. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Cerita Wisata Utama


Komodo itu pandai menipu. Saat diam, biawak raksasa ini seperti hewan lemah, padahal itu taktiknya untuk menyergap satwa lain dan manusia yang lengah. Seperti apa sifat dan prilaku aslinya? Simak profil sang predator berdasarkan pengamatan TravelPlusIndonesia (TPI) secara langsung di Pulau Komodo.

Komodo satu-satunya spesies terakhir dari keluarga monitor lizard yang mampu bertahan hidup dan berkembang. berdasarkan leaflet TNK, satwa berdarah dingin ini ditemukan pertama kali oleh seorang Belanda bernama JKH Van Steyn tahun 1911. Baru terkenal di dunia ilmu pengetahuan sejak 1912, tepatnya setelah peneliti dan ahli biologi, Mayor PA Ouwens memberikan julukan dalam tulisan berjudul “On a Large Varanus Species from the Island of Komodo” dengan nama ilmiah Varanus komodoensis.

Untuk mengetahui prilaku komodo sesungguhnya, TravelPlusIndonesia (TPI)mengamatinya langsung di habitatnya, Pulau Komodo. Ternyata komodo punya trik sendiri untuk mengelabui mangsanya. Dia pura-pura diam seperti sebatang kayu lapuk. Gerakannya lamban dan malas. Tapi setelah mangsanya lengah, dia segera menyergapnya dengan mulutnya yang moncong atau dengan bantuan ekornya dengan cara menyabet mangsanya sekeras mungkin. Kelebihan lain, predator licik ini dianugerahi penciuman yang sangat tajam, terutama bila mencium amis darah dan bau bangkai meski berjarak 2 Km.

Di habitanya, komodo lebih suka menyendiri (soliter). Sejak kecil, anak komodo dibiarkan mencari makan sendiri oleh induknya. Jarang sekali berkelompok kecuali di Banu Nggulung. Beberapa komodo di tempat ini malas mencari makan sendiri akibat terbiasa diberi umpan (feeding) gratis dari pengunjung, akhirnya populasi rusa, babi hutan, dan kerbau liar kian bertambah hingga mengganggu keseimbangan alam. Beberapa tahun belakangan, acara feeding dilarang.

Data inventarisasi komodo Taman Nasional Komodo (TNK), di Pulau Komodo jumlahnya sekitar 1.700 ekor, di Pulau Rinca 1.300, Gili Motang 100, dan 30 ekor di pulau-pulau kecil lain.

Diperkirakan masih ada sekitar 2.000 ekor lagi yang terpencar di Flores, yakni di pesisir Barat Manggarai dan pesisir Utara Kabupaten Ngada serta beberapa tempat di Kabupaten Ende. Bahkan hasil penelitian Auffenberg dari Amerika Serikat, komodo ditemukan sampai Timur Flores. Masyarakat Pulau Komodo dan sekitarnya menyebut komodo, ora. Tapi warga pesisir Utara Flores dan Ende, memanggilnya mbou. Di Pulau Rinca, perilaku komodo sedikit lebih ganas. Kulitnya kekuningan dan lebih bersih.

Buaya Darat
Menurut salah seorang peneliti khusus komodo yang TP temui di Pulau Komodo, musim kawin komodo terjadi pada Juli-Agustus. Jumlah jantan dan betina 4 berbanding 1. Lantaran tak seimbang sering terjadi perkelahian antar jantan untuk memperebutkan betina hingga terluka bahkan tewas. Komodo jantan sukar ditemukan saat musim kawin, sebab sibuk mengejar betina. Usai kawin, sang betina akan bertelur lalu menyimpannya di lubang. Betina bertelur 20-50 butir dan menjaganya selama 7 bulan. Bentuk telurnya oval, berwarna putih dengan panjang 9 cm, lebar 6 cm dan beratnya 105 gram. Setelah menetas, panjang rata-rata 18 inci atau 45 cm. Yang dewasa sekitar 2 meter, pernah juga dijumpai komodo sepanjang lebih dari 3 meter.

TP pun mengamati bayi komodo. Kulit bayi komodo berwarna kekuningan. Umur 10 bulan coklat muda. Usia 20 bulan ke atas berubah menjadi agak hitam, lalu coklat gelap setelah dewasa. Anak komodo langsung pandai memanjat pohon untuk mencari makan, sekaligus menghindar dari ancaman komodo dewasa. Santapan kegemarannya aneka serangga, cecak dan tokek. Setelah dewasa, lebih suka memangsa rusa, babi hutan, kerbau dan telur burung Gosong. Komodo dewasa tak bisa lagi memanjat pohon lantaran keberatan badan.

Selain suka memangsa hewan lain termasuk manusia, komodo dewasa juga suka menyantap anaknya (kanibal). Areal perburuan komodo dewasa di lokasi yang sering dilalui hewan dan manusia. Komodo menyukai semak dataran rendah, berbatasan dengan savana. Terkadang ada di dataran tinggi sekitar 400-600 meter dpl. TP juga melihat komodo berenang layaknya seokor buaya terutama jika melihat bangkai ikan besar yang mengapung di perairan. Wajar penduduk setempat menjulukinya buaya darat.

Berdasarkan pengamatan TP secara langsung di Pulau Komodo, predator yang dilindungi undang-undang seperti halnya Harimau Sumatera ini meski bukan termasuk satwa penyerang yang ganas, namun tetap berbahaya. Apalagi bila berada di TNK, di habitatnya itu komodo sebagai raja. Lengah sedikit, Anda bisa jadi mangsanya.

Cara yang amat saat berada di habitanya, Anda harus tetap waspada dan ditemani jawagana bila ingin melihat predator ini atau hendak berpergian ke obyek-obyek lainnya. Sebab bagaimanapun melihat komodo di habitatnya, di pulau Komodo dan pulau-piulau lain di TNK jelas jauh lebih mengasyikkan dibanding di kebun binatang. Atmosfir dan panorama yang bakal Anda dapat pasti lebih seru, menawan, dan mengesankan.

Bila Anda yakin bahwa sang predator yang kanibal ini menjadikan Pulau Komodo dan pulau-pulau lain di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) begitu berati dan berbeda dibanding kawasan lain, sebaiknya Anda memilih Taman Nasional Komodo agar terpilih sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7Wonders. Caranya dengan melakukan vote di http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees. Selamat memilih semoga Anda dapat menyaksikan bagaimana komodo menjqdi penguasa di habitatnya.***

Naskah & Foto: A. Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Minggu, 19 Februari 2017

Musikalisasi Puisi Meriahkan Festival Pesona Budaya Bauran Cap Go Lak 2017

Bandung memang pantas mendapat predikat kota kreatif. Bukti kecilnya, soal nama dalam perayaan terkait Hari Raya Imlek dan Cap Go Meh saja, Kota Paris van Java ini tak mau sama dengan kota/daerah lain yang menyelenggarakan even budaya serupa. Kalau di Bali, Manado, Singkawang, Medan, Palembang, Solo, Jogja, Surabaya, Jakarta, Bogor dan lainnya mengunakan judul Cap Go Meh, lain halnya dengan Bandung memakai label Cap Go Lak. Jadi unsur budaya lokalnya dalam hal ini kesenian asli Tatar Sunda lebih ditonjolkan, salah satunya lewat pertunjukan Musikalisasi Puisi.

Adalah Komunitas Seni Reak, Helaran, Badawang, dan Kuda Lumping Cibiru Kota Bandung yang dikomandani Bah Enjum dan Bah Nanu selaku pengiat seni budaya tradisi kreatif, menggelar perhelatan akulturasi budaya bernama.

Lokasinya di Pasir Biru, Kecamatan Cibiru, Kota Bandung, Jawa Barat pada Sabtu (18/2) dari pukul 9 pagi sampai tengah malam.

Kenapa memakai kata Bauran? Karena dalam festival tersebut terjadi pembauran atau bersatunya seni dan budaya yang lain dalam satu bingkai acara.

Banyak yang belum tahu bahwa di Ibukota Provinsi Jawa Barat ini, terdapat banyak jenis kesenian, mulai dari seni teater, musik, dan tari antara lain Jaipongan, Dogcing sampai seni yang berbau mistis seperti Debus yang selama ini orang awam hanya tahu itu berasal dari Banten.

Selain itu ada Benjang, yang juga merupakan salah satu kesenian dari Tatar Sunda. Kesenian Benjang berkembang di kaki Gunung Manglayang, lebih tepatnya di daerah sekitar Ujungberung, Cibolerang sampai ke Cinunuk. Sampai saat ini belum diketahui siapa yang menciptakan kesenian tersebut.

Menurut Adang Hakim, tokoh Benjang di Kampung Ciborelang, Benjang mulai diperkenalkan di daerah Cibiru oleh Hj. Yayat sekitar tahun 1918.

Dalam festival ini para seniman menggelar doa bersama bertajuk “Ruwatan Jagat”. Tujuannya memohon kedamaian di Ibu Pertiwi ini, mengingat akhir-kahir ini terjadi bencana, kegaduhan dalam rangka pilkada, teror bom, dan masih banyak yang lainnya.

Setelah Gelar Do'a Bersama, festival dilanjutkan dengan acara Helaran Budaya.

Beragam etnik seni tradisi yang hidup dalam masyarakat Kota Bandung dan sekitarnya  saling unjuk kebolehan.

Ada Seni Reak, Benjang Helaran, Debus, Kuda Lumping, Kuda Renggong, Pencak Silat, Sisingaan, Badawang, Jajangkungan, Arak-Arakan Babantengan, Gagarudaan, dan tak ketinggalan seni nuansa Tionghoa seperti Liong dan Barongsai.

Selepas Shalat Zuhur, festival dilanjutkan dengan Gembrong Liwet atau makan nasi liwet bersama. Selanjutnya penampilan atraksi peserta Bauran sampai jelang Maghrib.

Pada malam harinya, Ba’da Isya, festival dimeriahkan dengan pertunjukan Musikalisasi Puisi oleh penyair Ridwan C. Madris. Dilanjutkan dengan pertunjukan Seni Bantengan dan Seni Bajidoran Bauran.

Dalam kesempatan itu Kepala Bidang (Kabid) Promosi Wisata Budaya, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) Wawan Gunawan yang juga seorang dalang dari grup Wayang Ajen didaulat membacakan sajak sufi berjudul “Sarwa Suluk Dewa Ruci” bersama Ridwan dengan iringan Grup Musikalisasi Puisi Bandung.

Secara keseluruhan festival yang terselenggara atas kerjasama Masyarakat dan Komunitas Budaya, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat, Dinas Pariwisata Kota Bandung, serta dukungan penuh dari Kemenpar lewat Bidang Promosi Wisata Budaya, Asdep Seqmen Pasar Personal, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara berlangsung semarak dan berhasil menjaring ribuan pengunjung, terutama warga sekitar Bandung dan wisatawan nusantara dari luar Bandung.

Menurut Wawan seni tradisi apabila dikemas sedemikian rupa hingga menarik dan layak jual, dapat menjadi daya tarik pariwisata.

“Alhasil tentunya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seperti meminjam istilah Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya bahwasanya apabila budaya semakin dilestarikan semakin mensejahterakan masyarakat,” ungkapnya.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: wawan & wayang ajen

Read more...

INGAT!, Mandalika itu Sejak Dulu Surganya Para Surfer

Sejumlah destinasi di Tanah Air memiliki objek wisata khusus yang diminati para turis spesialis surfing. Mulai dari Aceh antara lain ada di Pantai Lhampuuk, Di Sumatera Utara ada di sejumlah pantai di Kepulauan Nias. Kemudian di Lampung ada di Tanjung Setia dan sepanjang Pesisir Selatan, di Riau ada di Sungai Kampar Pelalawan yang dikenal dengan river surfing alias Bono. Lalu di Jawa Barat ada di Pantai Cimaja, di Jawa Timur ada di Pantai Plekung (G-Land) dan di Bali ada di Pantai Kuta, Dreamland, dan lainnya. Sedangkan di NTB ada di Lombok, tepatnya di kawasan Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng) yang kini mencuat namanya gara-gara ditetapkan sebagai salah satu dari 10 Destinasi Prioritas atau ‘Bali Baru’, bahkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata.

Mandalika sudah lama menjadi idola para surfer terutama asal Australia dan Eropa. Bahkan nama Mandalika lebih dulu dikenal sebagai surga bagi para peselancar mancanegara sebelum menjadi ‘Bali Baru’ dan KEK.

Faktornya, Mandalika memiliki surfing spots yang masih asri di sejumlah pantai antara lain di Pantai Mawi dan Tanjung Gerupuk, di tambah beberapa pantai lain yang berpanorama menawan seperti Pantai Kuta, Pantai Seger, dan Tanjung Aan.

Faktor pendukung lainnya, biaya untuk menari-mari di atas ombak di Mandalika relatif murah. Peselancar tak perlu repot-repot membawa papan selancar dari negaranya. Di sana sudah tersedia beberapa tempat penyewaan papan surfing. Harganya pun amat terjangkau cuma Rp 50 ribu per papan.

Alat transportasi menuju surfing spots, juga sudah tersedia. Biasanya para surfer menyewa sepeda motor jenis motor bebek buatan Jepang. Tarifnya Rp 50 ribu per hari.

Penginapannya juga banyak dan beragam jenis. Untuk jenis homestay ada yang bertarif Rp 150.000 per malam sudah termasuk breakfast sederhana.

Tarif makanannya pun murah karena cukup banyak, mulai dari rumah makan sederhana, resto maupun café. Untuk keperluan air mineral, makanan dan minuman kecil, perlengkapan mandi, pulsa dan lainnya, sudah tersedia 2 mini market dengan harga tentu jauh lebih murah dibanding di warung kecil apalagi hotel.

Harga-harga tersebut jelas tak ada artinya bagi turis asing yang bermata uang dolar, euro, apalagi poundsterling.

Kalau Anda datang ke Mandalika, selepas Lombok International Airport (LIA) kemudian masuk ke Kota Praya, Ibukota Loteng lalu ke kawasan Mandalika jangan heran kalau banyak menemukan turis pria bertelanjang dada ataupun turs perempuan ber-tang top dengan celana pendek sambil membawa papan selancar dengan sepeda motor, atau lalu lalang masuk ke mini market, homestay, café, pantai dan lainnya.

Dengan kata lain yang menghidupkan dan membuat Mandalika terkenal adalah para surfer.

Merekalah yang membuat sejumlah penginapan jenis vila dan homestay menjamur di sepanjang Jalan Wisata Kuta Lombok hingga ke Pantai Seger, termasuk sejumlah warung makan, café dan mini market serta tempat penyewaaan papan surfing dan sepeda motor.

Sudah sepatutnya pihak terkait ‘memperhatikan’ mereka, menjaga mereka agar tetap betah, terus kembali datang ke Mandalika serta bertambah pula jumlah turis special surfing ini.

Jumlah mereka pun tidak sedikit dan umumnya surfer itu tipe turis yang kerap datang kembali (repeated visits) berkali-kali dan sekali datang biasa dalam jangka waktu lama, minimal seminggu bahkan ada yang berbulan-bulan.

Pembangunan sejumlah proyek di KEK Mandalika yang tengah berlangsung tahun ini, mulai dari 5 hotel baru, infrasturktur jalan, pembenahan Pantai Kuta, Masjid Raya, dan Sirkuit F1, sejatinya jangan sampai melupakan turis spesialis surfing.

Tujuan pembangunan KEK Mandalika jelas ingin menambah kunjungan wisatawan baik wisnus dan wisman dari genre dan negara lain, misalnya untuk menjaring wisatawan Timur Tengah, Malaysia, dan negara muslim lainnya yang bukan surfer. Itu bagus-bagus saja.

Namun jangan sampai semua itu membuat turis spesial surfing merasa terabaikan apalagi terganggu ‘kebebasan’ dan gerak ruangnya.

Kenapa? Karena merekalah yang telah lama mengintimi kawasan ini, jauh sebelum ada ditetapkan sebagai destinasi prioritas dan KEK. Dan harus diingat, mereka pula yang sampai kini masih menggeliatkan roda perekonomian di Kawasan Mandalika, bukan turis jenis lainnya.


Buktinya sebagian besar bahkan boleh dibilang hampir semua turis asing yang menyaksikan acara puncak Festival Pesona Bau Nyale tahun lalu dan juga tahun ini yang dukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar), 16-17 Februari di Pantai Seger, Loteng, adalah para turis surfer yang tengah berlibur khusus untuk melampiaskan kegemarannya berselancar di sejumlah surfing spots di Mandalika.

Jadi sudah sewajarnya kalau pihak terkait, termasuk Pemkab Loteng, Pemprov NTB, dan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemenpar mulai lebih memfokuskan keberadaan mereka, minimal dengan memperbanyak sekaligus mendukung penyelenggaraan lomba surfing bertaraf internasional yang lebih berkualitas dengan hadiah yang tinggi, promosi dan publikasi yang gencar hingga gaungnya menasional dan mendunia.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @yahoo.com)
Foto: adji & rico

Read more...

Sabtu, 18 Februari 2017

Biarpun Nyale Sedikit, Acara Puncak Tetap Dipadati Puluhan Ribu Pengunjung

Cacing laut (Nyale) yang muncul di Pantai Seger, Lombok Tengah, Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pas acara puncak Festival Pesona Bau Nyale tahun ini, Jumat (17/2) jelang Subuh, jumlahnya sedikit. Tak sesuai alias meleset dari perkiraaan para mangku (tokoh adat setempat).

Tak berlebihan rasanya kalau ada pengunjung terutama warga Sasak yang ada di sekitar kawasan Mandalika yang memang berniat melaksanakan Tradisi Bau Nyale (menangkap cacing laut), nampak sedikit kecewa.

Beberapa di antaranya terpaksa pulang dengan tangan hampa, tak berhasil membawa Nyale untuk diolah lalu disantap atau untuk ditebar ke sawah mereka agar lebih subur.

Sebab menurut kepercayaan masyarakat setempat, bila Nyale yang muncul melimpah pas hari ‘H’, itu menandakan hasil panen padi ataupun hasil bumi lainnya tahun ini akan melimpah, dan sebaliknya.

Informasi tentang sedikitnya Nyale yang muncul pas acara puncak itu, saya dapat dari salah seorang pengunjung sewaktu hendak menuju lokasi penangkapan Nyale di Pantai Seger, pukul 3, Jum’at (17/2) dini hari.

Tanda-tandanya terlihat dari sejumlah warga  yang kembali pulang dengan sepeda motor dan mobil. Namun penulis belum yakin, karena kebanyakan yang pulang itu anak-anak muda yang hanya sekadar mencari hiburan di malam acara puncak Festival Pesona Bau Nyale.

Maklum acara tahunan ini pun tak bisa dipungkiri bukan sekadar mencari hiburan, pun menjadi ajang mencari kenalan bahkan jodoh antarmuda-mudi.

Akhirnya dari depan penginapan Sekar Wangi, tempat saya menginap yang berada tepat di seberang Pantai Kuta, sekitar 2 Km dari Pantai Seger, penulis didampingi Medianto, Staf Analisa Pasar Dinas Pariwisata (Dispar) NTB dan sopir rental car  bernama Andy menuju Pantai Seger.

Di perjalanan semakin banyak pengunjung yang pulang, dan beberapa di antaranya ada orang tua yang pulang sambil membawa Sorok atau alat penjaring Nyale.

“Kalau yang pulang orang tua yang membawa Sorok, itu tandanya memang tidak ada Nyale-nya. Sebab mereka ke sini benar-benar ingin Bau Nyale, bukan mencari ‘Nyale darat’ sebagaimana kebanyakan anak muda lajang,” kata Medianto.

Saya tetap belum yakin. Mobil pun terus melaju sampai depan lokasi parkir kendaraan pengunjung. Suasananya tetap sama, banyak pengunjung yang pulang sambil membawa Sorok.

Tepat di depan gerbang Hotel Novotel, Medianto pun bertanya kepada salah seorang pria setengah baya yang pulang sambil membawa Sorok. Dia bertanya dalam bahasa Sasak. “Kata bapak itu, dia pulang karena tidak ada Nyale yang muncul. Kalau ada pun cuma sedikiiiiit..,” ujar Medianto.

Mendengar penuturan bapak asli Sasak itu, akhirnya kami pun kembali ke penginapan untuk mengantisipasi terjebak kemacetan karena semakin banyak pengunjung yang pulang lewat jalur yang sama.

Pertanyaan mendasar pun muncul. Kenapa sampai Nyale tak sesuai alias meleset dari prediksi/perkiraaan para Mangku?

Sesuai informasi yang Travelplus Indonesia peroleh dari Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Loteng, H. Lalu M. Putria di kantornya di Praya, Ibukota Loteng, Kamis (16/2) siang, bahwa penentuan pelaksanaan Tradisi Bau Nyale itu tidak asal jadi.

Menurutnya terlebih dahulu diadakan sangkep warige atau semacam rapat acara penentuan hari ‘H’ Bau Nyale yang ditentukan oleh 4 mangku penjuru angin. Ada mangku ahli perbintangan, ahli angin, kelautan, dan lainnya.

Mangku adalah tokoh adat masyarakat yang memiliki kepandaian/keahlian tertentu dalam meramal atau menentukan pelaksanaaan Tradisi Bau Nyale.

Para Mangku tersebut, lanjut Lalu M. Putria mengelar sangkep warige untuk menentukan kapan tanggal 10 bulan 10 menurut Kalender Sasak yang menjadi hari pelaksanaan Tradisi Bau Nyale.

Disamping menggunakan ilmu/keahlian tertentu yang dimiliki para Mangku, mereka juga menggunakan tanda-tanda alam, seperti terlihatnya bintang, jamur, tanaman sebangsa perdu sudah berbunga, terdengrnya tengkerek, dan hujan angin yang terjadi selama 7 hari 7 mlam.

Hasil rapat sangkep warige kemudian dibawa ke rapat di kabupaten dengan pemda tingkat 1 provinsi untuk menentukan rundown acaranya.

Kata Lalu M. Putria acara Festival Pesona Bau Nyale 2017 ini terdiri atas pra acara, kegiatan inti (acara puncak), dan acara pasca-Bau Nyale.

Pra Festival Pesona Bau Nyale 2017 sudah terselenggara sejak tanggal 30 Januari dengan acara pemilihan Putri Mandalika yang dikuti 152 orang, kemudian disaring menjadi 10 besar (finalis) lalu diumumkan pemenangnya pada acara puncak (17/2) di Pantai Seger.

Selain itu ada Preserean, Lomba Surfing, Volly Pantai, Gendang Beleq, dan kesenian musik khas Sasak, Cilokaq. Paginya sebelumnya malam acara puncak, ada acara Belancaran di Pantai Seger.

Malam acara puncak atau intinya, berlangsung setelah acara makan bersama dengan para pejabat dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar) yang mendukung festival ini, antara lain Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusaatara Esthy Reko Astuty, Asdep-nya Raseno Arya, dan Kabid Promosi Wisata Budaya Wawan Gunawan.

Tak ketinggalan beberapa pejabat dari Pemprov NTB seperti Wagub NTB dan Kadispar NTB, pejabat Loteng antara lain Wakil Bupati Loteng dan Kadisparbud Loteng yang menjadi tuan rumah serta para tamu undangan yang kemudian dilanjutkan dengan jumpa pers dengan sejumlah media.

Acara puncaknya berlangsung di sebuah panggung besar yang bertuliskan “Pesona Bau Nyale 2017”dengan dipandu dua orang MC pria dan wanita.

Isi acaranya berupa pementasan seni-seni tradisional seperti tari-tarian, Wayang ulit Sasak, Sketsa Putri Mandalika dan Drama Kolosal tentang Legenda Putri Mandalika, dan ditutup dengan Nede Rahayu atau doa bersama memohon keselamatan para pengunjung yang hadir dan seluruh manusia sejagad raya. Setelah itu ribuan warga termasuk pengunjung turun ke Pantai Seger untuk menangkap Nyale.

Berdasarkan pantauan Travelplus Indonesia, ribuan orang berbondong-bondong ke lokasi acara, melewati jembatan yang terbuat dari bambu dan papan kayu, yang membentang melintasi aliaran muara yang mengering.

Setibanya di lokasi acara, lautan manusia sekitar puluah ribu sudah memenuhi lapangan di depan panggung bahkan banyak yang menyaksikan acara dari Bukit Seger dan beberapa bukit lainnya. Ada yang menggelar tikar dan tak sedikit yang memasang tenda dome.

Beberapa aparat keamanan seperti dari kepolisian dan TNI juga terlihat berjaga-jaga di ujung jembatan.

Sejumlah pedagang makanan mulai dari jagung bakar, bakso, sate, mie ayam, nasi goreng, aneka minuman, pedagang buah, aksesoris, baju, dan  sampai pedagang Sorok memadati lokasi acara bercampur dengan ribuan pengunjung.

“Om ini Sorok-nya cuma sepuluh ribu rupiah, buat nyaring Nyale,” kata seorang ibu muda berhijab, yang menawarkan Sorok dagangannya.

Travelplus Indonesia mengamati Tradisi Bau Nyale menjadi ladang emas bagi sejumlah pedagang makanan, minuman dan lainnya. Harganya pun ikut-ikutan melonjak, naik dua kali lipat selama acara puncak Bau Nyale berlangsung.

“Tadi saya makan bakso semangkok 25 ribu rupiah. Padahal bisanya cuma belas ribu semangkok,” ujar Andy.

Kehadiran dua mini market di kawasan Pantai Kuta tak jauh dari Pantai Seger, tak bisa dipungkiri mengurangi pendapatan para pedagang kecil tersebut. Lantaran banyak pengunjung yang membeli makanan dan minuman sebagai bekal untuk menyaksikan acara puncak Festival Festival Bau Nyale 2017 hingga ujung acara yakni menangkap cacing laut.

Sayangnya, Nyale yang didamba-dambakan pas acara puncak Festival Pesona Bau Nyale 2017 jumlahnya amat sedikit, dibanding tahun lalu.

Lalu M. Putria pun menampik kalau tanggal acara puncak Festival Pesona Bau Nyale tahun ini meleset mengingat Nyale yang muncul sedikit. Menurutnya Kalendar Sasak itu hanya terdiri 10 bulan dalam setahun. Jadi agak sulit bila disesuaikan dengan Kalendar Masehi/Nasional.

Tradisi Bau Nyale, sambungnya memang setiap tahun terjadi antara bulan Februari sampai Maret. Oleh karena itu para mangku menentukan tanggal Bau Nyale Tunggal (awal), Bau Nyale Putu (akhir), dan tanggalnya bisa berbeda-beda setiap tahunnya.


Berdasarkan informasi dari warga, antara lain Putri, Andy, dan diperkuat staf Dispar NTB, sebenarnya kemunculan Nyale dalam jumlah besar terjadi sejak tanggal 15 dan 16 Februari.

Buktinya saat acara Lomba Memasak Ikan yang berlangsung di Kantor Bupati, di Kota Praya, Kamis (16/2) pagi sebelum acara Parade Budaya dan acara inti Festival Pesona Bau Nyale 2017, beberapa pesertanya juga menyuguhkan olahan masakan dari Nyale.

“Ini Pepes Nyale dan Nyale Goreng Om dari hasil Nyale tangkapan hari Rabu (15/2) dan Kamis (16/2),” kata Putri, salah seorang peserta lomba memasak yang berasal dari Desa Kuta, tak jauh dari Pantai Kuta, kawasan Mandalika, Loteng.

Hal senada juga diucapkan Andy. “Saya kemarin sempat dapat Nyale banyak pada tanggal 15 dan 16 Februari,” ungkap pria Sasak asli Desa Sengkol, Loteng yang juga mengaku melahap Nyale hasil tangkapannya tanpa diolah terlebih dulu.

“Nyale, bagus untuk menambah vitalitas pria dan bikin gagah apalagi kalau dimakan mentah. Kalau buat cewek bisa bertambah cantik seperti Putri Mandalika dan awet muda,” ujarnya seraya tertawa.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Begini Strategi NTB untuk Capai Target 4 Juta Wisatawan Tahun Ini


 
Nusa Tenggara Barat (NTB) ditargetkan capai kunjungan wisatawan sebesar 4 juta oleh Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tahun ini. Jumlah itu terdiri atas 2 juta wisatawan nusantara (wisnus) dan 2 juta wisatawan mancanegara (wisman). Untuk itu Pemrov NTB lewat Dinas Pariwisatanya melakukan strategi khusus.

“Kami bersama Kemenpar tidak diam. Promosi bersama terus dilanjutkan. Kemudian pembenahan sejumlah destinasi yang merupakan hal yang paling pokok, terus kami upayakan,” kata Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) NTB Lalu M. Faozal saat jumpa pers penyelenggaraan Festival Pesona Bau Nyale, di Pantai Seger, Kawasan Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Pulau Lombok, NTB, Kamis (16/2) malam.

Strategi lainnya, Pemprov NTB bersama Pemkab/kota se-NTB, lanjut Faozal terus berupaya untuk membenahi masing-masing destinasi yang diprioritaskan NTB. “Total destinasi yang diprioritaskan dan yang siap jual ada 11 destinasi sesuai dengan Ripda NTB dan itu kita lakukan melalui penguatan-penguatan baik APBN, APBD Provinsi maupun APBD Kabupaten/Kota,” tambahnya.

Menurut Faozal strategi yang dilakukan pihaknya untuk mencapai target 4 juta wisatawan tahun ini, tak ada yang lain selain menyiapkan diri menjadi destinasi yang siap jual. “Tidak ada dalam pikiran kami untuk tidak siap. Jadi strategi yang ada adalah strategi untuk siap saja. Tidak ada strategi untuk tidak siap,” terangnya.


Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar, Esthy Reko Astuty yang hadir dalam jumpa pers menyarankan agar NTB mengenali segala macam potensi wisatanya berdasarkan ketersediaan 3 A yakni Atraksi, Amenitas, dan Aksebulitas. Atraksi NTB menurut Esthy sudah lengkap mulai dari alam, budaya, dan buatan.

Dari 100 Calendar of Event 2017 yang didukung Kemenpar tahun ini, lanjutnya, NTB kebagian 3 festival yakni Festival Pesona Bau Nyale (16-17 Februari), Festival Pesona Tambora (11-19 April), dan Mandalika Tour d’ Lombok (22-23 September).

Saran Esthy, NTB harus fokus pada destinasi dan produknya. “Fokus di sini harus tahu mana daya tarik yang diutamakan dan siap dijual seperti ketiga event di atas,” ujar Esthy.

Setelah terpilih destinasi dan produknya, baru kemudian menentukan target pasarnya, baik itu wisnus maupun wismannya. “Kalau daya tarik atau atraksi yang kaitannya dengan alam, bahari, dan budaya, pasar wisman yang cocok buat NTB misalnya Australia dan Eropa. Dan itu pun ada pertimbangan dari sisi Aksebilitas,” ungkapnya.

Selain strategi promosi secara offline, NTB juga harus melakukan promosi secara online baik di paid media, social media, dan lainnya. “Kami menekankan kepada pihak daerah supaya bersinergi dalam berpromosi dengan Kemenpar,” imbau Esthy.

Sebagaimana sudah diungkap di atas, dari target 15 juta wisman dan 265 pergerakan wisnus Kemenpar tahun ini diperoleh dari sejumlah destinasi di seluruh Indonesia termasuk yang ada di NTB.

Tahun ini NTB ditargetkan menyumbang 4 juta wisatawan, setelah tahun sebelumnya ditargetkan meraup 3 juta wisatawan.

Jumlah 4 juta wisatawan yang ditargetkan NTB tahun ini, tentu berasal dari sejumlah Kabupaten/kota se-NTB, termasuk Kabupaten Loteng yang tengah melaksanakan Festival Pesona Bau Nyale 2017.

Kadisparbud Kabupaten Loteng H. Lalu M. Putria menjelaskan Loteng sendiri tahun lalu berhasil menjaring sekitar 70 ribu wisatawan. “Tahun ini ditargetkan di atas 70 ribu wisatawan,” terangnya kepada Travelplus Indonesia di ruang kantornya di Kota Praya, Ibukota Loteng.

Lalu Putria menambahkan, pembenahan sektor pariwisata Loteng dilakukan sejak tahun 2011 dan hasilnya dari data BPS semula Loteng menjadi kabuputen dengan Produk Domestik Regionbal Bruto (PDRB) terendah atau boleh dibilang termiskin) se-NTB. Akhirnya pada 2013 menjadi kabupaten dengan PDRB tertinggi se-NTB.

Data dari BPS Loteng mencatat besaran nilai PDRB Loteng dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pada tahun 2013 PDRB atas dasar harga berlaku Loteng mencapai angka 7,18 triliun rupiah. Naik sebesar 13,49 persen dibanding tahun sebelumnya.

Adapun nilai PDRB atas dasar harga konstan Loteng tahun 2013 sebesar 2,89 triliun rupiah tau mengalami pertumbuhan sebesar 6,18 % dari tahun sebelumnya.

Lalu Putria pun berharap penyelenggaraan even budaya tahunan Festival Pesona Bau Nyale yang didukung Pemprov NTB dan Kemenpar ini dapat berkontribusi menyumbangkan kunjungan wisnus dan wisman agar target 4 juta wisatawan ke NTB tahun ini dapat tercapai.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Kamis, 16 Februari 2017

'Sosok' Putri Mandalika di Parade Budaya Festival Pesona Bau Nyale 2017, Pukau Wisatawan

Inilah salah satu ‘sosok’ penjelmaan Putri Mandalika yang muncul di Parade Budaya Festival Pesona Bau Nyale 2017 yang berlangsung di Kota Praya, Ibukota Kabupaten Lombok Tengah (Loteng), Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), pada Kamis 916/2) sore. Kehadirannya berhasil memukau ratusan pengunjung yang menyaksaikan jalannya parade budaya ini, termasuk sejumlah wisatawan domestik dan segelintir wisatawan mancanegara.

“Ih cantik banget Putri Mandalika-nya ya. Pantas aja dulu jadi rebutan para pangeran,” kata salah seorang pengunjung yang menyaksikan salah satu sosok penjelmaan Putri Mandalika di Parade Budaya tersebut. Sosok Putri Mandalika yang dimunculkan di Parade Budaya kali ini bergam bentuknya.

Ada sosok Putri Mandalika yang diperagakan perempuan muda molek yang diarak hanya dengan berjalan kaki. Ada pula yang menggunakan sombol Praje. Praje seperti Sisingaan dari Suku Sunda yang biasa digunakan untuk acara sunatan anak.

Masing-masing sosok Putri Mandalika diiringi musik tradisional Lomsok seperti barisan pemukul Gendang Beleq dan alat musik krenceng (sebuah alat dari perunggu), yang dipukul dengan begitu kencang seiring Putri Mandalika berjalan.

Para pengiring sosok Putri Mandalika pun tak kalah menariknya, bak para dayang dan ‘bodyguard’. Ada barisan remaja berkostum tradisional, ada rombongan prajurit muda sambil membawa peralatan perang perang seperti tombak. Ada juga rombongan perempuan muda yang mengenakan kain ikat, aksesoris tradisional dan tentu saja sarung ternun dengan aneka warna seperti pink dan biru yang tak kalah cantiknya dengan sosok Putri Mandalika.

Namun tak bisa dipungkiri sosok Putri Madalika-lah yang menjadi magnet utama yang berhasil memukau ratusan pengunjung yang berdiri di kiri-kanan sepanjang rute para peserta Parade Budaya.

Cerita Putri Mandalika yang melegenda di Loteng, khususnya di kawasan Mandalika merupkanan ajang pelestariaan budaya dan kearifan lokal yang tahun ini dikemas dalam festival bertajuk Festival Bau Nyale 2017.

Festival tahunan yang dilakukan di kawasan yang kini berstatus ekonomi khusus pariwisata (KEK) Mandalika itu, sejak dulu memang memiliki tardisi Bau Nyale atau menangkap cacing laut pada tanggal tertentu setiap tahun. Nyale yang ditangkap oleh warga Sasak, suku asli Pulau Lombok di sekitaran Pantau Seger dan Pantau Kuta yang termasuk KEK Mandalika ini, diyakini sebagai penjelmaan Putri Mandalika.

Siapa itu Putri Mandalika? Dia adalah putri kerajaan tempoe doeloe di sana yang terpaksa menceburkan diri dari Bukit Seger ke laut untuk menghentingan perkelahian antar-pangeran yang memperebutkan cintanya.

Mayat sang putri berparas cantik ini sampai sekarang tidak ditemukan, sejak itu setiap tahun muncul jutaan Nyale yang oleh warga setempat dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Kasi Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Loteng H. Kamaruddin Kamaruddin membenarkan, tema Parade Budaya kali ini berbeda dengan tahun-tahun. “Kalau tema Parade Budaya Festival Pesona Bau Nyale tahun lalu menonjolkan biota laut. Tahun ini menonjolkan sosok Putri Mandalika sehingga seluruh kontingen terutama dari SKPD diharapkan menampilkan sosok Putri Mandalika dalam suguhan parade kali ini,” terangnya kepada sebalum parade dimulai di Kota Praya, Kamis (16/2).

Jumlah kontingen yang mengikuti Parade Budaya Festival Pesona Bau Nyale 2017, lanjut Kamaruddin terdiri atas beberapa unsur, yakni seluruh kabupaten/kota se-Lombok dengan jumlah peserta per maksimal 150 orang per kelompok. “Dari kabupaten/kota se-Lombok ada 5 kontingen, SKPD sekitar 34, kecamatan se-Loteng 12, dan sejumlah kontingen perwakilan sekolah se-Kota Praya sehingga diperkirakan total jumlah peserta Parade Budaya tahun ini sampai 1.500 orang, terangnya.

Menurut Kamaruddin Parade Budaya Festival Pesona Bau Nyale tahun baru pertama kali digelar di Kota Praya, Ibukota Loteng. Sebelumnya, selalu digelar di sepanjang Jalan Wisata Kuta Lombok, Mandalika. “Dasar pertimbangannya karena kalau di jalan wisata Kuta Lombok, Mandalika sering terjadi kemacetan karena berbarengan dengan kedatangan ribuan pengunjung yang ingin melakukan tradisi Bau Nyale, sehingga tamu undangan tidak bisa masuk pada saat Parade Budaya dilaksanakan. Alasan lain dipindahkan ke Kota Praya agar pengunjungnya yang datang menyaksikann parade budaya ini lebih banyak lagi dari luar Lombok sehingga lebih mendunia gaungnya,” ungkapnya.

Promosi yang dilakukan untuk memberitahukan bahwa pelaksanaan Parade Budaya Festival Pesona Bau Nyale 2017 yang bertema ‘Heritage of Mandalika” ini dilaksanakan di Kota Praya, sambungnya, pihak panitia sebelumnya mengadakan jumpa pers yang diikuti media onlone, cetak dan elktronik. “Begitupun saat pelaksanaan Parade Budaya, kami mengundang sejumlah media, terutama media lokal,” terangnya.

Rute parade budaya pertama kali di Kota Praya ini sepanjang 2 Km dimulai dari Lapangan Bunder Loteng, lalu keluar dari Pintu Timur lapangan terus belok kanan ke Selatan ke lampu Merah, setelah itu ke Barat menuju depan Kantor Bupati Loteng. Di depan kantor Bupati Loteng ada panggung kehormatan yang dihadiri tmu undangan VIP antara lain Natasha Mannuela runner up Miss World 2016, Martha Tilaar, Kadisparbud Loteng H Lalu Putria yang berpakaian adat Sasak, Kadispar NTB, perwakilan ASITA NTB dan ASITA DKI Jakarta, dan lainnya.

Setelah itu peserta parade menuju Pertamina ke Utara lalu finishnya di Masjid Agung. Dimulai pukul 2 siang dan berakhir sampai sore hari, jelang Magribh, terangnya.

Berdasarkan pantauan Travelplus Indonesia, meskipun Parade Budaya bukan acara inti Festival Pesona Bau Nyale, melainkan acara sampingan atau tambahan namun menjadi daya tarik tersendiri bagi festival ini.

Hal itu pun diamini Kamaruddin. Menurutnya parade budaya ini harus selalu ada dalam penyelnggaraan Festival Pesona Bau Nyale. “Kami nanti akan men-evaluasi hasil penyelenggaraan Parade Budaya paretama kali di Kota Praya ini, apa saja dampaknya. Baru nanti kami tentukan apakah tahun depan depan parade budaya ini diadakan di Kota Praya lagi atu dikembalikan ke tempat asal yakni sepanjang Jalan Wisata Kuta Lombok, Mandalika,” akunya.

Sayangnya, perwakilan dari Kementerian Pariwisata (kemenar) dalam hal ini Bidang Promowi Wisata Budaya, Asdep Segmen Pasar Personal, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara yang mendukung Festival Pesona Bau Nyale 2017 tidak hadir menyaksikan Parade Budaya ini.

Menurut salah seorang stafnya, kedatangan rombongan Kemenpar telat, gara-gara pesawatnya delay kemudian harus menjemput kedatang Deputi.

Padahal beberapa media ada yang mencari salah satu dari perwakilan Kemenpar tersebut untuk diwawancarai seputar Parade Budaya Festival Pesona Pesona Bau Nyale yang behasil memukau ratusan pengunjung ini.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, id: @adjitropis)

Read more...

Rabu, 15 Februari 2017

Pantai-Pantai Ini Tenar Namanya Berkat Nyale Jelmaan Putri Mandalika

Ketenaran pantai hingga diminati wisatawan, bisa karena bentangan pantainya yang berpasir putih, halus, dan bersih. Bisa juga lantaran pesona sunset ataupun sunrise-nya yang memukau, gugusan karangnya yang unik, ombaknya yang tinggi dan bergelombang hingga cocok buat surfing, atau suasananya masih alami dan sunyi hingga memberi ketenangan. Umumnya karena pemandangannya. Namun pantai-pantai di kawasan Mandalika ini, tersohor justru karena jutaan Nyale.

Apa itu Nyale? Sejenis cacing laut yang hidup di lubang-lubang batu karang di bawah permukaan laut di sekitar perairan Mandalika, Lombok Tengah (Loteng), Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Uniknya jutaan Nyale itu muncul setahun sekali, dan tanggalnya tidak tentu, biasanya antara Februari dan Maret. Uniknya lagi Nyale kemudian diburu orang Sasak, suku asli Pulau Lombok yang banyak menetap Mandalika, sebuah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) yang ditetapkan Pemerintah Pusat.

Kegiatan menangkap cacing laut atau dalam bahasa lokal disebut Bau Nyale ini sudah jadi tradisi karena sudah berlangsung sejak puluhan bahkan mungkin ratusan tahun lalu. Dan tradisi itu sampai sekarang tetap hidup bahkan makin eksis dan menarik.

Cacing laut yang dalam bahasa ilmiahnya bernama Polychaeta sp itu sengaja dicari dan ditangkap, ternyata bukan sekadar untuk disantap karena Nyale itu mengandung banyak gizi berdasarkan penelitian, melainkan pula karena memiliki ‘keistimewaan’ lain berupa manfaat lebih bagi pemakannya.

Misalnya kalau perempuan yang menyantapnya, banyak yang percaya akan bertambah cantik, secantik Putri Mandalika, sehingga banyak yang meyakini cacing-cacing yang berwarna-warni itu  (ada hijau, kemerahan,merahan, kuning dan lainnya), merupakan jelmaan Putri Mandalika dari kerjaaan tempo dulu di sana.

Sementara banyak pula laki-laki yang percaya kalau memakan Nyale itu baik mentah maupun sudah diolah menjadi beragam menu seperti Nyale Goreng, Pepes Nyale, dan Nyale dibungkus daun lalu dimasak santan atau Daun Nyale Kelak Santan, akan bertambah gagah bahkan bisa menguatkan vitalitasnya.

Akhirnya setiap kali jutaan cacing laut itu muncul di perairan pantai-pantai di Mandaika, terutama di Pantai Seger dan Pantai Kuta, kemudian ditangkap oleh ribuan warga, lalu menarik perhatian wisatawan baik lokal, nusantara maupun mancanegara hingga mereka berdatangan, lambat-laut membuat nama pantai-pantai itu jadi terkenal.

Pantai Seger, terletak kira-kira 65 kilometer dari Kota Mataram. Selain karena keindahan alamnya, Pantai Seger ini menjadi tersohor lantaran setiap tahun menjadi pusat penyelenggaraan Tradisi Bau Nyale yang berhasil menjaring ribuan wisatawan.

Melihat kehebatan tradisi ini menjaring wisatawan, membuat sejumah pihak ikut memberi dukungan beberapa tahun belakangan, antara lain dukungan dari Pemeritah Pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar), terutama melalui Bidang Promosi Wisata Budaya, Asdep Seqmen Pasar Personal, Deputi Bidang Pemgembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara.

Seperti pelaksanaan Tradisi Bau Nyale tahun ini, bentuk dukungan yang diberikan Kemenpar berupa promosi dan publikasi, dimana tradisi itu dikemas dalam bentuk sebuah festival agar lebih menarik dan menjual dengan nama Festival Pesona Bau Nyale yang berlangsung 2 hari 16-17 Februari 2017.

Begitupun Pantai Kuta, namanya juga tenar berkat kehadiran Nyale setiap tahun. Bahkan tahun lalu, pantai ini sukses menjadi lokasi acara puncak Hari Pers Nasional (HPN) 2016 yang dihadiri Presiden Joko Widodo dan sejumlah menteri, di antara Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

Berkat Nyale, pantai yang oleh penduduk setempat dijuluki Pantai Merica lantaran pasirnya berbentuk seperti merica atau lada, bulat-bulat kecil ini ini kerap dikunjungi wisatawan. Ada yang bersantai, berjemur, berenang, snorkeling, dan bahkan berselancar.

Pantai yang berada di Desa Kuta ini dikelilingi deretan perbukitan. Di pagi hari pemandangan yang menakjubkan berupa pesona sunrise atau matahari terbit yang dapat dilihat dari puncak perbukitan tersebut.

Pantai-pantai lain yang ikut terdongkrang namanya gara-gara Nyale adalah Pantai Selong Belanak, Pantai Mawi Lombok, dan Teluk Gerupuk serta Tanjung Aan.

Pantai Selong Belanak dapat ditemouh sekitar 45 menit dari Lombok International Airport (Lia) di Praya. Pantai ini berbentuk cekungan (teluk), berpanorama sangat indah karena kanan kiri diapit gugusan bukit hijau yang bergradasi ketinggiannya. Pantainya landai memanjang berpasir putih nan lembut seperti tepung dengan ombaknya yang kecil.

Pantai Mawi Lombok yang terletak sekitar 5 km dari Pantai Selong Belanak menjadi salah satu tempat di KEK Mandalika yang disukai oleh para peselancar baik lokal maupun surfer dari mancanegara. Ketinggian ombak perairannya memang sangat cocok untuk berselancar.

Teluk Gerupuk yang berlokasi di Desa Gerupuk, sekitar 9 Km dari Pantai Kuta ke Timur ini sudah dikenal baik oleh para peselancar karena ombaknya selalu besar sepanjang musim.

Tempat ini pun sudah dilengkapi dengan fasilitas penginapan, restoran, dan pos pengamanan pariwisata. Sedangkan Tanjung Aan berpanorama alam cantik dengan bukit-bukit dan tentunya saja pantai berpasir putih dan landau.

Objek wisata bahari di KEK Mandalika ini, cocok untuk berenang, berjemur di pasir putih, melihat dan mengabadikan panoramanya dari bukit, surfing, ataupun sekadar duduk-duduk sambil menikmati kelapa muda.

Keistimewaan Tanjung Aan memiliki beberapa pantai berpasir putih dengan perairan tenang berair biru ditambah bukit-bukit kecil yang miskin vegetasi atau telanjang sama sekali tanpa tutupan vegetasi.

Bukit-bukitnya itu didominasi batuan vukanik dengan sisipan batu gamping di beberapa tempat.

Sejumah wisatawan yang datang ke Mandalika untuk menyaksikan Festival Pesona Bau Nyale, biasanya usai melihat atau bahkan ikut menangkap Nyale, kemudian melanjutkan kunjungan dan aktivitas wisatanya ke Pantai Selong Belanak, Pantai Mawi Lombok, dan Teluk Gerupuk serta Tanjung Aan. Alhasil nama keempat tempat itu pun semakin tenar.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji, rani & rico

Read more...

Selasa, 14 Februari 2017

Habis Nyoblos di Jakarta, Ayo Nyari Nyale di Mandalika

Usai melakukan pencoblosan terkait Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, besok Rabu, 15 Februari 2017, Anda bisa ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Lokasi tepatnya di Pantai Seger, Mandalika, Lombok Tengah (Loteng) untuk mencari dan menangkap cacing laut dalam Festival Pesona Bau Nyale 2017 yang puncak acaranya berlangsung 2 hari, 16-17 Februari.

Agenda perjalanannya bisa seperti ini. Setelah mencoblos pagi hari, Anda berangkat Rabu sore dengan pesawat, misalnya maskapai Garuda Indonesia pukul 15.45 WIB dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soeta).

Sampai di Lombok Internasional Airport (Lia) di Praya, Lombok sekitar pukul 18.50 malam. Lalu dengan taksi atau rental car, Anda bisa menuju penginapan yang sudah di-booking sebelumnya di dekat lokasi dimana acara berlangsung.

Kalau belum pesan penginapan secara online ataupun by phone, coba Anda langsung menuju kawasan Pantai Seger yang menjadi lokasi pusat acara Festival Pesona Bau Nyale 2017 berlangsung.

Susuri saja sepanjang Jalan Raya Wisata Kuta Lombok. Di sana Anda akan temui beragam jenis penginapan mulai dari vila, hotel sampai homestay.

Untuk tariff homestay yang paling murah mulai dari Rp 200 ribu per orang per malam dengan fasilitas kamar mandi di dalam dan kipas angin serta sudah termasuk sarapan pagi. Di sekitar jalan tersebut juga ada beberapa warung makan dan kedai.

Malamnya Anda bisa melihat tradisi yang dilakukan warga setempat sebelum menangkap Nyale mulai tengah malam hingga matahari terbit. Biasanya warga memotong ayam kemudian diolah menjadi masakan dan membuta ketupat.

Esok harinya, Kamis (16/2), Anda menyaksikan beragam suguhan seni budaya yang digelar dalam rangkaian Festival Pesona Bau Nyale. Ada Betandak atau Bekayak, Napak Tilas Bau Nyale, Parade Budaya Pesona Bau Nyale, dan Pemilihan Putri Mandalika.

Kalau ingin menikmati aneka masakan dan kuliner Khas Lombok datang saja ke acara Kampung Kuliner, masih dalam rangkaian  Festival Pesona Bau Nyale 2017 yang dilaksanakan Pemkab Loteng yang didukung Pemprov NTB dan Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) melalui Bidang Promosi Wisata Budaya, Asdep Seqmen Pasar Personal, Deputi Bidang Pemgembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara.

Malam Jum’at (17/2) Anda bisa ikutan mencari Nyale sampai matahari terbit. Jangan lupa melihat warga setempat mengolah Nyale hasil tangkapan bersama menjadi berbagai makanan seperti Nyale Goreng, Pepes Nyale, dan Nyale dibungkus daun lalu dimasak santan atau Daun Nyale Kelak Santan.

Cicipilah masakan berbahan Nyale tersebut agar Anda tahu rasa dan khasiatnya.

Kalau Anda berani menyantap Nyale mentah (belum diolah), boleh-boleh saja. Selanjutnya setelah beristirahat, Anda bisa berwisata bahari mengunjungi pantai-pantai lain yang ada di kawasan Mandalika, seperti ke Pantai Kuta Lombok, Pantai Selong Belanak, Pantai Mawi Lombok, Teluk Gerupuk, dan Tanjung Aan.

Kalau Anda berani berselancar, sewa saja papan surfing dan sepeda motor menuju lokasi surfing spot setempat. Sebaiknya Anda dipandu peselancar lokal biar lebih aman dan nyaman.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: rico

Read more...

Inilah 15 Fakta tentang Tradisi Bau Nyale di Mandalika, Lombok Tengah

Masyarakat Suku Sasak yang mendiami Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya yang berada di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika, Lombok Tengah (Loteng) setiap tahun melaksanakan Tradisi Bau Nyale. Tahun ini, Tradisi Bau Nyale atau menangkap cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika itu kembali digelar.

Lambat laun Tradisi Bau Nyale akhirnta  menjadi salah satu daya pikat yang menjadi alasan mengapa wisatawan baik lokal, domestik maupun mancanegara bertandang ke Mandalika yang juga menjadi salah satu dari 10 destinasi prioritas atau ‘Bali Baru’, garapan Kementerian Pariwisata (Kemenpar). 

Tradisi tersebut pun belakangan dikemas dalam bentuk festival dengan suguhan beberapa acara seni budaya tradisional khas Lombok.

Berdasarkan pengamatan Travelplus Indonesia sekurangnya ada 15 (lima belas) fakta terkait penyelenggaraan Tradisi Bau Nyale tahun ini.

Pertama, tradisi ini digelar dua hari tanggal 16-17 Februari sebagai acara puncaknya, dimana tanggal tersebut sudah ditetapkan sesuai kesepakatan dan musyawarah dengan tokoh masyarakat setempat.

Kedua, pelaksanaan tradisi ini berlangsung setiap tahun ini namun tanggal/harinya tidak tetap artinya tergantung petunjuk para tokoh setempat. Sebagai pengingat tahun lalu, Bau Nyale 2016 berlangsung tanggal 27 dan 28 Februari.

Ketiga, lokasi peyelengaraannya hanya di perairan sekitar Mandalika terutama di Pantai Seger dan Pantai Kuta yang lebih dikenal warga setempat bernama Pantai Senek. Pelaksanaan Tradisi Bau Nyale tahun ini akan dipusatkan di Pantai Seger, Kecamatan Pujut, Kabupaten Loteng.

Keempat, seperti disunggung di atas tradisi Bau Nyale terkait erat dengan Legenda Putri Mandalika yang terjadi pada abad ke-16. Ketika itu kerajaan kuno Tanjung Bitu diperintah oleh Raja Tonang Beru dan Seranting ratunya yang memiliki putri bernama Mandalika.

Putri Mandalika berparas cantik, banyak pangeran dari berbagai kerajaan yang ingin menjadikannya sebagai permaisuri. Putri Mandalika bingung menentukan mana pangeran yang akan menjadi suaminya.

Dia pun mengadakan syarat, para pangeran harus bertempur dan siap yang menang berhak menikahinya. Namun pertempuran antarpangeran terus bertambah dan semakin sengit.

Putri Mandalika akhirnya memutuskan mengorbankan hidupnya agar tidak ada lagi pertempuran memperebutkan dirinya. Dia melemparkan dirinya ke laut agar tidak ada pangeran yang bisa memilikinya.

Sebelum bunuh diri melompat ke laut, sang putri mengatakan bahwa dengan cara yang khusus, ia akan kembali setiap tahun untuk membawa nasib baik kepada orang-orang yang dicintainya. Tubuhnya menjadi ribuan cacing laut atau Nyale yang muncul di perairan sekitarnya.

Sejak itu masyarakat di Loteng khususnya mengadakan Tradisi Bau Nyale atau menangkap cacing laut yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika.

Kelima, pada malam sebelum tradisi Bau Nyale dilakuan, biasanya masyarakat melakukan ritual sendiri di rumah masing-masing. Ada yang memotong ayam dan membuat ketupat.

Keenam, biasanya warga setempat menangkap kumpulan Nyale dengan menggunakan alat penjaring tradisional yang bernama sorok. Setelah ditangkap, Nyale segera dimasukkan ke dalam wadah terbuat dari anyaman bambu yang disebut kepis. Ada juga yang memasukkannya ke dalam botol air mineral, panci, ember ataupun bak kalau Nyale-nya sudah terkumpul banyak.

Ketujuh, Nyale yang ditangkap warnanya ada yang coklat, merah, hujau, kuning, dan jingga, dan biru. Panjangnya bisa sampai dua meter. Tapi karena terkena hempasan ombak, banyak nyale sudah tak utuh alias terputus-putus.

Kedelapan, Nyale ternyata mengandung banyak gizi. Ini terungkap setelah beberapa peneliti melakukan penelitian terhadap cacing laut atau Polychaeta sp tersebut. Berdasarkan analis proksimat yang dilakukan peneliti LIPI, Joko Pamungkas beberapa tahun lalu mengatakan cacing laut kaya Protein, Lemak, Fosfor, Magnesium, Kalium, dan klorida. Keutamaan Nyale lainnya dalam penelitian itu disebut juga dapat berfungsi sebagai antibiotik.

Kesembilan, Nyale pun dipercaya masyarakat Sasak berkhasiat menambah awet muda dan tambah cantik bagi wanita dan menambah gagah buat pria.

Bukan cuma itu, Nyale juga diyakini bisa meningkatkan vitalitas pria. Hasil hipotesis menyatakan makan Nyale maka libido atau tingkat seksualnya meningkat. Karena itu para bapak juga suka menyantap nyale, berharap jadi lebih ‘perkasa’.

Kesepuluh, Nyale bisa dimakan setelah diolah dengan cara digoreng Nyale Goreng seperti mie goreng dan dijadikan Pepes Nyale ditambah Sambel Cobek. Namun mayarakat setempat lebih sering menolah Nyale menjadi masakan Daun Nyale Kelak Santan. Kelak itu artinya masak.

Ada juga yang dikeringkan kemudian digunakan sebagai penyedap masakan. Tak sedikit pula yang memanfaatkan Nyale sebagai obat. Ada juga yang berani makan mentah (tanpa diolah) hanya ditaburi garam.

Kesebelas, masyarakat setempat juga percaya semakin banyak nyale didapat saat acara Bau Nyale, berarti menandakan hasil panen padi, jagung, dan sebagainya tahun ini bakal melimpah.

Nyale juga dipercaya warga dapat menyuburkan lahan pertanian. Biasanya Nyale hasil tangkapan warga, sebagian juga ditaburkan di sawah-sawah sebagai pupuk atau syarat agar panennya nanti banyak.

Keduabelas, Tradisi Bau Nyale tak bisa dipungkiri menambah daya tarik wisata budaya buat KEK Mandalika selain wisata bahari, wisata halal, dan wisata olahraga karena kabarnya di Mandalika akan dibangun Sirkuit F1.

Ketigabelas, tradisi ini sudah lama berhasil menjaring ribuan wisatawan baik lokal, domestik maupun mancanegara.

Keempatbelas, Tradisi Bau Nyale yang dilaksanakan Pemkab Loteng, tahun ini pun kembali mendapat dukungan baik dari Pemerintah Provinsi NTB maupun dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Kemenpar, melalui Bidang Promosi Budaya, Asisten Deputi Seqmen Pasar Personal, Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara. Nama event-nya pun diberi tambahan menjadi Festival Pesona Bau Nyale.

Kelimabelas, Festival Bau Nyale 2017 yang bertema “Heritage of Mandalika” ini sebenarnya sudah berlangsung sejak tanggal 10 Februari dan puncaknya17 Februari.

Sejumlah acara dan lomba meramaikan festival ini antara lain lomba Fotografi (12-17/2), Volly Pantai (12-15/2), Peresean (12-13/2), Surfing (13/2), Festival Cilokaq (14-15/2), Betandak atau Bekayak, Napak Tilas Bau Nyale, Parade Budaya Pesona Bau Nyale, dan Pemilihan Putri Mandalika (16/2) serta Kampung Kuliner (16-17/2).

Selain itu ada suguhan seni budaya khas Lombok seperti Gamelan, drama kolosal yang menceritakan sosok Putri Mandalika, dan pertunjukan Wayang Kulit Sasak.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji, rico & rani

Read more...

Senin, 13 Februari 2017

Membungkus Harmonisasi NKRI Lewat Film Moon Cake Story

Film yang bagus bukan hanya sebatas menghibur, menyentuh sisi kemanusian, berisi rangkaian visual sederhana namun bernilai artistik dan estetika yang menggugah. Pun mampu menyampaikan beragam pesan moral positif dalam penurutan cerita tak biasa bagi penikmatnya.

Berdasarkan definisi versi penulis itulah, Travelplus Indonesia menilai film berjudul Moon Cake Story merupakan salah satu dari sekian film baru Indonesia yang tengah dan segera tayang, yang berpredikat BAGUS dan PATUT ditonton.

Penilaian itu hadir usai menontont preview dan mengikuti jumpa pers Film Moon Cake Story dengan penuh seksama di Plaza Indonesia XXI Lantai 6, Jakarta, Senin (13/2) siang.

Hasilnya? Film terbaru garapan sutradara andal Indonesia yang sudah berprestasi internasional Garin Nugroho ini memang pantas untuk ditonton karena memenuhi unsur-unsur sebagai film yang bagus tersebut di atas.

Unsur menghiburnya jelas ada. Lihat saja bagaimana adegan nyanyian dan tarian slow motion sang Badut yang diperankan Kang Saswi dan beberapa temannya dalam film itu yang ber-setting lokasi perkampungan kumuh di Jakarta.

Belum lagi adegan dan dialeg kocak yang disuguhkan Pak RT setempat yang diperankan aktor kawakan Jaja Miharja yang mewakili orang Betawi, warga asli Jakarta.

Unsur menyentuhnya jelas mendominasi, bahkan sudah dimunculkan sejak awal film ini. Lihat saja ketika pemeran utama wanita di film ini Bunga Citra Lestari (BCL) sebagai Asih, janda muda nan cantik beranak satu sedang meratap dan menangis di hadapan makam suaminya sambil menggendong Bimo, anaknya yang masih balita.

Dramatisasi adegan Asih yang berpayung hitam ditengah guyuran hujan deras di makam suaminya itu sudah menyentuh sedari awal.

Masih banyak lagi adegan menyentuh yang ditawarkan Garin di film produksi Tahir Foundation dan MVP Puctures ini hingga terasa sekali film ini begitu kuat mengangkat permasalahan sosial di negeri ini, khususnya di Jakarta.

Contohnya, adegan ketika Asih yang terpaksa menjadi Joki 3 in 1 di jalanan Ibukota yang padat untuk menghidupkan anak dan adik perempuannya bernama Sekar (diperankan Melati Zein) sedang apes sampai dikejar-kejar Saspol PP. Namun kejadian itulah yang membuat Asih dan David (pemeran utama pria film ini, yang diperankan Morgan Oey- eks anggota boyband Smash) bertemu dan saling menatap untuk kali pertama.

Juga adegan ketika David yang takut dengan kematian karena menderita penyakit Alzheimer saat dia curhat dengan Alin, kakak perempuan David tapi bukan kakak kandung yang agak protektif (diperankan Dominique Yose).

Unsur yang mengandung pesan positif di film ini juga cukup banyak. Paling terasa, lewat film ini Garin terlihat ingin menyuguhkan harmonisasi kehidupan berbangsa dan bernegara dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang disadari atau tidak, disukai atau tidak memang tengah terganggu/tercabik belakangan ini terutama di Jakarta, jelang Pemilihan Kepala Daerah/Gubernur DKI Jakarta untuk periode yang baru.

Lihat saja mulai dari pemain, lakon, dan setting film ini menyiratkan sekali pesan itu. Beberapa pemainnya adalah keturuan Thionghoa, di samping Morgan dan Dominique. Selain itu ada orang Jawa yang diwakili Asih, Bimo, dan juga Pak Tri (supir David yang diperankan aktor senior Dedy Sutomo), orang Betawi (Jaja Miharja), orang Sunda (Kang Saswi), orang Ambon, dan orang Batak si Butet sebagai pedagang pakaian bekas.

Setting-nya juga di Jakarta (perkampungan kumuh di pinggir rel kereta api, rumah mewah di kawasan elit, dan gedung perkantoran pencakar langit juga di Jakarta). Semua itu memperkuat bahwa realitanya memang terjadi di kota megapolitan ini.

Pesan positif lainnya, film ini juga ingin memberitahukan apa itu penyakit Alzheimer dan bagaimana menanggulanginya.

Unsur artistik visualnya yang menjadi ciri khas film-film Garin pun tetap ada. Kendati yang ditawarkan bukan estetika keindahan alam, budaya dan lainnya melain visual ber-setting perkampungan kumuh. Tapi justru membuahkan unsur artistik yang berbeda.

Namun harus diakui, film Garin satu ini tidak terlalu banyak mengumbar cerita dalam bahasa gambar mengingat Garin sepertinya lebih menonjolkan unsu pesan sosial film ini. Tapi tetap saja pendekatan puitis alih-alih pendekatan prosaik yang menjadi karakter kuat film-film Garin selama ini, masih terlihat di film ini.

Pesona lain film ini, juga nampak dari sederet ucapan bermuatan pesan moral. Salah satunya kalimat berikut ini: “Semakin banyak memberi akan semakin banyak menerima,” yang menginspirasi.

Entah kenapa mendengar kalimat itu Travelplus Indonesia jadi teringat tausyiah yang kerap disampaikan ustad kondang berdarah Betawi, Yusuf Mansyur lewat akun Instagram-nya yang intinya menyarankan Umat Muslim untuk tidak ragu-ragu beramal dan bersedekah dengan niat tulus dan ikhlas Lillahi Ta’ala (semata karena Allah SWT).

Pesan positif membudayakan ‘budaya memberi’, dimana orang yang miskin dengan segala kesulitan hidupnya tetap berjuang dengan cara terhormat dan tidak putus asa sebagaimana ditunjukkan Asih, begitu menginspirasi lewat film ini.

Begitupun dengan prilaku orang kaya (David) yang senantiasa memaknai berbagai musibah yang dialaminya dengan bersyukur lewat cara ‘memberi’ dan ‘berbagi’ kepada sesama manusia yang hidupnya kurang beruntung tanpa mempersalahkan SARA (suku, agama, rasa, dan antar golongan).

Kelebihan lainnya, penurutan cerita film ini pun tidak biasa. Meskipun tidak linear namun masih bisa dengan mudah dinikmati dan dimengerti.

Uniknya film yang diawali dengan adegan Asih dan Bimo balita tengah meratap sedih sambil menangis di makam suaminya, pun diakhiri dengan adegan dan lokasi serupa namun dalam suasana berbeda.

Di ending film ini, Asih memang menangis. Tapi itu tangisan haru dan bahagia karena ia sudah berhasil membuka usaha kue bulan (moon cake) hasil bantuan David sampai perekonomiannya berangsur jadi lebih baik hingga ia mampu membagi-bagikan kue bulan ke para tetangganya dan membelikan meja makan/belajar buat Bimo.

Berdasarkan pemenuhan unsur-unsur sebagai sebuah film yang memberi tontotan bagus sekaligus tuntutan kepada penontonnya, wajar rasanya kalau film Moon Cake Story yang akan tayang di sejumlah bioskop di Tanah Air mulai 23 Maret 2017, layak ditonton.

Bravo, bertambah lagi film berkualitas Indonesia.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Minggu, 12 Februari 2017

Mau semua Even Dukungan Kemenpar Sukses? ingin Capai Target Wisnus-Wisman? Begini Caranya

Selama ini, even di sejumlah provinsi di Tanah Air yang didukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) baik itu even budaya, wisata olahraga, bahari, kuliner, MICE, dan lainnya, banyak yang sudah ada lebih dulu atau sudah punya nama sebelum mendapat dukungan.

Dukungan yang diberikan Kemenpar bisa jadi untuk lebih menggaungkan even-even tersebut lewat promosi dan publikasi. Jadi bukan sekadar ‘mendopleng’ even yang sudah besar tersebut agar Pesona Indonesia maupun Wonderful Indonesia berkibar dan terangkat namanya sebagaimana kabar miring yang terdengar.

Sayangnya bentuk publikasi dan promosi yang diberikan Kemenpar, kurang melibatkan secara langsung para jurnalis/travel blogger profesional.  

Jurnalis/travel blogger yang bagaimana? Tentunya yang selama ini fokus meliput/menulis bidang kebudayaan dan kepariwisatan secara keseluruhan (baik itu budaya, destinasi/beragam objek wisata, promosi even, MICE (seminar/konferensi/pameran/workshop), pelatihan/pendidikan kualitas SDM pariwisata, penelitian pariwisata, kegiatan Sapta Pesona, industri wisata, pontensi wisata, dll), dan rajin menyebarluaskan tulisan-tulisannya itu ke beragam media sosial (medsos) seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan lainnya serta kesejumlah WhatsApp Group (WAG) terkait.

Padahal keterlibatan para jurnalis/travel blogger yang kreatif, loyal, dan berjiwa marketing tersebut secara langsung di even-even dukungan Kemenpar itu, amat penting.

Kenapa? karena mereka bisa menulis dari berbagai sudut sehingga lebih komprehensif, lebih banyak, dan jauh lebih variatif dibanding hanya mendapat kiriman pers release lalu di-copy paste atau ‘diacak-acak’ sedikit oleh jurnalis-jurnalis lain (apalagi kalau jurnalis itu tidak biasa meliput atau menulis pariwisata), sehingga tulisan/berita tentang even tersebut yang tayang/terbit, nyaris seragam/monoton/datar.

Keterlibatan langsung para jurnalis/travel blogger terpilih itu pun amat berguna, karena mereka juga dapat memberi input/masukan/saran positif/kritik membangun terhadap pelaksanaan even tersebut agar lebih menarik dan spektakuler lagi kemasannya.

Jadi kalau ingin even-even dukungan Kemenpar tersebut lebih bergaung dengan tulisan komprehensif, kreatif, dan variatif (tak melulu tentang even itu saja), baik pra, on maupun post event, sudah sepatutnya Kemenpar yang ingin mewujudkan target 15 juta wisman dan 265 juta pergerakan wisnus tahun ini, harus melibatkan/mengutamakan jurnalis/travel blogger seperti tersebut di atas secara langsung.

Sudah saatnya Kemenpar tidak sebatas kirim pers release terkesan lebay ke sejumlah jurnalis, lalu menggangap urusan promosi dan publikasi even itu sudah cukup dan selesai.

Sudah waktunya pula Kemenpar tidak sekadar melaporkan/mengirimkan foto-foto rangkaian even yang didukungnya, termasuk foto-foto yang memuat spanduk/umbul-umbul/backdrop/standing banner atau sejumlah orang mengenakan kaos dan topi bertuliskan Pesona Indonesia ataupun Wonderful Indonesia hasil jepretan staf-staf deputi terkait ke atasannya (kabid, asdep, deputi sampai menterinya) termasuk ke jurnalis/travel blogger, kemudian mengklaim bahwa ribuan pengunjung sudah datang ke even tersebut tanpa  sumber dan angka yang pasti.

Rasanya cara-cara lama yang cenderung subyektif, kurang efektif, dan tidak maksimal itu harus di-upgrade/diperbaharui/diperbaiki jika Kemenpar mau even-even yang didukungnya lebih bergema, berkelas, berdaya jual, dan sukses menjaring pengunjung, hingga bermuara pada pencapaian jumlah kunjungan wisnus dan wisman yang ditargetkan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya.

Salam Pesona Indonesia, Bravo Wonderful Indonesia!

Naskah & foto: adji kurniawan_pemerhati/penulis/jurnalis/travel blogger (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

Beri komentar

Name :
Web URL :
Message :

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP