. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label Asalkan.... Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Asalkan.... Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Desember 2019

Wisata Susur Gua Itu Aman dan Menyenangkan, Asalkan...

Tewasnya tiga mahasiswa yang terjebak di Gua Lele, Karawang, Minggu (22/12/2019), menambah daftar duka petualangan penelusuran gua (caving) di Tanah Air. Lalu bagaimana supaya wisata susur perut bumi ini aman dan menyenangkan?

Tiga orang yang tewas di gua yang berada di Kampung Tanah Bereum, Desa Tamansari Kecamatan Pangkalan, Kabupaten Karawang, Jawa Barat itu bernama Erisa Rifan (20), Alief Rindu (19), Ainan Fatimatuzahro (19). 

Kabarnya ketiga mahasiswa pencinta alam Universitas Singaperbangsa Karawang (Mapalaska), Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika) ini meninggal karena terkena banjir bandang saat masih berada di dalam gua tersebut.

Beberapa tahun sebelumnya, juga tercatat ada dua Mahasiwa Pencinta Alam Teknik Sipil (Mapateksi), Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yakni Hari Miftahul Rohmah (21) dan Nur Faizin (22) yang tewas karena terseret arus air bah di sungai Gua Kiskendo, Dusun Guwo, Desa Trayu, Kecamatan Singorojo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.

Jenasah Hari, mahasiswa asal Bekasi ini ditemukan oleh seorang petani, warga Desa Trayu, Senin pagi (11/3/2013). Sedangkan Nur Faizin, warga Ungaran ini baru ditemukan jenazahnya 3 hari kemudian, tidak jauh dari lokasi ditemukannya jenasah Hari di Dusun Ngadipiro, Desa Kertosari.

Keduanya tengah melakukan survei gua yang terletak 15 Km ke arah Selatan (Boja) Kota Kendal melalui Kaliwungu atau 40 Km dari pusat kota Semarang ini pada Minggu (10/3/2013).

Lima hari kemudian, setelah jenasah Nur Faizin ditemukan, tiga anggota Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia juga tewas diterjang banjir bandang saat menyusuri Gua Seropan di Dusun Serpeng, Desa Pacarejo, Semanu, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta, Selasa malam, (19/3/2013).

Tiga korban yang meninggal itu adalah Ganang Samudra, mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta asal Solo; Hevin Fahariza, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purwokerto asal Surabaya; dan Dian Putri Permatasari, mahasiswa Biologi Universitas Gajah Mada.

Mereka diduga meninggal lantaran tenggelam dan kehabisan oksigen di dalam gua yang memiliki kedalaman mencapai 40 meter dan berbentuk vertikal ini.

Ketika itu mereka tengah mengikuti "Kursus Dasar dan Kursus Lanjutan Teknik Penelusuran Gua dan Lingkungannya 2013" yang diikuti 25 penelusur, terdiri atas 5 orang panitia dan 20 orang peserta. 

Sebelum kedua musibah itu, masih pada bulan yang sama, tepatnya di awal Maret 2013, ada enam wisatawan Nusantara terjebak dalam perut Goa Sriti di Dusun Gelaran I, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Kabupaten Gunung Kidul, Yogjakarta akibat banjir bandang sungai bawah tanah, Sabtu (2/3/2013).

Untungnya, tak ada korban jiwa dalam musibah tersebut.

Padahal ketika mereka masuk gua, kondisi air Gua Sriti aman setelah dipastikan oleh tim pemandunya, yakni tinggi air kurang dari dua meter. Dan kondisi cuaca di luar pun sedang bagus.

Namun saat rombangan berada di separuh penelusuran, tiba-tiba hujan turun dan menyebabkan banjir lalu menjebak mereka.

Nah, belajar dari sederet kecelakaan di gua-gua itu, rasanya tak ada ruginya menerapkan kiat khusus menelusuri gua biar aman dan menyenangkan. Kiat ini juga berdasarkan pengalaman TravelPlus Indonesia caving di beberapa gua. 

Pertama-tama pelajari sejarah dan kondisi gua yang akan ditelusuri. Caranya dengan mencari informasi sebanyak mungkin tentang karakteristik gua tersebut lewat beragam informasi tulisan, buku atau orang/tim yang penah menelusurinya, termasuk informasi dari masyarakat sekitar gua. 

Mempersiapkan mental dan fisik, terlebih gua yang bakal ditelusuri termasuk gua petualangan yang membutuhkan peralatan khusus, bukan gua wisata.

Kalau menggunakan pemandu atau jasa operator penelusuran gua, pilihlah yang berpengalaman. Jadi lihat track record-nya.

Pastikan peralatannya lengkap dan masih aman digunakan. Kalau gua vertikal tentu diperlukan tali-temali berikut carbiner, tali tubuh, dan lainnya, helm, headlamp, cover-all, sepatu, dan pelampung jika menelusuri sungai bawah tanah.

Jangan lupa pelajari Single Rope Technique (SRT) atau teknik yang digunakan untuk menelusuri gua vertikal, dengan menggunakan satu tali sebagai lintasan untuk naik dan turun medan vertikal.

Anda bisa meminta operatornya melakukan pengenalan dan pemanasan teknik tersebut bagaimana mengenakan alat lalu cara naik dan turun dengan SRT agar tidak kaget sewaktu pelaksanaan. Tempat belajarnya bisa di pohon besar yang kuat.

Kiat lain yang amat penting, memahami kondisi cuaca. Khusus untuk penulusuran gua bersungai bawah tanah atau berbentuk vertikal, sebaiknya dilakukan saat musim panas untuk menghindari hujan dan longsor.

Jangan memaksakan caving saat intensitas hujan masih cukup tinggi. Apalagi saat musim hujan.

Sekalipun caving-nya pada musim panas, jangan mudah tertipu oleh cuaca bagus atau cerah di sekitar gua, terlebih guanya berbentuk vertikal dan atau bersungai bawah tanah.

Siapa tahu, tanpa diketahui di bagian atas tempat sumber air yang curahannya mengalir ke gua tersebut, sedang atau sudah terjadi hujan deras dan lama.

Kiatnya dengan membentuk tim di luar atau mulut gua dan juga tim yang memantau kondisi cuaca di bagian atas bukit di mana gua itu berada.

Jika hujan lebat turun, tim tersebut bisa langsung memberi kabar siaga kepada tim yang ada di mulut dan dalam gua untuk segera keluar dari gua.

Sebaiknya caving dalam kelompok kecil (small group). Khusus gua yang labil atau memiliki faktor kesulitan tinggi, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk menelusurinya dalam jumlah besar. 

Melangkahlah dengan tenang, jangan membuat kegaduhan karena suara yang gaduh bisa jadi mengganggu hewan gua dan atau meruntuhkan dinding gua yang labil. Dan jangan panik jika bertemu hewan gua seperti ular, jangkrik, kelelawar, laba-laba dan lainnya.

Jangan lupa menjaga kebersihan, keasrian, dan keindahan gua merupakan sikap terpuji seorang penelusur.

Jangan sekali-kali meninggalkan sampah, mencoret-coret atau mengores-gores dinding gua apalagi mengambil stalaktit dan stalakmit-nya. Biarkan gua apa adanya. Cukup tinggalkan jejak langkah saja.

Jika gua yang bakal ditelusuri adalah gua yang jarang ditelusuri atau bahkan baru, sebaiknya ekstra hati-hati.

Kumpulkan informasi sebanyak mungkin, bawa pemandu penduduk lokal yang setidaknya mengetahui gua itu, lakukan survei lebih dulu untuk mengetahui karakteristik guanya, dan bawa peralatan yang memadai sesuai jenis guanya, baru memasukinya saat kondisi cuaca bersahabat.

Nah, kalau semua kiat di atas diindahkan, rasanya tak perlu cemas, ragu apalagi takut ber-caving ria. Soalnya negeri ini punya begitu banyak gua yang menakjubkan, menarik, dan menantang untuk ditelusuri.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Tim Kembara Tropis berfoto bersama di dalam Gua Buniayu, Sukabumi, Jawa Barat.

Read more...

Minggu, 21 April 2019

Mendaki Gunung Diusia Senja Siapa Takut, Asalkan...




Berusia senja, bukan penghalang buat Anda yang gemar bergiat di alam bebas (outdoor activities), khususnya mendaki gunung.

Meskipun selagi muda, sederet gunung populer dan non populer sudah dipeluk (baca: didaki sampai atapnya), tetap saja perlu kiat tersendiri supaya pendakian gunung dikala usia senja berjalan aman dan nyaman.

Kenapa? Ya karena usia senja (lawas/tua/senior) harus disadari secara fisik jelas berbeda dibanding ketika masih belia.

Mungkin secara pengalaman (jam terbang pendakian) dan mental si pendaki lawas itu unggul. Tapi dari sisi stamina tak bisa dipungkiri pasti kalah dibanding pendaki muda, terutama mereka yang masih berumur belasan sampai 30-an tahun. Karena apa? Ya faktor 'U' tadi.

Pendaki senja, selain fisiknya mulai menurun (baca: melemah), ditambah lagi serangan berbagai persoalan hidup seperti rumah tangga, keluarga, pekerjaan, dan lainnya.

Karena itu pendaki senja perlu mengindahkan kiat khusus untuk mengatasi bermacam kendala itu, antara lain dengan tetap berolah raga, minimal jogging, jalan santai, dan renang.

Olahraga adalah hal utama yang kudu dipenuhi setiap petualang senja sekalipun semasa mudanya dulu rajin naik-turun gunung dan lainnya. Sebab mental saja tidak cukup buat mendaki gunung.

Jangan menganggap karena sudah berpengalaman naik gunung sewaktu muda, lalu Anda meremehkan hal itu. Jadi Anda harus tetap berolahraga, dimanapun sesibuk apapun.

Kalau memilijnunuk Oalah ragam tipis-tipis (olgapis) jogging, sebaiknya jangan hanya di medan rata atau datar seperti jalan beraspal mulus. Sesekali harus juga jogging di jalur menanjak dan menurun untuk mendapatkan atmosfer sebagaimana jalur pendakian. Lebih bagus lagi kalau diselingi dengan membawa beban (baca: ransel). Waktu terbaik jalan cepat, lari santai adalah pagi dan sore.

Adapun renang bermanfaat melenturkan otot dan pernapasan. Kedua olahraga ini sebaiknya dilakukan minimal seminggu sekali.

Kalau tidak punya waktu berolahraga dengan intens, lakukan saja bersamaan dengan rutinitas lain, misalnya berjalan kaki pergi pulang ke masjid/mini market/pasar tradisional, dan lainnya. Jangan sebentar-sebentar naik motor atau kendaraan lainnya.

Mungkin saja sewaktu masih SMA dan kuliah dulu, kemana-mana kerap berjalan kaki, naik kendaraan umum dan lainnya. Tapi setelah bekerja apalagi jadi orang penting, pasti kesempatan itu berkurang sebab kemana-mana naik mobil, diantar dan dijemput sopir bahkan pengawal, Anda tinggal duduk manis. Jadi kesempatan bergeraknya sudah semakin berkurang.

Sebelum memulai pendakian, sebaiknya setiap pendaki  senja melakukan pemanasan mulai dari streatching (pelenturan otot) minimal 5 menit dan warming up (senam pemanasan) minimal 5 menit agar otot tidak kaget, dan terakhir tentu saja berdoa.

Sewaktu mendaki jangan membawa beban yang terlalu berat. Ingat kondisi fisik Anda berbeda dengan anak muda belasan dan duapuluhan tahun (masa SMA dan kuliah). Tapi kalau Anda merasa sanggup karena kerap latihan jogging ataupun jalan santai sambil membawa beban, ya boleh-boleh saja dengan catatan disesuaikan dengan kemampuan fisik Anda.

Kalau tak mampu, solusinya gunakan porter. Anda cukup bawa perlengkapan pendukung saja, seperti kamera jika memang hobi memotret dan lainnya.

Kalau Anda tidak hapal lagi jalur pendakian. Sebaiknya gunakan jasa pemandu lokal selain porter tadi. Anda tinggal berjalan mengikuti petunjuk pemandu saja tanpa harus berpikir keras mencari jalur pendakian sebenarnya ketika bertemu jalur bercabang atau sulit dikenali. 

Dengan menggunakan porter dan pemandu lokal, berarti Anda sudah berbagi sedikit rezeki.

Buat apa Anda punya banyak uang tapi masih mau bercapek-capek membawa barang sendiri dan berpusing-pusing mencari jalur pendakian saat mendaki. Kecuali waktu muda dulu, dan ketika itu Anda masih "kering kerontang", itu masih bisa dimaklumi.

Memang mendaki dengan pemandu, rasa adventuring-nya berkurang. Tapi kalau sudah berusia senja dan memiliki waktu sempit, sisihkan saja rasa itu.

Jika Anda pergi mendaki gunung dengan kelompok pendaki muda (pelajar SMA, mahasiswa ataupun pekerja dan pemandu) jangan sok-sokan mengikuti langkah mereka. Terutama diawal pendakian, karena ini sebenarnya fase terberat saat mendaki  lantaran fisik dan jiwa belum seutuhnya beradaptasi.

Maklum seusia mereka, terlebih pelajar SMA dan mahasiswa mungkin mereka bisa naik atau turun gunung sambil lari karena fisik mereka sedang prima.

Lebih baik Anda bilang, jalannya santai saja. Kalau mau bergerak cepat silakan, nanti saya menyusul. Jadi Anda tak perlu gengsi.

Carilah jenis petualangan yang sesuai dengan kapasitas kemampuan Anda saat ini.

Kalau merasa persiapan fisik kurang, beban pikiran sedang meninggi karena persoalan rumah tangga, pekerjaan yang menumpuk dan sebagainya, sebaiknya jangan memaksakan diri berpetualang yang berat-berat seperti mendaki gunung yang cukup tinggi dan berjalur sulit.

Carilah petualangan alternatif. Boleh saja mendaki gunung tapi gunung yang mudah digapai.

Jangan lupa cek up kesehatan Anda. Mungkin saja sewaktu muda, Anda sehat wal’afiat namun tanpa Anda ketahui saat menjelang senja Anda terkena asma, gejala paru-paru, jantung, stroke atau lainnya.

Saat mendaki, bawa obat-obat khusus Anda jika menderita suatu penyakit tertentu.

Kalau Anda punya gejala reumatik, mudah pegal-pegal, sesak napas, dan lainnya, ya bawa saja obatnya dalam kemasan kedap air. Termasuk perlengkapan khusus yang biasa Anda gunakan sehari-hari, seperti kaca mata dan lainnya untuk memudahkan Anda berpetualang.

Kenali karakter lokasi petualangan yang dituju. Misalnya kalau ingin mendaki gunung A, sebaiknya pahami waktu terbaik untuk mendakinya, kekhasan alam, dan cuaca gunung tersebut. Termasuk regulasi pendakian gunung yang berlaku di gunung tersebut berikut peraturan tak tertulis yang berlaku di masyarakat di sekitar gunung itu. Dengan demikian Anda sudah membawa bekal informasi/data selain bekal fisik dan mental tadi.

Mendaki gunung dan kegiatan petualangan lainnya bukanlah untuk menaklukan gunung dan tantangannya. Melainkan bagaimana menikmati keindahan dan mensyukuri karunia Allah SWT yang tak terhingga, sehingga pendaki tersebut semakin dekat dengan-Nya dan terus berusaha menjaga kelestarian alam ciptaan-Nya.

Nah, buat Anda yang masih muda, pergunakan masa produktif itu dengan menjelajahi sejumlah gunung super aktif, aktif, dan tidak aktif  di Tanah Air tercinta ini sebaik mungkin dengan membawa pula bekal ramah lingkungan, sebelum Anda memasuki usia senja kelak.

Bagi Anda pendaki lawas yang ingin sesekali mendaki, nanjaklah dengan bijak sesuai kondisi fisik dan umur saat ini.

Semoga artikel ini bermanfaat 🙏.
Salam Nanjak Pro Konservasi,
Salam Nanjak Ramah Lingkungan.

Naskah: Adji TravelPlus (Jaberio Petrozoa), IG: @adjitropis, TikTok: @FaktaWisata.id

Foto: adji & dok. pendakibelia

Captions:
1. Biar senja tetap berjiwa pagi, ahaaiii...
2. Saya (Adji TravelPlus) di puncak Gunung Prau, Sabtu (20/4/2019).
3. Lari buat persiapan nanjak.
4. Faktor 'U' dengkul kopong euy saat menuruni Gunung Rajabasa, Lampung.
5. Saya di puncak Gunung Marapi, Sumatera Barat.
6. Pendaki senja/lawas (tengah) bersama 2 pendaki belia asal Sumedang di puncak Gunung Prau.
7. Saya di triangulasi puncak Gunung Seulawah Agam, Aceh.
8. Saya di puncak Gunung Bambapuang, Sulawesi Selatan.

Read more...

Selasa, 09 April 2019

Aceh Punya Kans Besar Raih Peringkat Satu Destinasi Wisata Halal Indonesia, Asalkan...

Pariwisata halal Aceh punya peluang sangat besar untuk menduduki posisi pertama sebagai Destinasi Wisata Halal Indonesia edisi berikutnya.

Kenapa? Karena Aceh sudah mengantongi modal beberapa kali meraih peringkat kedua predikat tersebut, termasuk tahun 2019 ini yang penghargaannya diserahkan langsung oleh Menteri Pariwisata  Arief Yahya pada acara Wonderful Indonesia Halal Tourism Meeting and Conference (WIHTMC) di Bina Karna Auditorium - Hotel Bidakara Grand Pancoran, Jakarta, Selasa (9/4/2019). 

Caranya? TravelPlus Indonesia sarankan ya Aceh jangan berpuas hanya menyandang status kedua.

Aceh harus berniat kuat untuk merebut dan menyandang gelar nomor satu. Artinya jangan mau menjadi yang kedua terus.

Langkah konkritnya? Sederhana saja, minimal Aceh harus mengindahkan 4 kriteria penilaian strategis dalam Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) yaitu dari sisi Access,  Communication, Environment, dan Services (ACES), yang mengacu pada standar Global Muslim Travel Index (GMTI).

Namun untuk bisa menjadi nomor satu berikutnya, Aceh tidak cukup bermodal itu.

Koq gitu? Ya karena provinsi lain seperti Riau, Jakarta, dan Sumatera Barat pasti akan atau bahkan sudah melalukan hal serupa.

Apalagi NTB dalam hal ini Lombok, sudah lebih dulu menerapkannya dan terbukti berhasil meraih peringkat pertama Destinasi Wisata Halal Indonesia versi IMTI 2019.

Nah, kalau Aceh mau menjadi yang teratas versi IMTI berikutnya ya harus punya modal tambahan, misalnya semakin banyak atraksi atau daya tariknya (baik objek wisata alam, budaya maupun buatan serta even wisata yang berkonsep halal atau muslim friendly).

Tak ketinggalan menambah pula fasilitas amenitas ramah wisatawan muslim yang nyaman dan berstandar global seperti hotel, rumah makan, musholla di sejumlah mall/bandara/terminal, dan lainnya.

Tak kalah penting aktif bekerjasama dengan jurnalis/travel blogger berpengalaman dan kreatif untuk meliput ragam destinasi halalnya termasuk even wisata, pameran wisata yang diikuti, Aceh, dan lainnya agar wisata halalnya semakin terekpos luas.

TravelPlus Indonesia sarankan pula Aceh menggelar pers tour minimal 2 tahun sekali yang diikuti jurnalis/travel blogger berpengalaman tersebut.

Bukankah Menpar Arief Yahya berulangkali bilang jangan pelit-pelit berpromosi, termasuk dalam melibatkan peran jurnalis/travel blogger, mengingat promosi itu adalah investasi.

Di IMTI 2019, Aceh menduduki posisi kedua dengan 66 poin.  Jumlah ini melonjak 9 angka dari 2018.

Terkait prestasi Aceh meraih posisi kedua tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Jamaluddin harus bisa lebih memacu lagi anak buahnya termasuk mengajak para pelaku industri pariwisata Aceh berbasis halal agar lebih bersemangat lagi untuk menjadi yang terbaik, menempati posisi teratas nanti.

Misalnya dengan meminta para travel agent Aceh untuk membuat paket-paket wisata halal terbaru yang variatif, menarik, dan kekinian dengan harga terjangkau.

Modal sebagai Destinasi Wisata Halal versi IMTI 2019 itu bukan hanya sekadar memperkuat positioning Aceh sebagai destinasi wisata halal yang layak dikunjungi oleh wisatawan, pun harus menjadi sumber penyemangat untuk tampil lebih percaya diri dan bersaing dengan daerah-daerah lainnya agar nanti bisa merebut peringkat pertama.

Data dari Disparbud Aceh, jumlah kunjungan wisatawan ke Aceh meningkat mencapai 2,5 juta orang, terdiri atas 2,4 juta wisnus dan 106 ribu wisman pada 2018.

Sementara pada 2017 sebanyak 2,3 juta orang, terdiri atas 2,2 juta wisnus dan 78 ribu wisman.

Angka tersebut diprediksi akan terus meningkat dan ditargetkan angka kunjungan wisnus di Aceh sebanyak tiga juta jiwa dan wisman 150 ribu orang pada 2019.

Sementara, angka kunjungan wisatawan muslim ke Aceh diharapkan juga meningkat dari 35 ribu pada 2018 menjadi 40 ribu pada 2019.

Nah, target-target angka kunjungan wisman itu pun harus tercapai karena bisa menjadi salah satu nilai plus bagi Aceh jika berniat kuat menjadi yang teratas sebagai destinasi wisata halal berikutnya.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Wisman, wisnus, dan wislok tengah menikmati sunset di salah satu pantai di Aceh. (foto: adji)
2. Menpar Arief Yahya menyerahkan penghargaan juara kedua Destinasi Wisata Halal Indonesia versi IMTI 2019 buat Aceh kepada Kepala Disbudpar Aceh, Jamaluddin di Jakarta. (foto: dok.disbudpar aceh)
3. Piala dan sertifikat buat Aceh sebagai juara kedua Destinasi Wisata Halal Indonesia versi IMTI 2019. (foto: dok.disbudpar aceh)
4. Libatkan peran jurnalis/travel blogger berpengalaman dan perbanyak paket-paket wisata halal yang menarik, kekinian, dan terjangkau. (foto: adji)
5.Pasangan wisman bule tengah bersepeda di salah satu ruas jalan raya Aceh yang super mulus. (foto: adji)

Read more...

Jumat, 11 Januari 2019

Punya Convention Hall Megah, Wajah MICE Banda Aceh Bakal Kian Cerah, Asalkan...

Banda Aceh belakangan ini terus memoles wajahnya untuk menjadi Kota MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) atau Kota Pertemuan, Insentif, Konvensi, dan Pameran. Buktinya kini Banda Aceh punya cenvention hall baru yang megah sebagai salah satu venue pendukung sebuah Kota MICE.

Venue itu semula berlabel Banda Aceh Madani Education Center (BMEC) namun kabarnya berubah nama menjadi Banda Aceh Convention Hall.

Perubahan nama itu memang belum sepenuhnya benar. Namun di akun Instagram (IG) @kotabandaaceh, Kamis (10/1/2019) tertulis caption begini:

"Akhirnya Banda Aceh kek kota-kota besar lainnya punya Convention Hall. Dulu awalnya mau dijadikan Mandani Center (denger-denger gitu). Lalu diputuskan jadi Banda Aceh Convention Hall. Semua senang, right?".

Akun IG komunitas, non goverment media yang diikuti 106 ribu pengikut itu tidak menyebut apakah convention hall baru itu sudah diresmikan dan siap beroperasi atau belum.

Sehari berselang TravelPlus Indonesia langsung menanyakan hal itu ke Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kota Banda Aceh Rizha Idris lewat pesan WA.

Rizha mengaku belum mengetahui apakah gedung yang dimaksud itu sudah diresmikan atau belum. "Saya blom tau kapan peresmiannya," balas Rizha, Jumat (11/1/2019).

Namun Rizha berharap dengan adanya gedung itu Banda Aceh bisa semakin siap menjadi Kota MICE berskala nasional bahkan internasional.

Sementara Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Aceh, Amiruddin mengatakan convention hall itu memang belum diresmikan sampai hari ini.

Jika sudah diresmikan, lanjut Amiruddin tentunya gedung milik Pemkot Banda Aceh itu diharapkan bisa segera dipergunakan untuk kegiatan MICE dan promosi lainnya. "Termasuk expo dan event," terang Amiruddin juga lewat pesan WA.

TravelPlus Indonesia setuju dengan apa yang diutarakan Amiruddin itu.

Kalau convention hall yang kabarnya berkapasitas sampai 5.000 orang itu sudah diresmikan, Aceh, khususnya Banda Aceh harus siap menggelar berbagai macam event agar gedung itu tidak mubazir, tidak hanya jadi gedung perkawinan nantinya sebagaimana dikhawatirkan sejumlah warganet yang mengomentari posting-an foto dan caption di atas.

Lalu kegiatan apa yang bisa digelar di convention hall itu?

Tentu banyak ragamnya. Contohnya pameran wisata/travel mart, sport tourism expo (diving, sepeda, olahraga dirgantara, water sports, dll), elektronik (komputer/laptop, HP/kamera foto, dll), otomotif (mobil, motor, dll), perumahan, pertanian, lingkungan hidup, perikanan, edu expo (kampus dalam dan luar negeri, buku islam, dll), culture expo (handycraft, kuliner, dll), religion expo (ramadhan festival, hijrah festival, syariah expo, dll), dan masih banyak lagi.

Justru yang kini menjadi pertanyaan, apakah sumber daya manusia (SDM)-nya siap? Jawabannya, mau tak mau harus siap.

Soalnya, untuk mencerahkan paras industri MICE Banda Aceh itu tak cukup hanya bermodalkan canvention hall dengan fasilitas meeting berdaya tampung besar, megah, dan gagah.

Masih banyak hal lain yang harus dipenuhi antara lain aksebilitas, imej positif sebagai destinasi, dukungan stakeholder, mempunyai tempat-tempat menarik, dan yang tak kalah penting adalah ketersediaan/kesiapan SDM-nya terutama sejumlah event organizer (EO) yang profesional dalam menangani bahkan membuat event/expo berskala nasional maupun internasional.

Kenapa? Ya supaya tidak hanya terpaku bekerja sama dengan Asosiasi Perusahaan Pameran Indonesia (ASPERAPI) atau berharap terus dari pemerintah pusat agar Banda Aceh menjadi tuan rumah setiap kegiatan atau event yang sifatnya nasional maupun internasional.

Banda Aceh harus siap menangani/membuat sendiri event-event berskala besar tersebut. Tentu bisa belajar dari kota-kota MICE lainnya yang sukses menggarap/mengemas event bertaraf nasional maupun internasional.

Jika itu terlaksana, Banda Aceh lambat laut, bukan tidak mungkin bisa menjadi daerah tujuan wisata (DTW) MICE yang sejajar dengan Kota MICE lainnya seperti kota-kota besar di Jawa, Denpasar, Manado, dan Makassar.

Bahkan mungkin bisa juga seperti Singapura yang berhasil menjadikan sektor industri MICE-nya sebagai penghasil devisa yang cukup tinggi bagi negaranya.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Gedung Banda Aceh Madani Education Center yang kabarnya berubah nama menjadi Banda Aceh Convention Hall. (foto: dok. @kotabandaaceh)
2. TravelPlus Indonesia saat menyambangi Aceh Expo 2018 di Banda Aceh. (foto: widi)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP