. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label wisata bahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata bahari. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2011

Gaya KKP Mencetak Tenaga Konservasi Andal



Sebagai negara perairan, wajar Indonesia memiliki 13,5 juta hektar kawasan perairan laut pada tahun 2009. Kendati luas lahan tersebut pada tahun 2010 sudah melampaui target pemerintah sebanyak 10 hektar, sayangnya tenaga-tenaga terampil untuk mengelolanya amat minim. Apa solusinya?

Untuk mencetak tenaga teknis kawasan konservasi perairan yang andal dalam artian produtif, terampil, kreatif, dan profesional, Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BPSDMKP), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggelar Pelatihan Pengelolaan Konservasi Perairan Tingkat Dasar 2011 di Medan, Sumatera Utara.

Menurut Kepala BPSDMKP, Sjarief Widjaja dengan pelatihan ini diharapkan dapat membangun kesadaran bahwa bangsa ini dikarunia sangat besar oleh Tuhan berupa kekayaan alam yang luar biasa yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain di dunia. Kekayaan laut tersebut belum banyak disentuh oleh masyarakat Indonesia. “Kita selama ini sudah banyak mengeksploitasi sumber daya alam dari daratan, baik yang bersifat mineral maupun di atas bumi dan berbagai hasil hutan dan sebagainya. Tetapi untuk sumber daya alam perairan, kita belum banyak menggali,” jelasnya.

Pelatihan ini sebagai satu langkah penting untuk menggeser paradigma ekonomi yang tidak lagi berbasis daratan menjadi berbasis kelautan. Terlebih Pemerintah Indonesia telah menargetkan kawasan konservasi perairan seluas 20 hektar pada tahun 2020. Kawasan yang sudahdiregulasi itu bukan suatu areal yang kecil. Jelas membutuhkan penanganan sungguh-sungguh yang dilakukan bukan hanya oleh pemerintah melainkan secara bersama dengan pihak swasta dan masyarakat.

”Kita tidak mungkin melarang masyarakat masuk ke kawasan tersebut dan melarang mereka mencari nafkah di sana. Kita justru harus mendidik mereka bagaimana memanfaatkan alam dengan benar sesuai nilai-nilai konservasi agar sumber daya alamnya tidak rusak,” tegasnya.

Jadi pengelolaan kawasan konservasi perairan ini, tambah Sjarief harus diimbangi dengan bagaimana mencari nafkah kehidupan alternatif bagi masyarakat yang hidup di area konservasi. “Dan itu adalah tugas kita. Kita tidak mungkin minta area konservasi dipertahankan tapi masyarakat kita miskin. Yang harus kita tawarkan adalah paradigma bagaimana masyarakat dapat hidup berdampingan dengan alam secara harmonis,” imbuhnya.

Lebih lanjut Sjarief menengaskan bahwa pelatihan ini bukan sekadar mendapatkan atau menambah sertifikat yang sudah ada di rumah atau di lemari peserta masing-masing. Tetapi akan menjadi pelatihan yang juga dapat mengajak masyarakat di sekitar dan di dalam kawasan konservasi menjadi sadar akan arti penting konservasi dan memanfaatkannya dengan bijak.

Pelatihan ini, kata Sjarief hanya mengangkat bagian kecil dari bermacam persoalan sebenarnya di lapangan. Oleh karena itu, dia menyarankan disamping materi yang diberikan juga harus memberikan pengetahuan bagaimana berkomunikasi dengan efektif dan baik dengan masyarakat setempat. “Ini memang butuh ilmu tersendiri, paling tidak dengan pelatihan ini dapat pula menyampaikan sesuatu kepada masyarakat dengan bahasa-bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat. Bukan bahasa langit yang justru membingungkan,” jelasnya.

Pasukan Konservasi
Sebanyak 30 peserta mengikuti pelatihan ini dari sejumlah dinas Kelautan dan Perikanan antara lain dari Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Jaya-NAD, Nias dan Tapanuli Selatan-Sumut, Bengkalis-Riau, Bintan, Kepulauan Anambas dan Natuna-Kepri, Kaur-Bengkulu, Lampung Barat-Lampung, Bengkayang-Kalbar, Nunukan-Kaltim & Berau-Kaltim, Alor-NTT, Pangkep dan Kabupaten Kepulauan Selayar-Sulsel serta Dinas Kelautan, Perikanan, Pertanian dan Kehutanan Kota Batam-Kepri, BKKPN Kupang, LKKPN Pekanbaru, Dit. Konservasi Kawasan dan Jenis, KP3K-KKP, dan BPPP Belawan Medan sekaligus sebagai tuan rumah.

Para peserta mendapat tiga materi pelatihan berupa pengantar kawasan konservasi perairan, ekosistem laut, dan materi kawasan konservasi perairan dan perikanan berkelanjutan. Materi pelatihan disampaikan oleh para tim pelatih/fasilatitator/narasumber dari NOAA, CTSP, dan para trainer alumni pelatihan TOT Marine Protection Area di Tegal dan Bitung antara lain Jason Philibotte, M. Fedi A. Sondita, dan Mathius Tiku.

Selain ceramah dan diskusi, metode pengajaran dalam pelatihannya berupa simulasi, pendalaman materi praktek lapangan, dan terakhir ujian materi. Seluruh peserta pelatihan mendapatkan Surat Tanda Tamat Pendidikan dan Pelatihan (STTPP) yang diterbitkan oleh Pusat Pelatihan Kelautan dan Perikanan, KKP.

Pelatihan Pengelolaan Kawasan Konservasi Perairan yang berlangsung di Medan-Sumatera Utara ini merupakan kali keempat. Sebelumnya pelatihan serupa sudah digelar BPSDMKP di Bitung-Sulawesi Utara, Tegal-Jawa Tengah, dan Banyuwangi-Jawa Timur. Masing-masing pelatihan diikuti sekitar 30 peserta. Jadi sudah ada 120 peserta yang diharapkan kelak menjadi tenaga teknis pengelola kawasan konservasi perairan di Indonesia yang andal, baik untuk level manager, operasional lapangan maupun pendidik masyarakat.

Jumlah itu jelas masih kurang, mengingat kini sudah ada 10 taman nasional serta 44 kawasan konservasi laut di kabupaten dan kota di seluruh Indonesia. Tapi paling tidak dengan adanya pelatihan yang akan diadakan terus secara kontinyu di berbagai tempat secara bergantian ini akan menambah jumlah pasukan tenaga pengelola khusus kawasan konservasi tersebut.

Di samping itu, pelatihan yang berlangsung 6 hari, sejak 28 Februari-5 Maret 2011 berkat kerjasama dengan Direktorat Jenderal KP3K serta National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA-USAID) ini sekaligus membuktikan bahwa keinginan Kementerian Kelautan dan Perikanan, khususnya BPSDMKP untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia-nya bukanlah isapan jempol.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 12 Desember 2010

Nilai Lebih Bersnorkeling di Pink Beach



Pantai berpasir puith dan lembut di dunia ini banyak. Tapi yang pasirnya halus berwarna merah muda hanya segelincir. Salah satunya di Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo (TNK), Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Orang lokal menamainya Pantai Merah. Turis asing menyebutnya Pink Beach. Apa kelebihannya?

Nama Pink Beach cukup tersohor di kalangan wisatawan mancanegara yang senang berwisata bahari. Pasalnya pantainya selain berpasir halus, pun berwarna merah muda. Konon pasirnya itu berasal dari pipe corral atau terumbukarang berbentuk pipa yang mati secara alami kemudian hancur menjadi butiran halus pasir berwarna merah muda. Uniknya, tak jauh dari pantai ini, ada pantai lain yang pasirnya berwarna putih.

Di bentangan pasir Pink Beach, turis asing biasanya berjemur sepuasnya. Hamparan lautnya yang tenang dengan aneka terumbu karang serta ikan hias, menggoda siapapun untuk berenang, bersnorkeling, dan menyelam (diving).

Panoramanya pun indah. Pantai ini berlatar belakang perbukitan coklat yang tak sulit didaki. Bentuk bukitnya ada yang menyerupai stupa candi. Ada juga bentangan tebing karang yang menantang untuk dipanjat.

Pink Beach berada di Pulau Komodo. Lokasinya dapat dicapai lewat darat maupun laut. Kalau dengan perahu motor sekitar 30 menit dari Loh Liang atau pintu masuk merangkap loket ke Pulau Komodo. Bila menyusuri pantai dari Loh Liang memakan waktu lebih kurang 4,5 jam melewati hutan bakau dan gugusan tebing karang.

Kalau Anda ke TNK tanpa ke Pink Beach untuk ber-snorkeling atau sekadar berjemur di bentangan pasir merah mudanya, rasanya kunjungan Anda belum lengkap. Selain Pantai Merah, obyek wisata yang sama dengan terumbu karang dan pantai landai, terdapat di Pulau Lasa dan Pulau Padar.

Keberadaan Pink Beach ini menjadikan kawasan konservasi ini semakin lengkap keindahan panoramanya. Tentunya selain kekhasan penghuninya yakni biawak purba raksasa bernama Komodo yang oleh warga setempat memanggilnya Ora, sedangkan wisman bule menyebutnya dragon. Karenanya amat patut bila TNK masuk 7 keajaiban warisan alam dunia. Untuk mewujudkan itu, sebaiknya Anda bukan hanya sekadar memuji dan mengunjunginya, pun harus me-votingnya di http://www.new7wonders.com/community/en/new7wonders/new7wonders_of_nature/voting.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

NB.: ingin menikmati lirik lagu tentang Pink Beach, unduh saja
http://pujanggapengembara.blogspot.com

Read more...

Minggu, 07 November 2010

Tanam Terumbu Karang di Festival Pulau Seribu 2010



Festival Pulau Seribu 2010 yang akan berlangsung 14 November nanti diisi sejumlah acara bertema kebaharian dan lingkungan. Salah satunya penanaman terumbu karang di beberapa titik. Festival yang digelar Pemkab Kepulauan Seribu bekerjasama dengan Suku Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kepulauan Seribu ini mengundang 30 kedutaan dan wisatawan.

Dalam jumpa pers di Marine Batavia, Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Sabtu malam (6/11/2010), Bupati Kepulauan Seribu Achmad Lutfi yang baru menjabat beberapa bulan menjelaskan tujuan festival ini untuk mempromosikan destinasi pariwisata kepulauan seribu. ”Belum semua warga Jakarta yang tahu obyek-obyek wisata di Kepulauan Seribu. Lewat festival ini mudah-mudahan dapat menarik lebih banyak lagi warga Jakarta yang berwisata ke Kepulauan Seribu,” jelasnya.

Acara bertema lingkungan lainnya yang juga akan diadakan dalam meramaikan festival ini adalah penanaman pohon. Aksi lingkungan ini akan dilakukan oleh para duta negara yang diundang.

Beberapa lomba juga akan digelar antara lain lomba renang antar pulau bagi umum, lomba masak bagi kedutaan, lomba panjat pinang juga untuk umum, dan lomba perahu hias bagi masyarakat setempat.

Dalam festival ini juga akan dipamerkan beragam produk unggulan dan makanan tradisional masyarakat pesisir dalam sebuah bazaar. Acara berlangsung mulai pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai.

”Khusus lomba renang, peserta harus menyeberangi Pulau Panggang ke Pulau Karya yang berjarak sekitar 200 meter dengan berenang. Jaraknya pendek tapi arus lautnya kencang, biasanya yang ikut penduduk sekitar yang jago renang, tapi ini terbuka untuk umum khususnya wisatawan yang memang pandai berenang di laut,” jelas Wakil Bupati Kepulauan Seribu Natsir Sabara.

Kasudin Parbud Kepulauan Seribu Sahat Sitorus menambahkan lomba-lomba yang diadakan dalam festival ini adalah lomba yang diminati masyarakat pulau terutama lomba renang dan panjat pinang. ”Masing-masing lomba pastinya ada hadiahnya untuk menarik peserta,” jelasnya

Festival Pulau Seribu 2010, lanjut Sahat semula digelar oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta bernama Marine Festival. Namun mulai tahun ini bernama Festival Pulau Seribu yang akan menjadi event tahunan tetap Kabupaten Kepulauan Seribu. ”Untuk tahun ini memang belum ada incentif buat masyarakat yang akan datang ke festival ini karena keterbatasan dana. Harapan kami festival pada tahun-tahun berikutnya, kualitasnya lebih baik,” terangnya.

Sekjen Gabungan Pengusaha Wisata Bahari (Gahawisri) Didien Junaedi menilai festival ini melibatkan masyarakat lokal dan berkonsep lingkungan sesuai dengan pengembangan pariwisata bahari yang harus berbasis masyarakat dan lingkungan. ”Budaya yang ditampilkan tentu budaya pesisir mengingat di Kepulauan Seribu yang menetap bukan hanya orang Betawi tapi juga ada orang Jawa, Bugis, Buton, dan lainnya,” jelasnya.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: dok ist.

Read more...

Minggu, 22 Agustus 2010

Menyusuri Kerajaan Biawak



Melihat seekor biawak berjemur di atas batu di pinggir sungai itu biasa. Tapi kalau puluhan biawak berebut ikan di pantai, itu baru luar biasa. Itu mungkin cuma bisa Anda lihat di Pulau Biawak, Indramayu, Jawa Barat. Pasalnya, pulau tersebut jadi kerajaan ribuan biawak yang hidup bebas sejak ratusan tahun silam.

Pulau Biawak termasuk satu satu pulau yang ada di Kepulauan Rakit di perairan Indramayu, Jawa Barat. Dinamakan Pulau Biawak karena sekitar 1.000 ekor lebih biawak komodo (Varanus salvator) bermukim di sana sejak lama.

Pulau tak berpenduduk ini luasnya sekitar 120 Ha, terdiri atas 80 Ha ekosistem hutan bakau (mangrove) dan sisanya 40 Ha hutan. Floranya didominasi berbagai jenis bakau yang sudah langka dan mulai jarang dijumpai di pesisir Pantai Utara (Pantura).

Pulau ini pun memiliki padang lamun yang cukup luas, mencapai 1/3 pulau. Kebaradaan padang lamun ini sekaligus diduga menjadi tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan duyung (Dugong dugong).

Selain biawak sebagai satwa utama, di pulau ini Anda juga mudah menemui kelelawar dan beragam jenis burung air, di antaranya Trinil pantai (Bubulkus ibis) dan Burung udang biru (Alcedo caerulescens).

Kondisi hutannya, terutama mangrove yang relatif masih utuh dan terjaga, membuat jutaan burung yang migrasi setiap pergantian musim dari Benua Australia ke Asia atau sebaliknya, betah transit di pulau ini.

Pulau lain yang masih dalam gugusan Kepulauan Rakit, seperti Pulau Gosong dan Rakit Utara juga dijadikan sebagai terminal pemberhentian bagi jutaan burung itu setelah terbang sejauh ribuan kilometer. Burung-burung itu singgah sekitar 3 bulan.

Di Pulau Biawak, aneka burung itu bukan cuma bersarang di vegetasi hutan sisi timur yang kondisi tegakan hutannya relatif tinggi, tapi juga melakukan reproduksi, kawin, dan menetaskan telurnya.

Perairan pulau Biawak juga kaya aneka jenis ikan pangan dan hias. Bahkan berdasarkan penelitian, jenis ikannya lebih banyak daripada di Kepulauan Seribu, Jakarta. Beberapa di antaranya predator air yang terkenal seperti hiu martil dan ikan pari. Di beberapa bagian pantainya menjadi sarang bagi kepiting besar. Bentuk sarangnya unik dan besar, sepintas mirip dataran di planet lain.

Sayangnya, seperti di pulau-pulau lainnya, beberapa bagian pulau ini pun mengalami ancaman abrasi. Terutama di bagian pulau yang langsung berhadapan dengan laut lepas, hembusan angin, dan gempuran ombak.

Meskipun sejak tahun 1995 pulau ini sudah dijadikan sebagai daerah konservasi laut Kabupaten Indramayu, namun menurut pengamat lingkungan, jika abrasi tidak segera dicegah, dalam kurun waktu puluhan tahun ke depan, daratannya lambat laun kian tergerus bahkan mungkin bisa tenggelam.

Snorkeling & Birdwaching
Belum banyak orang yang tahu keberadaaan dan isi Pulau Biawak. Selama ini, pengunjung yang datang kebanyakan para nelayan di sekitar Pantura, pemancing, pegiat alam dan lingkungan dari Indramayu dan sekitarnya termasuk dari Jakarta. Para pemancing biasanya datang untuk menangkap aneka jenis ikan, sementara pegiat alam dan lingkungan melakukan observasi ataupun penelitian tentang keberadaan biawak, burung, dan lainnya.

Banyak aktivitas lain yang dapat anda lakukan di pulau ini. Misalnya berenang, snorkeling untuk menikmati taman laut yang dihuni beraneka ikan hias, memancing, berjemur atau sekadar santai di pasir putihnya.

Kalau Anda gemar fotografi, banyak objek menarik untuk diabadikan, mulai dari tingkah laku biawak, panorama alam, dan mercusuarnya. Di pulau ini memang terdapat mercusuar kuno peninggalan Belanda, bernama Willem III buatan abad XVII. Mercusuar setinggi 50 meter ini dibuat oleh Belanda pada tahun 1872. Dari puncak mercusuar, kita bisa melihat dan memotret seluruh bagian pulau.

Suka burung? Anda bisa mengamati burung (bird watching) dengan monokuler. Tak begitu sulit melihat rombongan burung dengan mata telanjang. Burung-burung itu biasanya melakukan migrasi harian ke pesisir pantai sekitar Indramayu untuk mencari makan pada siang hari dan kembali pada sore hari.

Anda pun dapat menikmati fenomena matahari tenggelam di balik lautan dari puncak mercusur. Malam harinya, dilanjutkan dengan api unggun sambil bakar ikan laut hasil tangkapan sendiri atau esok siangnya menikmati air kelapa muda yang di ambil dari pohon nyiur yang tumbuh di sekitar mess.

Seperti Komodo
Pulau Biawak memang kerajaannya biawak. Kadal besar ini tersebar di seluruh daratannya. Kalau Anda menyusuri pantainya, pasti bakal melihat beberapa biawak yang sedang mengintip dari balik rerimbunan bakau, berjemur di pantai atau di bawah kerindangan semak belukar. Bahkan ada yang sedang asyik berenang di aliran sungai dan padang lamun. Kalau Anda memasuki hutan, juga akan menemukan sarangnya. Ciri sarangnya mudah dikenali, berbentuk lubang di pasir atau tanah, kondisi sarangnya bersih dan ada tapak cakarnya yang membekas di pasir.

Bila malas menjelajahi pulau ini, ada trik khusus agar Anda bisa melihat dan memotretnya, yakni dengan memberi umpan ikan mentah atau sisa ikan bakar yang Anda santap. Semakin banyak umpan berupa ikan, bau amisnya akan semakin menarik perhatian biawak untuk keluar dari sarangnya lalu mendekat. Bisanya kalau sudah mengendus bau amis ikan, satu persatu mereka datang untuk menyantapnya. Ikan yang disantapnya ditelan utuh. Meskipun terlihat jinak, Anda harus waspada. Karena penjaga mercusuar setempat ternyata pernah digigit biawak. Menurutnya, gigitannya seperti terkena sayatan silet.

Perilaku biawak di pulau ini memang agak berbeda dibanding biawak yang ada di daerah lain. Mungkin karena terisolir dengan komunitas biawak dari habitat lainnya selama ribuan tahun dan beradaptasi dengan kondisi alam pulau ini. Bentuknya mirip sekali dengan komodo. Ukurannya paling kecil 80 cm dan terbesar mencapai 2 meter lebih, lebar badannya seukuran paha orang dewasa yang gemuk. Kulit di bagian bawah perutnya berwarna agak kekuning-kuningan oleh sebab itu disebut juga biawak kuning. Kuku-kukunya panjang dan ototnya kuat, mampu berdiri saat sesama jantan berkelahi.

Penciumannya sangat kuat tapi penglihatannya lemah. Oleh karena itu mereka kerap mencari makan pada siang hari dan kembali ke sarangnya saat senja. Mereka menyukai kawasan rawa-rawa, pinggir pantai, dan aliran sungai. Biawak air ini mampu menyelam dan berburu ikan di air. Meskipun termasuk hewan predator tapi tidak terlalu buas. Ia pemakan segala (omnivora), santapannya berupa serangga, telur burung, mamalia kecil, dan ikan.

Di pulau ini, biawak cepat sekali berkembangbiak. Ada masa dimana mereka kawin dan bertelur. Biasanya jantan dan betina dewasa mulai bercumbu pada bulan Maret dan April. Lalu kawin pada bulan Mei dan Juni. Pada bulan Juli-September betinanya bertelur di sarang kemudian mengeram selama 60 hari. Setiap betina menelurkan 20-40 butir. Namun tidak semuanya menetas, paling sekitar 20- 30 ekor yang berhasil menjadi bayi biawak karena disantap predator lain.

Keberadaan biawak di pulau ini agak terlindungi dengan adanya mitos yang melarang membunuh biawak di sana. Jika dilanggarm pembunuhnya akan ketiban celaka. Walaupun tidak diburu tapi tetap saja keberadaan biawak ini terancam, mengingat pengawasan di pulau ini belum maksimal.

Sementara permintaan akan biawak tak pernah sepi mengingat biawak punya nilai komoditas cukup tinggi. Dagingnya banyak disantap orang karena konon dipercaya sebagai obat kulit dan gatal-gatal. Kulitnya diambil untuk bahan baku tas, dompet, ikat pinggang atau ada yang diawetkan utuh untuk pajangan ruang tamu.

Buktinya, ada warung sederhana masih di kawasan Pantura yang dengan gamblang menuliskan menunya, ‘menyediakan sate binyawak’. Bisa jadi daging biawak yang dijual diwarung itu di antaranya dipasok dari negeri biawak. Mengenaskan.

Tips
Pulau Biawak merupakan salah satu wilayah Kabupaten Indramayu yang terletak dilepas pantai Laut Jawa, kurang lebih 40 km atau sekitar 26 mil di sebelah utara Indramayu. Cukup mudah menjangkaunya. Dari Jakarta dengan bus umum sekitar 4 jam ke Indramayu dan lebih kurang 5 jam lagi menyeberangi Laut Jawa dengan kapal kayu bermotor.

Pulau ini masih sebagai obyek wisata terbatas yang menjual keaslian alam. Oleh karena itu, belum banyak prasarana penunjang buat pengunjung umum. Dermaga yang permanen tidak ada. Dulu dermaga kayu pernah dibuat tapi hancur terhantam ombak. Ketika kami datang, tinggal sisa kayu-kayu penyangganya saja. Di sana juga belum tersedia penginapan. Biasanya rombongan pegiat alam dan lingkungan yang datang, membuka tenda di dekat kompleks mess panjaga mercusuar. Atau menginap di mess penjaga mercusuar kalau mereka datang dalam jumlah kecil.

Transportasi laut satu-satunya dengan menyewa kapal kayu motor milik penduduk nelayan pesisir Indramayu, seperti di Pantai Balongan dan di Muara Brondong, Desa Brondong. Harganya bisa dinegosiasi. Perjalanan lautnya cukup panjang dan berbahaya pada waktu-waktu tertentu. Menurut beberapa nelayan, sudah banyak gelombang laut dan karangnya menenggelamkan perahu nelayan yang kurang waspada. Oleh karena itu, kalau pergi dalam jumlah besar, sebaiknya membawa life jacket atau pelampung penyelamat sendiri dan minum obat anti mabok laut agar perjalanan lebih nyaman.

Sebelum berangkat, sebaiknya konsultasi dulu dengan pemilik kapal, apakah kondisi cuaca dan gelombang laut memungkinkan untuk ditempuh, termasuk kelayakan dan perlengkapan perahunya. Kalau ingin pulang dari Pulau Biawak ke Indramayu sebaiknya pada pagi hari atau sewaktu air laut masih pasang agar perahu bisa lebih mendekat ke pantai. Sebab kalau air surut, perahu akan bertabrakan dengan hamparan atol karang yang banyak terdapat di perairan pulau ini.

Kalau berencana tinggal beberapa hari, selain tenda, pengunjung harus membawa perlengkapan mandi, masak, makan, minum, dan obat-obatan sendiri, termasuk lotion anti nyamuk. Pulau ini tidak berpenduduk, tidak ada warung, rumah makan, dan fasilitas umum lain. Minumlah pil anti malaria seminggu sebelum berangkat dan sepulang dari pulau ini. Bawa pula perlengkapan memancing dan peralatan aktivitas lain untuk mengusir jenuh.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP