. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Kamis, 23 April 2026

Ke Kota Lama Banyumas saat Ngibing 24 Jam, Ini Delapan Keuntungannya


Berkunjung ke destinasi wisata saat ada spesial event jelas akan memberi keuntungan lebih dibanding tidak ada acara apa-apa. Nah, kalau traveler berencana city tour ke Kota Lama Banyumas tahun ini, saat penyelenggaraan Banyumas Ngibing 24 jam 2026 adalah waktu yang tepat karena bakal mendapatkan sekurangnya 8 keuntungan.

Keuntungan yang pertama, traveler bisa melihat rangkaian acara Banyumas Ngibing 24 Jam yang berlangsung pada hari Sabtu - Minggu, tanggal 2-3 Mei 2026 mulai pukul 06.00 hingga pukul 06.00 lagi di Pendopo Adipati Mrapat, Area Taman Sari, Area Kota Lama Banyumas dan ditambah Gebyar Kesenian Rakyat Ebeg Banyumas pada pukul 10.00 hingga 17.00 di Alun-alun Banyumas pada tanggal 3 Mei nya secara gratis atlias tidak dipungut tiket masuk.

Program dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 yang bisa traveler saksikan antara lain pertunjukan tari, pertunjukan menari 24 jam, pertunjukan musik tradisi dan modern, bazaar UMKM, show mural art 24 jam, dan pertunjukan Ebeg.

Keuntungan kedua, traveler bisa melihat dan bertemu dengan penggagas acara Banyumas Ngibing 24 Jam, Rianto yang tak lain seorang maesto Tari Lengger Banyumasan yang memang asli orang Banyumas namun kini menetap di Jepang.


Rianto yang lahir di Kaliori, Banyumas, 8 September 1981, mendalami tari tradisi sejak usia muda & dia dikenal lewat kepiawaiannya menarikan Lengger Lanang (penari laki-laki).

Namanya kian melangit selepas membintangi film layar lebar yang disutradarai Garin Nugroho berjudul Kucumbu Tubuh Indahku.

Amatan TravelPlus Indonesia, pemilk akun IG @rianto_rds ini konsisten memperjuangkan kembali tradisi Lengger Lanang, di mana penari pria berdandan dan menari layaknya perempuan.

Founder dari @riantodancestudio ini juga sering berkolaborasi dengan seniman internasional, membawa tari Lengger ke pentas global hingga namanya semakin mendunia.

Berikutnya atau keuntungan yang ketiga, traveler bisa city tour Kota Lama Banyumas mengunjungi beberapa bangunan tua berarsitektur tempo doeloe yang klasik.


Dilansir dari laman dinporabudpar.banyumaskab.go.id, Kota Lama Banyumas merupakan kawasan bersejarah yang dulu menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas sebelum akhirnya pindah ke Purwokerto.

Di sana, traveler bisa menjumpai bangunan-bangunan lawas bergaya Jawa, Tionghoa, dan kolonial yang masih terawat.

Beberapa tempat ikonik seperti Bale Adipati Mrapat (dulu Pendapa Duplikat Sipanji), Masjid Agung Nur Sulaiman, dan Klenteng Boen Tek Bio menjadi bukti perpaduan budaya yang unik.

Setelah direvitalisasi, jalanan di kawasan hetitage ini lebih rapi, lampunya lebih estetik, dan spot fotonya semakin banyak. Suasananya terasa santai tetapi tetap membawa nuansa klasik yang khas.

Sekarang, Kota Lama Banyumas semakin dikenal sebagai tujuan wisata budaya yang nyaman untuk dikunjungi bersama teman maupun keluarga.

Di sana juga ada Museum Wayang, kafe-kafe yang asyik buat nongkrong, hingga pusat UMKM yang menjual produk lokal.

Letak Kota Lama Banyumas pun mudah dijangkau, hanya sekitar 20 menit dari Purwokerto dengan transportasi umum atau ojek online.

Keuntungan yang keempat, traveler bisa merasakan menginap di hotel atau guest house/homestay bergaya vintage atau bernuansa heritage yang ada di Kota Lama Banyumas atau di sekitarnya.

Pilihannya antara lain Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, Omah Kranji (Guesthouse/Homestay), dan Hotel Besar Purwokerto.

Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, berada di jantung kawasan Kota Lama Banyumasa, tepatnya di Jl. Mruyung, Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, dekat dengan Alun-alun Banyumas.

Omah Kranji berada dengan Kota Lama. Sedangkan Hotel Besar Purwokerto berada di Jl. Jend. Sudirman No.732, Purwokerto Lor, sekitar 20 menit dari area Kota Lama Banyumas berkendara.

Keuntungan kelima, traveler bisa hangout di kedai kopi ataupun restoran bergaya vintage atau bernuansa heritage.

Pilihannya antara lain Kumala Coffee di Jl. Mruyung, Cafe dan Roti Mruyung di Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, Komsteer Coffee juga di Kota Lama Banyumas, dan Restoran di Hotel Besar Purwokertia yang bersuasana bangunan cagar budaya.

Selanjutnya atau keuntungan yang keenam, traveler bisa beli panganan khas Banyumas sebagai oleh-oleh di antaranya nopia dan mino, getuk horeng, enang jaket, keripik tempe, klanting (lanting), dan dages/tempe dage. Selain di pusat UMKM acara Banyumas Ngibing 24 Jam, bisa juga membelinya di pusat oleh-oleh yang ada di kawasan Sokaraja dan kota Purwokerto.

Kalau mau kulineran camilan untuk disantap di tempat, pilihannya ada tempe mendoan, kraca,.sroto Sokaraja, dan ciwel.

Keuntungan ketujuh, traveler bisa sekaligus merayakan atau menyemarakan Hari Tari Sedunia (World Dance Day) di Kota Lama Banyumas.


Berdasarkan siaran pers Banyumas Ngibing 24 Jam yang TravelPlus Indonesia terima dari Rianto, dijelaskan bahwa Banyumas Ngibing 24 Jam digelar Pemkab Banyumas dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia.

"Banyumas Ngibing kali ini mengusung tema "Beragam Kiwa yang Bebas Menyatu dalam Numi" atau Souls of Diverse, United on Freedom in The Earth. Yang mencerminkan harmoni kehidupan, dimana perbedaan individu, budaya, dan spiritualitas melebur menjadi satu kesatuan di atas tanah Ibu Pertiwi,' terang Rianto.

Lestari dan Promosi
Pagelaran 24 Jam Banyumas Ngibing hadir sebagai wadah untuk merayakan, mengenalkan, dan menghidupkan kembali tradisi Ngibing dalam skala besar. Selain itu event ini juga bertujuan untuk kembali melestarikan dan mempromosikan kesenian serta budaya Banyumas.

Terakhir atau keuntungan yang kedelapan, traveler akan mendapatkan lebih banyak materi untuk konten medsos seperti tulisan, video, foto, vlog, dan lainnya sehingga jumlah konten traveler bukan hanya bertambah banyak pun lebih variatif karena punya muatan budaya.

Dalam siaran pers terkait Banyumas Ngibing 24 Jam dijelaskan bahwa visi dari Banyumas Ngibing adalah memperkenalkan lmbali tradisi Ngibing (menari) kepada generasi muda agar mencintai dan menghargai identitas daerahnya dan menjadikan seni tradisional sebagai ruang kreasi yang dinamis, bukan sekadar pajangan masa lalu sehingga mengintegrasikan budaya dengan pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Adapun misinya menjadi wadah utama bagi seniman tradisional, khususnya tari Lengger Banyumasan, agar tetap relevan di mata generasi muda; menghubungkan pagelaran seni dengan sektor UMKM.

"Kehadiran ribuan penari dan penonton diharapkan mampu mendongkrak pendapatan pedagang lokal di sekitar lokasi acara," terang Rianto lagi.


Misi lainnya adalah mengenalkan identitas Banyumas ke kancah nasional dan internasional melalui kampanye digital dan kolaborasi lintas daerah.dan menjadikan menari sebagai ekspresi kegembiraan yang bisa diikuti oleh siapa saja, mulai dari pelajar, seniman profesional, hingga masyarakat umum.

Sebagai informasi tambahan peserta yang terlibat dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 adalah sejumlah sanggar di Kab. Banyumas, beberapa sanggar dari luar kota diantaranya Cilegon, Tangerang, Jakarta, Bekasi, Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Yogyakarta, Madura, dan kota-kota lainnya hingga berbagai mancanegara seperti Jerman, Jepang, Meksiko, Amerika Serikat, dan Malaysia.

Menurut Rianto, dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 juga akan ada pemberian penghargaan antara laim buat penari 24 jam, 3 pertunjukan terbaik, komunitas sanggar terjauh, penari tertua, penari termuda, anggota sanggar terbanyak, sanggar tertua, dan kepada para tim support.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Sumber: Laman dinporabudpar.banyumaskab.go.id dan siaran pers "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026".

Captions:
1. Rianto saat menari Tari Lengger Banyumasan. (foto: dok.rianto)
2. Rianto piawai menarikan tari Lengger Lanang. (foto: dok.rianto)
3. Salah satu bangunan tua di Kota Lama Banyumas. (foto: dok. dinporabudpar.banyumaskab.go.id)
4. Berfoto bersama usai konferensi pers
"Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026". (foto: dok.rianto)
5. Rianto penggagas Banyumas Ngibing 24 Jam. (foto: dok.rianto)




Read more...

Rabu, 22 April 2026

Enam Keuntungan Menyaksikan Langsung Seba Baduy 2026


Bila menyaksikan Seba Baduy 2026 yang digelar Pemkab Lebak pada 23-26 April secara langsung, TravelPlus Indonesia yakin traveler akan mendapatkan sejumlah keuntungan dibanding hanya menontonnya lewat unggahan konten video di ragam medsos maupun youtube.

Berdasarkan pengalaman TravelPlus Indonesia meliput langsung Seba Baduy beberapa kali, sekurangnya ada enam keuntungan yang bakal didapat traveler jika melihat langsung tradisi tahunan  masyarakat Baduy tersebut.

Keuntungan pertama, traveler bisa menyaksikan sekaligus merasakan betapa tangguhnya orang Baduy berjalan kaki tanpa alas kaki (sandal maupun sepatu) alias nyeker sambil membawa aneka hasil bumi mereka dari titik kumpul dan keberangkatan di Ciboleger (terminal sekaligus pintu masuk ke perkampungan Baduy yang berada di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten) menuju Rangkasbitung, Ibu kota Kabupaten Lebak, tepatnya di Pendopo Bupati Lebak.


Bila traveler berjiwa petualang, berfisik kuat, dan sudah terbiasa atau sering melakukan aktivitas berjalan kaki di luar ruang (outdoor), mungkin bisa saja mengikuti mereka berjalan kaki dari Ciboleger - Rangkasbitung sekaligus untuk mengabadikan mereka, dari tanggal 23-24 April. Tapi ingat jangan sampai mengganggu, karena mereka bukan sekadar berjalan kaki biasa melainkan tengah melakukan tradisi adat yang dipegang kuat sejak dulu.

Dari pengalaman menarik dan cukup menantang tersebut, saya yakin traveler akan sepakat/setuju kalau Baduy amat pantas menyandang predikat sebagai kelompok masyarakat adat (bukan suku) pejalan kaki tanpa alas kaki paling tangguh dan kompak di Indonesia bahkan mungkin dunia.

Cara lain, traveler bisa berjalan kaki dengan mereka hanya beberapa kilometer saja (disesuaikan dengan kemampuan fisik), kemudian disambung naik kendaraan pribadi/sewa (sepeda motor/mobil), mengikuti mereka dari belakang sampai Rangkasbitung. Namun tetap tertib.

Pilihan berikutnya dan ini yang paling santai (tidak terlalu menguras tenaga), traveler bisa menunggu kedatangan mereka mulai dari Jembatan Keong atau juga mulai dari Alun-alun Rangkasbitung dan mengabadikannya sampai menuju Pendopo Bupati Lebak di seberang alun-alun tersebut pada Jumat, 24 April siang sampai sore.


Babacakan Bareng
Keuntungan kedua, traveler bisa menyaksikan seru dan nikmatnya babacakan jeung urang Kanekes atau makan bersama dengan orang Baduy peserta Seba Baduy 2026 di Pendopo Bupati Lebak.

Amatan TravelPlus Indonesia, acara makan bersama beralas daun pisang tersebut boleh dibilang menjadi salah satu special moment dalam rangkaian perhelatan Seba Baduy.

Kenapa spesial? Karena babacakan yang digelar ba’da (lepas) salat magrib itu paling ditunggu-tunggu bukan hanya oleh ribuan warga Baduy usai berjalan kaki puluhan kilometer dari kampung-kampung asrinya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, sebelah Utara Kabupaten Lebak ke Rangkasbitung, pun oleh para pejabat, tamu undangan, wisatawan, dan tentu saja sejumlah awak media yang meliput upacara tahunan khas Baduy tersebut. Terlebih di momen tersebut diikuti orang nomor satu Lebak alias bupati Lebak.

Babacakan jeung urang Kanekes pada Seba Baduy 2026 akan berlangsung Jumat, 24 April sesudah magrib sampai selesai di halaman Pendopo Bupati Lebak.


Berikutnya atau keuntungan yang ketiga, traveler bisa melihat langsung orang Baduy baik itu orang Baduy Dalam atau biasa disebut
Tangtu, yang mengenakan pakaian putih-putih dan ikat kepala juga putih polos tak bermotif maupun orang Baduy Luar atau bisa disebut Panamping dengan ciri khas berpakaian serba hitam dengan ikat kepala warna biru dan hitam bermotif khas.

Setiap Seba Baduy, jumlah warga Panamping yang ikut biasanya lebih dominan dibanding Tangtu. Ini dikarenakan jumlah Panamping yang tinggal di sejumlah kampung di Desa Kanekes, tepatnya di bagian Barat, Timur, dan Utara dari wilayah Tangtu memang lebih banyak dibanding Tangtu yang hanya menetap di tiga kampung inti Tangtu yakni Cikeusik, Cibeo, dan Cikartawarna.

Faktor lainnya terkait jarak. Warga Tangtu tentu harus menempuh jarak yang lebih panjang dibanding masyarakat Panamping. Mereka harus naik turun lereng dan bukit-bukit Pegunungan Kendeng terlebih dulu atau sekitar 3-4 jam berjalan kaki menuju kampung Baduy Luar, baru kemudian bersama-sama Seba Baduy ke Rangkasbitung yang berjarak berkilo-kilo meter.

Bukan hanya melihat, traveler juga bisa mengabadikannya dari dekat bahkan mengobrol ringan.

Perlu diingat, tidak semua orang Baduy Dalam maupun Luar cakap berbahasa Indonesia. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa dan biasanya yang sering melakukan perjalanan niaga (berdagang) madu dan kerajinan khas Baduy di sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Rangkasbitung, dan daerah lainnya sehingga mereka mau tak mau sering mendengar dan atau berkomunikasi dengan orang luar dan akhirnya lama-lama bisa berbahasa Indonesia.

Satu lagi yang perlu diingat, orang Baduy umumnya pendiam alias tak banyak bicara dan bertingkah berlebihan saat makan, berjalan maupun berbicara dengan orang lain. Mereka tidak berbicara berlebihan apalagi bercanda. Mereka juga masyarakat adat yang berpenampilan bersahaja (sedehana), bisa dilihat dari cara berpakaian mereka yang simpel.

Semua itu bukanlah kekurangan tapi justru menjadi kelebihan mereka lantaran semakin membuat mereka nampak begitu spesial, unik, menarik, dan tentunya mengundang rasa keingintahuan banyak orang.


Keuntungan keempat, traveler bisa membeli aneka produk kerajinan, makanan, dan oleh-oleh khas Baduy baik yang dibawa oleh orang Baduy yang ikut Seba Baduy 2026 maupun di deretan stan di sekitaran Alun-alun Rangkasbitung.

Keuntungan kelima, traveler bisa memyaksikan pula bermacam kegiatan yang dibuat panitia Seba Baduy 2026 antara lain sarasehan budaya Baduy di panggung utama, pembukaan kemah budaya, perlombaan permainan tradisional, dan opening ceremony pada Kamis (23/4) mulai pagi sampai malam.

Bisa juga melihat acara pelepasan warga Baduy menuju Serang pada Sabtu, 25 April pukul 6 pagi di Alun-alun Rangkaslbitung dan sederet acara lainnya.

Untuk info detail rundown acara Seba Baduy 2026 dari Kamis s/d Minggu (23-26 April), bisa traveler lihat dari unggahan di akun Instagram (IG) resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak @disbudparlebak.

Terakhir atau keuntungan yang keenam, traveler bisa membuat bermacam konten seperti video, tulisan, foto maupun vlog terkait Seba Baduy hasil amatan langsung untuk ditayangkan di ragam medsos maupun youtube sehingga bisa bertambah koleksi konten budayanya sekaligus turut menggaungkan Seba Baduy secara lebih komplet.


Acara Budaya Unggulan
Seba Baduy bukan sekadar menjalankan kearifan lokal urang Kanekes tapi sekaligus sudah menjadi salah satu daya tarik wisata atau acara budaya unggulan bagi Kabupaten Lebak bahkan Provinsi Banten.

Kenapa TravelPlus Indonesia bisa bilang begitu? Karena Seba Baduy mampu menjaring sekaligus menambah kunjungan wisatawan ke Lebak maupun Banten, terutama wisatawan lokal (wislok) dan wisatawan nusantara (wisnus).

Berkat acara budaya tahunan ini, nama Baduy pun semakin mengangkasa dan akhirnya semakin banyak traveler dari luar Banten yang kepincut untuk bertandang langsung ke wilayah Baduy, baik Panamping maupun Tangtu.


Buktinya, terpantau setiap akhir pekan mulai dari Jumat dan Sabtu banyak travelers dalam small group (kelompok kecil terdiri atas 5-10 orang) maupun big group (kelompok besar/rombongan di atas belasan orang) yang menjadikan Stasiun Rangkasbitung sebagai tikum (titik kumpul) menuju Baduy Luar maupun Baduy Dalam.

Ayo ramai-ramai lihat langsung Seba Baduy 2026 di Rangkasbitung bareng TravelPlus Indonesia. Setelah itu masukkan Baduy sebagai destinasi wisata alam dan budaya Anda berikutnya🙏.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Orang Baduy atau urang Kanekes adalah komunitas masyarakat adat yang pantas menyandang predikat para pejalan kaki tanpa alas kaki paling tangguh dan kompak di Indonesia bahkan mungkin dunia.
2. Deretan kaki orang Baduy yang terbiasa jalan jauh tanpa alas kaki (nyeker) dan di depannya orang kota berdiri lengkap dengan sepatunya.
3-6: Seba Baduy yang pernah TravelPlus Indonesia liput beberapa kali.
7. Video sejumlah wisnus tengah berwisata dan bersantap di salah satu rumah orang Baduy Luar.



Read more...

Minggu, 19 April 2026

Sosok Prosper di Mata Perempuan pada Masa Keemasan Bertualang


Supaya lebih komplet, tulisan kedua gue masih tentang Prosper ini memuat pendapat/persepsi/tanggapanlpeniilaian beberapa perempuan mengenai sosok yang dalam tulisan pertama kemarin, gue sebut "Sang Petualang di Atas Rata-Rata dari TAPAL" .

Tentu saja perempuan-perempuan yang gue maksud di sini adalah perempuan-perempuan yang sewaktu masih kuliah pada era tahun 90-an bukan hanya berstatus mahasiswi pun anggota dari organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL di IISIP Jakarta, tempat mereka, Prosper, dan gue kuliah dulu.

Mereka yang gue kontak lewat WA ini, rata-rata mengenal baik Prosper dan sering juga mengikuti sederet aktivitas luar ruang (outdoor activities) bermuatan petualangan bersama Prosper, seperti mendaki gunung, susur pantai, jelajah hutan, dan lainnya.


Sekurangnya ada lima perempuan yang gue pilih untuk mengetahui pendapatnya masing-masing mengenai sosok Prosper yang mereka kenal semasa keemasan bertualang.

Kelima perempuan itu, terdiri atas empat perempuan yang pernah bertualang bareng Prosper, gue, dan lainnya ke Taman Nasional (TN) Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, Banten pada tahun 1992 selama sekitar sepekan, yaitu Irma, Santa, Anisti, dan Wina.

Satu perempuan lagi, meminta gue untuk tidak menyebut nama, status, dan tempat kuliahnya. Untuk keperluan tulisan ini, gue memakai nama samarannya "Jelita".


Irma adalah perempuan pertama yang gue minta tanggapannya lewat pesan WA, kemarin.

Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1985 ini, Prosper yang berdarah Batak dan pernah hilang di daerah pedalaman dayak, Kalimantan itu, orangnya low profile, bijaksana, sedikit bicara tapi banyak bekerja dalam setiap kegiatan petualangan.

"Bertualang dengan dia, gue berasa aman banget, nggak takut nyasar," ungkapnya.

Prosper juga sering menjadi penyemangat anggota TAPAL dan simpatisan untuk terus bertualang.

"Dia selalu memotivasi kita untuk terus bertualang seperti mengunjungi gunung yang belum pernah kita daki atau daerah/pulau yang belum pernah kita jelajahi,"  terang perempuan berdarah Aceh ini.

Dimata Irma, sosok Prosper adalah seorang petualang sejati yang tidak punya naluri takut. "Kalau lagi jelajah hutan yang jarang dijamah pendaki, dia berada paling depan membuka jalan dengan golok dan keberaniannya," tambahnya lagi.


Nggak Mau Bikin KTP
Di luar petualangan, ada satu hal yang paling diingat Irma tentang Prosper dan ini boleh dibilang aneh. "Dia (Prosper) nggak mau bikin KTP. Katanya kalau punya KTP dan dia mati nanti malah nyusahin orang," ungkap Irma.

Lain lagi dengan Santa. Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1990 berdarah Batak ini, Prosper sosok petualang yang memiliki keunikan tersendiri.

"Sebagai manusia biasa, tentu dia ada plus minus-nya. Namun bagi gue, Prosper itu merupakan guru petualangan di alam," ungkapnya singkat.

Anisti atau yang akrab disapa Ithink juga punya tanggapan tersendiri. Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1990 ini Prosper itu orang yang baik, tulus, dan mau berkorban apapun untuk teman-temannya.

"Dia petualang sejati dan sebenarnya punya cita cita yang tinggi," terangnya.

Begitupun dengan Wina yang biasa dipanggil Wince. Menurut anggota TAPAL juga kuliah di IISiP angkatan 1990 ini, Prosper itu baik walau 'batu: maksudnya cuek.

"Kayaknya dia tuh orang yang nggak ada susahnya. Enjoy terus," ungkapnya.

"Satu lagi, dia kayaknya kebal. Waktu di gunung, pacet aja males nempel ke badannya😂," beber Wina seraya tertawa.


Kalau lagi bertualang, Prosper itu sosok abang yang perhatian sama adik-adiknya. "Misalnya kalau gue lagi
ogah makan, dia yang ngingetin supaya isi perut biar nggak sakit. Mungkin karena gue kurus ya waktu itu hehehe," terang perempuan berdarah Minang ini.

Ketika gue tanya "Kalau Prosper masih ada, kira-kira TAPAL bakal masih "berdenyut" kayak dulu nggak ya?".  Jawab Wina bisa jadi.  "Asal ada regenerasi dan manajemen keorganisasiannya dibenahi," pungkasnya.

Perempuan kelima atau terakhir yang gue WA seperti tercantum di atas, gue kasih nama samarannya "Jelita".

Menurut Jelita, Prosper itu sosok petualang yang baik dan bertanggung jawab. "Dia kerap mengorbankan dirinya untuk keselamatan dan kenyamanan orang lain saat bertualang," akunya.

Secara fisik dan penampilan, Prosper itu memang kelihatan sangar. " Tapi dibalik itu, dia orangnya pemalu dan sangat romantis hehehe," ujarnya.

Berdasarkan pengakuan Jelita, Prosper pernah mengungkapkan rasanya kepada Jelita yang lebih dari sekadar abang. Tapi waktu itu Jelita tidak membalas/menerimanya, juga tidak pula menolaknya.

"Sebenarnya gue juga sayang sama dia tapi gue nggak yakin, salah satu penyebabnya karena terhalang perbedaan keyakinan," ungkap Jelita.


Surat Terakhir
Prosper juga pernah mengirm surat lewat kartu pos berwarna kuning ke rumah Jelita. Surat terakhir itu sampai di rumahnya sehari sebelum kejadian nahas yang merenggut nyawa Prosper di Lumajang, kaki Gunung Semeru tahun 1995.

Dalam surat itu, Prosper mengatakan sebenarnya dia ingin hidup bersama Jelita tapi karena sadar itu tidak mungkin tercapai, dia terpaksa pergi meninggalkan Jakarta untuk selamanya.

"Katanya dia mau tinggal di satu pulau tapi nggak menyebutkan nama pulaunya. Di ujung suratnya itu, Prosper pamitan dan menulis kata-kata "peluk sayang terakhir untuk gue"," terang Jelita.

Usai membaca surat itu, Jelita mengaku kaget, shock, dan bingung. "Gue sampe nangis sendirian di kamar," bebernya.

Menurut Jelita semua yang diutarakannya itu, selama ini dia simpan rapat-rapat dan hanya menjadi rahasia pribadi. "Dan baru kali ini gue ceritain semua sama elu," pungkasnya.


Mendapat isi WA yang panjang dan mendalam dari Jelita, jujur gue agak terkejut juga. Sejauh ini gue mengira Prosper cuma dekat dan terlihat intens mendekati Ithink. Dan teman-teman yang lain juga menduga hubungan Prosper dan Ithink waktu itu, lebih dari sebatas abang-adik alias pacaran.

Tapi sayang, kodrat atau takdir tidak bisa diubah. Prosper lebih dulu meninggalkan adik-adiknya, teman-teman dekatnya, dan orang yang dicintainya untuk selamanya, sebelum semua cita dan cintanya benar-benar terwujud.

Buat Prosper, terima kasih sudah menjadi rekan petualangan yang baik dengan begitu banyak kelebihannya dibanding kekurangannya. Damai dan bahagia selamanya di sana, di sisi-Nya 🤲.

Terima kasih pula untuk Irma, Santa, Ithink, Wina, dan "Jelita"  yang sudah berbagi cerita tentang sosok Prosper.


Saat ngobrol tentang sosok Prosper dengan lima perempuan tersebut, seketika gue terinspirasi bikin 2 lagu bertajuk "Tak Bisa Lupa"
dan "Romansa Lama".

Ini lirik lagu "Tak Bisa Lupa*:

🎶...  Bertukar cerita
Tentang sosok dia
Lewat pesan WA
Jadi lagu dan tulisan

Ternyata ada
Setangkup rasa
Tersimpan rapat
Kini terungkap

Mendaki gunung
Jelajah hutan
Sewaktu muda
Semasa gagah

Memori indah
Tak bisa lupa ... 🎶

Berikutnya lirik lagu "Romansa Lama":

🎶... Ada rasa diantara kisah
Ada cinta warnai cerita
Saat muda, leluasa dan gagah
Bertualang kemana-mana

Kini terkuak semua
Romansa lama tercipta
Selama ini tak diungkap
Disimpan rapat

Dia yang dulu mendekat
Bilang suka, ungkap cinta
Tak dibalas, tak ditolak
Pergi, tak pernah kembali ... 🎶.

Sehat-sehat terus ya semua, panjang usia, dan penuh kebermanfaatan🙏.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1-7 : Prosper saat bertualang: mendaki gunung, susur pantai, jelajah hutan, trekking ke air terjun, dan menyambangi pulau bersama anggota dan simpatisan Ompa TAPAL, serta ketika berada di Kampus Tercinta, IISIP - Jakarta. (foto-foto: dok.irma/tapal)

8. Anisti (Ithink), Santa, Irma, Wayank, gue (rompi biru), Gusur, Ubay, dan Wina (Wince) yang mengenal baik Prosper dan pernah bertualang bareng ke Ujung Kulon 1992, dll. (foto: dok.halbil tapal 2024)

Read more...

Sabtu, 18 April 2026

Seribu Kenangan dengan Prosper, Sang Petualang di Atas Rata-Rata dari TAPAL


"Baksos ke Lumajang kaki Semeru yuk. Sekalian bawa obat-obatan buat penduduk yang terkena dampak erupsi".

Itulah bunyi ajakan dari Prosper. Sebuah ajakan yang menarik dan punya muatan positif di pertengahan Februari 1995, dua pekan setelah mendaki Gunung Tanggamus bareng gue, Buche, dan Yosha yang kemudian gue sebut pendakian jalur empat sekawan.

Ketika itu Gunung Tanggamus masih masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel). Sekarang, tepatnya sejak 1997, gunung berketinggian 2.102 Mdpl tersebut masuk wilayah Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Jujur, mendapat ajakan itu dari seorang senior, gue amat senang. Sayangnya, waktunya kurang mendukung. Akhirnya dengan berat hati gue putuskan untuk tidak ikut dengan alasan yang masuk akal.

"Sebenarnya gue pengen banget ikut bang. Cuma gue kan lagi puasa Ramadan, udah gitu baru banget balik dari Gunung Tanggamus. Jadi kali ini, maaf banget gue ga bisa ikutan ya," balas gue.


Mendengar jawaban itu, Prosper terdiam sejenak dan terlihat ada raut kekecewaan.

Tak lama kemudian dia membalasnya. "Oiya lo puasa Ramadan ya. Ya udah gapapa. Tapi nanti klo ada baksos lagi di luar Ramadan lo ikut ya," kata Prosper.

"Siap bang. Oiya, coba ajak Yosha aja, dia kan non muslim ga puasa Ramadan. Kalo Buche puasa juga," balas gue. "Bener juga lo. Dimana tuh Apache?," tanya Prosper.

Yosha memang kadang dipanggil begitu karena rambutnya panjang lurus, bentuk hidung, dan karakter mukanya kayak lelaki Indian, suku atau kelompok masyarakat asli yang hidup nomaden di beberapa tempat di benua Amerika.

"Yosha, jarang nongkrong lama-lama di kampus. Langsung ke kos-annya aja bang," terang gue.

"Sekarang lo mau kemana?"  Tanya Prosper lagi. "Nggak kemana-mana bang. Paling nunggu magrib di teras lapangan basket. Sambil buat tulisan pendakian Gunung Tanggamus, jalur empat sekawan".

"Itulah yang gue salut dari lo. Makanya kenapa gue sering ngajak lo bertualang. Karena lo kuat dan pinter bikin tulisan. Dan foto-foto lo juga bagus. Udah berapa kali gue lihat tulisan dan foto lo masuk di koran dan tabloid," ungkap Prosper.

"Gue masih belajar nulis dan motret bang. Oiya, ntar pas pulang dari baksos gue mau nanya-nanya ya, siapa tau bisa jadi bahan tulisan," balas gue.

"Sip, seneng gue dengernya. Gue jadi semangat berangkat ke kaki Semeru. Ya udah gue ke kos-an Yosha," balas Prosper . "Sip bang. Salam buat si bontot ya".


Nah, kalau gue kadang manggil Yosha dengan sebutan bontot karena dari 4 rekan sekawan pendakian Gunung Tanggamus 1995 itu, Yosha yang usianya paling muda.

Firasat Ada Apa Ya?
Sewaktu Prosper menyeberang Jalan Raya Lenteng Agung 32, Jakarta Selatan tepat di depan Kampus Tercinta (sebutan lain dari Institut Ilmu Politik dan Ilmu Sosial atau IISIP,  tempat kami kuliah), gue sempat melihatnya sampai dia tidak tampak lagi.

Saat itu gue langsung sadar, dan hati ini sempat bilang sekaligus bertanya begini. "Tumben banget Prosper nanyanya banyak dan ngomongnya lumayan panjang. Biasanya, ga begitu. Ini firasat ada apa ya?".

Selama ini kalau bertualang dengan Prosper, dia cenderung pendiam, boleh dibilang pelit bicara. Dan gue juga begitu, tidak banyak ngomong karena sungkan (mengingat dia senior banget, di atas gue beberapa tahun).

Ternyata, itulah pertemuan sekaligus obrolan cukup panjang terakhir gue dengan Prosper, sang petualang di atas rata-rata sekaligus motor penggerak organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL yang ada di Kampus Tercinta.

Kenapa gue juluki Prosper itu sang petualang di atas rata-rata? Ya karena cara bertualangnya boleh dibilang beda dan agak 'gila'.

Setiap bertualang dengan dia, misalnya kalau melakukan pendakian gunung, tidak ada yang namanya durasi naik-turun dalam satu hari atau istilah sekarang tektok. Kalau mendaki gunung dengan dia minimal banget 2 malam nge-camp di hutan dengan cara nge-bivak.

Bila melakukan susur pantai dan jelajah hutan dengan dia, tidak cukup cuma 2 malam tiga hari tapi bisa sampai sepekan atau 7 hari.

"Ngapain bertualang kalau cuma sebentar, buang-buang ongkos aja dan nggak bakalan dapet pengalaman seru di alam," begitu alasannya ketika gue tanya kenapa senang bertualang lama-lama.

Saking lumayan sering berpetulang dengan Prosper, beberapa senior dan teman seangkatan gue sampai ada yang bilang gue sama Prosper kayak adik-abang. Sama-sama gila bertualang dan kalau jalan di alam, sama cepatnya.

Irma dan Santa, dua anggota TAPAL yang pernah ikut kegiatan jelajah TN Ujung Kulon yang dipimpin Prosper pada tahun 1992, sama-sama pernah bilang begini: "Waktu susur pantai, lo sama Prosper jalan terus, ga ada udelnya. Kita lihat lo berdua udah jauh banget. Keseeel, kita udah kecapean. Lo sama Prosper masih terus jalan".


Awal Kenal
Ini agak panjang ceritanya. Sewaktu masih SMA, kebetulan gue sudah suka kegiatan pencinta alam dan tergabung dalam organisasi siswa pencinta alam (sispala).

Lulus SMA gue coba ikut tes UMPTN dengan memilih Universitas Indonesia (UI) Depok. Alasan memilih UI ketika itu biar nanti bisa ikut Mapala UI dan bertemu dengan Norman Edwin, idola pegiat outdoor gue saat itu.

Kenapa saat itu gue mengidolakan Norman Edwin? Karena anggota Mapala UI itu juga seorang wartawan yang aktif dalam berbagai ekspedisi penting Mapala UI di tahun 1980-1990an. Sayangnya dia wafat saat mendaki Gunung Aconcagua, Argentina pada 1992.

Saking mengidolakannya, gue sampai beli buku karyanya yang berjudul: 'Catatan Sahabat Sang Alam", yang berisi perjalanan sang jurnalis petualang ini.

Apesnya gue gagal, tak lulus UMPTN. Mimpi bisa masuk Mapala UI dan bertemu dengan Norman Edwin, kandas.

Kegagalan itu membuahkan kekecewaan dan hampir gue memutuskan untuk tidak kuliah.

Untunglah gue lekas sadar bahwa kuliah itu penting, lebih penting daripada mendaki gunung. Selanjutnya gue cari beberapa kampus swasta namun biayanya tak terjangkau. Akhirnya memilih IISIP, karena selain biayanya terjangkau, ada satu jurusan yang gue tertarik waktu itu yakni Jurnalistik (kewartawanan).

Pemicu lainnya, di kampus itu juga ada sobat gue Rizal teman satu organisasi sispala di SMA ternyata Rizal di Kampus Tercinta ikut Ompa Tapal. Dia kenal Prosper dan beberapa kali mengajak Prosper latihan panjat tebing untuk anggota-anggota baru Sispala, dari situlah gue kenal Prosper.

Setelah jadi mahasiswa IISIP angkatan 91 (seharusnya angkatan 90). Beberapa senior mencoba mengajak gue untuk masuk organisasi. Tapi gue tidak tertarik karena masih fokus jadi pengajar di sispala SMA dan naik gunung dengan teman-teman seangkatan. Bahkan gue sempat bikin komunitas pegiat outdoor bernama Phinisi OAC, khusus teman-teman seangkatan yang suka kegiatan luar ruang bermuatan petualangan.

Untuk membedakan dengan organisasi lain, gue bikin konsep sendiri yakni tidak pakai pelantikan, penggonjlokan seperti kebanyakan Mapala lain. Buat yang ingin ikut, cukup melakukan perjalanan atau pendakian lalu membuat tulisan atau foto-foto sesuai minatnya.

Selain dengan Phinisi, gue juga mulai akrab dengan beberapa anggota Tapal, seperti Irma, Santa, Ithink, Wina, Ubay, Gusur, dan lainnya termasuk dengan Prosper.

Motor Penggerak
Lalu kenapa gue menyebut Prosper itu motor penggerak Ompa TAPAL saat itu? Ya karena dialah yang sering mengadakan kegiatan petualangan dengan mengajak anggota-anggota TAPAL di bawahnya maupun simpatisan. Dengan kata lain, saat itu sepak terjangnya tak bisa dipungkiri membuat roda kegiatan TAPAL jadi terus bergerak (lebih hidup).

Beberapa kali Prosper mengajak gue bertualang menjelajahi Ujung Kulon, susur pantai dan hutan dari Tampang ke Belimbing, termasuk pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995. Sebaliknya, gue juga pernah mengajaknya latihan panjat tebing di Gunung Munara dan mendaki Gunung Salak.

Lantaran kebanyakan petualangan dilakukan pada era manual/analog/konvensional maka dokumentasi sederet petualangan itu terbatas, hanya berupa foto-foto dari kamera analog yang menggunakan kamera film isi 24/36.

Saking minimnya dokumentasi foto-foto bertualang bareng Prosper buat pelengkap tulisan ini, gue sempat kirim pesan WA ke rekan-rekan lama: Irma, Santa, Wina, dan Ithink yang pernah ikut jelajah Ujung Kulon 1992 bareng Prosper. Gue minta dikirim dokumentasi foto-foto bergambar Prosper yang agak jelas/besar.

Alhamdulillah, keempatnya membalas dan mengaku masih punya dokumentasi foto-foto bertualang dengan Prosper dan akan segera mengirimkannya. Foto-foto tersebut nanti akan gue masukkan pula ke dalam tulisan ini, biar lebih komplet.


Pendakian Terakhir
Pertemuan dan obrolan dengan Prosper sebagaimana tersebut di atas, ternyata benar-benar menjadi pertemuan sekaligus obrolan terakhir. Dengan kata lain, pendakian empat sekawan ke Gunung Tanggamus tahun 1995 itu juga menjadi pendakian terakhir gue bersama Prosper.

Kenapa? Karena beberapa hari setelah Prosper dan Yosha mengadakan baksos ke Lumajang, gue mendengar kabar Prosper meninggal dunia terseret banjir lahar dingin di kaki Gunung Semeru tersebut.

Awalnya gue tidak percaya dengan kabar itu dan merasa yakin mayat yang ditemukan warga di aliran sungai itu bukanlah mayat Prosper. Kenapa? Karena gue tahu banget Prosper termasuk petualang yang mampu mengatasi hal-hal yang membahayakan nyawa meski terkadang nekadnya kerap berlebihan.

Tapi setelah mendengat kabar langsung dari Yosha, percaya tidak percaya akhirnya gue harus percaya bahwa Prosper sudah tiada.

Saat itu gue sama sekali tidak menyalahkan/menyudutkan Yosha dan bertanya kenapa sampai tidak melarang atau mencegah Prosper melompat dari satu ke batu lain saat lahar dingin menerjang.

Pertama, karena gue maklum dengan kondisi Yosha. Pasti dia sungkan/segan banget, mengingat Prosper seniornya. Gue sendiri yang sudah lebih dulu kenal Prosper saja masih kerap sungkan.

Kedua, karena rasanya tidak mungkin melarang Prosper yang punya keberanian dan nekadnya luar biasa. Akhirnya sampailah kejadian duka itu.


Mengingat Prosper waktu itu juga sudah bekerja sebagai freelance reporter dan namanya lumayan dikenal banyak orang/pihak, membuat kabar kematiannya diberitakan di beberapa koran. Gue pun sempat meng-kliping dua berita kabar duka tersebut. Dan sampai sekarang masih tersimpan dengan baik.

Beberapa tahun sejak kepergian Prosper, jujur gue merasa kehilangan sosok pendaki gunung, pencinta alam sekaligus abang yang jiwa petualangannya di atas rata-rata.

Teman Sepetualangan
Sejak kematian Prosper, gue sempat mencari-cari teman sepetualangan yang sefrekuensi dan punya jiwa petualangan yang lebih. Tapi tidak ada satupun. Akhirnya gue sadar, tak ada orang yang berjiwa petualang seperti Prosper karena memang sejatinya setiap orang itu punya jiwa petualangan dengan kadar dan karakter yang berbeda.

Karena tak lagi memiliki rekan sepetualangan sejati, termasuk dengan Yosha yang meninggal beberapa tahun kemudian dan Buche (tidak pernah bertemu lagi karena lost contact), akhirnya gue kerap mendaki gunung sendiri (solo hiking).

Sederet gunung yang pernah gue daki sendirian antara lain Gunung Salak, Gede, Ceremai, dan Merapi. Begitupun saat menjelajah TN Kelimutu, TN Komodo, dan lainnya, juga sendirian.

Setelah lulus kuliah dan bekerja sebagai wartawan sampai menjadi pemimpin redaksi di majalah khusus pariwisata dan kebudayaan, dan kini mengelola website TravelPlus Indonesia ini, gue masih tetap suka melakukan solo traveling dan solo adventuring sampai sekarang.


Mata Berkaca-kaca
Saat mendaki Gunung Tanggamus lagi, baru-baru ini tepatnya jelang akhir Maret 2026 via Pekon (Desa) Sidokaton, Kec. Gisting, bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kab. Tanggamus, seribu kenangan petualangan dengan Prosper termasuk saat mendaki bareng Gunung Tanggamus pada 1995 atau 31 tahun lalu, kembali menari-nari di benak.

Sewaktu melintasi hutan lumut, sebelum summit attack Gunung Tanggamus, kenangan pendakian silam itu membuat gue sempat terdiam beberapa menit dan seketika mata berkaca-kaca.

Ketika itulah tercipta lirik lagu berjudul: "Lagu Buat Prosper dan Yosha (Andai)". Begini liriknya:

🎶... Andai Tuhan panjangkan umurnya
Masih sehat jiwa raga
Andai dia ada di dunia ini
Dan masih aktif mendaki

Akan ku ulangi mendaki Gunung Tanggamus lagi
Berempat seperti lalu
Walau tak lagi setangguh dulu

Andai Tuhan panjangkan umurnya
Bertualang kembali
Bersama-sama lagi ..🎶.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Foto bareng sejumlah anggota Ompa TAPAL dan simpatisan yang mengikuti kegiatan jelajah Ujung Kulon 1992, dimana Prosper sebagai leader-nya. (Foto: dok. Irma/Tapal)
2. Dua kliping di surat kabar yang berbeda tentang berita kematian Prosper di Lumajang, kaki Gunung Semeru, Jatim.
3. Triangulasi puncak Gunung Tanggamus yang berketinggian 2.102 Mdpl.
4. Inilah Gunung Tanggamus di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung yang pernah gue daki pertama kali tahun 1995 bareng Prosper, Buche, dan Yosha. Lalu 31 tahun kemudian mendaki lagi untuk kali kedua pada 2026.
5. Gue di puncak Gunung Tanggamus pada Sabtu (28/3/2026). Pendakian kali kedua ini merupakan hasil sinergi antara gue dari media/website TravelPlus Indonesia dengan dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus.
6. Video dua kliping berita kematian Prosper.
7. Saat melintasi hutan lumut Gunung Tanggamus.

Cat. : Nanti kalau sudah ada foto-foto terkait Prosper, kiriman dari Irma, Santa, Wina, dan Ithink yang sama-sama pernah ikut jelajah Ujung Kulon bareng Prosper tahun 1992, akan saya masukkan ke dalam tulisan ini 🙏.

Inilah seribu kenangan dengan Prosper versi gue. Sebenarnya belum semua gue tuang dalam tulisan ini, karena bakal terlalu panjang.

Dan gue yakin setiap orang yang mengenal baik Prosper, terlebih yang pernah bertualang bareng dengannya, pasti memiliki kenangan, persepsi, dan penilaian tersendiri tentang sosok yang gue sebut sang petualang di atas rata-rata dari TAPAL ini.

Semoga Sang Maha Cinta, memberi tempat terbaik buat Prosper dan Yosha di alam keabadian, Aamiin YRA 🤲.

***




Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP