. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Senin, 20 Agustus 2018

Ini Catatan Eko Supriyanto Tentang Kualitas Peserta Parade Tari Nusantara 2018

Parade Tari Nusantara 2018 yang diikuti 28 provinsi di Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Minggu (19/8) mendapat penilaian tersendiri dari Eko Supriyanto, salah satu jurinya.

Koreografer berkelas  internasional ini menilai kualitas peserta terutama penata tarinya semakin baik, terutama dalam pengunaan properti yang semakin minimalis.

Pemilik akun Instagram (IG) @ekopece ini mengatakan semua koreografer yang menampilkan hasil penataan tariannya dalam Parade Tari Nusantara (PTN) ke 37 ini sudah mulai semakin percaya dengan keistimewaan olah tubuh para penarinya.

"Penggunaan propertinya semakin sedikit, semakin minimalis. Tidak  seperti PTN tahun kemarin, terlalu kebanyakan propertinya," ungkap Eko.

Menurut penari profesional yang pernah terlibat dalam tur konser "Drowned World" penyanyi  Madonna tahun 2001 lalu ini, semakin maksimal dan tepat menggunakan olah tubuh dalam sebuah tarian akan semakin bagus.

"Olah tubuh itu lebih puitis, lebih memberikan apresiasi, prespektif, dan interprestasi yang berbeda dibanding properti," ujarnya.

Sebuah tarian, lanjutnya tidak harus selalu di-support oleh berbagai properti yang sudah jelas-jelas mengatasnamakan  simbol, dan itu tidak bisa diubah.

Kata dosen tetap di Jurusan Tari dan Pasca-Sarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini, penggunaan properti yang semakin minimalis, merupakan kemajuan yang luar biasa dari peserta khususnya para penata tari yang tampil di PTN kali ini.

"Percayalah tubuh penari itu mampu menampilkan sesuatu yang jauh lebih kompleks. Imajinasi bisa lebih kita maksimalkan dibanding penggunaan properti," tambahnya.

Lebih lanjut, pria 47 tahun yang baru saja sukses menampilkan tarian kolosal pada Pembukaan Asian Games ke 18 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta ini menyatakan ajang PTN sangat membantu para seniman tari dalam mengembangkan kreativitasnya.

"Kegiatan semacam ini bukan hanya membuat kreativitas para seniman tari dalam berkarya terus berkelanjutan, pun menjadi wadah pembaharuan atau update dari kekaryaan sang seniman tari," terangnya.

Keberadaan dan keberlangsungan PTN ini penting, karena kreativitas atau inovasi karya-karya tari terbaru dari para seniman tari akan terus terbaca.

Apalagi yang tampil di PTN ini merupakan tim tari terbaik yang terpilih melalui proses penyeleksian kemudian mewakili masing-masing daerah/provinsinya.

"Keberadaan PTN dan kondisi kondusif seperti  ini harus terus dirawat," imbaunya.

Ditinjau dari sisi penataan musik, rias, dan kostum para penari di PTN tahun ini, sambung Eko, juga kian berkualitas.

"Tatanan musiknya semakin menyatu, memperkuat pesan tarian itu. Begitupun dengan tata rias dan kostumnya," ungkapnya.

Menurut koreografer yang tengah mengerjakan karya terbarunya yakni "Body of Borders" bersama penari dari Belu, NTT dan Timor Leste yang akan premiere di Melbourne Australia pada Maret 2020 mendatang ini, dalam membuat/mengemas sebuah tari sedapat mungkin seperti orang sedang jatuh cinta.

"Karya atau pementasan tari yang sedang digarap harus bisa menimbulkan rasa kangen dan bikin kepingin terus berlatih, belajar, dan menggali terus hingga melahirkan karya tari yang berkualitas," terangnya.

Di ujung catatannya, penata tari yang juga tengah mempersiapkan karya terbaru berjudul "On Duty" yang akan dipentaskan perdana di Sydney Festival, Januari 2020 mendatang ini berharap peserta PTN tahun depan akan jauh lebih banyak dan tentunya semakin berkualitas lagi.

Selain Eko, dewan juri PTN 2018 juga terdiri atas Wiwiek Sipala, Frans Sartono, Setyastuti, dan Sigit Gunarjo. Semuanya sepakat, kualitas peserta PTN tahun ini semakin bagus dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Mereka pun berharap PTN ini bisa terus digelar TMII dan sejumlah pihak pendukung dengan hadiah uang pembinaan yang juga semakin meningkat.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Eko Supriyanto tengah menyampaikan peningkatan kualitas peserta Parade Tari Nusantara ke 37.

2. Salah satu tim tari yang tampil di PTN 2018 di Sasono Langen Budoyo, TMII Jakarta, Minggu (19/8).

3. TravelPlus Indonesia berfoto bersama Eko Supriyanto (dok. sobatbudaya).

4. Penyerahan piala kepada para pemenang PTN 2018.

Read more...

Lomba Belah Kepala Sapi Ramaikan Festival Meugang Perdana di Banda Aceh

Serangkaian acara ramaikan Festival Meugang 2018 yang baru pertama kali diadakan di Banda Aceh, Ibukota Aceh, Senin (20/8). Salah satunya kompetisi atraksi membelah/membongkar isi kepala sapi atau istilah Acehnya: plah ulle lemoh. Wow seruuu...

Ada 10 warga mengikuti perlombaan membelah kepala sapi ini.

Setiap peserta oleh panitia disediakan satu kepala sapi yang diletakkan di atas kursi panjang.

Alat pembelahnya seperti parang dan pisau dibawa oleh masing-masing peserta.

Dalam perlombaan ini, yang dinilai tingkat kecepatan dan kebersihan dalam membelah kepala sapi.

Lomba belah kepala sapi yang diiringi sajian musik gambus ini bertempat di Lapangan SMEP atau lokasi pasar daging Meugang, Banda Aceh.

Selain lomba membelah kepala sapi, Festival Meugang yang dimulai sejak pukul 08.30 WIB hingga 16.00 WIB ini juga disemarakkan dengan expo histori meugang, pameran meugang, kuah beulagong, dan tak ketinggalan hiburan artis lokal Aceh.

Festival Meugang yang diselenggarakan Pemerintah Kota Banda Aceh bekerja sama Balai Pelestarian Nilai Budaya (BNPB) Aceh dan Yayasan Khadam Indonesia (YKI) ini  bertujuan menjaga dan merawat tradisi meugang agar tetap eksis dan juga dipahami/diminati  generasi milenial.

Kepala BPNB Aceh, Irini Dewi Wanti mengatakan Festival Meugang merupakan tindak lanjut dari tradisi meugang yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda pada 2016 lalu.

Menurut Rini begitu sapaan akrabnya, apa yang sudah ditetapkan harus ditindaklanjuti.

"Salah satu bentuk tindaklanjut itu ya dengan Festival Meugang yang baru pertama kali kita gelar ini," terangnya kepada Travel Plus Indonesia.

Meugang merupakan salah satu tradisi lama masyarakat Aceh yang tetap bertahan sampai sekarang.

Kabarnya, tradisi ini sudah ada sejak 400 tahun lalu, masa kerajaan Aceh Darussalam pada abad ke 16 Masehi dan berkembang pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Tradisi ini biasanya dilakukan dua atau tiga hari jelang Hari Raya Idul Adha atau Hari Raya Qurban. Atau satu atau dua hari sebelum bulan Ramadhan dan sebelum  Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran.

Setelah daging sapi selesai dipotong-potong, lalu dibagikan ke masyarakat, kemudian diolah di rumah masing-masing.

Usai tuntas memasaknya, masyarakat kemudian membawa aneka olahan daging tersebut ke masjid untuk disantap bersama tetangga dan warga yang lain.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman menambahkan tradisi ini merupakan warisan budaya masyarakat Aceh yang unik.

"Meugang dibilang khas karena hanya ada di Aceh, tidak dimiliki oleh daerah lain," ungkapnya.

Kata  Aminullah, Meugang penting dilestarikan karena tradisi ini bisa dijadikan sebagai salah satu daya tarik atau atraksi wisata islami di Aceh yang potensial menjaring wisnus maupun wisman.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. BPNB Aceh

Read more...

Minggu, 19 Agustus 2018

Hyang Dadas Antarkan Kalteng Juara Umum Parade Tari Nusantara 2018

Tari Hyang Dadas yang dikemas apik oleh penata tari Abib Habibi Igal, menghantarkan Kalimantan Tengah menjadi juara umum Parade Tari Nusantara 2018.

Pengumumam Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai juara umum dan para pemenang lainnya dalam ajang Parade Tari Nusantara (PTN) yang digelar Taman Mini Indonesia Indonesia Indah dan didukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini berlangsung di Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Minggu (19/8) malam.

Hyang Dadas berarti doa penyembuh.

Menurut Abib Habibi Igal, tarian ini terinspirasi dari bagian inti prosesi ritual pengobatan Wadian Dadas Upu, yang dipimpin oleh seorang lelaki berposisi wanita.

"Inti prosesi ritual ini ialah menari mengenakan gelang tembaga seraya mengelilingi Tihang Penangkur (tempat persembahan-red) sampai mengalami kesarungan atau in trance," terangnya.

Gelang yang digunakan seorang wadian, lanjut Abib kabarnya adalah sebuah senjata yang bunyi iramanya bagaikan mantra dan doa permohonan keselamatan.

"Sementara Tihang Penangkur dihadirkan sebagai sebuah simbol sublimasi alam manusia dan alam ghaib," tambah Abib.

Tarian Hyang Dadas dengan penata musik Daniel Nuhan dan penata rias serta busana Dody Eka ini berhasil meraih 7 nominasi sehingga berhak atas predikat juara umum PTN ke 37 ini.

Ketujuh nominasi yang disabet Kalteng lewat Hyang Dadas ini adalah Penyaji Terbaik Zona Kalimantan, Penata Tari Unggulan (atas nama Abib Habibu Igal), Penata Tari Terbaik (Abib Habibu Igal), Penata Musik Unggulan (Daniel Nuhan), Penata Rias Busana Unggulan (Dody Eka), Penata Rias Busana Terbaik (Dody Eka), dan 13 Penyaji Terbaik.

Pantauan TravelPlus Indonesia, selain Kalteng yang berjaya di PTN yang dikuti 28 provinsi ini, juga ada beberapa provinsi lain yang kali ini juga beruntung mendapatkan penghargaan.

Penyaji Terbaik antar-wilayah Nusa Tenggara dan Indonesia Timur misalnya diraih NTT lewat Tari Moko Nona.

Penyaji Terbaik antar-wilayah Jawa dan Bali disabet Provinsi Jawa Timur (Jatim) lewat Tari Niskala Seblang.

Penyaji Terbaik antar-wilayah Sulawesi diraih Sulawesi Tengah (Sulteng) lewat Tari Nokoroase.

Sedangkan Penyaji Terbaik antar-wilayah Sumatera diraih Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) lewat Tari Perkawinan di Atas Gelombang.

Penata musik terbaik diboyong DKI Jakarta atas nama Syarifudin lewat Tari Topeng Jentrik.

Sementara Penyaji Materi Unggulan dan Penyaji Diskripsi Terbaik diraih Papua Barat lewat Wemayai Atuma Dame atau Tari Anak Perdamaian.

Juara umum dan para pemenang PTN 2018 ditentukan oleh dewan juri yang terdiri atas Wiwiek Sipala, Eko Supriyanto, Frans Sartono, Setyastuti, dan Sigit Gunarjo.

PTN 2018 ditutup oleh Direktur Budaya TMII, Putu Supadma Rudana.

Sebagai catatan pengingat, PTN tahun lalu atau ke 36, tim tari asal NTT yang berhasil merebut 11 nominasi sekaligus keluar sebagai juara umum.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & @zulfikarmuhammadnugroho

Captions:
1. Tim Kalteng berfoto bersama usai dinobatkan sebagai juara umum Parade Tari Nusantara 2018 atau ke 37. (foto: @zulfikarmuhammadnugroho)

2. Penata Tari Hyang Dadas, Abib  Habibi Igal menerima piala dan hadiah uang pembinaan sebagai penata tari unggulan dan terbaik.

3. Pemberian hadiah bagi para pemenang penata musik.

4. Penonton Parade Tari Nusantara 2018 di Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Sabtu (19/8) malam.

5. Tim Tari NTT berfoto bersama usai tampil.

6. Aksi para penari Papua Barat.

7. Dewan juri Parade Tari Nusantara ke 37 membacakan para pemenang.

Read more...

Sabtu, 18 Agustus 2018

Pembukaan Asian Games 2018 Nan Gemilang Menuai Pujian Para Pesohor

Pembukaan Asian Games 2018 di Stadiun Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (18/8) malam menuai banyak pujian.

Beragam pujian datang bukan hanya dari sejumlah penyanyi ternama yang mengisi acara, pun para artis dan public figure tersohor lain yang menyaksikan opening ceremony tersebut.

Aktris Wulan Guritno misalnya sampai menggunggah 3 foto opening ceremony Asian Games 2018 dengan captions berbeda di akun Instagram (IG)-nya @wulanguritno.

Foto pertama Wulan berfoto sambil memeluk putri pertamanya yang sudah dewasa, berlatar belakang ribuan penonton di dalam stadiun termegah dan kebanggaan rakyat Indonesia.

"Opening ceremony amazing night," begitu tulis Wulan.

Di-postingan kedua, dia mengunggah foto suasana panggung pembukaan Asian Games 2018.

Di bawahnya tertulis: Terlalu panjang kalau dituliskab bagaimana.. Satu kalimat yang mungkin bisa menggambarkan malam ini: "SAYA BANGGA SEKALI". And now...let the games begin.

Di-postingan ketiga, Wulan narsis sendiri berlatar belakang sebagian panggung dan sebagian penonton.

"What a  Amazing start. Bravo for the #openingceremony May Indonesia prosper until the end of the #asiangames2018. Good luck Indonesia and all the athletes", tulis aktris cantik ini.

Lain lagi dengan aktor dan presenter sepak bola Darius Sinatrya. Lewat akun IG-nya @darius_sinathrya.

Dia mem-posting video pembukaan Asian Games terutama bagian tarian Ratoeh Jaroe kolosal yang dibawakan ribuan penari perempuan.

Di bawahnya diberi captions: Ini terbaik sih!!

Ada sekitar 60 warganet yang berkomentar, salah satunya @ardivazulmi98:

"Maaf mass @darius_sinathrya, mungkin masih banyak masyarakat yg keliru dengan perbedaan antara Tari Saman dan Tari Ratoeh Jaroe. Jadi yang ditampilkan pada saat opening ceremong tadi adalah tarian "Ratoeh Jaroe", tarian ini dimainkan oleh sekelompok perempuan menggunakan Bahasa Aceh dan diiringi tabuhan Rapai. Sedangkan Tari Saman adalah tarian yang hanya boleh ditarikan oleh laki2, dgn pakaian khas Gayo, tanpa musik, diiringi syai Bahasa Gayo dan sudah dikukuhkan sebagai warisan tak benda", tulis Ardiva.

"Waaah makasih infonya," balas Darius.

"Siap2 sama, semoga setelahbini jadi lebih mudah membedakan antara Tari Saman dan Tari Ratoeh Jaroe," komentar balik Ardiva.

Sementara Rian @rianekkypradipta, vokalis d'Masiv mem-posting fotonya bersama tiga penyanyi papan atas Ariel Noah, Cakra Khan dan Sheryl Sheinafia usai tampil bersama di pembukaan Asian Games 2018.

"Maafkan saya teman2.. di atas panggung tadi mata saya berkaca-kaca pecah mau nangis... semakin percaya bahwa berbeda bukan alasan untuk tak saling menopang tujuan cita dan harapan.. Bagaimana penampilan kami saat membawakan #brightasthesun tadi??" tulis Rian.

"Banggaaaaaaa Riaaannn", balas Rossa lewat akun IG-nya @itsrossa910 yang juga tampil di acara itu.

"Amazing performance", ungkap pedangdut Fitri Carlina (fitcar) @fitricarlina.

Via Vallen @viavallen, salah satu penampil utama di pembukaan Asian Games 2018 justru berujar singkat tapi dalam: "Alhamduliillahhh", tulisnya.

"Bangga...!", ujar presenter kondang Irfan Hakim @irfanhakim75.

"Amazing Via Vallen... Dangdut goes to the World," komentar @fitricarlina.

Putri Indonesia 2015 Anindya Kusuma Putri lewat akun IG-nya @anindyakputri menulis:

"18.08.2018 MAGNIFICENT!! Standing ovations to all of you who have contributed to this show!!🖤 ".

Lain lagi dengan penyanyi pria Tulus @tulusm yang kebagian tugas besar menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Dia menggunggah video selfie singkatnya.

"Beberapa saat sebelum memulai tugas besar,. Indonesia Raya" tulisnya.

"Jiwa saya masih bergetar sampai saat ini, mendengar pukuhan ribu dari kita bernyanyi di depan banyak bangsa. Bangga Indonesia. Bangsaku, tanah lahirku tercinta," lanjutnya.

"Tadi keren banget Tulusss!! 🖤🖤🖤 Selamat yaaaa 🖤🖤🖤🖤", balas rekan seprofesinya Andien @andienaisyah.

"Banggaaa bangeeet akuuu padamuuuu @tulusm", ungkap @itsrossa910.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo, ig: @adjitropis)

Foto: @wulanguritno, @viavallen, @rianekkypradipta & @anindyakputri


Read more...

Tari Ratoh Jaroe dan Lagu Bungong Jeumpa Pikat Dunia Lewat Pembukaan Asian Games 2018

Wow, dua warisan budaya asal Aceh, Tari Ratoh Jaroe dan lagu Bungong Jeumpa menjadi suguhan awal pembukaan Asian Games 2018 yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, Sabtu (18/8) malam.

Tarian dan lagu yang dibawakan ribuan pelajar SMP dan SMA se-Jakarta ini menarik perhatian bukan hanya se-Indonesia, tapi juga warga Asia bahkan dunia.

Pasalnya pembukaan pesta olahraga se-Asia ke-18 ini disiarkan secara langsung sejumlah stasiun TV dan kemudian tersebarluaskan lewat ragam media sosial (medsos).

Akun Instagram (IG) @acehinfo dan @newsaceh buktinya langsung meng-upload  potongan video ribuan penari tersebut yang direkam dari tayangan salah satu stasiun TV swasta.

Aku @newsaceh menulis di-captions-nya itu Tari Ratoh Jaroe.

Ribuan penarinya itu menari di atas panggung besar dengan latar belakang pegunungan, pepohonan hijau, air terjun, dan semburat cahaya biru yang menunjukkan Nusantara sebagai negeri maritim.

Gerakannya rancak dan serempak meskipun sambil duduk.

Di ujung penampilan, para penari itu membentuk formasi bendera Sang Saka Merah Putih hingga memukau ribuan pengunjung dan tamu undangan.

Kabarnya, para penari itu berada di bawah arahan koreografer senior, Denny Malik dan dibantu 50 asisten. Para penari berlatih intensif selama lima bulan.

Sesi tarian berikutnya dipandu koreografer berkelas internasional, Eko Supriyanto.

Jumlah penari yang terlibat di pembukaan Asian Games 2018 sebanyak  4.000 penari. Sekitar 2.400 orang di antaranya adalah pelajar dari 18 sekolah di DKI Jakarta.

Selain Tari Ratoh Jaroe, mereka juga yang akan menampilkan berbagai tarian khas Indonesia lainnya.

Para penarinya berlatih seusai pulang sekolah, tiga kali seminggu dengan durasi latihan empat jam.

Tari Ratoh Jaroe ini merupakan perpaduan harmonis antara gerak badan dan tangan dengan iringan alunan Rapai-alat musik pukul tradional Aceh, yang menjadi ciri khas tarian ini.

Ratoh berasal dari Bahasa Arab yakni Rateb dan Duek berasal dari Bahasa Aceh artinya duduk.

Jadi  secara umum tarian ini berarti media puji-pujian kepada Allah SWT yang dilantunkan dan ditarikan sambil duduk.

Biasanya tarian ini dibawakan pada acara-acara hari besar seperti pernikahan, kenduri naik haji, Maulid Nabi SAW,,malam terakhir Ramadhan, Idul Fitri, dan peringatan Idul Adha.

TravelPlus Indonesia mencatat lima perbedaanTari Ratoh Jaroe dengan Tari Saman sebagaimana diungkap Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), bidang kebudayaan.

Pertama, Tari Ratoh Jaroe ditarikan oleh para perempuan dalam jumlah genap sedangkan Tari Saman ditarikan para laki-laki dalam bilangan ganjil.

Kedua Tari Ratoh Jaroe dikendalikan dua orang syahi (penyair yang duduk di luar formasi penari) sedangkan Tari Saman dikendalikan seorang penangkat duduk di formasi tarian paling tengah.

Ketiga, Tari Ratoh Jaroe bersyair Bahasa Aceh sedangkan Tari Saman didendangkan lewat syair berbahasa Gayo.

Keempat Tari Ratoh Jaroe diiringi Rapai sedangkan Tari Saman tidak pernah diiringi alat musik tradisional apapun.

Kelima, Tari Ratoh Jaroe para penarinya menggunakan pakaian polos merah, kuning, hijau dan lainnya berpadu dengan songket Aceh dengan penggunaan ikat kepala berwarna polos. Sedangkan Tari Saman, penarinya berkostum pakaian tradisional Gayo yakni baju kantong bermotif kerawang (pakaian dasar hitam dengan motif kuning, merah dan hijau) serta hiasan kepala menggunakan bulang teleng dengan daun kepies atau daun pandan.

Sebagai catatan, Tari Ratoh Jaroe pernah ditarikan oleh 6.600 penari siswi SMP, SMA, dan Mahasiwi se-Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) di Alun-Alun Tugu Api Pancasila, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Minggu 24 April 2016 sehingga memecahkan bukan hanya rekor Indonesia tapi dunia dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

Berikut ini sepenggal lirik lagu Bungong Jeumpa, lagu asal Aceh yang mengiringi tarian Ratoh Jaroe di pembukaan Asian Games 2018 lengkap dengan terjemahannya dalam Bahasa Indonesia.

Bungong Jeumpa, bungong jeumpa meugah di Aceh

Bungong teuleubeh-teuleubeh indah lagoina

Bungong jeumpa, bungong jeumpa meugah di Aceh

Bungong teuleubeh-teuleubeh indah lagoina

Puteh kuneng, meujampu mirah Bungong si ulah indah lagoina

Terjemahannya:

Bunga jeumpa, bunga jeumpa terkenal di Aceh.., bunga yang terlebih indah sekali

Bunga jeumpa, bunga jeumpa terkenal di Aceh.., bunga yang terlebih indah sekali

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

NB. : 2 foto di tulisan ini adalah saat 6.600 penari Tari Ratoh Jaroe pecahkan rekor MURI di TMII.

Read more...

Rabu, 15 Agustus 2018

PKA VII Selesai, Juara umumnya Aceh Selatan

Perhelatan 4 tahunan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 2018 atau Ketujuh ini sudah berakhir dan ditutup di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Rabu (15/8) malam. Hasilnya, Kabupaten Aceh Selatan keluar sebagai Juara Umum.

Kabupaten Aceh yang juga dikenal dengan sebutan ‘Negeri Pala’ ini juga menyabet penghargaan Anjungan Terbaik di Taman Sulthanah Safiathuddin dan Stand Terbaik di Expo PKA VII.

Pengumuman para pemenang dibacakan oleh Ketua Dewan Juri PKA VII, Nazaruddin Awe di atas panggung utama.

Plt. Gubernur Aceh, Nova Iriansyah dalam sambutannya mengatakan ajang PKA merupakan wadah untuk melestarikan budaya Aceh yang multikultur.

“Semangat berkebudayaan ini harus dikembangkan terus, guna menyongsong terwujudnya Aceh Hebat dengan adat budaya yang bersyariat,” imbaunya.

Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) RI yang juga Kepala Badan Pertanahan Nasional, Sofyan Djalil menutup even kebudayaan terbesar di Aceh ini dengan menyulut meriam bambu atau ‘teut bude trieng’, didampingi Nova Iriansyah, Pangdam IM, Wali Nanggroe, dan Forkopimda Aceh.

Secara keseluruhan PKA VII yang berlangsung di Banda Aceh selama 10 hari (5-15 Agustus 2018) berjalan lancar dan sukses.

Pantauan Travelplus Indonesia, usai para pemenang anjungan dan juara umum PKA VII diumumkan, sejumlah pengunjung ramai-ramai mendatangi anjungan Aceh Selatan, Aceh Besar, Kota Banda Aceh, dan lainnya untuk melihat bentuk dan isi dalamnya serta tak ketinggalan ber-selfie ria.

Berikut hasil lengkap pemenang PKA VII:

Juara 1 sekaligus Juara Umum diraih Kabupaten Aceh Selatan dengan total nilai 1.870.

Juara II Kabupaten Aceh Besar (1.820) dan Juara III  Kota Banda Aceh (1.740).

Juara Harapan I, II, dan III secara berurutan disabet  Kabupaten Bireuen dengan jumlah nilai 1.520, Aceh Tengah (1.510), dan Kabupaten Aceh Barat 1.100 poin.

Naskah & foto : adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Sofyan Djalil Tutup PKA VII, Ini Pesannya

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA)  berpeluang besar mendatangkan lebih banyak lagi wisatawan mancanegara bahkan investor. 

Untuk mencapai itu, kemasan dan promosinya harus ditingkatkan.

Demikian inti pesan yang disampaikan Menteri Agraria dan Tata Ruang Badan Pertanahan Nasional Sofyan Djalil saat menyampaikan sambutan penutupan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) 2018 atau Ketujuh di Taman Sulthanah Shafiatuddin, Banda Aceh, Rabu (15/8) malam.

"PKA selanjutnya harus dikemas lebih menarik lagi agar benar-benar menjadi daya tarik wisata," ujarnya.

Kalau kemasannya semakin menarik dan sudah menjadi daya tarik wisata, sambungnya otomatis turis dari mancanegara akan berdatangan.

"Nama Aceh lewat PKA pun akan semakin harum, dikenal luas dan mendunia. Bukan cuma itu investor di bidang pariwisata pasti akan mau menanamkan investasinya di sini sehingga berujung pada peningkatan perekonomian masyarakat Aceh," terangnya.

Usai menyampaikan sambutan sofyan djalil, putra asli Aceh ini menutup PKA 2018 atau Ketujuh dengan menyulut Beude Trieng atau meriam bambu di halaman depan panggung utama.

Dia didampingi Plt.  Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Pangdam IM, Wali Nanggroe, dan Forkopimda Aceh.

Sebelumnya, acara penutupan PKA VII yang dimulai ba’da shalat Isya atau pukul 20.30 WIB ini diisi beberapa suguhan seperti pemutaran video flashback PKA-7, penyampaian sambutan oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah serta pembacaan Surat Keputusan Gubernur Aceh terkait penentuan juara umum dan penyerahan Piala Bergilir PKA-7.

Di ujung acara, tamu undangan dan pengunjung dihibur Tari Meusaho yang dibawakan para penari Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh dan musik perkusi The Sound of Aceh yang dikolaborasikan dengan puisi oleh Su Nanggroe.

Pantauan TravelPlus Indonesia, meskipun jelang acara penutupan sempat gerimis (hujan kecil rintik-rintik), namun tak mengurungkan niat ribuan pengunjung untuk berbondong-bondong datang.

Lokasi acara penutupan bersamaan dengan pelaksanaan Pasar Rakyat membuat suasananya sangat ramai, padat merayap.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Minggu, 12 Agustus 2018

Inilah 6 Pemenang Lomba Foto Pesona Pesisir BPNB Aceh 2018

Para pemenang Lomba Foto On the Spot 2018 bertema Pesona Pesisir yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh sudah diumumkan di Kota Singkil, Minggu (12/8), selepas acara penutupan.

Ada 400 foto dari seluruh peserta lomba yang masuk ke penjurian dewan juri.

Ada tiga juri dalam lomba foto ini yaknubArbain Rambey dari Harian Kompas, Bambang Widjanarko (Kementerian Pariwisata/Kemenpar), dan Hotli Sumanjuntak dari EPA/The Jakarta Post.

Setiap peserta mengumpulkan 15 foto yang terdiri dari foto budaya, human interest, dan landscape.

Setelah melalui proses penjurian, dari 400 foto terpilih 6 foto sebagai pemenang juara satu sampai harapan 3.

Arbain Rambey menjelaskan  penjurian lomba foto ini berpedoman pada 3 hal penilaian yakni bagus, indah, dan menarik.

"Bagus dari sisi teknis foto dan kesesuaian dengan tema, indah dari sisi pariwisata dan jurinya senang, serta menarik itu yang paling menonjol membuat orang tertarik," terangnya.

Ke-400 foto dari seluruh peserta lomba foto ini, lanjut Arbain kemudian diperas oleh masing-masing juri.

Setiap juri mengumpulkan 10 foto terbaik sehingga terperas menjadi 30 foto yang dikumpulkan dalam 3 folder yakni budaya, human interest, dan landscape.

Berikutnya dari masing-masing folder, dipilih oleh setiap juri menjadi 2 foto terbaik sehingga terkumpul 6 foto.

Keenam foto terbaik itu kemudian dipilih juara 1 sampai juara 6 berdasarkan rasa, pertimbangan, dan selera juri.

"Rumusnya adalah selera juri, sebab juri memahami foto yang unggul baik dari segi jurnalistik dan pariwisata," tambah Arbain.

Sebuah foto yang unggul dari tiga hal penilaian yakni bagus, indah, dan menarik otomatis menjadi pemenangnya.

Kata Arbain banyak peserta lomba yang mengirimkan foto landscape yang indah dan menarik, tapi foto-foto itu tidak menunjukkan kekuatan lokal/khas daerah itu, dengan kata lain foto itu bisa dibuat dimanapun.

"Jadi foto yang menang itu karena sesuai tema, ada sisi budayanya dan ada pariwisatanya serta memperlihatkan kekhasan daerah itu seperti foto juara satu ini," ungkap Arbain.

Kepala BPNB Aceh Irini Dewi Wanti lewat WA menambahkan yang penting bukan kalah atau menang tapi bagaimana para peserta lomba sudah turut memberi kontribusi bagi Aceh Singkil dalam memperkenalkan potensi ragam budaya dan pesona keindahan alamnya lewat foto.

"Saya harap foto-foto peserta lomba ini di-upload di akun Instagram-nya masing-masing dan di-tag ke IG @BPNBAceh, disertai hastag #lombafotopesonapesisir. Buat yang punya blog, bisa juga menulis kekhasan budaya dan keindahan alam Aceh Singkil ini, " imbau Rini.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Aceh Singkil, Paisal S. Pd berterimakasih karena sudah menjadikan daerahnya sebagai lokasi lomba foto ini.

"Kami siap jika daerah kami dijadikan tempat untuk lomba foto lagi atau acara lainnya," ujar Paisal.

Berikut hasil lengkap keenam pemenang lomba foto on the spot 2018 bertema Pesona Pesisir yang digelar BPNB Aceh didukung Kementerian Pariwisata dan Disparpora Aceh Singkil:

Juara pertama diraih fotografer Joni Saputra dari Kabupaten Pidie, kedua Sofyan Efendi dari Depok Jawa Barat, dan juara ketiga Juliansyah Adjie dari Kabupaten Aceh Besar.

Selanjutnya juara Harapan 1 M Fauzi dari Aceh Besar, Harapan 2 Riza Azhari dari Pidie, dan juara Harapan 3 Maulizar dari Aceh Besar.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Tailana, Pulau Idola Turis Penyepi Asal Eropa

Tailana, begitu nama pulau mungil ini. Pulau tak sampai 6 hektar ini tak berlistrik dan tak berpenghuni. Sepi dan minim fasilitas pula. Tapi anehnya sejak tahun 90-an sampai sekarang peminatnya tetap ada, terutama turis bule pecinta sunyi asal Eropa.

Di sudut kanan Tailana, sepasang bule tengah santai di perairan Tailana.

Si pria mengenakan celana kolor hitam, sementara yang perempuan hanya memakai swimsweet berwarna hitam pula.

Keduanya kemudian bergegas ke daratan lalu masuk ke salah satu cottage sederhana di bawah kerindangan pepohonan.

Beberapa bule lainnya pun demikian, mereka memilih ke cottage-nya masing-masing.

Sepertinya mereka tidak suka dengan kehadiran kami, lantaran  privacy mereka terganggu.

Sejak turun dari speed boat kecil saya langsung mendatangi salah satu pohon cemara di tepian pantai.

Saya langsung jatuh cinta dengan bentuk cemara pantai satu itu, sebab rindang, bikin saya, Essi, dan Fahmi nyaman berteduh di situ, apalagi ada sepotong kayu buat duduk. 

Sementara Piet, Angga, Santi, Lian, Rizki, dan lainnya berenang di pantai, di bawah sengatan terik matahari siang. Sedangkan Arbain Rambey, Bambang Widjanarko, dan Holti asyik bermain drone, memotret pesona Tailana dari ketinggian.

Rekan-rekan fotografer lainnya sibuk memburu foto, mencari objek-objek foto menawan, mengelilingi Pulau Tailana.

Tak lama kemudian Dragon, pengelola pulau ini datang.

Pria berbadan gemuk bernama asli Andi itu membenarkan kalau saat ini ada sejumlah turis bule yang menginap di Tailana.

Sebagian bule lagi tengah berkeliling ke pulau-pulau lain dengan perahu motor.

Kata Dragon kebanyakan yang datang ke sini turis Eropa, terutama Perancis.

"Mereka itu para workholic di negaranya yang mencari pulau-pulau sepi jauh dari kebisingan, salah satunya ke Tailana ini," terang Dragon.

Tailana dalam bahasa setempat berarti minyak kelapa. "Tai itu minyak, Lana itu kelapa," ungkap  Dragon.

Menurut cerita orang-orang tua dulu, sambung Dragon, semua pulau di gugusan Pulau Banyak ini, banyak nyamuknya.

"Pulau Tailana inilah satu-satunya yang tak ada nyamuknya ketika itu," ungkapnya.

Usut punya usut, pulau ini dulunya digunakan sebagai tempat pembuatan kopra. Itulah yang membuat nyamuk tak suka dengan pulau ini.

"Pulau ini sejak dulu dikelola kakek saya, kemudian dilanjutkan orangtua saya dan sekarang diteruskan oleh Mali, abang tertua saya," tegas Dragon.

Di pulau berluas hampir 6 hektar ini selain pohon kelapa juga ada pohon cemara pantai, dan lainnya yang tumbuh secara alami.

Di bawah kerindangan pepohonannya terdapat  9 cottage sederhana dari kayu dan beratap berarak.

Cottage-cotages tersebut sudah ada sejak pertengahan tahun 90-an atau  jauh sebelum gempa dan tsunami menghatam Aceh.

Ada dua jenis cottage di sini. Tipe biasa Rp 125 ribu untuk 2 orang. Sementara tipe keluarga untuk 3 - 4 orang Rp 250 ribu - Rp 500 ribu.

Tarif tersebut berlaku untuk  turis bule/asing maupun pengunjung lokal dan belum termasuk sarapan.

Untuk sarapan, makan siang, dan makan malam, masing-masing dikenakan tarif Rp 100 ribu per orang sekali makan dengan menu beragam.

Kata Dragon lama tinggal turis bule di sini mulai dari 3 sampai 2 minggu. Tapi banyak juga yang 1 bulan bahkan sampai 1,5 bulan.

"Buat turis yang menginap di sini 10 hari dapat bonus 1 hari gratis," terangnya.

Semua cottage di sini tidak ada penerang listrik, apalagi TV. Tapi di sini Ada 3 sumur berair air tawar yang bisa dipakai untuk mandi.

Aktivitas yang biasa dilakukan turis bule di pulau ini antara lain surfing, island touring, menyelam, snorkeling, berenang, dan berjemur.

"Khusus diving di depan perairan pulau  ini ada dive spot yang diberi nama Nirvana karena terumbu karangnya sangat indah," ungkap Dragon.

Dive spot tersebut berada di kedalaman mulai dari 4 - 20 meter. 

Menurut Dragon sewaktu gempa dan tsunami menerjang Aceh 2004 silam, pulau ini tidak terdampak gelombang tsunami sama sekali karena di kelilingi sejumlah pulau lainnya antara lain Pulau Matahari, Lamun, Ragu-Ragu, Orongan, dan pulau berukuran besar Pulau Haloban. 

Untuk menikmati pesona Tailana, turis bule biasanya datang melalui Bandara Internasional Kualanamu Medan, Sumatera Utara kemudian melanjutkan perjalanan darat ke Kota Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, Aceh dengan mobil selama sekitar 8 jam.

Biasanya mereka bermalam dulu di Kota Singkil, keesokan paginya  naik kapal motor dari Pelabuhan Kota Singkil langsung menuju Tailana selama sekitar 6 jam via laut. 

Meskipun jauh, Tailana rupanya jadi idola turis Eropa yang menyukai suasana sepi. Sebab Tailana bukan sekadar  menawarkan sunyi tapi juga ragam pesona serta aktivitas baharinya.

Pesona Tailana yang dikelilingi pantai berpasir putih itu pula yang membuatnya terpilih  menjadi salah satu lokasi photo hunting puluhan peserta lomba foto on the spot 2018 bertema Pesona Pesisir yang digelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh di Singkil dan Pulau Banyak.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Sabtu, 11 Agustus 2018

Lomba Foto BPNB Aceh Ini Angkat Ragam Budaya dan Pesona Bahari Aceh Singkil

Lomba Foto On The Spot 2018 bertema Pesona Pesisir yang gelar Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh di Kabupaten Singkil tengah berlangsung. Program rutin ini diharapkan ragam budaya masyarakat pesisir Aceh Singkil dan pesona keindahan alamnya terekspos luas lewat media foto.

Hal itu disampaikan Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh Irini Dewi Wanti dalam kata sambutannya saat acara pembukaan di Workshop Mendena, Kota Singkil, Jumat (10/8).

Rini begitu panggilan akrabnya menjelaskan Kabupaten Aceh Singkil dipilih sebagai lokasi lomba foto kali ini mengingat Negeri Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf Al Singkili ini dihuni bermacam etnis selain masyarakat pribumi sehingga menjadikannya sebagai daerah multikultural yang unik.

"Keberagaman budayanya tentu sangat menarik  jika "diabadikan"  oleh para peserta lomba foto," terangnya.

Rini berharap, lewat lomba foto ini bukan hanya sejarah dan budaya Singkil saja yang  akan "terabadikan" namun juga keindahan alamnya tertuama baharinya.

Pada kesempatan yang sama kepala Dinas Pariwisata, Pemuda & Olahraga (Disparpora) Kabupaten Aceh Singkil, Paisal, S. Pd lebih rinci menjelaskan bahwa dalam catatan  sejarah hingga akhir abad ke-19, pelabuhan di Singkil merupakan salah satu pelabuhan terbesar dan tersibuk.

Keadaan itu menjadikan banyaknya pendatang yang singgah ataupun menetap di kota ini.

Panjangnya perjalanan sejarah Aceh Singkil ini secara tidak langsung telah melahirkan kebudayaan yang beraneka ragam.

Setidaknya, selain etnis Singkil, terdapat lima etnis besar di Aceh Singkil yaitu Etnis Aceh, Batak, Minagkabau, Nias, dan selain itu di wilayah Singkil terdapat juga beberapa etnis lain seperti Bugis, Jawa, Cina, Arab, dan India.

Migrasinya etnis-etnis tersebut ke wilayah Singkil berlatarbelakang perdagangan  dan mencari pekerjaan.

"Saya rasa banyaknya etnis dengan kebudayaannya yang beragam akan menjadi objek foto yang sangat menarik, termasuk acara-acara adat seperti perkawinan dan lainnya," ujar Paisal.

Keindahan alamnya terutama baharinya juga amat luar biasa. Ada kurang lebih  100-an pulau  di gugus Kepulauan Banyak  yang sebagian belum diberi nama, dan sangat layak di kembangkan menjadi objek wisata andalan, termasuk keindahan alam bawah laut dan penyu hijau-nya.

"Saya yakin para fotografer yang menjadi peserta lomba ini pasti mengincar keindahan Pulau Banyak sebagai objek fotonya," ungkap Paisal.

Pusat kecamatan Kepulauan Banyak, lanjutnya  terdapat di Pulau Balai. "Pulau itu menjadi nadi perekonomian dari Kepulauan Banyak karena di sana terjadi transaksi ekonomi antarpenduduk," tambah Paisal.

Di Kepulauan Banyak juga ada beberapa pulau besar di antaranya Pulau Tuangku, Bangkaru, Ujung Batu, dan Pulau Palambak Besar.

"Saya percaya dengan foto-foto luar biasa dari para fotografer akan menjadi media promosi yang besar untuk Singkil terutama untuk Pulau Banyak," pungkas Paisal.

Selepas pembukaan, Hotli Simanjuntak, salah satu dari 3 juri memberikan technical meeting kepada para peserta lomba foto. Isi pengarahannya antara lain tentang peraturan lomba secara general, jumlah foto yang harus dikumpulkan, dan penentuan spot-spot foto.

"Setiap peserta harus mengumpuklan 3 foto dihari pertama, 7 foto hari kedua, dan 5 foto hari ketiga," terang Hotli.

Selepas technical meeting, peserta menikmati Roti Jalo dan Gule Lokan (kerang), salah satu makanan khas Singkil.

Usai Shalat Zuhur, seluruh peserta mulai memburu foto di lokasi pengumpul nipah, pencari lokan, dan sunset jelang Maghrib.

Hari kedua lomba foto berhadiah total Rp 36 juta, Sabtu (11/8) ini peserta lomba foto bertolak ke Pulau Banyak untuk photo hunting budaya antara lain tarian Perak-Perak dan Pencak Silat Kampung di Pulau Panjang dan Lomba Layang-Layang di Pulau Balai.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP