengetahuan UI, Panita Nasional BMKT, dan Museum Nasional.

Selain pameran juga digelar seminar dengan tema yang sama, setelah pembukaan (4/8) yang menghadirkan 8 pembicara dari berbagai latar belakang berbeda, antara lain Drs. Surya Helmi (Direktur Peninggalan Bawah Air, Kemenbudpar), Suryanto (Direktur Lelang, Kemenkeu), dan Alejandro Mirabal Jorge (PT. Bangun Bahari Nusantara).

Hari Utomo Drajat dalam pembukaan pameran mengatakan pemerintah masih mengijinkan pelelangan benda sejarah tersebut bila benda benda yang ditemukan dalam jumlah besar dan bentuk yang sama. Sedangkan banyak pihak termasuk pengunjung yang menuliskan pendapatnya tentang pelelangan itu sebagian besar tidak setuju warisan budaya bawah air dilelang.

Bagaimana dengan Anda? Datang saja ke Pameran Warisan Budaya Bawah Air di Museum Nasional yang berada di Jalan Merdeka Barat No. 12 Jakarta Pusat. Lihatlah koleksi bermacam benda antik dari bermacam situs bawah air di Indonesia, dan tulislah pendapat Anda seputar pelelangan benda bawah air yang mengundang pro dan kontra sebagai masukan buat pemerintah dan pihat terkait.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 30 Juli 2010

Good Mister Juara Foto Sadar Wisata 2010



Foto bocah lelaki Bali sedang memberi salam kepada turis pria tua berjudul Good Mister ini keluar sebagai juara pertama Lomba Foto Sadar Wisata 2010. Foto karya Anom Manik Agung dari Denpasar Bali ini mengalahkan 1.468 lembar foto hasil jepretan 367 fotografer dari seluruh Indonesia.

Menurut Anom, foto Good Mister dibuatnya saat berlangsungnya Pesta Kebudayaan Bali (PKB) 2010 di Taman Budaya Bali dengan kamera Nikon D90, Juni lalu.

Kekuatan foto ini menggambarkan kehangatan dan keramahan khas orang Indonesia kepada turis. Bukan semata menonjolkan keindahan pemandangan sebagaimana foto-foto bertema pariwisata lainnya.

Atas kemenangannya itu, Anom berhak atas hadiah uang Rp 10 juta, tropi Menbudpar, dan piagam. Hadiah tersebut diserahkan oleh Direktur Jendral Pengembangan Destinasi Pariwisata (Dirjen PDP) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Firmansyah Rahim di Ruang Pamer India, Mal Artha Gading, Jakarta, Jumat (30/7).

Dewan juri yang diketuai Arbain Rambey (ahli fotografi dari harian Kompas), dan empat anggota; Darwis Triadi (fotografer profesional), Sigit Pramono (Komisaris BCA), Bambang Wijanarko (Komunitas Fotografi Budpar), dan Erwin Nurdin (pemerhati fotografi) juga menetapkan foto berjudul Rutinitas Pagi karya Budi Winarno dari Bekasi sebagai juara II, foto Urut (Purwanto dari Yogyakarta) juara III, foto Aku Hidup Lagi (Rafi Tanjung dari Padang) juara harapan I, foto Good Morning Bromo (hadi Setia Dharma dari Semrang) juara harapan II, dan foto Fajar Buat Bromo akarya Umbu dari Bandung menjadi juara harapan III.

Juara dua dan tiga masing-masing mendapatkan Rp 7,5 juta dan Rp 5 juta, piagam, dan tropi. Sedangkan juara harapan satu, dua, dan tiga masing-masing Rp 3 juta, Rp 2 juta, dan Rp 1 juta serta piagam.

Foto Good Mister sebagai juara I dan juga juara II, III, dan semua juara harapan serta sejumlah foto yang masuk nominasi Lomba Foto Sadar Wisata 2010 dipamerkan dari tanggal 30 Juli hingga 1 Agustus di ruang pamer India, Mal Artha Gading.

“Tujuan pameran foto-foto hasil lomba foto sadar wisata 2010 ini untuk memberi informasi kepada masyarakat tentang obyek wisata yang tertuang di masing-masing foto sekaligus untuk menggugah dan menarik orang untuk datang berwisata,” jelas Firmansyah Rahim.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 27 April 2010

Kepergok Membaca di Pantai Batu Karas


Siapa bilang, berwisata cuma buang waktu percuma? Tengoklah sepasang turis asing di foto ini. Saat mereka berwisata di Pantai Batu Karas, Ciamis, Jawa Barat. Mereka masih meluangkan waktu untuk membaca buku favorit. Wisata dapat, ilmu pun dapat.

Foto berjudul Santai di Pantai karya M. Salim Bhayangkara di atas hanya salah satu dari puluhan foto bertema ‘Kepergok Membaca!” yang dipamerkan di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan sejak 23 April lalu s/d 2 Mei 2010.

Masih ada sejumlah foto lain yang menarik, menyentuh, menggelitik, dan sekaligus menumbuhkan minat membaca yang dipamerkan dalam pameran fotografi yang diselenggarakan World Book Day Indonesia 2010 bekerjasama Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta.

Foto berjudul Saat Beristirahat hasil jepretan fotografer wanita Linda Susanti yang diambil di Jalan Suropati, Menteng, Jakarta Pusat misalnya, menggambarkan semangat membaca seorang bapak tukang sapu. Di waktu istirahatnya, penyapu jalanan ini mengisinya dengan membaca koran di bawah sengatan matahari siang hari.

Foto bertajuk Jangan Ganggu! Karya Andhika Akbar yang diambil di Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, tak kalah menggelitiknya. Foto tersebut menggambarkan seorang preman yang memiliki keinginan menambah pengetahuan dan membuka mata terhadap apa yang ada di sekililingnya dengan membaca koran.

Ada foto menyentuh lainnya berjudul Tidak Mudah Menyerah karya Dian Agustini yang diabadikan di Jalan Pemuda, Jakarta. Foto tersebut memvisualkan seorang anak penambal ban yang sedang belajar di trotoar jalan, disela membantu ayahnya bekerja. Semangat belajar anak lelaki itu sangat terpancar dalam foto tersebut.

Foto menggelitik lainnya berjudul Gila Membaca karya Ajeng Arifani yang diambil di Pekalongan. Foto tersebut menggambarkan seorang pria gila atau tak waras tampak belakang sedang membaca koran dinding. Orang gila saja membaca, masak kita yang waras tidak suka membaca, mungkin begitu makna sindiran foto tersebut.

Foto berjudul Berdiri di Kereta Bekasi-Jakarta karya Destia Marana juga cukup menyentuh. Foto tentang seorang wanita dewasa yang tengah asyik membaca buku tebal semacam kamus, meski berdiri di dalam kereta yang tengah melaju karena tidak kebagian tempat duduk. Foto tersebut menggambarkan bahwa membaca bisa dilakukan dalam kondisi apapun.

Lokasi pengambilan foto-foto yang dipamerkan juga beragam. Selain di Jakarta, Ciamis, Pekalongan, juga di Semarang, Ambon, bahkan Papua. Contonya foto berjudul Tak Pernah Tua karya Sugiarto yang diambil di kawasan wisata Kota Tua Semarang. Foto hitam putih tersebut menggambarkan seorang bapak tua kurus, berkulit hitam sambil membaca berlatar gedung tua berarsitektur kuno.

Foto berlabel Perahu karya Daurie Bintang yang diambil di Pantai Poka, Ambon juga menarik perhatian. Foto mengenai anak-anak setempat yang tengah membaca bersama di pantai pada sore hari tersebut, diambil pemotretnya saat perjalanan menuju lokasi traumahealing korban konflik di Ambon 2009 lalu.

Sedangkan foto yang abadikan di Papua antara lain berjudul Asyik Membaca karya Onny Wiranda tentang anak-anak lokal yang sedang asyik membaca mading atau majalah dinding sekolah di dinding sekolah mereka yang masih terbuat dari papan kayu.

Foto-foto yang dipamerkan secara teknis tidak begitu wah. Namun secara ide begitu kuat dan mengesankan lantaran mengajak penikmat fotonya untuk gemar membaca di manapun dan kapanpun.

Usai menikmati foto-foto yang dipamerkan, pasti Anda tergugah mulai rajin membaca buku atau apapun itu untuk menambah wawasan.

Bila Anda belum sempat menikmati pameran fotografi gratis ini di Pasar Festival, Anda masih bisa menikmatinya nanti di Museum Mandiri, Jakarta pada tanggal 15 s/d 25 Mei 2010. Di pameran ini, selain memamerkan foto-foto menggugah minat membaca, juga ada temu penulis muda serta bursa naskah dan buku.

Teks & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 20 April 2010

Inacraft 2010 di Jakarta Dibuka SBY dari Bali


Jakarta International Handicraft Trade Fair atau yang dikenal Inacraft, besok rencananya dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Bali secara teleconference. Pameran kerajinan terbesar dan terlengkap di Indonesia ke-12 ini berlangsung 21 s/d 25 April 2010 di Jakarta Convention Center, Senayan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi), Rudi Lengkong di Jakarta. Rudi mengatakan semestinya Pak SBY dijadwalkan akan membuka secara langsung pameran ini. Namun karena hari Rabu besok beliau masih di Istana Tampaksiring, Bali memimpin rapat kerja dengan para gubernur dan para menteri, maka pembukaan dilakukan secara teleconference.

Sejak Inacraft berlangsung kali pertama tahun 1999, telah turut menjadi salah satu faktor pendukung perkembangan industri kerajinan Indonesia. Hingga industri ini berhasil menyumbangkan pendapatan 30% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Pameran ini pun diakui sejumlah pihak (produsen dalam hal ini para perajin dan pengusaha, konsumen yakni pemakai dan pengunjung) sebagai wadah terbaik untuk mempromosikan dan menjual bermacam produk kerajinan.

Panitia Inacraft 2010 menyediakan 120 stan yang akan diisi hampir 1.800 peserta yang terdiri atas para perajin, produsen, dan pengusaha handicraft dari Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan luar negeri.

Beragam produk berkualitas terbaru dan terkini ditampilkan dalam Inacraft tahun ini. Ada produk gift antara lain ballpoint & wooden box, candy jar, aksesoris kunci, lighter box, jewelry box, bingkai foto kecil, kotak rokok, aromatherapy, dan stationery item.

Produk peralatan rumah tangga serta home & garden dekorasi antara lain bunga buatan, bunga kering, keramik vas bunga, tempat lilin, penerangan lampu, ukiran kayu, hiasan, kerajinan perak, bordir penutup meja, sarung bantal, mate tempat, cover bordir tempat tidur, mebel kayu, mebel rotan, mebel serat, furniture kelapa, mebel bambu, furnitur taman, peralatan dapur, keranjang, meja dagangan, peralatan kamar mandi, karpet, lukisan, lilin, barang gelas, batu alam, gerabah, burung rumah & aksesoris, payung, berpadu angin, keset, ornamen taman, rencana teras ditetapkan, gantung diri penyiraman perkebunan, jembatan taman, dan patung taman.

Produk mainan antara lain mainan kayu, mainan lunak, papan permainan, mainan inflatable, kotak mainan, bola, jigsaw puzzle, dan game pendidikan. Produk perhiasan antara lain perhiasan emas, perak, mutiara, shell, dan perhiasan dari batu mulia.

Produk batik antara lain lukisan batik, printing batik, rotan batik, dan silk. Serta produk fashion garment & embroidery antara lain fashion garmen bordir, pakaian muslim, tenun ikat, songket, ulos, dan hand oven fabric.

Menurut Rudi, target transaksi penjualan dalam Inacraft 2010 sampai Rp 200 miliar dari penjualan ritel sebesar Rp 110 miliar dan kontak bisnis Rp 90 miliar. Sedangkan target pembelinya 1.200 perusahaan dari 60 negara.

Asephi selaku penyelenggara Inacraft, tahun ini akan memberikan penghargaan (Inacraft Award) kepada para perajin yang berprestasi.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 17 April 2010

Taman Nasional, Wisata Unggulan Masa Depan



Indone-sia memiliki 50 taman nasional yang tersebar di hampir seluruh Tanah Air. TN tersebut memiliki sumber daya alam luar biasa baik keanekaragaman flora dan fauna maupun keindahan alamnya. Oleh karenanya Kementerian Kehutanan sangat concern untuk menjadikan taman nasional sebagai destinasi wisata unggulan dikemudian hari.

Hal ini terlontar dalam acara Temu Bisnis Taman Nasional yang berlangsung di Asembly, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Kemarin (Sabtu (17/4). Temu Bisnis tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam pameran Indogreen Forestry 2010 yang berlangsung sejak 15 April lalu dan berakhir hari ini, 18 April di JCC.

Temu Bisnis Taman Nasional bertema “Pengembangan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam Menjadi Objek Wisata Masa Depan” ini diikuti sejumlah panelis baik dari pemerintah pusat dan daerah maupun pengelola sejumlah Taman Nasional seperti Way Kambas-Lampung, Bukit Barisan Selatan, Ujung Kulon-Banten, Halimun-Salak & Gede-Pangrango-Jawa Barat, Gunung Merapi-Yogyakarta, Kepulauan Seribu-DKI Jakarta, Karimun Jawa-Jawa Tengah, Tanjung Puting, Sebangau, Siberut, dan Kerinci Seblat. Serta pengelola Taman Wisata Alam, antara lain Gunng Pancar, Carita, Pulau Sangean, Jember, Tangkupan Perahu, Telaga Warna, Sukawayana, dan Cimanggu.

Peserta temu bisnis ini antara lain para pengusaha wisata, resort/hotel, dan biro perjalanan serta pengunjung. Adapun tujuan temu bisnis taman nasinal ini agar terwujud pembangunan, pengembangan, dan peningkatan arus tujuan wisata ke taman nasional dan taman wisata alam yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Minggu (18/4) siang ini, di pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Kehutanan dan PT Wahyu Promocitra ini berlangsung talkshow bertema “Peran Swasta dalam Melestarikan Hutan Indonesia” yang diselenggarakan oleh PT Artha Graha, salah satu peserta pameran.

Terkait dengan tema talk show tersebut dan juga tema pameran ini “Melestarikan Hutan Indonesia untuk dunia”, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyerukan “Gerakan Menanam 1 Miliar Pohon”.

Seruan tersebut ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya pihak-pihak yang berkompeten pada upaya-upaya penyelamatan hutan seperti pengembangan hutan industri yang berkelanjutan, reboisasi, dan pengembangan potensi hutan tanaman industri. Gerakan ini, lanjut Zulkifli Hasan sangat mendesak untuk dilakukan, terlebih ditengah isu pemanasan global dan peningkatan suhu bumi.

Pameran ini gratis untuk umum. Diikuti 108 peserta dari pemda melalui dinas kehutanan, perusahaan kehutanan, perkebunan, pertambangan, minyak dan gas bumi, pulp & paper, serta perusahaan yang peduli akan pelestarian hutan dan lingkungannya.

Di pameran ini, pengunjung dapat melihat prses pembangunan hutan berkelanjutan termasuk reklamasi pada lahan bekas tambang, sejumlah potensi hutan non kayu seperti rotan, gaharu, biofarmaka, madu, dan kekayaan biodiversity serta serta kegiatan penanaman serentak dalam rangka menyukseskan program penanaman satu miliar pohon.

Berdasarkan pantauan Travelplusindonesia, sejumlah sekolah mengajak para siswanya ke pameran ini untuk mengetahui potensi kehutanan Indonesia. “Berlibur sambil belajar,” kata salah seorang guru pendamping. Masing-masing siswa diberi tugas oleh guru pendaping, mencatat pohon-pohon yang dipamerkan termasuk hasil produksi hutan.

Di salah satu booth peserta pameran terpajang tengkorak kepala buaya muara. Tengkorak tersebut jadi perhatian pengunjung dengan mengambil gambarnya. Beberapa di antaranya berfoto bersama dengan tengkorak tersebut.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Mercedes-pun Berbatik di Adiwastra Nusantara 2010



Inovasi batik tak pernah kering. Tiap tahun hadir kreasi baru, unik dan menarik. Sebelumnya ada batik gaul yang sukses merubah citra batik yang dianggap tua, formal, dan terkesan berat menjadi kekinian, nyantai, dan tentu saja fashionable hingga diminati kalangan anak muda. Lalu muncul batik harajuku, jaket batik, dan kini mobil berbatik seperti yang ditampilkan di pameran kain tradisional Adiwastra Nusantara 2010 di Jakarta Convention Center (JCC).

Mobil mewah Mercedes seri C250i CGI yang ditampilkan di ruang depan sebelum memasuki ruang utama Hall A & B pameran Adiwastra ke-3 ini, menjadi pusat perhatian pengunjung sejak hari pembukaaan 14 April lalu s/d hari terakhir pameran 18 April ini. Pasalnya baru kali ada pameran kain yang menampilkan mobil mewah sebagaimana pameran otomotif. Dan yang menarik lagi, mobil tersebut bermotif batik karya perancang busana ternama Carminta yang diberi judul ”Melukis Batik Di Atas Mobil Mercedes”.

Pengunjung yag datang ke pameran pun banyak yang mengabadikan mobil tersebut lewat kamera bermacam jenis, tak lupa foto narsis berlatar mobil batik tersebut. “Aku nggak nyangka mobil mewah bisa dicat dengan motif batik, kesan yang muncul moderen dan klasik serta membuat citra batik jadi lebih elegan,” jelas novi (27) salah seorang penunjung yang menyempatan diri berfoto berlatar mobil tersebut untuk di-upload ke facebook-nya.

Pameran yang dibuka Hj. Ani Bambang Yudhoyono, Rabu pagi lalu (14/4), memamerkan beragam kain nusantara, busana karya puluhan desainer, dan produk ratusan perajin nasional dari berbagai daerah dan negara-negara sahabat antara lain China, Jepang, Belgia, Bosnia, dan Austria.

Bahkan koleksi pribadi Ani Bambang Yudhyono berupa kain Tapis Muara Duo, Lampung yang berusia 200 tahun juga dipamerkan di pameran ini. Kain tapis tersebut berwarna hitam, merah, coklat, dan biru tua yang bermotif ragam hias Cucuk Andak Serat Kayu. Bahan dasar tapis tersebut adalah tenun yang dibordir dengan benang emas bermotif Sasab, bergambar manusia menunggang carabou (kerbau) yang dihiasi berbagai payet. Motif tersebut melambangkan kemakmuran dan kedudukan manusia lebih tinggi dari hewan.

Koleksi lain milik ibu negara yang dipamerkan adalah beberapa kain batiknya antara lain kain panjang batik dengan ragam hias Kawung Dwi Warna yang berusia 50 tahun. Kain berwarna dasar dasar coklat muda itu dikenakan pada akad nikah beliau 34 tahun lalu, tepatnya 30 Juli 1976. Motif Kawung bermakna memberi kewibawaan bagi pemakainya.

Lalu ada selendang ragam hias Manuk Sepasang berwarna dasar putih bergaya Cirebon, kain panjang Soga bermotif Peksi Cendrawasih asal Kudus berusia 85 tahun, kain panjang Yogya bermotif batik Semen Sidho Asih berusia 60 tahun, dan kain panjang ragam hias pagi-sore berusia 85 tahun.

Koleksi lain yang sayang diilewatkan adalah koleksi Gendongan Nusantara dan koleksi wastra unggulan dari para kolektor, museum tekstil Jakarta, museum Purna Bhakti Pertiwi dan masih banyak lagi. Gendongan yang menjadi subyek topik pameran kali ini merupakan alat sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat nusantara. Pengunjung juga dapat menyaksikan cara pembuatan batik, menenun tenunan dan tapis.

Selain itu juga ada koleksi batik 4 Keraton Jogya-Solo yaitu Keraton Kasultanan Hamengku Buwono (HB), Puro Paku Alaman (PA), Keraton Kasunanan Paku Buwono (PB), dan Puro Mangkunegaran (MN). Semua koleksi 4 keraton tersebut merapakan koleksi turun temurun dan sebagian besar karya kerabat keraton. Koleksi yang ditampilkan rata-rata berusia 25 tahun hingga 200 tahun dengan motif langka.

Kendati batik begitu mendominasi pameran ini dan diborong pengunjung, namun sejumlah kain tradisional dari daerah lain seperti Songket dari Palembang-Sumatera Selatan, Ulos dari Batak-Sumatera Utara, Tapis dari Lampung, dan tenun sutera Pinawetengan dari Minahasa-Sulawesi utara, serta tenun ikat dari NTB dan NTT juga tak kalah peminatnya. Harga kain-kain tersebut berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sementara baju batik, ada yang puluhan ribu, tergantung bahan, motif dan disainnya.

Tahun 2008, pameran yang diselengarakan oleh Himpunan Pecinta Kain Wastraprema dan PT Fortune Adwicipta ini berhasil meraup transaksi senilai lebih dari Rp20 miliar dan dikunjungi lebih dari 40.000 orang. Dan Adiwastra Nusantara 2010 ini diperkirakan akan sukses melebihi kedua pencapaian pameran sebelumnya.

Pada hari terakhir pameran ini, sejumlah perajin memberikan harga yang lebih miring bagi pengunjung. Nah, jangan buang kesempatan ini, datang saja sambil melihat mercy berbatik. Tiket masuknya Rp 10.000 per orang dewasa dan Rp 5.000 per pelajar dan anak-anak.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 28 Maret 2010

Promosi Pariwisata & Perdagangan di Harrrods



Untuk memper-kenalkan destinasi pariwisa-ta andalan, produk-produk unggulan, dan kuliner khas Indonesia sekaligus menjaring wisatawan Eropa, Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan (Kemenbudpar) serta Kementerian Perdagangan melakukan promo di Harrods, Inggris. Promo pariwisata dan perdagangan tersebut berlangsung selama sebulan pada 29 Maret s/d 1 Mei 2010.

Alasan Indonesia berpromo di Harrrods, mengingat citranya sudah tersohor di seluruh dunia dan berada di Kninghtsbridge, sebuah kawasan pusat perbelanjaan utama di London. Selain itu, London termasuk 5 kota tujuan pariwisata dunia yang dikunjungi lebih dari 27 juta wisatawan dari berbagai penjuru dunia setiap tahunnya.

Demikian disampaikan Dirjen Pemasaran Pariwisata, Kemenbudpar Sapta Nirwandar saat jumpa pers di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Jumat (26/3). “Kalau brand destinasi pariwisata kita sudah masuk di mall tersebut, akan memuluskan produk lainnya kelak,” jelasnya.

Promo pariwisata dan perdagangan Indonesia untuk pertama kali di Harrods, lanjut Sapta terlaksana berkat sinergi Kemenbudpar, Kementerian Perdagangan serta swasta antara lain BNI, Femina, dan Sarinah. “Harapannya setelah berpromo di Harrods, wisatawan dari Inggris dan Eropa yang berwisata ke Indonesia akan semakin meningkat,” ungkapnya

Target wisatawan Inggris ke Indonesia tahun ini sekitar 200.000 orang. Tahun sebelumnya mencapai 160.036 orang. Sedangkan target kunjungan wisatawan Eropa (Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, dan Rusia) tahun ini 679.000 orang.

Menurut Kepala Badan Pengembangan Ekspor Nasional (BPEN), Kementerian Perdagangan Hesti Indah Kresnarini, kegiatan promosi di Harrods meliputi windows display, demo batik, poster, festival makanan khas Indonesia, dan fashion show. “Di windows display yang akan ditampilkan bermacam produk seperti furniture, tekstil, kerajinan tradisional, mutiara, bermacam barang antik, dan pakaian yang disesuaikan dengan tema seperti tema haritages, culture, dan creative tourism. Sedangkan di acara gala dinner akan ditampilkan pertunjukkan musik dan tari serta peragaan busana karya dua desainer ternama Indonesia,” jelasnya.

Ryan Kiryanto selaku Vice President Investors & Public Relations BNI mengatakan ikut mendukung promo ini karena dapat mengangkat industri kreatif dalam negeri dan pariwisata sesuai dengan salah satu program BNI. “Kebetulan BNI memiliki Outlet di London yang juga men-display bermacam produk kerajinan Indonesia seperti kain tenun dan lainnya,” terangnya.

Sementara Jimmy Gani selaku President & CEO Sarinah mengatakan ikut mendukung promo ini agar Sarinah ikut terpacu dalam mengembangkan outlet-outlet yang menarik dengan produk berkualitas sehingga namanya bisa dikenal seperti Harrods.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 03 Februari 2010

Lima Kota China Promosi Wisata di Jakarta


Lima Kota China serentak berpromosi wisata di Jakarta, tepatnya di Restoran Nelayan, Jakarta Utara (2/2). Masing-masing direkturnya mempresentasikan obyek-obyek wisatanya lewat tanyangan audio visual dan juga membagikan brosur, leaflet & booklet. Apa keuntungannya buat Indonesia?

Kelima kota di kawasan Timur Laut/Utara China tersebut adalah Shenyang, Changchun, Halbin, Da Lian, dan An Shan. Mereka berjumlah 16 orang yang datang ke Indonesia sejak 29 Januari lalu. Sebelumnya mereka mengunjungi obyek-obyek wisata di Bali, Yogyakarta, dan Jakarta.

Di Bali rombongan pariwisata China ini mendatangi sejumlah pantai dan pura. Sedangkan di Yogyakarta singgah ke Candi Borobudur, dan di Jakarta mereka bertandang ke kawasan kota tua, TMII, dan sejumlah pusat perbelanjaan.

Menurut Liu Xiunzhi, Direktur Shenyang Tourism Administrasion, alam Indonesia indah dan orangnya ramah sehingga pantas menjadi impian banyak wisatawan. “Kami suka alam dan budaya Bali, sementara Jawa dengan historisnya. Sedangkan Jakarta dengan wisata belanjanya karena barangnya beragam, banyak yang antik, dan murah,” jelas Liu yang sekaligus mengajak orang Indonesia bertandang ke 5 kota China ini.

Menurut Direktur Konvensi, Insentif, & Pameran (KIP), Kemenbudpar Nia Niscaya, kedatangan rombongan pariwisata China ini, merupakan balasan atas kedatangan rombongan Indonesia Agutus tahun lalu. “Kita berharap dengan kehadiran delegasi pariwisata dari 5 kota China ini akan menciptakan hubungan yang semakin baik dan berimbas pada pertumbuhan wisatawan yang seimbang,” jelasnya.

Sebab sampai tahun lalu, lanjut Nia, prosentase kue wisatawan China ke Indonesia masih kecil. Sementara wisatawan Indonesia yang ke China justru besar. “Padahal setiap tahun orang China yang berwisata ke luar negeri atau outbound berjumlah 400 juta orang. Yang berkunjung ke Indonesia tahun lalu baru mencapai sekiar 400 ribu orang. Dan tahun ini ditargetkan berjumlah 500 ribu wisatawan asal China ke Indonesia,” terang Nia.

Untuk menjaring lebih banyak wisatawan asal negeri tirai bambu itu, tambah Nia, Kemenbudpar memiliki berbagai kegiatan promosi antara lain mengikuti event pariwisata berskala internasional di China. “Oktober nanti kita akan mengikuti World Expo di Shanghai, selain itu melakukan culture diplomation bekerjasama dengan perhimpunan Indonesia-Tionghoa atau INTI,” ungkap Nia.

Usai mempresentasikan obyek wisata di masing-masing kota, kemudian acara yang dihadiri sejumlah travel agent yang terkait dengan pasar China ini dilanjutkan dengan makan malam bersama dengan aneka menu chinesse food.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji-travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 01 Februari 2010

Delegasi Pariwisata China Kunjungi Bali, Yogyakarta, & Jakarta



Delegasi pariwisa-ta dari China, berkun-jung ke Indone-sia dari tanggal 29 Januari - 3 Februari 2010. Mereka mendatangi beberapa destinasi wisata di Bali, Yogyakarta, dan Jakarta.

Delegasi pariwisata China berjumlah 16 orang terdiri atas kepala dinas pariwisata dan anggotanya dari 5 Kota China Timur Laut/Utara yakni Shenyang, Changcun, Halbin, Da Lian, dan An shan. Mereka, berkunjung ke Kemenbudpar untuk mengadakan courtesy call dengan Dirjen Pemasaran Kemenbudpar DR. Sapta Nirwandar yang diwakili Direktur Konvensi, Insentif, dan Pameran (KIP) Nia Niscaya di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, (1/2).

”Ini merupakan kunjungan balasan. Sebelumnya Agustus tahun lalu, delegasi pariwisata Indonesia dipimpin Sapta Nirwandar ke Shenyang dengan membawa tim kesenian Indonesia,” kata Nia.

Usai berkunjung ke beberapa obyek wisata di Bali dan Yogyakarta, lanjut Nia, hari ini delegasi pariwisata China ini akan berkunjung ke beberapa obyek wisata di Jakarta usai makan siang. ”Mereka akan ke kawasan Kota Tua Jakarta, TMII dan lainnya,” terang Nia.

Menurut Liu Xiunzhi, direktur Shenyang Tourism Administration, wisatawan dari China menyukai wisata pantai-pantai di Bali, Candi Borobudur di Yogyakarta, dan wisata belanja di Jakarta. ”Pantai-pantai di Bali bagus seperti di Nusa Dua, Candi Borobudur sangat menakjubkan, sedangkan wisata belanja di Jakarta banyak pilihan, antik, dan murah,” ungkap Liu yang memimpin delegasi pariwisata China.

Besok (2/2), baik delegasi pariwisata China akan mengadakan tourism promotion fair. Delegasi pariwisata China akan mempresentasikan pariwisata China oleh 5 kapala dinasnya. Sedangkan Indonesia juga akan mempresentasikan pariwisata Indonesia oleh Direktur KIP serta pemutaran video pariwisata Indonesia di salah satu restaurant di Jakarta Utara. ”Acara besok akan dihadiri oleh ASITA, travel agent yang menjual paket wisata ke China, Kemenbudpar, dan sejumlah wartawan,” terang Nia.

Kunjungan wisatawan China ke Indonesia memang tidak sebanyak kunjungan wisatawan Indonesia ke China. Untuk mendongkrak jumlah kunjungan wisatawan dari China ke Indonesia yang tahun ini ditargetkan mencapai 500.000 orang, berbagai upaya dilakukan oleh Kemenbudpar. Selain melakukan promosi langsung ke Cina, juga menggelar sejumlah kegiatan budaya dengan pendekatan komunitas marga-marga China yang ada di Indonesia bekerjasama dengan Perhimpunan Indonesia-Tionghoa (INTI).

”Pemasaran dengan pendekatan komunitas ini menguntungkan karena low cost, high impact. Juni 2010 nanti akan digelar pertemuan Marga Huang di Singkawang, Kalimantan Barat dalam rangka memperingati 100 tahun Marga Huang di Indonesia. Diperkirakan akan dihadiri sekitar 1.000 orang Marga Huang dari mancanegara,” terang Nia.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 28 Desember 2009

Berwisata Gerilya di Bekas Jalur GAM



Wajah pariwisa-ta Aceh berubah pasca-konflik dan tsunami. Selain sejumlah obyek tsunaminya, belakangan hadir wisata gerilya menyusuri jalur yang pernah dipakai para pejuang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) selama bertikai. Kagum, menantang, dan pastinya menguras peluh berpadu satu saat menjajal jalur bersejarah ini.

Dua hari sebelum meliput peringatan 5 tahun tsunami di Ulee Lheue, Banda Aceh, Provinsi Aceh (26/12), rombongan media dari Jakarta yang dibawa oleh Direktorat MICE, Depbudpar berkesempatan mengunjungi beberapa obyek wisata di Kabupaten Aceh Besar yakni Waduk Keuliling di Kecamatan Kuta Cot Glie dan Masjid Indrapuri di Desa/Kecamatan Indrapuri pada hari pertama serta menjajal bekas jalur GAM yang dikemas dalam sebuah perjalanan wisata gerilya Pucuk Krueng di Kecamatan Lhok Nga pada hari kedua.

Semula obyek tujuan pada hari kedua adalah Sabang, Pulau Weh. Lantaran cuaca laut kurang mendukung dan tidak ada kapal ferry yang berangkat ke tujuan, akhirnya batal dan kemudian diganti ke Pucuk Krueng.

Sewaktu Betty Anita, Kasi Asosiasi Luar Negeri, Direktorat MICE, Depbudpar yang membawa rombongan media Jakarta ke Aceh untuk meliput peringatan 5 tahun tsunami bilang akan berwisata gerilya sebagai pengganti ke Sabang, saya sempat bertanya-tanya dalam hati tentang obyek tersebut? Dan ketika saya tanyakan obyek gerilya yang dimaksud kepada dua rekan saya yang tinggal dan bekerja di Banda Aceh, mereka tidak mengetahuinya.

Padahal paket wisata gerilya Pucuk Krueng yang dikelola oleh Aceh Explorer sudah dipasarkan sejak dua tahun silam lebih. Rupanya karena promosinya sangat minim, nama obyek dan paketnya belum dikenal secara luas bahkan oleh warga Banda Aceh sendiri.

Kendati belum terkenal, namun paket wisata gerilya ini sudah diminati turis mancanegara. “Sejak dipasarkan Juni 2007 sampai sekarang sudah sekitar 100 turis mancanegara terutama dari Jerman, Australia, Belanda, dan Amerika Serikat yang membeli paket gerilya ini,” jelas Mendel (42) pengelola obyek ini yang asli Belanda dan beristrikan wanita Aceh.

Menurut Kabid Promosi & Pemasaran Disbudparkot Banda Aceh Muhammad Yusuf, obyek wisata gerilya Pucuk Krueng merupakan obyek kerjasama Basajan (Banda Aceh-Sabang-Jantho). “Paket wisata gerilya ini bisa dipadukan dengan paket-paket wisata lain yang ada di Banda Aceh, Sabang dan juga Jantho, Ibukota Kabupaten Aceh Besar karena letaknya tidak begitu saling berjauhan,” jelas Yusuf.

Menyusuri Sungai Hijau
Dari bibir Krueng (sungai) Raba, Lhok Nga, rombongan menaiki 2 perahu kayu bermotor menyusuri sungai yang berair tenang kehijauan. Dari tempat titik start ini, mata ini sudah dimanjakan dengan panorama indah berupa sungai berair bersih, dengan lebar sungai sekitar 100 meter.

Di tepi sungai beberapa perahu kayu berwarna cerah bersandar dan di seberang sungai deretan pohon cemara berjejer rapih. Sedangkan di sebelah kiri dari kejauhan nampak jelas deretan bukit hijau yang seolah memanggil-manggil untuk didaki, dan di sebelah kanan terbentang muara Krueng Raba dan hamparan laut yang seakan melambaikan tangan menanti untuk diarungi.

Perahu lalu melaju melewati beberapa jembatan lama yang tinggal pondasi karena tersapu tsunami dan juga melewati bawah jembatan yang baru dibangun pasca tsumani. Perahu terus melaju mengikuti kontur sungai yang meliuk-liuk bak badan ular raksasa, melewati tanaman bakau, nipah, dan aren. Saat melewat aliran berbatu, nahkoda perahu mencurahkan keahliannya mengemudikan perahu, ke kiri dan ke kanan supaya lambung perahu tidak terbentur bebatuan di dasar sungai.

Sebelum tiba di deretaan tebing terjang, kami sempat melihat biawak sepanjang sekitar 1 meter yang sedang berenang di tepian suangi. “Kalau lagi beruntung, kita juga bisa melihat monyet bergelantungan di pepohonon di tepi sungai,” jelas Yusuf.

Entah sudah berapa kali saya dan rekan di satu perahu menguras air yang masuk perahu karena ternyata lambung perahu bocor sejak awal perjalanan. Nahkoda dan beberapa pemandu yang juga prajurit GAM terlihat tenang-tenang saja. Tapi buat saya dan teman yang membawa kamera, kondisi itu jelas bikin cemas. Takutnya perahu oleng lalu perlahan tenggelam hingga menjatuhkan penumpangnya termasuk kamera kesayangan.

Untunglah, penyusuran sungai tenang itu selesai di ujung hulunya tanpa ada kejadian mengkhawatirkan. Deretan tebing terjang kecoklatan dan keputihan dengan pepohonan rimbun, menyambut kedatangan rombongan.

Selanjutnya rombongan langsung beranjak ke sumber mata air Pucuk Krueng berupa gua berair tanah. Tak begitu sulit mencapainya seperti saat rombongan menuju sebuah makam ulama yang ada di obyek tersebut.

Tapi lain halnya dengan jalur yang rombongan lalui ketika hendak menjajal bekas jalur GAM dengan cara melintasi medan terjal. Perlu kewaspadaan dan tentu saja mental baja selain fisik yang kuat. Beberapa rekan yang merasa tidak mampu akhirnya mengundurkan diri, cukup sampai makam lalu kembali ke bawah tempat beristirahat.

Sisanya, beserta pemandu dari Aceh Explorer yang di antaranya adalah prajurit GAM memandu kami menapaki sedikit demi sedikit medan terjal bahkan kadang memanjat tanpa bantuan tali (scrimbing). Peluh pun tak terbendung lagi, terus mengucur deras dari kepala dan seluruh badan hingga membasahi pakaian dalam dan luar.

Di sela-sela pendakian, dua prajurit GAM yang memandu rombongan yakni Dede yang berperawakan agak gempal bak tentara India dan Merizal yang berbadan lebih kurus namun tegap, menceritakan pengalamannya serta menunjukan beberapa titik yang pernah disinggahi selama 3 tahun berbasis di jalur ini. “Itu ceruk batu tempat saya beristrihat,” jelas Merizal yang mengaku lengan tangannya pernah terserempet peluru saat baku tembak sambil menunjuk sebuah ceruk gua yang dimaksudnya.

Lain lagi dengan Dede yang sejak dulu bercita-cita menjadi tentara nasional ini. Dia mengaku jalur ini penuh kenangan yang tak mungkin terlupakan sepanjang hayat di badan. Meski kini sudah tak lagi berperang, Dede senang bisa memandu paket wisata menapaki bekas jalur yang dulu sering dilaluinya. “Bagi saya, ini seolah seperti napak tilas,” kenangnya.

Pascaperdamaian, Dede mengaku lebih bersyukur lagi. Dia justru punya banyak sahabat dekat dengan TNI dan polisi. “Hubungan kami dan TNI sangat baik,” katanya sambil mengaitkan dua telunjuknya tanda persahabatan yang erat.

Disambut Angin Hutan
Ada kejadian menarik sebelum kami sampai di puncak tebing. Saat saya beristirahat menemai Betty dan Lina, dua rekan wanita yang tak mau menyerah menapaki jalur terjal tersebut hingga puncak, tiba-tiba angin hutan berhembus cukup lama. Rasanya bena-benar sejuk dan hening, seolah menyambut kedatangan kami. Kejadian serupa terjadi saat kami menuruni puncak, seolah angin tersebut ingin melepas kepergian kami.

Setiba di bawah puncak, kami beristirahat sejenak di tanah yang agak datar. Beberapa rekan ada yang sudah melihat dan mengabadikan panorama dari puncak. Sementara yang baru datang memilih beristirahat.

Tak disangka pemandu kami membawa bekal makan siang berupa nasi bungkus berisi Nasi Gurih khas Aceh yang rasanya begitu nikmat seperti Nasi Uduk Jakarta dengan menu telur bulat, tumis, dan sambal. Kami pun makan bersama yang nikmatnya dan atmosfirnya melebihi makan di restoran mahal. Seperti sedang bergerilya, makan dan tinggal seadanya.

Selepas makan siang, saya langsung menuju puncak mengabadikan gambar, disusul Betty, Idris, dan juga Lina yang sebelumnya menyempatkan diri shalat zuhur di tanah datar, dekat tempat kami beristirahat.

Dari puncak Pucuk Krueng, terpampang pemandangan yang memesona. Liukan Krueng Raba jelas terlihat menuju laut. Pemukiman penduduk di pesisir Aceh Besar, deretan perbukitan dan juga Kota Banda Aceh juga nampak di kejauhan.

Setelah kami berfoto bersama, lalu secara beriringan menuruni puncak lewat jalur yang berbeda alias melintas sambil membawa satu kantung plastik besar berisi sampah bungkusan nasi dan botol air mineral. Jalurnya memang tak seberat saat mendaki namun di beberapa titik, medannya cukup curam. Sampai beberapa rekan terpaksa menggunakan pantatnya untuk menuruni medan tersebut.

Usai menapaki jalur bekas GAM selama sekitar 3 jam naik turun di jalur yang berbeda, akhirnya rombongan tiba di sumber mata air Pucuk Krueng, tempat rekan lain yang tidak ikut, menunggu dan beristirahat. Waktu tempuh itu jelas tak sama bila dilakoni prajurit GAM. Menurut Merizal berdasarkan pengalamannya, jalur tersebut biasa didakinya sekitar 15 menit pada malam hari tanpa bantuan lampu penerang.

Meski cukup lama dan menguras tenaga, namun aura kepuasan berbalut kelelahan nampak terpancar dari wajah rekan-rekan yang telah berhasil menapaki bekas jalur GAM yang terasa spesial itu. Maklum saja, jalur ini cuma ada di Aceh, dan tak mungkin ditemukan di belahan dunia lain. Jadi ada kebanggaan tersendiri karena bisa merasakan dan berhasil menapakinya, meski harus bermandi keringat.

Tips Perjalanan
Pucuk Krueng berada sekitar 15 Km dari Banda Aceh atau sekitar 20 menit dengan kendaraan roda empat. Belum ada kendaraan umun untuk menuju ke lokasi. Dari dermaga kecil di Lhok Nga masih sekitar 4 Km, bisa dengan perahu kayu bermotor atau menyewa labi-labi (angkot). Obyek ini cocok buat Anda yang suka berwisata petualangan.

Bila tak mau repot, beli saja paket wisata gerilya Pucuk Kreung yang ditawarkan Aceh Explorer. Harga paket wisata minat khusus ini Rp 850.000 per orang untuk pergi pulang atau satu hari. Paket tersebut sudah termasuk pemandu, 1 kali makan siang, dan transportasi lokal menuju lokasi. Bila berkelompok minimal 7 orang harga paketnya Rp 500.000 per orang. Kalau cuma treking ke mata air dan makam, cuma Rp 400.000 per orang.

Sebaiknya mengenakan kaos lengan panjang berbahan katun yang mudah menyerap keringat agar terhindar dari gigitan nyamuk. Dan memakai sepatu atau sandal lapangan khusus treking.

Jangan berjalan sendirian, sebaiknya mengikuti petunjuk pemandu, mengingat jalur trekingnya cukup terjal dan curam. Dan jangan lupa membawa kembali sisa sampah agar jalur tersebut tetap asri.

Yang perlu diperhatikan pengelola, sebaiknya membuat tempat sampah di tempat peristirahatan atau di bawah lokasi tebing untuk memudahkan pengunjung membuang sampah di tempatnya. Pengelola juga harus memperhatikan kondisi perahu motor yang akan digunakan untuk menyusuri sungai ke Pucuk Kreung. Sebaiknya perahunya tidak bocor dan penumpangnya dilengkapi life jacket.

Untuk lokasi bermalam ada beberapa penginapan di Aceh Besar, antara lain The Pade Hotel yang berada di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Daroy Kameu, Kecamatan Darul Imarah. Hotel berarsitektur mediterian ini, berada sekitar 15 dari Bandara Sultan Iskandar Muda atau 10 menit dari Banda Aceh.

Untuk tempat makannya, bisa ke Rumah Makan Cut Dek di Jalan Banda Aceh-Lambaro Km 4 atau ke Rumah Makan Aceh Rayeuk di seberang The Pade Hotel. Menu yang ditawarkan bermacam makanan khas Tanah Rencong seperti Ayam Tangkap, Ikan Kayu Tumis, Sambal Udang, Gule Kambing, Sate Matang, Ikan Bakar Rambeu, Cah Kangkung, serta aneka minuman jus, dan air kelapa.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 27 Desember 2009

Intip Masjid-Masjid Ajaib Kebal Tsunami



Tak semua bangun-an di pesisir Aceh yang hancur luluhlantah oleh gempa dan hempasan tsunami 5 tahun silam. Buktinya, masih ada yang tetap berdiri kokoh alias kebal tsunami hingga membuahkan kekaguman tersendiri. Salah satunya adalah masjid.

Di Banda Aceh, Ibukota Provinsi Aceh misalnya, ada Masjid Baiturrahim yang merupakan satu-satunya bangunan di pinggir Pantai Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa yang tetap berdiri kokoh meski diterjang gelombang dasyat tsunami. Sementara bangunan rumah dan lainnya rata dengan tanah.

Berkat keperkasaan masjid yang berada dekat kuburan massal ini dari amukan gempa dan tsunami, kini banyak wisatawan yang berdatangan untuk sekadar mengetahui kisah keperkasaannya atau keajaibannya itu. Ada juga yang sengaja datang untuk melihat dan memotret arsitekturnya maupun melakukan ibadah shalat dan lainnya.

Setelah direnovasi, masjid yang beriri tahun 1342 Hijriah itu tampil cantik dengan ornamen klasik bercat putih dan krem, lengkap dengan menara di sebelah kanan bangunan utama dan dua gapura di depan masjid.

Di depan gapura masjid ini, ada plang persegi empat berwarna putih dengan tulisan hitam berbahasa Indonesia, Arab, dan Inggris yang berbunyi “Perhatian: Anda memasuki kawasan wajib mengenakan busana muslim/muslimah”.

Di depan sebelah kiri masjid ini, ada sebuah Koperasi Anak Yatim yang menjual beragam souvenir dan oleh-oleh khas Aceh seperti aneka kerajinan dari rotan, tas, rencong, kopiah, bros, kopi Aceh, kopi Gayo, dan lainnya.

Yang juga menarik perhatian, di depan sebelah kiri koperasi ini ada plang bercat biru bertuliskan Zona Bahaya Tsunami lengkap dengan gambar orang sedang berlari ke bukit menghindari riak tsunami. Di bawah gambarnya, ada tulisan putih dalam bahasa Aceh dan Indonesia yang berbunyi meunyoe geumpa rayeuk plung laju ke teumpat yang manyang, bek to laot yang artinya “jika terjadi gempa segera menjauhi pantai/lari ke tempat yang tinggi”.

Masih Jadi Ikon
Masjid Baiturrahman di pusat Banda Aceh yang letaknya agak jauh dari pantai juga tak luput dari terjangan tsunami ketika itu. Namun masjid ini bukan cuma tetap kokoh tapi juga berhasil menyelamatkan sejumlah orang dari amukan gelombang air laut kala itu.

Berdasarkan pantauan Travelplusindonesia sebelum menghadiri peringatan 5 tahun tsunami di Banda Aceh (26/12) bersama rombangan media yang dibawa oleh Direktorat MICE, Depbudpar, kondisi masjid yang dibangun tahun 1292 atau abad ke 13 ini semakin baik. Perbaikan dilakukan disana-sini hingga kini tampil lebih bersih dan anggun.

Uniknya ratusan burung kecil justru semakin banyak yang bermalam di masjid ini, terutama di bagian depan masjid, termasuk di dinding tempat jam besar bulat menempel. Burung-burung tersebut berdatangan jelang malam.

Pengunjungnya pun tetap ramai, baik jamaah yang ingin shalat maupun wisatawan lokal yang berwisata atau melakukan pengambilan foto prewedding. Wisatawan dari luar Aceh dan beberapa pasang turis asing juga terlihat. Umumnya wisatawan yang datang ingin menikmati arsitektur paduan Eropa, Turki dengan sentuhan Islam dan tradisional masjid ini, dan tak lupa foto diri berlatarbelakang masjid indah ini.

Pengunjung Masjid Raya Banda Aceh ini ramai sejak pagi hingga malam. Ketika malam berangsur menyelimuti langit di atas Masjid Raya Baiturrahman, pesona keindahan masjid raya ini tak lantas memudar. Lampu-lampu masjid dan bayangan bangunan yang terpantul di air kolam di depan masjid, justru menghadirkan pesona tersendiri. Tak berlebihan di kala malam merayap, masih banyak pengunjung yang datang untuk menikmati dan mengabadikan keindahannya.

Adah kisah unik tentang masjid ini ketika diterjang tsunami. Konon ada orang yang melihat masjid ini terangkat dengan sendirinya hingga menyelamatkan ratusan orang di dalamnya dari terjangan tsunami. Benar tidaknya cerita itu, yang pasti kian menambah keyakinan banyak orang akan kebesaran dan kekuasaan Tuhan.

Kendati bermunculan obyek wisata baru pascatsunami, masjid raya ini tetap menjadi ikon pariwisata Banda Aceh bahkan Provinsi Aceh. Hingga ada anggapan, kalau belum ke masjid ini saat ke Aceh untuk urusan bisnis, rapat, konvensi, pameran, maupun berwisata belumlah sempurna. Yang membanggakan lagi, masjid ini masuk dalam 10 besar masjid-masjid terindah di dunia.

Masih ada sejumlah masjid kebal tsunami yang ada di beberapa tempat seperti Masjid Rahmatullah atau Masjid Lampuuk di Desa Lampuuk, Kecamatan Lhok Nga, Kabupaten Aceh Besar. Masjid yang berada sekitar 500 meter dari bibir Pantai Lampuuk ini tetap berdiri kokoh, sementara bangunan di kiri kanannya hancur tak tersisa termasuk deretan pohon cemara dan kelapa yang tercabut dari akarnya hingga tumbang dan terseret ratusan meter. Masjid yang sebelum tsunami diresmikan pada 12 September 1997 oleh Gubernur DI Aceh Prof. Syamsuddin Mahmud, kini sudah direnovasi hingga tampil lebih cantik.

Selain itu ada Masjid Raya Teuku Cik Maharaja di Peukan Bada, Masjid dekat obyek wisata spritual Kuburan Syiah Kuala, Masjid di Ujung Karang, Melauboh, dan masjid-masjid ajaib lainnya.

Sayang, bila tak mengunjungi masjid-masjid ajaib kebal tsunami seperti tertera di atas selagi berada di Tanah Rencong ini. Pasalnya, selain kini tampil lebih anggun, cantik, dan menarik, pasti ada saja kisah tentang keperkasaan atau keajaibannya hingga masjid-masjid tersebut mampu bertahan dari hantaman gempa dan terjangan tsunami dasyat kala itu. Kisah keajaiban dan kekebalannya itu, pastinya bakal menebalkan keimanan dan kesadaran untuk selalu mematuhi perintahNya.

Tips Perjalanan
Berwisata spritual ke masjid manapun termasuk di Banda Aceh dan wilayah lain di Provinsi Aceh, sebaiknya mematuhi aturan. Bila Anda wanita dewasa sebaiknya mengenakan pakaian muslimah atau minimal berkerudung sedangkan pria dewasa sebaiknya mengenakan pakaian yang santun seperti baju koko dan celana panjang.

Saat berkunjung ke masjid-masjid bersejarah, berasitektur unik, kuno atau megah dan indah, ada baiknya sekalian menjalankan kewajiban sebagai muslim seperti shalat wajib dan sunat, tadarusan, salawat badar atau ber-zikir dan berdoa.

Bila ingin mengabadikan gambar di dalam masjid, sebaiknya jangan sampai mengganggu jamaah yang sedang beribadah. Jagalah sikap. Jangan gaduh, tertawa atau bercanda berlebihan.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP