. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Senin, 23 April 2018

Usai Tasyakuran HUT ke-4, Forwan Siap Santuni 400 Anak Yatim

Selepas sukses mengadakan tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT)-nya yang ke-4, Forum Wartawan Hiburan (Forwan) berencana menggelar acara santunan kepada anak yatim tahun ini.


“Forwan berdiri bukan hanya untuk anggotanya pun ingin berbagi dengan menggelar charity menyantuni 400 anak yatim tahun ini,” kata Ketua Umum Forwan Sutrisno Bunyil saat memberikan sambutan dalam acara Tasyakuran tersebut yang berlangsung di Comedy Café Indonesia, Thamrin City, Jakarta Pusat, Senin (23/4/2018) malam.

Selain 400 anak yatim, Forwan juga akan memberikan santunan kepada 4 janda yang suaminya adalah anggota Forwan, antara lain unutk istri almarhum Agustian dari Harian Waspada dan istri almarhun Ery Anugerah dari koran Media Indonesia.

Pada kesempatan itu Buyil mengajak semua anggota, simpatisan, dan juga para artis untuk turut berpartisipasi dengan cara menyisihkan rezeki demi terlaksananya acara santunan tersebut.

“Buat teman-teman Forwan dan juga para artis yang ingin donasi, kami sudah mencetak kupon, per lembarnya seharga 200 ribu untuk menyantuni seorang anak yatim,” terang Buyil.

Pelaksanaan acara santunan anak yatim, lanjut Buyil akan digelar tanggal 4 Juli mendatang di Pusat Perfilman Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan.

Pantauan TravelPlus Indonesia acara tasyakuran HUT ke-4 Forwan yang digelar untuk mempererat tali silaturahim antar-anggotanya dan juga dengan simpatisan serta pendukungnya, berlangsung sederhana, berkesan, dan lancar.

Ada sekitar 50-an tamu yang hadir dalam acara tasyakuran yang digelar sebagai langkah awal menuju acara yang lebih besar yakni Santunan Anak Yatim.

Dalam kesempatan itu juga diumumkan beberapa anggota kepengurusan baru Forwan serta pemberian kartu anggota Forwan kepada tiga wartawan hiburan secara simbolik.

Usai pemotongan nasi tumpeng dan kue ulang tahun serta makan bersama, acara dilanjutkan dengan hiburan live music di panggung Open Mic Comedy Cafe.

Sederet penyanyi turut menyumbangkan suaranya dengan menyanyikan sejumlah lagu dangdut antara lain Ruri Mosdika, Elmira Batik, Hj. Nina Hasyim, Indh Sari, Eko Meg Bintang, Ram Wijaya Group, 2 Ratus Nagaswara (Ovy dan Ladies), Si Goyang Pecut Lia Callia, Vivin Vania RPM, Harsya, Izzy Diagla, Nura Pusvita, dan tak ketinggalan aksi Forwan Band.

Acara yang berlangsung sampai tengah malam, ditutup dengan pembagian doorprize.

Dalam kesempatan baik ini, TravelPlus Indonesia sekali lagi mengucapkan selamat ulang tahun buat Forwan yang ke-4 semoga semakin hebat, eksis, kreatif, dan semakin diakui keberadaannya di dunia hiburan Tanah Air.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Pembacaan janji kepengurusan Forwan.
2. Ketua Umum Forwan Sutrisno Buyil menyampaikan kata sambutan dalam acara Tasyakuran HUT Forwan ke-4 di Comedy Café Indonesia, Thamrin City, Jakarta Pusat
3. Acara penotongan tumpeng dan kue Ultah Forwan.
4. Sejumlah karangan bunga ucapan HUT Forwan ke-4. (dok. Forwan)

Read more...

Minggu, 22 April 2018

Kongko di Comedy Cafe, Cobalah Serius untuk Tidak Serius

“Cobalah lebih serius untuk tidak serius”. Begitu tulisan yang tertera di salah satu halaman daftar menu sebuah kafe di pusat perbelanjaan di Jakarta Pusat.

Di lembar halaman lain masih di daftar menu tersebut ada tulisan lainnya yang tak kalah menggelitik hati saya.

Bunyinya: “Makan-minum, nyanyi-nyanyi, ketawa-ketiwi”.

Dari dua tulisan itu, jelas kafe yang terletak di bagian depan sisi kiri pusat perbelanjaan Thamrin City, Jakarta Pusat ini ‘melarang’ pengunjungnya datang membawa keseriusan, sesuai dengan namanya Comedy Café Indonesia. Jadi bawalah santai dan humor saja.

Untuk memperkuat konsep sebagai kafe yang mengangkat komedi, pemiliknya pun menyediakan panggung Open Mic.

Pengunjung yang ingin ber-stand up bisa unjuk aksi di pangung yang berada di bagian dalam kafe ini, persisnya di sisi kanan.

Tak cuma itu, sejumlah nama menunya pun diberi embel-embel comedy.

Untuk main course-nya misalnya ada Nasi Goreng Comedy yang dibanderol dengan harga Rp 33 ribu seporsinya.

Selain itu ada Soto Ayam Comedy Rp 35 ribu, Baso Sapi Kuah Comedy Rp 33 ribu, dan beragam Cowmedy Steaks antara lain Chicken Steak Rp 57 ribu dan Tenderloid Steak Rp 85 ribu.

Sementara makanan dan minuman ringannya ada Roti Bakar Comedy Rp 27 ribu, Comedy Ice Cream Rp 39 ribu berisi tiga tangkup ice cream dengan varian rasa berbeda, Es Campur Comedy Rp 29 ribu, Comedy Smoothies Rp 37 ribu, dan beragam Comedy Tea antara lain Ice Tea Rp 18 ribu, Flavour Tea dan Teh Poci masing-masing Rp 28 ribu.

“Om mau pesan makan dan minum apa?” tanya pramusaji pria berseragam baju dan celana hitam semalam.

Setelah melihat daftar menu yang disodorkan, saya langsung tertarik dengan menu yang ada embel-embel comedy-nya.

“Pesan Nasi Goreng Comedy, Ice Tea, dan Ice Cream aja. Oiya Ice Cream-nya nanti saja setelah selesai makan,” balas saya.

Tak lama kemudian, pramusaji itu membawakan Ice Tea ke meja saya yang berada di bagian luar atau ruang smooking room yang dilengkapi dengan kipas angin berukuran besar.

Di meja itu ada tisu, asbak, dan lampu lilin cair berwarna merah.

Di ruangan terbuka dengan rangkaian lampu kerlap-kerlip itu terlihat beberapa pengunjung sedang menikmati aneka hidangan.

Di sudut paling depan Nampak sekelompok pengunjung yang tengah melakukan sesi pemotretan model perempuan berhijab.

Sekitar 10 menit kemudian, pramusaji tadi membawakan Nasi Goreng Comedy dalam piring ceper besar berwarna putih polos.

Isinya ada Nasi Goreng yang dibagian atapnya ditutupi telor mata sapi, ditambah sepotong ayam goreng serta daun selada, irisan tomat, dan acar timun.

Selepas menyantap nasi goreng yang rasanya cukup pedas dan enak itu, pramusaji tadi kemudian membawakan ice cream dengan rasa vanila dan stroberi.

Malam itu, selain sejumlah pengunjung juga terlihat Ramon Papana, penggagas sekaligus pemilik brand Comedy Café Indonesia.

Usai santap malam di ruang bagian dalam, dekat dengan panggung Open Mic, Ramon yang tak lain ayah dari komedian almarhum Ade Namnung kemudian terlihat mengecek persiapan anak buahnya membuat pernak-pernih untuk acara tasyakuran Hari Ulang Tahun (HUT) Forum Wartawan Hiburan (Forwan) yang ke-4, yang akan diselenggarakan di Comedy Café ini, besok, Senin (23/4/2018).

Saya pun langsung menghubungi Sutrisno Buyil selaku Ketua Umum Forwan. "Mas bro apa harapanmu buat Forwan di ultah-nya yang ke-4 ini?" tanya saya.

"Makin profesional, makin diperhtungkan oleh pelaku industri film, hiburan, dan pemangku industri hiburan. sekaligus makin mensejahterakan anggota," balas Buyil lewat pesan WA.

Sepertinya Forwan memilih Café Comedy sebagai tempat perayaan HUT-nya tahun ini boleh dibilang sudah tepat.

Bukan lantaran lokasinya amat strategis di pusat kota, pun memang konsepnya cocok untuk tempat menggelar perayaan ulang tahun, gathering, dan lainnya dengan suasana santai dan menghibur.

Menurut pramusaji itu, kafe ini mampu menampung sampai dengan 150 orang, untuk di bagian dalam dan luar.

“Kami juga menyediakan karoke serta layar untuk memuat lirik lagunya,” terang pramusaji itu.

Sebagai catatan Comedy Café ini sebelumnya berada di Kemang, dan beberapa tempat lagi di Jakarta.

Di tempatnya yang baru di Thamrin City, Comedy Café tetap setia mengusung konsepnya sebagai kafe yang bukan hanya memuaskan perut pengujungnya saja, pun suasana hati pengunjungnya dengan atmosfir santai dan menghibur.

Jadi sekali lagi, jangan terlalu serius ya kalau kongko-kongko di kafe ini. Rileks saja, nikmati bermacam hidangannya, bernyanyilah, dan tertawalah hilangkan penat meskipun sejenak.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Ada pemotretan model berhijab di Comedy Café Indonesia.
2. Comedy Café di pusat perbelanjaan Thamrin City, Jakarta Pusat.
3. Menu Nasi Goreng Comedy
4. Ice Cream ala Comedy Café
5. Suasana ruang bagian luar Comedy Café.

Read more...

Soto Betawi Bang Tako, Ah Bikin Ngecesss Langsung Meleleh

Apa yang pertama bikin orang kesemsem dengan dengan menu masakan? Jawabannya tentu penampilan atau kemasannya. Begitupun dengan Soto Betawi satu ini. Sewaktu melihat warna kuahnya saja, sanggup membuat gelora selera saya seketika meleleh.

Soto Betawi (Sobet) yang maksud di atas itu adalah Sobet Bang Tako yang berada di bilangan Pondok Pinang, Jakarta Selatan. 

Awal ceritanya begini. Sewaktu saya berniat membuat tulisan “Sensasi Jelajah Soto Betawi dari Kaki Lima sampai Hotel Berbintang”, saya rada kebingungan menentukan pedagang Sobet mana yang akan saya pilih, terutama yang berjualan di kaki lima. 

Maklum, di Jakarta pedagang makanan berkuah santan ini cukup banyak, tersebar di lima wilayah kota, mulai dari Jakarta Selatan, Barat, Timur, Pusat, dan Jakarta Utara. Bahkan sudah menyebar ke Bodetabek dan kota-kota lain di Tanah Air.

Contohnya di kawasan pusat grosir busana dan tekstil terbesar di Asia Tenggara yakni pasar Tanah Abang, Jakara Pusat, di sana banyak pedagang Sobet kaki lima, warung maupun yang ada di food court-nya. 

Namun belum tentu semua pedagangnya itu orang Betawi Asli. Kenapa? Soalnya kalau yang berjualan bukan orang Betawi, kabarnya rasanya kurang nendang. Ah masa? 

Itu pun berlaku untuk pedagang kuliner tradisional Betawi lainnya seperti Nasi Uduk, aneka Semur Betawi, Gado-Gado, Kerak Telor, dan lainnya.

Menurut banyak pihak, katanya kagak afdol kalau bukan orang Betawi yang masak dan menjualnya. Karena alasan itulah, saya memilih pedagang Sobet orang Betawi Asli. 

Untunglah ada rekan seprofesi (wartawan) yang memang asli Betawi mengabarkan bahwa orangtuanya sudah lama menjual Sobet dan kini usahanya dilanjutkan oleh abang (eh diralat adik) kandungnya.

“Lokasinya di Jalan Raya Pondok Pinang, dekat bekas rumah orangtua ane yang udeh dijokul,” terang Syarifudin Bachwani sobat jurnalis yang biasa disapa Araf atau Syarif. 

Tak lama kemudian, Araf mengirim beberapa foto warung Sobet kaki lima warisan orangtuanya itu ke Whats App Group (WAG) Asgob (Asal Goblek) yang dihuni para almamater IISIP angkatan jadul

Berbekal foto-foto itulah, ditambah patokan tempat yang ditunjukkan Araf, saya mencari pedagang Sobet Bang Tako di Pondok Pinang (Ponpin). 

Suatu hari selepas mengikuti Kajian Islam di Masjid Al-Hikam, Pasar Raya, Blok M, Jakarta Selatan, saya langsung bergegas ke Sobet Bang Tako Ponpin. 

Semula ingin naik ojek online biar cepat sampai. Tapi saya urungkan karena sudah lama tidak naik metromini menuju Lebak Bulus. 

Ternyata metromini S-72 jurusan Blok M-Lebak Bulus masih beroperasi meskipun jumlahnya tidak sebanyak dulu. (Nasib serupa juga menimpa sejumlah metromini jurusan lain. Kabarnya ini terjadi sejak transportasi online ngehits. Banyak orang berpindah hingga mengakibatkan jumlah penumpang metromini merosot tajam). 

Metromini yang saya tumpangi melewati kawasan Radal (Radio Dalam), termasuk kantor lamanya rekan saya itu. 

Rupanya kemacetan semakin parah, dan itu pula yang membuat masyarakat beralih ke ojek online ketimbang metromini ataupun angkot karena dinilai lebih praktis dan cepat tiba di tujuan. 

Saya menutuskan turun di halte Trans Jakarta (TJ) Busway Pondok Indah, mengingat kemacetan yang luar biasa di kawasan menuju Lebak Bulus, Rabu sore itu. 

Kemudian melanjutkan naik Bis TJ yang jauh lebih nyaman dan terhindar dari kemacetan karena melewati jalur khusus. 

Jujur, sudah lama tidak melewati Lebak Bulus, saya sangat kaget dengan parasnya yang berubah total 360 derajat. Wajah Lebah Bulus nyaris tak seperti dulu lagi. 

Terminal lamanya tidak ada lagi, sudah berganti dengan depo Mass Rapid Transit (MRT). Tiang-tiang pancang beton mewarnai langit Lebak Bulus era milenial ini. 

Memang benar terkesan lebih modern, namun entah kenapa justru terselip pula kesan berjarak dan angkuh di sana. 

 “Jakarta oh Jakarta, inikah dampak lain pembangunan yang sengit ini?” tanya hati yang anehnya justru ingin segera merasakan sensasi naik MRT biar merasakan sensasi kekinian. 

Dari halte transit TJ di Lebak Bulus, saya berganti Bis TJ lainnya jurusan Lebak Bulus-Senen yang melewati Ponpin. 

Sebelum sampai di halte TJ Ponpin, saya turun di halte Selapa Polri. Setelah berjalan kaki beberapa langkah, akhirnya mata tertuju dengan lembar spanduk penutup gerobak sederhana di tepi jalan berwarna putih bertuliskan “Soto Betawi” berwarna merah berikut gambar Semangkuk Sobet, acar, dan sambal masing-masing dalam wadah mangkuk kecil serta beberapa potong emping. 

Sepertinya spanduk itu masih baru, terlihat dari warnanya yang masih bersih. 

Gerobak Sobet sederhana itu terletak di samping mini market H. Saikin, tepatnya di tengah-tengah antara gerobak pedagang Soto Ayam dan Sate Madura. 

Gerobaknya sekaligus merangkap meja untuk bersantap. Di atas gerobak beralas terpal plastik berwarna merah, ada kotak kaca untuk menempatkan rebusan potongan daging sapi dan lainnya, juga tomat dan jeruk limo. 

Di sebelah kotak kaca terdapat rice cooker untuk menempatkan nasi, kaleng emping, setoples acar timun/wortel/cabe rawit, setoples sambal, dan tumpukan mangkuk serta piring yang ditutupi serbet. 

Di belakang gerobak, ada kompor gas dengan tabung gas 3 Kg berwarna hijau, berikut panci untuk memanaskan kuah Sobet. 

Sementara pagar depan rumah tempat gerobak itu berdiri, ditutupi dengan selembar spanduk lama yang juga bertuliskan Soto Betawi, tampa gambar Sobet.

Setibanya di sana, saya langsung memesan Sobet. Pelayannya pria berumur sekitar 40-an tahun yang ternyata Bang Tako sendiri setelah saya tanya namanya. Sepintas air mukanya rada mirip rekan saya itu. 

“Bang, Soto Betawinya campur, nasinya setengah aja,” pesan saya. 

Tak lama kemudian pesanan saya tiba. Saat itu pula selera makan saya seketika meleleh melihat kuah Sobet Bang Tako. Warnanya merah, begitu menggoda. Duh, bikin ngecesss...

Saya sengaja mencicipi langsung kuah Sobet Bang Tako tanpa memberi sambal, acar timun, jeruk limo, dan garam terlebih dulu agar bisa merasakan rasa original-nya. 

Kuah santannya encer, cocok dengan selera saya yang rada pantang dengan makanan bersantan kental. Rasa original-nya cukup enak, namun setelah saya tambah dengan sambal, jeruk limo, dan garam, rasanya jauh lebih ajiiib... 

Isi sotonya ada potongan daging sapi, kikil, paru, babat, dan kentang serta irisan tomat merah, ditambah emping. Seporsinya cuma Rp 20 ribu. 

Sudah tahu kalau Sobet Bang Tako enak dan harganya terjangkau, saya pun memesan satu porsi lagi, dibungkus untuk orang rumah. 

Kata Bang Tako, Sobetnya sudah bisa dipesan lewat ojek online. “Bilang aja dekat mini market Haji Saikin, Soto Betawi Bang Tako Ponpin,” ungkapnya. 

Saya sengaja datang ke Sobet Bang Tako tanpa memberi kabar Araf. Dan sewaktu menyantap Sobet itu pun, juga tidak mau lama-lama, khawatir rekan saya itu mampir ke warung Sobet adiknya itu. Untungnya dia tidak nongol

Saya pun tak bertanya banyak soal sejarah Sobet dari Bang Tako. Soalnya takut pria itu curiga dan bilang dalam hati. “Ini orang kepo bingit kayak wartawan aja”. 

Begitu pun saat memotret Sobet beserta gerobak dan spanduknya, saya lakukan diam-diam. 

Sehari kemudian, baru saya beri tahu Araf kalau saya sudah datang ke Sobet Bang Tako Ponpin lewat pesan di WAG Asgob. 

Rekan saya itu pun kaget. “Koq nggak bilang2 klo mau mampir, kan ane bisa langsung ke situ,” kata Araf yang kini menjadi pimpinan redaksi (pimred) sebuah majalah berikut media online-nya. 

“Kalau bilang2 kagak cupres (baca: surprise) keleeeusss...,” balas saya. “Dasar yeee..,” sambung Araf. “Tunggu tulisannyeee yeee,” jawab saya lagi. “Asyeeek…,” timpal Araf seraya mengucapkan terimah kasih.

“Ini sebuah kehormatan jurnalis travel mau mampir ke Sobet Bang Tako Ponpin,” ucap Araf lagi.

Jujur sewaktu memotret Sobet Bang Tako Ponpin, saya terganggu dengan mangkuknya, lantaran ada tulisan merek sebuah penyedap rasa. Berulang kali saya abadikan, tetap saja masih nampak tulisan merek itu.

Sesampainya di rumah, saya langsung masukkan Sobet Bang Tako Ponpin yang tadi saya pesan ke dalam mangkung bening polos, tanpa gambar dan tulisan. Baru kemudian saya foto lagi beberapa kali.

Sayangnya, warna kuahnya tak semenarik sewaktu saya santap di Ponpin. 

Warna merahnya yang menggoda tidak keluar. Bisa jadi karena sudah terlalu lama dalam bungkusan plastik atau bisa juga lantaran kuahnya terlampau banyak. 

Kendati begitu, melihat potongan kikil dan daging berikut irisan tomat merah serta emping yang mengambang dan saling ‘berenang’ di mangkung itu, membuat selera makan saya meleleh kembali. Aaah ngecessss lagi, sikaaaat… 

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo, ig: @adjitropis) 

Captions
1. Warna kuah Soto Betawi (Sobet) Bang Tako di Pondok Pinang (Ponpin), Jakarta Selatan menggugah selera. 
2. Spanduk gerobak Sobet Bang Tako Ponpin. 
3. Gerobak Sobet Bang Tako Ponpin, samping mini market H. Saikin. 
4. Seporsi Sobet khas Betawi gaya kaki lima. 
5. Sobet Bang Tako Ponpin usai dipindahkan di mangkuk polos.

Read more...

Sabtu, 21 April 2018

Launching FBIM 2018 Bikin Jakarta Mendadak Dayak

Jakarta mendadak Dayak. Begitu kesan awal ketika memasuki ruang Balairung Soesilo Soedarman, yang berada di lantai dasar Gedung Sapta Pesona, Kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di Jalan Medan Merdeka Barat 17, Jakarta Pusat, Kamis (18/4) malam lalu.

Bukan karena ada standing banner bertuliskan launching Festival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2018 berikut foto-foto festival tersebut yang sengaja diletakkan di dekat pintu masuk ruangan itu.

Bukan pula tulisan Press Conference FBIM 2018 berikut foto-foto festival tersebut yang tertera di layar video sebagai backdrop panggung.

Melainkan sejumlah orang Dayak yang datang langsung dari Kalimantan Tengah (Kalteng), terutama Dayak Ngaju, maupun orang Dayak ataupun berdarah Dayak yang sudah hijrah dan lama menetap di Jabodetabek.

Mereka, terutama perempuan dewasa semuanya mengenakan bermacam pakaian khas Dayak yang ada Kalteng.

Penampilan mereka itulah yang membuat atmosfir Jakarta khususnya di ruangan itu berubah menjadi seperti di salah satu wilayah Dayak yang ada di Kalteng.

Apalagi ada suguhan tarian Wadian Dadas yang menceritakan tentang pengobatan orang sakit yang kemasukan roh-roh jahat serta hiburan kesenian Karungut yang diiringi empat pemain musik yang memainkan alat musik kecapi, gendang, dan seperangkat gong Dayak, membuat suasana malam itu mendadak seperti sebuah dusun Dayak Ngaju di Kalteng yang tengah melakukan upacara Tiwah (dalam Kaharingan-kepercayaan asli orang Dayak, untuk mengantar ruh manusia yang meninggal dunia ke peristirahatannya), ataupun upacara meminta hujan, dan upacara pengobatan belian obat.

Pria dayak yang hadir malam itu rata-rata mengenakan Lawung atau peci khas pria Dayak Kalteng. Sementara baju-nya bukan baju adat Dayak melainkan kemeja batik dengan motif khas Dayak.

Ada juga yang menambahkan rompi (jaket simpel dan tipis tanpa lengan) dari kulit kayu yang dalam Bahasa Ngaju disebut Sangkarut, seperti yang dikenakan Kepala Taman Budaya Kalteng Wilbertus Wilson saat tampil menyanyikan Karungut berlirik potensi wisata budaya dan alam Kalteng.

Kata Wilson, Sangkarut yang dikenakan ini sudah modern karena bermotif. Ratusan tahun silam, sambung Wilson, masyarakat Dayak membuat Sangkarut ini dari kulit kayu yang disebut kulit nyamu.

Kulit kayu dari pohon keras itu ditempa dengan pemukul semacam palu kayu hingga menjadi lemas seperti kain. Usai dianggap halus, “kain” itu dipotong untuk dibuat baju dan celana. Ketika itu, rompinya tanpa hiasan apapun.

Selain Sangkarut, masyarakat Dayak tempo doeloe juga membuat cawat semacam sempak yang ketika dikenakan bagian depannya ditutup lembaran kain nyamu berbentuk persegi panjang yang disebut Ewah.

“Baik Sangkarut maupun Ewah itu berwarna coklat muda, warna asli kayu nyamu, jadi tidak diwarnai. Juga sama sekali tidak diberi hiasan alias polos sehingga kesannya sangat alami,” terang Wilson.

Selain mengenakan Sangkarut dan Ewah, biasanya pria Dayak Ngaju melengkapi diri dengan Mandau atau pedang dengan Taliwang atau perisai/tameng.

Sejak teknik menenun dikenal masyarakat Dayak Ngaju, konon kabarnya dari orang-orang Bugis, kulit kayu yang semula hanya ditempa menjadi lembaran-lembaran “kain”, kini diolah dengan proses panjang.

Kulit kayu yang telah dihaluskan kemudian dibuat serat lalu dicelupkan ke air pewarna alam sehingga dihasilkan benang dengan aneka warna.

Kemudian mereka tenun menjadi lembaran kain yang selanjutnya dirancang sedemikian rupa menjadi baju, celana, ikat kepala, dan kelengkapan lainnya.

Lambat laut masyarakat Ngaju pun mengenal teknik menenun kain halus dari kapas dan sutra sehingga dalam perkembangannya kini banyak pakaian acara-acara adat orang Dayak, termasuk kostum tari dan busana pengantin kebanyakan dibuat dari kain beludru, satin atau sutra. Namun corak hias dan modelnya tidak bergeser jauh dari bentuk asalnya.

Jika para lelaki Dayak malam itu tidak berpenampilan total, berbeda dengan perempuan Dayak-nya, malam itu kompak mengenakan bermacam busana dayak modern terdiri atas baju kurung Ngasuhui berlengan panjang atau pendek, dari kain satin atau beludru, yang pada bagian bawahnya diberi corak hias bentuk flora atau fauna.

Paduannya rok panjang sebatas betis yang disebut Salui, dari kain yang sama yang juga diberi corak hias berupa penggayaan bentuk tumbu-tumbuhan ataupun hewan.

Rambut yang disanggul bentuk sanggul lipat atau dibiarkan terurai lalu diberi hiasan ikat kepala, Lawung Bawi atau Salutu Bawi dari kain yang sewarna dengan baju dengan bulu-bulu Burung Haruei yang diselipkan pada ikat kepala bagian belakang.

Begitupun dengan enam penari perempuan yang membawakan tarian Wadian Dadas, semuanya mengenakan kostum tari Dayak berwarna kuning berhias  kalung manik-manik, dan anting-anting atau suwang serta ikat kepala dari rajutan daun kelapa muda serta hiasan dari bulu-bulu Burung Haruei.

Corak hias busana yang dikenakan para perempuan Dayak itu pun berbeda-beda. Wilson menjelaskan kalau di Kalteng memang pemakaian corak hias busana adat untuk perempuan dan laki laki itu berbeda, begitupun untuk para pemuka kelompok, para tetua adat, panglima perang, kepala suku, dan ahli pengobatan.

Malam itu, usai pemberian cendera mata, peluncuran FBIM ditutup dengan tarian bersama oleh para tamu utama antara lain Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Esthy Reko Astuti yang mewakili Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kalteng Guntur Talajan, Pjs. Bupati Katingan Suhaemi, Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kabupaten Katingan Mido Mahar, dan Kepala Disbupar Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Fajrurahman dengan para penari.

Meskipun tak berlangsung lama, dan warga Dayak yang datang pun tidak terlalu banyak, namun karena yang hadir rata-rata mengenakan pakaian Dayak ditambah suguhan tarian Wadian Dadas dan kesenian Karungut, membuat kesan Jakarta Mendadak Dayak menjadi terasa.

Nah, kalau Anda ingin benar-benar merasakan atmosfir sebenarnya berikut sejumlah suguhan
tari, lagu daerah, dan atraksi aneka permainan khas Dayak seperti lomba Jukung Tradisional, Besei Kambe, Sepak Sawut, dan lainnya, datang saja ke Kalteng pas penyelenggaraan culture event FBIM 2018 yang bertempat di Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, tanggal 2-6 Mei mendatang.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & dok. humas-kemenpar

Captions:
1. Hiasan kepala perempuan Dayak Kalteng.
2. Menarikan tarian Wadian Dadas.
3. Kesenian Karungut.
4. Wilson mengenakan rompi atau Sangkarut dari kulit kayu.
5. Lawung ataui kat kepala khas pria Dayak Kalteng.
6. Menari bersama di ujung acara.

Read more...

Kamis, 19 April 2018

Angkat Eksistensi Kearifan Lokal, FBIM Konsisten Suguhkan Ragam Budaya Dayak

Sesuai dengan temanya ‘Eksistensi Kearifan Lokal Menuju Kalteng Berkah’, Fesival Budaya Isen Mulang (FBIM) 2018 yang akan berlangsung di Kuala Kapuas, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah (Kalteng), pada 2-6 Mei mendatang, bakal menyuguhkan berbagai atraksi kearifan lokal Kalteng, khususnya dari etnis Dayak.

FBIM 2018 yang diikuti perserta dari Kabupaten dan Kota se-Kalteng akan menampilkan sejumlah permainan tradisional yang diangkat dari kearifan lokal masyarakat Dayak seperti Jukung Tradisional, Besei Kambe, Jukung Hias, Manyipet, Lawang Sakepeng, dan Sepak Sawut.

Jukung (perahu) Pada beberapa tempat orang Dayak juga menyebutkan Jukung dengan sebutan Arut.

Dalam lomba Jukung Hias di FBIM, jukung biasanya dihias sedemian rupa berikut atraksi pendukung sesuai dengan legenda atau ritual adat setempat.

Sedangkan lomba Besei Kambe terdiri atas dua regu dengan dua orang di tiap regunya. Kedua regu tersebut beradu punggung dalam satu perahu, dan bersaing kuat-kuatan mendayung ke dua arah berlawanan. Prinsip lomba ini mirip seperti tarik tambang.

Suguhan tariannya antara lain Tari Wadian Dadas, Mandau, Manggetem, Bukas, Ngajan Balau, Gelang Bawo, Kanjan Halu, dan Tari Giring-Giring

Sementara Sepak Sawut merupakan permainan sejenis sepak bola warisan budaya dari Suku Dayak di Kalteng yang menggunakan bola dari buah kelapa yang kemudian direndam minyak dan dibakar menjadi bola api. Pemainnya bertelanjang kaki atau tidak menggunakan sandal maupun sepatu.

Selain itu ada Karnaval Budaya, Pemilihan Putra-Putri Pariwisata, Tari Daerah, Lagu Daerah dan Karungut, Mangenta, Malamang, Mangaruhi, Balogo, Habayang, Maneweng, Manetek, Manyila Kayu, dan tak ketinggalan suguhan aneka masakan tradisional.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalteng, Guntur Talajan dalam acara peluncuran FBIM 2018 di Jakarta, Kamis (19/4) mengatakan bermacam acara seni budaya dan atraksi tersebut diharapkan dapat menarik kunjungan 500 wisatawan mancanegara (wisman) dan 20 ribu wisatawan nusntara (wisnus) selama FBIM 2018 berlangsung.

"Lokasi FBIM atas saran Gubernur kalteng H. Sugianto Sabran berpindah-pindah setiap tahunnya. Tujuannya untuk memperkenalkan ragam budaya Dayak secara luas sekaligus pemerataan roda perekonomian," terang Guntur. 

FBIM 2018 yang diselenggarakan Pemrov Kalteng mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

Staf Ahli Menteri Bidang Multikultural Kemenpar, Esthy Reko Astuti pada kesempatan yang sama mengatakan FBIM  sebagai wahana  melestarikan warisan budaya adi luhung di antaranya kearifan lokal Suku Dayak Kalteng dengan berbagai keragaman dan keunikannya, sekaligus untuk mensejahterakan masyarakat melalui kegiatan pariwisata.

"FBIM 2018 juga  masuk dalam program 100 Calendar of Event atau CeO tahun ini," ungkap  Esthy yang juga menjabat sebagai Ketua Pelaksana 100 CoE 2018.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Peluncuran dan jumpa pers FBIM 2018 di Jakarta.
2. Para penari perempuan Dayak di-launching FBIM 2018.
3. FBIM 2018 masuk program 100 CoE 2018.

Read more...

Rabu, 18 April 2018

Walhi Gandeng Musisi Gaungkan Kampanye Rimba Terakhir

Guna menggaungkan kampanye penyelamatan Rimba Terakhir, yang merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Konsultasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH) yang digelar Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) di Medan, Sumatera Utara selama empat hari mulai 22-25 April 2018, Walhi mengandeng para musisi.

"Kampanye Rimba Terakhir ini ingin mengajak publik untuk mengingat kembali bahwa Sumatera Utara merupakan wilayah yang hutan alamnya dihancurkan dalam kurun waktu yang lama," ungkap Kepala Departemen Kajian dan Pembelaan Hukum Walhi, Zenzi Suhadi kepada TravelPlus Indonesia di Jakarta, Rabu (18/4).

Untuk menggaungkan kampanye tersebut, Walhi menggandeng beberapa musisi yang punya kepedulian terhadap pelestarian lingkungan hidup, antara lain dua personil band ternama ‘Padi’ yakni Andy Fadly Arifudin (vokalis) dan Rindra Risyanto Noor (bassis) serta Rival Himran yang akrab disapa Pallo, pemain bass berambut gimbal dari band reggae Steven & Coconut Treez.

Fadly menilai kampanye Rimba Terkahir ini sebuah big idea dan konsep besar yang harus disampaikan secara popular salah satunya lewat musik.

“Musik bahasa paling mudah diterima semua orang dan menjadi cara yang paling enak untuk menyampaikan apa yang kita ingin sampaikan. Kami ingin terlibat dalam kampanye ini tapi tidak tahu caranya. Bersyukur kami bertemu kawan-kawan Walhi yang konsisten menjaga alam Indonesia agar adil dan lestari. Dan lewat musiklah cara kami mendukung kampanye ini,” ungkap Fadly yang juga akan mengajak lebih banyak lagi musisi untuk ikut terlibat.

Hal senada juga diungkapkan Rindra. Menurutnya musisi juga turut bertanggung jawab terhadap upaya pelestarian hutan dan kearifan lokal masyarakat.

“Perjuangan Walhi untuk menyelamatkan Rimba Terakhir dan Wilayah Kelola Rakyat harus didukung lebih banyak orang sesuai kapasitas dan keahliannya, termasuk musisi. Kami sebagai musisi melakukannya lewat music social responsibility atau MSR,” terang Rindra.

Menurut Rindra kolaborasi dengan kawan-kawan Walhi bukan hal baru.

“Dulu pada tahun 2011 kita sempat bikin album pertama berkolobarasi dengan kawan-kawan Walhi dengan para musisi yang punya niat yang sama, judulnya Pulihkan Indonesia. Selanjutnya tahun 2015, kita bikin album Jazz Hijau. Ternyata lewat dua labum itu dampak kampanyenya cukup besar,” aku Rindra yang pernah mengikuti Festival Sagu  tahun 2014 bersama Fadly untuk mendukung perjuangan masyarakat Sungai Tohor di Kepulauan Meranti, Kepri dalam mendapatkan kembali hak-hak masyarakat atas lingkungan hidup dan wilayah kelolanya.

Semendatar Pallo mengungkapkan penghancuran hutan dan kerusakan lingkungan menjadi keresahannya juga.

“Sebagai musisi saya tidak bisa tinggal diam. Saya harus mengambil sikap. Mendukung kampanye penyelamatan Rimba Terkahir adalah bagian dari sikap dan komitmen saya untuk menjaga bumi,” tegas musisi asal Palu, Sulawesi Tengah ini.

Zenzi yang juga Ketua Pelaksana KNLH menambahkan selain peluncuran Rimba Terakhir berikut talkshow, KNLH di Medan juga akan disemarakkan dengan rangkaian acara seperti Pameran dan Dialog WKR, Karnaval Hari Bumi, Zero Waste City, Panggung Demokrasi, Dialog Agenda Lingkungan dalam Politik, dan Journalist Fieldtrip.

“Untuk acara Zero Waste City akan digelar di Lapangan Merdeka bekerjasama dengan Pemkot Medan, kami akan melibatkan pelajar, mahasiswa, dan komunitas untuk mengumpulkan sampah, lalu mengklasifikasikannya mana yang organik dan non organik setelah itu diindetifikasi produsen atau perusahaannya,” terang Zenzi.

Sementara untuk Dialog Ekonomi Nusantara dan Pengakuan Wilayah Kelola Rakyat, sambung Zenzi akan diselenggarakan di Kantor Gubernur bekerjasama dengan Pemprov Sumut. “Tapi pusat kegiatannya, kita lakukan di Lapangan Meredeka, Medan,” aku Zenzi.

Terpilihnya kota Medan sebagai tempat KNLH bukan tanpa alasan. Zenzi mengungkapkan ada tiga pertimbangan mengapa Kota Medan yang akhirnya dipilih.

“Pertama karena Medan menjadi awal mula sejarah monokultur di Indonesia, yakni eksploitasi perkebunan sawit yang sudah berlangsung selama satu abad. Kedua, Medan juga menjadi lokasi awal perlawanan Walhi terhadap terhadap monokultur dalam hal ini pengusaan lahan oleh korporasi. Dan ketiga, Medan menjadi awal mengkampanyekan jalan keluar krisis ekologis ini,” terang Zenzi.

Menurut Zenzi, Sumut termasuk tiga provinsi di Sumatera yang kawasan hutannya diubah menjadi perkebunan dan pertambangan, selain Aceh dan Riau yang paling terbesar.

“Kalau tidak salah 400 ribu-600 ribu hektar hutan di Sumut yang dilepaskan untuk perkebunan dan tambang. Paling banyak di perbatasan Sumut dengan Aceh yang masuk penyangga Taman Nasional Gunung Leuser,” ungkap Zenzi.

Walhi pun mencatat pelepasan kawasan hutan menjadi perkebunan paling banyak terjadi pada rezim Orde Baru Soeharto yakni sekitar 4 juta hektare (ha) dan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yakni 2,06 juta ha. Sementara era Jokowi tercatat hanya 115.256 ha, Megawati 47.293 ha, Gus Dur 501.443 ha, dan Habibie 56.744 ha.

Oleh karena itu, Walhi lewat agenda KNLH berupaya mendorong komitmen pihak terkait untuk merumuskan jalan keluar dari krisis ekologi tersebut.

Walhi juga mendorong gerakan ekonomi nusantara dengan memperkuat wilayah kelola rakyat.

Kata Zenzi, ekonomi nusantara merupakan gerakan untuk mendorong kembali praktek pengembangan ekonomi masyarakat yang sudah berlangsung selama sekian abad dan terbukti ramah lingkungan.

Zenzi berharap kegiatan KNLH di Medan yang diadakan bertepatan dengan Hari Bumi 2018 sekaligus memanfaatkan momentum tahun politik ini, juga bisa membuahkan rekomendasi lingkungan sekaligus sebagai upaya mengawal para calon, kepala daerah, legislatif, dan calon presiden yang pro terhadap pelestarian lingkungan hidup.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Jumpa pers Walhi terkait persiapan pelaksanaan Konsuktasi Nasional Lingkungan Hidup (KNLH).
2. Zenzi Suhadi selaku Ketua Pelaksana KNLH.
3. Para musisi yang mendukung KNLH dan kampanye Rimba Terakhir yang akan digelar Walhi di Medan, Sumut 22-25 April 2018.

Read more...

Serunya Berwisata ke Kota-Kota Pusaka, Rayakan World Heritage Day

Hari ini, tanggal 18 April 2018 diperingati sebagai World Heritage Day (WHD) atau Hari Pusaka Dunia (HPD) yang telah dicanangkan badan dunia UNESCO sejak tahun 1983. Salah satu cara seru merayakannya dengan mengunjungi sejumlah peninggalan pusaka (heritage) di kota-kota pusaka di Tanah Air yang tergabung dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

Sampai tahun 2017, JKPI sudah beranggotakan 66 kota/kabupaten.

Kalau di Sumatera, Anda bisa mengunjungi kota pusaka Banda Aceh, Langsa, Sabang, Medan, Sibolga, Padang, Sawahlunto, Bukitinggi, Palembang, Bengkulu, Pangkal Pinang, Sungai Penuh, dan Kota Lubuklinggau serta Kabupaten Siak, Belitung Timur, Bangka Barat, dan Kabupaten Pesawaran.

Koleksi pusaka di Kota Banda Aceh yang bisa Anda jelajahi cukup banyak, antar Blang Padang yang merupakan kawasan medan perang pada masa perang kolonial, Bustanussalatin (Taman Raja-raja) yang dibangun pada masa pemerintahan Iskandar Muda, CPM yang pernah menjadi benteng pertahanan Panglima Polem, dan Gedung Baperis pernah sebagai tempat bermusyawarah para pejuang Aceh (Gedung Pejuang).

Selain itu ada Gunongan yang dibangun Sultan Iskandar Muda untuk Putri Pahang, Hotel Aceh, Keraton yakni komplek kerajaan Sultan Iskandar Muda, Kerkhof kuburan massal Belanda pada masa peperangan, Masjid Raya Baiturrahman, Pasar Aceh yakni pasar tradisional di tengah kota Banda Aceh, dan Stasiun Kereta Api (E-6) yang merupakan stasiun pertama di Kota Banda Aceh yang dibangun Belanda.

Di Jawa, Anda bisa menyambangi kota pusaka Bogor, Banjarnegara, Banyumas, Blitar, Batang, Cirebon, Cilacap, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Surabaya, Semarang, Surakarta, Salatiga, Madiun, Malang, Pasuruan, Pekalongan, Tangerang, Tegal, dan Kota Jogja.

Sementara kabupatennya Anda bisa menyambangi Kabupaten Tegal, Cilacap. Ngawi, Kepulauan Seribu, Brebes, Banjarnegara, Banyumas, Batang, Purbalingga, dan Kabupaten Temanggung.

Kalau Anda memilih berwisata pusaka yang ada Jakarta, selain ke kawasan Kota Tua di wilayah Jakarta Barat, Anda bisa ke utara Jakarta seperti ke Stasiun Tanjung Priok yang megah. Lalu ke Cilincing melihat masjid tua tempat Fatahillah mendarat pada 1527 untuk menyerang Batavia.

Di kesempatan lain, Anda juga bisa menyaksikan Festival Kota Tua yang merupakan event rutin tahunan yang digelar di Taman Fatahillah Kawasan Kota Tua sebagai salah satu icon wisata sejarah dan budaya Kota Jakarta.

Dalam event tersebut, Anda dapat menyaksikan berbagai atraksi seni budaya, pameran industri kreatif, fashion show Tempoe Doeloe, atraksi permainan tradisional, kuliner, dan bazaar.

Di Pulau Bali, Anda bisa mengunjungi Kota Denpasar, Kabupaten Gianyar, Kabupaten Bangli, Kabupaten Buleleng, dan Kabupaten Karangasem.

Di NTT Anda bisa pergi ke Kota Kupang, sedangkan di NTB, anda bisa berwisata pusaka ke Kabupaten Sumbawa.

Di Kalimantan, Anda bisa bertandang ke Kota Banjarmasin, Pontianak, dan Kota Singkawang, serta ke Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Sambas.

Di Sulawesi bisa mendatangi Kota Baubau, Palopo, Kota Bontang, dan Kabupaten Buton Utara.

Kalau Anda ke Kota Baubau di Pulau Buton bisa mengunjungi Keraton Buton, Benteng Sorawolio, Baadia, dan Sambali.

Di Maluku dan Maluku Utara, Anda bisa mendatangi Kota Ambon, Ternate, dan Kota Tidore, serta Kabupaten Halmahera Barat.

Kalau Anda ke Kota Ternate bisa mendatangai Benteng Kalamata yang dibangun Portugis tahun 1540, Kedaton Kesultanan Ternate yang dibangun sudah sejak 1813 oleh Sultan Muhammad Ali, Benteng Tolukko yang dibangun Panglima Portugis Fernando Serrao pada 1540, dan Benteng Oranje yang juga dibangun oleh orang Portugis pada abad ke-16. Benteng tersebut berada di pusat Kota Ternate, tepatnya di Kelurahan Gamalama.

JPKI yang berdiri tanggal 25 Oktober 2008 di Kota Solo merupakan organisasi di antara pemerintah kota dan atau pemerintah kota/kabupaten yang mempunyai keanekaragaman pusaka alam dan atau pusaka budaya (tangible dan intangible), yang bertujuan untuk bersama-sama melestarikan pusaka alam dan pusaka budaya sebagai modal dasar untuk membangun ke masa depan.

Sebagai catatan Indonesia pernah menjadi tuan rumah peringatan Hari Pusaka Dunia tahun lalu, lokasinya dipusatkan di Borobudur, candi Budha terbesar di dunia yang berada di Jawa Tengah.

Unesco sendiri sudah mencatat ada sekitar 962 pusaka dunia yang terdiri atas kekayaan alam dan budaya yang ada di 157 negara di dunia, termasuk di Indonesia.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

Captions:
1. Berwisata pusaka ke Candi Prambanan di Jogja merayakan Hari Pusaka Dunia, 18 April.
2. Masjid Raya Baiturrahman, salah satu heritage di Kota Banda Aceh.
3. Museum Fatahillah Jakarta, salah satu heritage icon di kawasan Kota Tua Jakarta.
4. Jam Gadang, salah satu benda pusaka di Kota Bukittinggi, Sumbar.

Read more...

Senin, 16 April 2018

Wisman ke TMII Cuma 100 Ribu, Biar Jadi 1,5 Juta Ini Upaya Peningkatannya

Umur TMII April tahun ini 43 tahun. Bukan usia muda lagi. Tapi anehnya, meskipun sudah berumur, ternyata TMII kurang diminati wisatawan mancanegara (wisman). Buktinya kunjungan wismannya cuma 100 ribu sepanjang tahun lalu.

“Kunjungan wisman ke TMII hanya 100 ribu orang dari 2,5 juta kunjungan wisman ke Jakarta tahun lalu,” ungkap Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dwisuryo Indroyono Soesilo di Jakarta, Senin (16/4/2018).

Semestinya jumlah wismannya bisa berkali-kali lipat dari itu. “Ya layaknya 1,5 juta wisman,” ujar Indroyono.

Peningkatan jumlah wisman itu sangat memungkinkan mengingat potensi TMII sangat besar sebagai destinasi wisata budaya dan miniatur Nusantara.

TMII, lanjut Indroyono juga mempunyai banyak keunggulan terutama suguhan bermacam seni budaya dari 34 paviliun yang memperkuat imejnya sebagai miniatur Nusantara.

“Untuk meningkatkan kunjungan wisman ke TMII adalah dengan menjadikan TMII sebagai destinasi wisata budaya bagi wisman cruise yang sekali merapat membawa sekitar 6 ribu wisman,” tegas Indroyono.

Hal itu pernah dicoba saat kapal pesiar (cruise) dari Singapura Genting Dream (Dream Cruises) yang membawa sekitar 6.000 wisman merapat di Tanjung Priok Jakarta beberapa waktu lalu.

“Penumpangnya kita bawa ke TMII dan ternyata mereka suka,” ungkap Indroyono.

Upaya lainnya menjadikan TMII sebagai destinasi wisata budaya untuk kegiatan MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition/Event) di Jakarta.

“Banyak kegiatan MICE di Jakarta kita coba tawarkan paket TMIII baik untuk pre dan post meeting,” tambah Indroyono.

Ketua Tim Percepatan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi, dan Seni Budaya Kemenpar Tetty Arianto membenarkan kalau TMII merupakan destinasi wisata budaya yang paling lengkap di Indonesia, yang dalam tujuh tahun ke depan akan memasuki usianya ke-50 atau menjadi cagar budaya Indonesia.

“Fokus kita saat ini adalah mempromosikan dan menjual paket TMII agar banyak dikunjungi wisman,” kata Tetty.

Salah satu upaya mempromosikan dan menjual paket TMII antara lain dengan menggandeng para pengelola taman rekreasi yang tergabung dalam Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI) untuk berjualan bersama yang dikemas sebagai Expo ke-2 PUTRI dan akan berlangsung di Sasono Adiguno TMII pada 19-22 April 2018.

Selain itu dengan menggundang para tour operator, diantaranya belum lama ini dari Malaysia, berkunjung ke TMII. ”Para tour operator Malaysia terkagum-kagum dengan ‘kampoeng’ budaya TMII. Mereka akan membuat paket kunjungan ke TMII,” aku Tetty.

Ketua Umum PUTRI Bambang menjelaskan kegiatan utama dari Expo ke-2 PUTRI yang berlangsung di Sasono Adiguno TMII adalah table top yang mempertemukan 100 tour operator (buyers) dengan 30 pengelola taman rekreasi anggota PUTRI sebagai sellers.

“Kita harapkan melalui kegiatan ini TMII semakin dikenal oleh tour operator serta mereka mau menjual paket kunjungan wisata budaya ke TMII,” kata Bambang.

Sebagai catatan, dalam merayakan HUT-nya yang ke-43, TMII menggelar event bertajuk Gebyar Pesta Budaya Nusantara 15-22 April 2018 dengan beragam acara seperti Festival Pencak Silat Nusantar V, Pernikahan Massal, Gelar Citra Budaya Tradisi, Festival Laskar Wanita Jamu Gendong, Gebyar Atraksi Kolosal Kesenian Rakyat, dan Festival Ramayana ke-2.

Untuk menjaring pengunjung sebanyak mungkin, pihak TMII membelakukan 1 tiket masuk berlaku untuk 2 orang pada tanggal 16-19 April dan gratis masuk tanggal 20 April.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & joko-humas kemenpar

Captions:
1. TMII dominan diminati wisatwan nusantara (wisnus), sementara wisatwan mancanegara (wisman)-nya masih minim.
2. Rombongan pelajar SD usai mengunjungi Museum Indonesia di TMII, Jaktim.
3. Salah satu upaya meningkatkan kunjungan wisman ke TMII yang April ini berusia 43 tahun.
4. Wisnus membludak saat perayaan HUT TMII.

Read more...

SMF 2018 Ajang Promosi Sabang sebagai Destinasi Marine Tourism Kelas Dunia

Sabang Marine Festival (SMF) 2018 yang akan berlangsung di Sabang, Pulau Weh, Aceh selama lima hari, 26-30 April menjadi sarana yang efektif mempromosikan Sabang sebagai destinasi marine tourism kelas dunia.

Hal itu disampaikan Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Dwisuryo Indroyono Soesilo Indronono Soesilo dalam jumpa pers terkait pelaksanaan SMF 2018 di Gedung Sapta Pesona, kantor Kemenpar, Jakarta, Senin (16/4).

Menurut Indroyono Soesilo, Indonesia mempunyai potensi yang luar biasa dibidang wisata bahari, sehingga pemerintah memberi perhatian serius untuk pengembangan,di antaranya melalui deregulasi serta peningkatan fasilitas pendukungnya.

“Kita mentargetkan wisata bahari akan memberikan kontribusi sebanyak 4 juta wisatawan mancanegara (wisman), 500 ribu di antaranya wisman kapal pesiar (cruise) dari target 20 juta wisman pada 2019,” kata Indroyono.

Kemudahan perijinan masuknya kapal yacht dan cruise sebagai salah satu yang mendorong meningkatnya kunjungan wisman.

Marine tourism di Indonesia, lanjutnya termasuk yang memperoleh kemudahaan pelayanan karantina, pelabuhan, imigrasi, bea dan cukai, serta administrator pelabuhan (QICP).

“Pelayanan QICP untuk event SMF 2018 dilakukan dalam kantor layanan satu pintu supaya lebih cepat,” ungkap Indroyono.

Untuk mensukseskan marine event SMF 2018, sejumlah persiapan sudah dilakukan melalui sosialisasi di dalam dan luar negeri.

Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) Sayid Fadhil menjelaskan pihaknya telah melakukan roadshow ke Langkawi dan Pangkor Malaysia bersama tim dari kemenpar pada 3-8 April lalu.

Roadshow tersebut bertujuan mempromosikan SMF 2018 sekaligus memperkenalkan keindahan wisata bahari kawasan Sabang kepada para pelayar (yachties).

BPKS, sambung juga telah menyiapkan Kantor Layanan Satu Pintu khusus melayani proses checking/registrasi pelabuhan yang melibatkab karantina Pelabuhan Imigrasi, Bea dan Cukai serta Administrator Pelabuhan atau yang lebih dikenal dengan TIM QICP.

“Tim tersebut akan menunjukkan bahwa pelayanan proses checking kapal di Sabang merupakan yang tercepat se-Indonesia,” ungkap Sayid Fadhil.

Rencananya SMF 2018 akan dibuka oleh Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pada tanggal 26 April di Pelabuhan CT-1 Teluk Sabang, Kota Sabang..

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & joko-humas kemenpar

Captions:
1. Sepenggal pesona perairan Sabang, Pulau Weh, Aceh.
2. Profil pariwisata Sabang.

Read more...

Ini Suguhan Acara Buat Peserta Sabang Marine Festival 2018

Tercatat sudah ada 22 kapal yact yang akan mengikuti Sabang Marine Festival (SMF) 2018 di Sabang, Pulau Weh, Aceh, selama lima hari, 26-30 April mendatang.

Ke-22 kapal yacht itu dari mancanegara antara lain Australia, AS, Inggris, Kanada, Selandia Baru, Jepang, dan Tahiland. Jumlahnya diperkirakan akan meningkat.

Di SMF ke-4 yang mengangkat tema ‘Sabang-Golden Marine Tourism Triangle’ ini, pesertanya tinggal di Sabang selama lebih dari seminggu.

Selain akan disambut dengan ramah oleh panitia dan warga Sabang, mereka akan diikutsertakan dalam berbagai kegiatan antara lain menyaksikan Kenduri Laot, menikmati suguhan art and performance, mengikuti Yachts Parade, fun bike, dan launching Sabang Yacht Club.

Peserta SMF 2018 juga akan melakukan City Tour Sabang dan Banda Aceh.

“Kita akan ajak 22 kapal yacht keliling obyek wisata yang ada di Sabang seperti ke Tugu Nol Kilometer dan juga Banda Aceh terutama ke obyek-obyek wisata tsunami,” terang Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) Sayid Fadhil dalam jumpa pers di Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Jakarta, Senin (16/4).

“Jadi waktu seminggu lebih itu, bagi para yachter yang berjiwa traveller itu sangat singkat,” tambah Sayid Fadhil.

Menurut Sayid Fadhil SMF 2018 digelar untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sabang, sekaligus dalam rangka melahirkan jalur Regatta Yachting Golden Triangle SaPhuLa (Sabang, Phuket & Langkawi), sebagai jalur tiga destinasi dalam satu paket wisata. “

Phuket dan Langkawi sudah lama menjadi destinasi yacht dunia. Ratusan kapal ada di sana. Kita berusaha menarik ke Sabang,” kata Sayid Fadhil.

Melalui event SMF 2018 akan menjadi momentum untuk melakukan kompetisi free diving kelas dunia, karena Sabang merupakan destinasi diving kelas dunia memiliki lebih dari 22 diving site sebagai salah satu daya tarik.



“Sebagai marine tourism kelas dunia, Sabang memproyeksikan tahun ini dikunjungi sebanyak 61 kapal yacht, 9 kapal cruise, dan 6.210 divers, total sebanyak 29 ribu wisman, sedangkan tahun 2019 akan meningkat menjadi 76 kapal yacht, 10 kapal cruise, dan 10.736 divers total sebanyak 38.681 wisman,” ungkap Sayid Fadhil.

Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Bahari Kemenpar Dwisuryo Indroyono Soesilo membenarkan SMF 2018 yang menempuh jalur pelayaran meliputi Sabang (Indonesia) - Phuket(Thailand) - Langkawi (Malaysia), menjadi momentum yang tepat untuk mendorong kerjasama tiga negara (Indonesia, Malaysia, dan Thailand) dalam kerangka IMT GT.

“Kerjasama IMT GT dapat dimulai dari kerjasama marine tourism, antara lain diwujudkan dalam SMF tahun ini,” ujar Indroyono.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & joko-humas kemenpar

Captions:
1. Kapal yacht di perairan Sabang, Pulau Weh, Aceh. 
2. Jumpa pers Sabang Marine Festival (SMF) 2018 di Jakarta.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP