. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label opini wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label opini wisata. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Juni 2011

Mendongkrak Pariwisata Via Balap Sepeda


Tour de Singkarak (TdS) 2011 hari ini, Minggu, (12/6/2011) berakhir sukses. Lomba balap sepeda yang diikuti belasan negara ini kian mempopulerkan nama Sumatera Barat (Sumbar) ke dunia internasional, berikut obyek-obyek wisata alam dan budayanya. Mengapa dan cabang olah raga apa lagi yang bisa begitu?

Bayangkan peserta TdS 2011 harus melewat 7 etape sepanjang 739.3 Km selama 7 hari sejak 6-12 Juni 2011. Ketujuh etape tersebut Etape I Padang, Etape II Padang - Pariaman, Etape III Pariaman-Bukittinggi, Etape IV Bukittinggi, Payakumbuh, Etape V Payakumbuh - Sawahlunto, Etape VIA Sawahlunto - Pagaruyung, Etape VIB Pagaruyung - Padangpanjang, dan Etape VII Padangpanjang - Danau Singkarak.

Jadi ada penambahan jarak dan 2 jalur baru dibanding TdS tahun lalu yang hanya berjarak 551,7 Km.

Sepanjang etape TdS 2011, seluruh peserta melewati sejumlah obyek wisata tersohor di 12 kabupaten dan kota di Sumbar antara lain Jam Gadang di Bukittinggi, Lembah Harau dengan pesona bukit bertebingnya, Sawahlunto dengan wisata tambang dan bangunan tua peninggalan Belanda, Istana Pagaruyung, Istano Basa, Kelok 44, Danau Kembar, Danau Singkarak, dan menikmati suguhan tarian tradisional setempat. Mayarakat dunia pun ikut melihatnya.

Keuntungannya jelas, selain namanya semakin tersohor, obyek-obyek wisatanya terpublikasikan, dan pastinya mendatangkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat termasuk penerimaan Pendapat Asli Daerah (PAD), baik secara langsung maupun tidak.

Keuntungan itulah yang membuat sejumah daerah lain melakuan hal itu. Sebelumnya lomba balap sepeda Tour de Borobudur (TdB) digelar di Jogja dan setelah Tds akan ada Tour de Jakarta (TdJ) di Jakarta, kedua lomba sepada ini pun pada akhirnya mendongkrak pariwisata setempat dengan peningkatan kunjungan wisatawan.

Sebenarnya daerah dapat melakukan hal serupa dengan mempertimbangkan kondisi alama dan fasilitas pendukungnya. Lomba balap sepeda marathon bertaraf internasional tentu bukan hanya karena diikuti peserta dari mancanegara namun juga medan lombanya harus memenuhi kriteria lomba internasional, seperti keamanan, dan lintasan jalan, dan tentunya sarat dengan wisata.

Sumbar memiliki persyaratan itu, keamanannya terjamin, topografi alamnya yang bergunung-gunung, jalanan yang beraspal mulus serta melewati sejumlah obyek wisata indah, dan suguhan budaya yang menarik sebagai nilai lebihnya.

Selain lomba balap sepeda, masih banyak olahraga ramah lingkungan lain yang dapat digelar dengan maksud untuk mendongrak pariwisata. Misalnya arung jeram (rafting), selancar (sufing), renang di selat/laut, sampan (canoeing), paralayang (paragliding), berlayar, lari lintas alam, dan lari marathon.

Olah raga ramah lingkungan yang ada kaitannya dengan pariwisata itu maksudnya olahraga yang tidak berdampak pencemaran terhadap udara, bumi, atau air dengan peralatan yang digunakan.

Semua cabang tersebut di atas, tidak menggunakan alat yang mencemarkan atau menghasilkan polusi udara dan kerusakan lain, sementara cabang olahraga lain seperti balap motor, balap mobil, jelas berpontensi merusak lingkungan.

Bernilai wisata maksudnya lomba tersebut dilakukan di salah satu atau bahkan beberapa obyek wisata. Lomba balap sepeda misalanya, jelas olah raga yang membutuhkan rute panjang dan pastinya melewati beberapa obyek wisata dari titik start ke finish, begitu juga lari marathon, paralayang, dan lainnya.

Kombinasi Triatlon
Setiap daerah bisa menyelenggarkan berbagai lomba olah raga tersebut sesuai dengan kondisi alamnya. Kalau memang memiliki selat yang bisa dan aman direnangi, kenapa tidak buat lomba renang selat dunia. Begitu pun kalau punya pantai yang berombak besar, buat saja lomba surving dunia. Kalau punya bukit atau lokasi berparalayang, buat saja lomba paragliding tingkat dunia. Kalau punya semuanya, dibuat saja kejuaraan triatlon.

Biasanya triatlon itu terdiri atas tiga cabang olah raga yakni renang di selat/laut, lari marathon, dan balap sepeda. Tapi itu bisa diganti atau disesuikan dengan kondisi alamnya, misalnya trialton paralayang, marathon, balap sepeda, atau triatlon bersampan, marathon, dan balap sepeda, bisa juga triatlon arung jeram, paralayang, dan balap sepeda, dan kombinasi lainnya.

Kendalanya memang tidak semua atlit bisa melakukan sekaligus triatlon baik yang konvensional (renang, lari, dan balap sepeda), maupun triatlon kombinasi. Namun bisa diakali dengan melakukan secara berkelompok bukan individual.

Indonesia dikarunia alam yang beragam, indah, dan eksotis ditambah budaya yang unik dan berbeda satu sama lain. Semua itu merupakan modal besar untuk menggelar kejuaraan olah raga tingkat dunia, sesuai dengan kondisi alam. Yang tinggal dipoles adalah pembenahan infrastruktur pendukung seperti jalan beraspal mulus untuk lomba balap sepeda dan lari marathon, dan sarana pendukung lainnya.

Selebihnya adalah semangat pemerintah dan masyarakatnya untuk menggelar dan mensukseskan lomba tersebut. Semangat menjadi tuan rumah yang baik, tertib, aman, bersih, ramah, menyenangkan, dan mengesankan bagi semua peserta lomba, termasuk penonton, dan wisatawan yang berkunjung.

Bila semua itu digarap serius, profesional, menarik, dan rutin digelar minimal setahun sekali, dipastikan kejuaraan olah raga tersebut dapat mendongkrak pariwisata setempat dan akhirnya meningkatkan perekonomian masyarakat dan daerahnya.

Adji Kurniawan (adji_travelplus@ayahoo.com)
Jurnalis Pemerhati Pariwisata

Read more...

Kamis, 09 Juni 2011

18 Cara Memasarkan Produk Pariwisata


Banyak cara memasarkan produk pariwisata agar dikenal masyarakat luas dan akhirnya mampu menjaring wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Cara pemasaran ada yang berbiaya murah, sedang, dan mahal. Tergantung ketersediaan anggaran, keseriusan, dan seberapa besar wisatawan yang ingin dijaring. Apa saja caranya?

Belum lama ini sebuah perusahaan swasta mengirimkan peti mati ke sejumlah pemimpin redaksi media massa. Jelas cara itu menghebohkan. Si-perancang pengiriman, Sumardy mengaku melakukan itu karena merasa dunia periklanan sudah mati dan tidak ada apresiasi. Dia pun melakukan sesuatu yang baru sebelum memasarkan produknya yakni buku dan perusahaan marketingnya.

Cara pemasaran yang dilakukan Sumardy dan 8 rekannya hingga berurusan dengan polisi ini menurut pakar pemasaran Rhenald Kasali merupakan pemasaran bombastis. Pemasaran jenis ini sifatnya sesaat, cepat terkenal tapi imej produk dan perusahannya rusak.

Bisakah pemasaran bombastis seperti itu diterapkan untuk produk pariwisata yang mencakup usaha jasa pariwisata, pengusahaan obyek dan daya tarik wisata, dan usaha sarana pariwisata? Jawabnya bisa saja. Tapi hasilnya adalah pencitraan yang buruk.

Masih ada banyak cara memasarkan produk pariwisata yang lebih efektif dan elegan dengan pencitraan positif, yang bertujuan bukan hanya dikenal luas tapi mampu menjaring wisatawan sebanyak mungkin. Berikut ke-18 cara memasarkan produk pariwisata versi travelplusindonesia.

1. Membuat website resmi dwibahasa, Indonesia dan Inggris.
Kalau lebih dari itu lebih baik. Website produk pariwisata yang dibuat menarik, antara lain berisi jadual kalender event yang tepat waktu dan lokasi, peta, dan cara mencapainya serta alamat, fax, email, nomor telepon atau contact person. Website ini bukan berisi kegiatan pejabat tapi murni informasi terkini mengenai produk pariwisata yang informatif, menarik, dan dilengkapi dengan foto-foto berkualitas yang membuat orang tertarik datang. Website harus ditangani orang-orang profesional yang memahami kepariwisataan, pemasaran, dan jurnalistik.

2. Menyebarluaskan produk pariwisata lewat jejaring sosial facebook dan twitter, mengirim ke email komunitas, yahoogroups, dan lainnya. Cara ini berbiaya murah dan cukup efektif.

3. Mengajak komunitas yang masih ada kaitannya dengan kepariwisataan untuk melakukan kegiatan di Indonesia, seperti komunitas vegetarian, komunitas marga China, pegolf, dan lainnya.

4. Menggunakan media konvensional seperti membuat leaflet, brosur, booklet, dan poster yang menarik dan informatif dengan kertas dan gambar-gambar berkualitas, bukan gambar pejabat narsis.

5. Memasang produk pariwisata di papan reklame yang ditempatkan di tempat-tempat strategis seperti bandara, stasiun, terminal, pelabuhan, pintu tol, pusat informasi wisata, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Tapi ingat gambarnya harus menarik, dan lagi-lagi bukan foto pejabat yang dipajang.

6. Mengikuti pameran wisata dengan membuat stand nyentrik dan suguhan menarik disertai kelengkapan brosur, leaflet, poster ataupun booklet berisi informasi kalender wisata dan paket tur wisata.

7. Mengelar press tour dengan mengundang sejumlah media massa yang konsisten menyebarluaskan informasi pariwisata, baik media dari dalam negeri maupun mancanegara. Dan juga mengadakan fam trip dengan mengajak travel agent untuk membuat paket tur ke sejumlah obyek wisata yang dipasarkan.

8. Mengundang sejumlah orang asing untuk tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat setempat sebagaimana dilakukan di Ubud, Bali agar orang-orang tersebut mengenal bahkan jatuh cinta hingga mau menyebarluaskan dan mengajak teman-temannya datang.

9. Mendukung komunitas atau individu yang melakukan kegiatan di mancanegara dan mempunyai visi dan misi mempromosikan pariwisata Indonesia, misalnya pendakian gunung ke sejumlah gunung dunia, lawatan kesenian, keliling dunia dengan bersepeda, berjalan kaki, konser musik, dan lainnya.

10. Bekerjasama dengan kedutaan Indonesia di mancanegara, pelajar/mahasiswa, Tenaga Kerja Indonesia (TKI), perantau, pedagang, maupun profesional yang yang belajar atau bekerja di luar negeri sebagai agen pemasaran wisata.

11. Memasang iklan dan advertorial di media nasional dan internasional yang tepat sasaran dan audiensnya. Biayanya jelas besar.

12. Menayangkan iklan atau menjadi sponsor di event internasional tersohor untuk mencuri perhatian dunia. Biayanya juga tentu besar.

13. Menginjinkan produser film nasional maupun asing untuk syuting di lokasi obyek wisata, dengan catatan film, iklan, sinetron yang dibuatnya ditayangkan secara luas ke publik nasional dan internasional dengan menyebut dan atau mencatumkan nama lokasi syutingnya.

14. Memperbanyak event berskala internasional yang benar-benar profesional, berbeda, berkelas, dan menarik kemasannya dengan mengundang peserta dari mancanegara seperti event musik, pesta kesenian, festival budaya, karnaval, dan lainnya.

15. Menetapkan target pasar dan memperluas pasar potensial baru sesuai jenis produk pariwisata.

16. Menentukan cara pemasaran yang efektif sesuai anggaran dan target yang ingin dicapai. Semakin banyak cara dilakukan semakin baik dan tentu semakin besar biayanya.

17. Semua jenis pemasaran yang dipilih harus dilakukan secara kontinyu, informasinya semakin informatif dan terkini, menarik serta menguntungkan bagi calon wisatawan, misalnya dengan memberi diskon, atau membeli paket 1 dapat dua selama masa promosi, dan teknik menjaring wisatawan lainnya sejauh itu efektif dan elegan.

18. Waktu pemasaran dibagi 4 tahap yakni pra pelaksanaan, menjelang pelaksanaan, saat pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan.
Waktu pemasaran pra pelaksanaan dilakukan setahun sebelumnya, ini dimaksudkan untuk memberi tenggang waktu kepada wisatawan agar dapat merancang kunjungan termasuk menyediakan waktu dan mengumpulkan uang. Biasanya wisman merancang liburannya setahun sebelumnya.

Menjelang pelaksanaan dilakukan sebulan atau beberapa hari sebelumnya, tujuannya untuk mengingatkan wisatawan akan produk pariwisata yang dijual.

Saat pelaksanaan untuk mengabarkan jalannya kegiatan sekaligus menginformasikan acara serupa jika rutin digelar setiap tahun. Sedangkan waktu pemasaran pasca pelaksanaan untuk mengabarkan kelebihan dan kekurangan dari hasil evaluasi pelaksanaan sekaligus menginformasi kepada calon wisatawan berikutnya.

Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Jurnalis Pemerhati Pariwisata

Read more...

Rabu, 08 Juni 2011

12 Kiat Memulihkan Kejayaan Obyek Wisata


Toraja di Sulsel, dulu pernah menjadi obyek wisata tersohor setelah Bali. Begitupun Danau Toba (Sumut), Gunung Leuser (Aceh), dan Taman Nasional Lore Lindu (Sulteng) yang sempat merasakan kejayaan dengan kehadiran sejumlah wisman. Kini semuanya masih sepi merana. Bagaimana memulihkan kejayaannya agar kembali panen wisman?

Ada sekurangnya 12 (duabelas) kiat untuk memulihkan kejayaan obyek wisata yang hingga kini masih mengalami paceklik wisman versi travelplusindonesia.

1. Menciptakan Sadar Wisata di setiap individu masyarakat. Ibarat pohon, sadar wisata itu akarnya yang menjadi penyangga hingga pohon tumbuh subur dan kiat. Pengertian sadar wisata adalah terciptanya suatu kondisi kepariwisataan yang ideal, konsisten, konsekuen yang tumbuh atas kesadaran dari dalam diri sendiri.

2. Menerapkan kembali Sapta Pesona. Tujuh unsur terkait itu dapat digunakan sebagai tolak ukur peningkatan mutu produk pariwisata, termasuk obyek wisatanya. Ketujuh unsur tersebut adalah aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.

3. Membuat event menarik, unik, dan profesional yang dilakukan secara kontinyu, terjadwal, dan terpublikasikan. Event tersebut harus senantiasa diperbaharui dan ada peningkatan mutu dari waktu ke waktu. Event bisa berupa festival budaya, karnaval, musik, perlombaan watersport, kejuaraan olahraga terkait wisata, dan lainnya.

4. Membuat kerajinan tangan yang tak ada di tempat lain. Jenisnya bervariasi, terjangkau harganya, dan dapat dibawa pulang sebagai cenderamata, bisa dipesan, dan dipaketkan.

5. Membuat kuliner baik berupa panganan maupun makanan berat khas. Kuliner tersebut bisa menjadi oleh-oleh dengan harga terjangkau dan variatif. Contoh Bandung sukses menjadi incaran wisatawan untuk berkuliner selain berbelanja. Bahkan ada kota yang tersohor berkat kulinernya seperti Palembang dengan Pempek-nya, Jogja dengan Gudeg-nya.

6. Tersedia infrastruktur dan sarana transportasi yang memadai, aman, dan nyaman. Seindah dan seunik apapun obyek wisata, kalau aksesnya sulit membuat wisatawan enggan datang. Infrastruktur yang harus dipenuhi terutama jalan dan jembatan, dilengkapi marka jalan dan penunjuk arah ke lokasi, lapangan udara berskala internasional yang mempunyai direct fligh ke sejumlah kota besar di dalam dan luar negeri, kendaraan penghubung ke lokasi seperti taksi, mobil travel, dan lainnya, atau stasiun dengan keretanya, terminal dengan bus dan angkot serta pelabuhan dengan kapal laut, feri ataupun speedboat yang teratur pemberangkatannya.

7. Tersedia akomodasi yang memadai sesuai kondisi obyeknya. Jenis akomodasinya bisa hotel atau cukup homestay asalkan nyaman, bersih, dengan pelayanan memuaskan dan terjangkau.

8. Menjaga hubungan baik dengan obyek wisata lain baik di dalam maupun di luar provinsi dengan membuat paket wisata antarobyek. Perlu diingat wisman yang datang biasanya bukan ke satu obyek saja. Mereka sudah jauh-jauh hari mengatur waktu dan menentukan obyek yang dipilih untuk dikunjungi sesuai waktu dan dana yang tersedia. Kalau obyek yang ingin dia kunjungi ternyata tidak aman, kotor, tidak ramah, dan berimej buruk lainnya, pastinya dia akan mencoret obyek tersebut dari daftar kunjungannya.

9. Kreatif dan inovatif dalam membuat daya tarik obyek wisata baru baik buatan, alami ataupun kombinasi keduanya. Bisa juga kreatif dan inovatif dalam mengemas obyek wisata maupun event yang sudah ada. Ini dilakukan terus-menerus biar wisman mendapatkan obyek wisata baru jadi tidak bosan dengan obyek itu-itu saja atau tampilan yang sama.

10. Mempublikasikan atau mempromosikan obyek wisata secara kontinyu lewat internet. Harus memiliki website untuk mempromosikan obyek wisata ditambah penyebaran info terkini ke jejaring sosial facebook dan twitter. Informasi tersebut minimal dalam 2 bahasa, Indonesia dan Inggris. Dan mengunakan alternatif publikasi lainnya yang efektif, praktis, dan optimal.

11. Belajar dari kasus atau pengalaman obyek wisata lain baik kesuksesannya maupun kebangkrutannya. Jadikan pedoman dan kondisikan dengan sikon obyek sendiri. Ambil pelajaran bagaimana obyek wisata bisa bangkit pascabencana seperti Jogja maupun pascatragedi bom seperti Bali. Ambil juga pelajaran mengapa Gunung Lueser dan Taman Nasional Lore Lindu serta Danau Poso yang dulu diminati wisman kini sepi. Tak lain tak bukan akibat dampak negatif dari konflik bersenjata, wisman jadi cemas bahkan takut datang karena belum yakin benar-benar aman. Sedangkan kemerosotan wisman ke Danau Toba akibat lingkungannya rusak, kotor, dan beberapa faktor lain terkait hospitability dan keramahtamahan. Atau Toraja dan Gunung Kerinci yang menurut wismannya karena akses jalannya rusak dan jauh.

12. Menciptakan imej positif yang membuat orang ingin berwisata dan datang kembali. Imej tersebut menumbuhkan kekangenan terus-menerus dan kebanggaan usai beriwisata serta ingin kembali lagi bahkan bangga menyebarluaskan imej baik tersebut ke orang lain. Citra tersebut tercipta bila seluruh komponen di atas terpenuhi, terutama keamanan, kebersihan, keramahtamahan, kejujuran, keindahan, keunikan, ketersediaan bermacam kuliner, kerajinantangan, dan beragam obyek wisatanya serta fasilitas pendukung pariwisatanya. Intinya menjadi tuan rumah yang baik, menyenangkan, dan mengesankan.

Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Jurnalis Pemerhati Pariwisata

Read more...

Selasa, 17 Mei 2011

Harpitnas Dadakan Obyek Wisata Favorit Disemuti Wisatawan


Siapa yang tak senang libur harpitnas (hari kejepit nasional) seperti Senin (16/5/2011). Otomatis bisa liburan ke luar kota ataupun mudik ke kampung halaman. Pasalnya libur akhir pekan jadi tambah panjang dari Sabtu sampai Selasa, tanggal merah Hari Waisak. Tapi belum tentu semua senang, lantaran cuti bersama itu diumumkan mendadak. Koq bisa?

Tak bisa disangkal, cuti bersama yang diumumkan pemerintah bisa menumbuhkan minat orang berlibur ke obyek wisata baik di dalam maupun luar kota bahkan luar pulau.

Buktinya pada liburan harpitnas kali ini sejumah obyek wisata ternama di Jakarta kebanjiran pengunjung baik dari sekitar Jabodetabek maupun luar Jakarta. Obyek yang dipadati pengunjung itu Ancol, TMII, Kebun Binatang Ragunan, dan beberapa pusat perbelanjaan mal.

Sejumlah obyek wisata tersohor di luar Jakarta yang selama ini menjadi lokasi liburan favorit warga Jakarta seperti kawasan Puncak Bogor dengan Taman Safari Indonesia-nya, Bandung dengan sejumlah factory outlet dan resto yang menyajikan aneka kulinernya juga diserbu wisatawan. Bahkan wisman juga terlihat di kota kembang itu.

Di luar Jawa, seperti Bali juga menjadi destinasi yang disemuti wisatawan saat harpitnas ini. Lokasi yang paling ramai pengunjungnya terutama Pantai Kuta, Tanah Lot, dan Tanjung Benoa. Pengunjungnya datang dari berbagai kota di Jawa, terutama dari Jakarta, Surabaya, dan kota-kota kecil di Jawa Timur.

Jumlah pengunjung di Tanah Lot, Kabupten Tabanan yang terkenal dengan Pura di tengah laut ini mencapai ribuan orang. Biasanya wisatawan menyemut di Tanah Lot saat ritual Banyu Pinaruh (pembersihan diri), setelah melakukan jagra (begadang) terkait perayaan Hari Suci Saraswati. Umumnya wisatawan ingin melihat warga Bali yang berbusana adat bersembahyang ke Pura serta mandi di laut sebagai simbol pembersihan diri.

Kerumunan wistawan juga nampak di Pantai Kuta. Ada yang asyik bermain pasir, berlaria-larian dikejar ombak. Tak sedikit yang belajar surfing atau sekadar berjemur di bentangan pasir.

Kepadatan wisatawan terlihat juga di jantung wisata Yogyakarta yakni Jalan Malioboro dan Pantai Paris (Parangtritis). Jalan Malioboro yang tersohor itu dipadati pengunjung lokal terutama dari Bandung, Jakarta, dan Semarang.

Cuti bersama terbukti membuat kunjungan ke beberapa kota meningkat. Selain berlibur, harpitnas yang bikin libur akhir pekan jadi panjang ini, juga menyebabkan ribuan orang mudik, pulang ke kampung halaman atau ke kota asal.

Biasanya yang pulkam (pulang kampung) masih seputar Jawa, seperti ke Jogja, Solo, Semarang, dan Surabaya dengan kereta api (KA) ataupun pesawat udara karena dianggap lebih cepat dan praktis dibanding dengan bus.

Lonjakan pemudik saat harpitnas terbukti dengan ludesnya tiket KA jurusan Jakarta ke beberapa kota di Jawa Tengah sejak Jumat, 13 Mei 2011. Bahkan untuk kereta jenis eksekutif dan bisnis sudah mulai dipesan sejak Kamis.

PT. KA Daops VI Yogyakarta sampai menambah kereta tambahan untuk penumpang Jakarta yang akan kembali setelah libur panjang hari Waisak, Selasa, 17 Mei 2011 yakni KA Argo Dwipangga Extra yang berangkat dari Stasiun Tugu Jogja pukul 21.30 Wib. Bahkan semua rangkaian kereta yang biasanya berjumlah 9 gerbong, khusus untuk jadwal keberangkatan Selasa, ditambah menjadi 10 gerbong.

Dampak positif lain dari cuti bersama ini, sejumlah pusat perbelanjaan seperti mal dan grosir diserbu pengunjung untuk berbelanja seperti terlihat di Pasar Grosir Tekstil dan pakaian Tanah Abang, dan sejumlah mal elit di Jakarta dan Bandung.

Keuntungan lain, lalu lintas di Jakarta yang biasanya macet panjang menjadi sedikit lebih lancar sehingga polusi udaranya berkurang. Tapi kemacetan justru terjadi di sejumlah ruas jalan menuju obyek dan di obyek wisata seperti jalan menuju Puncak Bogor, Bandung, dan lainnya.

Akibat Dadakan
Di sisi lain, cuti bersama berdasarkan Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri yakni SK Menteri Agama Nomor 2 Tahun 2011, SK Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Keputusan Nomor 120/MEN/V/2011 dan SK Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor SKB/01/M.PAN-RB/05/2011 tertanggal 13 Mei 2011 ini justru mendapat kritikan karena diumumkan secara mendadak. Bahkan ada yang menuding cuti bersama ini dibuat karena para pejabatnya ingin libur.

Pemberitahuan cuti bersama semestinya dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya. Bahkan seharusnya sudah terjadual setahun sebelumnya. Misalnya cuti bersama 2011 sudah terumumkan di kalender 2011. Dengan begitu, masyarakat dapat merencanakan liburannya dengan maksimal begitu juga dengan birokrat.

Keuntungan lain dengan pengumuman cuti bersama jauh-jauh hari, para pengusaha atau pengambil kebijakan di sektor jasa, perdagangan, dan pariwisata dapat menyiapkan diri menghadapi lonjakan konsumen atau pengunjung.

Libur harpitnas dadakan juga dinilai merugikan pegawai negeri sipil (PNS). Selain tidak bisa merencanakan liburan dengan matang, justru menambah sistem pelayanan yang semakin tidak jelas yang berdampak pada kemorosotan pelayanan dan produktivitas. Mungkin karena alasan itu, PNS di lingkungan Pemkot Surakarta memilih tetap bekerja seperti hari biasa pada Senin, 16 Mei 2011.

Kerugian yang didapat masyarakat dengan cuti bersama dadakan ini, selain tidak bisa mempersiapkan dengan baik untuk berlibur dan lainnya, pun menjadi tidak terlayani kepentingannya di kantor pemerintahan.

Masa urusan mengumumkan cuti bersama bertepatan dengan harpitnas yang sebenarnya mudah dan harusnya tertera di kalender tahunan saja tidak becus. Padahal ini dampaknya sangat besar bagi peningkatan dan perputaran ekonomi dari sektor pariwisata, perhubungan (arus mudik), perdagangan (belanja), dan lainnya.

Kalau soal yang kecil ini saja tidak beres mengurusnya, bagaimana dengan urusan yang jauh lebih kompleks?

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 28 Oktober 2010

15 Langkah Manajemen Bencana Terpadu




Bencana datang kapan saja dan dimana saja. Itu sudah kodrat-nya. Tapi lewat ilmu pengetahuan, manusia bisa memprediksi, mempersiapkan, dan mengatasinya untuk meminimalisir kerusakan dan korban yang ditimbulkan. Caranya dengan menerapkan manajemen bencana secara terpadu.

Adalah bencana dasyat gempa disusul tsunami di NAD beberapa tahun lalu yang membuka mata kita, apa itu bencana. Peristiwa alam itu memberi sinyal peringatan sekaligus pelajaran berharga bagaimana seharusnya kita bersikap dan menyikapi bencana.

Ketika itu penanganannya masih carut-marut karena kita belum siap, bahkan banyak yang baru tahu apa itu gempa, terlebih tsunami. Banyak pihak yang belum mengerti bagaimana menangani bencana berskala dunia itu dengan cepat dan efektif. Manajemen bencana belum dijalankan dengan baik. Dan ketika itu orang masih memaklumi.

Seharusnya penanganan bencana-bencana yang timbul sesudah gempa & tsunami Aceh yang terjadi di beberapa daerah di Tanah Air, dapat lebih baik dan efektif. Ternyata itu pun belum. Pasalnya manajemen bencana belum benar-benar dilakukan secara terpadu. Padahal kalau itu diterapkan dapat menekan sekecil mungkin kerugian baik korban dan harta benda akibat bencana.

Berikut ini ada 15 (limabelas) langkah menerapkan manajemen bencana terpadu untuk menanggulangi bencana besar yang sewaktu-waktu bisa terjadi di negeri ini:

1. Mencatat bencana alam yang kerap menjadi langganan Indonesia.
Dilihat dari kondisi iklim dan cuaca, Indonesia hanya mengalami dua musim, yakni musim hujan yang biasanya mengakibatakan bencana alam banjir, air bah, dan longsor serta angin topan. Kemudian musim panas yang jerap menimbulkan bencana kekeringan dan kebakaran. Di antara dua musim itu terdapat musim pancaroba, yakni peralihan antara musim panas ke hujan atau sebaliknya yang kerap menimbulkan bencana penyakit seperti malaria, diare, dan demam berdarah.

Di lihat dari tofografi, wilayah Indonesia terdiri dari ribuan pulau yang dilalui 3 (tiga) lempengan besar yakni Indoaustralia, eurasia, dan pasifik yang terus bergerak hingga kerap mengakibatkan gempa tektonik. Jika gempa jenis inia terjadi adi dasar lautan dengan skala tinggi, adapat menimbulkan tsunami atau gelombang laut yang besar.

Berdasarkan peta zona teknonik ada 5 (lima) wilayah yang rawan tsunami di Indonesia. Zona A berada di Sumatera, B (Jawa, Bali, Lombok, & Sumbawa), C (Flores & Timor), D (Pulau Benda), dan Zona E terletak di Halmahera. Daerah yang relatif aman ada di Kalimantan dan utara Jawa.

Indonesia juga terdiri dari puluhan gunung berapi aktif baik di daratan maupun yang timbul di dasar laut. Sewaktu-waktu gunung-gunung tersebut bisa erupsi (meletus), menyemburkan awan panas, abu vulkanik, melontarkan batu, dan mengalirkan lahar dan lava. Apalagi kalau gunung api aktif yang ada di dasar laut itu meletus hebat, dapat memicu bencana tsunami sebagaimana pernah terjadi dengan Gunung Krakatau di Selat Sunda pada 1883 yang menewaskan puluhan ribu orang di Sumatera dan Jawa, terutama Jawa Barat dan Lampung.

2. Menyusun bencana alam yang selama ini tidak terduga.
Bencana alam yang selama ini tak terduga yang ternyata berdampak besar itu antara lain bencana asap. Penyebabnya kebakaran hutan dan padang rumput, baik karena faktor alam maupun kesengajaan seperti pembakaran hutan untuk membuka lahan pertanian, perkebunan, ladang, dan tepat tinggal. Terlebih pada musim kemarau panjang, biasanya sejumlah hotspot (titik api) di berbagai wilayah di Indonesia semakin banyak terutama di Kalimantan dan Sumatera.

Bencana asap dulu dianggap sepele, padahal merugikan bahkan sampai merambah ke negara lain. Selain membahayakan keselamatan masyarakat, karena asap bisa menyebabkan berbagai penyakit pernafasan seperti asma dan paru-paru. Efeknya juga menggangu roda perekonomian, lantaran sejumlah penerbangan ikut terganggu.

3. Mensosialisasikan pengetahuan seputar bencana secara kontinyu.
Pensosialisasiannya itu ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat. Bahkan seharusnya pengetahuan bencana menjadi sub mata pelajaran di mata pelajaran IPS atau Geografi di sekolah-sekolah atau bahkan sejak Taman Kanak-Kanak hingga perguruan tinggi dengan tujuan agar masyarakat kita melek bencana sejak dini.

Pensosialisasian pengetahuan bencana ini juga harus diberikan kepada masyarakat dari mulai keluarga, RT, kelurahan, kecamatan, kabupaten sampai tingkat nasional, Pengetahuan bencana ini mencakup berbagai macam bencana, khususnya bencana yang kerap terjadi di masing-masing wilayah, sejarah bencana, tanda-tanda bencana, dan penanggulangannya.

4. Menghidupkan kearifan lokal tentang pengetahuan bencana.
Dia beberapa daerah, masyarakatnya memiliki pengetahuan rambu-rambu alam tersendiri dalam mengetahui datang bencana. Pengetahuan tersebut diwarisakan oleh leluhur secara turun-temuran. Contohnya penduduk Pulau Simeuleu, NAD yang terbiasa mengenal tanda-tanda datangnya tsunami secara konvensional hingga dapat menyelamatkan diri.

5. Memasang alat sistim peringatan dini sebagai tanda bahaya gempa dan tsunami.
Alat-alat pendeteksi tersebut harus dipasang di beberapa daerah rawan di Indonesia dengan kondisi yang selalu berfungsi dengan baik.

6. Memprediksi bencana yang akan terjadi dikemudian hari berdasarkan observasi dan penelitian.
Misalnya dengan mengetahui daerah-daerah yang kelak dilanda gempa dan tsunami. Dengan adanya prediksi ini, setidaknya kita dapat mengantisipasi bencana yang akan datang dengan membangun bangunan yang tahan gempa atau mengkaji tata ulang pembangunan di daerah-daerah rawan gempa.

7. Menyiapkan tim medis dan penyelamatan khusus bencana.
Tujuannya untuk mengurangi jumlah korban yang jatuh dan dapat dengan segera memberi pertolongan dan pengobatan kepada korban yang sakit.

8. Menambah jumlah rumah sakit dengan tenaga pelayan, perlengkapan, dan obat-obatan yang memadai.
Rumah sakit besar dan komplit jangan hanya terkonsentrasi di wilayah berpenduduk padat seperti Jakarta atau kota besar lain. Tapi juga harus ada di kota-kota kecil dan daerah-daerah rawan bencana meskipun penduduknya tidak terlalu padat. Perlu diingat, penyakit pascabencana bisa menambah jumlah korban.

9. Mempersiapkan dan memiliki tim bencana yang profesional sesuai dengan jenis bencana.
Tim atau badan pengendali bencana tersebut selayaknya dimiliki setiap daerah, terlebih di daerah-daerah rawan bencana. Dengan begitu setiap daerah akan mampu menangani bencana alam sendiri di wilayahnya masih-masing. Bila bencananya besar, tentu tim bencana dari daerah lain termasuk dari pusat harus turun tangan, saling bahu-membahu mengatasinya.

10. Perlengkapan untuk mengantisipasi bencana harus memadai.
Perlengkapan tersebut dapat digunakan dengan baik, mulai dari pakaian, peralatan tim bencana sampai pada peralatan berat, termasuk alat komunikasi dan transportasi.

11. Membentuk tim relawan yang terdiri atas tenaga ahli, profesi, dan tenaga umum.
Tim relawan harus terkoodinir dengan baik, tahu apa tugas masing-masing sesuai target. Tim relawan ini harus ditempatkan di semua jajaran, jangan semuanya dibawa ke lokasi bencana. Pembagian tugas harus jelas dan tepat. Ada yang bertugas sebagai tim medis, psikologis, dapaur umum, pengangkut logistik dan obat-obatan baik di tempat pemberangkatan ataupun di gudang-gudang penampungan logistik. Tim transportasi terdiri dari sopir dan petunjuk jalan serta tenaga pengangkut barang.

12. Membuat tim penyusun data korban dan pengungsi, pencariaan dan pengumpulan mayat.
Tujuannya agar data korban dan lainnya itu cepat tersebarluaskan untuk kepentingan publikasi, penyelamatan, dan penanganannya.

13. Membentuk tim kebersihan yang kuat.
Tugasnya membantu membersihkan puing-puing terutama di lokasi umum dan jalan-jalan utama untuk membuka dan memperlancar akses ke titik-titik bencana dan penampungan.

14. Membentuk tim keamanan yang solid.
Tim ini sangat dibutuhkan mengingat setiap bencana yang timbul, animo masyarakat yang datang luar besar. Ada yang bertujuan memberi sumbangan, tak sedikit yang sekadar ingin melihat, memotret atau merekam lokasi kejadian. Kehadiran mereka sungguh menggangu tim lain yang sedang bekerja.

15. Bekerjasama dengan para awak media peliput bencana baik cetak, elektronik, dan online.
Tujuannya untuk menginformasikan kondisi terkini termasuk jalannya penanggulangan bencana agar masyarakat dan pihak-pihak terkait mendapat informasi yang akurat dan cepat.

Bila ke-15 langkah manajeman bencana terpadu ini benar-benar diindahkan, kelak jika terjadi bencana besar, kita sebagai bangsa besar pasti mampu menanganinya lebih profesional, cepat, dan efektif, termasuk penanganan pascabencana gempa disusul tsunami di Mentawai, Sumatera Barat dan meletusnya Gunung Merapi di Yogyakarta yang baru-baru ini terjadi. Kita ini harus bisa jadi bangsa mandiri, jangan terlalu berharap belas kasihan negara lain, berhutang apalagi meminta-minta bantuan.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Cat.: Tulisan ini boleh disebarluarkan untuk kepentingan publikasi, pendidikan, pengetahuan, penyuluhan, penerangan, seminar, diskusi, dan lainnya, asal menyebutkan/mencantumkan nama penulis dan sumbernya.

Read more...

Selasa, 16 Juni 2009

Opini Wisata: Mengelola dan Mengemas Obyek Wisata Sejarah & Purbakala

Obyek wisata sejarah dan purbakala (Sepur) yang ada di negeri ini sangat luar biasa besar dan beragam. Sayangnya, pengelolaan dan pengemasannya masih jauh dari sempurna. Segudang problema masih menjadi tembok besar bagi keberlangsungan dan kemajuan perkembangan obyek wisata Sepur ini. Padahal potensi untuk menjaring wisnus dan wisman dari obyek wisata Sepur cukup signifikan.

Banyak dan berpencarnya lokasi obyek wisata Sepur di Indonesia menjadi salah satu kendala bagi pengelolaannya. Perlu tenaga dan tentunya biaya yang memadai untuk mengurus dan sekaligus mengemasnya sebagai sebuah daya tarik wisata.

Sebenarnya kalau dilihat dari sifat atau karakteristik wisatawan yang cenderung bergerak dari satu tempat ke tempat baru, justru keberpencaran lokasi obyek wisata Sepur tersebut menjadi kelebihan (potensi) tersendiri. Wisatawan dapat berpindah dan melihat obyek wisata Sepur yang satu ke obyek lain di lokasi atau daerah/kota yang berbeda. Dengan begitu, wisatawan tersebut juga dapat melihat dan menikmati obyek wisata lain termasuk menghidupkan sektor lain seperti perhotelan, biro perjalanan, transportasi baik darat, laut maupun udara, tempat makan dan lainnya.

Melihat peluang itulah, semestinya pengelola obyek wisata Sepur jeli memanfaatkannya. Caranya dengan bekerjasama secara lintas sektor baik dengan pemerintah (dalam hal ini Depbupar khususnya Dirjen Sepur), Media (terutama yang mengupas soal kepariwisataan) dan stake holder (biro perjalanan, perhotelan, rumah makan, transportasi, hiburan kesenian sebagai daya tarik, dan lainnya).

Tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini pun berlaku buat obyek wisata Sepur. Dirjen Sepur yang memang menangani obyek wisata Sepur di Indonesia ini harus bekerjasama dengan media untuk memperkenalkan obyek-obyek tersebut ke publik agar terekspos. Tanpa kerjasama yang baik, konsisten dan kreatif, obyek wisata Sepur tak mungkin dikenal baik oleh masyarakat. Bila sudah begitu, sulit rasanya mengajak masyarakat untuk datang berwisata ke obyek wisata Sepur apalagi peduli atas keberadaannya.

Belakangan ini, Dirjen Sepur sudah memulai kembali bekerjasama dengan sejumlah media dengan menggelar Press Tour ke sejumlah obyek wisata Sepur di Indonesia. Tahun 2008 lalu Dirjen Sepur yang dikomandani Harry Untoro didukung staf-stafnya menggelar kegiatan tersebut ke Situs Sangiran & Dieng (Jateng), Trowulan (Mojokerto), Makassar dan beberapa obyek (Sulsel) serta Monumen Soedirman (Pacitan). Dan tahun ini sejumlah obyek wisata Sepur juga akan dikunjungi Dirjen Sepur dengan mengajak sejumlah media dalam kegiatan serupa, namun diawali dengan kegiatan outbound untuk mempererat hubungan antar Dirjen Sepur dengan beberapa jurnalis yang selama ini mengikuti kegiatan Press Tour.

Meski baru sebatas Press Tour ke obyek wisata Sepur, paling tidak kegiatan ini bukan sekadar memperkenalkan program kerja Dirjen Sepur sehingga nama dan sepak terjangnya terekspos. Lebih dari itu tentunya dampak kegiatan ini berhasil memperkenalkan obyek-obyek wisata Sepur yang didatangi, kepada masyarakat lewat tulisan di beberapa media cetak maupun tayangan di media elektronik.

Ke depan, Dirjen Sepur dan forum jurnalis Sepur harus lebih kreatif lagi membuat dan mengemas kegiatan untuk lebih memperkenalkan obyek-obyek wisata Sepur. Kegiatan Press Tour 2009 dan tahun-tahun berikutnya perlu diperbanyak dan tentu dengan pengemasan yang lebih baik dan tepat sasaran. Sudah saatnya Dirjen Sepur memiliki media cetak (seperti majalah) yang mengupas kegiatan-kegiatan yang diadakan Dirjen Sepur dan lainnya yang dikelola dan dikemas secara eksklusif.

Selain itu harus ditambah dengan kegiatan reguler per bulan berupa seminar/diskusi mengenai obyek wisata Sepur dan permasalahannya dengan menghadirkan sejumlah pembicara/pemerhati/pengamat baik dari kalangan pemerintah maupun cendikiawan, sejarawan, arkeolog, jurnalis/pihak swasta yang mengerti dan peduli dengan obyek wisata Sepur. Dengan begitu, permasalahan obyek wisata yang ada dapat terkspos dan diketahui oleh masyarakat dan kemudian dicari solusi terbaik agar tuntas dan tidak berkepanjangan.

Kemasan Kreatif & Menarik
Pengemasan obyek wisata Sepur yang apa adanya, kurang menarik dan tidak kreatif membuat wisatawan kurang begitu tertarik untuk mengunjungi obyek wisata Sepur. Oleh itu perlu dicari jalan/cara jitu agar kelak obyek wisata ini bisa diminati dan menjaring wisatawan baik wisnus maupun wisman.

Caranya; obyek wisata Sepur itu sendiri harus menarik, tertata dengan baik dengan fasilitas pendukung yang memadai. Contohnya Situs Sangiran, sebenarnya secara fasilitas dan daya tarik sudah cukup memadai dan menarik. Situs ini memiliki museum dengan sejumlah koleksi benda-benda arkeologi yang sudah tersohor di dunia. Didukung fasilitas pendukung seperti akses jalan yang sudah baik, lapangan parkir dan lainnya. Namun ternyata itu belum cukup, harus ada kemasan lain yang dapat menarik perhatian wisatawan untuk datang, seperti tenaga pengelola/pemandu yang ramah, rapih, dan fasilitas pendukung yang lebih baik serta alat transportasi yang lebih memadai ke obyek tersebut dan ke obyek-obyek lain di sekitarnya.

Biar tidak membosankan, perlu dikombain dengan kegiatan menarik lain misalnya mengunjungi sentra kerajinan tangan di lokasi terdekat, menikmati makanan/penganan khas setempat (obyek wisata kuliner), mengunjungi obyek-obyek menarik lainnya dalam satu paket. Namun yang terpenting, pemandu di obyek wisata dan warga setempat harus ramah dalam menerima dan menyambut wisatawan. Bukan justru berbuat sesuatu yang kurang berkenan di hati wisatawan seperti acuh, memaksa wisatawan untuk membeli kerajinan tangan, dan lainnya.

Seharusnya masyarakat menyambut wisatawan baik yang datang dalam kelompok kecil maupun besar dengan sebuah penyambutan yang dirancang spesial hingga mengesankan. Misalnya dengan memberikan suguhan kesenian seperti tarian selamat datang dan tarian khas daerah tersebut, dan lainnya secara menarik. Dengan begitu wisatawan akan merasa dihargai dan ingin kembali berwisata ke obyek wisata Sepur tersebut. Jadi, bukan semata datang melihat koleksi benda mati dan mendengar ocehan pemandu yang kadang membosankan.

Agar pengelola obyek wisata Sepur dan masyarakatnya menghargai wisatawan, perlu ada penyuluhan sadar wisata. Dan ini menjadi tugas dari pemerintah terkait. Lagi-lagi peran forum jurnalis dibutuhkan untuk mensosialisasikan obyek wisata Sepur, cara pengelolaan dan pengemasannya sekaligus membuka kesadaran pariwisata masyarakat setempat. Bila itu terwujud, pastinya, peluang menjaring wisnus dan wisman dari obyek wisata Sepur ini terbuka lebar.

Oleh: Adji K (Jurnalis & Pemerhati Pariwisata)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP