. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Sabtu, 25 April 2026

Cacatan Krusial Diskusi Budaya Seba Baduy 2026: "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara"


Saat dunia sampai hari ini masih sibuk merumuskan konsep keberlanjutan. Di sini, di sudut Nusantara,  masyarakat Baduy  justru telah lama menjadikannya sebagai cara hidup. Ketika dunia masih berbicara tentang keberlanjutan sebagai tujuan, Baduy sudah menjadikannya sebagai jalan hidup.

Itulah ujung kesimpulan dari diskusi bertajuk "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara" di Panggung Utama, Alun-Alun Kota Serang, Banten pada Jumat, 24 April 2026.

Diskusi budaya sesi 2 yang digelar dalam rangka kegiatan Seba Baduy 2026 tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten dan Panitia Seba Baduy 2026.


Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Wawan Gunawan sebagai salah satu narasumber menjelaskan masyarakat Baduy mungkin tampak sederhana dalam gaya hidupnya.

"Mereka menolak modernisasi dalam bentuk tertentu, menjaga tradisi leluhur, dan hidup dalam keterbatasan yang disengaja. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan sistem pengetahuan ekologis yang sangat maju," terangnya.

Filosofi hidup mereka, lanjut Wawan terangkum dalam ungkapan: “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat” artinya menjaga titipan, merawat dunia. Ini bukan sekadar slogan, melainkan mandat moral yang mengikat seluruh aspek kehidupan.


Dalam perspektif global, filosofi tersebut menurutnya sejalan dengan konsep intergenerational responsibility, tanggung jawab lintas generasi. Bahwa bumi bukan milik kita, melainkan titipan yang harus dijaga untuk masa depan.

Dijelaskan pula oleh pemilk grup Wayang Ajen yang berbasis di Bekasi ini, salah satu konsep kunci dalam kehidupan Baduy adalah Tri Tangtu Buana, yang membagi kehidupan ke dalam tiga lapisan: spiritual, manusia, dan alam. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dalam keseimbangan yang dinamis.

"Jika salah satu terganggu, maka keseluruhan sistem akan terdampak. Ini adalah bentuk kosmologi ekologis yang melampaui pendekatan ilmiah modern yang sering kali bersifat sektoral dan terfragmentasi," paparnya.


Menurut Wawan yang pernah bertugas di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan ini, pendekatan Baduy justru holistik, mengintegrasikan nilai spiritual, sosial, dan ekologis dalam satu kesatuan.

Selain itu dalam kehidupan Baduy, terdapat aturan adat yang disebut pikukuh. Berbeda dengan regulasi formal yang bersifat eksternal, pikukuh adalah etika yang diinternalisasi. Ia mengatur bagaimana manusia berinteraksi dengan alam, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

"Misalnya, larangan merusak hutan, penggunaan bahan kimia dalam pertanian, hingga pembatasan konsumsi. Semua ini bukan sekadar aturan, tetapi bagian dari kesadaran kolektif," bebernya.


Konsep tersebut diperkuat oleh
papagon karuhun (pedoman leluhur) dan rawayan jati (jalan kebenaran), yang memastikan bahwa setiap tindakan manusia selalu berada dalam koridor keseimbangan.

Menurut Wawan apa yang dilakukan masyarakat Baduy hari ini sejatinya adalah praktik hidup rendah karbon yang kini gencar dikampanyekan secara global. "Mereka bertani tanpa bahan kimia, menjaga hutan sebagai ruang sakral, dan hidup dalam prinsip “cukup”," ungkapnya.

Kata Wawan lagi, dalam dunia yang didorong oleh konsumsi berlebih, prinsip ini menjadi sangat relevan. "Baduy menunjukkan bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan akumulasi materi, melainkan keseimbangan hidup," tegasnya.


Ekowisata di Baduy
Terkait ekowisata, sambung Wawan, di Baduy wisata tidak diposisikan sebagai konsumsi, melainkan pembelajaran. "Pengunjung diharapkan menghormati aturan adat, budaya menjaga perilaku, dan memahami nilai-nilai yang hidup di dalamnya," terangnya.

Pendekatan tersebut menghadirkan standar etika baru: bahwa interaksi dengan komunitas adat harus dilandasi rasa hormat, bukan sekadar keinginan untuk “melihat” atau “mengalami”.


Menurut Wawan, ekowisata juga membawa risiko sosial-ekonomi. "Jika tidak dikelola dengan bijak, ia dapat menggerus nilai budaya dan mengubah orientasi hidup masyarakat. Karena itu, keseimbangan antara manfaat ekonomi dan perlindungan budaya menjadi krusial," pungkasnya.

Naskah,: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Sumber: tulisan Wawan Gunawan bertajuk Cacatan Krusial Hasil Diskusi Budaya "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara"

Captions:
1 & 2: Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Wawan Gunawan saat menjadi narasumber Diskusi Budaya Seba Baduy 2026: "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara". (foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)
3. Masyarakat dari berbagai kalangan mengikuti diskusi budaya sesi 2 tersebut yang bertempat Panggung Utama, Alun-Alun Kota Serang, Banten pada Jumat, 24 April 2026. foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)
4. Pemilik grup Wayang Ajen yang pernah bertugas di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan ini menyampaikan pula ekowisata yang tunbuh di Baduy. (foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)
5 Berdoto bersama dengan narasumber dan pelaksana diskusi budaya Seba Baduy 2026. (foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)
6. Sekitar 1.500 orang Baduy atau urang Kanekes mejalankan tradisi tahunan Seba Baduy 2026. (foto: @adjitropis)
7. Wawan Gunawan di stan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten saat Seba Baduy 2026 di Kota Serang. (foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)

Read more...

Jumat, 24 April 2026

Di Seba Baduy 2026, Tersirat 10 Keistimewaan Urang Kanekes yang Mengagumkan


Menyaksikan dengan mata kepala sendiri Seba Baduy 2026 yang berlangsung di sekitar Alun-alun Rangkasbitung dan mengamati dengan cermat sekitar 1.500 orang Baduy atau urang Kanekes yang ikut serta, TravelPlus Indonesia yakin traveler akan menemukan sekurangnya 10 keistimewaan mereka yang mengagumkan.

Keistimewaan pertama yang bikin kagum, dari Seba Baduy 2026 dapat ditarik kesimpulan bahwa urang Kanekes (begitu sebenarnya mereka lebih senang disebut/dipanggil) adalah komunitas/masyarakat adat yang memiliki kebiasan berjalan kaki tanpa alas kaki (sandal maupun sepatu) alias telanjang kaki atau nyeker atau barefoot secara bersama-sama rutin setiap tahun dengan tujuan memberikan sejumlah hasil bumi mereka ke pemerintah setempat, baik itu Pemkab Lebak dalam hal ini bupati maupun Pemprov Banten (gubernur).

Berdasarkan fakta itu tak berlebihan bila urang Kanekes layak mendapat predikat sebagai komunitas/masyarakat adat pejalan kaki nyeker paling tangguh dan kompak se-Indonesia bahkan mungkin dunia.


Keistimewaan kedua, urang Kanekes menyiapkan regenerasi sejak dini supaya Seba Baduy tetap rutin dapat mereka lakukan setiap tahun. Caranya dengan mengajak anak laki-laki, keponakan atau cucu mereka yang masih bocah cilik (bocil) ikut seba Baduy berjalan kaki nyeker dengan ayahnya, pamannya ataupun kakeknya.

Contohnya Mursid (30), ayah dua anak yang tinggal di Kampung Cempaka, Baduy luar atau Panamping, mengajak Indra anak sulungnya yang kini berusia 12 tahun ikut Seba Baduy 2026. Menurut Mursid, sebelumnya Indra pernah ikut juga. "Tahun ini merupakan yang kedua kali dia (Indra) ikut Seba Baduy," terang Mursid.


Berikutnya atau keistimewaan yang ketiga, pelaksanaan Seba Baduy 2026 membuktikan kalau urang Kanekes baik yang menetap di tiga kampung inti Baduy dalam (Tangtu) yakni Cikeusik, Cibeo, dan Cikartawarna maupun urang Kanekes yang menetap di sejumlah kampung di wilayah Baduy luar (Panamping) sama-sama tetap setia dan patuh menjaga dan menjalankan pikukuh leluhur atau ajaran, pedoman, atau aturan adat warisan karuhun (nenek moyang) mereka.

Mungkin tak sedikit orang (wisatawan) yang kasihan (tidak tega) melihat urang Kanekes berjalan kaki nyeker saat Seba Baduy atau menganggap kebiasaan mereka itu aneh namun urang Kanekes bermental baja, tetap teguh menjalankannya.

Keistimewaan keempat, dari pelaksanaan Seba Baduy 2026 terkuak pula bahwa urang Kanekes itu umumnya pendiam alias tak banyak bicara dan bertingkah berlebihan saat makan, berjalan maupun berbicara dengan orang lain. Mereka tidak berbicara berlebihan apalagi bercanda.

Keistimewaan kelima, di Seba Baduy 2026 juga terlihat jelas bahwa urang Kanekes itu masyarakat adat yang berperilaku tertib.


Mereka mengikuti setiap aturan baik yang disampaikan kepala rombongan mereka maupun aturan dari panitia pelaksana seba Baduy tahun ini, baik saat berjalan kaki bersama dari titik awal (start) di Ciboleger sampai tiba di acara penyamabutan mulai dari Jembatan Keong Rangkasbitung sampai di Alun-alun Rangkasbitung dan Pendopo Bupati Lebak, Jumat (24/4) sore maupun saat mengikuti rangkaian acara berikutnya seperti babacakan dan lainnya di Pendopo Bupati Lebak yang digelar selepas magrib (malam Sabtu).

Selanjutnya atau keistimewaan yang keenam, dari Seba Baduy 2026 terbukti kalau urang Kanekes itu pekerja keras baik bertani padi huma di ladang dan berkebun untuk menanam bermacam tanaman pendamping seperti pisang, pete, jengkol, dan bermacam tanaman buah, dan lainnya; mengambil hasil hutan yang melimpah seperti madu hutan; dan sekaligus membuat aneka kerajinan tangan ataupun oleh-oleh untuk dikonsumsi sendiri maupun dijual seperti gula aren/gula kawung.


Buktinya bisa dilihat dari hasil bumi yang dibawa urang Kanekes untuk Bupati Lebak atau Pemkab Lebak antara lain pisang dan gula aren.

Ini sekaligus membuktikan bahwa urang Kanekes adalah komunitas masyarakat adat yang mandiri dan juga punya prinsip lebih baik tangan di atas (memberi) daripada tangan di bawah (meminta).

Keistimewaan ketujuh, lewat Seba Baduy 2026 terlihat jelas kalau urang Kanekes itu masyarakat adat yang  produktif dan kreatif bukan konsumtif. Ini mereka tunjukkan dari aneka kerajinan tangan yang mereka pakai seperti ikat kepala khas Baduy atau iket Baduy (lomar), tas rajut khas Baduy atau tas koja, dan tentunya kesederhanaan pakaian yang mereka kenakan yakni jamang sangsang (pakaian pria khas Baduy, baik yang berwarna putih untuk Tangtu atau hitam/biru tua untuk Panamping, tanpa kancing juga kerah, dan dijahit dengan cara disangsangkan (dilekatkan) di tubuh).


Pro Ramah Lingkungan
Keistimewaan kedelapan, terkuak pula dari Seba Baduy 2026, urang Kanekes itu merupakan masyarakat adat yang sangat pro ramah lingkungan dan tidak menghasilkan terlalu banyak sampah. Ini bisa terlihat dari pakaian yang mereka kenakan hasil buatan sendiri bahkan tanpa sandal maupun sepatu, dan dari hasil bumi yang mereka bawa dan berikan ke pemerintah setempat.

Berikutnya atau keistimewaan yang kesembilan, dari Seba Baduy 2026 terlihat bahwa urang Kanekes merupakan masyarakat adat yang beradaptasi dengan bijak, tidak berlebihan, tidak sampai meninggalkan pikukuh leluhur. Contohnya beberapa di antara mereka belajar menggunakan HP dan aktif ber-medsos untuk keperluan menjual aneka kerajinan dan hasil bumi serta mempromosikan daya tarik alam dan budaya mereka.


Keistimewaan terakhir atau yang kesepuluh, berkat sederet keistimewaan di atas berikut dengan kesetiaan melakukan Seba Baduy, membuat urang Kanekes punya daya tarik kuat atau magnet besar yang mampu menjaring kunjungan wisatawan baik lokal maupun nusantara bahkan mancanegara untuk datang menyaksikan mereka di Seba Baduy 2026. Bahkan membuat banyak orang terutama wisnus dari luar Banten yang tertarik berkunjung langsung ke wilayah mereka baik di Panamping maupun Tangtu.

Berkat 10 keistimewaannya tersebut, sudah pantas rasanya Indonesia, Banten, dan khususnya Kabupaten Lebak berterima kasih kepada urang Kanekes yang tetap setia menjalankan pikukuh leluhur mereka termasuk Seba Baduy sehingga membuat banyak orang terpikat, kemudian mengunjungi wilayah mereka yang tersebar di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180


Captions
:
1. Lewat Seba Baduy 2026 tersirat jelas bahwa orang Baduy atau urang Kanekes (begitu mereka lebih senang disebut/dipanggil) adalah komunitas/masyarakat adat yang pantas mendapat predikat pejalan kaki tanpa alas kaki (nyeker) paling tangguh dan kompak se-Indonesia bahkan mungkin dunia.
2. Mursid (30), urang Kanekes yang tinghal di wilayah Baduyuar atau Panamping,.mengajak Indra (12) anak sulungnya ikut Seba Baduy 2026, ini bukti adanya regenerasi sejak dini.
3. Misja (27) salah satu dari beberapa urang Kanekes yang menetap di Baduy dalam atau Tangtu yang ikut serta Seba Baduy 2026.
4. Penyambutan kedatangan urang Kanekes yang ikut Seba Baduy 2026 berlangsung mulai Jembatan Keong Rangkasbitung sampai Alun-alun Rangkasbitung, dan Pendopo Bupati Lebak pada Jumat (24/4) sore.
5. Memberikan sejumlah hasil bumi seperti pisang dan gula aren dalam Seba Baduy 2026 membuktikan kalau urang Kanekes itu masyarakat adat yang produktif dan mandiri.
6. Video sekitar 1.500 urang Kanekes berjalan kaki nyeker dari Ciboleger sampai Pendopo Bupati Lebak dalam Seba Baduy 2026 melewati Jembatan Keong Rangkasbitung.
7. Pengunjung wisatawan lokal (wislok), wisatawan nusantara (wisnus) bahkan beberapa wisatawan mancanegara (wisman) terpantau TravelPlus Indonesia begitu antusias mengabadikan urang Kanekes berjalan kaki dalam Seba Baduy 2026.
8. Video pengunjung berfoto bersama anak muda urang kanekes atau orang Baduy luar yang ikut Seba Baduy 2026 di halaman Pendopo Bupati Lebak.

Read more...

Kamis, 23 April 2026

Ke Kota Lama Banyumas saat Ngibing 24 Jam, Ini Delapan Keuntungannya


Berkunjung ke destinasi wisata saat ada spesial event jelas akan memberi keuntungan lebih dibanding tidak ada acara apa-apa. Nah, kalau traveler berencana city tour ke Kota Lama Banyumas tahun ini, saat penyelenggaraan Banyumas Ngibing 24 jam 2026 adalah waktu yang tepat karena bakal mendapatkan sekurangnya 8 keuntungan.

Keuntungan yang pertama, traveler bisa melihat rangkaian acara Banyumas Ngibing 24 Jam yang berlangsung pada hari Sabtu - Minggu, tanggal 2-3 Mei 2026 mulai pukul 06.00 hingga pukul 06.00 lagi di Pendopo Adipati Mrapat, Area Taman Sari, Area Kota Lama Banyumas dan ditambah Gebyar Kesenian Rakyat Ebeg Banyumas pada pukul 10.00 hingga 17.00 di Alun-alun Banyumas pada tanggal 3 Mei nya secara gratis atlias tidak dipungut tiket masuk.

Program dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 yang bisa traveler saksikan antara lain pertunjukan tari, pertunjukan menari 24 jam, pertunjukan musik tradisi dan modern, bazaar UMKM, show mural art 24 jam, dan pertunjukan Ebeg.

Keuntungan kedua, traveler bisa melihat dan bertemu dengan penggagas acara Banyumas Ngibing 24 Jam, Rianto yang tak lain seorang maesto Tari Lengger Banyumasan yang memang asli orang Banyumas namun kini menetap di Jepang.


Rianto yang lahir di Kaliori, Banyumas, 8 September 1981, mendalami tari tradisi sejak usia muda & dia dikenal lewat kepiawaiannya menarikan Lengger Lanang (penari laki-laki).

Namanya kian melangit selepas membintangi film layar lebar yang disutradarai Garin Nugroho berjudul Kucumbu Tubuh Indahku.

Amatan TravelPlus Indonesia, pemilk akun IG @rianto_rds ini konsisten memperjuangkan kembali tradisi Lengger Lanang, di mana penari pria berdandan dan menari layaknya perempuan.

Founder dari @riantodancestudio ini juga sering berkolaborasi dengan seniman internasional, membawa tari Lengger ke pentas global hingga namanya semakin mendunia.

Berikutnya atau keuntungan yang ketiga, traveler bisa city tour Kota Lama Banyumas mengunjungi beberapa bangunan tua berarsitektur tempo doeloe yang klasik.


Dilansir dari laman dinporabudpar.banyumaskab.go.id, Kota Lama Banyumas merupakan kawasan bersejarah yang dulu menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Banyumas sebelum akhirnya pindah ke Purwokerto.

Di sana, traveler bisa menjumpai bangunan-bangunan lawas bergaya Jawa, Tionghoa, dan kolonial yang masih terawat.

Beberapa tempat ikonik seperti Bale Adipati Mrapat (dulu Pendapa Duplikat Sipanji), Masjid Agung Nur Sulaiman, dan Klenteng Boen Tek Bio menjadi bukti perpaduan budaya yang unik.

Setelah direvitalisasi, jalanan di kawasan hetitage ini lebih rapi, lampunya lebih estetik, dan spot fotonya semakin banyak. Suasananya terasa santai tetapi tetap membawa nuansa klasik yang khas.

Sekarang, Kota Lama Banyumas semakin dikenal sebagai tujuan wisata budaya yang nyaman untuk dikunjungi bersama teman maupun keluarga.

Di sana juga ada Museum Wayang, kafe-kafe yang asyik buat nongkrong, hingga pusat UMKM yang menjual produk lokal.

Letak Kota Lama Banyumas pun mudah dijangkau, hanya sekitar 20 menit dari Purwokerto dengan transportasi umum atau ojek online.

Keuntungan yang keempat, traveler bisa merasakan menginap di hotel atau guest house/homestay bergaya vintage atau bernuansa heritage yang ada di Kota Lama Banyumas atau di sekitarnya.

Pilihannya antara lain Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, Omah Kranji (Guesthouse/Homestay), dan Hotel Besar Purwokerto.

Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, berada di jantung kawasan Kota Lama Banyumasa, tepatnya di Jl. Mruyung, Sudagaran, Kecamatan Banyumas, Kabupaten Banyumas, dekat dengan Alun-alun Banyumas.

Omah Kranji berada dengan Kota Lama. Sedangkan Hotel Besar Purwokerto berada di Jl. Jend. Sudirman No.732, Purwokerto Lor, sekitar 20 menit dari area Kota Lama Banyumas berkendara.

Keuntungan kelima, traveler bisa hangout di kedai kopi ataupun restoran bergaya vintage atau bernuansa heritage.

Pilihannya antara lain Kumala Coffee di Jl. Mruyung, Cafe dan Roti Mruyung di Mruyung Guest House Kota Lama Banyumas, Komsteer Coffee juga di Kota Lama Banyumas, dan Restoran di Hotel Besar Purwokertia yang bersuasana bangunan cagar budaya.

Selanjutnya atau keuntungan yang keenam, traveler bisa beli panganan khas Banyumas sebagai oleh-oleh di antaranya nopia dan mino, getuk horeng, enang jaket, keripik tempe, klanting (lanting), dan dages/tempe dage. Selain di pusat UMKM acara Banyumas Ngibing 24 Jam, bisa juga membelinya di pusat oleh-oleh yang ada di kawasan Sokaraja dan kota Purwokerto.

Kalau mau kulineran camilan untuk disantap di tempat, pilihannya ada tempe mendoan, kraca,.sroto Sokaraja, dan ciwel.

Keuntungan ketujuh, traveler bisa sekaligus merayakan atau menyemarakan Hari Tari Sedunia (World Dance Day) di Kota Lama Banyumas.


Berdasarkan siaran pers Banyumas Ngibing 24 Jam yang TravelPlus Indonesia terima dari Rianto, dijelaskan bahwa Banyumas Ngibing 24 Jam digelar Pemkab Banyumas dalam rangka memperingati Hari Tari Sedunia.

"Banyumas Ngibing kali ini mengusung tema "Beragam Kiwa yang Bebas Menyatu dalam Numi" atau Souls of Diverse, United on Freedom in The Earth. Yang mencerminkan harmoni kehidupan, dimana perbedaan individu, budaya, dan spiritualitas melebur menjadi satu kesatuan di atas tanah Ibu Pertiwi,' terang Rianto.

Lestari dan Promosi
Pagelaran 24 Jam Banyumas Ngibing hadir sebagai wadah untuk merayakan, mengenalkan, dan menghidupkan kembali tradisi Ngibing dalam skala besar. Selain itu event ini juga bertujuan untuk kembali melestarikan dan mempromosikan kesenian serta budaya Banyumas.

Terakhir atau keuntungan yang kedelapan, traveler akan mendapatkan lebih banyak materi untuk konten medsos seperti tulisan, video, foto, vlog, dan lainnya sehingga jumlah konten traveler bukan hanya bertambah banyak pun lebih variatif karena punya muatan budaya.

Dalam siaran pers terkait Banyumas Ngibing 24 Jam dijelaskan bahwa visi dari Banyumas Ngibing adalah memperkenalkan lmbali tradisi Ngibing (menari) kepada generasi muda agar mencintai dan menghargai identitas daerahnya dan menjadikan seni tradisional sebagai ruang kreasi yang dinamis, bukan sekadar pajangan masa lalu sehingga mengintegrasikan budaya dengan pariwisata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.

Adapun misinya menjadi wadah utama bagi seniman tradisional, khususnya tari Lengger Banyumasan, agar tetap relevan di mata generasi muda; menghubungkan pagelaran seni dengan sektor UMKM.

"Kehadiran ribuan penari dan penonton diharapkan mampu mendongkrak pendapatan pedagang lokal di sekitar lokasi acara," terang Rianto lagi.


Misi lainnya adalah mengenalkan identitas Banyumas ke kancah nasional dan internasional melalui kampanye digital dan kolaborasi lintas daerah.dan menjadikan menari sebagai ekspresi kegembiraan yang bisa diikuti oleh siapa saja, mulai dari pelajar, seniman profesional, hingga masyarakat umum.

Sebagai informasi tambahan peserta yang terlibat dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 adalah sejumlah sanggar di Kab. Banyumas, beberapa sanggar dari luar kota diantaranya Cilegon, Tangerang, Jakarta, Bekasi, Bandung, Sumedang, Tasikmalaya, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Yogyakarta, Madura, dan kota-kota lainnya hingga berbagai mancanegara seperti Jerman, Jepang, Meksiko, Amerika Serikat, dan Malaysia.

Menurut Rianto, dalam Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026 juga akan ada pemberian penghargaan antara laim buat penari 24 jam, 3 pertunjukan terbaik, komunitas sanggar terjauh, penari tertua, penari termuda, anggota sanggar terbanyak, sanggar tertua, dan kepada para tim support.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Sumber: Laman dinporabudpar.banyumaskab.go.id dan siaran pers "Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026".

Captions:
1. Rianto saat menari Tari Lengger Banyumasan. (foto: dok.rianto)
2. Rianto piawai menarikan tari Lengger Lanang. (foto: dok.rianto)
3. Salah satu bangunan tua di Kota Lama Banyumas. (foto: dok. dinporabudpar.banyumaskab.go.id)
4. Berfoto bersama usai konferensi pers
"Banyumas Ngibing 24 Jam Menari 2026". (foto: dok.rianto)
5. Rianto penggagas Banyumas Ngibing 24 Jam. (foto: dok.rianto)




Read more...

Rabu, 22 April 2026

Enam Keuntungan Menyaksikan Langsung Seba Baduy 2026


Bila menyaksikan Seba Baduy 2026 yang digelar Pemkab Lebak pada 23-26 April secara langsung, TravelPlus Indonesia yakin traveler akan mendapatkan sejumlah keuntungan dibanding hanya menontonnya lewat unggahan konten video di ragam medsos maupun youtube.

Berdasarkan pengalaman TravelPlus Indonesia meliput langsung Seba Baduy beberapa kali, sekurangnya ada enam keuntungan yang bakal didapat traveler jika melihat langsung tradisi tahunan  masyarakat Baduy tersebut.

Keuntungan pertama, traveler bisa menyaksikan sekaligus merasakan betapa tangguhnya orang Baduy berjalan kaki tanpa alas kaki (sandal maupun sepatu) alias nyeker sambil membawa aneka hasil bumi mereka dari titik kumpul dan keberangkatan di Ciboleger (terminal sekaligus pintu masuk ke perkampungan Baduy yang berada di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten) menuju Rangkasbitung, Ibu kota Kabupaten Lebak, tepatnya di Pendopo Bupati Lebak.


Bila traveler berjiwa petualang, berfisik kuat, dan sudah terbiasa atau sering melakukan aktivitas berjalan kaki di luar ruang (outdoor), mungkin bisa saja mengikuti mereka berjalan kaki dari Ciboleger - Rangkasbitung sekaligus untuk mengabadikan mereka, dari tanggal 23-24 April. Tapi ingat jangan sampai mengganggu, karena mereka bukan sekadar berjalan kaki biasa melainkan tengah melakukan tradisi adat yang dipegang kuat sejak dulu.

Dari pengalaman menarik dan cukup menantang tersebut, saya yakin traveler akan sepakat/setuju kalau Baduy amat pantas menyandang predikat sebagai kelompok masyarakat adat (bukan suku) pejalan kaki tanpa alas kaki paling tangguh dan kompak di Indonesia bahkan mungkin dunia.

Cara lain, traveler bisa berjalan kaki dengan mereka hanya beberapa kilometer saja (disesuaikan dengan kemampuan fisik), kemudian disambung naik kendaraan pribadi/sewa (sepeda motor/mobil), mengikuti mereka dari belakang sampai Rangkasbitung. Namun tetap tertib.

Pilihan berikutnya dan ini yang paling santai (tidak terlalu menguras tenaga), traveler bisa menunggu kedatangan mereka mulai dari Jembatan Keong atau juga mulai dari Alun-alun Rangkasbitung dan mengabadikannya sampai menuju Pendopo Bupati Lebak di seberang alun-alun tersebut pada Jumat, 24 April siang sampai sore.


Babacakan Bareng
Keuntungan kedua, traveler bisa menyaksikan seru dan nikmatnya babacakan jeung urang Kanekes atau makan bersama dengan orang Baduy peserta Seba Baduy 2026 di Pendopo Bupati Lebak.

Amatan TravelPlus Indonesia, acara makan bersama beralas daun pisang tersebut boleh dibilang menjadi salah satu special moment dalam rangkaian perhelatan Seba Baduy.

Kenapa spesial? Karena babacakan yang digelar ba’da (lepas) salat magrib itu paling ditunggu-tunggu bukan hanya oleh ribuan warga Baduy usai berjalan kaki puluhan kilometer dari kampung-kampung asrinya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, sebelah Utara Kabupaten Lebak ke Rangkasbitung, pun oleh para pejabat, tamu undangan, wisatawan, dan tentu saja sejumlah awak media yang meliput upacara tahunan khas Baduy tersebut. Terlebih di momen tersebut diikuti orang nomor satu Lebak alias bupati Lebak.

Babacakan jeung urang Kanekes pada Seba Baduy 2026 akan berlangsung Jumat, 24 April sesudah magrib sampai selesai di halaman Pendopo Bupati Lebak.


Berikutnya atau keuntungan yang ketiga, traveler bisa melihat langsung orang Baduy baik itu orang Baduy Dalam atau biasa disebut
Tangtu, yang mengenakan pakaian putih-putih dan ikat kepala juga putih polos tak bermotif maupun orang Baduy Luar atau bisa disebut Panamping dengan ciri khas berpakaian serba hitam dengan ikat kepala warna biru dan hitam bermotif khas.

Setiap Seba Baduy, jumlah warga Panamping yang ikut biasanya lebih dominan dibanding Tangtu. Ini dikarenakan jumlah Panamping yang tinggal di sejumlah kampung di Desa Kanekes, tepatnya di bagian Barat, Timur, dan Utara dari wilayah Tangtu memang lebih banyak dibanding Tangtu yang hanya menetap di tiga kampung inti Tangtu yakni Cikeusik, Cibeo, dan Cikartawarna.

Faktor lainnya terkait jarak. Warga Tangtu tentu harus menempuh jarak yang lebih panjang dibanding masyarakat Panamping. Mereka harus naik turun lereng dan bukit-bukit Pegunungan Kendeng terlebih dulu atau sekitar 3-4 jam berjalan kaki menuju kampung Baduy Luar, baru kemudian bersama-sama Seba Baduy ke Rangkasbitung yang berjarak berkilo-kilo meter.

Bukan hanya melihat, traveler juga bisa mengabadikannya dari dekat bahkan mengobrol ringan.

Perlu diingat, tidak semua orang Baduy Dalam maupun Luar cakap berbahasa Indonesia. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa dan biasanya yang sering melakukan perjalanan niaga (berdagang) madu dan kerajinan khas Baduy di sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Rangkasbitung, dan daerah lainnya sehingga mereka mau tak mau sering mendengar dan atau berkomunikasi dengan orang luar dan akhirnya lama-lama bisa berbahasa Indonesia.

Satu lagi yang perlu diingat, orang Baduy umumnya pendiam alias tak banyak bicara dan bertingkah berlebihan saat makan, berjalan maupun berbicara dengan orang lain. Mereka tidak berbicara berlebihan apalagi bercanda. Mereka juga masyarakat adat yang berpenampilan bersahaja (sedehana), bisa dilihat dari cara berpakaian mereka yang simpel.

Semua itu bukanlah kekurangan tapi justru menjadi kelebihan mereka lantaran semakin membuat mereka nampak begitu spesial, unik, menarik, dan tentunya mengundang rasa keingintahuan banyak orang.


Keuntungan keempat, traveler bisa membeli aneka produk kerajinan, makanan, dan oleh-oleh khas Baduy baik yang dibawa oleh orang Baduy yang ikut Seba Baduy 2026 maupun di deretan stan di sekitaran Alun-alun Rangkasbitung.

Keuntungan kelima, traveler bisa memyaksikan pula bermacam kegiatan yang dibuat panitia Seba Baduy 2026 antara lain sarasehan budaya Baduy di panggung utama, pembukaan kemah budaya, perlombaan permainan tradisional, dan opening ceremony pada Kamis (23/4) mulai pagi sampai malam.

Bisa juga melihat acara pelepasan warga Baduy menuju Serang pada Sabtu, 25 April pukul 6 pagi di Alun-alun Rangkaslbitung dan sederet acara lainnya.

Untuk info detail rundown acara Seba Baduy 2026 dari Kamis s/d Minggu (23-26 April), bisa traveler lihat dari unggahan di akun Instagram (IG) resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak @disbudparlebak.

Terakhir atau keuntungan yang keenam, traveler bisa membuat bermacam konten seperti video, tulisan, foto maupun vlog terkait Seba Baduy hasil amatan langsung untuk ditayangkan di ragam medsos maupun youtube sehingga bisa bertambah koleksi konten budayanya sekaligus turut menggaungkan Seba Baduy secara lebih komplet.


Acara Budaya Unggulan
Seba Baduy bukan sekadar menjalankan kearifan lokal urang Kanekes tapi sekaligus sudah menjadi salah satu daya tarik wisata atau acara budaya unggulan bagi Kabupaten Lebak bahkan Provinsi Banten.

Kenapa TravelPlus Indonesia bisa bilang begitu? Karena Seba Baduy mampu menjaring sekaligus menambah kunjungan wisatawan ke Lebak maupun Banten, terutama wisatawan lokal (wislok) dan wisatawan nusantara (wisnus).

Berkat acara budaya tahunan ini, nama Baduy pun semakin mengangkasa dan akhirnya semakin banyak traveler dari luar Banten yang kepincut untuk bertandang langsung ke wilayah Baduy, baik Panamping maupun Tangtu.


Buktinya, terpantau setiap akhir pekan mulai dari Jumat dan Sabtu banyak travelers dalam small group (kelompok kecil terdiri atas 5-10 orang) maupun big group (kelompok besar/rombongan di atas belasan orang) yang menjadikan Stasiun Rangkasbitung sebagai tikum (titik kumpul) menuju Baduy Luar maupun Baduy Dalam.

Ayo ramai-ramai lihat langsung Seba Baduy 2026 di Rangkasbitung bareng TravelPlus Indonesia. Setelah itu masukkan Baduy sebagai destinasi wisata alam dan budaya Anda berikutnya🙏.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Orang Baduy atau urang Kanekes adalah komunitas masyarakat adat yang pantas menyandang predikat para pejalan kaki tanpa alas kaki paling tangguh dan kompak di Indonesia bahkan mungkin dunia.
2. Deretan kaki orang Baduy yang terbiasa jalan jauh tanpa alas kaki (nyeker) dan di depannya orang kota berdiri lengkap dengan sepatunya.
3-6: Seba Baduy yang pernah TravelPlus Indonesia liput beberapa kali.
7. Video sejumlah wisnus tengah berwisata dan bersantap di salah satu rumah orang Baduy Luar.



Read more...

Minggu, 19 April 2026

Sosok Prosper di Mata Perempuan pada Masa Keemasan Bertualang


Supaya lebih komplet, tulisan kedua gue masih tentang Prosper ini memuat pendapat/persepsi/tanggapanlpeniilaian beberapa perempuan mengenai sosok yang dalam tulisan pertama kemarin, gue sebut "Sang Petualang di Atas Rata-Rata dari TAPAL" .

Tentu saja perempuan-perempuan yang gue maksud di sini adalah perempuan-perempuan yang sewaktu masih kuliah pada era tahun 90-an bukan hanya berstatus mahasiswi pun anggota dari organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL di IISIP Jakarta, tempat mereka, Prosper, dan gue kuliah dulu.

Mereka yang gue kontak lewat WA ini, rata-rata mengenal baik Prosper dan sering juga mengikuti sederet aktivitas luar ruang (outdoor activities) bermuatan petualangan bersama Prosper, seperti mendaki gunung, susur pantai, jelajah hutan, dan lainnya.


Sekurangnya ada lima perempuan yang gue pilih untuk mengetahui pendapatnya masing-masing mengenai sosok Prosper yang mereka kenal semasa keemasan bertualang.

Kelima perempuan itu, terdiri atas empat perempuan yang pernah bertualang bareng Prosper, gue, dan lainnya ke Taman Nasional (TN) Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, Banten pada tahun 1992 selama sekitar sepekan, yaitu Irma, Santa, Anisti, dan Wina.

Satu perempuan lagi, meminta gue untuk tidak menyebut nama, status, dan tempat kuliahnya. Untuk keperluan tulisan ini, gue memakai nama samarannya "Jelita".


Irma adalah perempuan pertama yang gue minta tanggapannya lewat pesan WA, kemarin.

Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1985 ini, Prosper yang berdarah Batak dan pernah hilang di daerah pedalaman dayak, Kalimantan itu, orangnya low profile, bijaksana, sedikit bicara tapi banyak bekerja dalam setiap kegiatan petualangan.

"Bertualang dengan dia, gue berasa aman banget, nggak takut nyasar," ungkapnya.

Prosper juga sering menjadi penyemangat anggota TAPAL dan simpatisan untuk terus bertualang.

"Dia selalu memotivasi kita untuk terus bertualang seperti mengunjungi gunung yang belum pernah kita daki atau daerah/pulau yang belum pernah kita jelajahi,"  terang perempuan berdarah Aceh ini.

Dimata Irma, sosok Prosper adalah seorang petualang sejati yang tidak punya naluri takut. "Kalau lagi jelajah hutan yang jarang dijamah pendaki, dia berada paling depan membuka jalan dengan golok dan keberaniannya," tambahnya lagi.


Nggak Mau Bikin KTP
Di luar petualangan, ada satu hal yang paling diingat Irma tentang Prosper dan ini boleh dibilang aneh. "Dia (Prosper) nggak mau bikin KTP. Katanya kalau punya KTP dan dia mati nanti malah nyusahin orang," ungkap Irma.

Lain lagi dengan Santa. Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1990 berdarah Batak ini, Prosper sosok petualang yang memiliki keunikan tersendiri.

"Sebagai manusia biasa, tentu dia ada plus minus-nya. Namun bagi gue, Prosper itu merupakan guru petualangan di alam," ungkapnya singkat.

Anisti atau yang akrab disapa Ithink juga punya tanggapan tersendiri. Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1990 ini Prosper itu orang yang baik, tulus, dan mau berkorban apapun untuk teman-temannya.

"Dia petualang sejati dan sebenarnya punya cita cita yang tinggi," terangnya.

Begitupun dengan Wina yang biasa dipanggil Wince. Menurut anggota TAPAL juga kuliah di IISiP angkatan 1990 ini, Prosper itu baik walau 'batu: maksudnya cuek.

"Kayaknya dia tuh orang yang nggak ada susahnya. Enjoy terus," ungkapnya.

"Satu lagi, dia kayaknya kebal. Waktu di gunung, pacet aja males nempel ke badannya😂," beber Wina seraya tertawa.


Kalau lagi bertualang, Prosper itu sosok abang yang perhatian sama adik-adiknya. "Misalnya kalau gue lagi
ogah makan, dia yang ngingetin supaya isi perut biar nggak sakit. Mungkin karena gue kurus ya waktu itu hehehe," terang perempuan berdarah Minang ini.

Ketika gue tanya "Kalau Prosper masih ada, kira-kira TAPAL bakal masih "berdenyut" kayak dulu nggak ya?".  Jawab Wina bisa jadi.  "Asal ada regenerasi dan manajemen keorganisasiannya dibenahi," pungkasnya.

Perempuan kelima atau terakhir yang gue WA seperti tercantum di atas, gue kasih nama samarannya "Jelita".

Menurut Jelita, Prosper itu sosok petualang yang baik dan bertanggung jawab. "Dia kerap mengorbankan dirinya untuk keselamatan dan kenyamanan orang lain saat bertualang," akunya.

Secara fisik dan penampilan, Prosper itu memang kelihatan sangar. " Tapi dibalik itu, dia orangnya pemalu dan sangat romantis hehehe," ujarnya.

Berdasarkan pengakuan Jelita, Prosper pernah mengungkapkan rasanya kepada Jelita yang lebih dari sekadar abang. Tapi waktu itu Jelita tidak membalas/menerimanya, juga tidak pula menolaknya.

"Sebenarnya gue juga sayang sama dia tapi gue nggak yakin, salah satu penyebabnya karena terhalang perbedaan keyakinan," ungkap Jelita.


Surat Terakhir
Prosper juga pernah mengirm surat lewat kartu pos berwarna kuning ke rumah Jelita. Surat terakhir itu sampai di rumahnya sehari sebelum kejadian nahas yang merenggut nyawa Prosper di Lumajang, kaki Gunung Semeru tahun 1995.

Dalam surat itu, Prosper mengatakan sebenarnya dia ingin hidup bersama Jelita tapi karena sadar itu tidak mungkin tercapai, dia terpaksa pergi meninggalkan Jakarta untuk selamanya.

"Katanya dia mau tinggal di satu pulau tapi nggak menyebutkan nama pulaunya. Di ujung suratnya itu, Prosper pamitan dan menulis kata-kata "peluk sayang terakhir untuk gue"," terang Jelita.

Usai membaca surat itu, Jelita mengaku kaget, shock, dan bingung. "Gue sampe nangis sendirian di kamar," bebernya.

Menurut Jelita semua yang diutarakannya itu, selama ini dia simpan rapat-rapat dan hanya menjadi rahasia pribadi. "Dan baru kali ini gue ceritain semua sama elu," pungkasnya.


Mendapat isi WA yang panjang dan mendalam dari Jelita, jujur gue agak terkejut juga. Sejauh ini gue mengira Prosper cuma dekat dan terlihat intens mendekati Ithink. Dan teman-teman yang lain juga menduga hubungan Prosper dan Ithink waktu itu, lebih dari sebatas abang-adik alias pacaran.

Tapi sayang, kodrat atau takdir tidak bisa diubah. Prosper lebih dulu meninggalkan adik-adiknya, teman-teman dekatnya, dan orang yang dicintainya untuk selamanya, sebelum semua cita dan cintanya benar-benar terwujud.

Buat Prosper, terima kasih sudah menjadi rekan petualangan yang baik dengan begitu banyak kelebihannya dibanding kekurangannya. Damai dan bahagia selamanya di sana, di sisi-Nya 🤲.

Terima kasih pula untuk Irma, Santa, Ithink, Wina, dan "Jelita"  yang sudah berbagi cerita tentang sosok Prosper.


Saat ngobrol tentang sosok Prosper dengan lima perempuan tersebut, seketika gue terinspirasi bikin 2 lagu bertajuk "Tak Bisa Lupa"
dan "Romansa Lama".

Ini lirik lagu "Tak Bisa Lupa*:

🎶...  Bertukar cerita
Tentang sosok dia
Lewat pesan WA
Jadi lagu dan tulisan

Ternyata ada
Setangkup rasa
Tersimpan rapat
Kini terungkap

Mendaki gunung
Jelajah hutan
Sewaktu muda
Semasa gagah

Memori indah
Tak bisa lupa ... 🎶

Berikutnya lirik lagu "Romansa Lama":

🎶... Ada rasa diantara kisah
Ada cinta warnai cerita
Saat muda, leluasa dan gagah
Bertualang kemana-mana

Kini terkuak semua
Romansa lama tercipta
Selama ini tak diungkap
Disimpan rapat

Dia yang dulu mendekat
Bilang suka, ungkap cinta
Tak dibalas, tak ditolak
Pergi, tak pernah kembali ... 🎶.

Sehat-sehat terus ya semua, panjang usia, dan penuh kebermanfaatan🙏.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1-7 : Prosper saat bertualang: mendaki gunung, susur pantai, jelajah hutan, trekking ke air terjun, dan menyambangi pulau bersama anggota dan simpatisan Ompa TAPAL, serta ketika berada di Kampus Tercinta, IISIP - Jakarta. (foto-foto: dok.irma/tapal)

8. Anisti (Ithink), Santa, Irma, Wayank, gue (rompi biru), Gusur, Ubay, dan Wina (Wince) yang mengenal baik Prosper dan pernah bertualang bareng ke Ujung Kulon 1992, dll. (foto: dok.halbil tapal 2024)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP