Kisah Pendakian Gunung Tanggamus, Dulu dan Kini
Jawabannya ya. Pendakian Tanggamus yang saya lakukan baru-baru ini merupakan pendakian kali kedua. Sebelumnya, 31 tahun silam saya pernah mendaki gunung berketinggian 2.102 Mdpl tersebut pada akhir Januari 1995.
Wow, sudah lama banget. Lalu apa perbedaannya antara pendakian Gunung Tanggamus dulu dan kini?
Jawabannya jelas sangat beda, baik dari segi usia, kodisi fisik, status, teknik/cara pendakian yang saya gunakan, dan rekan pendaki maupun kisah atau cerita masing-masing pendakian yang berbeda era tersebut.
Pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995, boleh dibilang pendakian usang era konvensional, dimana media cetak (koran dan majalah) tengah berjaya.
Umur saya ketika itu masih 20-an tahun. Secara fisik, stamina sedang tangguh-tangguhnya. Usia tersebut memang masuk ketegori masa keemasan berkegiatan di luar ruang (outdoor activity) bermuatan petualangan seperti mendaki gunung, dan lainnya.
Saat itu saya masih berstatus mahasiswa tahun ketiga Fakultas Komunikasi, Jurusan Jurnalistik (kewartawanan) di Institut Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (IISIP) Jakarta atau yang dikenal sebagai Kampus Tercinta, yang berada di Jalan Raya Lenteng Agung 32, Jakarta Selatan.
Kendati masih mahasiwa, kala itu saya sudah menjadi freelance reporter (wartawan lepas) di beberpa media cetak (koran dan tabloid) khusus menulis kisah perjalanan bermuatan petualangan seperti mendaki gunung, jelajah hutan, susur gua, susur pantai, panjat tebing, dan lainnya termasuk objek maupun atraksi wisata budaya, kuliner, kerajinan tangan, dan hiburan (terutama musik dan film).
Pendakian Gunung Tanggamus kali pertama saya lakukan bersama tiga rekan sekampus yakni dua senior bernama Prosper dan Buche serta satu yunior bernama Yosha. Kami berempat ketika itu sama-sama masih berambut gondrong (panjang).
Lantaran sering bertualang dengan Prosper yang tak lain anggota sekaligus motor penggerak organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL - IISIP Jakarta, saya jadi cukup kenal karakter serta jiwa petualangannya. Oleh karena itu saya merasa yakin akan lancar-lancar saja melakukan pendakian Gunung Tanggamus dengan modal fisik, keberanian, logistik, perlengkapan pendakian meskipun saat itu masih terbatas, dan tentunya pengalaman mendaki sejumlah gunung dan sederet kegiatan outdoor bermuatan petualangan lainnya.
Sebagai informasi tambahan, saya mulai mendaki gunung sampai puncaknya sejak tahun 1988, sewaktu masih SMA. Sebelum itu hanya camping dan treking santai, seperti ke Kawah Ratu, Gunung Salak.
Namun jujur pendakian pertama ke Gunung Tanggamus, saya benar-benar miskin data karena saat itu belum era media online, jadi sangat sulit mendapatkan informasi tentang profil gunung tersebut termasuk jalur pendakian (japen)-nya, bagaimana tingkat kesulitan/grade japennya, dan berapa durasi pendakiannya jika lewat japen umum.
Intinya saat itu saya hanya mengikuti langkah Prosper saja. Begitupun dengan Buche dan Yosha. Kami bertiga laksana anak-anak ayam yang mengikuti induknya kemanapun melangkah.
Meskipun pendakian pertama kali ke puncak Gunung Tanggamus berhasl namun harus kami raih dengan susah payah dan bahkan nyawa hampir melayang. Kenapa? Karena Prosper yang menjadi leader, saat naik/mendaki memilih membuka jalur alias tidak menggunakan japen umum.
Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu lewat pekon (desa) apa dan di kecamatan apa jalur yang dibuka Prosper tersebut. Namun yang pasti saat itu Gunung Tanggamus masih berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) karena belum terjadi pemekaran kabupaten. Dengan kata lain Kabupaten Tanggamus belum terbentuk.
Sampai tiba diujung desa dan masuk hutan lebat, petualangan yang sesungguhnya pun dimulai. Prosper dengan menggunakan golok berada paling depan dan membuka jalur dengan membabat semak belukar dan batang pohon.
Tantangan berikutnya melewati hutan palem berduri. Baju planel saya sampai robek-robek kena duri dan mengenai kulit. Begitupun dengan ketiga tekan saya. Ternyata duri itu beracun, rasanya perih dan tangan, badan sampai wajah kami bengkak-bengkak.
Sewaktu mau membuat tulisan ini, saya sempat menghubungi Buche dan bertanya kenangan yang masih diingatnya saat mendaki Gunung Tanggamus tahun 1995 itu. Alhamdulillah senior satu ini cepat merespons-nya.
"Ahaaai..., yang paling gue inget waktu lo jatuh ketika mau menggapai bukit terjal 45 derajat dan licin. Untungnya lo tetap selamat meskipun teman-teman sempat was-was apalagi pas lihat bibir lo sampe berdarah," ungkapnya.
Setelah itu, lanjut Buche, kita menuju puncak. "Ternyata bukan puncak Gunung Tanggamus melainkan puncak bayangan. Padahal kita semua sudah kelelahan," terangnya.
Selanjutnya Buche menjelaskan kenangan yang masih diingatnya. Menurutnya kenangan yang mungkin paling ikonik ketika kami berhasil menemukan puncak Tanggamus.dan bertemu dua orang sedang melakukan ritual perjamuan entah untuk apa. "Mereka sempat mengira kita adalah rombongan babi hutan menyeruak dari semak-semak hahaha," ungkap Buche lagi.
"Dan yang paling mungkin gue sesali (maaf) saat tiba di puncak saat itu jelang malam puasa pertama Ramadan. Harusnya gue berniat puasa tapi gue ga puasa bahkan harus makan logistik yang tersisa yaitu makanan kaleng "Maling" milik Yosha. Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah 😰," terangnya.
"Tapi gue salut keesokan harinya pas turun dari puncak menuju Gisting lewat japen umum, lo tetep puasa Ramadan hari pertama walaupun setengah hari berbuka 👍," ujar Buche.
Saya pun membalasnya. "Wow, ingatan lo masih kuat kang. Puasa Ramadan 1995 hari pertama itu penuh perjuangan hehehe. Cuma niat, ga sahur karena emang kita dah ga punya logistik apapun dan turun gunung ngesot pake pantat karena lemas dan masih ada sisa-nyeri kena duri palem. Tapi, Alhamdulillah pas jam 12 siang Zuhur kita ketemu rumah penduduk transmigran paling dekat dengan hutan Tanggamus dan dikasih singkong rebus buat buka setengah hari hahahaha", balas saya.
Penduduk transmigran asal Jawa yang memberi singkong rebus tersebut sempat terheran-heran pas Prosper menceritakan awal pendakian kami. "Wah, kalian benar-benar nekad banget. Untunglah kalian ga sampe bertemu Harimau Sumatra," ujar transmisgran tersebut.
"Usai makan singkong rebus dan numpang salat Zuhur, gue lanjutkan puasa lagi sampai Magrib. Kemudian kita lanjut berjalan kaki menyusuri jalan tanah dan berbatu (belum beraspal) dari perkampungan transmigran ke tepi jalan raya Gisting. Ampuuun, ternyata jauh banget," balas saya lagi.
Satu hal lagi yang masih terekam di benak ini, dalam pendakian itu saya sempat naik pitam (marah) sama Prosper gara-gara nyasar buka jalur bukan ke puncak utama tapi ke puncak bayangan. "Seumur hidup baru kali itu gue berani adu mulut sama senior karena mungkin emosi. Alhamdulillah gue dah minta maaf sama Prosper saat sampai di puncak, sebelum tidur berempat di bivak".
Selepas mendaki Gunung Tanggamus kali pertama, saya sempat membuat tulisan dan dimuat di salah satu koran dengan judul "Kisah Pendakian Jalur Empat Sekawan Gunung Tanggamus". Sayangnya arsip kliping tulisan tersebut entah kemana rimbanya.
Pendakian 2026
Pendakian Gunung Tanggamus 2026 adalah pendakian kali kedua saya. Dan tentunya saat era media kekinian tengah meraja yakni media sosial (medsos) seperti Instagram (IG), Tiktok, dan YouTube serta media online. Artinya sangat mudah mencari informasi terkait Gunung Tanggamus.
Pendakian kali ini ini saya bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus yang kini dikepalai Marhasan Samba.
Adapun teknik pemdakiannya tektok alias tidak nge-camp dan dipandu pemandu lokal belia bernama Kelpin.
Kenapa tektokan bukan nge-camp? Kenapa pula memakai pemandu? Jawabannya untuk mempersingkat waktu agar masih bisa meliput objek-objek pariwisata maupun ekraf Kabupaten Tanggamus sesuai arahan Kadisparekraf Tanggamus Marhasan Samba.
Dipendakian yang kedua pada tahun ini, usia saya terbilang sudah tak muda lagi, umur sudah lewat separuh abad. Boleh dibilang kondisi fisik juga tak lagi sekuat, setangguh, segesit, dan secepat dulu. Namun mental saya masih menyala seperti anak muda 😊.
Saat ini saya juga masih setia berprofesi sebagai wartawan khusus sektor pariwisata, ekonomi kreatif (ekraf) serta konservasi alam dan budaya di media online berlabel TravelPlus Indonesia yang saya kelola seiring menjamurnya media online dan meredupnya media cetak.
Sebelumnya saya pernah menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah pariwisata dan kebudayaan di Jakarta serta ketua Forum Wartawan Pariwisata dan Kebudayaan (Forwarbudpar) pada era Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan dipimpin oleh Menteri Jero Wacik.
Pendakian tektok ke Gunung Tanggamus, saya lakukan pada Sabtu subuh (28/3/2026). Sempat bermalam di rumah Poklen, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sonokeling yang kini berganti nama menjadi Java Palisander. Keesokan paginya, dari Basecamp (BC) pendakian Gunung Tanggamus via Pekon Sidokaton, Kecamatan Gisting, saya naik ojek gunung ke pos mata air, jelang Subuh sekitar pukul 4 pagi.
Di pos mata air, menunaikan salat subuh di saung musala yang kondisinya kurang terawat. Setelah itu lanjut menuju camping ground yang ilalangnya sudah lumayan tinggi. Di atas camping ground sempat menikmati pesona matahari terbit (sunrise) yang muncul di perairan Teluk Semaka. Kemudian lanjut treking ke pintu rimba.
Tak lama kemudian bertemu 4 pendaki muda-mudi (Zikri, Luthfi, Fajri, dan Eka) dari Kabupaten Pesawaran, Lampung. Mereka melakukan pendakian nge-camp di camping ground.
Mengingat faktor 'U" dan ditambah kurang tidur, saya mengambil inisiatif untuk memdaki santai (melangkah perlahan tapi konstan dan tidak terlalu lama saat istirahat).
Lantaran pendakian kedua kali ini sekaligus meliput (liputan jurnalistik), di titik-titik tertentu saya tak lupa mengamati sekaligus mengabadikan spot-spot menarik sampai menjelang summit attack antara lain sejumlah rumah akar, pos musala, kayu akar viral, tebing batu, dan hutan lumut.
Flora menarik yang saya temukan antara lain angrek hutan namun sedang tak berkembang dan tanaman kantong semar. Sedangkan satwanya paling sering terlihat adalah burung. Di pos lima terdengar bermacam kicau burung sehingga sekitar pos tersebut cocok dijadikan salah satu tempat bird watching.
Sampai di puncak Gunung Tanggamus sekitar pukul 12 siang. Puncaknya ditandai dengan triangulasi berupa lempengan marmer hitam bertuliskan "Puncak Gunung Tanggamus Tinggi 2102 Mdpl" yang bercat emas.
Tak lama berselang, hujan turun deras dan panjang. Kelvin sempat memasang lembaran alas tenda yang saya bawa buat berteduh.
Lantaran hujan tak kunjung reda, saya sempatkan mengabadikan foto di triangulasi dengan memegang lembaran kertas HVS putih bertuliskan "Majukan Wisata Tanggamus: Mak Kham Sapa Lagi, Mak Tanno Kapan Lagi" dan "Majukan Wisata Tanggamus: @majestic.tanggamus" sebagai bukti nyata bahwa saya berhasil lagi menggapai puncak Gunung Tanggamus.
Dua tulisan tersebut merupakan titipan dari Syarif Hidayat Bangsawan selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Pemasaran Pariwisata di Disparekraf Kabupaten Tanggamus.
5 Kali Jatuh
Setelah foto-foto singkat di puncak Gunung Tanggamus, saya ambil keputusan segera turun untuk menghindari kedinginan dan basah terlalu lama yang bisa memicu hipotermia.
Saat turun dari puncak, kondisi masih hujan. Lantaran trek licin dan berlumpur, saya sempat jatuh terpeleset sampai 5 kali. "Aman pak?," tanya Zikri dan Kelpin beberapa kali. "Sejauh ini, aman, ayo lanjut jalan," balas saya.
Keluar dari pintu rimba hampir jam lima sore. Kemudian menuju camping ground. Kondisi jalannya tetap lincin luar biasa. Akhirnya tiba di camping ground dan sempat foto-foto beberapa tenda pendaki yang nge-camp. Lalu turun ke pintu air dan ojek datang tak lama kemudian.
Naik ojek menuju BC memang jauh lebih cepat dibanding jalan kaki tapi pegalnya minta ampun. Akhirnya sampai di BC menjelang magrib, Alhamdulillah.
Sepulang dari pendakian Gunung Tanggamus, saya membuat tulisan ini dan beberapa tulisan lain yang tayang di website/media online TravelPlus Indonesia. Sedangkan konten-konten videonya beikut lagu tentang Gunung Tanggamus, saya unggah di medsos, antara lan IG @adjitropis.
Harapannya dengan publikasi kreatif di era kekinian ini, nama dan pamor Gunung Tanggamus bisa semakin melambung tinggi (meluas) serta pendakiannya kian diminati wisatawan minat khusus terutama para pendaki gunung dari luar Lampung, termasuk dari Jabodetabek dan sekitarnya.
Naskah : Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Captions:
1. Saya, jurnalis & pendaki gunung yang tak lagi muda di puncak Gunung Tanggamus dan titik triangulasi-nya. (foto: luthfi & adji)
2. Gunung Tanggamus, satu-satunya gunung di Kabupaten Tanggamus sekaligus gunung tertinggi kedua di Lampung setelah Gunung Pesagi.
3. Saya di akar kayu viral pendakian Gunung Tanggamus. (foto: kelpin)
4. Gunung Tanggamus dilihat dari Bukit Idaman, Gisting.
5. Saya di depan Basecamp (BC) pendakian Gunung Tanggamus via Pekon Sidokaton, Kecamatan Gisting. (foto: #rekanpendaki)
6. Pemandangan dari dekat camping ground Gunung Tanggamus.
7. Saya di pintu rimba pendakian Gunung Tanggamus via Sidokaton. (foto: kelpin)
8. Bersama Kadis Disparekraf Kab. Tanggamus Marhasan Samba (berjaket coklat) dan sejumlah pendaki serta anggota Pokdarwis Sonokeling/Java Palisander mengucapkan selamat HUT ke 29 Kabupaten Tanggamus di depan BC Sidokaton.
9. Kelpin pendaki belia yang memandu saya di pendakian kedua Gunung Tanggamus secara tektok.
10. Suasana BC Sidokaton saat jelang subuh sebelum saya nanjak tektokan Gunung Tanggamus.
11. Bersama pendaki muda-mudi Lampung (Kelpin, Zikri, Luthfi, Fajri, dan Eka) di puncak Gunung Tanggamus, Sabtu (28/3/2026). (foto: #rekanpendaki)
12. Saya di puncak Gunung Tanggamus dengan memegang tulisan "Majukan Wisata Tanggamus: Mak Kham Sapa Lagi, Mak Tanno Kapan Lagi". (foto: luthfi)
13. Suasana camping ground Gunung Tanggamus.
14. Salah satu tulisan tentang data junlah pendaki Gunung Tanggamus yang tayang di website TravelPlus Indonesia.
*Cat.* : Selain buat mempromosikan pendakian Gunung Tanggamus dan objek-objek wisata di sekitarnya yang masih berada di Kabupaten Tanggamus, tulisan ini juga saya dedikasikan buat Prosper dan Yosha yang sudah lebih dulu dipanggil Sang Maha Cinta.
Andai keduanya sampai sekarang masih ada, pasti bukan hanya akan saya tanyakan kenangan yang masih mereka ingat sewaktu mendaki Gunung Tanggamus tahun 1995, pun bakal saya ajak pula mendaki lagi Gunung Tanggamus 2026 ini.
Prosper meninggal dunia, dua pekan setelah melakukan pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995.
Dia wafat karena terseret banjir lahar dingin di Lumajang, kaki Gunung Semeru saat melakukan kegiatan bakti sosial (baksos) bersama Yosha (saya dan Buche tidak ikut baksos karena saat itu tengah menjalankan puasa Ramadan). Beberapa tahun kemudian, Yosha menyusul (meninggal dunia) karena sakit.
Semoga keduanya diberi tempat terbaik di sisi-Nya. Dan yang masih tersisa: Buche dan saya serta para senior dan rekan lama sesama penghuni WAG TAPAL 'n Simpatisan, diberi kesehatan, panjang usia, dan kebermanfatan sampai akhir masa, Aamiiin YRA 🤲.
Terima kasih buat @majestic.tanggamus, Disparekraf Kab. Tanggamus yang sudah bersinergi dengan TravelPlus Indonesia, terkhusus Marhasan Samba selaku Kepala Dinas Disparekraf Kab. Tanggamus beserta bawahannya antara lain Kabid pemasaran Syarif dan stafnya Syaipul yang sudah ikut membantu turun ke lapangan langsung.
Mudah-mudahan pada kesempatan lain, kita masih bisa terus bersinergi dengan lebih baik lagi untuk memajukan pariwisata dan ekraf Kab. Tanggamus, termasuk Gunung Tanggamus sebagai salah satu daya tarik alam Kabupaten Tanggamus yang menawan dan sangat potensial menjaring kunjungan wisatawan minat khusus, terutama pendaki gunung dan pencinta alam🙏.
****
Read more...


































