. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Senin, 16 Maret 2026

Tips Menikmati Destinasi Wisata Bekas Perang Biar Lebih Berkesan


Punya rencana mengisi libur lebaran tahun ini  dengan mengunjungi destinasi wisata bekas perang khususnya benteng? Ikuti  saja 11 (sebelas) tips dari TravelPlus Indonesia ini, supaya berujung lebih berkesan.

Tips pertama, mengindahkan peraturan yang berlaku di benteng sebagai destinasi wisata bekas perang yang akan dikunjungi termasuk cara membeli tiket masuknya bila memang berbayar.

Kedua, bawa serta anak dan atau keponakan mengingat destinasi wisata bekas perang tersebut bermuatan edukasi supaya melek akan sejarah perang yang terjadi di sana.

Tips berikutnya atau yang ketiga, memakai pakaian dan alas kaki yang nyaman serta pelindung kepala untuk menghalau cuaca panas. Kalau datang saat musim hujan, sedia aku eh payung sebelum hujan.

Keempat, waktu terbaik berkunjung sore selepas asar sampai malam kalau benteng tersebut memang buka sampai malam hari.

Kelima, kalau lokasi bentengnya agak sulit diakses kendaraan umum sebaiknya datang pagi sampai jelang siang. Bisa juga menggunakan moda transportasi online jika memang tersedia.

Tips selanjutnya atau yang keenam, sebaiknya berdoa sebelum masuk ke dalam benteng agar lancar dan tidak mengalami 'gangguan'. Doakan pula para pejuang Indonesia yang telah gugur dalam peperangan di tempat tersebut.


Ketujuh, mendokumentasikan spot-spot menarik atau kegiatan yang tengah berlangsung di benteng tersebut lalu buat ragam konten (tulisan, foto, video dll), termasuk keindahan panorama sekitar yang menjadi latar belakang benteng tersebut.

Kedelapan, turut menyebarluaskan daya tarik benteng yang dikunjungi lewat ragam medsos agar publik nasional dan internasional tahu lalu tertarik datang ke destinasi bekas perang tersebut.

Tips berikutnya atau yang kesembilan, meminta bantuan pemandu wisata setempat yang paham tentang sejarah destinasi wisata bekas perang tersebut supaya pulangnya membawa 'oleh-oleh' cerdas.

Ke-10, berkunjung saat ada event/kegiatan menarik seperti konser musik, festival, bazaar kuliner dan lainnya jelas lebih menguntungkan karena dengan begitu sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui.

Tips terakhir atau yang ke-11, tetap menjaga kebersihan, ketenangan, dan tidak melakukan perbuatan yang tidak senonoh selama berada di benteng.

Selamat berlibur lebaran di destinasi wisata bekas perang, khususnya benteng, semoga berkesan dan kelak kembali datang bersama orang-orang tersayang.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Benteng Kuto Besak di Kota Palembang, Sumsel. 
2. Video menikmati Musikoloji di Benteng Museum Vredeburg, Kota Jogja, DIY.

Read more...

Lima "K" Menghidupkan Destinasi Wisata Bekas Perang Pasca-Revitalisasi


Ada sekurangnya lima (5) "K" versi TravelPlus Indonesia untuk menghidupkan destinasi wisata bekas perang seperti benteng yang sudah direvitalisasi supaya kian terkenal dan ramai pengunjungnya.

Lima "K" itu adalah komunikatif, kreatif, kerja sama, kemanfaatan, dan kontinu.

Sebelum TravelPlus Indonesia mengurai arti/makna setiap "K" tersebut, ada baiknya kita memahami maksud kata revitalisasi pada destinasi wisata bekas perang dalam hal ini benteng.

"Revitalisasi" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Tujuannya  antara lain mengembalikan fungsi, meningkatkan nilai strategis, dan memperbarui struktur agar relevan dengan kondisi baru. Revitalisasi disini mencakup perbaikan fisik, ekonomi, sosial, dan budaya.

Revitalisasi benteng adalah upaya menghidupkan kembali benteng yang sudah rusak atau terbengkalai dengan cara memugar, memperbaiki, melestarikan, menata ulang, dan meningkatkan fungsinya. Proses ini bertujuan mengembalikan struktur asli, meningkatkan nilai sejarah, serta menjadikannya ruang publik kreatif atau destinasi wisata tanpa merusak keaslian bangunan.


Pasca-revitalisasi benteng tak cukup hanya publikasi/promosi lewat ragam media tapi harus disertakan dengan upaya menghidupkannya yakni dengan 5 "K".

"K" pertama, komunikatif artinya setiap kegiatan yang dibuat/diadakan/digelar di destinasi wisata bekas perang dalam hal ini benteng yang sudah direvitalisasi, harus dikomunikasikan/dipromosikan/dipublikasikan dengan tepat agar mudah diketahui, dipahami/dimengerti publik.

Untuk itu perlu tim yang komunikatif (aktif menyampaikan informasi pra, on , dan pasca-kegiatan secara menarik. Selain itu tim ini harus mudah dihubungi oleh publik lewat akun media sosial, WA, dan lainnya.

Bukan cuma itu, tim ini juga harus komunikatif dengan sejumlah pihak lain misalnya dengan perusahaan film, sutradara film, dan lainnya supaya mereka tertarik dan mau syuting film di benteng yang sudah direvitalisasi tersebut dengan melibatkan aktor nasional ternama dan aktor/seniman/warga lokal.

"K" kedua, kreatif maksudnya pengelolanya memiliki daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan berbagai kegiatan yang  menarik (berdaya tarik) hingga membuat wisatawan baik lokal, Nusantara maupun mancanegara datang ke benteng yang sudah direvitalisasi tersebut.

Ragam kegiatannya bisa bersifat hiburan, edukasi, bermuatan pelestarian budaya tradisional, dan lainnya.


Jenis kegiatan bersifat hiburan antara lain konser musik genre tertentu maupun bermacam genre musik misalnya konser musik jazz (penampilannya hanya penyanyi dan band yang mengusung jazz). Kalau konser musik gado-gado atau campuran, penampilannya ada penyanyi/band rock, dangdut, jazz, pop dan lainnya dalam satu festival atau konser musik tersebut.

Jenis kegiatan bermuatan edukasi dan pelestarian seni-budaya antara lain festival tari, fashion show, bazaar kuliner, dan lainnya. Bisa juga yang bersifat lomba seperti lomba fotografi, konten video, menulis, dan atau melukis terkait benteng tersebut atau lomba bermuatan religi seperti musabaqoh tilawatil Quran, dan lainnya.

Pilihan lain, jenis kegiatan yang bersifat pameran seperti pameran foto, buku, barang antik, kendaraan kuno, dan lainnya.

Bisa juga membuat acara terkait hari besar Nasional seperti Hari Pahlawan, Hari Kemerdekaan RI, dan lainnya. Bisa juga buat acara terkait hari besar agama Islam seperti gema Ramadan, perayaan lebaran, dan lainnya.

Pilihan lain membuat ruang cinema untuk menonton film terkait peperangan yang terjadi di destinasi tersebut, berdiskusi tentang film dokumenter perang, dan lainnya.


Catatan Penting
Setiap kegiatan yang dibuat terlebih yang bersifat hiburan seperti konser musik, harus menentukan kuota pengunjung. Artinya jumlah pengunjung harus disesuaikan dengan kemampuan daya tampung benteng tersebut agar tidak menimbulkan kerusakan dan atau supaya penonton tetap nyaman menikmati konser musik tersebut.

Pemilihan waktu juga amat penting. Kalau ingin menggelar konser musik di benteng tersebut dengan venue outdoor sebaiknya digelar pada saat musim kemarau untuk meminimalisir diguyur hujan.

Catatan penting lainnya menyediakan  tempat sampah yang cukup dan atau menurunkan tim kebersihan selama acara berlangsung supaya kondisi benteng tersebut tetap terjaga kebersihannya.

Satu lagi, setiap acara yang dibuat di benteng yang sudah direvitalisasi sebaiknya dimanfaatkan sekaligus untuk menginformasikan tentang sejarahnya, statusnya, dan fungsinya saat ini termasuk cara pembelian tiket masuk serta aturan yang berlaku bagi setiap pengunjung. Bahan informasinya bisa lewat penayangan video maupun selembaran.

"K" berikutnya atau yang ketiga, kerja sama maksudnya setiap kegiatan yang dibuat/diadakan/digelar di benteng yang sudah direvitalisasi, harus melibatkan kolaborasi antar-berbagai pihak antara lain pengelola/pemerintah, jurnalis/pembuat konten yang selama ini sudah ikut meliput/mempublikasikan benteng, event organizer, komunitas kreatif, musisi, seniman, budayawan, UMKM warga lokal/sekitar, donatur, dan sebagainya.

" K" yang keempat, kemanfaatan artinya setiap kegiatan yang dibuat/diadakan/digelar di benteng pasca-revitalisasi, harus punya manfaat/kegunaan minimal buat keberlangsungan dan kemasyhuran benteng tersebut (ketenaran, popularitas, atau reputasi yang luas) dan sekaligus bisa menambah  pendapatan warga sekitar dengan penjualan produk UMKM, menjadi ruang ekspresi bagi penyanyi/musisi/seniman lokal, dan lainnya.


Terakhir atau " K" yang kelima adalah kontinu maksudnya setiap kegiatan yang dibuat/diadakan/digelar di benteng tersebut selain harus serius/ profesional/bukan asal ada pun harus berkesinambungan/berkelanjutan/terus-menerus misalnya bisa seminggu sekali (untuk kegiatan berskala kecil), sebulan sekali (berskala kecil menengah), setiap 6 bulan atau setengah tahun sekali (berskala menengah besar), dan setahun sekali (untuk acara berskala besar).

Acara berskala besar indikatornya bisa dilihat dari pengisi acaranya. Kalau misalkan konser musik, penyanyi/band utamanya harus papan atas ditambah dengan penyanyi/band lokal namun sudah punya nama minimal ditingkat provinsi.

Semakin banyak kegiatan positif dan menarik yang dibuat di destinasi wisata bekas perang dalam hal ini benteng, semakin besar kemungkinan benteng itu menjadi lebih hidup sehingga bukan saja semakin tersohor pun semakin diminati wisatawan.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Sepenggal pesona Benteng (Fort) Willem I atau Benteng Pendem Ambarawa di Ambarawa, Jawa Tengah kala malam hari.
2. Video pertunjukan air mancur menari "Tirta Abirawa" di Museum Benteng Vredeburg, Kota Jogja.
3. Menghidupkan Museum Benteng Vredeburg dengan suguhan Musikoloji.
4. Menonton film di ruang Willem Cinema, Benteng Pendem Ambarawa.
5. Video Mbeteng Jazz perdana di Benteng Pendem Ambarawa usai direvitalisasi.

Read more...

Minggu, 15 Maret 2026

Destinasi Wisata Bekas Perang, Jadi Pilihan Libur Lebaran (Edisi Benteng-Benteng di Sumatra)


Belum tahu mau kemana dan melakukan aktivitas wisata apa buat mengisi libur Lebaran 2026 yang tinggal menghitung hari?  Sepertinya destinasi wisata bekas perang yang tersebar di berbagai provinsi di Sumatra, bisa jadi pilihan.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "destinasi" berarti tempat tujuan. Sedangkan "wisata"  itu bepergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan sebagainya); bertamasya; atau piknik. Secara garis besar destinasi wisata adalah suatu tempat yang menjadi tujuan wisata untuk berbagai tujuan.

Bekas perang terdiri atas dua kata yakni bekas dan perang. Dalam KBBI, "bekas" berarti tanda/sisa/barang yang sudah dipakai, dan "perang" adalah permusuhan/pertempuran. Secara garis besar, bekas perang merujuk pada sisa-sisa fisik ataupun jejak dari dampak pertempuran/peperangan.

Destinasi bekas perang itu beragam, untuk tulisan kali ini TravelPlus Indonesia fokus kepada benteng. Kenapa? Karena benteng identik dengan perang. Lihat saja dari fungsi utama benteng sebagai bangunan pertahanan militer yang dirancang untuk melindungi wilayah, pasukan, atau instalasi penting dari serangan. Selain itu benteng juga merupakan situs sejarah yang menjadi saksi bisu dari peperangan.

Pengertian situs sejarah sendiri adalah lokasi, bangunan, struktur, atau kawasan tertentu yang memiliki nilai penting bagi sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, atau sosial, dan dilestarikan karena warisannya.

Mengapa TravelPlus Indonesia mengangkat destinasi bekas perang? Apakah karena saat ini tengah terjadi perang antar-negara lain yang kabarnya ramai tersiar di ragam medsos? Jawabannya ya, dengan harapan peperangan tersebut segera berakhir.

Lalu benteng apa saja di Sumatra yang kemudian menjadi destinasi bekas perang yang menarik untuk dikunjungi pas libur lebaran tahun ini?

Khusus tulisan ini, TravelPlus Indonesia hanya membatasi benteng- benteng yang ada di Sumatra (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung) yang berukuran relatif besar, luas dan atau bangunannya masih terbilang utuh terlihat sebagai bangunan benteng secara kasat mata.


Dimulai dari provinsi paling atas di Pulau Sumatra yakni Aceh. Berdasarkan data dari berbagai sumber, di provinsi berjuluk Bumi Iskandar Muda ini terdapat beberapa benteng yang menarik sebagai destinasi wisata perang buat libur lebaran tahun ini, antara lain Benteng Indrapatra.

Benteng yang berada di pesisir pantai Ujong Batee, tepatnya di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar ini dibangun pada abad ke-7 Masehi atau sebelum masa kedatangan Islam di Aceh oleh Kerajaan Lamuri, salah satu kerajaan Hindu yang pernah berkuasa di Aceh. Dulu benteng ini berfungsi untuk melindungi kerajaan dari serangan musuh, khususnya dari pihak kolonial Portugis.

Lanjut ke provinsi bawahnya yakni Sumatra Utara ada Benteng Putri Hijau di Kabupaten Deli Serdang dan Benteng Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah.

Benteng Putri Hijau terletak di Desa Deli Tua, Kecamatan Namorambe, ini diyakini sebagai sisa pertahanan Kerajaan Aru (abad ke13 -16) dan Kesultanan Deli. Sedangkan Benteng Barus yang berada di Kelurahan Padang Masiang, Kecamatan Barus dikenal juga dengan nama Redoute te Baros pada masa kolonial Belanda.

Berikutnya di Sumatra Barat ada 

Benteng Fort de Kock. Benteng yang didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek ini merupakan kubu pertahanan Belanda selama Perang Padri dan menjadi saksi bisu sejarah kolonial di Kota Bukittinggi.


Selain itu ada Benteng Van der Capellen di Batusangkar yang juga benteng ini juga dibangun Belanda sebagai pertahanan selama Perang Padri dan Benteng Bukit Tajadi di Jalan Jorong Kampung Talang, Nagari Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol. Kabupaten Pasaman yang merupakan bekas kubu pertahanan kaum Padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol.


Lanjut d Riau ada Benteng 7 Lapis atau dikenal juga dengan nama Benteng Tuanku Tambusai yang berada di Desa Dalu-Dalu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu. Benteng ini merupakan benteng pertahanan terakhir kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai dalam melawan pasukan Hindia Belanda. Benteng ini kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.


Di provinsi tetangga Riau yakni 

Kepulauan Riau (Kepri) ada Benteng Bukit Kursi yang berlokasi di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang. Benteng yang ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2017 ini merupakan benteng pertahanan kerajaan Melayu Riau-Lingga yang dibangun pada masa Raja Haji Fisabilillah (sekitar 1777-1784) dan digunakan dalam peperangan melawan kolonial Belanda.


Selain itu ada Benteng Kuala Daik di Kabupaten di Lingga yang merupakan benteng pertahanan 3 lapis yang digunakan oleh Kerajaan Riau-Lingga dan Benteng Old Jail di Siak yang merupakan saksi penjajahan Belanda di Riau dan lini menjadi salah satu objek sejarah.


Selanjutnya di Jambi ada Benteng Muara Tembesi di tepi Sungai Batanghari, tepatnya Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari. Benteng yang dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1901 ini digunakan untuk mengintai musuh sekaligus kantor pemerintahan kolonial.



Benteng Buatan Inggris
Di Bengkulu ada Benteng Marlborough (Fort Marlborough), tepatnya di tepi Pantai Tapak Padri, Kota Bengkulu yang dibangun oleh East India Company (EIC) Inggris antara tahun 1713–1719 di bawah pimpinan Gubernur Joseph Collett.


Amatan langsung TravelPlus Indonesia, benteng yang pernah dikuasai Belanda, Jepang.dan digunakan sebagai markas Polri serta TNI-AD sebelum menjadi cagar budaya ini kondisinya masih sangat kokoh.


Berikutnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) ada Benteng Toboali di Kabupaten Bangka Selatan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1825.

Benteng yang berada di atas bukit di pinggir pantai, tepatnya di Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, sekitar 2,5 jam dengan berkendara dari Kota Pangkalpinang ini berfungsi sebagai basis pertahanan dan kini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.

Selain itu ada Benteng Kota Tempilang di Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Bangka. Benteng ini didirikan pada masa pemerintahan Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala dengan izin dari Sultan Ahmad Najamuddin di bawah Kesultanan Palembang pada abad ke-17 yang berfungsi sebagai gudang dan parit pertahanan mengingat Tempilang pada masa itu dikenal sebagai daerah penghasil timah.

Lanjut di Sumatra Selatan ada Benteng Kuto Besak di pinggir Sungai Musi, Kota Palembang. Amatan langsung TravelPlus Indonesia saat meliput city tour di Kota Pempek ini, benteng yang letaknya di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, sekitar 1,5 Km sebelah barat laut Jembatan Ampera ini masih berdiri gagah.



Benteng sisa Kerajaan Palembang Darussalam waktu zaman Belanda ini sengaja yang dibangun dengan biaya sendiri untuk pertahanan menangkal serangan Belanda dan sekaligus rumah tempat tinggal Kerajaan Palembang. Benteng ini menjadi satu-satunya benteng di Indonesia yang menggunakan dinding batu dan juga memenuhi syarat perbentengan atau pertahanan.

Terakhir di provinsi yang posisinya paling bawah d Sumatra yakni Lampung ada Benteng Cempaka. Salah satu situs pertahanan yang digunakan oleh Radin Inten II dalam perjuangannya melawan Belanda ini  terletak di Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

Selain itu ada benteng kuno di Desa Beteng Sari Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Benteng yang diperkirakan dibangun pada masa kolonial Belanda ini berfungsi sebagai pertahanan dan pengawasan terhadap aktivitas di sekitar wilayah tersebut sekaligus menjadi simbol perlawanan masyarakat lokal terhadap penjajahan.

Benteng-benteng di Sumatra di atas ada yang sudah berstatus cagar budaya ataupun ODCB (Objek yang Diduga Cagar Budaya). Beberapa di antaranya sudah direvitalisasi sehingga penampilannya lebih menawan sebagai destinasi wisata bekas perang yang panjang sejarahnya.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Bagian tengah Benteng Marlborough di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. (Foto: adji)
2. Benteng Indrapatra di Kabupaten Aceh Besar, Aceh. (Foto: dok. website budayaaceh.com milik Disbudpar Aceh)
3. Gerbang Benteng (Fort) Marlborough di Kota Bengkulu. (Foto: adji)
4. Benteng Kuto Besak di Kota Palembang, Sumsel (Foto: adji)


Read more...

Benteng Indrapatra, Destinasi Bekas Perang Cocok Buat Libur Lebaran



Di Aceh, destinasi wisata bekas perang  yang wajib masuk daftar kunjungan libur lebaran tahun ini adalah Benteng Indrapatra. Kenapa?

Berdasarkan informasi beberapa rekan TravelPlus Indonesia yang tinggal dan bekerja di Aceh antara lain Agung dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I (bpkwil1) dan Ismail dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Benteng Indrapatra yang berada di pesisir pantai Ujong Batee, tepatnya di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar selain berukuran besar dan bentuk bentengnya relatif masih terlihat jelas/utuh, juga sudah direvitalisasi sehingga menarik untuk dikunjungi, termasuk saat libur lebaran tahun ini.

"Benteng Indrapatra bagus bro buat kunjungan wisata. Apalagi sudah direvitalisasi," terang Agung kepada TravelPlus Indonesia lewat pesan WA sekaligus mengirimkan satu konten video tentang Benteng Indrapatra yang sudah tayang di akun Instagram (IG) @bpkwil1.


Usai melihat konten tersebut, TravelPlus Indonesia lewat akun IG @adjitropis segera memberi like dan komentar.

Isi komentarnya berbunyi begini: "Wajib masuk daftar kunjungan wisata sejarah nih klo berkunjung ke Aceh. Klo boleh kasih input, setelah direvitalisasi sebaiknya diisi dgn kreativitas seperti bikin kegiatan menarik/kekinian & tetap sesuai syariat Islam di benteng ini, misalnya konser musik dll utk menghidupkan Benteng Indrapatra sehingga kian terekspos nama & keberadaannya serta kian diminati wisnus & wisman 👌".

Untuk mengetahui lebih jauh sejarah benteng tersebut, berikutnya TravelPlus Indonesia mencari sejumlah data tambahan di beberapa website terkait.


Di situs web budayaaceh.com milik Disbudpar Aceh, dijelaskan
benteng yang dibangun pada abad ke-7 Masehi atau sebelum masa kedatangan Islam di Aceh oleh Kerajaan Lamuri, salah satu kerajaan Hindu yang pernah berkuasa di Aceh ini bertujuan untuk melindungi kerajaan dari serangan musuh, khususnya dari pihak kolonial Portugis.

Diterangkan pula kalau benteng ini terbuat dari batu kapur dan batu bata. Dinding bentengnya setinggi sekitar 3 meter dengan ketebalan yang cukup untuk menahan serangan musuh. Sedangkan di bagian dalam benteng, terdapat ruang-ruang yang diduga digunakan sebagai tempat penyimpanan senjata, tempat tinggal prajurit, dan ruang pertemuan.

Benteng Indrapatra terdiri atas beberapa bagian, termasuk benteng utama yang memiliki empat sudut dengan masing-masing sudut terdapat bastion (bagian yang menonjol dari benteng yang digunakan untuk penempatan meriam).


Benteng ini juga dilengkapi dengan saluran air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari para penghuni benteng.

Pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636), benteng ini menjadi pertahanan armada laut yang dipimpin oleh Laksamana Malahayati untuk melawan penjajah.

Di situs web meuseuraya.id diterangkan salah satu keunikan dari Benteng Indrapatra adalah adanya bekas bangunan candi di dalam kompleks benteng. Hal ini mengindikasikan bahwa benteng ini tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan, tetapi juga sebagai tempat ibadah bagi penganut Hindu pada masa itu. Bekas bangunan candi ini, meskipun kini hanya tersisa pondasinya, menjadi bukti konkret bahwa Hindu pernah menjadi agama yang dianut oleh sebagian masyarakat Aceh sebelum kedatangan Islam.

Rekan TravelPlus Indonesia lainnya, Yuzar Alamsyah yang berprofesi sebagai fotografer dan tinggal di Aceh mengaku pernah melakukan pemotretan prewedding di Benteng Indrapatra.

"Dulu saya pernah buat prawed kawan di situ (Benteng Indrapatra_red). Keren, seperti di benteng-benteng di Eropa," terangnya.


Sewaktu TravelPlus Indonesia mengirimkan foto Benteng Indrapatra dengan latar belakang sebuah gunung (hasil screenshot dari konten video tentang Benteng Indrapatra di IG @bpkwil1) kepada Agung, Yuzar, dan Wadhan (salah seorang pendaki Aceh yang pernah mengantarkan TravelPlus Indonesia mendaki Gunung Seulawah Agam), sepakat mengatakan kalau gunung yang ada di video tersebut adalah Gunung Seulawah Agam.

Berlatar belakang sejarah yang panjang dan ditambah berarsitektur megah serta bisa sekalian melihat Gunung Seulawah Agam saat cuaca cerah, rasanya tak berlebihan kalau Benteng Indrapatra kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang penting di Aceh.

Fakta lain mulai banyak wisatawan lokal, domestik maupun mancanegara yang mengunjunginya.


Nah, buat wisatawan yang datang dari luar Aceh dan menggunakan tranportasi udara, dari Bandara internasional Sultan Iskandar Muda bisa menggunakan taksi bandara atau menyewa mobil travel. Waktu tempuhnya tak sampai satu jam.

Bisa juga ke hotel atau penginapan dulu di Kota Banda Aceh. "Baru lanjut naik moda transportasi online dari Banda Aceh ke Benteng Indrapatra, durasinya juga nggak sampai satu jam," ungkap Agung.

Sebagai informasi tambahan, selain Benteng Indrapatra, di Aceh tepatnya  sepanjang pesisir pantai utara juga terdapat beberapa benteng lain seperti Benteng Iskandar Muda, Benteng Kuta Lubok, serta Benteng Inong Balee.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Benteng Indrapatra di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh, wajib masuk daftar kunjungan wisata di Aceh saat libur lebaran tahun ini. (Foto: dok Disbudpar Aceh yang dikirim Ismail)
2. Potongan video tentang status cagar budaya Benteng Indrapatra di IG @bpkwil1 yang dikirim Agung.
3. Benteng Indrapatra dilihat dari atas, berukuran cukup luas. (Foto: dok website budayaaceh.com milik Disbudpar Aceh)
4. Benteng Indrapatra terbilang masih utuh bangunannya (Foto: dok website budayaaceh.com milik Disbudpar Aceh)
5. Bila cuaca cerah, dari Benteng Indrapatra pengunjung bisa melihat Gunung Seulawah Agam di kejauhan. (Foto screenshot dari konten video tentang Benteng Indrapatra di IG @bpkwil1 yang dikirim Agung)
6. Potongan video tentang lokasi Benteng Indrapatra di IG @bpkwil1 yang dikirim Agung.

Read more...

Senin, 09 Maret 2026

Enam Kiat Hidupkan Konsep Music Tourism di Hari Musik Nasional


Hari Musik Nasional yang diperingati setiap 9 Maret sangat tepat bila dimanfaatkan sebagai momentum untuk lebih serius menghidupkan konsep music tourism atau pariwisata berbasis musik di Tanah Air.

Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada enam kiat untuk menghidupkan konsep tersebut.

Kiat pertama, terus mengasah kreativitas dalam menciptakan sesuatu terkait musik antara lain dengan rutin menggelar lomba lagu, foto, video, dan atau tulisan yang punya kaitan dengan musik, pariwisata, ekonomi kreatif, dan budaya dengan tujuan mempublikasikan daya tarik yang ada, baik itu alam, budaya, maupun buatan.

Kiat kedua, rajin membuat ajang lomba penyanyi/band bermacam genre musik baik itu dangdut, pop, rock, jazz, klasik, melayu, keroncong, musik tradisional daerah, dan genre lainnya dengan tujuan mencetak SDM dibidang musik khususnya penyanyi/band yang berkualitas dan punya manfaat bagi kemajuan kepariwisataan dan kebudayaan Indonesia.


Berikutnya atau kiat ketiga, memperbanyak/kontinyu menggelar festival musik atau konser musik yang berkualitas baik di venue outdoor, indoor ataupun di objek wisata alam, budaya, dan atau buatan yang tersebar dari Aceh sampai Papua. Contohnya
Musikoloji salah satu cara menghidupkan malam di Museum Benteng Vredeburg, Jogja dan konser/pertunjukan musik lainnya.

Lewat cara ini selain bermanfaat sebagai sarana hiburan, pun sekaligus dapat membangun branding dan citra kreatif suatu daerah/destinasi wisata. Adapun keuntungan yang didapat, selain bisa menjaring wisatawan baik lokal, Nusantara maupun mancanegara yang berujung pada peningkatan perekonomian masyarakat setempat pun sekaligus dapat mempromosikan daya tarik alam budaya dan buatan setempat. Intinya berdampak banyak/berganda atau multiplayer effect.

Keempat, terus mencetak SDM dibidang penyelenggaraan festival musik/konser yang bermutu dan punya wawasan bagus tentang kepariwisataan.

Selanjutnya  atau kiat kelima, menyediakan dan memperbanyak venue festival musik/konser yang berkualitas nasional bahkan internasional di berbagai kota di Tanah Air. Jangan hanya terpusat di beberapa kota utama saja.


Daya Tarik Berbasis Musik
Keenam atau kiat yang terakhir, terus mengemas dan meningkatkan kualitas baik fasilitas maupun pelayanan di berbagai daya tarik wisata yang ada kaitannya dengan musik di Tanah Air.

Misalnya kalau di Jakarta antara lain  Museum Sumpah Pemuda atau biasa disingkat Muspada. Kenapa? Karena di dalam  museum yang beralamat Jalan Kramat Raya No.106, Jakarta Pusat ini menyimpan sejumlah koleksi yang berhubungan dengan Wage Rudolf (WR) Supratman, yaitu komposer besar yang menciptakan lagi Kebangsaan "Indonesia Raya" yang tanggal kelahirannya ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Musik Nasional tanggal 9 Maret.

Di Jawa Timur antara lain ada Museum Musik Indonesia (MMI) di Kota Malang dan Museum Musik Dunia di Kota Batu.

Di Jawa Barat, tepatnya di Bandung ada Taman Musik Bandung. Sedangkan di Maluku tepatnya di Kota Ambon yang berpredikat Kota Musik Dunia antara lain ada destinasi atau desa yang berbasis musik  yakni Desa Tuni di Kecamatan Leitimur Selatan yang identik dengan alat musik suling bambu dan Desa Amahusu dengan musik ukulele-nya.


TravelPlus Indonesia
sendiri turut menyemarakan sekaligus menghidupkan Hari Musik Nasional 2026 ini dengan membuat tulisan ini dan lagu bertajuk 'Aduh Nikmatnya' yang kemudian diracik menjadi konten video dengan visual pendakian Gunung Argopuro lewat jalur pendakian terpanjang se-Jawa dari Baderan - Bermi di Jawa Timur.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, TikTok @FaktaWisata.id

Captions:
1. Musikoloji salah satu cara menghidupkan malam di Museum Benteng Vredeburg, Jogja.
2. Video salah satu band musik cadas dalam acara bertajuk Knights League – Charity for Sumatra di M Bloc Space. Jakartaz belum lama ini.
3. TravelPlus Indonesia di salah satu ruang Muspada Jakarta. (foto: dok. sahabatmuseum)
4. Cover konten video lagu Aduh Nikmatnya karya TravelPlus Indonesia dengan visual pendakian Gunung Argopuro lewat jalur pendakian terpanjang se-Jawa dari Baderan - Bermi, Jawa Timur.


Read more...

Senin, 02 Maret 2026

Bedah Buku BILA ESOK ANAK TIADA Karya Nuy Nagiga


Berawal dari buku/novel BILA ESOK IBU TIADA  dan BILA ESOK AYAH TIADA yang terbit bersamaan. Kemudian produser mengadaptasi salah satu novel itu menjadi film layar lebar yang ditonton hampir 4 juta orang di bioskop.

Selepas itu sang produser berdiskusi dengan penulis, maka tercetuslah ide novel BILA ESOK ANAK TIADA.

Novel BILA ESOK ANAK TIADA baru saja terbit tahun 2026. Acara bedah novel tersebut sekaligus ngabuburit puasa Ramadan berlangsung baru-baru ini, Sabtu 21 Februari 2026 di Gramedia Depok dengan narasumber sang penulis novel Nuy Nagiga.


Menurut Nuy Nagiga novel terbarunya ini mengusung tema keluarga dengan tokoh utama dua remaja kakak adik dengan ayah ibunya.

"Isi cerita sangat relate dengan kehidupan nyata," terangnya.

Dalam novel tersebut dikisahkan orang tua sibuk sehingga tidak pernah tahu apa yang dilakukan anak-anak. "Padahal anak yang berprestasi harus mendapat apresiasi," ungkapnya seraya menambahkan bahwa lebih baik mencintai dan penuh perhatian tanpa menunggu kehilangan.


Hal yang lebih menarik dalam novel ini adalah ketika rumah tidak baik-baik saja, si anak bukan lari dan berbuat maksiat.

Diceritakan pula di dalam novelnya sepanjang hidup si anak bertemu dengan orang-orang yang penuh inspiratif sehingga memotivasinya menjadi lebih dewasa.

Lewat novel ini Nuy yang merupakan alumnus IISIP Jakarta angkatan 91 berharap bisa mengajak orang tua dan anak menjadi support system yang saling merangkul.


Sebagai informasi tambahan, novel setebal 250 halaman ini diterbitkan oleh
Aksaraplus dan bisa dibeli di toko buku Gramedia seluruh Indonesia dan secara online di toko Coverdepan. Harganya cuma Rp 78.000 per buku.

Pembaca TravelPlus Indonesia, traveler maupun masyarakat umum peminat novel yang ingin memiliki buku edisi tanda tangan penulis, bisa DM di Instagram @nuy_nagiga. (Adji TravelPlus IG @adjitropis & TikTok @FaktaWisata.id)

Sumber & foto: press release dari sang penulis.

Captions:
1 Nuy Nagiga menjadi narsum bedah buku/novel karya terbarunya yang bertajuk BILA ESOK ANAK TIADA.
2. Nuy Nagiga memperkenalkan novel terbarunya.
3. Nuy Nagiga menandatangani novel tersebut buat pembeli.
4. Novel terbaru karya Nuy Nagiga tersebut bisa di toko buku Gramedia seluruh Indonesia dan secara online di toko Coverdepan dengan harga Rp 78.000 per buku.


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP