Lima "K" Menghidupkan Destinasi Wisata Bekas Perang Pasca-Revitalisasi
Ada sekurangnya lima (5) "K" versi TravelPlus Indonesia untuk menghidupkan destinasi wisata bekas perang seperti benteng yang sudah direvitalisasi supaya kian terkenal dan ramai pengunjungnya.
Lima "K" itu adalah komunikatif, kreatif, kerja sama, kemanfaatan, dan kontinu.
Sebelum TravelPlus Indonesia mengurai arti/makna setiap "K" tersebut, ada baiknya kita memahami maksud kata revitalisasi pada destinasi wisata bekas perang dalam hal ini benteng.
"Revitalisasi" menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Tujuannya antara lain mengembalikan fungsi, meningkatkan nilai strategis, dan memperbarui struktur agar relevan dengan kondisi baru. Revitalisasi disini mencakup perbaikan fisik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Revitalisasi benteng adalah upaya menghidupkan kembali benteng yang sudah rusak atau terbengkalai dengan cara memugar, memperbaiki, melestarikan, menata ulang, dan meningkatkan fungsinya. Proses ini bertujuan mengembalikan struktur asli, meningkatkan nilai sejarah, serta menjadikannya ruang publik kreatif atau destinasi wisata tanpa merusak keaslian bangunan.
Pasca-revitalisasi benteng tak cukup hanya publikasi/promosi lewat ragam media tapi harus disertakan dengan upaya menghidupkannya yakni dengan 5 "K".
"K" pertama, komunikatif artinya setiap kegiatan yang dibuat/diadakan/digelar di destinasi wisata bekas perang dalam hal ini benteng yang sudah direvitalisasi, harus dikomunikasikan/dipromosikan/dipublikasikan dengan tepat agar mudah diketahui, dipahami/dimengerti publik.
Untuk itu perlu tim yang komunikatif (aktif menyampaikan informasi pra, on , dan pasca-kegiatan secara menarik. Selain itu tim ini harus mudah dihubungi oleh publik lewat akun media sosial, WA, dan lainnya.
Bukan cuma itu, tim ini juga harus komunikatif dengan sejumlah pihak lain misalnya dengan perusahaan film, sutradara film, dan lainnya supaya mereka tertarik dan mau syuting film di benteng yang sudah direvitalisasi tersebut dengan melibatkan aktor nasional ternama dan aktor/seniman/warga lokal.
"K" kedua, kreatif maksudnya pengelolanya memiliki daya cipta atau kemampuan untuk menciptakan berbagai kegiatan yang menarik (berdaya tarik) hingga membuat wisatawan baik lokal, Nusantara maupun mancanegara datang ke benteng yang sudah direvitalisasi tersebut.
Ragam kegiatannya bisa bersifat hiburan, edukasi, bermuatan pelestarian budaya tradisional, dan lainnya.
Jenis kegiatan bersifat hiburan antara lain konser musik genre tertentu maupun bermacam genre musik misalnya konser musik jazz (penampilannya hanya penyanyi dan band yang mengusung jazz). Kalau konser musik gado-gado atau campuran, penampilannya ada penyanyi/band rock, dangdut, jazz, pop dan lainnya dalam satu festival atau konser musik tersebut.
Jenis kegiatan bermuatan edukasi dan pelestarian seni-budaya antara lain festival tari, fashion show, bazaar kuliner, dan lainnya. Bisa juga yang bersifat lomba seperti lomba fotografi, konten video, menulis, dan atau melukis terkait benteng tersebut atau lomba bermuatan religi seperti musabaqoh tilawatil Quran, dan lainnya.
Pilihan lain, jenis kegiatan yang bersifat pameran seperti pameran foto, buku, barang antik, kendaraan kuno, dan lainnya.
Bisa juga membuat acara terkait hari besar Nasional seperti Hari Pahlawan, hari kemerdekaan RI, dan lainnya. Bisa juga buat acara terkait hari besar agama Islam seperti gema ramadan, perayaan lebaran, dan lainnya.
Pilihan lain membuat ruang cinema untuk menonton film terkait peperangan yang terjadi di destinasi tersebut, berdiskusi tentang film dokumenter perang, dan lainnya.
Setiap kegiatan yang dibuat terlebih yang bersifat hiburan seperti konser musik, harus menentukan kuota pengunjung. Artinya jumlah pengunjung harus disesuaikan dengan kemampuan daya tampung benteng tersebut agar tidak menimbulkan kerusakan dan atau supaya penonton tetap nyaman menikmati konser musik tersebut.
Pemilihan waktu juga amat penting. Kalau ingin menggelar konser musik di benteng tersebut dengan venue outdoor sebaiknya digelar pada saat musim kemarau untuk meminimalisir diguyur hujan.
Catatan penting lainnya menyediakan tempat sampah yang cukup dan atau menurunkan tim kebersihan selama acara berlangsung supaya kondisi benteng tersebut tetap terjaga kebersihannya.
Satu lagi, setiap acara yang dibuat di benteng yang sudah direvitalisasi sebaiknya dimanfaatkan sekaligus untuk menginformasikan tentang sejarahnya, statusnya, dan fungsinya saat ini termasuk cara pembelian tiket masuk serta aturan yang berlaku bagi setiap pengunjung. Bahan informasinya bisa lewat penayangan video maupun selembaran.
"K" berikutnya atau yang ketiga, kerja sama maksudnya setiap kegiatan yang dibuat/diadakan/digelar di benteng yang sudah direvitalisasi, harus melibatkan kolaborasi antar berbagai pihak antara lain pengelola/pemerintah, jurnalis/pembuat konten yang selama ini sudah ikut meliput/mempublikasikan benteng, event organizer, komunitas kreatif, musisi, seniman, budayawan, UMKM warga lokal/sekitar, donatur, dan sebagainya.
" K" yang keempat, kemanfaatan artinya setiap kegiatan yang dibuat/diadakan/digelar di benteng pasca-revitalisasi, harus punya manfaat/kegunaan minimal buat keberlangsungan dan kemasyhuran benteng tersebut (ketenaran, popularitas, atau reputasi yang luas) dan sekaligus bisa menambah pendapatan warga sekitar dengan penjualan produk UMKM, menjadi ruang ekspresi bagi penyanyi/musisi/seniman lokal, dan lainnya.
Terakhir atau " K" yang kelima adalah kontinu maksudnya setiap kegiatan yang dibuat/diadakan/digelar di benteng tersebut selain harus serius/ profesional/bukan asal ada pun harus berkesinambungan/berkelanjutan/terus-menerus misalnya bisa seminggu sekali (untuk kegiatan berskala kecil), sebulan sekali (berskala kecil menengah), setiap 6 bulan atau setengah tahun sekali (berskala menengah besar), dan setahun sekali (untuk acara berskala besar).
Acara berskala besar indikatornya bisa dilihat dari pengisi acaranya. Kalau misalkan konser musik, penyanyi/band utamanya harus papan atas ditambah dengan penyanyi/band lokal namun sudah punya nama minimal ditingkat provinsi.
Semakin banyak kegiatan positif dan menarik yang dibuat di destinasi wisata bekas perang dalam hal ini benteng, semakin besar kemungkinan benteng itu menjadi lebih hidup sehingga bukan saja semakin tersohor pun semakin diminati wisatawan.
Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Captions:
1. Sepenggal pesona Benteng (Fort) Willem I atau Benteng Pendem Ambarawa di Ambarawa, Jawa Tengah kala malam hari.
2. Video pertunjukan air mancur menari "Tirta Abirawa" di Museum Benteng Vredeburg, Kota Jogja.
3. Menghidupkan Museum Benteng Vredeburg dengan suguhan Musikoloji.
4. Menonton film di ruang Willem Cinema, Benteng Pendem Ambarawa.
5. Video Mbeteng Jazz perdana di Benteng Pendem Ambarawa usai direvitalisasi.




0 komentar:
Posting Komentar