. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Cerita Wisata Utama


Komodo itu pandai menipu. Saat diam, biawak raksasa ini seperti hewan lemah, padahal itu taktiknya untuk menyergap satwa lain dan manusia yang lengah. Seperti apa sifat dan prilaku aslinya? Simak profil sang predator berdasarkan pengamatan TravelPlusIndonesia (TPI) secara langsung di Pulau Komodo.

Komodo satu-satunya spesies terakhir dari keluarga monitor lizard yang mampu bertahan hidup dan berkembang. berdasarkan leaflet TNK, satwa berdarah dingin ini ditemukan pertama kali oleh seorang Belanda bernama JKH Van Steyn tahun 1911. Baru terkenal di dunia ilmu pengetahuan sejak 1912, tepatnya setelah peneliti dan ahli biologi, Mayor PA Ouwens memberikan julukan dalam tulisan berjudul “On a Large Varanus Species from the Island of Komodo” dengan nama ilmiah Varanus komodoensis.

Untuk mengetahui prilaku komodo sesungguhnya, TravelPlusIndonesia (TPI)mengamatinya langsung di habitatnya, Pulau Komodo. Ternyata komodo punya trik sendiri untuk mengelabui mangsanya. Dia pura-pura diam seperti sebatang kayu lapuk. Gerakannya lamban dan malas. Tapi setelah mangsanya lengah, dia segera menyergapnya dengan mulutnya yang moncong atau dengan bantuan ekornya dengan cara menyabet mangsanya sekeras mungkin. Kelebihan lain, predator licik ini dianugerahi penciuman yang sangat tajam, terutama bila mencium amis darah dan bau bangkai meski berjarak 2 Km.

Di habitanya, komodo lebih suka menyendiri (soliter). Sejak kecil, anak komodo dibiarkan mencari makan sendiri oleh induknya. Jarang sekali berkelompok kecuali di Banu Nggulung. Beberapa komodo di tempat ini malas mencari makan sendiri akibat terbiasa diberi umpan (feeding) gratis dari pengunjung, akhirnya populasi rusa, babi hutan, dan kerbau liar kian bertambah hingga mengganggu keseimbangan alam. Beberapa tahun belakangan, acara feeding dilarang.

Data inventarisasi komodo Taman Nasional Komodo (TNK), di Pulau Komodo jumlahnya sekitar 1.700 ekor, di Pulau Rinca 1.300, Gili Motang 100, dan 30 ekor di pulau-pulau kecil lain.

Diperkirakan masih ada sekitar 2.000 ekor lagi yang terpencar di Flores, yakni di pesisir Barat Manggarai dan pesisir Utara Kabupaten Ngada serta beberapa tempat di Kabupaten Ende. Bahkan hasil penelitian Auffenberg dari Amerika Serikat, komodo ditemukan sampai Timur Flores. Masyarakat Pulau Komodo dan sekitarnya menyebut komodo, ora. Tapi warga pesisir Utara Flores dan Ende, memanggilnya mbou. Di Pulau Rinca, perilaku komodo sedikit lebih ganas. Kulitnya kekuningan dan lebih bersih.

Buaya Darat
Menurut salah seorang peneliti khusus komodo yang TP temui di Pulau Komodo, musim kawin komodo terjadi pada Juli-Agustus. Jumlah jantan dan betina 4 berbanding 1. Lantaran tak seimbang sering terjadi perkelahian antar jantan untuk memperebutkan betina hingga terluka bahkan tewas. Komodo jantan sukar ditemukan saat musim kawin, sebab sibuk mengejar betina. Usai kawin, sang betina akan bertelur lalu menyimpannya di lubang. Betina bertelur 20-50 butir dan menjaganya selama 7 bulan. Bentuk telurnya oval, berwarna putih dengan panjang 9 cm, lebar 6 cm dan beratnya 105 gram. Setelah menetas, panjang rata-rata 18 inci atau 45 cm. Yang dewasa sekitar 2 meter, pernah juga dijumpai komodo sepanjang lebih dari 3 meter.

TP pun mengamati bayi komodo. Kulit bayi komodo berwarna kekuningan. Umur 10 bulan coklat muda. Usia 20 bulan ke atas berubah menjadi agak hitam, lalu coklat gelap setelah dewasa. Anak komodo langsung pandai memanjat pohon untuk mencari makan, sekaligus menghindar dari ancaman komodo dewasa. Santapan kegemarannya aneka serangga, cecak dan tokek. Setelah dewasa, lebih suka memangsa rusa, babi hutan, kerbau dan telur burung Gosong. Komodo dewasa tak bisa lagi memanjat pohon lantaran keberatan badan.

Selain suka memangsa hewan lain termasuk manusia, komodo dewasa juga suka menyantap anaknya (kanibal). Areal perburuan komodo dewasa di lokasi yang sering dilalui hewan dan manusia. Komodo menyukai semak dataran rendah, berbatasan dengan savana. Terkadang ada di dataran tinggi sekitar 400-600 meter dpl. TP juga melihat komodo berenang layaknya seokor buaya terutama jika melihat bangkai ikan besar yang mengapung di perairan. Wajar penduduk setempat menjulukinya buaya darat.

Berdasarkan pengamatan TP secara langsung di Pulau Komodo, predator yang dilindungi undang-undang seperti halnya Harimau Sumatera ini meski bukan termasuk satwa penyerang yang ganas, namun tetap berbahaya. Apalagi bila berada di TNK, di habitatnya itu komodo sebagai raja. Lengah sedikit, Anda bisa jadi mangsanya.

Cara yang amat saat berada di habitanya, Anda harus tetap waspada dan ditemani jawagana bila ingin melihat predator ini atau hendak berpergian ke obyek-obyek lainnya. Sebab bagaimanapun melihat komodo di habitatnya, di pulau Komodo dan pulau-piulau lain di TNK jelas jauh lebih mengasyikkan dibanding di kebun binatang. Atmosfir dan panorama yang bakal Anda dapat pasti lebih seru, menawan, dan mengesankan.

Bila Anda yakin bahwa sang predator yang kanibal ini menjadikan Pulau Komodo dan pulau-pulau lain di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) begitu berati dan berbeda dibanding kawasan lain, sebaiknya Anda memilih Taman Nasional Komodo agar terpilih sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7Wonders. Caranya dengan melakukan vote di http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees. Selamat memilih semoga Anda dapat menyaksikan bagaimana komodo menjqdi penguasa di habitatnya.***

Naskah & Foto: A. Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Kamis, 09 Juni 2011

18 Cara Memasarkan Produk Pariwisata


Banyak cara memasarkan produk pariwisata agar dikenal masyarakat luas dan akhirnya mampu menjaring wisatawan baik nusantara maupun mancanegara. Cara pemasaran ada yang berbiaya murah, sedang, dan mahal. Tergantung ketersediaan anggaran, keseriusan, dan seberapa besar wisatawan yang ingin dijaring. Apa saja caranya?

Belum lama ini sebuah perusahaan swasta mengirimkan peti mati ke sejumlah pemimpin redaksi media massa. Jelas cara itu menghebohkan. Si-perancang pengiriman, Sumardy mengaku melakukan itu karena merasa dunia periklanan sudah mati dan tidak ada apresiasi. Dia pun melakukan sesuatu yang baru sebelum memasarkan produknya yakni buku dan perusahaan marketingnya.

Cara pemasaran yang dilakukan Sumardy dan 8 rekannya hingga berurusan dengan polisi ini menurut pakar pemasaran Rhenald Kasali merupakan pemasaran bombastis. Pemasaran jenis ini sifatnya sesaat, cepat terkenal tapi imej produk dan perusahannya rusak.

Bisakah pemasaran bombastis seperti itu diterapkan untuk produk pariwisata yang mencakup usaha jasa pariwisata, pengusahaan obyek dan daya tarik wisata, dan usaha sarana pariwisata? Jawabnya bisa saja. Tapi hasilnya adalah pencitraan yang buruk.

Masih ada banyak cara memasarkan produk pariwisata yang lebih efektif dan elegan dengan pencitraan positif, yang bertujuan bukan hanya dikenal luas tapi mampu menjaring wisatawan sebanyak mungkin. Berikut ke-18 cara memasarkan produk pariwisata versi travelplusindonesia.

1. Membuat website resmi dwibahasa, Indonesia dan Inggris.
Kalau lebih dari itu lebih baik. Website produk pariwisata yang dibuat menarik, antara lain berisi jadual kalender event yang tepat waktu dan lokasi, peta, dan cara mencapainya serta alamat, fax, email, nomor telepon atau contact person. Website ini bukan berisi kegiatan pejabat tapi murni informasi terkini mengenai produk pariwisata yang informatif, menarik, dan dilengkapi dengan foto-foto berkualitas yang membuat orang tertarik datang. Website harus ditangani orang-orang profesional yang memahami kepariwisataan, pemasaran, dan jurnalistik.

2. Menyebarluaskan produk pariwisata lewat jejaring sosial facebook dan twitter, mengirim ke email komunitas, yahoogroups, dan lainnya. Cara ini berbiaya murah dan cukup efektif.

3. Mengajak komunitas yang masih ada kaitannya dengan kepariwisataan untuk melakukan kegiatan di Indonesia, seperti komunitas vegetarian, komunitas marga China, pegolf, dan lainnya.

4. Menggunakan media konvensional seperti membuat leaflet, brosur, booklet, dan poster yang menarik dan informatif dengan kertas dan gambar-gambar berkualitas, bukan gambar pejabat narsis.

5. Memasang produk pariwisata di papan reklame yang ditempatkan di tempat-tempat strategis seperti bandara, stasiun, terminal, pelabuhan, pintu tol, pusat informasi wisata, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Tapi ingat gambarnya harus menarik, dan lagi-lagi bukan foto pejabat yang dipajang.

6. Mengikuti pameran wisata dengan membuat stand nyentrik dan suguhan menarik disertai kelengkapan brosur, leaflet, poster ataupun booklet berisi informasi kalender wisata dan paket tur wisata.

7. Mengelar press tour dengan mengundang sejumlah media massa yang konsisten menyebarluaskan informasi pariwisata, baik media dari dalam negeri maupun mancanegara. Dan juga mengadakan fam trip dengan mengajak travel agent untuk membuat paket tur ke sejumlah obyek wisata yang dipasarkan.

8. Mengundang sejumlah orang asing untuk tinggal dan berinteraksi dengan masyarakat setempat sebagaimana dilakukan di Ubud, Bali agar orang-orang tersebut mengenal bahkan jatuh cinta hingga mau menyebarluaskan dan mengajak teman-temannya datang.

9. Mendukung komunitas atau individu yang melakukan kegiatan di mancanegara dan mempunyai visi dan misi mempromosikan pariwisata Indonesia, misalnya pendakian gunung ke sejumlah gunung dunia, lawatan kesenian, keliling dunia dengan bersepeda, berjalan kaki, konser musik, dan lainnya.

10. Bekerjasama dengan kedutaan Indonesia di mancanegara, pelajar/mahasiswa, Tenaga Kerja Indonesia (TKI), perantau, pedagang, maupun profesional yang yang belajar atau bekerja di luar negeri sebagai agen pemasaran wisata.

11. Memasang iklan dan advertorial di media nasional dan internasional yang tepat sasaran dan audiensnya. Biayanya jelas besar.

12. Menayangkan iklan atau menjadi sponsor di event internasional tersohor untuk mencuri perhatian dunia. Biayanya juga tentu besar.

13. Menginjinkan produser film nasional maupun asing untuk syuting di lokasi obyek wisata, dengan catatan film, iklan, sinetron yang dibuatnya ditayangkan secara luas ke publik nasional dan internasional dengan menyebut dan atau mencatumkan nama lokasi syutingnya.

14. Memperbanyak event berskala internasional yang benar-benar profesional, berbeda, berkelas, dan menarik kemasannya dengan mengundang peserta dari mancanegara seperti event musik, pesta kesenian, festival budaya, karnaval, dan lainnya.

15. Menetapkan target pasar dan memperluas pasar potensial baru sesuai jenis produk pariwisata.

16. Menentukan cara pemasaran yang efektif sesuai anggaran dan target yang ingin dicapai. Semakin banyak cara dilakukan semakin baik dan tentu semakin besar biayanya.

17. Semua jenis pemasaran yang dipilih harus dilakukan secara kontinyu, informasinya semakin informatif dan terkini, menarik serta menguntungkan bagi calon wisatawan, misalnya dengan memberi diskon, atau membeli paket 1 dapat dua selama masa promosi, dan teknik menjaring wisatawan lainnya sejauh itu efektif dan elegan.

18. Waktu pemasaran dibagi 4 tahap yakni pra pelaksanaan, menjelang pelaksanaan, saat pelaksanaan, dan pasca pelaksanaan.
Waktu pemasaran pra pelaksanaan dilakukan setahun sebelumnya, ini dimaksudkan untuk memberi tenggang waktu kepada wisatawan agar dapat merancang kunjungan termasuk menyediakan waktu dan mengumpulkan uang. Biasanya wisman merancang liburannya setahun sebelumnya.

Menjelang pelaksanaan dilakukan sebulan atau beberapa hari sebelumnya, tujuannya untuk mengingatkan wisatawan akan produk pariwisata yang dijual.

Saat pelaksanaan untuk mengabarkan jalannya kegiatan sekaligus menginformasikan acara serupa jika rutin digelar setiap tahun. Sedangkan waktu pemasaran pasca pelaksanaan untuk mengabarkan kelebihan dan kekurangan dari hasil evaluasi pelaksanaan sekaligus menginformasi kepada calon wisatawan berikutnya.

Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Jurnalis Pemerhati Pariwisata

0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

Memuat...

Beri komentar

Name :
Web URL :
Message :

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP