. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label berita wisata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label berita wisata. Tampilkan semua postingan

Kamis, 28 Juli 2011

Pilot Garuda Mogok, Sejumlah Penerbangan Batal Hari ini

Asosiasi Pilot Garuda (APG) benar-benar memenuhi janji untuk mogok terbang hari ini, Kamis (28/7/20110). Akibatnya sejumlah penerbangan Garuda ke sejumlah kota dan daerah di Indonesia batal. Penumpang pun terlantar dan terjadi penumpukan terutama di Terminal 2, Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng.

Kepala Pusat Komunikasi Publik (KPKP) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) I Gusti Ngurah Putra yang sedianya pagi ini berangkat ke Palembang untuk menghadiri Rakornas Gubernur se-Sumatera, termasuk salah satu dari ratusan orang yang gagal berangkat karena pesawat Garuda batal terbang.

“Harusnya saya berangkat pukul 9 pagi. Sementara Sekjen Kemenbudpar Wardiyatmo sudah berangkat semalam dengan pesawat Garuda, mewakili Menbudpar Jero Wacik yang berhalangan hadir,” jelasnya.

Kata I Gusti Ngurah Putra, semula manajemen Garuda menunda-nunda pemberangkatan tanpa alasan jelas, satu jam hingga dua jam. Penumpang seperti biasa hanya mendapat konpensasi snack. Tapi akhirnya diumumkan bahwa pesawat Garuda batal terbang. “Untungnya managemen Garuda mengganti seluruh harga tiket penumpang,” terangnya.

Kata dia lagi, manajemen Garuda kewalahan melayani komplain dan pergantian tiket seluruh penumpang. “Seharusnya managemen Garuda sudah mengantisipasi lebih dulu mengingat rencana mogok ini sudah disampaikan asosiasi pilotnya sejak kemarin,” imbaunya.

Seperti diketahui, APG berencana mogok kerja terbang untuk rute-rute yang berangkat dari Jakarta (Bandara Soekarno-Hatta), baik penerbangan domestik ataupun internasional sesuai keterangan pers Presiden APG Stephanus Gerardus, kemarin yang memastikan semua anggotanya yang berjumlah 640 orang dari total 800 pilot Garuda akan melakukan mogok kerja hari ini.

Aksi tersebut dilakukan karena belum adanya kesepakatan antara manajemen dan asosiasi tersebut mengenai tuntutan anggota. Aksi tersebut terpicu karena adanya diskriminasi terkait perbedaan gaji antara kapten dan co-pilot lokal dengan pilot asing.

Penerbang asing dengan status kontrak bergaji sekitar Rp 77 juta per bulan, Sedangkan gaji kapten pilot lokal yang telah selama 20 tahun bekerja cuma Rp 43 juta per bulan.

Pemberlakuan kebijakan penggajian yang berbeda terhadap pilot asing menurut Juru bicara Garuda Pujobroto dikarenakan status mereka yang kontrak. Kendati bergaji besar, lanjutnya mereka tidak mendapatkan sejumlah fasilitas yang menguntungkan sebagaimana yang diterima pilot lokal.

Menteri BUMN Mustafa Abubakar hari ini menyatakan sudah ada kesepakatan antara manajemen dan para pilot yang tergabung dalam APG. Sayangnya kesepakatan itu dinilai sejumlah pihak telat. Penumpang Garuda hari ini terlanjur terlantar dan mengalami kerugian karena para pilot tetap mogok.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 27 Juli 2011

27 Pejabat Eselon 2 Kemenbudpar Dilantik


Menbudpar Jero Wacik melantik 27 pejabat eselon 2 di lingkungan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) di Jakarta, Rabu (27/7/2011). Pejabat eselon 2 yang dilantik tersebut ada yang wajah baru, dialihtugaskan, dan ada juga yang tetap menjabat jabatan yang sama. Apa tujuannya dan siapa saja mereka?

Menurut Jero Wacik, pergantian pejabat dan pengalihan tugas yang terjadi di jajaran eselon 2 Kemenbudpar bertujuan untuk penyegaran dan membuat kerja lebih produktif. “Jajaran eselon 2 merupakan salah satu motor penggerak kegiatan Kemenbudpar. Jajaran ini menjadi salah satu kunci kesuksesan kinerja Kemenbudpar,” jelasnya.

Pada kesempatan itu, Jero Wacik menghimbau seluruh jajaran eselon 2 yang baru dilantik untuk bekerja keras dan segera mempercepat pelaksanaan "Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia" (MP3I) yang diluncurkan Presiden RI pada Mei 2011 lalu.

Dia juga menghimbau seluruh jajaran eselon2 untuk melakukan penghematan penggunaan listrik, air, dan BBM agar biaya opersionalnya bisa turun.

Untuk itu, Jero Wacik segera mengeluarkan Keputusan Menteri (Kepmen) tentang penghematan. Menurutnya, penghematan disini bukan berarti tidak boleh memakai listrik, air, dan BBM. Penggunaannya disesuaikan dengan kebutuhan, tidak boros.

”Setiap saat harus dicek ruang kerja masing-masing, apakah ada lampu-lampu yang menyala padahal tidak digunakan untuk kerja atau membaca. Begitu juga dengan toilet, apakah kran airnya sudah dimatikan sehingga tidak ada air yang terbuang sia-sia,” imbaunya.

Kepmen penghematan ini, lanjutnya berlaku di semua unit budpar di seluruh Indonesia. “Gerakan penghematan nasional ini pernah dilakukan pemerintah pada tahun 2008. Dan dampaknya sangat besar bagi APBN,” akunya.

Pejabat Eselon 2 Kemenbudpar yang dialihtugaskan antara lain Winarno Sudjas yang semula menjabat Sekjend Pengembangan Destinasi Pariwisata menjadi Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pegawai Sekjen Kemenbudpar, Poppy Savitri dari Direktur Tradisi Ditjen NBSF menjadi Direktur Pembangunan Jati Diri, Pekerti dan Karakter Bangsa Ditjen NBSF, Antonius Budi dari Direktur Pembangunan Jari Diri, Pekerti dan Karakter Bangsa menjadi Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Budpar, dan Achyaruddin dari Direktur Produk Pariwisata, Ditjen PDP menjadi Sekditjen PDP.

Sedangkan pejabat eselon 2 yang tetap menjabat jabatan sama antara lain Intan Mardiana sebagai Direktur Permuseuman Ditjen Sejarah dan Purbakala, Noviendi Makalam sebagai Direktur Promosi Pariwisata Luar Negeri Ditjen Pemasaran, M Farried sebagai Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri, Nia Niscaya sebagai Direktur MICE, dan Surya Helmi sebagai Direktur Cagar Budaya Bawah Air dan Masa Kolonial, Ditjen Sepur serta I Gusti Ngurah Putra sebagai Kepala Pusat Komunikasi Publik.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 25 Juli 2011

Indonesia Contek Pengelolaan Geopark China



Untuk mengetahui keberhasilan China mengemas sejumlah taman geologi atau geopark-nya, Direktur jendral Pengembangan Destinasi Pariwisata (Dirjen PDP), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) bertolak ke negeri tirai bambu ini beberapa waktu lalu. Apa yang didapat?

Menurut Dirjen PDP Kemenbudpar Firmansyah Rahim, banyak pelajaran yang didapat dari China, antara lain model pengelolaan geopark yang baik. “China memiliki 22 geopark dan semua dikelola sangat bagus. Saya hanya melihat salah satu saja di Pusan,” kata Firmansyah di Jakarta, sepulang dari peninjauan salah satu geopark China beberapa hari lalu.

Berkat pengelolaannya yang bagus itu, lanjut Firmansyah, sejumlah geopark China diakui UNESCO dan masuk ke dalam Geopark Global Network (GGN) dengan beberapa geopark dunia lainnya.

Keuntungan masuk GGN itu, lanjut Firmansyah geoparknya terpromosikan secara dunia hingga mampu menjaring jutaan wisatawan per tahun. “Satu geopark China yang sudah masuk GGN saja dikunjungi 6 jutaan pengunjung setiap tahunnya,” ungkapnya.

Kata dia, infrastruktur geopark di China seperti akses jalan menuju lokasi sangat baik dan bangunan etalasenya luar biasa hebat. “Bangunan etalasenya terdiri dari ruang-ruang. Masing-masing ruang disi dengan duplikat geologi yang ada di kawasan geoparknya, misalnya duplikat gua dan lainnya, bukan replika. Juga ada petunjuk kalau ingin melihat obyek aslinya,” terangnya

“Kalau duitnya ada, saya pinginnya model pengelolaan dan kemasan geopark di Indonesia seperti di China,” harapnya.

Indonesia baru mengajukan 2 geopark yakni Pacitan dan Batur ke UNESCO agar diakui geopark dunia dan bisa masuk GGN. Menyusul 2 geopark lagi yakni Raja Ampat dan Danau Toba yang tengah dalam proses pembenahan.

Sebenarnya banyak kawasan geologi di Indonesia yang potensial dijadikan geopark. Firmansyah bilang, tak mudah menjadikan sebuah kawasan geopark apalagi bisa diakui dunia. “Biayanya tidak sedikit, dan harus memenuhi syarat antara lain di kawasan itu dihuni masyarakat yang menjaga aset geologinya dengan baik,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 24 Juli 2011

Inap di Tepi Sungai dan Jurang Makin Tren di Bali



Wisatawan mancanegara (wisman) yang datang ke Bali belakangan mengalami perubahan minat bermalam selama liburan di Pulau Seribu Pura ini. Jika dulu turis asing lebih memilih penginapan di daerah berpantai dan keramaian. Belakangan menyukai villa yang tenang dan sepi di pedesaan, lembah, dan pinggiran sungai bahkan tepian jurang. Kenapa?

Berdasarkan pantauan travelplusindonesia banyak wisman yang kini lebih menyenangi bermalam di vila dan jenis penginapan lain yang berlokasi di pedesaan, terutama di lembah, lereng tebing bahkan sempadan atau tepian sungai dan jurang antara lain di tepian Sungai Panaraga Giri, Sungai Ayung, Kerobokan, Ubud, dan Kintamani.

Padahal sekitar tahun 1980-an turis asing yang berwisata ke Pulau Dewata ini lebih menyukai penginapan di kawasan berpantai antara lain Nusa Dua, Kuta, dan Sanur.

Perubahan minat ini, membuat pengusaha di bidang akomodasi berlomba membuat penginapan di daerah pedesaan dan persawahan. Tak heran kalau lahan persawahan di Bali kian menyusut sekitar seribu hektar per tahunnya. Terjadi perubahan fungsi sebagian lahan yang semula untuk pertanian menjadi bermacam penginapan guna memenuhi permintaan wisman yang meninggi.

Peningkatan jumlah vila di Bali ternyata tak disertai dengan pemenuhan izin dan lingkungan. Ketua Bali Villa Association (BVA), Ismoyo S. Soemarlan mengatakan dari 811 unit vila di Bali, cuma 425 vila yang mengantongi izin resmi. Sisanya, 386 vila berkategori bodong atau ilegal. Menurutnya banyak vila yang tak memiliki izin itu berdiri di lahan subur, tepi jurang, lahan persawahan, dan sempadan sungai yang jelas-jelas merusak lingkungan.

Menurut pengamat pariwisata Bali Dewa Nyoman Putrawan, perubahan tren itu dikarenakan semakin banyak turis yang mendambakan suasana tenang dan damai, jauh dari keramaian dan kesibukan serta tekanan pekerjaan sebagaimana dialami di negeri asalnya.

Penari dan penabuh ini melihat banyak faktor mengapa Bali masih diminati turis asing. Selain terjamin rasa aman dan nyaman serta keramahan penduduknya, juga karena banyaknya upacara adat dan seni budaya Bali yang memikat dan menyejukkan hati serta keindahan alamnya yang memesona. Oleh karenanya Bali masih diminti turis asing, terbukti dengan meningkatnya jumlah kunjungan wisman per semester pertama 2011.

Apa yang dikatakan Dewa Nyoman Putrawan bukan isapan jempol. Berdasarkan data Dinas Pariwisata Provinsi Bali, jumlah wisman yang ke Bali selama Januari-Juni 2011 mencapai angka 1.271.470 orang. Angka itu meningkat 10,95 persen dibanding periode yang sama 6 bulan pertama 2010 yang mencapai 1.146.028 orang.

Wisman yang datang ke Bali paling banyak masih dari Australia, Cina, Jepang, Malaysia, Korea Selatan, dan Inggris. Jumlah wisman dari negara-negara tersebut mengalami peningkatan pada periode semester awal tahun ini.

Contohnya turis Negeri Kangguru Australia melonjak sekitar 27,95 persen sehingga menduduki peringkat teratas dari 10 negara asal wisman yang Bali. Kecuali wisatawan asal Jepang, mengalami penurunan akibat dampak gempa bumi dan tsunami di negaranya beberapa waktu lalu.

Bali Favorit Cina
Kabar menarik datang dari Cina. Wisatawan negara tirai bambu itu justru memilih Bali sebagai wisata favorit mereka dari sekian destinasi dunia lainnya.

Siaran Pers Kedutaan Besar Republik Indonesia di Beijing menerangkan terpilihnya Bali sebagai tempat wisata favorit wisatawan Cina ditandai dengan penerimaan penghargaan untuk Bali sebagai “The 1st Global Tourism Thermal List-the Most Preferred Tourist Attraction for Chinese in 2011″ yang diterima oleh Dubes RI untuk Cina, Imron Cotan.

Salah satu faktor pemicunya, Bali terpilih sebagai tempat tujuan wisata terbaik di Asia Pasifik versi majalah Business Travelers Asia Pacific Hong Kong tahun 2010. Ketika itu sebanyak 196.925 orang dari 50 juta wisatawan Cina yang berwisata ke luar negeri memilih Bali sebagai tujuan wisatanya.

Fenomena perubahan minat menginap wisman di Bali ini bisa juga dicontoh daerah lain yang memiliki pedesaan, perbukitan, lembah, dan jurang yanag berpanorama indah, sejuk, asri, hijau, dan damai.

Namun untuk menarik minat wisman, bukan semata tersedianya penginapan itu. Harus ada daya tarik utama yang membuat wisman mau datang dan betah menginap bermalam-malam, seperti yang dimiliki Bali yakni terpenuhi rasa aman dan nyaman, menjadi tuan tumah yang baik dan ramah, suguhan aneka seni budaya dan upacara adat yang menawan, serta panorama alam yang indah.

Tanpa semua itu, rasanya membangun penginapan sebanyak, sebagus, seindah, seunik, selengkap dan atau senyaman apapun di lokasi-lokasi tersebut, akan sia-sia.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 23 Juli 2011

Kota Tua Jakarta Jadi Warisan Dunia pada 2015


Sejumlah pemangku kepentingan kawasan Kota Tua Jakarta bertekad dan berkomitmen menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai warisan dunia yang diakui UNESCO pada tahun 2015. Beberapa langkah akan dilakukan untuk mewujudkan mimpi itu. Apa saja dan komitmen apa lagi yang disepakati?

Pemangku kepentingan Kota Tua Jakarta yang berkomitmen terdiri atas unsur pemerintah yakni Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) yang diwakili Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata (PDP) Firmansyah Rahim, Direktur Sejarah dan Purbakala Souroso, Pemprov DKI Jakarta yang diwakili Deputi Gubernur Bidang Budaya dan Pariwisata Sukesti Martono, BUMN, BUMS, masyarakat lokal, dan pemerhati kota tua, searta beberapa komunitas atau Lembaga Swadaya Masysrakat (LSM).

Firmasnyah Rahim mengatakan kawasan Kota Tua pantas menjadi heritage world mengingat memiliki aset bagus, infrastruktur, dan sudah terbentuk sejumlah komunitasnya. “Tinggal ditata supaya wisatawan dapat menikmati kawasan ini dan memberikan manfaat buat masyarakat lokal,” jelasnya usai acara peluncuran program Destination Management Organization (DMO) Kota Tua Jakarta di Museum Bank, Mandiri, kawasan Kota Tua Jakarta, Jum’at (22/7/2011).

Untuk mewujudkan itu, lanjutnya, semua stakeholder baik pemeritah pusat maupun pemprov DKI, masyarakat, juga seluruh pengusaha yang terkait dengan pariwisata bekerja bersama untuk menjaga kelestarian kawasan ini agar terselamatkan dari kehancuran.

“Program DMO kawasan Kota Tua Jakarta yang hari ini diluncurkan bisa menjadi salah satu langkah untuk menjadikan kawasan ini diakui UNESCO sebagai heritage world pada 2015. Dengan pengakuan dunia itu, diharapkan kawasan ini kelak menjadi destinasi terbaik di Indonesia,” harapnya.

Pemetaan Kawasan
Soeroso mengatakan ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai heritage world antara lain melakukan pemetaan (mapping) kawasan Kota Tua Jakarta.

“Pemetaan ini untuk mendata bangunan apa saja yang ada di kota tua ini termasuk nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai sebuah kawasan kota tua. Setelah itu dibuat prioritas pengembangannya satu persatu,” jelasnya.

Langkah selanjutnya, membuat usulan ke UNESCO. Kalau usulan sudah disetujui dan Kota Tua Jakarta sudah ditetapkan sebagi warisan dunia, harus ada lembaga khusus yang menangani warasan ini. Lembaga tersebut, tambah Soeroso, harus terdiri dari orang-orang dari berbagai bidang yang berkompeten.

“Kebetulan bulan November 2011, dirjen UNESCO akan ke Bali. Nanti kita ajak ke Jakarta lalu dibawa ke kawasan Kota Tua Jakarta untuk memperkenalkan potensi kawasan ini,” jelasnya.

Sukesti Martono mengatakan kawasan Kota Tua Jakarta memiliki beberapa potensi yakni potensi heritage, bisnis dan potensi panorama. Dalam masterplan pengembangan kawasan Kota Tua Jakarta, Pemprov DKI membagi pemanfaatan kawasan ini berdasarkan zonasi. Ada 5 zona peruntukannya.

Kata Sukesti langkah yang perlu dilakukan untuk mewujudkan mimpi indah kawasan Kota Tua sebagai heritage world dengan menjaga kebersihan dan kenyamanan kawasan serta meningkatan akses menuju kawasan. “Kebesihan saluran dan jaluan harus diutamakan. Selama ini kebersihan kawasan Kota Tua Jakarta dilakukan Suku Dinas Kebersihan DKI Jakarta. Masyarakat harus juga menjaga aspek kebersihan dan kenyamanan di kawasan ini bersama-sama,” jelasnya.

Komitmen ini, lanjut Sukesti tidak berhenti pada perencanaan saja tapi berproses terus. “Pengelola kawasan kota tua diharapkan menjadi tempat bertemunya masukan dari sejumlah pemangku kepentingan lalu dikomunikasikan ke pemprov juga pemerintah pusat,” jelasnya.

Firmansyah Rahim menambahkan untuk mewujudkan Kota Tua Jakarta sebagai warisan dunia, Kemenbudpar bertindak sebagai fasilitator yang memfasilitasi apa yang dibutuhkan untuk pengembangan itu. “Yang mengerjakan masyarakat dan stakeholder, pemerintah akan memfasilitas sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Selain menjadikan kawasan Kota Tua Jakarta sebagai warisan dunia yang diakui UNESCO pada 2015, ada 4 komitmen lagi yang sudah disepakati dan ditandatangani sejumlah pemangku di atas, yakni membangun Kota Tua Jakarta dengan prinsip tata kelola yang baik, menjadikannya sebagai destinasi pariwisata utama Jakarta, menjadikannya sebagai creative heritage city, dan menjunjung tinggi integritas.

Ketua Komunitas Historia Indonesia (KHI) Asep Kambali menyambut baik adanya DMO Kota Tua Jakarta yanag dilakukan Kemenbudpar dan komitmen bersama mewujudkan kawasan Kota Tua Jakarta sebgain Heritage World.

“Mudah-mudahan ini bukan menjadi acara seremonial apalagi proyek saja. Tapi benar-benar terwujud dan bermanfaat bagi masyarakat serta kelestarian kawasan ini. Salah satu langkahnya harus dengan membentuk badan atau lembaga yang menangani DMO ini dengan tugas yang jelas dan mendudukan orang-orang yang pas,” imbaunya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 15 Juli 2011

Panduan Beli Tiket Kereta Api untuk Mudik


Lebaran masih beberapa pekan lagi dan puasa pun belum dimulai. Tak ada salahnya mempersiapkan tiket mudik jauh-jauh hari agar ibadah puasa tidak terganggu. Biar mudik via kereta api berjalan nyaman ikuti panduan membeli tiketnya. Apa saja?

Kalau tak punya kendaraan pribadi, atau tak cukup biaya membeli tiket pesawat yang harganya bisa selangit saat jelang lebaran. Pilihan tepat tentu saja naik kereta api untuk mudik dan balik.

Namun harga tiket kereta api untuk mudik dipastikan juga meninggi setiap jelang lebaran sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Bukan itu saja, untuk memperolehnya juga bakal sulit.

Nah, untuk memudahkan mendapatkan tiket kereta api mudik dengan harga normal, sebaiknya pesan atau beli jauh-jauh hari. Kebetulan PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) sudah menjual tiket kereta api untuk mudik tahun ini mulai Sabtu, 16 Juli 2011.

Selama ini ada 5 cara untuk mendapatkan tiket kereta api, yakni pesan/beli langsung di loket stasiun yang melayani pemesan. Biasanya harga tiketnya sesuai tarif kereta api yang bersangkutan dan langsung mendapatkan tiket.

Pesan/beli langsung di pusat reservasi, harganya sesuai tarif dan langsung memperoleh tiket. Pesan/beli lewat loket kantor pos yang sudah online, tiketnya langsung dibayar sesuai tarif berikut ekstra charge-nya.

Bisa juga pesan/beli lewat Contact Center kereta api dengan nomor panggilan 121 dan 021-21391121. Setelah itu penumpang akan mendapatkan kode booking/kode bayar. Pembayarannya lewat e-bangking, antara lain ATM Bank Mandiri, BII, BRI, dan BPD Jawa Tengah. Dan terakhir pesan/beli lewat agen. Harganya sebesar traif plus ekstra charge dan bisa langsung memeproleh tiketnya.

Apakah cara di atas sama dengan memesan tiket kereta api untuk mudik tahun ini? Sebaiknya cari informasinya lebih dulu. Kalau sama, pilihlah cara yang paling praktis. Yang terpenting, pesan atau beli tiketnya jauh-jauh hari agar tidak kehabisan tiket.

Kalau telat dan tiket sudah habis entah diborong calo atau pihak lain, tak ada cara lain selain lewat calo yang tarifnya bisa berlipat-lipat dari harga sebenarnya.

Nah, mumpung belum puasa, segera mungkin pesan/beli tiket kereta api untuk mudik dan balik agar puasa Anda tidak terusik.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 14 Juli 2011

Benteng Liya Togo pun Bertransformasi


Keberadaan Benteng Liya Togo di Kepulauan Tukang Besi Wakatobi, Sulawesi Tenggara bakal bertransformasi baik secara fisik maupun status. Benteng yang terbuat dari susunan batu tanpa perekat semen ini sedang dipugar dan statusnya akan menjadi Cagar Budaya Dunia.

Pemugaran benteng yang berada di Desa Liya Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara ini masih berlangsung. Biaya pemugarannya mencapai Rp 1,5 miliar dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar).

Pemugaran benteng seluas 30 hektar ini dituding terkait penyelenggaran Sail Wakatobi Belitong (SWB) 2011 yang digelar di Wakatobi. Terlebih pekerjaan pemugarannya harus selesai sebelum acara puncak SWB 2011 di Pantai Sombu, Kecamatan Wangi-wangi, Wakatobi yang akan dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Kendati begitu, keputusan Kemenbudpar untuk merenovasi benteng peninggalan Kesultanan Buton ini, sudah tepat meski telat. Maklum saja, keberadaannya selama ini sangat mengenaskan. Beberapa bagiannya tinggal puing-puing yang berserakan, tak terawat. Mungkin kalau tidak dilakukan pemugaran, nasibnya akan bertambah parah dan bisa-bisa tak berbentuk benteng lagi.

Benteng Liya Togo dijadikan sebagai Cagar Budaya Dunia dengan penilaian memiliki kekhasan yang jarang ditemui di benteng lain di dunia. Bahan utama bentengnya dari batu-batu yang disusun tanpa perekat semen. Konstruksinya mirip Benteng Keraton Buton di Kota Baubau.

Keunikan lain, di dalam benteng ini ada Masjid Liya Togo, masjid tua yang pernah menjadi pusat penyebaran Islam di Wakatobi.

Dengan pemugaran dan perubahan status Benteng Liya Togo, diharapkan transformasi yang dialami benteng ini bukan sebatas pelestarian pun mampu menjaring lebih banyak lagi wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok.ist

Read more...

Rabu, 13 Juli 2011

Perkawinan Massal Bawah Laut di Sail Wakatobi Belitong


Pembukaan Sail Wakatobi Belitong (SWB) 2011 di Wakatobi, Sulawesi Tenggara berlangsung 16 Juli. Sedangkan di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung 26 Juli. Upacara perkawinan massal bawah laut jadi salah satu acara SWB 2011 di Wakatobi. Sementara di Belitung, pembukaannya bersamaan dengan syuting film Hollywood. Ada apa lagi?

Ketua Panitia Daerah SWB 2011 Provinsi Bangka Belitung, Sugianto menjelaskan pembukaan SWB 2011 di Belitung yang semula dilakukan 9 Juli lalu diundur 26 Juli dengan alasan waktunya terlalu berdekatan dengan Pembukaan SWB di Wakatobi, Sulawesi Tenggara 16 Juli ini. Alasan lain disamakan dengan syuting film Hollywood di Belitung pada 25-26 Juli.

”Momen syuting film tersebut diharapkan dapat menyedot wisatawan domestik dan mancanegara lebih banyak lagi dan sekaligus untuk lebih memperkenalkan Bangka Belitung,” akunya.

Sejumlah atraksi seni dan budaya, lanjutnya bakal meramaikan pembukaan SWB 2011 di Belitung yang akan dipusatkan di Tanjung Pendam.

Beberapa menteri terkait antara lain Menbudpar Jero Wacik, Menteri Kelautan dan Perikanan Fadel Muhammad, dan Menko Kesra Agung Laksono akan menghadiri pembukaan SWB 2011 di Belitung.

SWB 2011 merupakan rangkaian dari kegiatan Sail Indonesia. Sebelumnya digelar Sail Bunaken (2009) dan Sail Banda (2010).

SWB 2011 digelar untuk mempromosikan wisata bahari sekaligus mempercepat pembangunan di daerah, khususnya di Wakatobi dan Belitung. Biaya penyelenggarannya mencapai Rp 60 miliar. ”Anggaran tersebut digunakan antara lain untuk memperbaiki sejumlah infrastruktur baik di Wakatobi maupun di Belitung,” kata Agung Laksono.

Untuk menjaring turis, SWB 2011 yang bertema "Clean Ocean for the Future" ini diisi dengan 6 kegiatan utama, yakni yacht rally and race, operasi Bhakti Surya Baskara Jaya, seminar nasional dan internasional, lintas Nusantara pemuda bahari, dan pameran UKM produk perikanan.

”SWB 2011 diikuti 40 negara. Khusus peserta yacht rally and race akan mengarungi perairan di 21 kabupaten di Indonesia, dari Kupang atau Saumlaki sampai Belitung," terang Fadel.

Puncak acara SWB 2011 di di Belitung bertempat di Pantai Tanjung Kelayang pada 5-12 Oktober. Sedangkan di Wakatobi berlangsung di Pantai Sombu pada 23-29 Agustus. Kedua acara puncak ini rencananya dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

SWB 2011 di Wakatobi
Khusus di Wakatobi berkaitan dengan SWB 2011, Benteng Liya Togo di Desa Liya Raya, Kecamatan Wangi-wangi Selatan dipugar untuk ditetapkan sebagai Cagar Budaya Dunia.

Menurut Kadisbudpar Kabupaten Wakatobi, Tawakal pemugaran benteng tersebut menelan biaya Rp 1,5 miliar dari Kemenbudpar. “Pengerjaan pemugarannya direncanakan selesai sebelum acara puncak SWB 2011 di Pantai Sombu,” jelasnya.

Kegiatan SWB 2011 di Wakotobi antara lain Festival Film Lingkungan Internasional di Wangi-wangi pada Juli, Upacara 17 Agustus di dasar laut di Sombu Dive Site, Wangi-wangi (17/8), Pameran Foto Wakatobi di Gedung Wanita, Wangi-wangi(20-29/8), dan yacht rally and race (23-29/8).

Selain itu ada Upacara Perkawinan Massal Bawah Laut di Wangi-wangi(24/8), Festival Seni dan Budaya di Lapangan Merdeka, Wangi-wangi (25/8) yang akan menyuguhkan atraksi Kabuenga, Karia'a, tarian tradisional, kultum, dan buka puasa bersama serta Lomba Dayung Perahu Tradisional di Pelabuhan Panggulbelo - Pelabuhan Ferry Wanci pada 26 Agustus 2011.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Ist

Read more...

Senin, 11 Juli 2011

Menjaring Wisman Lewat Festival Layang-Layang


Festival layang-layang ternyata ampuh menarik wisatawan mancanegara (wisman) bertandang ke obyek wisata. Buktinya festival layang-layang di Monas yang diselenggarakan Suku Dinas Pariwisata Jakarta Pusat, Minggu, 10 Juli 2011, meski tidak berskala internasional namun mampu menjaring turis asing. Dalam waktu dekat dua festival serupa juga akan diadakan dengan melibatkan peserta dari mancanegara. Kapan dan dimana festival layang internasional itu akan digelar?

Layang-layang berbentuk gurita raksasa berwarna kuning begitu dominan di antara beragam layang lainnya. Kehadirannya bukan cuma membuat langit Monas yang Minggu pagi hingga sore itu agak kelabu jadi lebih ceria.

Pengunjung Monas pun ikut membludak. Beberapa di antaranya wisman dari Eropa dan Amerika. Bahkan ada turis bule asal Belanda yang ikut mencoba menaikkan layang-layang milik peserta.

”Kita memberi cendera mata layang-layang kepada turis Belanda itu. Dan dia senang sekali,” jelas Triyugo Prasetyo, Kasudin Pariwisata Jakarta Pusat, Minggu (12/7/2011).

Selain layangan gurita dari bahan parasit itu, ada bermacam bentuk layang kreasi lain yang mewarnai langit sekitar Monas. Ada layangan berbentuk abang dan none Jakarta, topeng betawi, dan ronggeng Bali serta beragam layang dua dimensi hingga tiga dimensi.

Festival layang tahunan yang ke-12 ini menampilkan layang-layang tradisional atau layangan koang dan layang-layang kreasi yang diikuti oleh masyarakat dari 44 kelurahan di Jakarta Pusat. ”Juga ada peserta layang-layang profesional dari Bekasi, Bogor, bahkan Bali. Pemenang pertama mendapat uang pembinaan Rp 2 juta,” kata Triyugo.

Festival yang dipandu oleh pelayang-layang profesional dari komunitas layang-layang Le Gong Kite Society ini juga menggelar workshop pembuatan layang-layang untuk pengunjung anak anak dan keluarga.

Sejumlah anak nampak antusias membuat layang-layang yang baik dan benar, serta mendengarakan penjelasan mengenai fungsi layang-layang di zaman nenek moyang dahulu.

Festival yang digelar masih dalam rangka merayakan HUT Kota Jakarta ke-484 ini, lanjut Triyugo diharapankan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, bahwa langit pun dapat dimanfaatkan sebagai ajang atraksi wisata untuk menarik kunjungan wisnus dan wisman. Dan ternyata harapan itu terbukti.

Pedagang layang-layang yang biasa berjualan di sekitar Monas juga kecipratan rezeki dengan adanya festival ini. Babat (55th) salah seorang pedagang layang-layang kertas dari Cisarua, Bogor ini mengaku dagangannya cukup laris.

”Sampai siang ini sudah laku 25 layangan ukuran kecil seharaga Rp 2.000 dan 10 layangan sedang seharga Rp 5.000. Pengunjungnya memang lebih ramai tapi bersaing dengan pedagang layang-layang lain juga jumlahnya kian banyak,” akunya ditemani dua putranya berkeliling menjajakan layangan kepada pengunjung yang datang ke Monas saban Sabtu dan Minggu.

Festival Layang Internasional
Pemenang festival layang kali ini akan mengikuti Jakarta International Kite Festival (JIKF) atau festival layang internasional ke-17 di Eco Park, Ancol, Jakarta selama 2 hari pada 16-17 Juli mendatang.

JIKF kali ini akan diikuti 13 negara dan 18 provinsi. Kegiatannya berupa pameran layanga-layang tingkat dunia, workshop pembuatan daur ulang layang-layang, kompetisi, terbang layang-layang malam hari, pameran foto tentang layang-layang, dan olahraga serta permaian ekstrim terkait layang-layang.

Selain di Ancol, festival layang internasional 2011 juga akan digelar di Pangandaran, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat pada Juli mendatang.

Peserta Pangandaran International Kite Festival (PIKF) 2011 selain Indonesia sebagai tuan rumah juga sejumlah negara antara lain Malaysia, Selandia Baru, Jepang, dan China. Para peserta akan menampilkan bermacam layangan yang bentuknya tak biasa alias unik. Ada yang berbentuk boneka, binatang, wayang, dan lainnya.

”Sebelumnya festival layang di Pangandaran ini masih event nasional, namun tahun ini menjadi event internasional. Festival ini diharapkan dapat menyedot para pengunjung ke Pangandaran akhir pekan ini, baik wisnus maupun wisman,” kata Kadisbudpar Kaupaten Ciamis Ncu Suherman.

PIKF 2011 terbagi beberapa kategori, dari sisi estetika ataupun dari sisi tekniknya. Kegiatan ini menjadi ajang kreasi para penggemar layangan, baik domestik maupun internasional.

Bersamaan dengan festival ini ada kegiatan pendukung seperti bazar dan pameran serta pemilihan putri pantai.

“Disamping festival layang, Kabupaten Ciamis mempunyai festival lain yang berhubungan dengan pantai, antara lain Hajat Laut,” ajelas Ncu Suherman.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Memahami Hulu Keris dan Nilai Investasinya


Berinvestasi dengan emas, mutiara, tanah, rumah, dan lukisan itu biasa. Tapi mungkinkah berinvestasi dengan keris yang sudah diakui UNESCO sebagai warisan budaya asli Indonesia? Dan keris yang bagaimana yang bernilai investasi tinggi?

Ada yang menarik dari Pameran Ragam Hulu Keris di Bentara Budaya Jakarta (BBJ) 8-10 Juli 2011 lalu. Dalam pameran yang dibuka secara resmi oleh Ukus Kuswara selaku Dirjen Nilai Budaya, Seni, dan Film (NBSF), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) sekaligus peluncuran buku “Pesona Halu Keris/The Beauty of Krishilt” garapan pecinta keris Toni Junus berupa dokumentasi sejumlah koleksi keris milik kolektor keris Aswin Wirjadi, juga ada bursa penjualan hulu (gagang keris) dan tentu saja aneka keris.

“Keris Indonesia sudah diakui UNESCO sebagai warisan agung bangsa Indonesia. Pengakuan ini menegaskan kalau keris bukan semata karya seni indah, melainkan pula kekayaan penuh simbol dan filosofi yang berarti bagi kehidupan bangsa Indonesia,” jelas Ukus.

Di bursa pameran ini, sejumlah pedagang keris dari berbagai kota dan daerah menjajakan bermacam hulu keris dan bermacam keris baik baik yang bersertifikat, kuno, dan bertuah atau berjimat. Harganya bervariasi mulai dari ratusan ribu sampai puluhan juta.

Yang menarik, pengunjung yang datang bukan cuma melihat sejumlah hulu dan keris yang
dipamerkan dan diperjualbelikan, pun membeli keris tersebut untuk investasi masa depan.

Menurut Jaya, salah satu pedagang keris dari Jogjakarta di bursa pameran ini ada beberapa keris yang dapat dijadikan sebagai benda investasi. Pertama kerisnya benar-benar keris kuno. “Sebab semakin tua nilai jualnya semakin tinggi harganya”, terangnya.

Selain itu cari keris yang diproduksi sedikit atau limit edition atau tidak diproduksi lagi. ”Bukan keris yang diproduksi massal”, imbaunya.

Keris peninggalan raja, mpu atau keris pusaka lanjut Jaya juga bernilai investasi tinggi. Bahan dan ukiran hulu kerisnya juga membuat nilai harganya berbeda. Hulu keris dari gading biasanya lebih mahal daripada kayu karena proses pembuatannya lebih rumit. Namun belum tentu bernilai investasi tinggi. Bahan untuk pembuatan kerisnya pun mempengaruhi harga dan nilai investasinya. “Biasanya bahan keris kuno lebih tahan lama, karenanya berinvestasi tinggi,” ungkapnya.

Keris yang bersertifikat biasanya berharga lebih mahal daripada yang tidak bersertifikat. Namun belum tentu bernilai investasi tinggi. “Sertifikat hanya sebagai tanda keris itu mendapat pengakuan dari kerajaan sebagai kepuasan dan kebanggaan”, kata Jaya sama halanya dengan keris yang mempunyai cerita legenda juga berharga tinggi tapi belum tentu bernilai investasi tinggi.

Pameran hulu keris yang diselenggarakan atas kerjasama BBJ dan Komunitas Panji Nusantara ini dimaksudkan untuk memaparkan seni hulu keris sebagai arca kecil yang paling pertama dilihat oleh mata, saat keris masih di dalam sarungnya.

Ada bermacam hulu keris yang dipamerkan antara lain hulu keris Surakarta yang disebut Tunggak Semi Cecekan Robyong, hulu keris Cirebon yang berupa ukiran berbentuk ‘guru’ berjenggot dan mengenakan kain di bahu, hulu keris Madura yang disebut Pulasir atau Rasogan Sordaduh, hulu keris Palembang dinamakan Jawa Demam yang terbuat dari gading, hulu keris Lampung berupa arca burung laut dalam posisi jongkok, hulu keris Semenanjung bergambar arca burung laut ‘King Fishier’ atau ‘Pekakak’ yang juga disebut Tajong dari Patani, Thailand Selatan, dan hulu keris Bali berupa arca raksasa Prahasta dalam epik Ramayana.

Lewat pameran ini, diharapkan pecinta keris maupun masyarakat umum dapat mengenal lebih jauh pesona keris dari hulunya yang dibuat dengan sentuhan pola ukir, isi mitologi, dan kisah-kisah yang menyelimutinya. Dan bagi kolektor tentunya dari bursa di pameran ini menjadi wadah untuk menambah koleksi keris yang bernilai investasi tinggi.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Bowo

Read more...

Gaya Semarang Menghidupkan Bangunan Tua


Seperti kota besar lain di Jawa, Semarang memiliki sejumlah bangunan tua dan bersejarah peninggalan kolonial Belanda. Keberadaannya mampu menarik minat wisatawan untuk bertandang. Beberapa bangunannya yang semula dianggap sebagai sarang hantu hingga bercitra horor, belakangan mulai dipugar dan fungsikan untuk berbagai kegiatan hingga lebih hidup dan menarik. Apa saja?

Dari sekian banyak bangunan tua di Semarang, bangunan Lawang Sewu kiranya yang paling populer. Bangunan yang terletak di depan Bunderan Tugu Muda, Semarang ini terdiri atas beberapa gedung yang sedang dipugar.

Salah satu gedungnya yakni Gedung A diresmikan purna pugarnya oleh ibu negara Ani Yudhoyono pada 5 Juli 2011 lalu yang dihadiri Menbudpar Jero Wacik dan Gubernur Jateng Bibit W, dilanjutkan dengan pembukaan pameran Kriya Unggulan Nusantara 2011 selama 6 hari di Lawang Sewu.

Pameran yang diikuti dewan kerajinan daerah dari 24 provinsi dan sejumlah pedagang kuliner dari berbagai daerah ini bukan cuma berhasil menyedot pengunjung terlebih digelar saat liburan sekolah, pun mampu mengikis citra horor yang terlanjur tertanam di bangunan cagar budaya ini.

Sejumlah peserta pameran mengaku puas mengikuti pameran ini. Selain tidak dikenakan biaya, pengunjungnya pun ramai dan banyak yang membeli.

Begitu pun dengan pengunjung yang semula takut memasuki Lawang Sewu karena cerita horornya, terlihat antusias melihat pameran ini. Terlebih pameran ini bukan cuma menjual aneka kerajinan tangan seperti tenun, aksesoris mutiara, ulos, batik dan penganan khas dari berbagai daerah seperti lumpia, mie kopyok dari Semarang, kerak telor dari Betawi dan lainnya, puna memamerkan sertifikat UNESCO untuk batik, angkluk, dan keris, serta hiburan musik, lomba permainan tradisional, dan ajang kreativitas anak.

Rencananya, pameran serupa akan digelar setahun sekali dan gedung lain yang sedang direnovasi akan difungsikan untuk retail, gedung pertemuan, pagelaran seni, kuliner dan lainnya dengan tujuan untuk menghidupkan Lawang Sewu sekaligus menghilangkan imej seramnya.

Kendati upaya untuk menghilangkan citra horor tersebut terus digalakkan, pengunjung yang tertarik menikmati suasana lain Lawang Sewu dengan menelusuri lebih jauh ke dalam ruang bawah tanahnya, masih dapat mengikuti tur jelajah malam dengan tarif Rp 10.000 per orang.

Masih banyak gedung tua di Semarang yang kekhasan dan keindahan asitekturnya dapat dinikmati. Bahkan beberapa gedungnya ada yang tetap difungsikan seperti semua seperti Gereja Blendug sebagai tempat peribadatan. Gereja yang dibangun Belanda tahun 1753 berbentuk rumah panggung Jawa ini kemudian dipugar total tahun 1787 seperti sekarang. Padahal gereja tertua di Jawa Tengah yang terletak di Jalan Letjen Suprapto ini bernama asli Gereja GPIB Immanuel namun oleh masyarakat kemudian disebut Blendug yang berarti kubah.

Masih di jalan tersebut, sejumlah bangunan tua yang mengalamai perombakan, sudah beralih fungsi menjadi perkantoran dan rumah makan. Namun arsitektur aslinya tetap dipertahankan.

Bangunan tua lainnya ada yang sejak lama dimanfaatkan sebagai stasiun seperti Stasiun Semarang Tawang di berada di Jalan Taman Tawang. Stasiun yang diresmikan penggunaannya pada 1868 ini merupakan stasiun besar tertua di Indonesia.

Obyek wisata religi atau spritual juga banyak di Semarang dengan kandungan nilai sejarah dan keistimewaan arsitekturnya. Misalnya Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang arsitekturnya mengikuti gaya masjid Nabawi di Madinah. Masjid yang teretak di Jalan Gajah Raya, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Gayamsari ini diresmikan Presiden SBY pada 14 November 2006.

Keistimewaan masjid yang berdiri di lahan seluas 10 hektar dilengkapi 6 payung raksasa yang dapat terbuka dan tertutup secara otomatis seperti di Masjid Nabawi. Daya tarik lainnya ada Menara Al Husna atau Al Husna Tower setinggi 99 meter. Di lantai 2 dan 3 tower ini dijadikan Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah dan di lantai 18 sebagai Kafe Muslim yang dapat berputar 360 derajat serta menara pandang di lantai 19 yang dilengkapi 5 teropong untuk melihat panorama Kota Semarang.

Masjid berkapasitas 10 ribu jamaah ini dilengkapi penginapan 23 kamar berbagai kelas, toko souvenir, convention hall, lapangan parkir yang luas, dan arena bermain anak.

Obyek religius lainnya makam pendiri Kota Semarang yakni Ki Ageng Pandan Arang atau Pandanaran yang merupakan adipati pertama Semarang yang diangkat Sulatan Demak. Tanggal pengangkatannya 2 Mei dijadikan Hari Jadi Kota Semarang. Makam Ki Ageng Pandanaran yang wafat pada 1496 terletak di Jalan Mugas Dalam II/4, Kelurahan Mugasari, sekitar 1 Km dari Tugu Muda

Bangunan tua berarsitektur khas Tionghoa di Semarang juga dalam dikembangkan sedemikian rupa hingga mampu menjaring wisatawan. Contohnya klenteng-klenteng peninggalan Laksama Cheng Ho, seorang pengembara ternama asal Tiongkok yang berperan besar dalam perkembangan masyarakat Tionghoa di Semarang, dengan membuat 2 klenteng besar yakni Klenteng Gedung Batu atau yang dikenal dengan Sam Poo Kong dan Klenteng Gang Lombok atau Tay Kak Sie.

Di Klenteng Gedung Batu terdapat beberapa klenteng besar, gua yang dipercaya sebagai petilasan karena diyakini pernah ditinggali Chengho, dan patung Cheng Ho berukuran besar yang didatangkan dari Cina.

Pengunjung yang ingin masulk areal klenteng yang terletak di Desa Simongan, Kecamatan Semarang Barat ini dikenai tiket masuk Rp 3.000 per orang. Kalau ingin menyusuri bagian dalam klentengnya harus beli tiket lagi Rp 20.000 per orang. Dan jika ingin berfoto dengan mengenakan busana gaya Cina tempo doeloe dikenai tarif Rp 75.000 per orang.

Lain lagi dengan Klenteng Gang Lombok yang dibangun tahun 1772. Arsitekturnya lebih kuno. Di seberang jalan depan klenteng yang berada di Jalan Gang Lombok, kawasan pecinan Semarang ini berlabuh replika kapal Cheng Ho di sungai Kali Semarang.

Pemkot Semarang dan Pemprov Jateng rupanya sadar betul bahwa keberadaan sejumlah bangunan tua dan bersejarah di Kota Semarang menjadi aset pariwisata yang apabila dikelola secara profesional, menarik, dan kreatif, dapat menjaring wisatawan baik nusantara dan mancanegara.

Dengan menghidupkan bangunan tua dan bersejarah, bukan sekadar menyelamatkan nilai sejarahnya pun dapat menggerakan roda perekonomian masyarakat Kota Semarang dari kunjungan wisatawan.

Langkah ini memang bukan hal baru, sejumlah kota dan daerah lain sudah melakukan hal serupa dengan menghidupkan kawasan kota tua dengan bermacan bangunan tua dan bersejarahnya.

Langkah menghidupkan bangunan tua dan bersejarah itu kiranya berhasil menarik minat orang untuk bertandang seperti terlihat di kawasan Kota Tua di Jakarta, Surabaya, Sawahlunto, Bandung dan lainnya.

Di kawasan kota tua terutama di Jakarta yang dulu sepi, sejak adapenataan dan perbaikan fisik banguan tua tanpa merubah keaslian arsitekturnya ditambah pemanfaatan sejumlah gedungnya untuk museum, kafe, resto, dan lainnya, beberapa tahun belakangan pengunjung membludak sejak pagi hingga tengah malam dengan berbagai aktivitas wisata. Dan kini giliran Koata Semarang yang bakal menikmatinya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 02 Juli 2011

Ke Tengarong Lihat Festival Erau 2011

Ingin melihat suku-suku dayak se-Kaltim berkumpul? Datang saja ke Kota Teggarong, Kalimantan Timur (Kaltim) besok, Minggu (3/7/2011) karena ada pembukaan Festival Erau 2011 di Stadion Madya Aji Imbut, Tenggarong Seberang. Pembukaan pesta adat, seni, dan budaya Erau Kutai Kartanegara (Kukar) bertema "Tepong Tawar Di Tanah Kutai” ini akan berlangsung pukul 09.00 WITA. Ada apa saja?

Pada pembukaan Festival Erau 2011 akan ada penyalaan 7 brong atau obor dari pohon aren dan persembahan tarian massal.

Festival ini akan berangsung sampai tanggal 10 Juli 2011. Selama festival akan ada bermacam kegiatan antara lain pagelaran upaca adat Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, pentas seni, olahraga tradisional, pameran pembangunan, dan pasar rakyat.

Pameran kerajinan tangan dan pasar rakyat bertempat di halaman parkir Stadion Aji Imbut. Pengunjung yang ingin menyaksikan acara pembukaannya ditempatkan di tribun Barat blok A dan B atau di tribun Timur blok D Stadion Aji Imbut. Sedangkan blok C khusus untuk para kepala Desa, ketua RT, paguyuban-paguyuban se-Kukar, pegawai berprestasi, dan atlet berprestasi di Kukar.

Upacara Pra Erau
Sebelum pelaksanaan Festival Erau 2011 digelar, sudah diadakan Upacara Beluluh I Sultan H Aji Mohammad Salehuddin II di Kedaton Sultan Tenggarong, Rabu pagi (29/6).

Upacara adat Beluluh merupakan salah satu dari beberapa upacara khas Kesultanan Kutai yang memiliki kesakralan dan nilai ritualitas yang amat tinggi. Biasanya digelar pra Festival Erau.

Selain itu juga ada upacara adat lainnya seperti upacara Menjamu Benua, Merangin, dan upacara Mendirikan Tiang Kayu sebagai pertanda Erau boleh diadakan.

Upacara Beluluh diadakan karena penting sebagai media memohon kepada Tuhan YME agar Sultan siap lahir dan batin menghadapi pekerjaan besar menggelar Festival Erau di Tanah Kutai.

Usai Beluluh, diteruskan dengan upacara Menjamu Benua yang tidak dapat dipisahkan dari upacara Beluluh. Menjamu Benua menjadi media komunikasi dan informasi Sultan melalui perantara Dewa (dukun pria) untuk memberitahukan mahluk halus penghuni alam raya di Tanah Kutai.

Upacara menjamu benua ini berlokasi di 3 tempat berbeda, yakni diawali di Kepala Benua, Tanah Merah, Kelurahan Mangkurawang, Kecamatan Tenggarong, lalu di Buntut Benua di depan Kantor Bupati atau tepatnya di seputaran Pedesterian Jembatan Kartanegara Tenggarong, dan berakhir di Tengah Benua di kawasan dermaga depan Museum Mulawarman Tenggarong. Untuk simbolisasi ke-3 tempat upacara Menjamu Benua ini dilakukan di dalam Kota Tenggarong.

Tiga tempat tersebut ditandai dengan tempat menaruh sesaji. Dalam upacara ini disuguhkan bermacam lauk pauk seperti nasi, ketan ubi jalar merah, telor masak, ikan, ayam panggang, dan aneka kuliner khas Kutai yang ditaruh dalam sebuah Ancak atau piring lebar dibuat dari anyaman bambu dan rotan. Makanan tersebut untuk memberi makan mahluk gaib yang dipercaya sebagai penunggu Tanah Kutai.

Upacara ini dipimpin Dewa yang dibantu sejumlah Dewi (Dukun wanita) dan para Belian atau penari sakral yang membacakan mantra dalam bahasa khas yang berisi petuah atau pentujuk bagi sultan yang akan melaksanakan Erau.

Setelah itu Dewa dan Dewi serta para Belian menemui Sultan di Kedaton untuk melaporkan sudah menjalankan ketiga upacara ritual tersebut. Selepas Menjamu Benua diteruskan dengan Upacara Merangin pada malam hari selama 3 malam oleh para Dewa. Puncaknya upacara Mendirikan Tiang Ayu yang dipimpin Sultan sebagai tanda Erau dapat dimulai.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Januari-Mei 2011 Jumlah Wisman Naik, Bali Terfavorit

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Indonesia periode Januari-Mei 2011 mencapai 2,92 juta orang atau naik sekitar 5,41% dibandingkan periode sama tahun 2010 sebanyak 2,77 juta orang. Wisman terbanyak datang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Rusman Heriawan mengatakan sepanjang Januari-Mei 2011 jumlah wisman yang ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai sebanyak 1 juta orang naik 5,93% dibanding periode sama tahun 2010 sekitar 944.000 orang.

Rusman memperdikasi kunjungan wisman ke Indonesia pada Juni-Juli akan mengalami kenaikan. “Pada periode tersebut di luar negeri masuk musim panas jadi banyak turis asing yang bakal datang berlibur ke sini," jelasnya.

Wisman yang bertandang ke Indonesia, lanjutnya lewat beberapa pintu masuk utama bandara. Selain Bandara Nguri Rai, Bali, juga memalaui Bandara Soekarno-Hatta (Jakarta), Polonia (Medan), Sultan Syarif Kasim II (Pekanbaru), Sepinggan (Balikpapan), Juanda (Surabaya), Husein Sastranegara (Bandung), dan Bandara Hang Nadim, Batam.

BPS mencatat jumlah wisman yang masuk via Bandara Soekarno Hatta mengalami penurunan. Pada periode Januari-Mei 2011 jumlah wisman yang masuk dari bandara ini sebanyak 746.332 orang, turun 4,28% dari periode sama tahun lalu sebanyak 779.722 orang.

Optimis
Kendati mengalami kenaikan, jumlah wisman ke Indonesia dari pasar utama seperti Malaysia mengalami penurunan. Jumlah wisman yang datang dari negeri jiran tersebut pada periode Januari-April 2011 hanya 322.531 orang atau turun 12, 6% dibanding periode yang sama tahun 2010 sebanyak 369.696 orang.

“Pada tahun lalu jumlah wisman dari Malaysia naik dratis karena dampak dari kerusuhan yang terjadi di Bangkok, Thailand,” kata Direktur Promosi Luar Negeri, Kemenbudpar Noviendi Makalam usai menggelar Focus Group Discuccion Startegi Pemasaran Luar Negeri Pasar Malaysia, China, dan Korea Selatan di Jakarta, Kamis (30/6/2011).

Pasar utama lainnya, lanjut Noviendi mengalami kenaikan cukup baik seperti wisatawan dari Singapura. Sedangkan wisman dari China dan Korea Selatan meski naik namun peningkatannya kecil. Kendati begitu Noviendi tetap optmis target 7,7 wisman ke Indonesia tahun 2011 tercapai.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kartolo Mbalelo Menyindir Indonesia Secara Jenaka

Pementasan musikal ludruk "Kartolo Mbalelo" kembali ditampilkan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta hari ini, Sabtu (2/7/2011). Penampilan perdananya kemarin, Jum’at (1/7/2011) mendapat respon luar biasa dari masyarakat. Tiket masuknya habis terjual. Kalau kemarin Ketua Mahkamah Konsitusi Mahfud MD dan penyanyi dangdut berjuluk ratu ngebor Inul Daratista menjadi bintang tamu. Pementasan hari ini ada politisi Pramono Anum.

Menurut sutradara musikal ludruk Kartolo Mbalelo Sudjiwo Tedjo keikutsertaan Mahfud MD, Inul Dartista, dan Pramono Anum dilandasi atas persahabatan. “Saya kenal dan bersahabat dengan Prmaono Anum dan Inul Daratista, dan beberapa rekan lain berteman dengan Mahfud MD, jadi lebih enak karena sudah kenal,” jelasnya enteng.

Ide awal pementasan musikal ludruk khas Jawa Timuran ini, lanjut Sudjiwo ingin membuat pemberontakan. “Mbalelo itu kan artinya membangkang. Tapi setelah dibicarakan dengan rekan-rekan akhirkya kita lebih memilih intropkesi dan menata diri sendiri atau rumah tangga masing-masing,” jelasnya.

Pesannya yang ingin disampaikan, tambah Sudjiwo bahwa semua orang Indonesia saat ini saling curiga terutama di ranah luas. “Misalnya SBY curiga dengan Ical, Ical curiga dengan SBY dan lainnya.Tapi dalam kelompok kecil antarprofesi, antarteman seperti kita disini, kepercayaan itu masih ada,” terangnya.

Pada penampilan perdana kemarin, musikal ludruk Kartolo Mbalelo yang berlangsung sekitar 2,5 jam menampilkan Butet Kartaredjasa, Djaduk Ferianto, Agus Noor, Sujiwo Tejo, Kartolo, Rohana, Nurbuat, Cak Lontong, Loedroek ITB (Cak Fatah, Cak Giso, Cak Elfi), para penari Remo, Acapela Madura, Perguruan Sulat Tiga Barantai, musik Kuaetnika dan penampilan pendukung Inul Daratista, dan Mahfud MD.

Muatan politis tersaji kuat dalam musikal ludruk ini. Kritik yang disampaikan ada yang tersirat dan juga blak-blakan atau terbuka namuan dalam kemasan jenaka sehingga mengalir ringan dan santai.

Diceritakan Kartolo seorang seniman ludruk ternama asal Jawa Timur ingin dipinang politisi terkenal dan berkuasa untuk menjadi bendahara partai. Dia diimingi menjadi calon wakil presiden berduet dengan politisi tersebut yan ingin menjadi presiden. Segala cara dilakukan agar Kartolo mau mengikuti keinginan politisi tersebut. Kembaleloan Kartolo ini bukan cuma membuat orang-orang terdekatnya, sahabat bahkan istrinya marah. Dia tetap berpendirian keras dan berhasil menjadi pememangnya.

Hari ini, musikal ludrukan yang diproduksi Indonesia Kita dari Djarum Apresiasi Budaya ini menampilkan politisi Pramono Anum sebagai bintang tamu. Pementasan hari ini berlangsung 2 kali pada pukul 2 siang dan pukul 8 malam. Harga tiket masuknya VVIP Rp.200.000, VIP Rp.100.000, dan Balkon Rp.75.000 per orang.

Selain musikal ludrukan juga ada Pasar Kuliner yang menyuguhkan aneka masakan dan makanan khas Jawa Timur mulai pukul 12:00 WIB. Sebelumnya Indonesia Kita sukses menggelar pagelaran menarik Laskar Dagelan dan Beta Maluku.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Belanja Kebutuhan Lebaran di Kridaya 2011

Pameran kerajinan Indonesia dalam warisan budaya (Kridaya) yang akan di gelar di Jakarta Convention Center (JCC) pada 3-7 Agustus 2011 bertepatan dengan bulan Bulan Puasa Ramadhan, dapat menjadi pilihan masyarakat untuk mendapatkan bermacam kebutuhan lebaran. Ada produk apa saja?

Kendati pameran Kridaya kedua yang bertemakan “Meningkatkan Penggunaan Produk Kerajinan dalam Keseharian” ini memfokuskan pada kerajinan bambu, namun pengunjung dipastikan dapat memborong bermacam aneka produk lain untuk keperluan dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri atau lebaran.

Sejumlah produk yang masih berkaitan dengan lebaran seperti pakaian dari berbagai bahan antara lain batik, songket, sulam, bordir, mukena sampai toples- toples cantik untuk tempat aneka kue kering lebaran juga tersedia.

Menurut Ketua Panitia Pameran Kridaya 2011 Triesna Wacik, untuk memudahkan pengunjung mencari produk yang diinginkan, panitia menzonasi produk sesuai jenis barangnya. “Khusus batik ada di zonasi pakaian, zona aksesoris, dan sebagainya,” jelasnya di Jakarta, Jumat (1/7/2011).

Pameran yang diikuti 330 peserta terdiri atas produsen atau pengrajin dan pedagang dari 33 provinsi ini rencananya akan dibuka secara resmi oleh Ani Bambang Yudhoyono . Selama pameran akan ada berbagai kegiatan seperti lelang produk, talk show, fashion show, demo produk dan pertunjukan seni budaya. “ Pada pembukaan akan ada penampilan orkestra kecil yang memainkan aneka alat musik dari bambu,” terangnya.

Panitia menargetkan jumlah pengunjung pameran Kridaya kedua ini 50 ribu orang dengan nilai transaksi sekitar Rp 15 miliar. “Pameran tahun lalu pengunjungnya sekitar 30 ribu orang. Tahun ini dipastikan akan naik karena panitia sudah belajar dari pameran sebelumnya,” tambah Triesna.

Yang cukup menarik, meski pengunjung dikenakan tiket masuk Rp 10.000 per orang, namun panitia menyiapkan tajil berupa makanan atau minuman kecil untuk buka puasa selama pameran berlangsung.

Kata Triesna, pameran Kridaya kali ini juga akan memamerkan sertifikat UNESCO dari beberapa produk Indonesia yang diakui PBB antar lain sertifikat batik, keris, dan angklung. “Tujuannya untuk mengedukasi pengunjung akan sulitnya mendapatkan sertifikat itu supaya mereka tahu, mencintai, ikut melestarikan, dan menggunakan produk tersebut,” jelasnya.

Naskah: Adji Kurniawan(adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 30 Juni 2011

Gedung Lawang Sewu Bakal Jadi Pusat Kriya Nusantara


Gedung Lawang Sewu di Kota Semarang, Jawa Tengah kandung menjadi obyek wisata horor. Untuk merubah citra itu sejumlah pihak akan menjadikannya sebagai pusat kerajinan tangan dari berbagai daerah di Indonesia. Untuk mewujudkan itu dilakukan berbagai upaya antara lain meresmikan purna pugar cagar budaya Gedung A Lawang Sewu dan menggelar Pameran Kriya Unggulan Nusantara 2011.

Pelaksanaan pameran yang akan didahului dengan peresmian gedung tersebut rencananya akan diresmikan oleh Ani Bambang Yudhoyono selaku Pembina Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) pada, Selasa, 5 Juli 2011.

Menurut Ketua Bidang Promosi Pameran Trisna Wacik, peresmian gedung Lawang Sewu dan pameran yang akan dilakukan pada 5-10 Juli 2011 di gedung tersebut dalam upaya mendayakan gedung cagar budaya menjadi berdaya saing dan sekaligus berdampak ekonomi.

Bangunan cagar budaya di Indonesia, lanjut Trisna Wacik dibawahi berbagai instansi. Ada yang dibawahi Kemenbudpar, pemda, ada juga PT. Kereta api Indonesia (PT KAI), dan lainnya Untuk itu diperlukan sinergi antara intansi yang membawahi gedung tersebut dengan pemda setempat yang didorong dan difasilitasi pemerintahan pusat.

“Keinginan itu harus datang dari yang punya gedung dan daerah dimana tempat gedung itu berada. Kalau pusat bersemangat tapi daerah tidak, ya percuma,” jelas istri Menbudpar Jero Wacik ini di Jakarta, Kamis (30/6/2011).

Pemanfaatan gedung cagar budaya bisa bermacam.macam selain untuk museum juga untuk gedung pertemuan, ruang pameran dan sebagainya. “Yang penting pendayagunaan gedung cagar budaya tersebut tidak melanggar aturan-aturan yang berlaku terkait pemanfaat gedug cagar budaya tersebut,” terang Trisna lagi.

Dalam kaitannya menjadikan Lawang Sewu sebagai Gedung Pusat Kriya Unggulan Nusantara, Dekranas akan menyiapkan 35 ruangan berukuran 6 X 4 meter untuk 33 provinsi dan 2 ruangan besar untuk Kota dan Kabupaten Semarang untuk digunakan sebagai ruang pamer produk-produk unggulan dari masing-masing provinsi atau daerah.

“Penggunaan ruangan tersebut berlaku sejak peresmian gedung dan pameran. Dan diharapkan selanjutannya dimanfaatkan dan dikelola dengan baik oleh masing-masing provinsi,” jelas Okke Hatta Radjasa selaku ketua panitia penyelenggara Pameran Kriya Unggulan Nusantara 2011.

Penyelanggaran pameran yang dilakukan Dekranas bekerjasama dengan Pemprov Jawa Tengah dan PT KAI serta dipayungi Kemenbudpar ini juga didukung oleh 5 kementerian lainnya yakni Kemendagri, Kemendustrian, Kemendag, Kemenkop dan UKM, dan Kementrian BUMN.

“ Dengan memaksimalkan sinergi 6 kementerian ini, diharapkan Lawang Sewu nantinya bukan lagi dikenal sebagai produk-produk horornya melainkan sebagai etalasi produk-produk kerajinan unggulan dari seluruh daerah di Indonesia yang dapat dibeli oleh wisatawan,” harap Okke.

Upaya lain untuk merubah imej itu, pihak-pihak yang bersinergi ini akan mencoba merubah museum Lawang Sewu tidak kaku menjadi pusat informasi dan ilmu sehingga museumnya hidup artinya didayagunakan sesuai perkembangan masa kini. “Banyak ilmu dan pengetahuan yang dapat ditawarkan dari gedung Lawang sewu ini kepada pengunjung, antara lain dari arsitektur dan sejarahnya,” tambah Okke.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 29 Juni 2011

Mengembalikan Kedamaian Poso dengan Sintuwu Maroso



Tak bisa dipungkiri konflik di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) beberapa tahun silam, membuat pariwisatanya terpuruk. Imej tidak aman terlanjur tertanam hingga wisatawan masih ragu berwisata ke Poso. Segala upaya pun dilakukan, misalnya dengan menggelar Festival Danau Poso. Namun imej tak sedap itu belum sepenuhnya sirna. Solusi terbaik apa untuk mengembalikan citra damai Poso?

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Bambang H. Suta Purwana, peneliti dari Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Kebudayaan, Badan Pengembangan Sumber Daya Budpar, Kemenbudpar di Poso selama 10 hari pada Desember 2009 lalu, dia menemukan gambaran masyarakat Poso sebelum kerusuhan atau konflik.

Dalam hasil penelitian bertajuk "Sintuwu Maroso ri Tana Poso : Analisis Kapasitas Modal Sosial Masyarakat Poso dalam Membangun Integrasi Sosial Pasca Konflik", yang disampaikan di Jakarta, Selasa (28/6/2011), Bambang mengarisbawahi bahwa dahulu orang Poso hidup rukun, gotong royong, dan penuh toleransi antarpemeluk agama.

Dulu saat Natal, orang-orang Islam berkunjung mengucapkan selamat Natal kepada saudara, tetangga, dan sahabatnya yang beragama Kristen. Sebalikanaya ketika Lebaran, orang-orang Kristen pun mendatangi rumah orang-orang Islam untuk mengucapkan selamat Idul Fitri. “Pada pawai Natal, anak-anak Muslim banyak yang ikut bergabung dengan teman-temannya yang Kristiani,” jelasnya.

Namun kondisi itu berubah ketika terjadi konflik berdarah yang banyak pihak disebut-sebut sebagai ‘Perang Agama’. Sikap orang Poso berubah menjadi parsial, sektarian, dan intoleran apabila berhadapan dengan masalah hubungan sosial antarwarga berbeda agama.

”Masyarakat Poso pascakonflik menjadi “terbelah”. Masyarakat berbondong-bondong mencari wilayah yang aman dalam standar keagamaan mereka,” jelasnya.

Pascakonflik, lanjut Bambang terjadi segregasi penduduk hampir total. ”Orang Muslim mengungsi atau mengelompok di wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim di Poso Kota dan Poso Pesisir. Sedangkan orang Kristen juga mengelompok di wilayah “Kristen” di Tentena,” terangnya.

Yang lebih parah, pascakonflik meninggalkan prasangka dan hilangnya kepercayaan dalam masyarakat antarkelompok Islam dan Kristen. ”Saling diwaspadai dan mewaspadai lalu muncul istilah kitorang yanag berarti kita orang yang seiman atau seagama, dan istilah dorang yang berarti mereka yang beragama lain,” ungkapnya.

Menurut Bambang, kebersamaan masyarakat Poso yang bersifat lintas agama dan etnis dapat kembali dibangun dengan menerapkan filosofi budaya Sintuwu Maroso.

Penerapam filosofi tersebut antara lain melakukan tradisi tolong-menolong yang dilandasi rasa persaudaraan antarkerabat, tetangga, sahabat dan kenalan yang berakar pada tradisi suku bangsa Pamona ketika masih hidup sebagai peladang, ekonomi subsisten, masa pra-kolonial. Disamping itu menjalankan mosintuwu atau beraktivitas tolong menolong disebut dan menerapkan posintuwu atau saling menyumbangkan uang, binatang ternak atau pun barang.

Sintuwu Maroso sebagai model sosial pendekatan rekonsiliasi konflik di Poso, lanjut Bambang dapat berhasil dilakukan di ranah antarkerabat yang berbeda agama dan ranah hubungan ketetanggaan dalam satu kampung. ”Ketika dipakai sebagai pendekatan rekonsiliasi dalam skala antarkomunitas yang tidak saling mengenal secara pribadi akan gagal,” jelasnya mengiangat Sintuwu maroso berakar pada budaya Pamona sementara di Poso banyak suku bangsa lain yang berbeda entitas budayanya.

Kata Bambang, ada beberapa upaya bina perdamaian yang dapat dilakukan dari elemen masyarakat sipil di Poso, antara lain mengaktifkan peran pedagang dan pembeli di pasar tradisional terutama perempuan untuk menjalin interaksi antarwarga berbeda agama.

Jaringan tokoh-tokoh agama moderat harus berinisiatif melakukan kunjungan persahabatan ke komunitas-komunitas yang berbeda agama. ”Mereka membentuk jaringan early warning system untuk menerangkan akibat tindak kekerasan lintas agama,” jelasnya.

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) membuat program temu anak-anak korban konflik. Dan organisasi olah raga tingkat kampung melakukan pertandingan persahabatan antarkampung yang “berbeda agama”

Dengan menerapkan kembali filosofi Sintuwu Maroso sebagai model pendekatan rekonsiliasi konflik di Poso, diharapkan masa depan Poso damai, dalam artian berkembangnya masyarakat sipil yang kuat berupa organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan yang inklusif.

”Masyarakat yang memiliki kemampuan keswasembadaan dan keswadayaan, serta kemadirian yang tinggi sehingga tidak terkooptasi oleh kekuatan politik dan ekonomi tertentu,” jelas Bambang yang Minggu depan akan meneliti kearifan lokal orang Samelue, Aceh dalam mengatasi tsunami.

Pesona Danau Poso
Bila kondisi dan citra damai sudah tercipta di Poso, wisatawan dengan sendirinya akan datang kembali ke Poso untuk berwisata ke sejumlah obyeknya seperti Danau Poso dan lainnya.

Danau seluas sekitar 32.000 hektar ini membentang dari Utara ke Selatan sepanjang 32 Km dengan lebar 16 Km dan kedalaman mencapai 510 meter. Danau yang berada pada ketinggian 657 meter di atas permukaan laut ini, memiliki keunikan berupa pantai berpasir putih dan kuning keemasan serta bergelombang seperti air laut.

Panoramanya sekelilingnya sangat indah. Ada perbukitan dan hutan yang berdiri dan memagari danau. Udaranya sejuk menyegarkan dan air danuanya jernih.

Danau yang berada di Kota Tentena, Kabupaten Poso, Sulteng ini letaknya sangat strategis di lintasan perjalanan Trans Sulawesi antara Toraja, Poso, Gorontalo, dan Manado. Karenanya kerap disinggahi wisatawan sebelum terjaadi konflik. Danau ini dapat dicapai dengan perjalanan darat 57 Km dari Kota Poso atau 283 Km dari Kota Palu, Ibukota Sulteng.

Untuk menjaring wisatawan kembali ke danau yang menjadi ikon wisata Kabupaten Poso ini, setiap tahun Pemprov Sulteng menggelar Festival Danau Poso. Event budaya ini menyuguhkan bermacam pertunjukan kesenian daerah dari kabupaten/kota se-Sulteng, pameran kerajinan dan kuliner khas Sulteng, serta atraksi olahraga tradisional dan permainan rakyat setempat.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Kemenbudpar

Read more...

Selasa, 28 Juni 2011

Lelang Mutiara di Lombok Sumbawa Pearl Festival 2011


Ingin memborong mutiara asli Lombok dan Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) untuk aksesoris maupun investasi? Datang saja ke Mataram, Lombok saat penyelenggaraan Lombok Sumbawa Pearl Festival 2011. Pasalnya di festival khusus mutiara ini akan ada pelelangan dan pameran mutiara yang dijamin keasliannya. Ada apa lagi?

Lombok Sumbawa Pearl Festival (LSPF) 2011 yang digelar Disbudparprov NTB bersama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) tahun ini mengambil tempat di Grand Legi Hotel, Mataram, sekitar 4 Km dari Bandara Selaparang pada 6-11 Juli 2011.

Lelang mutiara (pearl) yang menjadi daya tarik utama festival ini akan berlangsung di venue yang sama selama 2 hari pada 7-8 Juli.

Nilai transaksi penjualan mutiara pada LSPF tahun lalu sebesar 20 Kg seharga 45.000 dolar AS. “Tahun ini ditargetkan mencapai 150.000 dolar AS,” kata Kadisbudpar NTB Lalu Gita Ariadi di Jakarta, Selasa (28/6/2011).

Ketua Komisi Mutiara Indonesia (KMI) Bambang Setiawan memastikan mutiara yang dilelang di LSPF 2011 adalah mutiara asli dari Lombok dan Sumbawa. “Mutiara-mutiara yang dilelang diambil dari perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia atau ASBUMI,” jelas Bambang yang juga wakil ketua bidang organisasi ASBUMI.

Selain memborong mutiara asli, di LSPF kali ini pengunjung juga dapat melihat panen mutiara yang berlangsung pada 8 Juli sekaligus pembukaan LSPF 2011 dan penobatan Puteri Mutiara 2011 serta fashion show. Pengunjung juga dapat meilhat pameran mutiara, produk kerajinan dan kuliner khas NTB serta pameran foto terkait festival ini.

LSPF kali ini juga menggelar tour yang diikuti buyers dan media pada 9 Juli.
Gubernur NTB M Zainul Majdi mengatakan lewat LSPF ingin menjadikan mutiara sesuatu yang lekat dengan NTB. “Bila bicara mutiara orang akan langsung ingat NTB khususnya Lombok dan Sumbawa,” jelasnya.

Dirjen Pemasaran Pariwisata Kemenbudpar Sapta Nirwandar menambahkankan LSPF 2011 yang digelar dalam rangka menyambut Visit Lombok Year 2012 ini diharapkan mampu mendorong kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia khususnya ke Lombok dan Sumbawa.

“Dalam festival ini akan dihadiri buyers 36 negara dan buyers dari Indonesia. Mereka akan mengikuti lelang mutiara dan mengikuti tour ke sejumlah obyek wisata menarik antara lain melihat pembudidayaan mutiara di sekitar periaran Lombok dan Sumbawa,” jelasnya.

Nah, Anda tertarik memborong mutiara asli untuk aksesoris maupun investasi, datang saja ke LSPP 2011 di Lombok.

Naskah: Adj Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Akbar Handoko, Pusformasbudpar

Read more...

Senin, 27 Juni 2011

Batal ke Keraton Jogja, Richard Gere ke Bali



Usai melakukan peace walk dan bermeditasi di Candi Bodobudur, Richard Gere berencana mengunjungi Keraton Yogyakarta. Sayangnya kunjungan aktor besar Hollywood ke istananya Sri Sultan Hamengkubuwono X ini batal. Esoknya, Dia pun terbang ke Bali. Kenapa?

Kadisbudpar Provinsi DIY, Tazbir mengatakan kebatalan kunjungan Richard Gere ke Keraton Yogyakarta untuk jamuan makan malam dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X, dikarenakan Sultan sedang berada di luar kota mengikuti Silatnas di Bandung.

“Rencana semula Richard Gere akan mengunjungi Keraton Yogyakarta pada Senin malam, 27 Juni 2011 untuk bertemu Sultan sekaligus jamuan makan malam di Keraton Yogyakarta,” kata Tazbir.

Lantaran urung ke Keraton Yogyakarta, aktor yang tersohor berkat film Pretty Woman ini tidak dapat menyaksikan gamelan dan tari klasik yang biasanya disajikan pihak keraton setiap ada tamu istimewa atau VVIP.

Kendati batal, Tazbir sudah cukup senang dengan kehadiran aktor yang seluruh rambut dan alis matanya sudah memutih ini ke Borobudur melalui Yogyakarta. ”Dengan begitu pariwisata Yogyakarta ikut terpromosikan dan aman dikunjungi wisman,” jelasnya.

Di Candi Borobudur Richard Gere menyaksikan The Masterpiece of Borobudur Ballet atau Sendratari Mahakarya Borobudur di panggung terbuka Aksobya pada Minggu malam.

Senin paginya (27/6/2011), dia melakukan peace walk atau jalan perdamaian dengan mengelilingi Candi Borobudur sebanyak 3 putaran sambil membaca parita-parita atau doa-doa agama Budha. Dia ditemani sejumlah bhiksu dari beberapa wihara di Indonesia. Dia pun melakukan meditasi di stupa utama candi peninggalan wangsa Syailendra ini selama 30 menit. Gere mengaku mengikuti jejak sang mahaguru Buddha Athista yang pernah berkunjung ke candi Budha terbesar di Indonesia ini seribu tahun lalu.

Rencananya dia akan menanam pohon bodhi di pelataran I sisi Timur candi Budha ini, namun batal karena dia merasa tak nyaman dengan suasana ramai di candi tersebut, terutama dengan banyaknya fotografer dan media yang mengikutinya.

“Padahal fotografer sudah diberitahu tidak boleh menyalakan flash, tapi tetap saja menyalakan,” kata Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko, Purnomo Siswo Prasetya. Dan Senin malamnya Raicahr Gere jaga batal berkunjung ke Keraton Yogyakarta.

Selasa pagi (28/6/2011), aktor beragama Budha yang juga pemimpin International Campaign for Tibet (ICT) ini bertolak terbang ke Bali. Usai mengunjungi pulau dewata, Richard akan kembali ke negaranya.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 26 Juni 2011

Nonton Sendratari Mahakarya Borobudur dengan Richard Gere



Minggu malam ini, pementasan Sendratari Mahakarya Borobudur digelar di Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Pementasan yang melibatkan lebih dari 200 penari Jawa klasik ini menjadi lebih istemewa karena ditonton Richard Gere. Apa yang membuat aktor besar Hollywood ini jauh-jauh datang ke candi Budha yang pernah dinobatkan sebagai salah satu keajaiban dunia ini?

Ketua Pementasan Sendratari Mahakarya Bodorbudur Pujo Suwarno menjelaskan Richard Gere, aktor yang melejit namanya lewat film Pretty Woman yang dibintanginya bersama aktris cantik Julia Roberts ini dipastikan akan datang dan menyaksikan pementasan Sendratari Mahakarya Bodobudur pada Minggu malam (26/6/2011).

Kedatangan Richard Gere, lanjut Pujo berawal dari keinginannya melakukan kunjungan spiritual ke Candi Borobudur. “Tujuan kedatangannya juga ingin memperkenalkan Candi Borobudur khususnya ke kancah internasional. Keinginan itu disambut baik Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dan kemudian kita atur kedatangan beliau”, jelasnya.

Rencananya aktor Hollywood yang menganut agama Budha ini datang bersama keluarga. Rombongannya akan mendarat di Bandara Adi Sucipto, Jogja pada Minggu pukul 3 sore. Dia langsung menuju Candi Sewu yang berada di kawasan Candi Prambanan, Sleman, Yogayakarta untuk melaksanakan ritual berdoa. Kemudian dia beristirahat sejenak di kawasan Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Pada malam harinya dia dipastikan akan menonton pementasan Sendratari Mahakarya Borobudur yang dimulai pada malam hari pukul 7.00-9.00 WIB. Pementasan sendratari ini melibatkan lebih dari 200 penari Jawa klasik yang berasal dari sekitar Candi Borobudur. Lokasi pementasannya di panggung terbuka Aksodya, sebelah Tenggara Candi Borobudur.

Saat ini masih sedang dalam persiapan. Beberapa petugas masih tengah menyiapkan dekorasi latar belakang panggung pementasan.

Sendratari Mahakarya Borobudur menggabungkan dua genre tarian, yakni klasik dan kontemporer. Sendratari ini berkisah tentang pembangunan Candi Borobudur yang berlangsung pada abad 8, masa pemerintahan dinasti Syaelendra.

Kehadiran Richard Gere ke Candi Borobudur tidak membuat candi ini ditutup bagi wisatawan. Menurut Pujo, Candi Bodobudur tetap buka untuk umum seperti biasa. Tapi untuk dapat menyaksikan Sendratari Mahakarya Borobudur, penonton dibatasi mengingat kapasitasnya terbatas. Harga tiket menonton pementasan sendratari ini paling murah Rp 50.000. “Tiket termahalnya tidak bisa saya sebutkan. Yang jelas masih terjangkau oleh warga kita”, jelasnya.

Festival Malioboro 2011
Kalau pengunjung tidak bisa menyaksikan Sendratari Mahakarya Bodobudur dengan Richard Gere, tak usah sedih. Datang saja ke Jalan Malioboro, Jogja. Pasalnya di jalan legendaris dan jantung wisatanya Kota Gudeg ini ada Festival Malioboro 2011 yang berlangung Sabtu-Minggu, (25-26/6/2011).

Festival yang dibuka oleh Kadisbudpar Provinsi DIY, Tazbir, Sabtu (25/6/2011), diramaikan dengan pentas kesenian tari angguk dan reog.

Panggung pentas seni digelar di Monumen Serangan Umum 1 Maret dan di halaman Kantor Dinas Pariwisata DIY di Jalan Malioboro. Sekurangnya 10 sastrawan kondang akan tampil membacakan puisi di festival ini, antara lain Sukma Ayu, Mastofa W Hasyim, Abdul Wachid BS, Hamdy Salad, Budi Ismanto, Ulfatin CH, dan Budhi Santosa.

Selain pementasan bermacam kesenian tradisional termasuk aneka atraksi dari berbagai komunitas di Jogja, festival ini juga menggelar bazar yang menjual aneka kerajinan dan kuliner khas Jogja.

Tazbir menjelaskan Festival Malioboro digelar setahun sekali dalam rangka menyambut liburan panjang. “Festival Malioboro tahun ini menampilkan potensi dari berbagai daerah dengan tema ‘Gema Istimewa untuk Indonesia’ dengan harapan wisatawan akan semakin senang berwisata ke Yogyakarta,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP