. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label WOW. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WOW. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Mei 2020

Wow, Charity Night untuk Diaspora Terdampak Covid-19 Kumpulkan 150 Jutaan Lebih

Konser Kebaikan, Charity Nights Dwiki and Friends dengan tema Global Solidaritas untuk Diaspora Terdampak Covid-19 langsung dari Youtube Dompet Dhuafa, Ahad (10/5/2020) malam, boleh dibilang cukup mengejutkan.

Konser berdurasi 3 jam mulai pukul 20:30 hingga 23.15 WIB yang digelar Dompet Dhuafa dan  AMI Awards bersama musisi senior Dwiki Dharmawan ini, berhasil mengumpulkan donasi sebesar Rp 150 juta-an.

"Kemungkinan jumlah itu bisa lebih karena masih dibuka sampai Senin, 11 Mei 2020 pukul 17:00 WIB," terang Bani selaku Corcom Dompet Dhuafa kepada TravelPlus Indonesia usai acara.

Selanjutnya dalam keterangan tertulisnya dijelaskan kalau konser dari rumah untuk yang diramaikan oleh sejumlah penyanyi ternama Tanah Air seperti Reza Artamevia, Nini Carlina, Ita Purnamasari, dan Shena Malsiana ini bertujuan untuk menghibur sekaligus mendorong masyarakat untuk cekal sebaran Covid-19.

Dwiki Dharmawan mengatakan para musisi adalah manusia yang  dikaruniai talenta luar biasa.

"Talenta akan bermanfaat jika didermakan atau diwakafkan dalam rangka menolong sesama melalui karyanya," ucapnya seraya berterima kasih kepada semua pihak yang sudah mendukung  dari acara pertama hingga ketiga ini. 

Konser ini menjadi lebih menarik karena juga menampilkan performance JazzCong alias Jazz Keroncong, sebagai  tribute untuk Didi Kempot.

Tak cuma itu, ada juga Comedy Performance dari Cak Lontong, Abdel Achrian, dan Denny Chandra.

Satu lagi yang bikin konser ini spesial lantaran dihadiri secara daring oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI Mahendra Siregar dan tokoh Diaspora Indonesia yaitu Dino Patti Jalal.

Apalagi ditambah dengan kehadiran tiga penceramah yakni  Ustadz  Bobby, Shamsi Ali, dan Ustadz Ahmad Ridwan yang  menyejukkan suasana Charity Night virtual ini.

Mahendra Siregar mengatakan perlindungan bagi Warga Negera Indonesia (WNI) yang pulang dari  penjuru dunia juga harus dibantu. 

"Kami dengan duta besar di sejumlah negara mendistribusikan sembako dan alat-alat kesehatan, bantuan paket dilakukan dengan gotong royong," terangnya.

Semua elemen masyarakat, lanjut Mahendra harus ikut serta membantu sesama mengatasi kondisi pandemi Covid-19 ini, bukan hanya bergantung pada pemerintah.

"Semangat itu harus menjadi jati diri, termasuk spirit dalam acara ini,” ujar Mahendra.

Dino Patti Jalal menyampaikan diaspora merupakan semua orang berdarah Indonesia, berbudaya Indonesia.

Banyak dari mereka juga terdampak  pandemi Covid-19.

Adapula diaspora yang peduli juga atas hal ini, salah satunya Minang Diaspora Network Global yanh aktif membantu masyarakat Sumbar di luar negeri seperti Mahasiswa Minang di Mesir, Sudan, dan lainnya. 

Saat ini para Pekerja Migran Indonesia (PMI) sudah banyak yang kembali, seperti dari Malaysia sudah 70.000 lebih.

Tapi ada juga sebagian diaspora yang mengalami kendala di sejumlah negara, salah satunya diaspora di Filipina. "Jika sakit, untuk mendapatkan pengobatan yang memadai agak susah, bahkan di beberapa negara terdampak pemutusan pekerjaan seperti di USA maupun di Oman,” beber Dino Patti Jalal.

Dalam kesempatan ini Parni Hadi selaku Inisiator dan Ketua Pembina Yayasan Dompet Dhuafa juga berucap terima kasih kepada semua pihak yang telah bergabung dengan Dompet Dhuafa untuk membantu sesama manusia.

"Untuk semua diaspora yang terdampak, kita harus gotong royong untuk membantu mereka,” urainya. 

Untuk itu, Dompet Dhuafa yang sudah 26 tahun lebih memberikan kontribusi layanan bagi perkembangan umat dalam bidang sosial, kesehatan, ekonomi, dan kebencanaan serta CSR ini mengajak kolaborasi YBM PLN serta sejumlah lembaga seperti Askar Kauny, Kawan Baik, Nusantara Foundation, dan Gelora Wakaf Foundation menggalang dana solidaritas untuk para diaspora Indonesia di luar negeri yang saat ini terdampak Covid-19.

Ketua Umum YBM PLN Sulistyo Biantoro mengatakan sejak awal pandemi, pihaknya fokus pada edukasi hidup bersih, berkolaborasi dengan organsiasi lain.

Selain itu melakukan program kesehatan seperti penyemprotan desinfektan di sekolah-sekolah dan fasilitas lainnya.

"Kami juga fokus dengan ketahanan pangan dan dukungan kepada masyarakat terdampak ekonomi karena pandemi ini, antara lain buat buruh harian dan  ojek daring,” ujarnya.

Dompet Dhuafa menggelorakan semangat #MenebarKebaikan dengan angka target penghimpunan untuk membantu sesama di Ramadhan 1441 H ini sebesar Rp 212,3 M yang dikelola oleh seluruh jaringan.

Untuk mencapai target itu Dompet Dhuafa mengoptimalkan jaringan di 34 provinsi dan 200 zona layanan di Nusantara serta jaringan Global di 30 negara.

Pandemi ini juga memaksa Dompet Dhuafa mengubah skema program Ramadhan yang semula di luar ruang atau kegiatan offline menjadi online dan berbasis digital.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.corcom dompet dhuafa

Read more...

Kamis, 15 Agustus 2019

Wow, Hari Belanja Diskon Indonesia 2019 Bertabur Potongan Harga Sampai 74 Persen

Anda termasuk penggemar belanja offline berdiskon? Sepertinya mulai 16- 31 Agustus 2019 adalah waktu yang tepat untuk ngeborong. Pasalnya ada shopping event dalam kemasan festival bertajuk Hari Belanja Diskon Indonesia (HBDI) 2019 yang menawarkan beragam produk dengan potongan harga sampai 74 persen.

Festival HBDI 2019 yang digelar Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) secara besar-besaran akan berlangsung di ratusan pusat belanja secara nasional, artinya di seluruh Indonesia.

Aneka produk yang dijual dalam HBDI 2019 yang digelar dalam rangka memeriahkan HUT RI yang jatuh pada tanggal 17 Agustus ini mulai dari sektor makanan, minuman, fesyen, kerajinan tangan sampai produk lokal.

Menariknya, semuanya akan diskon hingga 74 persen sesuai dengan umur kemerdekaan RI tahun ini.

Dalam situs hbdindonesia.com dijelaskan HBDI 2019 merupakan iven belanja pertama, terbesar, dan terlengkap.

Ada instore promo serba 74 di ribuan toko di seluruh pusat belanja seluruh Indonesia, dan  didukung 500 retail terkemuka Indonesia anggota Hippindo.

Pembukaan HBDI 2019 bertempat di The Hall Senayan City, Jakarta, Kamis (15/8), dengan menampilkan karya anak bangsa dalam bentuk Parade Merek Lokal Indonesia 2019.

Acara peluncuran HBDI 2019  dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi), didampingi Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno, serta Ketua Umum HIPPINDO Budi Hardjo Iduansyah.

Presiden Jokowi mengimbau para pengusaha lokal pemilik merek-merek lokal untuk bisa mengisi pasar yang besar baik di tingkat domestik maupun di ranah global.

"Ini tugas para pengusaha lokal pemilik merek-merek inilah untuk mengisi pasar yang besar ini supaya ketika barang luar negeri yang akan masuk, sudah penuh,” imbau Presiden.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: dok.@hbdifestival

Read more...

Selasa, 02 Juli 2019

Wow, Tim Ekspedisi Kayak Pelajar Indonesia 2 Kelilingi Lingkar Dalam Danau Toba

Tim Ekspedisi Kayak Pelajar Indonesia 2 kini tengah berekspedisi mengelilingi lingkar dalam Danau Toba sepanjang 135 Km dalam upaya memecah rekor dunia.

Enam pelajar yang menjadi atlit dalam ekspedisi ini terdiri atas Rafif Ibrahim, Landung Yudanto, Argi Nurfajri, Fahmi Muhammad Gibran, Aryadieni Farah Ayu Santoso, dan Nur Aliya Sabira.

Mereka menggunakan empat buah kayak.

Bupati Samosir Drs. Rapidin Simbolon, MM., resmi melepas tim tersebut di Tuktuk, 2 Juli 2019.

Start ditandai dengan pengibaran bendera yang dikibaskan oleh Bupati di Dermaga Pelabuhan Ferry Tomok.

Para atlit langsung menuju camp 1 yang berada di Kawasan HKBP Sitamiang Onan Rangu. Adapun jarak tempuh etape 1 kurang lebih 24 Km.

Berikutnya, etape 2 sepanjang kurang lebih 28,5 Km berakhir di Kawasan HKBP Sinaga Uruk.

Lalu etape ke 3 sepanjang kurang lebih 26,5 Km dan para atlit beristirahat di camp yang berada di Kawasan Polres Samosir.

Camp ke 4 berada di Kawasan HKBP Malau Simarmata yang berjarak kurang lebih 20 Km.

Selanjutnya etape ke 5 yang berjarak kurang lebih 24,6 Km akan berakhir di camp Kawasan GKPS Tuktuk.

Para atlit direncanakan mencapai garis finish di camp yang berada di Kawasan Pelabuhan KMP Ferry Tomok menuju Hotel Toba International Cottage dengan sebelumnya menempuh jarak kurang lebih 12 Km.

Sebelum ekspedisi dilepas, upacara yang juga dipimpin oleh Bupati Samosir mendapat perhatian dari warga setempat.

Acara pelepasan juga dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Wakil Bupati Ir Juang Sinaga, Asisten 2 Bupati Saul Situmorang, Kepala Dinas Budpora Drs Gomgom Naibaho, perwakilan Gubernur Sumatera Utara Drs Unggul Sitanggang, Kadis Perizinan Resman Simbolon, dan Kadis Pariwisata Daulat Nainggolan Skm.

Dalam sambutannya Rapidin Simbolon mendukung penuh kegiatan yang positif ini.

Hal yang sama disampaikan oleh Kepala Dinas Bupdar. “Gubernur Sumatera Utara mengapresiasi kegiatan ini. Kegiatan ini tentu akan berdampak besar bagi pariwisata di Danau Toba dan Pulau Samosir. Dan akan semakin mendunia karena kegiatan ini akan memecahkan rekor dunia sebagai pelajar yang pertamakalinya mengelilingi danau Toba menggunakan kayak,” kata Gomgom Naibaho dalam sambutannya.

Selain upaya memecahkan rekor dunia, tim EKPI 2 yang tergabung dalam kegiatan URaL SMA 28 juga akan melakukan kegiatan penelitian Sosiologi Pedesaan di Pulau Samosir.

Tim Sosiologi Pedesaan terdiri dari Kayten Sadewo, Safira Diva Syaharani, dan Rakha’ Ayu Rengganis.

Mereka juga didukung oleh tim support yang terdiri dari Kevin Raihan Yassin, Naifa Vania Aribah, Nathania Andine Nariswari, dan Sekar Ayu Kencana Wulan dengan dua orang pendamping Saleh Alatas dan Nila Kusumawardhani.

Sebagai catatan, URaL 28 adalah organisasi pencinta alam yang berada di lingkup SMA Negeri 28 Jakarta. Berdiri sejak 1982 dan telah melahirkan 38 angkatan dengan total anggota berjumlah kurang lebih 900 orang.

URaL kepanjangan dari Udara, Rimba, Laut yang memiliki 3 grup. Grup 1 berorientasi pada kegiatan pendakian gunung, mendaki tebing dan jelajah gua.

Grup 2 berorientasi pada kegiatan bahari seperti dayung, layar dan juga arung jeram. Sedangkan Grup 3 berorientasi pada kegiatan penelitian dan studi observasi.

Naskah: Julie Indarini/TravelPlus Indonesia
Foto: Rakha’ Ayu Rengganis

Captions:
1. Dua atlit Tim Ekspedisi Kayak Pelajar Indonesia 2 tengah  mengeliling Danau Toba.
2. Bupati Samosir Drs. Rapidin Simbolon, MM., resmi melepas Tim Ekspedisi Kayak Pelajar Indonesia 2 di Tuktuk, 2 Juli 2019.
3. Argi Nurfajri selaku ketua Ekspedisi Kayak Pelajar Indonesia 2 – URaL SMAN 28 Jakarta.

Read more...

Sabtu, 20 April 2019

Wow, Gunung Prau Dicumbui 5.300 Pendaki, 11 Diantaranya Bule

Setelah wajah Gunung Prau dipoles, lalu kegiatan pendakiannya dibuka lagi mulai 5 April 2019, daya pikatnya justru semakin kuat.

Buktinya pada Jumat (19/4/2019) bertepatan dengan tanggal merah, jumlah yang mendaki gunung di Wonosobo, Jawa Tengah ini mencapai 5 ribu lebih pendaki.

"Selama satu hari, Jumat 19 April 2019, terhitung dari jam 1 siang,  jumlah yang mendaki Prau tercatat 5.300 pendaki melalui jalur Basecamp Pendakian Gunung Prau via Patak Banteng," terang Cipto, salah satu petugas Basecamp Patak Banteng kepada TravelPlus Indonesia di Basecamp Patak Banteng, Sabtu (20/4/2019) siang.

Para pendaki yang datang kemarin didominasi pendaki dalam negeri, terutama dari kota/daerah di Jawa seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, dan Jogja bahkan ada juga dari Banten dan beberapa kota di Sumatera.

"Tapi ada juga pendaki dari luar negeri. Dari 5.300 pendaki itu, 11 diantaranya pendaki bule dari Swiss," tambah Cipto.

Sementara jumlah pendaki ke Prau pada hari Sabtu (20/4/2019), lanjut Cipto belum tercatat seluruhnya.

"Harga tanda masuk atau tiket pendakian Gunung Prau untuk pendaki dalam negeri cuma Rp 15 ribu sedangkan pendaki mancanegara atau asing Rp 25 ribu per orang," terang Cipto lagi.

Pantauan TravelPlus Indonesia ketika mendaki gunung mungil berketinggian 2.590 meter di atas permukaan laut (Mdpl) ini bersama muda-mudi dari Cirebon, Sumedang, dan Serang, setibanya di Plawangan atau camp ground di sekitar area puncak Prau sampai Bukit Teletabis, sudah dipenuhi ratusan tenda dome aneka warna pada Jumat malam.

Bahkan sebelum di puncak, sejumlah pendaki ada yang nge-camp atau mendirikan tenda di beberapa titik di sepanjang pos 2 dan pos 3.

Saking banyaknya pendaki, sewaktu turun pada Sabtu pagi dari puncak sampai ke pos 1 terjadi kemacetan antrian pendaki.

"Macet di kota-kota besar biasanya karena kebanyakan mobil, tapi di Prau Jumat dan Sabtu ini justru karena kebanyakan pendaki," ujar Rachmadi pendaki muda asal Jamblang Cirebon yang turut merasakan terjebak kemacetan sewaktu menurun trek dari puncak menuju pos 3 dengan trek cukup curam.

Sejumlah pendaki terpaksa memilih trek di kiri atau kanan dari trek sebenarnya, meskipun lebih sulit.

Kemacetan panjang itu terjadi setiap kali rombongan pendaki yang turun berpapasan dengan rombongan pendaki yang naik di sejumlah titik.

Amatan lain TravelPlus Indonesia, setelah ditutup selama tiga bulan sejak Minggu, 6 Januari 2019 lalu, paras Prau kini memang agak berubah, lebih tertata dan kian jelita.

Jalur pendakian lewat Patak Benteng
terlihat bersih dari sampah dan terdapat penambahan anak tangga agar mudah dilewati pendaki terutama di Pos 3 sampai Plawangan.

Selain itu ada banyak bangku kayu panjang yang sengaja ditempatkan di beberapa titik untuk istirahat pendaki.

Jumlahnya ada 60 bangku panjang yang ditambahkan pihak pengelola basecamp di sepanjang jalur pendakian sampai area kemah. Sedangkan di area kemah juga ditambah 5 paket bangku panjang dari kayu.

Gunung Prau yang berada di Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateu), secara administratif masuk dalam tiga wilayah Kabupaten Kendal, Kabupaten Wonosobo, dan Kabupaten Batang di Jawa Tengah.

Basecamp Patak Banteng sendiri berada di Jalan Dieng Km 24, Desa Kejajar, Wonosobo.

Kendati termasuk gunung berukuran kecil, namun memiliki pesona dari puncaknya yang luar biasa indah.

Dari atapnya saat cerah, 12 gunung terlihat jelas, seolah memagari dan menjaganya antara lain Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Slamet, dan Gunung Ceremai yang berada paling jauh serta sejumlah gunung tak populer.

Pendaki juga bisa melihat bukan hanya pesona sunrise pagi hari, pun pesona sunset sore hari.

Hampir keseluruhan Dieng, dari teras-teras perkebunan kentang, kubis, dan bawah prei, rumah-rumah penduduk di sejumlah desa, masjid, dan tentu saja Telaga Warna dan Telaga Pengilon juga jelas terlihat.

Menariknya lagi, untuk menikmati ragam pesona menawan itu, cukup 3-4 jam kalau mendaki secara rombongan dalam kondisi lancar.

Kehadiran 5.300 pendaki, 11 diantaranya pendaki asing untuk menikmati rona raut Prau terkini kemarin, jelas membawa berkah tersendiri bagi pengelola dan tentunya warga sekitar.

Banyangkan dari tiket saja, pengelolanya dan pihak-pihak terkait bisa meraup Rp 79.610.000 (Rp 15.000 × 5.289 pendaki nusantara) ditambah (Rp 25.000 × 11 pendaki asing).

Belum lagi penambahan pendapatan buat warga setempat dari hasil penjualan aneka makanan, minuman, kaos, perlengkapan pendakian, bermacam aksesoris pendaki, dan lainnya di sejumlah warung.

Tak ketinggalan penghasilan dari parkir motor dan mobil serta penyewaan penginapan dan  MCK serta penjualan bermacam oleh-oleh khas Dieng seperti kentang, carica atau manisan pepaya gunung khas Dieng, opak, dan kripik kentang.

Kalau sudah begitu, wajar rasanya TravelPlus Indonesia bilang wajah baru Prau telah membuat wisata gunung berhawa dingin ini bertambah berkahnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. TravelPlus Indonesia berfoto bersama pendaki muda-mudi Cirebon dan lainnya.
2. Kawasan Plawangan sekitar puncak Gunung Prau dipenuhi warna-warni tenda dome para pendaki.
3. Meski mungil, Gunung Prau jadi idola sejumlah pendaki.
4. Kemacetan antrian pendaki saat turun dari puncak Prau.
5. Istirahat sejenak di Pos 2.
6. Sepenggal pesona sunrise dari puncak Prau.
7. Berfoto bersama berlatar sunrise Gunung Sindoro, Sumbing dan lainnya.
8. Salah satu nature photo spot menawan dari puncak Prau.

Read more...

Senin, 01 April 2019

Wow, ke Tanjung Lesung April Ini Dapat Diskon Inap 40 Persen

Kabar gembira buat yang ingin berwisata ke Tanjung Lesung di Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten selama April 2019 ini. Soalnya traveler akan mendapatkan potongan harga menginap sebesar 40 %.

"Benar, sepanjang bulan April ini, kita punya paket Special Offer Price dengan memberi potongan harga sebesar 40 persen buat wisatawan yang ingin berwisata dan menginap di Tanjung Lesung," kata Sales Executive Tanjung Lesung Yunus Gendro Rohmadi kepada TravelPlus Indonesia di sela-sela 'Media & Travel Fair' serta 'Sosialisasi Jurnalisme Ramah Pariwisata Dalam Rangka Gerakan Sadar Wisata' di Tanjung Lesung, Senin (1/4/2019).

Kata Yunus, tarif menginap di Cottage baik Zamrud, Mutiara, dan Berlian di Tanjung Lesung sebelum didiskon 40 % adalah Rp 1,2 juta, 2,8 juta, dan Rp 5 juta untuk hari biasa atau weekday.

"Kalau weekend Rp 1,7 juta, 3,3 juta, dan Rp 5,7 juta per kamar untuk 2 pax," terang Yunus.

Sementara untuk penginapan jenis villa sebelum diberi diskon tersebut untuk weekday mulai Rp 2,5 juta sampai Rp 7 juta.

"Kalau untuk weekend Rp 3 juta sampai Rp 8 juta," tambahnya.

Dia menjelaskan tingkat hunian atau okupansi Tanjung Lesung sebelum tsunami Selat Sunda mencapai 60 % dari wisatawan nusantara (wisnus) dan 20 % dari wisatawan mancanegara (wisman).

"Setelah tertimpa tsunami Selat Sunda okupansinya hanya 30 % dari wisnus dan 10 persen wisman 10 %," ungkapnya.

Selama ini wisman yang berwisata ke Tanjung Lesung, sambung Yunus, terbanyak dari Korea, China, dan Jepang.

Selain memberikan diskon 40 % villa dan cottege-nya, lanjut Yunus, ada beberapa upaya lain untuk menjaring sekaligus meningkatkan okupansi wisnus dan wisman ke Tanjung Lesung.

"Kita kerjasama dengan operator tur wisata dan juga mengikuti berbagai kegiatan. Besok, 2 April  kita buka stand di sebuah golf turnament," terangnya.

Yunus pun berharap Kementerian Pariwisata (Kemenpar) terus mendukung promosi mengenai keberadaan Tanjung Lesung saat ini yang sudah siap menerima wisatawan.

"Kalau bisa Kemenpar menggelar even seperti MICE di sini supaya masyarakat luas percaya kalau Tanjung Lesung memang benar-benar sudah aman dan nyaman dikunjungi," harap Yunus.

Direktur Utama PT. Banten West Java (BWJ) Poernomo Siswoprasetijo, pihak yang mengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tanjung Lesung membenarkan berbagai upaya dilakukan pihaknya untuk mendatangkan kembali wisnus dan wisman ke Tanjung Lesung.

Selain itu, akan segera dibangun hotel baru, airstrip, dan dermaga buat kapal yacht. "Kami juga akan merenovasi dan rebranding Beach Club disertai penambahan fasilitas lain dan atraksi baru untuk wisatawan," bebernya.

Poernomo berharap kehadiran sejumlah wartawan dan travel blogger atas dukungan Kemenpar hari ini dapat mengangkat pamor Tanjung Lesung kembali.

"Semoga tulisan-tulisan yang dibuat bisa mengabarkan kalau KEL Tanjung Lesung sudah aman dikunjungi dan mengangkat beragam daya tariknya agar wisatawan tertarik datang," harap Poernomo yang juga CEO dari PATA Indonesia Chapter.

Terkait recovery KEK Tanjung Lesung dan sejumlah destinasi terdampak tsunami Selat Sunda 22 Desember 2018, Menpar Arief Yahya pada awal April 2019 kembali mengunjungi KEK Tanjung Lesung, Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang.

"Di Tanjung Lesung, Menpar Arief Yahya antara lain mengunjungi Banten Travel Exchange, kick off rencana revitalisasi amenitas KEK Tanjung Lesung, meninjau New Beach Club, meresmikan Lalassa Beach Club, dan menyampaikan paparan sekaligus menutup acara 'Jurnalisme Ramah Pariwisata'," terang  Kepala Biro Komunikasi Publik Kemenpar Guntur Sakti.

Sebelumnya, lanjut Guntur secara rutin Menpar Arief Yahya tiap bulan mengadakan kunjungan kerja ke Kabupaten Serang, Pandeglang, dan sekitarnya.

"Pasca-tsunami Selat Sunda, Kemenpar juga langsung membentuk 'Tim Selat Sunda Aman' untuk melakukan pemantauan serta memastikan agar seluruh program pemulihan sektor pariwisata Selat Sunda berjalan sesuai rencana, baik dari unsur SDM, pemasaran maupun destinasi terdampak," pungkas Guntur.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

Captions:
1. Wisatawan berenang di kolam renang Tanjung Lesung berpanorama Selat Sunda.
2. Salah satu lokasi villa di Tanjung Lesung.
3. Beberapa fasilitas yang ada di KEK Tanjung Lesung.
4. Arsitektur cottege di Tanjung Lesung.

Read more...

Jumat, 08 Maret 2019

Wow, Hari Pertama Indofest 2019 Diserbu 24.126 Pengunjung

Gelaran Indonesia Outdoor Festival (INDOFEST) 2019 masih sangat bermagnet kuat. Buktinya pada hari pertama, Jumat (7/3) diserbu puluhan ribu pengunjung.

"Jumlah pengunjung Indofest 2019 hari pertama berjumlah 24.126 pengunjung," kata Ketua Panita Indofest 2019 Eva Fitri Yeni kepada TravelPlus Indonesia di JCC, Jumat, (8/3) sore.

Jumlah itu, lanjut Eva sangat fantastis dan menjadi sejarah capaian tertinggi selama Indofest 5 kali diselenggarakan tiap tahunnya.

"Pengunjung yang datang juga dari luar Jakarta bahkan dari luar Jawa. Mereka rela berjubelan demi mencari barang-barang outdoor dambaan," terang Eva.

Pantauan TravelPlus Indonesia di hari kedua sampai sore, jumlah pengunjungnya pun membludak. Namun totalnya belum terhitung.

Kebanyakan yang datang para pegiat alam bebas milenial antara umur 17 tahun sampai 35 tahun. Tapi banyak juga para pecinta alam, pendaki gunung, dan pegiat ourdoor lain yang sudah lawas, di atas 40 tahun.

Menurut Eva banyak keuntungan yang diperoleh sobat outdoor jika datang ke event yang disebut-sebut 'Lebarannya Anak Outdoor' ini.

Pertama, jelas bisa menemukan beragam peralatan dan perlengkapan outdoor activities seperti untuk mendaki gunung (ransel, jaket, baju, kaos, sweater, celana, sepatu, sandal, tenda, matras, dll); panjat tebing (carabinner, pull harnes, tali karmantel, dll); arung jeram; kayak; menyelam; dan lainnya.

"Masing-masing produk peralatan/perlengkapan outdoor tersebut saling perang diskon, 10 persen sampai 50 persen bahkan lebih," ungkapnya.

Pengunjung juga bisa berkenalan dengan 30 komunitas pegiat alam bebas dan lingkungan antara lain dgn klub panjat tebing Skygers dari Bandung, organisasi pecinta alam Wanadri juga dari Bandung, Geotour dari Jakarta, Indonesian Blads (Forum Pisau Indonesia) dari Jakarta, dan lainnya.

"Kalau suka menjelajah taman nasional, Anda bisa mengunjungi booth Taman Nasional Gunung Ciremai. Kalau ingin tahu lebih jauh objek-objek wisata di DKI Jakarta dan Kabupaten Pekalongan, Anda tinggal datangi masing-masing booth-nya," tambah Eva.

Keuntungan lainnya datang ke Indofest 2029 yang mengangkat tema "Outdoors for a Better World" ini, pengunjung bisa menambah wawasan seputar dunia petualangan Indonesia, ekspedisi dan lainnya lewat beragam talkshow di main stage, borneo stage, dan sumba stage, sekalian meningkatkan kesadaran akan ramah lingkungan.

"Pengunjung bisa mengambil tas belanja berwarna hijau gratis untuk mengurangi pemakaian kantong plastik," ujar Eva.

Acara INDOFEST 2019 yang bertempat di Hall B Jakarta Convention Centre (JCC) hanya berlangsung ampai Ahad, 10 Maret.

"HTM-nya Rp 35 ribu per orang dan bisa dibeli langsung di loket dekat pintu masuk Hall B," pungkas Eva.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & sobatjurnalis

Captions:
1. Ketua Panita Indofest 2019 Eva Fitri Yeni bersama Adji TravelPlus Indonesia di JCC, Jumat, (8/3) sore.
2. Pengunjung hari kedua pun membludak.
3. Pilihan beragam produk outdoor.
4. Tenda domme kapasitas 2 orang.
5. TravelPlus Indonesia turut meliput dan menyebarluaskan informasi Indofest 2019 lewat tulisan dan medsos IG @adjitropis dan lainnya.

Read more...

Kamis, 13 Desember 2018

Wow, Kejurnas Arung Jeram R6 2018 di Tasikmalaya Berhadiah Tiket World Rafting Championship

Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Arung Jeram R6 (6 pendayung) 2018 yang berlangsung di Sungai Ciwulan, Tasikmalaya 13-16 Desember ini berhadiah sejumlah tiket untuk mewakili Indonesia di ajang World Rafting Championship (WRC) bagi para pemenang.

Ketua Panitia Pelaksana Kejurnas, Yudi Kadarusman mengatakan kejurnas rafting yang digelar Pengurus Besar Federasi Arung Jeram Indonesia (PB FAJI) ini dalam rangka seleksi nasional untuk memilih timnas yang nantinya akan dikirim untuk WRC atau Kejuaraan Dunia Arung Jeram  2019 di Sungai Tully, Australia.

"Panitia sediakan sebanyak delapan tiket buat para juara Kejurnas Arung Jeram R6 di Tasikmalaya ini untuk ikut kejuaraan dunia yang akan digelar di Australia," terang Yudi yang juga manajer atlit Open Women Kontingen Kabupaten Tasikmalaya sebagaimana dikutip kabarpriangan.co.id baru-baru ini.

Nomor yang akan dipertandingkan di kejurnas rafting ini, lanjut Yudi adalah Sprint, Head to Head, Slalom, dan Down River Race dengan kelas pertandingan U19 (youth) putra/i, U23 (junior) putra/i, U40 (open) putra/i, dan di atas U40 (master) putra/i.

Untuk nomor Sprint, Head to Head, dan Slalom, start-finish-nya di Urug, Lapang Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya dengan panjang lintasan 300 meter. Sedangkan Nomor Down River Race, start di Leuwi Budah, finish di Sukaraja, Kabupaten Tasikmalaya dengan panjang lintasan sekitar 7 Km.

Jika semuanya berjalan sesuai rencana maka arung jeram bisa menjadi salah satu cabang olah raga (cabor) yang diperhitungkan pada PON 2020.

Wakil Ketua Bidang Prestasi Faji Jabar Iwan Kurniawan mengatakan dipilihnya Sungai Ciwulan merupakan hal yang tepat karena memang lokasinya sudah teruji.

Menurut Iwan sebagaimana dikutip pikiran-rakyat.com juga baru-baru ini, Sungai Ciwulan sudah teruji karena memang sudah menjadi destinasi wisata olahraga ekstrem seperti arung jeram.

"Jadi faktor keamanan hingga tempat menuju lokasi sudah siap digunakan," ujarnya.

Begitupun soal debit air sungai, mengingat saat ini tengah musim penghujan dan  bisa disiasati baik saat surut maupun berlimpah.

Kejurnas rafting diikuti 44 tim dari 13 provinsi yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Papua, DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Aceh misalnya mengirimkan dua tim rafting putra dan putri terbaiknya. Tim rafting putri Aceh terdiri atas enam atlet arung jeram asal Kabupaten Pidie yakni Khairun Nikmah, Mariatul Nisa, Agustina, Salmanidar, Winni Mawaddah, dan Isti Fakyah.

Menurut Ammar, pendamping tim rafting putri Aceh, mereka adalah tim juara tingkat Provinsi Aceh yang merupakan atlit rafting Pelatda Aceh.

"Sedangkan tim rafting putranya dari Kabupaten Aceh Tengah," ungkap Ammar kepada TravelPlus Indonesia lewat pesan WA, Kamis (13/12).

Tim rafting putra Aceh ini merupakan tim terbaik di ajang Pekan Olahraga Aceh (PORA) XIII beberapa waktu lalu di Jantho Kabupaten Aceh Besar dengan torehan 3 medali emas.

"Kami akan berlaga di 4 nomor lomba yakni Sprint, Head to Head, Slalom, dan Down River Race. Target kami di kejurnas rafting ini dapat emas," tambah Rahmad, asiten pelatih tim rafting putri Aceh juga lewat pesan WA.

Sementara Jabar sebagai tuan rumah fokus mempertahankan gelar juara Kejurnas yang didapatkan tahun lalu.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

Foto: dok. tim rafting putri Aceh

Captions:
1. Aksi tim rafting putri Aceh.
2. Logo Kejurnas Arung Jeram R6 2018 di Tasikmalaya.
3. Tim rafting putri Aceh saat berlatih sebelum bertanding.
4. Tim rafting puti Aceh yang berlaga di Kejurnas Arung Jeram R6 2018 di Tasikmalaya bersama Rahmat pelatihnya.

Read more...

Jumat, 31 Agustus 2018

Wow, Enam Destinasi Wisata ini Punya Rumah-Rumah Tahan Gempa

Gempa yang terjadi di Lombok baru-baru ini kian membuka mata kita bahwa negeri kepulauan ini memang rawan gempa selain erupsi gunung berapi. Namun entah kenapa sudah tahu begitu kondisinya, justru semakin banyak orang yang membangun rumah permanen, yang justru tidak ramah gempa.

Padahal sejak dulu, sejumlah masyarakat di Tanah Air dengan kearifan lokalnya sudah membangun rumah-rumah yang tahan gempa. 

Berkat keistimewaannya, rumah-rumah unik dan spesial itu pun kemudian kerap dikunjungi wisatawan, termasuk para peneliti arsitektur tradisional. 

 Berikut ini TravelPlusIndonesia hadirkan enam destinasi wisata di berbagai daerah di Indonesia yang memiliki rumah-rumah tahan gempa yang kian menarik perhatian banyak pihak, terlebih setelah terjadi gempa Lombok baru-baru ini. 

Pertama, Yogyakarta karena memiliki rumah tahan gempa di Jalan Raya Prambanan, tepatnya di Dusun Tamanan Pabrik, Desa Tamanmartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman. 

Bentuk rumahnya langsung menyita perhatian ke sebuah rumah yang bentuknya mencolok dan berbeda dari rumah warga lain di sekitarnya. 

Rumah bermaterial tanah, kapur dan jerami itu berkonsep konstruksi rumah ramah lingkungan, earthbag house. Kabarnya teknik pembangunan rumah itu disebut SuperAdobe yang dipopulerkan oleh seorang arsitek asal Iran, Nader Khalili. \

Selain cocok diaplikasikan di daerah rawan gempa, teknik SuperAdobe juga tepat diaplikasikan di daerah dengan cuaca ekstrem. 

Masih di Daerah Istimewa ini, juga ada rumah-rumah tahan gempa yang dikenal dengan nama Rumah Kubah atau Rumah Domme atau Rumah Teletubbies yang kemudian pada tahun 2008 menjadi Desa Wisata Teletubbies. Lokasinya di New Nglepen, Dusun Sengir, Kelurahan Sumberharjo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. 

Awalnya, rumah tersebut adalah bantuan dari Domes For The World, lembaga nirlaba dari Amerika Serikat, dan donatur perorangan dari Arab Saudi tahun 2006 pasca gempa Yogya. 

Rumah tak beratap genting tersebut berdiameter 7 meter dengan ketinggian puncak sekitar 4 meter, dua daun jendela dan pintu, memiliki dua lantai di dalam rumah dan empat ruangan. Kabarnya pondasi bangunannya tertanam sekitar 20 meter di dalam tanah. Karena bentuk dan konstruksinya, rumah dome dipercaya tahan gempa, tahan api, badai, dan topan. 

Dome juga disebut anti rayap, tikus, dan jamur. Di laman situs The Dome For The World Foundation disebutkan rumah dome ini hanya ada di 5 negara sasaran penerima bantuan, yaitu Indonesia, India, Belize, Haiti, dan Etiopia.

Kedua, Sumatera Barat yang memiliki rumah tradisonal tahan gempa yakni Rumah Gadang alias rumah adat suku Minangkabau. 

Lokasinya antara lain di Kabupaten Solok Selatan, tepatnya di Kawasan Seribu Rumah Gadang yang berada di Jorong Koto Baru, Kenagarian Muaralabuh, Kecamatan Sungai Pagu. 

Objek wisata tersebut berjarak tempuh sekitar empat jam melalui jalur darat dari Padang, Ibukota Sumatera Barat. 

Kenapa ramah gempa? Karena arsitektur Rumah Gadang memiliki keunikan bentuk pada atap yang menyerupai tanduk kerbau dibuat dari bahan ijuk. Bentuk badan rumah segi empat dan membesar ke atas (trapesium terbalik) atau Bagonjong

Atap Rumah Gadang melengkung tajam seperti bentuk tanduk kerbau yang sisinya melengkung ke dalam, sedangkan bagian tengahnya rendah seperti perahu dan secara estetika merupakan komposisi yang dinamis.

Desain bangunan seperti ini menurut para ahli arsitektur merupakan kontruksi bangunan tahan gempa.

Sumbar termasuk sering dilanda gempa, salah satunya gempa besar 2009 berkekuatan 7,8 SR oleh karena itu Pemprov-nya mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan potensi gempa bumi saat mendirikan bangunan, agar jumlah korban akibat tertimpa bangunan bisa diminimalkan jika bencana terjadi.

Ketiga, destinasi Jawa Barat yang memilii rumah adat Sunda ramah gempa seperti yang ada di Kampung Cikondang, Desa Lamajang, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Buktinya ketika daerah tersebut terkena dampak gempa berkekuatan 7,3 SR tahun 2009 lalu, rumah adat dengant atapnya beralaskan ijuk dan berdinding gedeg itu tetap berdiri kokoh.sementara ratusan rumah di sekitarnya retak hingga ambruk.

Kampung Cikondang sendiri merupakan kampung adat yang terletak di kaki Gunung Tilu. Rumah adat Cikondang adalah peninggalan leluhur bernama Ma Empuh yang hidup di abad ke-16. 

Keberadaan kampung tersebut dilindungi UU No.5 tahun 1992 tentang Situs dan Benda Cagar Budaya. Sampai tahun 1942, jumlah rumah adat beratap ijuk di kampung tersebut ada 60 rumah. 

Namun, kebakaran besar di tahun itu telah menghanguskan 59 rumah adat lainnya. Hanya satu yang tersisa dan bertahan hingga kini.

Lokasi rumah adat Sunda lainnya yang tahan gempa ada di Kampung Dukuh, Cikelet, Garut; Kampung Kuta, Ciamis; dan Kampung Naga, Tasikmalaya. 

Umumnya rumahnya berbentuk panggung. Bangunan tidak seluruhnya menempel pada tanah, tetapi dihubungkan dengan tiang yang disanggah batu tatapakan yang berfungsi sebagai kaki. Dengan demikian, ketika terjadi lini (gempa), getarannya diredam oleh batu tatapakan sehingga meskipun bangunan turut oyag (bergetar), rumah relatif dapat bertahan menerima beban getar gempa bumi sampai kekuatan tertentu.

Keempat, Kepulauan Nias, Sumatera Utara yang memiliki rumah tradisional tahan gempa bernama Omo Sebua

Rumah tersebut hanya dibangun untuk kepala desa dan biasanya terletak di pusat desa. Rumah dengan atap curam dan menjulang mencapai ketinggian hingga 16 meter itu dibangun di atas tumpukan kayu ulin besar. 

Atap pelana di bagian depan dan belakang juga memberikan perlindungan yang sangat baik terhadap hujan. Diklaim tahan gempa, lantaran rumah ini memiliki pondasi yang berdiri di atas lempengan batu besar dan balok diagonal yang juga berukuran besar serta bahan-bahan lainnya yang dapat meningkatkan fleksibilitas dan stabilitas terhadap gempa bumi. 

Rumah itu pun didesain tahan terhadap serangan, mengingat dulunya sering terjadi perang antardesa. Satu-satunya akses masuk ke dalam rumah adalah melalui tangga sempit dengan pintu kecil di atasnya. 

Selain rumah Omo Sebua, di Nias juga ada rumah tahan gempa yang disebut Omo Hada, yang merupakan rumah rakyat jelata yang berbentuk persegi. Baik di Nias Tengah, Selatan maupun Nias Utara memiliki arsitektur Omo Hada yang berbeda namun semuanya sama tahan gempa. 

Kelima, Sulawesi Utara yang memiliki rumah tradisional Minahasa sebagaimana terlihat di Woloan, Kota Tomohan dan Mokobong, Modoinding, Kabupaten Minahasa Selatan (Minsel).

Di kedua daerah itu masyarakatnya pun merupakan perajin rumah panggung khas Minahasa yang berdampak positif pada sektor pariwisata. 

Wisatawan kerap berdatangan ke dua daerah itu bukan hanya bisa melihat pun mempelajari pembangunan rumah tahan gempa.

Rumah panggung Minahasa dikatatan ramah gempa karena memang dari aspek material tergolong ringan sehingga tidak mudah ambruk jika ada getaran gempa. Begitu pun dengan kancingannya yang bisa mencegah getaran sehingga bangunan tidak terbongkar lalu ambruk.

Keenam, Banten yang memiliki rumah tradisonal tahan gempa yang didiami Suku Baduy atau Urang Kanekes di Desa Kenekes, Kabupaten Lebak.

Bentuk rumahnya panggung, hampir sama dengan rumah adat Sunda. Buktinya ketika gempa yang mengguncang Kabupaten Lebak, berkekuatan 6,1 SR dengan 40 kali gempa susulan, terakhir berkekuatan 5,1 SR, tak membuat perkampungan Suku Baduy mengalami kerusakan apa pun. 

Soalnya rumah orang Baduy yang berdinding bilik dari anyaman bambu dan beratap ijuk dari daun kelapa yang sudah dikeringkan itu memiliki paseuk (pasak) yang terbuat dari kayu sebagai penahan gempa.

Kerangka bangunannya pun semuanya kayu dan dismabung dengan tidak menggunakan paku melainkan tambang sehingga elastis memngukuti gerakan atau ayunan gempa.

Menariknya lagi, kawasan Baduy Dalam atau Tangtu yang terdiri atas 3 kampung yakni Cibeo, Cikeusik, dan Cikartawana dengan penduduk hampir 1.000 jiwa, haram dimasuki sejumlah produk modern seperti listrik dan alat-alat eloktronik. Dan urang tangtu percaya kalau menyimpan barang terlarang itu, akan terkena mamala (kutukan).

Untuk memantau benda-benda haram, pada saat-saat tertentu setiap rumah digeledah oleh ‘petugas penertiban’ Baduy yang disebut baresanatas perintah pu’un.


Anda tertarik melihat rumah-rumah tradisional yang tahan gempa sekaligus merasakan tinggal di dalamnya bahkan mengetahui lebih jauh bagaimana proses pembuatnnya? 

Sudah ayunkan langkah ke 6 destinasi wisata yang memiliki rumah-rumah tahan gempa tersebut di atas.

Siapa tahu sepulang dari sana, Anda terinpirasi membuat konstruksi rumah modern dari kearifan lokal rumah-rumah adat tersebut. 

Seperti misalnya dengan menggunakan atap ringan dan dinding tidak menempel pada tiang utama melainkan diberi jarak 2 cm supaya ada ruang fleksibel saat rumah digoyang gempa. 

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis) 
Foto: adji & www.northniastourism.com 

Captions
1. Menyusuri perkampungan Baduy  Dalam (Tangtu), Lebak, Banten
2. Arsitektur khas Rumah Gadang 9 Ruang Koto Baru,Sumbar.
3. Rumah adat Nias Utara (www.northniastourism.com)
4. Rumah orang Baduy Luar (Panamping).

Read more...

Rabu, 11 April 2018

WOW, Indonesia Kini Peringkat Dua Pasar Wisata Muslim Dunia Versi GMTI

Pariwisata halal Indonesia menorehkan prestasi lagi. Berdasarkan Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index (GMTI) 2018, peringkat Indonesia naik ke urutan kedua pasar wisata muslim dunia dari 130 destinasi di negara-negara yang tergabung dalam Organisasi Kerjasama Islam (OKI) dengan nilai 72.8.

Seluruh 130 destinasi di GMTI 2018 dinilai berdasarkan beberapa kriteria, dengan metrik pengukuran baru yang ditambahkan dalam penelitian tahun ini termasuk CrescentRating Growth-Innovation Model.

Metrik tersebut termasuk kriteria-kriteria seperti akses terhadap infrastruktur, bagaimana negara-negara tujuan wisata berkomunikasi dengan target pengunjungnya, serta lingkungan dan pelayanan.

Setiap kriteria kemudian dihitung untuk menentukan keseluruhan skor indeks. Hasilnya Indonesia naik satu peringkat dan berada di posisi yang sama dengan Uni Emirat Arab yaitu di urutan kedua.

Hasil tersebut jelas membuat Menpar Arief Yahya yang hadir dalam acara peluncuran Mastercard-CrescentRating GMTI 2018 di The Galery Room, Hotel Pullman Thamrin, jakarta, Rabu (11/4) terlihat senang tapi mengaku belum puas.

“Harusnya tahun ini Indonesia bisa menduduki peringkat pertama,” ujar Arief Yahya seraya disambut tawa para tamu dan sejumlah awak media.

“Tahun 2019 kita ingin Indonesia menjadi yang teratas. Sejumlah langkah pun tengah digejot, termasuk mengikuti standar yang sudah ditetapkan GMTI secara universal,” ungkap Arief Yahya yang hadir didampingi Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Halal, Riyanto Sofyan.

Division President Indonesia, Malaysia & Brunei MasterCard, Safdar Khan mengatakan Indonesia terus memperkuat posisinya sebagai salah satu destinasi halal utama berkat dukungan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar).

“Mereka (Kemenpar-Red) telah bekerja dengan sangat baik dalam meningkatkan lanskap pariwisata di tanah air, meningkatkan infrastruktur pariwisata, dan mempromosikan kampanye “Wonderful Indonesia” di luar negeri,” ungkap Safdar. 

CEO dari CrescentRating & HalalTrip, Fazal Bahardeen menambahkan upaya-upaya dari destinasi-destinasi seperti Indonesia, Singapura, Jepang, dan Taiwan yang menggunakan data serta wawasan dari laporan GMTI tahun-tahun sebelumnya patut dipuji karena kini mereka makin dekat dengan posisi puncak.

“Kini kami mulai melihat dampak positif dari investasi dan komitmen negara-negara destinasi wisata di seluruh dunia terhadap pasar wisata Muslim, dimana hal ini menghasilkan perubahan peringkat yang signifikan,” terangnya.

Tahun ini, lanjut Fazal pihaknya telah mengubah kriteria penilaian Indeks guna lebih merefleksikan strategi-strategi pertumbuhan yang diimplementasikan oleh negara-negara destinasi wisata untuk menyambut para wisatawan Muslim, yang dapat terlihat dari perubahan positif pada Indeks.

“Kami juga telah meluncurkan ‘CrescentRating Growth & Innovation Model’ guna membantu negara-negara destinasi wisata menggunakan laporan ini secara praktis untuk menyusun strategi inovasi dan pertumbuhan dari segmen wisata yang tumbuh dengan pesat ini,” tambahnya.

Sementara Malaysia dan Singapura tetap berada di posisi puncak. Kedua negeri jiran itu sama-sama bertahan di posisi puncak pada daftar negara-negara OKI dan non-OKI selama delapan tahun berturut-turut.

Singapura juga berhasil mempertahankan posisinya di puncak, diikuti oleh Thailand dan Inggris. Sementara posisi Jepang dan Taiwan meningkat pesat menempati lima destinasi teratas untuk pertama kalinya sejak GMTI diluncurkan.

Malaysia mendapat skor 80,6, diikuti oleh Uni Emirat Arab dan Indonesia dengan skor 72,8. Sebagai perbandingan, Singapura memegang skor tertinggi untuk destinasi negara non-OKI dengan skor 66,2.

Taiwan dan Jepang terus meningkatkan posisi mereka secara keseluruhan dengan skor rata-rata GMTI sebagai destinasi wisata di wilayah Asia yang menarik perhatian wisatawan Muslim dari seluruh dunia, diikuti oleh Eropa.

Studi GMTI 2018, yang diluncurkan secara resmi di Jakarta ini, semakin memperjelas bahwa pasar wisata Muslim akan terus tumbuh dengan pesat dan diperkirakan akan mencapai USD220 miliar pada tahun 2020.

Bahkan pasar ini juga diproyeksikan akan terus tumbuh hingga USD80 miliar dan mencapai USD300 miliar pada tahun 2026.

Pada tahun 2017 jumlah total kedatangan wisatawan Muslim secara global mencapai 131 juta – naik dari 121 juta pada tahun 2016 – dan angka ini diperkirakan akan terus meningkat hingga 156 juta wisatawan di tahun 2020, atau mewakili 10 persen dari dari segmen wisata secara keseluruhan.

Diperkirakan bahwa wilayah ASEAN akan menyambut lebih dari 18 juta wisatawan Muslim pada tahun 2020, atau mewakili hampir 15% dari total wisatawan yang datang ke wilayah tersebut.

Segmen wisata Muslim yang tumbuh dengan pesat ini merupakan sebuah peluang, namun untuk dapat memperoleh manfaatnya, sangat penting untuk memahami kebutuhan dan pilihan dari para wisatawan Muslim, serta bagaimana menciptakan dan menyesuaikan produk serta layanan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

GMTI kini merupakan penyedia data berbasis wawasan terdepan yang membantu negara destinasi wisata, jasa perjalanan, dan investor untuk mengetahui perkembangan kesehatan dan pertumbuhan segmen wisata ini sekaligus membandingkan perkembangan masing-masing individu dalam menjangkau wisatawan Muslim.

“Kami percaya GMTI dapat bermanfaat untuk bisnis dan pemerintah yang ingin mengeksplor segmen yang penting dan terus berkembang ini, dan kami berharap upaya ini dapat terus mendorong wisata Halal,” pungkas Safdar.

Berikut peringkat 10 Detinasi Wisata Halal OKI teratas:
1. Malaysia (80.6)
2. Indonesia (72.8)
2. Uni Emirat Arab masing-masing (72.8)
4. Turki (69.1)
5. Saudi Arabia (68.7)
6. Qatar (66.2)
7. Bahrain (65.9)
8. Oman (65.1)
9. Maroko (61.7)
10. Kuwait (60.5)

Dan berikut peringkat 10 Destinasi Non-OKI teratas:
1. Singapura (66.2)
2. Thailand (56.1)
3. Britania Raya (53.8)
4  Jepang (51.4)
5. Taiwan (49.6)
6. Hong Kong (49.6)
7. Afrika Selatan (47.7)
8.  Jerman (45.7)
9. Perancis (45.2_
10. Australia 44.7

Naskah: adji kurniawan (kembaratopis@yahoo.com, Ig: @adjitropis)
Foto: dok. GMTI 2018

Captions:
1. [Ki-Ka] Riyanto Sofyan, Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal, Kementerian Pariwisata; Fazal Bahardeen, CEO dari CrescentRating dan HalalTrip; Arief Yahya, Menteri Pariwisata Indonesia; Safdar Khan, Division President Indonesia, Malaysia & Brunei, Mastercard; dan Tommy Singgih, Direktur, Mastercard Indonesia berfoto bersama seusai acara Peluncuran Mastercard-CrescentRating Global Muslim Travel Index  (GMTI)2018.​
2. Menpar Arief Yahya mempresentasikan kinerja Indonesia di industri wisata halal dalam Peluncuran Mastercard-CrescentRating GMTI 2018.
3. Fazal Bahardeen, CEO dari CrescentRating dan HalalTrip, memaparkan hasil Mastercard-CrescentRating GMTI 2018.
4. Tommy Singgih, Direktur, Mastercard Indonesia; dan Fazal Bahardeen, CEO dari CrescentRating dan HalalTrip; dalam sesi tanya jawab selama acara Peluncuran Mastercard-CrescentRating GMTI 2018.
5. Safdar Khan, Division President Indonesia, Malaysia, & Brunei Mastercard menyampaikan kata sambutan dalam Peluncuran Mastercard-CrescentRating GMTI 2018.

Read more...

Rabu, 28 Maret 2018

Wow, Indonesia Penampil Terbaik International Folk Festival 2018 di Nepal

Tim kesenian Indonesia menorehkan prestasi tingkat dunia. Di ajang International Folk Festival 2018 yang berlangsung di Kathmandu, Nepal baru-baru ini, Indonesia berhasil menyabet predikat penampil terbaik.

International Folk Festival (IFF) 2018 yang diselenggarakan Everest Nepal Cultural Group (ENCG) tanggal 1 s/d 10 Maret lalu, diikuti 11 negara.

Selain Indonesia, ada tim peserta dari Turki, Israel, India, Estonia, Grecee, Costarica, Italia, Nepal, Bangladesh, dan Malaysia.

“Alhamdulillah tim Indonesia mendapatkan predikat penampil terbaik di IFF 2018 ini,” ungkap M. Nurhayatun Nufus S,Pd kepada Travelplus Indonesia, Selasa (27/3). 

Pemuda asal Kotabumi, Lampung Utara, Provinsi Lampung yang akrab disapa Nufus ini merupakan salah satu tim Indonesia yang mengikuti IFF 2018.

Alumnus program studi Tari FKIP Universitas Lampung (Unila) ini menjelaskan tim Indonesia terdiri atas 11 orang penari termasuk 3 orang koreografernya dari Sanggar Nona Asri Indonesia yang bertempat di Jakarta.

“Di IFF 2018 kami menampilkan suguhan Tari Pelangi Nusantara di antaranya membawakan tari tradisional Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, dan Papua. Di akhir performance, kami menyanyikan lagu Gebyar-Gebyar bersama 11 negara peserta lainnya,” papar Nufus yang menjadi salah satu koreografer dalam tim Indonesia ini.

Tiga koreografer di tim Indonesia, lanjut Nufus selain menari juga memiliki tugas masing masing.

Dia sendiri kebagian menangani tarian dari Indonesia bagian Barat seperti Tarian Minang, Zapin, dan Lancang Kuning, serta ditambah dengan Jaipong Kreasi.

"Tarian Indonesia bagian Tengah seperti Tari Dayak Kalimantan Timur dan Tari Janger Bali ditangani koreografer bernama Serintil. Sedangkan tarian Indonesia bagian Timur yakni tarian perang dari Papua digarap korografer Amanah Asri," ungkap Nufus.

Hasil garapan ketiga penata tari itu, kemudian dipentaskan secara medley sesuai namanya Tari Pelangi Nusantara.

"Masing-masing durasinya selama 30 menit dengan menggunakan iringan musik Mp3," tambahnya.

Lantaran membawakan tarian dari suku adat Indonesia yang berbeda, Nufus dan teman-temannya berkesempatan mengenakan pakaian adat yang juga berbeda-beda setiap harinya.

"Hari pertama saya memakai pakaian adat Makassar, hari-hari berikutnya mengenakan pakaian Lampung, Papua, Minang, Sunda, Dayak, Banjar, NTT, Bali, dan di hari terakhir memakai pakaian Lampung lagi," terangnya.

Lokasi IFF 2018 selama 10 hari, lanjut Nufus berpindah-pindah antara lain di Kota Khatmandu, Dhading, Pokhara, dan Sarangkot.

Usai mengikuti IFF yang ke-9 ini, tim Indonesia dan negara lainnya berkesempatan berkunjung ke Gunung Everest, menikmati pemandangan puncak bersalju.

Sebagai penampil terbaik, sambung Nufus, tim Indonesia mendapatkan plakat penghargaan dan piagam.

Kata pendiri sanggar Nuvus Etnika di Bandar Lampung ini, dia dan seluruh tim Indonesia sudah kembali ke Tanah Air.

“Tanggal 11 Maret pukul 19.00, sehari setelah IFF 2018, kami kembali ke Indonesia membawa kemenangan dan pengalaman berharga yang tak terlupakan,” pungkas Nufus.

Sebelum mengikuti IFF 2018, Sanggar Nona Asri Indonesia pernah tampil di sejumlah event internasional di mancanegara sejak 2014, antara lain Saray Spring & Culture Festival Sarayi-Turki pada Juni 2014, dan SileFolk Festival Treviso-Italia (Juli 2015).

Berikutnya di Catolina Festival Contest Barcelona-Spanyol (Februari 2016), Caravan Fest and Contest Wollin-Polandia (Desember 2016), World Folklore Festival Springville-AS (Agustus 2017), dan Indofest Ottawa-Canada juga bulan Agustus tahun lalu.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo, ig: @adjitropis)
Foto: dok. nufus

Captions:
1. Tim kesenian Indonesia yang diwakili Sanggar Nona Asri Indonesia mendapatkan predikat penampil terbaik di International Folk Festival (IFF) 2018 di Kathmandu, Nepal.
2. M. Nurhayatun Nufus S,Pd  biasa dipanggil  Nufus asal Lampung salah satu koreografer sekaligus penari di tim kesenian Indonesia dalam ajang IFF 2018.
3. Piagam yang diperoleh tim Indonesia di IFF ke-9 ini.
4. Nufus mengenakan pakaian tari perang dari Papua sambil membawa Bendera Merah Putih.
5. Nufus berfoto bersama beberpa tim Indonesia usai tampil di IFF 2018.

Read more...

Kamis, 15 Maret 2018

Wow, Via Vallen Main Ayunan Ekstrim Bawahnya Jurang

Via Vallen (26), pedangdut ter-ngehits di era milenial dua tahun belakangan ini, ternyata berani melakukan aktivitas wisata menantang yang memacu adrenalin.

Buktinya hari ini, penyanyi berwajah cantik, fresh, dan berkulit putih kemerah-merahan ini bermain ayunan ekstrim yang di bawahnya menganga jurang dalam.

Aktivitas menantang itu dilakoni si pelantun lagu berjuta umat berjudul 'Sayang' ini di Roban Rais, Desa Oro-oro Ombo, Kota Batu, Jawa Timur.

Back to nature,” ujar penyanyi bernama asli Maulidia Octavia ini sambil melayang dengan ayunan ekstrim seperti foto yang diunggahnya di akun Instagram (IG)-nya  @viavallen, Kamis (15/3/2018).

Di foto yang disukai 222.525 warga net itu, penyanyi yang memiliki berjuta-juta penggemar yang tergabung dalam komunitas Vyanisty ini, bergaya amat casual.

Dia mengenakan kaos putih lengan pendek, bercelana blue jeans yang robek-robek, dan bersepatu kets berwarna putih.

Rambutnya yang lurus pajang, sehat, dan hitam, seperti biasa dibiarkan jatuh terurai.

Tak ada raut cemas atau takut sama sekali. Justru penyanyi asal Surabaya yang IG-nya diikuti 5,5 juta followers ini terlihat santai sambil tersenyum lebar.

Sejumlah netizen mengomentari foto Via main ayunan ekstrim yang disukai 258.404 warganet.

Pemilik akun @erlangga3557 berujar: “Alon alon nanti kamu jatuh di hatiku”.

Sementara si empunya akun @viaa_05 mewanti-wanti Via: “Awas kak jato”.

Tak jauh dari lokasi ayunan ekstrim, kemudian Via menaiki spot selfie Rumah Pohon lalu duduk santai. “Temane dino iki pokoke doleeeeennnn, ngerefresh otak,” ungkapnya dalam Bahasa Jawa ngapak di bawah foto yang diunggahnya.

Sejumlah pegat medsos mengomentari foto Via yang sudah disukai 48.893 warganet, salah satunya pemilik akun @nanang.child022. “Sendirian muluk neng kayak tiang listrik,” canda Nanang.

Bermain ayunan ekstrim di Coban Rais hari ini boleh dibilang menjadi aktivitas wisata Via paling menantang.

Sebelumnya, seperti terlihat di IG-nya, aktivitas wisatanya yang dilakukan penyanyi yang mendapat berbagai penghargaan antara lain sebagai penyanyi dangdut paling ngetop versi SCTV Award 2017 ini sepertinya biasa-biasa saja, maksudnya tidak begitu memacu adrenalin.

Misalnya sewaktu di Mataram, Via hanya menikmati sebuah taman dan berfoto di salah satu spot selfie berupa sepeda beroda tiga berukuran besar. “Yeayyyy Lombok,” tulisnya di bawah foto yang diunggahnya itu.

Selanjutnya di Kawah Putih, Ciwidey Bandung, penyanyi yang memiliki bisnis kue kekinian berlabel Vallenscake di Solo dan Surabaya ini membuat video sambil berjalan di jembatan kayu di atas danau kawah berair hijau kebiruan. “Masya Allah uindaaaahh buangeeettt,” ungkapnya singkat.

Ketika di Kota Bau Bau, Buton, Sulawesi Tenggara dia hanya bersantai di salah satu pantai. Dia memakai baju hijau dan berkacamata besar.

“Masya Allah pantainya bagus bangeeeetttt. Menyejukkan mata sebelum perform nanti siang di Kotamara,” ujarnya.

Via Vallen memang termasuk artis yang rajin berwisata alam, pantai, dan juga kuliner. Biasanya, kegiatan refreshing itu dilakukannya di sela-sela jadwal ‘ngamen’-nya yang super padat di berbagai daerah di Tanah Air.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: @viavallen

Captions:
1. Via Vallen bermain ayunan ekstrim di Coban Rais, Kota Batu, Jatim.
2. Pelantun lagu super nge-hits berjudul Sayang ini duduk santai di rumah pohon.
3. Duduk di spot selfie sepeda roda tiga di Mataram, Lombok, NTB.
4. Menikmati pemandangan pantai di Bau Bau, Buton, Sulawesi Tenggara.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP