. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Juli 2018

Sail Moyo Tambora 2018 Suguhkan Ragam Sport Tourism, Budaya, dan MICE

Even Sail Moyo Tambora 2018 yang akan berlangsung tanggal 9 - 23 September 2018 di Kabupaten Sumbawa, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) bakal menyuguhkan bermacam kegiatan sport tourism, budaya, dan MICE atau Meeting, Incentive, Conference & Exhibiton.


Kegiatan sport tourism yang ada dalam Sail Moyo Tambora 2018 ber-tagline Discover Samota ini antara lain Tambora Vulcano Tour yang akan digelar tanggal 7-8 September 2018.

Pendakian yang akan dimulai malam hari ini akan diisi dengan kemah bakti, ekspedisi sains Moyo Tambaora, dan pengibaran Bendera Merah Putih.

Kegiatan pendakian Gunung Tambora ini akan diikuti oleh peserta dari berbagai negara sahabat, komunitas pencinta alam, dan masyarakat umum.

Berikutnya International Yacht Rally tanggal 9 September 2018 bersamaan dengan acara pembukaan. Peserta yacht datang dari berbagai negara, mereka mengunjungi Teluk Salah dan tiba pada tanggal 9 September 2018.

Peserta yacht akan mengikuti acara pembukaan serta beberapa rangkaian acara Samota 2018.

Kemudian Moyo Tambora Fun Run tanggal 11 September 2018. Titik start-nya di depan kantor Bupati Sumbawa dan finish di Pantai Saliperate. Sebanyak 100 finisher pertama akan mendapatkan mendali serta disediakan kupon berisi doorprize yang akan diundi.

Selanjutnya bermuatan local Barapan Kebo dan Pacuan Kuda tanggal 15 September 2018, serta International Paragliding Competition tanggal 16 September 2018 di Mantar, Sumbawa Barat.

Sementara kegiatan Sail Moyo Tambora 2018 yang bermuatan budaya antara lain City Parade tanggal 10 September 2018 pukul 3 sore, berupa karnaval yang akan menampilkan ragam kekayaan khazanah budaya dari masing-masing kabupaten kota se-NTB. Titik start-nya di Kantor Bupati Sumbawa, finish di Lapangan Pahlawan.

Selain itu ada Culture Performance Moyo Tambora di Pelabuhan Bedas tanggal 9-11 September. Tak ketinggalan International Culinary Program yang berisi lomba dan demo memasak makanan khas Sumbawa tanggal 9-11 September 2018 di Pantai Saliperate serta International Tenun Festival tanggal 12 September di Pantai Saliperate.

Adapun kegiatan MICE-nya antara lain Maritime Expo selama 3 hari tanggal 9-11 September 2018, yang akan menyajikan berbagai macam produk industri kreatif dari berbagai potensi maritim dan pariwisata Indonesia.

Disamping itu ada Dialog Budaya Maritim tanggal 12 September 2018, Investment Forum 13 September 2018, dan Seminar Internasional Asia Pasifik Geopark Network 14 Septermber 2018.

Kegiatan sosialnya juga ada berupa pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat setempat selama 2 hari, tanggal 17 dan 18 September 2018.

Pembukaan atau opening ceremony even yang masuk dalam 100 wonderfull Indonesia di Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini akan berlangsung di Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, pada 9 September 2018, mulai pukul 9 pagi.

Akan ada suguhan tarian masal dari Sumbawa sebagai pembuka, sailing pass, parade 1000 perahu tradisional, dan Internasional Yacht Rally yang diikuti oleh peserta sail serta tarian penutup dari Bima.

Malam harinya, pukul 19.30 akan dilangsungkan Welcome Dinner yang dilangsungkan di Halaman Kantor Bupati Sumbawa. Kegiatan sail tidak hanya diselenggarakan siang hari saja, pada malam hari juga akan diisi oleh Culture Performance menampilkan atraksi seni budaya 3 etnis di NTB yaitu Sasak, Samawa dan Mbojo.

Peluncuran Sail Moyo Tambora 2018 sendiri berlangsung di Balai Kartini, Jakarta, Minggu (15/7/2018). Hadir sekaligus me-launching even ini Wakil Gubernur NTB Muhammad Amin yang mewakili Gubernur NTB TGH Zainul Majdi, didampingi Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Industri Pariwisata Kemenpar Dadang Rizki Ratman yang mewakili Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya, Kepala Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal, dan lainnya.

Wagub NTB Muhammad Amin mengatakan Sail Moyo Tambora 2018 ini menjadi ajang promosi untuk memperkenalkan dan mengangkat potensi wisata yang ada di Sumbawa khususnya.

Kegiatan ini, lanjut Amin juga diharapkan bernilai ekonomi yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, terutama ekonomi kreatif dan juga juga dapat meningkatkan invetasi bagi daerah.

“Sail Moyo Tambora 2018 ini juga merupakan upaya untuk meningkatkan kunjungan wisatawan agar tercapai target kunjungan wisatawan ke Sumbawa sebesar 4 juta tahun ini, dan 5 juta tahun 2018,” terang Amin.

Kepala Dinas Pariwisata NTB Lalu Moh Faozal menambahkan even Sail Moyo Tambora 2018 yang digelar Pemkab Sumbawa dan Pemprov NTB bersama Kemenko Maritim dan Kemenpar ini dalam rangka mempromosikan potensi wisata bahari NTB ke kancah internasional.

“Kita memiliki Pulau Satonda, Pulau Moyo, dan Tambora atau Samota sebagi sumber daya tarik alam yang sangta potensial dan prespektif untuk dikelola secara berkelanjutan sebagai taman buru, taman wisata alam laut, taman wisata Gunung Tambora, kelautan, perikanan, peternakan, perkebunan, dan lainnya,” kata Faozal.

Pada kesempatan yang sama Dadang Rizki Ratman mengatakan eventSail Moyo Tambora 2018 diharapkan dapat kian mengangkat nama destinasi unggulan Sumbawa seperti Gunung Tambora dan Pulau Moyo.

“Gunung Tambora pernah erupsi hebat tahun 1815 sehingga namanya menduna. Sementara Pulau Moyo telah berhasil menarik pesohor dunia datang berwisata antara lain mendiang Putri Diana, musisi rock legendaris Amerika David Bowie, serta destinasi lainnya di Sumbawa,” terang Dadang.

Acara peluncuran Sail Moyo Tambora 2018 bersamaan dengan Bulan Pesona Lombok-Sumbawa 2018, dan Festival Pesona Moyo ini disemarakan dengan suguhan dua tarian masyarakat Sumbawa, penampilan diva pop Indonesia Vina Panduwinata serta pameran wisata, kerajinan dan kuliner Sumbawa dan daerah lain di NTB.

Sehari sebelumnya, Sabtu (14/7/2018) ada Parade Budaya Lombok Sumbawa di Monas, Jakarta.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Launching Sail Moyo Tambora 2018 di Balai Kartini, Jakarta.
2. Jumpa pers Sail Moyo Tambora 2018.
3. Promo Sail Moyo Tambora 2018.

Read more...

Senin, 25 Juli 2011

Mastodon dan Burung Kondor Versi Baru, 'Hidupkan’ (lagi) Rendra



Dua tahun sudah Rendra berpulang. Namun geliat kebudayaan penyair mualaf ini tak pernah mati. Dua karya monumental seniman kelahiran Solo ini sebelumnya dipentaskan istrinya, Ken Zuraida yakni Bib Bob dan SEKDA dengan bendera Bengkel Teater yang didirikan Rendra di Jogja pada 1967 sepulang dari AS. Tahun ini, Ken Zuraida mementaskan masterpiece lain karya penyair berjuluk si Buruk Merak ini yakni Mastodon dan Burung Kondor lewat label Ken Zuraida Project. Mengapa dan apa bedanya?

Mastodon dan Burung Kondor merupakan drama karya Rendra yang ditulisnya dalam rentang 1971-1973. Salah satu maha karya Rendra ini pertama kali dipentaskan oleh Bengkel Teater pada 1973 di 3 lokasi yakni Jogja, Bandung, dan Jakarta.

Ketika itu Rendra yang menjadi pemeran utamanya sebagai Jose Karosta, sang penyair yang berhelat di tengah pergulatan sosial politik di Amerika Latin yang tengah didera kontra revolusi ketika itu.

Menurut sang penyair, setiap revolusi membuahkan sikap fanatik atau ekstrim yang melahirkan mastodon-mastodon alias penindas-penindas. Dan revolusi yang dimenangkan kaum radikal akan melahirkan kembali pemerintahan mastodon.

Tahun ini, pementasan teater Mastodon dan Burung Kondor disutradari Ken Zuraida yang akrab disapa Ida akan digelar di Graha Bakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 11-14 Agustus 2011.

Kata Ida, harkat pementasan kali ini bukan sebatas persembahan mengenang dua tahun Rendra berpulang. Melainkan pula untuk mengingatkan semua elemen masyarakat tentang negeri ini bahwa sampai detik ini kondisinya dalam beberapa hal tak sebaik era 70-an. Kebudayaan Indonesia yang cemerlang lantaran berbasis adat dan kesenian tradisonal, kini terlindas oleh maraknya enkultrasi budaya kekinian yang serba instan dan populis.

Pemakaian label Ken Zuraida Project dalam pementasan tahun ketiga ini disepakati atas dasar semakin banyaknya anggota baru yang dilatih Ida dengan ilmu dan metode latihan warisan Rendra. Anggota baru itu datang silih berganti dan jumlahnya melebihi anggota Bengkel Teater.

Kendati begitu, Ida tetap memakai orang-orang yang kerap bekerjasama dengan Rendra untuk bergabung dalam tim manajemen dan produksi antara lain Arif Budimanta sebagai produser eksekutif, Amir Husain Daulay dan Edi Haryono yang disebut-sebut ‘anjingnya’ Rendra serta Rusdy Setiawan Putra.

Begitu pun para pemainnya yang berjumlah 33 orang. Ida meminjam 2 aktornya Mas Willy, sapaan akrab Rendra yang tak lain pemain lama Bengkel Teater yakni Awan Sanwani sebagai Kolonel Max Carlos dan Iwan Purna yang dulu dijuluki ‘Singa Panggung’ Bengkel Teater sebagai Profesor Tovas.

Selebihnya pemain muda potensial yang berdatangan dari Palangkaraya, Surabaya, Jogja, Solo, Ciamis, Purwakarta, Malang, Salatiga, Makassar, Bogor, Tangerang, Kupang, Samarinda, Bandung, dan Jakarta. Salah satunya Totenk Mahdasi Tatang asal Bandung yang berperan sebagai Jose Karosta versi Ida.

“Mereka kawan dan saudara baru kami yang berkumpul setiap hari 24 jam, berlatih mulai dari pukul setengah 6 pagi sampai 10 malam. Intens bertukar keringat, airmata, dan darah. Lebih banyak berantemnya,” jelas Ida saat konferensi pers di Teater Luwes, IKJ, TIM, Senin (25/7/2011).

Ida menegaskan, pementasan Mastodon dan Burung Kondor kali ini berbeda sekali dengan pementasan dulu. “Ini sangat beda dengan kemasan teater Rendra dulu secara kemasan artistik,” tegasnya.

Alasannya Ida bukan Rendra dan tidak akan bisa seperti Rendra. “Saya tidak mau mem-photocopy dia. Nanti seperti katak menjadi lembu, meletup. Ini kemampuan saya, yang terbaik dari saya. Mudah-mudahan saja bisa ditonton,” harapnya.

Eef Saefullah Fatah yang cukup mengenal Rendra selama 10 tahun terakhir mengatakan, pementasan ini punya makna memperkenalkan segala pesona Rendra kepada generasi kini. "Setahu saya, Rendra bukan tipe seniman yang narsis dan kegenit-genitan. Dia jujur apa adanya dan menyodorkan dirinya sendiri untuk melakukan perubahan dengan segala risikonya, bukan dengan mendorong atau menjerumuskan orang lain," jelas Eef.

Jalan Bisu
Yang menarik, sebelum pementasan Mastodon dan Burung Kondor, digelar serangkaian kegiatan pendukung antara lain Lingkaran Doa Mengenang Rendra yang akan dipimpin Eef Saefullah Fatah pada 7 Agustus di Kampus Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok. Dilanjutkan Jalan Bisu yakni jalan massal dari pusat latuhan di Cipayung ke TIM pada 7-8 Agustus mulai pukul 23.00 WIB.

Pada 8 Agustus juga diadakan Ruwatan Gedung GBB. Kemudian Perkemahan Kaum Urakan di Kompleks TIM yang diisi dengan diskusi, kongkow budaya dan lainnya mulai 8-15 Agustus. Dan kegiatan Public Expose Workshop teater metode Rendra di panggung terbuka pada 9-14 Agustus 2011, jelang buka puasa bersama pukul 15.30-17.50 WIB.

Harga tiket pementasan Mastodon dan Burung Kondor versi baru yang juga didukung Bakti Budaya Jarum Foundation dan TIM ini, terbagi lima kelas yakni tiket Rp 500ribu untuk undangan khusus, Rp 200ribu (VVIP), Rp 150ribu (VIP), Rp 100ribu (reguler) atau di sayap kiri dan kanan, dan Rp 50ribu untuk Balkon atau di bagian atas. Tiket ini sudah dijual sejak 15 Juli sampai dengan 10 Agustus 2011.

Pemesanan dan pembelian tiketnya dapat menghubungi Nita di nomor HP 0812 860 91255 atau Septian (0857 8097 3321), email: kenzuraidaproject@gmail.com, dan loket GBB, TIM Jakarta.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

MAK JOGI, Indonesia Kini dalam Hikayat dan Tari Melayu



Setelah sukses menggelar Laskar Dagelan, Beta Maluku, dan Ludrukan Karoto Mbalelo, kini program INDONESIA KITA yang didukung Djarum Foundation melalui Djarum Apresiasi Budaya mementaskan kesenian berakar melayu bertajuk ”MAK JOGI” Hikayat Jenaka Untuk Indonesia. Pementasan ini akan menyuguhkan wajah Indonesia saat ini dalam bentuk hikayat dan gerak tari Melayu.

"MAK JOGI" yang akan dipentaskan dua kali yakni Selasa dan Rabu malam, 26 & 27 Juli 2011, pukul 20.00 WIB di Graha Bhakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta menyuguhkan olahan seni budaya berbasis Melayu, yakni gerak tari dan cerita hikayat tentang Indonesia hari ini.

Pementasan ini disutradari Djaduk Ferianto dengan tim kreatif Butet Kartaredjasa, Tom Ibnur sebagai koreografer sekaligus pemeran Mak Jogi, Agus Noor (penulis naskah), dan Samuel Wattimena sebagai Penata Busana.

Para pemainnya didukung sederet seniman terkenal yakni Tom Ibnur, Didik Nini Thowok, Agus PM Toh, Hartati, Effendi Gazali, Hendri Lamiri, Hoesnizar Hood, Ramon Damora, Hasan Aspahani, Raja Hafidjah, Udin Semekot, kelompok Makyong Kep.Riau, dan "Laskar Dagelan": Trio Gam-Gareng Rakasiwi, Wisben dan Joned.

Tom Ibnur menjelaskan pementasan ini ingin menyampaikan gagasan mempererat persatuan bangsa ini lewat budaya Melayu. Mengingat hampir di seluruh pesisir Indonesia dihuni masyarakat Melayu dengan kekhasan budayanya.

Yang menarik menurutnya, dalam pementasan ini gerak tari Melayu ini juga dieksplor oleh koreografer yang bukan berakar Melayu sehingga ada warna pluralisme gerak di sana.

Untuk lebih memberi atmosfir Melayu yang kental, sebelum pementasan akan ada Pasar Kuliner yang menyuguhkan aneka kuliner khas Melayu mulai pukul 12.00 WIB sampai malam hari.

Berdasarkan pantauan Travelplusindonesia, Senin (25/7/2011) di loket tiket GBB, TIM, masih tersedia tiket untuk menyaksikan pementasan ini. Harganya Rp 200ribu untuk VVIP, Rp 100ribu (VIP), dan Rp 75ribu (Balkon).

Usai pementasan "MAK JOGI", tahun ini juga Program INDONESIA KITA akan menggelar Reaktualisasi Seni dari Timur 23-24 September dan Silang Budaya Silang Jenaka (Foklore Lelucon Rakyat) 28-29 Oktober di GBB, TIM Jakarta.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 23 Juli 2011

MSI Sukses Gelar Malam Sejuta Pesona Sulsel


Mitra Seni Indonesia (MSI) sukses menggelar acara Malam Sejuta Pesona Sulawesi Selatan (Sulsel) di Balai Kartini Jakarta, Jum’at malam (22/7/2011). Bermacam kesenian tradisional mulai dari lagu, musik, tari, peragaan busana, permainan atau atraksi, dan kuliner disuguhkan dengan menarik hingga berhasil memikat penonton.

Acara yang digelar atas kerjasama MSI dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Sulsel ini dimulai dengan menampilkan Paduan Suara MSI yang terdiri atas ibu-ibu anggota MSI, termasuk di dalamnya ketua MSI Nana Irawan. Mereka membawa dua lagu daerah Sulsel yang sudah tersohor yakni Pakarena dan Anging Mamiri.

Yang menarik, semuanya mengenakan Baju Bodo, pakaian tradisional Sulsel dengan warna-warni yang mencolok berikut aksesorisnya hingga terlihat menyala di atas panggung.

Dilanjutklan dengan menampilkan tari Colliq Pujie, tarian tradiional dari Kabupaten Barru, Sulsel. Tari ini menceritakan tokoh wanita ningrat Bugis yang telah berjasa dalam mengumpulkan dan menyalin kembali serpihan-serpihan naskah La Galigo. Pimpinan Sanggar Bolong Ringgi Barru, Nasdir Rafli mengatakan di Maksaar, tarianini rutin digelar di Benteng Panyyua atau yang lebih dikenal Benteng Fort Rotterdam.

Disambung dengan taria Kala’ Barang. Yang tarian ini diakhiri dengan memberikan kue tradisonal ke sejumlah penonton. Mereka mendatangi penonton satu-persatu dengan meniti tangga. Ada 80 kue yang dibagikan ke penonton, terutama yang duduk di dekat tangga jalan.

Sekmen berikutnya, musik tradisonal Batti-Batti dari Kabupaten Selayar. Alat musik yang digunakan antara lain rebana dan dua alat musik petik kecapi. Dan dilanjutkan orkes Toriolo atau musik tempo dulu yang mengiringi peragaan busana. Ada 25 pakaian karya Triniska Indonesia yang diperagakan oleh seorang model MSI yang muda dan cantik dengan beberapa figuran dari MSI.

Sejumlah pengunjung terutama ibu-ibu tertawa melihat gaya para figuran MSi memperagakan busana yang semuanya berbahan aneka sutera dari berbagai daerah di Sulsel. Maklum para figurannya ibu-ibu di atas paru baya, jadi cara jalan dan pose-nya kaku, tak seluwes model. Tapi justru itu yang memuat suasan Balai Sarbini, malam itu jadi riuh.

Disusul denagn upacara Maddoja Binne, sebuah upacara yang masih berkaitan dengan La Ga ligo. Disusul tari Wanua Malebbi dari Kabupaten Barru ini dibawakan oleh dua orang bissu tampil malebbi (anggun). Kedua bissu memperagakan keskatiannya menusuk-nusuk peruk wajah dan tangannya.

Suguhan berikutnya Paraga dari Kota Makasar, yakni atraksi memainkan bola takraw oleh sejumlah penari pria. Aksi para penari yang mengenakan pakaian khas berwarna merah dan ikat kepalayang dijadikan topi berbentuk kerucut untuk menangkap bola ini berhasil memukau penonton. Terlebih saat mereka saling berdiri dan seorang penari memainkan sepak takraw sambil berdiri di atas pundak penari lainnya.

Tangan Dibakar
Berikutnya tari Pepe-pepe’ Baine dari KabupatenGowa yang dibawakan beberapa penari perempuan. Yang menarik dari tarian ini, para penarinya menyalakan obor lalu tangannya dibakar dengan obor berapi tanpa merasa kepanasan.

Pada sekmen ini para penari mengajak beberapa undangan untuk naik ke atas panggung dan dibakar tangannya. Undangan yang berani dibakar kedua tangannya itu antara lain Staff Ahli Menetri Budpar Bidang Pranata Sosial Surya Yoga yang mewakili Menbudpar Jero Wacik dan juga istri Jero Wacik, Triesna Jero Wacik.

Yang tak kalah menarik, suguhan tarian Mangrara Buana dari Kabupaten Toraja. Di akhir tarian yang dibawakan para penari pria dan wanita ini, sejumlah undangan memberikan uang dengan cara diselipkan ke ikat pinggang atau topi para penari, semacam nyawer. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo ikut ‘nyawer’ ke beberapa penari.

Berdasarkan pengamatan Travelplusindonesia, kemasan acara Malam Sejuta Pesona Sulsel secara keseluruhan cukup menarik. Menurut Nana Irawan, semua acara ini dirancang oleh ibu-ibu anggota MSI. “Kami tidak menggunakan event organizer. Segala urusan mulai dari tempat, konsumsi, dan lainnya yang urus para ibu-ibu MSI,” jelasnya.

Tahun lalu MSI sukses menggelar acara serupa khusus kesenianJawa Barat. Tahun depan MSI berencana menggelar malam kesenian dari Sumatera Barat.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 18 Juli 2011

Mengemas Ludruk Agar Tak (lagi) Ambruk


Ludruk sempat berjaya kemudian memudar, tergeser beragam kesenian lain yang tampil lebih ciamik. Belakangan kesenian drama tradisional asal Jawa Timur ini kembali menggeliat berkat upaya yang dilakukan sejumlah pihak, salah satunya dengan memperbaiki kemasannya agar lebih menarik dan kekinian. Apa lagi?

Ludrukan Kartolo Mbalelo di Jakarta beberapa waktu lalu boleh dibilang menjadi tonggak kebangkitan kesenian ludruk yang sempat mati suri, meskipun sebelumnya sudah ada pementasan ludruk lainnya.

Kesuksesan Kartolo Mbalelo membetot perhatian masyarakat Jakarta, membuktikan kesenian ini masih punya daya tarik. Tentu kesuksesan itu tidak datang dengan sendirinya.

Berdasarkan pengamatan penulis, kesuksesan ludrukan Kartolo Mbalelo terletak dari kemasannya, antara lain mengikutsertakan sejumlah public figure tersohor dan atau kontroversial dari berbagai profesi antara lain Ketua MA Mahfud MD, Politikus PDIP Pramono Anum, Menpora Andi Malarangeng, dan penyanyi dangdut si Ratu Ngebor Inus Daratista.

Selain itu, promosi pra pementasannya lumayan gencar, ditambah penggabungan pameran kuliner khas Jawa Timur yang cukup punya andil mengundang minat orang untuk datang.
.
Upaya mengangkat kesenian ludruk ini kembali dilakukan dengan mementaskan ludruk berjudul "Si Pitung Robin Hood Betawi" di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (17/7/2011).

Selain pementasan yang digelar Paguyuban Peduli Ludruk (PPL) didukung Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) dan sejumlah Bank ini juga disuguhkan kuliner Jawa Timuran antara lain Cwi Mie atau mie rebus dengan tambahan daun Salada dan Angsle semacam wedang ronde khas Malang.

Ajak Artis
Menbudpar Jero Wacik selaku pelindung PPL dalam sambutannya sebelum pementasan Si Pitung Robin Hood Betawi dimulai memberikan tips cara mengemas ludruk agar menarik. Menurutnya pementasan ludruk harus mengikutserkan satu atau dua orang artis atau public figure lain untuk menjaring seqment penonton anak muda.

“Belum lama saya lihat pentas wayang orang, ada bintang film terkenal yang ikut main, dan berhasil menarik perhatian anak muda. Nah, di ludruk harus begitu juga,” jelasnya.

Di samping itu, tampilan panggungnya juga harus menarik. “Misalnya dengan menambah teknologi tata cahaya laser dan lainnya sehingga anak muda tidak bosan melihatnya,” imbuhnya.

Ludruk yang baik, lanjut Jero Wacik juga isi pesannya harus tetap bermisi untuk membangun karakter bangsa. “Boleh saja mengkritik pemerintah kalau ada kebijakan yang keliru agar pemerintah bisa memperbaiki. Tapi juga harus memuji kalau ada kebijakan yang baik,” pintanya.

Jangan menjadikan kesenian rakyat ini untuk menghasut bahwa semua kerja pemerintah itu salah. ”Lakukan kritikan yang terukur, dan turut mencerdaskan rakyat,” jelasnya,

Keseriusan Kemenbudpar mengangkat ludruk dan kesenian rakyat lainnya agar berkembang maju dibuktikan dengan adanya direktur tradisi di Ditjen NBSF yang ditugaskan antara lain memberikan mendukung setiap kali PPL menggelar pementasan Ludruk.

Bukti lainnya, Kemenbudpar menandatangai MoU dengan Kementerian BUMN di Istana Tapak Siring, Bali pada waktu lomba lukis dan puisi anak-anak se-Indonesia. Isi MoU tersebut semua BUMN yang mempunyai CSR wajib hukumnya sebagian CSR-nya dipakai untuk membantu pengembangan seni dan budaya, termasuk ludruk.

Karena MoU itu ditandatangai MenBUMN dan Menbudpar di depan Presiden SBY, mestinya semua dirut dan komisaris BUMN membaca MoU itu karena dibuat bukan untuk pajangan tetapi dikerjakan. “Kalau itu berjalan, paguyuban ludruk ini tak akan kekurangan dana untuk pementasan ludruk,” tegas Jero Wacik.

Dapur Ngebul
Seniman ludruk sekaligus pelawak Kadir mengaku senang kalau banyak pihak termasuk pemerintah serius ingin membantu mengangkat kembali kesenian ludruk. “Selain dapat melestarikan kesenian Jawa Timur ini, para pemainnya juga dapat rezeki, dapurnya bisa terus ngebul,” katanya.

Kesenian rakyat apapun, lanjut Kadir, senimannya harus kreatif dalam mengemas tampilannya. “Contoh Lenong Betawi yang kini hadir dengan kemasan "Lenong Politik" di TV One, itu sesuatu yang baru dan ternyata mendapat respon baik dari pemirsa,” terangnya.

Sekarang beragam tontonan dapat dilihat di rumah lewat TV. Agar orang mau keluar rumah menonton ludruk maka kemasan ludruk harus menarik. “Pemainnya harus profesional, cerita yang disampaikan diterima penonton, dan mengikuti selera penonton, misalnya penonton lebih suka humornya diperbanyak maka harus ada lawakan dari pelawak profesional sebagai bumbu penyegar,” jelasnya.

Tren melibatkan public figur seperti artis, tokoh politik, penyanyi, dan bintang film sebagaimana kesenian rakyat lainnya, contohnya lenong dan wayang orang, harus juga diadopsi ludruk. “Kalau cara ini mulai jenuh dan penonton sudah bosan, harus dipikirkan dan dicari terobosan lain,” kata Kadir yang berperan sebagai tentara opas dalam pementasan ludruk Si Pitung Robin Hood Betawi.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 17 Juli 2011

Ketika Bankir Main Ludruk Jadi Si Pitung


Apa jadinya kalau sejumlah bankir yang asli orang Jawa ikutan main Ludruk dan memainkan peran orang Betawi seperti jagoan si Pitung? Jelas kontras dan banyak kelucuan yang muncul dari awal sampai akhir pementasan. Begitulah yang terjadi dalam pagelaran ludruk Si Pitung Robin Hood Betawi. Kelucuan apa saja?

Kesuksesan pementasan ludruk Kartolo Mbalelo di Jakarta beberapa waktu lalu, rupanya menginspirasi pihak lain untuk menghidupkan kembali geliat ludruk sebagai tontonan pertunjukan yang punya daya tarik tersendiri.

Kali ini Paguyuban Peduli Ludruk (PPL) didukung Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) dan sejumlah bank, mementaskan ludruk bertajuk Si Pitung Robin Hood Betawi di Graha Bakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu (17/7/2011).

Kemasan berbeda pun mencuat dalam pementasan ini. Kali ini sejumlah orang perbankkan ternama ikut terlibat antara lain mantan Direktur Kepatuhan Bang BRI Bambang Supeno yang berperan sebagai Si Pitung, Dirut Bank DKI Eko Budiwiyono (Bang Piun-Ayah Si Pitung), Komisaris Indivenden Bank BRI yang dikenal sebagai pengamat ekonomi Aviliani (Nyak Haji Naipin), dan Dirut Bank BNI Gatot Suwondo (Sahabat Haji Naipin).

Bahkan mantan Gubernur Jawa Timur Basofie Sudirman yang pernah sukses membawakn lagu dangdut “Tidak Semua Laki-Laki” ini ikut main sebagai Centeng 1, disamping pelawak profesional seperti Kadir, Mamik Prakoso, Polo, dan Eko DJ.

Jika pementasan ludruk biasanya diawali dengan Tari Remo. Tapi dalam ludrukan Si Pitung Robin Hood Betawi yang dipentaskan masih dalam rangka perayaan HUT DKI Jakarta ke-484 ini menyuguhkan hiburan band, karenanya panitianya menamakan pagelaran ini “Ludruk Kolaborasi 2011”.

Kendati promosi ludrukkan ini tidak segencar pementasan Kartolo Mbahlelo, ternyata cukup mendapat respon luar biasa dari penonton yang sebagian besar undangan dari panitia.

Keikutsertaan para bangkir dan profesi lain yang bukan pelawak dalam ludrukan kali ini justru menghadirkan kelucuan tersendiri, seperti lupa dialog, berebut ngomong, salah tingah, dan akting yang kaku. Penonton melihat semua itu sebagai sebuah kewajaran, justru ada kesan natural dan jujur.

Dan untuk mengimbangi ketidakbiasaan para pemain dadakan tersebut, salah satu caranya dengan menempatkan pelawak profesional di setiap segmen pementasan.

Misalnya pada segmen pertama Si Pitung Robin Hood Betawi ini, pemain utamanya terlihat begitu kaku dan logat Betawinya ambur radul. Maklum pemainnya asli wong Jowo bukan seniman Betawi. Tapi justru disitu letak kelucuannya hingga membuat penonton tertawa.

Kelucuan lain, beberapa pemainnya ada yang salah dialog dan saling berebut bicara, bahkan membawa contekan di telapak tangganya. Semua itu hadir begitu saja, sampai disindir langsung oleh pelawak Eko DJ yang bikin penonton geerr.

Begitupun saat salah seorang pemain dadakan spontan berkoar kepada Eko DJ. Pemain itu bilang. “Lo enak jadi pelawak dibayar di sini, nah gue kagak”. Kontan celetukan yang tak ada dalam naskah itu, bikin seisi Graha Bakti Budaya bergemuruh riuh oleh tawa penonton.

Apalagi saat Eko DJ balik membalasnya. “Kalian kan orang bank. Dah tahu nggak dibayar, kenapa masih mau melucu di sini”. Penonton pun kembali terpingkal-pingkal, termasuk Menbudpar Jero Wacik selaku pelindung PPL yang hadir bersama staf ahlinya Hari Untoro dan Dirjen Nilai Seni Budaya dan Film (NBSF) Ukus Kuswara.

Pendekar Betawi
Si Pitung Robin Hood Betawi diangkat dari kisah pendekar religius dari tanah Betawi. Bersama 6 orang enamnya, dia merampok rumah para pengusaha kaya dan tuan tanah pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Harta rampokannya dibagikan kepada orang-orang miskin yang tinggal di sekitar tempat tinggalnya di Kampung Rawa Belong, Jakarta Barat.

Perbuatan si Pitung yang jago silat itu tak bedanya dengan apa yang dilakukan Robin Hood dari hutan Sherwood di Inggris. Oleh karenanya pementasan ludruk ini diberi judul Si Pitung Robin Hood Betawi.

Dan rupanya trik mengikutsertaan tokoh atau orang diluar seniman ludruk atau pelawak profesional dalam pementasan ludruk kali ini, berhasil juga menghadirkan warna lain. Meski kaku karena terbiasa bergaya dan berbicara formal, toh para bankir itu pun mampu mengocok perut penonton.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 16 Juli 2011

Wayang Rumput Beraksi di Taman Fatahillah


Beragam wayang dari berbagai daerah di Indonesia beraksi dalam Festival Wayang 2011 di taman Museum Fatahillah, Jakarta, Sabtu (16/7/2011). Salah satunya Wayang Suket made in Wonigiri. Wayang yang terbuat dari rumput gajah ini mampu menyedot perhatian. Apa keistimewaanya?

Suket dari Bahasa Jawa berarti rumput. Sesuai namanya wayang suket terbuat dari rumput, baik rumput teki atau rumput gajah, dan jenis alang-alang lainnya.

Wayang suket memang belum sepopuler wayang kulit, golek, dan wayang orang. Namun sebenarnya wayang rumput ini bukan sesuatu yang baru. Wayang ini sudah lama menjadi koleksi Museum Wayang di Jakarta dan Museum Wayang Indonesia di Wonogiri, Jawa Tengah.

Bagi penggemar wayang rumput, pastinya juga sudah mengenal Slamet Gundono, pewayang atau pedalang bertumbuh tambuh yang memainkan wayang suket dengan caranya sendiri, khas, nyeleneh, dan humoris.

Wayang suket di festival ini agak bebeda dengan wayang lainnya sehingga menarik perhatain pengunjung. Selain bahan bakunya tak biasa dan tampilannya juga agak berbeda. Seperti keluar dari pakem wayang yang selama ini dikenal baik oleh orang awam.

Sama seperti wayang lainnya, wayang suket di festival ini dapat memainkan beberapa karakter tokoh pewayangan. Yang menarik, pengunjung dapat membeli wayang ini dan lainnya sebagai oleh-oleh untuk dikoleksi atau menjadi hiasan dinding rumah.

Festival Wayang 2011 digelar untuk memperkenalkan wayang dan jenisnya termasuk tokoh-tokoh dalam pewayangan yang sudah tersohor. Mengingat tokoh-tokoh wayang pun kerap mengajarkan nilai kebaikan ataupun sikap ksatria.

Lewat festival ini diharapkan generasi muda terutama anak-anak dapat mengenal bermacam wayang Indonesia dan para tokoh pewayangan sekaligus sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya asli Indonesia yang sudah diakui Unesco sebagaimana keris, angkluk, dan batik.

Festival Wayang di depan Museum Fatahillah, Jakarta ini digelar sampai besok, Minggu (17/7/2011).

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 15 Juni 2011

Tiga Tugas Khusus Dirjen NBSF Baru


Ada tiga (3) perintah atau tugas khusus yang diberikan Menbudpar Jero Wacik kepada Direktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, dan Film (NBSF) Ukus Kuswara, yang dilantik di Jakarta, Rabu (15/6/2011). Ketiga tugas itu bermuara pada pembangunan karakter bangsa. Apa saja dan apa yang harus dia lakukan?

Perintah atau tugas khusus pertama Dirjen NBSF Ukus Kuswara adalah membangun karakter bangsa. Menurut Menbudpar Jero Wacik kementerian di Indonesia yang dibawahnya ada Direktorat Budi Pekerti dan Pembangunan Karakter Bangsa adalah Kemenbudpar. “Jadi gaung pembangunan karakter bangsa harus lebih banyak dari kementerian ini,” tegasnya,

“Kalau di Kemendiknas pembangunan karakter bangsa lewat kurikulum, begitu juga dengan Kemenag dan Kemenpora. Tapi di Kemenbudpar mengunakan seni dan budaya untuk membangun karakter bangsa,” terangnya.

Membangun karakter bangsa, lanjut Jero Wacik adalah pekerjaan yang tidak pernah selesai (never ending job) dan tidak akan pernah selesai. Presiden Soekarno yang pertama membuat kalimat caracter nation building pada tahun 40-an, dan sampai sekarang belum selesai. “Jadi jangan menyalahkan presiden-presiden berikutnya karena memang belum selesai dan tantangannya berbeda,” katanya.

Contohnya, waktu era Soekarno belum terpikirkan bahwa orang main internet, jejaring sosial facebook dan twitter sudah mejadi keseharian, mencaci maki orang lain seenaknya, bicaranya seperti orang di hutan, bilang monyet, dan segala macam.

“Ini tugas saudara membuat generasi muda untuk tetap berkoridor dan beretika budaya Indonesia. Walaupun facebook dan twitter sepertinya bebas tapi harus ada koridor dan etikanya. Bukan kita yang mengatur teknologinya tapi kita bagian budayanya dengan menghimbau generasi muda bersikap sesuai koridor budaya bangsa dan melibatkan pers untuk menyampaikan himbauan itu, “ paparnya.

Tugas membangun karakter bangsa tidak mudah. “Untuk itu Anda harus mengerahkan semua anak buah Anda agar tiap bangun tidur ingat tugas membangun karakter bangsa. Dan mengingatkan apa yang harus dikerjakan hari ini untuk membangun karakter itu,” pesannya.

Tugas khusus kedua Dirjen NBSF baru, menjaga hubungan baik dengan seniman dan budayan yang beridealis tinggi dan melahirkan karya-karya besar (masterpieace) atau adiluhung. “Kalau ada seniman atau budayawan yang sakit, sempatkan nengok sehingga merasa dijaga oleh Kemenbudpar. Kalau ada yang meninggal, beri perhatian dan atensi. Walau anggaran kita kecil, ada anggaran untuk membantu mereka. Siapkan anggaran dan atensi itu,” imbaunya lagi.

Tugas ketiga, memberi anugerah kepada seniman dan budayawan yang berdedikasi tinggi dan mengharumkan nama bangsa dengan karyanya. “Secara tidak sadar, mereka butuh penghargaan. Dan kewajiban kitalah memberi anugerah,” ungkapnya.

Ajak bicara budayawan atau seniman yang nyeleneh atau berseberangan untuk bersama-sama membangun karakter bangsa. “ Jangan menghindar. Mereka begitu karena ingin negerinya baik,” tutup Jero Wacik.

Selesai dilantik, Ukus Kuswara menjelaskan bahwa dia mendapat 3 perintah khusus dari Menbudpar Jero Wacik yakni membangun karakter bangsa, bermitra, dan memperbanyak apresiasi kepada seniman dan budayawan.

“Ketiga tugas itu bermuara untuk membangun karakter bangsa tadi,” katanya kepada media usai diberi selamat oleh sejumlah eselon 1, 2, dan para awak media.

Disinggung soal kendala yang masih menghambat perkembangan seni budaya Indonesia, Ukus mengatakan akan menghadapinya. “Semua kendala pasti ada. Tapi kita tidak akan membicarakan kendala itu, kita akan bicara apa saja yang akan kita lakukan untuk mencapai sasaran dengan terus membangun karakter bangsa,” tegasnya.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Akbar Handoko, Pusformas Kemenbudpar

Read more...

Sabtu, 04 Juni 2011

Gaya Bali Mengemas Pesta Kesenian


Festival budaya tak bisa disangkal mampu menarik perhatian wisatawan untuk bertandang. Karenanya, sejumlah festival marak digelar di berbagai kota dan daerah belakangan ini. Tujuannya tentu bukan semata memperkenalkan beragam budaya, melainkan pula menjaring wisatawan. Dari sekian festival budaya, Pesta Kesenian Bali (PKB) boleh dibilang masih di atas festival budaya lain dalam hal pengemasan hingga berkelas dunia. Seperti apa Bali mengemas pesta keseniannya?

Pembukaan PKB biasanya berlangsung di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali (bajra sandhi), Renon, Denpasar. Sudah beberapa kali Susilo Bambang Yudhoyono membuka PKB ini, didampingi Jero Wacik selaku Menbudpar. Ini membuktikan adanya perhatian khusus presiden terhadap pesta kesenian ini.

Pawai budaya yang ditampilkan oleh setiap kontingen hampir semuanya memikat. Tidak asal tampil. Tarian, pakaian, atribut, dan atraksi yang disuguhkan benar-benar dipersiapkan dengan matang dan menarik sehingga membuat penonton berdecak kagum.

Kelebihan lain, kendati sudah berkelas dunia, PKB justru mengedepankan budaya lokal terutama Bali. Sejumlah kabupaten yang ada di Bali seperti Kabupaten Bangli, Badung, Tabanan, Jemberana, Klungkung, Buleleng, Gianyar, dan Kota Denpasar seolah berebut menyuguhkan penampilan terbaik dalam pawai tersebut.

PKB juga diminati kontingen dari berbagai daerah yang menampilkan demontrasi kesenian memukau, andalan daerah setempat. Kontingen dari luat Bali ini juga tak mau kalah dengan tuan rumah.

Peserta PKB pun diminati sejumlah negara asing, baik dari benua Asia, Eropa maupun Amerika. Sejumlah orang asing mendadak Bali di PKB. Mereka tampil layaknya orang Bali, bukan hanya menjadi penonton melainkan ikut terlibat langsung sebagai peserta.

Ada perempuan Jepang dan Eropa yang ikut tergabung dalam kelompok musik tradisional Bali. Mereka masing-masing memainkan gamelan dan meniup suling bersama pemain gamelan perempuan Bali lainnya. Kedua WNA itu kompak mengenakan kebaya, kain, dan sanggul khas perempuan Bali. Selain itu ada beberapa turis asing, baik laki-laki maupun perempuan yang ikut berpawai dengan mengenakan atribut pakaian khas Bali. Mereka begitu menikmati pesta kesenian ini.

Kemasan menarik lain dari PKB adalah dengan hadirnya pengatur pawai yang mengenakan kostum daag seperti yang lazim dijumpai pada kesenian janger. Bedanya daag PKB ini tidak mengatur ritme penampilan pragina janger dan kecak, melainkan mengatur kelancaran jalannya pawai pembukaan PKB.

Kalau ada kontingan pawai yang melakukan atraksi di depan panggung kehormatan lebih dari lima menit, maka salah seorang dari daag itu akan membisiki koordinatornya agar kontingen itu beranjak dari panggung kehormatan. Mereka juga bertugas mengatur jarak barisan antara satu kontingen dengan kontingen lainnya, termasuk mengatur penonton, juru foto dan tulis dari media yang sedang meliput agar lebih tertib.

Cara para daag mengatur jalannya pawai tidak seperti petugas keamanan umumnya yang kerap menjengkelkan dan kasar. Para daag itu, justru lebih sopan, unik, menghibur, dan tidak merusak performa kontingen, karena mereka melakukannya sambil menari dengan pakaian yang berbeda, berikut topeng khas dan lucu.

Gaya Bali mengemas pesta kesenian yang bermuatan lokal dengan apik dan profesional, rasanya patut ditiru oleh festival budaya lainnya agar dapat menarik kunjungan wisatawan.

PKB 2011
PKB digelar setahun sekali. Tahun ini penyelenggaran PKB yang ke-33 berlangsung pada 11 Juni-9Juli 2011. Acara pembukaannya rencananya dibuka SBY didampingi Jero Wacik. Lokasinya di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar. Sedangkan sejumlah pentas kesenian lainnya di gelar di Taman Budaya (Bali Art Center), Denpasar.

Sebanyak 15.000 seniman dari Amerika Serikat, Australia, Jepang, Thailand, Singapura, dan Malaysia serta 24 daerah dari Indonesia termasuk tuan rumah Bali akan meramaikan PKB 2011. Selain pawai pada hari pembukaan, PKB yang tahun ini bertema ”Desa Kala Patra" yang berarti adaptasi diri dalam multikultur ini akan diisi dengan 334 jenis kesenian yang ditampilkan secara berturut-turut selama sebulan.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Nyobain Kerak Telor di Festival Palang Pintu ke-6


Belon ngerti ape itu Palang Pintu? Belon pernah nyobain kayak ape tuh rasenye Kerak Telor? Datang aje ke Kemang. Soalnye di sono ade hajatan Festival Palang Pintu keenem sekalian Gelar Budaya Betawi 2011. Buruan, acaranye cume ampe besok.

Begitu ajakan spontan Bang Ahmad, warga Betawi asli Mampang dengan bahasa dan logat Betawinya yang kental, menjawab beberapa pertanyaan saya sewaktu terjebak macet mau menuju Kemang dari arah Mampang, Jakarta Selatan.

Apa yang dijelaskan Bang Ahmad ternyata benar. Sejak Sabtu pagi (4/6/2011) sampai besok, Minggu malam (5/6/20110), akses Jalan Kemang dari arah Jalan Ampera maupun Jalan Antasari ditutup karena ada event tahunan Festival Palang Pintu yang merupakan event unggulan kota Jakarta Selatan.

Acara yang dibuka oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo praktis membuat kemacetan di beberapa ruas jalan menuju kawasan elit tersebut.

"Palang Pintu” merupakan suatu tradisi masyarakat Betawi yang biasa dilakukan saat rombongan mempelai pria mendatangi mempelai wanita dalam pesta perkawinan.

Rombongan mempelai pria selain membawa bermacam bingkisan khas antara lain roti buaya yang dihias sedemikian rupa, juga membawa beberapa jawara yang jago pencak silat dan berpantun. Mereka harus mengalahkan beberapa jawara dari mempelai wanita sebelum masuk ke rumah mempelai wanita. Jika berhasil, berarti mereka diperbolehkan melewati palang pintu ke rumah untuk bersanding dengan mempelai wanita di pelaminan.

Dalam festival ini, peragaan palang pintu digelar di atas panggung. Diiringi musik gamang keromong dan lagu sike. Para jawara saling berpantun. Gaya dan isi pantun mereka kerap membuat penonton tertawa karena kocak. Selain itu mereka juga bersilat dengan menggunakan golok, senjata tradisional Betawi yang biasa dipakai para jawara dulu.

Festival Palang Pintu VI dan Gelar Budaya Betawi 2011 ini digelar dalam rangka menyambut Ulang Tahun ke-484 Jakarta.

Festival berlangsung sejak pagi hingga sekitar pukul 22.00. Ada sekitar 200 pedagang yang ikut festival ini, berjejer di jalan sepanjang 800 meter, antara lain jajanan dan makanan khas Betawi seperti kerak telok, bir pletok, nasi uduk, asinan, roti buaya, dan lainya.

Kerak telor, menjadi penganan yang diminati pengunjung festival ini. Maklum penganan dari beras, telor bebek, dan bumbu racikan yang digoreng dengan penggorengan atau wajan khusus berukuran kecil, dan api dari arang batok ini tidak setiap hari ada di Kemang.

Biasanya warga Jakarta mendapatkan penjual kerak telor saat perayaan Jakarta Fair di Kemayoran, Ulang Tahun Jakarta di Monas atau di Kawasan Kota Tua depan Museum Fatahillah.

Sama seperti di tempat-tempat tersebut, kerak telor di Festival Palang Pintu VI yang tahun ini menjadi bagian dari Festival Kemang ini harganya cuma Rp. 10.000 per porsi. Rasanya gurih. Mo nyobain? Dajeng aje besok.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 17 Mei 2011

Keistimewaan Menikmati Borobudur Saat Waisak


Setiap perayaan Waisak, Candi Borobudur kebanjiran ribuan wisatawan. Pada peringatan Hari Tri Suci Waisak 2555 BE tahun ini, Borobudur panen sekitar 20 ribu wisatawan dari dalam negeri dan mancanegara. Keistimewaan apa yang didapat wisatawan ke candi Budha terbesar di Asia Tenggara ini saat Waisak?

Menurut Manager Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) Pujo Suwarno, angka kunjungan wisatawan ke Candi Borobudur menjelang perayaan Waisak tahun ini meningkat hingga 4 kali lipat dibanding hari biasa. Setiap harinya, sekitar 3 hingga 4 ribu wisatawan datang sejak Sabtu (14/5). Pengunjung ke Borobudur rata-rata 12 ribu orang per hari. Dan selama perayaan waisak 2011 jumlahnya diperkirakan mencapai sekitar 20 ribu wisatawan.

Mengunjungi Borobudur saat perayaan Waisak jelas beda dibanding pada hari biasa. Ada atmosfir lain yang tak mungkin didapat kalau wisatawan datang diluar peringatan hari kelahiran Sidharta Gautama, Sang Budha itu.

Atmosfir yang berbeda itulah yang membuat wisatawan rela mengeluarkan kocek lebih untuk datang ke Borobudur. Maklum biasanya jelang Waisak, harga tiket pesawat ke Jogja melonjak.

Pengunjung yang datang dari berbagai daerah dan kota di Indonesia. Bahkan para bhiksu dan bhiksuni yang hadir bukan cuma dari seluruh Tanah Air, tapi juga dari Thailand, Tibet, Laos, Myanmar, Singapura, dan Kamboja.

Atmosfir berbeda yang dapat dilihat dan dirasakan wisatawan adalah menyaksikan serangkaian acara atau prosesi Tri Suci Waisak yang tahun ini bertema mencari kebahagiaan dalam diri sendiri.

Prosesi perayaan waisak tahun ini diawali dengan ziarah ke makam pahlawan, kemudian diikuti pengambilan air suci di Jumprit Temanggung, dan pengambilan api abadi di Mrapen, Grobogan, serta pengobatan massal. Kemudian dilanjutkan dengan kirab suci atau arak-arakan dari Candi Mendut ke Candi Borobudur sejak pagi, dan pada malam harinya diteruskan dengan detik-detik Waisak serta acara penutupan di komplek candi Buddha yang didirikan pada Wangsa Syailendra 800 tahun Sebelum Masehi ini.

Kirab Suci 3 Km
Kirab suci atau arak-arakan, merupakan prosesi yang paling menyedot perhatian wisatawan. Maklum acara inilah yang membuat atmosfir Borobudur terasa berbeda dibanding hari biasa.

Tahun ini, kirab suci ini dilakukan ribuan umat Budha bersama para biksu Dewan Sangga Perwakilan Umat Budha Indonesia dengan berjalan kaki dari Candi Mendut melewati Candi Pawon menuju pelataran Candi Agung Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, Selasa (17/5), sepanjang sekitar 3 Km.

Prosesi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB, setelah mereka berdoa dan membaca parita di depan altar di Barat Candi Mendut dipimpin para biksu masing-masing sangha Walubi.

Peserta kirab ada yang membawa puluhan bendera Merah Putih, bendera Walubi dan Dewan Sangha Walubi. Sedangkan para biksu senior membawa replika Sang Budha dengan patung Budha berwarna kuning keemasan menaiki kendaraan hias berbentuk kapal.

Ada juga barisan pengusung sejumlah tandu yang berisi air suci dan api dharma Waisak. Semua perlengkapan prosesi itu akan ditempatkan di pelataran utama Candi Borobudur.

Sementara peserta lainnya memegang bunga sedap malam sambil melantunkan parita suci. Ada juga umat dan bhiksu yang membawa hasil bumi (buah-buahan, sayur-sayuran, padi, ketela dan lainya).

Dalam kirab ini juga diramaikan barisan penari tradisional Magelang Topeng Ireng yang berasal dari sejumlah grup kesenian. Ada juga peserta yang merias diri bak tokoh dalam sejarah perjalanan Buddha ke Utara mencari kitab suci seperti Kera Sakti, Bikkhu Tom Sam Chong, Dewa Api, Dewa Langit dan Dewa Bumi.

Atmosfir berbeda lainnya saat acara detik-detik Waisak di pelataran Barat Candi Borobudur, Selasa malam (17/5). Acara detik-detik Waisak tahun ini dimulai pukul 18.08.23 WIB, dipimpin Bante Wongsin Labhiko Mahatera dari Thailand.

Dalam acara itu, wisatawan dapat melihat ribuan umat Buddha yang hadir melakukan meditasi dan perenungan selama sekitar 10 menit. Mereka melakukan sikap anjali yakni duduk bersila dan tangan bersedekap di depan dada. Mereka khusyuk menghayati perjalanan Pangeran Siddharta Gautama, sang mahaguru yang menjadi contoh dan teladan hidup mereka.

Seusai pembacaan parita dari 15 majelis di dalam agama Buddha, para umat Budha menyalakan lilin dan melakukan upacara pradaksina, yakni mengelilingi Candi Borobudur sebanyak tiga kali searah jarum jam.

Seribu Lampion
Dan yang lebih istemewa lagi, tahun ini wisatawan dapat menikmati Candi Bodobudur bermandi cahaya lampion pada malam hari. Pasalnya usai pradaksina, acara dilanjutkan dengan penyalaan sekitar 1.000 lampion. Ketua Umum Walubi, Hartati Murdaya menjadi orang pertama yang menyalakan lampion, diikuti para bikhu dan bikhuni.

Malam itu candi Borobudur pun menjadi terang benderang oleh cahaya lampion sumbangan dari umat Budha. Pelepasan lampion sebagai tanda perdamaian dan penerang di dunia itu menjadi penutup acara perayaan Waisik 2011.

Menurut salah seorang biksu, lampion dikalangan umat umat Budha merupakan simbol cahaya penerangan dengan harapan kehidupan ini selalu terang dalam segala hal.

Bagi umat Budha, Candi Borobudur adalah tempat suci sebagaimana Ka’bah bagi umat muslim. Perayaan Waisak sekali setahun merupakan peluang besar untuk menjaring wisatawan sebanyak mungkin. Karena pada saat itulah ribuan umat Budha termasuk wisatawan berdatangan ke candi megah ini dari berbagai penjuru Indonesia dan mancanegara.

Asal pelayanan, keramahan, dan fasilitas pendukung bagi umat Budha dan ribuan wisatawan terpenuhi, pasti mereka akan datang kembali. Tapi bila hanya mencari keuntungan sesaat tanpa mengindahkan hal-hal tersebut, wisatawan terutama akan kapok datang lagi ke candi peninggalan kerajaan Mataram Kuno ini saat Waisak.

Dan itulah yang mesti diperhatikan oleh bukan hanya panitia penyelenggara, instansi terkait, dan industri pariwisata, tapi juga seluruh lapisan masyarakat.


Naskah & Foto: Adji Kurniawan
(adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 09 Mei 2011

Tari Geleng Ro’om Meriahkan Gala Dinner ASEAN Summit 2011


Tujuh penari perempuan muda nan cantik dari Sanggar Gita Maron Surabaya, tampil apik di acara Gala Dinner atau jamuan makan malam pembukaan Konferensi Tinggat Tinggi (KTT) ASEAN Summit ke-18 di Jakarta Convention Center (JCC), Sabtu malam (7/5/20`11). Tarian Geleng Ro’om yang mereka bawakan berhasil menghibur para kepala negara dan sejumlah menteri negara-negara anggota ASEAN yang hadir. Apa keistimewaan tarian ini sampai ditampilkan di perhelatan internasional?

Tari Geleng Ro`om menceritakan perempuan Madura yang gemar mengenakan gelang sejak zaman dulu. Semakin banyak gelang yang dikenakan, menunjukkan kelas sosial dari orang tersebut. "Gelang itu mempunyai filosofi sebagai pemacu semangat bekerja bagi orang Madura hingga merantau ke berbagai daerah lalu mengumpulkan jerih payahnya itu untuk membeli gelang emas sebagai tanda kesuksesannya,” jelas Dimas Pramuka Admaji selaku penatatari (koreografer) tarian ini sekaligus Ketua Sanggar Gita Maron Surabaya.

“Geleng Ro`om yang berarti gelang yang harum, merupakan tarian yang diadaptasi dari Tari Topeng Getak dan Ronding asal Madura,” terangnya.

Kemenbudpar mempersembahkan tarian ini bukan tanpa sebab. Tarian ini sarat prestasi. Salah satunya meraih juara umum pada Parade Tari Nusantara (PTN) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta tahun 2006. “Ketika itu tarian ini menyabet koreografer terbaik, tata rias terbaik, kostum terbaik, tarian kreasi terbaik, aransemen musik terbaik, 13 penyaji terbaik, dan penyaji terbaik wilayah Jawa-Bali," katanya.

Prestasi lainnya, tarian ini sudah 6 kali tampil di Istana Negara untuk berbagai acara jamuan kenegaraan.

Selain kostum yang menarik, unik, para penarinya perempuannya muda dan cantik, berkulit putih-putih. Mereka mengenakan gelang berwarna keemasan di kaki dan tangannya. Secara fisik saja penampilam mereka sudah menarik perhatian. Dan yang menjadi kelebihan lain gerakan tarian ini amat varatif dan enerjik. Itulah yang membuat ratusan pasang mata malam itu terpikat.

Tak salah Kemenbudpar menyuguhkan tarian ini, biasanya untuk acara-acara berkelas internasional yang sering ditampilkan Tari Pendet dari Bali, Tari Saman (Aceh), Tari Jaipong (Jawa Barat), Tari Piring (Sumatera Barat) atau Tari Topeng Betawi dari Jakarta. Padahal sebenarnya Indonesia memiliki tarian tradisional maupun kreasi tradisional yang melimpah dan tak kalah menarik. Dan Tari Geleng Ro’om salah satunya yang terbukti sukses memikat tamu undangan istimewa KTT ASEAN 2011 malam itu.

Naskah: Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Irhamna Ilham, Pusformas, Kemenbudpar

Read more...

Mari Berwisata di Negara-Negara Anggota ASEAN


Untuk memajukan pariwisata negara-negara ASEAN, masyarakat ASEAN sebaiknya berwisata di negara-negara ASEAN saja, jangan ke negara di luar ASEAN. Begitu himbauan bidang pariwisata yang dilontarkan Menbudpar Jero Wacik usai menghadiri Gala Dinner Pembukaan ASEAN ke-18 di Jakarta, Sabtu malam, (7/5/2011). Bagaimana di bidang budaya dan film?

Negara ASEAN yang terdiri atas Indonesia yang kini menjabat sebagai Kepala (Chairman), Filipina, Vietnam, Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam, Laos, Myanmar, dan Kamboja memiliki obyek wisata kelas dunia yang beragam. Masing-masing negara pun memiliki obyek wisata andalan serta bermacam obyek wisata potensial baik alam, budaya, kuliner dan lainnya.

Selain keberagaman obyek wisata, jumlah penduduk ASEAN sekitar 600 juta jiwa merupakan pasar pariwisata yang dapat menjadi modal utama untuk memajukan pariwisata ASEAN. Sayangnya pariwisata di ASEAN masih berdiri sendiri-sendiri sehingga hasilnya belum optimal.

Karena itulah di bidang pariwisata, Menbudpar Jero Wacik menghimbau masyarakat di negara-negara yang tergabung dalam ASEAN berwisata di kawasan ASEAN bukan ke kawasan lain. “Lebih baik mendahului atau mengutamakan berwisata dke negara-negara di ASEAN untuk memajukan pariwisata ASEAN sendiri,” terangnya.

Dengan begitu, lanjut Jero Wacik, perputaran ekonomi dari sektor pariwisata akan terjadi di kawasan ASEAN, tidak keluar kawasan lain. “Dan yang menikmatinya adalah masyarakat kawasan ASEAN juga,” katanya.

Di bidang budaya, Menbudpar Jero Wacik juga menghimbau pertukaran budaya antarnegara ASEAN kembali ditingkatkan lagi untuk lebih memperkenalkan kebudayaan masing-masing negara ke generasi penerus. “Pertukaran budaya antarnegara ASEAN yang dulu pernah ada, harus digalakkan dan ditambah jumlahnya biar persaudaran antarnegara ASEAN lewat budaya tambah erat,” imbuhnya.

Festival Film ASEAN
Di bidang perfilman, Indonesia sebagai Ketua ASEAN tahun ini memiliki agenda dalam KTT ASEAN dengan menyelenggarakan Festival Film ASEAN. ”Rencananya akan dibuka di Jakarta dilanjutkan dengan roadshow di enam (6) provinsi dan beberapa kota lain di ASEAN. Sedangkan acara puncaknya di Bali bersamaan dengan ASEAN Fair dengan menghadirkan talkshow soal film bersama tokoh film dunia,” jelas Ukus Kuswara selaku Plt. Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film (NBSF) Kemenbudpar pada hari dan acara yang sama.

Jenis film yang akan difestivalkan anatra lain film layar lebar, film pendek, dan dokumenter. ”Kami masih menunggu dan mengumpulkan film-film dari para peserta festival,” akunya seraya berharap fetiavala terebut menjadi langkah awal terbentuknya satu komunitas film ASEAN yang bertujuan menuju peningkatan daya saing dunia perfilman di kawasan Asia Tenggara.

Dengan adanya komunitas tersebut, lanjut Ukus akan terjadi saling tukar informasi dan pengalaman sehingga kualitas film di ASEAN makin berdaya saing tinggi.

Di bidang perfilman tambah Ukus, masing-masing negara ASEAN memiliki keunggulan tersendiri. Singapura misalnya memiliki fasilitas studio yang memadai, Thailand unggul dalam jasa teknisnya, sementara Indonesia unggul dalam genre film yang beragam serta lokasi syuting dan budaya yang lengkap.

Bidang perfilman dinilai sangat penting sebagai salah satu bahan bahasan dalam KTT ASEAN mengingat peran film dapat mempercepat pemahaman tentang sesuatu dan menjadi media interaksi efektif.

Pada malam Gala Dinner Pembukaan KTT ASEAN ke-18 yang dihadiri sejumlah kepala pemerintahan dan para menteri se-ASEAN ini dimeriahkan dengan penampilan Twilite Orchestra dengan konduktor Adie MS.

Saat Jamuan makan malam berlangsung, Twilite Orchestra mempersembahkan lagu-lagu populer dari negara-negara di ASEAN. Dilanjutkan dengan penampilan Tarian Geleng Ro’om dari Jawa Timur yang menceritakan kegigihan perempuan etnik Madura. Selanjutnya penampilan Elfa’s Singer membawakan lagu ciptaan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertajuk Save Our Planet, disusul medley lagu kebangsaan negara-negara ASEAN dan diakhiri dengan suguhan musik interaktif dengan lagu Trepak dan Manuk Dadali.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus)
Foto: Irhamna Ilham, Pusformas, Kemenbudpar

Read more...

Kamis, 07 April 2011

Buat Fakultas Perfilman dan Tambah Bioskop


Dalam upaya menciptakan Sumber Daya Manusia (SDM) bidang perfilman yang bermutu, Kementerian Kebudayaan & Pariwisata (Kemenbudpar) bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan pihak terkait tengah membahas pembuatan Fakultas Perfilman.

Kata Menbupdar Jero Wacik, mulai tahun ini dan tahun-tahun selanjutnya kita akan membuat film yang banyak dengan mutu yang lebih baik. Untuk itu diperlukan SDM perfilman yang baik.

“Sekarang kita cuma memiliki Sekolah Film di IKJ. Itu dinilai sangat kurang. Oleh karema itu saya menggagas membuat Fakultas Perfilman bekerjasama dengan Kemendiknas. Saya sudah mengajukan surat ke Mendiknas karena kebetukan Kemendiknas dan Kemenbudpar berada di komisi X DPR maka pembahasannya nanti akan di komisi X,” jelasnya usai membuka Lokakarya Pengembangan Seni Budaya dan Perfilman di Jakarta, Rabu (06/03/2011).

Saat ini, lanjut Jero Wacik sedang dipelajari dimana tempat yang tepat untuk membuat Fakultas Perfilman itu. “Ada beberapa usulan seperti di Institut Seni Indonesia (ISI) Jogja atau Bali. Usulan lain di perguruan tinggi besar lain seperti ITB, UI ataupun Gajah Mada. Mana tempat yang sanggup dan cocok membuat fakultas perfilman, ini yang sedang dibahas,” terangnya.

Kemenbudpar juga tengah mengusulkan pihak-pihak terkait untuk menambah gedung bioskop, mengingat gedung bioskop yang ada sekarang jumlahnya masih kurang. Menurut Jero Wacik, jumlah layar bioskop kita baru 600 layar. Diharapkan pada tahun 2014 sudah ada 1.000 layar agar rakyat di daerah dan kota lain di seluruh Indonesia dapat menonton film.

“Saya minta Walikota dan Bupati, jika ada orang yang meminta izin mendirikan bangunan (IMB) untuk membuat mall, ditambah persyaratannya di mall itu harus ada gedung bioskiop 1-2 layar. Ini yang sedang kita dorong. Sehingga dalam 3 tahun ini jumlah layar film kita bisa menjadi 1.000,” imbuhnya.

Untuk meningkat jumlah dan mutu film Indonesia lainnya, Kemenbudpar sedang menyiapkan anggaran yang sudah disetujui oleh Komisi X DPR RI untuk mensubsidi film-film yang bercerita tentang kepahlawan dan membangun karakter anak-anak.

“Banyak orang bilang film tentang kepahlawanan atau membangun karakter anak-anak itu tidak laku. Menurut saya itu salah. Contoh cerita film kepahlawanan Naga Bonar dan Naga Bonar Jadi 2 yang dibuat lucu itu sukses atau film tentang anak-anak seperti Garuda Di Dadaku dan Laskar Pelangi itu yang membangun karakter anak, itu juga sangat laku. Karena banyak orangtua kita yang ingin anak-anaknya menonton film yang mendidik,” jelasnya yang juga akan mendorong perkembangan seni musik yang sudah sangat baik serta teater dan juga sastra yang dirasa semakin terlupakan. Menurut

Ketua Komisi X DPR RI Prof. DR.H.Mahyuddin NS,Sp.OG, sebelum menyetujui anggaran yang diajukan Kemenbudpar, dilihat dulu apa isi filmnya, apakah membangkitkan budaya lokal atau kepemimpinan atau karakter bangsa dll. “Berapa jumlah besar anggarannya, kita akan sharing. Yang pasti anggaran itu keluar dari APBN tahun 2011, karena kita ingin meningkatkan jumlah film lebih dari 100 tahun ini juga,” jelasnya.

Lokakarya yang mengkat Tema “Pembangunan Kebudayaan untuk Menyeimbangkan Kesejahteraan dan Harmoni Kehidupan Bangsa” ini diikuti sekitar 180 peserta baik seniman-budayawan, anggota DPR dari Komisi X, orang-orang perfilman, asosiasi kesusastraan, akademisi, media dan lainnya.

Lokakarya ini diharapkan menghasilkan usulan-usulan dan pemikiran-pemikiran yang akan dikemas menjadi program-program untuk membangun karakter bangsa yang didanai APBN.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto:. Dok. Ist.

Read more...

Rabu, 30 Maret 2011

Lomba Penulisan Cerita Film Anak-Anak dan Kepahlawanan

Dalam rangka meningkatkan jumlah dan mutu film nasional serta membangun karakter bangsa lewat film, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mendukung penyelenggaraan “Lomba Penulisan Cerita Film Tentang Anak-Anak dan Kepahlawanan”, tahun ini. Lomba yang akan memilih 10 pemenang ini terbuka untuk umum, berhadiah total ratusan juta rupiah. “Naskah pemenang lomba ini akan divisualisasikan ke dalam film layar lebar,” kata Menbudpar Jero Wacik, saat merayakan Hari Film Nasional ke-61 di Jakarta, Rabu (30/03/2011). Menbudpar optimis sampai akhir tahun ini, jumlah produksi film nasional akan mencapai 100 judul. Jero Wacik yakin masih banyak produser idealis yang menanamkan nilai-nilai positif lewat filmnya, bukan hanya mencari keuntungan semata. “Produser yang idealis itu patut diberi dukungan dan apresiasi. Pemerintah akan memfasilitasi film-film berkualitas ini ke berbagai festival film nasional,” jelasnya. Untuk menjadikan film sebagai media membangun karakterk bangsa, lanjut Jero Wacik, pertama-tama yang harus dibangun karakternya adalah orang-orang film sendiri, seperti produser, sutradara, dan termasuk pemain filmnya. Dengan pembanguan karakter bangsa terhadap produser, diharapkan mereka akan membuat film yang bukan semata komersil, melainkan juga mempunyai sisi nilai pembangunan karakter bangsa. Begitu juga para pemain film. “Kalau ada produser atau orang kaya yang ajak main film tapi menghancurkan karakter bangsa, sebaiknya jangan mau main. Kalau tidak ada pemain yang mau main, pasti tidak akan jadi film itu dibuat,” imbuh Jero Wacik yang tengah mendorong para produser untuk membuat film tentang pembuangan Bung Karno di Ende, Flores, NTT selama 4 tahun 1934-1938. Lola Amaria, sutradara dan pemain film menilai kelebihan perfilman Indonesia adalah kekurangannya. Biar perfilman nasional maju dan lebih baik, menurutnya harus diperbaiki segala macam kekurangannya. “Kekurangannya banyak banget dari sistemnya, kekurangan SDM berkualitas-nya, pendistribusiannya dan lain-lain,”. Menurutnya dalam kondisi apapun, sedapat mungkin membuat film. “Kalau saya mau ada gejolak atau tidak tetap saja bikin film. Sekalipun pemerintah tidak membantu saya bikin film,” terang Lola yang tengah mengumpulkan bahan dan riset untuk pembuatan film terbarunya yang masih dirahasiakan cerita, judul, dan para pemainnya. Ketentuan umum lomba Penulisan Cerita Film Tentang Anak-Anak dan Kepahlawanan sebagai berikut; pesertanya WNI dengan usia di atas 16 tahun, cerita mengandung nilai budaya dan identitas bangsa, minimal 90 halaman disertai sinopsis dan biografi penulis, dikirim 2 copy dalam bentuk print out kertas A4 dilengkapi dengan CD, karya asli yang belum pernah dipulikasikan atau diproduksi, dan Kemenbudpar sebagai pemegang Hak Pengalih Wujudan (derivative right) ke dalam film atas naskah film yang terpilih. Penerimaan naskah lomba penulisan cerita film ini mulai 1 April s/d 30 Juni 2011 cap pos, dialamatkan ke Sekretariat Lomba Penulisan Cerita Film di Gedung Film Lt. IV, Jalan M.T. Haryono Kav. 47-48, Jakarta 12770. Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 24 Maret 2011

Menbudpar Koor Seandainya Selalu Satu



“..Seandainya kita selalu satu dalam cita-cita, juga dalam cinta. Seandainya kita selalu satu berpadu, dalam angan dan harapan, dalam suka atau nestapa, dalam langkah menuju hidup bahagia..”.

Reffrain lagu "Seandainya Selalu Satu" yang dipopulerkan Harvey Malaihollo dinyanyikan secara koor malam itu oleh Menbudpar Jero Wacik, Menkesra Agung Laksono dan seluruh artis penyanyi Elfas Singer, Harvey Malihollo, The Rollies, Sundari Soekotjo, Warna, Netta dan Herson (Geronimo).

Koor tersebut sekaligus menutup acara penganugerahan Satyalancana Kebudayaan 2011, Hadiah Seni 2011, Nugraha Bhakti Musik Indonesia 2011, dan peringatan musisi Elfa Secioria bertajuk “Untukmu Sahabatku Elfa Secoria” di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu Malam (23/03/2011).

Sebelum koor Harvey Malaihollo tampil solo memukau penonton yang mememuhi GKJ dengan membawakan lagu karya Alm. Elfa Secioria dan Wieke Gur itu. Boleh dibilang Harvey berhasil menjadi bintang di antara bintang yang tampil malam itu. Suaranya, penghayatannya serta penampilan penyanyi langganan juara festival nasional dan internasional ini tetap prima. Tak salah bila dia dijuluki “King of Festival” terlebih pernah menyabet juara penyanyi tingkat dunia di Jepang dengan mengalahkan Cellion Dion ketika itu.

Sebelum Harvey tampil, Elfas Singer mengawali acara dengan menyanyikan 3 lagu secara medley yakni "People" (acapella), "Selamat Datang Cinta", dan "Ayun Langkahku" karya Elfas Secioria. Dilanjutkan penampilan Netta & Herson (Geronimo) menyanyikan lagu “Lady” (Wrong Song Festival di Budakon, Jepang tahun 1982) dan lagu “Song od Kalpataru” (ASEAN Song Festival Competition di Bangkok, Thailand tahun 1983). Selanjutnya giliran grup vokal WARNA dengan lagu “Biarlah Kusimpan Dalam Hati (grand prize winner, The Best Asia Song Festival di Manila, Filipina tahun 2000) karya Dwiki Darmawan.

Kemudian band lawas The Rollies menyanyikan lagu-lagu hitsnya secara medley "Astuti", "Kemarau", dan "Gone Are The Song of Yesterday". Serta penampilan diva keroncong Indonesia Sundari Soekotjo yang mebawakan lagu "Kau Selalu di Hatiku", "Bunga Flamboyan", dan "Aku Berpisah di Teras St. Corolous" karya Wedhasmara.

Pada malam itu, Menbudpar Jero Wacik menyerahkan 3 kategari pengharagaan Satyalancana Kebudayaan 2010, Anugerah Kebudayaan untuk Hadiah Seni tahun 2011, dan Nugraha Bhakti Musik Indonesia (NBMI) tahun 2011.

Delapan (8) orang penerima tanda kehormatan Satyalancana Kebudayaan 2010 adalah budayawan & penyair Darmanto Jatman, komponis Alm. Koestanto Koeswoyo, koreografer & penari topeng Losari Alm. Dewi, penulis buku adat Hj. Siti Maryam R. Salahuddin, SH, sejarawan teater & esais Prof. Drs. Jakob Sumardjo, budayawan & penyair Emha Ainun Najib, dan penayanyi & pencipta lagu Iwan Fals, serta budayawan & komponis Dr. Abd. Hadi WM.

Tiga (3) peraih Hadiah Seni 2011 adalah komponis & pencipta lagu Alm. Elfa Secioria Hasbullah, penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, dan pencipta lagu Wedhasmara.

Sedangkan 7 (tujuh) penerima NBMI 2011 adalah Alm. Elfa Secioria Hasbullah, dr. H. Anton Issoedibjo, Harvey Malaihollo, Group The Rollies, Guruh Sukarno Putra, Dwiki Dharmawan, dan Agnes Monica.

Penyerahaan ketiga anugerah ini bertepatan dengan acara memperingati Hari Musik Indonesia 2011 yang jatuh pada tanggal 9 Maret. Acara ini digelar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) bersama Persatuan Artis Penyanyi, Pencipata Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) dengan tema “Musik sebagai Sarana Pembentukan Karakter dan Jatidiri Bangsa”.

“Dengan cara inilah pemerintah memberi penghargaan kepada seniman, budayawan, musisi, pencipta lagu, dan penyanyi yang telah mengharumkan nama bangsa dan menanamkan karakater serta jatidiri bangsa lewat karya-karyanya. Kemenbudpar akan berupaya memberi perhatian lebih dan anggaran yang lebih besar lagi untuk bidang peningkatan seni budaya ini,” jelas Jero Wacik.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Adji & Ucu Pusformas Kemenbudpar

Read more...

Candi Borobudur Kian Mendunia Pascapenghargaan PATA


Usai meraih penghargaan PATA Gold Award 2011 untuk kategori warisan budaya (heritage) dengan menyisihkan 223 peserta dari 102 organisasi maupun individu dari seluruh dunia, nama dan keberadaan Candi Borobudur diprediksi bakal kian mendunia.

Dampak postif atas pemberian penghargaan yang diterima oleh PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko (PT TWC selaku Persero yang mengelola candi-candi tersebut), menjadi bahan promosi jitu untuk memperkenalkan candi ini ke dunia luar.

Menurut Direktur Utama PT TWC Borobudur Purnomo Siswoprasetjo, dengan penghargaan ini otomatis dunia luar akan mengenal candi ini dengan lebih baik bukan cuma dimana posisinya tapi juga kegiatan-kegiatan apa saja sudah kita lakukan dengan baik. “Maklum sampai saat ini, kalau kita ikut pameran di luar negeri, masih banyak orang bertanya dimana letak Candi Borobudur, di sebelah mana Bali ya,” jelas Purnomo di Jakarta, Rabu (23/03/2011).

Keberhasilan PT TWC meraih penghargaan ini, lanjut Purnomo tak lepas dari kinerja yang profesionalisme, fokus, dan kontinitas bukan cuma promosi tapi juga pengelolaannya dan pelayanannya kepada wisatawan. “Pengharagaan ini sebagai bahan promosi efektik yang positif. Terutama orang atau pengelola candi lainnya dapat belajar bagaimana penanganan world heritage yang baik dikaitkan dengan lingkungan, pembangunan, dan masyarakatnya,” jelasnya.

Dirjen Pemasaran Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudar) Sapta Nirwandar menilai peghargaan PATA Gold Award 2011 yang diterima oleh PT TWC Borobudur dari PATA membuktikan bahwa reputasi pengelolaan Borobudur sudah baik dan diakui. “Ini merupakan pengakuan internasional terhadap keberhasilan pengelolaan dan pemanfaatan Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko sebagai konservasi, edukasi, dan pariwisata,” jelasnya.

Berdasarkan pengamatan Travelplusindonesia di lapangan, penghargaan ini pantas didapat pengelola candi Budha terbesar di Asia Tenggara yang berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini, mengingat penanganan yang dilakukan pihak pengelolanya terlebih pascabencana, terbilang cukup cepat dan tepat.

Pascagempa Jogja lalu misalnya, pihak pengelola bekerjasama dengan pemerintah dan intansi terkait melakukan perbaikan. Begitu juga pascaerupsi Merapi, pengelola candi membersihkan debu-debu yang menempel di permukaan relief candi untuk mencegah kerusakan parah. Sejumlah relawan baik warga setempat maupun mahasiswa yang berdatangan dari beberapa universitas tiada henti ikut membantu melakukan aksi bersih debu dengan alat dan perlakukan khusus sehingga keberadaan candi ini tetap lestari.

Apa yang dilakukan oleh pihak pengelola candi dan relawan, semestinya diikuti oleh pengelola candi lain yang ada di Tanah Air supaya kerusakan yang ditimbulkan akibat bencana alam maupun ulah manusia dapat ditanggulangi secepat dan semaksimal mungkin.

PATA sendiri menilai pengelolaan Candi Borobudur oleh PT TWC memang sudah baik, bukan hanya pengelolaan konservasi candinya, tetapi juga lingkungan permukiman sekitar candi, seperti membuat desa wisata dana lainnya.

Dengan adanya penghargaan ini, lanjut Purnomo, PT TWC akan melakukan perbaikan-perbaikan terus-menerus. Misalnya meningkatkan akomodasi, kegiatan dan pelayanan di sekitar Borobudur sehingga pengunjung yang ingin berlibur 2-3 hari di sekitar candi ini dapat tertampung dan menikmati suasana pedesaan yang nyaman, makanan tradisional yang enak, belajar tari, dan kehidupan sosial setempat. “Kami akan terus bekerjasama dengan pemerintah dan pihak swasta untuk membangun homestay dan memberikan pelatihan kepada masyarakat serta menambah fasilitas umum lainnya sesuai kondisi setempat dan juga masterplan yang sudah ada,” jelasnya.

Penghargaan dari Organisasi Pariwisata se-Asia Pasifik atau Pacific Asia Travel Association (PATA) ini rencananya akan diserahkan pada PATA’s 60th Anniversary and Conference di Beijing, Cina pada 11 April 2011 mendatang. Sekitar sekitar 500 pelaku industri pariwisata dunia dan media internasional dipastikan akan hadir dalam acara tersebut. Ini merupakan kesempatan besar untuk memperkenalkan Candi Borobudur ke dunia internasional dengan imej berprestasi dan bergengsi.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 10 Maret 2011

Upaya Memberi Ruang Buat Seni Tradisi



Nasib kesenian tradisi semakin mengenaskan. Ada yang ditinggalkan pelakunya. Tak sedikit yang masih bertahan tapi kondisinya hidup segan mati tak mau. Mau dibawa kemana keberadaannya?

Benang merah ini terlontar dalam pagelaran dan dialog seni bertajuk “Masih Adakah Ruang Seni Pertunjukan Tradisi?” yang diselenggarakan Direktorat Nilai Budaya, Seni, dan Film (NBSF), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) di Galeri Nasional, Jakarta, Selasa (08/03/2011).

Dirjen NBSF Kemenbudpar Ukus Kuswara mengakui kesenian tradisi keberadaannya sekarang mulai diabaikan, tergeser perkembangan IPTEK. “Dikhawatirkan kalau didiamkan akan terjadi pergeseran nilai dan alih fungsi kesenian baik sebagai hiburan, religi maupun fungsi sosial lainnya,” jelasnya.

Kesenian tradisi yang bernilai kearifan lokal, tambahnya cenderung semakin ditinggalkan masyarakat pendukungnya. “Ada kesenian tradisi yang mengalami stagnasi bahkan punah. Berapa jumlahnya, sedang didata,” akunya.

Menurut Ukus, ada tiga kendala yang menyebabkan kesenian tradisi Indonesia belum berkembang baik. Pertama, belum teridentifikasikan dengan baik semua kesenian tradisi yang pernah ada dan yang masih ada hingga kini oleh para pelaku atau pendukungnya. Kedua, karena belum adanya data tersebut, pemerintah sulit memberikan fasilitas dan ruang bagi buat pengembangan kesenian tradisi termasuk buat para pelakunya. Dan ketiga, stakeholder atau swasta belum berperan aktif dalam pengembangan kesenian tradisi. “Kalau ketiga kendala ini sudah benahi, nasib kesenian tradisi pasti bias lebih baik,” jelasnya.

Hadir sebagai pembicara dialog, 4 budayawan yakni Remi Silado, Radhar Pancha Dahana, Rizaldi Siagian, dan Sardono W. Kusumo.

Sardono mengatakan kesenian tradisi itu selalu terdapat perubahan-perubahan atau pembaharuan yang cenderung diadopsi oleh daerah setempat. “Hal ini mengimplikasikan adanya akulturasi,” jelasnya.

Radhar mengatakan seni yang ada di Indonesia adalah seni yang tidak akan pernah berhenti. Seni memperbaharui dirinya dengan konteks kekinian. Misalnya adanya jenis seni kontemporer yang senantiasa terkait dengan kondisi dan kemajuan saat ini. ”Pemerintah harus menciptakan kondisi yang sebaik baiknya agar proses artistikasi dapat berjalan seoptimal mungkin. Pemerintah tidak lagi melihat kesenian sebagai hal yang “diam” namun dinamis. Dan yang harus bertanggung jawab atas hal-hal tersebut adalah adat, pelaku, dan konstitusional,” jelasnya.

Remi silado mengatakan karya kesenian harus bersifat pribadi. Tapi tidak boleh ada penyamaan persepsi karena itu merupakan pelanggaran HAM.

Sementara Rizaldi mengatakn kesenian tradisional di Indonesia sangat kaya dan memerlukan tindakan kebijakan pelestarian terutama untuk bisa memberi kemanfaatan kepada para pemilik atau pemangkunya. “Tapi strategi pelestariannya harus dengan sangat hati-hati, harus mempertimbangkan dampak negatif yang mungkin terjadi,” jelasnya.

Sebelum dialog digelar, ditampilkan Gambang Kromong, salah satu kesenian tradisi Betawi dari Sanggar Kharisma Jaya, pimpinan Boing. Seperti nasib kesenian tradisi lainnya. Gambang Kromong pun nyaris sama. Hidup segan, mati tak mau.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Ist.

Read more...

Minggu, 06 Maret 2011

Fenomena Keindonesiaan di Pameran Lukisan Spirit and Rythm



Lukisan berjudul “Adiluhung” karya Syayidin bergambar Candi Borobudur dan lukisan “Merawat Cinta” karya Iswanto bergambar macan tutul sedang kawin ini merupakan 2 di antara 170 lukisan yang dapat Anda lihat di Pameran Lukisan Spirit and Rythm di Mini Anchor West Mall Level 5, Grand Indonesia Shopping Town, Jakarta.


Kedua lukisan ini memang boleh Anda lihat tapi tidak bisa Anda beli. Pasalnya sudah terjual. Lukisan kanvas Adiluhung berukuran 200 X 140 Cm dengan cat minyak dominan warna hijau ini sudah laku dengan harga Rp 25 juta. Begitupun lukisan kanvas Merawat Cinta dengan cat minyak berukuran 150 X 100 Cm berwarna kuning dan merah ini.

Masih ada sejumlah lukisan lain bertema keseharian yang selenggarakan Alfamart melalui salah satu program Alfamart Vaganza-nya. Beberapa lukisan yang juga sudah terjual seperti lukisan kanvas berjudul Nyanyian Pertiwi bergambar seorang musisi sedang meniup seksophone di tepi jalan. Lukisan cat minyak berwarna hitam putih berukuran 200 X 140 Cm karya Syayidin ini terjual Rp 40 juta.

Ada lagi lukisan karya Syayidin lainnya berjudul “Lagu Nirwana” berukuran besar 280 X 160 Cm di atas kanvas terjual Rp 45 juta. Lukisan bergambar perempuan-perempuan cantik sedang bermain aneka alat musik petik, gesek dan tiup in amenarik perhatian pengunjung.

Lukisan lain yang juga menjadi perhatian pengunjung pameran yang berlangsung sejak tanggl 2-6 maret 2011 ini adalah lukisan kanvas berjudul “Cantik Luar Dalam” bergambar perempuan sedang menunjuk payudaranya sendiri. Lukisan cat minyak berwarna dominan merah muda karya Iswanto ini juga sudah terjual Rp 22,5 juta.

Dari keseluruhan lukisan yang ditampilkan dua pelukis ini, terlihat benar ke-Indonesiannya. Lukisan-lukisan Syayidin, pelukis asal Indramayu, Jawa Barat yang juga Ketua Dewan Kesenian Indramayu ini berangkat dari kehidupan keseharian tapi ada sisi-sisi atau persoalan keseharian yang justru memberi inspirasi.

Sementara lukisan-lukisan Iswanto menawarkan nilai sportivitas dari sejumlah kecurangan dan intrik dalam kehidupan yang tengah terjadi belakangan ini. Lukisan pelukis asal Jogja ini juga memberikan nilai spritualitas yang membangun spirit.

Suwarno, pengamat seni lukis sekaligus kurator pameran lukisan ini menilai kedua pelukis ini sebagai dua pendekar generasi kontemporer. Keduanya mampu membuat penikmat lukisan memasuki Indonesia dengan cara kelokalan masing-masing lewat fenomena ke-Indonesian.

Velina Yulianti, Marketing and Bussiness Development Director Alfamart berharap pameran lukisan “Spirit and Rythm” ini dapat memotivasi para pelukis Indonesia lainnya untuk terus berkarya sekaligus menginspirasi pihak lain untuk lebih peduli dengan dunia seni lukis Indonesia. “Karya pelukis-pelukis Indonesia hebat dan mampu bersaing dengan pelukis mancanegara, patut didukung,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP