. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label alam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 September 2010

Melintasi Tujuh Puncak Merbabu



Dunia boleh bangga punya 7 (tujuh) puncak gunung tertinggi. Tapi Indonesia pun boleh bangga punya satu gunung berpuncak 7 yakni Gunung Merbabu di Jawa Tengah yang menantang untuk didaki.

Mendaki Gunung Merbabu kurang sempurna bila tidak menggapai ketujuh puncaknya. Begitu yang kerap terdengar dari pembicaran sejumlah pendaki. Karena itulah abanyak pendakai yang melakukan hal serupa, termasuki 19 pendaki dari Jakarta yang belum lama ini berhasil melintasi ketujuh puncaknya dari Dusun Thekelan lalu turun ke Dusun Gentis.

Dari Base Camp KOMPPAS (Komunitas Peduli Putra Syarief) di Thekelan, rombongan berangkat sore. Lepas Magrib, rombongan tiba di Pos I atau Pos Pending sekitar 1,5 jam berjalan.

Sejumlah peserta yang membawa beban berat nampak susah payah, maklum fisik belum beradaptasi. Bahkan ada yang nafasnya sesak, dan memohon untuk memasang tenda di pos tersebut untuk istirahat dan bermalam. Padahal sesuai rencana, di Pos I cuma istirahat sejenak lalu mengambil air untuk persedian minum dan masak. Nge-camp-nya di Pos II. Namun kondisi berkata lain, terpaksa memasang tenda, lalu masak, dan bermalam di Pos I.

Pagi, usai sarapan, rombongan berangkat ke Pos II. Melewati sungai kecil yang biasa disebut Kali Sowo. Terus melewati punggungan yang kanan dan kirinya dikelillingi deretan tebing berwarna putih. Itulah tebing yang oleh penduduk setempat dinamakan Pereng Putih. Istirahat sejenak di Pos II Pereng Putih yang juga disebut Pos Seng, karena berupa gubuk kecil yang dinding serta atapnya menggunakan bahan seng.

Dari Pos II menuju Pos III atau Gumuk Menthul sekitar 30 menit. Jalurnya tidak terlalu curam. Keluar dari hutan pos Gumuk Methul, jalur di depan menanjak berkemiringan hampir 30 derajat. Di atas tanjakan ada dataran sedikit lapang. Itulah Pos IV atau pos terakhir.

Dari pos itulah, rombongan harus melewati jalur terberat di Thekelan, sebelum mencapai Puncak I Merbabu, yang punya nama lain Watu Gubung. Beberapa rekan mencatat ketinggian Puncak I per 29 Mei 2010 dan hasilnya tercatat 2.732 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tidak ada perubahan ketinggian.

Dari Puncak I, dilanjutkan ke Puncak II atau Watu Tulis atau juga Pemancar. Disebut pemancar karena di puncak ini terpancang menara pemancar. Pukul 13.00, peserta terdepan tiba di Puncak II dan berhasil mencatat ketinggiannya 2.917 mdpl. Di dekat batu, bebrerpa rekan masak untuk makan siang sambil menunggu rekan lain yang masih berjuang di bawah. Cukup lama beristirahat karena hujan. Untunglah setelah itu udara cerah. Sunset hadir begitu indah, menghapus letih pendakian tadi.

Beberapa rekan lain langsung menuju Heliped, mendirikan tenda untuk bermalam. Paginya, usai sarapan, dilanjutkan ke Puncak III atau Geger Sapi karena lokasinya mirip punggung sapi. Ketinggian yang terdata per 30 Mei 2010 adalah 3.001 mdpl. Dan yang menarik setelah tiba di Puncak IV atau lebih dikenal dengan Puncak Syarief, semula ketinggiannya 3.119 mdpl menjadi 3.132 mdpl. Jadi ada kenaikan 13 meter.

Ketika berada di Puncak V atau Ondorante terdata 3.112 mdpl. Sewaktu menuruni puncak ini perlu kewaspadaan tinggi, karena berupa gigir tebing dengan kiri-kanan jurang. Disarankan tidak membawa barang atau ransel saat menuruni puncak ini.

Rombongan terus menuju Puncak VI atau Kentheng Songo (semilam kentheng). Di puncak itu ada 5 kentheng atau lubang batu yang seolah dipahat membentuk luang berisi air, 1 di padang rumput dan 3 lagi di kawasan bumi perkemahan Desa Ketuk Pakis. Ketinggian puncak ini terdata sama dengan ketinggian Puncak Syarief.

Tepat pukul 12.30 WIB, peserta terdepan tiba di Puncak VII atau Triangulasi yang menjadi puncak utama Merbabu dengan tanda triagulasi bertuliskan 3.142 mdpl. Namun setelah diukur ulang, ketinggiannya 3.158 mdpl. Dengan begitu ada kenaikan 16 meter akibat pergeseran tektonik gempa Jogja dan letusan Merapi setahun lalu.

Pencatatan ketinggian terbaru ketujuh puncak Merbabu ini menggunakan 3 alat pencatat ketinggian digital Garmint GPS map 76, Garmint Vista CX, dan Garmint 60.

Di Puncak Utama, beberapa rekan yang tiba lebih awal mengambil inisiatif memasak sambil menunggu peserta lain yang terlihat sedang mengabadikan gambar di Puncak VI. Usai makan siang, seluruh peserta membuat dokumentasi bersama di Puncak Utama.

Pukul 3 sore, seluruh peserta turun puncak melewati padang rumput (savana). Dan seperti dugaan sebelumnya, savana itu berhasil menghipnotis beberapa rekan hingga lupa waktu, lantaran keasyikan berlama-lama mengambil gambar. Untunglah kelompok peserta terakhir berhasil tiba di Dusun Genting, Selo, meski tengah malam.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Pesona Sunset & Savana Merbabu



Selain 7 (tujuh) puncak-nya, pesona matahari tengge-lam (sunset) dan padang rumputnya (savana) menjadi alasan lain mengapa banyak penggiat alam bebas yang mau mendaki Gunung Merbabu di Jawa Tengah.

Titik terbaik untuk mengabadikan sunset Merbabunya dari ketujuh puncaknya, terutama dari Puncak Utama dan Puncak III. Dari Puncak III yang ditancapi menara pemancar ini, pesona sunset-nya begitu memukau. Warna langit yang muncul sebelum sunset, abu-abu kebiruan dengan aksesori alam berupa gerombolan gumpalan awan putih beragam bentuk yang berarak pelan.

Lambat laut warna langit dan awannya pun berubah. Semakin mendekati mentari tenggelam, warna kuning keemasan begitu mendominasi. Lalu langit memerah dan awan pun berubah menipis kehitaman. Yang lebih menarik lagi ada dua gunung yang berdiri anggun berdampingan yakni Sundoro dan Sumbing. Keduanya menjadi ornammen pemanis sunset Merbabu.

Ketika setengah bulatan matahari senja masuk ke garis batas cakrawala, itulah moment yang paling sempurna untuk mengabadikan sunset Merbabu. Itu pula yang membuat banyak orang terhipnotis pesonanya hingga lupa waktu. Ada yang keasyikan memotret atau merekam fenomena alam yang fantastik itu lewat kamera digital maupun handycam. Ada pula yang terlena berlama-lama mengabadikan diri berlatarbelakang langit memerah hingga tak terasa gelap karena sudah berganti malam.

Savana-nya juga mudah ditemui di beberapa titik, terutama di lembah dan punggungan setelah menuruni puncak utama Merbabu yang ditandai dengan triangulasi. Atau sebelum menuju puncak utama bila pendakian dari Dusun Genting, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, karenanya banyak yang bilang Savana Selo.

Savana Merbabu punya keeksotisan tersendiri. Rumputnya tumbuh di areal cukup luas, mencakup lembah, lereng, dan punggungnya bak hamparan permadani alami raksasa bila dilihat dari kejahuan. Bila dilihat dari dekat, savana-nya berupa padang rumput yang luas, dengan beberapa pohon edelweiss yang tumbuh secara berkelompok maupun menyendiri.

Waktu yang tepat untuk mengabadikan savana Merbabu, saat musim panas. Ketika itu, warna savana-nya hijau muda bercampur kuning keabu-abuan. Pesonanya begitu menggoda dan mampu menerbitkan rasa kagum siapapun.

Sampai kini, 7 puncak, sunset, dan savana Merbabu masih menjadi daya pikat utama orang datang mendaki. Peminatnya bukan cuma pendaki dari berbagai kota dan daerah di Indonesia tapi juga mancanegara seperti Swiss, Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa.

Untuk dapat menikmati sunset dan savana Merbabu, tak ada pilihan lain selain mendaki gunung yang sudah berstatus Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) sejak 2004 lalu.
TNGM seluas 5.725 Ha ini berada di 3 Kabupaten yakni, Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Selain sunset dan savana Merbabu, TNGM ini menyimpan sejumlah flora antara lain pinus, puspa, bintamin, akasia decuren, dan beberapa jenis perdu, adas, eldeweis serta tanaman efifit.

Hutannya menjadi rumah bagi sejumlah fauna seperti kera ekor panjang, lutung hitam, kijang, musang, macan tutul, landak, luwak, dan beberapa jenis burung seperti elang hitam, kutilang, pentet, sepah gunung, dan puter.

Gunung Merbabu berasal dari kata “meru” yang berarti gunung dan “babu” yang berarti wanita. Kendati memiliki 5 buah kawah yakni Kawah Condrodimuko, Kombang, Kendang, Rebab, dan Kawah Sambernyowo, namun gunung ini dikenal sebagai gunung tidur karena jarang sekali meletus.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Empat Jalur Pendakian Merbabu


Jalur pendakian ke puncak-puncak Gunung Merbabu, Jawa Tengah ada banyak. Namun yang biasa digunakan para pendaki ada 4 jalur yakni Wekas, Chuntel, Gentis, dan Thekelan.

Jalur Wekas sangat populer dikalangan pendaki Kabupaten dan Kota Magelang. Selain lebih dekat juga banyak terdapat sumber air. Lokasi bermalamnya di Pos II. Wekas merupakan desa terakhir menuju puncak yang memakan waktu kira-kira 6-7 jam.

Desa Wekas dapat dicapai dengan naik mobil Jurusan Kopeng - Magelang turun di Kaponan sekitar 9 Km dari Kopeng, tepatnya di depan gapura Desa Wekas. Dari Kaponan dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalanan berbatu sejauh sekitar 3 Km menuju pos pendakian atau sewa mobil bak sayur.

Jalur Chuntel dapat ditempuh dari Kota Salatiga dengan mini bus jurusan Salatiga-Magelang turun di areal Wisata Kopeng, tepatnya di Bumi Perkemahan Umbul Songo. Lalu berjalan kaki menyusuri setapak berbatu sekitar 2,5 Km ke Umbul Songo. Berjalan terus mengikuti jalan berbatu hingga ujung. Banyak tanda penunjuk arah baik di sekitar desa maupun di jalur pendakian. Di Basecamp Desa Chuntel pendaki dapat beristirahat dan mengisi persediaan air. Pendaki juga dapat membeli berbagai barang-barang kenangan berupa stiker maupun kaos.

Jalur Selo dapat dicapai dari Kota Boyolali dengan bus kecil jurusan Selo. Bus yang langsung ke Selo agak jarang biasanya hanya sampai Pasar Cepogo, dan dari pasar Cepogo ganti lagi bus kecil yang menuju Selo. Dari kota Boyolali bus kecil yang menuju Selo ini tidak parkir di Terminal Boyolali. Pendaki harus sedikit berjalan kaki ke Pasar Sapi tempat bus kecil jurusan Cepogo/Selo berhenti mencari penumpang.

Sedangkan jalur dari Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Ketasan, Kabupaten Semarang sangat popular di kalangan pendaki di Kabupaten dan Kota Semarang. Untuk mencapai dusun tersebut bisa dari Yogyakarta naik bus ke Magelang Rp 7.000 per orang. Dilanjutkan naik bus dari Magelang jurusan Salatiga turun di perempatan setelah Kopeng, ongkosnya Rp 4.000 per orang. Kemudian naik ojek sepeda motor ke Dusun Thekelan, Rp 8.000 per orang. Bus dari Jogja ke Magelang beroperasi sampai pukul 8 malam. Sedangkan bus dari Magelang-Salatiga sampai tengah malam.

Di Dusun Thekelan, pendaki diwajibkan melopor dan membayar tiket masuk Rp 3.500 per orang di pos atau rumah penduduk yang dijadikan base-camp oleh pendaki. Bila pendakian memerlukan tenaga porter ataupun pemandu, dapat meminta bantuan Komunitas Peduli Puncak Syarief (Komppas), sebuah kelompok pecinta alam setempat yang dinakodai Tiphuk, Kasiman, dan Kodhek. Tarif porter Rp 150.000 per porter per hari. Logistik porter ditanggung pendaki.

Ada aturan tak tertulis yang patut diindahkan pendaki. Menurut Tiphuk, sebaiknya saat mendaki Merbabu tidak mengenakan pakaian berwarna hijau dan biru Polos. Alasannya, beberapa pendaki yang mengalami kecelakaan dan tewas di gunung ini ditemukan selalu mengenakan kaos berwarna tersebut. Pantangan lainnya, pendaki dilarang mengeluh dan berbuat mesum selama pendakian.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Obyek Wisata Sekitar Merbabu


Selepas mendaki, jangan pulang dulu. Anda bisa melanjutkan ke obyek-obyek wisata yang ada di sekitar Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM).

Banyak obyek wisata yang bisa Anda pilih. Anda bisa ke obyek wisata Kopeng di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang sekitar 14 Km dari Kota Salatiga atau 27 Km dari Magelang. Obyek yang dapat dilihat antara lain wanawisata pegunungan, mata air umbul songo, bumi perkemahan, dan jalur pendakian Gunung Merbabu.

Ketep Pass di Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, sekitar 17 Km dari Kecamatan Blabak, 30 Km dari Kota Magelang, 35 Km dari Kota Boyolali, atau 32 Km dari Kota Salatiga. Obyek yang dilihat pemandangan alam Merbabu dan Merapi, pusat informasi tentang gunung berapi dengan didukung sarana museum vulkano, volcano theatre, restoran, pelataran panca arga, dan gardu pandang.

Selo Pass di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali sekitar 20 Km dari Kota Boyolali atau 14 Km dari obyek wisata Ketep Pass. Obyek yang dilihat pemandangan Merbabu dan Merapi dengan fasilitas Joglo Mandala, kios souvenir, volcano theatre, gardu pandang New-Selo, tempat bermain anak, bungalow, dan home stay. Di Kecamatan ini juga ada Goa Raja dan Goa Jepang.

Air Terjun Kedung Kayang di Desa Wonolelo, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang sekitar 4 Km dari Ketep atau 10 Km dari Selo, terletak di jalur Ketep Pass-Selo Pass. Obyek yang dilihat berupa air terjun setinggi sekitar 12 meter dengan fasilitas shelter dan tempat parkir.

Selain obyek alam, Anda pundapat melihat budaya masyarakat yang menetap di sekitar Gunung Merbabu antara lain tradisi memotong rambut gimbal (ruwatan) di Dusun Thekelan, kesenian ketoprak, campur sari, kuda lumping, tari soreng, turonggo seto, jatilan, budi tani, dan tari jelantur.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 07 September 2010

Lampung Bukan Cuma Gajah


Selama ini banyak orang mengidentikkan wisata Lampung itu melulu Gajah. Pasalnya memang ada sekolah Gajah di Way Kambas yang hingga kini masih beroperasi dan berhasil melambungkan pariwisata Lampung ke dunia luar. Padahal provinsi di ujung bawah Pulau Sumatera atau di seberang Banten ini punya banyak potensi wisata lain yang menarik dan menantang. Apa saja?

Kalau Anda suka berwisata bahari, provinsi ini memiliki beberapa pantai eksotis dan pulau-pulau yang menarik untuk dinikmati bersama keluarga, kerabat, dan orang terdekat. Misalnya Pantai Pasir Putih yang berada 15 Km dari Bandar Lampung, Ibukota Lampung ke arah Selatan. Pantainya landai berpasir, dilengkapi bermacam permainan anak.

Belum puas coba ke lebih ke Selatan lagi, tambah 30 km lagi. Di sana ada Resort Krakatoa yang berpantai bersih dilengkapi dengan penginapan memadai dan fasilitas water sports. Resort yang dikelola Grup Bakrie ini bersampingan dengan Pantai Merak Belantung.

Bila suka dengan panorama danau, datang saja ke Lampung Timur. Di sana ada sejumlah danau berair jernih, asyik untuk memancing dan naik perahu seperti Danau Kemuning di Desa Srimenanti, Kecamatan Bandar Sribhawono sekitar 60 Km dari Bandar Lampung dan Danau Beringin di Kecamatan Sukadana.

Mau yang lebih besar lagi, teruskan saja ke Danau Ranau. Danau terbesar kedua di Sumatera setelah Danau Toba ini berada di perbatasan Kabupaten Lampung Barat, Lampung dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Provinsi Sumatera Selatan. Di tengah danau yang dihuni ikan mujair, harongan, kepor, dan ikan kepiat ini, ada pulau bernama Pulau Marisa yang memiliki sumber air panas, air terjun, dan fasilitas penginapan.

Mau mendaki, provinsi ini punya gunung yang turut mensohorkan Lampung sejak dulu. Apa lagi kalau bukan Gunung Krakatau yang kini cucunya semakin membesar yakni Gunung Rakata. Keistimewaan mendaki gunung ini, pendaki benar-benar mendaki dari nol meter di atas permukaan laut (mdpl) atau mulai dari pantai. Yang menarik lagi, pertumbuhan gunung ini termasuk cepat sehingga semakin tinggi. Masih ada gunung lain yang meski tidak populer tapi menarikuntuk didaki seperti Gunung Tanggamus.

Bagi yang hobi snorkeling dan diving, perairan di sekitar bekas Gunung Krakatau juga berpanorama bawah laut khas. Anda bisa melihat bekas lelehan lahar yang mengeras di dasar laut membentuk bebatuan karang beragam bentuk. Gunung Krakatau dapai Anda jangkau dari Canti, Kalianda dengan speedboat atau perahu nelayan.

Mau berwisata konservasi? Jelajahi saja Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Anda bisa menyusuri pantai dari Tampang ke Belimbing sepanjang sekitar 23 Km selama 2 hari 2 malam. Di Belimbing terdapat mercusuar buatan Belanda. Pulangnya bisa lewat jalu hutan, menginap di tengah hutan, menyeberangi sungai, dan singgah di pemukiman transmigran.

Kalau belum puas teruskan ke Taman Nasional Way Kambas (TNWK) yang telah mengharumkan nama Lampung ke dunia luar. TNWK berada 112 km arah timur laut Bandarlampung. Di kawasan konservasi ini Anda bisa melihat lokasi Pusat Latihan Gajah (PLG) di habitatnya berikut menikmati atraksi gajah-gajah terlatih. Anda bisa melihat gajah-gajah dimandikan oleh pelatihnya.

Mumpung Anda ke sini, sempatkan mampir ke Taman Purbakala Pugung Raharjo, sebuah situs arkeologi peninggalan Hindu, Budha, dan Islam berupa punden berundak, batu mayat, benteng, dolmen, arca dan lainnya. Lokasinya di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur.

Kain Tapis & Kripik Pisang
Mau berwisata kuliner dan membeli penganan khasnya buat oleh-oleh, datang saja ke Bandar Lampung. Di Ibukota Lampung yang merupakan penyatuan dua kota besar bertetangga, yakni Tanjungkarang sebagai kota pemerintahan dan Teluk Betung sebagai kota bisnis ini, Anda dapat memborong kripik pisang aneka rasa seperti coklat, keju, dan asin. Belum lagi tempoyak semacam dodol dari durian, empek-empek, dan krupuk kemplang Lampung.

Kerajinan tangannya pun sangat spesial yakni kain tapis dan segala macam variannya seperti dompet, tas, dan pernak-prnik dari kain tersebut. Banyak kolektor kain tradisional mengoleksi kain ini karena nilai jualnya semakin tua semakin tinggi.

Jadi potensi wisiata di Bumi Ruwa Jurai, yang terdiri dari masyarakat adat Sai Batin yang berdomisili di pesisir dengan masyarakat adat Sai Pepadun yang menetap di
pedalaman, bukan cuma gajah. Tapi juga pantai, konservasi, petualangan, dan situs bersejarah.

Untuk bermalam, tak perlu cemas. Di Bandar Lampung tersedia hotel berbintang hingga kelas melati. Kalau mau menikmati kehidupan malamnya, coba saja ke bagian Selatan Bandar Lampung yakni Teluk Betung.

Untuk menikmati semua itu, tidak begitu sulit. Bandar Lampung letaknya strategis di tengah jalur lintas Sumatera dan Jawa, dapat dijangkau dari udara maupun darat. Dari Jakarta berikut penyebrangan Selat Sunda sekitar 6 jam perjalanan. Kalau dengan pesawat udara, tentu jauh lebih cepat. Setiap hari ada penerbangan dari Bandar Lampung ke Jakarta dan sebaliknya.

Dari Bandar Lampung Anda bisa menyewa mobil rental atau membeli paket wisata setempat. Kalau ingin backpacking ada bisa menggunakan kendaraan umum. Kalau mau berpetualang, seperti mendaki gunung dan lainnya, Anda bisa mengajak komunitas atau organisasi pecinta alam setempat untuk membantu memandu Anda.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 22 Agustus 2010

Menyusuri Kerajaan Biawak



Melihat seekor biawak berjemur di atas batu di pinggir sungai itu biasa. Tapi kalau puluhan biawak berebut ikan di pantai, itu baru luar biasa. Itu mungkin cuma bisa Anda lihat di Pulau Biawak, Indramayu, Jawa Barat. Pasalnya, pulau tersebut jadi kerajaan ribuan biawak yang hidup bebas sejak ratusan tahun silam.

Pulau Biawak termasuk satu satu pulau yang ada di Kepulauan Rakit di perairan Indramayu, Jawa Barat. Dinamakan Pulau Biawak karena sekitar 1.000 ekor lebih biawak komodo (Varanus salvator) bermukim di sana sejak lama.

Pulau tak berpenduduk ini luasnya sekitar 120 Ha, terdiri atas 80 Ha ekosistem hutan bakau (mangrove) dan sisanya 40 Ha hutan. Floranya didominasi berbagai jenis bakau yang sudah langka dan mulai jarang dijumpai di pesisir Pantai Utara (Pantura).

Pulau ini pun memiliki padang lamun yang cukup luas, mencapai 1/3 pulau. Kebaradaan padang lamun ini sekaligus diduga menjadi tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan duyung (Dugong dugong).

Selain biawak sebagai satwa utama, di pulau ini Anda juga mudah menemui kelelawar dan beragam jenis burung air, di antaranya Trinil pantai (Bubulkus ibis) dan Burung udang biru (Alcedo caerulescens).

Kondisi hutannya, terutama mangrove yang relatif masih utuh dan terjaga, membuat jutaan burung yang migrasi setiap pergantian musim dari Benua Australia ke Asia atau sebaliknya, betah transit di pulau ini.

Pulau lain yang masih dalam gugusan Kepulauan Rakit, seperti Pulau Gosong dan Rakit Utara juga dijadikan sebagai terminal pemberhentian bagi jutaan burung itu setelah terbang sejauh ribuan kilometer. Burung-burung itu singgah sekitar 3 bulan.

Di Pulau Biawak, aneka burung itu bukan cuma bersarang di vegetasi hutan sisi timur yang kondisi tegakan hutannya relatif tinggi, tapi juga melakukan reproduksi, kawin, dan menetaskan telurnya.

Perairan pulau Biawak juga kaya aneka jenis ikan pangan dan hias. Bahkan berdasarkan penelitian, jenis ikannya lebih banyak daripada di Kepulauan Seribu, Jakarta. Beberapa di antaranya predator air yang terkenal seperti hiu martil dan ikan pari. Di beberapa bagian pantainya menjadi sarang bagi kepiting besar. Bentuk sarangnya unik dan besar, sepintas mirip dataran di planet lain.

Sayangnya, seperti di pulau-pulau lainnya, beberapa bagian pulau ini pun mengalami ancaman abrasi. Terutama di bagian pulau yang langsung berhadapan dengan laut lepas, hembusan angin, dan gempuran ombak.

Meskipun sejak tahun 1995 pulau ini sudah dijadikan sebagai daerah konservasi laut Kabupaten Indramayu, namun menurut pengamat lingkungan, jika abrasi tidak segera dicegah, dalam kurun waktu puluhan tahun ke depan, daratannya lambat laun kian tergerus bahkan mungkin bisa tenggelam.

Snorkeling & Birdwaching
Belum banyak orang yang tahu keberadaaan dan isi Pulau Biawak. Selama ini, pengunjung yang datang kebanyakan para nelayan di sekitar Pantura, pemancing, pegiat alam dan lingkungan dari Indramayu dan sekitarnya termasuk dari Jakarta. Para pemancing biasanya datang untuk menangkap aneka jenis ikan, sementara pegiat alam dan lingkungan melakukan observasi ataupun penelitian tentang keberadaan biawak, burung, dan lainnya.

Banyak aktivitas lain yang dapat anda lakukan di pulau ini. Misalnya berenang, snorkeling untuk menikmati taman laut yang dihuni beraneka ikan hias, memancing, berjemur atau sekadar santai di pasir putihnya.

Kalau Anda gemar fotografi, banyak objek menarik untuk diabadikan, mulai dari tingkah laku biawak, panorama alam, dan mercusuarnya. Di pulau ini memang terdapat mercusuar kuno peninggalan Belanda, bernama Willem III buatan abad XVII. Mercusuar setinggi 50 meter ini dibuat oleh Belanda pada tahun 1872. Dari puncak mercusuar, kita bisa melihat dan memotret seluruh bagian pulau.

Suka burung? Anda bisa mengamati burung (bird watching) dengan monokuler. Tak begitu sulit melihat rombongan burung dengan mata telanjang. Burung-burung itu biasanya melakukan migrasi harian ke pesisir pantai sekitar Indramayu untuk mencari makan pada siang hari dan kembali pada sore hari.

Anda pun dapat menikmati fenomena matahari tenggelam di balik lautan dari puncak mercusur. Malam harinya, dilanjutkan dengan api unggun sambil bakar ikan laut hasil tangkapan sendiri atau esok siangnya menikmati air kelapa muda yang di ambil dari pohon nyiur yang tumbuh di sekitar mess.

Seperti Komodo
Pulau Biawak memang kerajaannya biawak. Kadal besar ini tersebar di seluruh daratannya. Kalau Anda menyusuri pantainya, pasti bakal melihat beberapa biawak yang sedang mengintip dari balik rerimbunan bakau, berjemur di pantai atau di bawah kerindangan semak belukar. Bahkan ada yang sedang asyik berenang di aliran sungai dan padang lamun. Kalau Anda memasuki hutan, juga akan menemukan sarangnya. Ciri sarangnya mudah dikenali, berbentuk lubang di pasir atau tanah, kondisi sarangnya bersih dan ada tapak cakarnya yang membekas di pasir.

Bila malas menjelajahi pulau ini, ada trik khusus agar Anda bisa melihat dan memotretnya, yakni dengan memberi umpan ikan mentah atau sisa ikan bakar yang Anda santap. Semakin banyak umpan berupa ikan, bau amisnya akan semakin menarik perhatian biawak untuk keluar dari sarangnya lalu mendekat. Bisanya kalau sudah mengendus bau amis ikan, satu persatu mereka datang untuk menyantapnya. Ikan yang disantapnya ditelan utuh. Meskipun terlihat jinak, Anda harus waspada. Karena penjaga mercusuar setempat ternyata pernah digigit biawak. Menurutnya, gigitannya seperti terkena sayatan silet.

Perilaku biawak di pulau ini memang agak berbeda dibanding biawak yang ada di daerah lain. Mungkin karena terisolir dengan komunitas biawak dari habitat lainnya selama ribuan tahun dan beradaptasi dengan kondisi alam pulau ini. Bentuknya mirip sekali dengan komodo. Ukurannya paling kecil 80 cm dan terbesar mencapai 2 meter lebih, lebar badannya seukuran paha orang dewasa yang gemuk. Kulit di bagian bawah perutnya berwarna agak kekuning-kuningan oleh sebab itu disebut juga biawak kuning. Kuku-kukunya panjang dan ototnya kuat, mampu berdiri saat sesama jantan berkelahi.

Penciumannya sangat kuat tapi penglihatannya lemah. Oleh karena itu mereka kerap mencari makan pada siang hari dan kembali ke sarangnya saat senja. Mereka menyukai kawasan rawa-rawa, pinggir pantai, dan aliran sungai. Biawak air ini mampu menyelam dan berburu ikan di air. Meskipun termasuk hewan predator tapi tidak terlalu buas. Ia pemakan segala (omnivora), santapannya berupa serangga, telur burung, mamalia kecil, dan ikan.

Di pulau ini, biawak cepat sekali berkembangbiak. Ada masa dimana mereka kawin dan bertelur. Biasanya jantan dan betina dewasa mulai bercumbu pada bulan Maret dan April. Lalu kawin pada bulan Mei dan Juni. Pada bulan Juli-September betinanya bertelur di sarang kemudian mengeram selama 60 hari. Setiap betina menelurkan 20-40 butir. Namun tidak semuanya menetas, paling sekitar 20- 30 ekor yang berhasil menjadi bayi biawak karena disantap predator lain.

Keberadaan biawak di pulau ini agak terlindungi dengan adanya mitos yang melarang membunuh biawak di sana. Jika dilanggarm pembunuhnya akan ketiban celaka. Walaupun tidak diburu tapi tetap saja keberadaan biawak ini terancam, mengingat pengawasan di pulau ini belum maksimal.

Sementara permintaan akan biawak tak pernah sepi mengingat biawak punya nilai komoditas cukup tinggi. Dagingnya banyak disantap orang karena konon dipercaya sebagai obat kulit dan gatal-gatal. Kulitnya diambil untuk bahan baku tas, dompet, ikat pinggang atau ada yang diawetkan utuh untuk pajangan ruang tamu.

Buktinya, ada warung sederhana masih di kawasan Pantura yang dengan gamblang menuliskan menunya, ‘menyediakan sate binyawak’. Bisa jadi daging biawak yang dijual diwarung itu di antaranya dipasok dari negeri biawak. Mengenaskan.

Tips
Pulau Biawak merupakan salah satu wilayah Kabupaten Indramayu yang terletak dilepas pantai Laut Jawa, kurang lebih 40 km atau sekitar 26 mil di sebelah utara Indramayu. Cukup mudah menjangkaunya. Dari Jakarta dengan bus umum sekitar 4 jam ke Indramayu dan lebih kurang 5 jam lagi menyeberangi Laut Jawa dengan kapal kayu bermotor.

Pulau ini masih sebagai obyek wisata terbatas yang menjual keaslian alam. Oleh karena itu, belum banyak prasarana penunjang buat pengunjung umum. Dermaga yang permanen tidak ada. Dulu dermaga kayu pernah dibuat tapi hancur terhantam ombak. Ketika kami datang, tinggal sisa kayu-kayu penyangganya saja. Di sana juga belum tersedia penginapan. Biasanya rombongan pegiat alam dan lingkungan yang datang, membuka tenda di dekat kompleks mess panjaga mercusuar. Atau menginap di mess penjaga mercusuar kalau mereka datang dalam jumlah kecil.

Transportasi laut satu-satunya dengan menyewa kapal kayu motor milik penduduk nelayan pesisir Indramayu, seperti di Pantai Balongan dan di Muara Brondong, Desa Brondong. Harganya bisa dinegosiasi. Perjalanan lautnya cukup panjang dan berbahaya pada waktu-waktu tertentu. Menurut beberapa nelayan, sudah banyak gelombang laut dan karangnya menenggelamkan perahu nelayan yang kurang waspada. Oleh karena itu, kalau pergi dalam jumlah besar, sebaiknya membawa life jacket atau pelampung penyelamat sendiri dan minum obat anti mabok laut agar perjalanan lebih nyaman.

Sebelum berangkat, sebaiknya konsultasi dulu dengan pemilik kapal, apakah kondisi cuaca dan gelombang laut memungkinkan untuk ditempuh, termasuk kelayakan dan perlengkapan perahunya. Kalau ingin pulang dari Pulau Biawak ke Indramayu sebaiknya pada pagi hari atau sewaktu air laut masih pasang agar perahu bisa lebih mendekat ke pantai. Sebab kalau air surut, perahu akan bertabrakan dengan hamparan atol karang yang banyak terdapat di perairan pulau ini.

Kalau berencana tinggal beberapa hari, selain tenda, pengunjung harus membawa perlengkapan mandi, masak, makan, minum, dan obat-obatan sendiri, termasuk lotion anti nyamuk. Pulau ini tidak berpenduduk, tidak ada warung, rumah makan, dan fasilitas umum lain. Minumlah pil anti malaria seminggu sebelum berangkat dan sepulang dari pulau ini. Bawa pula perlengkapan memancing dan peralatan aktivitas lain untuk mengusir jenuh.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 03 Juli 2010

Memacu Adrenalin di Tebing dan Jeram Toraja


Toraja tersohor lantaran budaya khasnya, sebut saja rambu tuka’, rambu solo’, dan desa wisata dengan tongkonan-nya. Padahal, obyek alamnya pun menarik untuk dijelajahi. Ada deretan tebing batu cadas yang menantang dipanjat, jeram-jeram sungai yang seru diarungi, dan obyek petualangan lain yang bisa memacu adrenalin Anda.

Toraja, Sulawesi Selatan berada di dataran tinggi. Banyak perbukitan bertebing cadas yang bisa digunakan untuk memacu adrenalin dengan memanjat hingga puncaknya. Coba saja Anda panjati tebing di Gunung Tinoring, 8 Km dari Kota Makale atau 26 Km dari Rantepao, pasti dijamin mengasyikkan.

Lokasi panjat lainnya ada di Tebing Sarera, tingginya sekitar 125 meter. Berada di Desa Bua, Toraja. Dan tak jauh dari Toraja, ada Tebing Bambapuang yang sudah lebih dulu tersohor di kalangan pemanjat tebing. Lokasi tebing lomestone setinggi 350 meter ini berada di Dusun Kotu, Desa Bambapuang, Kecamatan Anggereje, Kabupaten Enrekang, Selatan Toraja. Lokasi tebing Bambapuang bersebelahan dengan Gunung Nona dan Sungai Saddang.

Kalau Anda mau berarung jeram (rafting), ada dua salu (sungai) yang memiliki jeram-jeram yang selalu bergemuruh, yakni Salu Mai'ting di Desa Dende'-Piongan, Kecamatan Rinding Allo yang berjarak kurang lebih 60 Km dari Rantepao. Lokasi rafting lainnya di beberapa bagian Salu Sa’adan.

Paket rafting umumnya termasuk transportasi ke dan dari lokasi arung jeram, makan siang, camilan, buah-buahan, pemandu, porter, dan biaya parkir di lokasi arung jeram. Harga paket yang ditawarkan antara lain Rp 250.000 per orang untuk paket perjalanan 1 hari di Salu Mai’ting. Sedangakan di Salu Sa’adan yang ber-grade IV dan V harga paketnya Rp 1.400.000 per orang selama 3 hari. Operator arung jeram dapat dihubungi di kantornya di Kota Rantepao seperti Toranggo Buya, anak perusahaan Sobek Expedition, dan Indosella, atau melalui beberapa hotel berbintang, agen perjalanan, dan biro wisata di Toraja.

Bila Anda ingin mencoba dua kegiatan alam bebas yang menantang di atas, sebaiknya membeli paket atau menghubungi operator, pencinta alam atau pemanjat setempat yang sudah memahami kondisi lokasi masing-masing untuk mendapatkan informasi sekaligus sebagai pemandu.

Mau treking ke beberapa lokasi indah atau bersepeda gunung (mountain biking) juga jadi pilihan yang tak kala seru. Anda bisa ke desa wisata Batutumonga yang berada di lereng Gunung Sesean, Kecamatan Sesean Suloara. Dari lokasi ini, kita dapat menikmati panorama yang memesona berupa hamparan teras-teras sawah, perbukitan, hutan dan juga keseluruhan Rantepao, ibukota Kabupaten Toraja Utara (Torut) dari kejauhan.

Obyek ini dilengkapi beberapa rumah dan sebuah wisma yang dapat dijadikan sebagai tempat persinggahan atau akomodasi untuk menginap. Waktu terbaik ke obyek ini saat masa panen sekitar bulan Maret dan April atau ketika padi baru ditanam pada sekitar akhir bulan Juli dan Agustus karena menghadirkan keindahan alam yang indah serta aktivitas para petani yang menarik.

Batutumonga terletak sekitar 24 km dari Rantepao dan dapat ditempuh dengan berbagai cara antara lain Bemo dari Terminal Bolu, Rantepao. Atau naik ojek sepeda motor atau treking selama kurang lebih 4 jam.

Ke Tilangnga, Kecamatan Makale Utara, sekitar 12 km dari Rantepao. Di sana Anda bisa berenang di sebuah kolam alami yang airnya bersumber dari mata air yang sejuk dikelilingi oleh hutan bambu. Di kola mini ada belut-belut besar namun tidak berbahaya. Obyek ini ramai dikunjungi wisatwan pada akhir pekan atau hari libur. Tilangnga dapat dicapai dengan nain angkutan umum dari Terminal Bolu, Rantepao - Makale, dilanjutkan dengan ojek atau berjalan kaki.

Juga ke Makula’ di Kecamatan Sangalla' Selatan, sekitar 27 km dari Rantepao. Di tempat ini ada sumber mata air panas yang dialirkan ke tiga buah kolam. Kita dapat berendam atau berenang di tiga kolam air hangat tersebut yang konon airnya dapat menyembuhkan berbagai penyakit seperti rematik. Di obyek ini dua ada akomodasi untuk menginap dan restoran kecil untuk kebutuhan makan minum.

Kalau suka beragrowisata, Anda bisa ke Perkebunan Kopi Arabika dan Robusta Toarco Jaya di daerah Pedamaran, Desa Bokin, Kecamatan Rantebua, sekitar 14 Km dari Rantepao.

Panduan
Toraja dapat dicapai via darat dari Makassar dengan membawa mobil sendiri, mengendari motor secara berkelompok, atau backpacking dengan naik bis umum dari Terminal Daya, Makassar. Bisa juga menyewa mobil rental dan biro perjalanan berikut sopirnya yang sudah berpengalaman memandu wisatawan ke Toraja. Tarifnya sewa mobil jenis kijang Rp 350.000 per 12 jam, belum termasuk makan dan minum sopir termasuk tipsnya. Waktu tempuhnya lebih cepat sekitar 6-7 jam.

Tersedia bis non AC 3/4 dengan kapasitas 25-30 orang, tarifnya berkisar Rp 100.000 per orang. Waktu tempuhnya sekitar 8-9 jam. Sedangkan bis executive kapasitas hingga 40 orang, TV/video, AC, dan sandaran/penyangga kaki, tarifnya lebih dari itu.

Via udara dari Bandara Hasanuddin Makassar ke Bandara Pongtiku, Tator dilayani oleh maskapai Dirgantara Air Service (DAS) yang mengoperasikan pesawat jenis Casa 212 dengan kapasitas 24 orang.

Ada beberapa pilihan akomodasi di Toraja. Ada Sahid Toraja Hotel, Toraja Heritage, Toraja Prince, Hotel Indra I, Hotal Indra II, Wisma Bungin, dan Penginapan Makale. Hotel Indra I berada di Jl. Landorundun No 63 Rantepao, Torut. Tarif kamarnya mulai dari Rp 180.000 sudah termasuk sarapan. Di kamarnya terdapat TV dan Air Panas. Extra bed Rp 50.000.

Rumah makan juga sudah banyak, namun bagi muslim perlu waspada karena banyak restoran atau kedai yang menyajikan menu babi. Tapi tak perlu kuatir, ada beberapa rumah makan yang dikelola muslim dan menyajikan aneka menu halal seperti nasi goreng, capcay, dan lainnya.

Bila ingin menikmati makanan halal, datang saja ke Rumah Makan Hj. Idaman di Jalan Merdeka, Makale, tepatnya di sebelah Masjid Raya Makale yang berarsitektur tua. Atau rumah makan Padang dan Solo.

Cendera mata khas Toraja yang dapat dibeli untuk oleh-oleh antara lain bermacam kaos bertuliskan Toraja, aneka aksesoris, ukiran, dan kopi Toraja di Pasar Bolu, Ke’te Kesu’, dan sejumlah counter di hotel.

Waktu terbaik ke Toraja, saat penyelenggaraan acara Lovely December yang digelar Pemkab Toraja Utara dan Pemprov Sulsel pada November s/d Desember, dengan puncak acara pada 26 Desember. Pasalnya selama sebulan digelar sejumlah pentas seni-budaya, upacara adat, pameran kerajinan tangan & kuliner tradisional, lomba rafting, dan lainnya. Untungnya lagi, kita akan mendapat diskon inap 50 % di hotel-hotel setempat selama acara berlangsung.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 14 April 2010

10 Alasan Wisata Bopunjur Diminati Warga Jakarta



Warga Jakarta dan sekitar-nya kerap berwisata ke Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur). Alasannya, lokasinya dekat. Sebenarnya masih banyak alasan lain yang menyebabkan wilayah berbukit dan bergunung ini tetap diminati wisatawan lokal bahkan turis Arab hingga menjadi salah satu andalan pariwisata Jawa Barat sampai kini. Apa saja alasan lainnya?

Kendati bermacam pemasalahan lingkungan muncul di Bopunjur, termasuk macet yang luar biasa ketika akhir pekan, liburan sekolah, hari besar, dan long weekand, tetap saja tak mengurangi minat orang untuk berwisata, bermukim, dan berbisnis di sana.

Alasan pertama, seperti disinggung di atas, Bopunjur lokasi pegunungan yang paling dekat dengan Jakarta. Sekitar 100 Km dengan waktu tempuh sekitar 2-4 jam tergantung kondisi lalulintasnya. Bisa dengan kendaraan pribadi maupun umum. Secara adminstratif berada di dua kabupaten yakni Bogor dan Cianjur, di jalur lintas antar Provinsi DKI Jakarta-Jawa Barat.

Kedua, panoramanya indah khas pegunungan. Maklum kondisi topografinya sangat bervariasi dari bergelombang, berbukit sampai bergunung dengan kemiringan lereng 15 - >45%.

Ketiga, udaranya sejuk. Maklum iklimnya bercurah hujan 2.428-4.053 mm per tahun dan bertemperatur rata-rata harian 4,8° C s/d 26,6° C. Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmidt dan Ferguson, kawasan ini termasuk beriklim A (sangat basah) dan B (basah). Jadi kerap berkabut dan turun hujan.

Keempat, obyek wisatanya beragam. Ada Gunung Gede & Pangrango, perkebunan teh, Telaga Warna, Air terjun Curug Cilember dan Cibeurem, Kebun Raya Bogor & Cibodas, Istana Presiden Cipanas & Bogor, Taman Bunga Nusantara & Melrimba, Taman Safari Indonesia, Museum Dinosourus, Makam Dalem Cikundul buat berwisata ziarah, dan tirta di Jangiri/Calincing untuk berwisata tirta.

Kelima, aktivitas wisatanya variatif. Bila dulu, orang cuma datang lalu makan jagung bakar, minum bandrek (minungan khas sunda dari jahe) hangat, dan foto-foto di perkebunan teh. Tapi belakangan dapat melakukan bermacam kegiatan baru yang menantang dan mengasyikkan. Bisa mendaki Gunung Gede & Pangrango atau treking ke beberapa bukitnya, ber-paralayang di Riung Gunung, ber-outbond di sejumlah resort, memancing di kolam pemancingan, menunggang kuda, tea walk di perkebunan teh Gunung Mas dan Telaga Warna, ber-Yoga, Spa, dan meditasi lain mengingat di beberapa resort disediakan fasilitas untuk melakukan hal itu.

Keenam, akomodasinya lengkap mulai vila, bungalow, hotel dan resort dengan tarif mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah per malam. Sementara sewa vila dan bungalow-nya berkisar di atas Rp1 jutaan. Kalau cari yang murah dan menyatu dengan alam, bisa berkemah (camping) di Wanawisata Mandalawangi.

Ketujuh, ada taman hiburan baru yang cocok untuk keluarga antara lain Taman Wisata Matahari di KM 77 Jalan Raya Puncak Bogor dan The Jungle di Perumahan Bogor Nirwana Residence di Jalan Dreded. Dengan tiket masuk Rp 30.000 per orang untuk hari biasa dan Rp 50.000 untuk weekend & hari libur.

Kedelapan, sebagai tempat rapat (meeting) yang tenang dan nyaman karena tersedia fasiltas untuk itu. Biasanya rapat digelar hari kerja menjelang akhir pekan, dilanjutkan berakhir pekan dengan incentive berwisata di sekitar Bopunjur. Selain itu sebagai lokasi meeting yang lain, biasa diplesetin jadi ‘miting’ alias mijet yang penting-penting. Maklum di sejumlah tempat tersedia pelayanan pijat plus-plus terselubung atau dapat memesan secara privat untuk pelayanan di kamar atau vila yang disewanya.

Kesembilan, bagi turis lainnya, menjadi tempat bukan sekadar berwisata melainkan juga mencari perempuan sekitar Puncak untuk kawin kontrak sebagaimana dilakukan turis Timur Tengah terutama dari Irak, Iran, dan Arab Saudi pada bulan Mei sampai 2-3 bulan ke depan atau dikenal dengan ’Musim Arab’. Selama berlibur itulah, tak jarang ada turis Arab yang ‘jajan’ atau bahkan melakukan kawin kontrak dengan warga sekitar dan pendatang, dengan biaya antara Rp 5 juta s/d Rp10 juta sebagai maharnya.

Kesepuluh, menikmati beragam kulinernya. Dari Bogor misalnya ada asinan, soto kuning, roti unyil, dan es duren. Selanjutnya di Jalan Raya Puncak berdiri puluhan rumah makan yang didominasi masakan khas Sunda seperti Waroeng Gumati dengan menu lobster-nya, Rumah Makan Dulang dengan Gurami Terbang, Rumah Makan Mirasa dengan Pepes Bandengnya, Saung Pang Lawung milik H. Hihin dengan Bubur Ayam Cianjur, Warung Sate H. Kadir dengan sate buntut kambingnya, dan bakso setan seukuran bola golf, tenis, dan bola sepak, Cimory Resto dengan susu segar dan sosis bratwurst-nya. Dan sekalian belanja buah dan sayur made in Puncak di kios-kios buah dan sayur di tepi jalan seperti wortel, aneka pisang, talas, ubi lembu, lobak, manggis, nenas, dan alpukat.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com).

Read more...

Minggu, 04 April 2010

Memupuk Multikulturalisme di Lembah Hijau



Sejumlah pelajar Sekolah Mene-ngah Pertama (SMP) se-DKI Jakarta baru saja mengikuti kegiatan sosialisasi budaya damai dalam masyarakat multikultural di Indonesia dalam bentuk dialog interaktif dan outbond. Acara yang digelar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini berlangsung di Lembah Hijau Mountain Resort Hotel, Ciloto, Puncak, Jawa Barat, selama 2 hari Sabtu-Minggu (3-4/4).

Ada 30 SMP se-DKI Jakarta yang mengikuti kegiatan ini. Masing-masing sekolah diwakili 2 pelajar berprestasi yang ditunjuk oleh masing-masing sekolah dan mendapat ijin dari orang tua. Karena sesuatu hal, antara lain sakit, 3 pelajar berhalangan hadir sehingga jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini 57 pelajar berbeda suka, budaya, dan agama.

Rombongan pelajar berangkat dengan 3 bus dari halaman Gedung Sapta Pesona, Jakarta pukul 7.20 WIB menuju Puncak Bogor. Setibanya di lokasi, langsung menuju aula Lembah Hijau Resort untuk mengikuti acara pembukaan.

Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Kemenbudpar, Wardiyatmo setelah Staf Ahli Menteri Bidang Multikultur Kemenbudpar Sri Rahayu Budiarti menyampaikan laporan kegiatan ini. Menurut Sri Rahayu Budiarti dengan kegiatan ini diharapkan Kemenbudpar mendapat masukan mengenai potret pelajar khususnya para siswa SMP mengenai pandangannya sebagai anak Indonesia baik kendala, peluang maupun harapannya. “Berdasarkan itu, Kemenbudpar dapat menyusun kebijakan multikulturalisme yang bermuara pada pembangunan karakter dan jatidiri bangsa sejak dini,” jelasnya.

Dalam sambutannya Wardiyatmo berpesan kepada panita untuk menyampaikan pembekalan sosialisasi budaya damai ini dengan bahasa sederhana sesuai tingkatan pelajar SMP “Bisa lewat mendongeng, diselingi pantun atau puisi dan permainan yang menarik agar makna multikurlturasilme mudah diserap pelajar dalam prilaku nyata,” imbuhnya. Sedangkan bagi peserta, Wardiyatmo berpesan agar pelajar menceritakan kepada teman-temannya apa saja yang didapat dalam pembekalan sosialisasi budaya damai ini.

Usai makan siang, peserta mengikuti dialog interaktif dengan menghadirkan 3 narasumber yang dipandu Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia, pencinta bangunan bersejarah sebagai moderator. Pembicara pertama pendongeng anak sekaligus guru besar UI Murti Bunanta yang membawakan beberapa dongeng terkait multikulturalisme.

Pembicara kedua pemuda berprestasi Shofwan Al Banna Choiruzzad yang menyajikan makalah bertajuk "Jangan Cuma Superter Bola!" yang mengajak peserta untuk menjadikan agama sebagai inspirasi bagi kemajuan dan kedamaian.

Dilanjutkan pembicara ketiga Aisah Dahlan dengan mengetengahkan bahasan "Multikulturalisme Dalam Perspektif Nasional" yang mengajak peserta untuk memahami bahwa manusia diciptakan Tuhan dalam keanekaragaman kebudayaan, oleh karena itu pembangunan manusia harus memperhatikan keanekaragaman tersebut. “Dalam konteks pembangunan Indonesia, harus didasarkan atas multikulturalisme mengingat kenyataan negeri ini berdiri di atas keragamanan budaya,” jelas Aisah.

Dalam dialog interaktif, sejumlah pelajar ikut aktif berdialog dengan melontarkan pertanyaan yang menarik dan membuat narasumber tercengang.

Selepas makan malam, acara dilanjutkan dengan pengumuman juara lomba esai. Menurut Sri Rahayu Budiarti, esai yang dibuat masing-masing pelajar bagus semuanya, sesuai dengan tema multikulturalisme. Tim juri akhirnya menentukan 6 pemenangnya, yakni:
-Harapan III Umi Latifah dari SMU 84 Jakarta Utara, judul “Aku Bangga Indonesia Kaya akan Alam dan Budaya”.
-Harapan II Adityo Binowo dari SMP Kolese Kanisius Jakarta Pusat, judul “Memandang Masa Depan Indonesia”.
-Harapan I Hani Ramadhani dari SMP 75, judul “Jadikan Indonesia Permata Dunia Melalui Museum”.
-Juara II Muhammad Arlis dari SMPN 115 Jaksel, judul “Menjaga Potensi Bangsa Indonesia dan Melestarikan Menjaga Keanekaragaman Budaya”.
-Juara I, A. Szami Ilham dari SMP Labschool Kebayoran, judul “Aku Ingin Berbuat Sesuatu untuk Indonesia yang Lebih Baik”.
-Juara I Irfan Fadillah dari SMP Budi Luhur, judul “Mengapa Kasus Pengklaiman Budaya Indonesia oleh Negara Lain Dapat Terjadi?”. Pemenang pertama berhak atas hadiah uang sebesar Rp 750.000.

Dalam esainya, Irfan yang berhasil menjadi juara pertama mempertanyakan mengapa banyak budaya Indonesia yang diklaim oleh negara lain seperti angklung, batik dan lainnya. Pelajar kelas 1 ini juga mengungkapkan keperhatiannya terhadap realita banyaknya Warga Negara Indonesia yang tidak bangga dengan kebudayaannya sendiri. “Buktinya kalau berwisata banyak orang Indoensia yang lebih senang ke Singapura atau Malaysia, cuma untuk belanja. Padahal di Indonesia lebih banyak dan indah obyek wisata dan budayanya,” jelasnya.

Mendaki Bukit
Pada hari kedua, usai sarapan, peserta melakukan kegiatan outbond dengan mendaki bukit di belakang penginapan. Peserta di bagi menjadi beberapa kelompok. Peserta harus mendaki medan menanjak dan berhutan pinus serta melewati beberapa pos yang dijaga panitia. Di setiap pos, kelompok peserta diberi pertanyaan seputar obyek wisata dan budaya serta menyanyikan lagu daerah dan nasional.

Kemudian peserta kumpul di tengah lapang rumput untuk memainkan sejumlah games yang bertujuan membentuk kerjasama kelompok (team building). Lagi-lagi, panitia yang dipandu oleh Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) selaku event organizer kegiatan ini, memberikan permainan yang bermuatan multikulturalisme. Seluruh peserta nampak begitu antusias menikmati permainan di lapangan rumput hijau berudara sejuk pegunungan, berpemandangan indah berlatar Gunung Gede dan Pangrango serta sejumlah perbukitan khas kawasan Puncak.

Sebelum kegiatan ini ditutup secara resmi oleh Sri Rahayu Budiarti yang mengikuti acara dari awal hingga akhir. Panita memberikan penghargaan baik kepada peserta, tim juri, dan panitia RISKA. Ada penghargaan untuk peserta terbaik, teraktif, dan peserta tergokil (tergila).

Terpilih sebagai peserta terbaik dalam kegiatan Sosialisasi Budaya Damai ini, A. Szami Ilham dari SMP Labschool Kebayoran. Menurut pelajar kelas 2 berusia 13 tahun ini, banyak manfaat yang didapat dari kegiatan ini antara lain mendapat banyak teman, ilmu, dan rasa cinta tanah air serta pemahaman keragaman suku dan budaya bangsa ini. “Saya berharap kegiatan ini dapat diteruskan setiap tahun dan kalau bisa waktunya diperpanjang lagi agar lebih banyak kegiatan yang didapat,” imbaunya.

Usai makan siang, rombongan peserta menuju Istana Bogor. Sepanjang perjalanan menuju istana presiden tersebut macet. Untungnya rombongan tiba pukul 4 sore lebih dan petugas istana masih mengijinkan masuk.

Selepas menikmati sejumlah koleksi di dalam dan di luar serta serta berfoto bersama di depan Istana Bogor, rombongan kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, nampak kehangatan antar pelajar berbeda sekolah ini terjalin lebih akrab, tidak seperti sewaktu berangkat. Canda dan gurau tercipta di dalam bus yang diisi kelompok 1 dan 2, menghadirkan tawa tiada putus. Rupanya kegiatan Sosialisasi Budaya Damai yang baru saja dilakukannya, berhasil memupuk mutikulturalisme di antara mereka.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 28 Februari 2010

Sekotak Cinta dari Negeri Stroberi



Bila cinta diungkapkan dengan bunga, mawar merah pastinya. Tapi bila dengan buah, sekotak stoberi tentunya.

Begitu garis merah pembicaraan antara Juwita dengan Moura di kebun stroberi milik Asep di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pagi itu. Pembicaraan itu keluar dari dasar hati perempuan tentang kisah asmara dengan lelaki pilihan yang kini mengisi ruang jiwa mereka masing-masing. Obrolan ringan namun dalam itu tentang perasaan dan harapan mereka di antara kabut yang masih belum rela diusir bias mentari Gunung Patuha. Perbincangan mereka itu terbawa angin dingin yang mengalir sepoi-sepoi hingga terekam telinga ini.

“Anton sering kali kasih aku mawar merah sebagai tanda cinta. Nah, sekarang giliran aku bawain oleh-oleh sekotak stroberi sebagai simbol cintaku yang besar buatnya. Kalau panjaga hatimu, si Andre gimana?” kata Juwita diakhiri sebuah pertanyaan menyelidik buat Moura.

“Andre tidak seromantis pria idamanmu. Tapi aku yakin dengan cintanya. Meskipun dia pelit mengungkapan rasa itu dengan benda apalagi bunga tapi setidaknya dia pernah mengatakannya langsung. Dan itu sudah cukup buatku lega dan bahagia. Meskipun sebenarnya aku berharap dia bisa romantis dengan memberiku bunga mawar juga,” terang Moura sambil memetik stroberi yang kemudian dimasukkan ke dalam keranjang rotan kecil yang dipegang Juwita.

Mendengar suara hati Moura itu, wajah Juwita mencuatkan rona sedikit keheranan. Rupanya dia tak mengira sahabatnya yang berkarakter tomboy dengan rambut pendek itu punya sisi feminin juga.

Perbincangan dua perempuan cantik berusia duapuluhlimaan itu makin mendalam. Sampai-sampai kehadiran pengunjung lain yang baru datang di kebun stroberi itu, tak membuat mereka berpaling sedikitpun. “Jangan-jangan kehadiranku sejak tadi pun sama sekali tak mereka hiraukan,” kataku dalam hati agak kesal.

“Aku punya ide,” kata Juwita tiba-tiba. “Kamu bawain aja sekotak stroberi ini buat Andremu. Siapa tahu hatinya tersentuh dan berubah lebih romantis,” ujar Juwita yang tampil manis bak peri dengan rambut hitam panjang terurai, mengenakan rok bermotif kupu-kupu.

Mendengar saran brilian sahabatnya itu, Moura yang berperawakan tinggi dengan pakaian casual sporty sempat kaget. “Aduh, kenapa aku nggak kepikiran kesitu yah,” katanya sambil memandang Juwita. “Kamunya juga sih kebangetan tomboy, sekali-kali kasih surprise menyenangkan buat orang terkasih dong. Nggak salah kan tomboy tapi ngarep pangeran romantis,” goda Juwita sambil tertawa disambung tawa panjang Moura yang membuat aku dan beberapa pengunjung lain mengarahkan pandangan ke mereka.

Petik Sendiri
Ciwidey kian terang tapi hawa sejuk terus berlanjut. Suhu seperti itu pula yang membuat sebagain besar tanahnya yang berlembah dan berbukit didominasi perkebunan stroberi. Selepas alun-alun Ciwidey hingga di ujung bukit dekat Resort Patuha, tersebar beberapa perkebunan stroberi yang oleh pemiliknya sekaligus dijadikan obyek agrowisata. Itu yang terlihat dari depan jalan utama, belum lagi perkebunan stroberi yang berada di bagian dalam desa yang jumlahnya ratusan hektar.

Saat melintasi jalan itu, hamparan perkebunan stroberi begitu mendominasi selain perkebunan sayur mayur seperti kol dan bawang. Namun tetap saja kehadiran stroberi begitu mencolok, hingga dalam hati terbersit kata, “Ciwidey negeri stroberi”. Di beberapa perkebunan stroberi di sepanjang jalan utama itu, terlihat sejumlah pengunjung yang datang dalam kelompok kecil, satu keluarga atau bahkan rombongan yang tengah asyik memetik sendiri stroberi.

Entah sejak kapan penduduk Ciwidey menjadikan stroberi sebagai salah satu komoditas utama perkebunan mereka. Yang jelas menurut beberapa petani yang aku temui di sana, Ciwidey sudah sejak lama dikenal sebagai sentra penghasil buah kecil berbentuk hati itu. Menurut Asep, dia mejadi petani stroberi melanjutkan usaha kakek dan ayahnya yang sudah almarhum. “Saya jadi petani stroberi turun-temurun. Dulu perkebunan stroberi milik kakek ada di seberang sana yang kini menjadi villa milik orang Jakarta. Sekarang, tinggal perkebunan ini bekas milik orang tua saya,” jelas Asep seraya menunjuk sebuah villa mungil yang halamannya juga ditanami stroberi dan berbagai bunga hias.

Seiring harumnya nama stroberi Ciwidey, membuat wisatawan yang datang semakin banyak, terutama pada akhir pekan dan liburan sekolah. Mereka yang datang bukan cuma warga Kota Bandung dan Jakarta saja. “Beberapa turis asing juga pernah bertandang ke sini, petik stroberi,” aku Asep. Kehadiran para penikmat buah mungil merah ranum itu tak bisa disangkal ikut memompa perekonomian penduduk Ciwidey. Mereka bukan hanya menjual agrowisata dengan konsep petik sendiri melainkan juga membuat souvenir dan oleh-oleh yang masih beraromakan stroberi.

Di sepanjang jalan utama Ciwidey misalnya, banyak kios sederhana yang menjual aneka cenderamata berupa bantal, pin dan bross berbentuk stroberi berwarna merah mudah dan marun. Selain itu ada sirup, selai, dan dodol dari stroberi dengan harga bervariasi. Bahkan ada beberapa lokasi agrowisata stroberi yang lengkapi dengan café bermenu aneka kue berbahan dasar stroberi dan minuman segar menyehatkan, jus stroberi.

Kunjungan wisatawan yang kian meningkat tiap tahun membuat Ciwidey kian berdenyut. Dampak positifnya, banyak warga setempat terutama para ‘penggede’ dari Bandung dan Jakarta yang berlomba membuat penginapan. Di sepanjang jalan utama Ciwidey misalnya ada beberapa hotel, villa dan penginapan kelas melati yang kian menjamur dan fullbook setiap musim liburan.

Dampak negatifnya, lahan perkebunan stroberi Ciwidey yang dulu mendominasi sepanjang jalan utama itu semakin menyusut. Data akurat penyusutan itu memang belum jelas. Namun menurut Asep, banyak penduduk membuka lahan baru di dalam desa, di lereng-lerang bukit. “Rasanya perkebunan stroberi di Ciwidey bukan menyusut tapi justru bertambah. Cuma lahan hutan jadi semakin menyusut karena dibuka untuk perkebunan itu,” terangnya.

Mungkin karena hutan di bukit dan gunung sekitar Ciwidey sudah berubah fungsi, mengakibatkan longsor seperti terjadi di Pasirjambu, Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jabar baru-baru ini. Bencana itu mengubur hidup-hidup puluhan korban. Memilukan.

Di kebun stroberi milik Asep, dua perempuan Juwita dan Moura masih asyik berbicara seraya tangan-tangannya memetik buah mungil yang menggoda. Kini giliran Juwita yang memetik stroberi lalu memasukkannya ke keranjang yang dipegang Moura. Rupanya Moura menyetujui saran karibnya itu untuk memberikan hadiah sekotak cinta dari negeri stroberi buat kekasih hati.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji-travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 18 Juli 2009

Geliat Pantai Padang dari Subuh hingga Malam


Bila Anda berkunjung ke Padang, Sumatera Barat, rasanya belum lengkap kalau belum ke Pantai Padang. Selain masih gratis, banyak warna dan cerita yang bakal Anda temui di sana. Ada kisah asmara subuh, aktivitas pegunjung, pengais rezeki hingga pencari jodoh.

Pantai Padang sejak subuh hingga larut malam terus menggeliat. Di setiap perbedaan waktu itu, ada saja warna dan cerita yang disuguhkan. Kisah asmara subuh misalnya mucul saat bulan puasa. Biasanya usai sahur dan shalat subuh, banyak warga Kota Padang dan sekitarnya yang datang ke pantai ini. Beberapa di antaranya muda-mudi yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, diam-diam berpacaran. Sejak itulah muncul julukan asmara subuh di Pantai Padang setiap bulan puasa.

Bagi warga Kota Padang, pantai ini bukan sekadar tempat bersantai. Tapi juga tempat untuk bersosialisasi, mencari jodoh, mengais rejeki, dan berekspresi seni. Setiap hari, mulai matahari terbit, sejumlah pedagang ikan hasil tangkapan nelayan menjajakan bermacam ikan di sepanjang jalan di tepi pantai ini. Ada ikan tuna bermacam ukuran sampai ada yang besarnya sepaha orang dewasa, bawal, kakap, cumi, rajungan, lobster dan lainnya. Para pembeli mulai berdatangan bahkan sampai sore masih ada beberapa pedagang ikan yang berjualan termasuk pembeli yang datang.

Ketika matahari di atas kepala, sejumlah warung makan di tepi pantai maupun di seberang jalan yang menjajakan aneka masakan khas Minang diserbu pengunjung untuk santap siang. Warung-warung tersebut juga menjual ikan bakar dan aneka minuman jus dan kelapa muda.

Menjelang sore, warga Kota Padang dan sekitarnya berdatangan dengan sepeda motor ataupun mobil. Sementara yang tinggal di sekitar pantai cukup berjalan kaki. Pantai Padang oleh warga Padang lebih dikenal dengan sebutan Taplau singkatan dari tapi lauit atau tepi laut. Umumnya warga mulai dari anak-anak laki sampai orang dewasa datang untuk main layang-layang. Langit di atas pantai ini pun sekejap berubah lebih berwarna dan seperti hidup oleh bermacam layang-layang yang melayang, tak bisa diam.

Yang menarik lagi, para pedagang pakaian anak-anak sampai orang dewasa, bermacam balon tiup, aksesoris dan lainnya mulai menggelar dagangannya di tepian jalan di sepanjang tepi pantai. Sepintas seperti pasar kaki lima. Para ibu dan wanita muda memburu sejumlah barang yang dijajakan. Harganya cuku terjangkau, pakaian pantai atau pun t'shirt wanita dijual mulai Rp 25.000 per potong.

Saat malam merayap, cafe-cafe di tepi pantai mulai ramai di datangi rombongan anak muda dan keluarga terutama pasangan muda-mudi untuk ngobrol sana-sini sambil menikmati aneka penganan seperti roti dan pisang bakar, nasi goreng, kopi susu, dan lainnya.

Di Gedung Budaya di seberang pantai, hentakan musik terdengar sampai pantai. Sejumlah band bergantian unjuk kebolehan. Aksi musik mereka menarik perhatian pengendara motor dan mobil untuk mendekat ke areal panggung.

Semakin larut, suasana pantai semakin ramai. Mereka yang ada yang berniat mencari pasangan. Sebab bukan rahasia lagi, sudah lama pantai ini menjadi tempat mendapatkan teman dekat bahkan pasangan hidup bila memang berjodoh.

Hotel Tepi Pantai
Bagi pengunjung Hotel Pangeran Beach, Pantai Padang menjadi bonus sendiri saat menginap di hotel, termasuk buat peserta yang sedang mengikuti Sumatera International Travel Fair (SITF) 2009 di hotel ini. Maklum sesuai namanya, hotel berbintang 4 ini lokasinya masih di deretan Pantai Padang. Halaman belakang hotel ini terdapat kolam renang yang menghadap ke pantai ini. Dari tempat itu, pengunjung hotel termasuk peserta SITF 2009 lalu meluangkan waktu berenang atau sekadar menyaksikan matahari terbenam serta melihat para pemancing sedang menunggu kailnya disambar ikan laut.

Saat malam Minggu, geliat Pantai Padang berdenyut hingga larut. Jelang subuh kembali berdenyut dengan warna dan cerita lain. Aktivitas para nelayan melaut terlihat mewarnai pantai ini. Bila cuaca tak bersahabat, deretan perahu kayu bermotor dan bercadik ditambatkan di pantai ini.

Untuk menikmati semua geliat pantai ini, pengunjung tak perlu mengeluarkan uang lantaran masih gratis. Sebenarnya kalau kawasan pantai ini dikelola Pemkot Padang atau Pemprov Sumbar dengan segala macam fasilitas wisata yang lebih memadai, pasti namanya kian masyur dan mampu menjaring investor untuk membangun pantai ini menjadi lebih indah, lengkap, dan mentereng.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 22 Juni 2009

10 Alasan Mengapa Anda Harus Mem-vooting Komodo



Ada 10 Alasan mengapa Taman Nasional Komodo layak terpilih sebagai salah satu 7 keajaiban dunia baru. Salah satunya karena menjadi habitat asli Komodo (Ora), satu-satunya kadal raksasa purba yang disebut dragon oleh turis asing. Masih ada 9 alasan lainnya. Ayo voting Komodo, waktunya sampai 7 Juli 2009 lho.


Kalau Anda pernah berkunjung ke Taman Nasional Komodo (TNK), Nusa Tenggara Timur (NTT), Anda tentu dapat merasakan dan melihat langsung perbedaaan alam dan juga penghuninya. Tentu Anda pun setuju bila kawasan konservasi ini terpilih menjadi salah satu 7 keajaiban dunia baru. Namun tentunya Anda harus memiliki email lalu mem-vootingnya via internet. Kalau Anda tidak memberikan pilihan tentu, harapan itu sia-sia belaka.

Kebetulan penulis TravelPlusIndonesia (TPI) pernah melihat dan merasakan alam dan penghuni TNK secara langsung. Oleh karena itu, penulis berani dan yakin seratus persen untuk memberikan pilihan dalam pooling internet kepada Taman Nasional Komodo agar terpilih menjadi salah satu 7 keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7 Wonders.

Alasan pertama, tentunya karena di TNK ada hewan khas setempat yang menghuni kawasan tersebut jauh sebelum kawasan itu menjadi taman nasional yakni komodo yang oleh orang setempat disebut Ora.

Kedua, alam TNK memiliki tofografi berbeda, berupa dataran rendah hingga perbukitan dan bergunung-gunung dan dikelilingi perairan. Semua itu menghadirkan pesona dan tentunya mencuatkan dunia baru yang berbeda serta khas.

Ketiga, di kawasan ini ternyata dihuni manusia yang juga sudah lama menetap jauh sebelum berstatus taman nasional. Penghuni itu dinamakan orang komodo yang kini tinggal di Kampung Komodo. Keberadaan kampung dan orang komodo ini membuahkan kisah dan nuansa tersendiri bagi kawasan ini.

Keempat, selain komodo sebagai primadona TNK, kawasan ini juga memiliki flora dan fauna yang khas seperti rusa hutan, pohon lontar, padang savana dan lainnya. Semuanya itu menghadirkan warna tersendiri yang berbeda dengan kawasan lain.

Kelima, perairan di kawasan ini kaya akan sumber laut seperti ikan dan lainnya. Anda dengan mudah melihat ratusan ikan hias dan konsumsi yang hilir mudik di perairan tenang dan dangkal di sekitar taman nasional ini.

Keenam, obyek alam di kawasan ini beragam, indah dan menantang seperti mendaki Gunung Ara, melihat komodo dari dekat di Banu Nggulung, Poreng Sabita, Pulau Kalong, Pulau Rinca, Pantai Merah dan lainnya.

Ketujuh,unsur petualangan begitu terasa saat berada di kawasan ini. Sehingga bagi penikmat wisata petualangan dan keindahan alam tentunya akan sangat berkesan saat berada di kawasan ini.

Kedelapan, unsur penelitian berbagai penghuni kawasan ini mulai dari fauna, flora, cuaca, perairan sampai penghuni manusianya sangat menarik untuk dilakukan.

Kesembilan, kawasan ini di kelilingi pulau-pulau cantik dan eksotik, termasuk di luar taman nasional seperti Pulau Kanawa, Pungu, dan pulau lainnya yang juga kerap dikunjungi wisatwan karean keindahan dan kekhasannya.

Kesepuluh, rasa cinta akan keindahan dan kekhasan alam negeri sendiri, menjadi alasan mengapa Anda sebagai WNI Indonesia sepatutnya memilih Taman Nasional Komodo dalam voting di internet agar menjadi salah satu dari 7 keajaiban dunia baru.
jangan sampai kawasan atau taman nasional lain yang terpilih, sebab Taman Nasional Komodo memang sangatlah pantas menyandang gelar itu.

Sampai 30 Maret 2009 lalu, Taman Nasional Komodo menduduki peringkat ke-11 dari 56 nominasi yang masuk dalam Group F. Keseluruhan nominasi dalam kampanye tahap ke-2 ini adalah 261 nominasi yang terdiri dari 222 negara, nominasi tersebut dibagi dalam 7 Group yaitu: (A) Landscape/Ice Formation, (B) Island, (C) Mountain/Volcanoes, (D) Cave/Rock Formation/Valley, (F) Forest/National Parks/Nature Reserve, (G) Lakes/Rivers/Waterfalls, dan (H) Seascape.


Taman Nasional Komodo harus dapat menjadi 11 besar pada group F atau 77 besar dari keseluruhan nominasi, tahap ke-2 vote ini akan berakhir pada tanggal 7 Juli 2009.

Ke-77 nominasi itu akan diseleksi Tim Ahli yang diketuai Prof. Federico Mayor, mantan Direktur Jenderal UNESCO. Mereka akan memilih 21 nominasi yang masuk dalam shortlist dan terpilih untuk maju dalam tahap ke-3 sekaligus yang juga merupakan tahap final dan akan berlangsung selama tahun 2010-2011. Pengumuman 21 nominasi ini akan dilakukan tanggal 21 Juli 2009.

Nah, Kalau Anda telah memiliki e-mail dan belum melakukan “vote” untuk mendukung Taman Nasional Komodo menjadi 7 Keajaiban Dunia. Sekaranglah saatnya. Ajak teman, rekan, saudara dan keluarga anda untuk memilih Tman Nasional Komdodo. Waktunya sampai tanggal 7 Juli 20009. Silakan vote sebanyak mungkin melalui berbagai e-mail account berbeda yang Anda miliki (1 e-mail = 1 vote).

Caranya mem-voting dengan membuka akses internet ke http://www.new7wonders.com (masuk ke menu “N7W” kemudian “Vote for Nominees”). Atau langsung click URL berikut: http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees/.

Jangan sampai lupa atau ketinggalan mem-vote Taman Nasional Komodo ya.


Naskah & Foto: A. Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Orang Komodo, Ora, Ikan, & Lontar


Lokasinya agak terpencil, alamnya gersang, dan iklimnya kering. Tapi penghuninya justru hidup rukun dan bahagia dari berbagai sumber pangan yang melimpah. Siapa saja penghuninya dan apa saja sumber hidupnya?


Bila Anda datang dan melihat kondisi Taman Nasional Komodo (TNK) yang agak terpencil, kering dan gersang, mungkin akan menduga kawasan itu hanya dihuni komodo, bukan manusia karena tidak ada sumber penghidupan. Dugaan itu pun sempat hinggap di benak TravelPlusIndonesia (TPI) ketika kali pertama mengunjungi Pulau Komodo, salah satu pulau di kawasan konservasi tersebut.

Ternyata dugaan itu salah besar. Sebab pulau itu pun berpenghuni manusia yang justru sudah menetap jauh sebelum kawasan itu ditetapkan sebagai taman nasional. Penghuninya itu mengklaim sebagai orang asli Pulau Komodo dan menamakan dirinya Orang Komodo. Jumlahnya ada ratusan jiwa yang menetap di sebuah kampung bernama Kampung Komodo. Lokasi kampungnya di pesisir pantai, sekitar 3 Km ke arah Barat dari Pos Loh Liang.

Sebelum tinggal di Kampung Komodo seperti sekarang ini, konon orang asli Pulau Komodo ini menetap agak ke pedalaman di dalam hutan. Mereka hidup dengan berburu rusa dan memanfaatkan hasil hutan. Namun ketika pulau tersebut akan difungsikan sebagai kawasan konservasi, mereka “dipindahkan” ke luar pulau.

Anehnya setelah pemindahan itu terlaksana dan ketika kawasan itu hendak diresmikan sebagai taman nasional oleh orang penting, ternyata tak ada satu pun ditemukan komodo. Biawak purba raksasa yang dipanggil Ora oleh Orang Komodo ini seolah lenyap ditelan bumi.

Ada kisah berbau mistis di sini. Konon, lenyapnya komodo lantaran Orang Komodo dipindahkan. Usut punya usut ternyata ada pertalian erat antara komodo dengan Orang Komodo. Bahkan ada cerita bahwa komodo itu berasal dari Orang Komodo. Dengan kata lain Orang Komodo merupakan nenek moyang dari komodo. Buktinya, setelah Orang Komodo dikembalikan ke Pulau Komodo dengan menempatkan lokasi yang baru seperti sekarang ini, komodo kembali bermunculan di pulau itu dan berkembangbiak sampai sekarang. Mereka hidup rukun berdampingan. Benar atau tidak cerita itu, yang pasti kian menambah daya tarik pulau ini.

Sewaktu TPI mendatangi Kampung Komodo, ada rasa was-was dan tanya besar. Seperti apa orangnya? Dan apakah bersahabat dengan pengunjung? Tapi ketika melihat di kampung itu ada mushala, rasa cemas itu pudar. Ternyata Orang Komodo di kampung itu mayoritas muslim. Mereka tinggal di rumah panggung yang berukuran besar. Satu rumah bisa dihuni 2-3 kepala keluarga. Rumah mereka berdempetan satu sama lain. Atapnya dari seng dan ada juga dari rumbai Pohon Lontar. Dindingnya dari bilik atau papan kayu. Di belakang panggung terdapat lapangan besar yang bisa digunakan warga setempat untuk berolah raga seperti main sepak bola.

Siang itu, Kampung Komodo nampak sepi. Yang tinggal anak-anak dan orang tua. Sementara pria dewasa sebagian besar bekerja, terutama melaut. Jelang sore keramaian mulai nampak. Para pemuda menuju lapangan untuk bersepekbola, anak-anak tak mau ketinggalan berebut bola kaki di pantai, sementara ibu-ibu mengangkat ikan asin yang dijemur di bawah terik matahari, dan para nelayan satu persatu mendaratkan perahunya ke pantai kemudian membawa bermacam hasil laut untuk dikonsumsi atau diasinkan.

Bagaimana Orang Komodo bisa bertahan hidup di alam yang gersang, kering dan terpencil? Ternyata di balik kegersangan dan kekeringan itu, kawasan ini menyimpan sumber kehidupan yang tak terkira. Di perairannya tersedia bermacam ikan konsumsi. Orang Komodo bukan cuma menangkap ikan untuk dimakan tapi juga untuk diperdagangkan ke luar pulau. Dari hasil menjual ikan laut itu, beberapa Orang Komodo ada yang berhasil menunaikan ibadah haji.

Menurut survei sebuah lembaga penelitian internasional, perairan TNK menyimpan sekitar 900 jenis biota laut. Di antaranya 1000 lebih spesies ikan, antara lain ikan napoleon (Cheilinus undulates), kerapu, kakap merah dan ikan pari manta (Manta birostris) yang ukurannya mencapai 4 X 5 meter. Selain ikan berukuran kecil dan sedang, perairannya juga kerap dilalui beberapa jenis ikan besar seperti hiu dan lumba-lumba serta tak ketinggalan si mamalia laut raksasa yaitu paus. Di dasar lautnya juga mengoleksi 260 spesies terumbu karang, terutama jenis Acropora sp.

Untuk membuktikan hasil survei tersebut, TPI mengikuti seorang nelayan Kampung Komodo dengan perahu layar bersampan. Tak ada 1 jam, hasil tangkapan nelayan itu dengan kail dan jala itu cukup banyak. Tak sulit mendapatkan ikan di perairan pulau ini, saat TPI berada di dermaga Pos Loh Liang saja, bermacam ikan mudah dilihat di bawah dermaga yang berair jernih.

Selain ikan konsumsi yang melimpah yang menjadi sumber pangan dan juga ekonomi bagi Orang Komodo, masih ada sumber pangan lainnya, yakni Pohon Lontar atau Palmyra Palm (Borassus flabellifera). Tapi itu dulu, sebelum pulau ini dijadikan taman nasional. Orang Komodo bisa bebas memanfaatkannya.

Di Pulau Komodo, Pohon Lontar tumbuh berkelompok di antara padang rumput (savana) dan semak-semak. Pohon yang sepintas mirip pohon kurma ini, memiliki ciri khas tersendiri. Batangnya lurus tak bercabang tapi lebih ramping dari pohon kelapa. Tingginya dapat mencapai 25 meter. Daunnya meruncing di ujungnya dengan warna hijau tua, tumbuhnya tepat di pucuk batang, sekilas menyerupai mahkota.

Sejak lama, daun lontar berfungsi melebihi daun-daun pohon lain. Dulu, seorang raja menggunakan daun lontar untuk menulis perintah, surat dan kitab. Daun lontar yang lebar menjadi media ‘kertas’nya. Kitab Sutasoma dari jaman Majapahit yang di dalamnya memuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika, juga ditulis di atas daun lontar. Fungsinya sebagai kertas baru memudar setelah bangsa Portugis masuk dan membawa kertas ke Indonesia.

Selain di TNK, lontar juga banyak tumbuh di sekitar Desa Lesser Sundas, Pulau Rote dan Sabu, Flores. Di Desa Lesser, Pohon Lontar bermultiguna. Daunnya dibuat wadah air dan keranjang. Batangnya untuk kayu bakar, dan buahnya dimakan begitu saja.

Di Pulau Rote dan Sabu, Pohon Lontar menjadi sumber bahan pangan. Masyarakat di kedua pulau paling Selatan Indonesia itu, mengkonsumsi air sadapan dan larutan gula merah dari lontar atau nira. Orang Rote dan Sabu biasanya makan nira dengan ikan bakar dan gurita serta pepaya atau daun kacang panjang mentah.

Nira merupakan produk lontar terpenting, diperoleh dari sadapan bunganya. Lontar berbunga pada musim hujan selama 4 bulan dan musim kemarau selama 3 bulan. Para penyadap lontar lebih memilih melakukan penyadapan sebanyak mungkin selama kemarau karena kadar sucrose-nya tinggi dibanding musim hujan.

Nira sadapan dimasak dalam kuali besar dan diaduk terus-menerus. Nira disadap dari batang bunga yang terbesar. Lalu dikumpulkan dalam wadah terbuat dari daun lontar. Selanjutnya dituang dalam kuali untuk ditanak lalu diaduk terus-menerus hingga gulanya kental dan berwarna coklat.

Kaum wanita di sana juga suka membuat cuka dari nira lontar, dimasukkan dalam botol kaca lalu dibiarkan dalam proses fermentasi selama 5 hari. Cuka dari nira digunakan untuk memasak ikan. Kaum prianya, gemar membuat laru_minuman beralkohol dari hasil fermentasi nira selama 4 jam dan sopi_hasil penyulingan nira. Banyak juga yang memanfaatkan pohon ini untuk keperluan membangun rumah seperti balok, tiang, atap, dan tali-temali pengikat pagar.

Pohon Lontar, salah satu jenis pohon yang tumbuh subur di daerah beriklim kering seperti di TNK ini. Selain di kawasan Flores, lontar dapat ditemukan di sepanjang wilayah kering daratan Australia, India, Indo-China, Asia Tenggara bahkan Afrika. Selain padang rumput, kapuk hutan, waru dan kesambi, keberadaan deretan Pohon Lontar di TNK kian menambah khas panorama kawasan konservasi ini.

TravelPlusIndonesia (TPI) setuju kalau keberadaan Orang Komodo, ora, ikan, dan Pohon Lontar menjadikan Pulau Komodo dan pulau-pulau lain di kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) seperti dunia baru yang benar-benar berbeda, ajaib, dan tentunya menakjubkan. Oleh karena itu, rasanya Anda patut memilih Taman Nasional Komodo via internet agar terpilih masuk sebagai 7 keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7Wonders. Caranya dengan melakukan vote ke http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees. Selamat memilih dan lalu menikmati keajaiban dunia baru di Taman Nasional Komodo. ***

Naskah & Foto: A. Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 16 Juni 2009

Vote Komodo di Pameran Wisata Jelajah Negeriku


Dalam rangka menyongsong liburan sekolah tahun ini, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia (Depbudpar RI) menyelenggarakan pameran wisata bertajuk “Pameran Wisata Jelajah Negeriku” di sejumlah mall di Jakarta dan Tangerang beberapa waktu lalu. Di pameran ini ada booth khusus Vote Komodo.

Pada sesi pertama, pameran ini mengambil tempat di Plasa Senayan (PS), Jakarta Pusat dan Summarecon Mall Serpong (SMS), Kawasan Gading Serpong, Tangerang selama 3 hari dari tanggal 5 s/d 7 Juni 2009. Pembukaan pameran berlangsung di Plasa Senayan (atrium) pada Jumat, 5 Juni 2009 dan dibuka untuk umum sejak pukul 10.00 – 21.00 WIB. Pameran sesi kedua akan berlangsung selama 3 hari pula, tanggal 12 s/d 14 Juni 2009 di Cilandak Town Square (Citos), Jakarta Selatan, dan Mall of Indonesia (MOI), area Kelapa Gading Square, Jakarta Utara.

Pameran Wisata Jelajah Negeriku yang pertama ini bertujuan untuk memperkenalkan sekaligus menjual paket-paket destinasi atau obyek-obyek wisata yang ada di dalam negeri khususnya di luar Pulau Jawa dan Bali dengan harapan pengunjung pameran, terutama para orangtua, anak sekolah, guru, dan keluarga yang ingin berwisata dapat membeli paket-paket wisata dalam negeri yang menarik, indah, unik, dan mengesankan.

Pameran Wisata Jelajah Negeriku pertama ini sengaja lebih banyak mengambil lokasi di Jakarta, mengingat mobilitas pergerakan wisatawan nusantara (wisnus) dari ibukota ini hingga 2009 sangat tinggi. Dengan adanya pameran yang menjual paket-paket destinasi dalam negeri ini, diharapkan masyarakat Jakarta dapat mengisi liburan tahun ini bersama keluarga dengan membeli paket-paket wisata dalam negeri. “Dengan pameran ini bukan cuma memberikan alternatif liburan di dalam negeri, juga sekaligus mendorong masyarakat kota untuk berwisata di dalam negeri, bukan ke luar negeri,” jelas Suriansyah, Kasubdit Promosi Tujuan Wisata III Depbudpar.

Pemilihan pusat perbelanjaan modern (mall) sebagai tempat pameran, mengingat mall sudah menjadi kebutuhan masyarakat kota bukan lagi sekadar gaya hidup. Dengan kata lain target pengunjung sudah tersedia di mall tersebut. Pengujung mall dapat berinteraksi langsung dengan pameran ini sambil menikmati hiburan ataupun berbelanja.

Pameran Wisata Jelajah Negeri di Plasa Senayan menghadirkan sejumlah stand dari Depbudpar dan stakeholder seperti maskapai penerbangan, biro perjalanan wisata, Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI), perhotelan dan lainnya. Yang menarik juga ada pemahat kayu dari Papua yang didatangkan langsung dari daerahnya.

Pada pembukaan Pameran Wisata Jelajah Negeriku pertama ini dimeriahkan dengan hiburan berupa Tarian Saman dan peragaan busana (fashion show) yang menampilkan beberapa pakaian tradisional. Pada Sabtu malam, mulai pukul 19.00 WIB pengunjung pameran di masing-masing mall akan dihibur oleh penyanyi/band ibukota, seperti Junior Aris di Citos, Pasto di SMS, Ecoutec di Citos, dan Ten 2 Five di MOI.

Menurut Dwita dari On Stage selaku event organizer pameran ini, yang menarik dari Pameran Wisata Jelajah Negeriku pertama ini, pengunjung yang membeli paket wisata dalam negeri langsung di pameran akan diundi dan berpeluang mendapatkan lucky draw berupa tiket pesawat gratis pergi-pulang ke sejumlah destinasi seperti Manado (Sulawesi Utara), Makassar (Sulawesi Selatan), Banjarmasin (Kalimantan Selatan), Sumatera Barat, dan Riau. “Makanya ajak orangtua dan saudara datang dan beli paket wisata dalam negeri di pameran ini, siapa tahu beruntung mendapatkan lucky draw menarik itu, jadi untung berlipat,” seru Dwita.

Vote Komodo
Dibanding pameran wisata yang pernah ada di mall sebelumnya, Pameran Wisata Jelajah Negeriku pertama ini tampil beda dan terasa spesial. Sebab di pameran ini hadir booth khusus Vote Komodo, untuk memberikan kesempatan kepada pengunjung ikut serta memilih Pulau Komodo di internet agar terpilih menjadi salah satu keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7Wonders. “Di booth khusus Vote Komodo, disediakan fasilitas internet untuk memudahkan pengunjung memberikan pilihannya,” jelas Dwita.

Menurut Suriansyah, rencananya Sapta Nirwandar selaku Dirjen Pemasaran Depbudpar akan menyelenggarakan pameran serupa di kota-kota lain dalam rangka yang sama yakni menyongsong liburan sekolah. Bahkan rencananya akan diadakan setahun dua kali, yakni menjelang liburan sekolah dan akhir tahun. “Harapan Depbudpar dengan pameran tersebut, tentunya dapat menjaring sebanyak-banyaknya pengunjung pameran agar membeli paket wisata di dalam negeri saja,” terangnya lagi.

Kalau Anda belum vote komodo, segera pilih Taman Nasional Komodo agar masuk dalam 7 keajaiban alam dunia. Caranya dengan melakukan vote di http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees.

Naskah & Foto: Adji K. (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 28 April 2009

Serunya Menyelam hingga Mendaki di Kerajaan Komodo


Di Pulau Komodo, bukan cuma lihat komodo lapar sedang menunggu mangsa. Tapi Anda pun bisa puas menyelam bahkan mendaki. Nggak percaya? Datang saja!

Tujuan utama wisatawan ke Pulau Komodo selama ini, tak lain untuk melihat dan mengamati secara langsung prilaku komodo. Tapi banyak juga wisatawan yang semata bertujuan untuk ber-snorlkeling dan diving, bahkan mendaki.

Selain komodo sebagai daya tarik utama, kawasan Taman Nasional Komodo (TNK) khususnya di Pulau Komodo juga memiliki beberapa obyek alam pantai dan gunung. Belum lagi masyarakat nelayan yang sudah lama menetap di sana serta habitat laut terutama aneka terumbu karang dan ikan hias.

Obyek-obyek wisata Pulau Komodo yang dapat Anda dinikmati antara lain Banu Nggulung, Pantai Merah, Poreng Sabieta, Gunung Ara dan Gunung Satalibo yang sejajar ke arah Timur, serta Kampung Komodo ke arah Barat dari pos Loh Liang.

Banu Nggulung merupakan lokasi untuk melihat dan memotret komodo dengan leluasa. Bila ingin kesana Anda wajib didampingi perugas taman nasional atau biasa disebut jagawana. Jaraknya sekitar 2 Km ke arah timur dari Pos Loh Liang, dapat ditempuh selama kurang lebih 45 menit dengan berjalan kaki santai menyusuri jalan setapak alami di antara pepohonan yang sebagian besar memiliki kesamaan dengan pepohonan yang ada di kota Darwin, Australia. Ini mungkin dipengaruhi oleh angin kering yang pada waktu-waktu tertentu berhembus dari negeri kangguru tersebut. Selama perjalanan menuju Banu Nggulung Anda bakal menemukan beberapa komodo berukuran besar dan kecil sedang istirahat atau bahkan menp mangsanya. Obyek yang sama untuk melihat komodo ada di Pulau Rinca dan sejumlah pulau kecil di sekitarnya.

Sedangkan Pantai Merah atau yang dikenal turis asing Pink Beach, merupakan salah satu pesona alam terindah di TNK bahkan mungkin di dunia. Pantainya landai dan berpasir kemerah-merahan menjadi pilihan untuk berjemur sepuasnya. Perairannya memiliki pemandangan bawah laut dengan beragam terumbu karang serta ikan hias yang menakjubkan.

Kalau Anda gemar melakukan kegiatan wisata bahari seperti berenang, snorkeling, menyelam atau sekadar berjemur, Pink Beach adalah tempat yang cocok. Dan yang membuatnya unik, tak jauh dari Pantai Merah yang juga pantai, pasirnya justru berwarna putih. Kalau tak percaya, coba saja naik ke bukit di atas Pantai Merah, pasti Anda akan menemukan keunikan itu.

Lokasi Pantai Merah dapat dicapai lewat darat maupun laut. Kalau dengan perahu motor sekitar 30 menit dari Loh Liang tapi bila menyusuri pantai dari Loh Liang memakan waktu lebih kurang 4,5 jam melewati hutan bakau dan gugusan tebing karang. obyek wisata yang sama dengan terumbu karang dan pantai landai, terdapat di Pulau Lasa dan Pulau Padar. Sedangkan kalau Anda ingin melihat kalong (Pteropus sp) yang jumlahnya ribuan datang saja ke Pulau Kalong.

Tapi bila Anda bermaksud melihat kerbau liar dan panorama laut dari atas perbukitan, pergi saja ke Poreng Sabieta. Letaknya 10 Km ke arah timur Loh Liang. Poreng Sabieta yang memiliki hamparan padang rumput savana, dapat dicapai lewat jalur pendakian alami (natural trail). Tapi harus ditemani jagawana.

Bila Anda belum puas mendaki, lanjutkan pendakian ke Gunung Ara yang berada pada ketinggian 510 meter di atas permukaan laut (dpl). Di sana terdapat areal perkemahan buat wisatawan yang ingin berkemah di alam bebas. Untuk mencapai lokasinya Anda harus menapaki jalur pendakian sepanjang 8 Km dari Loh Liang. Obyek yang sama juga ada di Loh Lima.

Kalau masih kuat terus lanjutkan ke Gunung Satalibo yang merupakan objek kunjungan di Pulau Komodo yang letaknya paling jauh dari Loh Liang. Gunung ini sekaligus menjadi puncak tertinggi Pulau Komodo, tingginya 735 meter dpl. Dari puncaknya, Anda bakal menemukan pemandangan terbuka kawasan lain di seputar Pulau Komodo, lengkap dengan hamparan laut serta pulau-pulau di sekelilingnya. Luar biasa indah.

Setelah puas menyaksikan tingkah komodo dan menikmati semua pesona alam Pulau Komodo, jangan Anda lewatkan untuk singgah ke Kampung Komodo. Lokasi yang kini menjadi tempat berkumpulnya orang asli Pulau Komodo jauh sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai taman nasional, berada di pesisir pantai Pulau Komodo. Tepatnya sekitar 3 Km ke arah Barat dari Long Liang.

Banyak aktivitas menarik yang dapat Anda lihat di sana, bukan sekadar deretan perumahan panggung sederhana dengan lorong-lorong jalannya. Pun beragam aktivitas kehidupan nelayan yang lekat dengan laut serta panorama alam berupa aneka formasi batu karang, bukit-bukit bergelombang dan pesona matahari terbenam. Rumah orang kampung komodo berukuran besar, biasa di tempati oleh beberapa keluarga. Warga setempat memanggil komodo dengan sebutan Ora.

Untuk dapat menjelajahi semua obyek yang terdapat di Pulau Komodo, minimal Anda butuh waktu 6 hari. Bawalah peralatan memancing, snorkeling atau menyewanya di Labuanbajo jika memang bermaksud melakukan kegiatan itu. Datanglah pada musim kunjungan terbaik yakni antara Maret - Juni dan Oktober - Desember.

Kalau Anda ingin menikmati komodo dan obyek wisata alam lain yang ada di Pulau Komodo dapat membeli tiket masuk di Pos Loh Liang. Bila ingin ke Pulau Rinca, langsung ke Pos Loh Buaya. Jumlah wisman yang berkunjung langsung ke Loh Liang, Pulau Komodo jauh lebih banyak daripada wisnus. Karena kerap ramai didatangi turis asing selama beberapa hari, Loh Liang pun akhirnya dijuluki kampung turis.

Soal penginapan selama di Pulau Komodo, Anda tak perlu cemas. Akomodasi di Loh Liang cukup lengkap. Juga ada kafetaria yang menyediakan menu khas laut (sea food) serta koperasi yang menjual cenderamata menarik.

Untuk menikmati isi TNK, Anda dapat lewat dua pintu masuk dari Labuanbajo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Sape, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Bila Anda berangkat dari Jakarta, kedua pintu masuk baik Labuanbajo maupun Bima dapat dicapai dengan tranportasi laut, darat dan udara.

Dari Labuanbajo maupun Sape ke TNK Anda hanya dapat capai lewat laut, yakni dengan menumpang kapal feri, menyewa perahu kayu motor milik nelayan setempat atau pun speedboat. Waktu tempuh dari Labuanbajo ke Loh Liang, pos pembelian tiket masuk di Pulau Komodo sekitar 4 jam dengan perahu kayu motor. Sedangkan dengan speedboat cuma sekitar 1 jam tapi biaya sewanya jauh lebih mahal daripada perahu kayu motor.

Labuanbajo dapat Anda jangkau lewat darat, laut, dan udara. Lewat darat dengan menggunakan bus dari Jakarta, Surabaya maupun Denpasar menuju Labuanbajo. Akhirnya bus ini naik feri juga. Kalau dari Jakarta dengan bus memakan waktu empat hari tiga malam. Sedangkan lewat laut selain dengan feri di atas, juga dapat menggunakan kapal penumpang. Bila tak punya waktu banyak dan ingin cepat sampai, gunakan saja pesawat terbang. Lalu menyambung naik bus ke Sape dilanjutkan dengan speedboat ke Loh Liang.

Mengingat begitu indah dan berbedanya alam, penghuni dan juga iklim Pulau Komodo dan pulau-pulau lain di kawasan TNK, maka tak ada salahnya Anda memilih Taman Nasional Komodo via internett agar terpilih menjadi salah satu 7 keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7Wonders. caranya dengan melakukan vote di http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees. Selamat mem-vote Taman Nasional Komodo Komodo dan menikmatinya langsung.***

Naskah & Foto: A. Adji Kurniawan
(adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP