. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Cerita Wisata Utama


Komodo itu pandai menipu. Saat diam, biawak raksasa ini seperti hewan lemah, padahal itu taktiknya untuk menyergap satwa lain dan manusia yang lengah. Seperti apa sifat dan prilaku aslinya? Simak profil sang predator berdasarkan pengamatan TravelPlusIndonesia (TPI) secara langsung di Pulau Komodo.

Komodo satu-satunya spesies terakhir dari keluarga monitor lizard yang mampu bertahan hidup dan berkembang. berdasarkan leaflet TNK, satwa berdarah dingin ini ditemukan pertama kali oleh seorang Belanda bernama JKH Van Steyn tahun 1911. Baru terkenal di dunia ilmu pengetahuan sejak 1912, tepatnya setelah peneliti dan ahli biologi, Mayor PA Ouwens memberikan julukan dalam tulisan berjudul “On a Large Varanus Species from the Island of Komodo” dengan nama ilmiah Varanus komodoensis.

Untuk mengetahui prilaku komodo sesungguhnya, TravelPlusIndonesia (TPI)mengamatinya langsung di habitatnya, Pulau Komodo. Ternyata komodo punya trik sendiri untuk mengelabui mangsanya. Dia pura-pura diam seperti sebatang kayu lapuk. Gerakannya lamban dan malas. Tapi setelah mangsanya lengah, dia segera menyergapnya dengan mulutnya yang moncong atau dengan bantuan ekornya dengan cara menyabet mangsanya sekeras mungkin. Kelebihan lain, predator licik ini dianugerahi penciuman yang sangat tajam, terutama bila mencium amis darah dan bau bangkai meski berjarak 2 Km.

Di habitanya, komodo lebih suka menyendiri (soliter). Sejak kecil, anak komodo dibiarkan mencari makan sendiri oleh induknya. Jarang sekali berkelompok kecuali di Banu Nggulung. Beberapa komodo di tempat ini malas mencari makan sendiri akibat terbiasa diberi umpan (feeding) gratis dari pengunjung, akhirnya populasi rusa, babi hutan, dan kerbau liar kian bertambah hingga mengganggu keseimbangan alam. Beberapa tahun belakangan, acara feeding dilarang.

Data inventarisasi komodo Taman Nasional Komodo (TNK), di Pulau Komodo jumlahnya sekitar 1.700 ekor, di Pulau Rinca 1.300, Gili Motang 100, dan 30 ekor di pulau-pulau kecil lain.

Diperkirakan masih ada sekitar 2.000 ekor lagi yang terpencar di Flores, yakni di pesisir Barat Manggarai dan pesisir Utara Kabupaten Ngada serta beberapa tempat di Kabupaten Ende. Bahkan hasil penelitian Auffenberg dari Amerika Serikat, komodo ditemukan sampai Timur Flores. Masyarakat Pulau Komodo dan sekitarnya menyebut komodo, ora. Tapi warga pesisir Utara Flores dan Ende, memanggilnya mbou. Di Pulau Rinca, perilaku komodo sedikit lebih ganas. Kulitnya kekuningan dan lebih bersih.

Buaya Darat
Menurut salah seorang peneliti khusus komodo yang TP temui di Pulau Komodo, musim kawin komodo terjadi pada Juli-Agustus. Jumlah jantan dan betina 4 berbanding 1. Lantaran tak seimbang sering terjadi perkelahian antar jantan untuk memperebutkan betina hingga terluka bahkan tewas. Komodo jantan sukar ditemukan saat musim kawin, sebab sibuk mengejar betina. Usai kawin, sang betina akan bertelur lalu menyimpannya di lubang. Betina bertelur 20-50 butir dan menjaganya selama 7 bulan. Bentuk telurnya oval, berwarna putih dengan panjang 9 cm, lebar 6 cm dan beratnya 105 gram. Setelah menetas, panjang rata-rata 18 inci atau 45 cm. Yang dewasa sekitar 2 meter, pernah juga dijumpai komodo sepanjang lebih dari 3 meter.

TP pun mengamati bayi komodo. Kulit bayi komodo berwarna kekuningan. Umur 10 bulan coklat muda. Usia 20 bulan ke atas berubah menjadi agak hitam, lalu coklat gelap setelah dewasa. Anak komodo langsung pandai memanjat pohon untuk mencari makan, sekaligus menghindar dari ancaman komodo dewasa. Santapan kegemarannya aneka serangga, cecak dan tokek. Setelah dewasa, lebih suka memangsa rusa, babi hutan, kerbau dan telur burung Gosong. Komodo dewasa tak bisa lagi memanjat pohon lantaran keberatan badan.

Selain suka memangsa hewan lain termasuk manusia, komodo dewasa juga suka menyantap anaknya (kanibal). Areal perburuan komodo dewasa di lokasi yang sering dilalui hewan dan manusia. Komodo menyukai semak dataran rendah, berbatasan dengan savana. Terkadang ada di dataran tinggi sekitar 400-600 meter dpl. TP juga melihat komodo berenang layaknya seokor buaya terutama jika melihat bangkai ikan besar yang mengapung di perairan. Wajar penduduk setempat menjulukinya buaya darat.

Berdasarkan pengamatan TP secara langsung di Pulau Komodo, predator yang dilindungi undang-undang seperti halnya Harimau Sumatera ini meski bukan termasuk satwa penyerang yang ganas, namun tetap berbahaya. Apalagi bila berada di TNK, di habitatnya itu komodo sebagai raja. Lengah sedikit, Anda bisa jadi mangsanya.

Cara yang amat saat berada di habitanya, Anda harus tetap waspada dan ditemani jawagana bila ingin melihat predator ini atau hendak berpergian ke obyek-obyek lainnya. Sebab bagaimanapun melihat komodo di habitatnya, di pulau Komodo dan pulau-piulau lain di TNK jelas jauh lebih mengasyikkan dibanding di kebun binatang. Atmosfir dan panorama yang bakal Anda dapat pasti lebih seru, menawan, dan mengesankan.

Bila Anda yakin bahwa sang predator yang kanibal ini menjadikan Pulau Komodo dan pulau-pulau lain di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) begitu berati dan berbeda dibanding kawasan lain, sebaiknya Anda memilih Taman Nasional Komodo agar terpilih sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7Wonders. Caranya dengan melakukan vote di http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees. Selamat memilih semoga Anda dapat menyaksikan bagaimana komodo menjqdi penguasa di habitatnya.***

Naskah & Foto: A. Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Senin, 23 Januari 2017

Membingkai Kebhinekaan Lewat Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2017

Grebeg merupakan sebuah tradisi khas Jawa untuk menyambut hari-hari spesial seperti Mulud (kelahiran Nabi Muhammad), Syawal (Lebaran/Hari Raya Idul Fitri), Idul Adha (Hari Raya Qurban), dan Suro (Tahun Baru Jawa) yang biasa digelar di Jogja dan Solo.

Sebenarnya masih ada satu lagi yakni Grebeg Sudiro, sebagai  bentuk perayaan ungkapan keharmonisan yang sudah terjadi sekian lama antara etnis keturunan Tionghoa dengan pribumi Jawa. Grebeg tersebut digelar setiap tahun di Kota Solo, Jawa Tengah.

Grebeg Sudiro tahun ini yang berlabel Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2017 baru saja sukses digelar di kawasan Kota Gede, Solo, Minggu (22/1).

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam pointer sambutan yang diberikan Travelplus Indonesia lewat Kepala Bidang (Kabid) Wisata Budaya, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Wawan Gunawan berharap Gerebeg Sudiro juga bermanfaat kedepannya untuk pengembangan pariwisata, khususnya Kota Solo.

Arief pun berharap even budaya ini bisa berkesinambungan sehingga memperkuat branding Solo sebagai Kota Budaya dan Pariwisata. “Melalui pergelaran even-even budaya diharapkan dalam dimensi ideal (spirit of the national) mampu meningkatkan nasionalisme dan pluralism,” ujarnya.

Selanjutnya dalam dimensi budaya dan kepariwisataan daerah, pagelaran even-even (atraksi) budaya seperti ini, lanjut Arief diharapkan dapat memberdayakan budaya lokal sekaligus mempunyai kontribusi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan dan kesejahteraan masyarakat.

Menurut Arief Yahya even budaya menjadi salah satu andalan Solo dalam menjaring wisatawan. Namun sayangnya untuk kunjungan wisatwan mancanegara (wisman) justru mengalami penurunan lewat pintu masuk Bandara Adi Sumarmo pada tahun lalu. “Pada tahun 2015, jumlah wisatawan adalah 7.244 orang, sedangkan pada tahun 2016 hanya sejumlah 5.946 orang,” ungkapnya.

Melihat Grebeg Sudiro yang rutin digelar setiap tahun dan mampu menjaring wisatawan, Pemerintah Pusat pun terdorong untuk memberi dukungan. Kata Wawan Gunawan, dukungan yang diberikan Kemenpar dalam bentuk promosi dan publikasi. “Adapun bahan-bahan promosinya berupa baliho, umbul-umbul, roll banner, standing banner, dan spanduk,” terangnya.

Grebeg Sudiro yang digagas masyarakat etnis Jawa dan Tionghoa di Solo ini, sambung Wawan juga difasilitasi oleh Lembaga Kemasyarakatan di Sudiroprajan, Pemerintah Kota Solo, dan Pasar Gede.

Even budaya ini, menurutnya bertujuan untuk menjunjung nasionalisme, kebhinekaan, dan integrasi sosial khususnya di Surakarta, mensinergikan potensi budaya Jawa dan Tionghoa, serta mendukung program-program Kota Surakarta sebagai Kota Budaya dan Pariwisata. “Oleh karena itu even ini mengangkat tema Pesona Budaya dalam Warna Kebhinnekaan,” ujar Wawan lagi.

Berdasarkan foto-foto di akun Instagram @event.solo dan @solo_saiki, terlihat Grebeg Sudiro kali ini begitu semarak, terlebih digelar dalam menyambut Festival Imlek 2017.

Sejumlah kelompok/padepokan turut meramaikan karnavalnya. Peserta karnaval dari Padepokan Keris Brojobuwono, misalnya berhasil menyita perhatian pengunjung.

Sesuai namanya, mereka berasal dari padepokan atau kompleks tempat pembuatan keris sekaligus musium keris yang didirikan Bambang Gunawan dan Basuki Teguh Yuwono pada tahun 1999 di Wonosari, Gondangrejo, Karanganyar.

Peserta dari padepokan ini semuanya laki-laki dewasa yang bertelanjang dada. Hanya mengenakan kain putih sebagai sarung dan ikat kepala dari kain putih. Sepintas seperti para sufi.

Mereka berjalan tanpa alas kaki, beberapa di antaranya menggotong gunungan berbentuk kerucut yang terbuat dari aneka sayur dan buah seperti jagung, terong, pare, wortel, kacang panjang, buah naga, dan nanas di pucuk gunungan tersebut.

Peserta karnaval lainnya yang juga membetot perhatian pengunjung adalah para penari yang berpakaian dari bulu, mulai dari topeng, penutup alat vital, penutup bagian dada sampai gelang kaki terbuat dari bulu ayam. Mereka semuanya pria dewasa yang menari, sambil membawa tombak masing-masing.


Peserta karnaval yang membawakan atraksi sembur api diiringi musik gamelan juga menyita perhatian pengunjung yang sebagian di antaranya menonton sambil membawa payung karena hujan turun.

Begitupun peserta karnaval drumband, terutama saat seorang pria dewasa berdiri di atas dua buah alat perkusi band yang dipegang 2 rekannya yang juga laki-laki sambil menempatkan alat perkusi di kepalanya.

Secara keseluruhan meskipun hujan mengguyur, Karnaval Budaya Grebeg Sudiro 2017 berjalan lancar dan berhasil menghibur pengunjung, baik itu warga Kota Solo dan sekitarnya maupun wisatawan nusantara keturunan Tionghoa dari berbagai daerah di luar Jawa.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: @solo_saiki & @event.solo

Read more...

Minggu, 22 Januari 2017

Enam Faktor Ini Bikin Bali Masih Dijagokan Raup Wisman Terbesar Buat Indonesia

Bali ditargetkan Pemerintah Pusat untuk mencapai kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) sebanyak 5,25 juta orang tahun ini. Ini merupakan target wisman terbesar dibanding provinsi lain, termasuk Jakarta dan daerah perbatasan seperti Batam. Kenapa dan mampukah Bali mencapainya?

Berdasarkan pengamatan Travelplus Indonesia sekurangnya ada enam (6) faktor yang membuat Bali masih jadi andalan Pariwisata Nasional dalam menyumbangkan perolehan wisman.

Faktor pertama, Bali sudah mendapatkan segudang prestasi nasional bahkan internasional, antara lain sebagai pulau wisata terbaik se-Asia dan kelima di dunia versi situs traveling terbesar dunia TripAdvisor tahun lalu.

Salah satu hotel di Bali, yakni Hotel The Rhadana Kuta pun menyandang predikat mengejutkan sebagai hotel keluarga paling ramah wisatawan muslim versi World Halal Tourism World (WHTA) 2016. Ini menambah keunikan dan kekontrasan Bali, mengingat pulau ini mayoritas dihuni umat Hindu.

Berikutnya, aktivitas wisata budaya, alam, dan buatan Bali rata-rata berkelas dunia. Sudah tak diragukan lagi budaya unik Bali sudah lama memikat dunia, begitu pun pesona alamnya mulai dari pantai, bawah laut, gunung, pedesaan, lembah dan persawahannya.

Ditambah lagi sejumlah objek wisata buatan yang juga berkelas dunia mulai dari waterpark, bungee juming, slingshot, flying fish, resto/café berkonsep unik, hotel/penginap bertema unik, pernihahan berkonsep unik, dan lainnya

Faktor lainnya Bali memiliki fasilitas Meeting, Incentive, Conference & Exhibition (MICE) berkelas dunia dengan agenda yang padat bertaraf internasional pula.

Jumlah penerbangan langsung (direct flight) ke Bali dari sejumlah negara pun jadi faktor pendukung selanjutnya. Apalagi jumlah direcf flight (DF)-nya terus bertambah. Salah satu DF terbaru dari Guangzhou, China ke Bali yang dibuka akhir tahun lalu, yang diharapkan dapat meningkatkan kunjungan wisman asal China ke pulau menawan itu.

Sejumlah negara lainpun berebut ingin ada DF ke Bali, seperti Vietnam. Mungkin hanya Jakarta yang bisa mengalahkan jumlah DF luar negerinya saat ini.

Keempat faktor di atas merupakan faktor interen Bali, sedangkan faktor dari luar Bali (fakor kelima), harus diakui sampai detik ini Bali masih menjadi pulau wisata terfavorit wisman yang berkunjung ke Indonesia dibanding provinsi lain.

Faktor keenam, belum ada provinsi lain termasuk 10 ‘Bali Baru’ yang digarap pemerintah yang pariwisatanya sehebat dan seprestasi Bali.

Mungkin banyak provinsi yang memiliki alam yang lebih menawan dari Bali, budayanya yang tak kalah unik/khas, fasilitas MICE yang juga tak kalah lengkap dengan Bali, namun sayangnya belum berhasil memiliki imej tersendiri yang sementereng Bali.

Citra positif pariwisata Bali yang bergengsi dunia dan membanggakan traveler dari manapun, itulah keistimewaan Bali yang belum dimiliki provinsi lain.

Berdasarkan 6 faktor tersebut, Travelplus Indonesia memprediksi Bali bakal mampu memenuhi target yang dtetapkan Pemerintah Pusat tahun ini, asalkan kondisinya tetap aman terkendali.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Ditargetkan 5 Juta Lebih Wisman 2017, Bali Masih Jadi Andalan Indonesia

Pariwisata Bali sepertinya masih terlalu tangguh bagi 33 provinsi lain di Indonesia, apalagi buat 10 ‘Bali Baru’ yang belum lama ditetapkan dan tengah digenjot pengembangannya oleh pemerintah. Artinya pariwisata pulau berjuta pura itu belum bisa dikalahkan keperkasaannya dalam menjaring wisatawan khususnya mancanegara (wisman) oleh provinsi lain.

Buktinya pemerintah pusat masih mengandalkan pulau wisata terbaik di Asia ini untuk dapat menyumbangkan perolehan kunjungan wisman terbanyak dibanding provinsi lainnya tahun ini.

Pemerintah pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menargetkan pulau wisata terbaik kelima dunia ini mampu meraup 5 juta lebih wisman secara nasional, yang diproyeksikan sebesar 15 juta orang pada 2017.

Target itu dikenakan Bali karena pada tahun lalu kunjungan wismannya sukses melebihi target yang ditetapkan. “Target wisman ke Bali pada 2016 lalu itu 4,5 juta dan ternyata capaiannya kira-kira 4,9 juta. Tahun ini targetnya naik menjadi 5,25 juta wisman,” ujar I Gde Pitana selaku Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara, Kemenpar lewat pesan WA kepada Travelplus Indonesia, Minggu (22/1).

Sehari sebelumnya Asisten Deputi Pengembangan SDM Kepariwisataan Provinsi Bali Wisnu Bawa Tarunajaya menjelaskan Bali mendapat porsi lebih besar dari daerah lainnya, karena Pulau Dewata masih menjadi primadona para turis dari sejumlah negara yang hendak berlibur ke Indonesia. "Bali masih menjadi nomor satu untuk daya tarik wisatawan mancanegara ke Indonesia," katanya sebagaimana dikutip Antarabali.com, di Denpasar, Bali, Sabtu (21/1/).

Menurut Wisnu selain Bali, Provinsi DKI Jakarta, dan Batam juga mendapat porsi penting dalam menambah perbendaharan wisman tahun ini.

Namun ketika Travelplus Indonesia menanyakan berapa besar targetnya, Wisnu mengatakan mengenai data pastinya sebaiknya ditanyakan ke Deputi Pemasaran Pariwisata Mancanegera. “Kalau mengenai event-event yang akan dilaksanakan di Bali tahun ini untuk menarik kunjungan wisman, sebaiknya ditanyakan ke Bu Hesti selaku Deputi Pemasaran Pariwisata Nusantara,” balas Wisnu.

Berdasarkan data Kemenpar sebagaimana tercantum di lampiran Jumpa Pers Akhir Tahun 2016, ada top five negara/benua yang ditargetkan paling banyak mendatangkan wisatawannya ke Indonesia tahun ini.

Di urutan pertama China sebesar 2,4 juta lebih yang terdiri atas Tiongkok (2 juta lebih), Taiwan (284 ribu), dan Hongkong sebanyak 132 ribu wisman.

Di tempat kedua dari Singapura sebesar 2,2 juta lebih, dan diposisi ketiga Eropa sebesar 2,1 juta lebih terdiri atas Inggris (441 ribu), Perancis (330 ribu), Jerman (306 ribu), Belanda (250 ribu), Rusia (100 ribu), dan negara-negara lainnya di Eropa sebesar 771 ribu wisman.

Kemudian keempat baru dari Australia sebesar 1,8 juta lebih, dan diurutan kelima dari negara tetangga, Malaysia sebesar 1,7 lebih wisman.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com ig: @adjitropis)

Read more...

Sabtu, 21 Januari 2017

Megahnya Gerbang Indonesia di Motaain, Menggoda Wisatawan Ber-Selfie Ria

“Megahnya Pos Lintas Batas Mota’Ain Atambua - Timor Leste,” begitu tulis Gayatri di bawah foto hasil jepretannya yang di-posting di akun instagramnya @gayatri.pitana, lima hari lalu tepatnya, Selasa (17/1).

Foto itu pun mendapat 38 likes dari netizen. Salah satu pemilik akun @bepe_9 yang rupanya pernah ke lokasi itu, turut mengomentarinya. “Jadi keren banget Bu, beda banget dengan 2 tahun lalu,” tulisnya.

Sehari kemudian, Rabu (18/1), Gayatri mem-posting sebuah foto angkot dan suasana jalan menuju Atambua di akun instagramnya.

Di bawah foto yang disukai 25 netizen itu ada statusnya yang berbunyi: “Naik angkot dari Wini, Timor Tengah Utara menuju Atambua...”.

Melihat dua foto yang di-posting Gayatri yang kini menjabat sebagai Kepala Bidang Promosi Wisata Buatan di Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Travelplus Indonesia jadi teringat waktu berkunjung ke Pos Lintas Batas (PLB) Motaain, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Gayatri dan beberapa rekan lain 5 tahun lalu.

Ketika itu Gayatri masih menjabat sebagai Kepala Wilayah IV Jatim, Bali, NTB, dan NTB Ditjen PPDN, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).

Terus terang, sewaktu melihat foto pertama postingan-an Gayatri tentang PLB atau Gerbang Indonesia di Motaain itu, saya agak terkejut. Kenapa? Ya karena sudah berubah, beda sekali.

“PLB kita di NTT sekarang keren banget, jauh beda dengan negara sebelah (Timor Leste-red). Gerbang Indonesia di Motaain itu sudah diresmikan oleh Presiden Jokowi tahun lalu,” terang Gayatri kepada Travelplus Indonesia, Sabtu (21/1/2017) malam.

Dulu, sewaktu pertama kali Travelplus Indonesia ke sana tahun 2012, wajah Gerbang Indonesia masih apa adanya. Akibatnya wisatawan asal Indonesia yang datang ke Motaain memilih ber-selfie ria di gerbang kedatangan milik Timor Leste yang lebih keren dan mentereng.

Tapi rupanya Indonesia mulai sadar dan berbenah. Wajah perbatasan terutama gerbangnya kini satu-persatu diperindah dan dipermegah dengan tetap memberikan sentuhan arsitektur lokal, sebagaimana Gerbang Indonesia di Motaain kini.

Dulu sebelum dirombak, di ujung Motaain, wilayah perbatasan milik Indonesia, ada deretan bangunan permanen dengan dinding bercat kuning dan beratap genteng berwarna hijau yang berfungsi sebagai kantor-kantor.

Ada kantor khusus bea cukai, imigrasi, karantina, kepolisian dan lainnya. Di belakang bangunan itu ada jejeran kios pasar tradisional Motaain dan juga warung makan.

Di sisi lain, ada sebuah bank swasta merangkap money changer secara legal. Di depan bank tersebut ada papan putih bertuliskan harga beli 1 dollar AS Rp 9.500, harga jualnya Rp 9.650 ketika itu. Papan itu disandarkan di atas kursi plastik berwana biru.

Di sisi kiri bank tersebut ada gedung Pos Motaain berdinding cat hijau muda dan di samping gerbang ada tenda hijau tempat tentara kita tengah berjaga-jaga. Beberapa lagi berjaga di pos pertama sebelum perkantoran dan di pos gerbang selamat datang Indonesia.

Di samping gerbang itulah ada batu putih dengan lempengan hitam yang ditandatangani oleh menteri luar negeri RI Hasan Wirayuda dan perwakilan dari Timor Leste Ramos Horta tertanggal 30 Agustus 2005. Dua tandatangan itu sebagai garis akhir wilayah Indonesia dan awal dari negara muda Timor Leste.

Di sebelah batu tugu, ada Jembatan Motaain I yang berpagar semen dengan cat merah putih. Jembatan itu berada di atas sungai yang menjadi pembatas alam antara wilayah RI dengan Timor Leste.

Sebelum perkantoran itu, ada rumah makan padang yang dibuka seorang ibu dari Jawa Timur. Dan ada juga rumah makan bermenu masakan Jawa.

Meski kedua warungnya sederhana justru keduanya menjadi primadona bukan hanya warga Indonesia yang tinggal di perbatasan itu termasuk para pegawai perkantoran serta tentara, pun warga Timor Leste yang ada di perbatasan, para pegawai, dan juga tentara negara muda yang dulunya merupakan bagian dari provinsi RI yang bernama Timor-Timor.

Kedua warung itu, setiap hari ramai pembelinya. Banyak warga dan polisi Timor Leste yang berjalan kaki menembus perbatasan, hanya untuk makan di warung yang berada sekitar seratus meter dari tapal batas.

Warga lokal Timor Leste cukup melapor ke petugas imigrasi di loket keberangkatan yang ada di bagian depan dengan membawa Kartu Tanda Penduduk (KTP) negaranya. Setelah kenyang mereka kembali mengambil KTP-nya lalu pulang berjalan kaki lagi melewati gerbang perbatasan.

Beberapa orang Timor Leste mengaku masakan yang dijual di kedua warung itu lebih enak dan variatif di banding yang ada di wilayah perbatasan Timor Leste.

Petugas imigrasi di Atambua sempat menjelaskan kalau masyarakat perbatasan yang biasa modar-mandir Timor Leste ke daerah perbatasan Indonesia cukup menunjukan pemakai lintas batas. Sementara yang bertujuan khusus wisata dan lainnya selama beberapa hari, harus menggunakan paspor dengan membayar visa.

Ketika itu warga Timor Leste dikenakan visa Rp 35.000 per orang sedangkan warga Indonesia yang hendak ke Timor Leste lebih murah dikenakan visa Rp 30.000 per orang.

Sebelumnya, beberapa ratus meter sebelum di ujung Motaain itu, pemandangan menarik sudah saya jumpai saat berada di depan Polsubsek Motaain, yang berada tepat di pertigaan jalan arah ke Atapupu, Silawan, dan arah ke perbatasan.

Setiap mobil yang ingin ke perbatasan harus membuka kaca dan turun melapor maksud dan tujuan ke petugas polsubsek tersebut. Petugas kepolisian cukup ramah menyapa pengunjung.

Ada yang menarik, di sana beberapa warga lokal menawarkan mata uang dolar Amerika, baik kepada warga Indonesia yang hendak ke Timor Leste atau sebaliknya. Aksi mereka terang-terangan.

Sejak menjadi negara, Timor Leste menggunakan mata uang dolar Amerika. Sejak itu pula dolar bukan hal baru di Motaain. Terlebih PLB Motaain menjadi perbatasan utama Indonesia dengan Timor Leste.

Puas berfoto-foto di gerbang selamat datang Indonesia di Motaain, saya dan rekan-rekan lain memasuki wilayah Timor Leste didampingi salah seorang TNI. Bambang, namanya yang mengaku sudah 6 bulan bertugas di tapal batas itu.

Cerita tentang wilayah terdepan Timor Leste lebih bagus, mentereng, dan canggih terjawab sudah ketika saya memasuki halaman depan Timor Leste.

Sama halnya dengan perbatasan lainnya, pembangunan dan infrastruktur di PLB Motaain ketika itu kalah cepat dan kalah lengkap dibanding dengan milik pemerintah Timor Leste. Padahal negara tetangga itu baru baru merdeka 10 tahun saat itu.

“Infrastruktur di pintu perbatasan di Timor Leste lebih megah bahkan canggih karena dilengkapi dengan peralatan seperti mesin pendeteksi barang masuk dan keluar. Di kita masih manual,” aku Bambang saat itu.

Sebelum masuk ke pintu gerbang Timor Leste berupa loket dan sebuah bangunan besar, ada jembatan berkerangka baja yang menarik perhatian bertuliskan selamat datang di Timor Leste. Di depan loket ada tugu yang bertuliskan Timor Leste.

Banyak pengunjung yang berfoto di jembatan dan berlatarbelakang tugu itu, termasuk saya dan beberapa rekan. Ini membuktikan, bangunan yang dibuat menarik, akan menarik perhatian orang.

Kendati saat itu (2012) wajah terdepan Indonesia dengan Timor Leste masih kalah megah dan lengkap, tetap saja warga Timor Leste yang berada di perbatasan memilih belanja dan makan di wilayah Indonesia.

Bahkan beberapa lainnya memilih berwisata ke beberapa objek wisata yang ada di sekitar Motaain. Biasanya mereka menggunakan mobil travel dari Timor Leste sampai di Motaain lalu ganti mobil travel menuju Atambua, Ibukota Kabupaten Belu.

Objek-objek wisata yang biasa mereka kunjungi antara lain Pasir Putih, Sukaer Laran, Kolam Susuk, dan Tanjung Gurita yang berjarak beberapa kilometer dari Motaain, dan lomba pacu kuda di Desa Tnimanu.

Melihat ketertinggalan pembangunan di Motaain yang menjadi pintu gerbang perbatasan Indonesia dengan Timor Leste, pemerintah pusat akhirnya membangun PLB yang baru.

Alhasil wujudnya seperti foto yang di-posting Gayatri di akun instagramnya baru-baru ini, ya lebih megah, lebih rapih, dan lebih elegan.

PLB lain di NTT ada di Motamasin, masih di Kabupaten Belu, lalu Wini di Kabupaten Timor Tengah Utara yang beribukota Kefamenanu, serta Oepoli di Kabupaten Malaka dengan ibukotanya Betun.

“PLB Motaain sudah diresmikan Presiden Jokowi tahun 2016. Rencananya PLB Wini akan diresmikan 14 Februari 2017 dan PLB Motamasin pada tanggal 15 Maret 2017,” ungkap Gayatri.

Setelah diresmikan, Gerbang Indonesia di Motaain itu pun kini menjadi objek selfie sejumlah wisatawan yang melintasi perbatasan tersebut, baik dari Indonesia dan Timor Leste maupun dari benua lain terutama Australia dan Eropa usai berwisata di Indonesia.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & gayatri

Captions:
1. Wajah Pos Lintas Batas (PLB) atau Gerbang Indonesia di Motaain, Kabupaten Belu, NTT tahun 2017
2. Wajah PLB Motaain tahun 2012.
3. Kondisi sekitar PLB Motaain tahun 2012.
4. Akses dan angkot menuju Atambua, Ibukota Kabupaten Belu tahun 2017.
5. Salah satu hotel di Atambua tahun 2012.
6. Wisatwan berfoto di PLB Motaain 2017.

Read more...

Mau Lihat Buaya Tak Usah ke Florida, di Indonesia juga Banyak

Baru-baru ini netizen dunia, dihebohkan video seekor buaya berukuran raksasa hasil rekaman salah seorang turis di cagar alam Florida, Amerika Serikat. Buaya yang terlihat seperti seekor dinosaurus itu berjalan santai tapi gagah dengan keempat kakinya yang terlihat lebih tinggi dari kebanyakan buaya pada umumnya.

Adalah Kim Joiner, turis yang merekam buaya itu di Cagar Alam Circle B Bar di Poljk County, Florida lalu mengunggahnya ke Facebook. Tak berselang lama, video rekaman tersebut telah dibagikan 30 ribu kali dan disukai oleh lebih dari 5.700 orang.

Benar atau hasil rekayasakah video itu, yang jelas sudah bikin heboh dan sampai ke netizen di Indonesia. Bahkan sejumlah media di sini memberitakannya, termasuk infotainment dengan mewawancarai beberapa artis yang pernah berwisata ke Florida melihat buaya-buaya liar di habitatnya langsung.

Terkait video buaya raksasa yang bikin heboh itu, kali ini Travelplus Indonesia mengangkat objek-objek wisata terkait buaya yang ada di Indonesia, bukan di Florida. Wong, di sini juga banyak kalau ingin melihat buaya di habitatnya atau pun di penangkarannya. Jadi kenapa mesti jauh-jauh dan sok pamer-pamer objek wisata negara orang.

Jenis buaya di Indonesia juga lebih banyak. Ada Buaya Irian (Crocodylus novaeguneae) yang terdapat di Papua-Indonesia dan Papua Nugini. Buaya ini hidup di air tawar, mirip seperti buaya tawar cuma ukuran badannya lebih kecil dan berwarna lebih hitam.

Khusus di wilayah Papua bagian Selatan juga ada jenis Buaya Sahul. Sebenarnya buaya ini masih satu jenis dengan Buaya Irian, namun seorang ahli taksonomi mengusulkan agar buaya itu dijadikan spesies tersendiri.

Begitupunn dengan Buaya Mindoro (Crocodylus mindorensis), awalnya juga termasuk jenis Buaya Irian namun sekarang dianggap sebagai jenis tersendiri. Buaya jenis ini bisa ditemukan di Sulawesi bagian Timur dan Sulawesi bagian Tenggara.

Jenis lainnya Buaya Siam (Crocodylus siamensis). Sesuai namanya diperkirakan berasal dari Siam. Di Indonesia jenis buaya yang jumlahnya krisis ini ada di Jawa dan Kalimantan.

Lalu Buaya Kalimantan (Crocodylus Raninus). Jenis buaya yang mirip dengan buaya muara ini mudah ditemui di sejumlah lokasi di Kalimantan antara lain di Sungai Mentaya, Kabupaten Kota Waringin Timur, Kalimantan Tengah.

Sejak dulu di sekitar muara sungai tersebut, masyarakat setempat sering terlihat buaya. Bahkan di salah satu pulau di tengah sungai itu yang bernama Pulau Lepeh diduga menjadi habitat buaya.

Menurut nelayan setempat, kalau mau melihat beberapa ekor buaya tengah berjemur di daratan pulau yang memanjang bak pantai itu, datanglah saat sungai surut atau saat musim kemarau panjang.

Jenis lainnya Buaya Senyulong (Tomistoma Schlegelii). Buaya yang memiliki moncong yang lebih sempit dan runcing ini beredar di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Di Kalimatan, Anda bisa melihat buaya yang sering disebut Buaya Supit ini juga di habitatnya langsung antara lain di Danau Tampang Keladi, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (Kalbar). Buaya jenis ini juga sering terlihat di Kelibuntu, Desa Sungai Awan Kanan, Muara Pawan, Ketapang, Kalbar.

Buaya Senyulong tidak akan menyerang manusia kalau tidak diganggu. Makanannya ikan-ikan kecil. Buaya jenis ini dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 tentang Jenis-jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi. IUCN (International Union and Conservation Nature) memasukkan statusnya pada kategori Genting (Endangered/EN).

Terakhir, jenis Buaya Muara (Crocodylus porosus) yang merupakan jenis buaya terbesar, ganas, dan terpanjang di antara jenis buaya-buaya lainnya di Indonesia bahkan dunia. Panjangnya bisa mencapai 12 meter. Buaya muara dinamai demikian karena habitatnya adalah sungai-sungai dan di laut, dekat muara.

Kalau mau melihat jenis buaya satu ini datang saja ke Sungai Udang, Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalbar. Pilihan lainnya ke kebun binatang Sinka Zoo, Kota Singkawang, Kalbar.

Di Kalbar, biasanya buaya jenis ini hidup di rawa-rawa seperti di Kecamatan Teluk Pakedai dan Sungai Kakap. Namun seiring menjamurnua pembangunan tambak-tambak udang, buaya jenis ini kian terdesak, kehilangan habitat dan sumber pakannya.

Di Lampung Timur, tepatnya di Sungai Way Kanan, dalam wilayah Taman Nasional Way Kambas, Anda juga bisa melihat buaya jenis ini dan juga buaya supit. Lokasi lain yang diduga ada buayanya terdapat di Lampung Barat tepatnya di Danau Lebar di kawasan wisata Suoh.

Selain digunakan untuk tempat rekreasi wisata danau lebar suoh ini juga banyak digunakan para nelayan untuk mencari ikan. Lembah Suoh dapat dicapai dari Kuncoro (15 Km dari Kota Agung) dengan sepeda motor trial atau kendaraan roda 4wheel drive.

Buaya jenis ini juga dapat Anda temui di Sungai Cigenter, Taman Nasional Ujung Kulon, Banten.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Empat Penangkaran Buaya Andalan Indonesia ini Sukses Menjaring Wisatawan

Kalau Anda kesulitan melihat buaya di habitatnya, tak usah putus asa. Sambangi saja semua atau salah satu dari 4 penangkaran buaya andalan Indonesia yang sudah terbukti sukses menjaring wisatawan selama ini.

Keempat penangkaran buaya andalan Indonesia itu ada di Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur dan di Medan, Sumatera Utara, serta 2 lagi di Jawa Barat yakni di Bekasi dan Subang.

Penangkaran Buaya Teritip terletak di Jalan Mulawarman No. 66, Desa Teritip, Kecamatan Balikpapan Timur.

Di lahan seluas 3 hektar ada sekitar 1.700 buaya beragam jenis anatra lain buaya muara, buaya rawa, buaya air tawar, dan buaya supit. Di penangkaran ini, buaya yang ‘diolah’ hanyalah buaya muara yang sudah berusia 4-5 tahun. Diolah disini maksudnya diambil kulit, daging, lemak, dan empedunya.

Kulit buaya muara misalnya diolah menjadi tas, sepatu, ikat pinggang, dompet, dan lainnya yang kemudian dikirim langsung keluar Balikpapan. Lemaknya diilah jadi minyak, empedunya dijadikan obat untuk malaria atau asma, dan tangkur atau alat kelamin buaya muara jantan diolah menjadi jamu atau ramuan khusus untuk stamina (kejantanan) pria dewasa.

Penangkaran Buaya Teritip bisa Anda kunjungi setiap hari dari pukul 08.00-17.00. Harga tiket masuknya Rp 15.000 untuk dewasa. Anda juga dapat berfoto dengan anak buaya yang kecil dengan tiket l Rp 10.000 per orang sekali foto. Bisa juga memberi makan buaya dengan membeli bangkai ayam seharga Rp 10.000.

Kalau Anda ke Medan, Sumatera Utara ungin melihat buaya, sambangi saja Taman Penangkaran Buaya Asam Kumbang yang berada di Jalan Bunga Raya 2 No 54, Kelurahan Asam Kumbang, Kecamatan Medan Selayang, Kota Medan.

Penangkaran yang sudah ada sejak 58 tahun silam (1959-2017) ini didirikan oleh Lo Tham Muk, keturunan Tionghoa. Tiket masuk ke Taman Penangkaran Buaya yang buka setiap hari mulai pukul 09.00-18.00 ini lebih murah cuma Rp 6.000 per orang.

Di lahan seluas 2 hektar ini ada sekitar 3.000-an ekor buaya dari yang kecil sampai yang besar, terutama jenis Buaya Muara.

Anda juga bisa melihat kebun binatang mini, yang ditempati beberpa jenis hewan antara lain monyet, ular piton, kobra, penyu, dan kura-kura serta beberapa ratus bangau putih yang hingga dan berterbangan di atas kolam besar menyerupai danau di penangkaran ini. Paling seru kalau Anda membeli bangkai ayam lalu memberikannya ke kolam buaya atau melemparkannya ke danau kecil berisi ribuan buaya.

Di Subang, Jawa Barat juga ada penangkaran buaya. Lokasi tepatnya di Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang bagian Utara, pesisir Pantai Utara (Pantrura) sekitar 40 kilometer ke arah utara dari Lanud Suryadarma, Kalijati.

Di penangkaran buaya yang berdiri sejak 1983 ini dikelola oleh Perhutani Unit III Jawa Barat dan Banten. Di lahan seluas 1,5 hektar ini Anda bukan cuma bisa melihat ratusan ekor buaya jenis Buaya Muara, pun melihat proses bertelur, penetasan, hingga pengembangbiakannya.

Dari ribuan Buaya Muara di penangkaran ini yang menjadi promadonanya adalah dua ekor buaya berukuran luar biasa bernama, Jack dan Baron. Kedua pejantan itu, bersama lima betina dewasa, merupakan induk dari semua buaya yang ditangkarkan di penangkaran ini.

Dibilang luar biasa karena Baron memiliki panjang 7 meter dengan berat sekitar 750 kilogram, sedangkan tubuh Jack mencapai berat satu ton.

Anda boleh masuk ke area kolam tempat Jack dan Baron berada, bahkan ditawarkan berfoto wefie bersama Jack dan Baron oleh para pawang mereka.

Untuk melihat ribuan buaya di penangkaran ini Anda cukup membayar Rp 11.000 per orang sebagai tiket masuk. Kalau membawa mobil, biaya parkirnya Rp 5 ribu per mobil. Kalau ingin melihat Jack dan Baron, Anda harus membeli tiket lagi Rp 8 ribu per orang.

Akses ke Panangkaran Buaya di Blanakan ini bisa Anda capai dengan kendaraan roda 4. Dari Kota Subang sekitar 61 menit, dari Bandung sekitar 2,6 jam dan dari Jakarta via jalur Pantura sekitar kurang lebih 3 jam.

Di Bekasi yang tak jauh dari Jakarta, Anda bisa mengunjungi Taman Buaya Indonesia Jaya. Lokasinya di Jalan Raya Serang, Cibarusah KM 3, Serang Baru, Bekasi.

Di penangkaran yang didirikan tahun 1991 ini, Anda bisa melihat sekitar 500 buaya terdiri atas Buaya Muara Sumatera yang berjumlah 423 ekor, Buaya Kalimantan moncong panjang sekitar 30 ekor, Buaya Irian yang warna kulitnya hitam da 2 ekor, dan buaya albino ada 2 ekor yang terpisah di 4 kolam.

Buaya merupakan hewan berusia panjang bisa mencapai 100 tahun usianya. Di taman ini, buaya paling tua berusia 55 tahun dan yang paling muda berusia 15 tahun.

Di taman buaya yang buka setiap hari mulai pukul 08.00-16.00 WIB ini Anda juga bisa melihat atrkasi menarik seperti pawang tidur di punggung buaya, kepala pawang masuk ke kepala buaya, dan atraksi menegangkan lainnya. Atraksi tersebut biasanya digelar pada hari libur.

Tiket masuk ke Taman buaya yang berada di pinggir Jalan Cikarang – Cibarusah ini cuma Rp 12.000 per orang dewasa dan Rp 6.000 per anak-anak.

Nah, kalau sekadar ingin lihat buaya di habitatnya atau di penangkaran, tak salah jauh-jauh ke negeri orang. Cukup di Indonesia saja, OK.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.pasirpantai

Read more...

Kamis, 19 Januari 2017

Kota/Kabupaten Ber-Calendar of Events Terbaik Diminati Wisatawan, Travel Agent, dan Investor

Entah kenapa sampai tahun ini masih banyak kota/kabupaten yang membuat kalender wisata (Calender of Events)-nya dengan sejumlah even yang apa adanya, tidak berprosfek kedepan alias sekadar ada/punya, dan bersifat jangka pendek.

Padahal sejatinya kalau Calendar of Events (CoE)-nya digarap secara profesional, promosi gencar, tepat sasaran, berkualitas, dan berjangka panjang serta dijalankan dengan tepat dan teratur, bukan hanya akan diminati wisatawan, industri wisata, dan investor, pun bermuara terhadap imej kota/kabupaten itu sendiri.

Travelplus Indonesia mempredikasi kota/kabupaten yang memiliki CoE terbaik, pastinya akan diminati wisatawan karena di-launching dan disebarluaskan jauh-jauh hari sehingga memberi kesempatan bagi wisatawan merancang anggaran dan waktu untuk melihat even-even di kota/kabupaten tersebut.

Berarti kemungkinan terjadi peningkatan jumlah kunjungan wisatawannya, baik nusantara maupun mancanegara amat besar.

Kota/kabupaten berpredikat CoE terbaik tentunya akan diminati kalangan pelaku usaha wisata, termasuk travel agent dan indie travel. Karena kedua usaha penyedia paket wisata berbeda konsep ini dapat membuat paket wisata terkait even dalam CoE tersebut. Mereka pun dapat mempromosikan paket wisatanya lebih leluasa, tidak terburu-buru, dan sesuai market yang dituju.

Berarti dengan banyaknya paket wisata yang dibuat oleh travel agent maupun indie travel, kemungkinan besar jumlah kunungan wisatawannya bertambah besar pula.

Kota/kabupaten dengan CoE terbaik tentunya juga akan disukai pengusaha/inverstor. Travelplus Indonesia melihat para pebisnis/investor mau menanamkan modalnya di sebuah kota/kabupaten bukan karena semata aman dan mudah diakses. Tapi kota/kabupaten itu juga punya daya tarik/atraksi, salah satunya ketersediaan even-even yang menarik. Apalagi kalau even-evennya itu berkualitas dan berhasil mendatangkan wisnus dan wisman dalam jumlah signifikan.

Berarti dengan ketertarikan para pemilik modal tersebut akan meningkatkan investasi khusus sektor pariwisata di kota/kabupaten tersebut.

Terakhir, kota/kabupaten dengan CoE terbaik, otomatis memberikan imej/citra baik pula bagi kota/kabupaten tersebut. Gengsi/status/kelasnya ikut terangkat.

Intinya kota/kabupaten yang memiliki kalender wisata terbaik, punya kemungkinan mendapatkan keuntungan meningkatnya kunjungan wisnus/wisman dan investasi serta menggeliatnya industri wisata.

Kalau jumlah wisatawan dan investasinya bertambah, jelas bertambah pula pendapatan bagi masyarakat, pengusaha hotel/transportasi/resto, dan lainnya, serta tentunya menciptakan banyak lapangan pekerjaan baru, dengan kata lain juga dapat mengurangi angka pengangguran.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Pesona Pasar-Pasar Tradisional Ini Berhasil Menggoda Turis Datang dan Berbelanja

Meskipun pusat perbelanjaan mewah seperti mall dan plaza semakin menjamur di kota-kota besar, namun sejumlah pasar tradisional tetap eksis. Bahkan beberapa di antaranya berhasil menjadi objek wisata yang diminati para pelancong baik lokal, nusantara maupun mancanegara.

Berhubungan dengan peristiwa kebakaran yang melanda Pasar Senen-Jakarta hari ini Kamis (19/1), Travelplus Indonesia kali ini mengupas beberapa pasar tradisional di Tanah Air yang sukses membetot perhatian turis dan kerap disambangi. Jadi bukan mengupas peristiwa kebakaran Pasar Senen yang sudah berulang terjadi lho.

Pasar tradisional yang kerap dikunjungi turis di Jakarta antara lain Pasar Mayestik dan Pasar Barang Antik. Sedangkan di Solo tentu saja Pasar Gede, Pasar Klewer, dan Pasar Triwindu.

Di Jogja pastinya Pasar Bringharjo; di Bali antara Pasar Sukowati dan Pasar Seni Ubud; Di Balikpapan ada Pasar Inpres Kebun Sayur, dan di Kalimantan Selatan ada tiga Pasar Terapungnya yang tersohor.

Di Tomohon, Sulawesi Utara ada Pasar Beriman yang menjual aneka hewan ekstrim; di Rantepao, Toraja Utara ada Pasar Bolu; dan di Surabaya ada Pasar Turi yang legendaris.

Pasar Mayestik di Jakarta Selatan usai direvitalisasi tahun 2012 berubah menjadi pasar tradisional yang kece, rapih, dan bersih. Sejumlah ekspatriat asing kerap berbelanja disini, ada yang membeli teksil tradisional Indonesia dan menjahit baju.

Di pasar yang berisi sekitar 2.000 kios dengan 1.700-an pedagang aktif ini ditata sesuai jenis komoditas, mulai pasar basah, sayur-mayur, tekstil, khusus penjahit, tukang bordir, dan tukang obras.

Di lantai dasar gedung pasar ini khusus untuk aneka produk tas dan seragam sekolah anak, peralatan kantor dan lainnya. Masih di lantai dasar, ada City walk khusus zona kuliner ringan antara lain kue cubit, kue pancong, kue epe dan aneka kue khas Jakarta lainnya.

Di lantai satu khusus produk tradisional Indonesia antara lain aneka kerajinan dari daerah Toraja seperti tas tenun dan pakaian bermotif khas Toraja.

Di lantai dua Blok B khusus Zona Kain Nusantara antar lain Tenun Tapis dan Sulam Usus khas Lampung. Selain itu ada beberapa pedagang yang menjual kain tenun dan songket dari Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Palembang, dan Aceh.

Kalau datang sekarang, di basement gedung Pasar Mayestik menyediakan segala kebutuhan menyambut tahun baru Imlek 2017 berupa pernak-pernik seperti angpao, lampion dan aneka makanan khas seperti kue keranjang atau dodol China ata Nian Gao.

Pasar Barang Antik Jalan Surabaya, di Menteng, Jakarta Pusat juga kerap dikunjungi turis yang ingin mencari bermacam barang kuno.

Di sepanjang jalan itu ada sekitar 200 kios yang khusus menjajakan barang antik seperti lampu, gong, telepon, setrika antik, sampai rantang zaman dulu. Ada juga kios yang menjual aneka tas, koper, dan piringan hitam.

Harga barang di pasar yang sudah ada sejak tahun 1960-an ini berkisar mulai ratusan ribu sampai belasan juta rupiah. Namun masih bisa ditawar.

Jelang 2017, Pasar Beringharjo di Malioboro, Jogja tampil beda. Pasar yang masih menjadi tujuan wisatawan membeli batik di Jogja ini punya taman khusus selfie yang dilengkapi fasilitas tempat duduk, tong sampah, dan tulisan Beringharjo bercat kuning di sisi Selatan.

Keberadaan Taman Selfie Pasar Beringharjo selain untuk lokasi bernarsis wisatawan, juga bisa berfungsi sebagai ruang tunggu pengunjung pasar.

Pasar tradisional terbesar di Yogyakarta ini buka mulai dari pukul 07.00 sampai dengan 17.00 WIB ini menyediakan berbagai macam oleh-oleh khas Yogya, utamanya batik. Di pasar ini, Anda bisa mendapatkan batik dari harga Rp 35.000 sampai dengan ratusan ribu.

Pasar Inpres Kebun Sayur di bagian Barat Kota Balikpapan, Kalimantan Timur sejak puluhan tahun sudah terkenal sebagai tempat belanja wisatawan lokal dan mancanegara yang berkunjung ke Balikpapan.

Di pasar ini berbagai kerajinan tangan khas Kalimantan bisa didapatkan. Termasuk beragam jenis batu akik, aksesoris dari manik-manik, dan lainnya. Untuk menjangkau pasar ini dari pusat kota, wisatawan dapat menggunakan Angkutan Kota dengan Nomor 5 berwarna kuning atau Nomor 6 berwarna biru.

Di pasar ini juga terdapat beberapa warung makan yang juga diminati para pelancong pemburu kuliner khas, antara laini Warung Haur Gading Balikpapan yang menu ikan bakar dan udangnya terkenal enak.

Pasar Gede Solo yang dibangun tahun 1929 di atas tanah milik Keraton Kesunanan Surakarta dan diresmikan setahun kemudian juga menjadi pasar tradisional yang kerap dikunjungi pelancong.

Bangunan pasarnya unik hasil rancangan arsitek keturunan Belanda Thomas Karsten. Di pasar ini wisatawan biasanya memburu aneka kuliner tradisional legendaris seperti Brambang Asem, Lenjongan, Nasi Tumpang, dan Es Dawet Bu Dermi.

Brambang Asem terbuat dari daun ubi dicampur sambal asam jawa yang terasa pedas dan manis serta tempe gembos dimasak bacem. Lenjongan yang sudah ada sejak zaman penajahan Belanda terdiri dari beberapa macam makanan, misalnya tiwul, ketan hitam, ketan putih, gethuk, sawut, cenil, dan klepon.

Nasi tumpang berisi nasi dan tempe yang telah diolah dengan tambahan tahu putih dan daun bayam rebus. Sedangkan Es Dawet Bu Dermi berupa semangkuk es dawet ketan hitam, tape ketan, jenang sumsum, biji telasih, cairan gula, dan santan dengan tambahan es batu.

Jelang Imlek 2017 ini, kawasan pasar ini tampil beda karena mejadi lokasi Festival imlek Solo 2017. Deretan lampion berwarna merah sudah terpasang di beberapa titik.

Pasar Bolu di Rantepao, Kabupaten Toraja utara, Sulawesi Selatan juga menjadi pasar tradisional yang kerap diburu turis asing, terutama Eropa. Lokasi persis pasar ini di Jalan Poros yang menghubungkan Kota Rantepao dan Palopo, di wilayah Desa Kolla, Kecamatan Tondun.

Pasar ini terbuka setiap hari mulai dari jam 07.00 sampai 18.00. Patut juga diketahui bahwa di pasar tradisional ini berlaku hari pasaran yang jatuh jatuh enam hari sekali.

Pasar ini terbagi dua, pasar hewan yang menjual aneka tedong bonga (kerbau bule) dan babi serta pasar khusus cendera mata. Akses menuju pasar ini cukup mudah yaitu sekitar 2 Km dari Kota Rantepao dan dapat dicapai dengan menaiki angkutan umum. Tarifnya pun cukup murah hanya Rp 4.000 sekitar 10 menit.

Di pasar khusus cinderamata khas Toraja tersedia miniatur rumah Tongkonan, aneka gantungan kunci, Parang Toraja, baju batik, baju adat toraja, aneka ukiran/pahatan, dan aksesoris wanita seperti kalung, selendang, tas, dan kain motif Toraja.

Pasar ini juga menjajakan aneka kuliner khas Toraja seperti papiong, pattolo bola rangke, dan pattolo pamarassan. Papiong berisi daging ayam/babi/kerbau atau ikan yang dicampur dengan bumbu dan sayur lalu dimasak dalam bambu yang dipanggang di perapian. Sedangkan Pattolo bola rangke terbuat dari rebung dan Pattolo pamarassan berbahan ikan/ayam/belut yang dimasak dengan menggunakan pamarasan.

Pasar Terapung di Kalimantan Selatan, bahkan menjadi tujuan wisata andalan. Pasar ini ada sejak zaman Kerajaan Banjar. Ada 3 Pasar Terapung di Kalsel yakni Pasar Terapung Kuin, Pasar Terapung Lokba Intan dan Pasar Terapung Siring Sungai Martapura yang baru diadakan tahun 2013 lalu.

Pasar Terapung Kuin terletak di atas muara Sungai Barito, lokasinya berada di kelurahan Kuin Utara Kota Banjarmasin. Pasar Terapung Lokba Intan berada di Desa Sungai Pinang, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Sedangkan yang terbaru dan Pasar Terapung Siring Sungai Martapura di Jalan Piere Tandean setiap hari Minggu pagi dari Jam 07.00 – 10.00 WITA.

Pasar Terapung di Siring Tandean yang terletak di pusat kota berdekatan dengan wisata Menara Pandang dan Tugu Bekantan ini diharapkan dapat lebih mendekatkan pasar terapung dengan masyarakat Rata-rata pedagang pasar terapung ini adalah kaum ibu.

Mereka menjual bermacam dagangan seperti sayur masyur, bumbu dapur, buah-buahan seperti rambutan dan jeruk, aneka kue wadai atau kue khas Banjarmasin seperti putu mayang, buras, lapat, dan jagung besumap (jagung kukus). Ada juga yang menjual kuliner khas Banjar, seperti Soto Banjar dan Ketupat Kandangan. Wisatawan bisa menaiki kapal klotok (perahu kecil) dengan tarif Rp 10.000/orang.

Sejumlah pasar tradisional di Bali juga menjadi tujuan wisata para turis asing, antara lain Pasar Seni Sukawati, Pasar Seni Ubud, dan Pasar Kumbasari.

Pasar Seni Sukawati yang berada di Jalan Raya Sukawati No. 75X, Sukawati, Kabupaten Gianyar menjual aneak suvenir berupa kerajinan tangan seperti lukisan, kaos, gantungan kunci, pakaian, dan benda seni lainnya serta kuliner jajanan khas Bali. Jam operasionalnya pukul 08.00-17.00 WITA.

Pasar Seni Ubud yng beralamat di Jalan Raya Ubud No. 35, Ubud menjual aneka patung, lukisan, baju souvenir, anyaman, tas, hingga jajanan pasar yang menjadi andalan pasar tradisional dalam menggaet turis untuk berkunjung ke tempat ini. Jam operasionalnya 08.00-16.00.

Pasar Kumbasari yang terletak di Jalan Gajah Mada, Pemecutan, Denpasar Barat, Kota Denpasar, merupakan pasar tradisional yang terbesar di Bali. Harga barang seni yang ada di Pasar Kumbasari ini dikenal jauh lebih murah daripada pasar tradisional lainnya di Bali. Jam operasionalnya 09.00-19.00 WITA. Selain itu ada Pasar Seni Kuta, Pasar Seni Guwang, Pasar Badung, dan Pasar Sindu.

Pasar Turi Surabaya sudah ada sejak masa kolonial Belanda. Pasar ini pernah menjadi pasar tradisional terbesar di Asia Tenggara dan merupakan pasar grosir terbesar untuk area Indonesia Timur.

Sampai kini Pasar Turi masih menunjukkan eksistensinya sebagai ikon wisata belanja di Kota Surabaya, terlebih dengan beroperasinya Pasar Turi Mall tahun 2012, setalah Pasar Turi lama kebakaran tahun 2002.

Jadi kini ada dua bagian Pasar Turi, yakni Pasar Turi Lama dan Pasar Turi Baru yang keduanya sama-sama terdiri atas tiga lantai. Di lantai dasar Pasar Turi Lama khusus sembako, tukang jahit, pedagang sandal dan sepatu grosiran. Di lantai dasar Pasar Turi Baru khusus kuliner khas Surabaya dan Jawa Timur seperti rujak cingur, aneka kue tradisional seperti lapis Surabaya, dan minuman tradisional seperti es cendol.

Di lantai kedua dan ketiga Pasar Turi sama-sama digunakan untuk menjual bermacam pakaian, peralatan rumah tangga, elektronik, dan lainnya.

Pasar Turi Surabaya lokasinya berdekatan dengan sejumlah landmark Surabaya yang terkenal seperti Tugu Pahlawan, Jembatan Merah, Kembang Jepun, Pasar Besar, dan Jalan Dupak.

Pasar Hewan Beriman di Tomohon kerap dikunjugi turis karena para pedagangnya menjula aneka hewan tak biasa, melainkan kelalawar yang oleh masyarakat setempat disebut paniki, tikus hutan, ular piton, anjing (biasa disebut RW), babi, bahkan kera. Ada yang masih hidup, ada juga yang sudah mati.

Seperti umumnya pasar, para pembelinya kebanyakan para ibu rumah tangga. Uniknya mereka lebih suka memesan hewan hidup kemudian dipotong, misalnya ular piton, atau dibakar seperti anjing dan babi. Jadi wisatawan bisa melihat langsung proses pemotongan dan pembakarannya di pasar ini.

Selain di Pasar Beriman Tomohon, ada satu lagi pasar yang menjual hewan-hewan tak biasa itu, yakni di Pasar Langowan. Namun pasar yang kerap dikunjungi wisatawan adalah Pasar Beriman Tomohon.

Tak sulit mencapai Pasar Hewan Beriman. Kalau tidak macet, Tomohon dapat dijangkau tak sampai 1 jam dari Manado. Jalannya memang menanjak dan berkelok-kelok namun menyuguhkan panorama indah antara lain Teluk Manado dari ketinggian.

Para backpacker biasanya naik bis umum dari Terminal Karombasan, Manado ke Tomohon, turun di Terminal Beriman Tomohon.

Dari situ, mereka tinggal jalan kaki ke Pasar Beriman Tomohon yang berada di Kelurahan Paslaten, Kecamatan Tomohon Timur. Pasar itu letaknya bersebelahan dengan terminal.

Nah, Anda tertarik beriwisata ke pasar tradisional? Sambangi saja  pasar-pasar tradisional di atas sekalian berbelanja barang kesukaan, mencicipi kuliner khas, atau sekadar melihat-lihat dan mengabadikan suasananya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Inilah 15 Indikator Kota/Kabupaten Berkalender Wisata Terbaik

Jumlah kota/kabupaten Indonesia ada ratusan. Setiap tahun sebagian besar membuat Calendar of Events untuk menjaring wisnus dan wisman. Namun rata-rata telat bahkan ada yang tidak me-launching-nya. Sanpai tahun ini hanya segelintir yang mendapat gelar agenda wisata terbanyak event-nya, tercepat launching-nya, dan tereksis expose-nya. Belum ada satu pun yang pantas menyandang predikat kota/kabupaten berkalender wisata terbaik.

Ada beberapa indikator yang harus dipenuhi sebuah kota/kabupaten jika ingin Calendar of Events (CoE)-nya berpredikat terbaik.

Berdasarkan hasil pengamatan Travelplus Indonesia selama ini, sekurangnya ada 15 indikatornya. Pertama, CoE tersebut harus mempunyai banyak even yang berkualitas, baik berskala nasional maupun internasional. Contoh, Bali dengan even Pesta Kesenian Bali dan lainnya.

Jumlah even yang berkualitas dunia harus lebih besar dari even yang berkualitas lokal. Jangan sampai CoE-nya yang penting punya banyak even tapi apa adanya dan bersifat jangka pendek sehingga jauh dari kata bermutu.

Kedua, launching CoE-nya dilakukan beberapa bulan sebelum akhir tahun. Misalnya kalau kalender wisatanya 2018, minimal sudah di-launching bulan November 2017. Bukan awal 2018.

Ketiga, launching-nya harus berskala nasional, jangan di kandang sendiri melainkan di Jakarta. Bisa bekerjasama dengan kementerian terkait dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) atau dengan pihak swasta.

Keempat, lokasi launching-nya harus di tempat yang strategis seperti di mal dan atau public space lainnya yang ramai dikunjungi masyarakat Jakarta dan sekitarnya dengan kemasan acara yang menarik dan kreatif.

Kelima, mengundang sejumlah jurnalis/blogger khusus pariwisata yang andal dan tepat, saat launching CoE-nya dan saat pelaksanaan even-evennya agar terekspos luas, sekaligus dapat memberi masukan agar ke depannya lebih baik dan berkualitas.

Prilaku melek promosi harus dimiliki walikota/bupati/kadisbudpar/kepala bidang promosinya. Jika tidak, CoE-nya hanya sebatas ‘jeruk makan jeruk’, cuma buat kalangan sendiri/interen, bukan justru terpromosikan dengan gencar dan tepat sasaran.

Keenam, CoE-nya harus eksis dengan cara di-share ke media sosial (medsos) dalam bentuk foto maupun video. Selain itu di-publish di blog, dibuatkan buku saku yang memuat CoE dengan info yang lebih lengkap, serta dibuatkan backdrop/selebaran/poster/spanduk/papan reklame, dan lainnya kemudian dipasang di lobi hotel/resto/café/bandara/stasiun, terminal, halte, dan tempat-tempat strategis lainnya.

Ketujuh, info CoE-nya harus komplit. Selain tertera nama even, tanggal, venue, foto even, dan contact person (CP), juga mencantumkan peta lokasi, alat transportasi, paket wisata terkait even tersebut, dan ditambah info even utama CoE tahun berikutnya. Misalnya kalau yang dirilis itu CoE 2018, maka harus disertakan menu utama CoE 2019.

Rasanya tak perlu mencantumkan gambar pejabat pemerintah (menteri/gubernur/bupati/walikota) apalagi dengan ukuran jumbo, karena yang dibutuhkan wisatawan bukan itu melainkan informasi sedetil-detilnya/selengkap-lengkapnya mengenai even tersebut berikut foto-foto objek wisata atau kegiatannya yang menarik.

Kedelapan, info CoE-nya bisa diakses di website maupun mobile app khusus sejak di-launching secara nasional.

Kesembilan, kalau target pasar evennya itu wisman, misalnya asal Malaysia, maka CoE-nya harus disebarluaskan pula di Malaysia dengan waktu dan tempat seperti indikator kedua dan keempat di atas. Atau bisa bekerjasama dengan travel agent setempat dan pihak terkait lainnya.

Kesepuluh, even-evennya tidak pasaran (tidak serupa dengan even daerah lain, atau dengan kata lain tidak menjiplak). Andaikan ada yang serupa misalnya even tour sepeda, parade budaya, carnival dan lainnya, harus punya keistimewaan/kekhasan/daya tarik tersendiri.

Kesebelas, evennya variatif dan bersifat spektakuler, ada even seni budaya, kuliner, wisata olahraga, bahari, petualangan, religi, sejarah, pameran, musik dan lainnya.

Keduabelas, evennya mandiri artinya alokasi dananya tidak tergantung dari bantuan pemerintah pusat (Kemenpar) melainkan gabungan PAD dengan sejumlah pihak industri wisata dan lainnya.

Lebih bagus lagi kalau punya tabungan khusus untuk membiayai setiap evennya sehingga lancar terlaksana setiap tahunnya. Dengan begitu, tidak ada alasan klise lagi tidak di-launching/telat/tidak bikin even karena anggaran minim, anggaran belum telat turun, anggaran dialihkan, dan alasan purba lainnya.

Ketigabelas, evennya berdampak pada peningkatan kunjungan wisnus dan wisman serta pendapatan perekonomian rakyat serta PAD.

Keempatbelas, evennya melibatkan warga lokal. Jangan sampai warga lokal hanya jadi penonton.

Kelimabelas, evennya punya manfaat bagi pengembangan objek wisata setempat. Misalnya kalau evennya diadakan di objek wisata pantai atau sejarah, harus bisa memberikan donasi untuk pengembangan objek-objek tersebut, entah itu untuk kebersihan, pembuatan fasilitas pendukung, dan lainnya.

Itulah 15 indikator yang harus dipenuhi kota/kabupaten, jika ingin CoE-nya menyandang predikat terbaik. Kalau tidak bisa semuanya dipenuhi, minimal indikator pertama sampai kedelapan terpenuhi.

Mudah-mudahan ke-15 indikator di atas bisa dijadikan bahan acuan oleh seluruh pihak terkait, terlebih pemkot/pemkab/pemprov beserta dinas-dinas kebudayaan dan pariwisatanya di seluruh Indonesia, agar pariwisata Indonesia lebih maju dan bermutu serta bermanfaat bagi peningkatan perekonomian rakyat, bukan sekadar target kunjungan wisnus dan wismannya tercapai.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Rabu, 18 Januari 2017

Oh Bali.., Memang Sarangnya Aktivitas Wisata Buatan Bertaraf World Class

Pesona Bali bukan cuma sebatas kekhasan budayanya, dan keindahan alamnya yang sejak dulu berhasil menghipnotis wisatawan dari dalam dan mancanegara. Beberapa tahun ini, beragam wisata buatannya yang ber-level world class pun semakin memperkokoh posisi pulau wisata terbaik se-Asia dan nomor lima dunia ini sebagai tujuan wisata travelers mancanegara.

Wisata buatan berkelas dunia yang dimiliki Bali beragam, mulai dari objek wisata bertema taman air (waterpark), adventure yang memacu adrenalin, bertema laut, kursus, pengobatan, kecantikan/Spa, seni-budaya, pusat perbelanjaan/toko/restoran/penginapan/infinity pools bertema unik, dan lainnya.

Objek wisata buatan bertema waterpark di Bali berkelas dunia dan diminati turis mancanegara ada beberapa, umumnya semua bisa digunakan untuk segala umur mulai dari anak-anak sampai orangtua, yakni Splash Waterpark Bali, Circus Waterpark Bali, dan Waterbom Bali.

Splash Waterpark Bali yang berada di Jalan Pantai Berawa, Banjar Tegal Gundul, Canggu Bali menyajikan berbagai wisata air. Harga tiket masuknya pun sebesar Rp 300.000 untuk Dewasa dan Rp 180.000 untuk anak-anak. Jam buka mulai pukul 09.00-19.00 WITA.

Circus Waterpark Bali yang terletak di Jalan Kediri, Kuta ini menyediakan bermacam permainan air seperti wave slide, spiral slide, lazy river, trampoline, dan speed slide. Harga masuk domestik Rp 150.000 per orang dewasa dan biaya masuk untuk anak, Rp 100.000 / anak (2-12 tahun).

Waterbom Bali yang berada di Jalan Kartika Plaza, Kuta menawarkan water slide standar klas dunia. Terdapat 9 jenis permainan di taman air Waterbom seluas 3,8 hektar ini, seperti smash down, pipe line, boogie ride, fantastic, boomerang, boogie ride, lazy river, race track, dan climax.

Tiket masuk ke waterpark terbaik versi TripAdvisor ini untuk domestik dewasa Rp 310.000 per orang, anak-anak Rp 265.000 per anak umur dibawah 11 tahun. Waterbom ini buka setiap hari, kecuali pada saat Hari Raya Nyepi di Bali. Buka mulai dari jam opersionalnya 09.00-19.00 WITA.

Objek wisata buatan bertema adventure yang dapat memacu adrenalin di Bali, antara lain Bali Slingshot dan Bungee Jumping.

Bali Slingshot yang berlokasi di Jalan Kartika Plaza, Kuta dirancang untuk menguji nyali siapapun. Slingshot serupa katapel raksasa yang terpancang dari sepasang menara setinggi 35 meter. Permainan berdurasi 3 menit ini, minimal pesertanya 2 orang, tarifnya Rp 300.000/orang.

Bungee Jumping di Bali ada beberapa yang bisa dipilih, dari atas hotel maupun di alam terbuka. Lokasi pertama di Blangsinga, Blahbatuh, Gianyar. Tepatnya di Airterjun Tegenungan. Di sana ada bungee jumping setinggi 50 meter berpemandangan alam asli dengan areal terjun lebih luas. Anak SMP sampai orang dewasa bisa mencoba bungee jumping di sini.

Lokasi lainnya Bali Tower Bungy yang terletak di Pantai Kuta. Di sana ada bungee jumping dari atas menara setinggi 45 meter di bawahnya ada kolam renang yang dibuat khusus di bawah menara tersebut. Di sini bisa mencoba tandem jump atau ultimate fireball kick. Objek pemacu adrenalin ini buka dari Senin hingga Jumat pukul 12.00-20.00 dan Sabtu-Minggu pukul 02.00-06.00 WITA.

Satu lagi A.J. Hackett Bungee di Jalan Arjuna, Seminyak. Di sana ada menara setinggi 45 meter untu ber-bungee jumping ria sambil menikmati pesona pantai di Seminyak. Tarifnya untuk Single Rp 990.000 dan Tandem Rp 1.850.000.

Objek wisata buatan bertema laut di Bali ada Flying Fish, Bali Seawalker, Kapal Selam Odyssey, dan Adopsi Bayi Kura-Kura.

Flying Fish yang berada di Tanjung Benoa ini bisa dimainkan maksimal 3 orang, yaitu 2 orang penumpang disisi kanan kiri dan 1 orang instruktur di tengah-tengah. Posisi penumpang bisa berdiri seperti mengendarai sepeda motor atau tidur terlentang.

Flying Fish kemudian ditarik 3 speed boat berkecepatan tinggi dengan jalur melawan arah angin. Dengan demikian, flying fish akan terbang di atas air kira-kira 2 meter atau lebih bergantung pada kecepatan angin. Persis seperti layangan.

Bali Seawalker yang berlokasi di Sekar Menuh Building, Jalan By Pass Ngurah Rai No 5 Padang Galak, Sanur, Denpasar ini menawarkan sensasi berjalan di dasar laut dan menelusuri kehidupan bawah laut cukup dengan pelindung kepala khusus. Tarif untuk menikmati sensasi itu mulai dari Rp 1.139.000.

Odyssey yang bertempat di Jalan Raya Kuta No 9X, Kuta merupakan nama sebuah kapal selam dengan AC yang dapat menampung 36 orang sekaligus masuk sampai kedalaman 150 kaki ke bawah laut.

Kapal selam ini akan membawa Anda dari Dermaga Amuy dan menyelam ke bawah laut untuk melihat terumbu karang dan kehidupan bawah laut yang indah dengan durasi 45 menit. Tarifnya Rp 1.139.000 (dewasa) per orang, Rp 804.000 (anak-anak di bawah 12 tahun) per anak.

Adopsi Basyi Kura-Kura bernama Turtle Conservation and Education Centre di Pulau Serangan. Di sana, wisatawan bisa mengadopsi bayi kura-kura sebelum melepaskannya kembali ke laut. Tarifnya Rp 134.000 untuk mengadopsi satu bayi kura-kura.

Objek wisata bertema kursus di Bali juga banyak. Ada kursus bikin parfum sendiri sesuai kesukaan. Lokasinya bernama L’atelier Parfums et Creations di Jalan Raya Nusa Dua Lot #3, Sawagan, Nusa Dua (Ritz Carlton) dan di Jalan Karang Mas Sejahtera, Jimbaran, Bali (Ayana Resort & Spa).

Di kedua tempat itu menawarkan workshop cara membuat aroma yang unik lengkap dengan sertifikat dan 30 ml parfum khas Anda sendiri untuk dibawa pulang, berdurasi 90 menit dan 3 jam. Tarifnya Rp 1.072.000 (90 menit) dan Rp 1.675.000 (3 jam) dan Rp 469.000 untuk sesi anak-anak selama satu jam.

Kalau mau kursus memasak dengan Bumbu Bali? Datang saja ke Jalan Pratama, Tanjung Benoa Nusa Dua. Di sana bisa mengikuti kursus memasak dengan bumbu khas Bali bersama Heinz von Holzen, seorang juru masak terkenal dan penulis buku tentang memasak. Usai belajar kursus tersebut, pesertanya mendapatkan sertikat memasak dari Balinese Master Chef. Tarifnya mulai Rp 1.070.000.

Mau mengikuti penyembuhan ala tradisional Bali ala  film Eat Pray Love, And bisa mengunjungi Ketut Liyer, seorang tabib terkenal dari buku tersebut di Ubud. Lokasi rumah Ketut Liyer di Banjar Kaja Pengosekan, Ubud, Gianyar. Tarifnya mulai Rp. 375.000 per orang.

Kalau berminat jadi penyanyi dan punya album rekaman sendiri, Anda bisa datang ke Hard Rock Hotel. Di sana ada Boom Box Recording Studio, sebuah ruang karaoke khusus untuk penyanyi pemula dan studio yang dilengkapi dengan peralatan rekaman, lengkap dengan sound engineer. Jadi wisatawan bisa merekan suaranya dan membawa pulang hasil rekamannya.

Lokasinya di Jalan Pantai, Banjar Pande Mas, Kuta. Tarifnya Rp 563.000 (rekaman selama 90 menit sebanyak 2 lagu) dan Rp 455.000 (karaoke 1 jam).

Apalagi objek wisata buatan bertema budaya, di Bali sangat banyak dan umumnya diminati wisman. Mau menyaksikan aktivitas budaya seperti menonton latihan dan pertunjukan gamelan di desa-desa dengan gratis, Anda bisa datang ke Desa Peliatan, yang posisinya ada di dekat Ubud, yang terkenal dengan pertunjukan gamelan dan tarinya.

Pertunjukan biasanya diadakan setiap hari Selasa, Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu, pukul 19.30 di Panggung Balerung. Lokasinya di Jalan Peliatan, Ubud.

Turis juga kerap menyaksikan pertunjukan ini di Puri Saren (Ubud) pukul 19.30 WITA setiap malam. Tiket dijajakan oleh penjual di pinggir jalan (harga sekitar Rp 80.000) mulai sore hari, tapi kalau kamu datang lebih awal, harganya bisa lebih murah. Lokasinya di Jalan Raya Ubud, Ubud.

Pilihan lain melihat Mepantigan, salah satu permainan tradisional Bali di sawah, berkotor-kotor dan berlumurkan lumpur. Turis biasanya datang bersama keluarga, pasangan  atau temannya mencoba berbagai permainan lokal seperti menangkap belut atau kodok, menunggang kuda di lumpur, mencium bebek, perang-perangan di lumpur, perang bantal di lumpur, body painting kecak, gamelan dan tarian lumpur, dan juga pijat di dalam lumpur.

Lokasinya di Ubud dengan tarifnya Rp 550.000 termasuk fasilitas mandi, sabun, suvenir berupa kalung, transport dengan mobil bambu (dengan ekstra charge), makan siang/malam berupa Nasi Lumpur setelah aktivitas selesai (dengan ekstra charge), minuman, dan snack.

Banyak juga turis yang menyaksikan sejumlah even festival budaya dan wisatanya yang sudah bertaraf internasional antara lain Pesta Kesenian Bali (PKB), Legian Beach Festival, dan Nusa Dua Fiesta.

Objek wisata bertema penginapan bertema unik di Bali juga banyak. Wisatawan bisa memilihnya sesuai minat dan anggaran.

Kalau Anda pecinta binatang akan jatuh cinta dengan Mara Safari Lodge, karenab bisa tinggal di antara binatang-binatang. Kalau kamu pecinta air, maka vila-vila air di Bali ini akan menjadi pilihan yang tepat antar lain di Villa Seminyak, Villa Laksamana II, dan Villa Bambu Indah. Kalau suka bersuasana lingkungan bisa memilih menginap di Sharma Springs Bamboo House.

Pilihan lainnya menginap di penginapan bertema futuristik atau merasakan menginap dalam tenda atau berkemah di Sandat Glamping Tents.

Objek wisata buatan bertema pusat perbelanjaan/toko/restoran/cafe berkonsep unik di Bali juga beragam. Kalau senang wisata belanja, bisa kunjungi Gate 88 yang berlokasi di Jalan Raya Kerobokan No. 88, Badung. Pusat berbelanja satu ini berdesain unik dan futuristik, dengan menggunakan badan pesawat sebagai daya tarik utamanya.

Tempat ini bahkan bisa dipesan untuk mengadakan festival atau pesta pribadi. Jam operasionalnya setiap hari mulai pukul 10.00-22.00 WITA.

Kalau senang ngemil dan kuliner, bisa mencoba ngemil coklat sambil memeluk beruang madu di took Pod Chocolate Factory & Café. Lokasinya di Jalan Tukad Ayung, Carangsari, Petang. Jam operasionalnya pukul 09.00-01.00 WITA. Kalau mau makan dengan raja hutan, bisa dating ke Bali Safari and Marine Park’s Tsavo Lion Restaurant.

Pilihan lain ke Pomegranate berlokasi di tengah hamparan sawah asli. Sambil makan Anda bisa melihat kunang-kunang. Suguhannya antara lain teh beraroma dan pizza, atau segelas cocktail. Lokasinya di Jalan Subak Sok Wayah, Ubud, jam operasionalnya setiap hari dari pukul 09.00-21.00. Harga menunya mulai dari Rp 20.000.

Atau ke Sardine yang berada di antara sawah yang sengaja dibuat di Petitenget untuk pengalaman natural yang mengasikkan Lokasinya di Jalan Petitenget No 21 Kerobojan. Buka setiap hari dari pukul 11.30-01.00 WITA. Harga menunya mulai dari Rp 100.000.

Di sejumlah hotel dan villa, Bali juga banyak memiliki restoran dengan tema menarik, antara lain Frankenstein’s Laboratory dengan menu berbagai bentuk monster dan bahkan Frankenstein sendiri.

Wisatawan akan dibawa ke suasana seperti dalam kehidupan seorang bajak laut di The Pirate Bay bernama Jack Kapten Jack Sparrow, sementara pecinta dongeng dapat menikmati waktu magis di Gardin Bistro.

Pilihan lain ke Stadium Sports Bar yang bertema klub olahraga favorit dan ke Cosmic Dinner yang bertema retro untuk menelusuri waktu kembali ke masa silam.

Kelebihan lain Bali, juga punya sejumlah infinity pool terbaik di dunia. Anda bisa menikmati kolam renang di antara gumpalan awan di Munduk Moding Plantation’s. Kalau Anda berbaring di sisi ujungnya, rasanya hampir seperti melayang di antara awan-awan.

Lokasi infinity pool  terbaik lainnya ada di Alila Ubud dan Hanging Gardens Ubud yang cocok buat Anda yang suka dengan suasana keheningan alam karena berada di tengah-tengah hijaunya pegunungan, di antara lembah, sungai, dan hutan.

Infinity pool di Alila Uluwatu memiliki sisi ujung di tebing yang dengan pemandangan laut yang luar biasa.

Bali juga menjadi sarangnya Spa berkelas dunia. Bahkan Bali pernah menjadi tuan rumah penyelenggaraan Global Spa Summit (GSS), yakni even pertemuan internasional tahunan yang khusus mendiskusikan industri Spa & kesehatan (wellness).

Beberapa Spa Bali ada yang menyabet penghargaan tahunan dari Asia Spa Magazine di Hongkong yang diikuti lebih dari 400 top profesional industri Spa di dunia, antara lain Spa Alila, Alila Villas Uluwatu sebagai Eco-Spa of the Year & Asian Spa Capital of the Year; Susan Stein dari Jari Menari sebagai Spa Personality of the Year; Oazia Spa Villas sebagai Spa Design of the Year; Jari Menari sebagai Spa Therapist Team of the Year; dan The Spa at the Edge sebagai Most Innovative Spa of the Year.


Melihat keragaman wisata buatannya yang ber-level world class, wajar rasanya Bali sampai detik ini masih menjadi andalan utama pariwisata Indonesia karena sudah berhasil menjadi salah satu tujuan wisata dunia yang bergengsi dan berkelas dunia.

Bali pun mendapat predikat pulau tujuan wisata terbaik se-Asia versi situs wisata terbesar di dunia TripAdvisor tahun 2016, mengalahkan Phuket-Thailand dan Langkawi-Malaysia. Bahkan sebagai pulau tujuan wisata terbaik No. 5 dunia.

Bagaimana dengan kota/kabupaten/provinsi lain? Bagaimana pula dengan 10 destinasi prioritas atau yang disebut-sebut sebagai “Bali-Bali Baru” yang ditetapkan pemerintah era Jokowi? Mampukah sesukses Bali meraup bukan cuma wisnus pun wisman dalam jumlah besar setiap bulan hingga akhirnya menjadi destinasi kebanggaan travelers dunia dan juga berprestasi internasional? Kita tunggu saja hasilnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

Memuat...

Beri komentar

Name :
Web URL :
Message :

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP