. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Kamis, 07 Mei 2026

WOW.., "Under the Volcano" dan "The Tale of Boat" dari Indonesia Bakal Tampil di Biennale Venesia 2026


Dua karya teater kontemporer produksi Bumi Purnati Indonesia yang bertajuk "Under the Volcano" dan "Hikayat Perahu atau
The Tale of Boat", terpilih mewakili Indonesia untuk tampil di Biennale Venesia 2026.

"Under the Volcano" dan "Hikayat Perahu/The Tale of Boat" akan tampil di Biennale Venesia 2026 khusus untuk teater yakni Festival Teater Internasional Ke-54 (The 54th International Theatre Festival) yang akan berlangsung pada 7-21 Juni mendatang, setelah melalui proses kurasi oleh Mr. Willem DAFOE, Direktur Festival 2026.

Kabar budaya membanggakan itu  terungkap dalam jumpa pers “Dua Panggung Indonesia di Biennale Venesia 2026” di Residence of the Ambassador of Italy, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (7/5/26) siang.


Dalam jumpa pers yang menghadirkan tiga nara sumber yakni Direktur Artistik dan Produser Independen Bumi Purnati Indonesia Restu Kusumaningrum, Direktur Istituto Italiano di Cultura di Jakarta Mr. Michele Cavallaro, dan Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014 Sapta Nirwandar, juga diliput sejumlah awak media online antara lain TravelPlus Indonesia serta beberapa media TV.

Restu Kusumaningrum menjelaskan "Under the Volcano” adalah pentas teater-tari yang disutradarai oleh Yusril Katil, berkolaborasi dengan penata musik Elizar Koto, direktur artistik Restu Kusumaningrum, dan dramaturg Rhoda Grauer, dengan para aktor dari Komunitas Seni Hitam-Putih dari Padang Panjang, Sumatera Barat.


Pentas teater-tari "Under the Volcano” ini, lanjutnya mengambil inspirasi dari Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh yang bercerita tentang meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883.

"Karya kolaboratif ini menjadi ruang tafsir terbuka di dalam memahami bencana pada masa lalu, termasuk hari ini, secara universal. Gerakan-gerakan tari kontemporer dalam karya ini bersumber dari gerakan-gerakan silat Minangkabau," terangnya.

Restu Kusumaningrum menerangkan kalau "Under the Volcano" bermula dari kolaborasi antara Komunitas Seni Hitam-Putih dan Bumi Purnati Indonesia saat mengikuti The 6 th Theatre Olympics di Beijing, Tiongkok pada 2014.

"Karya ini kemudian dipentaskan di Singapura pada 2016, Borobudur Writers and Cultural Festival,Magelang, pada 2018, dan Ciputra Artpreneur Theater, Jakarta, pada 2022," tambahnya.

Kekayaan Budaya Sumatra
Adapun “Hikayat Perahu/The Tale of Boat” disutradarai oleh Sri Qadariatin, dengan direktur artistik Restu Imansari Kusumaningrum, dan diproduksi oleh Bumi Purnati Indonesia.

Karya teater-tari ini merupakan tafsiran atas puisi Syair Perahu karya Hamzah Fansuri, sebuah karya sastra Melayu Klasik dari abad ke-16, yang diakui sebagai Memory of the World oleh Unesco pada 2025.

"Proses penciptaan karya ini bermula sejak 2023 sebagai bagian dari proyek penciptaan karya inovatif yang digagas oleh Bumi Purnati Indonesia," papar Restu Kusumaningrum.


Dalam "Hikayat Perahu/The Tale of Boat" menampilkan perjalanan spiritual mencari kedamaian di dalam diri. Hubungan manusia dan Tuhan dilambangkan dengan metafora
perahu dan lautan. Sementara tubuh manusia adalah perahu yang berlayar di lautan luas.

"Kedua karya teater kontemporer produksi Bumi Purnati Indonesia ini berisi muatan kekayaan budaya Sumatera yang tercermin dalam seni silat, tari, dan musik dari Aceh dan Sumatera Barat," terangnya lagi.


Tema “Alter-Native”
Menurut Restu Kusumaningrum, Festival 54th International Theatre Festival of La Biennale di Venezia 2026 mengambil tema “Alter-Native”, yang mengandung pengertian: “Alter” sebagai “perubahan” dan “Native” sebagai “sifat pribadi”. Atau, “Alter” sebagai “yang lain” dan “Native” sebagai “asal-usul budaya”.

Festival teater internasional tersebut, lanjutnya akan menghadirkan 200 seniman dari seluruh dunia dalam 55 acara, termasuk 11 acara produksi dan ko-produksi, 10 perdana dunia (world premiere), 2 perdana Eropa, dan 4 perdana Italia.

Selain perwakilan dari Indonesia yakni  "Under the Volcano" dan "Hikayat Perahu/The Tale of Boat", juga akan tampil teater dari Yunani, Jepang, India, Selandia Baru, Rwanda, Prancis, dan Italia.

Selain pentas teater, juga ada serangkaian lokakarya keaktoran yang pesertanya dipilih langsung dan dimentori oleh Willem Dafoe dan lainnya; obrolan dan diskusi teater yang akan dipandu oleh jurnalis-kritikus teater Maddalena Giovanelli dan Andrea Porcheddu.

Sepanjang festival akan digelar pula penghormatan untuk Robert Wilson berupa pemutaran dokumentasi dan materi pementasan yang dikumpulkan oleh the Historical Archive of the Contemporary Arts of La Biennale di Venezia (ASAC).


Menurut Mr. Michele Cavallaro,
Istituto Italiano di Cultura Jakarta turut mendukung pementasan dua karya Bumi Purnati Indonesia di 54th International Theatre Festival of La Biennale di Venezia 2026.

Selain itu juga mendapat dukungan dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Istituto Italiano di Cultura Jakarta, Yayasan Bali Purnati, Tulisan & Melissa Sunjaya, Studio Alam KSJP, dan iForte.

Festival Teater Internasional sebagai bagian dari Biennale Venesia 2026, selain berlangsung secara langsung, akan berlangsung pula secara daring (on air).

La Biennale on Air sebagai siniar (podcast) resmi yang diluncurkan sejak September 2025 akan menyiarkan acara-acara Biennale melalui Spotify, Apple Podcasts, Amazon Music, YouTube dan situs web Biennale Venesia.


Promosi Pariwisata
Mendengar penjelasan panjang Restu Kusumaningrum dan Mr. Michele Cavallaro di atas, Sapta Nirwandar bukan hanya memberi ucapan selamat kepada "Under the Volcano" dan "Hikayat Perahu/The Tale of Boat" yang akan pentas di 54th International Theatre Festival of La Biennale di Venezia 2026, pun menilai keikutsertaan dua teater kontemporer produksi Bumi Purnati Indonesia yang sudah terpilih mewakili Indonesia tersebut bisa berdampak bagus bagi sektor kepariwisataan dan kebudayaan Indonesia, khususnya Lampung dan beberapa provinsi lain di Sumatra yang terkait dengan dua pementasan teater tetsebut.

Menurutnya promosi pariwisata dan menjual destinasi wisata itu dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain lewat pementasan teater di ajang festival teater internasional, pembuatan film di lokasi wisata Indonesia, dan lainnya.

Kata Sapta Nirwandar, tampil di La Biennale di Venezia 2026 ini sangat strategis dan menjadi satu cara yang relatif efektif dalam mempromosikan sektor pariwisata.

"Kenapa? Ya karena penontonnya dari seluruh dunia, baik yang langsung maupun dari medsos dan lainnya sehingga mereka akan mencari tahu dimana itu Gunung Krakatau dan sekaligus merangsang mereka untuk berkunjung atau berwisata ke Lampung, dimana Gunung Krakatau itu berada," ungkapnya.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Poster "Under the Volcano" dan "Hikayat Perahu/The Tale of Boat" yanv akan tampil di Biennale Venesia 2026 khusus The 54th International Theatre Festival. (Foto: Dok.Bumi Purnati Indonesia)
2. Jumpa pers “Dua Panggung Indonesia di Biennale Venesia 2026” di Residence of the Ambassador of Italy, Senopati, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada Kamis (7/5/26) yang menghadirkan 3 narsum dan diliput sejumlah awak media online, termasuk dari TravelPlus Indonesia.
3. Sepenggal video poster "Under the Volcano".
4. Sepenggal video poster "Hikayat Perahu/The Tale of Boat".
5. Direktur Artistik dan Produser Independen Bumi Purnati Indonesia, Restu Kusumaningrum.
6. Direktur Istituto Italiano di Cultura di Jakarta, Mr. Michele Cavallaro.
7. Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kabinet Indonesia Bersatu II periode 2011-2014, Sapta Nirwandar.

Read more...

Selasa, 05 Mei 2026

Inilah 12 Daya Tarik Gunung Tanggamus, Nomor 5 Bikin Paras Kota Agung Kian Menawan


Punya sederet daya tarik yang berbeda, tak bisa dipungkiri membuat Gunung Tanggamus semakin diminati para pemburu atap-atap bumi alias pendaki gunung dari dalam dan luar negeri. Apa saja seabrek daya tariknya?

Berdasarkan amatan langsung TravelPlus Indonesia usai dua kali mendaki gunung yang terletak di Kabupaten Tanggamus, Lampung ini pada 1995 bersama 3 rekan sekampus dan pendakian 2026 bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus yang kini dikepalai Marhasan Samba, sekurangnya ada 12 daya tariknya yang terbagi atas daya tarik non pendakian dan pendakian.

Daya tarik non pendakian artinya daya pikat atau pesona Gunung Tanggamus diluar wisata pendakian antara lain yang pertama, nama Gunung Tanggamus terpilih menjadi nama Kabupaten Tanggamus yang terbentuk tanggal 21 Maret 1997 berdasarkan Undang-undang Nomor 2 tahun 1997.

Dikutip dari laman resmi pemerintahannya, nama Tanggamus sendiri diambil dari. Gunung tersebut terletak tepat di jantung kabupaten yang berjuluk “Bumi Begawi Jejama” itu. Oleh sebab itu, para perancang dan tokoh kabupaten tersebut menamainya dengan Tanggamus. Selain sebagai simbol keberadaan Gunung Tanggamus, nama Tanggamus juga dipercaya akan memberikan kesejahteraan dan kemakmuran bagi rakyatnya.

Artinya nama Gunung Tanggamus begitu spesial hingga akhirnya dijadikan sebagai nama kabupaten yang semula masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan ini. Jadi selama nama kabupaten ber-Ibu Kota Kota Agung ini tidak berubah, selama itu pula nama gunung ini melekat erat, selaras dengan nama kabupaten tempatnya berdiri dengah gagahnya.


Versi lain menyebut nama "Tanggamus" diyakini berasal dari bahasa Lampung, yaitu “Tanga” yang berarti tinggi dan “Gamus” yang bermakna awan atau kabut. Dan
bila dipadukan punya arti "gunung tinggi yang kerap berselimut kabut", terutama pada pagi dan sore hari.

Selain itu ada pula yang menulis nama Tanggamus merujuk pada sosok legendaris perempuan yang dipercaya sebagai roh penunggu sekaligus penjaga gunung tersebut. Tokoh dalam cerita rakyat setempat ini berperan besar dalam menjaga keseimbangan alam dan memberi perlindungan bagi masyarakat di sekitarnya.

Ada juga yang bilang Tanggamus itu kependekan dari "Tangga Menuju Surga"  dan "Tangga Musyawarah" atau menjadi tempat orang-orang tempo doeloe untuk mengambil kesepakatan bersama atas persoalan yang terjadi di sekitarnya ketika itu.

Apapun ragam pendapat itu, satu yang pasti Gunung Tanggamus sudah menjadi ikon yang melekat kuat pada identitas Kabupaten Tanggamus karena namanya diabadikan menjadi nama kabupaten, dan gambarnya bahkan tercantum dalam logo resmi pemerintah daerah.

TravelPlus Indonesia yakin, seiring dengan semakin dikenalnya Gunung Tanggamus lewat berbagai tulisan, foto, konten video dan lainnya, suatu saat nanti kalau ada yang menyebut nama Kabupaten Tanggamus, baik itu orang-orang yang lahir dan tinggal di Kabupaten Tanggamus, di kota/kabupaten lain se-Lampung maupun orang-orang di luar Lampung seperti di Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya langsung menjawab "Gunung Tanggamus-lah yang teringat pertama kali di benak".

Seperti halnya kalau menyebut Kota Palembang, yang langsung terekam di otak lalu terucap di mulut adalah Pempek karena begitu kuat imej dan branding kulinernya tersebut.


Daya tarik yang kedua, keberadaannya menjadi inspirasi membuat kerajinan tangan khas Kabupaten Tanggamus yang bisa menjadi buah tangan bagi wisatawan usai berwisata di Kabupaten Tanggamus.

Contohnya saat ini sudah ada kerajinan tangan iko pujuk atau ikat kepala yang berbentuk segitiga atau kerucut yang melambangkan Gunung Tanggamus dengan tambahan ornamen motif belah ketupat khas Kabupaten Tanggamus.

Remi Fitri Maharani, owner sentra Tapis Ratu Intan di kediamannya di Kecamatan Puggung menjelaskan kepada TravelPlus Indonesia, iko pujuk dapat dipakai para pria untuk kegiatan-kegiatan adat yang tidak formal bahkan oleh traveler yang senang memakai ikat kepala. "Harganya Rp 50 ribu per satuan dan dapat dibeli langsung di sini di sentra Tapis Ratu Intan atau di outlet Dekranasda Kabupaten Tanggamus di Rest Area Gisting," jelasnya.

Tentu masih banyak lagi aneka karya seni yang mungkin bisa atau sudah pernah diciptakan selain dari kerajinan tangan yang terinspirasi dari Gunung Tanggamus, misalnya tarian baik itu tari tradisional maupun tari modern, nyanyian/lagu, film layar lebar, fesyen, nama kuliner, nama kedai kopi/restoran/hotel, dan lainnya. Dengan cara ini, branding, pamor, dan nama Gunung Tanggamus akan semakin kuat.

Daya tarik ketiga, badan Gunung Tanggamus berdiri gagah mencakup tiga kecamatan yaitu Kota Agung, Gisting, dan Ulu Belu.

Menariknya lagi gunung ini bisa dilihat traveler dari kejauhan dari beberapa titik seperti dari Homestay Soeharto, dermaga Teluk Semaka, dan jalan raya di Kota Agung; Bukit Idaman di Kecamatan Gisting; dan di beberapa ruas jalan provinsi dari Kota Agung ke Gisting.


Gunung Berapi
Selanjutnya atau daya tarik Gunung Tanggamus non pendakian yang keempat adalah termasuk gunung berapi namun tidak begitu aktif.

Bukti kalau Gunung Tanggamus itu gunung berapi, terdapat kawah aktif yang cukup luas, mengeluarkan air panas dan asap berbau belerang namun letaknya bukan di puncak gunung tapi masih di kaki gunung sebagaimana terlihat dalam konten video yang tayang di kanal YouTube berjudul "Penulusuran Kawah Tanggamus. Lampung".

Namun dalam narasi maupun deskripsi konten video di YouTube tersebut, tidak dijelaskan lokasi pekon dan kecamatan apa kawah tersebut berada.

Menurut Kepala Dinas Parekraf Kabupaten Tanggamus, Marhasan Samba kalau melihat dari konen video di YouTube itu merupakan hot spring yang ada di Pekon Pagar Alam, Kecamatan Ulu Belu, Kabupaten Tanggamus, dekat kawasan geotermal.

Hal senada juga disampaikan Poklen ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Java Palisander (dulunya bernama Sonokeling) yang mengelola basecamp (BC) pendakian Gunung Tanggamus via Sidokaton.

Menurut sepengetahuan Poklen dari temannya, dulu ada aktivitas gunung api purba di Ulu Belu yang mengeluarkan air panas. "Untuk mencapai ke sana jarak tempuhnya dari Kecamatan Gisting sekitar sejam berkendara," terangnya.

Bukti lainnya, sewaktu TravelPlus Indonesia mendaki Gunung Tanggamus yang kedua kali, sempat mencium bau belerang yang terbawa angin. Entah bau belerang itu dari sumber air panas yang ada di Ulu Belu atau ada rongga-rongga kawah kecil di luar jalur pendakian yang tertutup semak belukar maupun kerimbunan hutan.


Daya tarik kelima non pendakian Gunung Tanggamus adalah keberadaannya juga tak bisa dipungkiri semakin memperindah wajah Kabupaten Tanggamus, di antaranya paras Kota Agung. Dari beberapa titik di Ibu Kota Kabupaten Tanggamus ini, panormanya menjadi lebih spesial lantaran berlatar Gunung Tanggamus.

Tak banyak kota maupun ibu kota sebuah kabupaten di Indonesia yang dianugerahi Sang Maha Pencipta, Allah SWT panorama kota berlatar gunung  dan laut teluk nan menawan. Dan dari yang tak banyak itu, Kota Agung-lah di antaranya.

Bila dilihat dari sisi pariwisata, kondisi alam seperti itu merupakan nilai lebih (keistimewaan) tersendiri bagi Kabupaten Tanggamus, khususnya Kota Agung karena bisa menjadi daya tarik yang dapat menjaring wisatawan.

Sudah semestinya selalu mensyukuri anugerah tak terhingga itu dan tak kalah penting terus menerapkan/mengindahkan 7 unsur Sapta Pesona pariwisata yakni Aman, Tertib, Bersih, Sejuk, Indah, Ramah, dan Kenangan diseluruh lapisan masyarakat dan disemua sektor yang ada di Kabupaten Tanggamus agar semakin indah dan tertata.

Ditambah dengan terus meningkatkan konsep 3A sebagai pilar utama pengembangan destinasi pariwisata yaitu Atraksi (Attraction) yang menarik dan berkualitas; Aksesibilitas (Accessibility) yang memadai, nyaman, dan tarifnya terjangkau; serta Amenitas (Amenities) yang lengkap, dengan tetap mengangkat muatan budaya lokal/setempat.


Daya Tarik Pendakian
Berikutnya atau daya tarik keenam dan seterusnya yang merupakan daya tarik Gunung Tanggamus dari sisi pendakian, yakni dengan keringgian 2.102 Mdpl (ada juga yang mencatat 2101 Mdpl), menjadikannya sebagai gunung tertinggi kedua di Provinsi Lampung setelah Gunung Pesagi.

Meskipun bukan atapnya Lampung (tertinggi se-Lampung) namun banyak pendaki yang menilai tingkat kesulitan atau grade lavel pendakian Gunung Tanggamus justru lebih sulit dibanding Gunung Pesagi.

TravelPlus Indonesia sendiri menilai kondisi jalur pendakian (japen) Gunung Tanggamus itu akan menjadi lebih berat bila mendakinya saat musim hujan atau dikala hujan turun dengan intensitas tinggi dan durasinya lama meskipun dimusim panas ataupun musim pancaroba karena kondisi beberapa titik japennya akan berubah sangat licin dan becek.

Tingkat kesulitan japen itu memang boleh dibilang subyektif, bisa juga dipengaruhi oleh faktor pengalaman pendakian serta kondisi fisik dan mental masing-masing pendaki. Kendati begitu justru membuat banyak pendaki berjiwa petualang yang semakin tertantang untuk mendaki dan menggapai puncaknya.


Daya tarik ketujuh, Gunung Tanggamus salah satu gunung yang memiliki sedikit japen umum. Sampai saat ini japen umumnya yang tersohor dan menjadi pilihan banyak pendaki adalah BC pendakian Gunung Tanggamus via
Pekon (Desa) Sidokaton, Kecamatan Gisting, Kabupaten Tanggamus.

Di BC-nya tersedia loket registrasi/pendaftaran pendaki gunung, tempat rebahan pendaki, warung makan sederhana, kamar mandi, dan toilet serta lahan parkir motor yang dipasangi kamera CCTV. "Biaya jasa penitipan motor Rp 20 ribu per motor," ungkap Poklen.

Daya tarik kedelapan, BC pendakian Gunung Tanggamus terbilang mudah diakses dengan kendaraan pribadi maupun moda tranportasi umum dan lokal.

Pendaki dari kota/kabupaten yang ada di Lampung, umumnya menggunakan sepeda motor dari kediamannya ke BC Sidokaton. Ada pula yang menggunakan mobil pribadi bila datang dalam kelompok kecil (4-7) orang. Sedangkan pendaki dari luar Lampung, biasanya menggunakan moda tranportasi umum bus dari kota/kabupatennya yang melewati Kecamatan Gisting lalu turun di Rest Area Gisting kemudian lanjut naik ojek pangkalan ke BC Sidokaton.

Buat pendaki Jabodetabek yang ingin mendaki Gunung Tanggamus dengan moda transportasi umum, pilihannya bisa naik bus Raja Basa Utama (RBU) yang bercat biru dari Bekasi ataupun dari Terminal Kalideres, Jakarta lalu turunnya di Rest Area Gisting dengan ongkos sekitar Rp 260 ribu per orang (tidak perlu lagi beli tiket kapal feri).

"Dari rest area tersebut, traveler bisa naik ojek pangkalan ke BC Sidokaton sekitar Rp 10 ribu per orang. Pulangnya pun begitu," terang Poklen.


Daya tarik kesembilan, memilik tempat berkemah bernama Camping Ground  Gunung Tanggamus yang dapat digunakan pendaki untuk mendirikan tenda atau nge-camp sebelum maupun sesudah menggapai puncak Gunung Tanggamus.

Menariknya nge-camp di camping ground satu ini juga gratis dengan catatan membawa perlengkapan berkemah/masak/mendaki sendiri atau bisa juga menyewanya di rental outdoor di daerah masing-masing karena di BC Sidokaton belum menyediakan rental outdoor untuk keperluan tersebut.

Keistimewaan camping ground  Gunung Tanggamus ini, pendaki dimanjakan pemandangan matahari terbit (sunrise) yang menawan yang muncul dari parairan Teluk Semaka yang berada di pesisir Kota Agung.

Rumah Akar
Selanjutnya atau daya tarik Gunung Tanggamus yang kesepuluh, memiliki spot-spot alam yang menarik di beberapa titik di japennya antara lain sumber air yang mengalir, rumah akar, pos mushala, kayu akar viral, hutan lumut, tugu triangulasi (puncak) serta lautan awan dan pesona matahari terbenam (sunset) yang dapat dilihat dari puncaknya saat cuaca bersahabat (cerah).

Dari sederet spot-spot alam tersebut, rumah akar-lah yang menarik lebih perhatian TravelPlus Indonesia lantaran unik dan jumlahnya cukup banyak di beberapa titik.


Rumah akar yang TarvelPlus Indonesia maksud itu adalah pohon besar yang bagian akar-akarnya membentuk sarang dengan ruangan seperti kamar rumah untuk tempat berteduh.

Awalnya Travelplus Indonesia mengira rumah akar itu menjadi tempat tinggal atau berteduh sejumlah hewan liar seperti babi hutan, ular piton dan atau lainnya. Tapi setelah diamati/diperiksa tidak ada sama sekali satwa liar di dalamnya.

Menurut salah seorang pendaki yang bertemu dengan TravelPlus Indonesia saat pendakian Gunung Tanggamus 2026, mengatakan dia pernah suatu ketika bermalam di salah satu rumah akar tersebut.

Nah, buat pendaki lainnya, TravelPlus Indonesia imbau supaya tidak melakukan itu guna menjaga keberadaan dan kelestarian rumah-rumah akar tersebut. Mungkin kalau sekadar berteduh saat hujan atau sekadar istirahat sejenak sewaktu nanjak ataupun turun, boleh-boleh saja namun harus tetap menjaga kebersihan dan keasriannya.


Nge-camp dan Tektok
Daya tarik kesebelas, puncak Gunung Tanggamus dapat dicapai pendaki dengan dua cara pendakian yakni pendakian nge-camp dan tektok tanpa membayar registrasi alias gratis. Cukup mencatat data pribadi masing-masing pendaki dan pendakian yang dilakukan nge-camp atau tektok.

Kalau pendakian nge-camp bisa pilih berdurasi 2 hari 1 malam, bermalamnya satu malam di camping ground sebelum atau sesudah ke puncak. Sedangkan yang berdurasi 3 hari 2 malam, nge-campnya juga di camping ground satu malam sebelum ke puncak dan satu malam lagi sesudah turun dari puncak.

Pilihan pendakian nge-camp yang kedua itu yang paling santai dan jauh lebih memuaskan karena bisa eksplorasi lebih lama di spot-spot alam yang ada di sepanjang japen sampai puncak.

Khusus pendakian tektok atau one day hiking (ONH) tanpa menginap, berangkat sebelum subuh dari BC dengan ojek gunung ke Pos Mata Air (sebelum camping ground) dengan onkos Rp 75 ribu per orang sekali jalan jika berangkat/antarnya malam dan atau jelang subuh. Kalau pagi sampai sore hari, tarif ojek gunungya Rp 50 ribu per orang sekali jalan).

Selanjutnya treking sampai puncak paling lambat jam 12 siang kemudian turun sekitar jam 1 siang dan tiba di Pos Mata Air sore, kemudian turun ke BC dengan ojek gunung dan tiba di BC paling lambat magrib.

Sebaiknya bila memilih tektok, kondisi fisik dan mental benar-benar dipersiapkan dengan matang karena sangat menguras stamina terlebih bila diguyur hujan panjang. Kalau ingin lebih santai dan puas, untuk pendakian yang pertama kali, sebaiknya dilakukan secara nge-camp, 1 ataupun 2 malam.

Bila menggunakan jasa pemandu gunung, biayanya Rp 500 ribu per hari. Begitupun kalau memakai jasa porter, tarifnya sama Rp 500 ribu per hari sesuai informasi yang TravelPlus Indonesia peroleh dari BC Sidokaton.

Menurut Poklen, tugas porter pendakian Gunung Tanggamus hanya membawa barang, tidak bongkar/pasang tenda dan tidak pula memasak. "Tapi jumlah porter disini jarang (terbatas) karena medannya cukup curam. Rata rata para pendaki hanya menggunakan jasa pemandu," terangnya.


Lebih dari Mendaki
Terakhir atau daya tarik Gunung Tanggamus yang keduabelas, selain pendakian banyak aktivitas menarik dan bermanfaat yang dapat dilakukan pendaki di Gunung Tanggamus.

Aktivitas menarik lainnya antara lain berkemah di camping ground seraya mengabadikan sunrise ke arah Teluk Semaka; mengamati aneka flora seperti tanaman kantong semar, rumah akar, dan hutan lumut; melakukan pengamatan aneka burung atau bird watching antara lain di sekitar Pos Lima; memotret dan atau membuat video untuk konten medsos; dan pulangnya bisa ber-agro wisata dengan membeli buah alpukat yang memang banyak tumbuh di Pekon Sidokaton dan pekon-pekon sekitarnya.

Bisa juga melakukan pendakian bernilai lebih seperti sekaligus aksi sapu bersih atau memungut sampah pendaki abal-abal yang membuang/meninggalkan sampahnya seenaknya di sekitar puncak dan sepanjang japen, lalu membawa turun hingga BC dan atau melakukan aksi tanam pohon di lahan-lahan tertentu agar suasananya semakin rindang.

Melihat sederet daya tarik Gunung Tanggamus tersebut, rasanya pantas kalau gunung satu ini beberapa tahun belakangan, semakin ramai peminatnya dan boleh dibilang sudah menjadi lokasi objek wisata minat khusus pilihan pendaki muda-mudi Lampung terutama setiap akhir pekan, long weekend, libur akhir tahun, libur sekolah/kuliah, libur hari-hari spesial seperti 17 Agustus-an, dan lainnya.


Faktanya berdasarkan data jumlah pendaki Gunung Tanggamus yang tercatat oleh pengurus Pokdarwis Java Palisander di BC via Pekon Sidokaton, sepanjang tahun lalu 2025 mencapai 6.667 orang dan segelintir di antaranya merupakan pendaki asing.

Data yang menggembirakan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Gunung Tanggamus saat ini sudah termasuk gunung populer se-Lampung yang semakin dilirik pendaki luar Lampung bahkan mancanegara.

Nah, buat travelers di Jabodetabek dan dimanapun yang ingin menikmati sederet daya tarik Gunung Tanggamus di atas dengan melakukan pendakian, di ujung tulisan ini TravelPlus Indonesia kembali mengimbau untuk senantiasa melakukan pendakian yang ramah lingkungan atau pro konservasi yakni minimal membawa turun sampah logistik sendiri ke BC, tidak melakukan aksi vandalisme termasuk menebang/menguliti batang pohon, dan tidak mencemarkan sumber air yang ada.

Enjoy hiking Mount Tanggamus 💪.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Pemandangan Kota Agung, Ibu Kota Kabupaten Tanggamus yang tambah menawan karena berlatar Gunung Tanggamus.
2. Badan Gunung Tanggamus mencakup Kecamatan Kota Agung. Gisting, dan Ulu Belu.
3. Iko pujuk atau ikat kepala berbentuk segitiga kerucut yang melambangkan Gunung Tanggamus ditambah ornamen motif belah ketupat khas Kabupaten Tanggamus.
4. Gunung Tanggamus merupakan gunung berapi namun tidak begitu aktif.
5. Panorama Dermaga Kota Agung di Teluk Semaka yang berlatar Gunung Tanggamus.
6. Triangulasi puncak Gunung Tanggamus yang berketinggian 2.102 Mdpl.
7. Sejumlah pendaki dan pengurus Pokdarwis Java Palisander berfoto bersama Kepala Dinas Parekraf Kabupaten Tanggamus, Marhasan Samba (berjaket kulit coklat) di BC via Pekon Sidokaton, Kec. Gisting.
8. Suasana camping ground Gunung Tanggamus, tempat para pendaki mendirikan tenda saat melakukan pendakian secara nge-camp.
9. Rumah akar, spot alam yang menarik perhatian lebih di beberapa titik di jalur pendakian Gunung Tanggamus.
10. Pendaki melewati trek awal hutan lumut yang juga menjadi spot alam menarik khas Gunung Tanggamus.
11. Kepala Dinas Parekraf Kabupaten Tanggamus, Marhasan Samba (berjaket kulit coklat) saat memantau suasana BC pendakian Gunung Tanggamus via Sidokaton.
12. TravelPlus Indonesia (berikat kepala biru) yang sudah berusia separuh abad lebih dan mendaki Gunung Tanggamus untuk kedua kali, berfoto bareng pendaki muda-mudi Lampung di puncak Gunung Tanggamus saat didera hujan. (foto: dok./#rekanpendaki)







Read more...

Senin, 04 Mei 2026

Ki Dalang Wawan Ajen Gencar Kenalkan Wayang ke Gen Z Lewat Ragam Media


Banyak jalan menuju Roma. Bila pepatah  usang itu diterapkan dalam wayang, bisa seperti ini: "banyak cara memperkenalkan wayang kepada publik, salah satunya lewat ragam media".

Cara seperti itulah yang dilakukan Wawan Gunawan yang juga dikenal dengan nama Ki Dalang Wawan Ajen, pedalang sekaligus pendiri grup Wayang Ajen yang sanggarnya berada di Kota Bekasi.

Di hari pertama bulan Mei 2026, Wawan Gunawan menjadi nara sumber (narsum) yang membicarakan seputar wayang di Radio Dakta 107 FM dengan tema “Wayang Masuk Tongkrongan: Membumikan Tradisi ke Gen Z”.

Lewat program Bincang Budaya berkosep dialog yang dipandu Oman dan Ulfi  tersebut, Wawan Gunawan membeberkan kiatnya menjadikan wayang tidak sekadar warisan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.

Menurutnya kegagalan terbesar dalam pewarisan budaya sering kali terjadi bukan karena anak muda tidak tertarik melainkan karena pendekatan yang digunakan tidak lagi relevan.

“Anak-anak tidak boleh dipaksa memahami tradisi dengan cara pandang orang dewasa,” ungkapnya.


Pedalang yang pernah bertugas di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI ini memandang perlu menggeser paradigma pendidikan seni budaya: dari yang bersifat instruktif menjadi reflektif dan adaptif.

"Anak-anak, terutama Gen Z, perlu didekati melalui cara yang lentur membaca gestur mereka, rasa ingin tahu mereka, dan respons alami yang muncul dari interaksi pertama dengan budaya," terangnya.

Lebih lanjut pedalang yang juga Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung ini menerangkan kalau wayang itu bukan hanya tontonan visual tetapi teks kehidupan.

"Tokoh-tokoh pewayangan tidak cukup dikenalkan sebagai karakter mitologis semata, tetapi harus dihadirkan dalam konteks kekinian, sebagai refleksi nilai dan etika yang tetap relevan," jelasnya lagi.

Di dalam wayang, sambungnya, tersimpan pelajaran tentang bagaimana menghormati orang tua, bagaimana bersikap kepada guru, hingga bagaimana membangun relasi sosial yang sehat.

"Dengan kata lain, wayang adalah medium pendidikan karakter yang telah teruji lintas zaman, namun kini membutuhkan bahasa baru untuk dapat dipahami," ujarnya.


Tingkatkan Literasi Anak
Banyak manfaat positif yang didapat Gen Z dengan belajar wayang. Salah satunya meningkatkan kemampuan literasi anak.

"Anak-anak yang sebelumnya mengalami kesulitan membaca, secara perlahan menunjukkan perkembangan signifikan setelah terlibat dalam pembelajaran naskah dan cerita pewayangan," ungkapnya.

Cerita, lanjutnya menjadi jembatan dan imajinasi menjadi pintu masuk. "Di sinilah letak kekuatan wayang: ia tidak mengajarkan secara langsung, tetapi menghidupkan rasa ingin tahu," tambahnya.

Di tengah derasnya arus digital, lanjut Ki Dalang Wawan Ajen, wayang justru menemukan ruang baru. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi medium transformasi.

"Atraksi dalang, potongan adegan, hingga interpretasi kreatif tokoh pewayangan kini beredar luas menjangkau generasi yang sebelumnya jauh dari tradisi," ungkapnya seraya menambahkan fenomena ini bukan sebagai ancaman melainkan peluang.


Adaptasi Media Kekinian
Media sosial dalam konteks ini, sambungnya, bukan sekadar alat promosi melainkan  ruang negosiasi budaya. "Tempat tradisi dalam hal ini wayang beradaptasi, tanpa kehilangan jati dirinya," terangnya.

Berdasarkan amatannya, kini antusiasme terhadap wayang justru tumbuh dari ruang-ruang yang tidak formal.

Di Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi misalnya, peserta datang dari berbagai jenjang usia, mulai dari anak PAUD hingga pelajar SMA. Bahkan, sebagian besar dari mereka mengenal wayang pertama kali bukan dari sekolah, melainkan dari media sosial.

"Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: ketika tradisi dikemas dengan tepat, ia tidak hanya bertahan tetapi berkembang," ungkapnya.

Kata Ki Dalang Wawan Ajen, sering kali generasi muda dianggap tidak peduli. Padahal, yang terjadi adalah ketidaksesuaian antara cara penyampaian dengan cara mereka belajar dan berinteraksi. "Wayang tidak kehilangan relevansi. Yang perlu diperbarui adalah cara kita menghadirkannya," terangnya.


Satu lagi, wayang tidak harus dipertahankan sebagai artefak masa lalu, tetapi dihidupkan sebagai bagian dari masa kini.

"Ketika wayang bisa hadir di tongkrongan, di layar ponsel, dan di ruang imajinasi anak muda, maka di situlah ia menemukan masa depannya," pungkasnya.

Bukti kalau Ki Dalang Wawan Ajen gencar memperkenalkan wayang ke Gen Z, usai menjadi narsum di radio tersebut, ia lanjut memberikan pengetahuan luasnya tentang wayang ini lewat tulisan yang kemudian diracik media online TravelPlus Indonesia  menjadi smart article ini.

Efeknya, jelas akan semakin banyak orang khususnya Gen Z yang bukan hanya mengenal wayang pun tertarik untuk belajar lebih jauh tentang wayang hingga akhirnya jatuh cinta dengan salah satu budaya asli Indonesia yang sudah diakui UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) ini.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Sumber: tulisan Ki Dalang Wayan Ajen bertajuk "Wayang Masuk Tongkrongan: Ketika Tradisi Menyapa Gen Z dari Gelombang Radio hingga Layar Digital"

Foto: dok. wawan gunawan/radio dakta & dok. wawan gunawan/sanggar wayang ajen

Captions:
1. Wawan Gunawan alias Ki Dalang Wawan Ajen, pedalang sekaligus pendiri grup Wayang Ajen memperkenalkan wayang ke Gen Z lewat program Bincang Budaya di Radio Dakta 107 FM.
2. Ki Dalang Wawan Ajen menjadi narsum yang mengusunb tema “Wayang Masuk Tongkrongan: Membumikan Tradisi ke Gen Z”.
3. Antusiasme anak-anak sekarang belajar dalang di Sanggar Wayang Ajen, Kota Bekasi.
4. Perlunya beradaptasi dengan ragam media untuk memperkenalkan wayang ke Gen Z.
5. Bersinergi dengan media online. website TravelPlus Indonesia untuk memperkenalkan wayang ke Gen Z dalam bentuk smart article ini.





Read more...

Minggu, 03 Mei 2026

Menjelang 5 Abad Pesona Jakarta Kian Menjulang, Ini 11 Faktor Penguatnya


Menjelang Jakarta berusia 500 tahun pada tahun 2027, pesonanya sebagai destinasi wisata global semakin menjulang. Ini dipicu berbagai faktor penguat yang mengkombinasian antara ketersediaan moda transportasi umum yang nyaman, akomodasi, daya tarik wisata, rasa aman, dukungan jurnalis loyal, dan lainnya.

Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada 11 (sebelas) faktor penguat yang membuat ragam pesona Jakarta kian mendunia menjelang usia 5 abad.

Kota Teraman
Faktor penguat pertama, adanya pengakuan/penobatan Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara (ASEAN) tahun 2026.

Pengakuan tersebut merujuk pada laporan Safety Index 2026 yang dirilis oleh Global Residence Index.

Berdasarkan laporannya edisi 16 Januari 2026, penilaian dilakukan lewat pengumpulan data dari berbagai indikator keamanan antara lain tingkat pembunuhan, penculikan sampai risiko ketidakstabilan politik. Data tersebut dihimpun dari sejumlah lembaga kredibel internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.


Dalam daftar kawasan Asia Tenggara, Jakarta menempati posisi kedua dengan skor 0,72, dibawah Singapura yang berada di urutan teratas atau pertama dengan skor 0,90 dan diatas Bangkok diposisi ketiga dengan skor 0,65.

Dilihat dari kacamata pariwisata,  pengakuan/penobatan Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara tahun 2026 tersebut tentunya sangat krusial mengingat rasa aman itu dalam Sapta Pesona berada diurutan teratas atau dengan kata lain menjadi syarat utama yang dibutuhkan wisatawan sebelum mereka melakukan kunjungan wisata.

Bila destinasi wisata yang akan mereka kunjungi aman, apalagi sudah mendapatkan pengakuan/penobatan seperti itu, tentunya mereka tidak ragu-ragu lagi, tidak cemas lagi untuk datang dan atau kembali berwisata lagi ke Jakarta.

Selain pariwisata, pengakuan/penobatan tersebut pun juga berdampak bagus menciptakan citra yang positif bagi investasi.


Transportasi Umum Terbaik
Faktor penguat kedua, adanya pengakuan Jakarta salah satu kota dengan transportasi umum terbaik di dunia pada 2025.

Dilansir dari antaranews.comJakarta menempati peringkat ke-17 dari 50 kota menurut survei Time Out tahun 2025. Dalam survei itu, disebutkan moda transportasi umum tersibuk di Jakarta adalah bus, dengan tingkat persetujuan 79 persen.

Bus Transjakarta beroperasi di jalurnya sendiri (busway) di jalan-jalan di ibu kota. Layanan tersebut menawarkan pilihan paling terjangkau bagi warga setempat untuk berkeliling kota.

Selain bus Transjakarta, ada pula Mikrotrans, yaitu bus berukuran sedang yang melayani antarhalte busway.

Kemudian, terdapat sejumlah opsi transportasi berbasis rel, yakni MRT (mass rapid transit) dan LRT (light rail transit) yang membantu mengurangi kemacetan di ibu kota, serta kereta komuter yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga, yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Sebelum itu, Jakarta juga pernah mendapat penghargaan internasional seperti Sustainable Transport Award (STA) pada tahun 2021 atas komitmennya dalam mengembangkan transportasi publik yang berkelanjutan.


Pengakuan dan penghargaan tersebut jelas membuahkan imej positif bagi sektor pariwisata, mengingat ketersediaan moda transportasi umum yang nyaman dan tarifnya terjangkau untuk menjangkau sejumlah objek wisata/atraksi wisata di Jakarta sangat dibutuhkan wisatawan.

Dengan ketersediaan moda transportasi umum yang nyaman dan terjangkau tersebut jelas membuat orang luar Jakarta bahkan luar Indonesia jadi semakin tertarik berwisata ke Jakarta.

Begitupun dengan wisatawan nusantara maupun mancanegara yang sedang berada di Jakarta, jadi lebih sering keluar hotel untuk berwisata keliling Jakarta antara lain ke TMII, Kebun Binatang Ragunan, Ancol, kawasan Kota Tua, PIK, Monas, Sarinah, Twrowongan Kendal, Bundaran HI, Taman Dukuh Atas, GBK Senayan, JIS, JICC, Blok M, BKT, Perkampungan Budaya Betawi, bermacam museum, masjid-masjid ternama, pusat perbelanjaan/mall, sentra kuliner, resto/kafe, tempat hiburan, taman/hutan kota, dan lainnya karena terkoneksi dengan moda transportasi umum sebagaimana tersebut di atas.

Amatan TravelPlus Indonesia, banyak juga turis asing yang menggunakan bus Transjakarta maupun KRL komuter untuk keliling objek-objek wisata Jakarta tersebut.


Surga Kuliner
Berikutnya atau faktor penguat yang ketiga, Jakarta surganya kuliner tradisional dan mancanegara.

Bukan hanya bermacam kuliner khas Betawi (suku atau warga asli Jakarta) seperti nasi uduk, nasi ulam, gado-gado, sayur asem, pecak gabus, soto Betawi, laksa Betawi, sayur ketupat Betawi, kerak telor, es selendang mayang, dan dodol Betawi, di Jakarta juga tersedia sejumlah kuliner tradisional dari berbagai suku lain yang lahir dan atau lama tinggal di Jakarta seperti kuliner khas Sunda, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Lampung, Batak, Melayu, Makassar, Manado, Aceh, dan lainnya.

Belum lagi kuliner mancanegara seperti Jepang, Korea, China, Arab, India, Thailand, dan lainnya.

Keragaman kuliner tradisional Indonesia yang kaya rempah dan kaya rasa seperti gurih, pedas, dan manis yang tersedia di Jakarta termasuk kuliner mancanegara, ditambah lagi mudah mendapatkannya antara lain di warung/rumah makan, resto, kafe, pedagang keliling, pedagang di tepi jalanan atau street food, kantin, sentra kuliner, food court, mall, hotel, dan lainnya, tak bisa bisa dipungkiri menjadi satu daya tarik utama yang memikat wisnus maupun wisman untuk datang dan berwisata lagi ke Jakarta.

Faktor penguat keempat, penduduknya ramah kepada wisatawan.

Meskipun sampai kini masih menjadi  pusat pemerintahan sekaligus pusat ekonomi Indonesia, namun warga Jakarta baik asli maupun pendatang umumnya terbilang memiliki sikap ramah terhadap wisnus maupun wisman.


Kian Berkilau
Faktor penguat kelima, paras Jakarta kian berkilau.

Tak bisa dipungkiri pula wajah Jakarta sebagai salah satu kota megapolitan terbesar di dunia menjelang usianya 5 abad semakin berkilau, rapih, bersih, estetik, modern, kekinian namun tetap menonjolkan muatan budaya lokal khususnya budaya Betawi.

Kondisi tersebut bisa dilihat dari pembaruan berbagai fasilitas publiknya seperti jembatan penyeberangan orang (JPO) yang keren, halte-halte Transjakarta serta stasiun-stasiun KRL yang megah, penataan trotoar berikut kursi-kursi dan lampu-lampu taman, penataan taman/hutan kota yang estetik, ditambah deretan bangunan jangkung dengan lampu-lampu kota yang menawan sehingga banyak orang terlebih wisatawan yang datang dam menjadikannya sebagai spot-spot foto yang menarik.


Gratis & Multi-Event
Selanjutnya atau faktor penguat yang keenam, Jakarta punya banyak tempat wisata dan rekreasi gratis.

Ketersediaan sejumlah tempat wisata tak berbayar atau tidak dikenakan tiket masuk alias gratis membuat semakin banyak orang yang tertarik berwisata ke Jakarta.

Beberapa tempat wisata atau daya tarik wisata gratis di Jakarta yang ramai peminatnya antara lain kawasan Monas, Lapangan Banteng, venue sport tourism seperti GBK Senayan dan JIS, kemudian kawasan Kota Tua, taman-taman kota yang indah, dan masih banyak lainnya.

Faktor penguat ketujuh, Jakarta punya banyak event menarik dan tak sedikit yang gratis.

Amatan TravelPlus Indonesia, selain ibu kota yang multietnis, muktilultural, dan multikuliner, Jakarta itu juga ibu kota yang multi-event. Kenapa? Ya karena tidak  pernah sepi dengan kegiatan seperti kegiatan wisata (tourism event), budaya (culture event), olahraga (sport tourism event), konser musik, bazar kuliner, bermacam pameran, dan lainnya.

Boleh dibilang hampir tiap hari ada saja kegiatan yang digelar dan tak sedikit yang diadakan tanpa berbayar alias gratis. Bahkan untuk menarik pengunjung, banyak mall dan tempat umum lainnya yang mendatangkan penyanyi atau band ternama tampil dan penontonnya tidak dikenakan tiket masuk.

Semua event yang digelar itu jelas membuat banyak orang tertarik datang ke Jakarta dengan menggunakan moda transportasi umum yang nyaman maupun tranportasi online.


Ragam Akomodasi
Faktor penguat kedelapan, Jakarta punya ragam pilihan akomodasi.

Sebagai destinasi wisata dan bisnis utama di Indonesia, kelebihan Jakarta juga memiliki  bermacam hotel non budget sampai hotel bintang lima.

Wisnus maupun wisman yang berwisata ke Jakarta bisa dengan mudah mencari akomodasi sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggarannya. Bahkan beberapa tahun belakangan ini banyak hotel yang tersedia di tempat-tempat wisata di Jakarta seperti di TMII, kawasan Kota Tua, Ancol, Blok M, Pasar Baru, Jalan Sabang, dan lainnya.

Budaya Betawi Menonjol
Kemudian atau faktor penguat yang kesembilan, Jakarta tetap menjaga dan mengangkat ragam budaya penduduk aslinya yakni budaya Betawi.

Meski dihuni multietnis dengan berbagai macam budaya dari daerah-daerah lain bahkan negara-negara lain namun budaya Betawi sebagai warga asli Jakarta tetap hidup bahkan menonjol lantaran terus dijaga dan diangkat diberbagai kegiatan.


Di bulan Mei 2026 ini saja ada sejumlah acara terkait budaya Betawi di Jakarta  sebagimana diunggah akun IG Dinas Kebudayaan DKI Jakarta @disbuddki antara lain Pagelaran Kesenian Betawi secara reguler di Kampung M.H. Thamrin, Setu Babakan, Jaksel tanggal 9 Mei dan 23 Mei, dan workshop seni budaya Betawi di Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan, Jaksel selama bulan Mei.

Selanjutnya ada Pagelaran Wayang Kulit Betawi di Museum Wayang, Kota Tua, Jakbar pada 24 Mei, Pagelaran Wayang Golek Lenong Pagelaran  di Mseum Wayang, Kota Tua, Jakbar pada 31 Mei, dan Jakarta Penuh Warna di Bundaran HI, Jakpus juga tanggal  31 Mei.

Wisata Bahari Berprestasi
Faktor penguat kesepuluh, Jakarta punya Taman Nasional Laut satu-satunya yang ada di Ibu Kota Negara yaitu Taman Nasional Kepulauan Seribu yang berada di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Jakarta.

Meskipun Jakarta tidak memiliki gunung dan air terjun sebagai daya tarik alam namun mempunyai destinasi wisata bahari yang berprestasi ditingkat Asia Tenggara.


Dilansir dari laman Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS), www.simpulseribu.id, TNKpS merupakan salah satu dari 7 Taman Nasional Laut dibawah Kementerian lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan merupakan bagian dari 553 unit Kawasan Konservasi di Indonesia.

Selain itu TNKpS merupakan satu-satunya Taman Nasional yang terletak di Ibukota Negara. Pada tahun 2017 Taman Nasional Kepulauan Seribu juga mendapat penghargaan sebagai kawasan ASEAN Heritage Park (AHP) ke 29 di kawasan Asia Tenggara yang mewakili Indonesia dalam pertemuan Asean Working Group on Nature Conservation and Biodiversity (AWGNCB) ke 27 yang berlangsung di Brunei Darussalam.

ASEAN Heritage Parks merupakan kawasan perlindungan terpilih di wilayah ASEAN dengan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang unik dan bernilai tinggi sebagai keterwakilan ekosistem di kawasan negara-negara ASEAN.


AHP merupakan penghargaan tertinggi terhadap pentingnya perlindungan suatu kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Keberadaan Taman Nasional Kepulauan Seribu yang mudah dijangkau dengan moda tranportasi laut dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke maupun dari Dermaga Ancol ini, tak bisa dipungkiri juga menjadi salah satu daya tarik kuat yang membuat banyak wisnus maupun wisman berkunjung ke Jakarta untuk berwisata bahari antara lain santai dan berkemah di pantai, snorkeling, diving, memancing. wisata konservasi, kulineran seafood yang fresh dan keliling pulau.


Jurnalis Loyal
Terakhir atau faktor penguat yang kesebelas, mendapat dukungan dari jurnalis loyal.

Selain kesepuluh faktor penguat tersebut, tak kalah penting adalah dukungan dari berbagai pihak terkait termasuk dari jurnalis dan pembuat konten video khusus kepariwisataan, kebudayaan, dan ekonomi kreatif yang selama ini sudah loyal (setia) memajukan ketiga sektor itu di Jakarta lewat ragam karya jurnalistiknya, salah satunya TravelPlus Indonesia sehingga ragam pesona Jakarta semakin tersiar hingga mendunia.

TravelPlus Indonesia bukan hanya membuat bermacam tulisan, foto, dan konten video kekinian tentang bermacam daya tarik Jakarta seperti objek-objek wistanya, calendar of event-nya, kekhasan budaya Betawi dan kulinernya, moda transportasi umumnya, dan kelebihan/keistimewaan Jakarta lainya pun membuat counter news terkait pariwisata bila ada kejadian/insiden/bencana di Jakarta supaya publik lekas melek (paham) dan tetap tertarik berwisata ke Jakarta.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Salah satu acara di depan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
2. Lapangan Banteng, salah satu publice space gratis di Jakarta yang kerap digunakan untuk olah raga, kegiatan wisata, budaya. pameran, bazar kuliner dan lainnya.
3. Video moda transportasi umum kereta rel listrik (KRL) komuter yang kerap digunakan traveler untuk kelliling objek-objek wisata di Jakarta
4. Wisman tengah berwisata di kawasan Kota Tua Jakarta saat musim hujan.
5. Soto Betawi salah satu kuliner tradisional khas Betawi, Jakarta.
6 Wisatawan menikmati city light Jakarta yang menawan.
7. Band D'Masiv saat mengisi salah satu acara konser di Jakarta dan penontonnya tidak dikenakan tiket alias gratis.
8. Hotel-hotel pencakar langit di Jakarta dari yang non budget sampai berbintang.
9. Budaya Betawi dijaga dan diangkat hingga menonjol.
10. Pulau Pramuka, salah satu pulau di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu.
11. Video Taman Kepulauan Seribu di Jakarta, salah satu taman nasional yang ada di ibu kota negara.
12. TravelPlus Indonesia, salah satu media online yang jurnalisnya sejak dulu loyal mengangkat ragam pesona Jakarta hingga mendunia, lewat tulisan, foto, dan konten video.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP