. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Senin, 09 Maret 2026

Enam Kiat Hidupkan Konsep Music Tourism di Hari Musik Nasional


Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret sangat tepat bila dimanfaatkan sebagai momentum untuk lebih serius menghidupkan konsep music tourism atau pariwisata berbasis musik di Tanah Air.

Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada enam kiat untuk menghidupkan konsep tersebut.

Kiat pertama, terus mengasah kreativitas dalam menciptakan sesuatu terkait musik antara lain dengan rutin menggelar lomba lagu, foto, video, dan atau tulisan yang punya kaitan dengan musik, pariwisata, ekonomi kreatif, dan budaya dengan tujuan mempublikasikan daya tarik yang ada, baik itu alam, budaya, maupun buatan.

Kiat kedua, rajin membuat ajang lomba penyanyi/band bermacam genre musik baik itu dangdut, pop, rock, jazz, klasik, melayu, keroncong, musik tradisional daerah, dan genre lainnya dengan tujuan mencetak SDM dibidang musik khususnya penyanyi/band yang berkualitas dan punya manfaat bagi kemajuan kepariwisataan dan kebudayaan Indonesia.


Berikutnya atau kiat ketiga, memperbanyak/kontinyu menggelar festival musik atau konser musik yang berkualitas baik di venue outdoor, indoor ataupun di objek wisata alam, budaya, dan atau buatan yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Contohnya
Musikoloji salah satu cara menghidupkan malam di Museum Benteng Vredeburg, Jogja dan konser/pertunjukan musik lainnya.

Lewat cara ini selain bermanfaat sebagai sarana hiburan, pun sekaligus dapat membangun branding dan citra kreatif suatu daerah/destinasi wisata. Adapun keuntungan yang didapat, selain bisa menjaring wisatawan baik lokal, Nusantara maupun mancanegara yang berujung pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat pun sekaligus dapat mempromosikan daya tarik alam budaya dan buatan setempat. Intinya berdampak banyak/berganda atau multiplayer effect.

Keempat, terus mencetak SDM dibidang penyelenggaraan festival musik/konser yang bermutu dan punya wawasan bagus tentang kepariwisataan.

Selanjutnya  atau kiat kelima, menyediakan dan memperbanyak venue festival musik/konser yang berkualitas nasional bahkan internasional di berbagai kota di Tanah Air. Jangan hanya terpusat di beberapa kota utama saja.


Daya Tarik Berbasis Musik
Keenam atau kiat yang terakhir, terus mengemas dan meningkatkan kualitas baik fasilitas maupun pelayanan di berbagai daya tarik wisata yang ada kaitannya dengan musik di Tanah Air.

Misalnya kalau di Jakarta antara lain  Museum Sumpah Pemuda atau biasa disingkat Muspada. Kenapa? Karena di dalam  museum yang beralamat Jalan Kramat Raya No.106, Jakarta Pusat ini menyimpan sejumlah koleksi yang berhubungan dengan Wage Rudolf (WR) Supratman, yaitu komposer besar yang menciptakan lagi Kebangsaan "Indonesia Raya" yang tanggal kelahirannya ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Musik Nasional tanggal 9 Maret.

Di Jawa Timur antara lain ada Museum Musik Indonesia (MMI) di Kota Malang dan Museum Musik Dunia di Kota Batu.

Di Jawa Barat, tepatnya di Bandung ada Taman Musik Bandung. Sedangkan di Maluku tepatnya di Kota Ambon yang berpredikat Kota Musik Dunia antara lain ada destinasi atau desa yang berbasis musik  yakni Desa Tuni di Kecamatan Leitimur Selatan yang identik dengan alat musik suling bambu dan Desa Amahusu dengan musik ukulele-nya.


TravelPlus Indonesia
sendiri turut menyemarakan sekaligus menghidupkan Hari Musik Nasional 2026 ini dengan membuat tulisan ini dan lagu bertajuk 'Aduh Nikmatnya' yang kemudian diracik menjadi konten video dengan visual pendakian Gunung Argopuro lewat jalur pendakian terpanjang se-Jawa dari Baderan - Bermi di Jawa Timur.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, TikTok @FaktaWisata.id

Captions:
1. Musikoloji salah satu cara menghidupkan malam di Museum Benteng Vredeburg, Jogja.
2. Video salah satu band musik cadas dalam acara bertajuk Knights League – Charity for Sumatra di M Bloc Space. Jakartaz belum lama ini.
3. TravelPlus Indonesia di salah satu ruang Muspada Jakarta. (foto: dok. sahabatmuseum)
4. Cover konten video lagu Aduh Nikmatnya karya TravelPlus Indonesia dengan visual pendakian Gunung Argopuro lewat jalur pendakian terpanjang se-Jawa dari Baderan - Bermi, Jawa Timur.


Read more...

Senin, 02 Maret 2026

Bedah Buku BILA ESOK ANAK TIADA Karya Nuy Nagiga


Berawal dari buku/novel BILA ESOK IBU TIADA  dan BILA ESOK AYAH TIADA yang terbit bersamaan. Kemudian produser mengadaptasi salah satu novel itu menjadi film layar lebar yang ditonton hampir 4 juta orang di bioskop.

Selepas itu sang produser berdiskusi dengan penulis, maka tercetuslah ide novel BILA ESOK ANAK TIADA.

Novel BILA ESOK ANAK TIADA baru saja terbit tahun 2026. Acara bedah novel tersebut sekaligus ngabuburit puasa Ramadan berlangsung baru-baru ini, Sabtu 21 Februari 2026 di Gramedia Depok dengan narasumber sang penulis novel Nuy Nagiga.


Menurut Nuy Nagiga novel terbarunya ini mengusung tema keluarga dengan tokoh utama dua remaja kakak adik dengan ayah ibunya.

"Isi cerita sangat relate dengan kehidupan nyata," terangnya.

Dalam novel tersebut dikisahkan orang tua sibuk sehingga tidak pernah tahu apa yang dilakukan anak-anak. "Padahal anak yang berprestasi harus mendapat apresiasi," ungkapnya seraya menambahkan bahwa lebih baik mencintai dan penuh perhatian tanpa menunggu kehilangan.


Hal yang lebih menarik dalam novel ini adalah ketika rumah tidak baik-baik saja, si anak bukan lari dan berbuat maksiat.

Diceritakan pula di dalam novelnya sepanjang hidup si anak bertemu dengan orang-orang yang penuh inspiratif sehingga memotivasinya menjadi lebih dewasa.

Lewat novel ini Nuy yang merupakan alumnus IISIP Jakarta angkatan 91 berharap bisa mengajak orang tua dan anak menjadi support system yang saling merangkul.


Sebagai informasi tambahan, novel setebal 250 halaman ini diterbitkan oleh
Aksaraplus dan bisa dibeli di toko buku Gramedia seluruh Indonesia dan secara online di toko Coverdepan. Harganya cuma Rp 78.000 per buku.

Pembaca TravelPlus Indonesia, traveler maupun masyarakat umum peminat novel yang ingin memiliki buku edisi tanda tangan penulis, bisa DM di Instagram @nuy_nagiga. (Adji TravelPlus IG @adjitropis & TikTok @FaktaWisata.id)

Sumber & foto: press release dari sang penulis.

Captions:
1 Nuy Nagiga menjadi narsum bedah buku/novel karya terbarunya yang bertajuk BILA ESOK ANAK TIADA.
2. Nuy Nagiga memperkenalkan novel terbarunya.
3. Nuy Nagiga menandatangani novel tersebut buat pembeli.
4. Novel terbaru karya Nuy Nagiga tersebut bisa di toko buku Gramedia seluruh Indonesia dan secara online di toko Coverdepan dengan harga Rp 78.000 per buku.


Read more...

Sabtu, 28 Februari 2026

Masjid dan Musala Berlatar Gunung Ini, Pikat Hati Pendaki


Salah satu keistimewaan sebuah masjid maupun musala adalah tempat lokasi atau berdirinya, antara  lain masjid maupun musola yang dibangun/didirikan di kaki, lereng bahkan di puncak gunung. Alhasil membuahkan pemandangan berlatar belakang gunung menjulang, lautan awan, dan atau keindahan alam sekitarnya yang berhasil memikat hati wisatawan termasuk para pendaki.

Sebelum TravelPlus Indonesia membeberkan masjid dan musala apa saja yang memiliki panorama/pemandangan berlatar gunung, lautan awan, dan atau keindahan alam sekitarnya, ada baiknya kita pahami terlebih dulu faktor apa saja yang membuat Indonesia memiliki sejumlah masjid dan musala berlatar gunung.

Amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada dua faktor penyebabnya. Faktor pertama, karena populasi penduduk Indonesia yang muslim atau beragama Islam diperkirakan mencapai lebih dari 240 juta jiwa hingga awal 2026 atau mencakup sekitar 87% dari total penduduk Indonesia. Dengan kata lain Islam sebagai agama mayoritas di Tanah Air tercinta ini.

Lantaran itu, jumlah rumah ibadah umat Islam yakni masjid dan musala tentunya juga besar. Berdasarkan data Sistem Informasi Masjid (SIMAS) Kementerian Agama per Januari 2026, jumlah masjid dan musala yang terdaftar resmi di Indonesia mencapai 707.317 unit.  Bila ditotal dengan yang belum terdaftar diperkirakan mencapai lebih dari 800.000 unit. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia salah satu negara dengan jumlah masjid terbanyak di dunia.

Faktor kedua, lantaran geografis Indonesia bergunung-gunung sekaligus menjadi bagian utama dari cincin api Pasifik (ring of fire) dan memiliki sekitar 127 gunung api aktif yang tersebar dari Jawa, Sumatera, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tenggara.

Banyak dusun dan desa yang dihuni penduduk berada di kaki bahkan lereng gunung. Oleh karena itu banyak pula masjid dan musala yang dibangun sebagai tempat beribadah di kaki bahkan lereng gunung yang membuahkan pemandangan indah berlatar gunung, lautan awan dan keindahan alam lainnya.

Berdasarkan amatan langsung TravelPlus Indonesia ditambah data dari berbagai sumber, sekurangnya ada belasan masjid dan musala dengan latar gunung.

Pertama, Masjid Baitut Taqwa. Masjid yang berada di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah (Jateng) ini memiliki tiga keistimewaan tersendiri berdasarkan tempat berdirinya.

Keistimewaannya yang pertama, berada di dusun yang mendapat julukan 'Nepal van Java' sehingga masjid tersebut juga kerap disebut Masjid Nepal van Java.

Keistimewaan kedua, karena Dusun Butuh merupakan dusun tertinggi di Kabupaten Magelang di lereng Gunung Sumbing, oleh karenanya Masjid Baitut Taqwa yang berada di dusun tersebut memiliki pemandangan indah berlatar belakang Gunung Sumbing.

Keistimewaannya yang ketiga, karena berada di lereng Gunung Sumbing tak jauh dari basecamp pendakian Gunung Sumbing via Kaliangkrik, membuat masjid yang dikelilingi rumah penduduk ini kerap diselimuti kabut dan berudara dingin sehingga tidak memerlukan alat pendingin ruangan atau AC.

Amatan TravelPlus Indonesia, banyak wisatawan yang bertandang ke Nepal van Java sekaligus mampir ke Masjid Baitut Taqwa untuk menunaikan salat wajib dan sunah. Begitupun dengan para pendaki, sebelum ataupun sesudah melakukan pendakian.

Kedua, Masjid Al-Barokah. Masjid yang berada di Kampung 4, Kota Pagar Alam, Sumatra Selatan (Sumsel) ini juga memiliki sekurangnya tiga  keistimewaan.


Keistimewaannya yang pertama, meskipun terbilang berukuran kecil seperti musala namun pemandangan yang ditawarkan masjid ini sangat mahal (besar) yakni berlatar Gunung Dempo.

Keistimewaan yang kedua, berada dekat sekali dengan basecamp pendakian Gunung Dempo via Kampung 4. Boleh dibilang masih menjadi bagian dari kompleks BC tersebut.
.
Keistimewaannya yang ketiga, dekat dengan hamparan perkebunan teh yang menambah daya pikatnya.

Amatan TravelPlus Indonesia, selain warga lokal tak sedikit pendaki yang menunaikan salat wajib berjemaah di masjid tersebut sebelum ataupun setelah melakukan pendakian.

Ketiga, Masjid Thoriqul Huda. Masjid yang berada di Dusun Anggrunggondok, Desa Reco, Kec. Kertek, Kab. Wonosobo, Jateng  ini juga memiliki beberapa keistimewaan antara lain berada sangat dekat dengan basecamp (BC) pendakian Gunung Sindoro via Alang-alang Sewu. Lantaran berada di kaki Gunung Sindoro membuat masjid yang terbilang besar dan cukup megah ini kerap diselimuti kabut dan berudara dingin.

Amatan TravelPlus Indonesia, meskipun di BC Alang-alang Sewu tersedia musala namun banyak pendaki yang memilih salat berjemaah di Masjid Thoriqul Huda karena fasilitasnya lebih nyaman.

Keempat, Masjid Jabal Nur Hidayatullah. Masjid yang berada di Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim) ini juga punya beberapa keistimewaan antara lain berada di Dataran Tinggi Tengger, tepatnya di ketinggian lebih dari 2.000 Mdpl sehingga kerap diselimuti kabut dan berudara dingin. Bahkan disebut-sebut sebagai masjid tertinggi di Pulau Jawa.

Selain itu dari masjid ini menghadirkan pemandangan alam pegunungan yang menawan berupa perkebunan teras khas masyarakat Tengger dengan latar belakang Gunung Semeru, berikut Mahameru sebagai puncaknya atau atapnya Jawa.

Kelima, Masjid Al Ikhlas. Masjid yang berada di tengah perkebunan tak jauh dari jalan raya, tepatnya di Desa Buluharjo, Kec. Plaosan, Kab. Magetan, Jatim ini juga tak kalah istimewanya.

Masjid yang kerap disebut Masjid Kubah Putih ini menawarkan pemandangan indah berlatar Gunung Lawu dan Gunung Mongkrang.

Masjid di Puncak Gunung
Keenam, Masjid Sunan Muria. Masjid ini juga istimewa karena berada di puncak  Pegunungan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kab. Kudus, Jateng.

Ketujuh Masjid Agung Solok Selatan. Masjid yang berada di kawasan perkebunan teh PT Mitra Kerinci, Kecamatan Sangir, Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat (Sumbar) ini juga memiliki beberapa keistimewaan antara lain disebut Masjid Agung Kebun Teh karena berada di perkebunan teh.

Selain itu menawarkan pemandangan indah berlatar Gunung Kerinci yang merupakan gunung api tertinggi di Indonesia sekaligus atapnya Sumatra.

Kedelapan, Masjid Jami' Darussalam Koto Baru. Masjid yang berada di pinggir jalan raya antara Kota Padang Panjang dan Kota Bukittinggi dekat dengan pasar Koto Baru, tepatnya di Nagari Koto Baru, Kec. X Koto, Kab. Tanah Datar, Sumbar ini juga memiliki beberapa keistimewaan.

Disamping mempunyai gugusan kubah bak buah pinang berwarna kemerahan, masjid ini pun menawarkan pemandangan  dengan latar Gunung Singgalang.

Amatan TravelPlus Indonesia, banyak pendaki sebelum atau sesudah melakukan pendakian Gunung Singgalang maupun Gunung Marapi yang singgah ke masjid ini untuk salat berjemaah.

Kesembilan, Masjid Nurul Huda. Masjid yang berada di Dusun Bambangan, Desa Kutabawa, Kec. Karangreja, Kab. Purbalingga, Jateng ini juga punya beberapa keistimewaan antara lain berada di dekat BC pendakian  Gunung Slamet via Bambangan, Desa Kutabawa, Purbalingga sehingga kerap digunakan pendaki untuk salat berjemaah sebelum ataupun sesudah melakukan pendakian.

Keistimewaan lainnya karena berada di jalur pendakian utama Gunung Slamet, masjid ini pun menawarkan pemandangan langsung ke arah Gunung Slamet yang gagah.

Kesepuluh, masjid  berpredikat di atas awan. Contohnya Masjid Jami Aminatul Jannah yang berada di Rest Area Sumber Jaya, Lampung Barat, Lampung.

Selanjutnya Masjid Al Ikhlas yang berada di ketinggian 1.200 Mdpl di pegunungan Dusun Bukit Tabuan, Desa Bukit, Kabupaten Karangasem, Bali dan sekaligus  menjadi masjid tertinggi di Pulau Dewata.

Contoh lainnya Masjid Rahmatan Lil 'Alamin yang berada di objek wisata negeri di atas awan Gunung Luhur, Kabupaten Lebak, Banten.


Musala di Gunung
Kesebelas, musala di gunung. Contohnya  antara lain Musala Gunung Talang di Alun-alun Gunung Talang yang kerap disebut "lapangan bola" di ketinggian 2.500-an Meter di atas permukaan laut (Mdpl) atau beberapa ratus meter menjelang puncak Gunung Talang lewat jalur pendakian dari Aia Batumbuak, Kec. Gunung Talang, Kab. Solok, Sumbar.

Musala berukuran 2,4 x 3,5 meter tersebut disebut-sebut tempat ibadah tertinggi di Sumbar bahkan Pulau Sumatra.

Berikutnya Musala Jabalussalam atau Musala Gunung Slamet. Surau yang mulai dibangun 21 Agustus 2021 ini berada di ketinggian 2.500 Mdpl di Pos 4 Jalur Permadi Guci, Gunung Slamet, Kab. Tegal, Jateng.

Selain itu ada Musala Baiturrahim, letaknya di Dusun Marongan, Desa Sukomakmur, Kecamatan Kajoran. Bangunan ini persis berada di lereng Gunung Sumbing dengan ketinggian sekitar 1.300 Mdpl.

Kehadiran masjid dan musala di kaki, lereng, dan atau di puncak gunung tentunya sangat membantu memudahkan bukan cuma warga setempat pun wisatawan bahkan pendaki yang ingin menjalankan kewajibannya sebagai muslim sebelum ataupun setelah mendaki gunung tersebut.

Naskah, foto & video by: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, TikTok @FaktaWisata.id

Captions:
1. Masjid Baitut Taqwa atau Masjid Nepal van Java di Dusun Butuh, Desa Temanggung, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah berlatar belakang Gunung Sumbing.

2. Masjid Al-Barokah di kaki Gunung Dempo, Kampung 4, Kota Pagar Alam, Sumsel juga kerap digunakan sejumlah pendaki untuk salat berjemaah sebelum ataupun setelah melakukan pendakian

3. Masjid Jabal Nur Hidayatullah di Dusun Puncak, Desa Argosari, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur (Jatim) yang berlatar pemandangan Gunung Semeru.

4. Video Masjid Baitut Taqwa di Kaliangkrik berlatar Gunung Sumbing.





Read more...

Kamis, 26 Februari 2026

Mewarnai Ramadan dengan Menjelajah Masjid, Ini 10 Manfaatnya


Berdasarkan pengalaman TravelPlus Indonesia melakukan jelajah masjid di berbagai daerah dan kota di Indonesia, sekurangnya ada sepuluh manfaat menjelajah masjid-masjid istimewa di bulan suci Ramadan.

Manfaat pertama, jadi lebih semangat beribadah dalam hal ini menunaikan salat wajib berjemaah dan salat sunah di masjid.

Kedua, dapat melatih kedisiplinan dan membentuk mental yang satset, mengingat untuk bisa salat berjamaah di masjid membutuhkan ketepatan waktu agar tidak tertinggal.

Berikutnya atau manfaat yang ketiga, dapat memperkuat ukhuwah karena bertemu dan berkenalan dengan sesama muslim di masjid tersebut. Apalagi bila sekalian berbuka puasa bersama dilanjutkan salat magrib berjemaah, kemudian tadarusan, berzikir dan ber-selawat bersama serta salat isya dan tarawih berjemaah.

Keempat, jadi lebih tahu keistimewaan yang dimiliki masjid tersebut, entah itu dari sisi arsitektur, sejarah, lokasi, peristiwa yang dialami, konsep yang diusung, kelengkapan fasilitas pendukung, atmosfer spiritualnya, dan atau karena berstatus cagar budaya.

Contoh masjid-masjid yang berpredikat istimewa itu, bisa Anda lihat di tulisan sebelumnya yang bertajuk "10 Jenis Masjid dan Surau Ini Berdaya Tarik Lebih, Wow Nomor 5 Ada di Gunung" di website TravelPlus Indonesia. Ini link-nya: https://travelplusindonesia.blogspot.com/2022/02/10-jenis-masjid-dan-surau-ini-berdaya.html?m=1.


Kelima, bisa mencari informasi positif sekaligus pemicu yang membuat masjid tersebut makmur atau ramai jemaahnya . Misalnya kenapa masjid itu mengusung konsep ramah anak, ramah lingkungan, ramah jemaah, makan-makan gratis,.dan lainnya yang menyita perhatian masyarakat hingga terkenal.

Keenam, bila jelajah masjid dilakukan dengan membawa serta anak, cucu, keponakan dan atau kerabat yang masih bocil (bocah cilik) bisa menjadi sarana edukasi yang  bermanfaat menanamkan cinta masjid kepada mereka sejak dini.

Selanjutnya atau manfaat ketujuh, bisa menadi bahan untuk membuat ragam konten digital positif baik itu berupa tulisan, captions, foto, video, lagu, dan lainnya. Sekaligus mempelajari tim medsos masjid tersebut dalam meracik/mengolah ragam konten digital sehingga menarik dan informatif.

Kedelapan, jadi lebih tahu keadaan daerah/kota yang menjadi lokasi masjid tersebut, termasuk daya tarik lain di sekitarnya.

Kesembilan, bermanfaat mengisi bulan suci Ramadan dengan kegiatan positif yang kental bernapaskan religi Islam.

Terakhir atau manfaat kesepuluh, turut mensyiarkan Islam sekaligus memakmurkan masjid dan memajukan wisata religi dengan menyiarkan keistimewaan masjid tersebut.


Masjid Apa dan Dimana?
Jelajah masjid saat Ramadan bisa dimulai di masjid-masjid istimewa yang ada di tempat tinggal Anda. Selain lebih dekat dan mudah dijangkau pun tidak begitu menyita waktu, tenaga, dan biaya.

Bila Anda punya banyak waktu luang dan lainnya , bisa jelajah masjid yang ada diluar domisili Anda. Misalnya di kecamatan, kabupaten/kota atau bahkan provinsi lain. Bila Anda tengah mendapat tugas kerja di  suatu kota saat Ramadan atau ada urusan/kegiatan lain, bisa sekalian jelajah masjid istimewa di kota tersebut.

Nah, mumpung diberi kesehatan, ayo  jelajah masjid saat Ramadan, insyaallah akan menemukan atmosfer yang beda dibanding diluar Ramadan, terlebih bila sekalian ikut berbuka bersama sampai salah Tarawih di masjid tersebut.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, TikTok @FaktaWisata.id

Captions:
1. Masjid Jami Al-Ishlah di Jalan Putri Balau, Kecamatan Kedamaian, Kota Bandar Lampung arsitekturnya kental dengan sentuhan budaya Lampung.
2. Video Masjid Menara Kudus (Masjid Al-Aqsa) di Desa Kauman, Kudus, Jawa Tengah yang berstatus cagar budaya.
3. Masjid Al-Barokah di kaki Gunung Dempo, Kampung 4, Kota Pagar Alam, Sumsel yang kerap digunakan sejumlah pendaki untuk salat berjemaah sebelum ataupun setelah melakukan pendakian. 



Read more...

Rabu, 25 Februari 2026

15 Kiat Jelajah Masjid saat Ramadan


Banyak cara mendulang pahala berlipat ganda saat Ramadan, salah satunya dengan melakukan kegiatan jelajah masjid. Bagaimana kiatnya?

Dalam KBBI (Kamis Besar Bahasa Indonesia) kata 'jelajah' berarti ke mana-mana untuk menyelidiki dan sebagainya. Adapun 'masjid' bermakna rumah atau bangunan tempat bersembahyang orang Islam.

Bila dua kata itu digabungkan, TravelPlus Indonesia memaknai jelajah masjid adalah  kegiatan mengunjungi bangunan tempat bersembahyang orang Islam yang ada dimana-mana (utamakan yang ada di negeri sendiri) dengan tujuan bukan semata untuk salat berjemaah dan ibadah mulia lainnya pun menyelidiki lebih jauh keistimewaannya lalu menyebarluaskannya.

Sesuai dengan judul, jelajah masjid dilakukan saat menunaikan puasa Ramadan seperti sekarang ini (saat saya membuat tulisan ini di TravelPlus Indonesia)

Mengingat jelajah masjid itu lebih dari sekadar menunaikan salat berjemaah di masjid dan atau mengikuti kegiatan mulia lainnya, maka perlu kiat tersendiri agar berjalan lancar dan ujungnya punya manfaat lebih.

Berdasarkan pengalaman TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada 15 kiat atau tips jelajah masjid saat Ramadan.

Pertama, niat jelajah masjid, Bismillahirrahmanirrahim Lillahi Ta'ala untuk turut memakmurkan masjid dan menyiarkan keistimewaannya. Dilanjutkan dengan berdoa semoga dimudahkan/dilancarkan Allah SWT serta menjadi ladang pahala.

Keistimewaan Masjid
Kedua, mencari tahu profil masjid yang akan dikunjungi berikut keistimewaannya sebagaimana tersebut di atas.

Keistimewaan masjid artinya kelebihan/keunikan yang dimiliki masjid entah itu dari sisi arsitektur, sejarah, lokasi, peristiwa yang dialami, konsep yang diusung, fasilitas pendukung, atmosfer spiritualnya, statusnya (apakah cagar budaya), dan  atau bermacam kegiatan mulia yang dilakukan pengelolanya sehingga masjidnya makmur.


Berikutnya atau kiat yang ketiga, cari info moda transportasi  umum ke masjid tersebut (bila tidak/malas membawa kendaraan pribadi), termasuk mencatat durasi perjalanan dan biayanya. Cari pula info daya tarik lain di dekat masjid itu (kuliner, akomodasi, dll).

Keempat, waktu jelajah masjid sesuai judul tulisan ini tentu saja saat di bulan suci Ramadan. Kalau ingin mendapatkan atmosfer yang berbeda (pagi, siang, sore, dan malam), bisa berkunjung saat jelang Subuh sesudah sahur sampai salat sunah Duha.

Pilihan waktu lainnya, jelang Zuhur hingga Asar atau bisa juga jelang Magrib - berbuka puasa - salat Magrib - salat Isya sampai salat Tarawih.

Kelima, jelajah masjid dapat dilakukan sendirian atau dalam kelompok kecil (small group), maksimal 2-5 orang agar lebih nyaman. Kecuali kalau hanya kunjungan biasa, itu bisa saja rombongan atau dalam kelompok besar, diatas 10 orang.

Keenam, datanglah dengan mengenakan pakaian terbaik, rapih, dan sopan. Kalau pria kenakan baju muslim minimal baju atau kaos lengan panjang polos (tidak bergambar/bertulisan atau bermotif yang mencolok), kenakan pula peci/kopiah, sarung ataupun dengan bercelana panjang.

Selanjutnya atau kiat ketujuh, bila tiba di masjid tersebut, ucapkan 'alhamdulillah', wudhu, dan berdoa masuk masjid serta salat sunah tahiyatul masjid yang dilakukan sebelum duduk, sesaat setelah memasuki masjid.

Kiat kedelapan, kalau waktu azan masih lama, pergunakan untuk mengabadikan arsitektur masjid baik eksterior maupun interiornya.

Kesembilan, kalau sudah mendekati azan, sebaiknya bersiap untuk salat wajib berjemaah. Selepas berzikir, bersalawat, bertasbih, berdoa, dan tadarusan, baru mengabadikan arsitekturnya.

Berikutnya atau kiat kesepuluh, menemui pengurus masjid untuk tanya-tanya tentang sejarah, konsep yang diusung ataupun kegiatan masjidnya.

Ke-11, jangan lupa bersedekah di kotak amal yang ada di masjid tersebut. Ke-12, setelah selesai mengabadikannya, tak lupa berdoa keluar masjid.

Kiat Ke-13, lanjut kulineran di area masjid untuk berbuka puasa. Kalau ada yang menjual kuliner khas setempat yang halalan thayyiban (makanan atau minuman yang halal dan baik), itu bisa jadi pilihan utama.  Bila punya dana lebih, sebaiknya beli takjil ataupun menu buka puasa yang banyak (agak dilebihkan) supaya bisa berbagi dengan jemaah masjid lainnya.


Ragam Konten Digital 
Ke-14, meracik data, foto, dan video  hasil jelajah masjid menjadi ragam konten digital menarik.

Ragam konten digital bisa berupa teks ( artikel/tulisan di blog, caption di media sosial); visual/gambar (foto, slideshow, infografis); serta video (short video utk reels/TikTok) dan atau video panjang untuk YouTube, vlog, dan lainnya).

Konten yang dibuat bisa berupa panduan moda transportasi umum ke masjid,  keistimewaan masjid dari segi arsitektur dan lainnya. Bisa juga karena masjid tersebut sedang trending/aktual atau hangat dibicarakan.

Terakhir atau kiat yang ke-15, menyebarluaskan ragam konten tersebut lewat aneka akun medsos yang dimiliki agar publik atau warganet tahu lalu tertarik mengunjungi masjid tersebut untuk memakmurkannya dan mengabadikan keistimewaannya.

Selamat jelajah masjid saat Ramadan, semoga bermanfaat, berkah, dan berbuah pahala berlipat ganda, Aamiiin YRA 🤲.

Naska, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, TikTok @FaktaWisata.id

Captions:.
1. Pesona Masjid Istiqlal Jakarta jelang Magrib
2. Masjid Baitut Taqwa atau dikenal sebagai Masjid Nepal van Java di lereng Gunung Sumbing via Kaliangkrik, Kabupaten Magelang.
3. Video Masjid Raya Sheikh Zayed di Kota Solo/Surakarta.


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP