. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Senin, 04 Mei 2026

Ki Dalang Wawan Ajen Gencar Kenalkan Wayang ke Gen Z Lewat Ragam Media


Banyak jalan menuju Roma. Bila pepatah  usang itu diterapkan dalam wayang, bisa seperti ini: "banyak cara memperkenalkan wayang kepada publik, salah satunya lewat ragam media".

Cara seperti itulah yang dilakukan Wawan Gunawan yang juga dikenal dengan nama Ki Dalang Wawan Ajen, pedalang sekaligus pendiri grup Wayang Ajen yang sanggarnya berada di Kota Bekasi.

Di hari pertama bulan Mei 2026, Wawan Gunawan menjadi nara sumber (narsum) yang membicarakan seputar wayang di Radio Dakta 107 FM dengan tema “Wayang Masuk Tongkrongan: Membumikan Tradisi ke Gen Z”.

Lewat program Bincang Budaya berkosep dialog yang dipandu Oman dan Ulfi  tersebut, Wawan Gunawan membeberkan kiatnya menjadikan wayang tidak sekadar warisan, tetapi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.

Menurutnya kegagalan terbesar dalam pewarisan budaya sering kali terjadi bukan karena anak muda tidak tertarik melainkan karena pendekatan yang digunakan tidak lagi relevan.

“Anak-anak tidak boleh dipaksa memahami tradisi dengan cara pandang orang dewasa,” ungkapnya.


Pedalang yang pernah bertugas di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI ini memandang perlu menggeser paradigma pendidikan seni budaya: dari yang bersifat instruktif menjadi reflektif dan adaptif.

"Anak-anak, terutama Gen Z, perlu didekati melalui cara yang lentur membaca gestur mereka, rasa ingin tahu mereka, dan respons alami yang muncul dari interaksi pertama dengan budaya," terangnya.

Lebih lanjut pedalang yang juga Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung ini menerangkan kalau wayang itu bukan hanya tontonan visual tetapi teks kehidupan.

"Tokoh-tokoh pewayangan tidak cukup dikenalkan sebagai karakter mitologis semata, tetapi harus dihadirkan dalam konteks kekinian, sebagai refleksi nilai dan etika yang tetap relevan," jelasnya lagi.

Di dalam wayang, sambungnya, tersimpan pelajaran tentang bagaimana menghormati orang tua, bagaimana bersikap kepada guru, hingga bagaimana membangun relasi sosial yang sehat.

"Dengan kata lain, wayang adalah medium pendidikan karakter yang telah teruji lintas zaman, namun kini membutuhkan bahasa baru untuk dapat dipahami," ujarnya.


Tingkatkan Literasi Anak
Banyak manfaat positif yang didapat Gen Z dengan belajar wayang. Salah satunya meningkatkan kemampuan literasi anak.

"Anak-anak yang sebelumnya mengalami kesulitan membaca, secara perlahan menunjukkan perkembangan signifikan setelah terlibat dalam pembelajaran naskah dan cerita pewayangan," ungkapnya.

Cerita, lanjutnya menjadi jembatan dan imajinasi menjadi pintu masuk. "Di sinilah letak kekuatan wayang: ia tidak mengajarkan secara langsung, tetapi menghidupkan rasa ingin tahu," tambahnya.

Di tengah derasnya arus digital, lanjut Ki Dalang Wawan Ajen, wayang justru menemukan ruang baru. Platform seperti TikTok, Instagram, dan YouTube menjadi medium transformasi.

"Atraksi dalang, potongan adegan, hingga interpretasi kreatif tokoh pewayangan kini beredar luas menjangkau generasi yang sebelumnya jauh dari tradisi," ungkapnya seraya menambahkan fenomena ini bukan sebagai ancaman melainkan peluang.


Adaptasi Media Kekinian
Media sosial dalam konteks ini, sambungnya, bukan sekadar alat promosi melainkan  ruang negosiasi budaya. "Tempat tradisi dalam hal ini wayang beradaptasi, tanpa kehilangan jati dirinya," terangnya.

Berdasarkan amatannya, kini antusiasme terhadap wayang justru tumbuh dari ruang-ruang yang tidak formal.

Di Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi misalnya, peserta datang dari berbagai jenjang usia, mulai dari anak PAUD hingga pelajar SMA. Bahkan, sebagian besar dari mereka mengenal wayang pertama kali bukan dari sekolah, melainkan dari media sosial.

"Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: ketika tradisi dikemas dengan tepat, ia tidak hanya bertahan tetapi berkembang," ungkapnya.

Kata Ki Dalang Wawan Ajen, sering kali generasi muda dianggap tidak peduli. Padahal, yang terjadi adalah ketidaksesuaian antara cara penyampaian dengan cara mereka belajar dan berinteraksi. "Wayang tidak kehilangan relevansi. Yang perlu diperbarui adalah cara kita menghadirkannya," terangnya.


Satu lagi, wayang tidak harus dipertahankan sebagai artefak masa lalu, tetapi dihidupkan sebagai bagian dari masa kini.

"Ketika wayang bisa hadir di tongkrongan, di layar ponsel, dan di ruang imajinasi anak muda, maka di situlah ia menemukan masa depannya," pungkasnya.

Bukti kalau Ki Dalang Wawan Ajen gencar memperkenalkan wayang ke Gen Z, usai menjadi narsum di radio tersebut, ia lanjut memberikan pengetahuan luasnya tentang wayang ini lewat tulisan yang kemudian diracik media online TravelPlus Indonesia  menjadi smart article ini.

Efeknya, jelas akan semakin banyak orang khususnya Gen Z yang bukan hanya mengenal wayang pun tertarik untuk belajar lebih jauh tentang wayang hingga akhirnya jatuh cinta dengan salah satu budaya asli Indonesia yang sudah diakui UNESCO sebagai karya kebudayaan yang mengagumkan dalam bidang cerita narasi dan warisan yang indah dan berharga (Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity) ini.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Sumber: tulisan Ki Dalang Wayan Ajen bertajuk "Wayang Masuk Tongkrongan: Ketika Tradisi Menyapa Gen Z dari Gelombang Radio hingga Layar Digital"

Foto: dok. wawan gunawan/radio dakta & dok. wawan gunawan/sanggar wayang ajen

Captions:
1. Wawan Gunawan alias Ki Dalang Wawan Ajen, pedalang sekaligus pendiri grup Wayang Ajen memperkenalkan wayang ke Gen Z lewat program Bincang Budaya di Radio Dakta 107 FM.
2. Ki Dalang Wawan Ajen menjadi narsum yang mengusunb tema “Wayang Masuk Tongkrongan: Membumikan Tradisi ke Gen Z”.
3. Antusiasme anak-anak sekarang belajar dalang di Sanggar Wayang Ajen, Kota Bekasi.
4. Perlunya beradaptasi dengan ragam media untuk memperkenalkan wayang ke Gen Z.
5. Bersinergi dengan media online. website TravelPlus Indonesia untuk memperkenalkan wayang ke Gen Z dalam bentuk smart article ini.





Read more...

Minggu, 03 Mei 2026

Menjelang 5 Abad Pesona Jakarta Kian Menjulang, Ini 11 Faktor Penguatnya


Menjelang Jakarta berusia 500 tahun pada tahun 2027, pesonanya sebagai destinasi wisata global semakin menjulang. Ini dipicu berbagai faktor penguat yang mengkombinasian antara ketersediaan moda transportasi umum yang nyaman, akomodasi, daya tarik wisata, rasa aman, dukungan jurnalis loyal, dan lainnya.

Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada 11 (sebelas) faktor penguat yang membuat ragam pesona Jakarta kian mendunia menjelang usia 5 abad.

Kota Teraman
Faktor penguat pertama, adanya pengakuan/penobatan Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara (ASEAN) tahun 2026.

Pengakuan tersebut merujuk pada laporan Safety Index 2026 yang dirilis oleh Global Residence Index.

Berdasarkan laporannya edisi 16 Januari 2026, penilaian dilakukan lewat pengumpulan data dari berbagai indikator keamanan antara lain tingkat pembunuhan, penculikan sampai risiko ketidakstabilan politik. Data tersebut dihimpun dari sejumlah lembaga kredibel internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa.


Dalam daftar kawasan Asia Tenggara, Jakarta menempati posisi kedua dengan skor 0,72, dibawah Singapura yang berada di urutan teratas atau pertama dengan skor 0,90 dan diatas Bangkok diposisi ketiga dengan skor 0,65.

Dilihat dari kacamata pariwisata,  pengakuan/penobatan Jakarta sebagai kota teraman kedua di Asia Tenggara tahun 2026 tersebut tentunya sangat krusial mengingat rasa aman itu dalam Sapta Pesona berada diurutan teratas atau dengan kata lain menjadi syarat utama yang dibutuhkan wisatawan sebelum mereka melakukan kunjungan wisata.

Bila destinasi wisata yang akan mereka kunjungi aman, apalagi sudah mendapatkan pengakuan/penobatan seperti itu, tentunya mereka tidak ragu-ragu lagi, tidak cemas lagi untuk datang dan atau kembali berwisata lagi ke Jakarta.

Selain pariwisata, pengakuan/penobatan tersebut pun juga berdampak bagus menciptakan citra yang positif bagi investasi.


Transportasi Umum Terbaik
Faktor penguat kedua, adanya pengakuan Jakarta salah satu kota dengan transportasi umum terbaik di dunia pada 2025.

Dilansir dari antaranews.comJakarta menempati peringkat ke-17 dari 50 kota menurut survei Time Out tahun 2025. Dalam survei itu, disebutkan moda transportasi umum tersibuk di Jakarta adalah bus, dengan tingkat persetujuan 79 persen.

Bus Transjakarta beroperasi di jalurnya sendiri (busway) di jalan-jalan di ibu kota. Layanan tersebut menawarkan pilihan paling terjangkau bagi warga setempat untuk berkeliling kota.

Selain bus Transjakarta, ada pula Mikrotrans, yaitu bus berukuran sedang yang melayani antarhalte busway.

Kemudian, terdapat sejumlah opsi transportasi berbasis rel, yakni MRT (mass rapid transit) dan LRT (light rail transit) yang membantu mengurangi kemacetan di ibu kota, serta kereta komuter yang menghubungkan Jakarta dengan kota-kota penyangga, yaitu Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Sebelum itu, Jakarta juga pernah mendapat penghargaan internasional seperti Sustainable Transport Award (STA) pada tahun 2021 atas komitmennya dalam mengembangkan transportasi publik yang berkelanjutan.


Pengakuan dan penghargaan tersebut jelas membuahkan imej positif bagi sektor pariwisata, mengingat ketersediaan moda transportasi umum yang nyaman dan tarifnya terjangkau untuk menjangkau sejumlah objek wisata/atraksi wisata di Jakarta sangat dibutuhkan wisatawan.

Dengan ketersediaan moda transportasi umum yang nyaman dan terjangkau tersebut jelas membuat orang luar Jakarta bahkan luar Indonesia jadi semakin tertarik berwisata ke Jakarta.

Begitupun dengan wisatawan nusantara maupun mancanegara yang sedang berada di Jakarta, jadi lebih sering keluar hotel untuk berwisata keliling Jakarta antara lain ke TMII, Kebun Binatang Ragunan, Ancol, kawasan Kota Tua, PIK, Monas, Sarinah, Twrowongan Kendal, Bundaran HI, Taman Dukuh Atas, GBK Senayan, JIS, JICC, Blok M, BKT, Perkampungan Budaya Betawi, bermacam museum, masjid-masjid ternama, pusat perbelanjaan/mall, sentra kuliner, resto/kafe, tempat hiburan, taman/hutan kota, dan lainnya karena terkoneksi dengan moda transportasi umum sebagaimana tersebut di atas.

Amatan TravelPlus Indonesia, banyak juga turis asing yang menggunakan bus Transjakarta maupun KRL komuter untuk keliling objek-objek wisata Jakarta tersebut.


Surga Kuliner
Berikutnya atau faktor penguat yang ketiga, Jakarta surganya kuliner tradisional dan mancanegara.

Bukan hanya bermacam kuliner khas Betawi (suku atau warga asli Jakarta) seperti nasi uduk, nasi ulam, gado-gado, sayur asem, pecak gabus, soto Betawi, laksa Betawi, sayur ketupat Betawi, kerak telor, es selendang mayang, dan dodol Betawi, di Jakarta juga tersedia sejumlah kuliner tradisional dari berbagai suku lain yang lahir dan atau lama tinggal di Jakarta seperti kuliner khas Sunda, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Lampung, Batak, Melayu, Makassar, Manado, Aceh, dan lainnya.

Belum lagi kuliner mancanegara seperti Jepang, Korea, China, Arab, India, Thailand, dan lainnya.

Keragaman kuliner tradisional Indonesia yang kaya rempah dan kaya rasa seperti gurih, pedas, dan manis yang tersedia di Jakarta termasuk kuliner mancanegara, ditambah lagi mudah mendapatkannya antara lain di warung/rumah makan, resto, kafe, pedagang keliling, pedagang di tepi jalanan atau street food, kantin, sentra kuliner, food court, mall, hotel, dan lainnya, tak bisa bisa dipungkiri menjadi satu daya tarik utama yang memikat wisnus maupun wisman untuk datang dan berwisata lagi ke Jakarta.

Faktor penguat keempat, penduduknya ramah kepada wisatawan.

Meskipun sampai kini masih menjadi  pusat pemerintahan sekaligus pusat ekonomi Indonesia, namun warga Jakarta baik asli maupun pendatang umumnya terbilang memiliki sikap ramah terhadap wisnus maupun wisman.


Kian Berkilau
Faktor penguat kelima, paras Jakarta kian berkilau.

Tak bisa dipungkiri pula wajah Jakarta sebagai salah satu kota megapolitan terbesar di dunia menjelang usianya 5 abad semakin berkilau, rapih, bersih, estetik, modern, kekinian namun tetap menonjolkan muatan budaya lokal khususnya budaya Betawi.

Kondisi tersebut bisa dilihat dari pembaruan berbagai fasilitas publiknya seperti jembatan penyeberangan orang (JPO) yang keren, halte-halte Transjakarta serta stasiun-stasiun KRL yang megah, penataan trotoar berikut kursi-kursi dan lampu-lampu taman, penataan taman/hutan kota yang estetik, ditambah deretan bangunan jangkung dengan lampu-lampu kota yang menawan sehingga banyak orang terlebih wisatawan yang datang dam menjadikannya sebagai spot-spot foto yang menarik.


Gratis & Multi-Event
Selanjutnya atau faktor penguat yang keenam, Jakarta punya banyak tempat wisata dan rekreasi gratis.

Ketersediaan sejumlah tempat wisata tak berbayar atau tidak dikenakan tiket masuk alias gratis membuat semakin banyak orang yang tertarik berwisata ke Jakarta.

Beberapa tempat wisata atau daya tarik wisata gratis di Jakarta yang ramai peminatnya antara lain kawasan Monas, Lapangan Banteng, venue sport tourism seperti GBK Senayan dan JIS, kemudian kawasan Kota Tua, taman-taman kota yang indah, dan masih banyak lainnya.

Faktor penguat ketujuh, Jakarta punya banyak event menarik dan tak sedikit yang gratis.

Amatan TravelPlus Indonesia, selain ibu kota yang multietnis, muktilultural, dan multikuliner, Jakarta itu juga ibu kota yang multi-event. Kenapa? Ya karena tidak  pernah sepi dengan kegiatan seperti kegiatan wisata (tourism event), budaya (culture event), olahraga (sport tourism event), konser musik, bazar kuliner, bermacam pameran, dan lainnya.

Boleh dibilang hampir tiap hari ada saja kegiatan yang digelar dan tak sedikit yang diadakan tanpa berbayar alias gratis. Bahkan untuk menarik pengunjung, banyak mall dan tempat umum lainnya yang mendatangkan penyanyi atau band ternama tampil dan penontonnya tidak dikenakan tiket masuk.

Semua event yang digelar itu jelas membuat banyak orang tertarik datang ke Jakarta dengan menggunakan moda transportasi umum yang nyaman maupun tranportasi online.


Ragam Akomodasi
Faktor penguat kedelapan, Jakarta punya ragam pilihan akomodasi.

Sebagai destinasi wisata dan bisnis utama di Indonesia, kelebihan Jakarta juga memiliki  bermacam hotel non budget sampai hotel bintang lima.

Wisnus maupun wisman yang berwisata ke Jakarta bisa dengan mudah mencari akomodasi sesuai kebutuhan dan ketersediaan anggarannya. Bahkan beberapa tahun belakangan ini banyak hotel yang tersedia di tempat-tempat wisata di Jakarta seperti di TMII, kawasan Kota Tua, Ancol, Blok M, Pasar Baru, Jalan Sabang, dan lainnya.

Budaya Betawi Menonjol
Kemudian atau faktor penguat yang kesembilan, Jakarta tetap menjaga dan mengangkat ragam budaya penduduk aslinya yakni budaya Betawi.

Meski dihuni multietnis dengan berbagai macam budaya dari daerah-daerah lain bahkan negara-negara lain namun budaya Betawi sebagai warga asli Jakarta tetap hidup bahkan menonjol lantaran terus dijaga dan diangkat diberbagai kegiatan.


Di bulan Mei 2026 ini saja ada sejumlah acara terkait budaya Betawi di Jakarta  sebagimana diunggah akun IG Dinas Kebudayaan DKI Jakarta @disbuddki antara lain Pagelaran Kesenian Betawi secara reguler di Kampung M.H. Thamrin, Setu Babakan, Jaksel tanggal 9 Mei dan 23 Mei, dan workshop seni budaya Betawi di Perkampungan Budaya Betawi, Setu Babakan, Jaksel selama bulan Mei.

Selanjutnya ada Pagelaran Wayang Kulit Betawi di Museum Wayang, Kota Tua, Jakbar pada 24 Mei, Pagelaran Wayang Golek Lenong Pagelaran  di Mseum Wayang, Kota Tua, Jakbar pada 31 Mei, dan Jakarta Penuh Warna di Bundaran HI, Jakpus juga tanggal  31 Mei.

Wisata Bahari Berprestasi
Faktor penguat kesepuluh, Jakarta punya Taman Nasional Laut satu-satunya yang ada di Ibu Kota Negara yaitu Taman Nasional Kepulauan Seribu yang berada di Kabupaten Administratif Kepulauan Seribu, Jakarta.

Meskipun Jakarta tidak memiliki gunung dan air terjun sebagai daya tarik alam namun mempunyai destinasi wisata bahari yang berprestasi ditingkat Asia Tenggara.


Dilansir dari laman Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS), www.simpulseribu.id, TNKpS merupakan salah satu dari 7 Taman Nasional Laut dibawah Kementerian lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan merupakan bagian dari 553 unit Kawasan Konservasi di Indonesia.

Selain itu TNKpS merupakan satu-satunya Taman Nasional yang terletak di Ibukota Negara. Pada tahun 2017 Taman Nasional Kepulauan Seribu juga mendapat penghargaan sebagai kawasan ASEAN Heritage Park (AHP) ke 29 di kawasan Asia Tenggara yang mewakili Indonesia dalam pertemuan Asean Working Group on Nature Conservation and Biodiversity (AWGNCB) ke 27 yang berlangsung di Brunei Darussalam.

ASEAN Heritage Parks merupakan kawasan perlindungan terpilih di wilayah ASEAN dengan keanekaragaman hayati dan ekosistem yang unik dan bernilai tinggi sebagai keterwakilan ekosistem di kawasan negara-negara ASEAN.


AHP merupakan penghargaan tertinggi terhadap pentingnya perlindungan suatu kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan konservasi.

Keberadaan Taman Nasional Kepulauan Seribu yang mudah dijangkau dengan moda tranportasi laut dari Pelabuhan Kali Adem, Muara Angke maupun dari Dermaga Ancol ini, tak bisa dipungkiri juga menjadi salah satu daya tarik kuat yang membuat banyak wisnus maupun wisman berkunjung ke Jakarta untuk berwisata bahari antara lain santai dan berkemah di pantai, snorkeling, diving, memancing. wisata konservasi, kulineran seafood yang fresh dan keliling pulau.


Jurnalis Loyal
Terakhir atau faktor penguat yang kesebelas, mendapat dukungan dari jurnalis loyal.

Selain kesepuluh faktor penguat tersebut, tak kalah penting adalah dukungan dari berbagai pihak terkait termasuk dari jurnalis dan pembuat konten video khusus kepariwisataan, kebudayaan, dan ekonomi kreatif yang selama ini sudah loyal (setia) memajukan ketiga sektor itu di Jakarta lewat ragam karya jurnalistiknya, salah satunya TravelPlus Indonesia sehingga ragam pesona Jakarta semakin tersiar hingga mendunia.

TravelPlus Indonesia bukan hanya membuat bermacam tulisan, foto, dan konten video kekinian tentang bermacam daya tarik Jakarta seperti objek-objek wistanya, calendar of event-nya, kekhasan budaya Betawi dan kulinernya, moda transportasi umumnya, dan kelebihan/keistimewaan Jakarta lainya pun membuat counter news terkait pariwisata bila ada kejadian/insiden/bencana di Jakarta supaya publik lekas melek (paham) dan tetap tertarik berwisata ke Jakarta.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Salah satu acara di depan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
2. Lapangan Banteng, salah satu publice space gratis di Jakarta yang kerap digunakan untuk olah raga, kegiatan wisata, budaya. pameran, bazar kuliner dan lainnya.
3. Video moda transportasi umum kereta rel listrik (KRL) komuter yang kerap digunakan traveler untuk kelliling objek-objek wisata di Jakarta
4. Wisman tengah berwisata di kawasan Kota Tua Jakarta saat musim hujan.
5. Soto Betawi salah satu kuliner tradisional khas Betawi, Jakarta.
6 Wisatawan menikmati city light Jakarta yang menawan.
7. Band D'Masiv saat mengisi salah satu acara konser di Jakarta dan penontonnya tidak dikenakan tiket alias gratis.
8. Hotel-hotel pencakar langit di Jakarta dari yang non budget sampai berbintang.
9. Budaya Betawi dijaga dan diangkat hingga menonjol.
10. Pulau Pramuka, salah satu pulau di kawasan Taman Nasional Kepulauan Seribu.
11. Video Taman Kepulauan Seribu di Jakarta, salah satu taman nasional yang ada di ibu kota negara.
12. TravelPlus Indonesia, salah satu media online yang jurnalisnya sejak dulu loyal mengangkat ragam pesona Jakarta hingga mendunia, lewat tulisan, foto, dan konten video.

Read more...

Sabtu, 02 Mei 2026

Berwisata Edukasi Berbasis Budaya dan Wayang di Sanggar Wayang Ajen, Manfaatnya Tidak Dangkal


Di tengah hiruk-pikuk modernitas kota seperti Kota Bekasi, penghuni dan pengunjungnya tidak hanya membutuhkan hiburan. Sejatinya mereka juga membutuhkan arah dan makna. Dan di situlah seni budaya dan Sanggar Wayang Ajen hadir bukan sekadar tontonan, tetapi tatanan dan tuntunan.

Sanggar seni yang dibina oleh Wawan Gunawan atau Ki Dalang Wawan Ajen tersebut, bukan hanya menjadi ruang latihan seni pun ruang laku budaya. Tempat nilai ditanam, karakter dibangun, dan peradaban kecil dirawat.

Semua itu berpijak pada satu fondasi: Spirit Sapta Ajen yang Ki Dalang Wawan Ajen ciptakan yaitu tujuh nilai utama: spiritual, budaya, kreatif, ekonomi, informasi, komitmen, dan keberlanjutan.


Nah, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 tanggal 2 Mei ini, TravelPlus Indonesia menyajikan tulisan spesial terkait dengan wisata pendidikan atau lebih sering disebut wisata edukasi, yaitu wisata yang memadukan kegiatan rekreasi dan pembelajaran yang dirancang untuk memberikan pengalaman langsung, memperluas wawasan, dan meningkatkan kreativitas wisatawan.

Jadi wisata edukasi atau juga disebut eduwisata (pendidikan dan wisata), edutrip (educational trip), field trip/studi wisata (kunjungan edukasi di luar kelas), dan atau edu tour (educational tour) ini lebih dari sekadar liburan/wisata/rekreasi, karena berfokus pada nilai pendidikan antara lain budaya, sejarah, sains, pertanian, dan atau lingkungan.

Mengingat wisata edukasi juga banyak macamnya, khusus edisi ini Travelplus Indonesia fokus kepada wisata edukasi berbasis budaya dan wayang.


Sebagai nara sumber tunggal untuk tulisan ini, TravelPlus Indonesia memilih Wawan Gunawan. Kenapa? Selain seorang dalang sebagainana tersebut di atas yang mempunyai sederet prestasi dan pengalaman tampil bersama Sanggar Wayang Ajen di mancanegara, dia juga seorang pengajar yakni Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung.

Lalu apa itu wisata edukasi berbasis budaya? Menurut Wawan Gunawan adalah perjalanan yang tidak hanya memindahkan tubuh tetapi juga menggerakkan kesadaran. "Ia (wisata edukasi satu ini) memberi pengalaman belajar langsung tentang nilai, tradisi, dan identitas.

Sementara wisata edukasi berbasis wayang, lanjutnya, adalah bentuk yang lebih spesifik. "Dimana wayang tidak hanya ditonton, tetapi dipelajari, dirasakan, dan dijalani," terangnya.


Kata Wawan Gunawan yang pernah bertugas di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan ini, di Sanggar Wayang Ajen, wayang tidak berhenti sebagai seni pertunjukan. "Ia menjadi media pendidikan karakter, ruang kontemplasi nilai kehidupan, dan sarana memahami filosofi Nusantara," jelasnya.

Wayang itu mengajarkan tentang hidup. "Tentang benar dan salah, tentang dharma, tentang tanggung jawab manusia kepada Tuhan, sesama, dan alam," bebernya.

Tidak Hanya Pendalangan
Wawan Gunawan menerangkan di Sanggar Wayang Ajen, pembelajarannya bersifat vokasional, holistik, dan integratif. 


"Tidak hanya pedalangan, tetapi mencakup seni pedalangan mulai dari teknik sabet, catur, suluk; dramaturgi lakon wayang; juga filosofi tokoh seperti Bima, Gatotkaca, Arjuna, dan Semar," ungkapnya.

Traveler atau wisatawan peminat seni budaya termasuk wayang juga bisa belajar seni tari tradisi dan kreasi, khususnya tari klasik Sunda dan Nusantara serta tari kontemporer berbasis tradisi.

Masih ada lagi yakni fashion dan kostum budaya baik itu perancangan kostum pertunjukan maupun fashion show berbasis etnik.


Pengunjung juga bisa belajar kriya kayu yakni pembuatan wayang baik itu ukir, tatah, sungging serta filosofi bentuk dan warna. Sedangkan pembelajarab tentang kriya kain mencakup pembuatan kostum, motif, dan simbol budaya.

Satu lagi belajar tentang literasi budaya dan digital, baik itu storytelling budaya maupun konten kreatif digital. "Semua ini bukan sekadar keterampilan. Ini adalah transfer nilai," ungkapnya lagi.

Manfaatnya Tidak Dangkal
Manfaat berwisata edukasi berbasis budaya dan wayang di Sanggar Wayang Ajen tidaklah dangkal. "Manfaatnya menyentuh tiga lapisan yaitu personal, sosial, dan ekonomi," tegas Wawan Gunawan.


Personal itu lanjutnya membentuk budi pekerti luhur, menanamkan nilai spiritualitas dan kesadaran diri. Adapun sosial: menguatkan identitas budaya dan menumbuhkan toleransi multikultur. Sedangkan manfaat ekonominya adalah membuka peluang profesi di ekonomi kreatif dan melahirkan pelaku seni dan wirausaha budaya.

Ketika disinggung perkembangan wisata edukasi budaya & wayang di Indonesia, secara jujur dan kritis, Wawan Gunawan melihat potensinya besar, tetapi belum tergarap secara maksimal.

Menurutnya Indonesia kaya, tetapi sering lupa cara mengelola kekayaannya sendiri. "Wayang telah diakui dunia sebagai UNESCO heritage. Tetapi di dalam negeri, masih dianggap sesuatu yang biasa bahkan kuno. Hanya sebatas seremonial semata," ungkapnya.


Ditambah lagi tidak ada sistem yang berkelanjutan. "Secara ekosisten seni pedalangan dan pewayangan masih dimasing-masing sanggar, ada yang aktif ada yang pasif bahkan stag," tambahnya.

Selain itu, belum terintegrasi dalam sistem pendidikan modern dan minim inovasi kemasan wisata. "Padahal generasi muda justru sedang mencari identitas," bebernya.

Semua itu justru menjadi tantangan. "Bagaimana nilai kearifan lokal dan tradisi tidak hanya dilestarikan, tetapi dihidupkan kembali secara relevan supaya berdampak kemanfaatan dan punya nilai tambah kesejahteraan," terangnya lagi.


Pangsa Pasar
Setiap jenis wisata pasti ada pangsa pasarnya (peminatnya). Begitupun dengan wisata edukasi berbasis budaya dan wayang ini.

Menurut Wawan Gunawan, pangsa pasar terbesarnya adalah generasi milenial, Gen Z, dan Gen Alfa terutama di wilayah urban seperti Jakarta dan Kota Bekasi.

"Mereka bukan tidak suka budaya. Mereka hanya belum menemukan bentuk yang sesuai dengan zaman mereka. Mereka ingin: pengalaman (experience), interaksi (engagement), makna (meaning). Dan wayang bisa menjawab itu, jika dikemas dengan tepat," ungkapnya.


Lewat wisata edukasi berbasis budaya dan wayang ini, Wawan Gunawan sangat optimistis mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan ke Indonesia. Tentunya dengan beragam strategi promosi yang tepat antara lain dengan go digital yang produktif dan agresif.

"Hari ini panggung tidak hanya di panggung. Panggung ada di genggaman. Strateginya ya lewat konten kreatif di TikTok, Instagram, dan YouTube," imbau Wawan Gunawan.

Selain itu digital storytelling wayang, live performance streaming, dan kolaborasi dengan kreator muda. "Intinya bukan sekadar promosi tetapi membangun narasi budaya digital," jelasnya.


Peran Pemerintah
Amatan Wawan Gunawan selama ini, peran pemerintah untuk jenis wisata edukasi berbasis budaya dan wayang ini harus diakui belum maksimal.

"Masih ada fragmentasi kebijakan, keterbatasan anggaran, kurangnya keberpihakan pada komunitas akar rumput. Padahal amanat Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan jelas: Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan," bebernya.

Sanggar seperti Wayang Ajen, lanjutnya sudah menjalankan itu. "Tinggal bagaimana negara hadir lebih kuat," imbaunya.


Harapannya sederhana tetapi mendasar yakni harus ada komitmen nyata, bukan hanya wacana tetapi keberpihakan kebijakan. Selain itu harus ada dukungan infrastruktur ruang kreatif, panggung budaya, dan fasilitas pelatihan.

Perlu juga adanya program berkelanjutan seperti festival budaya rutin, integrasi dengan pariwisata, dan kurikulum berbasis budaya. "Satu lagi, pendanaan yang konsisten karena budaya tidak bisa hidup dari semangat saja," pungkasnya.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Foto2: dok. wawan gunawan/sanggar wayang ajen

Captions:
1. Anak-anak Indonesia berwisata edukasi berbasis budaya dan wayang di Sanggar Wayang Ajen Kota Bekasi.
2. Di dalam Sanggar Wayang Ajen.
3. Wawan Gunawan atau Ki Dalang Wawan Ajen pendiri dan pemilik Sanggar Wayang Ajen.
4. Tak semata belajar pendalangan.
5. Seni tari tradisional pun diajarkan.
6. Belajar jadi dalang sejak dini.
7. Anak-anak antusias belajar budaya dan wayang di Sanggar Wayang Ajen.
8. Rombongan wisatawan berkunjung ke Sanggar Wayang Ajen.
9. Para penari Sanggar Wayang Ajen usai tampil.
10. Generasi muda bertemu dan berbincang dengan Ki Dalang Wawan Ajen.
11. Wawan Gunawan dengan salah satu wayang golek jumbo (raksasanya).
12. Serius belajar menjadi dalang di Sanggar Wayang Ajen.
13. Berwisata edukasi berbasis budaya dan wayang di Sanggar Wayang Ajen banyak manfaatnya. (foto paling bawah).


Travel Tips
Buat traveler atau wisatawan peminat wisata edukasi budaya dan wayang yang ingin berkunjung ke Sanggar Wayang Ajen, ini alamatnya di Jalan Kusuma Barat VI. Cc 3 No. 11, Rt 3 Rw. 18, Komplek Wisma Jaya Kelurahan Duren Jaya, Kecamatan Bekasi Timur, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ada baiknya buat janji terlebih dahulu dengan menghubungi Dini Gunawan di No HP/WA 081218215852.

Kalau traveler datang menggunakan transportasi umum kereta rel listrik (KRL) commuter line, turunnya di Stasiun Bekasi Timur lanjut naik moda transportasi online.

Bila ingin jumpa langsung dengan Wawan Gunawan selaku pendiri sekaligus pemilik Sanggar Wayang Ajen, sebaiknya datang di akhir pekan (Sabtu dan Minggu), karena di hari kerja (week day), Ki Dalang Wawan Ajen ini mengajar di NHI Bandung. 

***

Read more...

Jumat, 01 Mei 2026

Naik KRL Berwisata ke Jabodetabek-Rangtung, Ini Keuntungan, Objek, dan Tipsnya


Buat Anda traveler dari Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya bahkan mancanegara yang ingin berwisata keliling Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) serta ke Cikarang dan Rangkasbitung (Rangtung) secara mandiri, naik kereta rel listrik (KRL) adalah pilihan yang tepat. Kenapa?

Pertama naik KRL untuk tujuan berwisata jelas memberi keuntungan buat traveler, antara lain jauh lebih praktis dan cepat karena memiliki jalur tersendiri sehingga terhindar dari kemacetan. Intinya menggunakan KRL itu waktu tempuhnya lebih cepat dibandingkan dengan mobil atau bus saat kondisi jalan padat.

Keuntungan yang kedua, jauh lebih hemat karena tarif KRL sangat terjangkau. Artinya tak menguras banyak isi saldo e money, paling jauh tak sampai Rp 10.000 per orang sekali jalan. Jadi naik KRL sangat pas buat traveler yang ingin berwisata tipis-tipis, murah meriah tapi menyenangkan.

Keuntungan lainnya jaringan KRL luas, di sejumlah stasiunnya terutama yang ada di Jakarta terkoneksi dengan bus Transjakarta dan atau dengan mikrotrans (JakLingko).


Selain itu,
pilihan objek wisata yang bisa dikunjungi dan dinikmati traveler pun sangat beragam antara lain objek wisata kota (city tour), city light, sejarah, budaya, alam, rekreasi, edukasi, hiburan (konser musik, tourism event, culture event, dll), wisata olah raga (sport tourism), belanja, kuliner, dan religi.

Buktinya, hampir disetiap stasiun yang disinggahi KRL memiliki objek wisata dan atau atraksi/kegiatan wisata.

Contohnya bila traveler turun di Stasiun Kota atau Beos, tinggal jalan kaki untuk bisa berwisata sejarah, budaya, dan kulineran serta hiburan seperti pertunjukan musik ke kawasan Kota Tua dengan bermacam museumnya antara lain Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Seni Rupa Indonesia, dan Museum Bank Indonesia.

Traveler juga bisa berwisata belanja ke Pasar Glodok dan Pasar Asemka serta menunaikan kewajiban sebagai muslim traveler yakni salat berjemaah di Masjid Jami' Baitussalam yang lokasinya sangat dekat dengan Stasun Kota dan halte Transjakarta Kota Tua.


Bila tujuannya Stasiun Juanda, traveler bisa berwisata religi dan kuliner ke Masjid Istiqlal. Pilihan lain berwisata belanja ke Pasar Baru kulineran Pecenongan. Lanjut ke Monas dan Museum Sejarah Nasional di seberang halte Transjakarta Monas,
dan Galeri Nasional Indonesia.

Kalau turun di Stasiun Gondangdia, traveler bisa berwisata religi sekaligus sejarah ke Masjid Cut Meutia. Kalau datang di malam bulan Ramadan, di pelataran masjid ini juga ada perhelatan Ramadhan Jazz Festival (tapi ini berbayar atau ada tiketnya).

Di sekitar Stasiun Gondangdia dan Masjid Cut Meutia atau yang agak lebih jauh lagi ke Jalan Sabang, traveler bisa kulineran malam sepuasnya.

Traveler juga bisa ke Taman Ismail Marzuki (TIM) untuk melihat berbagai acara seni dan budaya baik yang gratis maupun berbayar. Dari stasiun ini, Traveler juga bisa juga ke Monas, jalan kaki ataupun naik tranportasi online.

Jika turun di Stasiun BNI, traveler bisa ke Terowongan Kendal, kulineran dan ngopi di kedai kopi sekitar stasiun, Riverside Walk, Taman Dukuh Atas, Bundarah HI. Sarinah, dan JPO Phinisi. Mau wisata belanja, hiburan, dan kulineran di kawasan Blok M juga bisa, tinggal beralih naik bus Transjakarta.

Kalau tujuannya Stasiun Manggarai, traveler bisa kulineran di Jatinangor House, The Bensara Cafe, soto Betawi Bang Husein, serta belanja dan kulineran di Pasar Rumput.

Bila turun di Stasiun Tebet, traveler bisa ke Tebet Eco Park, wisata religi ke Masjid Perahu serta wisata belanja, hiburan, dan kulineran ke Mall Kokas (Kota Kasablanka).


Bila Ingin ke TMII
Traveler yang ingin ke TMII, bisa turun di Stasiun Cawang lanjut baik bus Transjakarta ke arah kiri (Timur). Jika ke arah kanan (Barat), bila lanjut naik Transjakarta bisa ke Jakarta International Convention Center (JICC-Senayan) yang merupakan tempat pameran, konser musik, dan lainnya yang berkelas internasional.

Kalau mau kulineran dan wisata belanja di Kalibata City dan Kalibata Mall, tinggal turun di Stasiun Kalibata. Sedangkan kalau mau kulineran dan ke Kebun Binatang Ragunan, turunnya di Stasiun Pasar Minggu lanjut naik bus Transjakarta ataupun JakLingko.

Buat traveler yang ingin ke Perkampungan Betawi Setu Babakan di Srengseng Sawah, bisa turun di Stasiun Lenteng Agung lanjut naik JakLingko ataupun tranportasi online.

Bila traveler ingin berwisata di kawasan Depok dan sekitarnya, misalnya ke Hutan Kota Universitas Indonesia (UI), turunnya di Stasiun UI.

Kalau turun di Stasiun Depok ataupun Stasiun Depok Baru, bisa lanjut ke Lembah Mawar Park (Kota Depok), Taman Lembah Gurame (Kota Depok), Setu Cilodong, Taman Balaikota Depok (Kota Depok), Taman Cilodong (Kota Depok), Taman Sawangan (Kota Depok), Taman Kiara Payung (Kota Depok), dan Situ Pengasinan (Kota Depok).

Bisa juga berwisata belanja, hiburan, dan kulineran di ITC Depok, Plaza Depok, Depok Town Square (Detos), dan Margo City.

Kalau tujuannya ke Stasiun Cibinong, traveler bisa berwisata belanja, hiburan, dan kulineran di Cibinong City Mall, wisata edukasi satwa di Animalium BRIN, bersantai di Setu Cikaret serta berwisata olah raga, kulineran, dan hiburan di Stadion Pakansari sekaligus wisata religi ke Masjid Raya Nurul Wathon.

Jika turun di Stasiun Nambo, traveler bisa ke Sawah Cere, Taman Wisata Sigantang, Wisata Pesona Alam Pulekan, Curug Citeureup Asri, Gua Lalay, dan wisata panjat tebing alam di Tebing Klapa Nunggal.

Kalau tujuannya Stasiun Bogor, traveler bisa bersantai sekaligus kulineran di sekitaran Alun-alun Kota Bogor, menunaikan salat berjemaah di Masjid Agung Kota Bogor, olah raga tipis-tipis di Lapangan Sempur, lanjut ke Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, dan Museum Kepresidenan RI.

Bila tujuannya Stasiun Bekasi, traveler bisa ngadem dan kulineran di Hutan Kota Bekasi, Alun-Alun Kota bekasi, Masjid Alun-alun Bekasi, dan atau berwisata belanja, hiburan dan kulineran di Summarecon Mall Bekasi.


Sanggar Seni Wayang Ajen
Kalau tujuannya Stasiun Bekasi Timur, traveler bisa berwisata budaya ke Sanggar Seni Wayang Ajen.

Menurut Wawan Gunawan, pemilik Sanggar Seni Wayang Ajen banyak aktivitas wisata budaya yang dapat dilakukan travelers di sanggar seninya setiap hari antara lain melihat Museum Wayang Ajen, galeri seni, perpustakaan, studio latihan, workshop pembuatan wayang golek, melihat peragaan wayang golek dan kulit atau pentas minimalis, bermain gamelan, pameran kostum adat Nusantara, peragaan busana, foto mengenakan kostum adat, pelatihan tari, pertunjukan tari, fashion show, bernyanyi, dan diskusi budaya.

"Kalau traveler datang hari Sabtu dan Minggu, bisa bertemu langsung dengan saya," ungkap Wawan Gunawan yang juga menjadi dosen pascasarjana pariwisata di NHI Bandung.

Selanjutnya kalau traveler turun di Stasiun Cikarang antara lain bisa berwisata ke Meikarta Central Park, menunaikan salat berjemaah di Masjid Baitul Makmur yang dikenal sebagai masjid berkonsep ramah lingkungan di Telaga Sakinah, Cikarang Barat. Berikutnya ke Waterboom Lippo Cikarang, City Garden Eat and Play Pollux Cikarang, Hutan Bambu Warung Bongkok, Hollywood Junction Jababeka, dan Mall Lippo Cikarang & Citywalk.


Bila tujuannya Stasiun Tanahabang, traveler tentunya bisa berwisata belanja di Pasar Tanah Abang (Blok A/B) sekaligus menunaikan salat berjemaah di Masjid Al Arqom di atap gedung pusat perbelanjaan Blok A atau di Masjid Jami' Al-Ma'mur.

Pilihan lain, traveler bisa ke Museum Tekstil, Holeo Golf & Dessert Museum, dan belanja serta kulineran ke Citywalk Sudirman serta ke Museum Nasional Indonesia.

Bila turun di Stasiun Tanjung Priok, traveler bisa ke Jakarta International Stadium (JIS), Pelabuhan Tanjung Priok, Musem Maritim Indonesia, Makam Mbah Priok, Pasar Ular Plumpang, dan Waduk Sunter Utara.

Jika ingin ke Pantai Ancol, Dufan, Seaworld, Ocean Dream Samudra, dan Allianz Eco Park, Pasar Seni, dan lainnya di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, traveler tinggal turun di Stasiun Ancol.

Kalau tujuannya Stasiun Tangerang Kota, traveler bisa berwisata ke tepian Sungai Cisadane atau Cisadane Walk, Jembatan Kaca, Taman Dayung, Museum Benteng Heritage, kulineran di Pasar Lama Tangerang serta berwisata religi ke Masjid Agung Al-Ittihad dan Masjid Raya Al-A'zhom.

Jika tujuannya mau berwisata belanja, hiburan, dan kulineran di Bintaro Xchange Mall, traveler tinggal turun di Stasiun Jurangmangu lanjut jalan kaki.

Bila mau ke Living World & Broadway Alam Sutera, turunnya bisa di Stasiun Rawa Buntu ataupun Stasiun Serpong. Tapi bila ingin berwisata pameran, kulineran, hiburan ataupun belanja ke ICE BSD, turunnya di Stasiun Cisauk.

Nah, kalau tujuannya ke Stasiun Rangkasbitung, traveler bisa berwisata ke Alun-alun Rangkasbitung, Masjid Agung Al-Araaf, Museum Multatuli, Water Toren Rangkasbitung, Perpustakaan Saidjah Adinda, tur bangunan tua dan bersejarah serta bersantai di Balong Ranca Lentah.


Pilihan lain kulineran ke Warung Nasi Ka. OYO Rangkasbitung, RM Ramayana, RM Parahyangan, dan atau ke area kuliner di Balong Ranca Lentah.

Kalau cuma mau ngopi plus ngemil antara lain ke Sudut Kota Coffee & Space, Senapati Coffee and Space, Teras Lestari, Alaska Coffee & Eatery, Kopi Kawan Café Space, Kopisaé, Warkop99 Cafe & Space, Cikuda Lake Cafe, Tomoro Coffee, dan Debyz Coffee.

Bila traveler mau beli aneka oleh-oleh khas Lebak di Rangkasbitung antara lain di Toko Siang Malam di Jalan Multatuli.

Travel Tips
Berwisata keliling Jabodetabek-Rangtung dapat traveler lakukan sendiri (solo traveling), dengan kelompok kecil (small group) terdiri atas 2- 9 orang, maupun dalam big group (kelompok besar) atau rombongan di atas 10 orang.


Sebaiknya cek terlebih rute maupun stasiun kereta yang akan dituju apakah dilewati KRL atau tidak karena sesuatu hal. Ceknya bisa lewat KRL Access ataupun website commuterline.id.

Jangan lupa, masing-masing membawa e-money atau KMT dengan jumlah saldo yang cukup supaya tidak repot isi ulang di stasiun.

Untuk menghindari penumpang KRL yang terlalu padat, sebaiknya jangan berangkat atau pulang saat rush hour (jam sibuk). Usahakan berangkat diluar jam kerja (pagi 06.00–09.00 dan sore 16.00–19.00).

Kenakan pakaian/sandal/sepatu yang nyaman dan santun khsusnya bila ingin sekaligus berwisata religi untuk menuniakan salat berjemaah di masjid.

Pakailah topi untuk menghalau terik matahari. Sediakan pula payung atau jas hujan untuk antisipasi hujan, tikar/sajadah dan handuk traveling serta kamera/HP untuk dokumentasi.

Bawa makanan dan minuman ringan secukupnya. Usahakan kulinerannya di lokasi tujuan wisata agar bisa ikut menambah pendapatan para pelaku usaha kuliner setempat.

Kalau objek wisatanya dekat sekali dengan stasiun (hanya sekitar 100 meter sampai dengan sekitar 1 Km, cukup berjalan kaki. Tapi bila agak jauh di atas 1,5 Km, bisa sambung dengan bus Transjakarta dan atau JakLingko. Bisa juga traveler menggunakan transportasi online baik motor ataupun mobil, disesuikan dengan jumlah pesertanya.


Bila membawa buah hati, anak didik yang masih pelajar SD-SMP, sebaiknya pilih objek wisata yang punya muatan edukasi seperti belajar seni budaya wayang di Sanggar Seni Wayang Ajen.

Selamat berwisata keliling Jabodetabek serta Rangtung dengan KRL, moda transportasi massal yang praktis, cepat, murah, dan menyenangkan.

Enjoy trip with KRL🙏.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Naik KRL pilihan tepat berwisata tipis-tipis ke Jabodetabek dan Rangtung.
2. Video lokasi city light Jakarta dari JPO Phinis, Karet.
3. Wisata religi dan kuliner ke Masjid Istiqlal Jakarta turun di Stasiun Juanda tinggal jalan kaki.
4. Ke TMII naik KRL turun di Stasiun Cawang lanjut naik bus Transjakarta tujuan TMII.
5. Bila ingin berkegiatan seni budaya di Sanggar Seni Wayang Ajen, traveler bisa naik KRL turun di Stasiun Bekasi Timur lanjut tranportasi online. (foto: dok/sanggar seni wayang ajen)
6. Mau ke Bundaran HI naik KRL turun Staisun BNI lanjut naik bus Transjakarta.
7. Ingin kulineran di Warung Nasi Ka. Oyo, naik KRL turun di Stasiun Rangkasbitung tinggal jalan kali sekitar 50 meter.
8. Berwisata keliling Jabodetabek & Rangtung indahkan travel tips yang ada dalam tulisan ini biar menyenangkan.
9. Mengajak buah hati ataupun anak didik yang masih pelajar SD-SMP belajar seni budaya di Sanggar Seni Wayang Ajen. (foto: dok/sanggar seni wayang ajen)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP