. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Sabtu, 06 Juni 2026

15 Fakta Pendaki Usia Senja di Indonesia, Nomor 10 Kangen Tapak Tilas


Pendaki usia senja adalah pendaki gunung yang berusia 50 tahun ke atas atau pra-lansia dan seterusnya yang masih melakukan pendakian gunung, khususnya di Tanah Air tercinta.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kategori umur lansia terbagi atas pra-lansia: usia 45 – 59 tahun (masa persiapan menuju lanjut usia);  lansia muda: usia 60 – 69 tahun;  lansia madya/tua: usia 70 – 79 tahun; dan lansia risiko tinggi (paripurna): isia 80 tahun ke atas.

Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia lewat pertemuan disengaja maupun tak disengaja dengan sejumlah pendaki usia senja saat melakukan pendakian dibeberapa gunung maupun diluar pendakian, sekurangnya ada limabelas (15) fakta terkait pendaki berusia senja yang belakangan ini marak membentuk komunitas di Indonesia.


Fakta yang pertama, ada pendaki usia senja yang memang ternyata baru memulai/menyukai dunia pendakian gunung pada usia senja (dulunya pun tidak pernah mengikuti atau menjadi anggota organisasi pencinta alam saat SMA ataupun kuliah).

Pemicunya antara lain karena berteman/berkomunitas dengan pendaki senja yang masih aktif, baru mengenal lalu jatuh hati dengan pendakian gunung, dan atau baru memiliki kesempatan melakukan pendakian gunung. Ada juga karena ingin anak atau cucunya tertarik dengan pendakian gunung lantaran banyak manfaatnya lalu mengajak buah hatinya mendaki.

Fakta kedua, ada pendaki usia senja yang kembali mendaki gunung setelah sekian lama vakum namun sewaktu muda pernah melakukan pendakian gunung (dulunya memang berlatar pencinta alam dan ada juga yang bukan pencinta alam).


Berikutnya atau fakta ketiga, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung tapi tidak berlatar anggota pencinta alam.

Pemicunnya antara lain karena rumahnya berada di kaki ataupun lereng gunung alias akamsi (anak kampung sini) sehingga sewaktu muda sudah sering mendaki gunung tersebut.

Fakta keempat, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung serta punya latar belakang sebagai anggota sispala (siswa pencinta alam) sewaktu SMA dan atau anggota mapala (mahasiswa pencinta alam) ketika kuliah serta memiliki profesi tertentu (diluar jurnalis/pewarta/wartawan).


Selanjutnya atau fakta kelima, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung serta punya latar belakang sebagai sispala/mapala, dan berprofesi sebagai wartawan/jurnalis outdoor activities termasuk pendakian gunung.

Poin fakta keempat dan kelima, boleh dibilang pendaki usia senja yang menjadikan kegiatan pendakian gunung bukan sekadar hobi melainkan sudah menjadi passion-nya alias gairah, api semangat, dan energi pendorong atau bisa dibilang sudah lama mendarah daging.

Fakta keenam, ada pendaki usia senja yang membentuk dan atau bergabung dengan komunitas antara lain Kumpul (Komunitas Pendaki 50+) atau usia 50 tahun ke atas, Pendaki Napas Tua, Pendaki U50+, Pendaki U60+, Pendaki Lawas, Pendaki Senja, dan lainnya.


Fakta ketujuh, ada pula pendaki usia senja yang memilih tidak membuat dan atau tidak bergabung dalam komunitas sebagaimana tercantum di poin fakta keenam.

Berikutnya atau fakta kedelapan, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan pembuatan kaos, bendera, stiker, dan atau merchandise komunitas untuk dijual dan digunakan anggota komunitasnya pada saat-saat pendakian bersama, kopdar (kopi darat), dan acara lainnya.

Fakta kesembilan, ada pendaki usia senja yang membuat WAG sebagai wadah komunikasi antar-penghuninya, berbagi informasi, dan lainnya.


Kumpul Bakal Tapak Tilas
Fakta kesepuluh, ada pendaki senja yang mengoordinasikan pendakian gunung bersama dalam kelompok besar (big group) atau rombongan.

Contohnya baru-baru ini, tepatnya diujung Mei 2026, Kumpul mengadakan pendakian bersama Gunung Gede via Salabinta (Salbin). Jumlah anggotanya yang ikut sekitar 30 orang.

Kabarnya mereka juga akan mengadakan pendakian tapak tilas ke Gunung Ciremai via Linggarjati, masih pada tahun ini. Flyer kegiatannya pun sudah muncul di WAG Kumpul dengan berbagai respons positif dan juga beberapa saran.

Diberi label tapak tilas lantaran sewaktu muda pernah mendaki gunung "A" lewat jalur "A" lalu setelah berusia senja kangen ingin mendaki gunung "A" lewat jalur "A" lagi bersama dengan rekan-rekan pendaki sekomunitas.


Sebagai informasi tambahan, penulisan yang benar/baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah "menggoordinasikan" bukan "mengkoordinir" dan satu lagi "tapak tilas" bukan "napak tilas". Oleh karenanya saya menggunakan kata "mengoordinasikan" dan "tapak tilas" sebagai edukasi penulisan yang benar.

Selanjutnya atau fakta ke-11, ada pula pendaki usia senja yang melakukan pendakian gunung sendiri ataupun dalam kelompok kecil (small group) lalu mengenakan atribut komunitas seperti kaos dan atau bendera komunitas.

Contohnya saya dari TravelPlus Indonesia yang mendaki Gunung Kembang via Lengkong sehari setelah salat Iduladha 1447 H/Mei 2026 di Garung dengan mengenakan kaos Kumpul lengan pendek berwarna merah kemudian membuat tulisan yang tayang di website TravelPlus Indonesia dan beberapa konten video di reels IG @adjitropis. Beberapa pendaki lainnya melakukan pendakian ke Gunung Arjuna juga dengan mengenakan kaos Kumpul lengan panjang merah bahkan membawa bendera Kumpul.


Fakta ke-12, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan acara
gathering (kumpul bersama) ataupun sekadar kopdar antara lain lewat kegiatan camping ceria (camcer) sebagai ajang tatap muka dan temu kangen antar-sesama anggota komunitas.

Fakta ke-13, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan kegiatan bermuatan sosial seperti membagikan paket berbuka puasa saat bulan Ramadan ataupun kegiatan bermuatan ramah lingkungan seperti aksi tanam pohon dan atau aksi bersih sampah di gunung.

Berikutnya atau fakta ke-14, ternyata masih banyak pendaki usia senja yang belum mengetahui bahwa ada sejumlah komunitas pendaki pra-lansia dan seterusnya yang terbuka untuk umum sesuai dengan usianya, seperti Kumpul, Pendaki U60+, dan lainnya lantaran gaptek (gagap teknologi), tidak aktif bermedsos, keterbatasan infomasi, dan lainnya.


Berhenti & Aktif Mendaki
Terakhir atau fakta yang ke-15, banyak juga pendaki usia senja yang ketika muda pernah mendaki dan atau aktif mendaki gunung namun setelah memasuki usia senja berhenti melakukan pendakian dengan berbagai sebab seperti sudah tidak kuat lagi, ada penyakit tertentu, kondisi ekonomi, hilang gairah/tidak punya minat lagi, dan lainnya.

Namun banyak pula yang masih aktif dan atau kembali aktif mendaki dikarenakan beberapa alasan, di antaranya supaya terpacu untuk rajin ber-olgapis alias olah raga tipis-tipis seperti jalan kaki/jalan santai, joging/lari santai/pelan, renang, dan lainnya sehingga tetap sehat dan aktif sekaligus sebagai persiapan fisik sebelum melakukan pendakian.

Tak sedikit pula yang beralasan sekaligus ingin berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalaman tentang pendakian yang pernah dilakukan kepada rekan pendaki lain terutama yang lebih muda atau baru menyukai dunia pendakian saat usia sudah senja, dan atau pendaki yang belum pernah melakukan pendakian ke gunung-gunung tertentu.


Menariknya lagi, ada pula pendaki usia senja yang memang sejak muda sangat aktif mendaki dan sampai saat ini tetap begitu (masih aktif mendaki) dengan tujuan bukan hanya berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalamannya di bidang pendakian gunung pun sebagai ajang bertadabur alam dengan tujuan supaya lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta, Allah SWT dan sekalian menyebarluaskan keindahan/keistimewaan gunung-gunung di Tanah Air supaya pendaki dalam (nusantara) dan luar negeri (mancanegara) tertarik mendaki gunung-gunung di Indonesia, serta tak lupa mengimbau setiap pendaki gunung atau wisatawan minat khusus untuk mengindahkan pendakian yang ramah lingkungan atau pro konservasi alam lewat bermacam tulisan/artikel memarik, informatif, dan kreatif yang tayang di media online maupun dalam bentuk berbagai konten video dan lainnya yang kemudian diunggah di ragam medsosnya.

Itulah 15 fakta tentang pendaki berusia senja di Indonesia hasil amatan saya yang kini masuk dalam kategori pendaki gunung pra-lansia (umur sudah lebih dari separuh abad) namun masih aktif mendaki dan berbagi pengalaman sebagaimana tercantum pada fakta yang kelima dan penjelasan terakhir pada fakta yang ke-15.

Semoga bermanfaat🙏.

"Usia Boleh Senja, Semagat Tetap Pagi".

Naskah Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Foto & video: dok. Kumpul dalam pendakian bersama Gunung Gede via Salbin.


Captions
:
1-6. Pendakian bersama Gunung Gede via Salbin yang dilakukan sekitar 30 anggota Kumpul (Komunitas Pendaki 50+) dan Pendaki U60+ baru-baru ini.
7. Saya pendiri komunitas pegiat outdoor activities Pinisi-OAC, Kembara Tropis, dan website TravelPlus Indonesia yang juga tergabung dalam Kumpul berfoto di puncak Gunung Kembang berlatar Gunung Sindoro memakai kaos Kumpul. (foto: dok rekan pendaki)
8. Anggota Kumpul di puncak Gunung Arjuno mengenakan kaos Kumpul dan membentangkan bendera Kumpul. (foto: dok rekan pendaki)
9. Sejumlah anggota Kumpul dan Pendaki U60+ berfoto bersama di puncak Gunung Gede.
10. Buat saya pendakian gunung bukan sekadar hobi tapi sudah menjadi my passion. (foto: dok rekan pendaki)
11. Sepenggal video anggota Kumpul dan Pendaki U60+ yang ikut dalam pendakian bersama Gunung Gede via Salbin.

Read more...

Kamis, 04 Juni 2026

11 Multiplier Effect Salat Id di Garung dengan View Dua Gunung bagi Pariwisata Wonosobo


Pelaksanaan salat id atau salat sunah dua rakaat yang dikerjakan pada Idulfitri (1 Syawal) atau Iduladha (10 Zulhijah) di lapangan Garung setiap tahun, membuahkan multiplier effect cukup signifikan bagi sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo.

Amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada sebelas (11) multiplier effect yang ditimbulkan dari kombinasi antara kegiatan ibadah dalam Islam ini dengan lokasi penyelenggaraannya yang istimewa di Garung yang memiliki pemandangan megah berupa dua gunung berketinggian di atas 3000 Mdpl tersebut, yakni Gunung Sumbing dan Sindoro.

Apa saja ke-11 efek positif yang ditimbulkannya? Sebelum TravelPlus Indonesia jelaskan satu persatu, ada baiknya kita pahami terlebih dulu multiplier effect dalam dunia pariwisata.


Multiplier effect
atau dalam bahasa Indonesia "efek pengganda" merupakan efek/dampak positif yang muncul dan dirasakan berbagai pihak akibat dari adanya satu kegiatan atau daya tarik buatan manusia yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan di tempat tersebut.

Contohnya konser musik ataupun festival yang menampilkan antara lain band/penyanyi ternama yang memiliki banyak peminat atau yang tengah naik daun di venue indoor ataupun outdoor.

Ada pula yang bilang multiplier effect adalah efek/dampak positif dari adanya daya tarik alam yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan saat mengunjungi objek tersebut.

Contohnya pemandangan alam yang indah dari gunung-gunung yang ramah bagi pendaki pemula seperti Gunung Papandayan di Garut, Jabar; Prau (Kejajar, Wonosobo, Jateng); Andong (Ngablak, Megelang, Jateng); Kembang (via Lengkong, Wonosobo, Jateng); Luhur (Sukamakmur, Bogor, Jabar); Artapela (Kertasari, Bandung, Jabar); Gunung Batur di Kintamani, Bangli, Bali; dan gunung lainnya yang mampu menarik minat banyak pendaki untuk mendaki dan menggapai puncak gunung-gunung tersebut.


Kombinasi Daya Tarik
TravelPlus Indonesia sendiri berpendapat multiplier effect itu merupakan efek/dampak positif yang muncul dan dirasakan berbagai pihak akibat dari adanya kegiatan (daya tarik buatan manusia) ataupun daya tarik alam dan atau perpaduan antara dua daya tarik buatan manusia maupun kombinasi daya tarik buatan manusia dengan daya tarik alam yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan di lokasi tersebut.

Contoh perpaduan 2 kegiatan (daya tarik buatan manusia) antara lain pagelaran musik di destinasi buatan yang menawan seperti Borobudur Symphony di Candi Borobudur, Magelang, Jateng serta Prambanan Jazz Festival dan Swara Prambanan di Candi Prambanan, Jogja dan Jateng.

Selain itu beberapa sport tourism seperti Borobudur Marathon di Magelang, Jateng serta MotoGP dan World Superbike (WSBK) di Mandalika Circuit, Lombok, NTB.

Adapun contoh kombinasi daya tarik buatan manusia dengan daya tarik alam antara lain Jazz Atas Awan dalam Dieng Culture Festival di Wonosobo, Jateng; Banyuwangi Beach Jazz Festival (pantai di Banyuwangi, Jatim); dan Jazz Gunung Series di Gunung Slamet, Jateng dan Ijen, Jatim.


Contoh lainnya sejumlah sport tourism seperti Tour de Singkarak di Sumbar; Tour de Banyuwangi Ijen (Banyuwangi, Jatim); Ironman Bintan (Bintan, Kepri); Belitong Geopark Ultra Run (Belitung, Babel); dan
Liga Selancar Dunia atau World Surf League (WSL) Krui Pro di Pantai Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

Sementara yang menggabungkan kegiatan ibadah Islam dengan keindahan alam, satu di antaranya adalah pelaksanaan salat id di lapangan Garung yang berada di Kampung/Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jateng.

Pantauan langsung TravelPlus Indonesia, salat Iduladha 1447 H tepatnya pada Rabu, 27 Mei 2026 di lapangan Garung yang area utamanya mampu menampung hingga 7.000 orang, jemaahnya sampai penuh bahkan meluber kemana-mana.


Kabarnya total jemaah yang hadir membludak kurang lebih 27.000 orang hingga lapangan tersebut tidak bisa menampung dan akhirnya jemaah banyak yang salat di jalanan, halaman depan rumah penduduk bahkan di bagian atas rumah/bagunan milik warga yang bertingkat maupun di
rooftop-nya.

Diminati Ribuan Wisatawan
Mengapa pelaksanaan salat id di Garung masih begitu diminati ribuan wisatawan bukan cuma lokal pun nusantara bahkan mancanegara? Ya karena lokasinya memiliki daya tarik alam yang menawan, berupa megahnya pemandangan dua gunung yang masuk daftar gunung populer di Wonosobo yakni Gunung Sumbing di bagian Timur dan Gunung Sindoro di Barat. Ditambah suasananya yang syahdu (cuacanya sejuk dingin) dan punya muatan syiar Islam yang meneduhkan.

Ketiga pemicu itulah yang membuat TravelPlus Indonesia bukan sekadar datang ke Garung dan melaksanakan salat Iduladha tahun ini, pun meliputnya hingga menjadi beberapa tulisan dan konten video.


Apalagi kegiatan tersebut kerap terekpos dalam berita maupun artikel di sejumlah media online bahkan selalu viral di ragam medsos disertai dengan predikat atau julukan yang istimewa yakni "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" sebagaimana tertera di gapura atau gerbang/pintu masuk di jalan menuju lapangan Garung.

Berkat semua itu akhirnya banyak wisatawan yang belum pernah menjadi penasaran, lalu datang. Bahkan banyak wisatawan yang bertandang berkali-kali untuk merasakan lagi salat id di Garung, Wobosobo yang memang menghadirkan vibes yang berbeda.

Lalu apa saja 11 multiplier effect dari kegiatan salat id di kampung Garung tersebut buat sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo?


Namanya Mendunia
Efek positif yang pertama, bikin nama Garung mendunia. Bukan cuma lapangan Garung, pun kampung/dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, dan nama Provinsi Jawa Tengah ikut melangit. Bahkan 2 gunung di Wonosobo yang berada di depan dan belakang lapangan Garung yakni Gunung Sindoro dan Sumbing juga ikut terdongkrak lantaran mendapatkan banyak publikasi baik dari sejumlah wartawan media online maupun netizen/jemaah/wisatawan lewat ragam medsos seperti FB, IG, TikTok, dan YouTube.

Sejumlah objek lain seperti beberapa masjid, homestay, kedai kopi, pasar, tempat oleh-oleh, tempat kuliner, BC pendakian Gunung Sumbing via Garung, dan lainnya, termasuk yang ada di luar Garung juga ikut terangkat namanya dikarenakan tersiar lewat mulut ke mulut maupun terpublikasikan lewat tulisan, foto, dan konten video di berbagai media tersebut.

Dampak positif kedua, meningkatkan kunjungan wisatawan ke Garung yang otomatis berujung pada penambahan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Wobosobo.

Wisatawan yang datang bukan cuma dari berbagai daerah di Jateng atau disebut wisatawan lokal (wislok) termasuk warga setempat yang merantau lalu mudik untuk berlebaran di kampung halaman, pun wisatawan dari luar Jateng seperti DKI Jakarta, Banten, Jabar bahkan dari Sumatra seperti Lampung, Sumsel, Riau, dan Sumbar serta beberapa provinsi dari pulau lainnya atau juga disebut wisatawan nusantara (wisnus). Bahkan pernah sampai didatangi sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) dari Malaysia, beberapa negara dari kawasan Timur Tengah, dan Afrika.


Berikutnya atau efek positif yang ketiga, menarik kunjungan wisatawan minat khusus ke objek wisata pendakian Gunung terutama pendakian Gunung Sumbing, Sindoro dan gunung-gunung di sekitarnya antara lain Gunung Kembang.

Buktinya pada pelaksanaan salat id di lapangan Gaung tahun ini beberapa wisnus meluangkan waktu mendaki gunung. Ada yang nanjak Gunung Sumbing, Sindoro, dan tak sedikit yang memilih mendaki Gunung Kembang setelah ataupun sehari selepas salat Iduladha di Garung.

Dampak positif keempat, menarik kunjungan wisatawan ke objek-objek wisata non pendakian antara lain ke pemandian United Hotspring yang berada di Jl. Soeparjo Roestam, Andongsili, Wonosobo dengan harga tiket Rp 25 per orang, ke perkebunan teh Tambi, dan lainnya.


Efek positif kelima, meningkatkan hunian homestay atau penginapan yang ada di Garung dan daerah di sekitarnya seperti KunangKunang Homestay, Anjani Homestay, Berlin Homestay, Elkana View Homestay, dan lainnya.

Selanjutnya atau dampak positif yang keenam, meningkatkan penjualan kuliner.

Faktanya banyak wisatawan yang mampir ke street food warga yang ada di sepanjang jalan menuju lapangan Garung sebelum maupun sesudah salat id. Banyak pula yang sarapan dan santap siap dengan sego megono atau nasi megono khas Wobosobo dengan bermacam menu terutama tempe kemul juga khas Wobosobo di rumah-rumah makan lokal, dan ngopi santai di Kedai KunangKunang (K3} di samping Masjid Al-Amin. Pilihan lainnya, ada yang makan di warung pecel, bakso, nasgor, atau belanja di mini market yang ada di jalan raya di depan Garung.

Tak cuma itu, tak sedikit juga wisnus yang kulineran mie ongklok khas Wobosobo antaran lain ke mie ongklok Longkrang di Wonosobo Timur serta ke bebek dan ayam goreng Mas Budi di Kertek, Wonosobo.

Efek positif ketujuh, meningkatkan penjualan dari sektor ekonomi kreatif (ekraf) yang erat kaitannya dengan pariwisata.


Buktinya banyak juga wisnus yang belanja outfit thrifted/thrift items atau barang bekas untuk kegiatan outdoor yang masih sangat bagus seperti jaket/kaos untuk mendaki gunung di toko barang hemat (thrift shop) Agung yang berada sekitar 50 meter dari Masjid Al-Amin.

Ada juga yang membeli topi di toko serba ada di depan jalan raya dan atau menyewa peralatan mendaki di rental outdoor dan membeli aneka merchandise yang ada di Garung dan basecamp (BC) gunung lainnya.

Selain itu banyak juga yang memborong aneka oleh-oleh khas Wonosobo antara lain carica, opak, teh purwaceng dan lainnya di Sinsu Park yang beralamat di Jalan Raya Sindoro-Sumbing KM 17 atau di Pasar Reco, pasar tradisonal yang berada tak jauh dari Garung.


Dampak positif kedelapan, meningkatkan permintaan moda transportasi baik umum maupun carteran.

Faktanya banyak wisnus yang datang dengan menggunakan bus umum dari daerah asal ke Terminal Mendolo, Wonosobo lalu disambung naik bus ke Garung. Ada juga yang men-carter mobil milik warga Garung dari Terminal Mendolo ke Garung dan sebaliknya.

Daya Tarik Bertambah
Berikutnya atau efek positif yang kesembilan, menambah daya tarik dan jenis wisata yang sudah ada di Garung yang selama ini dikenal sebagai lokasi BC pendakian Gunung Sumbing, objek wisata alam, dan agrowisata kemudian bertambah menjadi destinasi wisata yang kental bernuansa religi Islam saat Idulfitri dan Iduladha dengan adanya pelaksanaan salat id di lapangan Garung setiap tahun.


Dampak positif kesepuluh, memicu
tour/trip operator (TO) untuk membuat paket open trip (OT) salat id di lapangan Garung plus mendaki gunung.

Buktinya ada TO Indonesian Mountains yang mengemas OT tersebut saat Iduladha tahun ini ditambah dengan pendakian Gunung Kembang dengan total durasi 4 hari (Rabu - Sabtu).

Terakhir atau efek positif yang kesebelas, memacu semangat masyarakat Garung berikut panitia pelaksana salat id, dan stakeholder pariwisata setempat untuk terus berbenah menjadi tuan rumah yang benar-benar semakin siap, di antaranya mengatur pelaksanaan salat id dan menata kampung dan desa termasuk akomodasi, masjid, dan tempat jualan street food-nya menjadi lebih bersih, rapih, dan tertata sehingga membuat wisatawan yang datang betah, terkesan, lalu belanja, dan ingin datang lagi.


Bukan cuma itu. sejumlah warga Garung bukan hanya menyediakan tikar untuk alas salat id bagi wisatawan yang tidak kebagian tempat di lapangan Garung lalu salat id di jalanan atau di depan rumahnya pun menyuguhkan minuman teh dan sarapan dengan aneka menu khas rumahan, salah satunya di rumah Pak Abud yang memiliki usaha antar-jemput pendaki gunung dari Terminal Mendolo dengan mobil luxio dan atau pickup (bakter) ke BC Garung Gunung Sumbing atau ke BC gunung-gunung lainnya yang ada di Wonosobo. MasyaAllah baik dan ramahnya.

Kesebelas multiplier effect dari pelaksanaan salat id di Garung itu, tentu saja akhirnya bermuara pada peningkatkan jumlah kunjungan wisatawan bagi sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo dan tak kalah penting sekaligus membuahkan penambahan pendapatan bagi masyarakat setempat sekaligus menjadi ladang pahala lantaran sudah berbagi kebaikan dan keramahan yang tulus kepada sejumlah wisatawan.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180


Captions
:
1. Jumlah jemaah/wisatawan yang mengikuti pelaksanaan salat Iduladha 1447 H, Rabu, 27 Mei 2026 di lapangan Garung, Wobosobo membludak sampai banyak yang salat id di jalanan dan depan rumah warga.
2. Selfie bareng bestie ba'da salat Iduladha 1447 H di Garung.
3. Masjid Al-Amin berlatar Gunung Sindoro namanya ikut terdongkrak saat pelaksanaan salat id di lapangan Garung setiap tahun.
4. Peserta open trip (OT) salat Iduladha 1447 H plus mendaki Gunung Kembang yang dirancang tour operator (TO) Indonesian Mountains, berfoto bersama di tepi lapangan Garung. (foto: dok/rekan jemaah/wisnus)
5. Selain di jalanan dan rumah warga, banyak pula wisatawan/jemaah yang salat Iduladha 1447 H di atas bangunan bertingkat karena lapangan Garung sudah penuh.


6. TravelPlus Indonesia bukan sekadar datang ke Garung
dan melaksanakan salat Iduladha tahun ini, pun meliputnya hingga menjadi beberapa tulisan dan konten video.
7. Pintu gerbang bertuliskan "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" di jalan menuju lapangan Garung yang berlatar Gunung Sumbing.
8. Usai salat Iduladha 1447 H di Garung. banyak juga wisatawan minat khusus yang mendaki gunung di sekitar Wonosobo, antara lain Gunung Kembang seperti yang dilakukan TravelPlus Indonesia.
9. KunangKunang Homestay dekat Kedai KunangKunang (K3) dan Masjid Al-Amin menjadi salah penginapan yang ramai diminati wisatawan yang ingin salat id di Garung.
10. Sebelum dan sesudah salat id di Garung, banyak juga wisatawan yang ngopi dan ngemil santai di K3.
11. Selepas salat id di Garung ataupun mendaki gunung terdekat, sejumlah wisatawan kulineran mie ongklok khas Wobosobo, salah satunya di Mie Ongklok Longkrang.
12. Banyak juga wisatawan yang borong aneka oleh-oleh khas Wobosobo antara lain carica, opak, dan teh purwaceng usai salat id di Garung.
13. Gapura atau gerbang/pintu masuk menuju lapangan Garung yang bertuliskan "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" jadi spot buatan yang diminati jemaah/wisatawan untuk foto bersama.
14. Sepenggal video jemaah mengaminkan doa yang disampaikan khatib salat Iduladha 1447 H di Garung.
15. Saya dari TravelPlus Indonesia berfoto berlatar Gunung Sindoro di rooptop Anjani Homestay di Garung usai salat Iduladha 1447 H. (foto: dok.rekan jemaah/wisnus).




Read more...

Senin, 01 Juni 2026

Keuntungan Nanjak Nge-camp Gunung Kembang Diluar Akhir Pekan dan Tipsnya


Mendaki Gunung Kembang via Lengkong secara nge-camp diluar akhir pekan membuahkan sederet keuntungan, di antaranya atmosfernya jauh lebih santai dan lengang.

Sebelum TravelPlus Indonesia jelaskan kenapa bisa begitu serta keuntungan lainnya, ada baiknya kita telusuri terlebih dulu alamat dan keberadaan basecamp (BC) pendakian gunung berketinggian 2340 meter di atas permukaan laut (Mdpl) tersebut.

BC pendakian Gunung Kembang via Lengkong beralamat di Dusun Salaman, Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah (Jateng).


Biasanya pendaki yang datang dari sekitar Jateng lebih dominan mengunakan sepeda motor. Sedangkan dari luar Jateng selain motor juga ada yang membawa mobil pribadi atau mobil rombongan
open trip (OT). Tak sedikit pula yang menggunakan moda transportasi umum.

Pendaki yang datang dari Jabodetabek dengan kendaraan umum, lebih memilih menggunakan bus dengan tujuan Terminal Mendolo, Wonosobo. Kemudian ke BC dengan ojek sekitar Rp40.000 – Rp50.000 per orang. Bila datang dalam kelompok kecil (small group) biasanya sewa mobil jenis pick up atau bakter dan lainnya sekitar Rp200.000 untuk kapasitas minimal 5 orang ke BC Lengkong.


Di BC lanjut registrasi dengan tarif  Rp30.000 per orang. Kalau bawa motor biaya parkir Rp10.000 dan Rp25.000 untuk mobil. Dari BC ke Pos 1 bila mengunakan ojek gunung Rp25.000 per orang. Oiya, jangan khawatir, tukang ojek gunungnya ramah dan menggunakan motor yang rata-rata besar sehingga aman saat melewati tanjakan terjal maupun turuan curam dan berbatu.

Seusai registrasi di BC, setiap pendaki juga harus melaporkan jumlah dan jenis logistik yang dibawa selama pendakian seperti botol minuman, bungkus/kemasan makanan, plastik (kantong, jas hujan), dan lainnya.

Harus diingat, sampah logistik yang dibawa setiap pendaki harus dibawa turun dan dilaporkan kembali ke petugas BC dengan jumlah yang sama sewaktu dilaporkan, sekalipun itu cuma bungkus permen, puntung rokok filter, kemasan minuman sachet, dan lainnya.


Penerapan sungguh-sungguh atas peraturan yang kental bermuatan pro konservasi alam itul
ah yang membuat jalur pendakian Gunung Kembang, akhirnya mendapat predikat sebagai jalur pendakian gunung terbersih se-Indonesia sekalipun beberapa tahun belakangan ini merupakan jalur pendakian yang ramai peminatnya.

Fasilitas BC Lengkong sendiri terbilang lumayan memadai antara lain ada lahan parkir, ruang istirahat, kamar mandi, dan toilet. Di seberangnya ada rental peralatan pendakian dan merchandise, warung sembako, dan pujasera "Pasar Manis" yang menjual aneka makanan seperti nasgor, soto ayam, mie rebus, gorengan, dan lainnya dengan harga standar.


Kembali ke perihal keuntungan pendakian Gunung Kembang via Lengkong secara nge-camp diluar akhir pekan, yang pertama yakni jauh lebih santai lantaran durasi pendakiannya lebih panjang daripada tektok karena menginap semalam di puncak yang menjadi area camp.

Waktu keberangkatan dari BC ke Pos 1 pun bisa dimulai pukul 9 pagi atau setelah sarapan dengan menggunakan ojek gunung. Jadi start pendakiannya bukan tengah malam sebagaimana pendakian tektok agar bisa melihat pesona matahari terbit (sunrise) di puncak.

Lebih lengang, lantaran pendakian Gunung Kembang pada hari kerja atau weekday (Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis) jumlah pendakinya tidak seramai dibanding pada akhir pekan atau weekend (Sabtu-Minggu) apalagi saat long weekend dan libur panjang.

Keuntungan lainnya jauh lebih leluasa melakukan berbagai aktivitas menarik dan bermanfaat serta lebih nyaman karena bisa istirahat sejenak di setiap pos sehingga fisik tidak terlalu capek.


Aktivitas Menarik
Aktivitas yang dapat dilakukan dalam pendakian Gunung Kembang via Lengkong secara nge-camp antara lain mengabadikan spot-spot buatan maupun alam yang menarik atau beda dengan yang ada di gunung lain.

Spot buatannya antara lain dimulai dari depan BC. Di sini biasanya para pendaki berfoto bersama berlatar belakang tulisan "Basecamp Pendakian Gunung Kembang via Lengkong", sebelum naik ojek gunung atau berjalan kaki ke Pos 1.

Spot buatan selanjutnya gerbang kayu berwarna coklat bertuliskan "Gunung Kembang via Lengkong" berikut dengan lambang Perhutani dan plang Pos 1 atau Gerbang Ndeles berwarna merah yang berada di ketinggian 1689 Mdpl dengan tulisan berwarna putih.

Di pos yang menjadi pemberhentian terakhir ojek gunung dari BC tersebut, juga ada beberapa warung yang menjual aneka minuman dan makanan ringan seperti gorengan tempe. Di sini, biasanya ketua rombongan pendaki memberikan arahan dan memimpin doa bersama sebelum memulai pendakian.


Spot buatan selanjutnya plang Pos 2 (Pakis Suri) di ketinggian 2851 Mdpl, plang Pos Mata Air 1 (di sini pendaki bisa mengambil/meminum airnya bila tidak kering), plang Pos 3 (Ngratan) 2005 Mdpl, plang Pos 4 (Igir Bima) 2064 Mdpl, plang warna hitam dengan tulisan "Tanjakan Sakit Hati" berwarna putih, plang Mata Air 2, papan kayu berwarna coklat bertuliskan "Awas Jurang" berwarna putih, plang Pos 5, dan gerbang kayu berwarna coklat bertuliskan "Pelawangan" berwarna putih, dan tentu saja beberapa plang berlabel "Puncak Gunung Kembang" di area puncak.

Tak jauh dari area puncak menuju kaldera, ada plang kayu bertuliskan "Pintu Langit, dan bila trekking ke atas akan menemukan spot plang kayu bertuliskan "Bongkeng Sunrise Camp".

Adapun sederet spot alamnya antara lain pintu/gerbang alami dari pohon serta kelebatan dan ketedukan hutan yang berada setelah Pos 3 menuju Pos 4.

Selain itu kalau beruntung bisa mengabadikan beberapa satwa burung di sekitar Pos 4 dan puncak, melihat dan merasakan langsung Tanjakan Sakit Hati, dan sabana di pelawangan serta sederet spot alam di kawasan puncak seperti lautan awan, sunrise dengan sederet gunung antara lain Sindoro (paling dekat), Sumbing, Merapi, Merbabu, dan Telemoyo selepas subuh.

Tak kalah menariknya, mengabadikan spot alam milky way, bulan purnama berlatar ranting pepohonan, dan city light pada malam dan dini hari bila cuaca lagi bersahabat. serta menyusuri kaldera yang dikenal dengan nama Kawah Bimo Pengkok pada pagi dan siang hari.


Tips Nyaman
Namanya pendakian nge-camp tentu saja harus membawa perlengkapan bermalam yang nyaman dan memadai sesuai jumlah pendaki yang ikut antara lain tenda, foot print, flysheet berikut dengan tiang, tali prusik, dan pasaknya, matras, lampu tenda, sleeping bag, dan pakaian tidur yang hangat termasuk kaos kaki.

Membawa pula perlengkapan masak dan makan antara lain kompor gas, gas kaleng, nasting, piring, sendok, gelas, pisau, dan lainnya.

Tak ketinggalan logistik buat makan siang, makan malam, dan sarapan. Bekal makan siang bisa membeli nasi bungkus di warung pujasera dekat BC.


Berikutnya memakai perlengkapan trekking seperti sepatu trek dan kaos kaki yang nyaman, sandal jepit buat mondar-mandir di sekitar area camp, treking pole, head lamp/senter kepala, celana dan pakaian yang nyaman dan mudah kering, dan jas hujan/ponco untuk antisipasi hujan.

Selanjutnya membawa serta perlengkapan dokumentasi antara lain kamera digital atau kamera HP, charger, dan atau drone.

Jika nanjaknya dalam kelompok sedang sekitar 8 orang sebaiknya membawa 2 tenda berkapasitas masing-masing 4 orang. Tapi kalau pesertanya ada yang berbadan besar, bisa ditambah lagi dengan satu tenda berkapasitas 2 orang.

Kalau tidak mau keberatan membawa beban, bisa menggunakan jasa satu porter lokal. Tugas porternya antara lain membawa perlengkapan tim seperti tenda, logistik, peralatan masak, dan makan lalu pasang bongkar tenda serta membawa turun sampah logistik tim.

Alternatif lain mengikuti open trip yang diadakan tour operator berpengalaman, tepat waktu keberangkatannya, dan yang sudah menyiapkan kendaraan terbaik untuk pergi pulang serta semua perlengkapan tidur khususnya tenda tim serta perlangkapan masak dan makan.


Khusus buat pendaki muslim yang ingin menunaikan salat zuhur dijamak dengan asar, bisa dilakukan di Pos 4 dengan menggelar matras atau sajadah traveling dan dengan ber-tayamum. Sedangkan salat magrib dan isya dapat dilaksanakan di dalam tenda di area puncak. Begitupun dengan salat subuh.

Bila mendakinya dilakukan pada hari Kamis dan keesokannya mau salat Jumat di masjid dekat BC Lengkong, sebaiknya turun dari puncak paling lambat Jumat pukul 8 pagi, supaya masih ada waktu buat bersih-bersih, mandi, dan makan siang di warung dekat BC sebelum menunikan salat Jumat.

Buat rombongan pendaki dari Jakarta yang menggunakan OT untuk mendaki Gunung Kembang secara nge-camp pada hari Kamis, usahakan mulai bergerak/berangkat dari titik kumpul pada hari Rabu pukul 3 sore, supaya tiba di BC Lengkong masih ada waktu untuk registrasi, istirahat sejenak, packing ulang, adaptasi dengan suhu setempat, dan pemanasan sebelum nanjak.

Bila menggunakan transportasi umum seperti bus, sebaiknya pilih bus dengan keberangkatan Rabu pagi.

Pendakian Gunung Kembang secara nge-camp ini cocok buat siapa saja peminat pendakian gunung, terutama pendaki berusia senja di atas 50 tahun. Selain itu cocok juga untuk new comer atau pendaki pemula dan atau yang baru kali pertama mendaki gunung serta buat pendaki yang ingin meng-eksplor flora dan fauna di sepanjang jalur pendakian Gunung Kembang secara lebih lama/leluasa.


Sederet keuntungan dan tips sebagaimana tercantum di atas merupakan hasil pengalaman dan pengamatan saya dari media online TravelPlus Indonesia, usai melakukan pendakian Gunung Kembang secara nge-camp semalam bersama Dion dari Indonesian Mountains dan Carter Pendaki, Willy (Jogja) tapi akhirnya memilih tektok, Trisnie-Jejakmakpacker (Depok), Boy dan istrinya Uci (Cipete, Jaksel), Icha (Kemayoran, Jakpus), dan Septi dari Depok serta Witno porter dari Patak Banteng-Prau.

Nah, buat traveler atau pembaca setia TravelPlus Indonesia yang punya rencana ingin melakukan pendakian Gunung Kembang seperti di atas dan ingin mengetahui kontak BC Lengkong, tour operator yang membuat open trip, sewa mobil, dan juga porter, bisa menghubungi TravelPlus Indonesia dengan cara DM akun IG @adjitropis. InsyaAllah, nanti saya balas dan kasih nomor kontak WA orang-orang tersebut.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Mengabadikan sepenggal pesona sunrise dari puncak Gunung Kembang.
2. Selfie bareng di depan BC pendakian Gunung Kembang via Lengkong. (foto: willy)
3. Dion dari Indonesian Mountains memberi arahan dan memimpin doa bersama sebelum memulai pendakian di Pos 1.
4. Ini bukti kalau jalur pendakian Gunung Kembang via lengkong layak menyandang predikat jalur pendakian gunung terbersih se-Indonesia.
5. TravelPlus Indonesia dengan porter dari Patak Banteng di gerbang Pos 1 sebelum turun ke BC Lengkong naik ojek gunung. (foto: tukang ojek gunung)
6. Mejeng sejenak di Pos 2.
7. Foto bareng di gerbang "Pelawangan" sebelum summit attack.
8. Sarapan di depan tenda usai puas mengabadikan sunrise. (foto: boy)
9. Mampir ke spot Bongkeng Sunrise Camp sebelum turun ke kaldera.
10. Sederet gunung terlihat jelas dari puncak Gunung Kembang antara lain Sindoro, Sumbing, Merapi. Merbabu, dan Telomoyo.
11. TravelPlus Indonesia, media online yang sejak dulu konsen memajukan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, konservasi alam dan budaya, bukan hanya melakukan pendakian secara nge-camp pun sekaligus meliput dan menyebarluaskan keistimewaan Gunung Kembang lewat tulisan, nyanyian, dan konten video.




Read more...

Jumat, 22 Mei 2026

Kemenpar Gelar Bimtek dan Sosialisasi Super App SISIP, Ini Tiga Manfaatnya


Kementerian Pariwisata (Kemenpar) lewat Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan, menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) dan Sosialisasi Super App SISIP (Sistem Informasi SDM Industri Pariwisata) secara Nasional selama dua hari, 20-21 Mei 2026.

Bimtek dam Sosilisasi yang diadakan secara daring (online) di Zoom Meeting tersebut diikuti 600 peserta yang terdiri atas perwakilan dinas pariwisata (Dispar) provinsi dan kabupaten/kota, Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP), dan SDM industri pariwisata dari berbagai daerah. Sejumlah media online juga diundang, salah satunya TravelPlus Indonesia.


Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pemaparan komprehensif mengenai penggunaan SISIP, mulai dari proses pembuatan akun, pendaftaran e-registrasi sertifikasi kompetensi (Serkom), pendaftaran pelatihan berbasis kompetensi (PBK), layanan e-lisensi LSP, hingga pemanfaatan fitur SISIP TV dan AI Chatbot SISIP.

Selain itu, peserta juga mengikuti sesi praktik langsung untuk memahami alur penggunaan platform secara teknis.


Kepala Bidang Perencanaan dan Pengembangan Kapasitas SDM Industri Kemenpar, Kemal Akbar, menyampaikan kehadiran SISIP diharapkan dapat menjadi instrumen strategis dalam mendukung penguatan kebijakan dan program pengembangan SDM pariwisata.

“SISIP diharapkan mampu menjadi pusat data dan layanan yang terintegrasi, sehingga dapat mendukung penyusunan kebijakan serta memberikan kemudahan akses informasi bagi masyarakat dan pelaku industri,” terang Kemal.


Penggagas Super App SISIP, Glory Hastanto mengatakan pengembangan SISIP merupakan tindak lanjut arahan Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas SDM Industri Pariwisata Kemenpar, Faisal, terkait pentingnya transformasi digital dalam tata kelola SDM pariwisata nasional, khususnya terkait Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK), Sertifikasi Kompetensi (Serkom), berkolaborasi dengan LSP, LPK/BLK, Dinas Pariwisata Provinsi, Kabupaten/Kota, BNSP, K/L lainnya, dan Lembaga Pendidikan Pariwisata, serta Industri Pariwisata sekaligus menjadi penguatan sinergi antar stakeholder.

Lebih lanjut Glory menjelaskan platform berbasis Super App ini dibangun sebagai solusi untuk menyediakan data, layanan informasi dan kemudahan registrasi Pelatihan Berbasis Kompetensi (PBK) dan Sertifikasi Kompetensi (Serkom) SDM industri pariwisata berbasis digital.


Tiga Keuntungan
Usai Bimtek dan Sosialisasi Super App SISIP, TravelPlus Indonesia menghubungi Glory menanyakan keuntungan atau manfaat yang didapat Dispar Provinsi/Kabupaten/Kota di Tanah Air yang mengikuti bimtek dan sosialisasi tersebut.

Menurut Glory Hastanto sekurangnya ada tiga manfaat atau keuntungannya. Pertama, mempermudah dan mempercepat proses PBK dan Serkom bagi SDM Pariwisata di daerah masing-masing. Lalu yang Kedua, membantu tenaga kerja pariwisata di daerah masing-masing dalam mengisi peluang-peluang kerja di industri pariwisata dalam dan luar negeri.


"Dan keuntungan atau manfaat yang ketiga  adanya ketersedian data-data dan informasi tenaga kerja pariwisata secara real dan terupdate, sebagai bahan penyusunan program-program pengembangan SDM Pariwisata di daerah serta membangun sinergi dengan industri pariwisata di daerah. pungkasnya.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Sumber berita & foto: siaran pers dari Tim SISIP


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP