. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label Tiga Malam di Rumah Gadang Sambilan Ruang Koto Baru. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tiga Malam di Rumah Gadang Sambilan Ruang Koto Baru. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 November 2016

Tiga Malam di Rumah Gadang Sambilan Ruang Koto Baru, Amat Berkesan (#1)

Akhirnya kesampaian juga bermalam di rumah tradisional orang Minang, Sumatera Barat (Sumbar) yang disebut Rumah Gadang. Maklum berkali-kali bertugas, berwisata, dan berpetualang di provinsi yang sudah ditetapkan sebagai salah satu destinasi halal di Indonesia ini, belum sekali pun menginap di rumah beratap khas seperti tanduk kerbau atau gonjong itu.

Keinginan itu baru kesampaian baru-baru ini, sewaktu saya berniat mendaki Gunung Marapi selepas menyaksikan acara Pesona Hoyak Tabuik Piaman 2016 di Kota Pariaman dan ber-city tour di Kota Padang.

Rekan sependakian saya Erwandi Saputra, kebetulan bertempat tinggal di Nagari (desa) Koto Baru, Kecamatan X Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumbar. Nagari Koto Baru menjadi titik awal pendakian ke Gunung Marapi maupun Gunung Singgalang.

Erwandi yang biasa disapa Bojex mengajak saya dan Ikha Patriana, mahasiswi semester 7 Sekolah Tinggi Keguruan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Padang yang berasal dari Pulau Sikakap, Kepulauan Mentawai, mampir ke rumahnya untuk mengemas barang (packing), setelah membeli bermacam logistik (bekal makanan dan minuman) selama pendakian di salah satu toko sembako di Pasar Koto Baru.

Rumah Bojex berada di belakang pasar yang ramai setiap Senin dan Selasa (hari pasar) hingga membuat jalan lintas wisata dan niaga antara Kota Padang Panjang dengan Kota Bukittinggi itu kerap macet.

Kami pun berjalan kaki ke rumahnya yang berjarak sekitar 200 meter dari pasar tersebut. Alangkah kagetnya saya, ketika melihat rumah yang ditinggali Bojex, yang tak lain, tak bukan Rumah Gadang.

“Ini rumahmu?” tanyaku yang terkagum-kagum dalam hati melihat rumah itu untuk kali pertama.

“Iya Bang. Ini Rumah Gadang tua tipe Sambilan Ruang,” jawab pria asli Koto Baru lulusan Institut Teknologi Padang (ITP) jurusan Teknik Elektro.

Bojex pun mempersilahkan saya dan Ikha masuk. “Ayo bang masuk ke dalam. Saya di sini tinggal sama ibu namanya Animar, bibi biasa dipanggil Upik, dan abang saya Erwin Saputra biasa dipanggil Uda Win. Ayah sudah meninggal dunia, kalau adik perempuan saya Ervina Eka Putri bekerja dan nge-kos di Kota Padang,” terangnya.

“Iya sebentar ya, saya mau motret rumahmu dulu dari luar,” balasku. Sebelum memotret, saya pun melihat-lihat rumah berukuran besar dan panjang itu dari luar dengan penuh seksama.

Saya yakin Bojex tidak tahu, bahwa saya selain senang berpetulang dan mendaki gunung serta interest dengan hal-hal berbau seni-budaya sejak lama, juga meminati bangunan tua, unik, dan atau bersejarah termasuk bangunan tradisional yang masih orsinil maupun yang sudah direnovasi namun masih mengedepankan arsitektur aslinya. Apalagi kalau bisa merasakan tinggal di dalam bangunan itu dengan penghuni/pemiliknya ataupun keturunan/saudara pemiliknya serta mengikuti aktivitas kesehariannya.

Atap Rumah Gadang ini sama seperti yang lainnya, meliuk terbuat dari seng (dulunya dari ijuk) dengan tiga liukan dan 4 puncak liukan berbentuk ujung seperti tombak. Liukan utama berada paling atas, utuh liukannya sedangkan dua liukan lagi berada di kiri dan kanan liukan utama dan hanya setengah liukan bentuknya.

Dinding rumahnya dari kayu dengan 9 jendela di bagian samping dinding rumah. Sementara di bagian belakang ada satu jendela dan bagian depan juga satu jendela yang terbuat juga dari kayu. Sedangkan pondasinya dari batu setinggi sekitar 1 meter.

Warna atap sengnya sebagian besar sudah kecoklatan karena berkarat. Sedangkan dindingnya bercat putih dengan pinggiran diberi warna coklat. Terkesan sederhana namun anggun. Jujur saya tak jenuh memandangnya. Seolah rumah itu punya magnet, daya pikat tersendiri.

Puas melihat bagian luar, kemudian saya memasuki rumah yang pintunya berada di bagian samping. Unik juga, rumah se-gadang (se-besar) ini pintu masuknya cuma satu.

Sebelum sampai di pintu masuk, saya melewati sepetak kebun yang ditanami tanaman strawberry dalam kemasan plastik hitam. Beberapa tanamannya terlihat ada buahnya berwarna merah marun. Ikha tergoda lalu memetiknya.

Di samping kebun strawberry ada rumah kecil berbentuk pondok juga beratap seng dan berdinding bilahan bambu. “Ini dapur buat masak bang,” ujar Bojex.

Setiba di dalam Rumah Gadang ini, saya sempat kaget. Ruangannya besar berbentuk empat persegi panjang dengan 9 tiang kayu utama dan alas yang terbuat dari papan kayu bercampur bilahan bambu.

Melihat besar ruangannya, saya jadi teringat sewaktu melongok  Lamin, rumah tradisional orang Dayak di pedalaman Kalimantan beberapa tahun lalu.

Kesan lapang di dalam Rumah Gadang ini semakin kuat, lantaran pemiliknya sengaja tidak menempatkan banyak perabotan.

Sama sekali tidak ada bangku dan kursi. Jadi tuan rumah dan tamu duduk lesehan. Hemmm.. menyenangkan, terasa lebih akrab. Perabot yang terlihat hanya TV di atas rak, kulkas, lemari kecil, dan beberapa kasur, bantal, guling, dan beberapa lapis selimut serta sajadah di atas lapisan karpet.

Empat jendela dibiarkan terbuka. Bias-bias sinar matahari leluasa menyusup masuk ke ruangan lewat jendela yang terbuka itu, sehingga menghadirkan pencahayaan alami yang artistik. Tangan ini pun 'gatal' lalu memotretnya berkali-kali.

Dari jendela itu, terlihat anak-anak sedang bermain sepak bola plastik di samping rumah. Sebenarnya di samping rumah ini bukan lapangan bola melainkan lahan tanah yang digunakan sebagai jalan oleh warga dari dan ke ladang, mushola (surau), dan kamar mandi (pincuran).

Bagian dalamnya sudah tak ber-eternit, tak berlangit-langit, sehingga kerangka kayu atapnya terlihat jelas sampai dengan atap dengan bagian dalamnya. Berkas cahaya pun masuk dari sela-sela dan beberapa lobang atap yang bocor.

Jelang sore itu, Rumah Bagonjong (sebutan lain Rumah Gadang) ini tidak ada satu pun penghuninya. Ibu, bibi, dan abangnya Bojex masih di ladang dan sawah. Kami pun berkemas, memasukkan dan menata perlengkapan pendakian dan logistik ke ransel masing-masing.

Tak lama kemudian Animar (60), ibunya Bojex datang. Kami bersalaman dan memperkenalkan diri. Animar kurang fasih berbahasa Indonesia. “Ibu pandainya Bahasa Minang karena setiap hari berbahasa Minang,” jelas Bojex.

Meskipun sudah jelang uzur, Animar nampak masih bugar dan gagah seperti kebanyakan ibu-ibu yang tinggal di dusun pegunungan.

Kondisinya itu bisa jadi karena setiap hari dia aktif bekerja ke sawah, menghirup udara segar yang tak berpolusi sehingga staminanya terlatih menjadi lebih kuat dibanding kaum ibu sebayanya yang tinggal di kota-kota besar.

Usai selesai packing kami pun bergegas meninggalkan Rumah Gadang Sambilan Ruang. “Nanti pulang dari Marapi, istirahat dan tidur di sini saja,” kata Animar dengan dialek Minang yang kental.

Mendengar itu, jelas saya gembira karena jujur saya ingin merasakan sendiri seperti apa tinggal di Rumah Gadang asli ini. 

Ba'da Ashar, kami pun mendaki Marapi dan bermalam di gunung paling populer dikalangan pendaki se-Sumbar bahkan Riau (terutama Pekan Baru), dan juga Jambi itu selama 3 hari 2 malam dengan mendirikan Tenda Dome di 2 pos berbeda.

Sepulang turun dari Marapi kami kembali ke rumah Bojex, jelang Maghrib. Di sana sudah ada Animar dan Upik, bibinya-Bojex. Keduanya kemudian memasak di dapur untuk santap malam kami.

Saya dan Ikha minta diantar Bojex ke pincuran. Ternyata pincuran di dusun ini berada di luar rumah dan digunakan untuk ramai-ramai atau dengan kata lain milik bersama warga dusun.

Pincuran yang berada sekitar 50 meter dari Rumah Gadang ini berbentuk dua kamar cukup besar dan beratap semen. Bagian perempuan dan laki-laki terpisah tentunya.

Dalam ruang kamar mandi laki-laki ada satu kolam atau bak air besar dengan 2 gayung plastik, beberapa paku di dinding sebagai gantungan baju dan celana serta sebuah lampu bohlam listrik sebagai penerang.

Rencana awal saya mau mandi, tapi sewaktu menyentuh air kolamnya amat dingin, jadi urung. Jadi cukup cuci muka, gosok gigi, dan bersih-bersih bagian tertentu alias mandi koboy lalu ber-wudhu untuk Shalat Maghrib.

Di depan pincuran  ini terdapat kolam ikan (tabek- dalam Bahasa Minang). Kalau orang Betawi bilangnya empang sedangkan orang Sunda menyebutnya balong.

Tabek-nya bukan cuma satu tapi banyak hingga ke bagian bawah dekat ladang. Isinya bermacam ikan tawar antara lain ikan mas, mujair, dan nila.

Di seberang tabek ada mushola, namanya Surau Darek. Semula saya berniat Shalat Maghrib berjamaah di surau itu tapi karena sudah ketinggalan, saya memutuskan maghriban di Rumah Gadang saja.

Sebelang Isya kami makan bersama. Menunya dadar telur, mie goreng, ikan asin sambalado dicampur kentang, dan tumis kol (lobak) yang dicampur wortel dan buncis serta nasi putih hangat. Alamaaaak lamaaaak bana (enaaaak bingits, kata anak gaol sekarang).

Sambil makan, Animar menjelaskan kalau Rumah Baanjuang (sebutan lain Rumah Gadang) ini berdiri sejak tahun 1950. Di sekitar rumah ini terdapat beberapa rumah juga berarsitektur tua dan cukup unik, sepintas seperti rumah orang Belanda tempo doeloe.

Menurut Bojex, warga yang menempati sekitar Rumah Gadang ini dari Suku Pisang. “Sebenarnya di Koto Baru ada 3 Rumah Gadang, cuma yang dua sudah hancur termakan usia. Jadi tinggal Rumah Gadang ini, satu-satunya yang tersisa di Koto Baru,” terangnya.

Sejam selepas makan dan Shalat Isya, kantuk mulai menyerang. Tak lama kemudian beberapa rekan pertualang Bojex datang. Kami berkenalan dan sempat ngobrol.

Bojex dan rekan-rekannya mengajak saya dan Ikha nonton film sosialisasi di Pos Marapi. Lantaran lelah dan ngantuk saya dan Ikha lebih memilih tidur.

Ikha tidur beralas kasur di samping Animar. Sementara tempat saya tidur agak berjauhan beralas kasur tipis. Mungkin karena letih usai mendaki, saya langsung tertidur pulas, begitupun Ikha.

Jelang tengah malam saya terbangun karena kedatangan Bojex dan teman-temannya. Bojex langsung tidur, mungkin sudah kantuk berat.

Tak lama kemudian Uda Win, abangnya Bojex datang. Dia juga tidak tidur di kamar. Padahal ada 9 kamar atau ruang di rumah itu. Hanya Upik, bibinya Bojex yang tidur di salah satu kamar.

Biasanya Upik juga tidur di ruang dalam rumah ini bersama Animar jika sedang tak ada tamu. Sebelum tidur, keduanya sama-sama menyukai nonton sinetron Indonesia dan India.

Tidur di rumah gadang untuk kali pertama, menawarkan sensasi sendiri. Angin dingin dari Gunung Singgalang dan Gunung Marapi bertiup cukup kencang menerpa rumah ini. Maklum karena rumah ini berada di lembah di antara dua gunung yang masih aktif tersebut.

Bulan-bulan seperti ini angin memang lebih kencang dari biasanya sampai atap rumah ini berderik-derik seperti ingin lepas dan terbang dibawa angin. Untungnya tidak apa-apa dan aman-aman saja.

Paginya selepas Shalat Subuh, gerimis turun. Dari dalam Rumah Gadang pengeras suara dari Surau Darek terdengar orang-orang sedang menggelar semacam majelis taklim. Uniknya pesertanya bukan orang dewasa melainkan anak-anak.

Ternayata di surau tersebut saban Ahad, ba’da Shalat Subuh berjamaah, digelar acara agama bertajuk Didikan Subuh khusus anak-anak kecil baik laki-laki maupun perempuan yang dikemas seperti majelis taklim orang dewasa.

Ada MC-nya yang berbahasa Indonesia sebagai pengantar, lalu ada beberapa jamaah yang masing-masing kebagian tugas membaca doa buat ibu bapak, shalawat, melantunkan zikir, membaca rukun iman, rukun Islam, dan lainnya, kemudian ditutup dengan ceramah oleh ustad dalam Bahasa Minang. Biasanya selesai sekitar pukul 7 pagi.

Mendengar suara anak-anak di surau itu melantunkan rangkaian doa, entah kenapa suasana prinsip adat Minangkabau yang tertuang dalam pernyataan Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah (adat bersendikan hukum, hukum bersendikan Al-Qur’an) yang berarti adat berlandaskan ajaran Islam, terasa hadir di kalbu saya.

Apalagi saya mendengarkannya dari dalam Rumah Gadang yang berjarak sekitar 75 meter dari surau tersebut, atmosfir prinsip adat itu terasa masih begitu kuat.

Hujan masih rintik-rintik, saya kebelet ingin ke toilet untuk buang air besar (BAB). Setelah dikasih tahu Bojex, ternyata toiletnya juga berada di luar rumah, tepatnya di atas sejumlah tabek. Orang sana menyebut toilet cemplung itu dengan sebutan tandai.

Bentuk tandai berupa bilik dari tembok semen yang terbuka atau tak beratap. Jadi kalau hujan ya kehujanan. Untungnya saya bawa payung. Di dalam bilik terdapat aliran air dan lubang WC yang langsung jatuh ke dalam tabek.

Sepintas, tandai mirip dengan jamban cemplung di atas balong ataupun kali (sungai) di daerah Jawa Barat. Cuma ini lebih tertata dan rapih.

Menariknya lagi, pemandangannya pun luar biasa menawan.

Sambil BAB dan berpayung di tengah rintik-rintik hujan, saya bisa melihat ladang milik penduduk yang ditanami aneka sayuran seperti lobak, wortel, bawang, cabe (lado), terong, dan lainnya serta petak-petak sawah yang menghijau bak hamparan permadani.

Apalagi berlatar belakang Gunung Marapi yang puncaknya  diselimuti awan putih di sebelah kiri. Sementara di kanan nampak Gunung Singgalang yang atapnya juga tertutup kabut.

Alhasil pagi itu BAB-ku jadi sensasional.., so romantic berteman pemandangan alam pegunungan yang rancaaaak banaaa… (indaaah sekaliii…)

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

Read more...

Tiga Malam di Rumah Gadang Sambilan Ruang Koto Baru, Amat Berkesan (#2)

Mandi di Pincuran Gadang, wisata kuliner Bika Si Mariana, melihat suasana hari pasar, jalan-jalan ke Bukittinggi, dan dijamu santap malam di Kota Padang Panjang serta 'berkantor' di rumah tradisional Suku Pisang-Minang, mewarnai hari-hari saya selama 4 hari 3 malam di Rumah Gadang Sambilan Ruang Nagari Koto Baru, Sumbar.

Di hari kedua, selepas sarapan bersama dengan menu Katupe Sayua Paku, Bakwan, dan Empiang, saya diajak Bojex mandi di Pincuran Gadang, sebuah pancuran air alami di kaki Gunung Marapi. Sementara Ikha menemani Bundo Animar berbenah.

Dari seberang Pasar Koto Baru, kami naik angkot menuju Pincuran Alami yang masih berada di wilayah Nagari Koto Baru. Lokasinya tak jauh, sebelum Polsek X Koto sekitar 1,5 Km dari Pasar Koto Baru.

Pincuran Gadang yang dimaksud Bojex berada di dekat pasar hewan yang buka seminggu sekali dan dekat beberapa rumah penduduk.

Turun dari angkot kami langsung menuju pincuran tersebut dengan berjalan kaki. Tak sampai 5 menit, kami tiba di Pincuran Gadang yang berada di balik surau kecil bernama Mushola Cubadak Gadang.

Pincurannya berbentuk beberapa bilik bertembok yang tak beratap dan satu bilik yang beratap seng. Masing-masing bilik ada beberapa pancuran air alami yang airnya dialirkan lewat pipa-pipa besi bermacam ukuran. Paling besar dan deras airnya di bilik utama yang tak beratap dan berukuran besar.

Bojex mandi di bilik utama, sementara saya di bilik yang beratap sengan dengan tiga buah pancuran berukuran sedang.

Airnya dingin, maklum bersumber dari balik aneka pepohonan besar dan rindang yang masih berada di bagian dari kaki Gunung Marapi.

Selesai mandi sambil dipijat air Pincuran Gadang, Bojex mengajak saya ke tempat penjual oleh-oleh khas Koto Baru.

Dari Pincuran Gadang kami berjalan kaki sekitar 150 meter melewati seberang Polsek X Koto sampai di plang putih dengan tulisan berwarna merah dan hitam bertuliskan Pondok Bika Si Mariana Koto Baru, berikut tanda panah.

Di seberang plang itulah Pondok Bika tersebut berada. Pondoknya berupa deretan rumah bercat hijau bertulisan Pusat Oleh-Oleh Khas Koto Baru, Bika Si Mariana lengkap dengan No HP pemiliknya dengan latar belakang Gunung Singgalang, kalau di lihat dari seberang.

Di sana kami bukan cuma menikmati Bika dan minum Teh Telur juga melihat proses pembuatan Bika yang sekarang sudah menggunakan oven. Sebelumnya diolah seperti memasak Surabi, menggunakan tungku terbuat dari keramik.

Saya sempat bertemu dan berbincang dengan Boy, pemilik Bika Si Mariana yang sampai saat ini belum berencana membuka cabang satu pun dan di manapun.

Khusus Bika ini, saya kupas lebih jauh dalam tulisan tersendiri berjudul: Nikmati Bika Si Mariana Berlatar Gunung Marapi, Bikin Perjalanan Wisata Sempurna.

Lepas menikmati Bika, kami balik ke Rumah Gadang. Wajah Ikha cemberut, katanya kami lama sekali mandinya.

Lepas makan siang, kami beranjak ke Kota Bukittinggi naik angkot. Dari Rumah Gadang kediaman Bojex, kami melewati depan lahan bekas dua Rumah Gadang lainnya di Koto Baru yang sudah tak tersisa sedikitpun bangunannya.

Hanya ada seekor kerbau yang asyik merumput, berlatar Gunung Singgalang. Sedangkan di seberang jalan lahan itu, tengah dibangun rumah tingkat moderen, besar, dan nampaknya megah. Menurut Bojex itu rumah perantau Koto Baru yang sukses.

Angkot yang kami tumpangi, lagi-lagi sopirnya masih remaja. Entah kenapa beberapa kali naik angkot, sopirnya rata-rata pria masih muda belia.

Pasar Koto Baru ke Bukittinggi berjarak sekitar 20 Km atau 30 menit, ongkosnya Rp 5 ribu per orang.

Di kota ber-Jam Gadang itu, kami melewati Patung Pahlawan Imam Bonjol dan Monumen Polisi Wanita.

Setibanya di kota wisata berhawa sejuk itu, kami jalan-jalan ke Tembok Raksasa China ala Bukittinggi yang diberi nama Janjang Koto Gadang atau istilah kerennya The Great Wall of Koto Gadang yang berdiri sejak tahun 2013.

Selanjutnya kami ke Taman Ngarai Maaram, Bukit Apit, masih di Bukittinggi. Lalu kami mengantarkan Ikha ke Jalan Taluak, Simpang Jambu Air untuk mencari mobil umum ke Kota Padang.

Selepas mendapatkan mobil umum Tranex buat Ikha, saya dan Bojex melanjutkan perjalanan ke Dangau Kawa, sebuah tempat nongkrong muda-mudi yang ramai peminatnya terlebih sore dan malam hari.

Dangau Kawa yang berada di Jalan Raya Bukittinggi-Payakumbuh KM 6, Biaro ini jadi tersohor karena menyajikan minuman dan makanan kecil murah meriah tapi unik.

Tempat minum kopinya spesial, terbuat dari bambu dan tempurung kelapa. Sementara camilannya hanya berupa gorengan bakwan, pisang, tahu, tempe, dan bika.

Kelebihan lainnya, letaknya strategis di tepi jalan raya dengan hamparan persawahan di sampingnya dan berlatar belakang Gunung Singgalang.

Di kedai dengan menyediakan kursi dan bale-bale untuk lesehan, saya sempat bercanda dengan Caca (4,5 thn), pendaki cilik perempuan asal Payahkumbuh yang sudah mendaki Gunung Marapi sebanyak 3 kali, Singgalang 1,5 kali, dan Gunung Talang 1 kali sejak dia berusia 3 tahun bersama ayah dan bundanya yang juga sama-sama pendaki.

Saat ditanya apakah Caca mau mendaki gunung lagi? Bocah perempuan yang cerdas dan berani ini menjawab iya. Dia pun ingin mendaki gunung-gunung di Pulau Jawa suatu saat nanti.

Tak terasa hampir 3 jam kami di sana. Untungnya saya sempat Shalat Ashar dan Maghrib di mushola kecil yang disediakan kedai ini. Semakin malam, pengunjung kedai kopi yang letaknya berseberangan dengan lokasi Wisata Kuliner & Restaurant Pondok Baselo yang mewah ini pun semakin ramai.

Angkot dan bis rupanya sudah tidak ada. Hampir 1,5 jam kami menunggu. Akhirnya dapat mobil travel yang menuju Kota Padang. Kami turun di Pasar Koto Baru dengan tarif Rp 20 ribu per orang.

Setibanya di Rumah Gadang, saya langsung Shalat Isya. Sementara Bojex menyiapkan bahan-bahan untuk membuat roti goreng yang akan dijual besok di Pasar Koto Baru.

Maklum Senin dan Selasa merupakan hari pasar. Biasanya seluruh petani dari berbagai dusun, datang ke pasar ini untuk menjual seluruh hasil panen, termasuk sejumlah pedagang makanan dan minuman.

Keesokan paginya selepas sarapan dengan roti goreng isi selai kelapa buatan Bojex dan Bundo Animar yang mantap rasonyo, saya mulai ‘ngantor’ di dalam Rumah Gadang mengetik tulisan ini. Sementara Bojex menemani Upik-nya berjualan roti goreng di pasar.

Tulisan panjang dalam dua sesi ini hampir rampung sampai masuk waktu zuhur. Usai Shalat Zuhur saya menyusul Bojex ke pasar. Alamak pasar ramai sekali dari biasanya. Kesempatan itu tidak saya sia-siakan untuk memotret suasana pasar yang meluas hingga mendekati Masjid Raya Koto Baru yang berjarak sekitar 100 meter dari pasar.

Usai makan siang di sebuah rumah makan bermenu masakan khas Minang di Simpang Marapi, saya dan Bojex bergegas ke Bukittinggi lagi.

Kami mampir ke sekretariat penggiat alam Himalaya Outdoor Activities di Jalan Dr. A. Rivai No 17A, tak jauh dari Taman Ngarai Maaram. Di sana kami bertemu Ari, salah seorang pendaki. Dengan sepeda motor, saya diantar Ari membeli tiket bis buat pulang ke Jakarta esok hari.

Setelah mendapatkan tiket bis seharga Rp 400 ribu tujuan Kalideres Jakarta di kantor bis NPM, saya diajak melihat arana pacuan kuda, lalu membeli oleh-oleh di aneka keripik Sanjay di Toko Sanjai Uni Yet, Jalan Mr. Asa’at No.24, Inkorba.

Serta menyempatkan mampir ke Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta di Jalan Soekarno-Hatta No.37. (Terimakasih Ari atas bantuannya).

Malamnya, kami berempat dengan dua sepeda motor menuju Kota Padang Panjang ke rumah Syarif Anwar yang biasa disapa Arif.

Arif itu teman pendaki baru saya saat bertemu di Merpati, puncak tertinggi Gunung Marapi. Arif sendiri asli dari Padang Panjang yang kini berwiraswata dan menetap di Ciledug, Jakarta.

Di rumah pria yang pernah bekerja sebagai pramugara di maskapai penerbangan Batavia Air dan Air Asia ini, kami bertemu kedua orangtuanya. Ibunya Arif bernama Yusniati sedangkan ayahnya Edy Syam.

Kami pun disuguhkan makan malam dengan menu masakan Minang khas Padang Panjang yang serba lamak bana (enak sekali), antara lain Sambalado Mudo Jariang, Gulai Pangek, dan Tumis Lobak. Sebagai hidangan penutup, kami pun ditawarkan Bubur Kampiyun. Alhamdulillah.., nikmatnya.

Kami sempat berbincang-bincang santai dengan orang tua Arif. Ayahnya bercerita bahwa semasa bujang sudah merantau ke Tanah Abang, Jakarta sekitar tahun 70-an.

Sebenarnya kami masih ingin mendengarkan cerita masa lalu ayah Arif yang menarik namun malam kian larut. Kami pamit pulang. (Terimaksih Arif atas jamuan makan malamnya, keramahan, dan kehangatan keluarganya).

Malam itu menjadi malam terakhir saya di Rumah Gadang Sambilan Ruang. Usai Shalat Isya saya packing barang-barang lalu tidur dalam balutan dingin khas lembah Koto Baru. Sementara Bojex kembali membuat adonan roti goreng.

Esok paginya, saya kembali “ngantor” meneruskan tulisan ini. Setelah selesai, saya pamit kepada Bundo Animar sekaligus berucap terimakasih karena telah mengijinkan saya merasakan tinggal di Rumah Gadang-nya.

Di Simpang Marapi seberang Bank BRI, saya dan Bojex menunggu Bis NPM sambal ngopi kopi sachet-an. Hampir 1 jam kami menunggu bis belum juga nampak. Bojex menelepon kantor NPM. Kata orang di salah satu perusahaan bis tua di Sumbar itu, bisnya sedang menuju Koto Baru. Pukul 10 bis tersebut datang.

Usai pamitan dengan Bojex dan mengucapkan terimakasih karena sudah menemani saya mendaki Gunung Marapi dan berbagai objek wisata lain, saya pun langsung naik bis.

Sampai tulisan ini benar-benar rampung dan saya publish ke Travelplusindonesia ini, kenangan bermalam di Rumah Gadang Sambilan Ruang Koto Baru masih terbayang-bayang.

Lewat tulisan yang meramu semua kesan indah dan tak terlupakan selama tinggal di Rumah Gadang Koto Baru ini, saya pun berharap ada sejumlah pihak terkait yang sepenuh hati peduli dengan keberadaan Rumah Gadang satu-satunya yang tersisa di Koto Baru agar tetap bertahan dari putaran zaman.

Tentunya juga dibutuhkan sinergi tiga pilar dalam masyarakat Minangkabau yang selama ini membangun dan menjaga keutuhan budaya serta adat istiadat, yaitu alim ulama, cerdik pandai, dan ninik mamak, yang dikenal dengan istilah Tungku Tigo Sajarangan. Mengingat semua urusan masyarakat, termasuk keberadaan dan keberlangsungan  Rumah Gadang ini bisa dimusyawarahkan/dicari jalan keluarnya oleh ketiga unsur itu secara mufakat dan bijak.

Dari sisi wisata, andai saja Rumah Gadang tua ini direnovasi dengan tetap mempertahankan arsitektur aslinya, pasti akan manambah daya tarik Koto Baru selain pasar tradisionalnya, Pincuran Gadang, Pondok Bika Si Mariana, dan lainnya termasuk sebagai lokasi titik awal pendakian Gunung Marapi dan Singgalang.

Jika rumah tradisional orang Minangkabau (biasa disingkat Minang) yang sudah menasional bahkan mendunia ini ditata dan dikelola dengan baik, lalu dikombinasikan dengan suguhan kehidupan keseharian penghuni dan warga sekitarnya, serta ditambah dengan lawatan ke objek wisata lain, suatu saat akan menjadi objek wisata budaya yang potensial menarik kunjungan wisatawan, baik lokal, nusantara maupun mancanegara (wisman).

Kenapa amat potensial? Karena alasan terbanyak wisman datang ke Indonesia selama ini 60 % itu untuk melihat budaya (cultural). Alasan berikutnya alam (nature) sebesar 35 %, baru kemudian wisata buatan manusia (man-made tourism) yang hanya 5 %.

Andaipun tidak menjaring wisman, minimal Rumah Gadang Sambilan Ruang di Koto Baru ini tetap kokoh berdiri, bertahan hingga puluhan bahkan ratusan tahun kemudian.

Sebab keberadaannya bukan sekadar sebagai aspek utama identitas warga Koto Baru, khususnya Suku Pisang, pun sebagai jatidiri dan kebanggaan seluruh Urang Awak (sebutan lain orang Minang), baik yang menetap di dalam maupun luar negeri.

Bahkan buat seluruh bangsa Indonesia, baik itu untuk generasi tua, anak-anak masa kini maupun generasi masa depan, yang dapat dimanfaatkan sebagai wahana ilmu pengetahuan (arsitektur, sosial, agama Islam, sistem matrilineal, dll), pendidikan sejarah, penanaman cinta budaya, cinta Tanah Air, dan sebagainya.

Andai suatu saat saya datang lagi ke sini, saya masih ingin melihat Rumah Gadang Sambilan Ruang di Koto Baru ini tetap berdiri anggun hingga kembali membuahkan kagum.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP