. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Kamis, 16 April 2026

Kisah Pendakian Gunung Tanggamus, Dulu dan Kini


Libur lebaran 2026 kemarin tepatnya jelang akhir Maret, saya mendaki Gunung Tanggamus lagi. Kok, pakai kata lagi? Apakah sebelumnya pernah mendaki gunung di Kabupaten Tanggamus, Lampung  itu?

Jawabannya ya. Pendakian Tanggamus yang saya lakukan baru-baru ini merupakan pendakian kali kedua. Sebelumnya, 31 tahun silam saya pernah mendaki gunung berketinggian 2.102 Mdpl tersebut pada akhir Januari 1995.

Wow, sudah lama banget. Lalu apa perbedaannya antara pendakian Gunung Tanggamus dulu dan kini?

Jawabannya jelas sangat beda, baik dari segi usia, kodisi fisik, status, teknik/cara pendakian yang saya gunakan, dan rekan pendaki maupun kisah atau cerita masing-masing pendakian yang berbeda era tersebut.


Pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995, boleh dibilang pendakian usang era konvensional, dimana media cetak (koran dan majalah) tengah berjaya.

Umur saya ketika itu masih 20-an tahun. Secara fisik, stamina sedang tangguh-tangguhnya. Usia tersebut memang masuk ketegori masa keemasan berkegiatan di luar ruang (outdoor activity) bermuatan petualangan seperti mendaki gunung, dan lainnya.

Saat itu saya masih berstatus mahasiswa tahun ketiga Fakultas Komunikasi, Jurusan Jurnalistik (kewartawanan) di Institut Ilmu Politik dan Ilmu Sosial (IISIP) Jakarta atau yang dikenal sebagai Kampus Tercinta, yang berada di Jalan Raya Lenteng Agung 32, Jakarta Selatan.

Kendati masih mahasiwa, kala itu saya sudah menjadi freelance reporter (wartawan lepas) di beberpa media cetak (koran dan tabloid) khusus menulis kisah perjalanan bermuatan petualangan seperti mendaki gunung, jelajah hutan, susur gua, susur pantai, panjat tebing, dan lainnya termasuk objek maupun atraksi wisata budaya, kuliner, kerajinan tangan, dan hiburan (terutama musik dan film).


Pendakian Gunung Tanggamus kali pertama saya lakukan bersama tiga rekan sekampus yakni dua senior bernama Prosper dan Buche serta satu yunior bernama Yosha. Kami berempat ketika itu sama-sama masih berambut gondrong (panjang).

Lantaran sering bertualang dengan Prosper yang tak lain anggota sekaligus  motor penggerak organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL - IISIP Jakarta, saya jadi  cukup kenal karakter serta jiwa petualangannya. Oleh karena itu saya merasa yakin akan lancar-lancar saja melakukan pendakian Gunung Tanggamus dengan modal fisik, keberanian, logistik, perlengkapan pendakian meskipun saat itu masih terbatas, dan tentunya pengalaman mendaki sejumlah gunung dan sederet kegiatan outdoor bermuatan petualangan lainnya.

Sebagai informasi tambahan, saya mulai mendaki gunung sampai puncaknya sejak tahun 1988, sewaktu masih SMA. Sebelum itu hanya camping dan treking santai, seperti ke Kawah Ratu, Gunung Salak.

Namun jujur pendakian pertama ke Gunung Tanggamus, saya benar-benar miskin data  karena saat itu belum era media online, jadi sangat sulit mendapatkan informasi tentang profil gunung tersebut termasuk jalur pendakian (japen)-nya, bagaimana tingkat kesulitan/grade japennya, dan berapa durasi pendakiannya jika lewat japen umum.

Intinya saat itu saya hanya mengikuti langkah Prosper saja. Begitupun dengan Buche dan Yosha. Kami bertiga laksana anak-anak ayam yang mengikuti induknya kemanapun melangkah.


Berhasil Tapi ...
Meskipun pendakian pertama kali ke puncak Gunung Tanggamus berhasl namun harus kami raih dengan susah payah dan bahkan nyawa hampir melayang. Kenapa? Karena Prosper yang menjadi leader, saat naik/mendaki memilih membuka jalur alias tidak menggunakan japen umum.

Saya sendiri sampai sekarang tidak tahu lewat pekon (desa) apa dan di kecamatan apa jalur yang dibuka Prosper tersebut. Namun yang pasti saat itu Gunung Tanggamus masih berada dalam wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) karena belum terjadi pemekaran kabupaten. Dengan kata lain Kabupaten Tanggamus belum terbentuk.

Sampai tiba diujung desa dan masuk hutan lebat, petualangan yang sesungguhnya pun dimulai. Prosper dengan menggunakan golok berada paling depan dan membuka jalur dengan membabat semak belukar dan batang pohon.

Tantangan berikutnya melewati hutan palem berduri. Baju planel saya sampai robek-robek kena duri dan mengenai kulit. Begitupun dengan ketiga tekan saya. Ternyata duri itu beracun, rasanya perih dan tangan, badan sampai wajah kami bengkak-bengkak.

Sewaktu mau membuat tulisan ini, saya sempat menghubungi Buche dan bertanya kenangan yang masih diingatnya saat mendaki Gunung Tanggamus tahun 1995 itu. Alhamdulillah senior satu ini cepat merespons-nya.


"Ahaaai..., yang paling gue inget waktu lo jatuh ketika mau menggapai bukit terjal 45 derajat dan licin. Untungnya lo tetap selamat meskipun teman-teman sempat was-was apalagi pas lihat bibir lo sampe berdarah," ungkapnya.

Setelah itu, lanjut Buche, kita menuju puncak. "Ternyata bukan puncak Gunung Tanggamus melainkan puncak bayangan. Padahal kita semua sudah kelelahan," terangnya.

Selanjutnya Buche menjelaskan kenangan yang masih diingatnya. Menurutnya kenangan yang mungkin paling ikonik ketika  kami berhasil menemukan puncak Tanggamus.dan bertemu dua orang sedang melakukan ritual perjamuan entah untuk apa. "Mereka sempat mengira kita adalah rombongan babi hutan menyeruak dari semak-semak hahaha," ungkap Buche lagi.

"Dan yang paling mungkin gue sesali (maaf) saat tiba di puncak saat itu jelang malam puasa pertama Ramadan. Harusnya gue berniat puasa tapi gue ga puasa bahkan harus makan logistik yang tersisa yaitu makanan kaleng "Maling" milik Yosha. Astaghfirullah, maafkan aku ya Allah 😰," terangnya.

"Tapi gue salut  keesokan harinya pas turun dari puncak menuju Gisting lewat japen umum, lo tetep puasa Ramadan hari pertama walaupun setengah hari berbuka 👍," ujar Buche.

Saya pun membalasnya. "Wow, ingatan lo masih kuat kang. Puasa Ramadan 1995 hari pertama itu penuh perjuangan hehehe. Cuma niat, ga sahur karena emang kita dah ga punya logistik apapun dan turun gunung ngesot pake pantat karena lemas dan masih ada sisa-nyeri kena duri palem. Tapi, Alhamdulillah pas jam 12 siang Zuhur kita ketemu rumah penduduk transmigran paling dekat dengan hutan Tanggamus dan dikasih singkong rebus buat buka setengah hari hahahaha", balas saya.


Penduduk transmigran asal Jawa yang memberi singkong rebus tersebut sempat terheran-heran pas Prosper menceritakan awal pendakian kami. "Wah, kalian benar-benar nekad banget. Untunglah kalian ga sampe bertemu Harimau Sumatra," ujar transmisgran tersebut.

"Usai makan singkong rebus dan numpang salat Zuhur, gue lanjutkan puasa lagi sampai Magrib. Kemudian kita lanjut berjalan kaki menyusuri jalan tanah dan berbatu (belum beraspal) dari perkampungan transmigran ke tepi jalan raya Gisting. Ampuuun, ternyata jauh banget," balas saya lagi.


Satu hal lagi yang masih terekam di benak ini, dalam pendakian itu saya sempat naik pitam (marah) sama Prosper gara-gara nyasar buka jalur bukan ke puncak utama tapi ke puncak bayangan. "Seumur hidup baru kali itu gue berani adu mulut sama senior karena mungkin emosi. Alhamdulillah gue dah minta maaf sama Prosper saat sampai di puncak, sebelum tidur berempat di bivak".

Selepas mendaki Gunung Tanggamus kali pertama, saya sempat membuat tulisan dan dimuat di salah satu koran dengan judul "Kisah Pendakian Jalur Empat Sekawan Gunung Tanggamus". Sayangnya arsip kliping tulisan tersebut entah kemana rimbanya.

Pendakian 2026
Pendakian Gunung Tanggamus 2026 adalah pendakian kali kedua saya. Dan tentunya saat era media kekinian tengah meraja yakni media sosial (medsos) seperti Instagram (IG), Tiktok, dan YouTube serta media online. Artinya sangat mudah mencari informasi terkait Gunung Tanggamus.


Pendakian kali ini ini saya bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus yang kini dikepalai Marhasan Samba.

Adapun teknik pemdakiannya tektok alias tidak nge-camp dan dipandu pemandu lokal belia bernama Kelpin.

Kenapa tektokan bukan nge-camp? Kenapa pula memakai pemandu? Jawabannya untuk mempersingkat waktu agar masih bisa meliput objek-objek pariwisata maupun ekraf Kabupaten Tanggamus sesuai arahan Kadisparekraf Tanggamus Marhasan Samba.


Dipendakian yang kedua pada tahun ini, usia saya terbilang sudah tak muda lagi, umur sudah lewat separuh abad. Boleh dibilang kondisi fisik juga tak lagi sekuat, setangguh, segesit, dan secepat dulu. Namun mental saya masih menyala seperti anak muda 😊.

Saat ini saya juga masih setia berprofesi sebagai wartawan khusus sektor pariwisata, ekonomi kreatif (ekraf) serta konservasi alam dan budaya di media online berlabel TravelPlus Indonesia yang saya kelola seiring menjamurnya media online dan meredupnya media cetak.

Sebelumnya saya pernah menjadi pemimpin redaksi sebuah majalah pariwisata dan kebudayaan di Jakarta serta ketua Forum Wartawan Pariwisata dan Kebudayaan (Forwarbudpar) pada era Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan dipimpin oleh Menteri Jero Wacik.


Pendakian tektok ke Gunung Tanggamus, saya lakukan pada Sabtu subuh (28/3/2026). Sempat bermalam di rumah Poklen, ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sonokeling yang kini berganti nama menjadi Java Palisander. Keesokan paginya, dari Basecamp (BC) pendakian Gunung Tanggamus via Pekon Sidokaton, Kecamatan Gisting, saya naik ojek gunung ke pos mata air, jelang Subuh sekitar pukul 4 pagi.

Di pos mata air, menunaikan salat subuh di saung musala yang kondisinya kurang terawat. Setelah itu lanjut menuju camping ground yang ilalangnya sudah lumayan tinggi. Di atas camping ground sempat menikmati pesona matahari terbit (sunrise) yang muncul di perairan Teluk Semaka. Kemudian lanjut treking ke pintu rimba.


Tak lama kemudian bertemu 4 pendaki muda-mudi (Zikri, Luthfi, Fajri, dan Eka) dari Kabupaten Pesawaran, Lampung. Mereka melakukan pendakian nge-camp di camping ground.

Mengingat faktor 'U" dan ditambah kurang tidur, saya mengambil inisiatif untuk memdaki santai (melangkah perlahan tapi konstan dan tidak terlalu lama saat istirahat).

Lantaran pendakian kedua kali ini sekaligus meliput (liputan jurnalistik), di titik-titik tertentu saya tak lupa mengamati sekaligus mengabadikan spot-spot menarik sampai menjelang summit attack antara lain sejumlah rumah akar, pos musala, kayu akar viral, tebing batu, dan hutan lumut.

Flora menarik yang saya temukan antara lain angrek hutan namun sedang tak berkembang dan tanaman kantong semar. Sedangkan satwanya paling sering terlihat adalah burung. Di pos lima terdengar bermacam kicau burung sehingga sekitar pos tersebut cocok dijadikan salah satu tempat bird watching.

Sampai di puncak Gunung Tanggamus sekitar pukul 12 siang. Puncaknya ditandai dengan triangulasi berupa lempengan marmer hitam bertuliskan "Puncak  Gunung Tanggamus Tinggi 2102 Mdpl" yang bercat emas.

Tak lama berselang, hujan turun deras dan panjang. Kelvin sempat memasang lembaran alas tenda yang saya bawa buat berteduh.


Lantaran hujan tak kunjung reda, saya sempatkan mengabadikan foto di triangulasi dengan memegang lembaran kertas HVS putih bertuliskan "Majukan Wisata Tanggamus: Mak Kham Sapa Lagi, Mak Tanno Kapan Lagi" dan "Majukan Wisata Tanggamus: @majestic.tanggamus" sebagai bukti nyata bahwa saya berhasil lagi menggapai puncak Gunung Tanggamus.

Dua tulisan tersebut merupakan titipan dari Syarif Hidayat Bangsawan selaku Kepala Bidang (Kabid) Pengembangan Pemasaran Pariwisata di Disparekraf Kabupaten Tanggamus.

5 Kali Jatuh
Setelah foto-foto singkat di puncak Gunung Tanggamus, saya ambil keputusan segera turun untuk menghindari kedinginan dan basah terlalu lama yang bisa memicu hipotermia.

Saat turun dari puncak, kondisi masih hujan. Lantaran trek licin dan berlumpur, saya  sempat jatuh terpeleset sampai 5 kali. "Aman pak?," tanya Zikri dan Kelpin beberapa kali. "Sejauh ini, aman, ayo lanjut jalan," balas saya.


Keluar dari pintu rimba hampir jam lima sore. Kemudian menuju camping ground. Kondisi jalannya tetap lincin luar biasa. Akhirnya tiba di camping ground dan sempat foto-foto beberapa tenda pendaki yang nge-camp. Lalu turun ke pintu air dan ojek datang tak lama kemudian.

Naik ojek menuju BC memang jauh lebih cepat dibanding jalan kaki tapi pegalnya minta ampun. Akhirnya sampai di BC menjelang magrib, Alhamdulillah.


Sepulang dari pendakian Gunung Tanggamus, saya membuat tulisan ini dan beberapa tulisan lain yang tayang di website/media online
TravelPlus Indonesia. Sedangkan konten-konten videonya beikut lagu tentang Gunung Tanggamus, saya unggah di medsos, antara lan IG @adjitropis.

Harapannya dengan publikasi kreatif di era kekinian ini, nama dan pamor Gunung Tanggamus bisa semakin melambung tinggi (meluas) serta pendakiannya kian diminati wisatawan minat khusus terutama para pendaki gunung dari luar Lampung, termasuk dari Jabodetabek dan sekitarnya.

Naskah : Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Saya, jurnalis & pendaki gunung yang tak lagi muda di puncak Gunung Tanggamus dan titik triangulasi-nya. (foto: luthfi & adji)
2. Gunung Tanggamus, satu-satunya gunung di Kabupaten Tanggamus sekaligus gunung tertinggi kedua di Lampung setelah Gunung Pesagi.
3. Saya di akar kayu viral pendakian Gunung Tanggamus. (foto: kelpin)
4. Gunung Tanggamus dilihat dari Bukit Idaman, Gisting.
5. Saya di depan Basecamp (BC) pendakian Gunung Tanggamus via Pekon Sidokaton, Kecamatan Gisting. (foto: #rekanpendaki)
6. Pemandangan dari dekat camping ground Gunung Tanggamus.
7. Saya di pintu rimba pendakian Gunung Tanggamus via Sidokaton. (foto: kelpin)
8. Bersama Kadis Disparekraf Kab. Tanggamus Marhasan Samba (berjaket coklat) dan sejumlah pendaki serta anggota Pokdarwis Sonokeling/Java Palisander mengucapkan selamat HUT ke 29 Kabupaten Tanggamus di depan BC Sidokaton.
9. Kelpin pendaki belia yang memandu saya di pendakian kedua Gunung Tanggamus secara tektok.
10. Suasana BC Sidokaton saat jelang subuh sebelum saya nanjak tektokan Gunung Tanggamus.
11. Bersama pendaki muda-mudi Lampung (Kelpin, Zikri, Luthfi, Fajri, dan Eka) di puncak Gunung Tanggamus, Sabtu (28/3/2026). (foto: #rekanpendaki)
12. Saya di puncak Gunung Tanggamus dengan memegang tulisan "Majukan Wisata Tanggamus: Mak Kham Sapa Lagi, Mak Tanno Kapan Lagi". (foto: luthfi)
13. Suasana camping ground Gunung Tanggamus.
14. Salah satu tulisan tentang data junlah pendaki Gunung Tanggamus yang tayang di website TravelPlus Indonesia.

*Cat.* : Selain buat mempromosikan pendakian Gunung Tanggamus dan objek-objek wisata  di sekitarnya yang masih berada di Kabupaten Tanggamus, tulisan ini juga saya dedikasikan buat Prosper dan Yosha yang sudah lebih dulu dipanggil Sang Maha Cinta.

Andai keduanya sampai sekarang masih ada, pasti bukan hanya akan saya tanyakan kenangan yang masih mereka ingat sewaktu mendaki Gunung Tanggamus tahun 1995, pun bakal saya ajak pula mendaki lagi Gunung Tanggamus 2026 ini.

Prosper meninggal dunia, dua pekan setelah melakukan pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995.

Dia wafat karena terseret banjir lahar dingin di Lumajang, kaki Gunung Semeru saat melakukan kegiatan bakti sosial (baksos) bersama Yosha (saya dan Buche tidak ikut baksos karena saat itu tengah menjalankan puasa Ramadan). Beberapa tahun kemudian, Yosha menyusul (meninggal dunia) karena sakit.

Semoga keduanya diberi tempat terbaik di sisi-Nya. Dan yang masih tersisa: Buche dan saya serta para senior dan rekan lama sesama penghuni WAG TAPAL 'n Simpatisan, diberi kesehatan, panjang usia, dan kebermanfatan sampai akhir masa, Aamiiin YRA 🤲.

Terima kasih buat @majestic.tanggamus, Disparekraf Kab. Tanggamus yang sudah bersinergi dengan TravelPlus Indonesia, terkhusus Marhasan Samba selaku Kepala Dinas Disparekraf Kab. Tanggamus beserta bawahannya antara lain Kabid pemasaran Syarif dan stafnya Syaipul yang sudah ikut membantu turun ke lapangan langsung.

Mudah-mudahan pada kesempatan lain, kita masih bisa terus bersinergi dengan lebih baik lagi untuk memajukan pariwisata dan ekraf Kab. Tanggamus, termasuk Gunung Tanggamus sebagai salah satu daya tarik alam Kabupaten Tanggamus yang menawan dan sangat potensial menjaring kunjungan wisatawan minat khusus, terutama pendaki gunung dan pencinta alam🙏.

****

Read more...

Senin, 13 April 2026

Sendratari “The Tales of Karangbolong", Layak Ditampilkan Lagi di Ruang Publik Estetik


Usai memukau warga perantauan asal Kabupaten Kebumen yang tinggal di Jabodetabek dan sekitarnya, Sendratari “The Tales of Karangbolong" sudah amat pantas ditampilkan lagi di ruang publik di Jakarta yang estetik dan besar.

Itulah catatan penting yang TravelPlus Indonesia garis bawahi setelah menyaksikan langsung suguhan budaya tersebut di pendopo Anjungan Provinsi Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026) siang sampai sore.

Mengapa layak ditampilkan lagi? Karena sendratari “The Tales of Karangbolong" bukan sekadar sebagai bentuk peleatarian budaya Kabupaten Kebumen pun secara keseluruhan apa yang disuguhkan memang bagus, lebih fresh/kekinian, dan tentunya artistik baik dari sisi koreografi, kostum, pencahayaan panggung, dan lainnya.


Dan kenapa harus ditampilkan di ruang publik di Jakarta yang estetik dan berukuran besar? Ya supaya jangkauan penonton/penikmatnya jauh lebih luas dan beragam (tidak sebatas hanya warga perantauan asal Kabupaten Kebumen di Jabodetabek dan sekitarnya). Dengan begitu otomatis akan terekspos lebih luas lagi baik oleh sejumlah media online yang ada di Jakarta maupun ragam media sosial dari penonton yang hadir langsung.

Namun dengan catatan, pertunjukan tersebut harus gratis (tidak dipungut tiket masuk) dan dipromosikan secara gencar terutama pra event atau sebelum pertunjukan tersebut berlangsung secara kontinu, misalnya sebulan, tiga Minggu, dua Minggu, satu Minggu, dan beberapa hari sebelum pelaksanaan supaya publik Jabodetabek dan sekitarnya tahu dan tertarik berbondong-bondong datang.


Selain gratis, sendratari yang disuguhkan juga harus lebih kolosal, artinya jumlah para penarinya harus lebih banyak dari biasanya, misalnya di atas 500 orang agar lebih megah dan wah.

Lalu ruang publik di Jakarta yang besar itu dimana? Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada 2 pilihan. Pertama, Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta Barat. Kedua, saat Car Free Day di sekitaran Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Namun karena ada embel-embel ruang publik estetik yang erat kaitannya dengan pertunjukan seni maupun budaya, tentu pilihan paling tepat adalah Taman Fatahillah, Kota Tua lantaran merupakan kawasan cagar budaya yang penuh dengan bangunan tua dan bersejarah yang klasik, artistik, bisa menampung sampai puluhan ribu orang, dan letaknya amat strategis karena mudah dijangkau publik dengan berbagai moda transportasi umum seperti bus TransJakarta dan KRL Commuter Line.


Pilihan venue lainnya, bisa juga di ruang kesenian indoor yang besar dan strategis misalnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) antara lain di Teater Besar (Teater Jakarta) yang memiliki 1.200 kursi dan Graha Bhakti Budaya (sekitar 950 kursi) atau di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) yang berkapasitas sekitar 475 kursi, Gedung Kesenian Miss Tjijih (300 kursi), dan atau di Gedung Wayang Orang Bharata yang berkapasitas 250 kursi. Kalau dilihat secara kapasitas, tentu Teater Besar TIM bisa jadi pilihan utama untuk venue indoor. Dengan catatan sebagaimana tersebut di atas yaitu gratis dan dipromosikan secara gencar pra event-nya.

Apakah cukup sendratari "The Tales of Karangbolong" yang disuguhkan? Tentu tidak. Sendratari tersebut memang sajian utamanya namun harus ada beberapa sajian pelengkapnya antara lain hiburan musik yang menghadirkan penyanyi ternama dari Kebumen ataupun dari ibu kota Jakarta yang membawakan lagu-lagu daerah Kebumen dipadukan dengan lagu pop/dangdut kekinian.


Selain itu sebaiknya harus ada deretan stan kuliner khas Kabupaten Kebumen, aneka kriya/kerajinan tangan atau oleh-oleh khas Kebumen yang dikemas bersih dan eatetik.

Tak ketinggalan dan amat penting, harus tetsedia pula stan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kebumen yang menyediakan berbagai bahan promosi wisata dan budaya Kebumen seperti leaflet, booklet, dan lainnya

Lalu stan akomodasi/penginapan/hotel/homestay yang ada di Kabupaten Kebumen dan stan travel agent/indie travel ataupun trip operator yang menjual bermacam paket wisata yang ada di Kabupaten Kebumen, lengkap dengan informasi itinerary, harga, meeting point, objek wisata yang dikunjungi, waktu (tanggal/bulan) pelaksanaan, dan contact person di setiap paket wisata yang dijual supaya masyarakat yang datang tertarik untuk langsung membeli paket-paket wisata tersebut sesuai minatnya.

Dengan begitu, sendratari “The Tales of Karangbolong" yang disuguhkan bukan hanya menjadi ajang promosi sektor pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Kebumen pun sekaligus bisa menjaring calon wisatawan yang akan berwisata ke Kabupaten Kebumen.


Terdaftar dalam HAKI
Sebagai informasi tambahan sendratari  “The Tales of Karangbolong" yang telah terdaftar secara resmi dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI)  berkisah tentang  perjuangan Pangeran Surti yang diperintah oleh raja setempat untuk mencari obat berupa sarang burung walet guna menyembuhkan permaisuri dari kutukan. Pangeran Surti mencari sarang burung walet sampai ke pesisir Selatan lalu mendapat bantuan Lutung Kasarung sampai bertemu Nyi Roro Kidul dan akhirnya berhasil mendapatkan obat tersebut.

Bupati Kebumen Lilis Nuryani dalam kata sambutannya menjelaskan sendratari ini merupakan karya anak-anak muda Kabupaten Kebumen yang digagas oleh dr. Faiz Alauddien Reza Mardhika, anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah, sebagai pengembangan dari tari kolosal Swardana Kabumian yang sebelumnya sukses disuguhkan di Kebumen Fest 2025.


Lilis Nuryani mengaku bangga bisa membawa Kabupaten Kebumen ke TMII untuk mempromosikan kebudayaan Kebumen ke seluruh Indonesia lewat sendratari ini.

Dia melihat karya ini menunjukkan bahwa generasi muda Kabupaten Kebumen memiliki potensi besar karena mampu mengjadirkan budaya dalam bentuk segar dan semakin dekat dengan masyarakat.

"Karena itu saya mengucapkan terimakasih kepada para pelatih, penari, dan seluruh tim kreatif yang telah menyiapkan pertunjukan ini dengan penuh dedikasi," ungkapnya.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus (jurnalis senior sektor pariwisata, ekraf konservasi budaya, dan alam), IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Melihat kualitasnya, sendratari "The Tales of Karangbolong" dari Kabupaten Kebumen menurut TravelPlus Indonesia sudah layak ditampilkan di ruang publik di Jakarta yang estetik dan besar.
2. Video sepenggal sendratari "The Tales of Karangbolong" yang ditampilkan Pemkab Kebumen di Anjungan Jateng TMII, Minggu (12/4/2026).
3. Koreografi dan kostumnya estetik dan artistik.
4. Video yel-yel usai tampil memukau para tamu warga perantauan asal Kabupaten Kebumen yang tinggal di Jabodetabek dan sekitarnya di TMII.
5. Para pemainnya dari anak-anak, muda-mudi sampai orang dewasa dari Kabupaten Kebumen.
6. Bupati Kebumen Lilis Nuryani saat memberi kata sambutan sekaligus membuka persembahan sendratari "The Tales of Karangbolong" di TMII.
7. Berfoto bersama usai tampil.

Read more...

Halal Bihalal Jakarta 2026 Bikin Kota Tua Jadi Lautan Manusia, Ini Lima Pemicunya


Acara Halal Bihalal Jakarta 2026 yang digelar Pemprov DKI Jakarta pada Sabtu (11/4/2026) malam membuat Kota Tua, Jakarta Barat terutama kawasan Taman Fatahillah dan sekitarnya berubah menjadi lautan manusia.

Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia, ada sekurangnya lima pemicu yang membuatnya begitu.

Pemicu yang pertama, lokasi Halal Bihalal Jakarta 2026 yakni Kota Tua dan dipusatkan di Taman Fatahillah memiliki banyak keistimewaan antara lain sangat strategis mudah dijangkau dengan moda transportasi umum antara lain bus TransJakarta dan KRL Commuter Line dari Jabodetabek bahkan Rangkasbitung sehingga pengunjung yang tidak memiliki kendaraan pribadi seperti motor ataupun mobil, bisa menggunakan dua moda transportasi tersebut dan jenis angkutan lainnya.


Keistimewaan lainnya, lokasinya estetik, artistik, dan merupakan ruang terbuka bersejarah karena merupakan kawasan cagar budaya yang penuh dengan bangunan klasik/tua sehingga indah serta menarik perhatian banyak orang untuk datang.

Pemicu yang kedua, pengisi acaranya bukan kaleng-kaleng (baca: tidak terkenal), melainkan beberapa penyanyi yang berkualitas, tersohor, dan punya masa peminat atau penggemar yang cukup banyak.

Penyanyi yang dihadirkan dalam Halal Bihala Jakarta 2026 ada Fatin Shidqia, Cakra Khan, dan grup Warna dengan iringan Orkestra Purwacaraka.


Menurut beberapa pengunjung, kehadiran penyanyi-penyanyi ternama tersebut menjadi alasan kuat kenapa mereka mau datang ke Halal Bihalal Jakarta 2026.

"Saya ke sini tujuannya memang buat nonton Fatin yang bersuara unik," kata Agus dari Tangerang.

"Kalau saya pengen banget lihat idola saya Cakra Khan, makanya belai-belain datang," ujar Nadia dari Bogor.

Pemicu yang ketiga, kemasannya kreatif. Ada video mapping di bangunan berstatus cagar nudaya dan spot-spot instalasi cahaya yang memukau seperti gapura, replika masjid, deretan unta, dan lainnya serta aneka lampu hias berbentuk simbol-simbol bernapaskan Islam seperti ketupat, bintang, dan bulan sabit. Semuanya menambah indah dan semarak.

Penonton yang berada di bagian belakang karena di bagian tengah dan depan sudah penuh orang, masih bisa melihat suguhan acara Halal Bihalal Jakarta ini lewat layar lebar yang dipasang di bagian belakang.


"Nggak nyangka banget acara dihias keren abis, Jadi betah berlama-lama sekaligus bikin foto-foto dan video buat sosmed," terang Andi yang datang dengan Nita kekasihnya dari Jakarta Selatan.

Pemicu berikutnya atau yang keempat, Promosi dan publikasinya gencar baik pra (sebelum), on (saat) maupun post/pasca (sesudah) event (kegiatan) itu berlangsung lewat ragam medsos maupun berbagai media online.

TravelPlus Indonesia sendiri membuat tulisan post/pasca event Halal Bihalal Jakarta ini memuat tentang lima pemicu yang membuat Kota Tua menjadi lautan manusia berkat adanya Halal Bihalal Jakarta 2026, berdasarkan amatan langsung.


Pemicu terakhir atau yang kelima, gratis. Lantaran tidak dipungut tiket masuk alias gratis dan tanpa ribet harus registrasi online atau scan barkot untuk registrasi, membuat warga Jabodetabek dan lainnya berbondong-bondong datang ke Kota Tua untuk menyaksikan Halal Bihalal Jakarta 2026. Acara tersebut juga sekaligus menjadi tujuan liburan/rekreasi di akhir pekan tanpa membayar dan tanpa ribet namun tetap menyenangkan.

Oleh karena itu meskipun diguyur hujan gerimis, lautan manusia yang menyaksikan suguhan Halal Bihalal Jakarta 2026 tetap bertahan sampai acara selesai.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Taman Fatahillah, Kota Tua, Jakarta berubah jadi lautan manusia saat Halal Bihalal Jakarta 2026 berlangsung pada Sabtu (11/4) malam.
2. Video kehadiran penyanyi-penyanyi ternama antara lain Cakra Khan membuat orang berbondong-bondong-bondong datang ke Halal Bihalal Jakarta 2026.
3. Video Fatin Shidqia tampil memukau, saat membawakan lagu terbarunya.
4. Video mapping di bangunan cagar budaya menambah indah dan artistik Halal Bihalal Jakarta 2026.
5. Gratis juga menjadi salah stau pemicu Kota Tua menjadi lautan manusia saat Halal Bihalal Jakarta 2026.



Read more...

Minggu, 12 April 2026

Bupati Kebumen Lilis Nuryani: "Pariwisata Kebumen Menunjukkan Perkembangan yang Menggembirakan"


Sektor pariwisata Kabupaten Kebumen baru-baru ini menunjukkan beberapa perkembangan yang menggembirakan, di antaranya tiga objek wisatanya masuk 10 besar destinasi dengan kunjungan wisatawan terbanyak di Jawa Tengah.

Hal itu disampaikan Bupati Kebumen Lilis Nuryani saat menyampaikan kata sambutan sekaligus membuka secara resmi pagelaran sendratari "The Tales of Karangbolong" di pendopo, Anjungan Provinsi Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).

Menurutnya pada momen libur Lebaran 2026 yang belum lama ini berakhir menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mencapai ratusan ribu orang dan menjadi salah satu yang tertinggi di Jawa Tengah.


"Bahkan tiga objek wisata Kabupaten Kebumen masuk 10 besar destinasi kunjungan wisatawan terbanyak di Jawa Tengah," ungkapnya.

Capaian bagus tersebut, lanjutnya, menunjukkan bahwa Kabupaten Kebumen semakin dikenal luas dengan alamnya yang indah, budayanya yang kuat, dan masyarakatnya yang ramah.

Sejalan itu, pihaknya juga terus mendorong penguatan Unesco Global Geopark Kebumen sebagai kebanggaan daerah yang memiliki nilai penting di tingkat dunia.


Diujung sambutan, Lilis Nuryani mengajak
warga perantauan asal Kabupaten Kebumen yang ada di Jakarta dan sekitarnya untuk turut mendukung perkembangan baik dari sektor pariwisata tersebut.

"Bapak dan ibu adalah bagian penting dari Kebumen. Dukungan dari saudara sekalian yang kami harapkan untuk turut membangun Kebumen," pungkasnya.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Bupati Kebumen Lilis Nuryani di acara budaya sendratari "The Tales of Karangbolong" di pendopo Anjungan Jawa Tengah, TMII, Minggu (12/4/2026).
2. Bahan promosi pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Kebumen yang dibagikan kepada para tamu di Anjungan Jateng, TMII.
3. Video Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan perkembangan pariwisata Kabupaten Kebumen yang menggembirakan semasa libur lebaran 2026.

Read more...

Kadisparbud Kebumen Frans Haider: "Sendratari Ajang Silaturrahmi Sekaligus Promosi'


Kegiatan budaya sendratari "The Tales of Karangbolong", bukan semata bertujuan untuk memghibur warga Kabupaten di perantauan yang melakukan silaturahmi di Jakarta pun sekaligus mempromosikan sektor pariwisata dan kebudayaan Kabupaten Kebumen
.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Kebumen Frans Haider kepada TravelPlus Indonesia pada akhir acara pagelaran sendratari "The Tales of Karangbolong" yang berlangsung di pendopo Anjungan Provinsi Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026) sore.


"Ini kan masih bulan Syawal, warga perantauan dari Kabupaten Kebumen yang ada di Jabodetabek bersilaturahim, maka kami siapkan sendratari " The Tales of Karangbolong" dalam rangka menghibur sekaligus mempromosikan dan mensosialisasikan ragam objek wisata dan budaya yang ada di Kabupaten Kebumen dan kami juga mengajak/mengimbau mereka dan masyarakat lainnya untuk berwisata ke Kebumen,' ungkapnya.

Kenapa wisatawan harus berwisata ke Kebumen? "Karena Kabupaten Kebumen memiliki sederet objek wisata alam yang indah dan budayanya yang kuat sebagaimana tergambar dalam sendratari The Tales of Karangbolong," ungkapnya.


Pada kesempatan itu, Frans Haidar juga mengajak warga Jabodetabek dan lainya untuk menjadikan Kabupaten Kebumen sebagai tujuan destinasi wisata berikutnya. "Ayo plesir ke Kebumen," pungkasnya.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Kabupaten Kebumen Frans Haider.
2. Suguhan sendratari "The Tales of Karangbolong" di pendopo Anjungan Jawa Tengah, TMII, Minggu (12/4/2026).
3. Video Frans Haider mengajak wisatawan dari manapun untuk berwisata ke Kabupaten Kebumen.

Read more...

Usai Gelar Sendratari, Kebumen Bakal Suguhkan Festival Walet Emas 2026 di Jakarta


Selepas sukses menggelar sendratari "The Tales of Karangbolong", Kabupaten Kebumen akan menyuguhkan satu kegiatan budaya lagi yang bertajuk Festival Walet Emas 2026, masih di Jakarta dan pada bulan yang sama.

Hal itu disampaikan Bupati Kebumen Lilis Nuryani saat menyampaikan kata sambutan sekaligus membuka secara resmi pagelaran sendratari "The Tales of Karangbolong" di pendopo, Anjungan Provinsi Jawa Tengah, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Minggu (12/4/2026).


"Nama kegiatannya Festival Walet Emas 2026 yang akan berlengsung di pelataran Museum Purna Bhakti Pertiwi, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Timur pada tanggal 26 April 2026," terangnya seraya menambahkan bahwa acara tersebut diadakan oleh warga dari Kebumen yang ada di perantauan seperti di Jakarta dan sekitarnya.


Menurut Lilis Nuryani acara tersebut akan diramaikan dengan kirab budaya, seni pertunjukan, UMKM, kuliner khas daerah Kabupaten Kebumen sampai hiburan rakyat yang tentunya sayang untuk dilewatkan.

"Jadi monggo nanti warga Kebumen yang ada di Jakarta dan sekitarnya, jangan sampai ketinggalan kita ramaikan, kita dukung, dan kita tunjukkan bahwa "Kebumen Berdaya, Beriman, Maju, Sejahtera, dan Berbudaya"," pungkasnya.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Bupati Kebumen Lilis Nuryani (tengah) berfoto bersama dua pemain sendratari "The Tales of Karangbolong" usai disuguhkan di pendopo Anjungan Jawa Tengah, TMII, Jakarta Timur pada Minggu (12/4/2026).
2. Pelataran Museum Purna Bhakti Pertiwi, TMII akan menjadi tempat pelaksanaan Festival Walet Emas 2026 yang diadakan warga Kebumen yang ada diperantauan seperti Jakarta dan sekitarnya.
3. Video Bupati Kebumen Lilis Nuryani menyampaikan informasi tentang Festival Walet Emas 2026 yang akan digelar di Jakarta masih di bulan April ini.


Read more...

Kerak Telor dan Dodol Jadi Primadona di Lebaran Betawi 2026


Aneka kuliner khas Jakarta terutama kerak telor dan dodol menjadi primadona dalam perhelatan Lebaran Betawi 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta di Lapangan Banteng selama 3 hari (Jumat - Minggu), 10 hingga 12 April.

Amatan TravelPlus Indonesia sejumlah pedagang kerak telor yang berjualan di acara tahunan tersebut diserbu pembeli.

Harganya kerak telor yang memakai telur ayam Rp 25 ribu per satuan. Sedangkan yang menggunakan telur bebek Rp30 ribu.


Selain beraroma khas, banyak pembeli yang tertarik dengan cara membuat atau memasak kerak telor. Tak sedikit yang bukan hanya membeli tapi juga mengabadikannya untuk konten video di medsos.

Di stan penjual dodol Betawi pun begitu, ramai disambangi pembeli. Harga dodol bervariasi tergantung ukurannya mulai Rp10.000 - 15.000 untuk lonjoran kecil dalam kemasan plastik putih hingga di atas Rp100.000 untuk kemasan besek/1 Kg. Sedanhkan dalam bentek hampers sekitar  Rp200.000.


Menariknya selain membeli aneka dodol Betawi, pengunjung yang datang ke stan tersebut bisa sekalian merasakan pengalaman langsung mengaduk dodol di wajan besar dengan adukan dari kayu juga berukuran besar. Tak sedikit pembeli yang merekam aksinya mengaduk dodol untuk materi konten video.

Beberapa pengunjung mengaku datang pada hari kedua pelaksanaan Lebaran Betawi 2026 khusus untuk memburu aneka kuliner Betawi.


"Saya sama keluarga ke sini emang buat nge-war makanan khas Betawi. Alhamdulillah tadi kebagian beli kerak telor dan es selendang mayang. Ntar kalau mau pulang, baru beli dodol Betawi buat oleh-oleh Lebaran Betawi tahun ini," ujar Romlah dari Jakarta Timur yang datang bersama suami dan dua anaknya yang masih bocil.

Begitupun dengan Yahya dari Bogor. Ayah tiga anak ini juga datang ke Lebaran Betawi 2026 khusus untuk menikmati makanan khas Betawi.


"Soalnya kalau pas ada acara seperti ini lebih mudah nyari makanan khas Betawi," ungkapnya yang datang ke Lapangan Banteng menggunakan KRL Commuter Line dari Stasiun Bogor turun di Stasiun Juanda lalu jalan kaki lewat Masjid Istiqlal baru kemudian ke Lapangan Banteng.

Melihat begitu antusiasnya pengunjung membeli kerak telor dan dodol, tak Berlebihan bila kedua kuliner khas Betawi tersebut menjadi primadona di Lebaran Betawi 2026.

Selain kerak telor dan dodol Betawi, sejumlah makanan khas Betawi lainnya seperti es selendang mayang, soto Betawi, dan laksa Betawi pun ramai peminatnya.


Ini membuktikan kalau Lebaran Betawi bukan sekadar momen silaturahmi sekaligus upaya melestarikan budaya Betawi dengan menghadirkan berbagai kegiatan religius, budaya, dan hiburan rakyat pun menjadi ajang wisata akhir pekan yang menyenangkan apalagi gratis (tanpa tiket masuk) bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya serta mampu mengangkat pamor aneka kuliner tradisional Betawi sekaligus memberi dampak positif berupa penambahan pendapatan bagi para pedagangnya.


Lebaran Betawi 2026 yang mengusung tema "Lebaran Betawi untuk Jakarta, Memperkokoh Persatuan dalam Merawat Tradisi Menuju Jakarta Kota Global" ini secara resmi dibuka oleh
Gubernur Jakarta, Pramono Anung di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat pada Sabtu, 11 April.

Menurut Pramono Anung Lapangan Banteng dipilih sebagai lokasi acara selain strategis dan menjadi tempat yang sukses menyelenggarakan berbagai kegiatan, juga karena fungsinya sebagai ruang publik yang mampu menjadi wadah kebersamaan bagi masyarakat Jakarta.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Pedagang dodol Betawi di Lebaran Betawi 2026 yang berlangsung di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.
2. Penjual kerak telor di Lebaran Betawi 2026.
3. Pengalaman mengaduk dodol Betawi.
4. Memborong aneka dodol Betawi.
5. Mengabadikan cara memasak kerak telor yang unik.
6. Pedagang dodol Betawi lainnya di Lebaran Betawi 2026.
7. Video salah satu gapura Lebaran Betawi 2026 di Lapangan Banteng.


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP