. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label tips wisata pilihan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tips wisata pilihan. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2011

Tips Berburu Kuliner Saat Puasa


Meski berpuasa bukan berarti kita tidak bisa berwisata kuliner. Justru di bulan suci ini sejumlah kuliner tradisional spesial Ramadhan bermunculan, yang sulit ditemukan pada bulan-bulan lain. Agar wisata kuliner di bulan puasa menyenangkan tanpa meninggalkan kewajiban sholat wajib dan sunat, ada baiknya ikuti tips berikut ini.

Sebelum mendatangi lokasi pedagang kuliner yang Anda cari, ada baiknya mengumpulkan informasi dari bermacam sumber. Kumpulkan informasi yang didapat mulai dari lokasi, nama makanan, penganan, dan tentu saja harganya.

Setelah mendapat semua informasi itu, ajaklah keluarga, teman, atau pasangan Anda. Sebab lebih asyik berwisata kuliner bila dilakukan secara kelompok atau paling tidak minimal berdua. Anda bisa memesan menu yang berbeda kemudian bisa saling mencicipi dan berbagi penilaian citrarasa dan lainnya.

Perhatikan waktu mengunjungi lokasi pedagang kuliner tradisional yang Anda buru. Kalau memang ingin berbuka puasa, sebaiknya hitung waktu tempuh menuju lokasi tersebut. Biasanya kuliner yang banyak peminatnya sudah antri 1 atau bahkan 2 jam sebelum magrib. Setelah berbuka, jangan lupa untuk menunaikan ibadah shalat magrib di musholah atau masjid terdekat.

Kalau Anda ingin menikmati kuliner tersebut dengan santai, sebaiknya menyantapnya selepas shalat magrib. Karena itu carilah lokasinya yang dekat dengan masjid. Yang jelas, intinya berwisata kuliner saat bulan puasa janganlah sampai meninggalkan ibadah wajib maupun sunat.

Kalu Anda belum puas, selepas taraweh lanjutkan berburu kuliner ke lokasi lainnya. Anda bisa mencoba mulai dari kedai sederhana, restoran mewah maupun makanan di hotel berbintang. Bila anggaran terbatas, Anda cukup datangi sentra jajan kaki lima lainnya.

Bila Anda menyukai kuliner yang Anda santap dan ingin membuatnya di rumah, sebaiknya saat berada di lokasi Anda menanyakan proses pembuatannya kepada pedagangnya. Dibutuhkan trik tersendiri agar pedagang tersebut mau membuka rahasia dapur dan resepnya kepada Anda.

Mengingat bulan puasa, sebaiknya saat berburu kuliner untuk berbuka puasa dan lainnya, Anda mengenakan pakaian yang santun dalam artian tidak mengundang perhatian orang. Dan jangan mengenakan perhiasan berlebih, karena dapat menarik penjahat beraksi. Selamat berwisata kuliner tradisional saat Ramadhan.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 21 Juli 2011

Tips Berwisata Tetap Nyaman Beribadah


Berwisata identik jalan-jalan dan senang-senang. Muncul kesan kalau sedang wisata, nikmati dunia sejenak dan lupakan saja akhirat. Jelas itu keliru. Selama berwisata kita pun dapat menjalankan ibadah wajib sebagai muslim seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan dengan nyaman. Tipsnya, antara lain mengikuti paket wisata muslim yang sebenarnya. Apa lagi?

Selama ini orang tahunya berwisata muslim cuma wisata ke makam Wali Songo. Padahal masih banyak obyek wisata lain di dalam negeri yang dapat dikunjungi dan dilakukan, seperti berkunjung ke masjid-masjid tua dan bersejarah di berbagai kota dan pelosok Tanah Air. Atau berkunjung ke negara lain baik negara muslim maupun negara non muslim sekalipun.

Berikut 10 tips berwisata tanpa meninggalkan ibadah versi Travelplusindonesia, yang dapat Anda jadikan bekal perjalanan wisata baik secara mandiri artinya mengatur sendiri tanpa bantuan pengelola perjalanan wisata ataupun dengan membeli paket wisata di travel agent.

1. Tentukan lokasi wisata yang akan dituju, baik di dalam maupun di luar negeri. Perlu diketahui, berwisata tanpa meninggalkan ibadah bukan berarti semata ke negara muslim seperti ke sejumlah negara di Timur Tengah, dll atau obyek-obyek bernafaskan Islam saja. Kita bisa juga pergi ke negara-negara non muslim seperti ke Cina, Rusia, Eropa dan lainnya dengan mengunjungi obyek-obyek terkenal, asal tetap menjalankan kewajiban sebagai muslim.

2. Kumpulkan segala informasi terkait lokasi yang dituju, termasuk akses, peraturan dan waktu yang tepat untuk berkunjung. Pengumpulan informasi bisa memalaui internet, buku, tulisan maupun berita terkait situasi dan kondisi lokasi yang dituju. Atau cari data dari orang yang pernah mengikuti atau membeli paket tersebut supaya Anda mendapat referensi lebih banyak lagi untuk menentukan apakah tepat untuk dibeli atau tidak paket tersebut.

3. Perjalanan wisata tersebut bisa dilakukan secara mandiri sesuai kemauan. Asalkan point 1 dan 2 sudah terpenuhi, termasuk ketersediaan dana. Biasanya mereka yang berjiwa petualangan, suka memilih cara ini atau yang biasa disebut berwisata ala backpacker.

4. Kalau tak mau repot, beli saja paket wisata muslim yang sebenarnya. Pilihlah paket yang berlabel paket wisata muslim. Bukan paket wisata biasa.

5. Pilihlah travel agent yang memang berpengalaman menyelenggarakan wisata muslim. Hati-hati banyak travel agent yang menjual paket wisata muslim tapi hanya label saja. Biar tak pusing, pilih saja travel agent yang tergabung dalam Komunitas Penyelenggara Wisata Muslim (KPWM) terdekat di kota Anda.

6. Cermati acara atau kegiatan tur paket tersebut. Apakah memberikan kenyamanan dalam melaksanan kewajiban sebagai muslim atau sebaliknya. Misalnya jadual shalat lima waktunya tepat, tempat shalat bersih, dan makanan atau minumannya di restoran yang benar-benar memproses masakannya secara halal dengan bahan-bahan halal pula, dan kelebihan lainnya.

7. Kalau dalam pelaksanaannya ternyata melenceng atau tidak membuat Anda nyaman beribadah, tegur penyelenggaranya atau jangan pilih lagi travel agent tersebut.

8. Bersikap dan berpakaian yang santun selama berwisata. Bawa serta perlengkapan shalat yang bersih dan praktis.

9. Pelajari sosial budaya masyarakat setempat baik komunitas muslim maupun non muslim di negara yang Anda kunjungi. Lalu bandingkan dengan sosial budaya masyarakat kita untuk mengetahui kelebihan dan kekurangannya.

10. Sedapat mungkin ambil hikmah dari perjalanan wisata tersebut. Hikmah yang tentunya membuat diri semakin dekat pada-Nya, menjadi lebih baik dan lebih berwawasan. Bukan sekadar jalan-jalan, bukan semata senang-senang.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 19 Juli 2011

Berwisata Spritual Ampuh Meredam Stres


Stres itu tekanan atau beban mental yang apibila didiamkan dapat memicu berbagai penyakit fisik dan mental. Stres berat bisa buat penderitanya nekat bunuh diri atau sebaliknya mencelakai bahkan membunuh orang lain. Untuk itu diperlukan pengelolaan stres agar tetap sehat jiwa raga dan hati tentram. Salah satu obat peredamnya dengan berwisata spritual. Apa lagi?

Pengelolaan stres harus datang dari diri sendiri. Berhentilkah untuk tidak terlalu menggantungkan sesuatu apalagi bergantung hidup dari orang lain, sekalipun itu pasangan hidup, anak, saudara, ortu, pacar, atau sahabat sendiri. Jangan pula bergantung dengan benda atau materi.

Berikut 11 obat peredam stres versi travelplusindonesia;

1. Beriman sesuai keyakinan. Bagi muslim, hanya kepada Allah SWT, dengan meyakinkan diri Dia-lah yang menentukan hidup dan mati serta tempat meminta, memohon, dan berlindung. Bukan kepada apapun dan siapapun.

2. Bertaqwa atau taat kepadaNya. Ketaqwaan yang bukan sekadar menjalankan ritual ibadah yanag diperintahkan dan menjauhi laranganNya, melainkan mencakup aspek lain dengan pengabdian sepenuh hati. Aplikasinya bagi muslim antara lain menunaikan solat wajib 5 waktu, dan lainnya.

3. Mensyukuri apa adanya. Menerima dan berterimakasih sekecil apapun yang didapat, termasuk ikhlas di dalamnya.

4. Menyenangkan hati dengan kegiatan/hobi positif seperti bernyanyi, menari atau berkesenian lain.

5. Berwisata spritual. Bagi umat muslim misalnya mengunjungi masjid-masjid tua dan bersejarah, ziarah ke makam-makam Walisongo, berzikir bersama di masjid-masjid besar, keliling majlis taklim dengan rekan, melakukan umroh ataupun pergi haji jika mampu, dan kegiatan lain yang intinya dapat menambah kedekatan padaNya.

6. Menjaga kebugaran bagi pria dan kecantikan buat perempuan. Caranya dengan olahraga yang disukai sesuai umur, dan atau merawat kecantikan di tempat-tempat yang disukai.

7. Berbelanja yang disukai sesuai kebutuhan tapi tidak boros.

8. Berwisata kuliner untuk memenuhi selera makan.

9. Berkumpul dengan orang-orang baik untuk berbagi ilmu dan melakukan kebaikan buat masyarakat dan atau lingkungan.

10. Menyisihkan harta dan atau menggunakan ilmu di jalanNya, seperti ber-infak dan sadaqoh, syiar Islam dan lainnya.

11. Berkreasi dan berinovasi membuat usaha atau lapangan kerja sendiri, tidak semata bergantung pada perusahaan/orang lain yang sewaktu-waktu bisa di PHK hingga bikin stres.

Berwisata spritual dapat dilakukan sendiri atau dalam kelompok kecil. Niatkan dalam hati wisata yang dilakukan bertujuan mendapatkan perubahan diri menjadi lebih baik.

Bila wisata spritual dilakukan secara berkualitas, hasilnya akan nyata. Selain meredam tekanan pekerjaan, ego juga ampuh mengobati stres akibat berbagai permasalahan hidup.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 14 Juli 2011

Kiat Aman Menikmati Kawah-Kawah Cantik Mematikan


Beberapa waktu lalu Kawah Timbang di Dieng dikunjungi wisatawan meski sedang bergejolak. Itu membuktikan kawah aktif tersebut punya pesona tersendiri mesti sebenarnya membahayakan. Masih banyak kawah aktif cantik mematikan lainnya yang diminati wisatawan. Kawah apa saja dan bagaimana menyiasati agar wisata belerang ini berjalan aman?

Indonesia dikarunai sejumlah kawah yang masih aktif, baik yang berada di puncak gunung maupun di lereng, sisa erupsi sebelumnya. Beberapa di antaranya sudah menjadi obyek wisata belerang yang ramai dikunjungi wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara. Bahkan ada sejumlah kawah yang kerap digunakan untuk berbagai aktivitas seperti syuting film, iklan, dan lainnya.

Di Pulau Jawa, selain Kawah Timbang masih ada puluhan kawah lainnya yang diminati pengunjung untuk berwisata maupun berobat. Sebut saja Kawah Sikidang, Kawah Gunung Tangkubanparahu, Kawah Ratu Gunung Salak, Kawah Putih, Kawah Kamojang, dan Kawah Gunung Papandayan.

Kawah Sikidang merupakan kawah terpopuler di Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di Desa Dieng Kulon, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Ciri khas kawah ini, uap air dan lava-nya muncul berpindah-pindah bahkan melompat, layaknya seekor kijang. Oleh karenyanya dinamakan Kawah Sikidang. Kidang berarti kijang.

Kawah Gunung Tangkubanparahu di ketinggian 1860 meter di atas permukaan laut (mdpl), Lembang, Kabupaten Bandung - Jawa Barat mampu menjaring 500 orang per hari. Dengan tiket masuk Rp 8.000 per orang meraup pendapatan sekitar Rp 3 juta per hari diluar tarif parkir dan lainnya.

Ada beberapa kawah di Gunung Tangakubanparahu ini. Kawah yang terbesar Kawah Ratu kemudian Kawah Upas. Disebagian bibir Kawah Ratu, banyak pedagang dan kios-kios yang menyediakan cenderamata, makanan atau minuman.

Kawah Kamojang berada sekitar 25 Km dari Garut dan 35 Km dari Bandung. Tiket masuknya Rp 5.000 per orang dan parkir Rp 2000 per sepeda motor. Ada beberapa kawah lain di kawah ini yakni Kawah Berecek dan Kawah Manuk.

Kawah Ratu Gunung Salak di ketinggian 1.338 mdpl diminati para pencinta alam dan pendaki gunung. Kawah seluas sekitar 30 hektar ini sepanjang hari kepundannya selalu mendidih dan mengeluarkan gas asam sulfida (H2S) dengan bau menyengat. Kadang dari lubang kawah utamanya mengeluarkan suara gemuruh akibat semburan uap air panas yang membentuk kabut.

Ada 3 jalur yang biasa dilalui pengunjung untuk sampai ke Kawah Ratu. Dua jalur dari Kabupaten Bogor yang terletak di sebelah Utara Gunung Salak, yakni Pasir Reungit dan Bumi Perkemahan Gunung Bunder. Jalur lainnya dari Bumi Perkemahan Cangkuang, Cidahu, Kabupaten Sukabumi, Selatan Gunung Salak.

Kawah Putih Bandung di Selatan Kota Bandung, sekitar 46 Km atau 2,5 jam dari Kota Bandung juga ramai dikunjungi wisatawan. Kawah ini bekas kepundan Gunung Gunung Patuha di ketinggian sekitar 2.434 mdpl. Karena keindahannya, kawah ini kerap menjadi tempat photo prawedding, syuting video klip, iklan, film, dan sinetron.

Kawah Gunung Papandayan yang berada di Desa Sirna Jaya dan Desa Keramat Wangi, Kecamatan Cisurupan, Kabupaten Garut, Jawa Barat pun banyak pengunjungnya. Kawah yang dikelola Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jabar II ini berada 24 km dari Kota Garut.

Ada beberapa kawah lagi di Gunung Papandayan yang berketinggian 2.622 mdpl, yakni Kawah Mas, Kawah Baru, Kawah Nagklat, dan Kawah 2002 yakni kawah baru hasil eruspi Gunung Papandayan pada 2002 silam.

Jangan Berlama-lama
Nah, biar kunjungan ke kawah-kawah cantik ini berjalan aman, pilih waktu kunjungan yang tepat. Sebaiknya hindari ke kawah yang sedang bergejolak atau aktivitas vulkanisnya meninggi.

Kalau pun ingin melihatnya tetap pada jarak aman yang sudah ditentukan pihak berwenang. Ingat kawah yang bergejolak biasanya menyemburkan uap panas dan gas beracun CO2 hasil dari proses vulkanis yang terjadi di dapur magma.

Jangan lupa membawa peralatan pendukung. Untuk menghalau bau belerang yang menyengat, tutup hidung dan mulut dengan masker yang baik. Bisa juga dengan sapu tangan dengan dilapisi kapas yang sudah diberi wewangian.

Jangan menyampah di kawah, selain merusak pemandangan, sisa sampah seperti plastik, putung rokok dan lainnya bisa menyumbat rekahan ataupun lubang kawah.

Meski di kawah, air hangat dan belerangnya diyakini dapat berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit kulit dan rematik, sebaiknya jangan berlama-lama mandi, luluran, bersauna alam atau merebus telur. Terlebih bagi yang punya penyakit maag akut atau yang tak tahan bau belerang.

Sebaiknya tidak mengambil belerang dari lubang-lubang magma yang masih berfijar. Kalau berjalan hati-hati, jangan sampai menginjak rekahan kawah agar tidak terjeblos ke rekahan kawah.

Dan terakhir, kalau terlanjur menghirup gas beracun dan bau menusuk, segera lakukan pertolongan pertama, misalnya segera menurunkan ke tempat yang lebih rendah dan aman lalu minumkan air putih atau air kelapa ijo. Lalu secepatnya bawa ke rumah sakit terdekat untuk dicek lebih seksama.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 13 Juli 2011

11 Cara Asyik Menikmati "Little Netherland" Semarang


Jalan-jalan ke Kawasan Kota Lama Semarang yang berjuluk "Little Netherland" jelas memberikan atmosfir berbeda. Kita seolah berada di kehidupan pemerintahan kolonial Belanda tempo doeloe. Agar perjalanan ke kawasan penuh bangunan kuno ini lebih mengasyikkan, perlu cara lain untuk menikmatinya. Apa saja?

Seperti kota-kota besar Indonesia lainnya, Semarang juga memiliki Kawasan Kota Lama atau Outstatd yang masih terpelihara dengan baik. Kawasan yang dulunya menjadi pusat perdagangan ini, belakangan kian ramai dikunjungi wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara.

Kebanyakan pengunjung yang datang ke Kawasan Kota Lama Semarang, sekadar ingin melihat beberapa bangunan kuno yang arsitekturnya paling menonjol dibanding bangunan tua lain di kawasan tersebut, antara lain Gereja Blenduk, Jembatan Berok, yang dulu bernama De Zuider Por, Mercusuar, Stasiun Tawang, PT. Masscom Graphy, Polder Tawang, dan Susteran Ordo Fransiskan.

Di sana, biasanya pengunjung hanya mengabadikan bangunan-bangun tersebut dengan kamera saku digital ataupun kamera handphone, sekaligus gambar diri berlatar bangunannya.

Nah, biar kunjungan ke “Little Netherland” Semarang lebih mengasyikan dan mengesankan, ikuti cara lain versi travelplusindonesia.

1. Sebelum berkunjung ke Kawasan Kota Lama Semarang, cari informasi mengenai kawasan tersebut untuk mengetahu lokasi, semua gedung tuanya, berikut sejarahnya.

2. Bawa kamera dan atau video kamera untuk mengabadikannnya. Cari angle yang berbeda dari foto-foto yang sudah ada. Atau cari bangunan atau obyek lain yang jarang terekam oleh pengunjung.

3. Kalau tujuannya untuk memotret, cari waktu yang tepat yakni pagi hingga jelang siang. Dan sore hingga malam untuk mendapatkan suasana lain.

4. Sebaiknya datang dalam kelompok kecil 2-5 orang untuk saling sharing info dan lainnya. Lebih bagus lagi ditambah dengan mewawancari ahli sejarah atau orang yang mengetahui sejarah kawasan ini untuk mendapatkan info yang akurat.

5. Selain dengan berjalan kaki dari satu bangunan ke bangunan lain, coba juga dengan cara menaiki sepeda onthel untuk mendapatkan atmosfir tempo doeloe.

6. Untuk menghindari panas, kenakan pakaian yang mudah menyerap keringat dan sandal atau sepatu yang nyaman dipakai untuk berkeliling. Jangan lupa membawa topi, payung, dan sunblock untuk menghalau terik matahari serta handuk kecil untuk menyapu keringat.

7. Sesekali boleh saja mengenakan pakaian ala tempo doeloe, seperti pakaian nona dan tuan Belanda atau pakaian tentara untuk lebih memperkuat kesan tua itu.

8. Menikmati santap siang atau malam di rumah makan atau warung di kawasan tersebut. Misalnya ke Warung Sate dan Gule Kambing 29 di seberang Gereja Blenduk atau ke Rumah Makan Ikan Bakar Cianjur (IBC) dekat bangunan Jiwasaraya, tak jauh dari Gereja Blenduk.

9. Sesekali berkunjung pada malam hari untuk mendapatkan suasana lain. Amati dan rasakan perbedaannya dibanding berkunjung siang hari.

10. Telusuri perbedaan bangunan-bangunannya baik fisik maupun fungsinya sekarang. Gali lebih dalam lewat berbegai nara sumber seperti pemiliknya kini, sejarahwan yang memahami kawasan ini, dan lainnya. Catat dan buat tulisan hasil pengamatan lalu muat di jejaring sosial, webblog, dan lainnya. Cara terakhir ini menjadikan jalan-jalan ke kawasan tua Anda bernilai lebih. Anda dipastikan bukan sekadar membawa foto-foto narsis melainkan juga oleh-oleh cerdas tentang sejarah kawasan ini.

11. Cara lain dengan mengikuti kegiatan jalan-jalan ke kawasan ini yang diadakan oleh komunitas pencinta bangunan tua dan bersejarah di Semarang atau membeli paket wisata di travel agent yang menjual paket wisata ini.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 11 Juli 2011

Rahasia Bikin Wisman Betah dan Jatuh Cinta


Rasa aman dan nyaman, itulah yg bikin wisatawan mancanegara (wisman) mau bertandang ke destinasi wisata. Tanpa itu mereka akan pergi ke tempat lain. Kalau itu terjadi yang rugi Anda, masyarakat dan daerah/kota Anda hingga berimbas pada pendapatan negara. Makanya buatlah wisman seaman dan senyaman mungkin agar mereka betah, jatuh cinta, dan mau kembali lagi bahkan mengabarkan imej positif itu atau merekomendasikan ke rekan-rekannya.

Untuk membuat wisman betah dan jatuh cinta, tak cukup aman dan nyaman. Ada 5 point utama yang harus dimiliki destinasi wisata yakni manusia, alam, budaya, wisata buatan, dan manfaat lebih bagi wisman versi Travelplusindonesia. Syarat aman dan nyaman masuk dalam point manusia.

Manusia sebagai point utama mencakup manusia secara individu, keluarga, kelompok, masyarakat, pihak swasta, pemerintah, pengelola obyek wisata, LSM, dan profesi lain yang berkaitan dengan sektor pariwisata. Dengan kata lain manusia yang dimaksud disini bukan hanya menghuni destinasi tersebut dan sekitarnya, pun sejumlah pihak terkait yang mengurus atau membidani sektor kepariwastaan.

Untuk membuat destinasi wisata diminati wisman, manusianya haruslah jujur, ramah, hangat/bersahabat, kreatif, berjiwa seni, tertib, menjaga keamanan dan kenyamanan, peduli lingkungan serta memiliki kiat membentengi diri dari budaya dan kebiasaan negatif wisman dengan cara yang tidak mengusik wilayah pribadi dan kenyamanan wisman.

Jujur disini memberikan harga sesuai tarif yang berlaku, baik biaya ongkos transportasi, tiket masuk, penyewaan alat, tips pemandu, makan dan minum, akomodasi dan lainnya. Jangan ngemplang, maksudnya mematok harga tinggi mumpung mereka turis. Ini bisa jadi bumerang karena mereka merasa dirugikan lalu menceritakan pengalaman negatif itu kepada calon wisman lain.

Ramah dan hangat disini menjadi tuan rumah yang baik dengan menerima wisman secara tulus bukan basa-basi. Intinya memperlakukan turis lebih baik dari perlakukan yang didapatnya dari destinasi di negara asal atau negara lain sehingga mereka puas.

Tertib disini tidak usil, tidak menjadikan turis obyek tontonan, amat menjaga privacy turis dan membuat peraturan yang jelas mana yang boleh dan tidak dilakukan turis, misalnya harus berpakaian sopan selama berkunjung ke tempat suci dan lainnya.

Aman disini tidak membuat hal-hal yang dapat merisaukan wisman seperti berbuat kriminal; mencuri, menodong, merampas, melukai apalagi membunuh, tidak melakukan tawuran, kurusuhan, konflik bersenjata apalagi perang, serta tidak membesar-besarkan kondisi ketidakamanan berskala kecil yang dapat membuat wisman cemas, takut dan atau enggan datang.

Kreatif di sini mampu menciptakan beragam obyek wisata dan paket wisata menarik, baru yang tidak membosankan sehingga semakin banyak pilihan dan kemudahan bagi wisman. Ditambah ketersediaan pemandu, operator, instruktur, dan perlengkapan atau peralatannya.

Alamnya indah, bersih, hijau, eksotis, tertata dengan baik, dan ramah lingkungan atau keasriannya terjaga. Obyek alamnya beragam baik pantai, gunung, laut, pulau, hutan, dan obyek alam lainnya yang bernilai unik, menakjubkan, dan tak ada di tempat lain.

Budayanya beragam mulai dari aneka kerajinan tangan hingga kuliner. Karya seninya artisitik, unik, orsinil, dan bercitra seni tinggi. Kulinernya enak, sehat dan tak ada di tempat lain. Memiliki sejumlah event atau festival budaya dengan melibatkan wisatawan di dalamnya dengan ramah.

Obyek wisata buatannya lengkap, aman, dan menarik seperti water park, taman hiburan, museum, pusat perbelanjaan, dan lainnya yang di kelola secara profesional dan memudahkan wisman untuk menikmatinya.

Bermanfaat lebih maksudnya memberikan keuntungan bagi wisman, entah manfaat rohani maupun jasmani seperti kesenangan, keteduhan, kenyamanan, peningkatan kepercayaan diri, kebanggaan, citra positif, dan kepuasan menyalurkan hobi, spritual, bahkan keuntungan secara materi.

Salah satu caranya dengan memberi komplimen yang mengesankan bagi wisman. Dengan begitu wisman merasakan dihargai, diterima, dan disanjung.

Bila wisman sudah mendapatkan kebanggaan dengan berkunjung ke destinasi yang bercitra positif, dia akan rela berlama-lama atau bahkan kembali lagi bukan sekadar menghabiskan waktu dan biaya melainkan karena mendapatkan manfaat atau keuntungan yang dicarinya.

Untuk mendapatkan itu, kelima point di atas harus tercipta terus-menerus. Bila ada yang rusak atau tercoreng segera dibenahi agar citranya kembali membaik dan wisman berdatangan lagi.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Ilham-Pusformasbudpar

Read more...

Rabu, 29 Juni 2011

10 Kiat Dapatkan Liburan Berkualitas


Berlibur kini menjadi kebutuhan primer bukan cuma buat orang berkantung tebal, pun masyarakat awam. Namun masih banyak orang yang tidak mendapatkan liburan yang bermutu. Liburan yang dilakukan justru bikin pusing, stres bahkan malapetaka. Untuk memperoleh liburan berkualitas perlu rancangan khusus. Apa saja?

Liburan berkualitas bukan berarti berkunjung ke obyek wisata tersohor, mahal, dah jauh. Liburan dapat dilakukan dimanapun. Untuk mendapatkan liburan yang berkualitas dapat dirancang sebelumnya. Berikut kiat mendapatkan liburan berkualitas versi travelplusindonesia;

1. Merancang liburan. Perancangan liburan dapat dilakukan sendiri atau menggunakan jasa perancang liburan atau operator perjalanan wisata. Perancangan disini meliput waktu liburan, biaya, dan obyek wisata yang sesuai. Tujuan perancangan ini untuk menyiapkan anggaran liburan yang dibutuhkan untuk semua keperluan yang dikeluarkan baik transportasi, akomodasi, konsumsi, dll.

2. Mengajak rekan sehati. Berlibur dengan rekan seperjalanan yang sehati atau yang menyukai minat yang sama akan jauh lebih nikmat dibanding sendiri atau dengan orang yang tak seminat. Sebaiknya cari teman yang benar-benar seminat. Misalnya. Kalau suka diving, carilah teman]yang menyukai diving, dan seterusnya.

3. Pilih obyek wisata tak populer. Untuk menghindari keramaian, sebaiknya pilih obyek wisata yang tidak terkenal jangan yang sudah tersohor. Biasanya obyek wisata ternama ramai pengunjungnya. Kalau Anda menyukai suasana yang tidak terlalu crowded, sebaiknya cari obyek wisata yang jarang dikunjungi orang. Contoh daerah-daerah yang ramai saat musim liburan seperti Jogja, Kuta Bali, dan Bandung

4. Hindari masa liburan. Untuk menghidari macet, keterbatasan alat transportasi dan atau kekurangan akomodasi, hindari berlibur saat musim liburan terlebih peak seassion. Pasalnya pada saat itulah pengunjung membludak. Lalu lintas ke obyek wisata pasti padat, contohnya jalan menuju Kota Bandung dan Lembang, jalan ke Puncak Bogor, dan Kuta Bali dan lainnya pasti macet total. Kejadian lain kekurangan alta transportsi seperti yang dialami wisatawan Karimunjawa yang terlantar karena kapal laut terbatas.

5. Gunakan alat transportasi aman dan nyaman. Agar perjalanan wisata lancar, gunakan kendaraan yang baik, layak pakai, dan nyaman. Jangan karena murah, Anda menggunakan kendaraan yang justru membuat perjalanan Anda tersendat, mogok atau bahkan rusak.

6. Ada alternatif obyek wisata. Untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, misalnya obyek wisata yang sudah dipilih untuk dikunjungi tutup karena bencana alam dan lainnya. Sebaiknya memiliki cadangan obyek wisata lainnya.

7. Isi kegiatan tak biasa. Agar mendapatkan liburan yang berkesan, isi liburan dengan kegiatan yang tak biasa, menarik dan mengesankan yang dapat dilakukan di obyek wisata tersebut. Atau ikut paket terbaru yang dibuat pengelola obyek wisata tersebut.

8. Ada target. Liburan yang dilakukan mempunyai target atau tujuan tertentu. Misalnya untuk pendokumentasian, pembuatan buku, survey dan sebagianya.

9. Dokumentasikan dan publikasikan. Agar liburan mempunyai bukti nyata, sebaiknya didokumentasikan setiap kegiatan yang dilakukan. Dan hasil pendokumentasian tersebut dipublikasikan ke khalayak untuk menyebarluaskan hasil liburan lewat berbagai media, baik jejaring sosial dll.

10. Punya manfaat buat warga dan atau lingkungan setempat. Usahakan liburan yang dilakukan bermanfaat buat masyarakat setempat dengan membeli kerajinan atau memberi pencerahan sadar wisata agar masyarakat semakin melek pariwsata. Bisa juga dengan melakukan yang bersifat lingkungan hidup secara langsung seperti terlibat dalam penanaman pohon (reboisasi) atau sosialisasi peduli kebersihan dan lainnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 27 Juni 2011

10 Tips Promosi Pariwisata Lewat Artis Dunia




Mendatangi artis kelas dunia ke obyek wisata, menjadi salah satu cara untuk memperomosikan pariwisata setempat. Cara ini dinilai cukup ampuh, dengan harapan dunia melihat kegiatan sang artis di obyek wisata yang dikunjungi, lalu warga dunia tertarik datang ke obyek tersebut dikemudian hari. Biar cara ini efektif dan hasilnya maksimal, ada beberapa hal yang harus dipersiapkan dan diperhatikan. Apa saja?

Mempromosikan obyek wisata denga mendatangi orang-orang terkenal atau fublic figure seperti artis bintang film, penyanyi dan lainnya sebenarnya bukan hal baru. Cara ini sudah lama dilakukan oleh sejumlah negara lain.

Di Indonesia, cara ini pun bukanlah sesuatu yang baru. Contoh Ubud di Bali dulu pernah mendatangkan seniman mancanegara untuk datang dan tinggal bersama masyarakat setempat. Hasilnya para seniman terkenal dari mancanegara yang diundang tersebut jatuh cianta dengan Ubud lalu menceritakan pesona Ubud ke teman-temannya hingga kemudian Ubud ramai dikunjungi wisman dan http://www.blogger.com/img/blank.gifmenjadi daerah tujuan wisata internasional seperti sekarang ini.

Dan kali ini giliran Richard Gere yang berkunjung ke Candi Borobudur atas undangan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar). Hasilnya aktivitas sang aktor Hollywood ini pun diliput media.

Nah, agar cara mempromosikan pariwisata dengan mendatangkan artis dunia ini efektif sehingga biaya yang sudah dikeluarkan pemerintah itu tidak sia-sia, ikuti 10 (sepuluh) tips travelpluindonesia berikut ini;

1. Artis yang diundang harus tepat, baik menyangkut prestasinya di bidang yang digeluti maupun prestasi lain yang bertaraf internasional. Pemilihan Richard Gere datang ke Candi Borobudur dinilai sudah tepat, selain prestasinya di film tidak diragukan lagi, dia pun menjadi pemimpin International Campaign for Tibet (ICT) di samping memang beragama Budha.

2. Artis yang diundang harus sesuai dengan obyek wisata yang akan dikunjungi. Kalau obyek wisatanya bersifat religi, pilihlah artis yang religius. Kalau obyek wisatanya terkenal karena kesenian dan kerajinannya, undanglah artis yang yang menyukai atau mendalami hal-hal yang menyangkut seni, kerajinan dan lainnya.

3. Artis yang diundang harus bercitra positif atau berimej baik. Jangan mengundang artis dunia yang justru bercitra negatif atau kontroversial di negaranya. Justru akan berimbas buruk terhadap obyek wisata yang bakal dikunjungi karena dianggap cari sensasi, sekalipun tetap terekpose media.

4. Persiapkan dengan benar kegiatan yang harus dilakukan oleh artis yang didatangi sesuai tujuan utama yakni mengangkat atau mempromosikan obyek wisata tersebut. Jangan sampai artis tersebut membuat acara sendiri seenak dan semaunya.

5. Beri catatan atau tugas yang harus dilakukan oleh artis yang bersedia diundang untuk mempromosikan obyek wisata yang dikunjunginya. Jadi jangan karena dia artis dunia dan mau datang, terus kita menyanggupinya tanpa ada kompensasi yang dia berikan kepada kita selaku pengundang. Dengan kata lain harus ada take and give yang jelas dan saling menguntungkan.

6. Jika kegiatan tersebut sudah diatur sedemikian rupa, sebaiknya jangan sampai batal. Pembatalan kegiatan tersebut jelas selain membuat anggaran yang sudah dikeluarkan untuk itu mubazir, pun artis yang diundang bisa kecewa dan menilai panitia kurang siap atau tidak profesional.

7. Sebaiknya mengundang media, baik media nasional maupun internasional sebanyak mungkin untuk meliput kegiatan sang artis selama mengunjungi obyek wisata tersebut agar dunia tahu dengan begitu obyek wisata turut terpublikasikan. Sebaiknya artisnya diberitahu kalau nant ada peliputan sejumlah media. Tanpa pemberitaan media, kegiatan tersebut tidak akan terpublikasikan luas. Namun kehadiran media terutama fotografer harus diatur dan dijelaskan tata tertibnya seperti tidak boleh menggunakan lampu flash yang dapat menganggu kenyamanan sang artis.

8. Buat pendokumentasian kunjungan artis tersebut untuk berbagai keperluan misalnya film, iklan, bahan promosi pariwista dan lainya untuk disebarluaskan ke publik dengan catatan sudah mendapat persetujuan dari sang artis agar tidak menjadi persoalan dikemudian hari.

9. Buatlah agar sang artis aman, nyaman, dan terkesan, sehingga dia benar-benar senang dan bahkan jatuh cinta dengan obyek wisata yang dikunjungi. Jangan sebaliknya, karena keteledoran panitia baik dari segi keamanan, kenyaman membuat sang artis kecewa. Ini bisa jadi bumerang kalau sampai sang artis menceritakan hal tak enak atau kurang berkenan itu di negaranya dari mulut ke mulut, apalagi kalau disampaikannya lewat media.

10. Libatkan partisipasi masyarakat setempat dengan berbagai kreativitas yang membuat sang artis betah dan kagum. Misalnya melihat kerajinan tangan atau kreasi lain yang dibuat masyarakat setempat, dengan begitu kerajinan tersebut minimal dibeli sang artis dan ikut terpromosikan.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 24 Juni 2011

15 Tips Aman Menggunakan Alat Transportasi Berwisata


Berkunjung ke obyek wisata yang jauh dan sulit dijangkau, jelas memerlukan alat transportasi, entah itu kendaraan darat, laut, udara atau kombinasi kedua bahkan ketiganya. Tapi bila jeli memilih alat transporatsinya, sejauh apapun itu bukanlah soal. Apa saja yang perlu diperhatikan?

Kemudahan mendapatkan alat transportasi tak bisa dipungkuri menjadi salah satu alasan orang mau berkunjung ke salah satu obyek wisata, sesulit atau sejauh apapun. Tapi itu belum cukup. Selain mudah didapat dengan kata lain tersedia cukup, masih ada hal lain yang jauh lebih penting diperhatikan, yakni faktor keamanan dan kenyamanan alat transportasi tersebut.

Kendati sudah tersedia banyak unit transportasinya berikut dengan fasilitas keamanan dan kenyamannya, masih ada hal-hal lain yang perlu diperhatikan seperti faktor atittude pengemudi atau nahkodanya dan cuaca.

Berikut tips memilih dan menggunakan alat transportasi yang aman dan nyaman untuk berwisata versi travelplusindonesia;

1. Kumpulkan informasi alat transportasi apa saja yang bakal Anda gunakan menuju ke lokasi yang akan Anda tuju, termasuk waktu atau jadual pemberangkatannya dan biayanya.

2. Jika menggunakan transportasi darat seperti bus untuk ke luar kota, sebaiknya memilih bus dari perusahaan bus yang bereputasi baik dengan kondisi bus yang masih layak pakai.

3. Pilih bus dengan rute tercepat agar cepat sampai tujuan.

4. Kalau kunjungan dilakukan secara berkelompok atau rombongan sewa bus pariwisata yang bereputasi baik, andal, dan berpengalaman. Jangan cari bus pariwisata yang tak bermutu karena alasan murah. Contoh kejadian terbaliknya bus pariwisata yang membawa rombongan ke Obyek wisata Sawarna beberapa waktu lalu karena kondisi bus yang tak sehat. Bisa juga menyewa kendaraan roda empat lain ataupun mobil travel dengan sopir yang andal dan tahu jalan.

5. Kalau jarak tempuhnya jauh, perhatikan kondisi sopirnya. Kalau kelihatan mengantuk, sarankan untuk istirahat sejenak atau digantikan dengan sopir cadangan.

6. Perhatikan cara mengemudi sopir tersebut. Kalau ugal-ugalan, ngebut, dan asal, sebaiknya ditegur karena dapat berakibat patal.

7. Jika menggunakan transportasi air, misalnya menyeberang selat atau laut, gunakan kapal laut yang layak pakai disertai dengan pelampung keselamatan (life jacket). Tak ada ruginya mempesiapkan life jacket yang praktis sendiri sebagai antisipasi.

8. Sebaiknya men-carter kapal bila dilakukan secara rombongan. Kalau ikut dengan kapal umum, perhatikan daya muat kapal. Apakah mengindahkanya atau tidak. Kalau melihat ada kejanggalan itu, sebaiknya tegur nahkoda atau urungkan niat naik kapal tersebut. Ingat kejadian tenggelamnya kapal angkut umum di perairan Kota Baru, Kalsel beberapa waktu lalu yang menewaskan belasan penumpangnya, itu akibat kapasitas muat penumpang melebihi daya angkut kapal tersebut.

9. Kalau punya dana lebih, silakan men-carter kapal cepat (speedboat) atau kapal pesiar modern (yacht) yang tentu berfasilitas lebih nyaman dan dilengkapi perlengkapan keselamatan yang memadai. Namun harus tetap diperhatikan kondisi cuaca dan pengalaman nahkodanya.

10. Perhatikan kondisi cuaca dan gelombang laut saat itu. Kalau sedang tak bersahabat, jangan paksakan menyeberang dengan kapal sebagus apapun. Sebaiknya tunggu sampai cuaca membaik.

11. Jika menggunakan transportasi udara yakni pesawat, sebaiknya pilih maskapai penerbangan yang bereputasi baik dan memiliki pesawat yang layak terbang.

12. Bila menggunakan pesawat berbadan kecil atau berkapasitas kecil sebaiknya lihat kondisi kapal dan juga cuaca. Kalau pesawat sudah berstandar internasional, layak terbang, dan cuaca sedang baik, itu tak masalah.

13. Jika tak pilihan harus menggunakan alat transportasi khusus buatan masyarakat lokal di daerah terpencil, seperti getek atau rakit bambu, perahu tradisional, sampan, ojek sepeda motor, bentor atau becak bermotor, dan lainnya. Perhatikan kualitas kendaraan tersebut dan kondisi lokasi yang dilalui untuk meminimalisir kecelakaan.

14. Berdoalah memohon keselamatan, kenyamanan, dan kelancaran perjalanan sebelum berangkat dengan menggunakan apapun alat transportasinya.

15. Sekalipun Anda berjiwa petualangan, pemberani, siap menghadapi tantangan seberat apapun saat melakukan perjalanan wisata ala backpaker atau petualang sejati dengan alat transportasi apapun seadanya atau sedapatnya, tak ada salahnya tetap mawas diri dengan memperhatikan point-point di atas. Semua itu untuk keselamatan Anda juga.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 23 Juni 2011

14 Trik Menikmati Gunung Semeru Saat Waspada


Gunung Semeru di Jawa Timur kini sedang berstatus Waspada tingkat dua. Warga dan pengunjung disarankan tidak beraktivitas dalam radius 4 Km dari puncaknya. Kendati begitu gunung tertinggi di Pulau Jawa ini tetap berdaya pikat tinggi sekalipun tengah bergejolak. Untuk menikmatinya perlu trik khusus. Apa saja triknya?

Kendati gunung meletus bukanlah sesuatu hal baru. Tetap saja fenomena alam ini menarik perhatian banyak orang, bukan hanya para geologis pun wisatawan minat khusus yang gemar mendaki gunung, pendaki, dan peneliti, pun masyarakat umum.

Gunung aktif yang tengah bergejolak pra-erupsi pun menarik dikunjungi. Banyak pencinta gunung yang menunggu kapan gunung itu memuntahkan laharnya untuk diabadikan.

Kondisi ini bukan hanya terjadi di negara lain, di Indonesia yang nota bene negara bergunung api terbanyak ini sejumlah gunungnya diminati wisatawan minat khusus, justru saat sedang meletus. Sekurangnya ada 5 gunung api aktif di Indonesia yang diminati saat erupsi, yakni Gunung Merapi, Bromo, Krakatau, Sinabung, dan Gunung Semeru.

Kini giliran Semeru yang menjadi pusat perhatian setelah statusnya naik menjadi Waspada level 2 sejak Selasa, 21 Juni 2011. Meski ada anjuran untuk tidak beraktivitas 4 Km dari puncaknya, tetap saja banyak orang yang ingin menikmatinya dari dekat.

Berwisata ke gunung yang tengah bergejolak sebenarnya boleh-boleh saja. Toh justru ini membantu masyarakat setempat agar tidak kehilangan pendapatannya sama sekali.

Namun yang perlu diingat tentu wisata yang dilakukan berbeda dengan wisata saat gunung itu aman-aman saja. Perlu trik agar wisata ke gunung bergejolak seperti ke Semeru saat ini. Berikut 14 trik menikmati Semeru saat Waspada versi TravelPlus Indonesia :

1. Pantau terus informasi terkini kondisi Gunung Semeru. Ambil informasi terakurat dari nara sumber yang mengerti dan dapat dipercaya seputar keberadaannya. Jangan percaya dengan berita yang simpang-siur atau isu yang justru meresahkan masyarakat.

2. Kalau ada anjuran untuk tidak beraktivitas sampai batas tertentu, sebaiknya didengarkan tapi bukan berarti semua kawasan atau sisi gunung ini berbahaya.

3. Mendaki Semeru saat aktivitas vulkaniknya meningkat seperti sekarang ini sampai puncaknya, rasanya tidak mungkin. Pertama,
 jelas dilarang petugas berwenang, kedua kemungkinan sampai ke puncaknya juga kecil. 

4. Mengurungkan niat sementara mendaki Semeru sampai atapnya saat bergejolak, rasanya pilihan paling logis.

5. Alternatifnya mencari lokasi lain yang aman untuk melihatnya dari dekat. Justru dengan begitu kita akan mendapatkan sudut lain dari Semeru. Toh melihatnya tidak melulu harus dari jalur umum seperti dari Ranu Pane dan jalur lainnya.

6. Ajak penduduk setempat yang benar-benar mengetahui rute jalan ke lokasi tersebut.

7. Hindari sungai, lembah-lembah yang biasa menjadi lokasi aliran lahar Semeru.

8. Lokasi yang aman terhindar dari sapuan lahar adalah dari bukit atau gunung lain di sekitar Semeru.

9. Bawa perlengkapan perjalanan, navigasi dan keselamatan yang memadai, seperti GPS, masker dan lainnya selain bekal makan dan minum yang cukup.

10. Jangan berlama-lama di lokasi, kecuali lokasinya memang dinyatakan aman.

11. Berhasil mengabadikan Semeru saat bergejolak apalagi pas erupsi memang membanggakan dan pasti laku dijual. Tapi perlu diingat, jangan karena ngotot mendapatkan itu, keselamatan jiwa Anda terabaikan. Bagaimanapun berwisata sekalipun ke gunung saat bergejolak, keamanan dan keselamatan jiwa menjadi prioritas utama.

12. Ubah orientasi wisata Anda dari semula mendaki Semeru sampai atapnya menjadi wisata pemantauan atau lebih baik lagi wisata pertolongan, maksudnya berwisata sambil membantu memenangkan masyarakat di kaki gunung dengan memberi penjelasan terkait anjuran yang dikeluarkan pihak berkompeten yakni petugas Pos Pengamat Gunung Api (PPGA) Semeru dari hasil pencatatan alat pencatat gempa atau seismograf di gunung berketinggian 3.676 m dpl ini. Bukankah tidak ada aturan kalau berwisata ke gunung itu harus selalu sampai puncaknya.

13. Catat dan dokumentasikan pengalaman Anda selama berwisata ke Semeru saat bergejolak. Rasakan bedanya dibanding berkunjung ketika Semeru baik-baik saja atau berstatus aman.

14. Jika Semeru sudah kembali normal dan dinyatakan benar-benar aman untuk pendakian oleh petugas PPGA setempat, inilah waktu terbaik buat Anda mendaki hingga Mahameru, atapnya. Dan jangan lupa abadikan perubahan yang terjadi pasca-bergejolak atau setelah erupsi, seperti bentuk puncaknya, perubahan ketinggian, kondisi flora dan hutannya, atau mungkin perubahan yang terjadi di sekitar ranu (danau), dan lainnya.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis
Foto: Iwoe #rekanpendaki

Read more...

Selasa, 21 Juni 2011

10 Kiat Liburan Aman dengan Buah Hati


Usai berkutat mengurus anak menyelesaikan ujian atau test, kini saatnya Anda mengajak buah hati berlibur. Apa saja yang harus dipersiapkan dan dipehatikan agar liburan berjalan aman, nyaman, dan bernilai lebih?

Ada banyak hal yan mesti diperhatikan orangtua sebelum memutuskan berlibur bersama buah hati ke sebuah obyek wisata. Jadi bukan semata ketersediaan uang dan waktu, pun masih banyak hal lain yang kudu dicermati.

Masih ingat kejadian tewasnya Riska Putri Yulianti yang baru berusia 7 tahun 11 bulan akibat terjatuh dari wahana flying fox di Taman Matahari, Bogor, pada Minggu 5 Juni 2011 lalu. Bocah perempuan warga Kota Depok ini tewas karena mengalami luka parah pada bagian kepala.

Atau Arfin Cahya Bastian (9), bocah laki-laki kelas III sekolah dasar (SD) tewas akibat tenggelam di kolam renang Water Park Kenjeran, Surabaya, Jawa Timur, pada bulan yang sama. Pelajar salah satu SD swasta di kawasan Surabaya Timur ini, ditemukan dalam kondisi mengapung di permukaan air kolam renang. Diduga, ia terlepas dari pengawasan teman maupun gurunya.

Sebelumnya ada beberapa bocah yang terluka bahkan tewas saat berwisata di pusat perbelanjaan mewah atau mall.

Tewasnya bocah-bocah itu bisa menjadi pelajaran berharga bagi para orangtua dan pengelola tepat atau obyek wisata.

Untuk menghindari atau memperkecil kecelakaan saat berlibur bersama keluarga, ikuti 10 kiat aman berwisata bersama buah hati versi travelplusindonesia;

1. Pilih lokasi wisata sesuai umur, minat, dan kemampuan orangtua dalam baik secara finansial maupun pengawasan terhadap anak. Jangan memaksakan pergi ke lokasi yang jauh sementara anak tidak menyukainya atau orang tua tidak mampu mengawasinya secara maksimal.

2. Pilih obyek wisata yang edukatif dan kreatif, yang menambah pengetahuan atau wawasan baru bagi anak, misalnya memperkenalkan satwa dan tumbuhan ke kebun binatang, dan lainnya.

3. Kalau ingin memperkenalkan alam pedesaan atau pegunungan, bawa saja anak ke kampung halaman orang tua, ke gunung atau ke obyek wisata alam yang mempunyai paket wisata desa. Seperti menanam padi, melihat peternak sapi, dan lainnya yang sulit ditemukan di kota.

4. Kalau ingin melatih kecerdasan, keberanian, dan ketangkasan anak, ikuti saja outbond khusus anak. Pilih outbond atau sarana permainan yang sudah memenuhi standar keselamatan berlisensi internasional.

5. Kalau ingin mencoba flying fox di obyek liburan, pastikan wahana tersebut benar-benar aman berlisensi internasional, baik peralatan maupun skill instrukturnya. Sebelum meluncur, instruktur outbond memberikan penyuluhan tata cara menggunakan peralatan dan harus ada petugas yang mengawasi.

6. Kalau berlibur ke water park atau kolam renang, awasi anak dengan ketat jangan sampai lepas masuk ke kolam renang orang dewasa.

7. Agar anak tak hilang atau bermain di arena berbahaya, bawa pendamping untuk membantu Anda sebagai orangtua mengawasi pergerakan anak di tempat liburan, misalnya baby sister ataupun saudara.

8. Saat berlibur di pusat perbelanjaan, awasi anak saat menaiki eskalator agar tak terjepit kaki atau tangannya karena ketidaktahunan anak. Hindari tepi pembatas lantai bertingkat agar anak tidak terjatuh.

9. Biar anak tidak bosan, pilih obyek wisata yang berbeda-beda atau permainan yang bervariasi. Kalau tahun lalu misalnya sudah berlibur ke pantai, tahun ini coba ke pegunungan atau lainnya untuk memberi atmosfir dan pengetahuan berbeda.

10. Suruh anak mencatat dana menceritakan hasil liburan yang didapatnya, baik itu yang bersifat pengetahuan atau suasana baru maupun yang berkaitan dengan penambahan kemampuan fisiknya seperti menjadi lebih tangkas dan berani.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 30 Agustus 2010

10 Tips Aman Mudik dan Balik



Musim mudik lebaran tinggal beberapa hari lagi. Tapi aromanya sudah mulai terasa. Banyak pemudik yang sudah beli tiket kereta, bus, kapal laut, dan pesawat untuk mudik dan balik jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan sebelum Ramadhan. Padahal punya tiket p/p itu belum cukup. Masih ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan agar terhindar dari tindak kriminal selama mudik dan balik. Apa saja?

Biar perjalanan pulang dan kembali dari kampung halaman Anda lancar, aman, dan terbebas musibah seperti dihipnotis, dicopet, dirampok, diracuni orang jahat, dan lainnya. Tak ada salahnya ikuti 10 panduan aman mudik dan balik berikut:

1. Berdoa sebelum berangkat mudik dan balik agar senantiasa diberi kemudahan, kelancaran, keamanan, dan kenyamanan di perjalanan sampai tujuan. Bagi yang muslim bacalah doa perjalanan, Surat Al Fatihah, An Nas, Al Falaq, dan Surat Al Ikhlas. Sedapat mungkin tetap menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan pastinya sholat wajib 5 waktu, baik di-jama maupun solat dalam perjalanan sambil duduk. Jangan karena mudik, kewajiban terlalaikan.

2. Jangan mengenakan pakaian yang mewah/glamaor atau pun seronok bagi perempuan. Berpenampilanlah yang biasa-bisa saja, sopan, dan nyaman

3. Jangan pamer perhiasan mahal seperti anting, kalung, dan cincin emas/berlian, atau jam tangan dan HP bermerek

4. Jangan melamun sendirian, jangan seperti orang kebingungan, dan jangan menatap kosong

5. Jangan membawa barang berlebihan hingga membuat Anda susah dan repot membawanya

6. Untuk menghindari diracuni orang jahat, jangan memakan/meminum makanan & minuman pemberian orang yang baru dikenal. Sebaiknya bawa makanan kecil dan minuman sendiri sebagai bekal perjalanan

7. Untuk menghindari dihipnotis orang jahat, bila ditepuk pundak oleh orang yang baru dikenal, balas tepuk pundaknya lagi tapi jangan menatap matanya

8. Sebaiknya bersama teman, kerabat atau orang yang sudah dikenal. Paling tidak ditemani sampai Anda berangkat

9. Jangan menunggu di tempat yang sepi. Sebaiknya mendekat dengan kantor polisi atau petugas setempat

10. Selama perjalanan tetap waspada, dan jangan mudah percaya dengan orang yang baru dikenal.

Selamat mudik lebaran semoga aman dan lancar sampai tujuan. Dan bisa berkumpul di hari yang fitri bersama keluarga dan kerabat di kampung atau kota halaman dengan penuh suka cita.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 27 Agustus 2010

Membongkar 10 ‘Dosa’ Pendaki Gunung


Siapa yang punya andil besar mencemarkan sejumlah gunung? Jawabannya jelas pendaki sendiri. Bukankah yang biasa melakukan kegiatan mendaki gunung itu pendaki. Jadi rasanya tak etis menuding pihak lain atau mengarahkan jari telunjuk ke wajah lain. Kebiasaan mencemarkan gunung itu adalah satu dari 10 ‘dosa’ yang diperbuat pendaki. Dosa-dosa apa lagi?

Pencemaran sejumlah gunung populer bukan hanya terjadi di Tanah Air. Sejumlah gunung di mancanegara dengan tingkat pendakian tinggi, termasuk Everest pun tak luput dari sampah. Bahkan atap dunia itu pernah mendapat julukan sebagai tempat sampah tertinggi di bumi. Mulai dari sampah bekas tabung gas, peralatan pendakian dan kemah, kotoran pendaki sampai mayat pendaki yang tewas.

Tapi tidak semua gunung populer yang tercemar. Buktinya ada beberapa gunung di negara lain yang setiap tahun didaki oleh ribuan pendaki, ternyata tetap bersih dan asri, bebas sampah.

Ini membuktikan bahwa gunung bisa terbebas sampah meski jalurnya gemuk (padat) pendaki asal setiap pendakinya mengindahkan nilai-nilai konservasi yakni mematuhi aturan bahwa gunung bukanlah tempat sampah. Caranya dengan menurunkan kembali sampah sendiri yang dibawa selama pendakian.

Bila ternyata dilanggar, rasanya dia termasuk dalam barisan pendaki yang ber’dosa’. Berikut 10 ‘dosa’ yang dibuat oleh pendaki gunung tak bertanggungjawab:

1. Andil Mencemari Lingkungan Gunung
Melakukan berbagai bentuk pencemaran di gunung selama pendakian seperti membuang sampah (tidak membawa turun sampah yang dibawanya), mengotori sumber mata air, dan atau membawa barang/zat yang mencemarkan bumi, air, dan udara dalam jangka lama.

2. Ikut Merusak Keasrian Gunung
Melakukan bermacam pengrusakan seperti mencorat-coret batu, batang pohon, pos shelter (vandalism), menebang pohon tanpa batas, mengambil flora/fauna langka dan khas gunung setempat, bertindak sembrono hingga mengakibatkan kebakaran hutan, savana dll seperti membuang putung rokok yang masih menyala sembarangan, dan lalai mematikan dengan seksama bekas api unggun atau memasak.

3. Membawa ‘Sampah’ Pribadi
Mengikutsertakan prilaku negatif dari tempat asal/kota ke gunung seperti membawa minuman keras dan meminumnya hingga lupa diri, mengenakan pakaian yang kurang sopan hingga jadi pusat perhatian dan omongan, bergaya kekota-kotaan, angkuh, individualitis, dan sok pamer hingga secara tidak langsung mencemari dan merusak budaya penduduk di kaki gunung setempat.

4. Ekspedisi Tak Ramah Lingkungan
Melakukan ekspedisi seperti membuat jalur pendakian baru tanpa mengindahkan nilai-nilai konservasi. Semata hanya mencari sensasi, prestasi, dan atau keuntungan pribadi. Seenaknya membabat hutan, kemudian mengajak pendaki-pendaki baru untuk menggunakan jalur tersebut lalu mengkomersialkannya.

5. Menggelar Pendakian Massal (penmas) Non Konservatif
Membuat pendakian dengan peserta dalam jumlah besar tanpa berkonsep konservatif. Justru hanya memindahkan sampah pribadi dan kelompok ke gunung hingga kian memparah pencemaran dan pengrusakan gunung.

6. Memberikan Data Keliru
Memberikan informasi yang salah mengenai sejarah, karakter gunung, dan hasil pencatatan perubahan terbaru baik ketinggian puncak gunung dan lainnya.

7. Bersikap Masa Bodoh
Tidak menghargai adat istiadat maupun kearifan lokal, aturan tidak tertulis atau tabu penduduk setempat dalam menjaga keasrian alam gunung. Masa bodoh melihat pendaki melakukan pencemaran dan mendiamkannya.

8. Bersikap Pasif
Berdiam diri, tidak peduli soal pencemaran dan pengrusakan yang dilakukan oleh pendaki. Menganggap masalah tersebut adalah urusan LSM lingkungan, penjaga taman nasional, porter, dan lainnya. Padahal pendaki yang punya andil besar terjadinya persoalan tersebut.

9. Cari Laba Semata
Hanya mencari keuntungan dari kegiatan mengorganisir pendakian atau hanya sekadar mendapatkan kenikmatan mendaki (mountain climbing just for fun), tanpa melakukan dan atau berperan aktif mensosialisasikan pendakian bernilai konservasi.

10. Tidak Mewarisi Pengetahuan tentang Pendakian Konservatif
Hanya mewarisi semangat mengajak mendaki gunung kepada orang-orang baru dengan berbagi cara, tanpa dibarengi semangat melakukan dan mensosialisasikan pendakian konservatif. Akibatnya lahir generasi pendaki yang antipati lingkungan. Dengan kata lain hanya membentuk mental pendaki senang-senang bukan pendaki konservatif.

Sepuluh ‘dosa’ pendaki di atas mungkin pernah dilakukan oleh kita saat mendaki, baik disengaja ataupun tidak. Untuk menebusnya cukup mudah. Tidak melakukan pencemaran dan pengrusakan lagi dan ikut aktif menyuarakan semangat pendakian konservatif di gunung manapun dan kapanpun.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan_Pemerhati Kepecintaalaman & Pendakian Gunung (adji_travelplus@yahoo.com)

NB: Tulisan ini boleh disebarluaskan atau digunakan untuk materi pendidikan dan diskusi, asal mencantumkan penulis dan sumbernya.

Read more...

Sabtu, 12 Juni 2010

10 Kiat Sukses Mengelola Pendakian Massal



Naik gunung rame-rame, kembali mengge-liat. Ada yang bilang lebih seru, dapat teman baru sehati, dan puas saling motret sana-sini buat diupload ke FB or twitter. Tak sedikit yang enggan, katanya lebih merepotkan. Anggapan itu tak sepenuhnya keliru. Yang pasti, pendakian massal perlu pengelolaan ekstra ketimbang dilakukan secara kelompok kecil apalagi perorangan.

Pengalaman adalah guru terbaik, pepatah usang itu patut diapilikasikan dalam pendakian massal. Bila pendakian sebelumnya dirasakan masih penuh ‘catatan’ kekurangan, sebaiknya dijadikan pedoman agar tak terulang, atau bisa juga belajar dari pengalaman pendaki yang sudah lama menggeluti dan banyak makan 'asam-garam' pendakian.

Di bawah ini ada 10 kiat sukses mengelola pendakian massal berdasarkan hasil pengalaman penulis selama puluhan tahun berkecimpung dalam kegiatan alam bebas, khususnya pendakian gunung. Panduan ini bisa menjadi ‘bekal’ baru bagi komunitas-komunitas pendaki gunung yang berkeinginan membawa rombongan dalam pendakian massal berikutnya agar berjalan mulus, nyaman, berkesan, dan bernilai lebih.

1. Penentuan waktu
Tak ada ukuran waktu yang pas untuk melakukan pendakian massal. Ada yang bilang pas musim kemarau agar pendakian tak terganggu hujan. Ada yang setuju, kala musim penghujan biar mudah mendapatkan sumber mata air terutama di gunung-gunung gersang dan sulit air. Ada yang maunya saat libur panjang atau minimal long wikN supaya tak menggangu rutinitas kerja atau kuliah dan bisa berkenalan dengan kelompok pendaki lain. Tapi banyak pula yang memilih di luar musim liburan dengan cara cuti atau bahkan bolos, tujuannya biar mendapatkan suasana yang lebih tenang karena relatif sepi pendaki.

Berdasarkan keberagaman keinginan itu, panitia harus pandai meracik waktu pendakian massal dengan memperhatikan faktor musim, kondisi dan karakrer gunung, serta ketersediaan atau kesanggupan waktu para pesertanya. Pengetahuan panitia tentang profil dan tabiat gunung yang akan didaki, diuji disini.

Bila waktu pendakian sudah ditentukan, segera sebarluaskan ke publik lewat berbagai media untuk menjaring peserta. Beri rentang waktu yang cukup agar peserta yang tertarik mengikuti pendakian ini dapat menyiapkan segala sesuatu baik itu finansial, fisik dan mental maupun perlengkapan pendakian.

2. Pembatasan kuantitas
Berapa jumlah peserta ideal dalam pendakian massal? Jawabannya relatif. Itu tergantung kesanggupan dan ketersedian panitia. Yang pasti, pendakian yang dikuti di atas sepuluh orang itu sudah termasuk pendakian massal. Semakin besar jumlahnya semakin kompleks pengelolaannya. Untuk memudahkan kinerja, panita harus membatasi jumlah peserta. Jangan memaksa diri membawa rombongan besar, sementara panitia terbatas. Jumlah peserta dalam pendakian massal berpengaruh terhadap jumlah panitia, porter, pemandu, perlengkapan tim, logistik, dan lainnya.

3. Pengukuran kualitas
Pendakian gunung massal tetap bermuatan petualangan, bukan wisata biasa. Perlu pengukuran kualitas peserta agar berjalan mulus. Kualitas peserta antara lain dapat dilihat dari umur dan pengalaman mendaki.

Umur di atas 17 tahun sampai di bawah 50 tahun merupakan batasan yang masih aman untuk mengikuti kegiatan ini. Memang tak ada larangan membawa peserta di bawah 17 tahun atau di atas 50 tahun dalam pendakian massal. Namun perlu penanganan khusus. Pasalnya, usia muda rentan mental dan prilaku yang labil. Sementara di atas 50-an, faktor fisik bisa jadi penghambat. Usia tak bisa berbohong. Fisik pemilik usia senja tak bisa disamakan dengan usia belasan atau 20-an, apalagi harus melalui medan panjang, terjal, dan curam.

Pengalaman mendaki juga menjadi alat ukur kualitas peserta. Bagi peserta yang punya segudang pengalaman mendaki dan masih rutin melakukannya, jelas mental-fisiknya lebih siap ketimbang yang minim pengalaman apalagi belum pernah mendaki. Kualitas peserta dari dua alat ukur tersebut, bisa dikumpulkan dari pendataan profil masing-masing peserta sebelum pendakian.

4. Pembagian tugas
Setelah mengenali kualitas peserta. Bagilah dalam 3 kelompok (1. baik, 2. setengah baik, dan 3. kurang, sesuai penilaian fisik maupun pengalaman pendakiannya). Masing-masing kelompok ditemani pemandu dan panitia dari awal hingga akhir pendakian. Kelompok pertama yang kualitasnya baik ditempatkan di depan, bersama pemandu dan panitia yang bertugas memasak, serta porter yang membawa logistik, perlengkapan masak dan tenda. Setibanya di pos peristirahatan, panitia bisa mendirikan tenda dan masak untuk keperluan seluruh peserta.

Kelompok kedua berada di tengah, sementara kelompok ketiga di tempatkan dibelakang dengan panitia pendamping yang lebih banyak untuk membantu mempercepat waktu tempuh. Jangan saling menunggu, buang waktu.

Beri tugas dan tanggungjawab yang jelas kepada masing-masing panitia. Siapa yang bertugas masak, memandu masing-masing kelompok, menjalankan kegiatan selama perjalanan, dokumentasi, dan lainnya. Tim harus kuat dan kompak.

5. Tegas & tanggap
Dalam pendakian massal, ketegasan & ketanggapan ketua rombongan diperlukan. Tegas memberi rambu-rambu yang harus diindahkan peserta, misalnya tidak berlama-lama mengabadikan gambar diri atau pemadangan karena bisa menyita waktu, menginformasikan lokasi yang rawan, angker, tabu tak tertulis, dan lainnya yang sebaiknya diperhatikan. Tanggap melihat kondisi mental & fisik peserta serta faktor alam yang tengah dan akan terjadi, kemudian mengambil keputusan tepat dengan mempertimbangkan masukan yang ada sebagai solusi terbaik.

6. Pemanfaat warga lokal
Menggunakan warga lokal, baik itu pemandu maupun porter adalah keputusan yang bijak dalam pendakian massal. Dengan begitu pendakian memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kaki gunung atau di dusun yang menjadi titik awal pendakian. Tenaga dan keahlian meraka sangat membantu panitia memperlancar jalannya pendakian. Jumlah pemandu dan porter disesuaikan dengan jumlah peserta dan perlengkapan yang dibawa selama pendakian.

7. Pemilihan logistik
Membawa logistik serta perlengkapan memasaknya untuk pendakian massal bukan perkara mudah, apalagi pesertanya dalam jumlah besar dengan bermacam kesukaan dan pantangan.

Pemilihan logistik pendakian massal tidak berpatokan dengan kesukaan dan pantangan setiap peserta, tapi lebih didasarkan atas kepraktisan membawa dan memasaknya serta nilai asupan nutrisi yang dibutuhkan seorang pendaki. Maklum kegiatan pendakian berbeda dengan liburan di villa yang bisa berleha-leha. Pastinya pendakian lebih menguras banyak tenaga, karenanya harus dimbangi dengan makanan dan minuman yang cepat dan ampuh memulihkan dan mengembalikan tenaga.

Buat daftar menu harian agar menu makan pagi, siang dan malam berbeda. Sebaiknya membawa logistik yang variatif dan simple, seperti aneka buah baik yang fresh maupun kemasan.

Berdasarkan penelitian, makanan yang cocok untuk pendakian adalah yang direbus daripada digoreng. Namun untuk menghindari jenuh, sebaiknya dibuat variasi. Yang penting proses memasaknya tidak membuang waktu dan tetap bermuatan gizi tinggi.

Logistik yang dibawa harus memenuhi kebutuhan seluruh peserta termasuk panitia, porter, dan pemandu selama pendakian (naik-turun). Ditambah emergency food atau makanan dan minuman cadangan untuk mengantisipasi kondisi darurat seperti tersesat dan lainnya. Perlengkapan memasaknya juga harus disesuaikan dengan jumlah menu yang akan dimasak sesuai daftar menu dan jumlah seluruh peserta.

Selama pendakian, sebaiknya setiap peserta membawa bekal minum dan makanan kecil yang cukup. Jangan selalu tergantung dengan peserta lain maupun porter. Sementara kebutuhan tim dibawa porter dan panitia.

8. Antisipasi faktor ‘X’
Mengantisipasi faktor ‘X’ dalam pendakian massal mutlak dilakukan. Faktor cuaca alam yang tak bersahabat seperti hujan badai, dingin yang menusuk tulang, longsor dan lainnya dapat menghambat pendakian. Faktor kecelakaan yang menimpa peserta seperti jatuh, terkilir, kesurupan, dan lainnya juga patut diperhitungkan. Panitia tak cukup membawa peralatan keselamatan dan P3K, alangkah baiknya mengikutsertakan seseorang yang ahli dibidang kesehatan, dan lainnya.

9. Bernilai plus
Jumlah peserta yang besar dalam pendakian massal adalah nilai lebih. Bila pendakian itu dibarengi dengan kegiatan yang tak sekadar pendakian biasa, tentu point-nya bertambah. Misalnya dengan melakukan pendataan flora, fauna, mineral, tanah dan bebatuan, pemetaan ulang, serta pencatatan ketinggian terbaru, atau pendakian bertema green hiking seperti aksi bersih gunung, penghijuan, dan lainnya. Andai tidak melakukan apa-apa, minimal pendakian tersebut membawa pulang sampah masing-masing. Jangan sampai pendakian massal cuma jadi kegiatan pemindahan sampah dari bawah, baik itu sampah dalam arti sebenarnya maupun ‘sampah’ prilaku kota ke gunung.

10. Evaluasi
Mengevaluasi hasil perjalanan dari start ke pos satu dan seterusnya hingga finish, atau secara keseluruhan setelah pendakian. Dengan cara ini, dapat diketahui kekurangan yang terjadi selama pendakian. Bagaimanapun, meski gunung itu didaki lagi dikemudian hari, pasti cerita, tantangan, dan atmosfir yang didapat akan berbeda. Dengan belajar dari hasil evaluasi pendakian sebelumnya, minimal meminimalisir hambatan atau justru memberi warna baru yang lebih cerah dan nilai tambah dalam pendakian massal selanjutnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan_pemerhati gunung & pariwisata (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 19 Juli 2009

Tips Memburu Cenderamata


Berkunjung langsung ke sentra pengrajin kerajinan tangan khas suatu daerah, tentu lebih menarik dan mengasyikkan dibanding membelinya di pusat perbelanjaan. Paling tidak ada dua keuntungan yang kita peroleh. Apa saja ya?

Keuntungan memburu cenderamata di sentra pengrajinnya langsung, pertama, kita bisa melihat langsung proses pembuatan dan mengabadikannya. Dan kedua, kita bisa mendapatkannya dengan harga yang jauh lebih murah daripada di pusat pertokoan yang tersebar di kota-kota besar. Dengan begitu kita bukan sekadar membawa pulang kerajinan tangan yang asli sebagai cenderamata tapi juga pengetahuan tentang cara pembuatan kerajinan tangan tersebut.

Di bawah ini terdapat beberapa sentra kerajinan tangan yang menarik untuk kita kunjungi. Kalau ingin melihat proses pembuatan perak, datang saja ke Kota Gede, Yogyakarta. Buat penggemar gerabah dan keramik, daerah yang tepat untuk dikunjungi antara lain desa Kasongan, Yogjakarta, Singkawang-Kalimantan Barat dan Purwakarta-Jawa Barat. Desa Kasongan tak hanya menghasilkan gentong, anglo, kendi tapi juga patung naga dalam cengkraman garuda, gajah singa, banteng, tempat buah, tempat lilin, dan aneka bentuk suvenir dalam ukuran mini. Ingin menyaksikan proses pembuatan batik tulis maupun cetak, mulai dari pembuatan benang, pewarnaan sampai menjadi batik, kunjungi kota Batik Pekalongan dan kampung Laweyan-Solo.

Kalau tujuannya hanya untuk berbelanja, selain di sentra pengrajin tersebut, kita juga bisa langsung mendatangi pasar-pasar tradisional. Biasanya harganya lebih miring daripada di pusat perbelanjaan mewah. Misalnya ingin mencari kain atau sarung ulos sutera khas Sumatera utara, datang saja ke Jl. Pertahanan Dusun VI Patumbak Kampung, Kabupaten Deli Serdang atau ke showroom Dekranas Sumut di Jl. Iskandar Muda, Medan. Harga kain ulos rata-rata Rp 300.000 per lembar sama seperti harga pameran. Ingin membeli batik pergi saja ke Pasar Beringharjo, Yogjakarta atau Pasar Kleser, Solo yang terletak di samping Keraton Kasunanan. Kalau mau membeli aneka kerajinan eceng gondok, kita bisa berkunjung ke Jalan Raya Lopait Kecamatan Tuntang dan Rawa Permai yang terletak tak jauh dari Danau Rawapening, Semarang.

Ingin mencari benda antik dan kuno kita bisa mencarinya di Pasar Triwindu yang terletak tak jauh dari Puro Mangkunegaraan-Solo. Kalau di Jakarta, aneka kerajinan tangan dari berbagai daerah dapat kita temui di TMII, Jakarta Timur. Sedangkan barang antik banyak terdapat di Jl. Surabaya, Jakarta Pusat dan Jl. Raya Ciputat, Jakarta Selatan.

Berkunjung ke pasar tradisonal maupun barang antik, merupakan keasyikan tersendiri. Atmosfirnya sangat berbeda dan tidak mungkin kita dapatkan jika berbelanja di mall atau plaza. Yang perlu diingat, diperlukan keahlian dalam tawar-menawar barang. Sebab, kalau sedang beruntung, kita akan mendapatkan kerajinan tangan menarik atau barang antik yang langka dengan harga murah.

Selamat memburu cenderamata.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP