. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label cerita public figure. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita public figure. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Juni 2011

Pesona Sumbawa dan Bocah Sumbing di Serdadu Kumbang

Kekhasan alam Pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) terekspose apik di Serdadu Kumbang, film terbaru Alenia Pictures milik pasutri Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen. Bukan semata padang rumput, pohon cita-cita, rona senja, dan balap kuda dalam film ini. Pun bocah berbibir sumbing sebagai kekuatan film ini yang menyedot perhatian.

Kehadiran Film Serdadu Kumbang membuktikan eksistensi Alenia Pictures membuat film-film anak-anak dengan segala macam persoalan, sekaligus mengangkat budaya dan pesona alam lokal. Sebelumnya Alenia sukses menggarap film Tanah Air Beta yang mengekspose alam Nusa Tenggara Timur (NTT) dan permasalahan warganya akibat terpisah di negara Timor Leste.

Kesulitan pembuatan film Serdadu Kumbang bukan mencari lokasinya melainkan peran utamanya bocah berbibir sumbing. Menurut Nia, kebanyakan bocah yang sumbing sudah dioperasi, dan andaipun ada banyak yang minder.

Setelah proses pencarian cukup lama kesana-kemari, akhirnya ditemukan Yudi Miftahudin, pelajar SD kelas 5 di Balaraja, Tangerang yang berbibir sumbing dan mau mengikuti audisi. Meski sumbing, Yudi anak yang pintar, buktinya selalu rangking 1 dari kelas 1 sampai 5 SD

Kendati belum pernah main film bahkan belum pernah masuk bisokop, Yudi dinilai Alenia memenuhi kriteria pemeran utama yang diingikan. Dia dilatih akting selama 1 tahun dan ikut proses reading naskah 1 bulan dengan seluruh pemain lainnya. Baru kemudian syuting di Sumbawa selama sebulan saat Yudi libur sekolah.

“Tidak disangka, bocah ini ajaib. Mainnya rilek, aktor dan aktris senior dilawan semua,” jelas Nia usai peluncuran film Serdadu Kumbang di Epicentrum, Jakarta. Bahkan dalam satu adegan menangis, lanjut Nia, aktingnya berhasil membuatnya, Ale, dan semua kru menangis karena begitu natural dan keluar, meski dia sempat ngambek.

Serdadu Kumbang, film yang menceritakan kegigihan bocah Sumbawa bernama Amek (diperankan Yudi) menggapai cita-citanya menjadi presenter TV ditengah ketebatasan ekonomi dan fisiknya, lataran sumbing.

Dia tinggal bersama ibunya Siti (Titi Sjuman) di Desa Mantar, di puncak bukit, jauh dari kota bersama kakaknya Minun (Monica Sayang Bati). Ayahnya, Zakaria (Asrul Dahlan) bekerja sebagai TKI di Malaysia.

Kini Yudi yang lebih senang dipanggil Amek sudah tak sumbing lagi. Usai merampungkan syutingnya sebulan di Sumbawa, bibirnya dioperasi atas biaya Alenia.

Film yang saran dengan pesan pendidikan dan muatan lokal ini juga dibintangi Putu Wijaya. Film kelima Alenia Pictures ini sudah tayang di bioskop sejak 16 Juni 2011, bertepatan liburan sekolah. Buku Behine the Scene Serdadu Kumbang juga sudah dijual di toko-toko buku.

Pohon Cita-Cita
Jika di film Laskar Pelangi garapan Miles Production, pesona batu-batu granit berukuran besar di pantai-pantai Belitung kemudian tersohor dan menjadi bagian dari paket wisata Bumi Laskar Pelangi yang diminati wisatawan.

Akankah Pohon Cita-Cita yang tersaji artistik dan unik di Film Serdadu Kumbang mampu menarik orang untuk berwisata ke Sumbawa khususnya ke lokasi syuting tersebut? Waktu pula yang bicara.

Dalam film itu, Pohon Cita-Cita tumbuh di bibir tebing menghadap laut lepas. Dinamakan begitu karena setiap dahannya diikat dengan tali ke botol yang diisi secarik kertas bertuliskan cita-cita si penulisnya. Pohon ini bukan sekadar unik dan artistik, pun bermagnit pengharapan.

Nasakah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 05 Mei 2011

Jero Wacik Tak Pernah Bawa Agenda Pribadi


Selama menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), saya tidak pernah membawa agenda pribadi. Saya tidak pernah membawa agenda Jero Wacik. Saya selalu membawa agendanya rakyat dan agendanya presiden. Karena presiden dipilih oleh rakyat. Apa yang diagendakan ke saya adalah agenda rakyat. Begitu Jero Wacik membocorkan resep jitunya hingga berhasil menjadi Menbudpar untuk kali kedua. Apa lagi resepnya?

“Kalau diperintah presiden SBY, sebagai menterinya, saya pasti jalankan. Tidak pernah pakai begana-begini, begana-begini,” akunya sebelum mengukuhkan pengurus Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), di Jakarta, Kamis (5/5/2010).

“Kerena saya selalu mengerjakan perintah presiden, makanya sewaktu SBY membuat Kabinet Bersama Indonesia (KBI) jilid 2, beliau mencantumkan nama saya lagi,” akunya.

Jadi resepnya, kalau ditugaskan A oleh presiden jangan laksanakan B. Kalau disuruh B jangan kerjakan Z. “Kalau menterinya tetap begitu, menjabat lima tahun saja itu sudah untung, tidak dua tahun saja,” terangnya seraya menambahkan bahwa begitulah hidup harus saling memberi.

Agenda yang ditugaskan oleh presiden SBY ke para menterinya adalah semua yang diurus harus menciptakan pro growth, pro job, pro poor, and pro environment. Dibidang budpar begitu juga. harus memberi pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, ikut mengentaskan kemiskinan, dan menjaga atau respek pada kelestarian lingkungan.

Dengan agenda itu Jero Wacik menegaskan bahwa pariwisata harus mensejahterahkan rakyat. “Saya tidak semangat bekerja kalau pariwisata tidak mensejahterakan rakyat. Saya mau begadang, mati-matian karena tujuan pariwisata itu demi mensejahterakan rakyat,” tekadnya seraya menegaskan lagi bahwa pariwisata itu tidak akan ada nilainya kalau tidak mensejahterahkan rakyat.

Jero Wacik akui baru terjun bebas ke pariwisata setelah jadi Menbudpar. Tapi jauh sebelumnya, dia sudah terjun bebas di bidang pariwisata juga. “Saya ngerti pariwisata karena saya pernah punya hotel dan vila. Bukan cuma ngerti tapi sangat ngerti,” tegasnya.

Dia mencontohkan, kalau turis dibaikin, diurus dengan baik, diberikan hospitality yang sempurna, turis itu akan datang lagi. “Tapi kalau turis itu kecewa, biar promosinya besar-besaran, dia kapok, dia tidak mau datang lagi. Saya sangat tahu itu,” terangnya.

Dan itu pula yang lakukannya sebagai Menbudpar, yakni mengajak semua pihak terkait dan masyarakat untuk menjadi tuan rumah bagi wisatawan dengan baik, ramah, dan menyenangkan.

Menurutnya pariwisata akan mundur kalau imej Indonesia seram. Karena itu dia berkali-kali menghimbau jangan bikin berita-berita yang menyeramkan. “Jangan ada kerusuhan sedikit terus dicover dari sana-sini kayak banyak betul kerusuhannya. Baru di pojok Jakarta ada kerusuhan saja, gede sekali pemberitaannya sehingga orang berpikir Jakarta hancur dan rusuh. Padahal tidak ada apa-apa. Ada demo di depan Istana Presiden, bakar ban mobil, beritanya seperti semua hancur. Padahal kalau Anda datang ke mall tenang-tenang saja,” terangnya.

Jero Wacik juga kerap mengatakan jangan menjelek-jelekkan negeri sendiri. Sebaliknya jangan justru membanggakan negara orang lain. “Banggalah menjadi bangsa Indonesia dengan tetap menggunakan, melestarikan, dan bangga berbudaya sendiri. Dengan begitu kita tidak akan kehilangan jatidiri sebagai bangsa yang berkarakter dan beraneka budaya tinggi,” terangnya.

Selama bekerja sebagai Menbudpar, Jero Wacik mengaku selalu bekerja sama dengan kementerian terkait termasuk dengan organisasi kepariwisataan. “Menteri macam apa saya kalau ada organisasi kepariwisataan yang bertujuan memajukan pariwisata Indonesia bersama-sama pemerintah, berteman, bermitra, masak kalau diminta bantuan kepada saya, saya tidak kasih. Pasti saya kasih tapi tidak banyak-banyak,” katanya.

Menurutnya lagi, anggaran Kemenbudpar ada tapi masih sedikit. “Jadi kita bagi sedikit-sedikit, biar bisa maju bersama. Dan anggaran itu uang rakyat, jadi harus digunakan untuk kesejahteraan rakyat,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Triesna Wacik Makin Bangga Jadi Miss Toilet


Menyandang ratu kecantikan mungkin semua perempuan senang. Tapi belum tentu kalau berpredikat ratu kamar kecil atau miss toilet. Gelar itu justru bangga disandang Triesna Wacik, istri Menbudpar Jero Wacik. Predikat Miss Toilet baginya bukan cuma unik, langka tapi kuat pesan edukasinya.

Gelar miss toilet yang langsung ditunjuk oleh suaminya sendiri, bukan asal gelar. Sang ratu WC ini punya kerjaan dan tanggungjawab besar. Dia harus merubah polapikir pengelola tempat umum termasuk obyek wisata agar mengelola toilet umumnya dengan baik dan profesional sesuai standar internasional. “Toilet umum itu semestinya sebersih, seindah, dan senyaman ruang tamu, ” katanya.

Untuk mewujudkan itu dia bersama timnya menggadakan lomba toilet umum bersih tingkat nasional. Tahun 2007 dan 2009 dia mulai dengan lomba toilet umum bersih di Bandara. Dilanjutkan tahun 2010 lomba toilet umum bersih di museum berkaitan dengan tahun kunjungan museum.

Dan tahun 2011 ini, dia kembali membuat 2 kegiatan serupa khusus toilet umum bersih di bandara baik nasional maupun internasional dan lomba toilet umum bersih di Kebun Binatang se-Indonesia yang pemberian penghargaannya akan dilaksanakan di Jakarta, bertepatan dengan Hari Pariwisata, 27 September.

Sebenarnya dia ingin memperlombatkan semua toilet umum yang ada, seperti di terminal, pelabuhan, sekolah, dan lainnya. Tapi karena kegiatannya didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), untuk sementara lokasi kegiatan ditujukan pada tempat-tempat yang berkaitan dengan pariwisata seperti toilet di museum, bandara, dan obyek wisata kebun binatang.

Masalah toilet menurut dia bukan semata urusan Kemenbudpar tapi juga kementerian terkait lainnya termasuk pihak swasta. “Mudahan-mudahan kementerian lain misalnya Kemendiknas bisa membuat lomba toilet bersih di sekolah-sekolah atau kampus-kampus, Kementerian Agama membuat lomba toilet umum di masjid-masjid, dan lainnya,” imbaunya.

Sejak menyandang miss toilet, Triesna mengaku kebanjiran pesan singkat atau SMS dari sejumlah orang baik yang dia kenal maupun tidak. “Isinya kebanyakan keluhan seputar toilet umum. Biasanya SMS itu saya forward ke pengelola bandara, direktur Angkasa Pura, menteri dan isteri menteri terkait serta pihak lain agar mereka tahu dan tindak lanjuti,” terangnya.

Banyaknya pesan pendek yang masuk di HP-nya perihal kebersihan toilet umum, menurutnya itu bagus sebagai informasi dan masukan untuk memantau toilet-toilet yang dikeluhkan masyarakat. Itu juga menandakan predikatnya sebagai ratu kamar kecil mulai dikenal banyak orang. “Tapi saya perlu tahu nomor HP para pengelola toilet umum di bandara dan lainnya biar nanti kalau ada yang komplain saya bisa langsung forward,” terangnya.

Setiapkali menemani suaminya bertugas ke berbagai tempat, dia selalu menyempatkan waktu memeriksa toilet umum di bandara dan tempat lainnya. “Bahkan toilet umum khusus pria saya juga periksa, makanya saya dikenal banyak petugas toilet,” akunya.

Sampai kapan Triesna menyandang Miss Toilet? Entahlah dia pun mengaku belum tahu. Mungkin hingga jabatan suaminya selaku Menbudpar selesai. Tapi kalau masyarakat tetap menginginkannya jadi Miss Toilet terus, dia bilang tak keberatan bahkan sangat bangga menyandang predikat itu meski tanpa selendang dan tiara sebagaimana ratu kecantikan. “Kalau pakai selendang dan tiara justru terkesan ada jarak. Tapi kalau buat lucu-lucuan boleh juga,” selorohnya.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Irhamna Ilham, Pusformas, Kemenbudpar

Read more...

Kamis, 11 November 2010

Ketika VJ Marissa Dimanjakan Ice Cream Bercokelat Belgia


Apa jadinya kalau ice cream dilapisi cokelat Belgia? Hmmm.. pasti nikmatnyta berganda. Rasa itu ditawarkan dalam setiap gigitan Wall’s Magnum ice cream terbaru yang membuat presenter cantik ini dimanjakan bak seorang putri raja.

Sebagai presenter dan model yang waktunya sempit untuk memanjakan diri dengan bersantai, Marissa Nasution mendukung ide varian baru es krim Wall’s Magnum yang hari ini (11/11/2010) diluncurkan di Jakarta. Tiga varian baru ice cream itu Magnum Classic, Almond, dan Truffle.

Sesibuk apapun di dunia hiduran, artis berdaraah Batak dan Jerman yang namanya mulai dikenal luas setelah menjadi VJ MTV ini mengaku masih ingin merasa spesial, diperhatikan, diperlakukan, dan dimanja layaknya seorang putri. “Untungnya saya senang dan bangga terpilih sebagai Brand Ambassador Wall’s Magnum, karena saya mendapatkan apa yang saya inginkan,” jelasnya seraya menunjukkan es krim premium dengan lapisan cokelat Belgia yang tebal dan renyah.

Hadir dalam peluncuran ice cream terbaru yang iklannya sudah wara-wiri di layar kaca ini Meila Putri Handayani, Senior Brand Manager Wall’s Magnum dan Eva Arisuci Rudjito, Marketing Manager Ice Cream Wall’s Unilever.

Kebutuhan memanjakan diri seperti liburan keluar kota, santai di spa, dan lainnya merupakan kebutuhan pelengkap dan menjadi bagian dari hak pribadi setiap orang. Melihat kebutuhan tersebut, Wall’s Magnum hadir dengan varian baru untuk membantu para konsumen melepaskan diri dari kehidupan modern yang sangat sibuk untuk bisa merasakan kenikmatan luar biasa seperti dimanjakan layaknya seorang putri.

Menurut Meila, masing-masing varian Wall’s Magnum mempunyai simbol rasa tersendiri. Wall’s Magnum Classic misalnya melambangkan rasa orisinil Wall’s Magnum yang mampu memberikan rasa dengan kualitas terbaik dari gigitan pertama lapisan cokelat Belgia sampai pada es krim vanilla yang begitu halus. Wall’s Magnum Almond, identik dengan seksi dan berjiwa petualang dengan es krim vanilla halus berlapiskan cokelat susu Belgia yang tebal dan renyah ditambah gurihnya kacang almond. Dan Wall’s Magnum Chocolate Truffle krim cokelat yang dicampuri cokelat truffle berlapiskan cokelat Belgia nan tebal dan renyah.

Dalam peluncurannya, Magnum akan mengadakan dua program khusus, Magnum Royal Fame pada 12 – 14 November 2010 di Senayan City, Jakarta. Program satunya lagi Magnum Royal Chocolate Party di Portico, Senayan City, Jakarta pada 12 November 2010.

Dalam acara ini Marissa Nasution akan datang dengan tiga host terpilih yang mewakili kepribadian masing-masing varian, Mesty Ariotedjo mewakili Wall’s Magnum Classic nan-klasik, Indah Kalalo untuk Wall’s Magnum Almond nan-sexy, dan Rianti Cartwright buat Wall’s Magnum Chocolate Truffle nan-glamor.

Di acara ini, pengunjung pun dapat menyaksikan video mapping yang menampilkan seputar es krim Wall’s Magnum dengan teknologi dan digital tinggi yang diprojeksikan ke salah satu sisi gedung Senayan City, berukuran 40 x 25 meter.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. ist

Read more...

Selasa, 04 Mei 2010

Antara Maudy, Travelling, Betawi, dan ‘Hutang’


Bicara soal travelling, artis cantik Maudy Koesnaedi punya pengalaman segudang. Maklumlah sejak masih gadis sampai kini, dia masih melakoni hobinya berpergian ke obyek-obyek wisata di Tanah Air. Mengapa pula ibu satu anak ini kembali bersibuk diri memproduseri sandiwara musikal Betawi? Padahal dia asli orang Sunda. Usut punya usut dia mengaku mau melunasi ‘hutang’.

Maudy punya hutang? Mungkin ini pertanyaan yang paling mengusik Anda ketika membaca judul di atas. Pasti Anda heran artis setenar Maudy yang kerap membawakan acara besar baik itu on air di TV maupun off air, bisa begitu. Padahal perempuan ceria ini pun laris manis membintangi sejumlah iklan bermacam produk ternama. Bahkan sampai saat ini dia masih terikat kontrak sebagai bintang iklan salah satu merek ponsel yang rajin menayangkan wajah cantiknya di layar kaca dan sejumlah billboard besar di jalan-jalan utama Jakarta.

Pundi-pundi uang yang dikumpulkannya dari semua itu, tentu sudah lebih dari cukup untuk membiayai kehidupannya, keluarga, dan masa depan anaknya kelak. Apalagi dia juga dikenal sebagai artis elegan yang tetap bersahaja dan tentu saja berimej baik. Lalu kenapa bisa punya hutang? Mungkin ini jadi pertanyaan Anda selanjutnya.

Hutang yang ‘menghantui’ artis yang belum lama ini menjadi juri salah satu acara di Kendari, bukanlah hutang piutang berupa uang atau harta benda. Melainkan hutang atas janjinya sewaktu mengikuti pemilihan Abang None (Abnon) Jakarta beberapa tahun silam.

Ketika itu dia ditanya oleh salah satu juri. Apa yang bisa dilakukannya apabila terpilih menjadi None Jakarta? Dia menjawab, akan mengajak anak-anak jebolan Abnon Jakarta membuat suatu pertunjukan seni yang mengangkat budaya Betawi.

Setelah terpilih menjadi None Jakarta dari perwakilan Jakarta Utara, namanya pun mulai dilirik orang. Sampai akhirnya dia menjadi salah satu artis besar yang telah memainkan sejumlah sinetron, model videoklip, FTV, presenter, bintang iklan, dan juga film layar lebar, baru setahun lalu dia bisa melunasi ‘hutang’nya itu. Dia mengajak Abnon khususnya perwakilan dari Jakarta Utara mementaskan pertunjukkan seni drama musikal Nyai Dasima yang sukses dalam 2 kali pertunjukan.

Tahun ini, istri Erik Meijer ini melunasi satu ‘hutang’nya lagi dengan mementaskan sandiwara musikal Betawi bertajuk DOEL “Antara Roti Buaya dan Burung Merpati, Kembang Parung Nunggu Dipetik”. Dia terlibat kembali sebagai produser sekaligus pemain. Kok, bisa hutangnya dibayar dengan sandiwara musikal dengan judul tersebut? Mungkin ini jadi pertanyaan Anda lagi.

Menyusuri jejak karier Maudy, tak bisa dipungkiri banyak orang yang terkesan dengan aktingnya sebagai perempuan Betawi bernama Zaenab dalam sinetron fenomenal Si Doel Anak Sekolahan (Si DAS) beberapa tahun lalu. Berkat sinetron berlatar budaya Betawi itulah, namanya melesat sebagai artis tersohor di jagat hiburan Tanah Air. Dia merasa ‘berhutang’ dengan sineteron tersebut, karena itulah untuk membayarnya dia mementaskan drama musikal yang diberi judul DOEL....Dengan judul tersebut, seolah Maudy ingin membuktikan bahwa dia bukanlah kacang yang lupa kulitnya.

Sandiwara musikal Betawi yang akan dipentaskannya itu akan berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta pada tanggal 14 dan 15 Mei 2010. Menurut pengakuannya, pementasan kali ini lebih rumit dan bikin pusing dibanding pementasan pertama tahun lalu, baik dari jumlah orang yang terlibat maupun perlengkapan pementasannya. Pasalnya melibatkan 200 orang, termasuk para pemainnya yang sebagian besar dari pemenang dan finalis Abnon perwakilan dari seluruh wilayah Jakarta. Kendati begitu dia mengaku senang menjalaninya meskipun harus merogoh kocek pribadi dan mencari sponsor sana-sini, di tengah kesibukannya sebagai artis dan ibu rumah tangga.

Lalu mengapa lagi-lagi dia mengakat budaya Betawi? Apakah pula untuk membayar ‘hutang’ lantaran dia jadi terkenal usai terpilih jadi None Jakarta 1993, dan namanya makin melambung setelah berperan sebagai perempuan Betawi dalam Si DAS? Mungkin ini juga jadi pertanyaan Anda.

Maudy tak menampik itu. Wajar rasanya budaya Betawi melekat didirinya meskipun kedua orangtuanya asli Sunda. Dia lahir dan besar di Jakarta, terlebih belajar banyak mengenai budaya tersebut saat mengikuti pemilihan Abnon dan syuting Si DAS.

“Aku menyukai segala macam pertunjukan seni. Kebetulan aku memahami budaya Betawi makanya aku buat sandiwara musikal berlatar budaya tersebut sekalipun dalam kemasan modern. Kalau pun kelak aku buat pementasan budaya China atau Arab dan lainnya, tetap saja ada unsur Betawinya,” jelasnya kepada Travelplusindonesia dengan wajah sumringah saat memantau latihan persiapan pementasannya di Gedung Nyi Ageng Serang, Kuningan, Jakarta Selatan tadi malam, Selasa (4/5).

Malam merayap pasti. Dengan langkah pasti pula Maudy memberi arahan kepada beberapa pemain sandiwara musikal Betawi yang bakal dipentaskannya beberapa hari lagi. Akan dibawa kemana drama musikal yang diproduserinya ini? Apakah berlanjut di tahun-tahun berikut atau hanya sekadar pelunasan hutangnya?

Dia mengaku belum tahu dan enggan berhutang janji lagi. Yang pasti, jerih payahnya bersibuk diri membuat dua kali pementasan sandiwara musikal berakar budaya Betawi, makin melebarkan sayap keartisannya dan membuat citra positifnya kian berkilau.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 16 Juni 2009

Luna Maya: Kerap Merindu Bali & Bandung


Kalau ditanya daerah wisata mana yang selalu dirindu Luna Maya? Jawabnya Bali dan Bandung. Benarkah karena Bali tempat kelahirannya dan di Bandung ada sang kekasih, Ariel Peterpan?

Sejak hijrah ke Jakarta, meniti karier dari nol sebagai model hingga kini menjadi artis papan atas, Luna Maya masih kerap merindukan Bali. Maklum pemilik mata indah nan sendu ini lahir di Denpasar, 26 Agustus 1983 silam. Di tubuhnya pun mengalir darah orang Bali. Wajar kalau saja kalau semua yang ada di Bali tak bisa dilupakannya begitu saja, meskipun dia kerap terbang ke berbagai tempat. “Sampai kapan pun aku selalu merindukan Bali,” terang Luna.

Bali bukan hanya menjadi tanah kelahirannya. Ketika berada di pulau berjuluk Island of gods itu, dia cumbui pantai putihnya yang berlangit biru. Di negeri para dewa itu, dia menari bak bidadari di teras-teras sawah. “Itu waktu syuting film Cinta Silver,” kenangnya.

Kini, Luna tengah mengecap madu. Sejumlah film, sinetron, dan iklan dibintangi. Beberapa ikon pun disandangnya. Namun kata puas belum terungkap. “Aku ingin memproduseri film layar lebar,“ katanya.

Selain Bali, Luna pun memilih Bandung sebagai daerah tujuan wisatanya. Di Kota Kembang itu bukan lantaran ada kekasihnya yakni Ariel Peterpan melainkan karena dia menyukai wisata kuliner di kota tersebut. “Kebetulan beberapa usahaku ada di Kota Bandung, jadi kalu ke sana sekalian liburan,” teranng pemandu acara musik Dasyat ini.

Lelah didera rutinitas, itu jelas. Namun Luna punya kiat untuk menepisnya. Menjalani tugas sambil berwisata itu pedomannya. “Kalau syuting di tempat-tempat indah, aku sekalian berwisata. Namun kalau lama tak melihat Bali dan Bandung, aku kembali merindukannya,” jelas pemeran film Janda Kembang ini.


Naskh & Foto: Adji K. (adji_travelplus@yahoo.com)


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP