. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juni 2011

Dilarang Berpacaran di Situs Megalitik Gunung Padang




”Dilarang! Berpacaran di Lokasi Situs, Karena ini Tempat Sakral”. 

Begitu bunyi tulisan yang terpasang di batang pohon besar yan tumbuh di areal Situs Megalitik Gunung Padang. Situs yang konon pada zaman pra sejarah digunakan sebagai tempat peribadatan, rupanya telah berubah fungsi menjadi tempat bermesraan selain lokasi berziarah. Mengapa?

Menurut kuncen (juru kunci) Situs Gunung Padang Abah Dadi, Gunung yang berada di Desa Cimenteng, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini dulunya menjadi pusat peribadatan orang Sunda yang ketika itu masih ber-kepercayaan Sunda Wiwitan. ”Jadi fungsinya dulu semacam Piramida kalau di Mesir,” terangnya.

Gunung Padang, lanjut Abah Dadi menjadi poros atau tengah-tengahnya Jawa Barat. ”Padang itu berasal dari kata Sunda yang artinya pemandangan, karena dari gunung ini dapat dilihat seluruh pemandangan yang mengelilinginya. Bahkan Gunung Gede kelihatan dari sini asal udaranya tak berkabut,” katanya.

Hal yang menarik lagi, banyak orang yang datang berziarah ke situs ini. ”Ada yang berdoa, ada juga yang berucap syukur menjalankan nazar dengan memotong kambing atau sapi bersama beberapa orang kampung karena doanya sudah terkabulkan,” kata Abah Dadi yang mengaku tidak ada warga di desanya yang komplain dengan kedatangan para peziarah.

Pengunjung yang datang bukan cuma dari kalangan warga biasa tapi juga para pejabat atau suruhannya. ”Dulu ada orang dari Jakarta yang syukuran di situs ini. Ketika ditanya, jawabnya ini syukuran buat Pak SBY karena sudah naik jadi presiden,” aku Abah Dadi.

Warga yang datang justru kebanyakan dari luar Cianjur seperti dari Jakarta, Sukabumi, Tangerang, Bekasi, dan daerah lain bahkan ada yang dari Malaysia termasuk beberapa turis asing.

”Belum lama ada datang rombongan dengan dua mobil tiga per empat dari Malaysia. Mereka mendapat informasi keberadaan situs ini dari orang Jakarta,” kata Abah Dadi.

Pada hari-hari tertentu, banyak pasangan muda-mudi yang datang ke sini untuk bermesra-mesraan. ”Ada yang beranggapan pacaran di situs ini bikin hubungan langgeng,” kata Abah Dadi yang kerap menemukan dan melarang pasangan muda-mudi berpacaran di tepat yang dianggap keramat oleh para peziarah ini.

Situs Megalitik Gunung Padang berbentuk bangunan berundak yang terdiri atas 5 halaman atau teras. Masing-masing ukuran teras berbeda. Teras pertama atau teras terbawah berukuran paling besar kemudian berturut-turut sampai ke teras lima yang ukurannya semakin mengecil. Untuk memasuki setiap teras, ada semacam pintu yang ditandai dengan balok batu yang berdiri.

Setiap teras terdapat bangunan-bangunan kecil berupa susunan batu yang belum dikerjakan. Teras kelima atau paling atas diduga bangunan yang dianggap paling suci dan hanya orang-orang tertentu yang diijinkan masuk dalam upacara pemujaan tertentu.

Bentuk bangunan berundak Gunung Padang seperti bangunan berundak lain yang pernah ditemukan di Lemah Duhur, di Baduy Banten Selatan, Lebak Cibedug, dan lainnya dengan teras pertamanya berukuran lebih besar.

Batu Musik
Bangunan berundak Gunung Padang berada di atas sebuah bukit yang memanjang ke arah Tenggara Barat Laut pada ketinggian 885 m di atas permukaan laut.

Untuk mencapai bangunan berundak ini, pengunjung terlebih dulu harus menapaki undakan menanjak sepanjang 185 meter dengan 378 anak tangga dari batu alami.

Sebelum tiba di teras pertama, terdapat dinding teras setinggi sekitar 1-2 meter. Dinding tersebut terlihat jelas di sebelah kiri sebelum masuk teras pertama. Dinding tersebut disusun dari balok-balok batu dengan bahan perekat tertentu yang sudah bercampur tanah karena termakan usia.

Di teras pertama hingga teras berikutnya, terhampar ratusan balok batu tak beraturan, berserakan seperti bangunan kuno yang luluh lantah usai diguncang gempa dasyat. Umurnya diperkirakan 2500-3500 tahun sebelum masehi.

Ada yang beranggapan balok batu-batu tersebut itu terbentuk oleh alam dengan kata lain batu alami yan kemudian disusun oleh orang-orang pra sejarah pada jaman batu. Tapi ada pula yang berkeyakinan batu-batu tersebut diturunkan dari langit.

Yang menarik di teras pertama, selain ada sisa ruangan-ruangan kecil yang ditandai dengan jejeran batu, juga terdapat beberapa balok batu yang kalau diketuk dengan batu kecil menimbulkan suara, karenanya disebut batu musik. ”Pada malam-malam tertentu kerap terdengar alunan musik yang ditabuh orang dengan batu musik itu seperti suara gamelan,” ungkap Abah Dadi.

Naskah & foto: Adji Tropis  IG @adjitropis

Read more...

Selasa, 17 Mei 2011

Keistimewaan Menikmati Borobudur Saat Waisak


Setiap perayaan Waisak, Candi Borobudur kebanjiran ribuan wisatawan. Pada peringatan Hari Tri Suci Waisak 2555 BE tahun ini, Borobudur panen sekitar 20 ribu wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara. Keistimewaan apa yang didapat wisatawan ke candi Budha terbesar di Asia Tenggara ini saat Waisak?

Menurut Manager Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) Pujo Suwarno, angka kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur menjelang perayaan Waisak tahun ini meningkat hingga 4 kali lipat dibanding hari biasa. Setiap harinya, sekitar 3 hingga 4 ribu wisatawan datang sejak Sabtu (14/5). Pengunjung ke Borobudur rata-rata 12 ribu orang per hari. Dan selama perayaan waisak 2011 jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 20 ribu wisatawan.

Mengunjungi Borobudur saat perayaan Waisak jelas beda dibanding pada hari biasa. Ada atmosfir lain yang tak mungkin didapat kalau wisatawan datang diluar peringatan hari kelahiran Sidharta Gautama, Sang Budha itu.

Atmosfir yang berbeda itulah yang membuat wisatawan rela mengeluarkan kocek lebih untuk datang ke Borobudur. Maklum biasanya jelang Waisak, harga tiket pesawat ke Jogja melonjak.

Pengunjung yang datang dari berbagai daerah dan kota di Indonesia. Bahkan para bhiksu dan bhiksuni yang hadir bukan cuma dari seluruh Tanah Air, tapi juga dari Thailand, Tibet, Laos, Myanmar, Singapura, dan Kamboja.

Atmosfir berbeda yang dapat dilihat dan dirasakan wisatawan adalah menyaksikan serangkaian acara atau prosesi Tri Suci Waisak yang tahun ini bertema mencari kebahagiaan dalam diri sendiri.

Prosesi perayaan waisak tahun ini diawali dengan ziarah ke makam pahlawan, kemudian diikuti pengambilan air suci di Jumprit Temanggung, dan pengambilan api abadi di Mrapen, Grobogan, serta pengobatan massal. Kemudian dilanjutkan dengan kirab suci atau arak-arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur sejak pagi, dan pada malam harinya diteruskan dengan detik-detik Waisak serta acara penutupan di komplek candi Buddha yang didirikan pada Wangsa Syailendra 800 tahun Sebelum Masehi ini.

Kirab Suci 3 Km
Kirab suci atau arak-arakan, merupakan prosesi yang paling menyedot perhatian wisatawan. Maklum acara inilah yang membuat atmosfir Borobudur terasa berbeda dibanding hari biasa.

Tahun ini, kirab suci ini dilakukan ribuan umat Budha bersama para biksu Dewan Sangga Perwakilan Umat Budha Indonesia dengan berjalan kaki dari Candi Mendut melewati Candi Pawon menuju pelataran Candi Agung Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (17/5), sepanjang sekitar 3 Km.

Prosesi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, setelah mereka berdoa dan membaca parita di depan altar di Barat Candi Mendut dipimpin para biksu masing-masing sangha Walubi.

Peserta kirab ada yang membawa puluhan bendera Merah Putih, bendera Walubi dan Dewan Sangha Walubi. Sedangkan para biksu senior membawa replika Sang Budha dengan patung Budha berwarna kuning keemasan menaiki kendaraan hias berbentuk kapal.

Ada juga barisan pengusung sejumlah tandu yang berisi air suci dan api dharma Waisak. Semua perlengkapan prosesi itu akan ditempatkan di pelataran utama Candi Borobudur.

Sementara peserta lainnya memegang bunga sedap malam sambil melantunkan parita suci. Ada juga umat dan bhiksu yang membawa hasil bumi (buah-buahan, sayur-sayuran, padi, ketela dan lainya).

Dalam kirab ini juga diramaikan barisan penari tradisional Magelang Topeng Ireng yang berasal dari sejumlah grup kesenian. Ada juga peserta yang merias diri bak tokoh dalam sejarah perjalanan Buddha ke Utara mencari kitab suci seperti Kera Sakti, Bikkhu Tom Sam Chong, Dewa Api, Dewa Langit dan Dewa Bumi.

Atmosfir berbeda lainnya saat acara detik-detik Waisak di pelataran Barat Candi Borobudur, Selasa malam (17/5). Acara detik-detik Waisak tahun ini dimulai pukul 18.08.23 WIB, dipimpin Bante Wongsin Labhiko Mahatera dari Thailand.

Dalam acara itu, wisatawan dapat melihat ribuan umat Buddha yang hadir melakukan meditasi dan perenungan selama sekitar 10 menit. Mereka melakukan sikap anjali yakni duduk bersila dan tangan bersedekap di depan dada. Mereka khusyuk menghayati perjalanan Pangeran Siddharta Gautama, sang mahaguru yang menjadi contoh dan teladan hidup mereka.

Seusai pembacaan parita dari 15 majelis di dalam agama Buddha, para umat Budha menyalakan lilin dan melakukan upacara pradaksina, yakni mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam.

Seribu Lampion
Dan yang lebih istemewa lagi, tahun ini wisatawan dapat menikmati Candi Bodobudur bermandi cahaya lampion pada malam hari. Pasalnya usai pradaksina, acara dilanjutkan dengan penyalaan sekitar 1.000 lampion. Ketua Umum Walubi, Hartati Murdaya menjadi orang pertama yang menyalakan lampion, diikuti para bikhu dan bikhuni.

Malam itu candi Borobudur pun menjadi terang benderang oleh cahaya lampion sumbangan dari umat Budha. Pelepasan lampion sebagai tanda perdamaian dan penerang di dunia itu menjadi penutup acara perayaan Waisik 2011.

Menurut salah seorang biksu, lampion dikalangan umat umat Budha merupakan simbol cahaya penerangan dengan harapan kehidupan ini selalu terang dalam segala hal.

Bagi umat Budha, Candi Borobudur adalah tempat suci sebagaimana Ka’bah bagi umat muslim. Perayaan Waisak sekali setahun merupakan peluang besar untuk menjaring wisatawan sebanyak mungkin. Karena pada saat itulah ribuan umat Budha termasuk wisatawan berdatangan ke candi megah ini dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara.

Asal pelayanan, keramahan, dan fasilitas pendukung bagi umat Budha dan ribuan wisatawan terpenuhi, pasti mereka akan datang kembali. Tapi bila hanya mencari keuntungan sesaat tanpa mengindahkan hal-hal tersebut, wisatawan terutama akan kapok datang lagi ke candi peninggalan kerajaan Mataram Kuno ini saat Waisak.

Dan itulah yang mesti diperhatikan oleh bukan hanya panitia penyelenggara, instansi terkait, dan industri pariwisata, tapi juga seluruh lapisan masyarakat.


Naskah & Foto: Adji Kurniawan
(adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 15 Mei 2011

Si Denok dan Tanaman Herbal Istana Presiden


Sama-sama istana kepresidenan. Sama-sama di Jawa Barat. Yang satu bersampingan dengan Kebun Raya Bogor, kaki Gunung Salak. Satunya lagi di Cipanas, kaki Gunung Gede. Tapi masing-masing punya koleksi berbeda. Apa saja isi utama dua istana cantik peninggalan Belanda ini?

Istana Presiden Bogor yang dibangun Gubernur Jenderal Hindia Belanda Baron Gustaf Willem Van Imhof pada tahun 1745, beberapa tahun ini menjadi hunian ratusan rusa berbintik. Hewan bertanduk ini berkeliaran di halaman hijau seluas sekitar 1,5 hektar. Jumlahnya diperkirakan hampir mencapai 1.000 ekor.

Tak sulit melihat satwa pemakan dedaunan dan sayuran di istana ini. Dari pagar luar istana, pengunjung bisa melihatnya dengan jelas. Bahkan banyak pengunjung yang memberikannya makanan saat melintas di depan jalan raya depan pagar halaman istana.

Koleksi Istana Bogor lain yang berada di sekitar halaman gedung utama adalah patung. Tidak jauh dari gerbang masuk Pintu 3 istana, tepatnya di samping Gereja Zebaoth Jl. Ir. H. Juanda ada patung perempuan elok tanpa busana yang berdiri di bawah pohon beringin. Patung perempuan molek itu adalah satu dari 360 patung yang menghiasi Istana Bogor. Sebagian besar patung tersebut berkelamin perempuan tanpa busana dengan berbagai gaya.

Salah satu yang paling menarik perhatian adalah patung cantik Si Denok karya Trubus. Si Denok, pemberian nama dari Soekarno ini berada di pinggir kolam di depan istana. Konon sosok patung tersebut adalah istri seorang karyawan Istana. Karena kemolekan dan ukurannya yang lebih besar dari patung lain, Si Denok kerap jadi obyek foto pengunjung.

Masih di depan gedung utama, ada patung perempuan lagi tanpa busana, bertubuh ramping sedang berdiri mengangkat kedua tangannya. Patung ini bernama “patung pemohon hujan”. Mungkin juga karena patung ini, Kota Bogor kerap diguyur hujan. Hmmm.., tidak masuk akal.

Di dalam gedung utama Istana Bogor, juga terdapat sekitar 450 lukisan yang sebagian besar lagi-lagi berobyek perempuan. Beberapa di antaranya karya Basuki Abdullah dan pelukis Rusia, Makowsi dan Ernest Dezentje.

Jalan Seribu Pandang
Lain lagi dengan Istana Presiden Cipanas yang dulunya bekas rumah pribadi milik seorang tuan tanah Belanda yang dibangun 1740. Istana ini juga punya koleksi lukisan Soedjono DS yang dihadiahkan khusus buat Presiden Soekarno.

Keunikan lukisan yang dibuat tahun 1958 ini, saat dipandang dari berbagai sudut, jalan yang tergambar dilukisan itu tetap lurus mengikuti arah pandangan kita. Karenanya lukisan itu diberi judul ”Jalan Seribu Pandang”, padahal nama aslinya ”Jalan Menuju Kaliurang”.

Istana yang terletak di Desa Cipanas, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur ini memiliki sumber air panas yang bersumber dari Gunung Gede. Karena mempunyai sumber air panas itulah dahulu dibangun gedung kesehatan. Sekarang gedung itu menjadi ruang pemandian presiden dan tamu negara.

Di bagian belakang gedung induk terdapat meja bundar yang sangat bersejarah, peninggalan Presiden RI pertama Soekarno. Desainnya antik. Bisa ditarik sehingga berbentuk oval. Sejak dulu meja tersebut ditempatkan di tempat semula.

Istana ini juga memiliki rumah kebun dan taman istana. Di taman istana tercatat ada lebih 1.300 spesimen tanaman dari dalam dan mancanegara, di antaranya sejumlah pohon langka, pohon dari Afrika, dan ratusan jenis tanaman herbal di Taman Herbalia seluas 2.600 meter yang ditanam seusai keinginan Presiden SBY dan Ani Yudhoyono pada 2008. Tanaman herbal yang ditanam di taman itu antara lain kumis kucing, brotowali, kunyit, asam, jahe, lengkuas, dan aneka temulawak lainnya.

Berlibur ke istana kepresidenan baik di Bogor maupun di Cipanas jadi pengalaman berkesan. Selain udaranya sejuk dan segar, pengunjung bisa melihat dan memotret Si Denok yang montok di Istana Bogor atau membeli tanaman herbal tertentu yang dijual di rumah kebun Istana Cipanas.

Untuk mengunjungi kedua istana kepresidenan ini, pengunjung tidak dipungut bayaran alias gratis. Cukup menyampaikan surat izin kunjungan dengan melampirkan salinan KTP minimal 10 orang. Saat berkunjung diharuskan berpakaian santun. Tapi kalau presiden secara tiba-tiba datang, waktu kunjungan dibatalkan.

Nakah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 06 Januari 2011

Kemenbudpar Ikut Bantu Pemugaran Situs Bung Karno



Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) akan ikut membantu pemugaran Situs Bung Karno di Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Ada empat situs Bung Karno yang rencananya akan dipugar yakni rumah yang sehari-hari digunakan Bung Karno, taman tempat bersemedi, lokasi tempat pementasan drama yang ditulisnya selama pembuangan, dan makam mertua Bung Karno, Inggit Gunarsih.

”Pemugaran ini atas inisiatif Wapres Boediono sewaktu beliau meninjau wilayah ini pada masa kampanye pemilu 2009 lalu. Dan kemudian dibentuk yayasan untuk memugar situs tersebut. Sekarang sedang dalam tahap studi lokasi,” jelas Menbudpar Jero Wacik usai menghadiri acara pelantikan dekan Fakultas Pariwisata Universitas Pancasila, di Depok Raya, Rabu (5/1/2011).

Pemugaran Situs Bung Karo di Ende, lanjut Jero Wacik sangat tepat dilakukan sebagai bentuk penghargaan terhadap pahlawan bangsa. ”Konon di tempat ini, tepatnya di bawah Pohon Sukun yang ada di taman depan rumah bekas pembuangan Bung Karno di Ende, Bung Karno pada usia 35 tahun kerap merenung hingga muncul bibit-bibit 5 sila yang kemudian dikenal dengan Pancasila,” jelasnya.

Dengan pemugaran situs ini, tambah Jero Wacik kelak Situs Bung Karno di Ende akan menjadi onyek wisata sejarah yang menarik dan mampu mendatangkan wisatawan lebih banyak lagi ke Ende. ”Yang terpenting dengan pemugaran situs ini menjadi tempat belajar bagi anak-anak penerus bangsa agar menjadi orang-orang yang berjiwa pancasilais, ” jelasnya.

Orang Ende, Flores Timur tambah Jero Wacik, harus bangga daerahnya menjadi tempat pembuangan Bung Karno hingga dikenal dan tercatat dalam sejarah. Sebelumnya Bupati Ende, Don Bosco Wangge, usai menghadiri pertemuan dengan Wapres Boediono di Istana Wapres, Jakarta, Kamis (7/10/2010) mengatakan rencana pemugaran Situs Bung Karno di Ende sangat didukung masyarakat Ende. ”Dana pemugarannya diperkirakan sekitar Rp 30 miliar, tapi saya belum tahu pasti karena yang urus timnya Pak Wapres,” akunya.

Keikutsertaan Kemenbudpar dalam pemugaran Situs Bung Karno juga diakui Dirjen Sejarah dan Purbakala, Kemenbudpar Aurora Tambunan. Menurutnya, Jero Wacik sudah memberikannya tugas untuk ikut bergabung dalam yayasan yang diusulkan Wapres Budiono dan turut memfasilitasi pemugaran situs tersebut. ”Jero Wacik sudah memberi tugas kepada saya, dan akan menyisihkan anggaran 2011 untuk itu. Saya pikir pemugaran situs ini memang sudah semestinya dilakukan karena sangat kuat penanaman karakter bangsanya,” jelas Aurora.

Rencana pemugaran Situs Bung Karno ini boleh dibilang telat. Seharusnya sudah dipugar sejak dulu mengingat kondisinya sangat kurang menarik sebagai obyek wisata sejarah berhistoris tinggi.

Berdasarkan pantauan langsung Travelplusindonesia, kondisi rumah tempat Bung Karno dibuang pada masa penjajahan Belanda selama 4 tahun dari tahun 1934-1938 itu kurang tertata dengan baik. Padahal di dalam rumah tersebut banyak peninggalan bersejarah seperti peralatan rumah yang digunakan Bung Karno, termasuk sejumlah naskah drama dan lainnya serta buku-buku peninggalan. Bahkan Pohon Sukun yang menginspirasi Soekarno membuat lima sila Pancasila saat melihat pohon bercabatang lima itu hingga kini masih berdiri tegak dan dirawat oleh Pemkab Ende.

Bila pemugaran situs ini benar-benar terlaksana dengan baik dan hasilnya maksimal, dipastikan wisatawan baik nusantara maupun mancangera akan lebih tertarik untuk berkunjung ke situs tersebut mengingat Ende menjadi pintu masuk wisata ke Danau Kelimutu atau Danau Tiga Warna dan juga ke obyek-obyek wisata lain di Flores Timur serta ke Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo di Flores Barat.

Selama ini situs tersebut kurang mendapat perhatian pengunjung, hanya segelincir wisatawan tertentu saja yang datang. Pasalnya, selain obyeknya kurang terawat dan apa adanya, promosinya juga kurang gencar padahal lokasinya di pusat Kota Ende.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Ucu, Pusformas Kemenbudpar & Dok.ist

Read more...

Kamis, 23 Desember 2010

Tempayan Purba Ditemukan di Lore Lindu



Sejumlah tempayan purba berhasil ditemukan tim peneliti Puslitbang Arkenas di Taman Nasional Lore Lindu tepatnya di Lembah Bada, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Hasil penemuan penelitian tahun 2010 ini diberi label Komplek Situs Tempayan Kolori dan Mungku Ilu.

Selain tempayan purba dari tanah liat yang diperkirakan sebagai tempayan kubur, penelitian bertajuk Megalitik Lembah Bada ini berhasil menemukan beberapa arca megalitik dan kalamba (stones vats) yang mempunyai kemiripan dengan arca-arca megalitik yang ada di Laos.

“Kalamba bentuknya memang seperti tempat air padahal dulunya digunakan untuk menempatkan tulang-belulang orang mati. Ukuran kalamba bermacam-macam. Satu kalamba ada yang berkapasitas untuk 1 sampai dengan 12 orang. Tutup kalamba ada yang berhias dengan motif hewan seperti monyet, binatang melata, dan juga muka manusia. Ada juga yang polos, tidak bermotif,” kata Dwi Yani Yuniwanti, ketua tim peneliti Megalitik di Lembah Bada dari Puslitbang Arkenas di Jakarta beberapa waktu lalu.

Puslitbang Arkenas baru kali ini mengadakan penelitian lagi di Lore Lindu khususnya di Lemba Bada. “Pertama kali meneliti tahun 1995 di Lemba Lore. Setelah itu tidak ada penelitian karena daerah tersebut ketika itu masih ada konflik Poso,” jelas Dwi.

Terkait tentang pemberian label pada sejumlah situs di Lore Lindu yang menuai kritikan, Dwi menjelaskan itu memang pernah terjadi dan kesalahan dalam pemberian label. “Ketika itu ukuran label terlalu besar di situsnya hingga dikritik terutama oleh fotografer bukan ahli arkeologi. Tapi kini label itu sudah terhapus. Ada juga yang diberi tapi dalam ukuran kecil. Tapi saya akui itu tetap kesalahan,” akunya.

Untuk penelitian kali ini, pengumpulan data arkeologisnya melalui survei dan ekskavasi di situs-situs terpilih di kawasan Lembah Bada yakni Situs Kolori dan Mungku Ilu.

Penelitian ini, lanjut Dwi diharapkan dapat memberikan sumbangan data mengenai karakter-karakter budaya penutur bahasa Austronesia-Protosejarah. Dan juga memberikan tambahan data terhadap peta dan jalur-jalur migrasi lanjutan (Austronesia-Protosejarah), dalam hubungannya dengan kebijakan pemerintah. ”Hasil penelitian ini akan menjadi masukan dalam upaya pelestarian lingkungan maupun pelestarian warisan budaya bangsa guna memberikan identitas jati diri bangsa,” ungkapnya.

Dari hasil penelitian ini Dwi berharap segera ada penanganan untuk pelestarian dan pengamanan Komplek Situs Tempayan Kolori dan Mungku Ilu. “Penelitian ini harus berkesinambungan dengan menentukan batas luasan situs, karakter situs, pertanggalan, dan untuk mengetahui hubungan dengan megalitik lainnya. Di samping untuk pengembangan museum situs (open site museum),” terangnya.

Lembah Bada, Besoa, dan Lembah Napu di TN Lore Lindu kaya akan peninggalan megalitik. “Ketiga lembah tersebut dulu pernah diusulkan menjadi salah satu world heritage ke UNESCO. Namun entah kenapa sekarang tidak diusulkan lagi,” kata Dwi dengan nada menyayangkan.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok Puslitbang Arkenas

Read more...

Kamis, 25 November 2010

Pembangunan Karakter Bangsa Never Ending



Pembangunan karakter bangsa itu tidak boleh berhenti dalam satu generasi, never ending. Harus terus dibangun dari generasi ke generasi sesuai jamannya agar tercipta generasi yang nasionalis dan patriotis.

Begitu disampaikan Sekjen Kemenbudpar Wardiyatmo saat membuka acara Diskusi Forum Badan Koordinasi Hubungan Masyarakat (Bakohumas) antarkementerian, di Museum Nasional Jakarta, Kamis (25/11/2010).

Salah satu wadah langkah membangun karakter bangsa adalah dengan membuat Undang Undang Cagar Budaya (UUCB) baru yang sudah mendapatkan nomor yakni Nomor 12 tahun 2010. Undang-undang baru yang menggantikan Undang-Undang Benda Cagar Budaya No. 5 tahun 1992 ini dibuat dalam rangka membangun karakter bangsa agat tetap hidup. Kalau karakter masyarakat suatu bangsa tidak ada maka karakter bangsa itu akan hilang,” jelasnya.

Pembangunan karakter bangsa, sambungnya, harus dilakukan sejak dini, terutama kepada generasi muda Indonesia selaku penerus bangsa.

Melihat pentingnya karanter bangsa, lanjut Wardiyatmo sampai Presiden SBY membentuk sebuah kebijaksanaan pembangunan karakter bangsa yang pelaksaaannya dikoordinir oleh Menkokesra “Nantinya peraturan mengenai pembangunan karakter bangsa dalam bentruk kepres. Instansi yang terkiat antara lain Kementerian Pendidikan Nasional, Agama, Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata,” jelasnya.

Revitalisasi Museum
Dirjen Sejarah dan Purbakala Kemenbudpar Aurora Tambunan dalam paparannya yang bertajuk “Pembentukan Karakter Bangsa melalui Revitalisasi Museum”, mengatakan museum juga menjadi salah satu wadah pembentukan karakter bangsa mengingat museum sebagai jendela bangsa dan ruang publik yang dapat diakses oleh semua masyarakat, dan sebagai media pembelajaran. “Sayangnya kondisi museum kita masih banyak yang belum menarik. Solusinya dengan merivitalisasi museum”, jelasnya.

Jumlah museum di Indonesia, sambung Aurora ada 275 museum namun keberadaannya belum mampu memenuhi keinginan masyarakat secara optimal. Revitalsisasi museum yang dilakukan sampai 2014 meliputi perbaikan museum, kualitas pelayanan dan penataan benda-benda museum serta meningkatkan SDM pengelola museum agar lebih profesional. “Tahun 2010 ada 6 museum yang direvitalisasi, 35 museum tahun 2011,11 museum tahun 2012, 15 museum tahun 2013, dan pada 2014 ada 20 museum,” terangnya.

Dari hasil diskusi terlontar beberapa masukan terkait revitalisasi museum dari sejumlah peserta, antara lain untuk pengelola museum harus kreatif dan inovatif dalam mengemas kegiatan untuk menjaring pengunjung datang ke museum, melibatkan peran media sebanyak mungkin untuk mengekspos kegiatan museum, memanfaatkan media online seperti website dan webblog untuk menyebarluarkan informasi kegiatan museum termasuk koleksi terbaru.

Acara diskusi Forum Bakohumas yang diikuti oleh perwakilan dari staff humas berbagai kementerian, antara lain Ketua Bakohumas Subagio, diakhiri dengan tur keliling Museum Nasional.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Tri Akbar Handoko, Pusformas, Kemenbudpar

Read more...

Kamis, 11 November 2010

Erupsi Merapi 2010 Torehkan Rekor Baru


Letusan Merapi tahun ini berhasil menorehkan rekor baru dari jumlah material yang dilontarkan dan masa erupsinya. Rekor baru tersebut memecahkan rekor terakhir yakni letusan hebat tahun 1872. Keberhasilan ini memang bukan berita baik, pasalnya derita dan kehancuran yang diakibatkannya juga bertambah.

Pada tahun 1872 letusan Merapi mengeluarkan material vulkanik sebanyak 100 juta meter kubik. Tapi tahun ini salah satu gunung teraktif di dunia ini mengeluarkan material vulkaniknya sebanyak 147 juta meter kubik.

Masa letusan Merapi 2 abad silam itu berlangsung selama 120 jam. Tapi tahun ini bererupsi lebih dari 192 jam, bahkan masih berlangsung hingga hari ini.

Berdasarkan pantauan tim Pusat Vulkanolagi dan Mitigasi bencana, sampai Rabu malam tercatat gempa vulkanik sebanyak 5 kali disertai guguran 9 kali dan luncuran awan panas sebanyak sekali. Oleh karenanya status gunung yang terletak antara Jawa Tengah dan Yogyakarta ini masih tetap tak berubah yakni dalam level Awas.

Keaktifan dan statusnya membuat pihak pemerintah menganjurkan masyarakat tetap menjaga radius jarak aman 20 Km dari puncak Gunung Merapi.

Kerugian Hebat
Kerugian akibat letusan merapi tahun ini pun juah lebih besar. Kerugian dari kerusakan di Desa Kepuharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang hancur lebur saja diperkirakan mencapai lebih dari Rp 300 miliar. Hitungan itu berdasarkan penilaian sebelum letusan terjadi, ada 400 hektar lahan yang ditanami jati, salak, dan padi. Ditambah 300 rumah dan 4.000 ekor sapi.

Kini desa yang berjarak 14 Km dari puncak Merapi seperti desa mati, akibat terjangan wedhus gembel (awan panas) bersuhu 600 derajat celcius dari letusan Merapi.

Kerugian juga lainnya merusak 867 hektar hutan di kawasan gunung ini yang berada di wilayah Kabupaten Sleman dengan total kerugian sekitar Rp 33 miliar. Luas hutan yang rusak itu terdiri dari hutan negara di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), hutan rakyat, dan kebun rakyat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah total korban tewas Merapi untuk sementara mencapai 116 orang dan korban luka 218 orang . Diperkirakan korban tewas akan terus bertambah.

Sedangan catatan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman tentang jumlah sapi yang tewas di wilayah Sleman saja sebanyak 275 ekor yang tersebar di Kinahrejo, Pelemsari, Kaliadem, dan Ngrangkah. Belum kerusakan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang tergerus lahar dingin Merapi, termasuk kerusakan di sejumlah bangunan cagar budaya seperti Candi Borobudur, Prambanan, dan lainnya akibat hujan debu Merapi.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Ist

Read more...

Senin, 08 November 2010

Arca Borobudur Kembali Berselimut Debu Merapi



Sehari pasca-erupsi jilid dua Gunung Merapi, Kamis malam (4/11/2010), debu vulkaniknya kembali menutupi sejumlah arca dan stupa Candi Borobudur. Kali ini ketebalannya mencapai 1,5 hingga 2 Cm. PT Taman Wisata Candi Borobudur dan Ratu Boko (PT TWCB & RB) menutup candi Budha terbesar di Asia Tenggara ini untuk sementara waktu.

"Pengunjung hanya diijinkan masuk dari halaman candi hingga selasar kaki. Tidak diperbolehkan ke badan candi untuk sementara waktu," kata Kepala Balai Konservasi Peninggalan Borobudur Drs. Marsis Sutopo, M.Si kepada Pusat Informasi dan Humas, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Jakarta, Jumat (5/11).

Hujan debu Merapi menutup hampir seluruh permukaan candi, antara lain lantai 7,8,9,10 bagian Arupadatu dan 73 stupa serta sejumlah arcanya. Debu halus berwana keabu-abuan ini juga menumbangkan sejumlah pohon di sekitar pelataran lantaran tidak kuat menahan beban debu yang menempel di daun dan rantingnya. "Kami masih menunggu perkembangan kapan candi Borobudur akan dibuka kembali seutuhnya mengingat situasi sulit diprediksi," jelasnya.

Seperti diberitakan Travelplusindonesia sebelumnya, pada letusan pertama Merapi (26/10/2010), debunya menutupi sebagian candi hanya setebal 2-3 milimeter. Ketika itu 50 petugas Balai Konservasi Peninggalan Borobudur dan TWCB & RB membersihkan candi dan berhasil mengumpulkan sekurangnya 56 ember debu pada tahap pertama. Pihak pengelola menutup sementara hingga hari Sabtu (30/11), pengunjung hanya diizinkan masuk ke halaman candi sampai lorong pertama candi. Sehari kemudian, candi ini dibuka kembali untuk umum.

Dampak penutupan pertama dan kedua kali ini berimbas pada jumlah kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur. "Jumlah pengunjung Candi Borobudur turun sekitar 10 persen dari rata-rata pengunjung dalam kondisi normal 2.500 orang per hari. Butuh waktu untuk pemulihan pengunjung ke posisi normal sekitar satu tahun sebagaimana pengalaman dampak letusan Merapi 2006 lalu," jelas Kepala Unit TWCB, Pujo Suwarno.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Balai Konservasi Peninggalan Borobudur

Read more...

Kamis, 14 Oktober 2010

Pencurian 600 Fosil Sangiran Berhasil Digagalkan



Pencuri-an ilegal sekitar 600 fosil dari Situs Manusia Purba Sangiran, Jawa Tengah berhasil digagalkan Polsek Kali-jambe pada Rabu malam tanggal 13 Oktober 2010. Penemuan ini memberi banyak hikmah sekalagus pembelajaran bagi semua pihat terkait, termasuk masyarakat. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala (Ditjen Sepur), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Aurora Tambunan di Jakarta, Kamis (14/10/2010).

Menurut Aurora pencurian ini terjadi disebabkan banyak unsur seperti kemiskinan dan unsur mau cepat dapat uang atau easy money, sehingga banyak orang tidak terlalu mengerti bahwa apa yang dilakukannya itu salah. “Kejadian ini harus bisa membuat semua pihak terkait seperti polisi, petugas pelabuhan, daan lainnya untuk lebih berhati-hati dan senantiasa waspada menjaga kemungkinan adanya pencurian lagi, “ jelasnya.

Direktur Peninggalan Purbakala, Junus Satrio Atmodjo menilai kasus pencurian fosil Sangiran ini adalah sindikat besar. “Kita tidak bisa lihat orang per orang. Ini jaringan yang terorganisir karena ada pencari, pengumpul, pengantar dan penadahnya,” jelasnya.

Fosil-fosil yang berhasil digagalkan itu, lanjut Junus sudah diklasifikasi oleh aparat Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran. “Jumlahnya sekitar 600 potong. Ada tulang belulang dari badak, gajah jenis stegodon yakni gajah purba berusia 1 juta tahun lalu yang sudah punah, gigi geraham gajah stegodon, dan kepala buaya purba jenis gavial yang harga jualnya mendekati 1 miliar. Apalagi bila tengkorang buaya itu utuh, masih ada gigi dan rahang bawahnya, pasti harganya lebih mahal,” terangnya.

Selain fosil itu, lanjut Junus, saya juga mendapatkan foto gading gajah yang sudah diubah menjadi butiran manik-manik dalam beberapa keranjang. “Satu butir manik itu dijual 30 dollar USA, tergantung besar dan kualitas. Saya pernah lihat manik-manik gading gajah purba itu diperdagangkan secara komersial lewat internet,” katanya.

Menurut Junus lagi, kelihatan fosil-fosil curian tersebut ditemukan dengan cara digali. “Biasanya dijual dalam potongan, tapi ini dijual utuh. Ini ada indikasi bahwa pemesannya adalah orang-orang atau lembaga-lembaga khusus. Bukan orang atau lembaga biasa. Ini jadi pertanyaan besar. Kita ingin ketahui siapa orang atau lembaga yang secara terencana datang lalu menggali dan mengumpulkan fosil sebanyak itu,” paparnya.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Polsek Kalijambe, ada 6 tersangka yang dtahan atas dugaan pencurian fosil Sangiran tersebut. Keenam tersangka itu Wasimin- warga Sangiran dan sekaligus pemilik yang merupakan pemain lama, Mujiono-penunjuk jalan, Ari Nugroho-sopir truk, Suparso-kenek, Dennis Bradley-warga negara asing sebagai pembeli yang tengah diselidiki kewarganegaraan aslinya, dan Philip Robinson-orang Bali kelahiran Kupang.

Status mereka, kata Junus baru level pengumpulan informasi, dalam proses penyelidikan belum sampai penyidikan. Dalam beberapa hari lagi statusnya akan berubah bila terbukti.

Buat Lembaga Terpadu
Atas kejadian ini, Aurora Tambunan berencana akan membuat kelembagaan terpadu yang terdiri atas unsur pemerintah pusat, provinsi, kabupaten dan pihak terkait lainnya untuk sama-sama menjadi satu kesatuan bekerja.

“Sementara kita baru punya Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran yang diisi sejumlah aparat yang berkerja untuk itu di Sangiran. Kami belum ada rencana secara kongkrit membeli tanah dalam kawasan tersebut lalu di pagar. Untuk sementara ini kita hanya mensosialisaikan kepada masyarakat bahwa fosil-fosil di Sangiran yang mereka temukan baik disengaja atau tidak itu bukanlah barang dagangan. Fosil-fosil ini merupakan kekayaan bumi Indonesia yang bukan untuk di perdagangan,” jelasnya.

Situs Manusia Purba Sangiran merupakan situs yang paling banyak memiliki temuan manusia purba di dunia. Menurut Junus, ada 4 situs manusia purba di dunia, yakni di Kenya (Afrika), Jerman (Eropa), China, dan Sangiran (Indonesia). Namun yang paling banyak ditemukan manusia purba jenis Homo Erectus adalah Sangiran.

“Di Sangiran pernah ditemukan fosil manusia purba Homo Erectus berusia 1,3 juta-1,5 juta tahun lalu. Juga sejumlah fosil bermacam hewan purba seperti kuda nil, gajah, dan buaya. Oleh karena itu situs ini kerap diburu oleh orang-orang yang ingin mendapatan uang dengan cepat, termasuk masyarakat sekitar yang tinggal di Sangiran” jelasnya.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok Ist.

Read more...

Empat Menteri Akan Tandatangani RUU Cagar Budaya yang Baru


Penanganan Cagar Budaya di Indonesia kini memasuki babak baru dengan keberadaan UU Cagar Budaya yang baru. Empat menteri ditugaskan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendatangani RUU tersebut tanggal 18 Oktober 2010. Mampukah UU tersebut menangani segala permasalahan Cagar Budaya kita?

Pengumuman penandatangan RUU Benda Cagar Budaya yang baru itu disampaikan Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Aurora Tambunan di Jakarta, Kamis (14/10/2010), usai konferensi pers tentang keberhasilan kepolisian menggagalkan pencurian ratusan fosil Sangiran.

Keempat menteri tersebut, lanjut Aurora adalah Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Menteri Hukum dan HAM (Menhumham), dan Menteri Dalam Negeri (Mendagri). “Keempat menteri tersebut ditugaskan Presiden SBY untuk mewakili beliau membahas tentang UU Cagar Budaya baru untuk hadir dalam Rapat Kerja (Raker) Komisi X DPR RI sekaligus menandatangani draft final RUU tersebut tanggal 18 Oktober, pukul 7 malam,” jelasnya.

UU Cagar Budaya yang baru ini, tambah Aurora merupakan suatu prestasi yang membanggakan, mengingat banyak hal-hal baru berupa perbaikan dari UU Cagar Budaya yang lama No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya (BCB), yang dirasa sudah ketinggalan jaman. “Dulu urusan cagar budaya dianggap sebagai urusan pemerintah saja dan kalau ada masalah yang disalahkan selalu pemerintah. Sekarang kita libatkan masyarakat dan pemerintah daerah. Dan ini buktinya kalau ada kerjasama yang baik, kita dapat bekerja dengan baik pula, salah satu contohnya kita berhasil menggagalkan pencurian fosil di Sangiran baru-baru ini,” kata Aurora.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 20 Juli 2010

Monumen Jenderal Sudirman Pascakabar Pelelangan



Hingga detik ini dia masih berdiri kokoh. Tenang dan tentu saja gagah. Sedikit pun dia tidak peduli dan ambil ambil pusing apa kata orang yang sedang hangat membicarakannya. Ada yang kecewa keberadaannya lalu meminta ganti rugi. Ada yang menentang pelelangannya. Ada pula yang terus mendukung kehadirannya. Dia cuma diam dan terus bertahan diterpa panas siang dan dibalut dingin malam. Entah sampai kapan.

Suasana di kawasan patung perunggu Jenderal Sudirman setinggi 8 meter yang berdiri di Dusun Sobo, Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan ini semula tenang, adem ayem saja. Termasuk suasana sekitar rumah yang pernah didiami Sudirman ketika bergerilya, pada April-Juli 1949.

Namun pertengahan Juli lalu, seketika atmosfirnya berubah ‘panas’ setelah tersiar kabar pelelangan patung dan bekas rumah atau markas Jendral Soedirman itu yang dilakukan oleh pihak ahli waris Roto Suwarno –bekas ajudan Jenderal Soedirman semasa perjuangan- di dua situs internet.

Pihak ahli waris meminta ganti rugi aset bangunan kepada pemerintah senilai Rp 40 miliar. Padahal menurut taksiran tim Pemkab Pacitan, nilai aset yang dibangun Roto Suwarno hanya sekitar Rp 4,2 miliar.

Pelelangan itu dikecam warga dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Pacitan. Demontrasi pun terjadi (19/7) lalu. Puluhan warga mendatangi kawasan wisata sejarah Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman sambil membawa poster, mendesak agar aset bersejarah itu tidak dilelang. Penolakan senada juga sampai Jakarta. Ketua Paguyuban Warga Pacitan (PWP) di Jakarta dan Menbudpar Jero Wacik pun menyayangkan adanya informasi lelang tersebut.

Penyelesaian permasalahan mengenai ganti rugi tanah monumen ini antara pemilik tanah dengan Pemkab Pacitan hingga kini masih belum menemui titik temu.

Riwayat Monumen
Pembangunan kawasan monumen sejarah ini dimulai 1981-1993 atas prakarsa pribadi Roto Suwarno. Karena pembangunan terbengkalai lama, kemudian pada 2006 diusulkan direvitalisasi sejalan gagasan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Tahun 2007 dilakukan revitalisasi Monumen Jenderal Sudirman, melibatkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Pekerjaan Umum, dan Panglima TNI. Pembangunannya selesai 22 Juli 2008 dan diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertepatan dengan Hari Juang Kartika ke-63 atau HUT TNI AD ke-63, pada 15 Desember 2008 lalu.

Kompleks Monumen Panglima Besar Jenderal Besar Sudirman terdiri atas patung Jenderal Sudirman setinggi 8 meter, dilengkapi pasar seni, perpustakaan, lapangan, diorama, aula, parkir, toilet, dan tempat pertunjukan seni. Patungnya berada di ketinggian 1.300 di atas permukaan laut ini.

Ada 38 relief di kompleks monument ini. Relief tersebut terbuat dari perunggu yang menggambarkan perjalanan hidup Sudirman dari masa kelahiran, belajar mengaji, sekolah, kepanduan, mendirikan koperasi, menjadi anggota Peta, memimpin gerilya, hingga meninggal di Magelang.

Sebelum mencapai monumen ini ada 8 gerbang yang menunjukkan delapan provinsi pada 1948-1949. Masing-masing gerbang bertuliskan kata-kata petuah Jenderal Sudirman, antara lain tulisan berbunyi “Walau dengan satu paru-paru dan ditandu, pantang menyerah”.

Eks Markas Gerilya
Rumah yang ditempati Jenderal Sudirman selama 107 hari, sejak 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949 sekaligus menjadi markas gerilya berlokasi di Dukuh Sobo, sekitar 2 Km dari monumen.

Di depan rumah milik Karsosoemito_seorang bayan di Dukuh Sobo ini, ada papan informasi mengenai sejarah dan rute perang gerilya Jenderal Sudirman, sejak berangkat hingga kembali ke Yogyakarta.

Rumahnya menghadap Utara. Berlantai dan bergenting tanah liat. Bagian depan dindingnya terbuat dari gebyok (papan kayu) dan bagian belakang dindingnya terbuat dari gedhek (anyaman bambu).

Di ruangan depan ada 2 pintu. Atapnya di topang tiang-tiang kayu. Di dalamnya ada 4 kamar tidur, salah satunya kamar tidur Jenderal Sudirman. Ada juga foto Sudirman dengan masyarakat di depan rumah bersejarah ini, foto ketika berangkat bergerilya dan ketika beliau pulang ke Yogyakarta. Juga ada tiruan tandu, meja-kursi tamu, dan tempat tidur pengawal/ajudan beliau, yaitu Soepardjo Rustam dan Tjokro Pranolo sert set meja dan kursi tamu dari kayu dan balai dari bambu.

Ruang bagian belakang, atapnya juga disanggah tiang-tiang kayu. Berfungsi sebagai dapur lengkap dengan alat-alat memasak, tempayan, meja, dan kursi makan dari kayu. Di dalamnya ada peralatan audiovisual untuk menyaksikan tayangan tentang Jenderal Besar Sudirman. Di belakang rumah berdiri mushola, toilet, dan bak penampungan air.

Di rumah bekas markas gerilya yang berpanorama indah dan berudara sejuk ini, dulu digunakan Jenderal Sudirman sebagai tempat bersosialisasi dan bergabung dengan masyarakat setempat. Beliau juga menerima tamu dengan pejabat pemerintah di Yogyakarta, di rumah ini.

Menurut Padi, anak dari Karsosoemito, pemilik rumah ini, ketika dia berusia 7 tahun, banyak komandan pasukan maupun pejabat pemerintahan yang datang ke Sobo untuk minta petunjuk. “Saya tidak tahu kalau yang tinggal di rumah itu Panglima Besar Jenderal Besar Sudirman. Hampir setiap pagi, saya dipanggil beliau untuk sarapan bubur. Setiap pagi, beliau berjemur sinar matahari,” kenang Padi.

Pascaperjanjian Roem-Royen yang isinya Pemerintah Indonesia dan Belanda sepakat berdamai, Panglima Besar Jenderal Sudirman merencanakan pulang ke Yogyakarta. Akhirnya setelah dibujuk sejumlah pihak, Panglima Besar Jenderal Besar Sudirman meninggalkan rumah ini, kembali ke Yogyakarta pada 7 Juli 1949.

Tips Perjalanan
Momumen Panglima Besar Jenderal Besar Sudirman di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan dapat ditempuh dari Solo maupun Yogyakarta. Dari Solo waktu tempuhnya sekitar 3 jam dengan kendaraaan roda empat, kalau dari Yogyakarta sekitar 4 jam. Sedangkan Rumah bekas markas gerilya, berada sekitar 2 Km dari monumen.

Bila dengan kendaraan umum, naik bis dari Solo ke Pacitan, lalu ganti bis lagi jurusan Pacitan ke Nawangan, kemudian berjalan kaki atau naik sepeda motor ke monumen dan rumah bekas markas gerilya Jenderal Sudirman. Kalau tak mau gonta-ganti kendaraan umum, Anda bisa membawa mobil sendiri atau sewa mobil travel dari Yogyakarta atau Solo Rp 500.000 per hari, belum termasuk bahan bakarnya.

Untuk mencapai monumen dan rumah itu, harus melewati perjalanan darat yang cukup panjang baik dari Solo maupun Yogyakarta dengan kendaraan roda empat. Jalannya berkelok-kelok, dan naik turun bukit dengan jurang di sisi jalan. Untungnya jalannya sudah beraspal mulus dan berpanorama indah.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 10 Maret 2010

Revitalisasi 4 Museum Tahun Ini


Untuk ‘menghidupkan’ permuseuman di Tanah Air, pemerintah dalam hal ini Derektorat Museum, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) merevitalisai sejumlah museum dalam kaitan Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) 2010-2014.

Terkait dengan GNCM agar museum berbenah diri, Kemenbudpar merevitalisasi 33 museum. “Sebagai pendahulu ada 4 museum yang direvitalisasi yang harus selesai tahun ini, dua di antaranya adalah Museum Provinsi Jawa Timur dan Museum Provinsi Kalimantan Barat,” kata Intan, Direktur Museum, Kemenbudpar di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Target GNCM ini, lanjut Intan adanya peningkatan pengelolaan museum yang semakin baik, termasuk SDM-nya yang semakin profesional. “Lewat gerakan ini harus dapat merubah citra lama museum yang dulu dianggap sebagai gudang menjadi museum yang informatif, menarik, dan tentu saja koleksinya bertambah,” jelasnya seraya menambahkan agar muncul paradigma baru dari pengelolaaan yang obyektif ke public oriented, sesuai kebutuhan pengunjung dan jaman sehingga pengunjung museum semakin meningkat.

Menurut Intan lagi, beberapa museum yang direvitalisasi menggunakan tenaga ahli museum dari The British Museum untuk memberikan masukan dalam pengembangan museum dengan membuat blue print sesuai dengan kondisi permuseuman Indonesia.

Selain reivitalisasi museum, Kemenbudpar menggelar sejumlah kegiatan untuk mensukseskan gerakan nasional ini. Tahun ini misalnya, Kemenbudpar meresmikan Tahun Kunjungan Museum (Visit Museum Year). Peresmiannya dilakukan di Museum Seni Lukis, Bali, 27 Februari lalu.

Pada waktu yang bersamaan, di Jakarta diadakan tur museum ke sejumlah museum bekerjasama dengan salah satu universitas swasta. Bulan ini, tepatnya 29 Maret nanti di Lombok, digelar pertemuan nasional museum yang akan dihadiri oleh seluruh kepala museum.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)


Read more...

Minggu, 07 Maret 2010

Revitalisasi Museum di Borobudur & Prambanan


Tiga museum di Candi Borobudur dan Prambanan, Jawa Tengah direvitalisasi. Tujuannya untuk menjadikannya destinasi world class sekaligus sebagai bentuk partisipasi tahun kunjungan museum yang dicanangkan Menbudpar.

Demikian disampaikan Presdir PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan Ratu Boko (TWC BPRB) Purnomo Siswoprasetjo usai menandatangani kerjasama MoU dengan John Robert Knox, konsultan bidang museum kelas dunia dari UNESCO di Menara Batavia Jakarta, (4/3).

Ketiga museum tersebut adalah Museum Karma Wibangga dan Museum Kapal Samudra Raksa di Taman Wisata Candi Borobudur, serta Museum Arkeologi di Taman Wisata Candi Prambanan.

Revitalisasi ketiga museum ini, lanjut Purnomo akan dilakukan pada tanggal 13 s/d 27 Maret 2010. “Tugas Robert membuat blue print lalu memberi rekomendasi untuk merevitalisasi ketiga museum tersebut yang mencakup tata disain, display, perawatan koleksi museum, dan lainnya dengan mengacu pada Draft Rencana Revitalisasi Museum di Indonesia yang disusun oleh Kemenbudpar,” ungkapnya.

Revitalisasi ini, tambah Purnomo harus menjadikan museum yang dapat mempresentasikan bahwa Borobudur dan Prambanan yang sangat layak sebagai World Culture Heritage yang lebih representatif, informatif, dan edukatif serta rekreatif. “Harapannya setelah direvitalisasi, ketiga museum itu bisa menjadi fasilitas tambahan yang menarik dan interaktif bagi wisatawan yang mengunjungi taman wisata candi,” jelasnya.

Menurut Robert, Indonesia memiliki banyak museum yang bisa menjadi obyek wisata menarik bila dikelola secara profesional. Untuk itu perlu adanya revitalisasi museum agar ada perubahan signifikan semenarik mungkin. “Dalam revitalisasi ketiga museum ini, saya akan bekerjasama dengan arsitek setempat dan juga para ahli ilmu Jawa,” jelas Direktur Eksekutif yang berpengalaman 35 tahun lebih di The British Museum, Inggris.

Sementara soal dana revitalisasi ketiga museum ini, menurut Purnomo akan bisa diketahui setelah Robert selesai menjalankan tugasnya dan memberi rekomendasi revitalisasi. “Saya berharap pemerintah dapat membantu mempromosikan ketiga museum yang direvitalisasi ini,” terangnya.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: M. Zaki


Read more...

Rabu, 03 Maret 2010

Master Plan Baru Kawasan Borobudur


Pelebaran jalan dari Magelang ke Blondo yang menuju Candi Borobudur dan penambahan panjang lintasan pacu (runway) Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta menjadi bagian dalam master plan pembangunan kawasan Borobudur di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang baru.

Demikian disampaikan Presiden Komisaris PT Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan Ratu Boko (TWC BPRB) S.D. Darmono disela-sela acara penyerahan Master Plan Kawasan Candi Borobudur dari PT TWC BPRB kepada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) yang disaksikan Kementerian BUMN di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu, (3/3).

“Jalan Magelang ke Blondo sepanjang 10 Km akan diperlebar 2 kali lipat untuk memperlancar arus lalulintas dari Magelang ke Borobudur dan sebaliknya. Sedangkan runway Bandara Adi Sutjipto ditambah 500 meter dalam master plan kawasan Borobudur yang baru ini,” jelasnya.

Menurut dia, master plan tersebut dibuat bertujuan utama supaya pembangunan di sekitar kawasan Borobudur tidak seenaknya sendiri melainkan harus sesuai dengan peraturan dan tata ruang yang dirancang Pemda setempat. “Harus rembug dulu dengan pemda, pelaku usaha wisata, dan lainnya agar tidak semraut,” jelas Darmono kepada sejumlah media.

Master plan ini, lanjut Darmono berisi blue print yang pembangunannya nanti melibatkan koordinasi antara Unesco Jakarta office, Kemenbudpar, Balai Konservasi Borobudur dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala, Pemprov, Pemkab, rencana jangka panjang dari PT TWC BPRB serta dengan mempertimbangkan Rencana Umum Tata Ruang (RUTR) yang dikembangkan Kementerian Pekerjaan Umum seluas 1.100 Hektar pada Kawasan Strategis Nasional-Borobudur.

Blue print master plan ini, terang Darmono dibuat oleh Mr Yasuhiro Iwaski dari Jepang, karena dia mewakili Unesco yang telah puluhan tahun membantu renovasi Borobudur. Biaya pembuatan master plan ini sekitar Rp 500 juta. Sedangkan total investasi untuk perwujudan master plan ini bisa mencapai 10 juta dollar yang pembangunannya dilakukan secara bertahap. “Dalam blue print tersebut memuat rencana startegis kawasan konservasi dan pembangunan Komplek Candi Borobudur untuk lahan seluas 3.500 Hektar,” ungkap Darmono lagi.

Setditjen Sejarah dan Purbakala Soeroso yang mewakili Kemenbudpar menyambut baik master plan kawasan Borobudur yang dicetuskan PT TWC BPRB. Menurutnya master plan baru ini bukan mengganti master plan yang lama tapi menyelaraskan guna menata pembangunan kawasan Candi Borobudur di Jawa Tengah dan Yogyakarta yang disusaikan dengan perkembangan sekarang.

Dengan master plan baru ini, lanjut Soeroso ada perubahan paradigma pembangunan kompleks Borobudur. “Dulu hanya pembangunan fisik candinya saja, sekarang juga memperhatikan lingkungan atau konservasinya dan masyarakat yang tinggal di sekitarnya dengan harapan kelestarian Borobudur tetap terjaga, kunjungan wisatawan semakin meningkat, dan perekonomian serta kesejahteraan masyarakat sekitarnya terus meningkat, bukan justru menjadi masyarakat yang miskin,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 09 Februari 2010

Uji Coba Sarung Batik di Candi Borobudur Satu Bulan


Selama Februari ini pengunjung Candi Borobudur masih dipinjamkan sarung batik dan sandal secara cuma-cuma. Mulai Maret diberlakukan ketentuan wajib memakai sarung batik dan sandal dengan harga termasuk dalam tiket.

Demikian disampaikan Diruktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan & Ratu Boko Purnomo Siswoprasetjo sebelum penandatanganan nota kesepakatan bersama (MoU) antara PT TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia (UI) dan dengan UKM Center Fakultas Ekonomi, UI di The Polo Club, Menara Batavia Jakarta, (9/2).

“Dalam tahap uji pemakaian sarung batik selama sebulan ini, khususnya diperuntukkan buat pengunjung Borobudur yang mengenakan celana atau rok pendek. Pengunjung yang mengenakan sepatu hak tinggi atau bersol keras juga diharuskan mengenakan sandal beralas karet yang lunak agar tidak menggerus batu candi,” kata Purnomo.

Dalam masa uji coba ini, lanjut Purnomo, PT TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko belum menarik biaya. “Mulai Maret diberlakukan harga tiket baru yang sudah termasuk dengan biaya sarung batik dan sandal. Dengan catatan pengunjung tidak keberatan dengan pemberlakukan ini,” jelasnya.

Untuk pengunjung domestik tiketnya menjadi Rp 46.000 per orang. Perincian harga tersebut, lanjut Purnomo, dari tiket masuk Rp 15.000 ditambah sarung batik kelas Pasar Beringharjo Rp 25.000 dan sandal Rp 6.000. Sedangkan untuk pengunjung mancanegara dari semula harga tiketnya Rp 135.000 ditambah sarung batik dan sandal menjadi Rp 141.000 per orang. “Harga paket tersebut adalah harga standar dan masih bisa berubah, disesuaikan dengan kualitas bahan dan motif sarung batiknya. Semakin bagus bahan dan motif sarungnya jelas bertambah harganya,” ungkapnya.

Menurut Presiden Komisaris PT TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko S.D. Darmono, pemberlakuan wajib mengenakan sarung batik dan sandal khusus bagi pengunjung Borobudur merupakan upaya turut melestarikan Candi Bodorbudur agar masyarakat turut menghormati dan menghargai nilai-nilai budaya warisan budaya dunia ini. “Upaya ini sekaligus mengembangkan budaya mengenakan sarung di tempat-tempat suci khusus Borobudur sekaligus meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar candi ini,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Desa Wisata Solusi Mengurangi Asongan Borobudur


Dalam upaya mengurangi asongan di Borobudur yang jumlahnya ribuan, dibuat desa-desa wisata di sekitar candi Budha tersebut. Tujuannya bukan cuma membuka lapangan pekerjaan lain tapi juga menambah tinggal lama wisatawan yang berwisata ke warisan budaya dunia itu.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif UKM Center Dr. Ir. Nining I. Soesilo, usai penandatanganan nota kesepakatan bersama (MoU) antara PT TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko dengan UKM Center Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia (UI) dan dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, UI di The Polo Club, Menara Batavia Jakarta, (9/2).

Menurut Nining, MoU antara PT TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko dengan UKM Center Fakultas Ekonomi UI akan bekerjasama antara lain menangani permasalahan pedagang asongan di sekitar Candi Borobudur. “Jumlah asongan di Borobudur mencapai 3.500 orang dan bisa bertambah dua kali lipat pada puncak musim liburan. Sungguh sangat mengganggu kenyamaan pengunjung. Untuk menguranginya kami membuat desa-desa wisata yang menyajikan atraksi atau pentas kesenian khas desa tersebut. Sekarang sudah ada 20 desa wisata dengan 48 macam keseniannya,” jelasnya

Di desa wisata itu, lanjut Nining, tersedia homestay yang dikelola penduduk desa dengan harga terjangkau dan bersih. “Harganya Rp 100.000 per malam sudah termasuk makan pagi. Jauh lebih murah dibanding menginap di penginapan lain dengan harga Rp 6 juta per malam,” jelasnya.

Harga tersebut, tambah Nining, jelas jauh lebih murah dan menguntungkan karena pengunjung yang menginap di desa wisata bisa mengikuti tur desa naik andong, melihat pembuatan penganan tahu tradisional, pembuatan kerajinan dari kaleng bekas, dan lainnya. “Dengan cara ini, kita bisa menahan masa tinggal wisatawan lebih lama lagi sebelum atau sesudah ke Borobudur. Dengan begitu akan menambah ekonomi masyarakat setempat,” terangnya.

Selain itu kami juga bekerjasama dengan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata memberikan penghargaan kepada pengasong yang telah berhasil menjadi pengusaha atau pengrajin mandiri. “Tujuannya agar mereka tidak lagi mengejar-ngejar wisatawan Borobudur untuk menjual dagangannya seperti yang dilakukan selama ini,” tambah Nining.

Mengenai MoU antara PT TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko dengan Departemen Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya, UI Dr. Irmawati Johan selaku Ketua Departemen Arkeologi UI mengatakan MoU ini akan meningkatkan kerjasama antara orang-orang arkeologi UI dengan pengelola candi yang selama ini seolah jalan sendiri-sendiri.

“Mudah-mudahan dengan MoU ini kita dapat duduk bersama untuk meningkatkan pelayanan kepada pengunjung candi antara lain membuat buku-buku mengenai candi dan membekali pengetahuan seputar arkeologi Borobudur kepada para pemandu wisata. Soalnya banyak pemandu wisata Borobudur yang asal memberi penjelasan khususnya mengenai arkeologi candi ini,” terang Irmawati.

Menurut Diruktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan & Ratu Boko Purnomo Siswoprasetjo, kedua MoU PT TWC Borobudur, Prambanan & Ratu Boko dengan UI ini diharapkan dapat meningkatkan pelayanan kepada pengunjung Borobudur dan peneliti serta dapat menyajikan informasi tentang kebenaran sejarah mengenai Borobudur dan warisan budaya dunia lain di Indonesia.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 28 Januari 2010

Buku Borobudur: Majeztic, Mysterious, Magnificant Tahun ini Terbit


Catatan mengenai Borobudur bertambah dengan akan diterbitkannya Buku Borobudur berjudul Majeztic, Mysterious, Magnificant. Buku setebal 300 halaman ini rencananya akan diluncurkan akhir tahun ini dan dijual untuk umum.

Adalah PT. Taman Wisata Candi Bodobudur, Prambanan, & Ratu Boko yang akan membuat buku tentang Borobudur ini. Perusahaan BUMN yang mengelola taman wisata di ketiga candi tersebut bekerjasama dengan PT. BAB Publishing Indonesia, yakni perusahaan penerbitan yang telah menerbitkan sejumlah buku tentang kebudayaan Indonesia, salah satunya buku “Borobudur, Prayer in Stone”.

Penerbitan buku yang mengupas tentang salah satu warisan budaya dunia di Indonesia ini dicetuskan oleh Joop Ape, mantan Menteri Pariwisata RI. Penandatanganan atau MoU kerjasama penerbitan buku tersebut berlangsung antara PT. Taman Wisata Borobudur, Prambanan, & Ratu Boko dengan PT. BAB Publisihing Indonesia dan Joop Ave di Menara Batavia Jakarta, (28/1).

Menurut Joov Ave, buku ini berbeda dengan buka tentang Borobudur yang pernah diterbitkan sebelumnya. “Kalau buku tentang Borobudur sebelumnya lebih banyak foto-foto. Sedangkan buku yang akan diterbitkan akhir tahun ini, lebih detail datanya dengan eksklusif dan dalam Bahasa Inggris,” jelasnya.

Buku ini akan dijual untuk umum oleh karenanya akan disajikan dengan tulisan dan kemasan yang lebih menjual. “Ada sekitar 5 penulis dalam dan luar negeri yang terlibat dalam penulisan buku ini. Gaya penulisan menarik, berbeda dengan kebanyakan buku-buku terdahulu yang terlalu akademis,” terang Joop Ave.

Menurut Presdir PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko Purnomo Siswoprasetjo, pembuatan buku ini merupakan salah satu wujud apresiasi PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko dalam turut membantu melestarikan peninggalan-peninggalan sejarah, khususnya Candi Borobudur. “Mudah-mudahan dengan terbitnya buku ini nantinya akan menarik lebih banyak wisatawan ke Borobudur,” jelasnya Purnomo yang menargetkan 3 juta lebih wisatawan ke Borobudur tahun ini.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Pengunjung Borobudur Wajib Pakai Sarung Batik


Mulai 1 Februari 2010, pengunjung Candi Borobudur, Yogyakarta diwajibkan mengenakan pakaian yang santun sebagaimana berkunjung ke masjid, gereja maupun pura yang menjadi obyek wisata. Sebagai tahap awal, pengelola taman wisata candi ini akan menyediakan sarung batik untuk pengunjung Borobudur.

“Keharusan mengenakan sarung batik ini bertujuan agar setiap pengunjung respek terhadap Borobudur mengingat candi ini merupakan pusaka nenek moyak kita yang harus dijaga keberadaannya,” jelas Presdir PT. Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko Purnomo Siswoprasetjo usai penandatangan kerjasama pembuatan buku tentang Borobudur di Menara Batavia, (28/1).

Pada tahap pertama, lanjut Purnomo, pengunjung Borobudur akan dipinjamkan dulu sarung batiknya oleh pengelola. Setelah pengunjung keluar candi, sarungnya harus dikembalikan. “Nanti ada juga sarung yang dijual sebagai souvenir menarik. Harga jualnya nanti disesuaikan dengan berapa harga produksi dan juga motif serta bahannya,” kata Purnomo.

Tahap pertama disiapkan 2.000 sarung batik yang dibeli pengelola dari pengrajin Pasar Beringharjo, Yogyakarta. “Setelah itu baru akan diadakan pelatihan membuat sarung batik bermotif Borobudur kepada masyarakat sekitar Borobudur agar kelak dapat memproduksi sarung batik sendiri yang bermutu dan dalam jumlah besar,” terang Purnomo.

Selain sarung batik, nanti pengelola juga akan membuat sandal khusus yang harus dikenakan oleh pengunjung Borobudur. Sandal tersebut akan didesain senyaman mungkin, tidak merusak batu candi dan simple pemakaiannya. “Tadi Pak Joop Ave kasih ide, sandalnya cukup dijepit langsung yang ada karetnya,” kata Purnomo.

Sedangkan untuk atasan khusus pengunjung perempuan, lanjut Purnomo, masih sedang dilihat. “Mungkin cukup dengan selendang agar tidak terlihat bagian atas badan dan lengan pengunjung perempuan yang mengenakan kaos atau tank top dan lainnya,” jelasnya.

Mantan Menteri Pariwisata RI, Joov Ave mendukung pemberlakuan program penggunaan sarung batik bagi pengunjung Borobudur. “Seharusnya ini sudah dilakukan sejak lama. Bila masyarakat kita mengindahkan ketentuan ini, warga dunia pasti akan respek dengan kita dan Borobudur,” imbuhnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 14 Januari 2010

Menjaga Warisan Umat Manusia Lewat Pameran



Sebelum berwisata ke Candi Pramba-nan dan Candi Sewu, ada baiknya Anda datang ke pameran “Menjaga Warisan Umat Manusia” di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Pameran ini bukan cuma menampilkan foto-foto kedua kompleks candi sebelum, saat, dan sesudah dipugar. Pun relief batu-batu asli kedua candi.

Relief Singa dari batu andesit koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), terpajang paling awal dalam pameran ini, ditempatkan persis di depan pintu masuk ruang pameran.

Relief dari abad 9 masehi yang menggambarkan hewan singa yang diapit Kalpataru atau pohon kehidupan ini pun menjadi koleksi awal perhatian Dirjen Sejarah & Purbakala (Sepur) Kementerian Kebudayaan & Pariwisata (Kemenbudpar), Hari Untoro Dradjat usai membuka pameran, tadi malam (14/1).

“Pameran ini memberi pemahaman kepada masyarakat tentang nilai-nilai di balik warisan umat manusia dan membangkitkan kepedulian menjaga warisan budaya dunia ini,” jelas Hari Untoro yang mewakili Menbudpar Jero Wacik yang berhalangan membuka pameran ini karena bertolak ke Belanda untuk urusan penerbangan dan heritage.

Di belakang koleksi Relief Singa yang merupakan hiasan khas di sepanjang dinding kaki pada lima candi utama Kompleks Candi Prambanan ini, terpasang backdrop berwarna krem, hitam, dan merah yang bertuliskan Pameran Candi Prambanan dan Candi Sewu “Menjaga Warisan Umat Manusia” (Safeguarding a Common Heritage of Humanity), 14-24 Januari 2010 di Bentara Budaya Jakarta.

Di ruang yang sama juga ditampilkan Peripih, batu abad 9 Masehi koleksi BP3 DIY, berbentuk kotak yang berfungsi sebagai wadah peripih berisi lempengan emas, perak, perunggu, dan biji-bijian sebagai persembahan kepada dewa-dewa. Peripih ini ditepatkan di dasar sumuran Candi Garuda, Kompleks Candi Prambanan.

Masih ada sejumlah batu andesit yang dipamerkan dalam pameran yang digelar oleh Dirjend Sepur Kemenbudpar bekerjasama dengan PT. Taman Wisata dan BBJ ini, seperti Susunan Percobaan Relung Candi, koleksi BP3 Jawa Tengah di ruang pameran lainnya. Batu abad 10 Masehi ini merupakan bagian dari tubuh candi perwara Plaosan deret I No. 25 yang berisi Relief Bodhisattva di Kompleks Candi Plaosan, Jateng.

Selain itu ada Antefiks dari batu andesit abad 9 masehi koleksi BP3 DIY. Batu berbentuk segitiga meruncing menggambarkan gunung sebagai tempat tinggal para dewa ini merupakan unsur bangunan yang berfungsi sebagai hiasan bagian luar candi perwara di Kompleks Candi Prambanan.

Dua Ton
“Berat seluruh batu asli kedua candi yang dipamerkan sekitar 2 ton. Tadinya kita mau bawa 10 ton tapi pihak BBJ khawatir, takut lantai pameran jebol. Batu-batu tersebut ada yang berusia 1000 tahun,” kata Direktur Peninggalan Purbakala, Dirjen Sepur, Kemenbudpar Junus Satrio Atmodjo selaku penanggungjawab pameran.

Pameran ini juga memajang foto-foto berukuran besar tentang kedua kompleks candi sebelum, saat, dan sesudah dipugar karena hancur oleh gempa yang mengguncang Yogyakarta dan Jawa Tengah, 27 Mei 2006 lalu. Foto-foto tersebut di antaranya hasil jepretan fotografer Arbain Rambey, Ferry Latief, Oscar Matuloh, Suparno, Tantyo Bangun, dan Yori Antar.

Pameran yang digelar selama 10 hari hingga 24 Januari ini, rencananya juga akan digelar keliling ke 5 perguruan nasional antara lain Universitas Indonesia (UI), Jakarta dan Universitas Gajah Mada (UGM), Yogyakarta serta Stasiun Kota, Jakarta. “Bahkan kami akan membawa pameran ini ke Brunei Darussalam, dengan tujuan untuk mempromosikan warisan budaya dunia ini ke negara tetangga,” terang Junus.

Ada yang menarik dalam pameran kali ini. Selain setiap koleksi diberi penjelasan secara tertulis, juga ada pemandu yang siap menjawab semua koleksi bila Anda ingin tahu lebih jauh. Para pemandu tersebut merupakan volunteer dari Keluarga Mahasiswa Arkeologi UI, Indonesian World Heritage Youth Network, dan Indonesia Heritage Society.

Pameran "Menjaga Warisan Umat Manusia" ini juga menampilkan bermacam kegiatan. Pada pembukaan, dipentaskan Sendratari Ramayana. “Penarinya diboyong dari Candi Prambanan langsung oleh PT. Taman Wisata,” kata Purnomo Siswoprasetjo, presdir PT. Taman Wisata (Baca: Sendratari Ramayana Hangatkan Jakarta). Setelah itu ada peluncuran buku “Membangun Kembali Prambanan”.

Besok, Jumat (15/1) diselenggarakan diskusi mengenai Arkeologi yang menampilkan pembicara Herni Pramastuti, Kepala BP3 DIY. Lalu pada 22 Januari ada diskusi tentang Arsitektur dan Seni dan diskusi mengenai Pariwisata dan Pemasaran pada 23 Januari. Hari terakhir pameran (24/1) akan digelar lomba menggambar bagi siswa-siswi Sekolah Dasar.

Tips Perjalanan
Nah, bila Anda berniat berwisata ke kompleks Candi Prambanan dan Candi Sewu tahun ini, tak ada ruginya datang ke pameran ini sebagai ‘bekal’ yang pastinya bakal menambah luas wawasan Anda tentang keberadaan terkini kedua kompleks candi tersebut.

Tak sulit mencari Bentara Budaya Jakarta (BBJ), lokasi pameran ini. Tempatnya berada di Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta, tepat di depan Gedung Kompas, Gramedia.

BBJ mudah dicapai dengan mobil pribadi ataupun umum seperti taksi, kopaja dari Blok M jurusan Tanah Abang turun di depan jalan tersebut. Atau naik mikrolet nomor 09, 09A, dan 11 dari Tanah Abang atau Slipi Bawah turun di Pasar Palmerah lalu naik ojek atau berjalan kaki ke lokasi. Pameran ini terbuka untuk umum dan gratis.

Sebagai catatan, Candi Prambanan yang dinyatakan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco dengan nomor C642 pada 1991 berada di perbatasan antara DIY dan Jawa Tengah. Sedangkan Candi Sewu berada di Kelurahan Bener, Kecamatan Prambanan dan Klaten, Jawa Tengah.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sendratari Ramayana Hangatkan Jakarta



Sendra-tari Ramaya-na yang biasa dipentas-kan di Candi Prambanan, tadi malam (14/1) menghangatkan suasana pembukaan pameran "Menjaga Warisan Umat Manusia" di Bentara Budaya Jakarta (BBJ). Ada 15 penari yang diboyong langsung dari Prambanan. Meski durasinya dipersingkat, pementasan sendratari ini sama seperti aslinya.

Pementasan sendratari yang menceritakan epos Ramayana di BBJ ini, dibagi dalam 4 babak. Di babak pertama yang bertajuk Hutan Dandaka, diceritakan Dewi Shinta yang dilakoni penari muda cantik dan langsing, menginginkan kijang kencana yang ternyata jelmaan Kalamarica, utusan Prabu Rahwana.

Di babak kedua, Shinta Ilang (Shinta Hilang), diceritakan Rahwana yang dilakoni penari lelaki berbadan gemuk berhasil membawa Sintha yang telah dilindungi api suci Lesmana dengan cara berubah menjadi Brahmana yang berwibawa.

Masih di babak ini, digambarkan Burung Jatayu berusaha menyelamatkan Shinta yang diculik Rahwana, di tengah perjalanan menuju Kerajaan Alengka. Sayang, Jatayu justru terbunuh oleh Rahwana yang perkasa.

Di babak ketiga berjudul Anoman Duta, dikisahkan Rama Wijaya_suami Shinta yang dilakoni penari pria tampan dan gagah, mengutus Anoman (kera putih) menunju Alengka untuk menemui Shinta dan menyerahkan cincin suci.

Sementara di Alengka, digambarkan Rahwana terus memaksa Shinta untuk menjadi istrinya. Untunglah ada Trijatha yang menolong Shinta hingga tak sampai dijamah Rahwana.

Di babak keempat bertajuk Anoman Obong, diceritakan Anoman berhasil memberikan cincin suci kepada Shinta tapi dipergoki Indrajid. Lalu Anoman dibakar hidup-hidup. Tetapi Anoman yang diperkirakan mati justru berhasil membakar seluruh Kerajaan Alengka.

Meski berlangsung sekitar 15 menit, tak sepanjang durasi aslinya yakni 2 jam. Namun pementasan Sendatari Ramayana yang dipentaskan di atas panggung, persis di depan rumah kayu berukir tradisional Kudus ini mampu menghangatkan suasana malam Jakarta yang dingin lantaran tak henti diguyur hujan sejak pagi.

Usai pementasan, para tamu undangan yang hadir, kembali memberi applaus meriah kepada semua penari. “Saya jadi ingin lihat pementasannya langsung bila nanti berwisata ke Candi Prambanan,” kata salah seorang tamu undangan.

Pementasan Sendratari Ramayana di BBJ, memberi nilai lebih terhadap pameran yang berlangsung selama 10 hari dari tanggal 14 s/d 24 Januari ini. Selain sangat singkron dengan koleksi pameran yang menampilkan antara lain batu-batu asli Candi Prambanan, maket, dan foto, pementasan kali ini sekaligus menjadi ajang promosi kepada warga Jakarta khususnya bahwa di kompleks candi yang sudah ditetapkan Unesco sebagai warisan budaya dunia sejak 1991 ini, ada pementasan sendratari berkisah romantis yang patut ditonton.

Tips Perjalanan
Bila Anda tak berkesempatan menyaksikan Sendratari Ramayana yang dipentaskan di BBJ tadi malam, saksikan saja langsung di Candi Prambanan. Pasti atmosfir yang Anda dapat, jauh lebih sempurna.

Candi yang juga dikenal dengan nama Lorojongrang ini berada sekitar 15 Km arah Timur Yogyakarta, 40 Km sebelah Barat Solo, dan sekitar 120 Km Selatan Semarang. Waktu tempuhnya sekitar 15 menit dari Kota Yogyakarta.

Pementasan Sendaratari Ramayana di zona penyangga Candi Prambanan dipersembahkan oleh PT. Taman Wisata, sebuah persero yang mengelola kegiatan pariwisata di Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko.

Tempat pementasannya di Candi Prambanan ada dua yakni di teater terbuka (open air theater) dan Teater Trimurti yang merupakan teater tertutup.

Tahun ini pertunjukan di teater terbuka yang berkapasitas 1.500 orang, berlangsung mulai Mei s/d Oktober setiap Selasa, Kamis, dan Sabtu. Harga tiketnya Rp 150.000, Rp 200.000, dan VIP Rp 350.000 per orang sudah termasuk makan malam di Prambanan Garden Restaurant dengan pemandangan Candi Prambanan pada malam hari. Pementasan di teater terbuka ini tak tanggung-tanggung, dibawakan oleh sekitar 200 penari.

Sedangkan di Teater Trimurti yang mampu menampung sekitar 300 orang, jadual pementasan tahun ini sejak Januari s/d April dan dilanjutkan November s/d Dedember. Harga tiketnya Rp 150.000 per orang. Untuk pelajar Rp 50.000 per orang. Pementasan di teater tertutup ini dibawakan oleh sekitar 50 penari.

Waktu pertunjukan di kedua teater itu berlangsung pada malam hari, pukul 19.30 s/d 21.30 WIB. Tiket pementasan dapat dipesan di kantor PT. Taman Wisata Jl. Raya Yogya-Solo KM 16 Prambanan, Yogyakarta atau di Menara Batavia lantai 25 Jl. KH. Mas Mansyur Kav 126, Jakarta.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP