. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Kamis, 11 Juni 2026

Harga BBM Naik Semangat Bertualang Jangan Turun, Ini 13 Kiatnya


Harga b
ahan bakar minyak (BBM) Pertamina sudah naik per 10 Juni 2026. Seketika imbasnya pun memicu efek domino yang mengakibatkan naiknya beberapa sektor esensial antara lain harga sembako dan biaya perjalanan/transportasi yang erat kaitannya dengan kegiatan bertualang diluar ruang (outdoor activity).

Nah, supaya kegiatan bertualang tetap bisa rutin dilakukan, mininal tidak menurun apalagi sampai berhenti total hanya gara-gara harga BBM naik, tak ada salahnya bila menerapkan 12 kiat versi TravelPlus Indonesia berikut ini.

Sebelum TravelPlus Indonesia beberkan satu persatu, ada baiknya kita memahami makna kata "bertualang" terlebih dahulu.


"Bertualang" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI
) antara lain bermakna mengembara ke mana-mana atau selalu pergi ke mana-mana (tidak suka tinggal di rumah).

Kata dasarnya adalah "tualang" yang berarti antara lain (orang yang) tidak tentu tempat tinggalnya atau disebut pula pengembara.

Bila dikaitkan dengan wisata, bertualang adalah kegiataan wisata di alam terbuka yang bermuatan petualangan antara lain mendaki gunung, jelajah hutan, treking ke air terjun/lembah/perbukitan, pelosok desa, dan lainnya. Selain itu panjat tebing alam, susur pantai, susur gua, lintas alam (trail running), arung, kayak (kayaking), menyelam, offroad, sepeda lintas alam (mountain biking/downhill), paralayang, gantole, canyoneering (canyoning), dan lainnya.


Adapun makna kata "petualangan" dalam KBBI adalah perihal bertualang.
Jadi kegiatan bermuatan petualangan adalah aktivitas wisata yang mengandung unsur risiko dan tantangan sehingga membutuhkan  fisik, mental, keberanian, dan keahlian/skill tertentu dengan tujuan untuk memicu adrenalin, menambah pengalaman baru, edukasi, maupun rekreasi.

Melihat begitu banyak pilihan kegiatan bertualang di Indonesia sebagaimana tersebut di atas, sebagai kiat yang pertama bertualang saat tarif beberapa sektor terdongkrak akibat harga BBM kembali naik, pilihlah salah satu kegiatan wisata bermuatan petualangan yang paling disukai/diminati, misalnya mendaki gunung. Lalu fokus disitu dengan tetap aktif mendaki gunung-gunung di dalam negeri.

Kiat kedua, upayakan bertualang dalam kelompok kecil (2-6) orang biar bisa share cost transportasi, akomodasi, logistik, dan kulineran. Tapi kalau lebih suka solo traveling, solo backpacking, solo hiking ya tidak masalah, lakukan saja dengan menerapkan gaya backpaker-an yang lebih ramah dengan isi kantong.

Ketiga, pilih destinasi yang bisa dijangkau dengan moda transportasi umum, baru kemudian ojek online atau ojek pangkalan atau mobil online jika bertualang dalam small group ke lokasi tujuan.


Destinasi Terdekat
Berikutnya atau kiat yang keempat, utamakan destinasi yang dituju masih dalam satu provinsi atau yang terdekat, baru kemudian ke provinsi tetangga, terakhir baru ke provinsi- provinsi lainnya yang berbeda pulau.

Contohnya kalau Anda tinggal di Jawa Tengah dan menyukai kegiatan mendaki gunung, sebaiknya mengutamakan mendaki gunung-gunung yang ada di Jawa Tengah, dimulai dari gunung yang paling mudah atau ramah kondisi jalur pendakiannya bagi pendaki pemula, baru kemudian yang sulit dan tersulit treknya.

Setelah itu baru mendaki gunung-gunung yang ada di provinsi tetangga seperti di Jawa Barat atau di Jawa Timur. Nanti setelah memiliki anggaran yang cukup, baru mendaki gunung-gunung yang ada di luar Jawa seperti Sumatra, Bali, NTB, dan lainnya.


Kiat kelima, pilih moda transportasi kelas ekonomi saja untuk lebih berhemat baik itu bus, kereta, kapal feri, dll. Biar mudah mendapatkan tiket bus, dll serta ongkosnya tak melambung, pilih waktu bertualang saat low season, jangan peak season apalagi high season.

Keenam, pilih akomodasi kelas backpacker saja seperti homestay, penginapan yang memiliki kamar asrama, rumah singgah atau basecamp pendakian, dll. Idem dengan kiat kelima, biar mudah mendapatkan penginapan dan harganya miring pilih waktu bertualang saat low season, jangan peak season apalagi high season.

Selanjutnya atau kiat yang ketujuh, pilih kulineran street food yang masih terjangkau isi dompet, bukan rumah makan/resto/kafe.

Kiat kedelapan, bila ikut open trip (OT) pilih trip/tour operator (TO) yang memiliki paket OT dengan harga lebih hemat dibanding TO lain namun tetap profesional dalam artian bertanggung jawab atas fasilitas yang dijanjikan dan itinerary yang telah dibuat. Jika tidak sesuai, ya jangan ikut OT-nya lagi.


Kesembilan, utamakan destinasi yang menjadi tujuan utama, misalnya kalau mendaki gunung pilih gunung yang belum pernah Anda didaki. Bisa juga mendaki gunung yang pernah didaki tapi lewat jalur pendakian yang beda dan atau punya kegiatan bernilai lebih seperti aksi tanam pohon, bersih sampah, aksi sosial, dan lainnya sehingga punya manfaat lebih, bukan sekadar mendaki sampai puncak, foto-foto lalu turun dan selesai.

Variasi Jenis Petualangan
Berikutnya atau kiat yang kesepuluh, tidak ada salahnya melakukan variasi jenis petualangan. Misalnya kalau di daerah Anda selain gunung juga tersedia gua, pulau/pantai, air terjun, danau, tebing alam, sungai, dan lainnya. Jadi jangan hanya mendaki gunung. Biar variatif (tidak membosankan), pilih satu atau dua jenis kegiatan wisata bermuatan petualangan lainnya yang sesuai isi dompet.

Kiat ke-11, sebaiknya kurangi kegiatan outdoor yang bukan menjadi pilihan/tujuan utama atau hanya sebatas selingan seperti camping ceria (camcer), gathering, dan kopi darat (kopdar) yang di dalam rangkaian acaranya tidak ada kegiatan bermuatan ramah lingkungan, dll.


Ke-12, mengurangi belanja outfit yang tidak perlu atau berlebihan. Cukup memiliki outfit yang nyaman buat treking seperti sepatu lapangan, ransel, dan jas hujan/ponco serta perlengkapan tidur/istirahat seperti sleeping bag, pakaian tidur, jaket, balaklava, sarung tangan, dan kaos kaki. Adapun tenda, matras, perlengkapan masak,
head lamp, dan trekking pole bisa sewa di rental outdoor setempat.

Memambah Pendapatan
Terakhir atau kiat yang ke-13, bila memang punya pengalaman dan kemampuan, Anda bisa menjajal menjadi pemandu lokal (local guide) , porter ataupun ojek gunung baik untuk kegiatan pendakian gunung, susur gua, arung jeram dan lainnya sehingga bisa mendapatkan tambahan uang untuk melakukan petualangan berikutnya. Pilihan lain, membuat bermacam merchandise menarik dan atau aneka kerajinan tangan lokal yang bisa dipasarkan via medsos dan dijual secara offline maupun online.

Bisa juga menambah pendapatan dengan menjual foto dan video keindahan alam yang Anda buat dari hasil bertualang ke berbagai platform stok media secara online, dimana perusahaan, agensi pemasaran, dan individu dari seluruh dunia dapat membeli lisensi untuk menggunakan karya Anda.


Ke-13 kiat di atas tersebut, berlaku buat pegiat
outdoor yang memiliki anggaran atau dana pas-pasan/terbatas atau sering disebut dari kalangan mendang-mending. Tapi bila memang punya dana lebih atau dari kalangan "the have", ke 13 kiat di atas bisa Anda hempaskan. Anda bisa pilih destinasi bertualang, akomodasi, transportasi, kuliner, belanja outfit, sewa porter pribadi, ikut bermacam kegiatan outdoor, dll sesuka hati tanpa perlu mikir berkali-kali karena memang tersedia anggarannya.

Kendati begitu, sebaiknya memprioritaskan bertualang di dalam negeri tercinta ini yang sampai kini (2026) sudah memiliki 38 provinsi dari ujung Sumatra sampai ujung Papua. Tentunya dengan tetap mengindahkan petualangan yang ramah lingkungan.

"Harga BBM naik, bertualang di dalam negeri jangan kasih kendor💪" .

Naskah & foto by: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180


Captions
:
1. TravelPlus Indonesia usai gapai Puncak Sejati Gunung Raung via Kalibaru, Banyuwangi. Jatim lalu melakukan teknik turun tebing.
2. TravelPlus Indonesia di atapnya Sumatra, puncak Gunung Kerinci, Jambi. (foto: dok.#rekanpendaki)
3. TravelPlus Indonesia di Danau Taman Hidup, pendakian Gunung Argopuro, Jatim melintas Baderan-Bermi.
4. TravelPlus Indonesia solo hiking Gunung Penanggungan, Jatim sehari sebelum perayaan 17 Agustusan.
5. TravelPlus Indonesia backpacker-an nsis bus umum kelas ekonomi saat solo traveling ke Kabupaten Tanggamus, Lampung sekaligus mendaki Gunung Tanggamus untuk kedua kali.
6. TravelPlus Indonesia di puncak Gunung Dempo, Pagar Alam, Sumsel kibarkan bendera Kembara Tropis, komunitas pegiat alam yang dibuatnya pada akhir tahun 1999 atau awal tahun 2000. (foto: dok.#rekanpendaki)
7. TravelPlus Indonesia di akar viral, salah satu spot alam di jalur pendakian Gunung Tanggamus via Sidokaton, Kec. Gisting, Kab. Tanggamus, Lampung. (foto: dok.#rekanpendaki)
8. TravelPlus Indonesia bentangkan bendera Pesona Indonesia di puncak Gunung Kelimutu atau Danau Tiga Warna, Flores, NTT. (foto: dok.#rekanpendaki)
9. TravelPlus Indonesia saat inap di salah satu rumah orang Baduy (urang Kanekes), Lebak, Banten dengan tim Kembara Tropis.

Read more...

Rabu, 10 Juni 2026

Kemenekraf Dukung “Under the Volcano” dan "Hikayat Perahu | The Tale of Boat” Tampil di Venezia


Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) RI mendukung keberangkatan dua karya teater kontemporer produksi Bumi Purnati Indonesia “Under the Volcano” dan "Hikayat Perahu|The Tale of Boat” ke Venezia, Italia untuk tampil dalam acara pementasan teater berskala dunia, berlabel 54th International Theatre Festival of La Biennale tahun ini.

Dukungan itu disampaikan oleh Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Kemenekraf  Dadam Mahdar disela-sela Dress Rehearsal Persiapan Pentas kedua tim di Pusat Pelatihan Seni Budaya (PPSB) Jakarta Pusat atau yang dikenal dengan nama, Gedung Muhammad Mashabi Jl. KH Mas Mansyur No. 1 Jakarta Pusat pada Selasa (9/6/2026) sore.

Kepada TravelPlus Indonesia, Dadam Mahdar juga menjelaskan Kemenekraf berkolaborasi dengan Bumi Purnati Indonesia yang memproduksi dua judul teatar tersebut terutama soal keberlanjutannya dari sisi tenaga kerja.


"La Biennale di Venice itu kan lebih showcase, kita Ekraf masuk berkolaborasi untuk mempertemukan nanti dengan buyer agar dua judul teater tersebut mendapatkan revenue atau ada untuk permintaan pertunjukkan ulang," terangnya.

Termasuk kolaborasi untuk mendapatkan investor dari luar negeri yang mau masuk membantu baik dari fisik maupun pelestarian dua judul teater ini.

"Tentunya juga kolaborasi supaya ada peluang ekspor, pembeli atau penanggap dari luar negeri. Nah, Ekraf disitu masuk untuk kolaborasi," ungkapnya.


Produser Independen Bumi Purnati Indonesia Restu Kusumaningrum menjelaskan “Under the Volcano” dan
"Hikayat Perahu|The Tale of Boat terpilih untuk mewakili Republik Indonesia tampil di Venice Biennale Teatro 2026 setelah melalui proses kurasi oleh Mr. Willem Dafoe, Direktur Festival 2026.

"Under the Volcano” disutradarai oleh Yusril Katil, terinspirasi oleh syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh tentang letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883. Sedangkan “Hikayat Perahu|The Tale of Boat” yang disutradarai oleh Sri Qadariatin, lahir dari interpretasi Syair Perahu karya penyair mistik sufi Hamzah Fansuri.


"Kedua produksi kontemporer ini berisi muatan kekayaan budaya Sumtera yang tercermin dalam seni silat, tari, dan musik dari Aceh dan Sumatra Barat," jelas Restu Kusumaningrum.

Saat Dress Rehearsal Under the Volcano dan Hikayat Perahu|The Tale of Boat yang akan tampil di Venice Biennale Teatro 2026, hadir pula sejumlah awak media yang diundang Bumi Purnati Indonesia untuk meliput acara tersebut, termasuk TravelPlus Indonesia.


Dalam siaran pers sebelumnya diinfomasikan bahwa dalam Biennale Venesia 2026 khusus untuk teater yakni Festival Teater Internasional Ke-54 (The 54th International Theatre Festival) akan menghadirkan 200 seniman dari seluruh dunia dalam 55 acara, termasuk 11 acara produksi dan ko-produksi, 10 perdana dunia (world premiere), 2 perdana Eropa, dan 4 perdana Italia.

Selain perwakilan dari Indonesia yakni  "Under the Volcano" dan "Hikayat Perahu|The Tale of Boat”, juga akan tampil teater dari Yunani, Jepang, India, Selandia Baru, Rwanda, Prancis, dan Italia.

Naskah & foto by: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180


Captions
:
1. Sepenggal adegan "Under the Volcano " (atas) & "Hikayat Perahu|The Tale of Boat” (bawah) saat Dress Rehearsal di Gedung Muhammad Mashabi, Jakpus, Selasa (9/6/2026).
2. Direktur Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Kemenekraf  Dadam Mahdar.
3. Produser Independen Bumi Purnati Indonesia Restu Kusumaningrum dengan sutradara dan seluruh pemain   “Under the Volcano”.
4. Sepenggal adegan " Under the Volcano”.
5. Sepenggal adegan "Hikayat Perahu|The Tale of Boat”.
6. Poster "Under the Volcano” dan "Hikayat Perahu|The Tale of Boat”.

Read more...

Sabtu, 06 Juni 2026

15 Fakta Pendaki Usia Senja di Indonesia, Nomor 10 Kangen Tapak Tilas


Pendaki usia senja adalah pendaki gunung yang berusia 50 tahun ke atas atau pra-lansia dan seterusnya yang masih melakukan pendakian gunung, khususnya di Tanah Air tercinta.

Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kategori umur lansia terbagi atas pra-lansia: usia 45 – 59 tahun (masa persiapan menuju lanjut usia);  lansia muda: usia 60 – 69 tahun;  lansia madya/tua: usia 70 – 79 tahun; dan lansia risiko tinggi (paripurna): isia 80 tahun ke atas.

Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia lewat pertemuan disengaja maupun tak disengaja dengan sejumlah pendaki usia senja saat melakukan pendakian dibeberapa gunung maupun diluar pendakian, sekurangnya ada limabelas (15) fakta terkait pendaki berusia senja yang belakangan ini marak membentuk komunitas di Indonesia.


Fakta yang pertama, ada pendaki usia senja yang memang ternyata baru memulai/menyukai dunia pendakian gunung pada usia senja (dulunya pun tidak pernah mengikuti atau menjadi anggota organisasi pencinta alam saat SMA ataupun kuliah).

Pemicunya antara lain karena berteman/berkomunitas dengan pendaki senja yang masih aktif, baru mengenal lalu jatuh hati dengan pendakian gunung, dan atau baru memiliki kesempatan melakukan pendakian gunung. Ada juga karena ingin anak atau cucunya tertarik dengan pendakian gunung lantaran banyak manfaatnya lalu mengajak buah hatinya mendaki.

Fakta kedua, ada pendaki usia senja yang kembali mendaki gunung setelah sekian lama vakum namun sewaktu muda pernah melakukan pendakian gunung (dulunya memang berlatar pencinta alam dan ada juga yang bukan pencinta alam).


Berikutnya atau fakta ketiga, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung tapi tidak berlatar anggota pencinta alam.

Pemicunnya antara lain karena rumahnya berada di kaki ataupun lereng gunung alias akamsi (anak kampung sini) sehingga sewaktu muda sudah sering mendaki gunung tersebut.

Fakta keempat, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung serta punya latar belakang sebagai anggota sispala (siswa pencinta alam) sewaktu SMA dan atau anggota mapala (mahasiswa pencinta alam) ketika kuliah serta memiliki profesi tertentu (diluar jurnalis/pewarta/wartawan).


Selanjutnya atau fakta kelima, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung serta punya latar belakang sebagai sispala/mapala, dan berprofesi sebagai wartawan/jurnalis outdoor activities termasuk pendakian gunung.

Poin fakta keempat dan kelima, boleh dibilang pendaki usia senja yang menjadikan kegiatan pendakian gunung bukan sekadar hobi melainkan sudah menjadi passion-nya alias gairah, api semangat, dan energi pendorong atau bisa dibilang sudah lama mendarah daging.

Fakta keenam, ada pendaki usia senja yang membentuk dan atau bergabung dengan komunitas antara lain Kumpul (Komunitas Pendaki 50+) atau usia 50 tahun ke atas, Pendaki Napas Tua, Pendaki U50+, Pendaki U60+, Pendaki Lawas, Pendaki Senja, dan lainnya.


Fakta ketujuh, ada pula pendaki usia senja yang memilih tidak membuat dan atau tidak bergabung dalam komunitas sebagaimana tercantum di poin fakta keenam.

Berikutnya atau fakta kedelapan, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan pembuatan kaos, bendera, stiker, dan atau merchandise komunitas untuk dijual dan digunakan anggota komunitasnya pada saat-saat pendakian bersama, kopdar (kopi darat), dan acara lainnya.

Fakta kesembilan, ada pendaki usia senja yang membuat WAG sebagai wadah komunikasi antar-penghuninya, berbagi informasi, dan lainnya.


Kumpul Bakal Tapak Tilas
Fakta kesepuluh, ada pendaki senja yang mengoordinasikan pendakian gunung bersama dalam kelompok besar (big group) atau rombongan.

Contohnya baru-baru ini, tepatnya diujung Mei 2026, Kumpul mengadakan pendakian bersama Gunung Gede via Salabinta (Salbin). Jumlah anggotanya yang ikut sekitar 30 orang.

Kabarnya mereka juga akan mengadakan pendakian tapak tilas ke Gunung Ciremai via Linggarjati, masih pada tahun ini. Flyer kegiatannya pun sudah muncul di WAG Kumpul dengan berbagai respons positif dan juga beberapa saran.

Diberi label tapak tilas lantaran sewaktu muda pernah mendaki gunung "A" lewat jalur "A" lalu setelah berusia senja kangen ingin mendaki gunung "A" lewat jalur "A" lagi bersama dengan rekan-rekan pendaki sekomunitas.


Sebagai informasi tambahan, penulisan yang benar/baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah "menggoordinasikan" bukan "mengkoordinir" dan satu lagi "tapak tilas" bukan "napak tilas". Oleh karenanya saya menggunakan kata "mengoordinasikan" dan "tapak tilas" sebagai edukasi penulisan yang benar.

Selanjutnya atau fakta ke-11, ada pula pendaki usia senja yang melakukan pendakian gunung sendiri ataupun dalam kelompok kecil (small group) lalu mengenakan atribut komunitas seperti kaos dan atau bendera komunitas.

Contohnya saya dari TravelPlus Indonesia yang mendaki Gunung Kembang via Lengkong sehari setelah salat Iduladha 1447 H/Mei 2026 di Garung dengan mengenakan kaos Kumpul lengan pendek berwarna merah kemudian membuat tulisan yang tayang di website TravelPlus Indonesia dan beberapa konten video di reels IG @adjitropis. Beberapa pendaki lainnya melakukan pendakian ke Gunung Arjuna juga dengan mengenakan kaos Kumpul lengan panjang merah bahkan membawa bendera Kumpul.


Fakta ke-12, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan acara
gathering (kumpul bersama) ataupun sekadar kopdar antara lain lewat kegiatan camping ceria (camcer) sebagai ajang tatap muka dan temu kangen antar-sesama anggota komunitas.

Fakta ke-13, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan kegiatan bermuatan sosial seperti membagikan paket berbuka puasa saat bulan Ramadan ataupun kegiatan bermuatan ramah lingkungan seperti aksi tanam pohon dan atau aksi bersih sampah di gunung.

Berikutnya atau fakta ke-14, ternyata masih banyak pendaki usia senja yang belum mengetahui bahwa ada sejumlah komunitas pendaki pra-lansia dan seterusnya yang terbuka untuk umum sesuai dengan usianya, seperti Kumpul, Pendaki U60+, dan lainnya lantaran gaptek (gagap teknologi), tidak aktif bermedsos, keterbatasan infomasi, dan lainnya.


Berhenti & Aktif Mendaki
Terakhir atau fakta yang ke-15, banyak juga pendaki usia senja yang ketika muda pernah mendaki dan atau aktif mendaki gunung namun setelah memasuki usia senja berhenti melakukan pendakian dengan berbagai sebab seperti sudah tidak kuat lagi, ada penyakit tertentu, kondisi ekonomi, hilang gairah/tidak punya minat lagi, dan lainnya.

Namun banyak pula yang masih aktif dan atau kembali aktif mendaki dikarenakan beberapa alasan, di antaranya supaya terpacu untuk rajin ber-olgapis alias olah raga tipis-tipis seperti jalan kaki/jalan santai, joging/lari santai/pelan, renang, dan lainnya sehingga tetap sehat dan aktif sekaligus sebagai persiapan fisik sebelum melakukan pendakian.

Tak sedikit pula yang beralasan sekaligus ingin berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalaman tentang pendakian yang pernah dilakukan kepada rekan pendaki lain terutama yang lebih muda atau baru menyukai dunia pendakian saat usia sudah senja, dan atau pendaki yang belum pernah melakukan pendakian ke gunung-gunung tertentu.


Menariknya lagi, ada pula pendaki usia senja yang memang sejak muda sangat aktif mendaki dan sampai saat ini tetap begitu (masih aktif mendaki) dengan tujuan bukan hanya berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalamannya di bidang pendakian gunung pun sebagai ajang bertadabur alam dengan tujuan supaya lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta, Allah SWT dan sekalian menyebarluaskan keindahan/keistimewaan gunung-gunung di Tanah Air supaya pendaki dalam (nusantara) dan luar negeri (mancanegara) tertarik mendaki gunung-gunung di Indonesia, serta tak lupa mengimbau setiap pendaki gunung atau wisatawan minat khusus untuk mengindahkan pendakian yang ramah lingkungan atau pro konservasi alam lewat bermacam tulisan/artikel memarik, informatif, dan kreatif yang tayang di media online maupun dalam bentuk berbagai konten video dan lainnya yang kemudian diunggah di ragam medsosnya.

Itulah 15 fakta tentang pendaki berusia senja di Indonesia hasil amatan saya yang kini masuk dalam kategori pendaki gunung pra-lansia (umur sudah lebih dari separuh abad) namun masih aktif mendaki dan berbagi pengalaman sebagaimana tercantum pada fakta yang kelima dan penjelasan terakhir pada fakta yang ke-15.

Semoga bermanfaat🙏.

"Usia Boleh Senja, Semagat Tetap Pagi".

Naskah Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Foto & video: dok. Kumpul dalam pendakian bersama Gunung Gede via Salbin.


Captions
:
1-6. Pendakian bersama Gunung Gede via Salbin yang dilakukan sekitar 30 anggota Kumpul (Komunitas Pendaki 50+) dan Pendaki U60+ baru-baru ini.
7. Saya pendiri komunitas pegiat outdoor activities Pinisi-OAC, Kembara Tropis, dan website TravelPlus Indonesia yang juga tergabung dalam Kumpul berfoto di puncak Gunung Kembang berlatar Gunung Sindoro memakai kaos Kumpul. (foto: dok rekan pendaki)
8. Anggota Kumpul di puncak Gunung Arjuno mengenakan kaos Kumpul dan membentangkan bendera Kumpul. (foto: dok rekan pendaki)
9. Sejumlah anggota Kumpul dan Pendaki U60+ berfoto bersama di puncak Gunung Gede.
10. Buat saya pendakian gunung bukan sekadar hobi tapi sudah menjadi my passion. (foto: dok rekan pendaki)
11. Sepenggal video anggota Kumpul dan Pendaki U60+ yang ikut dalam pendakian bersama Gunung Gede via Salbin.

Read more...

Kamis, 04 Juni 2026

11 Multiplier Effect Salat Id di Garung dengan View Dua Gunung bagi Pariwisata Wonosobo


Pelaksanaan salat id atau salat sunah dua rakaat yang dikerjakan pada Idulfitri (1 Syawal) atau Iduladha (10 Zulhijah) di lapangan Garung setiap tahun, membuahkan multiplier effect cukup signifikan bagi sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo.

Amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada sebelas (11) multiplier effect yang ditimbulkan dari kombinasi antara kegiatan ibadah dalam Islam ini dengan lokasi penyelenggaraannya yang istimewa di Garung yang memiliki pemandangan megah berupa dua gunung berketinggian di atas 3000 Mdpl tersebut, yakni Gunung Sumbing dan Sindoro.

Apa saja ke-11 efek positif yang ditimbulkannya? Sebelum TravelPlus Indonesia jelaskan satu persatu, ada baiknya kita pahami terlebih dulu multiplier effect dalam dunia pariwisata.


Multiplier effect
atau dalam bahasa Indonesia "efek pengganda" merupakan efek/dampak positif yang muncul dan dirasakan berbagai pihak akibat dari adanya satu kegiatan atau daya tarik buatan manusia yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan di tempat tersebut.

Contohnya konser musik ataupun festival yang menampilkan antara lain band/penyanyi ternama yang memiliki banyak peminat atau yang tengah naik daun di venue indoor ataupun outdoor.

Ada pula yang bilang multiplier effect adalah efek/dampak positif dari adanya daya tarik alam yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan saat mengunjungi objek tersebut.

Contohnya pemandangan alam yang indah dari gunung-gunung yang ramah bagi pendaki pemula seperti Gunung Papandayan di Garut, Jabar; Prau (Kejajar, Wonosobo, Jateng); Andong (Ngablak, Megelang, Jateng); Kembang (via Lengkong, Wonosobo, Jateng); Luhur (Sukamakmur, Bogor, Jabar); Artapela (Kertasari, Bandung, Jabar); Gunung Batur di Kintamani, Bangli, Bali; dan gunung lainnya yang mampu menarik minat banyak pendaki untuk mendaki dan menggapai puncak gunung-gunung tersebut.


Kombinasi Daya Tarik
TravelPlus Indonesia sendiri berpendapat multiplier effect itu merupakan efek/dampak positif yang muncul dan dirasakan berbagai pihak akibat dari adanya kegiatan (daya tarik buatan manusia) ataupun daya tarik alam dan atau perpaduan antara dua daya tarik buatan manusia maupun kombinasi daya tarik buatan manusia dengan daya tarik alam yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan di lokasi tersebut.

Contoh perpaduan 2 kegiatan (daya tarik buatan manusia) antara lain pagelaran musik di destinasi buatan yang menawan seperti Borobudur Symphony di Candi Borobudur, Magelang, Jateng serta Prambanan Jazz Festival dan Swara Prambanan di Candi Prambanan, Jogja dan Jateng.

Selain itu beberapa sport tourism seperti Borobudur Marathon di Magelang, Jateng serta MotoGP dan World Superbike (WSBK) di Mandalika Circuit, Lombok, NTB.

Adapun contoh kombinasi daya tarik buatan manusia dengan daya tarik alam antara lain Jazz Atas Awan dalam Dieng Culture Festival di Wonosobo, Jateng; Banyuwangi Beach Jazz Festival (pantai di Banyuwangi, Jatim); dan Jazz Gunung Series di Gunung Slamet, Jateng dan Ijen, Jatim.


Contoh lainnya sejumlah sport tourism seperti Tour de Singkarak di Sumbar; Tour de Banyuwangi Ijen (Banyuwangi, Jatim); Ironman Bintan (Bintan, Kepri); Belitong Geopark Ultra Run (Belitung, Babel); dan
Liga Selancar Dunia atau World Surf League (WSL) Krui Pro di Pantai Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.

Sementara yang menggabungkan kegiatan ibadah Islam dengan keindahan alam, satu di antaranya adalah pelaksanaan salat id di lapangan Garung yang berada di Kampung/Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jateng.

Pantauan langsung TravelPlus Indonesia, salat Iduladha 1447 H tepatnya pada Rabu, 27 Mei 2026 di lapangan Garung yang area utamanya mampu menampung hingga 7.000 orang, jemaahnya sampai penuh bahkan meluber kemana-mana.


Kabarnya total jemaah yang hadir membludak kurang lebih 27.000 orang hingga lapangan tersebut tidak bisa menampung dan akhirnya jemaah banyak yang salat di jalanan, halaman depan rumah penduduk bahkan di bagian atas rumah/bagunan milik warga yang bertingkat maupun di
rooftop-nya.

Diminati Ribuan Wisatawan
Mengapa pelaksanaan salat id di Garung masih begitu diminati ribuan wisatawan bukan cuma lokal pun nusantara bahkan mancanegara? Ya karena lokasinya memiliki daya tarik alam yang menawan, berupa megahnya pemandangan dua gunung yang masuk daftar gunung populer di Wonosobo yakni Gunung Sumbing di bagian Timur dan Gunung Sindoro di Barat. Ditambah suasananya yang syahdu (cuacanya sejuk dingin) dan punya muatan syiar Islam yang meneduhkan.

Ketiga pemicu itulah yang membuat TravelPlus Indonesia bukan sekadar datang ke Garung dan melaksanakan salat Iduladha tahun ini, pun meliputnya hingga menjadi beberapa tulisan dan konten video.


Apalagi kegiatan tersebut kerap terekpos dalam berita maupun artikel di sejumlah media online bahkan selalu viral di ragam medsos disertai dengan predikat atau julukan yang istimewa yakni "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" sebagaimana tertera di gapura atau gerbang/pintu masuk di jalan menuju lapangan Garung.

Berkat semua itu akhirnya banyak wisatawan yang belum pernah menjadi penasaran, lalu datang. Bahkan banyak wisatawan yang bertandang berkali-kali untuk merasakan lagi salat id di Garung, Wobosobo yang memang menghadirkan vibes yang berbeda.

Lalu apa saja 11 multiplier effect dari kegiatan salat id di kampung Garung tersebut buat sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo?


Namanya Mendunia
Efek positif yang pertama, bikin nama Garung mendunia. Bukan cuma lapangan Garung, pun kampung/dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, dan nama Provinsi Jawa Tengah ikut melangit. Bahkan 2 gunung di Wonosobo yang berada di depan dan belakang lapangan Garung yakni Gunung Sindoro dan Sumbing juga ikut terdongkrak lantaran mendapatkan banyak publikasi baik dari sejumlah wartawan media online maupun netizen/jemaah/wisatawan lewat ragam medsos seperti FB, IG, TikTok, dan YouTube.

Sejumlah objek lain seperti beberapa masjid, homestay, kedai kopi, pasar, tempat oleh-oleh, tempat kuliner, BC pendakian Gunung Sumbing via Garung, dan lainnya, termasuk yang ada di luar Garung juga ikut terangkat namanya dikarenakan tersiar lewat mulut ke mulut maupun terpublikasikan lewat tulisan, foto, dan konten video di berbagai media tersebut.

Dampak positif kedua, meningkatkan kunjungan wisatawan ke Garung yang otomatis berujung pada penambahan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Wobosobo.

Wisatawan yang datang bukan cuma dari berbagai daerah di Jateng atau disebut wisatawan lokal (wislok) termasuk warga setempat yang merantau lalu mudik untuk berlebaran di kampung halaman, pun wisatawan dari luar Jateng seperti DKI Jakarta, Banten, Jabar bahkan dari Sumatra seperti Lampung, Sumsel, Riau, dan Sumbar serta beberapa provinsi dari pulau lainnya atau juga disebut wisatawan nusantara (wisnus). Bahkan pernah sampai didatangi sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) dari Malaysia, beberapa negara dari kawasan Timur Tengah, dan Afrika.


Berikutnya atau efek positif yang ketiga, menarik kunjungan wisatawan minat khusus ke objek wisata pendakian Gunung terutama pendakian Gunung Sumbing, Sindoro dan gunung-gunung di sekitarnya antara lain Gunung Kembang.

Buktinya pada pelaksanaan salat id di lapangan Gaung tahun ini beberapa wisnus meluangkan waktu mendaki gunung. Ada yang nanjak Gunung Sumbing, Sindoro, dan tak sedikit yang memilih mendaki Gunung Kembang setelah ataupun sehari selepas salat Iduladha di Garung.

Dampak positif keempat, menarik kunjungan wisatawan ke objek-objek wisata non pendakian antara lain ke pemandian United Hotspring yang berada di Jl. Soeparjo Roestam, Andongsili, Wonosobo dengan harga tiket Rp 25 per orang, ke perkebunan teh Tambi, dan lainnya.


Efek positif kelima, meningkatkan hunian homestay atau penginapan yang ada di Garung dan daerah di sekitarnya seperti KunangKunang Homestay, Anjani Homestay, Berlin Homestay, Elkana View Homestay, dan lainnya.

Selanjutnya atau dampak positif yang keenam, meningkatkan penjualan kuliner.

Faktanya banyak wisatawan yang mampir ke street food warga yang ada di sepanjang jalan menuju lapangan Garung sebelum maupun sesudah salat id. Banyak pula yang sarapan dan santap siap dengan sego megono atau nasi megono khas Wobosobo dengan bermacam menu terutama tempe kemul juga khas Wobosobo di rumah-rumah makan lokal, dan ngopi santai di Kedai KunangKunang (K3} di samping Masjid Al-Amin. Pilihan lainnya, ada yang makan di warung pecel, bakso, nasgor, atau belanja di mini market yang ada di jalan raya di depan Garung.

Tak cuma itu, tak sedikit juga wisnus yang kulineran mie ongklok khas Wobosobo antaran lain ke mie ongklok Longkrang di Wonosobo Timur serta ke bebek dan ayam goreng Mas Budi di Kertek, Wonosobo.

Efek positif ketujuh, meningkatkan penjualan dari sektor ekonomi kreatif (ekraf) yang erat kaitannya dengan pariwisata.


Buktinya banyak juga wisnus yang belanja outfit thrifted/thrift items atau barang bekas untuk kegiatan outdoor yang masih sangat bagus seperti jaket/kaos untuk mendaki gunung di toko barang hemat (thrift shop) Agung yang berada sekitar 50 meter dari Masjid Al-Amin.

Ada juga yang membeli topi di toko serba ada di depan jalan raya dan atau menyewa peralatan mendaki di rental outdoor dan membeli aneka merchandise yang ada di Garung dan basecamp (BC) gunung lainnya.

Selain itu banyak juga yang memborong aneka oleh-oleh khas Wonosobo antara lain carica, opak, teh purwaceng dan lainnya di Sinsu Park yang beralamat di Jalan Raya Sindoro-Sumbing KM 17 atau di Pasar Reco, pasar tradisonal yang berada tak jauh dari Garung.


Dampak positif kedelapan, meningkatkan permintaan moda transportasi baik umum maupun carteran.

Faktanya banyak wisnus yang datang dengan menggunakan bus umum dari daerah asal ke Terminal Mendolo, Wonosobo lalu disambung naik bus ke Garung. Ada juga yang men-carter mobil milik warga Garung dari Terminal Mendolo ke Garung dan sebaliknya.

Daya Tarik Bertambah
Berikutnya atau efek positif yang kesembilan, menambah daya tarik dan jenis wisata yang sudah ada di Garung yang selama ini dikenal sebagai lokasi BC pendakian Gunung Sumbing, objek wisata alam, dan agrowisata kemudian bertambah menjadi destinasi wisata yang kental bernuansa religi Islam saat Idulfitri dan Iduladha dengan adanya pelaksanaan salat id di lapangan Garung setiap tahun.


Dampak positif kesepuluh, memicu
tour/trip operator (TO) untuk membuat paket open trip (OT) salat id di lapangan Garung plus mendaki gunung.

Buktinya ada TO Indonesian Mountains yang mengemas OT tersebut saat Iduladha tahun ini ditambah dengan pendakian Gunung Kembang dengan total durasi 4 hari (Rabu - Sabtu).

Terakhir atau efek positif yang kesebelas, memacu semangat masyarakat Garung berikut panitia pelaksana salat id, dan stakeholder pariwisata setempat untuk terus berbenah menjadi tuan rumah yang benar-benar semakin siap, di antaranya mengatur pelaksanaan salat id dan menata kampung dan desa termasuk akomodasi, masjid, dan tempat jualan street food-nya menjadi lebih bersih, rapih, dan tertata sehingga membuat wisatawan yang datang betah, terkesan, lalu belanja, dan ingin datang lagi.


Bukan cuma itu. sejumlah warga Garung bukan hanya menyediakan tikar untuk alas salat id bagi wisatawan yang tidak kebagian tempat di lapangan Garung lalu salat id di jalanan atau di depan rumahnya pun menyuguhkan minuman teh dan sarapan dengan aneka menu khas rumahan, salah satunya di rumah Pak Abud yang memiliki usaha antar-jemput pendaki gunung dari Terminal Mendolo dengan mobil luxio dan atau pickup (bakter) ke BC Garung Gunung Sumbing atau ke BC gunung-gunung lainnya yang ada di Wonosobo. MasyaAllah baik dan ramahnya.

Kesebelas multiplier effect dari pelaksanaan salat id di Garung itu, tentu saja akhirnya bermuara pada peningkatkan jumlah kunjungan wisatawan bagi sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo dan tak kalah penting sekaligus membuahkan penambahan pendapatan bagi masyarakat setempat sekaligus menjadi ladang pahala lantaran sudah berbagi kebaikan dan keramahan yang tulus kepada sejumlah wisatawan.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180


Captions
:
1. Jumlah jemaah/wisatawan yang mengikuti pelaksanaan salat Iduladha 1447 H, Rabu, 27 Mei 2026 di lapangan Garung, Wobosobo membludak sampai banyak yang salat id di jalanan dan depan rumah warga.
2. Selfie bareng bestie ba'da salat Iduladha 1447 H di Garung.
3. Masjid Al-Amin berlatar Gunung Sindoro namanya ikut terdongkrak saat pelaksanaan salat id di lapangan Garung setiap tahun.
4. Peserta open trip (OT) salat Iduladha 1447 H plus mendaki Gunung Kembang yang dirancang tour operator (TO) Indonesian Mountains, berfoto bersama di tepi lapangan Garung. (foto: dok/rekan jemaah/wisnus)
5. Selain di jalanan dan rumah warga, banyak pula wisatawan/jemaah yang salat Iduladha 1447 H di atas bangunan bertingkat karena lapangan Garung sudah penuh.


6. TravelPlus Indonesia bukan sekadar datang ke Garung
dan melaksanakan salat Iduladha tahun ini, pun meliputnya hingga menjadi beberapa tulisan dan konten video.
7. Pintu gerbang bertuliskan "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" di jalan menuju lapangan Garung yang berlatar Gunung Sumbing.
8. Usai salat Iduladha 1447 H di Garung. banyak juga wisatawan minat khusus yang mendaki gunung di sekitar Wonosobo, antara lain Gunung Kembang seperti yang dilakukan TravelPlus Indonesia.
9. KunangKunang Homestay dekat Kedai KunangKunang (K3) dan Masjid Al-Amin menjadi salah penginapan yang ramai diminati wisatawan yang ingin salat id di Garung.
10. Sebelum dan sesudah salat id di Garung, banyak juga wisatawan yang ngopi dan ngemil santai di K3.
11. Selepas salat id di Garung ataupun mendaki gunung terdekat, sejumlah wisatawan kulineran mie ongklok khas Wobosobo, salah satunya di Mie Ongklok Longkrang.
12. Banyak juga wisatawan yang borong aneka oleh-oleh khas Wobosobo antara lain carica, opak, dan teh purwaceng usai salat id di Garung.
13. Gapura atau gerbang/pintu masuk menuju lapangan Garung yang bertuliskan "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" jadi spot buatan yang diminati jemaah/wisatawan untuk foto bersama.
14. Sepenggal video jemaah mengaminkan doa yang disampaikan khatib salat Iduladha 1447 H di Garung.
15. Saya dari TravelPlus Indonesia berfoto berlatar Gunung Sindoro di rooptop Anjani Homestay di Garung usai salat Iduladha 1447 H. (foto: dok.rekan jemaah/wisnus).




Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP