. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Sabtu, 18 April 2026

Seribu Kenangan dengan Prosper, Sang Petualang di Atas Rata-Rata dari TAPAL


"Baksos ke Lumajang kaki Semeru yuk. Sekalian bawa obat-obatan buat penduduk yang terkena dampak erupsi".

Itulah bunyi ajakan dari Prosper. Sebuah ajakan yang menarik dan punya muatan positif di pertengahan Februari 1995, dua pekan setelah mendaki Gunung Tanggamus bareng gue, Buche, dan Yosha yang kemudian gue sebut pendakian jalur empat sekawan.

Ketika itu Gunung Tanggamus masih masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel). Sekarang, tepatnya sejak 1997, gunung berketinggian 2.102 Mdpl tersebut masuk wilayah Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Jujur, mendapat ajakan itu dari seorang senior, gue amat senang. Sayangnya, waktunya kurang mendukung. Akhirnya dengan berat hati gue putuskan untuk tidak ikut dengan alasan yang masuk akal.

"Sebenarnya gue pengen banget ikut bang. Cuma gue kan lagi puasa Ramadan, udah gitu baru banget balik dari Gunung Tanggamus. Jadi kali ini, maaf banget gue ga bisa ikutan ya," balas gue.


Mendengar jawaban itu, Prosper terdiam sejenak dan terlihat ada raut kekecewaan.

Tak lama kemudian dia membalasnya. "Oiya lo puasa Ramadan ya. Ya udah gapapa. Tapi nanti klo ada baksos lagi di luar Ramadan lo ikut ya," kata Prosper.

"Siap bang. Oiya, coba ajak Yosha aja, dia kan non muslim ga puasa Ramadan. Kalo Buche puasa juga," balas gue. "Bener juga lo. Dimana tuh Apache?," tanya Prosper.

Yosha memang kadang dipanggil begitu karena rambutnya panjang lurus, bentuk hidung, dan karakter mukanya kayak lelaki Indian, suku atau kelompok masyarakat asli yang hidup nomaden di beberapa tempat di benua Amerika.

"Yosha, jarang nongkrong lama-lama di kampus. Langsung ke kos-annya aja bang," terang gue.

"Sekarang lo mau kemana?"  Tanya Prosper lagi. "Nggak kemana-mana bang. Paling nunggu magrib di teras lapangan basket. Sambil buat tulisan pendakian Gunung Tanggamus, jalur empat sekawan".

"Itulah yang gue salut dari lo. Makanya kenapa gue sering ngajak lo bertualang. Karena lo kuat dan pinter bikin tulisan. Dan foto-foto lo juga bagus. Udah berapa kali gue lihat tulisan dan foto lo masuk di koran dan tabloid," ungkap Prosper.

"Gue masih belajar nulis dan motret bang. Oiya, ntar pas pulang dari baksos gue mau nanya-nanya ya, siapa tau bisa jadi bahan tulisan," balas gue.

"Sip, seneng gue dengernya. Gue jadi semangat berangkat ke kaki Semeru. Ya udah gue ke kos-an Yosha," balas Prosper . "Sip bang. Salam buat si bontot ya".


Nah, kalau gue kadang manggil Yosha dengan sebutan bontot karena dari 4 rekan sekawan pendakian Gunung Tanggamus 1995 itu, Yosha yang usianya paling muda.

Firasat Ada Apa Ya?
Sewaktu Prosper menyeberang Jalan Raya Lenteng Agung 32, Jakarta Selatan tepat di depan Kampus Tercinta (sebutan lain dari Institut Ilmu Politik dan Ilmu Sosial atau IISIP,  tempat kami kuliah), gue sempat melihatnya sampai dia tidak tampak lagi.

Saat itu gue langsung sadar, dan hati ini sempat bilang sekaligus bertanya begini. "Tumben banget Prosper nanyanya banyak dan ngomongnya lumayan panjang. Biasanya, ga begitu. Ini firasat ada apa ya?".

Selama ini kalau bertualang dengan Prosper, dia cenderung pendiam, boleh dibilang pelit bicara. Dan gue juga begitu, tidak banyak ngomong karena sungkan (mengingat dia senior banget, di atas gue beberapa tahun).

Ternyata, itulah pertemuan sekaligus obrolan cukup panjang terakhir gue dengan Prosper, sang petualang di atas rata-rata sekaligus motor penggerak organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL yang ada di Kampus Tercinta.

Kenapa gue juluki Prosper itu sang petualang di atas rata-rata? Ya karena cara bertualangnya boleh dibilang beda dan agak 'gila'.

Setiap bertualang dengan dia, misalnya kalau melakukan pendakian gunung, tidak ada yang namanya durasi naik-turun dalam satu hari atau istilah sekarang tektok. Kalau mendaki gunung dengan dia minimal banget 2 malam nge-camp di hutan dengan cara nge-bivak.

Bila melakukan susur pantai dan jelajah hutan dengan dia, tidak cukup cuma 2 malam tiga hari tapi bisa sampai sepekan atau 7 hari.

"Ngapain bertualang kalau cuma sebentar, buang-buang ongkos aja dan nggak bakalan dapet pengalaman seru di alam," begitu alasannya ketika gue tanya kenapa senang bertualang lama-lama.

Saking lumayan sering berpetulang dengan Prosper, beberapa senior dan teman seangkatan gue sampai ada yang bilang gue sama Prosper kayak adik-abang. Sama-sama gila bertualang dan kalau jalan di alam, sama cepatnya.

Irma dan Santa, dua anggota TAPAL yang pernah ikut kegiatan jelajah TN Ujung Kulon yang dipimpin Prosper pada tahun 1992, sama-sama pernah bilang begini: "Waktu susur pantai, lo sama Prosper jalan terus, ga ada udelnya. Kita lihat lo berdua udah jauh banget. Keseeel, kita udah kecapean. Lo sama Prosper masih terus jalan".


Awal Kenal
Ini agak panjang ceritanya. Sewaktu masih SMA, kebetulan gue sudah suka kegiatan pencinta alam dan tergabung dalam organisasi siswa pencinta alam (sispala).

Lulus SMA gue coba ikut tes UMPTN dengan memilih Universitas Indonesia (UI) Depok. Alasan memilih UI ketika itu biar nanti bisa ikut Mapala UI dan bertemu dengan Norman Edwin, idola pegiat outdoor gue saat itu.

Kenapa saat itu gue mengidolakan Norman Edwin? Karena anggota Mapala UI itu juga seorang wartawan yang aktif dalam berbagai ekspedisi penting Mapala UI di tahun 1980-1990an. Sayangnya dia wafat saat mendaki Gunung Aconcagua, Argentina pada 1992.

Saking mengidolakannya, gue sampai beli buku karyanya yang berjudul: 'Catatan Sahabat Sang Alam", yang berisi perjalanan sang jurnalis petualang ini.

Apesnya gue gagal, tak lulus UMPTN. Mimpi bisa masuk Mapala UI dan bertemu dengan Norman Edwin, kandas.

Kegagalan itu membuahkan kekecewaan dan hampir gue memutuskan untuk tidak kuliah.

Untunglah gue lekas sadar bahwa kuliah itu penting, lebih penting daripada mendaki gunung. Selanjutnya gue cari beberapa kampus swasta namun biayanya tak terjangkau. Akhirnya memilih IISIP, karena selain biayanya terjangkau, ada satu jurusan yang gue tertarik waktu itu yakni Jurnalistik (kewartawanan).

Pemicu lainnya, di kampus itu juga ada sobat gue Rizal teman satu organisasi sispala di SMA ternyata Rizal di Kampus Tercinta ikut Ompa Tapal. Dia kenal Prosper dan beberapa kali mengajak Prosper latihan panjat tebing untuk anggota-anggota baru Sispala, dari situlah gue kenal Prosper.

Setelah jadi mahasiswa IISIP angkatan 91 (seharusnya angkatan 90). Beberapa senior mencoba mengajak gue untuk masuk organisasi. Tapi gue tidak tertarik karena masih fokus jadi pengajar di sispala SMA dan naik gunung dengan teman-teman seangkatan. Bahkan gue sempat bikin komunitas pegiat outdoor bernama Phinisi OAC, khusus teman-teman seangkatan yang suka kegiatan luar ruang bermuatan petualangan.

Untuk membedakan dengan organisasi lain, gue bikin konsep sendiri yakni tidak pakai pelantikan, penggonjlokan seperti kebanyakan Mapala lain. Buat yang ingin ikut, cukup melakukan perjalanan atau pendakian lalu membuat tulisan atau foto-foto sesuai minatnya.

Selain dengan Phinisi, gue juga mulai akrab dengan beberapa anggota Tapal, seperti Irma, Santa, Ithink, Wina, Ubay, Gusur, dan lainnya termasuk dengan Prosper.

Motor Penggerak
Lalu kenapa gue menyebut Prosper itu motor penggerak Ompa TAPAL saat itu? Ya karena dialah yang sering mengadakan kegiatan petualangan dengan mengajak anggota-anggota TAPAL di bawahnya maupun simpatisan. Dengan kata lain, saat itu sepak terjangnya tak bisa dipungkiri membuat roda kegiatan TAPAL jadi terus bergerak (lebih hidup).

Beberapa kali Prosper mengajak gue bertualang menjelajahi Ujung Kulon, susur pantai dan hutan dari Tampang ke Belimbing, termasuk pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995. Sebaliknya, gue juga pernah mengajaknya latihan panjat tebing di Gunung Munara dan mendaki Gunung Salak.

Lantaran kebanyakan petualangan dilakukan pada era manual/analog/konvensional maka dokumentasi sederet petualangan itu terbatas, hanya berupa foto-foto dari kamera analog yang menggunakan kamera film isi 24/36.

Saking minimnya dokumentasi foto-foto bertualang bareng Prosper buat pelengkap tulisan ini, gue sempat kirim pesan WA ke rekan-rekan lama: Irma, Santa, Wina, dan Ithink yang pernah ikut jelajah Ujung Kulon 1992 bareng Prosper. Gue minta dikirim dokumentasi foto-foto bergambar Prosper yang agak jelas/besar.

Alhamdulillah, keempatnya membalas dan mengaku masih punya dokumentasi foto-foto bertualang dengan Prosper dan akan segera mengirimkannya. Foto-foto tersebut nanti akan gue masukkan pula ke dalam tulisan ini, biar lebih komplet.


Pendakian Terakhir
Pertemuan dan obrolan dengan Prosper sebagaimana tersebut di atas, ternyata benar-benar menjadi pertemuan sekaligus obrolan terakhir. Dengan kata lain, pendakian empat sekawan ke Gunung Tanggamus tahun 1995 itu juga menjadi pendakian terakhir gue bersama Prosper.

Kenapa? Karena beberapa hari setelah Prosper dan Yosha mengadakan baksos ke Lumajang, gue mendengar kabar Prosper meninggal dunia terseret banjir lahar dingin di kaki Gunung Semeru tersebut.

Awalnya gue tidak percaya dengan kabar itu dan merasa yakin mayat yang ditemukan warga di aliran sungai itu bukanlah mayat Prosper. Kenapa? Karena gue tahu banget Prosper termasuk petualang yang mampu mengatasi hal-hal yang membahayakan nyawa meski terkadang nekadnya kerap berlebihan.

Tapi setelah mendengat kabar langsung dari Yosha, percaya tidak percaya akhirnya gue harus percaya bahwa Prosper sudah tiada.

Saat itu gue sama sekali tidak menyalahkan/menyudutkan Yosha dan bertanya kenapa sampai tidak melarang atau mencegah Prosper melompat dari satu ke batu lain saat lahar dingin menerjang.

Pertama, karena gue maklum dengan kondisi Yosha. Pasti dia sungkan/segan banget, mengingat Prosper seniornya. Gue sendiri yang sudah lebih dulu kenal Prosper saja masih kerap sungkan.

Kedua, karena rasanya tidak mungkin melarang Prosper yang punya keberanian dan nekadnya luar biasa. Akhirnya sampailah kejadian duka itu.


Mengingat Prosper waktu itu juga sudah bekerja sebagai freelance reporter dan namanya lumayan dikenal banyak orang/pihak, membuat kabar kematiannya diberitakan di beberapa koran. Gue pun sempat meng-kliping dua berita kabar duka tersebut. Dan sampai sekarang masih tersimpan dengan baik.

Beberapa tahun sejak kepergian Prosper, jujur gue merasa kehilangan sosok pendaki gunung, pencinta alam sekaligus abang yang jiwa petualangannya di atas rata-rata.

Teman Sepetualangan
Sejak kematian Prosper, gue sempat mencari-cari teman sepetualangan yang sefrekuensi dan punya jiwa petualangan yang lebih. Tapi tidak ada satupun. Akhirnya gue sadar, tak ada orang yang berjiwa petualang seperti Prosper karena memang sejatinya setiap orang itu punya jiwa petualangan dengan kadar dan karakter yang berbeda.

Karena tak lagi memiliki rekan sepetualangan sejati, termasuk dengan Yosha yang meninggal beberapa tahun kemudian dan Buche (tidak pernah bertemu lagi karena lost contact), akhirnya gue kerap mendaki gunung sendiri (solo hiking).

Sederet gunung yang pernah gue daki sendirian antara lain Gunung Salak, Gede, Ceremai, dan Merapi. Begitupun saat menjelajah TN Kelimutu, TN Komodo, dan lainnya, juga sendirian.

Setelah lulus kuliah dan bekerja sebagai wartawan sampai menjadi pemimpin redaksi di majalah khusus pariwisata dan kebudayaan, gue masih tetap suka melakukan solo traveling dan solo adventuring sampai sekarang.


Mata Berkaca-kaca
Saat mendaki Gunung Tanggamus lagi, baru-baru ini tepatnya jelang akhir Maret 2026 via Pekon (Desa) Sidokaton, Kec. Gisting, bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kab. Tanggamus, seribu kenangan petualangan dengan Prosper termasuk saat mendaki bareng Gunung Tanggamus pada 1995 atau 31 tahun lalu, kembali menari-nari di benak.

Sewaktu melintasi hutan lumut, sebelum summit attack Gunung Tanggamus, kenangan pendakian silam itu membuat gue sempat terdiam beberapa menit dan seketika mata berkaca-kaca.

Ketika itulah tercipta lirik lagu berjudul: "Lagu Buat Prosper dan Yosha (Andai)". Begini liriknya:

🎶... Andai Tuhan panjangkan umurnya
Masih sehat jiwa raga
Andai dia ada di dunia ini
Dan masih aktif mendaki

Akan ku ulangi mendaki Gunung Tanggamus lagi
Berempat seperti lalu
Walau tak lagi setangguh dulu

Andai Tuhan panjangkan umurnya
Bertualang kembali
Bersama-sama lagi ..🎶.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Foto bareng sejumlah anggota Ompa TAPAL dan simpatisan yang mengikuti kegiatan jelajah Ujung Kulon 1992, dimana Prosper sebagai leader-nya. (Foto: dok. Irma/Tapal)
2. Dua kliping di surat kabar yang berbeda tentang berita kematian Prosper di Lumajang, kaki Gunung Semeru, Jatim.
3. Triangulasi puncak Gunung Tanggamus yang berketinggian 2.102 Mdpl.
4. Inilah Gunung Tanggamus di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung yang pernah gue daki pertama kali tahun 1995 bareng Prosper, Buche, dan Yosha. Lalu 31 tahun kemudian mendaki lagi untuk kali kedua pada 2026.
5. Gue di puncak Gunung Tanggamus pada Sabtu (28/3/2026). Pendakian kali kedua ini merupakan hasil sinergi antara gue dari media/website TravelPlus Indonesia dengan dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus.
6. Video dua kliping berita kematian Prosper.
7. Saat melintasi hutan lumut Gunung Tanggamus.

Cat. : Nanti kalau sudah ada foto-foto terkait Prosper, kiriman dari Irma, Santa, Wina, dan Ithink yang sama-sama pernah ikut jelajah Ujung Kulon bareng Prosper tahun 1992, akan saya masukkan ke dalam tulisan ini 🙏.

Inilah seribu kenangan dengan Prosper versi gue. Sebenarnya belum semua gue tuang dalam tulisan ini, karena bakal terlalu panjang.

Dan gue yakin setiap orang yang mengenal baik Prosper, terlebih yang pernah bertualang bareng dengannya, pasti memiliki kenangan, persepsi, dan penilaian tersendiri tentang sosok yang gue sebut sang petualang di atas rata-rata dari TAPAL ini.

Semoga Sang Maha Cinta, memberi tempat terbaik buat Prosper dan Yosha di alam keabadian, Aamiin YRA 🤲.

***




Read more...

Kamis, 16 April 2026

Kisah Pendakian Gunung Tanggamus, Dulu dan Kini


Libur lebaran 2026 kemarin tepatnya jelang akhir Maret, saya mendaki Gunung Tanggamus lagi. Kok, pakai kata lagi? Apakah sebelumnya pernah mendaki gunung di Kabupaten Tanggamus, Lampung  itu?

Jawabannya ya. Pendakian Tanggamus yang saya lakukan baru-baru ini merupakan pendakian kali kedua. Sebelumnya, 31 tahun silam saya pernah mendaki gunung berketinggian 2.102 Mdpl tersebut pada akhir Januari 1995.

Wow, sudah lama banget. Lalu apa perbedaannya antara pendakian Gunung Tanggamus dulu dan kini?

Jawabannya jelas sangat beda, baik dari segi usia, kodisi fisik, status, teknik/cara pendakian yang saya gunakan, dan rekan pendaki maupun kisah atau cerita masing-masing pendakian yang berbeda era tersebut.


Pendakian 1995
Pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995, boleh dibilang pendakian usang era konvensional, dimana media cetak (koran dan majalah) tengah berjaya.

Umur saya ketika itu masih 20-an tahun. Secara fisik, stamina sedang tangguh-tangguhnya. Usia tersebut memang masuk ketegori masa keemasan bagi setiap pegiat aktivitas luar ruang (outdoor activity) bermuatan petualangan seperti mendaki gunung, dan lainnya.

Saat itu saya masih berstatus mahasiswa tahun ketiga Fakultas Komunikasi, Jurusan Jurnalistik (kewartawanan) di Institut Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (IISIP) Jakarta atau yang dikenal sebagai Kampus Tercinta, yang berada di Jalan Raya Lenteng Agung 32, Jakarta Selatan.

Kendati masih mahasiwa, kala itu saya sudah menjadi freelance reporter (wartawan lepas) di beberapa media cetak (koran dan tabloid) khusus menulis kisah perjalanan bermuatan petualangan seperti mendaki gunung, jelajah hutan, susur gua, susur pantai, panjat tebing, dan lainnya termasuk objek maupun atraksi wisata budaya, kuliner, kerajinan tangan, dan hiburan (terutama musik dan film).


Pendakian Gunung Tanggamus kali pertama, saya lakukan bersama tiga rekan sekampus yakni dua senior bernama Prosper dan Buche serta satu yunior bernama Yosha. Kami berempat ketika itu sama-sama masih berambut gondrong (panjang).

Lantaran sering bertualang dengan Prosper yang tak lain anggota sekaligus  motor penggerak organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL - IISIP Jakarta, saya jadi  cukup kenal karakter serta jiwa petualangannya. Oleh karena itu saya merasa yakin akan lancar-lancar saja melakukan pendakian Gunung Tanggamus dengan modal fisik, keberanian, logistik, perlengkapan pendakian meskipun saat itu masih terbatas, dan tentunya pengalaman saya mendaki sejumlah gunung dan sederet kegiatan outdoor bermuatan petualangan lainnya.

Sebagai informasi tambahan, saya mulai mendaki gunung sampai puncaknya sejak tahun 1988, sewaktu masih SMA. Sebelum itu hanya camping dan treking santai, seperti ke Kawah Ratu, Gunung Salak, dll.

Namun jujur pendakian pertama ke Gunung Tanggamus, saya benar-benar miskin data  karena saat itu belum era media online, jadi sangat sulit mendapatkan informasi tentang profil gunung tersebut termasuk jalur pendakian (japen)-nya, bagaimana tingkat kesulitan/grade japennya, dan berapa durasi pendakiannya jika lewat japen umum.

Intinya saat itu saya hanya mengikuti langkah Prosper saja. Begitupun dengan Buche dan Yosha. Kami bertiga laksana anak-anak ayam yang mengikuti induknya kemanapun melangkah.


Berhasil Tapi ...
Meskipun pendakian pertama kali ke puncak Gunung Tanggamus berhasl namun harus kami raih dengan susah payah dan bahkan nyawa hampir melayang. Kenapa? Karena Prosper yang menjadi leader, saat naik/mendaki memilih membuka jalur alias tidak menggunakan japen umum.

Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu lewat pekon (desa) apa dan di kecamatan apa jalur yang dibuka Prosper tersebut. Namun yang pasti saat itu Gunung Tanggamus masih berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) karena belum terjadi pemekaran kabupaten. Dengan kata lain Kabupaten Tanggamus masih belum terbentuk.

Sampai tiba diujung desa dan masuk hutan lebat, petualangan pendakian yang sesungguhnya pun dimulai. Prosper dengan menggunakan sebilah golok tajam berada paling depan dan membuka jalur dengan membabat semak belukar dan batang pohon.

Tantangan berikutnya melewati hutan palem berduri. Baju planel saya sampai robek-robek kena duri dan mengenai kulit. Begitupun dengan ketiga tekan saya. Ternyata duri itu beracun, rasanya perih dan tangan, badan sampai wajah kami bengkak-bengkak.

Sewaktu mau membuat tulisan ini, saya sempat menghubungi Buche dan bertanya kenangan yang masih diingatnya saat mendaki Gunung Tanggamus tahun 1995 itu. Alhamdulillah senior satu ini cepat merespons-nya.


"Ahaaai..., yang paling gue inget waktu lo jatuh ketika mau menggapai bukit terjal 45 derajat dan licin. Untungnya lo tetap selamat meskipun teman-teman sempat was-was apalagi pas lihat bibir lo sampe berdarah," ungkapnya.

Setelah itu, lanjut Buche, kita menuju puncak. "Ternyata bukan puncak Gunung Tanggamus melainkan puncak bayangan. Padahal kita semua sudah kelelahan," terangnya.

Menurut Buche kenangan yang mungkin paling ikonik versinya adalah ketika  kami berhasil menemukan puncak Tanggamus dan bertemu dua orang sedang melakukan ritual perjamuan entah untuk apa. "Mereka sempat mengira kita adalah rombongan babi hutan menyeruak dari semak-semak hahaha," ungkap Buche lagi.

"Dan yang paling mungkin gue sesali sewaktu tiba di puncak Gunung Tanggamus saat itu jelang malam puasa pertama Ramadan 1995. Harusnya gue berniat puasa tapi gue ga puasa bahkan harus makan logistik yang tersisa yaitu makanan kaleng "Maling" milik Yosha. Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah 😰," terangnya.

"Tapi gue salut  keesokan harinya pas turun dari puncak menuju Gisting lewat japen umum, lo tetep puasa Ramadan hari pertama walaupun setengah hari berbuka 👍," ujar Buche.

Saya pun membalasnya. "Wow, ingatan lo masih kuat kang. Puasa Ramadan 1995 hari pertama itu penuh perjuangan hehehe. Cuma niat, ga sahur karena emang kita dah ga punya logistik apapun dan turun gunung ngesot pake pantat karena lemas dan masih ada sisa nyeri kena duri palem. Tapi, Alhamdulillah pas jam 12 siang Zuhur kita ketemu rumah penduduk transmigran paling dekat dengan hutan Tanggamus dan dikasih singkong rebus buat buka setengah hari hahaha", balas saya.


Penduduk transmigran asal Jawa yang memberi singkong rebus tersebut sempat terheran-heran pas Prosper menceritakan awal pendakian kami. "Wah, kalian benar-benar nekad banget. Untunglah kalian ga sampe bertemu Harimau Sumatra," ujar transmisgran tersebut.

"Usai makan singkong rebus dan numpang salat Zuhur, gue lanjutkan puasa lagi sampai Magrib. Kemudian kita lanjut berjalan kaki menyusuri jalan tanah dan berbatu (belum beraspal) dari perkampungan transmigran ke tepi jalan raya Gisting. Ampuuun.., ternyata jauh banget," balas saya lagi.


Satu hal lagi yang masih terekam di benak ini, dalam pendakian itu saya sempat naik pitam (marah) sama Prosper gara-gara nyasar buka jalur bukan ke puncak utama tapi ke puncak bayangan. "Seumur hidup baru kali itu gue berani adu mulut sama senior karena mungkin emosi. Alhamdulillah gue dah minta maaf sama Prosper saat sampai di puncak, sebelum tidur berempat di bivak".

Selepas mendaki Gunung Tanggamus kali pertama, saya sempat membuat tulisan dan dimuat di salah satu koran dengan judul "Kisah Pendakian Jalur Empat Sekawan Gunung Tanggamus". Sayangnya arsip kliping tulisan tersebut entah kemana rimbanya.

Pendakian 2026
Pendakian Gunung Tanggamus 2026 adalah pendakian kali kedua saya. Dan tentunya saat era sigi media kekinian tengah meraja yakni media sosial (medsos) seperti Instagram (IG), Tiktok, dan YouTube serta media online. Artinya sangat mudah mencari informasi terkait Gunung Tanggamus.


Pendakian kali ini ini saya bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus yang kini dikepalai Marhasan Samba.

Adapun teknik pemdakiannya tektok alias tidak nge-camp dan dipandu pemandu lokal belia bernama Kelpin.

Kenapa tektokan bukan nge-camp? Kenapa pula memakai pemandu? Jawabannya untuk mempersingkat waktu agar masih bisa meliput objek-objek pariwisata maupun ekraf Kabupaten Tanggamus sesuai arahan Kadisparekraf Tanggamus Marhasan Samba.


Dipendakian yang kedua pada tahun ini, usia saya terbilang sudah tak muda lagi, umur sudah lewat separuh abad. Boleh dibilang kondisi fisik juga tak lagi sekuat, setangguh, segesit, dan secepat dulu. Namun mental saya masih menyala seperti anak muda 😊.

Saat ini saya juga masih setia berprofesi sebagai wartawan khusus sektor pariwisata, ekonomi kreatif (ekraf) serta konservasi alam dan budaya di media online berlabel TravelPlus Indonesia yang saya kelola seiring menjamurnya media online dan meredupnya media cetak.

Sebelumnya, selepas lulus S-1 Jurnalistik saya pernah bekerja mulai dari reporter, editor, dan redaktur di beberapa media cetak sampai akhirnya menjadi pemimpin redaksi di sebuah majalah pariwisata dan kebudayaan di Jakarta. Selain itu sempat pula menjadi ketua Forbudpar (Forum Wartawan Pariwisata dan Kebudayaan) pada era Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan dipimpin oleh Menteri Jero Wacik.


Pendakian tektok ke Gunung Tanggamus, saya lakukan pada Sabtu subuh (28/3/2026). Sempat bermalam di rumah Poklen, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sonokeling yang kini berganti nama menjadi Java Palisander.

Keesokan paginya, dari Basecamp (BC) pendakian Gunung Tanggamus via Pekon Sidokaton, Kecamatan Gisting, saya naik ojek gunung ke pos mata air, jelang Subuh sekitar pukul 4 pagi.

Di pos mata air, menunaikan salat subuh di saung musala yang kondisinya kurang terawat. Setelah itu lanjut menuju camping ground yang ilalangnya sudah lumayan tinggi. Di atas camping ground sempat menikmati pesona matahari terbit (sunrise) yang muncul di perairan Teluk Semaka. Kemudian lanjut treking ke pintu rimba.


Tak lama kemudian bertemu 4 pendaki muda-mudi (Zikri, Luthfi, Fajri, dan Eka) dari Kabupaten Pesawaran, Lampung. Mereka melakukan pendakian nge-camp di camping ground.

Mengingat faktor 'U" (umur) dan ditambah kurang tidur, saya mengambil inisiatif untuk mendaki santai (melangkah perlahan tapi konstan dan tidak terlalu lama saat istirahat).

Lantaran pendakian kedua kali ini sekaligus meliput (liputan jurnalistik), di titik-titik tertentu saya tak lupa mengamati sekaligus mengabadikan spot-spot menarik sampai menjelang summit attack antara lain sejumlah rumah akar, pos musala, kayu akar viral, tebing batu, dan hutan lumut.

Flora menarik yang saya temukan antara lain angrek hutan namun sedang tak berkembang dan tanaman kantong semar. Sedangkan satwanya paling sering terlihat adalah burung. Di pos lima terdengar bermacam kicau burung sehingga sekitar pos tersebut sepertinya cocok dijadikan salah satu tempat bird watching.

Saat melintasi hutan lumut sebelum summit attack, kenangan pendakian 31 tahun silam bersama Prosper, Buche, dan Yosha mendadak menari-mari di benak dan sempat membuat mata saya berkaca-kaca.

Sampai di puncak Gunung Tanggamus sekitar pukul 12 siang. Puncaknya ditandai dengan triangulasi berupa lempengan marmer hitam bertuliskan "Puncak  Gunung Tanggamus Tinggi 2102 Mdpl" yang bercat emas.

Tak lama berselang, hujan turun deras dan panjang. Kelvin sempat memasang lembaran alas tenda yang saya bawa buat berteduh.


Lantaran hujan tak kunjung reda, saya sempatkan berfoto di triangulasi dengan memegang lembaran kertas HVS putih bertuliskan "Majukan Wisata Tanggamus: Mak Kham Sapa Lagi, Mak Tanno Kapan Lagi" dan "Majukan Wisata Tanggamus: @majestic.tanggamus" sebagai bukti nyata bahwa saya berhasil lagi menggapai puncak Gunung Tanggamus.

Dua tulisan tersebut merupakan titipan dari Syarif Hidayat Bangsawan selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Pemasaran Pariwisata Disparekraf Kabupaten Tanggamus.

5 Kali Jatuh
Setelah foto-foto singkat di puncak Gunung Tanggamus, saya ambil keputusan segera turun untuk menghindari kedinginan dan basah terlalu lama yang bisa memicu hipotermia.

Saat turun dari puncak, kondisi masih hujan. Lantaran trek licin dan berlumpur, saya  sempat jatuh terpeleset sampai 5 kali. "Aman pak?," tanya Zikri dan Kelpin beberapa kali. "Sejauh ini, aman, ayo lanjut jalan," balas saya.


Keluar dari pintu rimba hampir jam lima sore. Kemudian menuju camping ground. Kondisi jalannya tetap lincin luar biasa. Akhirnya tiba di camping ground dan sempat foto-foto beberapa tenda pendaki yang nge-camp. Lalu turun ke pintu air dan ojek datang tak lama kemudian.

Naik ojek menuju BC memang jauh lebih cepat dibanding jalan kaki tapi pegalnya minta ampun. Akhirnya sampai di BC menjelang magrib, Alhamdulillah.


Sepulang dari pendakian Gunung Tanggamus, saya membuat tulisan ini dan beberapa tulisan lain yang lebih dulu tayang di website/media online
TravelPlus Indonesia. Sedangkan konten-konten videonya berikut lagu tentang Gunung Tanggamus, saya unggah di medsos, antara lain di IG @adjitropis.

Harapannya dengan publikasi kreatif dan variatif di era kekinian ini, nama dan pamor Gunung Tanggamus bisa semakin melambung tinggi (meluas) serta pendakiannya kian diminati wisatawan minat khusus terutama para pendaki gunung dan pencinta alam dari luar Lampung, termasuk dari Jabodetabek dan sekitarnya.

Naskah : Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Saya, jurnalis sekaligus pendaki gunung yang tak lagi muda di puncak Gunung Tanggamus dan titik triangulasi-nya. (foto: luthfi & adji)
2. Gunung Tanggamus, satu-satunya gunung di Kabupaten Tanggamus sekaligus gunung tertinggi kedua di Lampung setelah Gunung Pesagi.
3. Saya di akar kayu viral pendakian Gunung Tanggamus. (foto: kelpin)
4. Gunung Tanggamus dilihat dari Bukit Idaman, Gisting.
5. Saya di depan Basecamp (BC) pendakian Gunung Tanggamus via Pekon Sidokaton, Kecamatan Gisting. (foto: #rekanpendaki)
6. Pemandangan dari dekat camping ground Gunung Tanggamus.
7. Saya di pintu rimba pendakian Gunung Tanggamus via Sidokaton. (foto: kelpin)
8. Bersama Kadis Disparekraf Kab. Tanggamus Marhasan Samba (berjaket coklat) dan sejumlah pendaki serta anggota Pokdarwis Sonokeling/Java Palisander mengucapkan selamat HUT ke 29 Kabupaten Tanggamus di depan BC Sidokaton.
9. Kelpin pendaki belia yang memandu saya di pendakian kedua Gunung Tanggamus secara tektok.
10. Suasana BC Sidokaton saat jelang subuh sebelum saya nanjak tektokan Gunung Tanggamus.
11. Bersama pendaki muda-mudi Lampung (Kelpin, Zikri, Luthfi, Fajri, dan Eka) di puncak Gunung Tanggamus, Sabtu (28/3/2026) siang. (foto: #rekanpendaki)
12. Saya di puncak Gunung Tanggamus dengan memegang tulisan "Majukan Wisata Tanggamus: Mak Kham Sapa Lagi, Mak Tanno Kapan Lagi". (foto: luthfi)
13. Suasana camping ground Gunung Tanggamus.
14. Salah satu tulisan tentang data jumlah pendaki Gunung Tanggamus yang tayang di website TravelPlus Indonesia.

*Cat.* : Selain buat mempromosikan pendakian Gunung Tanggamus dan objek-objek wisata  di sekitarnya yang masih berada di Kabupaten Tanggamus, tulisan ini juga saya dedikasikan buat Prosper dan Yosha yang sudah lebih dulu dipanggil Sang Maha Cinta.

Andai keduanya sampai sekarang masih ada, pasti bukan hanya akan saya tanyakan kenangan yang masih mereka ingat sewaktu mendaki Gunung Tanggamus tahun 1995, pun bakal saya ajak pula mendaki lagi Gunung Tanggamus 2026 ini.

Prosper meninggal dunia, dua pekan setelah melakukan pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995.

Dia wafat karena terseret banjir lahar dingin di Lumajang, kaki Gunung Semeru saat melakukan kegiatan bakti sosial (baksos) bersama Yosha (saya dan Buche kebetulan tidak ikut baksos karena saat itu tengah menjalankan puasa Ramadan). Beberapa tahun kemudian, Yosha menyusul (meninggal dunia) karena sakit.

Semoga keduanya diberi tempat terbaik di sisi-Nya. Dan yang masih tersisa: Buche dan saya serta para senior dan rekan lama sesama penghuni WAG TAPAL 'n Simpatisan, diberi kesehatan, panjang usia, dan kebermanfatan sampai akhir masa, Aamiiin YRA 🤲.

Lewat tulisan ini, saya juga ingin berucap terima kasih buat @majestic.tanggamus, Disparekraf Kab. Tanggamus yang sudah bersinergi dengan TravelPlus Indonesia, terkhusus Marhasan Samba selaku Kepala Dinas Disparekraf Kab. Tanggamus beserta bawahannya antara lain Kabid pemasaran Syarif dan stafnya Syaipul yang sudah ikut membantu turun ke lapangan langsung.

Mudah-mudahan pada kesempatan lain, kita masih bisa terus bersinergi dengan lebih intens dan lebih baik lagi untuk memajukan pariwisata dan ekraf Kab. Tanggamus, termasuk Gunung Tanggamus sebagai salah satu daya tarik alam Kabupaten Tanggamus yang menawan dan sangat potensial menjaring kunjungan wisatawan minat khusus, terutama pendaki gunung dan pencinta alam🙏.

****

Read more...

Senin, 13 April 2026

Sendratari “The Tales of Karangbolong", Layak Ditampilkan Lagi di Ruang Publik Estetik


Usai memukau warga perantauan asal Kabupaten Kebumen yang tinggal di Jabodetabek dan sekitarnya, Sendratari “The Tales of Karangbolong" sudah amat pantas ditampilkan lagi di ruang publik di Jakarta yang estetik dan besar.

Itulah catatan penting yang TravelPlus Indonesia garis bawahi setelah menyaksikan langsung suguhan budaya tersebut di pendopo Anjungan Provinsi Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026) siang sampai sore.

Mengapa layak ditampilkan lagi? Karena sendratari “The Tales of Karangbolong" bukan sekadar sebagai bentuk peleatarian budaya Kabupaten Kebumen pun secara keseluruhan apa yang disuguhkan memang bagus, lebih fresh/kekinian, dan tentunya artistik baik dari sisi koreografi, kostum, pencahayaan panggung, dan lainnya.


Dan kenapa harus ditampilkan di ruang publik di Jakarta yang estetik dan berukuran besar? Ya supaya jangkauan penonton/penikmatnya jauh lebih luas dan beragam (tidak sebatas hanya warga perantauan asal Kabupaten Kebumen di Jabodetabek dan sekitarnya). Dengan begitu otomatis akan terekspos lebih luas lagi baik oleh sejumlah media online yang ada di Jakarta maupun ragam media sosial dari penonton yang hadir langsung.

Namun dengan catatan, pertunjukan tersebut harus gratis (tidak dipungut tiket masuk) dan dipromosikan secara gencar terutama pra event atau sebelum pertunjukan tersebut berlangsung secara kontinu, misalnya sebulan, tiga Minggu, dua Minggu, satu Minggu, dan beberapa hari sebelum pelaksanaan supaya publik Jabodetabek dan sekitarnya tahu dan tertarik berbondong-bondong datang.


Selain gratis, sendratari yang disuguhkan juga harus lebih kolosal, artinya jumlah para penarinya harus lebih banyak dari biasanya, misalnya di atas 500 orang agar lebih megah dan wah.

Lalu ruang publik di Jakarta yang besar itu dimana? Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada 2 pilihan. Pertama, Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat. Kedua, saat Car Free Day di sekitaran Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Namun karena ada embel-embel ruang publik estetik yang erat kaitannya dengan pertunjukan seni maupun budaya, tentu pilihan paling tepat adalah Taman Fatahillah, Kota Tua lantaran merupakan kawasan cagar budaya yang penuh dengan bangunan tua dan bersejarah yang klasik, artistik, bisa menampung sampai puluhan ribu orang, dan letaknya amat strategis karena mudah dijangkau publik dengan berbagai moda transportasi umum seperti bus TransJakarta dan KRL Commuter Line.


Pilihan venue lainnya, bisa juga di ruang kesenian indoor yang besar dan strategis misalnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) antara lain di Teater Besar (Teater Jakarta) yang memiliki 1.200 kursi dan Graha Bhakti Budaya (sekitar 950 kursi) atau di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) yang berkapasitas sekitar 475 kursi, Gedung Kesenian Miss Tjijih (300 kursi), dan atau di Gedung Wayang Orang Bharata yang berkapasitas 250 kursi. Kalau dilihat secara kapasitas, tentu Teater Besar TIM bisa jadi pilihan utama untuk venue indoor. Dengan catatan sebagaimana tersebut di atas yaitu gratis dan dipromosikan secara gencar pra event-nya.

Apakah cukup sendratari "The Tales of Karangbolong" yang disuguhkan? Tentu tidak. Sendratari tersebut memang sajian utamanya namun harus ada beberapa sajian pelengkapnya antara lain hiburan musik yang menghadirkan penyanyi ternama dari Kebumen ataupun dari ibu kota Jakarta yang membawakan lagu-lagu daerah Kebumen dipadukan dengan lagu pop/dangdut kekinian.


Selain itu sebaiknya harus ada deretan stan kuliner khas Kabupaten Kebumen, aneka kriya/kerajinan tangan atau oleh-oleh khas Kebumen yang dikemas bersih dan eatetik.

Tak ketinggalan dan amat penting, harus tetsedia pula stan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kebumen yang menyediakan berbagai bahan promosi wisata dan budaya Kebumen seperti leaflet, booklet, dan lainnya

Lalu stan akomodasi/penginapan/hotel/homestay yang ada di Kabupaten Kebumen dan stan travel agent/indie travel ataupun trip operator yang menjual bermacam paket wisata yang ada di Kabupaten Kebumen, lengkap dengan informasi itinerary, harga, meeting point, objek wisata yang dikunjungi, waktu (tanggal/bulan) pelaksanaan, dan contact person di setiap paket wisata yang dijual supaya masyarakat yang datang tertarik untuk langsung membeli paket-paket wisata tersebut sesuai minatnya.

Dengan begitu, sendratari “The Tales of Karangbolong" yang disuguhkan bukan hanya menjadi ajang promosi sektor pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Kebumen pun sekaligus bisa menjaring calon wisatawan yang akan berwisata ke Kabupaten Kebumen.


Terdaftar dalam HAKI
Sebagai informasi tambahan sendratari  “The Tales of Karangbolong" yang telah terdaftar secara resmi dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)  berkisah tentang  perjuangan Pangeran Surti yang diperintah oleh raja setempat untuk mencari obat berupa sarang burung walet guna menyembuhkan permaisuri dari kutukan. Pangeran Surti mencari sarang burung walet sampai ke pesisir Selatan lalu mendapat bantuan Lutung Kasarung sampai bertemu Nyi Roro Kidul dan akhirnya berhasil mendapatkan obat tersebut.

Bupati Kebumen Lilis Nuryani dalam kata sambutannya menjelaskan sendratari ini merupakan karya anak-anak muda Kabupaten Kebumen yang digagas oleh dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, sebagai pengembangan dari tari kolosal Swardana Kabumian yang sebelumnya sukses disuguhkan di Kebumen Fest 2025.


Lilis Nuryani mengaku bangga bisa membawa Kabupaten Kebumen ke TMII untuk mempromosikan kebudayaan Kebumen ke seluruh Indonesia lewat sendratari ini.

Dia melihat karya ini menunjukkan bahwa generasi muda Kabupaten Kebumen memiliki potensi besar karena mampu mengjadirkan budaya dalam bentuk segar dan semakin dekat dengan masyarakat.

"Karena itu saya mengucapkan terimakasih kepada para pelatih, penari, dan seluruh tim kreatif yang telah menyiapkan pertunjukan ini dengan penuh dedikasi," ungkapnya.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus (jurnalis senior sektor pariwisata, ekraf konservasi budaya, dan alam), IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Melihat kualitasnya, sendratari "The Tales of Karangbolong" dari Kabupaten Kebumen menurut TravelPlus Indonesia sudah layak ditampilkan di ruang publik di Jakarta yang estetik dan besar.
2. Video sepenggal sendratari "The Tales of Karangbolong" yang ditampilkan Pemkab Kebumen di Anjungan Jateng TMII, Minggu (12/4/2026).
3. Koreografi dan kostumnya estetik dan artistik.
4. Video yel-yel usai tampil memukau para tamu warga perantauan asal Kabupaten Kebumen yang tinggal di Jabodetabek dan sekitarnya di TMII.
5. Para pemainnya dari anak-anak, muda-mudi sampai orang dewasa dari Kabupaten Kebumen.
6. Bupati Kebumen Lilis Nuryani saat memberi kata sambutan sekaligus membuka persembahan sendratari "The Tales of Karangbolong" di TMII.
7. Berfoto bersama usai tampil.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP