. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Sabtu, 19 Agustus 2017

Countdown Asian Games 2018 Bikin Pesona Monas dan Jembatan Musi Kian Terdongkrak, Ini Rahasianya

Tak bisa dipungkiri kesuksesan acara Countdown Asian Games 2018 yang digelar Panitia Pelaksana Asian Games 2018 (INASGOC) di dua kota, Jakarta dan Palembang pada Jumat 18 Agustus 2018 malam, membuat pesona dan kepopuleran  Tugu Monumen Nasional (Monas) Jakarta, dan Jembatan Musi atau Jembatan Ampera, Palembang, Sumatera Selatan semakin terdongkrak.

Lihat saja selama acara Countdown Asian Games 2018 berlangsung, Monas dan Jembatan Musi terekpos secara nasional di layar kaca bahkan mendunia berkat penyebaran informasi lewat beragam media sosial (medsos).

Di bagian pertama mulai pukul 19.00-19.30 WIB untuk ceremony countdown, acara ini ditayangkan di semua stasiun TV. Sedangkan di bagian kedua (19.30-21.00) untuk hiburan selama 90 menit ditayangkan di dua stasiun TV.

Wajah Monas pun tampil menawan selama acara berlangsung. Lampu warna-warni menyelimuti seluruh badan Monas, menampilkan berbagai gambar, termasuk cahaya berwarna Merah Putih.

Begitupun dengan Jembatan Musi yang terlihat jelas di layar dengan lampu-lampu warna-warni yang memantul di permukaan air Sungai Musi.

Dalam acara bertema "Energy of Asia" ini, kedua nama ikon landmark tersohor ini pun kerap disebut-sebut host-nya yakni Sarah Sechan dan Daniel Mananta.

Beberapa hari sebelum acara hitung mundur di Jakarta dan Palembang yang kabarnya menghabiskan dana Rp15 Miliar ini berlangsung, sejumah media massa terutama media online, cetak, dan elektronik bahkan medsos sudah menyebut atau mencantumkan Monas dan Jembatan Musi.

Nama lain yang ikut terdongkrak akibat dari pernyelenggaraan Countdown Asian Games 2018, tentu saja Bundaran HI-Jakarta dan Benteng Kuto Besak, Sungai Musi serta Stadion Jakabaring Palembang.

Begitupun saat peyelenggaraan dan setelah acara tersebut berlangsung. Sejumlah media massa, weblog, dan medsos (youtube, twitter, FB, instagram, dan lainnya), berlomba-lomba mengekspos acara spektakuler ini hingga membuat pesona dan kepopuleran Monas dan Jembatan Musi semakin terdongkrak.

Berdasarkan pengamatan TravelPlus Indonesia, ada beberapa hal yang membuat acara Countdown Asian Games 2018 berhasil menyedot perhatian puluhan ribu penonton secara langsung di dua kota tersebut, dan jutaan pasang mata lewat layar kaca, belum lagi lewat pemberitaan media massa dan sejumlah medsos.

Pertama ditangani panitia yang profesional, kemudian kemasan acaranya bertaraf internasional. Buktinya artis yang ditampilkan benar-benar artis pilihan, baik itu artis internasional, terutama dari Asia maupun dari Indonesia yang popular dan kekinian. 

Di Palembang ada Judika, Rizky Febian, Denada, dan DJ Jesse ditambah Tari Gending Sriwijaya yang membuka acara di kawasan Benteng Kuto Besak, di tepi Sungai Musi, dekat Jembatan Musi acara berlangsung pukul 19.00 WIB.

Sementara di Jakarta, menghadirkan deretan artis papan atas seperti Raisa, Tulus, Ikke Nurjanah, Dira Sugandi, Jflow hingga Far East Movement serta 2 personel SNSD, Taeyeon dan Hyoyeon asal Korea Selatan.

Selain itu ada aksi colosal dance  bertajuk Ruwat Bumi karya koreografer Indonesia Eko Supriyanto yang berkiprah di panggung seni tari internasional.

Ruwatan tersebut menceritakan kepercayaan Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games 2018 merupakan suatu kebanggaan bangsa dan momentum untuk menunjukkan jati diri sebagai penyelenggara yang baik serta mampu meraih prestasi.

Kedua, kehadiran Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) turut melambungka acara ini. 

Presiden Jokowi bukan sekadar hadi tapi sekaligus melemparkan panah LED (light emmiting diode) di Monas sebagai tanda dimulainya jam digital yang diletakkan di Bundaran Hotel Indonesia dan di Stadion Gelora Sriwijaya, Kompleks Olah Raga Jakabaring.

Ketiga, adanya drone formation yang spetakuler dan kekinian, berupa aktraksi 300 drone yang membuat beragam formasi selama sekitar 6 menit antara lain formasi tulisan Asian, Asian Games 2018, RI, Pembawa Obor, Bintang, Bendera Merah Putih, dan Lambang Garuda. 

Ratusan drone yang menebarkan cahaya berwarna-warni tersebut diterbangkan tidak jauh dari Tugu Monas, sepintas seperti ribuan kunang-kunang tengah bermain-main di dekat pucuk Tugu Monas.

Melihat suguhan yang apik dan berkelas dunia itu ditambah pesta kembang api yang wah, wajar kalau perhelatan Countdown Asian Games 2018 mendapat pujian banyak orang.

Lalu apa yang bisa dipetik dari kesuksesan Countdown Asian Games 2018 buat penyelengaraan event-event terkait pariwisata, entah itu festival, parade budaya, suguhan konser musik, pameran wisata, bazaar kuliner, dan lainnya?

Tak ada pilihan selain digarap oleh panitia yang profesional, kreatif dan kekinian, dengan kemasan yang berkelas nasional bahkan internasional jika ingin meraup wisatawan nusantara dan mancanegara secara siqnifikan, minimal jadi bahan perbincangan positif media massa dan medsos. Bukan asal jadi, bukan dijadikan ‘proyek’.

Event yang dibuat jangan menjiplak 100 % atau mengikuti daerah/kota lain. Event-nya harus punya daya tarik/keunikan tersendiri.

Kalau menampilkan karnaval, parade atau pawai budaya, pesertanya harus diseleksi baik atraksi yang ditampilkan maupun kostum yang dikenakan, mulai dari alas kaki sampai penutup kepala yang menarik, unik, dan atau wah.

Apabila menyuguhkan artis/penyanyi/band harus benar-benar yang berkelas, tersohor atau paling tidak tengah digemari. Begitupun dengan koreografi dan kelompok musik pengiringnya.

Tak lupa promosi gencar jauh-jauh hari sebelum event lewat beragam media promosi serta melakukan jumpa pers pra event dan peliputan on event dengan melibatkan sejumlah jurnalis/travel blogger andal.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: @genpisumsel & adji 

Captions:
1. Wajah monas saat acara Countdown Asian Games 2018.
2. Pesta kembang api di kawasan Benteng Kuto Besak, dekat jembatan Musi.
3. Pesona Sungai Musi dan Jembatan Ampera di pagi hari
4. Wajah bagian depan Benteng Kuto Besak jelang sore hari.
5. Sepenggal raut Monas di malam hari.

Read more...

Jumat, 18 Agustus 2017

Biaya Pendakian Cartenz Mahal Tapi Tetap Diincar Pendaki, Ini Alasannya

“Gue pengen banget ke Cartenz. Berapa ya biayanya?” begitu kata Nia asal Jakatta, usai menonton special screening film Negeri Dongeng di Theatre 1, XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-72, Kamis (17/8/2017).

Gue juga mau banget. Berapa besar budget-nya, mana gue tahu,” timpal Ani rekannya.

Hal senada juga diutarakan beberapa penonton pria yang kebanyakan para pendaki gunung lainnya selepas menyaksikan film garapan sutradara Anggi Frisca itu.

Rupanya dari 7 puncak tertinggi atau seven summits Indonesia yang dimuat dalam film berdurasi 90 menit tersebut yakni pendakian Gunung Kerinci (Sumatera) November 2014, Gunung Semerau (Jawa) Desember 2014, Gunuung Rinjani (Lombok-NTB) Januari 2015, Bukit Raya (Kalimantan) Februari 2015, Gunung Rantemario (Sulawesi) Mei 2015, Gunung Binaiya (Pulau Seram-Maluku) November 2015, dan pendakian ke Gunung Cartenz di Papua yang termasuk dalam seven summits dunia pada April 2016, pendakian ke Cartenz-lah yang cukup menyita perhatian penonton.

Abis ngiri gue liat Nadine Chandrawinata yang bukan pendaki aja bisa sampe Cartenz, puncak tertinggi di Indonesia ini. Masa gue ga bisa,” ujar Nia.

Seperti diketahui Nadine Chandrawinata yang gemar berpetualang terutama menyelam (diving) dan pernah menyandang gelar Puteri Indonesia 2005 itu selain sebagai produser pendamping di film produksi Aksa 7 ini juga menjadi guest expeditor atau  ekspeditor tamu untuk pendakian Cartenz di Papua.

Kalo gue tertantang sama trek medannya. Pas lihat Nadine manjat pake tali karmantel dan nyebrangi jurang dengan meniti tali di film itu. Widiiih keren abiess..,” timpal Ani.

Lalu berapa biaya pendakian ke Cartenz yang berketinggian 4.884 Mdpl di Papua itu? Data dari berbagai sumber yang TravelPlus Indonesia kumpulkan, harga paket pendakian Carstenz seharga Rp 55 juta per orang.

Itu harga  tahun lalu. Bisa jadi tahun ini atau tahun depan naik hargan paketnya. Harga tersebut sudah termasuk transportasi pergi pulang (PP) Jakarta - Nabire, pesawat Nabire-Sugapa, biaya porter, dan pemandu selama dua minggu pendakian, serta peralatan pendakian kelompok, makanan, dan minuman.

Lalu apa yang bikin mahalnya biaya pendakian Cartenz? TravelPlus Indonesia kembali mencatat beberapa faktor.

Pertama tentu saja lantaran akses ke puncak tersebut sangat sulit. Buktinya kalau dari Jakarta, pendaki harus menggunakan pesawat menuju Nabire, Papua selama sekitar enam jam.

Kalau dengan kapal Pelni bisa berhari-hari. Dari Nabire masih harus menyambung lagi dengan pesawat kecil ke Desa Sugapa di Kabupaten Intan Jaya.

Lalu biaya porter-nya juga mahal. Biaya porter untuk sekali perjalanan pendakian Cartenz bisa mencapai Rp 8 juta bahkan lebih. Biasanya setiap pendaki membutuhkan dua porter.

Tak ketinggalan faktor keamanan. Kalau ada konflik, biaya pendakian semakin mahal lantaran ada biaya tak terduga, misalnya biaya porter yang terkadang bisa naik 100 persen.

Terakhir, biaya hidup mahal dan tidak pasti lantaran jaraknya jauh dan sulit sehingga biaya alat tranportasinya juga mahal.

Kendati mahal, tetap saja sejumlah pendaki banyak yang mengincar Cartenz. Maklum keberhasilan mencapai Puncak Cartenz merupakan gengsi tersendiri di mata para pendaki.

Kenapa bisa begitu? Karena selain sebagai atapnya Indonesia, Cartenz pun menjadi salah satu dari 7 atapnya dunia bersama Mount Everest (Asia), Kilimanjaro (Afrika), Elbrus (Eropa), Aconcagua (Amerika Selatan), Mckinley (Amerika Utara), dan Vinson Massif (Antartika).

Melihat predikat Cartenz yang menggiurkan itu, wajar rasanya banyak pendaki di dalam negeri seperti Nia, Ani, dan beberapa pendaki lainnya usai menonton film Negeri Dongeng, kepincut hatinya untuk mewujudkan mimpinya mengibarkan Bendera Merah-Putih lalu menyanyikan lagu Indonesia Raya di Puncak Cartenz sebagaimana berhasil dilakukan Nadine Chandrawinata.

Namun ketika ditanya pendakian mana yang paling mengerikan di film yang juga dibintangi Media Kamil alias Memed sebagai ekspeditor tamu di pendakian Bukit Raya, Kang Bongkeng pendakian Rinjani, Matthew Tandioputra-pendaki termuda di pendakian Semeru, dan Darius Sinathrya di pendakian Binaiya, kedua perempuan muda yang mulai menggemari mendaki gunung 2 tahun belakangan ini kompak menjawab ya pendakian Gunung Bukit Raya.

“Gue takut sama paceeeet. Pas lihat adegan beberapa pendaki sampe berdarah-darah disedot pacet di Gunung Bukit Raya, hiiii..., sumpah gue merinding,” aku Nia diamini Ani.



Film ber-genre petualangan semi dokumenter ini selain memamerkan pesona keindahan alam masing-masing gunung, baik di perjalanan maupun di puncaknya, pun juga menghadirkan suka-duka serta hambatan yang dialami para pemainnya, seperti susahnya melewati medan jalan tanah dan berlumpur dengan sepeda motor seperti yang di alami Memed, harus dorong truk yang terperosok di kubangan berlumpur menuju desa terakhir dalam pendakian Rantemario, dan lainnya.

Termasuk bagaimana menguasai teknik panjat tebing (rockclimbing) dengan menggunakan peralatan panjat untuk melewati medan terjal menuju Puncak Cartenz sebagainama dipertontonkan Nadine Chandrwianata yang bikin Nia, Ani, dan sejumlah pendaki muda lainnya jadi ngiri.

Rencananya, film Negeri Dongeng tentang perjalanan pendakian seven summits di Indonesia oleh 6 movie maker muda Indonesia yang tergabung dalam Aksa7 dan 1  ekspeditor tamu  akan ditayangkan serentak di seluruh Indonesia pada September 2017 mendatang.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: @nadinelist & adji

Captions:
1. Salah satu medan terjal yang harus dilalui para pendaki untuk menggapai Puncak Cartenz sebagaimana tertuang di film Negeri Dongeng.
2. Beberapa penonton film Negeri Dongeng saat acara special screening.
3. Registrasi jurnalis/travel blogger special screening film Negeri Dongeng.
4. Tas mungil berisi kaos, stiker film Negeri Dongeng dan lainnya.
5. Nadine Chandrawinata saat syuting film Negeri Dongeng di Cartenz, Papua.

Read more...

Menpar Arief Yahya Pakai Busana Adat Palembang, Tak Kalah Keren dengan Presiden Jokowi yang Kenakan Baju Adat Banjar

Semangat memakai baju adat daerah bukan cuma memesona Istana Negara saat  Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72, Kamis, 17 Agustus 2017. Di Lapangan Utama Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), spirit yang sama pun terasa. Mulai dari Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, sejumlah deputi, staf ahli, kepala bidang sampai ajudannya ikut berbusana bermacam adat daerah.

Menpar Arief Yahya yang bertugas sebagai pembina Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI tahun ini di Kemenpar misalnya tampil mengenakan pakaian adat Palembang, Sumatera Selatan.

Jasnya yang dikenakannya berwarna hitam senada dengan celana panjang dan sepatunya. Sedangkan sarung songket yang melilit bagian pinggangnya berwarna merah dengan benang emas, selaras dengan warna tanjak atau ikat kepalanya.

Pada hari istimewa bagi bangsa Indonesia, Arief Yahya yang kerap disapa AY sepertinya tak mau kalah keren dengan Big Boss-nya yakni Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang memakai baju adat Banjar, Kalimantan Selatan yang akhirnya mendapat sorotan media massa dan media sosial.

Berpakaian adat Kota Pempek, jelas membuat orang nomor satu di Kemenpar itu nampak berbeda dari biasanya. Terlihat lebih muda dan gagah.

Maklum dalam kesehariannya saat bertugas, Arief Yahya lebih sering memakai baju putih bertuliskan Wonderful Indonesia/Pesona Indonesia ataupun kemeja batik lengan panjang dengan warna yang kerap dipakainya adalah merah.

TravelPlus Indonesia sebelumnya pernah bertanya sekilas. “Pak AY suka batik warna merah ya?”. Jawab Arief Yahya: “Iya saya ada beberapa baju batik warna merah,” akunya.

Sementara para deputinya, seperti Deputi Bidang Pengembangan Kelembagaan Kepariwisataan Ahman Sya, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara I Gde Pitana, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara Esthy Rekho Astuti, Depudi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Dadang Rizki Ratman serta Sekretaris Kementerian Ukus Kuswara, meskipun mengenakan pakaian adat namun tak ‘senekat’ Arief Yahya.

Kelimanya cuma berani mengenakan pakaian adat dari daerahnya masing-masing. Dengan kata lain tak seberani Arief Yahya yang mengenakan baju adat Palembang, asal daerah istrinya. Padahal Arief Yahya berdarah Banyuwangi dan Banten.

Ahman Sya, Dadang, dan Ukus misalnya mengenakan pakaian adat Sunda. Hanya warna baju, kain, dan blangkon (semacam peci)-nya saja yang beda.

Ahman Sya berjas dan bercelana panjang warna hitam dengan kain yang melilit pingangnya berwarna merah dengan motif batik.

Jas dan celana yang dipakai Ukus berwarna coklat dengan kain dan blangkon berwarna putih bermotif batik. Sedangkan Dadang memakai jas hitam dengan sarung coklat bermotif batik senada dengan blangkonnya.

Begitupun I Gde Pitana yang berasal dari Pulau Dewata, memakai pakaian adat pria Bali berupa jas putih, sarung kotak-kotak warna-warni dan udeng atau ikat kepala dengan warna senada sarungnya.

Sementara Esthy, sekalipun memakai kebaya warna merah senada dengan jilbab-nya dan bawahan berupa kain berwarna putih selaras selendangnya, tetap nyaris tak berbeda jauh dengan gaya penampilan kesehariannya saat bertugas.

Sepertinya Esthy belum seberani Iriana Jokowi yang memakai busana adat Minang, Sumatera Barat di Istana Negara sehingga tampil benar-benar beda dari biasanya.

Apalagi jika dibanding dengan istri Panglima TNI Gatot Nurmantyo yang tampil nyentrik meskipun berjilbab tapi memakai baju khas Papua lengkap dengan rumbai-rumbainya.

Alhasil istri Panglima TNI Gatot Nurmantyo mendapat hadiah sepeda dari Presiden Jokowi karena terpilih sebagai salah satu dari lima orang yang memakai pakaian adat daerah terbaik di Istana Negara.

Sekalipun belum seberani Arief Yahya, apa yang sudah dilakukan para deputi Kemenpar dengan tampil mengenakan pakaian adat daerahnya patut diacungi jempol.

Termasuk beberapa staf ahli dan khususnya, salah satunya Hari Untoro, Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural. Pria asli Jawa ini mengenakan pakaian adat Jawa, berupa baju hitam, kain coklat, dan blangkon hitam yang masing-masing bermotif batik.

Tak ketinggalan Kabid Promosi Wisata Budaya, Kemenpar Wawan Gunawan yang mengenakan kostum adat Sunda Cimahi asal daerahnya berwarna hitam, dan juga Fachrul Rozi alias Ozy ajudan Arief Yahya memakai pakaian adat pria khas Minang berwarna merah.

Semuanya memang memberi warna berbeda dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI tahun ini. Tak kalah seru dan tak kalah semarak dengan para pejabat tinggi yang hadir di Istana Negara.

Tapi, andai saja para deputi Kemenpar berani memakai baju adat daerah dari daeran lain misalnya Papua, Aceh, Kalimantan, Nias, dan lainnya.

Begitupun dengan staf ahli/khusus, asdep, kabid, dan ajudannya. Pokoknya bukan dari daerah asalnya, tentu akan jauh lebih seru dan menarik dari sisi berita lantaran berani bukan sekadar beda, pun karena mau keluar dari zona aman.

Fenomena pesona baju adat daerah sebenarnya sudah membahana sejak Presiden Jokowi dan Wapres Jusuf Kalla (JK) memakai baju adat saat acara Sidang Tahunan MPR, DPR, DPD, yang digelar pada hari Rabu (16/8/2017).

Ketika itu Presiden Jokowi yang memakai baju adat Bugis, Sulawesi Selatan langsung mendapat banyak pujian sehingga beliau mendapat julukan Daeng Jokowi. Begitupun Wapres JK yang mengenakan baju adat pria Jawa, kontan mendapat sebutan Mas JK dari media.

Dari sisi pariwisata, mengenakan baju adat daerah jelas sangat kuat relevansinya. Apalagi dikenakan oleh petinggi dan pejabat negara dengan berani memakai baju adat daerah bukan daerah asalnya, terutama  di momen-momen spesial.

Sebab, bukan hanya memberi citra positif adanya semangat Indonesia Incorporated, pun sekaligus menjadi wadah promosi akan kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia ke tingkat nasional dan dunia.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis)
Foto: @kemenpar, humas-kemenpar, & @sekretariat.kabinet

Captions:
1. Menpar Arief Yahya tampil beda dengan berbusana adat Palembang, Sumsel.
2. Menpar Arief Yahya memberi sambutan sebagai Pembina Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-72 di Kemenpar.
3. Menpar Arief Yahya dan para deputi serta beberapa staf ahlinya berbaju adat daerah di hari istimewa.
4. Para PNS Kemenpar turut mengenakan pakaian daerah.
5. Kompak berbusana adat daerah di momen istimewa HUT Kemerdekaan RI ke- 72 di Istana Negara.
6. Presiden Jokowi pimpin upacara 17 Agustus 2017 dengan mengenakan pakaian adat Banjar, Kalsel di Istana Negara.
7. Presiden Jokowi dapat pujian berbusana adat Bugis, Sulsel di Sidang Tahunan MPR, DPR, dan DPD 2017.

Read more...

Kamis, 17 Agustus 2017

Nadine Chandrawinata Magnet Film Negeri Dongeng, Siapkan Fisik 6 Bulan Gapai Cartenz

“Mendaki tak selamanya peluh dan ketegangan. Mendaki juga bisa tersenyum”. Begitu tulis Nadine Chandrawinata (32) di salah satu foto dalam akun instagramnya.

Di foto tersebut, Nadine memang tengah tersenyum meskipun tengah berjuang menapaki medan terjal Cartenz dengan tali karmantel untuk pembuatan film Negeri Dongeng.

Dalam film Negeri Dongeng yang berkisah pendakian 7 gunung tertinggi (seven summits) di Indonesia, Nadine kebagian jatah mendaki Puncak Cartenz.

Titik triangulasi berketinggian 4.884 Mdpl di Papua itu merupakan puncak gunung tertinggi di Indonesia sekaligus salah satu dari 7 atapnya dunia.

Sadar kalau dirinya bukan anak gunung melainkan penyelam (diver), penyandang gelar Puteri Indonesia 2005 itu pun melakukan persiapan selama 6 bulan sebelum berhasil menancapkan kakinya di salah satu puncak Pegunungan Jayawijaya, yakni Puncak Jaya atau Puncak Cartenz (Cartenz Pyramid).

“Selama 6 bulan, saya persiapan fisik dan mental dengan olahraga, mendaki salah satu gunung di Nepal dan nanjak Gunung Prau 2 kali serta belajar secara technical,” terangnya kepada TravelPlus Indonesia di sela-sela acara special screening (bukan gala premiere) film Negeri Dongeng di Theatre 1, XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta Selatan, bertepatan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-72, Kamis (17/8/2017).

Kakak kandung Marcell dan Mischa Candrawinata ini mendaki Cartenz bersama 9 orang dari tim Aksa 7, beberapa di antaranya bertugas sebagai juru kamera. Kebetulan di film produksi Aksa 7 ini, Nadine juga merangkap sebagai produser pendamping.

Pendakiannya dimulai 5 Mei 2016 dari Timika ke Sugapa menuju ke basecamp terakhir setiap hari dari jam 9 pagi sampai 5 sore. Sampai di bascamp Nadine dan rekan-rekannya mendirikan tenda, memasak, dan sudah tidur dari pukul 8 malam.

Dini hari Nadine menuju puncak, berangkat pukul 4 pagi dan setelah seharian mendaki, akhirnya semuanya sampai di Puncack Carstenz. Total pendakian Nadine dengan tim Aksa 7 di Cartenz selama 3 Minggu.

Kata perempuan cantik berdarah Jerman ini, medan terberat pendakian ke Cartenz saat menuju puncaknya. “Harus manjat pakai tali dan menyeberangi jurang dengan tali dan peralatan khusus panjat juga. Pokoknya sangat menegangkan,” terangnya.

Namun yang tak kalah berat menurut Nadine menahan ego sendiri, bagaimana supaya bisa melewati setiap ujian atau rintangan menjadi ucapan syukur. “Aku bersyukur berada dalam tim yang tepat dan luar biasa mendukung,” akunya.

Setibanya di salah satu puncak impian para pendaki Indonesia dan mancanegara ini, Nadine mengibarkan Bendera Merah-Putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Satu lagi yang membuat Nadine haru, sesampainya di Puncak Cartenz, rekan-rekannya membuat perayaan ulang tahunnya.

“Biar sederhana tapi sangat berkesan, rupanya tanpa disengaja pendakian ke cartenz dilakukan beberapa hari menjelang ulang tahunku,” jelasnya seraya tersenyum manis.

Namun Nadine menyayangkan kondisi salju di Cartenz yang menurutnya semakin menyusut hingga 60 % karena dampak dari pemanasan global.

Kata artis yang punya akun Youtube ‘Ruang Nadine’ berisi kreativitas dan informasi terkait Nadine ini, kalau kondisi tersebut dibiarkan sekitar 20 tahun ke depan Indonesia tidak memiliki salju lagi, khususnya di Cartenz.

Selain mengupas pendakian Cartenz yang dilakoni Nadine, film Negeri Dongeng ini pun menceritakan 6 pendakian ke puncak gunung tertinggi lainnya di Indonesia yaitu Kerinci di Sumatera, Semeru (Jawa), Rinjani (Lombok-NTB), Bukit Raya (Kalimantan), Latimojong (Sulawesi), dan Binaiya di Pulau Seram-Maluku.

Di acara special screening film Negeri Dongeng yang juga dihadiri Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr. Ir. Siti Nurbaya dan Medina Kamil (eks presenter acara Jejak Petualang) yang kebagian mendaki Gunung Bukit Raya di Kalimantan untuk film ini, Nadine tampil cantik bersahaja.

Dia mengenakan kaos hitam bertuliskan Negeri Dongeng berwarna kuning dengan bawahan berupa rok panjang batik berwarna coklat kekuningan dengan aksen hitam. Sepatunya berwarna merah senada dnegan warna lipstiknya. Sementara rambut ikal panjangnya dengan tatatan simple, cukup diikat ke belakang.  

Meskipun hanya sebagai ekspeditor tamu sebagaimana Kang Bongkeng, Medina Kamil, Darius Sinathrya, dan pendaki termuda Matthew Tandioputra di film ini, tak bisa dipungkiri Nadine menjadi magnet utamanya.

Buktinya pendakian Nadine ke Cartenz sengaja ditempatkan di awal dan bagian akhir agar penonton terpikat kemudian bertahan menyaksikan film semi dokumenter bergenre petualangan ini sampai tuntas.

Nadine yakin lewat film yang disutradarai Anggi Frisca (pendaki dan personil Aksa 7) ini yang bukan hanya memamerkan pesona keindahan alam 7 gunung tertinggi Indonesia pun sharing persiapan dalam pendakian dan juga kesulitan yang bakal dihadapi, bisa membuat semakin banyak pendaki Indonesia dan mancanegara yang akan mendaki seven summits-nya Indonesia termasuk ke Cartenz meskipun biayanya tidak murah.

Menurut perempuan yang kini tengah fokus dengan persoalan lumba-lumba keliling ini, siapapun bisa mendaki seven summits Indonesia sekalipun bukan anak gunung seperti dirinya, asalkan dilakukan dengan persiapan fisik-mental yang matang dan dengan tim yang solid.

“Mudah-mudahan penonton mendapatkan spirit pendakian lewat film Negeri Dongeng ini. Dan yang terpenting dalam melakukan pendakian harus tetap ramah lingkungan, dengan mengurangi membawa logisik kemasan plastik dan lainnya serta membawa turun sampah sendiri untuk mengurangi global warming,” pesan Nadine. 

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: @nadinelist & adji k.

Captions:
1. Nadine Chandrawinata tetap tersenyum saat menapaki medan terjal Cartenz.
2. Aksi Nadine memanjat tebing menuju Cartenz.
3.  Sepenggal adegan film Negeri Dongeng saat pendakian ke Cartenz.
4. Nadine tampil cantik bersajaha di acara special screening film Negeri Dongeng.
5. Para penonton berfoto berlatar backdrop film Negeri Dongeng.

Read more...

Rabu, 16 Agustus 2017

Ini Sederet Keuntungan Traveller Keliling Dunia Menggunakan Skyroam

Suka travelling di dalam dan luar negeri tapi kerap terkendala dalam berkomunikasi dan berinternet? Nah sekarang ada solusinya. Anda bisa menggunakan perangkat bernama Skyroam Indonesia Partner.

Perangkat router Skyroam Indonesia Partner hari ini diluncurkan (soft launching) di Jakarta, sehari jelang hari Kemerdekaan RI ke-72.

Menggunakan Skyroam banyak keuntungannya. “Penggunanya bisa tetap mengakses internet tanpa membeli sim card lokal ketika bepergian ke luar negeri,” terang Chief Executive Officer (CEO) Skyroam Indonesia Partner, Chandra Hisani kepada TravelPlus Indonesia usai jumpa pers soft launching Skyroam Indonesia Partner, bersamaan dengan soft launching OnTA di Grand Mercure Hotel, Harmoni, Jakarta, Rabu (16/8/2017).

Pengguna Skyroam akan mendapatkan WiFi mobile (MiFi) yang aman kemanapun dia pergi. “Aktifkan pass 24 jam sehari untuk mendapatkan intgernet global tak terbatas di manapun,” terang Chandra.

Harga Skyroam pun terjangkau mulai Rp 85.000 untuk kawasan Asia dan Rp 110.000 untuk negara-negara di luar Asia.

“Harga tersebut berlaku dalam 24 jam penggunaan atau 1 day pass. Pada saat pemakaian, skyroam dapat digunakan untuk lima gadget sekaligus baik itu perangkat HP ataupun komputer,” papar Chandra.

Menurut anak muda ini, Skyroam  dikembangkan di Silicon Valley, Amerika Serikat pada 2009.  Di Indonesia hadir  sejak Agustus 2016.

Saat ini Syroam telah didukung oleh kecepatan jaringan internet 4G, jadi lebih cepat aksesnya.

Keistimewaan Skyroam lainnya, tidak terbentur oleh batas negara maupun perbedaan waktu.

Perangkat ini, lanjut Chandra sangat berguna dan mudah digunakan bagi wisatawan yang senang berpergian. Dengan Skyroam, internet selalu bersama pemakainya setiap saat. “Walaupun ada perbedaan waktu, sistemnya tetap 24 jam sejak diaktifkan,” jelas Chandra.

Skyroam sudah mencakup 100 negara yang tersebar di benua Amerika, Eropa, Asia, dan Afrika. “Sistemnya, pengguna mendapatkan akses internet melalui wireless unlimited. Tapi setelah mengakses internet 50 mb dalam 24 jam, kecepatannya akan menurun,” terangnya.

Di Indonesia, perangkat Skyroam memang masih disewakan. “Targetnya semester dua 2018 bisa terjual sebanyak 2.500 day pass setiap bulan usai peluncuran. Pada semester satu 2017, Skyroam sudah digunakan sebanyak 1.200 day pass," ungkap Chandra.

Untuk mencapai target tersebut, lanjut Chandra, timnya akan memperluas jaringan Skyroam di Indonesia. “Kami sudah siapkan call center guna meningkatkan pelayanan di 10 jaringan Skyroam antara lain di Surabaya, Bandung, Tangerang, dan tentu saja di Jakarta,” terang Chandra.

Berkaitan dengan Hari Kemerdekaan RI ke-72, setiap I day pass Skyroam akan disumbangkan Rp 1.000 untuk membatu pendidikan yang lebih baik buat anak-anak Indonesia, terutama di daerah-daerah  terpencil.

“Dana tersebut akan diakumulasi selama setahun mulai besok, 17 Agustus 2017 sampai 17 Agustus 2018,” tambah Chandra.

Keuntungan lainnya, Skyroam ini juga mampu menggunakan terjemahan aplikasi dan peta saat bepergian.

“Intinya Skyroam Indonesia Partner ini menjadi  solusi sempurna dalam berkomunikasi dan berinternet bagi para traveller dan lainnya karena selalu terhubung dengan WiFi di dalam dan luar negeri. Jadi tak perlu lagi repot mencari dan mengganti-ganti kartu SIM, cukup dengan Skyroam,” pungkas Chandra.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. CEO Skyroam Indonesia Partner Chandra Hisani memberi penjelasan terkait perangkat Skyroam dalam acara soft launching Skyroam & OnTA di Jakarta.
2. Saat jupa pers dengan sejumlah wartawan/travel blogger di Grand Mercure Hotel, Harmoni, Jakarta.
3. Salah satu wadah promo Skyroam Indonesia Partner.

Read more...

OnTA Targetkan 1 Juta Pengguna Tahun Pertama, Ini Keistimewaannya

Online Travel Assistant alias OnTA, sebuah aplikasi di smartphone berbasis Android hari ini soft launching di Jakarta, tepatnya sehari menjelang HUT Kemerdekaan RI ke-72. Hebatnya CEO-nya berani pasang target sampai 1 juta pengguna dalam tahun pertama. Wow, apa saja ya keistimewaan OnTA?

CEO OnTA Peter Sengkey mengatakan sesuai logo OnTA, aplikasi ini menjadi wadah bagi empat (4) pilar yaitu traveler, tour leader, local guide, dan travel vendors atau para pelaku usaha di industri wisata.

Segment pasar OnTA adalah para pemakai smartphone berusia 13 hingga 55 tahun atau para pengguna aktif media sosial (medsos) untuk mencari informasi dan berkomunikasi dalam dunia maya.

“Dalam tahun pertama, kami targetkan sekitar 700 ribu sampai 1 juta pengguna OnTA,” aku Peter saat jumpa pers soft launching OnTA & Skyroam Indonesia Partners dengan sejumah media di Jakarta, Rabu (16/8/2017).

Keistimewaan OnTA sebagai wadah untuk 4 pilar di atas sangat banyak. Setiap pengguna OnTA, lanjut Peter dapat memposting foto-foto dan video yang berhubungan dengan dunia travelling atau kuliner yang menarik untuk dibagikan dan anggota lainnya dapat memberi komentar.

“Pengguna juga dapat membuat group tersendiri misalnya group pecinta kuliner dan pengguna lain dpat join ke group tersebut. Bisa juga membuat group private atau tertutup, misalnya group keluarga yang hanya dapat diakses oleh anggota private tersebut,” terang Peter.

Kelebihan OnTA lainnya, terdapat fitur peta (map) yang dapat menampilkan lokasi terkini para anggotanya berada dan juga dapat melikat lokasi anggota group private.

“Fitur ini dapat dilihat kalau anggota memberikan ijin atau setting untuk membuka lokasinya berada di dalam OnTA. Hal ini bertujuan untuk menjaga privasi anggota yang bersangkutan,” tambah Peter.

Sesama anggota OnTA juga dapat berkomunikasi secara langsung dengan anggota lain dengan fitur Chatting. “Fitur chatting-nya masih sederhana, dan akan terus kami upgrade,” ujar Peter.

Satu lagi keistimewaan OnTA, ada fitur “Link” dengan berbagai aplikasi dan website yang dibutuhkan para traveller untuk keperluan perjalanan seperti Tiket.com, Agoda.com, Booking.com, World Embassy, Safetravel, Halaltrip, dan lainnya.

“Jadi kalau mau cari paket wisata, hotel, tiket, asuransi perjalanan, alamat kedutaan, dan lainnya tidak perlu ke luar aplikasi lagi. Semuanya tersedia dalam OnTA,” jelas Peter.

Ke depan, Peter berjanji akan menambah fitur-fitur menarik lainnya. “Kami juga sedang dalam proses pembuatan aplikasi untuk platform iOS sehingga OnTA dapat digunakan oleh pengguna iPhone tahun depan,” terangnya.

Peter berharap OnTA yang merupakan karya anak bangsa Indonesia ini bisa menjadi The World Travel Community.

“Bukan hanya dipakai oleh masyarakat Indonesia tapi juga mancanegara sehingga objek-objek wisata yang ada di dalam negeri, dapat dilihat oleh pengguna OnTA di berbagai negara lain,” pungkasnya.

Pantauan Travelplus Indonesia, acara soft launching OnTA & Skyroam Indonesia Partner yang bertempat di Grand Mercure Hotel, Harmoni, Jakarta berlangsung sukses dan berkesan, dihadiri sejumlah pengusaha travel agent, tour leader, komunitas traveller/backpackers, travel blogger, wartawan, dan pelaku usaha wisata lainnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. CEO OnTA Peter Sengkey menjelaskan keistimewaan aplikasi OnTA ke sejumah media/travel blogger di Jakarta.
2. Lokasi jumpa pers soft launching OnTA & Skyroam Indonesia Partner.
3. Peter Sengkey memberi sambutan di acara soft launching OnTA & Skyroam Indonesia Partner.

Read more...

Selasa, 15 Agustus 2017

Usai Hibur Presiden Jokowi di Istana Negara, Tim Gandrung Banyuwangi Bakal Tampil Nonstop 2 Jam di Pantai Boom

Selesai tampil di Istana Negara pada peringatan Kemerdekaan ke-72 Republik Indonesia pada 17 Agustus 2017, tim Gandrung Banyuwangi langsung mempersiapkan diri untuk perhelatan akbar bertajuk Gandrung Sewu dengan menampilkan 1.350 penari di Pantai Boom, Banyuwangi, Jawa Timur, 8 Oktober mendatang.

“Di event Gandrung Sewu nanti, ribuan penari itu akan tampil nonstop selama 2 jam dalam episode Kembang Pepe. Mereka akan menari di bibir Pantai Boom, Banyuwangi yang eksotik. Monggo hadir,” kata Budianto, Penanggung Jawab Delegasi Kesenian Gandrung Banyuwangi yang akan tampil di Istana Negara 17 Agustus 2017 ini, kepada TravelPlus Indonesia lewat pesan WA di Jakarta, Selasa (15/8) siang.

Menurut Budianto tim Gandrung Banyuwangi yang akan tampil di Istana Negara pas Hari Kemerdekaan tahun ini berjumlah 200 penari dengan 16 pemusik dengan alat musik gamelan Banyuwangen lengkap, dan ditambah 2 sinden.

“Semua penarinya peremuan adalah pelajar SMP dan SMA yang dipilih dari 923 penari yang mengikuti audisi,” ungkapnya.

Mereka, lanjut Budianto akan tampil tanggal 17 Agustus 2017 setelah pembacaan Detik-Detik Proklamasi.

“Sebelum berangkat ke Jakarta mereka sudah berlatih 6 kali selama 2 Minggu. Pada hari ini mereka melakukan gladi resik, sebelum tampil pas hari Kemerdekaan tahun ini,” tambah pendiri Paguyuban Pelatih Tari dan Seniman Banyuwangi atau Patih Senawangi yang kini menjabat sebagai penasehat.

Tim Gandrung yang tampil di Istana Negara ini, sambung Budianto merupakan tim inti dari para penari Gandrung Sewu yang setiap tahun tampil di Pantai Boom, termasuk yang akan tampil di Gandrung Sewu tahun ini.

“Adapun yang kita tampilkan di Istana Negara ini adalah cuplikan kesenian Gandrung diawal pertunjukan yang disebut Jejer, yaitu tarian selamat datang bagi para tamu undangan dan pengunjung atau penonton,” beber Budianto.

Tim Gandrung Banyuwangi ini tiba di Jakarta Senin (14/8) dini hari dan akan pulang ke Banyunwangi Jumat (18/8) pagi. “Selama di Jakarta, kami menginap di Desa Wisata, TMII Jakarta,” aku Budianto.

Ketika disinggung apakah nanti tim Gandrung akan bertemu langsung dengan Presiden Jokowi sebelum atau selepas tampil di Istana Negara, Budianto mengatakan pihaknya belum mendapat kepastian.

“Sampai sampai saat ini belum ada konformasi, jadi kami tidak dapat memastikan apakah nanti tim Gandurng ini akan bertemu dan berbincang dengan Presiden Jokowi atau tidak,” terangnya.

Menurut Budianto kesenian Gandrung adalah kesenian yang tumbuh, berkembang, dan hidup dalam masyarakat Banyuwangi.

Pada awal sejarahnya, Gandrung ditarikan oleh laki-laki yang bernama Marsan, dan dia menari sebagai bagian perjuangan untuk mengumpulkan para pejuang yang bercerai-berai pasca-perang Bayu, perang di Banyuwangi.

Setelah Marsan meninggal, lanjut Budianto baru diwariskan kepada Semi sebagai Gandrung perempuan pertama.

Semula Gandrung memang hanya hidup dan berkembang di masyarakat etnis Osing. “Tapi kemudian menyebar ke seluruh Banyuwangi yang masyarakatnya heterogen,” papar Budianto.

Untuk melestarikan Gandrung, lanjut Budianto di Banyuwangi mulai dari SD dan SMP dianjurkan diajarkan sebagai ekstra-kulikuler (eskul).

“Di Banyuwangi, tarian Jejer Gandrung juga dibuat sebagai tari garapan yang diwajibkan sebagai tari selamat datang bagi tamu-tamu yang berkunjung atau berwisata ke Banyuwangi. Ada SK Bupati-nya. Gandrung juga dijadikan sebagai maskot pariwisata Banyuwangi,” jelasnya lagi.

Tarian gandrung belakangn ini juga kerap ditampilkan untuk hajatan atau keramaian lainnya. “Biasanya berlangsung semalam suntuk,” jelas Budianto.

Jauh sebelum tampil di Istana Negara untuk acara Agustusan tahun ini, tim Gandrung Banyuwangi juga pernah tampil di Istana Negara. “Kami pernah tampil pada 17 Agustus 2007 saat acara Penurunan Bendera. Ketika itu yang tampil sebanyak 100 penari,” terang Budianto.

Selain itu, Presiden Jokowi juga pernah mengundang penari Gandrung Banyuwangi pada peringatan Sumpah Pemuda 20 Oktober 2016 dengan jumlah penari 70 orang.

“Tim Gandrung kami juga pernah tampil menyambut Wakil Presiden atau Wapres di Lapangan Makodam Surabaya dengan formasi 700 penari. Dalam kelompok kecil, tim Gandrung kami juga sering memenangkan festival tari baik di tingkat Jawa Timur maupun Nasional,” aku Budianto.

Bahkan di akun Instagram @banyuwangi_kab, memuat foto penari Gandrung dengan  keterangan bahwa mereka pun pernah tampil di World Expo Milan, Italia. Ini membuktikan Gandrung sudah go international.

Melihat sederet pengalaman dan prestasinya, tak heran kalau tim Gandrung Banyuwangi kembali dipanggil Orang Nomor Satu di RI ini untuk memeriahkan Hari Kemerdekaan RI ke-72 di halaman Istana Negara, Jakarta Pusat, Kamis 17 Agustus 2017 sebagai penutup rangkaian upacara kemerdekaan.

Tari Jejer Gandrung yang akan ditampilkan kali ini, lanjut Budianto menggambarkan keceriaan remaja putri dalam menatap masa depannya.

Para penari akan mengenakan kostum Gandrung berwarna hitam dan merah dengan selendang merah serta kain panjang hitam. “Namun yang paling khas dari pakaian penari Gandrung perempuan adalah mahkotanya yang disebut Omprok,” pungkas Budianto.

Berkat penampilan Kesenian Gandrung di Istana Negara, Jakarta pada hari spesial Kemerdekaan Indonesia tahun ini, bukan hanya kian melambungkan Gandrung sebagai kesenian tradisional asli Banyuwangi sekaligus membanggakan warga dan Pemkab Banyuwangi, pun nama Banyuwangi sebagai destinasi wisata dan budaya berikut objek wisatanya antara lain Pantai Boom ikut terangkat lewat pemberitaan sejumlah jurnaslis, travel blogger, dan netizen di media sosial.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: @banyuwangi_kab

Captions:
1. Sejumah penari Gandrung Banyuwangi tampil dalam event tahunan Gandrung Sewu di Pantai Boom, pinggir pesisir Banyuwangi.
2. Tim Gandrung Banyuwangi berfoto bersama usai gladi resik di Istana Negara Jakarta, Selasa (15/8/2017).
3. Promo penampilan tim Gandrung Banyuwangi di Istana Negara Jakarta Agustusan tahun ini via medsos.
4. Berpakaian penari gandrung.
5. Putri-putri remaja ramaikan Gandrung Sewu di Pantai Boom.
6. Aksi para penari Gandrung dilihat dari atas.

Read more...

Minggu, 13 Agustus 2017

Potensial Jaring Wisman, Lomba Lari Lumpur Bakal Jadi Event Tahunan Berkelas Internasional

Lomba Lari Lumpur Arus Liar Bravo 2017 potensial menjaring wisatawan bukan hanya nusantara pun mancanegara. Bahkan di ajang perdana ini, pesertanya ada yang berasal dari Jerman, Perancis dan Aljazair. Melihat potensi itu, event yang memadukan olahraga lari dan wisata alam (sport tourism) ini ke depan bakal diagendakan jadi event tahunan berkelas internasional.

Hal itu disampaikan Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami dalam sambutannya pada acara penyerahan medali kepada para pememang Lari Lumpur Arus Liar Bravo 2017, di kawasan wisata arung jeram Sungai Citarik, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, Minggu (13/8).

"Pelaksanaaan lomba Lari Lumpur ini harus menjadi agenda rutin tahunan. Pelaksanaannya harus ditingkatkan dan diakui secara internasional sehingga akhirnya dapat menarik wisatawan baik nusantara maupun mancanegara untuk melihat lomba Lari Lumpur ini,” jelas H. Marwan.

Perpaduan antara kegiatan olahraga dengan pariwisata dalam bentuk lomba Lari Lumpur ini, lanjut H. Marwan ke depannya semoga akan memberikan kontribusi yang besar bagi percepatan pertumbuhan pariwisata dan pengembangan ekonomi masyarakat lokal, khususnya di Kecamatan Cikidang.

“Semoga lewat Lari Lumpur ini dapat meningkatkan PAD Sukabumi lewat sektor pariwisata selain dari sektor pertanian. Dan Sekaligus dapat menambah pendapatan bagi masyarakat setempat agar lebih sejahtera,” harap H. Marwan.

Menurut H Marwan lewat event Lari Lumpur ini juga bisa sekaligus mempromosikan Geopark Nasional Ciletuh-Pelabuhan Ratu yang saat ini tengah berjuang agar bisa ditetapkan menjadi Geopark Dunia oleh Unesco Global Geopark.

Lomba Lumpur juga digagas oleh komunitas, juga harus menjadi local event yang berbasis masyarakat sehingga nantinya bisa menjadi even tahunan kebanggaan dan andalan Kabupaten Sukabumi.

“Intinya lomba Lari Lumpur juga harus melibatkan partisipasi masyarakat lokal agar masyarakat merasa memiliki event ini sebagaimana event-event di Bali,” tegasnya.

Untuk menjadikan Lari Lumpur berkelas internasional, sambung H. Marwan tak ada cara lain selain mengagendakannya menjadi event tahunan Pemkab Sukabumi sehingga ada anggaran tetap yang diturunkan. “

Di samping itu promosinya harus lebih gencar dan hadiahnya ditingkatkan,” tambah H. Marwan.

Senada dengan Bupati Sukabumi, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Sukabumi H. Dana Budiman berjanji akan menambah hadiah untuk menaikkan gengsi sekaligus menarik peminat peserta Lari Lumpur ke depan.

“Kalau tahun ini total hadiahnya katanya Rp 22 juta, tahun depan Insya Allah bisa Rp 100 juta,” ungkap H. Dana.

Pada kesempatan penyerahan hadiah bagi para pemenang Lari Lumpur 2017, hadir pula bos Arus Liar dan Bravo Adventure sekaligus penggagas lomba Amalia Yunita (Yuni), perwakilan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang turut mendukung event ini yakni Kepala Sub Bidang (Kasubid) Promosi Eko Wisata H. Ehsan, unsur Muspika Sukabumi dan undangan lainnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Sejumlah peserta Lari Lumpur 2017 berfoto bersama Bupati Sukabumi H Marwan Hamami.
2. Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami memberi sambutan sebelum penyerahan hadiah.
3. Beberapa peserta Lari Lumpur 2017 bersama Kadispar Sukabumi H. Dana Budiman.
4. Bupati Sukabumi berbincang dengan penyelenggara dan pendukung Lari Lumpur Arus Liar Bravo 2017.

Read more...

Ini Sederet Keistimewaan Lari Lumpur Arus Liar Bravo 2017

Lomba Lari Lumpur Arus Liar Bravo 2017 punya banyak keistimewaan. Salah satunya berlokasi di kawasan Citarik, Sukabumi yang berpanorama elok, dikelilingi perbukitan hijau masih di kaki Gunung Halimun-Salak dengan persawahan dan perkebunan serta lintasan yang bervariasi, ditambah pesona aliran sungai yang berjeram-jeram.

Pendiri Arus Liar dan Bravo Indonesia sekaligus penggagas lomba Lari Lumpur 2017, Amalia Yunita mengatakan kawasan Sungai Citarik merupakan salah satu dari 15 destinasi petualangan yang ada di Indonesia.

“Saya dan beberapa rekan sudah mengumpulkan data 15 destinasi petualangan se-Indonesia, salah satunya kawasan Sungai Citarik yang menjadi lokasi Lari Lumpur 2017,” terang Yuni begitu sapaan akrabnya kepada TravelPlus Indonesia di lokasi start Lari Lumpur 2017 di Bravo Adventure, Citarik, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (13/8) pagi.

Bukan hanya pesona alam yang geulis (cantik), akomodasi yang ditawarkan untuk peserta maupun pengunjung lomba Lari Lumpur 2017 ini pun sangat memikat.

Ada dua pilihan jenis akomodasi yang menawarkan konsep back to nature. Akomodasi di Arus Liar lebih ke cottages dengan nuansa tradisional seperti Nusa Tradisional Cottages dan Kampung Ngaloen yang bergaya rumah tradisional orang Sunda dengan pemandangan Sungai Citarik berhutan lebat.

Selain itu ada Bukit Bambu Cottages dan Camping Ground dengan pemandangan persawahan padi yang subur.

“Kalau di Bravo Adventure yang belum lama beroperasi benar-benar berkonsep berkemah atau camping, baik itu Rinjani Tent maupun Glamour Camping atau Glamping dengan pemandangan perbukitan hijau berselimut kabut dan Sungai Citarik dari atas,” terang Yuni.

Rintangan dilintasannya juga banyak dan variatif.

Menurut Taufik selaku Race Director Lari Lumpur 2017, setiap peserta Lari Lumpur haru melintasi bermacam rintangan.

“Selain berlari di medan tanah dan berbatu dengan kontur naik turun, juga harus menurun tebing (rapeling/abseiling) Tanah dengan tali.

Setelah itu melintasi medan berlumpur dengan rintangan antara lain panjat ban, berenang, merayap, dan tarzan swing dengan tali,” terang Taufik.

Selain berlokasi dengan keindahan alam pegunungannya yang disebut-sebut puncaknya Sukabumi, meskipun udaranya tidak sedingin Puncak Bogor-Cianjur, masih ada beberapa keistimewan lain lomba Lari Lumpur yang digelar operator Arung Jeram tersohor Arus Liar bekerjasama dengan Bravo Adventure ini.

Pertama,  sport tourism ini menjadi lomba Lari Lumpur pertama di Indonesia dengan jarak 5 Km, sekitar 2 Km di antaranya merupakan lintasan berlumpur dengan berbagai aral rintang.

Lomba ini pun digabung dengan Lomba Lari Lintas Alam atau Trail Run sepanjang 15 Km.

Meskipun baru perdana digelar dan jumlah pesertanya belum mencapai ratusan orang. Tapi lomba Lari Lumpur dan Trail Run ini sudah berhasil menarik minat bukan hanya komunitas pelari seperti dari Indorunners dan Indonesian Spartans pun segelintir pelari dari mancanegara antara lain dari Jerman, Perancis, dan Aljazair sebagai peserta.

Kelebihan lainnya, lomba Lari Lumpur ini pun punya nilai jual tinggi sebagai sebuah kegiatan yang memadukan olahraga dengan wisata (sport tourism). Buktinya meskipun baru kali pertama, sudah mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik swatsa maupun pemerintah. Sponsor swasta untuk lomba ini antara lain Bank Mega, Sunpride, dan Consina.

“Papan reklame besar Lari Lumpur 2017 dipasang Bank Mega di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan,” tambah Yuni.

Sementara dari pemerintah selain dari Pemkab Sukabumi lewat Dinas Pariwisata (Dispar)-nya juga dari Pesona Indonesia-nya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) lewat Asdep Pengembangan Pasar Personal, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara ini.

Adapun bentuk dukungan yang diberikan Kemenpar berupa promosi dan publikasi termasuk peliputan dari jurnalis/travel blogger andal.

Istimewanya lagi, Bupati Sukabumi H. Marwan Hamami menghadiri lomba Lari Lumpur didampingi Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Sukabumi H. Dana Budiman. Begitupun dari Kemenpar yang diwakili Kepala Sub Bidang (Kasubid) Promosi Eko Wisata, Kemenpar H. Ehsan.

Di ujung lomba, H Marwan menyerahkan hadiah kepada para pemenang Lari Lumpur kategori perempuan di lokasi Fisnih. Sementara Yuni memberikan hadiah kepada para pemenang kategori pria. Sedangkan H. Ehsan menyerahkan hadiah kepada para juara Trail Run kategori perempuan dan Dana membagikan hadiah untuk pemenang kategori pria.

Sebelumnya H. Dana Budiman yang membuka acara Lari Lumpur 2017 sekaligus melepas peserta kategori Trail Run dengan mengibarkan bendera. Sedangkan H. Ehsan melepas peserta lomba Lari Lumpur.

Secara keseluruhan, lomba Lari Lumpur Arus Liar Bravo 2017 yang berhadiah total Rp 22 juta ditambah medali dan hadiah dari sponsor berjalan lancar dan sukses serta memberi kenangan tak terlupakan.

Pasalnya setelah berlumpur ria, foto-foto, bersih-bersih, penyerahan hadiah, dan santap siang, seluruh peserta Lari Lumpur 2017 diberi kado berupa fun rafting di Sungai Citarik.

Risna Susanti (42), juara pertama Lari Lumpur 2017 kategori perempuan mengaku puas mengikuti lomba ini.

“Seru banget, lumpurnya juga dalem. Mudah-mudahan lombanya berlanjut tahun depan dan seterusnya dengan lintasan yang lebih panjang, variatif serta rintangan yang lebih menantang, dan tak lupa hadiahnya harus lebih menarik,” ujar ibu dua anak ini.

Di ujung lomba, Yuni berterimakasih atas dukungan semua sponsor dan meminta maaf kepada peserta dan pengunjung jika ada kekurangan dalam pelaksanaan.

“Jangan kapok yah, dan jangan lupa untuk ikut serta di lomba Lari Lumpur 2018. Tahun depan dipastikan promosinya lebih gencar dan hadiahnya lebih besar,” ujar Yuni saat menutup lomba.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Dua pelari perempuan melintasi medan berlumpur di ajang Lari Lumpur Arus Liar Bravo 2017 di kawasan Sungai Citarik, Sukabumi, Minggu (13/8)
2. Salah satu akomodasi di tepian Sungai Citarik.
3. Para pelari Lari Lumpur 2017 melintasi trek berpemandangan perbukitan dan aliran Sungai Citarik.
4. Pesona alam di kawasan Bravo Adventure yang dikelelingi perbukitan berselimut kabut dengan sejumlah tenda Glamour Camping (Glamping).
5. H. Ehsan dari Kemenpar melepas peserta Lari Lumpur di lokasi start Bravo Adventure, Citarik.
6. Peserta Lari Lumpur 2017 juga diikuti pelari mancanegara dari Jerman, Perancis, dan Aljazair.
7. Sungai Citarik jadi lokasi fun rafting bagi peserta Lari Lumpur 2017.
8. Para pemenang Lari Lumpur 2017 kategori perempuan berfoto bersama H. Marwan, H. Dana, Yuni, dan H. Ehsan.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP