. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Minggu, 06 September 2026

Lima Keistimewaan Gunung Anak Krakatau yang Abu Vulkaniknya Kini Terbawa Angin Kemana-mana



Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Lampung baru saja batuk-batuk (baca: erupsi) dan  abu vulkaniknya menyebar ke wilayah Jakarta dan sekitarnya akibat terbawa angin. Kabar itu tersebar luas di ragam media termasuk medsos dan WAG. Nah, supaya publik khususnya wisatawan minat khusus yang belum tahu apa saja keistimewaan gunung api aktif ini, saya buatkan tulisan ini.

Keistimewaan Gunung Anak Krakatau, seterusnya saya singkat GAK, yang pertama merupakan gunung api aktif yang tumbuh di dasar laut tepatnya di perairan Selat Sunda, bukan di daratan pulau sebagaimana umumnya gunung-gunung api yang ada di Sumatra, Jawa, dan sejumlah pulau di Tanah Air.

Keistimewaan yang kedua, GAK yang berstatus cagar alam merupakan sedikit dari gunung yang pendakiannya dimulai dari O Mdpl atau dari pantai.

Berikutnya atau keistimewaan GAK yang ketiga, namanya mendunia karena induk GAK yakni Gunung Krakatau pernah meletus dahsyat pada Agustus 1883 yang mengakibatkan gelombang tsunami hebat kemudian kabarnya tersiar luas ke mancanegara.

Keistimewaan yang keempat, Krakatau merupakan salah satu gunung yang paling sering dibukukan oleh sejumlah penulis termasuk artikel yang dibuat jurnalis.

Salah satu buku tentang Krakatau berjudul “Krakatoa: Saat Dunia Meledak: 27 Agustus 1883”. Judul aslinya: “Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883”, yang ditulis Simon Winchester.


Bukan cuma itu juga kerap difilmkan, antara lain
Krakatoa, East of Java bergenre drama produksi Amerika Serikat tahun 1969 yang disutradarai Bernard Kowalski dengan pemeran utama Maximilian Schell dan Dokudrama berdurasi 87 menit berjudul Krakatoa, The Last Days, produksi BBC Inggris tahun 2006 yang disutradarai Sam Miller dengan Rupert Penry Jones dan Olivia Willians sebagai pemeran utamanya.

Terakhir atau keistinewaannya yang kelima, Krakatau juga menjadi inspirasi bagi sejumlah orang untuk membuat sastra lisan, lagu, festival, teater bahkan sendratari.

Contoh sastra lisan Kiya Kelebu (atau ditulis sebagai bagian dari tradisi Kias/Kiyas) merupakan salah satu bentuk sastra lisan lama dari masyarakat adat Lampung Saibatin yang bersumber dari narasumber Datuk Jamaluddin AK yang menyandang gelar adat Khaja Niti Gama dari Kalianda, Lamsel.

Kalau festival, contohnya Festival Krakatau yang dihelat Pemprov Lampung setiap tahun pada bulan Agustus.

Adapun teater, contohnya "Under the Volcano” yaitu pentas teater-tari yang disutradarai oleh Yusril Katil, berkolaborasi dengan penata musik Elizar Koto, direktur artistik Restu Kusumaningrum, dan dramaturg Rhoda Grauer, dengan para aktor dari Komunitas Seni Hitam-Putih dari Padang Panjang, Sumatera Barat yang mengambil inspirasi dari Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh yang bercerita tentang meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883.

"Under the Volcano” tampil belum lama ini di Biennale Venesia 2026 khusus untuk teater yakni Festival Teater Internasional Ke-54 (The 54th International Theatre Festival).


Sementara sendratari, contohnya sendratari kolosal berjudul "Gelora Gelegar Kraktau, Nadi Baru Menembus Abu" karya koreografer M. Nurhayatun Nufus Spd yang terinspirasi dari dari sastra lisan lama bertajuk
Kiya Kelebu.

Tulisan terkait mengenai Sendratari Krakatau ini bisa traveler baca di website ini yang berjudul "Sendatari tentang Gunung Krakatau Ini Bikin Festival Krakatau 2026 Kian Memukau".

Melihat ketenaran nama serta sederet keisimewaan GAK dan induknya, Krakatau, saya yakin kedepan masih akan ada banyak karya bermacam seni termasuk film dan lainnya yang terinspirasi dari keduanya.

Jadi sebagai bangsa Indonesia, tetaplah bersyukur karena sudah dikaruniai  objek alam berupa Krakatau dan anaknya (GAK) oleh Sang Maha Pencipta yang kemudian bukan hanya menjadi daya tarik wisata minat khusus pun sumber inspirasi berbagai karya seni budaya dan lainnya meskipun abu vulkaniknya kini tengah melayang terbawa angin kemana-mana.


TravelTips
Kalau traveler terpesona dengan sederet keistimewaan GAK dan ingin mengunjunginya dari dekat, sebaiknya tunggu sampai kondisinya membaik alias benar-benar kondusif. Serta tak ada larangan berkunjung ke GAK dari pihak-pihak terkait. Kalau masih ada peraturan larangan, sebaiknya indahkan.

Kalau ingin mendakinya dari Lamsel secara backpacker-an, dari Jakarta bisa naik kereta ke Merak, Banten. Lalu naik kapal ferry dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung selama sekitar 3 jam.

Kalau berangkat pukul 1 siang dari Merak, kira-kira tiba di Bakauheni pukul 4 sore. Lanjutkan ke Dermaga Canti sekitar 1 jam dengan ojek sepeda motor. Kemudian perjalanan laut lagi dengan perahu motor reguler ataupun sewa ke Pulau Sebesi.

Di Pulau Sebesi, bisa bermalam di homestay. Pukul 3 pagi harus sudah bagun tidur untuk siap-siap ke GAK. Pukul 4 pagi bergerak menuju GAK dengan kapal motor.

Dua jam kemudian, tepatnya pukul 6 pagi tiba di Pantai GAK, langsung menuju lereng GAK, melihat gugusan kepulauan Lamsel beserta gunung-gunung yang ada di sekitarnya.

Usai puas menikmati dan mengabadikan pesona alam dari lereng GAK (sebaiknya jangan berlama-lama), kembali turun ke pantai GAK, tiba pukul 8 pagi untuk sarapan. Selepas itu ke Pulau Lagoon Cabe dengan menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam.

Di Lagoon Cabe bisa snorkeling menikmati alam bawah lautnya. Usai makan siang, kembali ke homestay di Pulau Sebesi atau langsung ke Dermaga Canti.

Kalau tak mau repot dan tidak berjiwa backpacker/adventurer, bisa mengikuti open trip atau membeli paket tur untuk menjelajahi GAK dan beberapa pulau lainnya. Mau yang lebih berkelas, bisa pilih private trip dalam kelompok kecil (small group), minimal berdua.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180

Captions:
1. Pendaki mancanegara menuruni lereng Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berpasir beberapa tahun lalu sebelum erupsi dan berubah bentuknya. (foto: adji)
2. GAK sebelum erupsi, sempat menjulang cukup tinggi. (foto: adji)
3. Sendratari Krakatau karya koreografer M. Nurhayatun Nufus Spd ditampilkan secara kolosal untuk pertama kali pada malam kemilau Festival Krakatau 2026 baru-baru ini di Bandar Lampung. (foto: dok.nufus)
3. Menikmati pesona GAK dari atas kapal saat tour Krakatau yang merupakan salah satu acara menarik dari Festival Krakatau sebelum GAK erupsi. (foto: adji)



Read more...

Sendratari tentang Gunung Krakatau Ini Bikin Festival Krakatau 2026 Kian Memukau


Ada yang berbeda dengan perhelatan tahunan Festival Krakatau 2026 yang baru saja diselenggarakan Pemprov Lampung di Bandar Lampung. Suguhan perdana Sendratri Krakatau, tak bisa dipungkiri membuat Festival Krakatau ke-35 ini semakin memukau. Sendratari apa, tentang apa, dan siapa yang menciptakannya?

Sebelum TravelPlus Indonesia menjelaskan sekaligus menjawab pertanyaan tersebut secara detail, ada baiknya kita pahami lebih dulu tiga hal terkait judul tulisan ini yakni Sendratri Krakatau, Gunung Krakatau, dan Festival Krakatau.

Diracik dari berbagai sumber,  sendratari adalah kependekan dari seni, drama, dan tari, yakni sebuah drama atau cerita yang disajikan dalam bentuk tarian tanpa adanya dialog (perbincangan lewat kata-kata), yang mengandalkan gerak tubuh dan mimik wajah atau ekspresi untuk menyampaikan pesan sesuai alur cerita dan biasanya diiringi musik tradisional ataupun modern untuk memperkuat cerita yang disuguhkan.


Dilansir dari laman resmi Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Provinsi Lampung,
disparekraf.lampungprov.go.id, Festival Krakatau adalah sebuah event atraksi kepariwisataan tahunan yang menampilkan keragaman kebudayaan asli masyarakat Lampung serta ragam budaya nusantara sebagai daya tarik utama bagi wisatawan. Festival ini dilaksanakan di berbagai destinasi wisata di Provinsi Lampung dan sejak pertama kali digelar pada tahun 1990, festival ini menghadirkan dua rangkaian kegiatan besar, yaitu Penampilan Seni Budaya dan Edukasi Sejarah Gunung Krakatau.

Dari dua konten utama tersebut, Festival Krakatau berkembang menjadi beragam event menarik yang selalu menghadirkan nuansa baru setiap tahunnya. Beberapa kegiatan yang menjadi bagian dari festival ini antara lain:Parade Budaya dari Kabupaten/Kota se-Provinsi Lampung serta Paguyuban Budaya Nusantara dan komunitas masyarakat; Pameran Pariwisata; Festival Kuliner dan UMKM Ekonomi Kreatif; Seni Pertunjukan Tradisional dan Kontemporer; Lomba Tari Kreasi dan Lagu Daerah Lampung; Lomba Lintas Wisata Alam Krakatau; Tour Krakatau; dan Krakatau Run; serta Lomba Foto dan Video Pariwisata.


Perhelatan ini diselenggarakan secara kolaboratif dengan melibatkan pemerintah daerah, BUMN/BUMD, stakeholder pariwisata, komunitas masyarakat, pelaku seni budaya, instansi pendidikan, perguruan tinggi, dunia usaha, dan media. Sinergi besar ini menciptakan kemandirian sekaligus membangun ekosistem pariwisata yang berkelanjutan.

Dampak festival ini tidak hanya terasa di lokasi penyelenggaraan, tapi juga di daerah sekitar (hinterland), termasuk usaha jasa pariwisata, akomodasi, transportasi, pusat oleh-oleh, serta pusat kuliner dan perbelanjaan lokal.


Keberhasilan Festival Krakatau juga telah diakui secara nasional dengan masuknya festival ini dalam daftar 110 Karisma Event Nusantara (KEN) Kementerian Pariwisata.

Sumber lain menyebut Festival Krakatau XXXV yang baru saja diselenggarakan Pemprov Lampung pada tanggal 25–30 Agustus 2026 di Lapangan Saburai, Bandar Lampung mengusung tema "Nengah Nyappur" yang berarti memperkuat kebersamaan, keberagaman, dan semangat gotong royong dengan serangkaian acara yang memadukan kebudayaan, pariwisata, olahraga, kuliner, dan ekraf antara lain Lampung Tapis Karnaval yakni parade budaya yang menampilkan kekayaan kain tapis dan kreativitas masyarakat; Pesona Kemilau Krakatau yakni pertunjukan sendratri kolosal tentang Gunung Krakatau yang menjadi puncak acara; Krakatau Kuliner & Coffee Expo yakni pameran kuliner khas Lampung, Seruit Battle, dan edukasi kopi; serta Krakatau Run yakni kegiatan olahraga lari untuk umum.


Adapun data tentang Gunung
Krakatau dari berbagai sumber termasuk hasil kunjungan TravelPlus Indonesia beberpa kali, adalah sebuah kaldera di Selat Sunda yang terletak di antara pulau Jawa dan Sumatra, yeparnya di Kabupaten Lampung Selatan, Lampung. Kaldera ini merupakan bagian dari kelompok pulau vulkanik (Kepulauan Krakatau) yang terdiri atas empat pulau. Dua di antaranya dikenal sebagai Panjang dan Sertung; pulau lainnya, Rakata, merupakan satu-satunya sisa dari sebuah pulau yang juga bernama Krakatau, yang sebagian besar hancur akibat letusan pada Agustus tahun 1883 yang membentuk kaldera tersebut.

Akibat letusan 1883, dua pertiga bagian Pulau Krakatau asli musnah . Ledakannya begitu kuat hingga terdengar hingga 3.110 Km jauhnya di Perth, Australia Barat, dan Pulau Rodrigues dekat Mauritius, yang berjarak 4.800 Km.


Abu letusannya terlontar hingga ketinggian 80 Km. Orang-orang dalam radius 160 Km dari lokasi letusan dilaporkan menjadi tuli akibat letusan, mengalami nyeri telinga yang hebat dan kehilangan pendengaran permanen.

Dampak gabungan aliran piroklastik, abu vulkanik, dan tsunami menimbulkan bencana di kawasan tersebut dan di berbagai belahan dunia. Jumlah korban tewas yang tercatat oleh pemerintah Belanda adalah 36.417 orang, meskipun sejumlah sumber memperkirakan jumlahnya lebih dari 120.000. Terdapat banyak laporan terdokumentasi mengenai kelompok kerangka manusia yang mengapung melintasi Samudra Hindia di atas rakit batu apung vulkanik dan terdampar di pantai timur Afrika hingga setahun setelah letusan.


Pascaletusan, pulau keempat yang dinamai Anak Krakatau muncul di atas permukaan laut pada Agustus 1930 dan menghasilkan aliran lava lebih cepat daripada kemampuannya untuk terkikis oleh gelombang laut.

Anak Krakatau mengalami banyak letusan sepanjang abad berikutnya. Pada 22 Desember 2018, letusan Anak Krakatau menyebabkan kerucut utama dan lereng barat daya gunung berapi runtuh, memicu tsunami dengan gelombang setinggi hingga lima meter yang mencapai daratan. Lalu lada 10 Januari 2019, aktivitas erupsi kembali berlangsung, dengan letusan freatomagmatik yang teramati pada Mei 2019 di sekitar kawah yang baru terbentuk kembali.

Letusan berkala berlanjut hingga tahun ini. Bahkan saat tulisan ini TravelPlus Indonesia buat, abu vulkanik Anak Krakatau akibat erupsi lagi, sudah sampai ke Jabodetabek.

Data lain menyebut Krakatau ditetapkan sebagai cagar alam pada 1921, sesuai dengan kategori pengelolaan IUCN Ia (cagar alam ketat).


TravelPlus Indonesia
yang berulangkali datang meliput Anak Krakatau baik mandiri maupun saat ikut Tour Krakatau dalam kaitan liputan Festival Krakatau beberapa tahun lalu, pernah membuat sejumlah tulisan berikut foto, lagu, dan konten video terkait ragam daya tarik gunung api aktif satu ini yang namanya sudah begitu tersohor hingga menarik minat banyak wisatawan nusantara maupun mancanegara termasuk
pendaki gunung untuk mendakinya dari titik O Mdpl (pantai).

Dengan kata lain, Krakatau merupakan gunung api aktif yang punya magnet (daya tarik) begitu kuat/besar baik saat kondisinya tenang-tenang saja maupun ketika tengah bergejolak aktif seperti sekarang ini. Namun untuk kunjungan langsung ke sana, sebaiknya setiap peminatnya harus mengindahkan peraturan terkini terkait dengan kondisi keaktifan dan statusnya.


Proses Kreatif Sendratri Krakatau
Lewat Sendratari Krakatau garapan penata tari atau koreografer M. Nurhayatun Nufus Spd, kisah letusan dahsyat Gunung Krakatau pada Agustus 1883 tersebut ditampilkan pada Malam Kemilau Festival Krakatau 2026, tepatnya di Lapangan Enggal Saburai, Bandar Lampung pukul 19.00 WIB.

"Sendratari kolosal berjudul "Gelora Gelegar Kraktau, Nadi Baru Menembus Abu" ini merupakan produki perdana dan belum pernah dipentaskan dimanapun. Jadi ini spesial untuk Malam Kemilau Festival Krakatau 2026," terangnya kepada TravelPlus Indonesia yang sudah beberapa kali mempublikasikan karya dan prestasi Nufus dibidang seni tari, baik di tingkat Lampung, nasional maupun internasional.

Konsep karya Sendratari Krakatau ini, lanjutnya terinspirasi dari Kiya Kelebu (atau ditulis sebagai bagian dari tradisi Kias/Kiyas) merupakan salah satu bentuk sastra lisan lama dari masyarakat adat Lampung Saibatin. Karya ini bersumber dari narasumber Datuk Jamaluddin AK yang menyandang gelar adat Khaja Niti Gama dari Kalianda, Lampung Selatan.


"Sendratari ini menceritakkan dahsyatnya letusan Gunung Krakatau pada 1883 yang mengibatkan air laut naik sehingga menghilangkan kampung kampung di pesisir Lampung," terang Nufus.

Setting Gunung Kraktau dalam sendratri ini, sambungnya, dibuat khusus dari bambu mengingat Festival Krakatau tahun ini mengusung zero waste dan mengunakan bahan alami.  

"Dengan properti Gunung Krakatau dari bambu setinggi 4 meter dan di puncak nya hadir pengantin wanita bermahkota saibatin dan pepadun sebagai icon dan festival mengusung ramah lingkungan dan berkelanjutan," jelasnya.


Dalam sendratari berdurasi penampilan sekitar 15 menit ini, juga dihadirkan gajah-gajahan Nisa yang viral sebagai icon Taman Nasional Way Kambas Lampung.

Nufus juga menjelaskan sendratari dengan penata musik Anas Nurhada dan narator Iin Mutmainah ini melibatkan penari dan pemusik serta official sebanyak 100 orang terdiri atas para penara dari Sanggar Nuvusa Etnika yang berkolaborasi dengan event organizer Riang-Riang Gembira Creative, Sastia Bhineka, dan mahasiswa kampus Nusadaya Academy Lampung.

"Dengan paduan gerak tari, musik, dan lagu serta puisi yang semuanya dimainkan secara live oleh seniman Lampung lintas 4 generasi   Generasi X, Milenial, Gen Z, dan Gen Alfa," ungkapnya seraya menambahkan masa latihan sendratari ini hanya sebulan terhitung mulai 1 Agustus 2026 sampai 30 Agustus 2026.


Lewat Sendratari Krakatau garapan Nufus ini, TravelPlus Indonesia melihat setidaknya kini ada wadah/cara lain yang dikemas dalam balutan seni budaya untuk
menyuguhkan kedahsyatan cerita letusan Krakatau 1883 yakni melalui tari, musik, lagu, dan puisi yang ujungnya membuat generasi lawas maupun kekinian jadi semakin mengenal Krakatau sebagai salah satu daya tarik alam Indonesia, khususnya Lampung yang namanya sudah begitu mendunia.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180


Captions
:
1. Gajah-gajahan Nisa yang viral sebagai icon Taman Nasional Way Kambas Lampung ditampilkan dalam suguhan Sendratri Krakatau di Festival Krakatau 2026 baru-baru ini. (foto: dok.nufus)
2 & 3. Jejak digital tulisan terkait Festival Krakatau di website TravelPlus Indonesia. (foto: adji)
4. Sejumlah Gajah Lampung ikut berparade ramaikan Festival Krakatau. (foto: adji)
5. Wisman menuruni trek berpasir panas Gunung Anak Krakatau (foto: adji)
6. Jejak digital tulisan tentang daya tatik Gunung Anak Krakatau di website TravelPlus Indonesia. (foto: adji)
7 & 8. Jejak digital tulisan-tulisan tentang prestasi Nufus di bidang seni tari yang tayang di website TravelPlus Indonesia. (foto: adji)
9. Sendratari Krakatau garapan Nufus melibatkan melibatkan penari dan pemusik serta official sebanyak 100 orang. (foto: dok.nufus)
10 & 11. Sepenggal suguhan Sendratari Krakatau pada Malam Kemilau Festival Krakatau 2026. (foto: dok.nufus)
12. Nufus dan para pendukung Sendratari Krakatau. (foto: dok.nufus)
13. Sendratari Krakatau tak bisa dipungkiri membuat Festival Krakatau 2026 atau yang ke-35 semakin memukau. (foto: dok.nufus)

Read more...

Rabu, 02 September 2026

12 Fakta Album Rony Parulian “Dunia dan Seisinya”, Nomor 8 Jumpa Persnya Dihadiri We Are One


Rony Parulian akan merilis album terbarunya bertajuk "Dunia dan Seisinya" pada Jumat 4 September 2026. Namun 2 hari sebelumnya,  dia menggelar jumpa pers albumnya yang berada dibawah naungan Universal Music Indonesia tersebut di Jakarta, tepatnya di Karpela Row 9, Blok M, Kebayoran Baru, Jaksel.
 

Sekurangnya ada 12 fakta yang terkuak saat jumpa pers album tersebut yang diadakan creathink publicist dengan mengundang sejumlah jurnalis termasuk pembuat konten dari berbagai media termasuk TravelPlus Indonesia.

Fakta pertama, "Dunia dan Seisinya"  merupakan album kedua Rony yang  merupakan juara 3 Indonesian Idol season 12 dan mendapat julukan "Rocker Romantis" ini.


Kedua, album " Dunia dan Seisinya" berisi 10 lagu yang memperlihatkan sisi Rony yang semakin matang sebagai singer dan
songwriter.

Fakta ketiga, 10 lagu dalam album teranyar Rony itu adalah Jalan Tengah, Dunia Imajiner, Kencan Pertama, Kau Akan, Februari, Selamanya Kini Nanti, Jarak dan Rindu, Aku Cemburu, Wals Akhir Zaman, dan Sampai Ujung Batas.

Berikutnya atau fakta yang keempat, di album ini Rony menulis keseluruhan materinya bersama beberapa musisi antara lain Lafa Pratomo, Petra Sihombing, Rendy Pandugo, dan Krisna Trias.

Fakta kelima, seperti tersebut di atas album kedua Rony Parulian, Dunia dan Seisinya, akan dirilis pada 4 September 2026 dan tersedia di seluruh digital streaming platform.


Keenam, pada jumpa pers album tersebut selain Rony juga hadir Lafa Pratomo, Rendy Pandugo, dan Krisna Trias.

Selanjutnya atau fakta yang ketujuh, sejumlah sahabat dekat Rony sesama jebolan Indonesian Idol tahun 2022–2023. turut hadir antara lain Salma Salsabil, Nabilla Taqiyyah, dan Nyoman Paul. Hadir pula pemusik dan komponis pendiri Magenta Orchestra, Andi Rianto yang pernah berkolaborasi dengan Rony.

Fakta kedelapan, menariknya jumpa pers album Rony Parulian “Dunia dan Seisinya” tersebut juga dihadiri fanbase atau para penggemar setia Rony yang bernama WeR1 atau biasa dibaca We Are One yang datang dari Jabodetabek sehingga membuat suasana jumpa pers laksana sebuah mini konser di venue indoor.


Kesembilan, jumlah pers diawali dengan sesi mendengarkan 10 lagu yang ada di album Rony Parulian “Dunia dan Seisinya”. Para We Are One nampak mengabadikan 10 vide klip album tersebut yang ditayangkan di TV layar lebar di atas
stage.

Fakta ke-10, sesi berikutnya menghadirkan Rony Parulian beserta Lafa Pratomo, Rendy Pandugo, dan Krisna Trias menceritakan proses pembuatan album “Dunia dan Seisinya” kemudian berlanjut sesi tanya jawab dengan sejumlah awak media serta foto bersama.

Pada sesi ini Rony menjelaskan dalam album keduanya ini ada cerita tentang cinta, imajinasi, bagaimana kita menghadapi hidup, dan bagaimana kita memilih untuk terus berjalan yang menggambarkan "Dunia dan Seisinya.

"Aku berharap ketika orang mendengarkan album ini, bukan cuma sekadar mendengarkan lagu-lagunya pun bisa menemukan bagian dari dunia mereka sendiri di dalamnya," ungkap Rony.


Ke-11, diujung jumpa pers atau sebelum sesi doorstop dengan sejumlah jurnalis dan pembuat konten, Rony Parulian tampil secara live membawakan 3 lagu yang ada di album “Dunia dan Seisinya” dengan iringan musik akustik oleh 2 pemain gitar. Telinga saya mendengar warna suara Rony Parulian sepintas ada yang mirip dengan vokalnya Anang Hermansyah tapi ini versi kebaruan atau kekinian.

Terakhir atau fakta ke-12, saat sesi mendengarkan 10 lagu album “Dunia dan Seisinya” dan saat melihat live perfomance Rony membawakan 3 lagu di album terbarunya tersebut, saya sempat membayangkan kalau nanti penyanyi solo pria yang masih muda ini menggelar konser tunggal termasuk membawakan 10 lagu di album keduanya ini dengan iringan rock orkestra atau penggabungan antara musik rock yang bertenaga dan instrumen orkestra klasik yang megah di Istora Senayan Jakarta misalnya, ditambah lagi dengan penampilan dan attitude-nya yang lebih nge-rock tapi elegan, pasti akan menjadi suguhan konser yang spektakuler. Dan jika itu benar terjadi, saya kira predikat Rony Parulian bakal bertambah bukan hanya "Rocker Romantis" pun "Rocker Elegan Kekinian".

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180

Captions:
1. Rony Parulian tampil secara live membawakan 3 lagu yang ada di album “Dunia dan Seisinya” dengan iringan musik akustik oleh 2 pemain gitar dalam acara jumpa pers album terbarunya tersebut di Karpela Row 9, Jaksel, Rabu (2/9/26).
2. Rony tampil casual saat jumpa pers album terbarunya yang akan rilis pada 4 September 2026.
3. Rony bersama Lafa Pratomo, Rendy Pandugo, dan Krisna Trias.
4. Rony dengan Lafa Pratomo, Rendy Pandugo, dan Krisna Trias menjelaskan proses pembuatan album "Dunia dan Seisinya” dipandu MC.
5. Aksi live perfomance Rony Parulian menjelang akhir jumpa pers album keduanya " Dunia dan Seisinya”.

Read more...

Selasa, 01 September 2026

Pendakian Sejumlah Gunung Ditutup, Begini Kiat Bijak Menyiasatinya


Kegiatan wisata pendakian di sejumlah gunung dibawah pengelolaan Kementerian Kehutanan (Kemenhut) maupun Perhutani ditutup sementara waktu karena kemarau dan dinilai rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Lalu bagaimana kiat menyiasatinya agar tetap bisa mendaki gunung?

Sebelum menjawab sekaligus menjelaskan pertanyaan tersebut, ada baiknya kita ketahui lebih dulu gunung apa saja yang ditutup sementara untuk aktivitas wisata pendakian gunung oleh Kemenhut maupun Perhutani.

Dalam siaran persnya, Kemenhut menjelaskan kebijakan penutupan sementara hingga pembukaan secara terbatas wisata pendakian gunung di Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) di seluruh Indonesia diambil sebagai langkah proaktif dan terukur demi melindungi keutuhan ekosistem serta menjamin keselamatan para pendaki.

Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor: SE.4/KSDAE/SKSDAE/KSA.02.02/B/8/2026 Tanggal 31 Agustus 2026 tentang Penutupan Sementara dan Pembukaan Secara Terbatas Wisata Pendakian Gunung di  KSA dan KPA)l Dalam Rangka Pencegahan Kebakaran Hutan yang berlaku efektif mulai 1 September 2026.

Surat edaran tersebut juga diunggah di akun Instagram (IG) resmi Direktorat Jenderal KSDAE @konservasi_ksdae.


Penutupan sementara (risiko tinggi) diterapkan pada kawasan dengan tingkat kerentanan karhutla tinggi, meliputi 9 taman nasional (TN) yakni TN Bromo Tengger Semeru (pendakian Gunung Semeru), TN Kerinci Seblat, TN Gunung Ciremai, TN Tambora, TN Manusela, TN Bukit Baka Bukit Raya, TN Gunung Gede Pangrango, TN Gunung Leuser, dan TN Lorentz (jalur Ilaga, Tsinga, Sugapa, dan Ugimba).

Selain itu, pembukaan secara terbatas (risiko sedang) diterapkan dengan pengawasan ekstra ketat dan pembatasan zonasi aman di TN Gunung Rinjani, TN Gunung Merbabu, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang (Argopuro), dan TN Gunung Halimun Salak.

Dikutip dari RRI.co.id, Perhutani KPH Jawa Barat juga menutup sementara 8 gunung di Jawa Barat, mulai 1 September 2026 hingga batas waktu yang belum ditentukan. Penutupan dilakukan, untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan, akibat musim kemarau panjang serta pemulihan ekosistem.

Dijelaskan referensi penutupan tersebut berdasarkan SE Dirjen KSDAE No. SE.4/KSDAE/SKSDAE/KSA.02.02/B/8/2026.

Ke-8 gunung di Jabar yang ditutup sementara untuk pendakian tersebut adalah Gunung Cikuray, Sagara, Manglayang, Tangkuban Parahu,  Puntang, Palasari, dan Gunung Sanggarah.

Amatan TravelPlus Indonesia beberapa akun IG komunitas pendaki gunung dan akun terkait lainnya juga menggunggah informasi penutupan 9 TN oleh Kemenhut dan 8 gunung oleh Perhutani KPH Jabat tersebut, lalu tersebar luas pula ke sejumlah WAG.


Tujuh Kiat Bijak
Untuk menyiasati agar tetap bisa melakukan kegemaran mendaki gunung maupun kegiatan luar ruang yang bermuatan petualangan, sekurangnya ada tujuh kiat bijak yang  bisa traveler terapkan terkait dengan adanya penutupan sementara wisata pendakian sejumlah gunung tersebut saat ini.

Ke-7 kiat bijak versi TravelPlus Indonesia ini, yang pertama, mengindahkan peraturan yang berlaku. Artinya tidak melakukan pendakian ke semua gunung yang ditutup sementara waktu baik oleh Kemenhut maupun Perhutani KPH Jabar sebagaimana tersebut di atas. Nanti kalau sudah kembali normal atau dibuka kembali secara resmi, baru silahkan berkunjung untuk mendaki.

Kiat kedua, bila ingin mendaki di gunung yang dibuka secara terbatas sebaiknya mengkonfirmasi terlebih dahulu ke pihak Balai TN bersangkutan (Merbabu, Rinjani, dan Salak) serta ke BBKSDA Jawa Timur (Argopuro) apakah boleh melakukan pendakian sampai ke puncak atau tidak.

Berikutnya atau kiat ketiga, memilih mendaki gunung berstatus TN ataupun kawasan konservasi lainnya yang secara resmi masih dibuka untuk kegiatan wisata pendakian baik itu di Jawa, Sumatra, Sulawesi, dan pulau lainnya.

Namun sebelum melakukan kunjungan untuk pendakian, ada baiknya cek kembali informasi terkini tentang status pendiakan gunung yang akan didaki tersebut, apakah dibuka seperti biasa, dibuka secara terbatas atau ditutup sementara, mengingat kondisi cuaca dan lainnya.


Kiat keempat, memilih wisata alam bermuatan petualangan ke TN non gunung yang tetap buka untuk mendapatkan sensasi dan pengalaman petualangan baru. Misalnya menjelajah TN Ujung Kulon di Banten, TN Way Kambas di Lampung, TN Bukit Barisan Selatan di Lampung dan Bengkulu, TN Tanjung Puting di Kalteng, dan ataupun ke kawasan Taman Wisata Alam (TWA) dan Suaka Margasatwa (SM).

Sebelum melakukan kunjungan, sebaiknya cek lagi informasi terkini apakah dibuka seperti biasa, dibuka secara terbatas atau ditutup sementara.

Selanjutnya atau kiat kelima, memilih wisata bahari bermuatan petualangan ke TN non gunung tepatnya TN berkonsep kebaharian yang tetap buka untuk mendapatkan sensasi dan pengalaman petualangan baru. Misalnya ke TN Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, TN Karimunjawa di Jateng, TN Bunaken di Sulut, TN Wakatobi di Sultra, TN Kepulauan Togean di Sulteng, TN Taka Bonerate di Sulsel, dan TN Teluk Cenderawasih di Papua Barat dan Papua Tengah. Atau bisa juga ke TWA dan SM yang lebih bernuansa kebaharian.

Sekali lagi, sebelum melakukan kunjungan sebaiknya melakukan cek informasi terkini apakah dibuka seperti biasa, dibuka secara terbatas atas ditutup sementara.


Ramah Lingkungan
Kiat keenam, melakukan pendakian dan atau kegiatan bermuatan petualangan non gunung maupun bahari yang mengedepankan ramah lingkungan, di antaranya tidak melakukan aktivitas yang bisa memicu karhutla seperti sembarang membuat api unggun dan memasak, sembarang membuang puntung rokok, dan lainnya.

Terakhir atau kiat yang ketujuh, tak lupa menginformasikan ragam pesona atau daya tarik TN gunung, TN non gunung, TN berkonsep kebaharian, TWA, SM ataupun kawasan konservasi lainnya yang dikunjungi, termasuk tips moda transportasi dan biaya untuk menjangkaunya, aktivitas kegiatan yang bisa dilakukan, dan tentunya kiat ramah lingkungan lewat tulisan maupun konten video agar publik tahu dan tertarik untuk datang dengan pula membawa bekal ramah lingkungan.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180


Captions
:
1. Mendaki Gunung Tanggamus di Kab. Tanggamus, Lampung.
2. Memandang salah satu Danau Tiga Warna di puncak Gunung Kelimutu, Ende, Flores, NTT.
3. Menikmati puncak-puncak gunung berselimut hutan ijo royo-royo di Gunung Muria, Kudus. Jateng.
4. Mengayuh sampan di Sungai Cigenter, Pulau Handeuleum di TN Ujung Kulon, Pandeglang, Banten.
5. Suatu hari di TN Kepulauan Seribu usai aksi tanam mangrove dan baby corral.
6. TravelPlus Indonesia saat melalui jalur pendakian Gunung Kembang yang mendapat predikat jalur pendakian gunung terbersih di Jawa via Lengkong, Wonosobo, Jateng.


Read more...

Senin, 31 Agustus 2026

KING LEAR, Aktornya dari 8 Negara, Pemeran Utamanya dari Indonesia


Sebuah karya teater kelas dunia “King Lear” karya William Shakespeare yang disutradarai Tadashi Suzuki dari Jepang akan dipentaskan untuk pertama kalinya di Jakarta, tepatnya di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada 16–17 September 2026.

Menariknya, pementasan “King Lear” ini mempertemukan sejumlah aktor dari 8 negara yakni Indonesia, Jepang, Italia, Amerika Serikat, Rusia, Korea Selatan, Cina, dan Chile serta dibawakan dalam 7 bahasa.

Meskipun bahasa dan latar budaya para aktornya berbeda. Namun di atas panggung, mereka bertemu melalui tubuh, bunyi, kostum, dan gerakan yang presisi.

Tapi yang lebih menariknya lagi tokoh King Lear alias pemeran utamanya dimainkan oleh Jamaluddin Latif, aktor Indonesia. Selain itu ada dua aktor Indonesia lainnya yang juga terpilih ikut bermain yakni Wahyu Kurnia dan Ahmad Fauzi.


Pertunjukan King Lear merupakan kolaborasi kerja Indonesia-Jepang hasil produksi bersama Bumi Purnati Indonesia dan Suzuki Company of Toga (SCOT) dengan dukungan The Japan Foundation sebagai bagian dari program Partnership to Co-create a Future with the Next Generation: WA Project 2.0 yang diimplementasikan oleh The Japan Foundation selama 10 tahun dengan
melakukan pertukaran antarmasyarakat (people-to-people exchange) di wilayah Asia Tenggara dan Jepang.

King Lear merupakan salah satu karya penting dalam perjalanan artistik Tadashi Suzuki dan SCOT sejak pertama kali diciptakan pada 1984.

Semua fakta tersebut terungkap dalam jumpa pers "King Lear" directed by Tadashi Suzuki” di The Japan Foundation, Jakarta, Senin (31/8/26) siang, yang menghadirkan nara sumber Restu Imansari Kusumaningrum selaku Direktur Artistik dan Independen Produser dari Bumi Purnati Indonesia, Direktur Jenderal The Japan Foundation, Jakarta, Inami Kazumi, dan Bambang Prihadi - mantan Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sekaligus aktor Indonesia yang pernah mengikuti pelatihan teater bermetode SCOT di Jepang.


Menurut Restu peran utama King Lear sebelumnya selama bertahun-tahun dimainkan oleh aktor Jerman Goetz
Argus. Setelah wafatnya Goetz Argus, peran tersebut kini diteruskan kepada generasi berikutnya.

"Dan pementasan di GKJ, aktor dari Indonesia Jamaluddin Latif yang menjadi pemeran utamanya sebagai King Lear yang selama bertahun-tahun mendalami Metode Suzuki untuk pelatihan aktor serta terlibat dalam berbagai proses latihan dan produksi bersama SCOT dan Bumi Purnati Indonesia," terangnya.

Pilihan terhadap aktor Indonesia oleh sang sutradara Tadashi Suzuki tersebut, lanjut Restu bukan sekadar pergantian pemeran namun memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dan metode teater dapat diwariskan melampaui batas negara, bahasa, dan lintas-budaya.


Bambang Prihadi menilai melalui SCOT setiap aktor membangun hubungan yang kuat antara kaki, pusat gravitasi, pernapasan, suara, konsentrasi, dan ruang.

"Dari sana lahir kekuatan khas panggung Suzuki: tubuh yang kokoh tetapi mampu diam sangat lama; energi yang besar tetapi dikendalikan; suara yang muncul dari pusat tubuh dan bukan sekadar dari kata-kata," terangnya.

Inami Kazumi menjelaskan The Japan Foundation yang berdiri pada bulan Oktober tahun 1972 di Jepang merupakan lembaga nirlaba milik pemerintah Jepang satu-satunya yang khusus didedikasikan untuk menangani pertukaran budaya internasional.


Dia berharap lewat kegiatan pementasan King Lear di Jakarta ini dapat memperdalam saling pengertian antara Indonesia dan Jepang khususnya, sekaligus mengembangkan sumber daya manusia yang mampu memperkuat pertukaran budaya antarnegara di masa depan.

Kolaborasi tersebut lanjutnya berkembang melalui pelatihan, residensi, dan produksi bersama. Salah satu hasil pentingnya adalah Dionysus, yang melibatkan aktor Indonesia, Jepang, dan Cina. Kemudian dipentaskan di berbagai panggung dan festival internasional, diantaranya Singapore International Festival of Arts (SIFA) 2019, dan Theatre Olympics ke-9 tahun 2019.

Nah, buat pencinta seni pertunjukan teater kelas dunja yang ingin menyaksikan 1 panggung, 8 megara, 1 karya besar, dan 1 kisah kemanusiaan ini dalam "King Lear" yang berdurasi 1 jam 40 menit tanpa jeda, bisa mendapatkan tiketnya dengan  menghubungi Puteri +62 877 8321 4733 dan Dienary +62 821 3017 9139.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180

Captions:
1. Ketiga narsum dalam jumpa pers "King Lear" directed by Tadashi Suzuki” di The Japan Foundation, Jakarta, Senin (31/8/26).
2. Suasana jumpa pers "King Lear" yang dihadiri sejumlah wartawan peliput pertunjukkan seni budaya dari berbahai media termasuk dari website TravelPlus Indonesia.
3. Restu Imansari Kusumaningrum selaku Direktur Artistik dan Independen Produser dari Bumi Purnati Indonesia.
4. Bambang Prihadi - mantan Ketua Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) sekaligus aktor Indonesia yang pernah mengikuti pelatihan teater bermetode SCOT di Jepang.
5. Direktur Jenderal The Japan Foundation, Jakarta, Inami Kazumi.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP