Ke Kota Lama Banyumas saat Ngibing 24 Jam, Ini Delapan Keuntungannya
Berkunjung ke destinasi wisata saat ada spesial event jelas akan memberi keuntungan lebih dibanding tidak ada acara apa-apa. Nah, kalau traveler berencana city tour ke Kota Lama Banyumas tahun ini, saat penyelenggaraan Banyumas Ngibing 24 jam 2026 adalah waktu yang tepat karena bakal mendapatkan sekurangnya 8 keuntungan.
Keuntungan yang pertama, traveler bisa melihat rangkaian acara Banyumas Ngibing 24 Jam yang berlangsung pada hari Sabtu - Minggu, tanggal 2-3 Mei 2026 mulai pukul 06.00 hingga pukul 06.00 lagi di Pendopo Adipati Mrapat, Area Taman Sari, Area Kota Lama Banyumas dan ditambah Gebyar Kesenian Rakyat Ebeg Banyumas pada pukul 10.00 hingga 17.00 di Alun-alun Banyumas pada tanggal 3 Mei nya secara gratis atlias tidak dipungut tiket masuk.
Program dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 yang bisa traveler saksikan antara lain pertunjukan tari, pertunjukan menari 24 jam, pertunjukan musik tradisi dan modern, bazaar UMKM, show mural art 24 jam, dan pertunjukan Ebeg.
Keuntungan kedua, traveler bisa melihat dan bertemu dengan penggagas acara Banyumas Ngibing 24 Jam, Rianto yang tak lain seorang maesto Tari Lengger Banyumasan yang memang asli orang Banyumas namun kini menetap di Jepang.
Rianto yang lahir di Kaliori, Banyumas, 8 September 1981, mendalami tari tradisi sejak usia muda & dia dikenal lewat kepiawaiannya menarikan Lengger Lanang (penari laki-laki).
Namanya kian melangit selepas membintangi film layar lebar yang disutradarai Garin Nugroho berjudul Kucumbu Tubuh Indahku.
Amatan TravelPlus Indonesia, pemilk akun IG @rianto_rds ini konsisten memperjuangkan kembali tradisi Lengger Lanang, di mana penari pria berdandan dan menari layaknya perempuan.
Founder dari @riantodancestudio ini juga sering berkolaborasi dengan seniman internasional, membawa tari Lengger ke pentas global hingga namanya semakin mendunia.
Berikutnya atau keuntungan yang ketiga, traveler bisa city tour Kota Lama Banyumas mengunjungi beberapa bangunan tua berarsitektur tempo doeloe yang klasik.
Dilansir dari laman dinporabudpar.banyumaskab.go.id, Kota Lama Banyumas merupakan kawasan bersejarah yang dulu menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas sebelum akhirnya pindah ke Purwokerto.
Di sana, traveler bisa menjumpai bangunan-bangunan lawas bergaya Jawa, Tionghoa, dan kolonial yang masih terawat.
Beberapa tempat ikonik seperti Bale Adipati Mrapat (dulu Pendapa Duplikat Sipanji), Masjid Agung Nur Sulaiman, dan Klenteng Boen Tek Bio menjadi bukti perpaduan budaya yang unik.
Setelah direvitalisasi, jalanan di kawasan hetitage ini lebih rapi, lampunya lebih estetik, dan spot fotonya semakin banyak. Suasananya terasa santai tetapi tetap membawa nuansa klasik yang khas.
Sekarang, Kota Lama Banyumas semakin dikenal sebagai tujuan wisata budaya yang nyaman untuk dikunjungi bersama teman maupun keluarga.
Di sana juga ada Museum Wayang, kafe-kafe yang asyik buat nongkrong, hingga pusat UMKM yang menjual produk lokal.
Letak Kota Lama Banyumas pun mudah dijangkau, hanya sekitar 20 menit dari Purwokerto dengan transportasi umum atau ojek online.
Keuntungan yang keempat, traveler bisa merasakan menginap di hotel atau guest house/homestay bergaya vintage atau bernuansa heritage yang ada di Kota Lama Banyumas atau di sekitarnya.
Pilihannya antara lain Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, Omah Kranji (Guesthouse/Homestay), dan Hotel Besar Purwokerto.
Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, berada di jantung kawasan Kota Lama Banyumasa, tepatnya di Jl. Mruyung, Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, dekat dengan Alun-alun Banyumas.
Omah Kranji berada dengan Kota Lama. Sedangkan Hotel Besar Purwokerto berada di Jl. Jend. Sudirman No.732, Purwokerto Lor, sekitar 20 menit dari area Kota Lama Banyumas berkendara.
Keuntungan kelima, traveler bisa hangout di kedai kopi ataupun restoran bergaya vintage atau bernuansa heritage.
Pilihannya antara lain Kumala Coffee di Jl. Mruyung, Cafe dan Roti Mruyung di Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, Komsteer Coffee juga di Kota Lama Banyumas, dan Restoran di Hotel Besar Purwokertia yang bersuasana bangunan cagar budaya.
Selanjutnya atau keuntungan yang keenam, traveler bisa beli panganan khas Banyumas sebagai oleh-oleh di antaranya nopia dan mino, getuk horeng, enang jaket, keripik tempe, klanting (lanting), dan dages/tempe dage. Selain di pusat UMKM acara Banyumas Ngibing 24 Jam, bisa juga membelinya di pusat oleh-oleh yang ada di kawasan Sokaraja dan kota Purwokerto.
Kalau mau kulineran camilan untuk disantap di tempat, pilihannya ada tempe mendoan, kraca,.sroto Sokaraja, dan ciwel.
Keuntungan ketujuh, traveler bisa sekaligus merayakan atau menyemarakan Hari Tari Sedunia (World Dance Day) di Kota Lama Banyumas.
Berdasarkan siaran pers Banyumas Ngibing 24 Jam yang TravelPlus Indonesia terima dari Rianto, dijelaskan bahwa Banyumas Ngibing 24 Jam digelar Pemkab Banyumas dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia.
"Banyumas Ngibing kali ini mengusung tema "Beragam Kiwa yang Bebas Menyatu dalam Numi" atau Souls of Diverse, United on Freedom in The Earth. Yang mencerminkan harmoni kehidupan, dimana perbedaan individu, budaya, dan spiritualitas melebur menjadi satu kesatuan di atas tanah Ibu Pertiwi,' terang Rianto.
Lestari dan Promosi
Pagelaran 24 Jam Banyumas Ngibing hadir sebagai wadah untuk merayakan, mengenalkan, dan menghidupkan kembali tradisi Ngibing dalam skala besar. Selain itu event ini juga bertujuan untuk kembali melestarikan dan mempromosikan kesenian serta budaya Banyumas.
Terakhir atau keuntungan yang kedelapan, traveler akan mendapatkan lebih banyak materi untuk konten medsos seperti tulisan, video, foto, vlog, dan lainnya sehingga jumlah konten traveler bukan hanya bertambah banyak pun lebih variatif karena punya muatan budaya.
Dalam siaran pers terkait Banyumas Ngibing 24 Jam dijelaskan bahwa visi dari Banyumas Ngibing adalah memperkenalkan lmbali tradisi Ngibing (menari) kepada generasi muda agar mencintai dan menghargai identitas daerahnya dan menjadikan seni tradisional sebagai ruang kreasi yang dinamis, bukan sekadar pajangan masa lalu sehingga mengintegrasikan budaya dengan pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Adapun misinya menjadi wadah utama bagi seniman tradisional, khususnya tari Lengger Banyumasan, agar tetap relevan di mata generasi muda; menghubungkan pagelaran seni dengan sektor UMKM.
"Kehadiran ribuan penari dan penonton diharapkan mampu mendongkrak pendapatan pedagang lokal di sekitar lokasi acara," terang Rianto lagi.
Misi lainnya adalah mengenalkan identitas Banyumas ke kancah nasional dan internasional melalui kampanye digital dan kolaborasi lintas daerah.dan menjadikan menari sebagai ekspresi kegembiraan yang bisa diikuti oleh siapa saja, mulai dari pelajar, seniman profesional, hingga masyarakat umum.
Sebagai informasi tambahan peserta yang terlibat dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 adalah sejumlah sanggar di Kab. Banyumas, beberapa sanggar dari luar kota diantaranya Cilegon, Tangerang, Jakarta, Bekasi, Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Yogyakarta, Madura, dan kota-kota lainnya hingga berbagai mancanegara seperti Jerman, Jepang, Meksiko, Amerika Serikat, dan Malaysia.
Menurut Rianto, dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 juga akan ada pemberian penghargaan antara laim buat penari 24 jam, 3 pertunjukan terbaik, komunitas sanggar terjauh, penari tertua, penari termuda, anggota sanggar terbanyak, sanggar tertua, dan kepada para tim support.
Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Sumber: Laman dinporabudpar.banyumaskab.go.id dan siaran pers "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026".
Captions:
1. Rianto saat menari Tari Lengger Banyumasan. (foto: dok.rianto)
2. Rianto piawai menarikan tari Lengger Lanang. (foto: dok.rianto)
3. Salah satu bangunan tua di Kota Lama Banyumas. (foto: dok. dinporabudpar.banyumaskab.go.id)
4. Berfoto bersama usai konferensi pers
"Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026". (foto: dok.rianto)
5. Rianto penggagas Banyumas Ngibing 24 Jam. (foto: dok.rianto)






.jpg)


















