. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Senin, 11 Desember 2017

Tampil di APWI 2017, d’Masiv Ngarep Jadi Duta Wisata

"Aku pernah terjatuh
Engkaupun pernah terluka
Kita saling mengingatkan
untuk bangkit kembali

Betapa indahnya
Bila semua di dunia
Bisa saling meyayangi
dan saling mencintai

Pegang tanganku, lebarkan senyuman
Tunjukkan rasa yang tulus
Kita menyatu dalam perbedaan
Bersama di dalam cinta".

Begitu penggalan lirik lagu berjudul “Bersama dalam Cinta” yang dibawakan grup musik d’Masiv dalam acara tahunan Anugerah Pewarta Wisata Indonesia (APWI) 2017, yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) di Balai Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, kantor Kemenpar, Jakarta, Senin (11/12).

Lagu slow khas band papan atas Indonesia yang beranggotakan 5 orang yaitu Rian Ekky Pradipta (vokal), Dwiki Aditya Marsall (gitaris), Nurul Damar Ramadan (gitaris), Rayyi Kurniawan Iskandar Dinata (bass), dan Wahyu Piadji (drum) ini terasa pas dijadikan sebagai lagu pembuka.

Liriknya, terutama kata-kata “Pegang tanganku, lebarkan senyuman”, sangat relevan dengan salah satu sapta pesona pariwisata yaitu ramah.

Bukan cuma itu, musiknya pun terasa spesial karena memasukkan beberpa alat musik tradisional Indonesia.

“Awalnya lagu Bersama dalam Cinta, tidak termasuk dalam list lagu untuk ditampilkan di acara ini. Tapi setelah tahu kami tampil di Kementeraian Pariwisata, lagu tersebut sangat cocok karena erat kaitannya dengan pariwisata dan budaya. Akhirnya kita nyanyikan dan bahkan jadi lagu pembuka,” terang Rian usai menyanyikan lagu tersebut.

Rian pun berharap dengan tampil di Kemenpar dan menyanyikan lagu ini, Kemenpar bisa menjadikan d’Masiv sebagai duta wisata.

“Siapa tahu pak Menteri Pariwisata Arief Yahya mau jadikan kami duta wisata dari perwakilan band,” terang Rian.

Menurut Ryan, seluruh personil d’Masiv suka berwisata. “Sejumlah destinasi dari Sabang ke Merauke pernah disambangi, seperti ke Belitung, Bunaken, Ambon, Sorong dan lainnya” akunya.

Bahkan baru kemarin, ‘dMasiv tampil mengisi cross border event  yang diselenggarakan Kemenpar di Atambua, NTT yang berbatasan dengan Timor Leste. “Kami bawain 10 lagu, penontonya ribuan,” aku Rian.

Usai mengisi acara, lanjut Rian, mereka pun menyempatkan waktu berwisata. Selain menikmati keindahan alamnya, mencicipi kulinernya, dia dan rekan-rekannya tak lupa mengabadikan pemandangan dan aktivitas wisata lalu di-upload ke media social (medsos).

“Biasanya kami share lewat Instagram resmi d’Masiv dan ke akun instagram masing-masing personil. Tujuannya agar orang lain baik di Indonesia maupun di mancanegara datang berwisata ke Indonesia,” tambahnya.

Lagu "Bersama dalam Cinta" itu, lanjut Rian menceritakan kalau kita adalah bangsa yang sangat multietnis, kaya budaya. “Kalau kita bersatu dalam perbedaan dan keberagaman itu, pasti kita menjadi bangsa besar yang sangat kuat,” tegasnya.

Aransemen asli lagu yang dibuat d’Masiv tahun 2015 dan dipublikasikan tanggal 19 Agustus 2016 itu memang benar memasukan bunyi-bunyian dari berbagai alat music tradisional Indonesia.

“Ada Saluang dari Sumbar, Tifa dari Papua, Safe dari Kalimantan, Kendang dan Suling dari Jawa, dan Kolintang dari Sulawesi Utara,” jelas Rian.

Selepas menyanyikan lagu tersebut dengan indah, Rian d’Masiv membawakan lagu kedua berjudul "Pergilah Kekasih" yang dipopulerkan penyanyi legendaris Indonesia Chrisye (almarhum).

Dia pun berhasil mengajak Orang Nomor Satu di Kemenpar, Menpar Arief Yahya berduet.

Sewaktu menunggu penampilannya di sesi kedua, Rian dan teman-temannya di artist room samping kanan stage mengaku masih ada beberapa destinasi di Indonesia yang belum mereka kunjungi.

“Kami kepingin sekali ke Raja Ampat. Mudah-mudahan kalau d’Masiv dijadikan duta wisata, kami akan kunjungi semua objek wisata di Indonesia dan mempromosikanya saat konser maupun lewat medsos,” pungkas Rian yang diamini rekan-rekannya.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: agung humas kemenpar & adji

Captions:
1. Rian d'Masiv berhasil mengajak Menpar Arief Yahya berduet di acara APWI 2017.
2. Rian d'Masiv saat menyanyikan lagu "Bersama dalam Cinta" di APWI 2017.
2. D'Masiv berfoto bersama fans di artist room samping stage APWI 2017.

Read more...

Minggu, 10 Desember 2017

STP Bandung Mantap Go International, Tahun Depan Kedatangan Lagi Mahasiswa Mancanegara

Kabar Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung sudah bertaraf internasional dan diminati mahasiswa dari mancanegra, bukan isapan jempol. Buktinya tahun depan sudah ada sejumlah mahasiswa dari 5 universitas ternama dunia yang akan nge-block semester di kampus pencetak SDM pariwisata andal di Negeri ini.

“Benar, tahun depan sekurangnya ada 5 universitas dari Perancis, Jerman, Amerika Serikat, Australia, dan China yang beberapa mahasiswanya akan nge-Block Semester di STP NHI Bandung,” terang Dr. Anang Sutono, CHE selaku ketua STP NHI Bandung kepada TravelPlus Indonesia usai menghadiri Seminar Hasil Program Kerjasama Luar Negeri (PKLN) yang diselenggarakan Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puslitabmas) atau Research & Community Service Center (RCSC) STP NHI Bandung di lantai 2 Gedung Mandalawangi, STP NHI Bandung, Kamis, (7/12/2017).

Adapun rincian kelima universitas tersebut, lanjut Anang, pertama tiga mahasiswa pascasarjana dari Universite D’Anger Perancis. “Mereka akan Block Semester pascasarjana mulai Februari 2018,” ungkapnya.

Berikutnya empat mahasiswa dari DHBW Lorrach University Germany, juga awal Februari tahun depan.

Selanjutnya sekitar enam sampai delapan mahasiswa dari Goerge Washington University USA sekitar bukan Juni-Juli 2018.

“Dua universitas mancanegara lagi masih dalam tahap konfirmasi yakni mahasiswa dari BoxHill Institute Australia dan Guillin Tourism University China,” papar Anang.

Menurut Anang yang baru saja lulus dari Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) dengan nilai akademik dan taskap sangat memuaskan, para mahasiswa mancanegara itu selain akan mengikuti proses kuliah di STP NHI Bandung, juga akan mengadakan riset, field trip, dan pengandian masyarakat.

“Mereka akan didampingi dengan sejumlah mahasiswa STP NHI Bandung dan juga dosen pembimbing,” jelasnya.

Kata Anang, pihaknya akan menerima dengan tangan terbuka para mahasiswa dari lima universitas tersebut.

“Ini sesuai arahan Menteri Pariwisata Arief Yahya bahwa sudah saatnya STP NHI Bandung didorong untuk memiliki international class,” ujarnya.

Dan hal itu, lanjut Anang sesuai dengan Visi STP NHI Bandung juga yang intinya ada dua, yaitu go international dan berkepribadian Indonesia.

Terkait Seminar Hasil PKLN para mahasiwa Semester 5 STP NHI Bandung di Belanda tahun ini, yakni bekerjasama dengan NHTV atau Breda University of Applied Sciences, Anang mengaku bangga karena hasil penelitian atau PKLN-nya dibuat dalam bentuk Insight Book setebal 53 halaman dalam Bahasa Inggris.

“Lihat saja tadi mereka (mahasiswa STP NHI Bandung yang PKLN di Belanda tahun ini-Red) begitu PeDe menjawab pertanyaan-pertanyaan dari para evaluator dengan Bahasa Inggris yang lancar,” ujar Anang.

Menurut Anang ini tak terlepas dari hasil penyeleksian calon mahasiswa STP NHI Bandung yang jumlahnya belasan ribu tahun ini.

“Calon mahasiswa yang Bahasa Inggris-nya bagus sesuai standar STP NHI Bandung, itulah yang kami pilih. Ya hasilnya seperti ini, mereka kemudian begitu percaya diri ber-Bahasa Inggris,” akunya.

Anang juga menilai Seminar Hasil PKLN, dan sehari sebelumnya Seminiar Hasil Kuliah Kerja Nyata-Program Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) tahun ini lebih berkelas karena melibatkan lima unsur eksternal terkait atau Pentahelix yaitu akademisi, pelaku usaha industri wisata, komunitas, pemerintahan, dan media.

“Keikutsertaan unsur media di sini sangat penting agar terinformasikan ke khalayak. Harus dipertahankan karena memang sesuai juga dengan arahan Menpar Arief Yahya,” terangnya. 

Terkait pemilihan lokasi PKLN mahasiswa STP Bandung di Belanda tahun ini, salah seorang evaluator dari unsur akademisi, Drs. Thamrin Bhiwana Bachri, M.Sc sempat mempertanyakannya.

Menurut mantan Dirjen Pemasaran sewaktu Kementerian Pariwisata masih bernama Departemen Kebudayaan dan Pariwisata (Depbudpar) ini, tentunya ada alasan pemilihan negeri Belanda sebagai lokasi PKLN tahun ini.

“Kalau melihat pasar yang tengah diincar dan digarap habis-habisan oleh pemerintah dalam hal ini Kemenpar yaitu wisman asal China, semestinya lokasi PKLN mahasiswa STP NHI Bandung tahun ini ya di negeri tirai bambu itu, mengingat semakin besar jumlah kunjungan wisman China ke Indonesia belakangan ini,” ungkap Thamrin yang kini menjadi dosen pascasarjana di STP NHI Bandung.

Tapi, kalau ingin mendapatkan hasil penelitian dari sisi kualitas wisman-nya, sambung Thamrin, pemilihan negeri Belanda itu sudah tepat.

Ketua Puslitabmas atau RCSC STP NHI Bandung Dr. Beta Budisetyorini  pun segera menjelaskan soal itu.

Menurut Beta karena sudah ada kerjasama terlebih dulu dengan NHTV atau Breda University of Applied Sciences, Belanda.

“Sebelumnya para mahasiswa NHTV Belanda melakukan riset di Indonesia khususnya di Toraja Utara dan Candi Borobudur. Kini giliran mahasiswa STP NHI Bandung yag melakukan penilitian di Belanda,” aku Beta.

Kata Beta PKLN mahasiswa STP NHI Bandung di Belanda mengambil topic Branding Wonderful Indonesia, khususnya untuk mengetahui tanggapan wisatawan Belanda terhadap in factor yang memang menjadi prioritas pembangunan pariwisata di Indonesia yaitu homestay, digital, dan connectivity.

“PKLN tersebut dilakukan para mahasiswa STP Bandung semester 5 selama kurang lebih sebulan,” terangnya.

Beta menambahkan tujuan PKLN itu untuk mendapatkan perspektif atau sudat pandang wisatawan Belanda yang sudah pernah ke Indonesia terhadap kondisi perkembangan pariwisata di Indonesia khususnya di top ten destinasi prioritas.

Pantauan Travelplus Indonesia, Seminar Hasil PKLN yang hanya menghadirkan satu kelompok mahasiswa, memang tak semeriah Seminar Hasil KKN-PPM sehari sebelumnya yang menampilkan 6 kelompok mahasiswa.

Namun kehadiran Anang Sutono mampu menghangatkan suasana. Terlebih Anang yang melek medsos ini mengajak para mahasiswa dan dosennya serta para evaluator narsis bareng, ber-wefie ria. Jadi seruuu…

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. STP NHI Bandung

Captions:
1. Ketua STP NHI Bandung Anang Sutono berfoto bersama para mahasiswa PKLN 2017.
2. Foto bareng sesepuh STP NHI Bandung.
3. Narsis bareng usai Seminar Hasil PKLN 2017.

Read more...

Bikin Selfie Spot di Cross Border Area Boleh-Boleh Saja, Asalkan …

Sejumlah destinasi yang menawarkan selfie spot atau titik swafoto di Jawa kemudian diikuti daerah lain, beberapa tahun belakangan ini sukses membetot perhatian sekaligus menjaring wisatawan zaman now hingga menjadi objek wisata yang instagramable, nge-hits di media sosial.

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pun terpikat lalu mengimbau daerah-daerah lintas batas (cross border) Indonesia menjadikan daerahnya sebagai destinasi digital, salah satunya dengan membuat selfie spot untuk memikat wisatawan mancanegara (wisman) lintas batas dari sejumah negara tetangga tahun depan.

Tujuannya tentu agar wisman asal negara-negara yang berbatasan dengan Indonesia tertarik datang lalu ber-selfie di tempat itu hingga menjadi objek wisata yang instagramable.

Namun sebelumnya, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah menyiapkan 214 events di 29 area perbatasan yang tersebar di 8 wilayah Indonesia sepanjang tahun 2018 yang tinggal menghitung hari.

Menurut Arief Yahya faktor kedekatan atau proximity baik dari sisi jarak maupun budaya menjadi salah satu pemicu wisman lintas batas datang ke Indonesia. Untuk itulah mengapa dibuat 214 festival atau cross border event 2018.

“Ditambah lagi dengan selfie spot tentunya akan menambah daya tarik wisman lintas batas berwisata ke Indonesia,” ujarnya usai me-launching Calendar of Event Cross Border 2017 di Hotel Alila, Jakarta Pusat, Jumat (8/12/2017).

Terbukti sejumlah Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di wilayah Indonesia yang kini tampil lebih menawan dari sebelumnya, berhasil memikat wisman lintas batas maupun wisnus untuk tempat ber-selfie.

Contohnya PLBN Motaain di Kabupaten Belu, NTT dan PLBN Motamasin di Kabupaten Malaka, NTT yang berbatasan dengan negara Timor Leste; PLBN Nanga Badau di Kabupaten Kapuas Hulu, Kalbar yang berbatasan dengan Malaysia; dan PLBN Skouw di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua yang berbatasan dengan negara Papua Nugini.

Arief Yahya yakin jika di wilayah cross border tersebut juga memiliki selfie spot di sejumlah objek wisatanya, jelas akan menambah daya tarik lagi.

Terkait imbaun Menpar Arief Yahya tersebut, keesokan harinya beberapa travel blogger memberi penilaian saat menjadi pembicara dalam acara Millennials Talks (M-Talks) bertajuk “Travelling Ala Kids Zaman Now” yang digelar Rumah Millennials di Galeri Smartfren Sabang, Jakarta Pusat, Sabtu (9/12/2017).

M-Talks tersebut dibuka oleh Asisten Deputi (Asdep) Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Hariyanto yang sekaligus memberi kata sambutan mengenai strategi pemasaran yang dilakukan Kemenpar.

Travel blogger Asoka Remadja misalnya menilai spot selfie itu diminati atau tidak itu kembali ke wisatawannya masing-masing.  “Kalau saya sendiri nih Om, lebih suka spot-spot yang natural,” akunya.

Asoka mengakui selfie spot itu dapat mengundang orang untuk datang lalu ber-selfie.

Namun banyak yang kecewa, setelah didatangi ternyata tak seindah yang ada di medsos, di foto atau di video-nya.

Fenomena spot selfie yang instragramable menurut Asoka bagai pedang bermata dua. “Di satu sisi menambah pendapatan dengan kedatangan wisatawan, di sisi lain sedikit mengurangi keindahan dan keasrian alam yang sebenarnya sudah indah tanpa perlu dibuat selfie spot,” ungkapnya.

Begitupun dengan travel blogger Kadek Arini yang juga lebih menyukai objek wisata yang apa adanya, asri alami.

Namun menurutnya  bisa jadi pembuatan  selfie spot itu justru bertujuan untuk memberi keamanan wisatawan atau pengunjungnya.

Mengingat fenomena belakangan ini banyak pecandu selfie yang nekat melakukan selfie di tempat-tempat yang membahayakan seperti di ujung tebing berjurang, di puncak kawah gunung dan lainnya sampai ada yang terjatuh lalu meninggal dunia.

“Ya sudah dibuatlah selfie spot seperti sarang burung, kupu-kupu dan bentuk lainnya di sejumlah titik, supaya pengujung aman ber-selfie di tempat itu. Mungkin itu sisi positifnya mengapa dibuat selfie spot yang aku setuju,” ujar Kadek.

TravelPlus Indonesia sendiri menilai keberadaan selfie spot memang menambah daya pikat tersendiri bagi sebuah objek wisata.

Efek prositifnya, selain cepat dikenal luas masyarakat terlebih para pengila berat selfie, pun mampu menambah jumlah kunjungan wisatawan cukup signifikan.

Namun sebelum membuat selfie spot di cross border area, pihak terkait termasuk Kemenpar sebaiknya melihat kondisi dan status objek wisata tersebut.

Kalau misalnya objek tersebut berpredikat konservasi alam, seperti cagar alam apalagi taman nasional, sebagusnya jangan dibuat selfie spot.

Buktinya pembangunan Tugu Nama di kaldera atau lautan pasir Gunung Bromo yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) di Jawa Timur, menuai protes berkepanjangan, lantaran keberadaannya juga dinilai merusak pemandangan lautan pasir yang merupakan objek wisata alam.

Meskipun diprotes banyak pihak, tugu berbentuk memanjang bertuliskan "The Sea of Sand Bromo Tengger Semeru" itu sampai kini masih berdiri.

Sebelumnya, kasus serupa juga terjadi di Gunung Rinjani, Lombok, NTB.

Letter board bertuliskan Segara Anak Lake berwarna merah di tepian Danau Segara Anak yang menjadi salah satu maskot keindahan Gunung Rinjani, semula dianggap 'memuaskan' para penggemar swafoto, untuk kemudian diunggah ke akun-akun medsos mereka.

Tetapi kenyataannya warganet justru memprotesnya karena dinilai salah kaprah, mengingat letter board tersebut berada di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) dan sekaligus merusak pemandangan. Akhirnya letter board itu dibongkar.

Tapi kalau pembangunan selfie spot di wilayah lintas batas dan berada di objek wisata yang bukan berstatus kawasan konservasi alam, ya boleh-boleh saja.

Asalkan selfie spot-nya yang dibuat nanti itu unik, artistik, nyentrik, ada muatan lokal atau sekalian yang wah dan megah.

Jangan nangung, apalagi dibuat asal-asalan. Jangan pula menjiplak selfie spot yang sudah ada di daerah lain.

Jadi mesti kreatif, inovatif, dan selfie spot-nya harus punya karakter kuat, ciri khas tersendiri atau keistimewaan lain sehingga wisman lintas border terpukau lalu berbondong-bondong datang untuk ber-selfi ria.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & gayatri

Captions:
1. Plang tulisan welcome to Puncak B29 masih di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jatim jadi sefie spot.
2. Menpar Arief Yahya meluncurkan Calendar of Events Cross Border 2018.
3. Berrfoto di PLBN Matoain.
4. Travel blogger Asoka Remadja di acara M-Talks.
5. Travel blogger Kadek Arini lebih suka natural spot.
6. Selfie spot di Pantai Kata, Pariaman, Sumbar.
7. Abadikan pesona lautan pasir TNBTS.
8. Wajah PLBN Matoain yang megah.

Read more...

Sabtu, 09 Desember 2017

Inilah Bedanya Solo Traveller Zadul dan Zanow, Tapi Sama-Sama…

Akhir tahun 80-an, zaman dulu alias zadul, ketika masih belasan tahun, saya sudah mulai melakukan apa yang kemudian popular disebut solo travelling. Sewaktu pertama memutuskan sebagai solo traveler, bikin deg-degan lantaran lebih menantang, dan anehnya justru jadi ketagihan sampai zaman now (zanow).

Sebelum berasyik-asyik melakukan solo traveling, saya juga pernah melakukan perjalanan beraroma petualangan dengan beberapa rekan yang sehobi dalam kelompok kecil (small group).

Entah kenapa, lama-lama timbul kejenuhan dan ingin mencoba ber-solo travelling, karena ingin menemukan tantangan baru yang jelas berbeda. Sekali mencoba ber-solo travelling, ternyata saya ketagihan.

Mungkin karena cara itu menyatu dengan jiwa petulangan saya yang cenderung menyukai yang suasana yang lebih hening, asri, apa adanya, dan bernuansa petualangan yang lebih kental.

Sehingga cara berpetualang seperti itu, masih saya lakoni sampai kini, ketika ramai orang menyebut jaman sekarang itu zaman now atau saya singkat zanow, untuk membedakan dengan zaman dulu alias zadul.

Namun intensitas saya ber-solo travelling tepatnya berpetualang sendirian itu memang tak lagi sesering dulu.

Lokasi yang saya tuju untuk berpetualang sendirian dari jadul sampai zanow cukup beragam, dari Jakarta ke beberapa tempat yang semasa itu masih jarang orang tahu dan kunjungi.

Ada sejumlah gunung, pulau terpencil, suku pedalaman/kampung adat, dan lainnya. Namun semua lokasinya masih di dalam negeri, dari Sabang sampai Merauke (bukan dari tanah Abang ke Rawa Bangke yeee…).

Gunung yang pernah saya daki sendiri (solo hiking, benar-benar sendirian dari Jakarta sampai mendaki gunung itu) di akhir 80-an antara lain Gunung Salak (Jawa Barat) lewat jalur Javana Spa (Sukabumi) dan Pasir Reungit (Kabupaten Bogor).

Selanjutnya Gunung Tanggamus (Lampung) lewat jalur Ginsting, Gunung Gede (Jawa Barat) via Cibodas, Gunung Ceremai (Jawa Barat) melalui jalur Linggarjati, Gunung Merapi (Jawa Tengah) lewat Selo, dan Gunung Kelimutu (Flores, NTT) yang puncaknya dikenal dengan nama Danau Kelimutu atau Danau Tiga Warna.

Beberapa gunung lagi, saya daki dengan cara semi solo travelling, maksudnya berangkat dari Jakarta sendirian, kemudian setibanya di kota terdekat atau di desa terakhir gunung tersebut kemudian melakukan pendakian bersama satu sampai paling banyak empat pendaki setempat.

Adventuring yang memadukan solo travelling dan together travelling itu saya lakukan saat mendaki Gunung Slamet (Jawa Tengah) untuk kali pertama lewat Jalur Blambangan, bareng 2 pendaki.

Lalu Gunung Semeru (Jawa Timur) via Ranu Pane bersama 3 orang pendaki, lanjut Gunung Bampapuang (Sulawesi Selatan, dekat dengan Toraja) bersama 3 pendaki setempat.

Berikutnya Gunung Seulawah Agam (Aceh) bersama 5 pendaki lokal, Gunung Singgalang (Sumatera Barat) dengan 1 orang pendaki, Gunung Agung (Bali) dengan 3 pendaki, Gunung Rinjani (Lombok, NTB) bersama 3 pendaki, dan Gunung Rajabasa (Lampung) dengan 4 pendaki setempat serta Gunung Krakatau di perairan Selat Sunda (Lampung) bersama 3 pendaki lainnya.

Selanjutnya dua gunung tak popular yaitu Gunung Sanggabuana ( Kabupaten Kerawang, Jawa Barat) dengan 1 pendaki lokal dan Gunung Beuti di perbatasan Garut dan Tasikmalaya (Jawa Barat) bersamam 3 pendaki setempat.

Kemudian Gunung Gunung Prau (Dieng, Jawa Tengah lewat jalur Petak Benteng bersama 3 pendaki lokal dan Gunung Marapi (Sumatera Barat) melalui jalur Pasar Koto bersama 2 pendaki setempat pada tahun lalu.

Sementara pulau yang saya sambangi benar-benar sendirian alias solo adventuring adalah Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo di Flores, NTT pada tahun 1992 dan beberapa pulau di Kepulauan Seribu (perairan teluk Jakarta) pada tahun 1993.

Sedangkan Kampung Adat Suku Baduy di Banten lewat Ciboleger saya sambangi pertama kali tahun 1994.

Ketika itu saya masih berstatus mahasiswa dan sudah bekerja sebagai penulis lepas atau freelance journalist di beberapa surat kabar dan majalah khusus mengisi rubrik perjalanan wisata dan petualangan.

Persiapan apa yang saya lakukan ketika hendak ber-solo traveling/adventuring mulai akhir 80-an, tentu berbeda dengan masa ketika media sosial (medsos) hadir mewarnai kehidupan zanow.

Namun kedua masa berbeda itu, sama-sama membutuhkan persiapan, baik itu persiapan fisik, mental maupun perencanaan pra perjalanan.

Di zadul, sewaktu belum belum ada HP, email, internet apalagi medsos, saya mempersiapkan para perjalanan dengan cara mencari informasi lokasi yang saya tuju lewat surat kabar dan pihak terkait yang ada di lokasi bersangkutan dengan berkirim surat kertas via kantor pos.

Misalnya sewaktu saya hendak ke Taman Nasional Kelimutu dan Taman Nasional Komodo di Flores tahun 1993, beberapa bulan sebelum berangkat, saya mengumpulkan data terkait kedua taman nasional tersebut lewat koran dan majalah serta buku, karena ketika itu belum ada media online apalagi sosmed.

Akhirnya saya mendapatkan alamat kedua kantor taman nasional tersebut yang dulu masih berlabel balai Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA).

Setelah itu saya mengirimkan surat berstempel pos untuk mengabarkan soal rencana saya mengunjungi ke dua Taman Nasional tersebut.

Setelah mendapat balasan surat, saya segera berangkat sendirian dengan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta menuju Pelabuhan Ende di Ende, Flores, dan sempat transit di Pelabuhan Tanjuk Perak, Surabaya. Pokoknya benar-benar backpacker-an bingits.

Beda lagi saat mendaki Gunung Seulawah Agam, Bampapuang, Rajabasa, Agung, Singgalang, dan Marapi. Sebelum berangkat saya menghubungi pendaki setempat lewat pertemanan di Facebook (FB). Baru kemudian mendaki bersama dengan satu sampai paling banyak 5 orang pendaki saja.

Jujur saja, sejak dulu saya memang bukan tipe pendaki rombongan, dan tidak terlalu suka melakukan pendakian massal (penmas) sebagaimana yang nge-trend beberapa tahun belakangan ini semenjak era sosmed hadir.

Seingat saya, cuma sekali saya pernah membuat penmas ke Gunung Gede yang diikuti sebanyak 40 orang pada akhir tahun 80-an dan pernah mengikut penmas rancangan orang lain ke Merbabu tahun 2000-an.

Ada juga solo travelling yang saya lakukan tanpa menghubungi pendaki lokal setempat untuk mendaki bersama. Seperti misalnya sewaktu melakukan pendakian ke Gunung Merapi dan Ceremai.

Saya datang sendirian dan di sana tak punya teman pendakian bareng dari desa terakhir. Saat melakukan pendakian di kedua gunung tersebut, saya bertemu 2-3 pendaki lain lalu kenalan dan akhir mendaki bareng sampai puncak. Tapi turunnya tetap sendirian lagi.

Cara itu memang terasa jauh lebih menantang namun saya sarankan sebaiknya tidak dilakukan oleh pendaki pemula, dan jangan murni solo traveller.

Kalau mau mencoba, cobalah dulu semi solo traveller, yakni boleh saja berangkat sendirian dari kota asal, kemudian mengontak teman untuk melakukan perjalanan/pendakian bersama, minimal dengan satu orang tapi sebaiknya small group.

Lalu bagaimana dengan sara travel blogger zanow yang pernah melakukan solo travelling maupun semi solo travelling?

Kadek Arini, travel blogger perempuan kekinian yang pernah solo travelling ke China mengungkapkan ada dua hal yang harus diperhatikan jika ingin ber-solo travelling.

“Pertama cari tahu dulu lokasi yang ingin didatangi lewat sosmed, blog, youtube, media online dan lainnya sebelum jalan. Kedua persiapin soal keamaan, terutama buat cewek seperti membawa semprotan serbuk cabe dan lainnya,” ungkap Kadek di acara Millennials Talks (M-Talks) bertajuk “Travelling Ala Kids Zaman Now” yang digelar Rumah Millennials di Galersi Smartfren Sabang, Jakarta Pusat, Sabtu (9/12/2017).

Era millineals ini, lanjut perempuan berambut panjang lurus dan hitam ini diuntungkan karena sudah ada medsos.

“Aku kalau mau solo travelling sudah asti persiapan lebih matang daripada pergi bareng temen, misalnya googling, cari tahu di blog orang mengenai lokasi yang akan saya ingin kunjungi, biar sesampainya di lokasi nggak plangak-plonggok kayak orang bego,” ungkap Kadek yang pernah mengalami kejadian yang kurang menyenangkan saat ber-solo travelling di China beberapa waktu tahun lalu dan mengaku kapok.

M-Talks yang dibuka oleh Asisten Deputi (Asdep) Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) sekaligus memberi kata sambutan ini, juga menghadirkan travel blogger Asoka Remadja.

Menurut travel blogger pria yang kerap berpakaian nyentrik ini kalau ingin ber-solo travelling sebaiknya harus dilihat dulu mau ke lokasi kepulauan atau kepegunungan.

“Kalau ke kepulauan tidak direkomendasikan solo travelling karena biaya untuk nyebrang dan kemana-mana itu lebih tinggi, kecuali kita punya banyak waktu bisa naik kapal ferry yang biayanya cukup murah. Konsekuensinya memakan waktu yang lebih Panjang,” terangnya.

Kalau ke gunung, boleh saja ber solo-traveling. “Saya termasuk tipe yang senang ber-solo travelling dari Jakarta sendiri. Tapi tidak menutup kemungkinan ketika datang ke suatu tempat, lalu saya bergabung dengan beberapa orang untuk melakukan perjalanan bersama agar biaya perjalanan tidak terlalu tinggi, karena bias sharing cost,” ujarnya.

Jadi kalau yang ingin menekan budget perjalanan, sebaiknya melakukan perjalanan bersama, meskipun dari kota asal berangkat sendirian.

“Selain budget, keamanannya jadi lebih terjaga. Karena semakin banyak orang semakin aman dan perjalananan jadi semakin seru,” terangnya.

Tapi kalau punya dana cukup, dan benar-benar enjoy ber-solo travelling murni, ya silahkan lakukan.

“Asalkan sebelumnya sudah mendapatkan informasi tentang daerah yang dituju lewat internet supaya tidak ‘buta’ sama sekali dan juga mempersiapkan dari sisi keamanannya,” tambah Asoka.

Dari uraian pengalaman saya yang mewakili jurnalis/travel blogger sekaligus traveller zadul dan Kadek serta Asoka yang mewakili travel blogger sekaligus traveller zanow, bisa ditarik kesimpulan keduanya sama-sama membutuhkan persiapan pra perjalanan, baik itu solo travelling maupun semi solo travelling.

Hanya saja media yang digunakan untuk mengumpulkan informasi, itu berbeda. Kalau zadul informasi didapat terbatas dari media cetak dan atau orang yang pernah melakukan perjalanan tersebut maupun pihak terkait yang berada di lokasi lewat komunikasi surat konvensional.

Sementara zanow bisa lewat beragam medsos (FB, Twitter, Instagram), youtube, blog, media online serta bisa berkomunikasi cepat lewat email, WA, video call, dan lainnya.

Jadi solo traveller zanow lebih dipermudah dan diuntungkan dengan adanya keberagaman dan kecepatan akses informasi sebagai salah satu ciri dari era generasi millennials dibanding solo traveller zadul.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & sobatkembara

Captions:
1. Saya saat di Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo, Flores, NTT.
2. Saya berselimut kabut di Telaga Dewi, Gunung Singgalang, Sumbar.
3. Saya di salah satu puncak Gunung Marapi, Sumbar.
4. Saya saat pendakian Gunung Singgalang.
5. Di atap Gunung Prau di dataran tinggi Dieng, Wonosobo bersama 3 pemuda lokal.
6. Di puncak Gunung Beuti Canar di perbatasan Garut-Tasikmalaya, Jabar bersama 3 pendaki setempat.
7. Pendakian ke Gunung Rajabasa, Lampung dengan 4 pendaki muda lokal.
8.  Usai saya menuruni atap lerang Gunung Krakatau, Lampung.
9. Saat ikut pendakian rombongan ke Gunung Merbabu, Jateng.
10. Para travel blogger saat sharing soal ber-solo travelling zaman now.

Read more...

Sasar Wisatawan Zaman Now, Strategi Pemasaran Kemenpar pun Gunakan Media Millennials

Bukan sekadar tak ingin dibilang gagap teknologi (gaptek) dengan mengikuti perkembangan dunia digital, strategi pemasaran yang dilakukan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun amat kekinian, seusai era millennials guna menyasar wisatawan zaman now.

Setidaknya itulah garis besar sambutan yang disampaikan Asisten Deputi (Asdep) Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Parwisata Nusantara, Kemenpar Hariyanto di acara Millennials Talks (M-Talks) bertajuk “Travelling Kidz Zaman Now” yang diselenggarakan Rumah Millennials di Galeri Smartfren Sabang, Jakarta Pusat, Sabtu (9/12/2017) bertepatan dengan Hari Anti Korupsi.

Menurut Hariyanto yang mengenakan kaos merah bertuliskan Wonderful Indonesia,  media strategy yang diterapkan Kemenpar disingkat POSE yang terdiri atas Paid Media, Own Media, Social Media, dan Endorser.

“Kalau Paid Media menggunakan media berbayar Nasional dan lokal originasi dan destinasi wisatwan nusantara (wisnus) untuk menciptakan awareness & convergence, serta media content baik elektronik, online, cetak, dan  social media atau sosmed,” paparnya.

Sementara Own Media, lanjut Hariyanto menggunakan media yang telah dimiliki Kemenpar sendiri sebagai sumber dari segala informasi Daerah Tujuan Wisata (DTW), website destinasi, dan event.

“Misalnya website: www.indonesia.travel danwww.kemenpar.go.id,” akunya.

Penggunaan Social Media, sambungnya sesuai origin sebagai sarana untuk menciptakan keterikatan dengan target pasar melalui i-marketing, www.indonesia.travel dan www.kemenpar.go.id.

“Untuk Social Media ada FB: indonesia.travel; Twitter: @indtravel; Google+: indonesia.travel; Instagram: @indtravel; dan Youtube: indonesia.travel,” ungkapnya.

Satu lagi Endorser, lewat Generasi Pesona Indonesia (GenPI), expert, selebriti atau public figure, contohnya Pevita Pearce dan lainnya.

Selain itu, dalam kegiatan apapun yang dibuat ataupun didukung Kemenpar, wajib melibatkan lima unsur atau Pentahelix, salah satunya unsur Media, dalam hal ini jurnalis/travel blogger.

Baru-baru ini Kemenpar lewat Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia, juga menerapkan Co-Branding dengan sejumlah brand milik artis yang serius berbinis kuliner, fashion, kecantikan dan lainnya antara lain dengan Teuku Wisnu, Rossa, Ussy Pratama, Dewi Sandra, Dude Harlino, Baim Wong, Irfan Hakim, Indra Bhekti, Indri Gracia, Shireen Sungkar, dan Prilly Latuconsina.

“Semua itu dilakukan untuk mempromosikan Branding Wonderful Indonesia dan Pesona Indonesia sekaligus mengangkat potensi wisata Indonesia dengan cara kekinian untuk menjaring wisnus dan wisman zaman now juga,” pungkasnya.

Sebuah riset dari ThinkDigital.Travel menyatakan generasi millennials merupakan generasi yang mengganggap diri mereka memiliki sebuah hak yang hakiki sejak lahir, yaitu hak untuk melakukan perjalanan atau travelling.

Hal itu diperkuat oleh lembaga riset industri pariwisata Phocuswright yang memperkirakan tahun 2020 nanti, generasi millennials akan mewakili setengah dari jumlah semua perjalanan yang ada.

Khusus di Indonesia, menariknya lagi, generasi millennials-nya tidak hanya mengambil peran sebagai ‘traveller’, pun banyak yang turut berperan aktif dalam menyediakan jasa penyelenggara wisata hingga mengedukasi masyarakat luas untuk lebih mengenali potensi wisata dalam negeri.

Selain Hariyanto yang hadir mewakili Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata, M-Taks kali ini juga menghadirkan sejumlah millennials inspiratif yaitu travel blogger Kadek Ariani dan Asoka Remadja serta country manager Airfrov Indonesia, Ryan Naranda.

Penyelenggara M-Talks Rumah Millennials sendiri merupakan platform konektor, katalisator, mobilisator, dan akselerator sosial bagi generasi millennials Indonesia.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis) 
Foto: adji & artadi

Captions:
1. Asdep Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar Hariyanto berfoto bersama para narsum Millennials Talks (M-Talks) bertajuk “Travelling Kidz Zaman Now” yang digelas Rumah Millennials di Galeri Smartfren Sabang, Jakarta, Sabtu (9/12/2017)
2. Hariyanto saat memberi sambutan
3. Kadek Ariani saat menceritakan pengalamannya sebagai travel blogger.
4. Asoka Remadja menyampaikan perjalanannya selaku travel blogger.
5. Hariyanto memberikan plakat dari Rumah Millennials untuk Asoka Remadja.

Read more...

Jumat, 08 Desember 2017

214 Cross Border Events Plus Destinasi Digital Bakal Jaring 3,57 Juta Wisman Lintas Batas 2018

Tahun 2018 tinggal menghitung hari. Sadar kalau negara-negara tetangga menjadi pemasok wisatawan mancanegara (wisman) cukup signifikan jumlahnya buat negeri ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun meluncurkan Calendar of Event Cross Border. Jumlah event-nya ada 214 dengan target menjaring 3,57 juta wisman lintas batas (cross border) selama tahun 2018.

“Untuk mencapai target tersebut, Kemenpar akan menggelar sebanyak 214 even tahun depan di 29 area yang tersebar di 8 wilayah perbatasan yaitu Kepri, NTT, Papua, Kalbar, Riau, Kalimantan Utara (Kaltara), Sulut, dan Kaltim,” ujar Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya saat meluncurkan Calendar of Event Cross Border (CoE CB) 2018 sekaligus menutup Rapat Koodinasi (Rakor) Cross Border 2017 yang berlangsung di Alila Hotel Jakarta, Jumat (8/12).

CoE CB 2018 itu, lanjut Arief Yahya sekaligus menstimulus wilayah perbatasan dalam membangun infrastruktur dan juga membangun citra positif daerah lintas batas.

Menurutnya CoE CB tersebut merupakan satu upaya jangka pendek yang efektif dan efisien untuk meningkatkan daya tarik daerah lintas batas dibandingkan dengan membangun destinasi secara fisik.

Kata dia lagi, posisi Indonesia yang berbatasan langsung dengan sejumah negara tetangga, baik itu melalui darat atau overland seperti Malaysia, Timor Leste, dan Papua Nugini, maupun lewat laut seperti India, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, Filipina, Republik Palau, Australia, Timor Leste, dan Papua Nugi, mempunyai potensi besar dalam menarik kunjungan wisman cross border.

Buktinya dari Januari-Oktober 2017, jumlah kunjungan wisman cross border ke Indonesia mencapai 2,83 juta wisman atau 90,17% dari target sebesar 3,14 juta wisman.

Menurut Arief Yahya 214 cross border events tahun depan lebih dominan berupa konser musik, mengingat musik merupakan bahasa universal yang mudah diterima dan menarik massa.

“Prosentasi konser musiknya paling banyak dangdut, kemudian melayu dan juga reggae,” ungkapnya.

Destinasi Digital
Selain menyiapkan dan mengemas 214 cross border events tersebut dengan menarik, Arief Yahya juga menghimbau agar daerah-daerah di wilayah perbatasan kreatif dalam mengemas objek wisatanya menjadi destinasi digital.

“Misalnya dengan membuat spot-spot selfie agar bisa menjadi objek wisata yang instagramable, yang diminati wisman lintas batas jaman now,” terangnya.

Dalam kesempatan itu, Arief Yahya juga menyerahkan hadiah kepada para pemenang lomba Foto Cross Border Indonesia 2017 serta buku berjudul Indonesia’s Cross Border 2018 kepada beberapa bupati dan wakil bupati (wabup) lintas batas yang hadir antara lain Bupati Bintan H. Apri Sujadi, Bupati Belu Willybrodus, Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir, dan Wabup Sambas Hj. Hairiah.

Bupati Bintan Apri Sujadi mengatakan pihaknya serius menggarap pariwisata, mengingat selama ini sektor tersebut menjadi penyumbang terbesar PADA Bintan.

“Kami dan semua pihak terkait akan terus meningkatkan daya tarik wisata Bintan agar semakin banyak wisman dari negara tetangga yang datang tahun depan,” ujarnya.

Bintan sendiri mencatat tujuh event yang masuk dalam kalender nasional yaitu Chinese New Year Festival, Tour de Bintan, Bintan Triathlon, Ironman 70.3 Bintan, Bintan Golf Challenge, Bintan Moon Run, dan Spartan Race Bintan.

“Tujuh event Bintan itu sudah pencapaian gemilang. Kami akan terus melakukan promosi dan berbagai upaya lain agar semakin banyak event wisata di Bintan yang masuk dalam kalender nasional dan dikenal lebih banyak orang,” ungkapnya.

Sementara Bupati Belu yang akrab disapa Willy mengatakan selama tahun 2017 ini sekurangnya ada 10 event cross border yang dirancang untuk menjaring wisman Cross Border terutama negara tetangga Timor Leste.

“Saya berharap tahun depan lebih banyak lagi event cross border di Belu yang dibuat Pemkab Belu bersama Kemenpar,” harapnya.

Adapun event cross border yang sudah siapkan antara lain Fishing Turnamen, Motor Cross, Atambua Grate Sale, Atambua Half Marathon, dan Festival Fulan Fehan di padang savanna Fulan Fehan yang berpanorama cantik.

Terkait himbauan Menpar Arief Yahya agar setiap daerah perbatasan menjadi destinasi digital, antara dengan membuat spot-spot selfie, Bupati Kapuas Hulu Abang Muhammad Nasir mengatakan itu ide bagus dan pihaknya akan melakukan seperti apa yang disarankan Menpar itu.

“Untuk spot-spot selfie di Kapuas Hulu yang sengaja dibangun sebagaimana objek-objek wisata di Jawa memang belum ada. Wisman cross border yang datang ke Kapuas Hulu juga banyak yang ber-selfie tapi di tempat-tempat yang menurut mereka indah dan menarik,” terangnya.

Acara launching CoE CB 2018 juga dimeriahkan dengan tarian nuantara dan hiburan musik dengan menampilkan penyanyi Ria ‘Warna’ serta pagelaran fesyen antara lain menampilkan kebaya tradisional dengan sentuhan modern oleh Sanskrit karya perancang busana Mayang Kiara Pridhnani.

Naskah dan foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com ig: @adjitropis)

Captions:
1. Menpar Arief Yahya me-launching Calendar of Event Cross Border (CoE CB) 2018.
2. Menpar Arief Yahya memberi sambutan di peluncuran CoE CB 2018.
3. Wajah perbatasan Entikong baheula dan jaman now.
4. Menpar Arief Yahya didampingi Deputi Esthy dan para Putri Pariwisata berfoto bersama para pemenang lomba foto Instagram Cross Border 2017.
5. Raut perbatasan Motamasin dulu dan sekarang.
6. Hiburan music menampilkan penyanyi Ria 'Warna'.
7. Fashion Show by Sanskrit Kebaya karya Mayang Kiara Pridhnani.

Read more...

Rabu, 06 Desember 2017

Libatkan Pentahelix, Seminar KKN-PPM STP Bandung Lebih Berbobot

Ada yang berbeda di Seminar Hasil Kuliah Kerja Nyata - Program Pemberdayaan Masyarakat (KKN - PPM) Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung kali ini. Jika sebelumnya terbatas buat kalangan intern, tahun ini untuk pertama kali melibatkan lima unsur eksternal atau Pentahelix sehingga terasa lebih berbobot.


Pentahelix itu terdiri atas unsur Academician (akademisi), Business (pebisnis di industri wisata), Community (komunitas), Government (pemerintah), dan Media atau disingkat ABCGM.

Unsur akademisi di seminar ini diwakili Sampurno Wibowo dari Universitas Telkom. Selanjutnya Ariansyah Budiman mewakili industri/videographer, Robby Adiwijaya (pemerintahan/peneliti dari Kementerian Pariwisata), kemudian komunitas/LSM ada Rohadjie Trie Wahjono, dan unsur media diwakili Adji Kurniawan selaku jurnalis/travel blogger.

“Kelima unsur Pentahelix di seminar ini bertugas mengevaluasi hasil KKN-PPM yang dipaparkan para mahasiswa hari ini, sesuai keahlihan/profesinya,” jelas Head of Research & Community Service Center (RCSC) atau Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puslitabmas) STP NHI Bandung Beta Budisetyorini saat memberi sambutan di acara pembukaan seminar tersebut di Lantai 2, Gedung Mandalawangi, STP Bandung, Rabu (6/12/2017).

Beta membenarkan baru pertama kali Seminar Hasil KKN-PPM dan PKLN STP NHI Bandung melibatkan Pentahelix.

Usai pembukaan, 6 kelompok mahasiswa memaparkan hasil KKN-PPM-nya masing-masing. Di saat bersamaan, kelima unsur pentahelix melakukan penilaian.

Selepas Ishoma, giliran kelima unsur pentahelix yang menyampaikan evaluasinya, dipandu Cecep Ucu Rakhman sebagai moderator.

Sampurno Wibowo misalnya memuji beragam program yang dilakukan kelompok mahasiswa di lokasi KKN-PPM tahun ini. “Biar lebih fokus, mengingat waktunya cuma satu bulan sebaiknya program/kegiatannya jangan terlalu banyak,” imbaunya.

Sampurno memuji kelompok mahasiswa yang KKN-PPM di Kota Tua Jakarta karena sudah melibatkan komunitas setempat seperti sepeda onthel dan lainnya.

Lain lagi dengan Ariansyah yang khusus menilai video. Menurutnya rata-rata video yang dibuat masing-masing kelompok sudah bagus. “Cuma ada yang narasinya masih minim informasi. Ada pula yang terlalu lama merekam satu objek hingga terasa agak monoton,” akunya.

Evaluator dari media menilai dari sisi materi penulisan. Menurutnya semua kelompok sudah menulis hasil KKN-PPM-nya dengan baik, hanya perlu ditambah lagi biar lebih detil, terutama soal atraksi, aksebilitas dan amenitas di masing-masing lokasi.

“Misalnya aksesibilitas, alat transportasinya apa dan berapa ongkosnya. Untuk amenitas misalnya homestay ada berapa jumlahnya dan tarifnya per malam berapa. Kalau mau makan atau beli oleh-oleh di mana dan berapa harganya termasuk paket wisatanya jika ada,” terangnya.

Kehadiran pentahelix dalam Seminar Hasil KKN-PPM dan PKLN STP NHI Bandung tahun ini pun mendapat respon positif dari Ketua STP NHI Bandung Dr. Anang Sutono, CHE.

Menurut Anang itu berarti sesuai dengan arahan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya yang senantiasa menghimbau agar setiap kegiatan pariwisata melibatkan ke lima unsur tersebut.

“Mudah-mudahan pelibatan pentahelix di Seminar Hasil KKN-PPM bisa dipertahankan,” ujarnya lewat pesan WA kepada TravelPlus Indonesia.

Mengenai saran agar tahun depan minimal melibatkan unsur media saat pra (sebelum) dan on (saat pelaksanaan) KKN-PPM, Anang yang baru saja lulus dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI dengan nilai Taskap dan Akademik yang sangat memuaskan, menilainya itu input yang bagus dan siap diagendakan.

“Sebenarnya kegiatan-kegiatan STP NHI Bandung lainnya juga sudah mulai melibatkan media, cuma saja belum konsisten,” aku Anang.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Gedung depan STP NHI Bandung.
2.  Head of Research & Community Service Center (RCSC)  STP NHI Bandung Beta Budisetyorini memberikan plakat kepada evaluator dari 5 unsur pentahelix.
3. Kelompok KKN-PPM Desa Cikole berfoto bersama dengan Beta dan lima evaluator dari pentahelix.

Read more...

KKN-PPM STP Bandung 2017 Fokus di Destinasi Prioritas, Ini Alasannya

Kuliah Kerja Nyata - Program Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) yang dilakukan oleh puluhan mahasiswa semester 7 Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung selama sebulan, 23 Oktober s/d 24 November 2017 berlangsung di enam lokasi. Empat di antaranya merupakan bagian dari destinasi prioritas pariwisata.

Head of Research & Community Service Center (RCSC) atau Ketua Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (Puslitabmas) STP NHI Bandung Beta Budisetyorini menjelaskan pemilihan lokasi KKN-PPM tahun ini berdasarkan dua pendekatan.

“Pendekatan pertama mengacu pada kebijakan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bahwa KKN-PPM perlu dilaksanakan di 4 lokasi yang mewakili top ten destinasi prioritas pariwisata yang menjadi pertanggungajawaban dari STP Bandung yaitu Kepulauan Seribu, Kota Tua Jakarta, Tanjung Kelayang, dan Tanjung Lesung,” terang Beta Budisetyorini dalam sambutannya di acara pembukaan seminar tersebut di Lantai 2, Gedung Mandalawangi, STP NHI Bandung, Rabu (6/12/2017).

Satu pendekatan lainnya, lanjut Beta, STP NHI Bandung melakukan kerjasama dengan desa/hutan yang akan dibina selama 3 tahun ke depan sejak tahun 2017 ini yaitu Desa Wisata Alamendah dan hutan penelitian Cikole di Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Besok, hari kedua seminar, kelompok mahasiswa yang melakukan Program Kerjasama Luar Negeri (PKLN) di Belanda, bekerjasama dengan NHTV atau Breda University of Applied Sciences akan memaparkan hasil penelitiannya.

Menurut Beta PKLN tahun ini mengambil topic Branding Wonderful Indonesia, khususnya tanggapan wisatawan Belanda terhadap in factor yang memang menjadi prioritas pembangunan pariwisata di Indonesia yaitu homestay, digital, dan connectivity.

PKLN tersebut dilakukan para mahasiswa STP Bandung semester 5 selama kurang lebih sebulan. Beta menambahkan tujuan PKLN itu untuk mendapatkan perspektif atau sudat pandang wisatawan Belanda yang sudah pernah ke Indonesia terhadap kondisi perkembangan pariwisata di Indonesia khususnya di top ten destinasi prioritas.

Ketua Pembantu I (Bidang Akademik) STP NHI Bandung Drs. Jacob Ganef Pah, MS yang membuka Seminar Hasil KKN-PPM tahun ini mengatakan program penelitian dan pengabdian masyarakat harus menjadi salah fokus di STP NHI Bandung.

“KKN-PPM-nya harus spesifik, bisa menyalurkan kompetensi para mahasiswa di bidang hospitality dan tourism bagi masyarakat terutama di desa-desa wisata penunjang di 3 destinasi prioritas,” ungkapnya.

Ganef Pah berharap RCSC dapat terus mengembangkan KKN-PPM terus-menerus dari tahun ke tahun, supaya bisa menjadi program ungulan STP NHI Bandung.

Ketua KKN-PPM di Desa Alamendah, Muhammad Elgad mengaku banyak manfaat yang didapat dari KKN-PPM.

Selain dituntut cakap berkomunikasi, pun harus menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat.

"Lewat program ini, saya bisa beradaptasi langsung dengan masyarakat sehingga saya punya gambaran bagaimana caranya memghadapi masyarakat di dunia kerja nanti," aku Elgad.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Kelompok KKN-PPM Desa Alamendah berfoto bersama ketua Puslitabmas STP NHI Bandung, Beta Budisetyorini dan lima unsur pentahelix.
2. Head of RCSC STP NHI Bandung Beta Budisetyorini memberi kata sambutan di pembukaan Seminar Hasil KKN-PPM 2017.
3. Ketua Pembantu I (Bidang Akademik) STP NHI Bandung Drs. Jacob Ganef Pah, MS membuka secara resmi Seminar Hasil KKN-PPM 2017.

Read more...

Senin, 04 Desember 2017

STP NHI Bandung Sabet Juara 2 Kompetisi Business Plan 2017

Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) NHI Bandung menorehkan prestasi lagi. Tahun ini Hi-Team dengan HiCamp-nya dari program studi Manajemen Bisnis Pariwisata (MBW) menyabet Juara 2 kompetisi business plan berlabel 12th Management e[X]posed Business Plan Competition 2017. Selamat…

Hi-Team STP NHI Bandung dengan HiCamp-nya ini berhasil menyisihkan 13 finalis lainnya. Prestasi membanggakan itu jelas mendapat apresiasi dari Ketua STP NHI Bandung Dr. Anang Sutono.

Mendapat kabar gembira kalau tim mahasiswanya mendapat juara kedua di ajang tersebut, Anang pun langsung mengirimkan press release berikut dua foto kepada TravelPlus Indonesia, lewat pesan WA, Senin (4/12/2017) sore.

“Semoga pers release dan foto-fotonya ini layak diviralkan,” ujar Anang.

Foto yang dikirim menampilkan Gita dan Nadya yang menerima hadiah Rp 8 juta dan sertifikat sebagai juara kedua di ajang tersebut.

Anang pun berharap kemenangan Hi-Team STP NHI Bandung di kompetisi ini dapat menginspirasi dan memotivasi mahasiswa lain untuk bisa berprestasi juga.

Kata dia kemenangan ini diharapkan dapat memicu minat generasi muda untuk berwirausaha, khususnya di industri pariwisata.

Menurut Anang lagi, ini sejalan dengan agenda STP NHI Bandung untuk melahirkan lebih banyak entrepreneur muda dalam industri pariwisata.

Proposal bisnis HiCamp dari Hi-Team sendiri merupakan bisnis aplikasi berbasis mobile yang memiliki fungsi sebagai perantara antara pihak yang sudah memiliki pengalaman, perlengkapan hiking dan camping dengan konsumen atau pihak yang membutuhkan.

Aplikasi HiCamp hadir untuk memenuhi permintaan pasar terhadap aktivitas hiking dan camping di Indonesia yang semakin meningkat, juga untuk menjawab tren perilaku konsumen di Indonesia yang selalu menginginkan proses yang simple, instan, aman, dan menguntungkan dalam melakukan pembelian produk.

Terdapat 4 fitur utama dalam aplikasi HiCamp, di antaranya HiRent Tools untuk penyewaan peralatan, HiBuy Tools untuk pembelian peralatan, HiNews yang berisi berita seputar hiking dan camping, serta HiFriends yang akan menghubungkan konsumen dengan para pelaku hiking dan camping yang sudah berpengalaman.


12th Management e[X]posed Business Plan Competition 2017 digelar oleh Management Student Society (MSS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.

Kegiatan tersebut terdiri atas business plan competition, talkshow, dan marketplace Lapak Loka.

Proses seleksi final kompetisi tersebut telah dilakukan pada 2 Desember 2017 di Universitas Indonesia dengan diikuti oleh 15 finalis dari berbagai universitas.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok. STP NHI Bandung

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP