Berwisata Edukasi Berbasis Budaya dan Wayang di Sanggar Wayang Ajen, Manfaatnya Tidak Dangkal
Di tengah hiruk-pikuk modernitas kota seperti Kota Bekasi, penghuni dan pengunjungnya tidak hanya membutuhkan hiburan. Sejatinya mereka juga membutuhkan arah dan makna. Dan di situlah seni budaya dan Sanggar Wayang Ajen hadir bukan sekadar tontonan, tetapi tatanan dan tuntunan.
Sanggar seni yang dibina oleh Wawan Gunawan atau Ki Dalang Wawan Ajen tersebut, bukan hanya menjadi ruang latihan seni pun ruang laku budaya. Tempat nilai ditanam, karakter dibangun, dan peradaban kecil dirawat.
Semua itu berpijak pada satu fondasi: Spirit Sapta Ajen yang Ki Dalang Wawan Ajen ciptakan yaitu tujuh nilai utama: spiritual, budaya, kreatif, ekonomi, informasi, komitmen, dan keberlanjutan.
Nah, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 tanggal 2 Mei ini, TravelPlus Indonesia menyajikan tulisan spesial terkait dengan wisata pendidikan atau lebih sering disebut wisata edukasi, yaitu wisata yang memadukan kegiatan rekreasi dan pembelajaran yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung, memperluas wawasan, dan meningkatkan kreativitas wisatawan.
Jadi wisata edukasi atau juga disebut eduwisata (pendidikan dan wisata), edutrip (educational trip), field trip/studi wisata (kunjungan edukasi di luar kelas), dan atau edu tour (educational tour) ini lebih dari sekadar liburan/wisata/rekreasi, karena berfokus pada nilai pendidikan antara lain budaya, sejarah, sains, pertanian, dan atau lingkungan.
Mengingat wisata edukasi juga banyak macamnya, khusus edisi ini Travelplus Indonesia fokus kepada wisata edukasi berbasis budaya dan wayang.
Sebagai nara sumber tunggal untuk tulisan ini, TravelPlus Indonesia memilih Wawan Gunawan. Kenapa? Selain seorang dalang sebagainana tersebut di atas yang mempunyai sederet prestasi dan pengalaman tampil bersama Sanggar Wayang Ajen di mancanegara, dia juga seorang pengajar yakni Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung.
Lalu apa itu wisata edukasi berbasis budaya? Menurut Wawan Gunawan adalah perjalanan yang tidak hanya memindahkan tubuh tetapi juga menggerakkan kesadaran. "Ia (wisata edukasi satu ini) memberi pengalaman belajar langsung tentang nilai, tradisi, dan identitas.
Sementara wisata edukasi berbasis wayang, lanjutnya, adalah bentuk yang lebih spesifik. "Dimana wayang tidak hanya ditonton, tetapi dipelajari, dirasakan, dan dijalani," terangnya.
Kata Wawan Gunawan yang pernah bertugas di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan ini, di Sanggar Wayang Ajen, wayang tidak berhenti sebagai seni pertunjukan. "Ia menjadi media pendidikan karakter, ruang kontemplasi nilai kehidupan, dan sarana memahami filosofi Nusantara," jelasnya.
Wayang itu mengajarkan tentang hidup. "Tentang benar dan salah, tentang dharma, tentang tanggung jawab manusia kepada Tuhan, sesama, dan alam," bebernya.
Tidak Hanya Pendalangan
Wawan Gunawan menerangkan di Sanggar Wayang Ajen, pembelajarannya bersifat vokasional, holistik, dan integratif.
"Tidak hanya pedalangan, tetapi mencakup seni pedalangan mulai dari teknik sabet, catur, suluk; dramaturgi lakon wayang; juga filosofi tokoh seperti Bima, Gatotkaca, Arjuna, dan Semar," ungkapnya.
Traveler atau wisatawan peminat seni budaya termasuk wayang juga bisa belajar seni tari tradisi dan kreasi, khususnya tari klasik Sunda dan Nusantara serta tari kontemporer berbasis tradisi.
Masih ada lagi yakni fashion dan kostum budaya baik itu oerancangan kostum pertunjukan maupun fashion show berbasis etnik.
Pengunjung juga bisa belajar kriya kayu yakni pembuatan wayang baik itu ukir, tatah, sungging serta filosofi bentuk dan warna. Sedangkan pembelajarab tentang kriya kaib mencakup pembuatan kostum, motif, dan simbol budaya.
Satu lagi belajar tentang literasi budaya dan digital, baik itu storytelling budaya maupun konten kreatif digital. "Semua ini bukan sekadar keterampilan. Ini adalah transfer nilai," ungkap Wawan Gunawan.
Manfaatnya Tidak Dangkal
Manfaat berwisata edukasi berbasis budaya dan wayang di Sanggar Wayang Ajen tidaklah dangkal. "Manfaatnya menyentuh tiga lapisan yaitu personal, sosial, dan ekonomi," tegas Wawan Gunawan.
Personal itu lanjutnya membentuk budi pekerti luhur, menanamkan nilai spiritualitas dan kesadaran diri. Adapun sosial: menguatkan identitas budaya dan menumbuhkan toleransi multikultur. Sedangkan manfaat ekonominya adalah membuka peluang profesi di ekonomi kreatif dan melahirkan pelaku seni dan wirausaha budaya.
Ketika disinggung perkembangan wisata edukasi budaya & wayang di Indonesia, secara jujur dan kritis, Wawan Gunawan melihat potensinya besar, tetapi belum tergarap secara maksimal.
Menurutnya Indonesia kaya, tetapi sering lupa cara mengelola kekayaannya sendiri. "Wayang telah diakui dunia sebagai UNESCO heritage. Tetapi di dalam negeri, masih dianggap sesuatu yang biasa bahkan kuno. Hanya sebatas seremonial semata," ungkapnya.
Ditambah lagi tidak ada sistem yang berkelanjutan. "Secara ekosisten seni pedalangan dan pewayangan masih dimasing-masing sanggar, ada yang aktif ada yang pasif bahkan stag," tambahnya.
Selain itu, belum terintegrasi dalam sistem pendidikan modern dan minim inovasi kemasan wisata. "Padahal generasi muda justru sedang mencari identitas," bebernya.
Semua itu justru menjadi tantangan. "Bagaimana nilai kearifan lokal dan tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi dihidupkan kembali secara relevan supaya berdampak kemanfaatan dan punya nilai tambah kesejahteraan," terangnya lagi.
Setiap jenis wisata pasti ada pangsa pasarnya (peminatnya). Begitupun dengan wisata edukasi berbasis budaya dan wayang ini.
Menurut Wawan Gunawan, pangsa pasar terbesarnya adalah generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alfa terutama di wilayah urban seperti Jakarta dan Kota Bekasi.
"Mereka bukan tidak suka budaya. Mereka hanya belum menemukan bentuk yang sesuai dengan zaman mereka. Mereka ingin: pengalaman (experience), interaksi (engagement), makna (meaning). Dan wayang bisa menjawab itu, jika dikemas dengan tepat," ungkapnya.
Lewat wisata edukasi berbasis budaya dan wayang ini, Wawan Gunawan sangat optimistis nampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. Tenrunya dengan beragam strategi promosi yang tepat antara lain dengan go digital yang produktif dan agresif.
"Hari ini panggung tidak hanya di panggung. Panggung ada di genggaman. Strateginya ya lewat konten kreatif di TikTok, Instagram, dan YouTube," imbau Wawan Gunawan.
Selain itu digital storytelling wayang, live performance streaming, dan kolaborasi dengan kreator muda. "Intinya bukan sekadar promosi tetapi membangun narasi budaya digital," jelasnya.
Amatan Wawan Gunawan selama ini, peran pemerintah untuk jenis wisata edukasi berbasis budaya dan wayang ini harus diakui belum maksimal.
"Masih ada fragmentasi kebijakan, keterbatasan anggaran, kurangnya keberpihakan pada komunitas akar rumput. Padahal amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan jelas: Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan," bebernya.
Sanggar seperti Wayang Ajen, lanjutnya sudah menjalankan itu. "Tinggal bagaimana negara hadir lebih kuat," imbaunya.
Harapannya sederhana tetapi mendasar yakni harus ada komitmen nyata, bukan hanya wacana tetapi keberpihakan kebijakan. Selain itu harus ada dukungan Infrastruktur ruang kreatif, panggung budaya, dan fasilitas pelatihan.
Perlu juga adanya program berkelanjutan seperti festival budaya rutin, integrasi dengan pariwisata, dan kurikulum berbasis budaya. "Satu lagi, pendanaan yang konsisten karena budaya tidak bisa hidup dari semangat saja," pungkasnya.
Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Foto2: dok. wawan gunawan/sanggar wayang ajen
Captions:
1. Anak-anak Indonesia berwisata edukasi berbasis budaya dan wayang di Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi.
2. Di dalam Sanggar Wayang Ajen.
3. Wawan Gunawan atau Ki Dalang Wayang Ajen pendiri dan pemilik Sanggar Wayang Ajen.
4. Tak semata belajar pendalangan.
5. Seni tari tradisional pun diajarkan.
6. Belajar jadi dalang sejak dini.
7. Anak-anak antusias belajar budaya san wayang di Sanggar Wayang Ajen.
8. Rombongan wisatawan berkunjung ke Sanggar Wayang Ajen.
9. Para penari Sanggar Wayang Ajen usai tampil.
10. Generasi muda bertemu dan berbincang dengan Ki Dalang Wayang Ajen.
11. Wawan Gunawan dengan salah satu wayang golek jumbo (raksasanya).
12. Serius belajar menjadi dalang di Sanggar Wayang Ajen.
13. Berwisata edukasi berbasis budaya dan wayang di Sanggar Wayang Ajen banyak manfaatnya. (foto paling bawah).
Buat traveler atau wisatawan peminat wisata edukasi budaya dan wayang yang ingin berkunjung ke Sanggar Wayang Ajen, ini alamatnya di Jalan Kusuma Barat VI. Cc 3 No. 11, Rt 3 Rw. 18, Komplek Wisma Jaya Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ada baiknya buat janji terlebih dahulu dengan menghubungi Dini Gunawan di No HP/WA 081218215852.
Kalau traveler datang menggunakan transportasi umum kereta rel listrik (KRL) commuter line, turunnya di Stasiun Bekasi Timur lanjut naik moda transportasi online.
Bila ingin jumpa langsung dengan Wawan Gunawan selaku pendiri sekaligus pemilik Sanggar Wayang Ajen, sebaiknya datang di akhir pekan (Sabtu dan Minggu), karena di hari kerja (week day), Ki Dalang Wayang Ajen ini mengajar di NHI Bandung.
***
Read more...











.jpg)

.jpg)














