. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Selasa, 18 Agustus 2026

Panduan Transum ke BC Pendakian Gunung Kelud via Ngantang dari Jakarta


Gunung Kelud memiliki beberapa jalur  pendakian (japen) untuk menggapai puncak-puncaknya, salah satunya japen via Ngantang yang berada di Kabipaten Malang, Jawa Timur (Jatim). Nama base camp (BC)-nya Omah Tepoes.

Sebagaimana TravelPlus Indonesia singgung di tulisan sebelumnya yang bertajuk "Lima Keistimewaan Gapai Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang", dijelaskan kalau BC Omah Tepoes memiiliki banyak kelebihan antara lain letaknya strategis di tepi jalan raya dan memiliki trek pendakian ter-ekstrem untuk menggapai Puncak Sejati, puncak tertingginya Gunung Kelud yang berketinggian 1.731 Mdpl.

Apa Ada kekurangannya?
Tentu saja ada. Sebab tak ada yang sempurna di dunia ini. Salah satu kekurangan BC Omah Tepoes ini tidak tersedia akses transportasi umum (transum) misalnya bus umum ataupun shuttle bus.


Menurut penuturan beberapa warga, dulu ada bus umum yang lewat Omah Tepoes sampai ke Waduk Selorejo tapi karena peminatnya semakin berkurang, akhirnya tidak beroperasi lagi.

Andai saja ada trayek bus umum ataupun shuttle bus dari Terminal Patria dan Stasiun Blitar di Kota Blitar ke Terminal Arjosari di Kota Malang atau ke Terminal Talangagung (Kepanjen) dan Terminal Dampit di Kabupaten Malang yang melewati Waduk Selorejo dan BC Omah Tepoes, pasti akan memudahkan bukan saja buat pendaki yang ingin ke BC Omah Tepoes untuk mendaki Gunung Kelud via Ngantang dan gunung-gunung lainnya pun mobilitas warga yang ingin beraktivitas sehari-hari serta wisatawan yang ingin berwisata ke Waduk Selorejo dan objek lainnya.

Selama ini pendaki dari Jatim terutama dari  Blitar, Kediri, dan  Malang yang ingin ke BC Omah Tepoes umumnya membawa kendaraan pribadi, sepeda motor ataupun mobil.


Lalu bagaimana dengan pendaki dari luar Jatim seperti dari Jakarta yang ingin ke Omah Tepoes dengan transum?

Dari Pesawat sampai Bus
Pilihannya antara lain dengan menggunakan pesawat terbang dari Bandar Udara (Bandara) Internasional Soekarno Hatta (Soeta) di Tangerang, Banten menuju Bandara Andul Rachman Saleh di Kabupaten Malang. Pilihan maskapainya antara lain Batik Air dan Citilink dengan waktu tempuh hanya 1 jam 30 menit.

Selanjutnya menyewa mobil travel ataupun naik mobil online ke BC Omah Tepoes di Ngantang, Kab. Malang yang berjarak sekitar 55 Km dengan estimasi waktu perjalanan sekitar 2 jam. Cara ini memang paling cepat sampainya tapi biayanya paling mahal.


Cara kedua, naik kereta api (KA) dari Stasiun Pasar Senen ataupun Stasiun Gambir tujuan Malang lalu berhenti di Stasiun Wlingi. Pilihan keretanya antara lain KA
Gajayana (Gambir – Malang pp), KA Brawijaya (Gambir – Malang pp), KA Matarmaja (Pasar Senen – Malang pp), dan KA Majapahit (Pasar Senen – Malang pp) dengan estimasi perjalanan memakan waktu sekitar 11 hingga 14 jam.

Kemudian dari Stasiun Wlingi berganti dengan sepeda motor ojek pangkalan (opal) yang ada di seberang stasiun dengan ongkos berkisar Rp 100 ribu atau bisa juga naik ojek online (ojol) dengan tarif sekitar Rp 70 ribu.

Jarak dari Stasiun Wlingi (Blitar) ke BC Omah Tepoes (Ngantang, Kab. Malang) dengan sepeda motor adalah sekitar 33 Km. Waktu tempuh perjalanannya berkisar 1 jam.


Kalau mau yang lebih murah lagi. Bisa naik
KA Airlangga dari Stasiun Pasar Senen ke Surabaya Pasar Turi dengan tarif subsidi pemerintah (PSO) sebesar Rp 104.000 per penumpang untuk sekali jalan. Lanjut naik ojol ke Stasiun Surabaya Kota ataupun ke Stasiun Gubeng. Kemudian naik Commuter Line Dhoho ke Wlingi (Blitar) dengan ongkos Rp 15.000 per penumpang. Cara ini memang lebih hemat tapi makan banyak waktu. Kemudian naik opal ataupun ojol ke BC Omah Tepoes.

Sebaiknya sebelum naik opal ataupun ojol, tanyakan dulu driver-nya apakah pernah ke BC Omah Tepoes atau paling tidak ke Waduk Selorejo. Kalau pernah berarti aman karena jaraknya terbilang jauh.

Pilihan ketiga dengan bus umum dari Jakarta ke Kota Blitar. Pilihan busnya antara lain Sinar Jaya, Harapan Jaya, Rosalia Indah, Gunung Harta Solutions, Mahkota, dan MTrans. Estimasinya juga sekitar 11 hingga 14 jam.

Selanjutnya sewa mobik travel atau naik tranportasi online. Kalau pergi dalam kelompok kecil (3-5) orang bisa dengan mobil online biar lebih hemat, tapi kalau sendiri ya dengan ojol.


Pilihan Transum
TravelPlus Indonesia sendiri memilih berangkat dari Stasiun Pasar Senen Jakarta ke Stasiun Wlingi dengan KA Matarmaja kelas ekonomi new generation dengan tarif Rp 375 ribu dengan waktu keberangkatan pukul 11.25  siang dan tiba di Stasiun Wlingi sekitar pukul 1 malam. KA ini dilengkapi musala jadi memudahkan penumpang yang ingin tunaikan salat 5 waktu tapi ambil wudhu-nya di toilet. Adapun ruang kantinnya, terbilang cukup luas ditambah dengan sejumlah kursi dan meja.

Selanjutnya menunggu pagi di Stasiun Wlingi. Setelah salat subuh di musala stasiun lanjut sarapan soto campur di warung seberang stasiun. Kemudian naik opal ke mini market di Jalan Jenderal Sudirman, Wlingi untuk membeli sesuatu dengan ongkos Rp 10 ribu. Baru kemudian naik ojol Go-Jek dengan tarif hampir 70 ribu ke BC Omah Tepoes.


Pulangnya, dari BC Omah Tepoes ke Stasiun Wlingi pukul 6 pagi naik ojek warga lokal dengan ongkos Rp 100 ribu. Selanjutnya naik kereta commuter line Panataran menuju Stasiun Blitar pukul 9 pagi dengan tarif 10 ribu pesan lewat KAI Access. Dari Staisun Blitar naik KA Brantas ekonomi berangkat pukul 12.55 siang dan tiba di Stasiun Pasar Senen pukul 01.40 malam dengan tarif Rp 370 ribu per penumpang juga harus pesan via aplikasi tersebut. KA satu ini bangkunya juga sudah menggunakan kursi ekonomi new generation namun tidak menyediakan musala dan ruang kantin makannya terbatas cuma ada satu meja makan dan 4 kursi.

Nah, kalau Anda berencana menggapai Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang dengan tujuan BC Omah Tepoes, ataupun ingin mendaki Gunung Kawinajang dan Gunung Selokurung lalu mampir ke Waduk Selorejo, tinggal pilih transum di atas disesuaikan dengan ketersediaan anggaran dan waktu Anda.

Semoga bermanfaat 🙏.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180


Captions
:
1. Petunjuk arah ke Pos Pendakian Gunung Kelud, Gunung Kawinajang, dan Gunung Selokurung di tepi jalan raya depan basecamp (BC) Omah Tepoes, Ngantang, Kab Malang.
2. Plang Omah Tepoes, BC pendakian Gunung Kelud via Ngantang.
3. BC Omah Tepoes sekaligus menjadi pos perijinan pendakian Gunung Kelud via Ngantang dan gunung-gunung lainnya.
4. Plang fasilitas yang tersedia di BC Omah Tepoes.
5. Suasana bagian dalam gerbong kereta api Matarmaja tujuan Stasiun Pasar Senen - Stasiun Malang (PP) yang melewati Stasiun Wlingi.
6. Bagian depan bangunan Stasiun Wlingi, Blitar.
7. Stasiun Blitar di Kota Blitar.
8. Kereta api Matarmaja sudah menggunakan kursi ekononi new generation.


Read more...

Lima Keistimewaan Gapai Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang


Sekurangnya ada lima keistimewaan (baca: kelebihan/keuntungan) bila menggapai Puncak Sejati, Gunung Kelud yang berketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut (Mdpl) via atau lewat Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur.

Kelima keistimewaannya ini berdasarkan amatan langsung TravelPlus Indonesia yang mendaki puncak tertingginya Gunung Kelud tersebut, baru-baru ini dalam rangka merayakan dirgahayu Republik Indonesia ke 81 tahun.

Rock Climbing & Scrimbling 
Keistimewaan yang pertama, jalur pendakian (japen) Gunung Kelud via Ngantang merupakan satu-satunya japen yang memiliki akses menuju Puncak Sejati dengan trek pendakian yang menantang lantaran untuk menggapainya, setiap pendaki harus melakukan teknik memanjat tebing atau rock climbing dan scrimbling yang wajib didampingi oleh tim pemandu panjat tebing setempat yang sudah berpengalaman.


Sewaktu turun tentunya harus melakukan teknik rappeling alias turun tebing dengan menggunakan bermacam peralatan panjat tebing seperti tali karmantel (
kernmantle), harness, karabiner, ascender, descender, tali prusik, tali webbing, dan helm panjat.

Keistinewaan lainnya, setelah berhasil mencapai Puncak Sejati, pendaki bisa menjajal dua puncak lainnya yakni Puncak Panama dan Puncak Wisanggeni yang sama-sama memawarkan pesona pemandangan yang  menakjubkan dari masing-masing atapnnya.

Misalnya dari atas Puncak Wisanggeni, pendaki bsa lebih leluasa melihat danau kawah Gunung Kelud yang merupakan salah satu dari sekian banyak sisa letusan besar Gunung Kelud pada masa lampau.


Sebelas Duabelas
Bila dibandingkan dengan ke Puncak Sejatinya Gunung Raung via Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi yang berketinggian 3.344 Mdpl yang selama ini menyandang predikat japen ter-ekstrem se-Jawa, boleh dibilang faktor kesulitan atau ke-ekstremannya 11-12 dengan japen Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang sekalipun ketinggiannya tak sampai 2.000 Mdpl.

Oleh karenanya japen Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang menjadi pilihan tepat sebagai pemanasan atau warming up sebelum menggapai Puncak Sejatinya Gunung Raunh via Kalibaru. Atau sebaliknya, bagi pendaki yang menilai japen Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang lebih "pedas" (baca: lebih sulit, lebih ekstrem, lebih menantang), bisa menjadikan pendakian Puncak Sejatinya Gunung Raung via Kalibaru sebagai ajang pemanasan sebelum menggapai Puncak Sejatinya Gunung Kelud via Ngantang.


Seperti di Planet Lain
Keistimewaan yang kedua, punya pemandangan yang mencuatkan kesan seperti berada di planet lain dan atau laksana tinggal di Jurassic Park.

View seperti itu bisa pendaki lihat dan rasakan mulai dari sebelum tiba di jalur lama menuju Pasir Ombo yang kini tidak bisa dilalui karena longsor. Dari tempat ini, tepatnya mengarah ke sebelah kanan pendaki bisa melihat deretan tebing berbentuk bukit bahkan gunung dengan lereng yang sangat terjal.

Di sebelah kiri tersaji pemandangan tebing dari bagian kawasan puncak yang berdiri gagah menjulang serta lereng berhutan ijo royo-royo yang pada waktu-waktu tertentu terutama pagi hari selepas matahari terbit ada aliran awan putih yang perlahan jatuh ke lembah sehingga membentuk air terjun awan yang begitu indah dan spesial lantaran sulit ditemukan di gunung lain.


Atmosfer seperti di planet lain juga hadir di Pasir Ombo atau lebih dikenal dengan nama Sunrise Camp yang berketinggian 1.532 Mdpl dan di Puncak Kawah (1.564) Mdpl. Tempat inilah menjadi titik awal menuju kawasan puncak yakni Puncak Wisanggeni, Panama, dan Puncak Sejati (1.731) Mdpl , dimana setiap pendaki harus melakukan teknik rock climbing dan scrimbling untuk mengapai ketiganya.

Di kawasan ketiga puncak tersebut, nuansa planet lain semakin menguat lantaran tersaji kawah aktif yang dikelilingi dinding kaldera dan dan sederet tebing curam.

Melihat sajian alam yang menakjubkan tersebut, TravelPlus Indonesia menilai Gunung Kelud via Ngantang khususnya di kawasan Sunrise Camp dan terlebih di kawasan puncak-puncaknya sangat ideal dijadikan sebagai lokasi syuting untuk film layar lebar ber-genre drama petualangan dan lainnya.


BC-nya Keren
Keistimewaan berikutnya atau yang ketiga, pendakian Gunung Kelud via Ngantang memiliki base camp (BC) pendaki bernama Omah Tepoes yang letaknya strategis di tepi jalan raya.

BC-nya berfasilitas lengkap seperti tempat registrasi, musala, dekat dengan Masjid Baitus Salam sekitar 100 meter, tempat istirahat (bermalam) buat para pendaki, beberapa MCK yang bersih, tempat parkir motor bahkan kafe, kolam renang mini, dan kolam bebek serta penginapan buat keluarga/rombongan.

Di Omah Tepoes juga ada sejumlah tukang ojek lokal yang siap antar jemput pendaki dari BC ke Pos 1 atau sebaliknya.


Selain sebagai BC pendakian ke Gunung Kelud, Omah Tepoes juga menjadi BC buat pendaki yang ingin mendaki Gunung Kawinajang dan Gunung Selokurung. Sejumlah tukang ojek lokal juga siap sedia antar jemput pendaki dari BC ke Pos 1 masing-masing gunung tersebut.

Kelebihan lainnya, lokasinya dekat dengan beberapa spot kulineran seperti warung bakso, soto ayam, rawon, sate kambing, dan mini market berfasilitas ATM bersama.

Atas sederet kelebihan tersebut, saya memasukkan Omah Tepoes dalam daftar BC pendaki yang keren di Indonesia.

Keistimewaan yang keempat, di Omah Tepoes yang merupakan BC pendakian Gunung Kelud via Ngantang sudah tersedia trip operator (TO) pendakian gunung yang menyediakan antara lain jasa pemandu panjat tebing berpengalaman untuk mendampingi pendaki yang ingin menggapai Puncak Sejati Gunung Kelud. Mereka juga menyedikan paket open trip (OT) baik tektok maupun nge-camp dan private trip (PT).


Dekat dengan Waduk
Terakhir atau keistimewaannya yang kelima, sebelum ataupun setelah melakukan pendakian ke Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang, pendaki bisa berwisata ke Waduk Selorejo yang merupakan danau buatan sekaligus bendungan di kaki Gunung Kelud, Anjasmoro, dan Kawi.

Lokasi waduk yang berada di ketinggian 600 Mdpl tersebut hanya berjarak sekitar 2 Km dari Omah Tepoes atau sekitar 5 menit berkendara sepeda motor ataupun mobil pribadi.


Aktivitas wisata yang bisa dilakukan di waduk berudara sejuk tersebut antara lain melihat dan mengabadikan pemandangan indah, naik perahu keliling waduk, kulineran aneka ikan segar di warung setempat, ngopi dan ngemil di kafe, berkemah, dan atau memancing.

Itulah lima keistimewaan atau kelebihan/keuntungan yang bakal pendaki dapatkan bila memilih menggapai Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang, Kabupaten Malang.

Semoga bermanfaat 🙏.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180


Captions
:
1. Saya dari media online TravelPlus Indonesia bentangkan bendera Merah Putih di Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang dalam rangka merayakan dirgahayu Republik Indonesia ke 81 thn. (foto: dok. rekan pendaki)
2. Usai menggapainya harus melakukan teknik rappeling (turun tebing) yang memacu adrenalin. (foto: dok. yanu)
3. Mampir ke Puncak Wisanggeni usai dari Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang. (foto: adji)
4. Kawasan puncak-puncak Gunung Kelud via Ngantang, atmosfernya seperti berada di planet lain. (foto: adji)
5. Di Pasir Ombo atau lebih dikenal dengan nama Sunrise Camp sebelum memanjat tebing menuju kawasan puncak Gunung Kelud. (foto: dok. rekan pendaki)
6. Omah Tepoes, basecamp (BC) pendakian Gunung Kelud via Ngantang yang berada di tepi jalan raya. (foto: adji)
7. Omah Tepoes juga menjadi BC pendakian ke Gunung Kawinajang dan Selokurung. (foto: adji)
8. Membentangkan Merah Putih dan bendera Palestina di Puncak Sejatinya Gunung Kelud via Ngantang. (foto: dok. rekan pendaki)
9. Danau Kawah berwarna hijau dari atas kawasan puncak, menambah kemolekan sekaligus kekhasan pemandangan Gunung Kelud via Ngantang. (foto: adji)
10. Salah satu trek yang harus dilalui pendaki yang ingin menggapai Puncak Sejati Gunung Kelud via Ngantang. (foto: adji)

Read more...

Jumat, 31 Juli 2026

Aneka Penginapan di Dekat Grojogan Sewu, Ada yang Berkonsep Syariah


Di dekat kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Grojogan Sewu, Tawangmangu tersedia bermacam penginapan atau akomodasi yang praktis. Bahkan ada yang berkonsep syariah
.

Dua konten video terkait Air Terjun Grojogan Sewu yang saya buat dan unggah, pertama di Instagram (IG) @adjitropis bertajuk "Buihmu Teduhkan Kalbu" lalu yang kedua di tiktok @FaktaWisata.id berjudul "Grojogan Sewu Diminati Wisman", alhamdulilah mendapat respons cukup baik dari warganet, baik itu jumlah viewers-nya maupun yang kasih like dan comment.

Begitupun satu tulisan "20 Fakta Grojogan Sewu, Nomor Satu Masih Diminati Wisman" di website TravelPlus Indonesia ini, juga mendapat jumlah pembaca lumayan banyak ditambah beberapa pertanyaan dari pembaca setia lewat pesan WA, terutama tentang ragam akomodasi yang tersedia di dekat Grojogan Sewu.


Di dalam kawasan Air Terjun Grojogan Sewu memang tidak tersedia penginapan maupun area berkemah (camping area). Tapi di dekat Grojogan Sewu sekitar 50 meter sampai dengan 150 meter dari Gerbang Selamat Datang di TWA Grojogan Sewu yang pertama, tersedia sejumlah penginapan baik itu homestay, wisma, hotel maupun vila yg ada di Kawasan Pondok Wisata l dan
Kawasan Pondok Wisata ll di Jalan Grojogan Sewu, Beji, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah (Jateng) sebagaimana tersaji di konten video ketiga yang TravelPlus Indonesia unggah di tiktok @FaktaWisata.id.

Buat traveler yang ingin berwisata ke Grojogan Sewu, cukup berjalan kaki dari penginapan di dua kawasan pondok wisata tersebut. Jadi sangat praktis.


Berdasarkan amatan langsung
TravelPlus Indonesia, di Kawasan Pondok Wisata I antara lain ada Pondok Wisata Anita, Vila Wahyu Abadi, Penginapan Kartika Sari, Homestay Samara, Pondok Wisata Sidomulyo, Penginapan Damar, Penginapan Sari Handayani, Penginapan Tri Tunggal, Wisma Giri Mulyo A, dan Wisma Giri Mulyo B. Selain itu juga ada Masjid Hidayatul Akbar untuk salat wajib berjemaah maupun salat Jumat.

Kalau di Kawasan Pondok Wisata ll,  pilihannya antara lain Hotel Indah Palace, Villa Lestari, Hotel Mandaulin, Losmen & Vila Lumayan, Hotel & Aula Wahyu Sari, Penginapan Tri Tunggal, Penginapan Widodo Mulyo, dan Homestay Argo Joyo Syariah.


Penginapan di tepi jalan raya juga ada, antara lain Penginapan Lumayan dekat dgn kuliner Tahu Kupat Podo Moro dan Soto Beji Bu Zain.

Bila traveler mau menginap di penginapan yg sudah dilengkapi water heater (pemanas air), wifi, dan rooftop antara lain di Wisma Giri Mulyo B. Tapi jika ingin yang berkonsep syariah bisa ke Homestay Argo Joyo Syariah.


Berkonsep Syariah
Menurut pemiliknya, Homestay Argo Joyo Syariah merupakan satu-satunya penginapan di kawasan ini yang berkonsep syariah artinya tamu berpasangan yang menunjukkan buku nikah yang boleh menginap di penginapan yang berada persis di seberang gerbang Selamat Datang di TWA Grojogan Sewu yang pertama.

Nah, kalau traveler mau lebih mudah mendapatkan penginapan di dua kawasan pondok wisata tersebut sesuai anggaran, TravelPlus Indonesia sarankan sebaiknya berkunjung diluar long weekend, masa liburan atau hari-hari libur besar seperti tahu  baru, lebaran, dan lainnya.

Bila traveler lebih memilih berkemah, bisa mengambil paket camping di Bumi Perkemahan Pleseran yang berjarak sekitar 4 Km atau 15 menit berkendara dari TWA Grojogan Sewu.


Selamat berwisata alam di TWA Grojogan Sewu bersama keluarga, kerabat maupun sahabat. Enjoy trip, semoga bermanfaat 🙏.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180

Captions:
1. Gerbang Selamat Datang di TWA Grojogan Sewu yang kedua, dekat pintu masuk sekaligus loket.
2. Wisatawan tengah mengabadikan Air Terjun Grojogan Sewu.
3. Kawasan Pondok Wisata l.
4. Kawasan Pondok Wisata ll.
5. Penginapan berkonsep syariah di seberang gerbang Selamat Datang di TWA Grojogan Sewu yang pertama.
6. Gerbang Selamat Datang di TWA Grojogan Sewu yang pertama.


Read more...

Senin, 20 Juli 2026

20 Fakta Grojogoan Sewu, Nomor Satu Masih Diminati Wisman


Grojogan Sewu masih diminati wisatawan mancanagra (wisman). Buktinya air terjun yang berada di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini, dikunjungi sejumlah turis asing baru-baru ini.

Amatan TravelPlus Indonesia yang datang ke Grojogan Sewu pada Senin (13/7/26) pagi atau bertepatan dengan hari pertama siswa-siswi atau pelajar kembali masuk sekolah usai liburan, sekurangnya ada tiga kelompok keluarga wisman yang datang ke air terjun Grojogan Sewu.

Kelompok keluarga wisman yang pertama, datang pada pukul 9.00 WIB pagi berjumlah 5 orang terdiri atas suami-istri dan dua pemuda serta satu remaja putri. Mereka naik satu mobil travel dengan seorang tour guide (pemandu wisata).


Di perjalanan menuju Grogogan Sewu, sang ayah yang mengenakan kaos abu-abu berlengan pendek dan celana pendek serta putra pertamanya yang sudah dewasa berkaos warna putih lengan panjang asyik mengabadikan beberapa spot-spot menarik seperti pohon yang akar-akarnya menempel di bongkahan batu besar.

Keduanya juga mengabadikan monyet ekor panjang yang mendekat. Setibanya di Grojogan Sewu mereka terlihat takjub lalu mengabadikan pesonanya.

Puas mengambil gambar dan video, keluarga wisman pertama meninggalkan lokasi. Tak lama kemudian, sekitar pukul 10.00 WIB, datang kelompok keluarga wisman yang kedua sebanyak 4 orang, terdiri atas ayah-ibu dan 2 putri remaja. Mereka pun nampak terpesona melihat air terjun setinggi 81 meter ini.


Di sana, selain mereka ada 2 pasang wisatawan nusantara (wisnus). Pasangan pertama suami istri yang menginap di salah satu penginapan yang berjarak sekitar 100-an meter dari gerbang pertama bertuliskan "Selamat Datang di TWA Grogogan Sewu  Tawangmangu". Sedangkan pasangan yang kedua, wisnus masih berstatus pacaran.

Kelompok keluarga wisman yang ketiga berjumlah 6 orang ditambah seorang pemandu wisata yang TravelPlus Indonesia temui di depan gerbang kedua atau dekat dengan loket pembelian tiket masuk, sekitar pukul 10.30 WIB.

Berdasarkan data di atas, membuktikan kalau Grojogan Sewu masih diminati wisman sekalipun bermunculan objek-objek wisata lain di Tawangmangu dan sekitarnya.


Dari data di atas juga membuktikan kalau wisman lebih senang berkunjung ke Grojogan Sewu diluar masa libur sekolah dan diluar akhir pekan serta masih pagi hari untuk mendapatkan suasana alam yang masih sepi dan segar.

Data di atas juga merupakan fakta pertama dari 20 fakta yang TravelPlus Indonesia temukan langsung ditambah data dari berbagai sumber. Masih ada sederet fakta menarik lainnya terkait Grojogan Sewu.

Fakta kedua, loket Grojogan Sewu dibuka setiap hari mulai pukul 8.00 WIB pagi.


Fakta ketiga, harga tiket masuk (HTM) Grojogan Sewu untuk wisnus
Rp27.000 per orang untuk hari biasa (weekdays) dan Rp29.500 per orang untuk akhir pekan/hari libur (weekend). Sedangkan untuk Rp125.000 per orang baik hari biasa maupun akhir pekan/hari libur.

Berikutnya atau fakta yang keempat, di dekat loket terdapat plang informasi Denah Grojogan Sewu berwarna hijau dan plang hijau tua dengan tulisan putih tentang sederet Informasi Umum Kawasan antara lain status luas Grojogan Sewu 64,30 Ha mencakup Kelurahan Kalisoro dan Kelurahan Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar.

Fakta kelima, air terjun Grojogan Sewu berstatus Taman Wisata Alam (TWA) yang berada di bawah pengelolaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Tengah, Kementerian Kehutanan RI.


Fakta keenam, suasana TWA Grojogan Sewu rindang dan ijo royo-royo karena masih banyak pepohonan besar antara lain pinus, damar, kaliandra, puspa, dan suryan. Sedangkan fauna yang bisa pengunjung lihat di sana antara lain kera ekor panjang, tupai, dan bermacam jenis burung.

Fakta ketujuh, selain itu juga terdapat plang imbauan bercat hijau dengan tiga poin imbauan dengan tulisan bercat putih yakni poin pertama, jalan menuju air terjun Grojogan Sewu berupa anak tangga turun naik berjumlah 1.250 undakan; poin kedua, penggunjung yang sudah lanjut usia, memiliki penyakit bawaan seperti asma, lemah jantung atau penyakit lainnya yang tidak memungkinkan menempuh jalan naik turun, dimohon waspada; dan poin imbauan yang ketiga, pengunjung yang tidak mampu naik tangga untuk kembali ke atas, dapat memanfaatkan jasa tandu berbayar yang berada di lokasi air terjun.


Selanjutnya atau fakta yang kedelapan, setelah loket dan pintu masuk ada plang kayu bercat hijau tua dengan dua poin yakni poin larangan membawa senapan angin, berburu, membawa senjata tajam, senjata api, minum-minuman keras, corat-coret, duduk/berhenti di jalan, dan larangan membuang sampah di sembarang tempat. Sedangkan isi imbauannya makanan/buah-buahan yang akan dibawa masuk, harap dibungkus/dimasukkan di dalam tas karena banyak kera/monyet ekor panjang.

Fakta kesembilan, fasilitas yang tersedia di TWA Grojogan Sewu antara lain kolam renang, beberapa gazebo/tempat istirahat, kios makanan, kios buah-buahan dan cendera mata, musala, MCK, dan sejumlah tempat sampah.


Fakta ke-10, amatan TravelPlus Indonesia pada hari itu kondisi sepanjang jalan berundak naik turun sampai lokasi air terjun nampak bersih, tidak ada sampah yang berserakan termasuk di gazebo dan fasilitas lainnya sehingga suasananya semakin semakin sedap dipandang mata.

Panduan Transum
Fakta ke-11, lantaran berada dekat dengan perbatasan dua provinsi yakni Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim), membuat TWA Grojogan Sewu dapat dicapai dari 2 kota di dua provinsi tersebut, yakni Solo (Jateng) atau Madiun (Jatim).

Berikutnya atau fakta yang ke-12, gerbang kedua sekaligus loket/pintu masuk Grojogan Sewu yang berada di Jl. Raya Tawangmangu, Beji, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, berjarak sekitar 45 Km arah Timur, sedangkan dari Madiun 75 Km Barat daya.

Fakta ke-13, traveler yang biasa backpacker-an bisa mencapainya dengan menggunakan transportasi umum (transum) dari Terminal Tirtonadi Solo dengan bus ekonomi non AC sampai Terminal Tawangmangu Rp 20 ribu perorang pada hari biasa. Waktu tempuhnya sekita 2-3 jam tergantung kondisi lalu lintas. Selanjutnya naik ojek online ataupun ojek pangkalan dari Terminal Tawangmangu ke Grojogan Sewu sekitar Rp 15.000 per orang.


Panduan Inap
Fakta ke-14, kalau ingin menginap bisa mencari penginapan di sekitar Jalan Grojogan Sewu, Beji tepatnya di Kawasan Pondok Wisata I dan Kawasan Pondok Wisata II dengan tarif mulai dari Rp 100 ribu-an per malam dengan kamar maindi air dingin. Kalau kamarnya sudah berfasilitas air hangat, biasanya tarifnya di atas itu.

Fakta ke-15, pilihan akomodasi di Kawasan Pondok Wisata I antara lain Pondok Wisata Anita, Vila Wahyu Abadi, Penginapan Kartika Sari, Homestay Samara, Pondok Wisata Sidomulyo, Penginapan Damar, Penginapan Sari Handayani, Penginapan Tri Tunggal, Wisma Giri Mulyo A, dan Wisma Giri Mulyo B.

TravelPlus Indonesia hari itu memilih menginap di Wisma Giri Mulyo B karena sudah berfasilitas WiFi, TV, 2 botol air mineral ukuran kecil, perlangkapan mandi, water heater, kamar mandi dalam, memiliki roof top buat bersantai sambil menikmati pemandangan berlatar Gunung Lawu, dan letaknya pun terbilang dekat dengan Grojogan Sewu, warung kelontong, dan Masjid Hidayatul Akbar, cukup berjalan kaki.

Bila memilih penginapan di tepi jalan raya antara lain Penginapan Lumayan dekat dengan kuliner Tahu Kupat Podo Moro dan Soto Beji Bu Zain.


Kalau di Kawasan Pondok Wisata ll,  pilihannya antara lain Wisma Indah Palace, Villa Lestari, Hotel Mandaulin, Losmen & Vila Lumayan, Hotel & Aula Wahyu Sari, Penginapan Widodo Mulyo, dan Homestay Argo Joyo Syariah yang menurut pemiliknya merupakan satu-satunya penginapan di kawasan ini yang berkonsep syariah artinya tamu berpasangan yang menunjukkan buku nikah yang boleh menginap di penginapan yang berada persis di seberang gerbang pertama TWA Grojogan Sewu.

Selanjutnya atau fakta yang ke-16, kalau mau menunaikan kewajiban sebagai muslim salat lima waktu, selain di musala yang ada di dalam TWA Grojogan Sewu saat berkunjung, bisa juga di kamar penginapan atau di masjid terdekat untuk salat Jumat antara lain Masjid Hidayatul Akbar yang berjarak sekitar 100 meter dari Jalan Grojogan Sewu, Beji, Kawasan Pondok Wisata I.

Fakta ke-17, dari penginapan yang dipilih di dua kawasan pondok wisata tersebut, bisa jalan kaki menuju gerbang/loket Grojogan Sewu. Sebaiknya pagi hari karena selain lebih segar pun pengunjungnya belum terlalu ramai.

Fakta ke-18, aktivitas wisata yang bisa traveler lakukan di TWA Grojogan Sewu bukan hanya melihat, mengabadikan Grojogan Sewu serta berfoto berlatar air terjun tersebut pun duduk santai di aliran sungai (bukan di tumpahan air terjun karena tidak diperbolehkan/dilarang mengingat tumpahan airnya sangat besar dan bisa kemungkinan kena jatuhan bebatuan tebing). Kalau tidak membawa kamera ataupun HP bisa memanfaatkan jasa tukang foto langsung jadi dengan tarif foto 20R Rp25.000 dan 4R Rp10.000 di dekat lokasi air terjun.

Selain itu bisa berenang di kolam renang, kulineran aneka minuman ringan, sate kelinci bumbu kuah kacang plus lontong/nasi, dan lainnya. Selanjutnya mengabadikan monyet ekor panjang namun jangan terlalu dekat dan beristirahat sejenak di gazebo.


Fakta ke-19, usai menikmati ragam pesona Grojogan Sewu dan traveler masih ingin melanjutkan kunjungan wisata lain yang ada di Tawamangu dan sekitarnya pilihannya antara lain mendaki Bukit Mongkrang (2.194 Mdpl); mendaki Gunung Lawu ((3.265 Mdpl) via Cetho, Cemoro Kandang ataupun Cemoro Sewu; wisata petik stroberi sendiri, dan
wisata kuliner di kafe-kafe dengan roof top keren di sepanjang jalan Tawangmangu.

Pilihan lain berkemah di Bumi Perkemahan Pleseran yang terletak di Jalan Candi Menggung Nglurah, Area Hutan, Kecamatan Tawangmangu dengan membeli paket camping-nya. Di Buper Pleseran, traveler juga bisa bermain air dan berenang tipis-tipis di Telaga Asmoro-nya.

Mitos
Terakhir atau fakta yang ke-20, percaya atau tidak di Grojogan Sewu juga memiliki sebuah mitos yang berkembang dari warga setempat. Konon mitosnya bagi sepasang kekasih yang belum menikah berani melintasi jembatan di depan air terjun, maka hubungannya akan putus alias tidak sampai ke jenjang pernikahan.

Itulah 20 fakta yang TravelPlus Indonesia rangkum dari hasil kunjungan dan amatan langsung ke TWA Grojogan Sewu, sehari setelah mengikuti sekaligus meliput kegiatan bertajuk "Pendakian for Palestine" (PfP) yang digelar Solo Peace Convoy (SPC) di Bukit Mongkrang.

Semoga bermanfaat🙏.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180


Captions
:
1. Kelompok keluarga wisatawan mancanegara (wisman) yang kedua tengah menikmati, melihat, dan tak lupa mengabadikan keindahan air terjun Grojogan Sewu di Tawangmangu pada Senin (13/7/26) pagi.
2. Kelompok keluarga wisman yang pertama datang tengah mengabadikan spot batu besar sebelum menuju lokasi air terjun Grojogan Sewu.
3. Kelompok keluarga wisman yang ketiga saat tiba di depan loket/pintu masuk TWA Grojogan Sewu.
4. Kondisi jalan menuju lokasi air terjun bersih dan teduh oleh rindangnya pepohonan.
5. TravelPlus Indonesia di gerbang kedua dekat loket/pintu masuk TWA Grojogan Sewu.
6. Salah satu gazebu atau tempat beristirahat sejenak bila pengunjung kelelahan meniti undakan turun (dari pintu masuk ke lokasi air terjun) dan naik (ke pintu keluar/loket).
7. Gerbang selamat datang di TWA Grogogan Sewu yang pertama di tepi Jalan Grojogan Sewu.
8. Plang ucapan selamat kepada pengunjung karena sudah berhasil.
meniti 1.250 anak tangga turun dan naik.
9. Gerbang Kawasan Pondok Wisata I di Jalan Grojogan Sewu, Beji, Tawangmangu.
10. Gerbang Kawasan Pondok Wisata II di Jalan Grojogan Sewu, Beji, Tawangmangu.
11. Berkemah di Bumi Perkemahan Pleseran usai dari Grojogan Sewu. Pilihan lain mendaki Bukit Mongkrang ataupun Gunung Lawu, wisata petik stroberi sendiri, dan lainnya.
12. TravelPlus Indonesia berkunjung lagi ke TWA Grojogan Sewu, sehari setelah mengikuti sekaligus meliput kegiatan "Pendakian for Palestine" (PfP) yang digelar Solo Peace Convoy (SPC) di Bukit Mongkrang. (foto: dok.pengunjung)






Read more...

Rabu, 15 Juli 2026

Menikmati Pendakian Bukit Mongkrang kala Kemarau, Ini 15 Kiatnya


Saat musim kemarau seperti sekarang, pendakian
Bukit Mongkrang yang berketinggian 2.194 Mdpl punya tantangan tersendiri yakni debu yang berterbangan dan terik matahari yang menikam di siang hari serta dingin yang cukup menggigit di malam dan dini hari. Lalu bagaimana kiat menikmati pendakian gunung yang berada di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini?

Berdasarkan pengamatan dan pengalaman TravelPlus Indonesia mendaki gunung yang mendapat julukan anaknya Gunung Lawu ini, sekurangnya ada 15 kiat untuk menikmati pendakian Bukit Mongkrang yang kerap disapa singkat "BuMo" ini kala kemarau.


Kiat yang pertama, setiap pendaki wajib mengindahkan peraturan pendakian BuMo antara lain melewati jalur pendakian resmi yang sudah ada saat naik maupun turun, membawa turun kembali sampah logistik yang dibawa, tidak membawa tisu basah/alat musik/miras dan narkoba, tidak membuat api unggun di sembarang tenpat, dan tidak melakukan vandalisme.

Kiat kedua, bila memiliki riwayat penyakit jantung, asma, dan hipertensi, sebaiknya tidak melakukan pendakian.


Kiat ketiga, kalau berencana melakukan pendakian tektok sebaiknya berangkat selagi masih pagi setelah salat subuh dan sarapan, karena masih teduh dan terhindar dari terik matahari. Sebaiknya warming up tipis-tipis (perenggangan otot) terlebih dahulu dan tak lupa berdoa memohon keselamatan dan kelancaran sebelum memulai pendakian. Jangan lupa bawa bekal buat makan dan minum seperti beberapa makanan kecil ataupun nasi bungkus dengan lauknya yang bisa dibeli di warung/kedai di dekat BC.

Adapun jam operasional pendakian tektok sebagaimana tercantum di basecamp (BC) pendakian BuMo untuk weekend/hari libur mulai pukul 03.00- 15.00 WIB sedangkan weekday/hari kerja mulai 04.00 - 15.00 WIB.


Berikutnya atau kiat keempat, kalau tujuan pendakiannya nge-camp (berkemah semalam di camp area gunung ini), bisa berangkat selepas asar. Jam operasional pendakian camp untuk weekend/hari libur mulai pukul 03.00- 23.00 WIB sedangkan weekday/hari kerja mulai 04.00 - 22.00 WIB.

Kiat kelima, kalau nge-camp wajib membawa perlengkapan berkemah yang nyaman terutama tenda beserta lampu tenda, matras aluminium foil, sleeping bag, pakaian tidur yang kering, jaket tebal, kaos kaki, sarung tangan, bantal tiup, dan balaklava. Pilihlah lokasi nge-camp yang agak teduh oleh rindang pepohonan agar tidak mendapat terpaan langsung angin kencang.


Kiat keenam, kalau ingin masak saat nge-camp, ya bawa perlengkapan masak seperti kompor gas, gas portable, nesting, korek api, dan tentunya aneka logistik yang praktis untuk dimasak, tidak boros air dan gas.

Selanjutnya atau kiat yang ketujuh, saat mendaki maupun turun disarankan mengenakan masker/buff/slayer untuk menutup hidung dan mulut dari terpaan debu.

Kiat kedelapan, bila tak mau debu masuk ke dalam sepatu, saat mendaki maupun turun disarankan mengenakan gaiters atau penutup/pelindung sepatu. Bisa juga dipakai saat melakukan pendakian pada musim hujan supaya sepatu tidak terlalu kotor.


Kiat kesembilan, saat mendaki maupun turun disarankan mengenakan pakaian/kaos yang mudah menyerap keringat.

Indahkan Adab Mendaki
Berikutnya atau kiat yang ke-10, mengindahkan adab baik saat mendaki, antara lain ketika berpapasan dengan kelompok pendaki lain saling menyapa dan mendaki/menurun dengan langkah perlahan, jangan lari atau menghentak-hentakkan kaki ke trek berdebu karena debu bisa berterbangan dan menggangu pendaki lain.

Kiat ke-11, kalau ingin melakukan trail running, usahakan saat kondisi trek berdebu sepi atau tidak ada pendaki.


Kiat ke-12, selain menggapai puncaknya bisa sekaligus melakukan aksi bela Palestina dengan cara mengibarkan bendera Indonesia dan Palestina di puncak secara bersama-sama seperti yang dilakukan Solo Peace Convoy (SPC) baru-baru ini (Ahad, 12/7/26) dengan menggelar kegiatan bertajuk "Pendakian for Palestine" (PfP) edisi ketiga yang diikuti 200 orang lebih. Untuk ini, sebaiknya Anda memberi tahu atau meminta izin ke pengelola kawasan atau petugas BC setempat.

Abadikan Spot Menarik
Selanjutnya atau kiat yang ke-13, mengabadikan spot-spot menarik mulai dari BC, sepanjang pendakian, sampai puncaknya antara lain spot gerbang "Selamat Datang di Jalur Pendakian Bukit Mongkrang" yang berada sebelum loket, plang "Peraturan Pendakian Bukit Mongkrang" setelah gerbang, plang "Peta Jalur Pendakian Bukit Mongkrang", plang tulisan "Start Pendakian Bukit Mongkrang", plang tulisan-tulisan menarik antara lain "Gak Usah Ngebut Puncak Takkan Kemana, yang Penting dapat Nomor WhatsAap", spot alami pohon besar, Puncak Candi, spot tulisan "Tunduk pada Pencipta, Bijak pada Alam Semesta, Baik pada Sesama", dan tentunya puncak utama BuMo yang berketinggian 2.194 Mdpl dengan latar belakang plang merah dan atau plang kayu.


Kiat ke-14, usai turun gunung dan bersih-bersih di toilet berbayar serta salat wajib di musala BC, Anda bisa membeli aneka makanan ataupun minuman di warung-warung/kedai di dekat BC seperti nasgor, mie rebus, mie goreng, pentol kuah, dan lainnya.

Pilihan lain Anda bisa membeli stroberi ataupun ikutan wisata petik stroberi sendiri buat ngemil di perjalanan dan atau buat oleh-oleh. Dengan menerapkan kiat ini, hitung-hitung Anda sudah turut membantu menambah pendapatan pedagang maupun petani yang notabene warga setempat.


Terakhir atau kiat yang ke-15, pilih hasil dokumentasi pendakian BuMo Anda yang terbaik, entah itu foto maupun video lalu racik menjadi konten yang menarik dan atau informatif kemudian unggah di ragam medsos Anda seperti IG, Tiktok, FB, dan YouTube.

Bisa juga Anda membuat tulisan tentang panduan perjalanan pendakian BuMo, bermacam tips pendakian, kegiatan positif yang Anda lakukan di sana, dan atau mengangkat daya tarik BuMo dari sudut lain untuk media online lalu disebarluaskan link tulisan tersebut ke sejumlah WAG terkait. Dengan melakukan kiat pamungkas ini, berarti Anda sudah turut mempromosikan BuMo sekaligus berkontribusi memajukan sektor pariwisata setempat.

Selamat mendaki BuMo di musim kemarau dengan tetap mengindahkan pendakian yang ramah lingkungan (pro konservasi alam) serta mengedepankan keselamatan, kenyamanan, dan kebermanfaatan. Enjoy hiking🙏.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180

Captions:
1. Kondisi sepatu usai menuruni Bukit Mongkrang yang trek summit attack-nya penuh debu saat kemarau tanpa mengenakan gaiters.
2. Plang "Peraturan Pendakian Bukit Mongkrang " setelah gerbang.
3. Plang "Peta Jalur Pendakian Bukit Mongkrang".
4. Gerbang "Selamat Datang di Jalur Pendakian Bukit Mongkrang" yang berada sebelum loket. (foto: dok/rekan pendaki)
5. Plang "Start Pendakian Bukit Mongkrang". (foto: dok/rekan pendaki)
6. Spot tulisan "Tunduk pada Pencipta, Bijak pada Alam Semesta, Baik pada Sesama". (foto: dok/rekan pendaki)
7. Beberapa peserta "Pendakian for Palestine" (PfP) edisi ketiga yang digelar Solo Peace Convoy (SPC) baru-baru ini berfoto di depan plang Puncak Bukit Mongkrang 2.194 Mdpl dengan plang merah. (foto: dok/rekan pendaki)
8. Spot di Puncak Bukit Mongkrang 2.194 Mdpl dengan plang kayu. (foto: dok/rekan pendaki)
9. TravelPlus Indonesia di Puncak Bukit Mongkrang saat kemarau.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP