. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Cerita Wisata Utama


Komodo itu pandai menipu. Saat diam, biawak raksasa ini seperti hewan lemah, padahal itu taktiknya untuk menyergap satwa lain dan manusia yang lengah. Seperti apa sifat dan prilaku aslinya? Simak profil sang predator berdasarkan pengamatan TravelPlusIndonesia (TPI) secara langsung di Pulau Komodo.

Komodo satu-satunya spesies terakhir dari keluarga monitor lizard yang mampu bertahan hidup dan berkembang. berdasarkan leaflet TNK, satwa berdarah dingin ini ditemukan pertama kali oleh seorang Belanda bernama JKH Van Steyn tahun 1911. Baru terkenal di dunia ilmu pengetahuan sejak 1912, tepatnya setelah peneliti dan ahli biologi, Mayor PA Ouwens memberikan julukan dalam tulisan berjudul “On a Large Varanus Species from the Island of Komodo” dengan nama ilmiah Varanus komodoensis.

Untuk mengetahui prilaku komodo sesungguhnya, TravelPlusIndonesia (TPI)mengamatinya langsung di habitatnya, Pulau Komodo. Ternyata komodo punya trik sendiri untuk mengelabui mangsanya. Dia pura-pura diam seperti sebatang kayu lapuk. Gerakannya lamban dan malas. Tapi setelah mangsanya lengah, dia segera menyergapnya dengan mulutnya yang moncong atau dengan bantuan ekornya dengan cara menyabet mangsanya sekeras mungkin. Kelebihan lain, predator licik ini dianugerahi penciuman yang sangat tajam, terutama bila mencium amis darah dan bau bangkai meski berjarak 2 Km.

Di habitanya, komodo lebih suka menyendiri (soliter). Sejak kecil, anak komodo dibiarkan mencari makan sendiri oleh induknya. Jarang sekali berkelompok kecuali di Banu Nggulung. Beberapa komodo di tempat ini malas mencari makan sendiri akibat terbiasa diberi umpan (feeding) gratis dari pengunjung, akhirnya populasi rusa, babi hutan, dan kerbau liar kian bertambah hingga mengganggu keseimbangan alam. Beberapa tahun belakangan, acara feeding dilarang.

Data inventarisasi komodo Taman Nasional Komodo (TNK), di Pulau Komodo jumlahnya sekitar 1.700 ekor, di Pulau Rinca 1.300, Gili Motang 100, dan 30 ekor di pulau-pulau kecil lain.

Diperkirakan masih ada sekitar 2.000 ekor lagi yang terpencar di Flores, yakni di pesisir Barat Manggarai dan pesisir Utara Kabupaten Ngada serta beberapa tempat di Kabupaten Ende. Bahkan hasil penelitian Auffenberg dari Amerika Serikat, komodo ditemukan sampai Timur Flores. Masyarakat Pulau Komodo dan sekitarnya menyebut komodo, ora. Tapi warga pesisir Utara Flores dan Ende, memanggilnya mbou. Di Pulau Rinca, perilaku komodo sedikit lebih ganas. Kulitnya kekuningan dan lebih bersih.

Buaya Darat
Menurut salah seorang peneliti khusus komodo yang TP temui di Pulau Komodo, musim kawin komodo terjadi pada Juli-Agustus. Jumlah jantan dan betina 4 berbanding 1. Lantaran tak seimbang sering terjadi perkelahian antar jantan untuk memperebutkan betina hingga terluka bahkan tewas. Komodo jantan sukar ditemukan saat musim kawin, sebab sibuk mengejar betina. Usai kawin, sang betina akan bertelur lalu menyimpannya di lubang. Betina bertelur 20-50 butir dan menjaganya selama 7 bulan. Bentuk telurnya oval, berwarna putih dengan panjang 9 cm, lebar 6 cm dan beratnya 105 gram. Setelah menetas, panjang rata-rata 18 inci atau 45 cm. Yang dewasa sekitar 2 meter, pernah juga dijumpai komodo sepanjang lebih dari 3 meter.

TP pun mengamati bayi komodo. Kulit bayi komodo berwarna kekuningan. Umur 10 bulan coklat muda. Usia 20 bulan ke atas berubah menjadi agak hitam, lalu coklat gelap setelah dewasa. Anak komodo langsung pandai memanjat pohon untuk mencari makan, sekaligus menghindar dari ancaman komodo dewasa. Santapan kegemarannya aneka serangga, cecak dan tokek. Setelah dewasa, lebih suka memangsa rusa, babi hutan, kerbau dan telur burung Gosong. Komodo dewasa tak bisa lagi memanjat pohon lantaran keberatan badan.

Selain suka memangsa hewan lain termasuk manusia, komodo dewasa juga suka menyantap anaknya (kanibal). Areal perburuan komodo dewasa di lokasi yang sering dilalui hewan dan manusia. Komodo menyukai semak dataran rendah, berbatasan dengan savana. Terkadang ada di dataran tinggi sekitar 400-600 meter dpl. TP juga melihat komodo berenang layaknya seokor buaya terutama jika melihat bangkai ikan besar yang mengapung di perairan. Wajar penduduk setempat menjulukinya buaya darat.

Berdasarkan pengamatan TP secara langsung di Pulau Komodo, predator yang dilindungi undang-undang seperti halnya Harimau Sumatera ini meski bukan termasuk satwa penyerang yang ganas, namun tetap berbahaya. Apalagi bila berada di TNK, di habitatnya itu komodo sebagai raja. Lengah sedikit, Anda bisa jadi mangsanya.

Cara yang amat saat berada di habitanya, Anda harus tetap waspada dan ditemani jawagana bila ingin melihat predator ini atau hendak berpergian ke obyek-obyek lainnya. Sebab bagaimanapun melihat komodo di habitatnya, di pulau Komodo dan pulau-piulau lain di TNK jelas jauh lebih mengasyikkan dibanding di kebun binatang. Atmosfir dan panorama yang bakal Anda dapat pasti lebih seru, menawan, dan mengesankan.

Bila Anda yakin bahwa sang predator yang kanibal ini menjadikan Pulau Komodo dan pulau-pulau lain di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) begitu berati dan berbeda dibanding kawasan lain, sebaiknya Anda memilih Taman Nasional Komodo agar terpilih sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7Wonders. Caranya dengan melakukan vote di http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees. Selamat memilih semoga Anda dapat menyaksikan bagaimana komodo menjqdi penguasa di habitatnya.***

Naskah & Foto: A. Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Senin, 29 Agustus 2016

Incar Wisatawan dan Investor, Festival Pesona Bahari Kepulauan Togean Kembali Digelar

Festival Pesona Bahari Kepulauan Togean, tahun ini kembali digelar Pemkab Tojo Una-Una (Touna), Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng) dengan dukungan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar). Festival ke-12 yang berlangsung 27-31 Agustus ini bertujuan untuk menjaring wisatawan dan investor.

“Yang pasti tujuannya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan baik wisman maupun wisnus,” kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Kemenpar Esthy Reko Astuti, seperti tercantum dalam rundown live talkshow di salah satu TV swasta pertengahan Agustus bersama H. Longki Djanggola selaku Gubernur Sulteng.

Rundown live talkshow terkait pelaksanaan Festival Pesona Bahari Kepulauan Togean 2016 tersebut TravelPlusIndonesia peroleh dari Kabid Promosi Pariwisata Bahari, Kemenpar, Haryanto di Jakarta, baru-baru ini.

Tujuan lain festival tahun ini, lanjut Esthy untuk memperkenalkan potensi wisata yang ada di Kabupaten Touna dalam rangka menarik minat pengusaha untuk berinvestasi dan membangun industri pariwisata.

Kemenpar, sambung Eshy turut mendukung Festival Pesona Bahari Kepulauan Togean yang bertema “Indahnya Kepulauan Togean, Indonesiaku” ini, terutama dalam bentuk promosi even.

Sebanyak 15 acara akan menyemarakkan Festival Pesona Bahari Togean 2016, yang terbagai atas lomba dan non lomba.

Untuk kegiatan lomba antara lain lomba perahu layar, renang tradisional, perahu katinting, mancing, tarik tambang perahu, really foto human interest dan landscape, lari karung pantai, lagu daerah, peragaan busana daerah dari kulit kayu, seni bela diri kantao, kuliner, dan lomba stand pameran.

Sedangkan non lomba ada jelajah destinasi Kepulauan Togean yang bertujuan untuk mengenalkan seluruh objek wisata yang ada di Togean, lalu pameran batu akik, dan pameran pembangunan.

Berdasarkan informasi dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Touna, lanjut Esthy dengan adanya bandara baru di Ampana, maka target wisatawan tahun 2016 yang mengunjungi Kabupaten Touna dapat mencapai 30.000 orang baik wisatawan mancanegara maupun nusantara.

“Sementara kunjungan wisatawan pada penyelenggaraan Festival Pesona Bahari Kepulauan Togean tahun ini ditargetkan akan dikunjungi 100 wisman, 500 wisnus, dan 1000 wislok,” terangnya.

Data kunjungan wisatawan ke Kabupaten Touna pada tahun lalu untuk wisman mencapai 4.087 orang, sedangkan wisnusnya 222.732 orang. Sementara kunjungan wisman secara keseluruhan se-Sulteng tahun lalu 17.903 orang, wisnusnya 3.109.466 orang.

“Kami menghimbau masyarakat agar dapat menjaga kebersihan khususnya di wilayah pantai dan pesisir agar wilayah laut kita bebas dari sampah sehingga nyaman untuk dikunjungi wisatawan,” pesan Esthy.

Sebelum kerusuhan Poso, setiap bulan kepulauan ini dikunjungi 665 turis asing. Pasca kerusuhan, jumlahnya menurun drastis. Namun belakangan ini kembali meningkat kendati belum mencapai jumlah sebelum kerusuhan.

Biasanya lama tinggal wisman yang datang Kepulaun Togean antara 1-2 minggu. Dari sewa penginapan saja, warga yang memiliki homestay dan jenis penginapan lainnya dapat meraup pendapatan antara Rp200-500 ribu per orang per hari. 

Itu belum termasuk biaya makan tiga kali sehari dan sewa boat. Sedangkan untuk melakukan penyelaman, paketnya berkisar 20-40 dollar AS per orang sekali menyelam.

Festival Pesona Bahari Kepulauan Togean 2016 sudah dibuka secara resmi tanggal 27 Agustus oleh Wagub Sulteng H. Sudarto.

Esok malamnya Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo Said alias Pasya Ungu menghibur warga Ampana dan sekitarnya dengan menyanyikan 4 lagu, kemudian disusul Norman Kamaru yang juga menyumbangkan suaranya.

Festival yang baru kali pertama digelar di Ampana, Ibukota Kabupaten Touna alias di daratan Pulau Sulawesi ini, karena sebelumnya selalu berlangsung di salah satu pulau di Kepulauan Togean akan ditutup tanggal 31 Agustus.

Berdasarkan pantauan TravelPlusIndonesia banyak perubahan positif Ampana sejak adanya festival ini. Kotanya semakin berdenyut, terasa lebih hidup dibanding tahun-tahun sebelumnya. Akomodasi semakin banyak, begitupun toko, warung makan dan resto. 

Bahkan Ampana sudah memiliki bandara meskipun baru bisa dilalui pesawat kecil berkapasitas belasan orang dan terbangnya baru seminggu tiga kali ke Palu dan sebaliknya.

Kasubbag Kependidikan dan Kerjasama Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) Bandung/NHI Jemmy A. Jacub menilai dukungan SDM pariwisata di Ampana khususnya dan Kabupatena Touna secara keseluruhan masih minim.

“Contohnya di beberapa rumah makan di Ampana, pelayanannya dinilai masih belum maksimal. Mungkin di antaranya masih belum memahami betul pentingnya apa itu sadar wisata dalam hal ini sapta pesona,” terangnya.

Jemmy menghimbau agar pihak terkait, dalam hal ini dinas pariwisata Kabupaten Touna dapat lebih pro aktif mensosialisasikan pentingnya sadar wisata/sapta pesona kepada seluruh pelaku industri wisata, termasuk pengelola dan pekerja di rumah makan dan resto.

Jemmy optimis jika kesadaran wisata di kalangan pelaku wisata termasuk masyarakat semakin baik, secara otomatis akan menambah daya tarik Ampana dan seluruh daerah di Kabupaten Touna sebagai sebuah destinasi wisata.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

Read more...

'Jaket' Khas Banyumas Bukan Sembarang Oleh-Oleh

Menyebut kata jaket pasti yang terbayang di benak banyak orang, kemeja tebal dari kulit dan bahan lain yang bias dikenakan segala umur, laki-laki dan perempuan untuk menahan dingin dan angin. Tapi jaket khas Banyumas jauh beda dari apa yang mungkin sebagian besar orang bayangkan. Jaket Banyumas ini bukan pakaian melainkan makanan, tepatnya kudapan.

Jaket Banyumas kependekan dari Jenang Asli Ketan. Jenang itu Bahasa Jawa yang artinya dodol kalau dalam Bahasa Indonesia.

Sesuai dengan singkatannya, Jaket Banyumas terbuat dari ketan. Menurut Yanti, pembuat dan pemilik toko oleh-oleh khas Banyumas di Purwokerto, Jaket yang dibuatnya sudah berlangsung sejak tahun 1991.


“Ada dua jenis jenang. Yang original sebungkusnya 13.000 Rupiah, kalau Jenang Wijen 14.000 Rupiah per bungkusnya,” terang Yanti di sela-sela kesibukannya melayani rombongan Biro Hukum dan Komunikasi Publik (BHKP), Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang tengah berwisata belanja di tokonya yang berlabel Jenang Jaket Asli, di Jalan Adipati Mersi Nomor 68 (Pojok Lapangan Mersi), Purwokerto, Ibukotanya Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng), Kamis (26/8).

Proses bikin jenang, lanjut Yanti cukup lama, bisa memakan waktu sampai 6 jam. “Bahannya tepung ketan, gula aren atau gula jawa, dan santan,” terangnya.

Satu wajan ukuran raksasa memuat 75 Kg Jenang. “Setelah dibungkus jadi 150 bungkus, 1 bungkus isinya 16 biji atau setemgah Kg,” terang Yanti didampingi suami tercintanya Suharsyah.

Setiap hari Yanti dan Suharsyah memproduksi sampai 400 Kg. “Kalau jelang Hari Raya Lebaran bisa 3 kali lipat,” tambahnya.

Hasil jenang buatan Yanti dan Suharsah dipasarkan ke seluruh Jawa. “Kadang ke luar Jawa, tapi untuk Jawa saja kami sudah kewalahan,” aku Yanti yang memiliki 40 karyawan ini.

Selain Jaket dua jenis, di toko yang merangkap dapur dan rumah tinggal ini juga terdapat berbagai panganan lain yang juga khas Banyumas seperti Kripik Tempe Rp 17.500 per bungkus, Mino atau Bakpia Mini Rp 17.500, Getuk Goreng, Lanting, Kripik Usus Ayam, Abon, dan lainnya.

Kepala BHKP Kemenpar mengatakan keuntungan belanja di Toko Oleh-Oleh Khas Banyumas milik Yanti dan Suharsyah ini, pembelinya bukan cuma bisa memilih aneka oleh-oleh tapi juga melihat proses pembuatannya langsung di dapur.

“Seru bisa lihat cara ngaduk jenang, mirip seperti pembuatan Dodol Betawi,” ujar Iqbal yang memimpin rombongan BHKP Kemenpar dalam kegiatan bertajuk "Sosialisasi Kebijakan Kemenpar" selama 3 hari di Purwokerto, Kabupten Banyumas.

Kabag Infomasi Publik, BHKP, Kemenpar Burhanudin menambahkan rombongan BHKP sengaja diarahkan ke sini untuk berwisata belanja.

“Dihitung-hitung, totalnya bisa 3 juta Rupiah, kalau per orang belanja minimal Rp 300 ribu,” ujar Burhan di perjalanan sepulang memborong oleh-oleh khas Banyumas di kotanya penyanyi Mayangsari ini.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com), ig:@adjitropis



Read more...

Minggu, 28 Agustus 2016

Membangun Kekompakan di Lereng Gunung Slamet

Di salah satu lembah ijo royo-royo, di lereng Gunung Slamet, Jawa Tengah, sebuah upaya tengah dilakukan sebuah tim. Bukan sekadar berkumpul, mereka hadir di tempat sejuk itu untuk bergiat, membangun kebersamaan sebagai sebuah tim. Tujuan mereka satu ingin lebih Solid,  Smart, dan Speed (3S) dalam bekerja untuk mencai target yang sudah ditetapkan pimpinannya setahun lalu.

Mereka adalah rombongan Biro Hukum dan Komunikasi Publik (BHKP), Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang dipimpin M. Iqbal Alamsjah selaku Kepala BHKP Kemenpar.

Ada sekitar 60 orang dalam rombongan itu dan pada Jumat (26/8) pagi seluruhnya mendatangi lereng Gunung terbesar di Pulau Jawa itu.

Mereka berseragam kaos lengan pendek dan celana training panjang serta topi hitam dengan kombinasi garis kuning bertuliskan A Team, berkumpul di sebuah lapangan berumput hijau dengan latar belakang puncak Gunung Slamet yang tegak menjulang seakan tengah memandang mereka penuh seksama.

Di lokasi berlabel Baturaden Adventure Forest (BAF) yang berada di kawasan wisata Baturaden, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (Jateng) itu, mereka mengikuti materi kegiatan pendidikan media luar ruang atau outbound yang terbagi beberapa sesi.

Sehari sebelumnya, mereka sudah mendapatkan bekal inhouse training dengan nara sumber seorang motivator andal Krishna Murti, yang isinya bagaimana menjadi pegawai yang mampu bekerja sama dalam sebuah tim yang lebih  3S seperti tersebut di atas.

Di sesi pertama, mereka melakukan pemanasan dan memainkan sejumlah fun games.

Di sesi ini, Burhanudin terlihat menunjukkan power-nya. Kabag Informasi Publik BHKP Kemenpar ini memimpin rekan-nya untuk mengikuti intrusi para intrustur outbound.

Sejumlah permainan pun diikutinya dengan sungguh-sungguh. Sehingga kesungguhan itu menebar ke rekan-rekannya.

Di sesi flying fox, Rudy P. Siahaan memimpin menjadi leader. Kabag Publikasi dan Pengelolaan Media, BHKP, Kemenpar ini menjadi orang pertama yang meluncur deras di bentangan kawat baja sepanjang sekitar 100 meter yang terbentang di batang Pohon Damar, melintasi jurang bersungai.

Seperti Rudy ingin menunjukkan kepada anak bawahnya agar berani bertindak cepat dan berani pula mengambil keputusan yang tepat pula.

Begitupun saat tim yang dibagi beberapa kelompok ini memainkan permainan Paint Ball, Rudy terlihat berani berkorban demi timnya.

Di sesi Save President, giliran Joko Waluyo yang memimpin rombongan. Kasubbag Hubungan Antar-Lembaga, BHKP, Kemenpar ini bersama beberapa staf dan tenaga honorer BHKP,  berusaha melindungi sang pemimpin dari segala rintangan untuk mencapat target yang sudah ditentukan.

Sang presiden disimbolkan dengan sebatang lilin yang menyala. Kalau api lilin tersebut mati, berarti mereka gagal menyelematkan presiden dan berarti gagal mencapai target.


Di sepenjang perjalanan, rombongan penyelamat presiden dibombardir puluhan 'granat' air dari berbagai sudut.

Sayang, pertahanan mereka kandas, lilin itu mati sampai 3 kali. Sejak kematian api lilin pertama, Joko dan seluruh rombongan mulai sadar bahwa rintangan di depan semakin berat.

Mereka harus lebih kompak, semangat dan gigih menjaga lilin itu sampai tujuan. Sayangnya serangan semakin dasyat, mereka gagal dan gagal lagi.

Pada akhirnya mereka pun berhasil menyelamatkan sang presiden hingga ke seberang sungai. Meskipun mereka harus bersusah payah dan berbasah-basah.

Di tahap akhir outbound, Kepala BHKP Kemenpar M. Iqbal Alamsjah memutuskan tali tambang dengan obor dari bambu hingga tali itu putus dan bendera kemenangan terbentang.

Sebelum memutuskan tali itu, Iqbal yang biasa disapa Om Billy itu memberi pesan kepada seluruh stafnya agar terus bersemangat bekerja sama dalam tim yang lebih Solid, Smart, dan Speed untuk mencapai target 260 juta perjalanan wisnus dan 20 juta wisman hingga 2019.

"Selepas kegiatan ini, ayo teman2 kita kencangkan kebersamaan, kreativitas, dan kesungguhan untuk mencapai target Pariwisata Nasional tahun ini dan tahun-tahun seterusnya. Salam Pesona Indonesia.., Wonderfuuuulll," kata Iqbal.

Berdasarkan pantauan TravelPlusIndonesia, perpaduan antara inhouse training dan outbound untuk team building agar lebih 3S seperti yang dilakukan BHKP Kemenpar dalam kegiatan bertajuk "Sosialisasi Kebijakan Kemenpar" di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jateng selama 3 hari ini, merupakan kegiatan yang menarik dan bermanfaat.

Manfaatnya bukan cuma untuk seluruh PNS dan tenaga honorer di BHKP  Kemenpar, pun bagi obyek-obyek wisata yang menjadi lokasi kegiatan, karena otomatis terpromosikan dan terekspose.

Kegiatan kali pertama ini juga sekaligus ikut menggairahkan industri wisata serta perekonomin masyarakat setempat baik dari penginapan, kuliner, tiket masuk obyek wisata dan lainnya.

Mungkin kedepannya perlu ditambah satu nara sumber lagi yang tentunya berkompeten dan terkait dengan tema, dan dengan lokasi yang berbeda agar lokasi/obyek wisatanya juga turut terekspos oleh jurnalis/blogger yang ikut serta.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)


Read more...

Sabtu, 27 Agustus 2016

Belasan Obyek yang Wajib Ada dalam Daftar City Tour Purwokerto Anda

Purwokerto, Ibukota Kabupaten Banyumas, terus menggeliat seperti kota-kota lain di Jawa Tengah. Kota yang terletak di kaki Gunung Slamet ini pun sudah lama menjadi tujuan wisata, baik wisatawan lokal, nusantara maupun mancanegara. Tercatat ada belasan objek wisata baik yang ada di dalam maupun di luar Kota Mendoan ini. Jenis obyeknya pun beragam, ada wisata alam, belanja, kuliner, rohani, budaya, dan obyek wisata sejarah.

Kalau Anda suka berwisata sejarah, tengok saja beberapa monumen di kota ini antara lain Monumen Panglima Besar Jenderal Soedirman di pinggir Sungai Logawa Kecamatan Karanglewas, kurang lebih 4 Km dari Kota Purwokerto.

Monumen tersebut dibangun untuk mengenang perjuangan Jenderal Soedirman di Kabupaten Banyumas, khususnya di Purwokerto.

Selanjutnya ke Monumen Gatot Subroto yang dibangun untuk menghormati jasa dan perjuangan Jenderal TNI Anumerta Gatot Subroto sebagai Pahlawan Nasional sebagaimana Jenderal Soedirman.

Kemudian ke Monumen Sepoer berupa bekas lokomotif uap yang telah direhabilitasi sedemikian rupa yang diletakan di halaman kantor Perusahaan Jawatan Kereta Api DAOP IV Purwokerto sebagai monumen.

Lalu ke Monumen Sepuluh yang berbentuk bambu runcing patah sebanyak 10 buah. Monumen ini menggambarkan gugurnya 10 pahlawan anggota Brigade XVII Tentara Pelajar Kompi Purwokerto dalam periode Perang Kemerdekaan I dan II.

Lanjutkan city tour ke museum antara lain Museum Uang Bank Rakyat Indonesia yang berdiri pada 16 Desember 1895 oleh Patih Aria Wirjaatmadja dan diresmikan tahun 1990.

Berikutnya ke Museum Sendang Mas (Seni Pedhalangan Banyumas) di kompleks Pendopo Kabupaten Banyumas Lama di Kota Banyumas. Museum ini didirikan untuk melestarikan kebudayaan Jawa khususnya wayang.

Koleksi museum wayang ini antara lain berisi Wayang Kulit Gagrag Banyumas, Gagrag Solo, Gagrag Yogyakarta, Sunggingan Gagrag Banyumas, Wayang Krucil (klithik), Wayang Beber, dan Kaligrafi Huruf Jawa (dalam bentuk gunungan dan punakawan).

Buat Anda yang senang berwisata alam, bisa melanjutkan perjalanan ke luar Kota Purwokerto antara lain ke Curug Cipendok yang berada di Desa Karangtengah, Cilongok, Kabupaten Banyumas, atau sekitar 25 km dari pusat Kota Purwokerto.

Di curug setinggi 100 meter ini, pengunjungnya dapat menikmati udara sejuk, hembusan buih-buih air terjunnya, dan menikmati suasananya sambil icip-icip Tempe Mendoan dan minum susu murni di warung-warung di tepi jalan.

Kalau belum puas, Anda biss teruskan ke kawasan Baturaden yang dapat dijangkau sekitar 15 menit dari pusat kota. Di kawasan wisata Baturaden ada beberapa wahana permainan seperti kolan renang, kolam luncur, sepeda air, dan pemandian air panas. Tiket masuknya Rp 14.000 per orang.

Di sana juga ada wana wisata yang biasa digunakan untuk kawasan perkemahan yang dapat menampung hingga 1.000 tenda. Sekitar 17 km dari Purwokerto, terdapat Pemandian Kalibacin yang berlokasi di Desa Tambak Negara, Kecamatan Rawalo.

Pemandian yang memiliki nama lain Wisata Husadaini airnya diyakini dapat menyembuhkan penyakit kulit dan reumatik. Kawasan wisata Pemandian Kalibacin juga merupakan kawasan wisata sejarah peninggalan Belanda.

Jika Anda menyukai kegiatan outbound, sambangai saja Baturaden Adventure Forest (BAF). Di tempat ini Anda  bisa menikmati wahana paint ball yang seru. Lebih seru lagi kalau Anda datang rombongan dan beramian paint ball beramai-ramai di bawah kerindangan pepohonan Damar yang berusia puluhan bahkan ada yang ratusan tahun.

Hal itu pun  dilakukan rombongan Biro Hukum dan Komunikasi Publik (BHKP), Kementerian Pariwisata (Kemenpar), yang datang ke BAF ini sebagai rangkaian kegiatan "Sosialisasi Kebijakan Kemenpar" yang diadakan selama 3 hari dari tanggal 25-27 Agustus 2016.

Di BAF, sekitar 60 peserta rombongan BHKP Kemenpar pun untuk melakukan sejumlah permainan outbound sesuai dengan tema untuk membentuk team building, antara lain aneka fun games, flying fox, dan tentu saja paint ball.

Jika Anda pemeluk Nasrasni, bisa berwisata rohani ke Gua Maria Kaliori yang letaknya 20 km dari pusat kota Purwokerto. Di lahan seluar 5,6 hektar ini, dapat ditemui fasilitas seperti pendopo untuk istirahat, gereja untuk beribadah hingga dudukan kursi di bawah pohon yang rindang.

Selepas itu,  Anda jangan lupa mampir ke Alun-alun Kota Purwokerto sore hingga malam hari. Alun-alunnya diapit Kantor Bupati Banyumas di satu sisi dan Masjid Agung Baitussalam Purwokerto di sisi yang lain. Di seberang masjid di alun-alun ini ada Rumah Batik Alun-alun yang bangunannya bergaya klasik, didominasi warna putih.


Luangkan waktu Anda pula untuk jalan-jalan ke Pasar Wage, yakni pusat perniagaan tradisional di kotanya penyanyi Mayangsari ini. Anda bisa menggunakan angkot berwarna orange menyala.

Di sisi Pasar Wage ada Vihara Hok Tik Bio sebagai bukti ada kehidupan multikultural di kota ini sejak lama.

Usai berwisata sejarah, alam dan lainnya, lanjutkan perjalanan ke kawasan kuliner di kota Purwokerto yang berada di Jalan Prof. Dr. Soeharso.

Kawasan ini juga disebut dengan kawasan GOR Satria Purwokerto. Di kawasan ini, Anda bisa  menikmati berbagai jenis makanan, seperti masakan khas Sunda dengan 30 jenis sambal dan 30 jenis lalapan di Waroeng Spesial Sambal (SS), termasuk camilan khas dari Purwokerto yakni Mendoan.

Pilihan lainnya  Mendoan Eco 21 di Jalan Soetoyo Nomor 21 atau dikenal daerah Sawangan, Warung Soto Sokaraja Sutri di Jalan Kertadirjan Sokaraja kulon, dan ke sentra oleh-oleh ‘Jaket’ alias Jenang Asli Ketan di Jalan Adipati Mersi Kota Purwokerto untuk memborong beragam panganan khas Banyumas seperti Jenang, Kripik Tempe, Lanting, Getuk Goreng, dan lainnya sebagai buah tangan Anda sepulang wisata keliling Kota Purwokerto.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

Read more...

Kamis, 25 Agustus 2016

Ini Tujuan BHKP Gelar Sosialisasi Kebijakan Kemenpar di Purwokerto

Kementerian Pariwisata (Kemenpar) lewat Biro Hukum dan Komunikasi Publik (BHKP) menggelar kegiatan Sosialisasi Kebijakan Kemenpar di Purwokerto, Jawa Tengah. Kegiatan yang diikuti seluruh anggota BHKP atau kehumasan di Kemenpar ini berlangsung selama tiga hari mulai 25-27 Agustus 2016.

Kepala BHKP Kemenpar M. Iqbal Alamsjah mengatakan tujuan kegiatan ini untuk mensosialisasikan semua kebijakan yang dibuat Kemenpar.

“Acara ini juga sekaligus mempererat kerjasama tim dan meningkatkan motivasi para pegawai di lingkungan BPHK,” terang Iqbal kepada TravelPlusIndonesia disela-sela memimpin rombongan Press Tour Festival Budaya Tua Buton 2016 di Takawa, Pasar Wajo, Ibukota Kabupetan Buton, Senin, (22/8) malam.

Selama tiga hari, lanjut Iqbal kegiatan Sosialisasi Kebijakan Kemenpar 2016 yang diikuti sekitar 60 PNS di Kehumasan dan Biro Hukum Kemenpar ini, diisi dengan dua kali rapat internal BHKP.

Selain itu ada kunjungan ke beberapa lokasi terkait seperti ke Rumah Makan Warung Sambal, lalu ke BBPTUHPT atau peternakan sapi di Baturraden dan ke pusat oleh-oleh Banyumas serta ke sentra pembuatan jenang jaket.

“Pada hari pertama, kegiatan ini juga diisi dengan inhouse training dengan narasumber seorang motivator andal Krishna Murti,” terang Iqbal.

Di hari kedua, lanjut Iqbal seluruh peserta akan mengikuti outbound di Baturraden Adventure Forest (BAF).

Kabag Publikasi dan Pengelolaan Media, BHKP Kemenpar Rudy P. Siahaan menambahkan outbound yang dilakukan diselaraskan dengan isi motivasi yang disampaikan oleh Krishna Murti.

“Kenapa begitu? Karena biar nyambung antara isi materi motivator dengan outbound-nya,” ujar Rudy.

Kata Rudy tujuan kegiatan yang dikemas oleh Event Organzer (EO) Bola Bali Convex ini intinya sekaligus ingin mengingatkan kepada seluruh peserta dalam hal ini segenap PNS BHKP bahwa bekerja sebagai upaya mendukung pencapaian kunjungan 20 juta wisman sampai 2019 itu lebih baik dilakukan secara tim yang solid.

"Team work yang kompak itu, bagaimanapun lebih baik darpada bekerja solois atau masing-masing bergerak sendiri-sendiri," terangnya.

Kasubbag Hubungan Antar-Lembaga, BHKP, Kemenpar Joko Waluyo membenarkan bahwa kegiatan Sosialisasi Kebijakan Kemenpar ini memang juga bertujuan untuk menyikapi dan mencari solusi berbagai persoalan dalam rangka capaian target jumlah kunjungan 20 juta wisman hingga 2019. 

“Diharapkan usai kegiatan ini, seluruh PNS di BHKP menjadi lebih bersemangat, kompak, dan cerdas menjalankan segala tugas, sekaligus untuk membantu mencapai target yang sudah ditetapkan pemerintah,” tandas Joko.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

Read more...

Rabu, 24 Agustus 2016

Kande-kandea, Bukan Sekadar Makan Bersama dalam Balutan Festival Budaya Tua Buton

Masyarakat Wolio di Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki tradisi makan bersama yang dikenal dengan nama Kande-kandea. Tradisi makan-makan ini kembali diperkenalkan dalam puncak acara Festival Budaya Tua Buton ke-4 tahun ini, yang berpusat di lapangan Takawa, depan perkantoran baru Pemkab Buton, Rabu (24/8).

Ada sekitar 2.000 talang berisi aneka makanan dan penganan tradisional Buton yang disajikan dalam tradisi ini. Masing-masing talang dijaga seorang penjaga talang, biasanya perempuan muda cantik, masih gadis, dan mengenakan pakaian tradisional yang jelas menarik perhatian tamunya.

Yeyen (18), salah satu dari ribuan penjaga talang jelang siang itu. Perempuan belia yang baru tamat SMA ini mengenakan pakaian tradisional Buton berwarna hijau berikut sejumlah aksesoris.

“Ini yang saya pakai, pakaian tradisional untuk perempuan muda yang masih gadis. Kalau buat ibu-ibu atau perempuan yang sudah menikah, beda lagi potongannya,” ujar Yeyen kepada TravelPlusIndonesia saat menjadi penjaga talang di acara Kande-kandea yang menjadi puncak acara Festival Budaya Tua 2016.

Tamu yang ada di depan Talang milik Yeyen bukan sembarang tamu. “Om tamu di depan saya siapa ya,” tanyanya.

“Namanya Ukus Kuswara. Dia yang mewakili Menteri Arief Yahya yang berhalangan hadir di festival ini, Jabatannya Sekretaris Kementerian Pariwisata atau biasa disingkat Kemenpar,” terang TravelPlusIndonesia.

“Wah pejabat penting dari pusat ya,” ujar Yeyen dengan wajah agak terkejut.

Di sebelah Ukus Kuswara sebenarnya tempat dimana Bupati Buton Umar Samiun duduk untuk menikmati hidangan Talang.

Sayang, baru duduk, orang nomor satu di Kabupaten Buton ini pamit karena harus menjadi narasumber untuk wawancara secara live dengan sebuah stasiun swasta.

“Pak Ukus mau makan apa,” tanya Yeyen. “Ini ada aneka makanan khas Buton yang disajikan khusus dalam kegiatan Kande-kandea ini,” tambah Yeyen.

Setelah menunjuk salah satu menu yang dipilih Ukus, si penjaga talang pun mengambilkan sepotong Lapa Lapa yang sudah dibuka pembungkusnya kemudian diletakkan ke dalam piring.

“Bapak mau menu apa,” tanya Yeyen lagi. Saling banyaknya menu yang disuguhkan, sempat membuat Ukus bingung sekali lagi. Namun akhirnya dia memilih ikan bakar sebagai menua utamanya, kemudian cumi bakar, dan lainnya.

Menurut Ukus tradisi Kande-kandea bukan sekadar unik tapi juga menjadi atraksi yang dapat memikat sekaligus menjaring wisatawan baik lokal, domestik maupun mancanegara.

Lewat tradisi makan bersama ini, lanjut Ukus masyarakat Buton secara tidak langsung belajar bagaimana melayani tamu di restoran dan hotel serta menarik minat/perhatian bagi sejumlah turis asing.

“Jadi muda-mudi di sini bisa disiapkan untuk mengisi kekosongan lapangan pekerjaan di sekitar Kota Buton dan beberapa kabupaten tetangga. Setelah selesai ici-icip, Yeyen memberi segelas minuman es kelapa ijo yang dicampur air dan gula aren serta batu es, " terang Ukus.

“Tradisi makan bersama khas Buton ini unik dan beda dengan tradisi serupa di daerah lainnya,” terang Ukus.

Sebelum beranjak, Ukus memberikan salam tempel untuk Yeyen. Dan sebaliknya Ukus pun mendapat bingkisan berupa aneka kue yang belum sempat dicicipi Ukus.

Selain Ukus, ada beberapa pejabat dan tokoh masyarakat lainnya yang berada di barisan VVIP, seperti wakil bupati Bakri, Kapolda Sultra, dan lainnya. Mereka duduk di depan talang yang masing-masing yang dijaga gadis muda yang tampil cantik.

Ajang Cari Jodoh
Tradisi Kande-kandea dalam tradisi masyarakat Buton berarti “makan-makan”, sebagai warisan leluhur Suku Wolio Buton yang sudah berlangsung berabad-abad.

Seiring berputarnya roda waktu dan pergantian jaman, tradisi Kande-kandea yang semula bermakna sebagai acara tradisi syukuran kepada sang pencipta atas keberhasilan aktivitas masyarakatnya, kemudian berganti menjadi salah satu acara tradisional yang diadakan oleh masyarakat Buton dalam rangka menyambut kedatangan para pahlawan negeri yang kembali dari medan juang dengan membawa kemenangan gemilang.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan guna mempertahankan tradisi leluhur, makna dari nilai-nilai dalam acara Kande-kandea mengalami pergeseran pada hal-hal.

Acara ini pun kemudian dimanfaatkan sebagai wadah pertemuan muda-mudi untuk saling kenal dan kemudian menjalin hubungan yang lebih serius hingga tak sedikit yang akhirnya berjodoh, mengikat janji setia dalam biduk rumah tangga.

Tradisi ini pun juga menjadi ajang silaturahmi untuk memupuk rasa kebersamaan antar masyarakatnya maupun antara pemimpin dengan masyarakatnya.

Sebelumnya, Kande-kandea juga digelar sebagai bentuk nyata rasa syukur kepada sang pencipta setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan.

Dalam pelaksanaan tradisi penuh suka cita ini, masyarakat menyiapkan talam atau dulam berkaki (bisa terbuat dari kuningan, rotan dan lainnya, yang berisikan aneka makanan tradisional, kemudian secara bersama berkumpul dalam satu arena yang telah ditetapkan.

Aneka macam makanan tradisional khas Buton diletakkan di atas talang tersbut anatra lain lapa-lapa yakni beras ketan yang dikukus dengan santan lalu dibungkus dengan janur, ayam Nasu Wolio (ayam dibakar lalu dimasak kelapa, ikan kadhole, serta aneka macam kue tradisonal seperti epu-epu (gorengan adonan beras ketan di campur gula merah), onde-onde, cucur, palaiya, bolu, dan bharuasa.

Setiap talang berisikan makanan dijaga oleh gadis-gadis remaja yang cantik dengan menggunakan busana tradisional. Para remaja putri itu bertugas melayani tamu/pengunjung yang ingin makan.

Setelah tiba saatnya, tampilah dua orang pelaksana untuk mengucapkan Wore, sebagai satu pertanda bahwa acara Kande-kandea siap dimulai. Selanjutnya disusul dengan alunan musik Kadandio dan Dounauna yang indah.

Selepas itu terbukalah kesempatan bagi siapa saja untuk duduk menghadapi talang. Disitulah remaja putera menyampaikan isi hatinya melalui irama lagu berupa pantun, seraya menunggu saatnya pria melaksanakan tompa.

Kemudian sebagai tanda terima kasih sang pemuda memberikan hadiah pada sang puteri yang memberikan suapan atau sipo kepadanya.

Biasanya Kande-kandea diadakan di satu lapangan terbuka atau aula sebuah gedung besar untuk menikmati berbagai hidangan makanan tradisional di atas talang, dan penjaga talang serta tamunya duduk beralas tikar.

Tradisi makan bersama Kande-andea di Buton ini juga serupa dengan tradisi makan bersama masyarakat Minang, Sumatera Barat yang disebut Makan Bajamba atau Makan Barapak.

Begitu pun masyarakat Maluku punya hal serupa dengan sebutan Makan Patitu.

Kendati formatnya hampir sama, namun masing-masing maknanya beda, termasuk sajian kulinernya dan nuansanya.

Kalau Kande-kandea maknanya bisa macam-macam, salah satunya juga menjadi ajang perkenalan dan mencari jodoh para muda-mudi.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

Read more...

Selasa, 23 Agustus 2016

Puncak Acara Festival Budaya Tua Buton 2016 Dihadiri Tiga Kementerian Pusat

Ada yang beda dari penyelenggaraan Festival Budaya Tua Buton tahun ini yang berlangsung sejak 19-24 Agustus 2016. Ada tiga kementerian pusat yang akan datang dalam waktu yang bersamaan, saat puncak acaranya, 24 Agustus. Ketiga kementerian itu adalah Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dan Kehutanan, serta Kementerian Pendayagunaan Aparat Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB).

Ketiga menteri yang dijadualkan akan datang ke Fstival Budaya Tua Butan ke-4 ini yakni Menpar Arief Yahya, Men-KHL & Hut Siti Nurbaya, dan Menpan PANRB Asman Abnur.

Menurut Bupati Buton Samsu Umar Abdul Samiun, sangat menunggu kedatangan ketiga menteri tersebut ke Kabupaten Buton saat puncak acara Festival Budaya Tua Buton yang ke-4 kali ini.

“Ketiga menteri datang ke Festival Budaya Tua Buton tahun ini tentudengan agenda khusus masing-masing. Kalau Menpar Arief Yahya jelas menghadiri Festival Budaya Buton ini, mengingat even tahunan ini sudah masuk calender of even tingkat Nasional,” terang Umar Samsu.

Sementara Menpan RB kedatangannya sekaligus untuk meresmikan perkantoran Takawa yang akan ditempati seluruh SKPD di Pemkab Buton.

Sedangkan Menteri Kehutanan Siti Nurbaya, lanjut Umar Samiun yang juga Ketua DPD PAN Kabupaten Buton ini, sekaligus menghadiri pembebasan kawasan lahan pariwisata di Desa Koguna Kecamatan Lasalimu Selatan dengan luas mencapai 2.000 hektar.

“Kedatangan menteri kehutahan sebenarnya ide yang muncul dari kementerian pariwisata,” ungkapnya.

Sayangnya berdasarkan informasi terakhir, ada dua menteri yang berhalangan hadir dan diwakili bawahannya, yakni Menpar Arief Yahya yang akan diwakili Sekretaris Kemenpar Ukus Kuswara, sedangkan Menteri Siti Nurbaya akan diwakili oleh salah satu dirjennya.

“Kalau Menteri PAN RB Asman Abnur dipastikan akan hadir, karena beliau akan meresmikan pembukaan perkantoran baru Pemkaba Buton di Takawa yang juga menjadi lokasi puncak acara Festival Budaya Tua Buton tahun ini,” terangnya.

Menurut Umar Samiun perayaan Festival Budaya Tua Buton tahun ini merupakan kegiatan yang istimewa. Selain diselenggarakan bertepatan dengan momen dirgahayu kemerdekaan RI, juga menjadi momentum refleksi pembangunan Pemkab Buton. Terlebih bulan Agustus juga bertepatan dengan genapnya empat tahun Umar bersama wakilnya Bakri memimpin Buton.

Kepala Publik Komunikasi dan Informasi, Kemenpar, Iqbal Alamsjah mengatakan ada tiga tujuan kenapa pihaknya mengadakan Press Tour ke Kabupaten Buton bertepatan dengan even Festival Budaya Tua Buton 2016.

Pertama karena memenuhi undangan Bupati Buton Umar dan Wabup-nya Bakri untuk meliput Festival Budaya Buton 2016 ini. “Kedua, menjalin sinergitas antara Pemkab Buton dengan Kemenpar terutama dengan para awak media yang biasa meliput kegiatan Kemenpar,” terangnya.

Sedangkan alasan ketiga, untuk memenuhi unsur Pentahelix di setiap kegiatan Kemenpar, dimana Media merupakan salah satu unsur dari Pentahelix dan sekaligus menjadi subyek dalam memajukan sektor Pariwisata Nasional.

“Dalam press tour ini, jurnalis & blogger yang diajak bukan hanya meliput rangkaian acara Festival Budaya Tua Buton 2016, pun mengunjungi sekaligus meliput objek-objek wisata yang ada di Kabupaten Buton seperti Pantai Koguna, kawasan hutan Lambusango, dan lainnya agar dapat terekspos lebih luas,” pungkas Iqbal.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig@adjitropis)

Read more...

Tiga Daya Tarik Wisata Ini Jadi Andalan Kabupaten Buton untuk Kalahkan Dua Pesaingnya

Daya tarik wisata (DTW) Kabupaten Buton di Sulawesi Tenggara (Sultra) cukup banyak. Sadar akan keterbatasan dana, infrastruktur, SDM, akhirnya Pemkabnya memfokuskan tiga utama DTW yang jadi andalan, yakni hutan, bahari terutama diving dan pantainya, lalu desa-desa adat dengan beragam budayanya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten Buton La Ode Zainudin Napa mengatakan penentuan ketiga DTW tersebut juga berdasarkan dua pesaing terdekatnya di sektor pariwisata, yakni Kabupaten Wakatobi dan Kota Baubau yang juga memiliki DTW unggulan.

"Kita mengandalkan kawasan hutan Lambusongo, kalau Wakatobi diving-nya sedangkan Kota Baubau Benteng Kesulantanan Buton-nya," ujar Zainudin di Takawa, yang menjadi  pusat kegiatan Festival Budaya Tua Buton 2016 di Kabupaten Buton, Senin (22/8).

Kenapa Hutan Lambusongo? karena Wakatobi dan Kota Baubau tidak memiliki. Menurut Zainudin, diving jadi unggulan kedua DTW Kabupaten Buton karena Wakatobi juga menjadikannya sebagai unggulan utama DTW-nya.

Padahal DTW diving Buton tak kalah dengan Wakatobi. Ada 37 spot diving yang ada di Kabupaten Buton dan itu tersebar antara lain di Teluk Pasar Wajo, Wabula, sampai Tanjung Pemali dengan aneka karang cantik dan bergama ikan hias, seperti mandarin fish.

Spot diving-nya yang terbagus, lanjut Zainudin adanya di Teluk Pasar Wajo. “Banyak ikan mandarin fish-nya. Di spot ini penyelam yang turun, langsung dikerumuni mandarin fish. Bahkan kita bisa melihat mandarin fish kawin. Kalau di tempat lain harus menyelam 4 meter baru ada ikan Mandarin Fish. Itu pun 2 atau 3 ekor saja,” terang Zainudin.

Kabupaten Buton juga sebenarnya punya obyek wisata sejarah berupa benteng-benteng tua yang tersebar di 7 kecamatan. Namun berukuran tidak sebesar Benteng Kesultanan Buton-nya Kota Baubau. Oleh karena itu benteng-benteng di Kabupaten Buton tidak jadi andalan utama, hanya sebagai DTW pendukung.

Hutan Lambusango, lanjut Zainudin dijadikan andalan utama karena setiap tahun mampu menjaring wisman sebanyak 800 orang per tahun, terutama asal Eropa, terlebih Inggris. “Mereka dikoordinior LSM Wallacea yang berkantor pusat di Inggris, yang datang ke Hutan Lambosango setiap tahun,” ujar Zainudin.

Lambosango merupakan hutan tropis sekaligus hutan adat bagi masyarakat Kabupaten Buton. hutannya masih terjahga dan menjadi paru-paru dunia. "Di dalamnya  ada beragama jenis pohon dan hewan, dan  juga ada air terjun," terang Zainudin.

Untuk pantai, Kabupaten Buton mengandalkan Pantai Wabula yang berada di Desa Adat Wabula. Pantai ini ber-sunset menakjubkan dan memilik beberpa spot diving. Satu lagi Pantai Kogano yang tengah disiapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata memiliki bentangan pantang sepajang 2 kilometer.

Keistimewaan pantai yang berjarak sekitar 80 Km atau sekitar 2 jam waktu tembuhnya dengan mobil dari Pasar Wajo (Ibukota Kabupaten Buton-red) ini berpasir putih dan halus dengan bentangan sepanjang 2 kilometer. Selain itu ada telaga kecil yang dihuni ratusan undang merah, dan batu belah, dan goa vertikal yang pernah dituruni turis asing.

Menurut Zainudin ketiga andalan Kabupten Buton yakni hutan, bahari (diving dan pantai),  dan desa-desa adat berikut budayanya, sedang dibenahi, baik infrastruktur jalan, sarana dan prasarana pendukung seperi gerbang masuk, dan lainnya.

Kepala Badan Kominfo Kabupaten Buton M. Taufik Tombuli mengatakan pihaknya juga akan terus bersinergi dengan Disbudpar Kabupaten Buton untuk mengkomunikasikan dan meninformasikan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pariwisata termasuk bekerjasama dengan pihak media.

“Kami juga akan terus memperbaiki fasilitas terkait kemudahaan komunikasi. Keinginan kami sinyal HP semakin bagus dan akses internet semakin cepat di Kabupaten Buton,” terangnya.

Pihak Kominfo, lanjut Taufik juga berkeinginan agar ada lokasi-lokasi di Kabupatan Buton yang gratis WiFi termasuk di sejumlah objek wisatanya.

“Untuk tahap awal, kami rencanakan WiFi free di kawasan perkantoran Takawa, sekitar Pasar Wajo,  dan lokasi sentra kuliner yang biasa digunakan anak-anak muda berkumpul,” pungkas Taufik.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

Read more...

Senin, 22 Agustus 2016

Pantai Koguna Calon Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Kabupaten Buton

Tak mau kalah dengan Kabupaten Wakatobi tetangganya, Kabupaten Buton di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra) menyiapkan kawasan Pantai Koguna untuk dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata dan menyiapkan badan usaha khusus yang akan menangani pembangunan dan pengelolaan kepariwisataannya.


“Namanya kawasan Pantai Koguna, luasnya sekitar 2.000 hektar,” kata Bupati Buton Umar Abdul Samiun kepada TravelPlusIndonesia di Takawa, Pasarwajo, Kabupten Buton, Senin (22/8) malam usai memantau gladi resik 10.000 penari kolosal yang akan tampil di puncak acara Festival Budaya Tua Buton 2016.

Menurut Umar lokasi Pantai Koguna di Kecamatan Lasalimu Selatan berhadapan dengan Kabupaten Wakatobi yang sudah lebih dulu ditetapkan sebagai salah satu dari 10 destinasi prioritas atau disebut Bali Baru.

Pantai Koguna, lanjut Umar disiapkan untuk menjadi KEK Pariwisata Buton, karena secara demografi kawasan ini strategis posisinya berdekatan dengan Wakatobi. “Kalau dengan menggunakan kapal motor cepat jarak tempuh selama 30 - 45 menit,” terangnya.

Jika Pantai Koguna sudah ditetapkan sebagai KEK Pariwisata, sambung Umar pasti akan mempercepat pembangunan infrastrukturnya yang akhirnya bermuara pada peningkatan kunjungan wisatawan, baik bagi Buton maupun Wakatobi mengingat kedua wilayah tersebut memiliki keistimewaan daya tarik wisata masing-masing.

Umar menerangkan Wakatobi mulanya memang bagian dari Pulau Buton yang kemudian mengalami pemekaran menjadi kabupaten sendiri. Pulau Buton mengalami pemekaran hingga saat ini menjadi 4 kabupaten/kota yaitu Kota Bau-Bau, Kabupaten Buton, Kabupaten Wakatobi,  Kabupaten Bombana, dan Kabupaten Buton Tengah serta Kabupaten Buton Selatan.

"Sebenarnya Wakatobi dulu bagian terkecil dari Pulau Buton. Hanya saja Wakatobi pandai mengekspos. Ini memicu kami untuk mengambil langkah supaya potensi Buton terpublikakasikan secara terpadu seiring dengan dinamisasi dunia kepariwisataan," ungkap Umar pada kesempatan berdialog dengan para jurnalis ibukota yang sedang mengikuti kegiatan Press Tour yang diselenggarakan oleh Biro Hukum dan Komunikasi Publik, Kementerian Pariwisata untuk meliput Festival Budaya Tua Buton 2016.



Kata Bupati Umar, daya Tarik Wakatobi berada di karang-karang laut yang cantik. Namun Kupaten Buton pun memiliki karang yang tak kalah cantiknya.

Hal ini dibuktikan dengan pernyataan 11 penyelam professional yang diundang untuk melakukan penyelaman selama 2 bulan untuk melihat potensi kekayaan laut Buton.

Mereka menyelam dari Teluk Pasar Wajo, Wabula, sampai Tanjung Pemali, Berdasarkan beberapa hasil penelitian bahwa, spesies biota laut di Buton lebih banyak daripada Wakatobi.

Bahkan, ternyata beberapa operator diving di Wakatobi menjual paket diving di Buton. "Artinya wisatawan diajak menyelamnya di sini, di perairan sekitar Teluk Wabula. Jaraknya memang hanya beberapa jam, sekitar 1,5 jam dengan jetfoil. Selain itu, spesies ikan yang sering dipromosikan diving operator Wakatobi, banyak pula terdapat di perairan Buton, antara lain mandarin fish," ungkapnya.

Daya tarik wisata Buton yang unggul lainnya, lanjut Umar adalah banyaknya kampung adat yang memiliki kehidupan masyarakat dan budaya yang khas, antara lain di  Desa Wabula.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Buton La Ode Zainudin Napa menambahkan kawasan Pantai Koguna sangat pantas dijadikan KEK Pariwisata.

“Pantai ini punya daya tarik tersendiri, selain masih asri juga pantainya berupa hamparan pasir putih dan bersih sepanjang 2 kilometer. Lautnya juga biru dan ada deretan pohon cemara pantainya,” ujarnya.

Di dekat kawasan Pangai Koguna, lanjut Zainudin ada gua dan juga telaga kecil di antara mangrove dan batuan karang yang dihuni udang merah.

Menurut Zainudin pantai berjarak sekitar 80 kilometer atau 2 jam dengan menggunakan mobil atau sepeda motor dari arah Ibukota Kabupaten Buton, Pasarwajo ini juga menjadi andalan daya tarik wisata Kabupaten Buton, selain Hutan Lambusango dan sejumlah desa adat dengan budayanya.

Zainudin berharap dengan dijadikannya kawasan Pantai Koguna sebagai KEK Pariwisata juga akan mewujudkan keinginan besar Pemkab Buton memiliki bandara tersendiri. tidak tergantung lagi dengan Kota Baubau. 

“Sampai saat ini pengunjung yang datang ke Kabupaten Buton lewat udara melalui Bandara Betoambari yang ada di Kota Baubau, tetangga terdekat Kabupaten Buton,” jelasnya.

Penetapan KEK Pariwisata, sambung Zainudin juga akan mempercepat investor masuk untuk membangun sarana pendukung (amenitas) seperti perhotelan dan lainnya.

“Kabupaten Buton masih kekurangan akomodasi hotel. Saat ini baru ada sejumlah homestay dan hotel kelas melati yang jumlah kamarnya sekitar 100 kamar,” akunya.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)
Foto: adji & kominfobuton

Read more...

Minggu, 21 Agustus 2016

Gara-Gara Hari Nusantara 2016, Pesona Lembata Bakal Kian Mendunia

Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat beruntung terpilih menjadi lokasi penyelenggaraan peringatan Hari Nusantara (Harnus) 2016 yang akan berlangsung pada 13 Desember mendatang. Soalnya hajatan Nasional ini akan dihadiri dan dibuka secara resmi oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Para menteri Kabinet Kerja termasuk 5.000 undangan pun diperkirakan akan datang. Pasti akan menjadi sorotan media massa dan media sosial (medsos) hingga nama Lembata otomatis bakal kian mengangkasa.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya dalam pointers sambutannya yang akan disampaikan pada acara launching Hari Nusantara 2016, Senin (22/8) di Jakarta, mengatakan Kabupaten Lembata terpilih menjadi lokasi karena memiliki potensi alam, baik bahari dan petualangan (adventure) yang dilengkapi dengan budaya khas Kepulauan Solor.

Lembata merupakan sebuah pulau gugusan Kepulauan Solor yang terletak di antara Kabupaten Flores Timur (Flotim) dan Kabupaten Alor.

“Beberapa destinasi wisata Kabupaten Lembata yang sudah dikenal antara lain Bukit Doa Watomiten, Bukit Cinta, Kuma Resort Waerajang, Pantai Jontona, Fosil Paus Biru di Desa Watodiri Jontona terdampar sejak 2008, dan Indopearls di Waienga-Lebatukan berupa budidaya kerang mutiara dan budidaya lokal ikan kerapu,” terang Arief Yahya dalam pointers sambutannya yang TravelPlusIndonesia terima dari Kabid Promosi Pariwisata Bahari, Kemenpar, Haryanto di Jakarta, Sabtu (20/8).

Menurut Arief Yahya atraksi berburu Paus di Lamarela bisa dijual meski perlu dengan pengawasan dan penjelasan transparan terkait jenis Paus yang diburu dan jumlahnya dalam setahun. Setiap tahun NTT, khususnya Kabupaten Lembata telah disinggahi kapal yacht dari berbagai macam negara melalui event Wonderful Sail 2 Indonesia.

“Pada tahun ini, kapal yacht bersandar dan para yachter disambut di Pelabuhan Lewoleba, sebanyak 30 kapal yacht (jumlah peserta kurang lebih 90 orang) dari negara-negara peserta Wonderful Sail 2 Indonesia yakni Lithuania, Jerman, Filipina, Australia, Belanda, Inggris, dan Selandia Baru,” uncap Arief Yahya lagi.

Soal aksebilitas menurut Arief Yahya sudah tersedia penerbangan, namun runway perlu diperpanjang untuk pesawat jenis Boeing.

“Begitupun untuk alat transportasi, sudah ada mobil penyewaan, meski untuk menjelajah pedalaman khusus memerlukan mobil jenis double garden,” terangnya.

Terkait amenitas, Arief Yahya melihat fasilitas di tujuan wisata seperti hotel, restoran, dan sarana lainnya yang disediakan bagi wisatawan di Lewoleba (Ibukota Lembata) masih terbatas.

“Terakhir ada sekitar 10 akomodasi atau hotel namun 2 yang recommended dan itu masih dengan layanan yang kurang prima,” akunya. Di daerah lain (Kecamatan) selain Kota Lewoleba, sambung Arief Yahya hampir tidak ada penginapan kecuali di rumah penduduk atau camping.

Menurut Arief Yahya untuk pengembangan pariwisata di Lembata perlu diundang investor lebih banyak lagi untuk melihat potensi Lembata.

Catatan lain, lanjut Arief Yahya, dive operator belum ada, termasuk SDM lokal sebagai guide, padahal potensinya sangat prospektif.

Selain itu pengembangan desa wisata perlu diperbanyak untuk melibatkan masyarakat lokal dalam aktivitas pariwisata. “Terakhir, Lembata bagus untuk paket wisata religi khususnya Katolik,” pungkas Arief Yahya.

TravelPlusIndonesia memprediksi gaung perayaan Harnus 2016 di Lembata akan me-Nasional bahkan mendunia sebagaimana acara Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba (KKPDT) sebagai puncak acara peringatan  HUT Kemerdekaan RI ke-71 di Danau Toba, Sumatera Utara, 20-21 Agustus.

Pasalnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang juga Ketua Dewan Kelautan Indonesia dijadualkan akan menghadiri sekaligus membuka secara resmi hajatan Nasional tersebut, sebagaimana disampaikan Sekretaris Dewan Kelautan Indonesia, Dedy H Sutisna baru-baru ini.

Menurut Dedy sebagai tuan rumah Kabupaten Lembata harus menyiapkan diri, terutama infrastruktur jalan, air, dan listrik serta sarana prasarana transportasi laut, darat, dan udara. Tak ketinggalan hotel dan restoran serta perumahan rakyat yang layak huni.

“Kenapa? Karena diperkirakan undangan yang datang berjumlah sekitar 5.000 orang termasuk para menteri," ujar Dedy.

TravelPlusIndonesia sendiri mencatat, Kabupaten Lembata pun memiliki daya tarik wisata (DTW) yang sudah mendunia, salah satunya Desa Lamalera.

Di desa ini masyarakatnya memiliki keunikan berupa budaya berburu mamalia paus (the whale hunting) dengan peralatan tradisional seperti pledang (perahu layar tanpa mesin), dan tempuling (tombak bambu yang ujungnya berkait terbuat dari besi) yang dipergunakan untuk menikam paus.

Sebelum berburu, mayarakatnya menggelar serangkaian seremonial adat, seperti Tobo Nama Fata (ritus penyelesaian masalah suku dan tuan tanah sebelum berburu paus), ritus Ie Gerek di batu paus oleh tuan tanah Suku Langowujo yang dilakukan pada tanggal 29 April setiap tahun.

Selanjutnya pada tanggal 1 Mei setiap tahun diadakan Misa Leva dengan tradisi agama Katolik untuk memohon restu kepada Tuhan atas musim Leva yang akan terjadi mulai tanggal 2 Mei hingga 30 September setiap tahun.

Sudah sejak lama serangkaian ritus tersebut diminati wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara terlebih acara perburuan pausnya yang dilakukan secara tradisional.

Selain menyaksikan seluruh rangkaian upacara adat tersebut, wisatawan juga dapat melihat peralatan tradisional perburuan paus di Kompleks Rumah Pledang, dan suguhan paket atraksi wisata budaya tetap oleh masyarakat lokal serta kehidupan masyarakat lokalnya yang unik.

Tak sulit menjangkau Desa Lamalera, dari Kota Lewoleba wisatawan dapat menggunakan transportasi umum (publik transport) dari Terminal Waikomo, sebelah Barat Lewoleba. Bisnya berangkat pada pukul 12.00 siang. Waktu tempuhnya sekitar 4 jam.

Soal penginapan tak perlu khawatir, wisatawan dapat bermalam di sejumlah homestay yang tersedia di Desa Lamalera, antara lain Maria, Ben, dan Femina homestay, termasuk menikmati makanan dan minuman lokalnya.

Dengan terpilihnya Kabupaten Lembata sebagai tuan rumah Harnus 2016, dipastikan Desa Lamarela dan sejumlah DTW di kabupten seluas 4.620,285 km2 yang terdiri atas wilayah daratan 1.266,390 km2 dan wilayah lautan 3.353,895 km2 ini, akan semakin mendunia namanya.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)
Foto: disbudpar lembata


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

Memuat...

Beri komentar

Name :
Web URL :
Message :

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP