Belum tahu mau kemana dan melakukan aktivitas wisata apa buat mengisi libur Lebaran 2026 yang tinggal menghitung hari? Sepertinya destinasi wisata bekas perang yang tersebar di berbagai provinsi di Sumatra, bisa jadi pilihan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), "destinasi" berarti tempat tujuan. Sedangkan "wisata" itu bepergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan sebagainya); bertamasya; atau piknik. Secara garis besar destinasi wisata adalah suatu tempat yang menjadi tujuan wisata untuk berbagai tujuan.
Bekas perang terdiri atas dua kata yakni bekas dan perang. Dalam KBBI, "bekas" berarti tanda/sisa/barang yang sudah dipakai, dan "perang" adalah permusuhan/pertempuran. Secara garis besar, bekas perang merujuk pada sisa-sisa fisik ataupun jejak dari dampak pertempuran/peperangan.
Destinasi bekas perang itu beragam, untuk tulisan kali ini TravelPlus Indonesia fokus kepada benteng. Kenapa? Karena benteng identik dengan perang. Lihat saja dari fungsi utama benteng sebagai bangunan pertahanan militer yang dirancang untuk melindungi wilayah, pasukan, atau instalasi penting dari serangan. Selain itu benteng juga merupakan situs sejarah yang menjadi saksi bisu dari peperangan.
Pengertian situs sejarah sendiri adalah lokasi, bangunan, struktur, atau kawasan tertentu yang memiliki nilai penting bagi sejarah, budaya, ilmu pengetahuan, atau sosial, dan dilestarikan karena warisannya.
Mengapa TravelPlus Indonesia mengangkat destinasi bekas perang? Apakah karena saat ini tengah terjadi perang antar-negara lain yang kabarnya ramai tersiar di ragam medsos? Jawabannya ya, dengan harapan peperangan tersebut segera berakhir.
Lalu benteng apa saja di Sumatra yang kemudian menjadi destinasi bekas perang yang menarik untuk dikunjungi pas libur lebaran tahun ini?
Khusus tulisan ini, TravelPlus Indonesia hanya membatasi benteng- benteng yang ada di Sumatra (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, Sumatera Selatan, dan Lampung) yang berukuran relatif besar, luas dan atau bangunannya masih terbilang utuh terlihat sebagai bangunan benteng secara kasat mata.
Dimulai dari provinsi paling atas di Pulau Sumatra yakni Aceh. Berdasarkan data dari berbagai sumber, di provinsi berjuluk Bumi Iskandar Muda ini terdapat beberapa benteng yang menarik sebagai destinasi wisata perang buat libur lebaran tahun ini, antara lain Benteng Indrapatra.
Benteng yang berada di pesisir pantai Ujong Batee, tepatnya di Desa Ladong, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar ini dibangun pada abad ke-7 Masehi atau sebelum masa kedatangan Islam di Aceh oleh Kerajaan Lamuri, salah satu kerajaan Hindu yang pernah berkuasa di Aceh. Dulu benteng ini berfungsi untuk melindungi kerajaan dari serangan musuh, khususnya dari pihak kolonial Portugis.
Lanjut ke provinsi bawahnya yakni Sumatra Utara ada Benteng Putri Hijau di Kabupaten Deli Serdang dan Benteng Barus di Kabupaten Tapanuli Tengah.
Benteng Putri Hijau terletak di Desa Deli Tua, Kecamatan Namorambe, ini diyakini sebagai sisa pertahanan Kerajaan Aru (abad ke13 -16) dan Kesultanan Deli. Sedangkan Benteng Barus yang berada di Kelurahan Padang Masiang, Kecamatan Barus dikenal juga dengan nama Redoute te Baros pada masa kolonial Belanda.
Berikutnya di Sumatra Barat ada
Benteng Fort de Kock. Benteng yang didirikan oleh Kapten Bouer pada tahun 1825 di atas Bukit Jirek ini merupakan kubu pertahanan Belanda selama Perang Padri dan menjadi saksi bisu sejarah kolonial di Kota Bukittinggi.
Selain itu ada Benteng Van der Capellen di Batusangkar yang juga benteng ini juga dibangun Belanda sebagai pertahanan selama Perang Padri dan Benteng Bukit Tajadi di Jalan Jorong Kampung Talang, Nagari Ganggo Hilia, Kecamatan Bonjol. Kabupaten Pasaman yang merupakan bekas kubu pertahanan kaum Padri yang dipimpin oleh Imam Bonjol.
Lanjut d Riau ada Benteng 7 Lapis atau dikenal juga dengan nama Benteng Tuanku Tambusai yang berada di Desa Dalu-Dalu, Kecamatan Tambusai, Kabupaten Rokan Hulu. Benteng ini merupakan benteng pertahanan terakhir kaum Padri yang dipimpin oleh Tuanku Tambusai dalam melawan pasukan Hindia Belanda. Benteng ini kini telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional.
Di provinsi tetangga Riau yakni
Kepulauan Riau (Kepri) ada Benteng Bukit Kursi yang berlokasi di Pulau Penyengat, Kota Tanjungpinang. Benteng yang ditetapkan sebagai cagar budaya pada tahun 2017 ini merupakan benteng pertahanan kerajaan Melayu Riau-Lingga yang dibangun pada masa Raja Haji Fisabilillah (sekitar 1777-1784) dan digunakan dalam peperangan melawan kolonial Belanda.
Selain itu ada Benteng Kuala Daik di Kabupaten di Lingga yang merupakan benteng pertahanan 3 lapis yang digunakan oleh Kerajaan Riau-Lingga dan Benteng Old Jail di Siak yang merupakan saksi penjajahan Belanda di Riau dan lini menjadi salah satu objek sejarah.
Selanjutnya di Jambi ada Benteng Muara Tembesi di tepi Sungai Batanghari, tepatnya Kecamatan Muara Tembesi, Kabupaten Batanghari. Benteng yang dibangun oleh Belanda sekitar tahun 1901 ini digunakan untuk mengintai musuh sekaligus kantor pemerintahan kolonial.
Benteng Buatan InggrisDi Bengkulu ada Benteng Marlborough (Fort Marlborough), tepatnya di tepi Pantai Tapak Padri, Kota Bengkulu yang dibangun oleh East India Company (EIC) Inggris antara tahun 1713–1719 di bawah pimpinan Gubernur Joseph Collett.
Amatan langsung TravelPlus Indonesia, benteng yang pernah dikuasai Belanda, Jepang.dan digunakan sebagai markas Polri serta TNI-AD sebelum menjadi cagar budaya ini kondisinya masih sangat kokoh.
Berikutnya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) ada Benteng Toboali di Kabupaten Bangka Selatan yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda sekitar tahun 1825.
Benteng yang berada di atas bukit di pinggir pantai, tepatnya di Kelurahan Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, sekitar 2,5 jam dengan berkendara dari Kota Pangkalpinang ini berfungsi sebagai basis pertahanan dan kini sudah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Selain itu ada Benteng Kota Tempilang di Kecamatan Tempilang, Kabupaten Bangka Barat, Bangka. Benteng ini didirikan pada masa pemerintahan Abang Pahang Tumenggung Dita Menggala dengan izin dari Sultan Ahmad Najamuddin di bawah Kesultanan Palembang pada abad ke-17 yang berfungsi sebagai gudang dan parit pertahanan mengingat Tempilang pada masa itu dikenal sebagai daerah penghasil timah.
Lanjut di Sumatra Selatan ada Benteng Kuto Besak di pinggir Sungai Musi, Kota Palembang. Amatan langsung TravelPlus Indonesia saat meliput city tour di Kota Pempek ini, benteng yang letaknya di Jalan Sultan Mahmud Badarudin, sekitar 1,5 Km sebelah barat laut Jembatan Ampera ini masih berdiri gagah.
Benteng sisa Kerajaan Palembang Darussalam waktu zaman Belanda ini sengaja yang dibangun dengan biaya sendiri untuk pertahanan menangkal serangan Belanda dan sekaligus rumah tempat tinggal Kerajaan Palembang. Benteng ini menjadi satu-satunya benteng di Indonesia yang menggunakan dinding batu dan juga memenuhi syarat perbentengan atau pertahanan.
Terakhir di provinsi yang posisinya paling bawah d Sumatra yakni Lampung ada Benteng Cempaka. Salah satu situs pertahanan yang digunakan oleh Radin Inten II dalam perjuangannya melawan Belanda ini terletak di Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.
Selain itu ada benteng kuno di Desa Beteng Sari Kecamatan Jabung, Kabupaten Lampung Timur. Benteng yang diperkirakan dibangun pada masa kolonial Belanda ini berfungsi sebagai pertahanan dan pengawasan terhadap aktivitas di sekitar wilayah tersebut sekaligus menjadi simbol perlawanan masyarakat lokal terhadap penjajahan.
Benteng-benteng di Sumatra di atas ada yang sudah berstatus cagar budaya ataupun ODCB (Objek yang Diduga Cagar Budaya). Beberapa di antaranya sudah direvitalisasi sehingga penampilannya lebih menawan sebagai destinasi wisata bekas perang yang panjang sejarahnya.
Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Captions:
1. Bagian tengah Benteng Marlborough di Kota Bengkulu, Provinsi Bengkulu. (Foto: adji)
2. Benteng Indrapatra di Kabupaten Aceh Besar, Aceh. (Foto: dok. website budayaaceh.com milik Disbudpar Aceh)
3. Gerbang Benteng (Fort) Marlborough di Kota Bengkulu. (Foto: adji)
4. Benteng Kuto Besak di Kota Palembang, Sumsel (Foto: adji)
0 komentar:
Posting Komentar