. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Senin, 23 Oktober 2017

Tampil di JFW 2018, Pamor Batik Jambi pun Kian Mentereng dan Berkelas

Lewat pagelaran busana bertajuk Jambi Kain Negeriku by Barli Asmara di Jakarta Fashion Week (JFW) 2018 yang berlangsung di samping Sency (Senayan City), Jakarta, Senin (23/10/2017), tak bisa dipungkiri membuat pamor Batik Jambi kian mentereng dan berkelas.

Pagelaran yang didukung Dewan Kerajinan Nasional Tingkat  Daerah (Dekranasda) Provinsi Jambi bekerjasama dengan perancang busana ternama Barli Asmara (39) ini berupaya untuk mengangkat Batik Jambi agar menasional bahkan mendunia.

Pagelaran yang dimulai jelang pukul 3 sore diawali dengan suguhan tarian tradisional modifikasi yang dibawakan 6 perempuan cantik yang mengenakan busana Batik Jambi berwarna hijau tosca dan balutan kain pink.

Rambut keenam penarinya disanggul. Mereka menari dalam gerakan cukup variatif dan energik tanpa alas kaki alias nyeker di arena catwalk.

Saat mereka menari, ada video yang menyuguhkan gambar Candi Muaro Jambi dan Jembatan Gentala Arasy yang keduanya menjadi ikon wisata Jambi.

Tak lama kemudian sejumlah peragawati kurus dan jangkung-jangkung satu per satu berlenggak-lenggok di atas catwalk berwarna putih.

Busana yang mereka kenakan semuanya berbahan Batik dan Songket Jambi sesuai tema dengan bermacam warna pastel seperti baby pink, light blue, peach, ungu muda, hijau, coklat bata, dan coklat muda.

Motif batik yang diangkat ada 8 yang bernuansa flora dan alam Jambi yakni motif daun karet, tampu manggis (diambil dari museum Jambi), durian pecah, sawit, rotan, bunga sepatu, kelupaku, dan motif Sungai Batanghari.

Kedelapan motif itu dituangkan dalam puluhan outfit busana bersiluet dengan cutting-an modern, klasik, dan glamor berupa gaun malam, juga potongan A-line dan potongan mermaid.

Sebagian besar busananya juga menggunakan layer atau buntut berupa kain Batik Jambi panjang yang menjuntai di belakangan maupun di samping kiri-kanan pemakainya sampai menyentuh lantai catwalk.

Secara keseluruhan busana Batik Jambi rancangan Barli Asmara yang ditampilkan di  runway stage bergengsi JFW 2018 hari ketiga yang memakai kain Batik Jambi jenis sutra, semi sutra kembang, viscose, sifon, dan organdi yang beraneka warna itu tampil elegan.

Sejumlah peragawatinya mengenakan aksesoris di kepala dan  leher berwarna emas  yang memberi kesan mewah dan percaya diri kuat, bak seorang putri raja dari sebuah kerajaan tempo doeloe di Jambi.

Barli Asmara dipercaya Dekranasda Provinsi Jambi merancang busana dari Batik Jambi untuk JFW 2018 ini bukan tanpa sebab.

Barli sendiri sudah menjadi Duta Jambi 2017 dan telah melakukan pembinaan, workshop, dan sosialisasi untuk pengembangan motif dan warna dari kain Batik Jambi selama kurang lebih sepuluh bulan terakhir ini.

Pantauan TravelPlus Indonesia, fashion show yang mengangkat Batik Jambi di JFW ke-10 yang bertema “Bhineka & Berkarya” sore itu dipadati penonton.

Ada para fashionista, perancang busana, penikmat mode, artis, warga Jambi di Jabodetabek, dan tentu saja sejumlah jurnalis, blogger, dan fotografer.

Di ujung acara, Barli hadir diiringi puluhan peragawati cantik kombinasi wajah lokal dan indo bule.

Barli mendapat banyak karangan bunga dari sejumlah penggemarnya.

“Rancangannya simple tapi berkesan berkelas, mewah, dan mahal,” ujar salah seorang fashionista usai menikmati pagelaran busana Batik Jambi tersebut.

Menurut salah seorang panitia JFW 2018, kabarnya Gubernur Jambi Zumi Zola Zulkifli, mantan model dan pemain sinetron bakal hadir. Tapi sampai akhir acara, orang nomor satu di Provinsi Jambi itu tidak terlihat batang hidungnya.

Namun di akun Instagram (IG) resminya @zumizolazulkiflijambi, gubernur terganteng se-Indonesia ini sempat mempromosikan fashion show Batik Jambi di JFW 2017 ini beberapa kali.

“Bagi pencinta Batik Jambi yang berada di Jakarta, mohon mampir di acara Jakarta Fashion Week di Senayan City hari ini jam 14.30. Ini kerjasama Dekarnasda Provinsi Jambi dengan Barli Asmara,” tulis Zumi Zola di IG-nya, Senin (23/10) pagi.

Zumi Zola menjelaskan keikutsertaan Jambi dalam JFW 2018 merupakan salah satu program Dekranasda Provinsi Jambi untuk terus mempromosikan Batik Jambi.

“Insya Allah upaya ini makin memperkuat branding Batik Jambi di tingkat Nasional,” ujar Zumi seperti tertera di IG-nya yang menyuguhkan video yang memuat kabar tentang keikutsertaan Jambi di JFW 2018.

Tak cuma itu, Zumi Zola juga mem-posting video lain yang menyuguhkan pengambilan gambar para model mengenakan busana Batik Jambi karya Barli Asmara di beberapa lokasi wisata kebanggaan masyarakat Jambi yakitu Candi Muaro Jambi di Kabupaten Muaro Jambi yang berjarak sekitar 1 jam dari Kota Jambi, dan Jembatkan Gentala Arasy yang membentang di Sungai Batanghari Kota Jambi.

Video yang disukai 8.095 warganet itu dikomentari 13 netizen. “Cantik batiknya pak, ceweknya juga😊,” komentar pemilik akun IG @dickyhandratma.

Sebagai informasi tambahan, pekan mode tahunan terbesar di Indonesia, JFW 2018 berlangsung sejak 21-27 Okrober 2017.

Selama sepekan, JFW 2018  menampilkan peragaan busana para perancang ternama seperti Deden Siswanto, Barli Asmara, Dian Pelangi, Jenahara, Zaskia Sungkar,  Oki Setiana Dewi, Ria Miranda, Chris Ran Lin, Nitin Bal, Chauhan, Novita Yunus, Rani Hatta, Danjyo Jiyoji, dan lainnya.

Tak ketinggalan kolaborasi dengan para mitra serta lembaga pemerintahan, seperti Bekraf, Dekranasda Jambi dan  DKI Jakarta, mau pun lembaga internasional antara lain Kedutaan Besar Swedia, Kedutaan Besar Australia, Fashion Design Council of India, The British Council, Korea Creative Content Agency, Korea Model Association, dan Japan Fashion Week Tokyo.

JFW 2018 juga diramaikan dengan berbagai acara bincang-bincang dan kompetisi untuk para desainer dan fashionista yang diselenggarakan oleh para mitra antara lain Himpunan Desainer Interior Indonesia.

Ada pula Fashionlink Showroom dan Fashionlink Market di The Hall, Sency. Fashionlinkberlangsung selama 5 hari, sejak Senin, 23 Oktober sampai penutupan JFW 2018 Jumat, 27 Oktober 2017.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Angkat pamor Batik Jambi lewat Jakarta Fashion Week (JFW) 2018 hari ketiga, 23 Oktober 2017.
2. Runway stage bergengsi JFW 2018 . 
3. Elegan dan percaya diri.
4. Barli Asmara kebanjiran karangan bunga usai pagelaran Batik Jambi di JFW ke-10.
5. Simple tapi mahal. 
6. Batik Jambi jadi berkelas lewat JFW 2018.
7. Cutting modern untuk Batik Jambi.

Read more...

Minggu, 22 Oktober 2017

Suku Asmat Lelang 200 Ukiran Terbaik Diujung Pesta Budaya Tahun Ini

Seperti tahun-tahun sebelumnya, acara lelang ukiran Asmat kerap digelar diujung Pesta Budaya Asmat. Tahun 2017 ini, di penyelengaraan Pesta Budaya Asmat ke-32, ada 200 ukiran yang siap dilelang sebelum acara penutupan.

Duaratus ukiran Asmat tingkat distrik yang dilelang itu sudah lolos seleksi atau dikurasi oleh para kurator dari Museum Budaya Asmat sejak minggu kedua Oktober di Lapangan SD Salib Suci, Agats.

Salah satunya ukiran patung karya seniman Asmat dari Rumpun Bismam Asmat, Kampung Yapem yaitu Klemens Yowinces (32).

Menurut Klemens sudah lima bulan dia mempersiapkan patung buatannya supaya bisa lolos seleksi. Klemens bersyukur, patung ukirannya akhirnya lolos seleksi untuk dipamerkan dan dilelang dalam Pesta Budaya Asmat (PBA) 2017.

Culture event tahunan ini untuk tahun ini berlangsung selama 6 hari, 19-24 Oktober. Lokasinya berpusat di Lapangan Yos Sudarso, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua. 

Dia menamakan patung dari kayu setinggi 2 meter itu dengan nama Patung Tesmaipits, yang memegang tombak dan busur serta anak panah yang diletakan di bahu.

Patung gagah itu pun mengenakan bermacam aksesoris unik khas Asmat seperti Bipane atau hiasan hidung yang terbuat dari kerang siput, Piswa (belati yang dipasang di lengan dari tulang kaki Burung Kasuari, Facin (topi yang terbuat dari kulit Kuskus, dan Juursis atau kalung dari gigi anjing.

Kata Klemens, Tesmaipits itu panglima perang yang dulu disegani karena banyak membunuh dan mengumpulkan kepala musuh saat perang dengan kampung lain.

Wajah bahagia juga tersirat di wajah Yohanes Aman (33), seniman seni pahat Asmat lainnya yang berasal dari Kampung Yo, sekitar 3 jam naik speedboat ke Distrik Agats, lokasi acara PBA 2017.

Pasalnya ada 5 ukirannya yang dipersiapkan selama berbulan-bulan untuk dipamerkan dan dilelang di PBA tahun ini.

Ada Patung Bis setinggi 2 meter, Tombak Babi 30 Cm, Patung Ibu Menyusui Anak 30 Cm, Patung Mendayung Perahu 1 meter, dan Patung Ibu Menggendong Anak serta Memegang Dayung.

Menurut bapak 8 anak ini paling susah membuatnya sampai satu bulan itu adalah Patung Bis yang berisi satu rumpun keluarga besar terdiri atas ibu, bapak, anak-anak, dan lainnya.

Selain 5 ukiran itu, Yohanes pun membawa beberapa ukiran yang sengaja tidak untuk dilelang melainkan untuk dijual selama berlangsung PBA.

Salah satu ukiran Yohanes yang diberi judul Patung Tiga Tungku Kehidupan sudah dibeli oleh pengunjung dari Jakarta yang sengaja datang untuk memburu ukiran Asmat saat PBA.

Sebenarnya harga patung itu 2 juta rupiah karena pembuatannya sulit dan memakan waktu sampai satu bulan.

Patung itu pun terbuat dari kayu besi yang diambil Yohanes di hutan dengan gergaji mesin.

“Tapi pembelinya menawar terus, cuma 300 ribu rupiah, lalu ditambah 100 ribu rupiah. Saya kasih saja daripada tidak ada yang beli,” ujar Yohanes polos sambil menyantap nasi dengan lauk ikan goring, pemberian si pembeli ukirannya itu di kedai Hotel Sang Surya, Agats.

Sementara seorang temannya juga berhasil menjual sebuah Tifa (gendang khas Papua) yang berukir seharga 250 ribu.

Pantauan TravelPlus Indonesia, banyak pengunjung yang datang ke PBA bukan semata untuk melihat karnaval atau parade budayanya, melainkan untuk membeli bermacam ukiran Asmat dengan bermacam taktik, rayuan, dan tawaran sampai berhasil mendapatkannya semurah mungkin, lalu dijual kembali di kota asal atau negaranya dengan harga selangit, berkali-kali lipat dari harga belinya.

Beberapa pengunjung PBA yang sebenarnya adalah pebisnis ataupun kolektor kerajinan etnik itu, datang ke Distrik Agats lebih awal.

Mereka kemudian ‘bergerilya’ ke sejumlah perajin ukiran Asmat, sebelum lelang ukiran dimulai untuk menawar seminimal mungkin sampai mendapatkan ukiran-ukiran Asmat terbaru tahun ini. 

Menurut Yohanes, kekurangan di Asmat belum ada toko yang menampung ukiran-ukiran Asmat dan menjualnya dengan harga yang pas, minimal tidak merugikan perajin.

Tak heran bagi Yohanes, Klemens, dan seniman seni pahat Asmat lainnya, PBA bukan hanya menjadi ajang bertemunya para seniman ukir se-Asmat, pun sebagai ladang menuai rejeki dengan menjual bermacam ukirannya setahun sekali, meskipun terkadang harga tawarnya tak sesuai harapan.

Gaya Lelang
Duaratus ukiran terbaik Asmat tahun ini, termasuk milik Klemens, Yohanes, dan lainnya yang lolos seleksi ditempatkan di panggung utama dan salah satu tenda dekat panggung, sejak hari pertama PBA, Kamis (19/10).

Sejumlah pengunjung, baik itu warga lokal dari dalam maupun luar Asmat, termasuk wisatawan nusantara dan mancanegara begitu antusias melihat ukiran-ukiran tersebut.

Bentuk ukiran yang dilelang dan dipamerkan dalam PBA tahun ini sangat bervariasi. Ada yang berbentuk tameng, patung orang, perahu, hiasan dinding, dan lainnya.

Sesuai rundown PBA 2017, lelang ukiran akan berlangsung 2 hari, mulai Senin (23/10) sore dan Selasa (24/10) pagi sampai acara penutupan.

Setiap ukiran akan dilelang oleh panitia lelang dengan menyebutkan nama ukiran dan harga awal, baru kemudian mempersilahkan para pengunjung yang tertarik untuk menawar.

Harga tertinggi sampai batas waktu yang ditentukan, itulah yang berhak mendapatkan ukiran tersebut.

Menurut Bupati Asmat Elisa Kambu, pameran dan lelang ukiran merupakan acara utama sekaligus daya tarik dari PBA.

“Khususnya lelang ukiran itu adalah acara andalan Pesta Budaya Asmat. Sporting event lainnya cuma sekadar acara tambahan, biar lebih menarik dan semarak,” pungkas Elisa Kambu orang nomor satu di negeri sejuta sungai, negeri hamparan lumpur dan rawa, serta negeri sejuta pengukir kayu ini.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Duaratus ukiran terbaik Asmat yang akan dilelang dalam Pesta Budaya Asmat (PBA) 2017.
2. Seorang pengunjung menyaksikan aneka ukiran yang dilelang.
3. Yohanes Aman memamerkan salah satu ukirannya yang sudah dibeli pengunjung dari Jakarta dengan harga murah.
4. Beberapa perajin ukiran Asmat menjajakan ukirannya di salah satu hotel di Agats.
5. Salah satu patung ukiran yang lolos seleksi untuk dilelang di PBA ke-32.
6.  Dua bocah serius melihat bermacam ukiran yang akan dilelang tahun ini.
8. Bupati Asmat Elisa Kambu (bertopi putih) hadir untuk membuka PBA 2017 di Lapangan Yos Sudarso, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua.

Read more...

Intip Nadine Chandrawinata Syuting MTMA di Pesta Budaya Asmat ke-32

Pesta Budaya Asmat rupanya sudah lama memikat hati Nadine Chandrawinata. Tak heran ketika ada kesempatan untuk menyaksikan event tahunan milik warga Kabupaten Asmat, Papua itu tahun ini, artis yang akrab dengan kegiatan bernuansa petualangan, laut, dan ramah lingkungan ini pun langsung menyanggupinya.

Nadine Chandrawinata bukan semata menonton Pesta Budaya Asmat (PBA) ke-32 tahun 2017  yang berlangsung selama 6 hari sejak 19-24 Oktober, melainkan sekaligus syuting untuk program yang  sudah cukup lama dipandunya di salah satu TV swasta, yaitu My Trip My Adventure (MTMA).

“Saya sudah 3 tahun jadi host MTMA, kebetulan kali ini kebagian syuting bertepatan dengan Pesta Budaya Asmat 2017, dan saya langsung bilang iya,” ujar perempuan 33 tahun kelahiran Hannover, Jerman ini kepada TravelPlus Indonesia jelang syuting MTMA di tepi jalan di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Kamis (19/10).

Sore itu, Putri Indonesia tahun 2005 ini tampil santai. Di mengenakan kaos putih lengan panjang dan celana panjang berwarna krem serta sepatu lapangan berwarna coklat tua.

Wajah perempuan yang pernah mengikuti Miss Universe 2006 ini tetap cantik alami, meskipun tanpa make-up. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai.

Di bagian depan kaosnya ada gambar pemandangan alam sebuah objek alam di Indonesia berwarna hitam, sedangkan di lengan kaos sebelah kirinya tertera tulisan: This is Indonesia.

Saat bertemu, si pemilik tinggi 175 Cm ini mengendari sepeda listrik untuk keperluan syuting program tersebut. “Hai bang, ketemu lagi,” sapanya ramah.

Rupanya kakak kandung Marcell dan Mischa Chandrawinata ini masih ingat dengan TravelPlus Indonesia.

Maklum belum lama ini, TravelPlus Indonesia pernah bertemu dan mewawancarai perempuan berdarah Jerman ini dalam acara special screening film Negeri Dongeng di XXI Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta, 17 Agustus lalu.

Apalagi saat bertemu di Agats, Travelplus Indonesia kebetulan mengenakan kaos bertuliskan Negeri Dongeng, seperti yang dikenakan Nadine ketika itu.

“Terimakasih bang sudah promosin terus film Negeri Dongeng, sampai dipake kaosnya ke sini. Oiya bang ke sini meliput juga,” tanyanya.

“Iya benar. Kalau Nadine?” balas TravelPlus Indonesia. “Buat syuting MTMA bang,” ujarnya dengan senyum manis.

Nadine tidak sendiri. Dia bersama cameraman dan beberapa tim MTMA serta dua pemandu MTMA lainnya yang ikut syuting, salah satunya Denny Sumargo yang pernah bermain dalam film 5 Cm.

Kata Nadine, dia baru saja balik dari Banyuwangi bersama Seasoldier regional Banyuwangi melepas tukik atau anak penyu bersama tim Taman Nasional Alas Purwo dan belajar mengenal fungsi hutan bakau atau mangrove di Muncar.

“Saya tantang Seasoldier regional lain untuk beraksi menunjukkan kepedulian dan berkomitmen lebih ramah lingkungan demi Nusantara ini,” ujarnya.

Usai ngobrol sejenak, Nadine pamit untuk melakukan syuting MTMA di sebuah jalan unik bernama Jalan Pendidikan yang ada di Agats.

“Bang, saya syuting dulu ya, sampai ketemu lagi,” ujar Nadine. “Ok Nadine, sampai besok di acara pembukaan Pesta Budaya Asmat ya,” balas TravelPlus Indonesia.

Jalan unik yang digunakan sebagai salah satu lokasi syuting MTMA di Agats memang bukan jalan seperti umumnya.

Jalan sepanjang sekitar 200 meter itu terbuat dari kayu besi yang terpancang di atas rawa. Jalan itupun beratap sehingga teduh.

Sejumlah jalan di Agats memang terbuat dari kayu besi dan jalan utamanya terbuat dari beton, namun semuanya terpancang dengan tiang kayu maupun kerangka besai di atas rawa, lantaran wilayahnya sebagian besar berawa-rawa dan banyak anak sungainya.

Besoknya, Jumat (21/10) siang, TravelPlus Indonesia bertemu lagi dengan Nadine dan tim MTMA.

Nadine terlihat begitu pengalaman saat menyampaikan materi liputan secara spontan. Maklum dia lebih senior dibanding dua rekan host lainnya.

Hari itu, dia tetap mengenakan kaos putih lengan panjang namun ditimpa kaos lengan pendek berwarna hitam bertuliskan MTMA. Ditambah dengan ikat kepala dari buku burung dan berkacamata hitam serta tas rajutan khas Asmat berwarna coklat.

“Bapak-bapak sudah keliling menari”, tanya Nadine kepada sekelompok pria salah satu distrik di Kabupaten Asmat yang akan mengikuti Karnaval Bhinneka Tunggal Ika usai pembukaan PBA 2017.

“Beluuum...,” jawab bapak-bapak yang semuanya tampil nyentrik tanpa baju, hanya dengan bermacam aksesoris ikat kepala dari bulu burung, gelang dan kalung serta memegang tombak berukir, sambil duduk di Lapangan Yos Sudarso, pusat acara PBA 2017 yang juga terbuat dari kayu besi.

“Oh belum, nanti saya ikutan ya sambil menari khas Asmat,” balas Nadine disambut tepuk tangan warga.

Kehadiran Nadine di pembukaan PBA 2017 ini cukup menyita perhatian. Dan rupanya tak sedikit warga Asmat yang mengenali wajahnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Nadine hadir di Pesta Budaya Asmat (PBA) 2017 di Agats, Asmat, Papua sekaligus syuting MTMA.
2. Jembatan pendidikan dari kayu besi jadi salah satu lokasi MTMA di Agats, bertepatan dengan PBA 2017.
3. TravelPlus Indonesia mengenakan kaos Negeri Dongeng saat bertemu Nadine Chandrawinata di Agats.
4. Suasana Jalan Pendidikan yang unik, dilalui warga Agats berjalan kaki atau sepeda motor bertenaga listrik.
5. Nadine dan rekan host MTMA siap syuting dalam suasana pembukaan PBA ke-32.
6. Salah satu kelompok peserta Karnaval Bhinneka Tunggal Ika yang meramaikan pembukaan PBA 2017.

Read more...

Jumat, 20 Oktober 2017

Karnaval Ini Bikin Pembukaan Pesta Budaya Asmat 2017 Jaring Ribuan Pengunjung

Pembukaan Pesta Budaya Asmat 2017 di Lapangan Yos Sudarso, Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua, hari ini, Jumat (20/10) sore berhasil menyedot ribuan pengunjung, baik warga lokal maupun dari luar Papua termasuk sejumlah wisatawan nusantara dan mancanegara.

Pesta Budaya Asmat (PBA) yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asmat bekerjasama dengan Kurator Museum Asmat, dan Keuskupan Agats serta didukung Pesona Indonesia-nya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini dibuka secara resmi oleh Bupati Asmat Elisa Kambu didampingi Wakil Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo, dan Uskup Agats serta perwakilan dari Pemerintahan Pusat.

Pembukaan PBA 2017 ditandai dengan pembambahan kayu ke “Wayir” atau tungku api utama yang diletakkan di tengah lapangan oleh Elisa Kambu dan diikuti yang lainnya secara bergantian.

Penambahan kayu ke tungku api utama tersebut dimaksudkan supaya tungku api “wayir” yang merupakan simbol jantung kehidupan masyarakat Asmat itu tetap menyala terus.

Selepas itu Elisa Kambu dan lainnya memercikan serbu kapur putih di beberapa sudut lapangan ke arah para peserta karnaval dan pengunjung sebagai tanda peresmian pembukaan PBA 2017.

Dalam sambutannya Bupati Asmat Elisa Kambu menjelaskan bahwa PBA merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian budaya Asmat yang terus tumbuh dan berkembang. Sekaligus untuk mempererat pembauran kebangsaan antar-masyarakat lewat karnaval.

Elisa mengajak masyarakat dan pengunjung untuk merayakan PBA 2017 penuh suka cita dengan tetap memelihara keamanan dan ketertiban sehingga pesta budaya yang berlangsung selam 6 hari mulai tanggak 19-24 Oktober ini bisa terlaksana dengan lancar dan sukses.

“Terimakasih untuk semua pihak yang sudah hadir menyaksikan dan mengambil bagian pada PBA 2017,” ujar Elisa.

Selepas pembukaan, acara dilanjutkan dengan Karnaval Bhinneka Tungal Ika yang diikuti seluruh distrik se-Kabupaten Asmat, bahkan dari luar Asmat. Seluruh peserta karnaval sudah berkumpul sejak jelang siang.

Selepas mengikuti acara pembukaan di Lapangan Yos Sudarso, satu persatu peserta karnaval keluar dari lapangan melalu pintu keluar arah pasar.

Adapun rute karnaval PBA 2017 dari Lapangan ke Jalan Yos Sudarso menuju Bintang Laut. Lalu masuk Jalan Dendeo lurus menuju Jalan Misi, lurus ke Tugu Tangan, lurus ke Postel sampai ke Jalan Dolok.

Seluruh peserta kemudian belok kiri ke Jalan Yos Sudarso, lurus dan kembali masuk ke Lapangan Yos Sudarso melalui pintu pasar.

Menariknya Lapangan Yos Sudarso yang menjadi lokasi acara pembukaan sekaligus pusat acara PBA 2017 bukan lapangan tanah atau lapangan sepakbola, melainkan lapangan yang terbuat dari ribuan papan kayu besi di atas rawa-rawa.

Jalan yang dilalui peserta karnaval juga dari kayu besai dan beton yang terpancang di atas lahan rawa-rawa khas Distrik Agats.

Sesuai namanya, Karnaval Bhinneka Tungal Ika bukan hanya diikuti warga Asmat dari sejumlah distrik seperti Agats, Atsj, Akat, Fayit, Pantai Kasuari, Sawa Erma, Suator, Kolf Brasa, Unir Sirau dan Suru-suru, serta perwakilan dari luar Asmat seperti dari Sorong, Biak, Manokwari, dan Serui, pun sejumlah peserta dari Bugis-Makassar, Toraja, Buton, Batak, Kei-Maluku, Tanimbar,Dobo, dan Jawa yang menetap di Asmat.

Pantauan TravelPlus Indonesia, sejumlah pengunjung termasuk wisatawan berbaur dengan ribuan masyarakat menyaksikan dan mengabadikan peserta karnaval yang tampil unik dan menarik, dengan gerakan tarian khas Papua mengikuti bunyi Tifa atau gendang kecil khas Papua yang dipukul.

Pesertanya bukan cuma muda-mudi pun orang tua, bahkan ada seorang ibu yang sedang hamil dan banyak pula para ibu yang membawa serta anak-anaknya yang masik kecil.

Ada beberapa peserta laki-laki dewasa ada yang menyolok perhatian pengunjung lantaran tidak mengenakan sehelai pakaian. hanya mengenakan beberpa aksesoris seperti gelang, kalung dan ikat kepala. Mereka tampil di depan kelompoknya sambil menari dengan gerakan enerjik.

Seluruh peserta nampak antusias sekali berpawai. Sepanjang rute yang dilalui mereka menari dan berteriak, seperti tak ada lelahnya. Ada yang membawa tombak, panah, dan ada yang sambil memainkan alat musik seperti meniup suling dari bambu, dan lainnya.

Boleh dibilang PBA memang menjadi ajang pestanya orang Asmat, khususnya, sekaligus menjadi tempat berkumpul, bertemu, dan bersilaturahmi antar-sesama warga distrik se-Asmat dan di luar Asmat.

Bupati Asmat Elisa Kambu memberikan door prize kepada peserta karnaval berupa 4 sepeda dan satu sepeda motor.

Pemberian door prize dilakukan setelah karnaval usai di Lapangan Yos Sudarso.

Caranya setiap kelompok diwakili seorang ketua rombongan untuk mengambil undian. Siapa yang beruntung, dialah yang akan mendapat hadiah door prize tersebut.

Ketua Panitia PBA 2017 Emrickus Sarkol menjelaskan jumlah peserta dalam PBA kali ini sebanyak 449 seniman dan seniwati yang terdiri atas pengukir 200 orang, pengayam 60 orang, kelompok penari 90 orang, dan 20 peserta manuver perahu yang berjumlah sekitar 100 orang Usai karnaval yang selesai sampai jelang Maghrib, malam harinya di Lapangan Yos Sudarso.

Mulai pukul 12 malam ada suguhan pukul Tifa sampai pagi. Dilanjutkan dengan acara Manuper Perahu di sungai pada Sabtu pagi pukul 8.

Pada hari Minggu (22/10) ada Manuver Perahu di Sungai Syirets dan eksebisi tarian Lapangan Yos Sudarso. Sementara Senin dan Selasa (23 & 24/10) ada inti PBA 2017 yaitu lelang ukiran dan anyaman di lapangan yang sama, dan diakhiri dengan acara penutupan.

Penyelenggaraan PBA 2017 merupakan yang ke-32, semenjak ajang tersebut pertama kali dilangsungkan pada 1979 atas prakarsa dan inisiatif dari Mgr Alphonsus Augustinus Sowada OSC, Uskup Keuskupan Agats Asmat pertama. PBA rutin digelar setiap tahun.

Namun pernah tiga kali batal digelar, termasuk pada 2015 lantaran bertepatan dengan momentum politik pemilihan Bupati-Wakil Bupati Asmat.

Keterlibatan Pemkab Asmat baru mulai terasa sejak era tahun 2000-an, setelah Asmat secara resmi terbentuk sebagai kabupaten otonomi baru, terpisah dari Kabupaten Merauke.

Adapun keterlibatan Pemkab Asmat lebih pada dukungan personel maupun dana dalam hal pengumpulan dan penyeleksian hasil ukiran dari masyarakat Asmat yang akan dipamerkan dan dilelang. Sementara dukungan dari Kemenpar dalam PBA tahun ini berupa promosi dan publikasi.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Peserta karnaval Bhineka Tunggal Ika Pesta Budaya Asmat (PBA) 2017 menari di jalan kayu khas Agats, Asmat.
2. Bupati Asmat Elisa Kambu (bertopi putih) membuka secara resmi PBA ke-32 tahun 2017.
3. Pria Asmat dan Tifa.
4. Kaum ibu ikut menari di karnaval.
5. Peserta karnaval meniup suling dari bambu.
6. Anak-anak ikut berkarnaval dengan wajah senang.
7. Riasan wajah pemuda Asmat saat berkarnaval di PBA 2017.
8. Salah seorang wisatawan mengabadikan peserta karnaval di PBA 2017.

Read more...

Selasa, 17 Oktober 2017

Sembilan Acara Ini Bakal Ramaikan Pesta Budaya Asmat 2017

Sekurangnya ada 9 acara utama dan pendukung yang akan meramaikan  Pesta Budaya Asmat  2017 yang berlangsung di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua selama 6 hari, mulai tanggal 19-24 Oktober.

Kesembilan acara utama dan pendukung dalam Pesta Budaya Asmat (PBA) tahun ini adalah Parade Ukiran, Demonstrasi Mengukir dan Mengayam, Pameran Ekspedisi NKRI, dan Back to Nature Asmat Show.

Selain itu ada Atraksi Perahu, Eksibisi Tarian, Lelang Ukiran dan Anyaman, Lomba dan Pameran Foto serta Fashion Show Inspiring Art.

Adapun rundown acara pada hari pertama, Kamis (19/10) mulai pukul 9 pagi - 5.30 sore registrasi peserta ukiran, anyaman, dan perahu.

Jum’at (20/10) mulai pukul 3 sore - 6 sore pembukaan dengan eksibisi Tunggu Api "Wayir" dan  Karnaval Bhinneka Tunggal Ika. Malamnya, pukul 7.30 - 8.30 ada suguhan eksibisi tarian.

Sabtu (21/10) mulai pukul 9 pagi ada demo mengukir dan mengayam. Dilanjutkan dengan fashion show pada sore hari, dan malamnya eksibisi tarian.

Minggu (22/10) mulai pukul 9 pagi ada perayaan syukur di Katedral, dilanjutkan siangnya manuver perahu di Sungai Syirets, dan eksibisi tarian.

Senin (23/10) mulai pukul 8 pagi ada pembukaan lelang, diteruskan siangnya dengan manuver perahu di sungai dan eksibisi perahu di lapangan. Sorenya lelang ukiran dan anyaman.

Hari terakhir, Selasa (24/10) sejak pagi dilanjutkan acara lelang ukiran dan anyaman serta penutupan.

PBA ke-32 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asmat bekerjasama dengan Kurator Museum Asmat, dan Keuskupan Agats serta didukung Pesona Indonesia-nya Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini bertujuan untuk mendukung proses pelestarian budaya dan jati diri Suku Asmat agar nilai-nilai luhur budaya Asmat tetap hidup dan berkembang.

Suku Asmat adalah adalah salah satu suku di Papua bagian Selatan yang dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik.

Populasi suku ini terbagi dua. Ada yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Keduanya saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial, dan ritual.

Kabupaten Asmat memiliki luas 23.746 Km2 atau 7,44 persen dari luas Provinsi Papua. Di Utara, Kabupaten Asmat berbatasan dengan Kabupaten Nduga dan Kabupaten Yahukimo. Sedangkan di bagian Selatan berbatasan dengan Laut Arafuru dan Kabupaten Mappi.

Sebelah barat berbatasan dengan Laut Arafuru dan Kabupaten Mimika, dan sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel dan Kabupaten Mappi.

Saat ini Kabupaten Asmat terdiri dari 23 distrik atau kecamatan, antara lain Agats, Atsj, Akat, Fayit, Pantai Kasuari, Sawa Erma, Suator, Kolf Brasa, Unir Sirau, dan Suru-suru.

Penghargaan dunia terhadap Suku Asmat adalah sebagai Situs Warisan Budaya (Site of the World Cutural Heritage).

Potensi wisata yang dapat dinikmati di Kabupaten Asmat antara lain Museum Kebudayaan dan Kemajuan yang terletak 2 Km dari pusat kota, perahu dan tarian yang biasanya dibawakan untuk menyambut tamu penting dan pejabat, rumah panjang di Agats sekitar 500 meter dari pusat kota, tarian memanggil roh, dan Taman Nasional Lorentz di Distrik Sawa Erma dan Agats.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: asmatkab.go.id & adji k.

Captions:
1. Promo Pesta Budaya Asmat (PBA) 2017.
2. Aneka koteka dan souvenir khas Asmat.
3. Peta wilayah Kabupaten Asmat, Papua.

Read more...

Sabtu, 14 Oktober 2017

Pikol Sagu dan Hela Rotang Ubah Wajah Pantai Jikumerasa Jadi Lautan Manusia

Rangkaian lomba Festival Pesona Bupolo 2017 seperti Pikol Sagu dan Hela Rotang berhasil merubah wajah Pantai Jikumerasa di Kecamatan Lilialy, Kabupaten Buru, Jum'at (13/10) menjadi lautan manusia.

Ribuan orang mulai dari anak-anak, remaja, sampai orang tua tumpah ruah di pantai berparas menawan yang berjarak sekitar 10 km atau kira-kira 20 menit perjalanan dari Namlea, Ibukota Kabupaten Buru itu.

Lomba Pikol Sagu atau memikul Sagu, salah satu makanan pokok masyarakat Indonesia Timur termasuk warga Pulau Buru, Provinsi Maluku dan Lomba Hela Rotang atau menarik rotan tersebut digelar jelang sore, setelah selesai Shalat Jum’at.

Lokasi kedua lomba berbeda meskipun dalam kawasan Pantai Jikumerasa yang dikelola Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru.

Lomba Pikol Sagu diadakan di tanah datar di dekat pantai. Area lomba berbentuk lapangan sepakbola mini dibatasi dengan tali plastik.

Pesertanya lima pasangan suami istri. Pertama sang suami memikul dua sagu padat, masing-masing seberat sekitar 5 Kg, berbentuk kerucut yang dibungkus daun sagu dengan sebilah kayu.

Sang suami harus memikul dua bungkusan Sagu tersebut dari titik start sampai ke finish sepanjang 100 meter.

Setibanya di finish, giliran si istri yang memikul sagu tersebut satu persatu dengan cara diletakkan di atas kepala yang terlebih dulu diberi wadah kain.

Sebelum bertanding sejumlah ibu mencoba memikul sagu di atas kepala sambail berjalan cepat tanpa alas kakai alias nyeker, bahkan ada yang sambil bergaya sehingga membuat penonton tertawa. Keseruan bertambah ketika lomba dimulai. Penonton pun memadati lokasi acara sampai tuntas.

Sementara lokasi Lomba Hela Rotang Dalam Air berlangsung di perairan Pantai Jikumerasa.

Hela Rotang (Tarik Rotan) sebenarnya seperti lomba tarik tambang, bedanya tambang yang digunakan adalah rotan dan lokasinya di perairan bukan di daratan melainkan di perairan pantai sehingga otomatis seluruh pesertanya basah semua.

Lomba yang diikuti dua regu pria dan wanita ini pun berhasil menyedot ribuan pengunjung yang menyaksikan dari tepian pantai dan dermaga kayu. Aba-aba lomba dikomandoi seorang pembawa acara di atas panggung yang berada di pantai.

Selain dua lomba permainan khas masyarakat Buru itu, masih ada beberapa lomba lagi yang digelar dalam rangkaian Festival Pesona Bupolo kedua ini, seperti lomba Kupas Kelapa dan  Pukul Bantal.

Bahkan Jum’at paginya di lokasi yang sama digelar lomba renang dan lomba mancing, baik anak-anak maupun orang dewasa sampai jelang Shalat Jum’at.

Lomba Pukul Batal juga berhasil menyita perhatian ribuan penonton.

Menariknya lomba ini menggunakan sebilah batang kelapa yang dibentangkan di atas perairan pantai yang cukup dalam, di dekat ujung dermaga kayu.

Setiap lomba, pesertanya 2 orang pria yang dipimpin 3 orang wasit. Karena di laut, semua peserta dan wasitnya berbasah ria.

Setelah masing-masing peserta duduk di sebilah batang kelapa sambil memegang bantal (sebenarnya guling), kemudian seorang wasit yang memegang bendera menghitung sampai hitungan ketiga, baru lomba dimulai.

Pesertanya kemudian saling baku pukul dengan guling berisi busa hingga menghadirkan tontonan yang lucu dan membuat penonton tertawa.

Peserta yang berhasil menjatuhkan lawannya ke laut dengan guling, dialah pemenangnya.

Pantauan Travelplus Indonesia sejumlah pedagang rujak, pisang goreng, bakso, kopi, dan aneka minuman ringan lainnya yang berjualan di di pantai berpanorama elok itu meraup untung besar lantaran kebanjiran pembeli.

Esoknya, Sabtu (14/3) di lokasi yang sama digelar lomba Aquathlon, yaitu renang di laut dan lari di pantai. Malamnya ada hiburan sekaligus pengumuman para pemenang setiap lomba di panggung yang didirikan di dekat pantai.

Tak bisa dipungkiri, aneka lomba dalam Festival Pesona Bupolo yang mendapat dukungan promosi dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), bukan hanya mampu menjaring wisatawan terutama lokal dan pengunjung dari luar Pulau Buru, pun mengakat nama dan pamor Jikumerasa sebagai objek wisata unggulan Kabupaten Buru yang masuk nominasi Anugerah Pesona Indonesia (API) 2017 untuk kategori Objek Wisata Bersih Terpopuler Indonesia.

Bupati Buru Ramly Umasugi yang hadir dengan mengenakan kaos Pesona Indonesia berwarna orange, membenarkan kalau Pantai Jikumerasa memang menjadi salah satu andalan objek wisata bahari Kabupaten Buru.

“Selain terkenal dengan warna pasirnya yang putih bersih dengan pemandangan lendskepnya menawan ditambah matahari terbit dan terbenamnya, pemandangan bawah lautnya pun amat memesona dengan berbagai ribuan spesies terumbu karang dan ikan hias,” terangnya kepada TravelPlus Indonesia di lokasi acara.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Buru Istanto Setyahadi yang sore itu memakai kaos Pesona Indonesia berwarna ungu dan bertopi serta berkacamata hitam menambahkan umumnya wisatawan yang bertandang ke Jikumerasa untuk bersantai.

“Ada yang bermain pasir, berenang, atau sekadar duduk-duduk di gazebo maupun warung sambil menikmati aneka minuman, pisang goreng dan rujak,” terang Istanto yang didampingi Sekretaris Dispar Kabupaten Buru Azis Tomia yang mengenakan kaos Pesona Indonesia berwarna putih.

Wisatawan minat khusus yang datang khusus untuk menyelam (diving) di sini juga lumayan sering.

“Kalau mau menyelam sewa alatnya di Ambon karena di sini belum ada dive center. Tapi kalau instruktur selamnya sudah ada,” pungkas Istanto.

Melihat begitu antusias masyarakat dan dalam dan luar Pulau Buru yang datang  untuk menyaksikan aneka lomba tersebut, TravelPlus Indonesia menilai sudah saatnya Pemkab Buru  membuat sebuah festival tersendiri khusus permainan atau lomba tradisional masyarakat Buru yang tidak ada di daerah lain dengan kemasan menarik dan melibatkan peserta dari luar Pulau Buru termasuk wisatawan mancanegara.

Dengan begitu, event wisata di kabupaten yang sudah memiliki Bandara Namniwel Namlea ini akan bertambah dan jadi lebih bervariasi.

Akses & Amenitas
Nah kalau daya tarik atau atraksi Pantai Jikumerasa sudah tersaji di atas, berikut ini akses menuju ke sana.
Cara tercepat ke Pantai Jikumerasa, kalau Anda dari Jakarta dengan kapal terbang dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Pattimura Ambon.
Waktu tempuhnya sekitar 3 jam, dengan pilihan maskapai penerbangan antara lain Garuda Indonesia, Lion, dan Batik Air, baik  itu direct flight maupun transit terlebih dulu di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar. Sebaiknya pilih yang direct.
Lanjut dari Bandara Pattimura Ambon ke Bandara Namniwel Namlea dengan kapal terbang ukuran kecil, jenis ATR selama sekitar 25 menit.
Sementara ini baru ada Trigana Air yang beroperasi sejak April 2017 dengan rute Ambon-Namlea bertarif Rp 300 ribu per orang sekali jalan. Tarifnya murah karena kabarnya mendapat subsidi dari Pemkab Buru.

Sayangnya kini rute tersebut tengah vakum. Kabarnya jelang akhir tahun ini ada maskapai lain yang akan terbang untuk rute yang sama.
Pilihan lain naik kapal feri KMP Terubuk ataupun KMP Temi dari Pelabuhan Galala Ambon ke Pelabuhan Namlea selama kurang lebih 8 jam.

Berangkat pukul 8 malam tiba sekitar pukul 4 pagi. Tarifnya Rp 78 ribu per orang untuk kelas ekonomi.

Dari Bandara Namniwel ataupun dari Pelabuhan Namlea, Anda bisa menyewa mobil travel atau angkutan kota ke Pantai Jikumerasa. Harganya masih bisa negosiasi.
Amenitasnya, dalam hal ini tempat menginapnya ada banyak pilihan mulai dari hotel, penginapan sampai homestay.

Kalau hotel antara lain ada Hotel Awista di Jalan Dermaga Baru, Namlea yang memiliki 30 kamar beragam tipe.

Tarik kamarnya ada yang Rp 350 ribu untuk double bad dan Rp 450 ribu dengan single bad lengkap dengan air panas dan dingin.

Penginapannya ada Penginapan Awista di Jalan Pelabuhan Namlea dengan 8 kamar bertarif Rp 200 ribu per kamarnya.

Sementara homestay-nya ada Tectona Homestay di jalan yang sama dengan tipe kamar VIP dan Ekonomi.

Selagi di Pantai Jikumerasa, cicipi rujak khasnya, salah satunya di kedai milik Bu Mutia. Isi rujaknya berupa potongan bermacam buah segar seperti Pepaya mengkal, Kedondong, Nanas, Bengkoang, Timun, Belimbing, dan Mangga Golek khas Pulau Buru.

Bumbunya dari Kacang Tanah yang sudah digoreng, ditambah gula merah, garam, cabai rawit sesuai selera dan air asam, lalu diulek kasar.

Setelah itu potongan aneka buahnya dimasukkan ke dalam bumbu dan diaduk merata. Baru kemudian disajikan dalam piring plastik kecil.

Harga seporsinya Rp 10 ribu. Teman minumnya yang pas adalah Kelapa Muda.

Lengkap sudah mencicipi Rujak Jikumerasa yang sepintas mirip dengan Rujak Aceh, dan kemudian menyeruput air Kelapa Muda sambil melihat suguhan pesona Pantai Jikumerasa yang memesona, pastinya membuahkan kenangan sejuta rasa.

Kalau Anda menyukai suasana ramai dengan bermacam lomba tradisional orang Buru, waktu yang tepat datang ke Pantai Jikumerasa bertepatan dengan pelaksanaan Festival Pesona Bupolo setiap Oktober. Tapi kalau menyenangi suasana yang tenang dan hening, sebaiknya di luar festival tersebut.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Pantai Jikumerasa jadi lautan manusia saat penyelenggaraan aneka lomba Festival Pesona Bupolo 2017.
2. Seorang ibu ikut lomba Pikol Sagu.
3. Wisatawan dari dalam dan luar Pulau Buru memadati Pantai Jikumerasa saat Festival Pesona Bupolo kedua.
4. Serunya lomba Pukul Bantal di perairan Pantai Jikumerasa.
5. Lomba renang diikuti anak-anak sampai orang tua.
6. Bupati Buru Ramly Umasugi memantau lokasi acara aneka lomba di Pantai Jikumerasa.
7. Kepala Dispar Kabupaten Buru Istanto Setyahadi memantau jalannya lomba Pukul Bantal di perairan Pantai Jikumerasa.
8. Sepenggal pesona Pantai Jikumerasa.
9. Dua kapal feri yang melayani penyeberangan dari Pelabuhan Galala Ambon ke Pelabuhan Namlea setiap hari.
10. Dermaga kayu memperelok Pantai Jikumerasa.
11. Seporsi Rujak Jikumerasa yang menggoda.

Read more...

Kamis, 12 Oktober 2017

Pembukaan Festival Pesona Bupolo 2017 Sedot Ribuan Orang, Jadi Agenda Nasional

Festival Pesona Bupolo 2017 yang digelar oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buru akan menjadi agenda nasional yang diselenggarakan setiap tahun, bertepatan dengan HUT Kabupaten Buru, 12 Oktober.

Hal itu disampaikan Bupati Buru Ramly Umasugi dalam sambutannya di acara pembukaan Festival Pesona Bupolo 2017 sekaligus puncak peringatan HUT Kabupaten Buru ke-18 yang berlangsung di Lapangan Pattimura, Namlea, Ibukota Kabupaten Buru, Kamis (12/10). 

Launching festival ini saja di Jakarta, tepatnya di Kementerian Pariwisata, September lalu,” ujar Ramly.

Menurutnya Festival Pesona Bupolo menjadi wadah untuk mempromosikan potensi wisata yang ada di Kabupaten Buru, misalnya Danau Rana, dan lainnya.

“Danau Rana itu salah satu keajaiban alam yang dimiliki Kabupaten Buru sebagai objek wisata alam yang potensial menjaring wisatawan dalam dan luar negeri,” terangnya.

Langkah yang dilakukan Pemkab Buru untuk memudahkan wisatawan berkunjung ke Danau Rana adalah dengan membuka akses ke danau tersebut.

“Kita akan membangun jalan hotmix sepanjang 42 km dengan anggaran 40 miliar rupiah untuk tahap pertama,” terangnya.

Festival Pesona Bupolo ini pun sekaligus menjadi langkah Pemkab Buru dalam upaya melestarikan, mengembangkan, dan memperkenalkan ragam budaya masyarakat Buru.

“Buktinya di festival kedua ini ada parade budaya yang bertujuan untuk merawat ragam budaya masyarakat Buru dalam semangat hidup bersaudara,” tambah Ramly yang sekarang memimpin Kabupaten Buru untuk periode kedua.

Menurut Ramly sejumlah program telah diluncurkan pihaknya guna menciptakan generasi penerus Buru yang andal, antara lain Gerakan Bupolo Maghrib Mengaji (Gelora) dan Gerakan Bupolo Membaca (Gencar).

“Program Gelora bertujuan untuk membentuk akhlak generasi Bupolo yang baik, sehat, dan berakhlak,” terangnya.

Sementara Gencar, sambungnya bertujuan menumbuhkan semangat minat baca kepada generasi muda Bupolo agar lebih cerdas.

“Terkait hal itu, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini-red) akan dibangun di seluruh desa di Buru,” ungkapnya.

Pembukaan Festival Pesona Bupolo 2017 yang berlangsung jelang siang, dimeriahkan dengan persembahan lagu dan tari, antara lain Tari Kapita yang dibawakan sejumlah penari muda.

Pembukaan Festival Pesona Bupolo menjadi spesial karena dihadiri sekaligus dibuka oleh Gubernur Maluku Said Assagaff dengan melepas balon.

Menurut Said akses ke Buru dari Ambon semakin mudah. “Dulu dari Ambon ke Buru atau sebaliknya lama dan susah. Sekarang sudah banyak pilihan, ada kapal feri, kapal cepat, bahkan pesawat. Bisa pilih pagi, siang ataupun malam. Buru juga sudah punya bandara nasional sebagai penyanggah bandara internasional Pattimura di Ambon,” terangnya.

Pada kesempatan itu Said Assagaff didampingi Ramly,  tamu VIP, perwakilan dari Kementerian Pariwisata (Kemepar), dan  lainnya kompak mengenakan ikat kepala khas masyarakat Buru dengan beragam bentuk dan motif.

Orang nomor satu di Maluku itu pun turut menari Tobelo (semacam tarian Poco-Poco-nya Manado yang dulu pernah booming), ditonton ribuan orang yang duduk di sisi kiri kanan lapangan.

Sebelum menutup sambutannya, Said berpesan agar peringatan HUT Kabupaten Buru tahun ini dijadikan momen untuk merubah pola pikir dan tingkah laku yang lebih baik.

“Dari pola pikir bekalahi ke budaya berkarya, dari baku lawan menjadi baku diskusi, dari budaya sopi ke budaya kopi, dan dari budaya gerombolan ke budaya berjamaah,” pesannya seraya disambut tepuk tangan tamu undangan VIP dan masyarakat.

Usai pembukaan, jelang sorenya Festival Pesona Bupolo yang didkung Pesona Indonesia-nya Kemenpar  ini diramaikan dengan Lomba Kora-Kora di Teluk Namlea yang ditonton ribuan orang di tepian teluk.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Buru, Istanto Setyahadi ada 60 tim peserta dari seluruh kecamatan dan kota se-Kabupaten Buru dan komunitas dari luar Buru yang mengikuti lomba Kora-Kora di Teluk Namlea.

“Satu perahu memuat 24 orang, terdiri atas 20 pendayung, dan sisanya pemegang bendera, penabuh tifa, penunjuk arah, dan penyemangat,” terang Istanto didampingi Sekretaris Dispar Kabupaten Buru Azis Tomia kepada TravelPlus Indonesia.

Besok, Jumat (13/10) Festival Pesona Bupolo 2017 akan diisi dengan kampanye sadar wisata, lomba pikul sagu, lomba kupas kelapa, lomba hela rotan dalam air, relly perahu layar, lomba mancing, lomba foto selfie Instagram, dan pesta kuliner.

“Lusanya, Sabtu (14/10) ada Lomba Aquathlon dan hiburan rakyat sekaligus penutupan,” pungkasnya.

Istanto  memperkirakan rangkaian acara besok dan lusa juga akan menyedot ribuan penonton, baik dari dalam maupun luar Buru.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Tarian Kapita ramaikan pembukaan Festival Pesona Bupolo 2017 sekaligus acara puncak peringatan HUT Kabupaten Buru ke-18 di Lapangan Pattimura, Namlea.
2. Bupati Buru memberikan nasi tumpeng kepada Gubernur Maluku
3. Gubernur Maluku Said Assagaff dan Bupati Buru Ramly Umasugi. 
4. Gubernur Maluku ikut menari Tobelo.
5. Penampilan penyanyi dari Ambon diminati masyarakat di pembukaan Festival Pesona Bupolo kedua.
6. Kepala Dispar Kabupaten Buru Istanto Setyahadi.

Read more...

Senin, 09 Oktober 2017

Manado Jadi Pusat Peringatan Hari Museum Indonesia 2017, Aceh pun Merayakannya

Peringatan Hari Museum Indonesia tahun 2017 ini akan berpusat di Manado, Sulawesi Utara (Sulut). Tapi sejumlah provinsi lainnya masing-masing pun cara tersendiri dalam merayakannya, salah satunya Aceh.

Tahun ini merupakan kali ketiga kita merayakan Hari Museum Indonesia yang jatuh setiap tanggal 12 Oktober. Sebelumnya selama bertahun-tahun kita hanya memperingati Hari Museum Internasional setiap 18 Mei.

Tahun lalu perayaan Hari Museum Indonesia dilaksanakan mulai 6 Oktober dan berpuncak pada 12 Oktober di Museum Vredeburg, Yogyakarta, dengan berbagai acara untuk keluarga besar museum dan masyarakat umum.

Sejumlah museum lain, baik itu museum pemerintah maupun swasta, juga merayakan hari spesial tersebut. Di TMII Jakarta misalnya, puncak perayaan Hari Museum Indonesia digelar 15 Oktober 2016.

Tahun ini, peringatan Hari Museum Indonesia 2017 mengangkat tema “Museumku Merajut Kerukunan Hidup Berbangsa”.

Dalam situs resmi Kemdikbud.go.id dijelaskan tempat pelaksanaannya akan berlangsung di Museum Negeri Provinsi Sulawesi Utara, Manado, (Sulut) selama sepekan, mulai tanggal 19 sampai 25 Oktober mendatang.

Museum Provinsi Sulut yang dibangun pada 1974, berada di Jalan W.R. Supratman No. 72, Manado.

Adapun rangkaian acaranya ada Pembukaan Hari Museum, Pameran, Penganugerahan Cagar Budaya dan Museum, Seminar untuk Masyakarat Umum (Akademisi), Workshop pemandu (Anggota Pramuka Penegak/Pandega), Workshop Pembuatan Komik (SMP), Workshop animasi (SMK/SMA), dan Workshop Film Pendek (SMK/SMA).

Selain itu ada Belajar Bersama di Museum (SD), Pameran Kain Regional Sulawesi, Publikasi di TV, radio, dan koran, serta acara Pendukungan Hari Museum dari Pemprov Sulut.

Museum-museum di provinsi lain pun merayakan Hari Museum Indonesia 2017. Provinsi Aceh misalnya merayakan Hari Museum Indonesia 2017 di Museum Aceh selama 4 hari, tanggal 12-15 Oktober.

Museum Aceh didirikan pada masa pemerintahan Hindia Belanda, yang pemakaiannya diresmikan oleh Gubernur Sipil dan Militer Aceh Jenderal H.N.A. Swart pada tanggal 31 Juli 1915.

Ketika itu bangunannya berupa sebuah bangunan Rumah Tradisional Aceh (Rumoh Atjeh) yang berasal dari Paviliun Aceh yang ditempatkan di arena Pameran Kolonial (De Koloniale Tentoonsteling) di Semarang pada tanggal 13 Agustus - 15 November 1914.

Rumah Aceh yang berada di terletak di Jalan Sultan Alaidin Mahmud Syah Nomor 12, Banda Aceh ini dibangun menyerupai rumah tempat tinggal tradisional masyarakat Aceh, berbentuk rumah panggung dengan penyangga dari kayu dan memiliki kolong di bawahnya.

Beragam acara bakal menyemarakan perayaan Hari Museum Indonesia di Museum Aceh. 

Ada Pameran Temporer dengan Tema Dapur Tradisional Aceh, Bazar Kuliner, Fun Race Cooking, Lomba Pengetahuan Sejarah, Membuat Kolase, Pemilihan Rakan Museum, dan Panggung Hiburan.

Pada hari pertama, Kamis (12/10) dimulai dengan Pameran Temporer Aroma Memikat dari Dapur Aceh untuk umum sampai (15/10). Lalu siangnya proses seleksi peserta Rakan Museum.

Hari kedua, Jumat (13/10) ada pembekalan peserta Rakan Museum, Lomba Pengetahuan Sejarah untuk Tingkat SMP dan SMA.

Pada hari ketiga, Sabtu (14/10) ada Lomba Membuat Kolase Tingkat SD, Grand Final Lomba Pengetahuan Sejarah Tingkat SMP dan SMA, Tes Wawancara Peserta Rakan Museum, Grand Final Rakan Museum, Band Performance Clover Band, penampilan Cagok Aceh Teuku Mail & Ras Taufik.

Dilanjutkan dengan penyerahan hadiah Lomba Hari Museum dan penampilan artis Joel Keudah serta penobatan Rakan Museum Aceh. 

Hari keempat, Minggu (15/10) ada Fun Race Cooking Family, Lomba Pengetahuan Sejarah Selebgram Aceh, dan ditutup dengan band performance.

Tanggal 12 Oktober sebagai Hari Museum Indonesia ditetapkan tahun 1962 pada Musyawarah Museum Indonesia (MMI), kemudian dikukuhkan kembali pada Pertemuan Nasional Museum (PNM) yang diadakan di Malang pada 26 Mei 2015.

Penentuan Hari Museum bertujuan menumbuhkan kesadaran masyarakat agar semakin mengapresiasi dan menyayangi keberadaan museum-museum Indonesia.

Penetapan Hari Museum Indonesia merupakan salah satu kerja keras Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud).

Lembaga di bawah Kemdikbud ini boleh dibilang menjadi induk dunia permuseuman Indonesia.

Pembinaan permuseuman, baik museum pemerintah maupun swasta, berada di tangan lembaga tersebut.

Diharapkan dengan peringatan Hari Museum Indonesia ini, bisa menggerakkan sekaligus menumbuhkan minat masyarakat untuk mengenal, memahami, mencintai, dan selanjutnya memanfaatkan museum sebagai tempat rekreasi sekaligus wahana belajar.

Selamat Hari Museum Indonesia, 12 Oktober.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji, dok. kemdikbud & @disbudpar_aceh

Captions:
1. Pengunjung berfoto di Museum Aceh.
2. Museum Provinsi Sulut.
3. Promo agenda acara peringatan Hari Museum Indonesia 2017 di Museum Aceh.
4. Logo Museum di Hatiku. 

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP