. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label petualangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label petualangan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juli 2011

Gunung-Gunung Aktif Menggeliat ”Menyambut” Ramadhan


Jelang Ramadhan tahun ini, sejumlah gunung aktif di Indonesia menggeliat seakan ikut menyambut datangnya bulan suci dengan aktivitas vulkanisnya. Ada yang sudah meletus berkali-kali sehingga berstatus Awas. Tak sedikit yang masih mengeluarkan letusan-letusan kecil dengan status Waspada hingga Siaga. Gunung apa saja?

Awal Juli 2011, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat ada belasan gunung api berstatus di atas normal.

Tigabelas gunung berstatus Waspada yakni Gunung Sinabung di Karo, Sumatera Utara, Gunung Talang di Solok (Sumatera Barat), Gunung Anak Krakatau (Lampung), Gunung Papandayan (Garut), Gunung Slamet di Tegal (Jawa Tengah), Gunung Dieng di Wonosobo (Jawa Tengah), Gunung Semeru di Lumajang (Jawa Timur), Gunung Merapi (Yogyakarta) Gunung Bromo (Jawa Timur), dan 3 gunung di Sulawesi Utara yakni Gunung Karangetang, Gunung Soputan, dan Gunung Lokon serta 2 gunung berstatus siaga di Provinsi Maluku Utara (Malut) yakni Gunung Gamkonora dan Gunun Ibu.

Dan menjelang Ramadhan ini, fenomena keaktivan gunung-gunung tersebut menarik ditelusuri. Diawali dengan Gunung Semeru yang aktivitas vulkanisnya meningkat 17 Juni 2011 lalu. Berdasarkan pengamatan dari Pos Gunung Sawur, Candipuro, Lumajang, hari itu gunung tertinggi di Pulau Jawa ini mengeluarkan asap berwarna cokelat dengan ketinggian antara 300 sampai 600 meter per 30 menit.

Lalu pada 3 Juli 2011 Gunung Soputan meletus, menyusul Gunung Lokon yang sejak 15-18 Juli 2011 sudah meletus beberapa kali.

Dan 19 Juli 2011 Gunung berapi Ibu dan Gamkonora di Kecamatan Ibu, Kabupaten Halmahera Barat, Malut, dinaikkan statusnya dari Waspada ke Siaga seiring meningkatnya aktivitas vulkanisnya.

Dari rekaman alat seismograf Pos Gunung Gamkonora, kedua gunung tersebut mengalami letusan kecil dalam sehari mencapai seratus kali. Atas dasar itu, status gunung Gamkonora dinaikkan menjadi siaga level II dan Gunung Ibu siaga level III.

Gunung Gamkonora yang merupakan atapnya Pulau Halmahera, pernah meletus hebat tahun 1673 disusul tsunami dan membentuk kawah yang memanjang dari Utara ke Selatan. Dan terakhir meletus 10 Juli 2007 lalu.

Kepala PVMBG Surono menghimbau masyarakat di sekitar gunung-gunung berstatus di atas normal tersebut agar tetap menjaga kewaspadaan dan tidak panik.

Akankah gunung-gunung itu kembali menggeliat saat Ramadhan? Atau berhenti sejenak ikut ‘puasa’ lalu erupsi lagi pascaramadhan? Kedua kemungkinan itu bisa saja terjadi mengingat statusnya masih di atas normal.

Yang terpenting, apapun kondisinya keberadaan gunung-gunung tersebut merupakan anugerah luar biasa antara lain sebagai daya tarik wisata yang dapat menjaring wisatawan minat khusus. Dan yang lebih penting lagi apapun status gunung-gunung tersebut, puasa Ramadhan tetap wajib dijalankan bagi muslim di manapun berada.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 24 Februari 2011

Sumatera Tujuan Pertama Indonesia Exploride


Pulau Sumatera menjadi tujuan pertama perjalanan Indonesia Exploride yang digelar Djarum Apresiasi Budaya. Perjalanan sudah dimulai sejak Minggu (20/02/2011) dari Grand Indonesia, Jakarta melalui jalur darat dan laut. Dan akan berakhir pada minggu pertama April 2011.

Selama di Sumatera tim Indonesia Exploride yang terdiri atas motorbiker Wulung Damardoto dengan fotografer Aditya Birawa serta 4 orang yang memvisualkan kegiatan mereka akan menjelajahi 51 titik lokasi tujauan wisata, antara lain Way Kambas-Lampung, Bangka-Belitung, Pekanbaru, Siantar, Samosir-Toba, Gunung Sibanyak, Taman Nasional Gunung Leuser, Kepulauan Sabang, Pantai Sorake, Bukit Tinggi, dan lainnya.

Dengan program ini, Ungki sapaan akrab Wulung Damardoto ingin menjadikan Indonesia sebagai taman bermainnya para bikers. “Program ini tidak akan stop sampai disini. Bulan Juli nanti paket-paket wisata hasil kegiatan ini akan dipasarkan terutama paket di Pulau Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan”, jelasnya seraya menambahkan Indonesia satu-satunya negara yang belum mempunyai motorcycle tour atau promosi wisata lewat paket tour motor, kalah dengan dengan Kamboja dan Vietman yang sudah punya padahal luas daerahnya lebih kecil dibanding Indonesia yang memiliki belasan ribu lebih pulau.

Untuk penjelajahan di Sumatera, sejumlah artis terkenal ikut berpartisipasi dalam kegiatan ini. Masing-masing artis rencananya akan menemani dan mengajak tim ini mengenal lebih dekat budaya dan keindahan alam daerahnya.

Aktris Cut Mini misalnya berjanji akan menemani Ungki bersama timnya mencicipi hidangan kuliner khas Aceh seperti Ayam Tangkap dan Mie Aceh saat tim Indonesia Explride datang ke Banda Aceh pada 22 Maret 2011.

“Nanti di Banda Aceh saya janjian ketemuan dengan Mas Ungki dan timnya. Saya akan ajak ke kedai kopi Ulee Kareng untuk ngopi terus juga cari menu ayam tangkap khas Aceh” jelas Cut Mini yang mengaku bangga berpartisipasi dalam program ini karena idenya belum diambil oleh orang luar melainkan dari orang kita sendiri dan hasilnya nanti dapat dinikmati anak-anak sehingga kelak mereka tahu keberagaman budaya dan keindahan alam Indonesia sampai tua.

Sebelumnya di Palembang pada tanggal 23 Februari 2011, tim Indonesia Exploride akan diajak artis Jessica Iskandar melihat lebih dekat budaya setempat antara lain tari Gending Sriwijaya dan proses pembuatan pempek Palembang yang tersohor. Selanjutnya tanggal 28 Maret 2011, giliran Nadine Chandrawinata yang akan mengajak Ungki menikmati keindahan alam Nias dengan berselancar.

Artis lainnya yang juga dipastikan akan mendampingi tim ini saat menjelajahi daerah-daerah lain di Sumatera antara lain Sandra Dewi yang akan menemani tim ini di Bangka pada 26 Februari 2011, Atiqah Hasiholan di Pekan Baru pada 10 Maret 2011, Artika Sari Devi di Batam pada 12 Maret 2011, Marissa Nasution di Medan pada 17 Maret 2011, dan Titi Sjuman (tentative) di Bukittinggi pada 31 Maret 2011.

Untuk di Pulau Jawa, khususnya di Bandung, Jawa Barat, artis cantik Donita akan menemani tim ini keliling Bandung. Bahkan rencananya dia akan boncengan naik motor gede dengan Ungki. “Saya juga akan kasih masukan ke Mas Ungki obyek-obyek wisata yang pantas untuk dikunjungi seperti Kawah Putih dan lainnya,” jelasnya.

Menurut Renitasari selaku Program Director-Bakti Budaya, Djarum Foundation kegiatan ini juga untuk mendukung program Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) yakni Wonderful Indonesia sebagai upaya untuk meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap keberagaman budaya dan keindahan alam Indonesia. “Total waktu yang akan ditempuh tim ini selama 184 hari dengan ajaraka tempuh 19.100 Km. Kegiatan ini nanti akan ditayangkan dalam bentuk reality show di salah satu stasiun TV mulai Mei sebanyak 39 episode. Seluruh perjalanan ini akan didokumentasikan baik video, foto juga jurnal,” terangnya.

Ukus Kuswara dari Kemenbudpar mengatakan Kemenbudpar mendukung kegiatan ini dan menjelaskan bahwa pekerjaan membangun karakater dan jatidiri bangsa bukan cuma pekerjaan pemerintah tapi juga stake holder, masyarakat, dan swasta. “Saya menyarankan supaya tim ini dapat mengangkat nilai-nilai positif setiap daerah atau masyarakatnya termasuk kearifan lokalnya. Dengan begitu nantinya masyakarat luas akan tahu dan menghargai itulah keberagaman budaya bangsa ini,” imbuhnya.

Selain sejumlah provinsi di Sumatera, tim Indonesia Exploride rencananya juga akan menjelajahi provinsi lain seperti Kalimantan Selatan, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, NTB, NTT, Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Barat, dan terakhir DKI Jakarta.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 07 Februari 2011

Curhat Komodo: “Kami Tak Butuh Label Keajaiban Dunia Versi N7W”



Kalau saja ribuan komodo yang menghuni Pulau Komodo, Rinca dan beberapa pulau lain di kawasan Taman Nasional Komodo, bisa bicara lantang seperti manusia. Mereka pasti akan berteriak keras. “Kami tidak butuh label keajaiban dunia dari New7Wonders! Biarkan kami hidup tenang di alam konservasi tanpa banyak gangguan pengunjung”.

Andai saja ribuan biawak purba raksasa ini bisa mengungkapkan isi hatinya seperti manusia, mereka pasti mendukung Menbudpar Jero Wacik yang akhirnya memutuskan membatalkan minat menjadi tuan rumah pengumuman final tujuh keajaiban alam dunia pada 11 November 2011 nanti dengan bermacam pertimbangan matang sebagaimana disampaikan Jero Wacik kepada sejumlah media di Jakarta, Senin (07/02/2011).

“Biaya untuk menyelenggarakan acara pengumuman final 7 keajaiban alam dunia itu bisa lebih dari Rp400 miliar. Setelah dihitung, rasanya keuntungannya tidak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Karena itu pemerintah putuskan menolak jadi tuan rumah. Anehnya penyelenggara mengancam akan mengeleminasi TN Komodo. Jelas ini pemilihan yang tidak fair!”, kata Jero Wacik dengan nada tinggi.

Ribuan reptil berdarah dingin ini pun pasti mendukung langkah Kementerian Kebudayaan dan Pariwista (Kemenbudpar) menuntut yayasan New7Wonders (N7W) bila TN Komodo ternyata didelete dari ajang pemilihan ini. Bukan perkara tidak masuk dalam 7 keajaiban dunia melainkan untuk mengangkat harga diri bangsa dan negara yang dipermainkan oleh kearoganan LSM tersebut.

"Kalau TN Komodo ternyata benar-benar didelete, kita akan tuntut apalagi sudah menyinggung harga diri bangsa. Kita akan ajak menteri pariwisata dari 27 negara finalis untuk mempertanyakan kredibilitas lembaga ini,” tegas Jero Wacik yang mengaku sudah menunjuk Todung Mulya Lubis sebagai lawyer internasional yang akan menuntut N7W selaku penyelenggara jika ancamannya mengeliminasi TN Komodo jadi dilakukan hari ini pada 7 Febuari 2011.

”Mengapa menuntut karena banyak voter di seluruh dunia yang sudah memilih Komodo untuk acara ini. “Kalau sampai TN Komodo didelete kepesertaannya dari voting N7W, jelas hak voter yang telah memilih Komodo dilanggar,” tambahnya.

Bagi ribuan hewan pemakan bangkai ini, label keajaiban dunia, bisa jadi bumerang buat ketentraman hidup mereka bila tidak diantisipasi sejak dini. Bagaimana tidak. Andai saja predikat itu berhasil digondol TN Komodo, otomatis warga dunia akan tahu dan tertarik datang berbondong-bondong. Padahal belum tentu semua yang datang itu memahami etika berwisata di kawasan konservasi.

Nah, kalau saja pengelola TN Komodo belum siap menerima kunjungan wisman dalam jumlah besar pascapemberian predikat tersebut, alangkah bahayanya. Yang jelas-jelas paling dirugikan adalah komodo yang menetap di sana. Bukan saja terusik, kehidupan mereka pun semakin terancam di habitatnya sendiri.

Belum menyandang predikat itu saja, jumlah pengunjung yang datang ke TN Komodo 3 tahun belakangan ini saja meningkat 400 persen dari 16.000-an menjadi lebih dari 50.000 wistawan, berkat promosi yang dilakukan Kemenbudpar di dalam dan luar negeri dengan dana Rp10,5 miliar. Apalagi kalau nanti sudah menyandang predikat tersebut.

Jadi sebenarnya tanpa memenangkan predikat tersebut, nama komodo sudah mendunia dan tetap diminati wisatawan. Yang menjadi soal disini, bagaimana mengelola kunjungan wisatawan dalam jumlah besar itu kelak agar tidak menganggu kehidupan dan ketenangan penghuni aslinya yakni komodo berikut ekosistemnya.

Ecotourism Bukan Masstourism
Harus dipahami benar, TN Komodo yang berada di Flores, Nusa Tenggara Timur merupakan wilayah konservasi. Dimana wisata yang boleh dilakukan disana adalah wisata yang berbasis dan beretika lingkungan atau wisata ekologi (ecotourism). Bukan obyek wisata yang menarik pengunjung sebanyak-banyaknya atau wisata masal (masstourism) yang rentan merusak lingkungan sekitar termasuk kelangsungan mahluk hidup di dalamnya bila tidak dikelola dengan baik.

Biarkan TN Komodo tetap menjadi wahana ecotourism yang tetap mengindahkan konservasi dan kelangsungan hidup serta perkembangbiakan penghuninya, terutama komodo serta hewan-hewan yang menjadi makanannya.

Dan dengarlah sekali lagi curahan hati para satwa predator ini. “Jangan usik kami dengan predikat atau label apapun. Biarkan kami hidup tenang dan berkembangbiak hingga mati di habitat kami secara alami, di TN Komodo”.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 12 Desember 2010

Taman Nasional Komodo Warisan Alam Dunia yang Sebenarnya



Taman Nasional Komodo (TNK) di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) berhasil, masuk 28 finalis new7wonders of nature. Hingga kini proses pengumpulan suara dari seluruh negara masih berlangsung. Pada 11 November 2011 akan diumumkan siapa yang terpilih menjadi 7 keajaiban alam dunia versi yayasan new 7 wonders. Dan TNK sangat pantas masuk dan bertengger di peringkat teratas.

Berdasarkan dua kali pengamatan langsung ke Taman Nasional Komodo, pertama kali 16 tahun lalu backpacking sendiri, dan kedua akhir November 2010 bersama rombongan media nasional dan internasional yang diprakarsai Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), saya yakin TN Komodo masuk 7 keajaiban alam dunia bahkan berada di posisi teratas. Bukan karena semata saya orang Indonesia sekaligus penulis wisata lalu membela dan mempromosikan kawasan konservasi ini habis-habisan. Melainkan murni karena kandungan alami yang dimiliki taman nasional ini begitu lengkap, khas, dan menantang.

Nilai lebih lain dari kawasan yang sejak 6 Maret 1980 ditetapkan pemerintah sebagai taman nasional dengan tujuan utama melindungi komodo beserta habitatnya ini adalah sudah dinobatkan sebagai lokasi warisan alam dunia (Natural World Heritage Site) oleh United Nations Education, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada sidang World Heritage Committee di Tunisia pada tahun 1991. Dan bahkan sejak 1997, UNESCO pun menetapkannya sebagai Man and Biosphere Reserve.

Saya berkesimpulan dan berkeyakinan seperti itu karena taman nasional yang berluas 220.000 hektar, meliputi 3 pulau besar yaitu Pulau Komodo (33.937 hektar), Pulau Rinca (19.625 hektar), dan Pulau Padar (2.017 hektar) ini punya banyak keistimwaan sebagai kawasan konservasi. Letaknya pun istimewa, berada di antara dua lautan bebas, yakni Laut Cina Selatan di sebelah Utara dan Lautan Hindia di Selatan.

Panorama alam TNK luar biasa indah. Ada hamparan laut biru, pulau-pulau kecil dan besar, perbukitan dan gunung, serta kehidupan penghuninya baik warga setempat yang sudah lama mendiami beberapa bagian di kawasan ini, maupun kekhasan hewan dan tanamannya.

Buat yang gemar melakukan kegiatan wisata bahari seperti berenang, snorkeling, menyelam atau sekadar berjemur, TNK punya beberpa lokasi yang tepat antara lain Pink Beach atau Pantai Merah. (Baca: Nilai Lebih Bersnorkeling di Pink Beach). Sejumlah titik menyelam (diving spot) di peraiaran TNK, menjadi salah satu yang terbaik di dunia.

Mau mengabadikan ribuan kalong (Pteropus sp) bermigrasi, datang saja ke Pulau Kalong jelang senja. Bertepatan surya tenggelam, ribuan kalongnya berterbangan dari sarangya menuju pulau-pulau lain di sekitar TNK untuk mencari makan.

Bagi yang senang treking, ingin melihat komodo, kerbau liar, dan panorama laut dari atas perbukitan, pergi saja ke Poreng Sabieta. Letaknya 10 kilometer ke arah Timur Loh Liang. Poreng Sabieta yang memiliki hamparan padang rumput, dapat dicapai lewat jalur pendakian alami (natural trail). Tapi harus ditemani pilisi hutan atau jagawana.

Bila belum puas, lanjutkan pendakian ke Gunung Ara yang berada di ketinggian 510 meter di atas permukaan laut (dpl). Untuk mencapai lokasinya Anda harus menapaki jalur pendakian sepanjang 8 Km dari Loh Liang. Obyek yang sama juga ada di Loh Lima.

Kalau masih kuat terus lanjutkan ke Gunung Satalibo yang merupakan obyek kunjungan di Pulau Komodo yang letaknya paling jauh dari Loh Liang. Gunung ini sekaligus menjadi puncak tertinggi Pulau Komodo, tingginya 735 meter dpl. Dari puncaknya, Anda bakal menemukan pemandangan terbuka kawasan lain di seputar Pulau Komodo, lengkap dengan hamparan laut serta pulau-pulau di sekelilingnya yang luar biasa indah.

Bila ingin melihat kehidupan masyarakat yang sudah lama mendiami beberapa bagian di pulau ini singgah saja ke Kampung Komodo, sekitar 3 kilometer ke arah Barat dari Long Liang.

Banyak aktivitas menarik yang dapat Anda lihat di sana, bukan sekadar deretan perumahan panggung sederhana dengan lorong-lorong jalannya. Pun beragam kegiatan keseharian masyarakatnya yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai nelayan.

Bagi yang gemar memotret atau memvisualisasikan keindahan alam, TNK punya banyak lokasih indah menawan. Pulau-pulau di TNK sebagian besar berbukit-bukit. Daratannya berasal dari batuan vulkanik yang mengalami proses geologi sejak ratusan tahun silam. Beberapa pulau kecil lainnya terbentuk dari bekas terumbu karang yang muncul 200-400 meter di atas permukaan laut (dpl). Iklimnya secara keseluruhan relatif kering dengan curah hujan tahunan rata-rata 800-1000 mm.

Selain alamnya yang seolah sebuah dunia tersendiri, kondisi iklim yang bermusim kering lebih panjang pun berpengaruh pada bentuk dan jenis flora dan faunanya. Ada lebih-kurang 102 spesies flora yang tumbuh di dalamnya, antara lain pohon asam (Tamarindus indea), waru (Hibiscus Sp), kapuk hutan (Bomba ceiba), dan kesambi (Sahlaichara olcosa).

Faunanya sekitar 185 spesies yang menggambarkan bentuk-bentuk peralihan antara jenis Asia dan Australia, baik jenis aves, reptil, mamalia maupun jenis hewan lain, seperti burung elang (Falconidae court), pergam (Columbidae court), kakak tua (Psittatcidae court), rusa timor, babi hutan (Sus scropa), ular, kuda dan kerbau liar serta komodo (Varanus komodoensis) sebagai satwa primadona kawasan ini.

Penghuni lautnya pun beragam. Berdasarkan hasil survei sebuah lembaga penelitian internasional, perairan TNK menyimpan sekitar 900 jenis biota laut. Di antaranya 1.000 lebih spesies ikan, antara lain ikan napoleon (Cheilinus undulates), kerapu, kakap merah dan ikan pari manta (Manta birostris) yang ukurannya mencapai 4 X 5 meter. Selain ikan berukuran kecil dan sedang, perairannya juga kerap dilalui beberapa jenis ikan besar seperti hiu dan lumba-lumba serta tak ketinggalan si mamalia laut raksasa yaitu paus. Di dasar lautnya juga mengoleksi 260 spesies terumbu karang, terutama jenis Acropora sp.

Hal lain yang memberi kesan khas adalah vegetasinya. Sebagian besar atau sekitar 70 persen didominasi padang rumput (savanna) setinggi dada berwarna kekuningan, terutama jenis Heteropogon contortus, Setaria adhaerens, Chloris barbata dan Heteropogon concortus.

Selain hamparan padang rumput, ada beberapa tanaman yang turut memberi panorama khas alam TNK, terutama pohon palem lontar (Borassus flabellifer). Sedangkan ragam hutannya terdiri atas hutan pantai (mangrove), hutan musim (mansoon forest) dan hutan hujan tropis (tropical rain forest).

Melihat kelengkapan, kekhasan dan keindahan isinya, saya merasa TNK adalah keajaiban warisan alam dunia yang sebenarnya. Namun untuk mewujudkannya, Anda sebaiknya bukan hanya datang dan menikmati koleksi yang dimiliki TNK, pun memvoting-nya di http://www.new7wonders.com/community/en/new7wonders/new7wonders_of_nature/voting agar TNK masuk dalam tujuh keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7 Wonders.

Tips perjalanan
Tak sulit menjangkau TNK. Dari kota tinggal, Anda bisa naik pesawat menuju Bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali. Kemudian lanjut dengan pesawat ke Bandara Komodo, Labuan Bajo. Dari Labuan Bajo Anda bisa menyewa kapal nelayan ataupun speedboat ke TNK, baik itu ke Pulau Komodo maupun ke pulau Rinca dan pulau-pulau kecil lainnya.

Kalau mau yang lebih murah. Dari Bali, Anda bisa naik kapal laut Pelni ke Labuan Bajo lalu di lanjutkan dengan perahu nelayan ke TNK. Namun Anda harus tahu jadual kapan Kapal Pelni berlabuh di Pelabuhan Benoa, Bali. Kalau punya dana lebih, tak ada salahnya Anda bisa menyewa kapal yacht yang berfasilitas wah dan lengkap dari Bali langsung ke TNK.

Soal penginapan selama di TNK, Anda tak perlu cemas. Akomodasi di Loh Liang, Pulau Komodo dan Loah Buaya, Pulau Rinca cukup lengkap. Juga ada kafetaria yang menyediakan menu khas laut (sea food) serta koperasi yang menjual cenderamata menarik. Atau Anda bisa bermalam di sejumlah penginapan kelas melati ataupun hotel berbintang di Labuan Bajo, berikut diving shop yang menyewakan pelengkapan untuk Anda menyelam.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

NB.: info terkait dapat ada unduh di
1. Vote: Komodo National Park!
http://www.indonesia.travel/en/destination/106/komodo-national-park/article/2/vote-komodo-national-park

2. Diving Around Komodo Island:
http://www.indonesia.travel/en/destination/420/diving-around-komodo-island

3. Komodo National Park : Into The Heart of The Dragonshttp://
www.indonesia.travel/en/destination/106/komodo-national-park

4. East Nusa Tenggara:
http://www.indonesia.travel/en/discover-indonesia/region-detail/37/east-nusa-tenggara

Read more...

Nilai Lebih Bersnorkeling di Pink Beach



Pantai berpasir puith dan lembut di dunia ini banyak. Tapi yang pasirnya halus berwarna merah muda hanya segelincir. Salah satunya di Pulau Komodo, Taman Nasional Komodo (TNK), Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Orang lokal menamainya Pantai Merah. Turis asing menyebutnya Pink Beach. Apa kelebihannya?

Nama Pink Beach cukup tersohor di kalangan wisatawan mancanegara yang senang berwisata bahari. Pasalnya pantainya selain berpasir halus, pun berwarna merah muda. Konon pasirnya itu berasal dari pipe corral atau terumbukarang berbentuk pipa yang mati secara alami kemudian hancur menjadi butiran halus pasir berwarna merah muda. Uniknya, tak jauh dari pantai ini, ada pantai lain yang pasirnya berwarna putih.

Di bentangan pasir Pink Beach, turis asing biasanya berjemur sepuasnya. Hamparan lautnya yang tenang dengan aneka terumbu karang serta ikan hias, menggoda siapapun untuk berenang, bersnorkeling, dan menyelam (diving).

Panoramanya pun indah. Pantai ini berlatar belakang perbukitan coklat yang tak sulit didaki. Bentuk bukitnya ada yang menyerupai stupa candi. Ada juga bentangan tebing karang yang menantang untuk dipanjat.

Pink Beach berada di Pulau Komodo. Lokasinya dapat dicapai lewat darat maupun laut. Kalau dengan perahu motor sekitar 30 menit dari Loh Liang atau pintu masuk merangkap loket ke Pulau Komodo. Bila menyusuri pantai dari Loh Liang memakan waktu lebih kurang 4,5 jam melewati hutan bakau dan gugusan tebing karang.

Kalau Anda ke TNK tanpa ke Pink Beach untuk ber-snorkeling atau sekadar berjemur di bentangan pasir merah mudanya, rasanya kunjungan Anda belum lengkap. Selain Pantai Merah, obyek wisata yang sama dengan terumbu karang dan pantai landai, terdapat di Pulau Lasa dan Pulau Padar.

Keberadaan Pink Beach ini menjadikan kawasan konservasi ini semakin lengkap keindahan panoramanya. Tentunya selain kekhasan penghuninya yakni biawak purba raksasa bernama Komodo yang oleh warga setempat memanggilnya Ora, sedangkan wisman bule menyebutnya dragon. Karenanya amat patut bila TNK masuk 7 keajaiban warisan alam dunia. Untuk mewujudkan itu, sebaiknya Anda bukan hanya sekadar memuji dan mengunjunginya, pun harus me-votingnya di http://www.new7wonders.com/community/en/new7wonders/new7wonders_of_nature/voting.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

NB.: ingin menikmati lirik lagu tentang Pink Beach, unduh saja
http://pujanggapengembara.blogspot.com

Read more...

Kamis, 11 November 2010

Erupsi Merapi 2010 Torehkan Rekor Baru


Letusan Merapi tahun ini berhasil menorehkan rekor baru dari jumlah material yang dilontarkan dan masa erupsinya. Rekor baru tersebut memecahkan rekor terakhir yakni letusan hebat tahun 1872. Keberhasilan ini memang bukan berita baik, pasalnya derita dan kehancuran yang diakibatkannya juga bertambah.

Pada tahun 1872 letusan Merapi mengeluarkan material vulkanik sebanyak 100 juta meter kubik. Tapi tahun ini salah satu gunung teraktif di dunia ini mengeluarkan material vulkaniknya sebanyak 147 juta meter kubik.

Masa letusan Merapi 2 abad silam itu berlangsung selama 120 jam. Tapi tahun ini bererupsi lebih dari 192 jam, bahkan masih berlangsung hingga hari ini.

Berdasarkan pantauan tim Pusat Vulkanolagi dan Mitigasi bencana, sampai Rabu malam tercatat gempa vulkanik sebanyak 5 kali disertai guguran 9 kali dan luncuran awan panas sebanyak sekali. Oleh karenanya status gunung yang terletak antara Jawa Tengah dan Yogyakarta ini masih tetap tak berubah yakni dalam level Awas.

Keaktifan dan statusnya membuat pihak pemerintah menganjurkan masyarakat tetap menjaga radius jarak aman 20 Km dari puncak Gunung Merapi.

Kerugian Hebat
Kerugian akibat letusan merapi tahun ini pun juah lebih besar. Kerugian dari kerusakan di Desa Kepuharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta yang hancur lebur saja diperkirakan mencapai lebih dari Rp 300 miliar. Hitungan itu berdasarkan penilaian sebelum letusan terjadi, ada 400 hektar lahan yang ditanami jati, salak, dan padi. Ditambah 300 rumah dan 4.000 ekor sapi.

Kini desa yang berjarak 14 Km dari puncak Merapi seperti desa mati, akibat terjangan wedhus gembel (awan panas) bersuhu 600 derajat celcius dari letusan Merapi.

Kerugian juga lainnya merusak 867 hektar hutan di kawasan gunung ini yang berada di wilayah Kabupaten Sleman dengan total kerugian sekitar Rp 33 miliar. Luas hutan yang rusak itu terdiri dari hutan negara di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), hutan rakyat, dan kebun rakyat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah total korban tewas Merapi untuk sementara mencapai 116 orang dan korban luka 218 orang . Diperkirakan korban tewas akan terus bertambah.

Sedangan catatan Dinas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan Sleman tentang jumlah sapi yang tewas di wilayah Sleman saja sebanyak 275 ekor yang tersebar di Kinahrejo, Pelemsari, Kaliadem, dan Ngrangkah. Belum kerusakan infrastruktur seperti jalan dan jembatan yang tergerus lahar dingin Merapi, termasuk kerusakan di sejumlah bangunan cagar budaya seperti Candi Borobudur, Prambanan, dan lainnya akibat hujan debu Merapi.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Ist

Read more...

Rabu, 10 November 2010

Tunda Dulu Mendaki Gunung Slamet dan Anak Krakatau


Kalau Anda berencana mendaki Gunung Slamet di Jawa Tengah atau ke Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, sebaiknya ditunda dulu sampai keduanya mereda dan aman. Pasalnya aktivitas kedua gunung aktif ini kian meninggi sejak statusnya ditetapkan menjadi Waspada.

Di Purbolinggo, Jawa Tengah, misalnya masyarakat yang tinggal di lereng Gunung Slamet mengaku cemas dengan aktivitas gunung terebut beberapa hari ini. Mereka sudah siap diungsikan, tinggal menunggu perintah dari pemerintah bila sewaktu-waktu kondisi gunung berketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut itu meletus dan membahayakan keselamatan mereka.

Warga mengaku sudah cemas dengan adanya letupan besar yang mengeluarkan asap hitam dan suara gemuruh dari puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah atau tertinggi kedua di Pulau Jawa itu.

”Kalau ada pemerintah yang mengatakan harus mengungi, kami siap. Melihat kasus Merapi saya jadi ngeri karena tinggal di dekat gunung besar ini,” jelas Anto salah seorang warga di Purbolinggo.

Peningkatan aktivitas Gunung Slamet ini sudah terjadi sejak 4 hari terahir ini. Kondisi ini membuat Pusat Vulkanologi menetapkan status Slamet menjadi waspada.

Semburan Lava Pijar
Peningkatan aktivitas juga terjadi pada Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda anatar Provinsi Banten dan Lampung. Gunung yang masih berstatus Waspada ini mulai kerap menyemburkan asap tebal dan material batuan dari dalam perutnya, hampir setiap 2 hari sekali .

Hingga kemarin malam, jumlah letusan anak krakatau sudah mencapai hingga ratusan kali. Letusannya diiringi suara gemuruh ledakan dan semburan lava pijar.

Melihat kondisi aktivitas kedua gunung tersebut, ada baiknya pendaki yang hendak mendaki Slamet ataupun Anak Krakatau menunda dulu sampai keduanya benar-benar aman untuk didaki.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Ajhies Elang Palapa

Read more...

Jumat, 05 November 2010

Rinjani Trek Juara Pertama CIPTA Award 2010



Rinjani Trek di Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR), Lombok, Nusa Tenggara Barat, meraih juara pertama penghargaan Citra Pesona Wisata (CIPTA) 2010 untuk kategori pengelola Lembaga Swadaya Mayarakat (LSM). Rinjani Trek mengalahkan 89 peserta dari 15 provinsi yang ikut. Jalur trekking Rinjani selama 3 hari ini merupakan salah satu jalur treking terbaik di kawasan Asia Tenggara.


Penyerahan piala dan piagam serta uang tunai Rp 25 juta diserahkan langsung oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik di Hotel JW Marriott Jakarta, Kamis(04/11/2010) kepada peraih juara pertama. Sedangkan juara kedua untuk kategori ini diraih Sangeh (Bali), dan ketiga Kawasan Wisata Penyu Kepulauan Derawan, Berau (Kaltim). Masing-masing mendapat uang Rp 20 juta dan Rp 15 juta.

Rinjani Trek dikelola secara kemitraan dengan TNGR, sektor swasta termasuk industri pariwisata Lombok, dan wakil dari masyarakat. Masyarakat sekitar mendirikan koperasi yang mengkoordinir kegiatan trekking di Rinjani Trekking Center Senaru, Rinjani Information Center, dan Rinjani Trekking Sembalun-Lawang.

Tiap trek center menerapkan sistem giliran bagi pemandu dan porter, termasuk kegiatan tur desa. Penghasilan dari aktivitas pariwisata dan biaya masuk TNGR digunakan untuk konservasi, pelatihan, manajemen, dan membantu TNGR melakukan pemeliharaan jakur trekking.

Pengawasan aktivitasnya dilakukan Badan Pembina Trekking Rinjani bekerjasama dengan TNGR dan pemerintahan darah dinas pariwisata setempat serta dibantu sektor industri pariwisata, dan masyarakat.

Kegiatan yang dapat dilakukan di Rinjani Trek ini antara lain mendaki gunung, berkemah, dan menikmati panorama alam Pulau Lombok, Danau Segara Anak, Sebai, dan Gunung Baru. Selain itu juga penelitian, menikmati fenomena alam, sumber air panas, mandi, pengmatan satwa, menjelajahi hutan. Buat yang senang budaya, setiap bulan Maulud di Danau Segara Anak kerap menjadi tempat atraksi budaya pakelem atau memandikan keris.

Bagi pendaki gunung dan para penggiat alam bebas, Gunung Rinjani merupakan gunung favorit yang menjadi impian untuk didaki. Sedangkan bagi masyarakat Pulau Lombok, khususnya Suku Sasak dan Suku Bali, gunung cantik ini merupakan istana para dewa. Selain pendaki, Kawah Danau Segara anak menjadi tujuan wisata ribuan peziarah setiap tahunnya. Musim kunjungan terbaik ke gunung berketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini pada Agustus sampai Desember setiap tahunnya.

Peraih CIPTA Award yang pertama kali digelar Ditjen Pengembangan Destinasi pariwisata (PDP), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) untuk kategori Pengelola Instansi Pemerintah dan Pemda: juara pertama Taman Nasional Tanjung Puting (Kalteng), kedua Tanah Lot (Bali), dan ketiga Taman Laut Iboih (Aceh). Sedangkan kategori Pengelola BUMN, BUMD, dan BUMS: juara pertama Elevent Safari Park (Bali), kedua Amanwana Resort di Pulau Moyo (NTB), dan juara ketiga Kebun Wisata Pasir Mukti (Jabar). Untuk kategori Best of The Best tidak ada pemenangnya.

Kendati lomba penghargaan kepada pengelola daya tarik wisata alam pro lingkungan ini berjalan sukses, namun Jero Wacik mengaku sedikit kecewa lantaran 18 provinsi tidak ikut. ”Apakah karena surat undangannya tidak sampai atau gubernurnya yang ngantuk, sehingga tidak mengikutsertakan obyek daya tarik wisata alamnya. Padahal semua provinsi kita punya obyek tarik wisata alamnya. Salah sendiri tidak ikut, jadi kehilangan kesempatan masuk nominasi dan menjadi juara,” terang Jero Wacik.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus2yahoo.com)
Foto: Ilham, Kemenbudpar & Dok. ist

Read more...

Selasa, 02 November 2010

Letusan Merapi Diminati Turis Asing Berjiwa Petualangan


Letusan gunung berapi, bagi banyak orang menakutkan dan menyengsarakan. Tapi buat turis asing berjiwa petualangan, justru jadi obyek tontonan menarik. Ini terbukti setiapkali terjadi letusan gunung api aktif tersohor di negeri ini, sejumlah wisman minat khusus tersebut berdatangan, termasuk ke Gunung Merapi yang hingga kini masih mengeluarkan awan panas dan fijar lahar. Apa yang mereka cari?

Berdasarkan pantauan Travelplusindonesia, sekurangnya ada 3 gunung yang diminati wisman saat meletus yakni Gunung Krakatau di Perairan Selat Sunda antara Provinsi Banten dengan Lampung, Gunung Marapi di Sumatera Barat, dan Gunung Merapi, antara Yogyakarta dengan Jawa Tengah.

Merapi yang terletak di Jawa Tengah dan Yogyakarta, sejak 1548 sudah meletus sebanyak 68 kali. Terakhir Merapi meletus pada 15 Mei 2006. Pada 1 Juni, hujan abu vulkanik dari luncuran awan panas Gunung Merapi yang lebat, terjadi di Kota Magelang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 8 Juni 2006, Gunung Merapi meletus pada pukul 09.00 WIB dengan semburan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng gunung itu panik dan berusaha menyelamatkan diri.

Dan pada 26 Oktober 2010, tepat pukul 17.02 WIB, Merapi kembali meletus hebat. Awan panas yang disemburkan gunung berketinggian 2.980 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini menelan korban jiwa sedikitnya 25 orang termasuk juru kunci Merapi, Mbah Maridjan.

Berkah
Saat tenang, Gunung Merapi merupakan anugerah bagi 13.581 jiwa yang tinggal di 3 kecamatan di Kabupaten Sleman yang berada di kawasan rawan bencana Merapi. Salah satu gunung api teraktif di dunia ini memberi berkah material pasir bagi warga, sedangkan bagi pemerintah daerah, Gunung Merapi menjadi obyek wisata yang diminati bukan hanya wisnus tapi juga wisman.

Bahkan ketika dan pascaerupsi pun, Merapi menjadi obyek wisata menarik bagi sejumlah turis asing yang berjiwa petualangan. Seperti terlihat pada Selasa lalu, beberapa wisman asal Inggris, Belanda, dan Australia berada di kawasan aman sekitar pos pengamatan Merapi di Sleman, Yogyakarta. Mereka berbaur dengan sejumlah masyarakat sekitar yang dadakan menjadi turis lokal, untuk merekam dan memotret fenomena alam itu.

Para turis tersebut begitu antusias mengabadikan semburan dahsyat gumpalan wedus gembel atau awan panas dari kejauhan. Terpancar kekaguman sekaligus kengerian dari wajah mereka. “Wow Fantastik, saya belum pernah melihat Gunung Merapi meletus seperti ini,” kata salah saeorang turis yang bisa berbahasa Indonesia.

Tingginya animo wisman yang ingin menyaksikan letusan Merapi ditangkap dengan baik oleh sejumlah travel agent dan komunitas penggiat alam bebas, baik di Sleman, Yogyakarta, dan kota lain. Mereka membuat paket wisata bencana Merapi.

Menurut salah seorang pengelola travel agent setempat yang enggan disebut namanya mengatakan, banyak turis yang datang untuk melihat letusan Merapi adalah wisman yang tengah berlibur di Yogyakarta dan sekitarnya. “Menurut mereka justru saat Merapi menyemburkan gumpalan awan panas atau pijar lahar adalah moment yang sangat langka dan menarik untuk diabadikan,” jelasnya.

Hal senada juga dilontarkan seorang pengelola komunitas penggiat alam bebas yang biasa membawa sejumlah pendaki gunung ke sejumlah gunung di Tanah Air. Menurut dia yang juga enggan disebut nama dan komunitasnya itu, banyak orang asing yang tertarik mendaki gunung di Indonesia terutama gunung-gunung aktifnya. “Bahkan ada beberapa turis yang meminat diantar mendaki saat gunung api tersebut mulai ada tanda-tanda ingin meletus,” terangnya.

Fenomena menariknya minat wisman terhadap sejumlah gunung api yang tengah dan baru meletus itu, di satu sisi jelas menguntungkan dunia pariwisata. Dengan begitu, terbukti bahwa bencana alam seperti meletusnya gunung berapi, sama sekali tidak mengganggu kunjungan wisman. Justru malah menjadi daya tarik baru.

Tapi di sisi lain bisa menjadi bumerang bilang tidak disertai dengan peraturan yang jelas. Sebab bila terjadi kecelakaan terhadap wisman tersebut saat melihat gunung api meletus, maka pemerintah daerah setempat bahkan pusat akan menjadi sasaran kesalahan dan kritikan media dan dunia.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 31 Oktober 2010

22 Gunung Aktif Meningkat Statusnya Pascaerupsi Merapi



Pasca-erupsi Merapi sepekan lalu, 22 gunung aktif di Indonesia ikut-ikutan bergejolak. Memang belum diketahui pasti apakah peningkatan aktivitas gunung-gunung tersebut berhubungan erat dengan letusan Merapi. Tapi yang pasti kini sekurangnya ada 18 gunung api antara lain Anak Krakatau, Talang, dan Gunung Egon yang statusnya naik menjadi waspada.

Sejak Merapi meletus beberapa hari lalu, sejumlah gunung mulai menampakkan peningkatan aktivitasnya. Badan geologi mencatat ada 22 gunung api yang telah menunjukkan peningkatan aktivitasnya. Namun begitu warga tak perlu khawatir dengan status gunung-gunung ini.

Gunung apai yang berstatus waspada yakni Gunung Sinabung (Karo, Sumut), Talang (Solok, Sumbar), Kaba (Bengkulu), Kerinci (Jambi), Anak Krakatau (Lampung), Papandayan (Garut, Jabar), Slamet (Jateng), Bromo (Jatim), Semeru (Lumajang, Jatim), Batur (Bali), Rinjani (Lombok, NTB), Sangeang Api (Bima, NTB), Rokatenda (Flores, NTT), Egon (Sikka, NTT), Soputan (Minahasa Selatan, Sulut), Lokon (Tomohon, Sulut), Gamalama (Ternate, Maluku Utara), dan Gunung Dukono (Halmahera Utara, Maluku Utara).

Gunung yang berstatus siaga adalah Gunung Karangetang (Sulut) dan Gunung Ibu (Halmahera Barat, Maluku Utara). Sedangkan yang masih berstatus awas, Gunung Merapi di Sleman, Yogyakarta.

Badan geologi mulai mengevaluasai penanganan gunung-gunung aktif tersebut. “Kita sedang mengevaluasi keaktiavan gunung-gunung tersebut, termasuk penentuan statusnya sesuai perkembangan aktivitasnya,” kata R. Sukhyar, Kepala Badan Geologi ESDM.

Menurut Sukhyar lagi, Gunung Merapi sampai kini memang masih menjadi gunung yang dalam masa krisis karena berada pada posisi awas. Tapi yang lain itu masih berstatus waspada seperti Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda, Papandayan di Garut, dan Gunung Egon di NTT. “Masyarakat tidak perlu begitu khawatir. Tapi bila nanti statusnya naik menjadi waspada, masyarakat harus berhati-hati dan tidak beraktivitas di sekitar gunung-gunung tersebut, termasuk di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau karena sewaktu-waktu dapat terkena lontaran batu fijarnya,” imbaunya.

Seperti diketahui sebelumnya, pos pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Pasaruan, Serang, Banten merekam adanya peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau itu secara signifikan dibandingkan hari biasa.

Dari alat pencatat gempa, seismograf di pos pengamatan tersebut, tercatat jumlah letusan kini mencapai 282 kali setiap harinya. Jelas peningkatannya sangat tinggi dari hari-hari biasanya yang hanya mencapai 10 hingga 20 kali letusan.

Kondisi tersebut membuat statusnya menjadi waspada dan dilanjutkan dengan imbauan agar warga yang tinggal di sekitar gunung tidak melakukan aktivitas di sekitar gunung. Jarak aman Gunung Anak Krakatau mencapai 2 Km.

“Untuk saat ini dalam status waspada Gunung Anak Krakatau, titik amannya 2 Km dari titik letusan atau kawah Gunung Anak Krakatau tersebut. Di luar jangkauan itu aman,” kata Anton Pambudi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Desa Pasarean.

Status waspada juga ditetapkan untuk Gunung Papandayan di Garut, Jawa Barat. Aktivitas gunung api yang pernah meletus 9 tahun lalu itu terlihat pada peningkatan gempa vulkanik dan tektoniknya. Suhu di kawasan Kawah Emas-nya pun meningkat 309 derajat C. Papandayan termasuk gunung api aktif yang perlu perhatian khusus mengingat lokasinya dekat dengan pemukiman penduduk, sekitar 8 Km jaraknya dengan pemukiman.

Warga Tetap Beraktivitas
Gunung Talang di Solok, Sumatera Barat juga menampakkan peningkatan aktivitasnya. Hingga kini setidaknya sudah terjadi 400 kali gempa vulkanik yang disebabkan aktivitasnya.

Menurut pengamatan kepala Pos Pengamatan Gunung Talang, getaran gmpannya cukup dirasakan warga. Selain itu asap berwarna coklat mulai terlihat dari puncak gunungnya. Kendati begitu, tidak mempengaruhi aktivitas warga di sekitar kaki gunung, tepatnya di kawasan perkebunan teh. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa.

Ada tidaknya hubungan letusan Gunung Merapi dengan peningkatan aktivitas gunung-gunung tersebut, sejauh ini memang belum dapat dipastikan. Namun yang pasti, kewaspadaan tetap menjadi prioritas utama untuk menghindari dampak buruk akibat ganasnya letusan gunung berapi sewaktu-wawaktu. Semburan wedhus gembel atau awan panas dari letusan Gunung Merapi yang memakan puluhan korban termasuk Mbah Maridjan juru kuncennya, baru-baru ini bisa dijadikan pelajaran.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Mengusir Bosan di Jeram-Jeram Palayangan



Rutinitas dan atmosfir kerja, tak pelak bikin bosan bahkan stres. Refreshing di alam terbuka dengan kegiatan berbumbu petualangan seperti arung jeram (rafting), bisa jadi obat yang ampuh. Dan jeram-jeram di Sungai Palayangan, pilihan lokasi yang tepat untuk mengusir jenuh itu.

Sungai di negeri ini yang biasa digunakan untuk mengusir bosan dengan berarung jeram, cukup melimpah. Salah satunya Sungai Palayangan di Pangalengan, Jawa Barat yang airnya bersumber dari Situ Cileunca.

Situ Cileunca yang berada pada ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut dengan suhu antara 12 C – 20 C, merupakan danau buatan di daerah perkebunan teh Malabar, kaki Gunung Nini.

Di bibir Situ Cileunca, Lina_reporter dari Radio Republik Indonesia (RRI) dan Burhan_Kepala Bidang Humas, Pusat Informasi dan Humas (Pusformas), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), tengah sibuk mengenakan perlengkapan standar yang biasa dikenakan dalam kegiatan rafting.

Setelah mengenakan life jacket cerah dan helm warna senada, keduanya berkumpul dengan peserta lainnya untuk mendengarkan pengarahan instruktur rafting seputar aturan dalam melakukan olahraga arung jeram ini. Para instruktur dan rescue team adalah kelompok anak muda dari sekitar Situ Cileunca yang berpengalaman dan sebelumnya sudah mendapat pelatihan sebagai pemandu wisata rafting.

“Kalau saya bilang stop, jangan mendayung, dan dayung harus dalam posisi di atas pangkuan. Kalau aba-aba mundur, didayung mundur, kalau maju ya didayung maju. Kalau saya berteriak boom, kalian harus menunduk. Ngerti kan,” terang Asep, salah seorang instruktur yang disambut teriakan kompak Lina dan Burhan. Ngertiiiii.

Di tepi danau yang berair tenang itu, bukan Lina dan Burhan saja yang tampak serius mendengarkan pengarahan instruktur. Masih ada puluhan jurnalis yang tergabung dalam Forum Wartawan Kebudayaan dan Pariwisata (Forbudpar) beserta staff Pusformas Kemenbudpar lainnya. Tujuan mereka berarung jeram di Sungai Palayangan yang berawal dari Situ Cieunca, Jumat siang itu adalah satu, mengusir bosan!

Mereka terbagi dalam enam perahu karet khusus yang masing-masing bermuatan enam dan ada yang 7 orang, termasuk seorang instruktur. Dua penumpang yang duduk di depan dan belakang serta instruktur sebagai pemegang dayung. Sementara dua orang lagi yang duduk di tengah perahu, duduk manis sebagai penggembira.

Sebelum mengarungi jeram-jeram yang sebenarnya. Mereka melakukan pemanasan di permukaan air danau yang tenang sekitar 10 menit dengan perahu karet khusus berwarna merah cerah. Wajah Lina, Burhan, dan lainnya masih nampak tenang dan sumringah, secerah warna pelampung yang pakainya.

Setibanya di jembatan, pemanasan berakhir. Satu-persatu mereka turun dari perahu lalu berjalan kaki menyeberang jembatan dan menuruni lapangan rumput. Setibanya di plang bertuliskan “Wellcome Palayangan River”, masing-masing kelompok diabadikan bersama oleh fotografer setempat. Kemudian langsung menuju perahu karet yang sudah terlebih dulu dilarungkan dan siap membawa mereka terombang-ambing oleh riam-riam Palayangan yang sesungguhnya.

Pada awalnya Sungai Palayangan hanya difungsikan sebagai sarana penyalur air dari Situ Cileunca menuju PLTA Pangalengan. Sama halnya dengan Situ Cileunca, sungai ini merupakan sungai buatan yang pengelolaannya dipegang oleh Indonesia Power. Dengan karakter sungainya yang berbatu-batu, berarus lumayan deras, justru memberikan keuntungan lain bagi warga sekitarnya, yakni wisata arung jeram yang sudah dimulai sejak tahun 80-an.

Lebar badan sungainya relatif sempit antara 5-10 meter dengan kelokkan tajam. Jadi hanya mampu menampung satu perahu karet. Tapi arus airnya bervariasi dari tenang hingga kencang, ber-gradient 30-60 derajat dengan kelas jeram ber-grade antara III - IV.

Saat kondisi normal, debit airnya 2M3 perdetik. Sedangkan pada musim hujan dengan volume air yang melimpah, debit air dapat mencapai lebih dari 4M3 per detik. Kendati begitu airnya tetap jernih, bersih, dan pastinya dingin. Setibanya di Bandung, air sungai ini diolah oleh PDAM Bandung menjadi air bersih untuk diminum warga Bandung. Jadi kalau terminum saat berarung jeram, rasanya bukan masalah.

14 Jeram
Ada sekurangnya 14 jeram yang menghuni sungai ini antara lain jeram selamat datang, rungkun, blender, es, kecapi, domba, anak domba, gadis 1, gadis 2, dan jeram rahong. Namun jeram yang paling menarik dan menantang yakni jeram domba, blender, dan jeram kecapi dengan gradient tertinggi. Di sebut jeram domba karena dulu ada domba yang mati terjatuh di jeram tersebut. Dinamakan jeram blender, karena arusnya berputar-putar deras seperti sedang memblender apa pun yang masuk ke dalamnya. Sedangkan jeram kecapi lantaran jeramnya yang panjang dan menurun seperti tingkatan dawai alat musik petik kecapi.

Butuh waktu sekitar 1,5 - 2 jam untuk mengarungi semua jeramnya dari titik start hingga finish sepajang lebih kurang 5 Km. Yang menarik lagi sekaligus nilai lebih buat sungai ini, panorama sekitarnya sangat indah karena berada di lembah di antara hutan pinus dan perkebunan teh.

Nah, sewaktu melihat dan mendengar gemuruh riam selamat datang, jeram pertama di sungai ini, beberapa peserta mulai merona wajahnya. “Deg-deggan nih dadaku,” kata Lina. Begitu pun dengan Burhan, meskipun tak dia ucapkan tapi terlihat dari rautnya. Boleh dibilang hampir semua peserta dihinggapi sedikit ketegangan.

Namun seketika berubah, ketika perahu satu demi satu meluncur deras mengikuti kodratnya, terbawa arus deras, meliuk-liuk di antara bebatuan hingga ke genangan terendah. Setiap jeram yang terlewati hampir setiap peserta berteriak keras, wooooow…seolah ingin mengalahkan gemuruh jeramnya.

Selama pengarungan, ada peserta yang terlihat selalu cerah, begitu menikmati guncangan perahu tak pernah letih. Ada pula yang dari awal hingga pertengahan, tegang dan ingin segera berakhir. “Sewaktu di perahu aku sempat mikir kapan sampai-nya,” kata Lina. Sementara Vani mengaku mendapatkan sesuatu baru yang mengasyikkan. “Jujur, aku baru kali ini rafting, ternyata asyik banget, lebih fun daripada flying fox,” akunya.

Tapi yang pasti usai berarungjeram, terpancar kepuasan dari wajah mereka. “Rasa bosanku, benar-benar sirna,” kata Lina seraya diamini Burhan. Setibanya di lokasi finish, beberapa peserta menceburkan diri ke sungai sebagai pelampiasan kepuasannya mengarungi jeram-jeram Palayangan.

Dengan debit air yang stabil sepanjang tahun, jeram-jeram yang menantang, pemandangan yang indah, dan jarak yang cukup dekat dengan Bandung serta aman digunakan bagi pemula yang belum pernah berarung jeram sekalipun, rasanya tak berlebihan bila sungai ini menjadi lokasi arung jeram terbaik untuk mengusir penat dan bosan. Anda pun layak mencoba.

Tips perjalanan
Tak sulit mengunjungi Situ Cileunca yang menjadi titik awal berarung jeram di Sungai Palayangan. Jaraknya sekitar 45 km di selatan Bandung, tepatnya di Kecamatan Pangalengan yang terkenal sebagai daerah penghasil susu dan sayuran.

Kalau tidak membawa kendaraan pribadi, dari Terminal Bandung Anda naik bus ke terminal Pangalengan, kemudian dilanjutkan dengan naik angkot ke Situ Cielunca. Setibanya di sana, Anda mendaftarkan rombongan ke pihak pengelola untuk berarung jeram. Minimal l perahu 6 orang, per orang dikenakan biaya Rp 200.000. Bila rombongan Anda kurang dari 6 orang, tetap di kenakan harga 1 perahu Rp 1,2 juta. Harga tersebut sudah termasuk makan siang setelah rafting dan angkutan lokal yang menjemput Anda usai rafting ke Situ Cileunca.

Kalau Anda ingin bermalam, di sekitar Situ Cileunca tersedia homestay sederhana dengan fasilitas seadanya. Tapi kalau ingin yang lebih berfasilitas lengkap, Anda bisa memilih resort dan hotel di Pangalengan, antara lain Resort Citere, Hotel Puri Pangalengan atau Hotel Damanaka.

Keesokan harinya, Anda dapat melanjutkan ke berbagai obyek wisata terdekat seperti wana wisata Hutan Rahong untuk ber-outbond flying fox dan paint ball. Atau ke pabrik susu KPBS Pangalengan untuk melihat proses pembuatan sekaligus membeli bermacam olahan makanan dari susu seperti permen susu caramel, dodol, dan kerupuk susu. Pilihan lain, mandi air hangat pegunungan di kolam pemandian air panas Cibolang, atau ke Gunung Puntang dan Makam Bosscha.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Baca tulisan terkait:
1. Rafting & Flying Fox Pacu Adrenalin Jurnalis & Humas Budpar
2. Sungai-Sungai Pembunuh Jenuh dari Aceh hingga Papua

Read more...

Sungai-Sungai Pembunuh Jenuh dari Aceh hingga Papua



Bosan berak-tivitas di dalam kota? Cobalah berarung jeram di sungai menantang yang bersemayam di lembah pegunungan dan perbukitan dari Aceh hingga Papua. Dari ratusan sungai di negeri ini, beberapa di antaranya sudah lama digunakan untuk berarung jeram (rafting). Sungai-sungai itu berpredikat sebagai pembunuh jenuh. Sungai apa saja?

Di Aceh ada Sungai Alas dan Sungai Tripa yang menjadi lokasi berarung jeram terbaiknya. Sungai Alas terletak di dalam Taman Nasional Gunung Leuser dan mengalir ke arah Aceh Selatan. Sungai ini menjadi idaman para rafter Indonesia, termasuk mancanegara menginagat tingkat kesulitan jeram-jeramnya antara III – IV. Rute pengarungan berawal dari Serkil ke Ketambe atau Natam dekat Kutacane. Rute yang lebih panjang dari Ketambe ke Gelombang, Aceh Selatan.

Sungai Tripa juga terdapat di TN Gunung Leuser. Titik awal pengarungan dari Desa Pasir sampai Desa Tongra, Terangun Aceh Tenggara. Desa Pasir dapat dijangkau lewat Blangkejeren dengan kondisi jalan masih berlumpur.

Di Sumatera Utara ada sekurangnya 3 sungai yang kerap digunakan untuk berarungjeram, yakni Sungai Asahan, Wampu, dan Sungai Batang Toru.

Sungai Asahan berhulu dari mulut Danau Toba melewati Kabupoaten Asahan dan bermuara di Teluk Nibung, Selat Malaka. Jeram sungainya liar dan deras kare topografi daerahnya bergelombang. Jeram terbesar dan terganas rabbit hole yang ber-grade V. Titik awal pengarungannya dari Sampuran Harimau, Desa Tangga, Kabupaten Asahan dan berakhir di Desa Bandar Pulau.

Sungai Wampu mengalir melintasi dua kabupaten, yaitu Karo dan Langkat sepanjang lebih dari 140 Km. Hulunya berada pada dataran tinggi Karo dan bermuara di kawasan Suaka Margasatwa Karang Gading, Langkat Timur Laut.

Tingkat kesulitannya kelas II-IV. Start-nya dari Desa Kaperas di Marike sampai Jembatan Bahorok di Kabupaten Langkat. Jarak tempuh kurang lebih sepanjang 22 Km, waktu tempuh normal 4-5 jam. Rute pengarungan yang lebih panjang dari Desa Rih Tengah, Kabupaten Karo.

Sungai Batang Toru di Tapanuli Selatan juga berhulu dari Danau Toba, mengalir ke Barat daya dan bermuara di Samudera Hindia. Orang Tarutung menyebut sungai ini dengan nama Aek Sigeon, sedangkan orang Batang Toru menamainya Aek Sarula. Panjang sungainya sekitar 125 Km dengan grade III-IV.

Di Lampung dan sungai (Way) Semangka di pingir perbatasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan. Rute arung jeramnya sepanjang 23 km selama 5 s/d 7 jam. Titik awalnya dari Desa Tugu Ratu dan finish-nya di Dam Talang Asahan. Lokasi start-nya dapat ditempuh sekitar 5-6 jam dari Tanjung Karang. Sementara di Jambi ada Sungai Batang Tembesi.

Di Jawa Tengah ada Sungai Progo, Kali Srayu, dan Sungai Elo. Di Sulawesi Utara ada Sungai Nimanga, Ranoyapo, Ongkak, dan Sungai Tondano. Sementara di Bali ada Sungai Ayung yang dulu memiliki pemandangan kiri kanan sawah dan permukiman.

Jawa Barat Terbanyak
Jawa barat memiliki sungai terbanyak yang kerap digunakan untuk arung jeram. Selain Sungai Palayangan di Pangalengan, Kabupaten Bandung, masih ada beberapa sungai lainnya. Ada Sungai Citarum, Cikandang, Citarik, Ciatih, Cimandiri, Cipeles, Cimanuk, Cikaso, Cintanduy, dan Sungai Cisadane.

Sungai Ciatarum start-nya di Kampung Cisameng Bantar Caringin, Desa/Kecamatan Rajamandala, Kabupaten Bandung. Lokasinya mudah dicapai baik dengan kendaraan pribadi maupun umum. Jalan menuju lokasi beraspal mulus. Dari terminal Kampung Rambutan, Jakarta naik bus jurusan Bandung atau ke Singaparna, Tasikmalaya yang melewati Padalarang, baik ekonomi maupun AC. Turun di Gerbang Waduk Saguling, lalu naik ojek sepeda motor ke Kampung Cisameng. Perkebunan coklat mendominasi pemandangan di sisi jalan menuju kampung ini.

Sungai Cikandang di Kabupaten Garut Selatan, berasal dari Gunung Cikuray dan Papandayan yang bermuara di Pantai Rancabuaya, Samudra Hindia (laut selatan). Lokasinya start-nya di Desa Sukamulya, sekitar 36 Km dari pusat Kecamatan Pakenjeng, sekitar 3 jam perjalanan darat dari Bandung.

Sungai Cimanuk juga berasal dari Gunung Papandayan. Sungainya melintasi 4 Kabupaten, yaitu Garut, Sumedang, Majalengka dan Cirebon lalu bermuara di laut Jawa. Rute pengarungannya ada beberapa tahap, yakni Jager – Leuwi Goong, Leuwi Goong – Sasak Besi, dan Sasak Besi – Limbangan. Ada pula yang berakhir sampai Wado di Kabupaten Majalengka dengan lama pengarungan mencapai 3 Hari.

Sungai Cikaso yang berhulu dari pegunungan di Sukabumi utara. Sedang muaranya di pantai selatan, Kecamatan Surade, Sukabumi Selatan. Rute pengarungannya sekitar 24 Km.

Sungai Cimandiri di Sukabumi berhulu dari Gunung Gede Pangrango. Panjangnya 8,6 Km. Biasanya dengan rute pengarungannya antara Jembatan Padabeunghar sampai Jembatan Desa Cilalai.

Sungai Cipeles di Kabupaten Sumedang dengan lintasan arungannya sejauh 10 Km selama 2 jam. Start-nya dari Rumah Makan Sari Bumi dengan finish di Bendungan Sentig.
Sungai Cicatih di Sukabumi cukup lebar antara 25 s/d 100 meter. Start pertamanya dari Dam PLTA Ubruk, kedua dari Desa Bojongkerta deengan finish di jembatan gantung Leuwilalai selama 3 jam. Jeram Gigi adlah jeram terbesarnya dengan tingkat kesulitan Class IV.

Sungai Citarik Sungai di Sukabumi sangat terkebal dikalangan pengarungjeram. Rte pengarunagnnya sepanjang 17 Km. Start-nya dari Parakan Telu, Desa Cigelong atau dari Pajagan, Desa Cigelong, finish-nya di Desa Citangkolo, Cikidang atau di Desa Cikadu, Pelabuhan Ratu. Waku tempunya sekitar 4 jam.

Di Sulawesi Selatan ada Sungai Mai'ting di Desa Dende'-Piongan, Kecamatan Rinding Allo yang berjarak kurang lebih 60 Km dari Rantepao, dan Sungai Sa’adan dan. Paket rafting umumnya termasuk transportasi ke dan dari lokasi arung jeram, makan siang, cemilan, buah-buahan, pemandu, portir dan biaya parkir di lokasi arung jeram. Harga paket yang ditawarkan antara lain Rp 350.000 per orang. Operator arung jeram dapat dihubungi di kantornya di Kota Rantepao atau melalui beberapa hotel berbintang, agen perjalanan dan biro wisata di Toraja.

Di Kalimantan Barat ada Sungai Kapuas, Kalimatan Timur Sungai Mahakam, dan di Kalimantan Selatan ada Sungai Amandit. Khusus Sungai Amandit, tepatnya di Kecamatan Loksado, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, sekitar 130 Km dari Kota Banjarmasin, pengarungan dilakukan bukan dengan perahu karet melainkan dengan rakit bambu sehingga dikenal dengan sebutan bamboo rafting.

Sedangkan di Papua, sungai yang kerap diincar sebagai lokasi ekspedisi para pengarungjeram adalah Sungai Mamberamo. Untuk menuju rute pengarungannya, aksesnya masing sulit. Jeram-jeramnyapun tergolog besar dengan grade sampai VI.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 27 Oktober 2010

Mbah Maridjan, “Bersujud” dalam Keteguhan Prinsip



Manusia yang semasa hidup tak berprinsip seperti kapas ataupun buih air yang melayang dipermainkan angin tak tentu arah, lalu terhempas di bumi tanpa arti. Sebaliknya manusia yang keras pendiriannya hingga ajal menjemput akan tercatat dalam sejarah dan dikenang luas, terlepas benar atau tidaknya, baik atau buruknya prinsip yang genggamnya itu.

Tak banyak manusia yang hidup memegang teguh prinsipnya sampai nafas terakhir. Salah satu dari yang sedikit itu adalah Mbah Maridjan, Juru Kunci Gunung Merapi yang namanya kembali bergema setelah ditemukan tewas dalam posisi bersujud akibat semburan awan panas Gunung Merapi di dalam kamar mandi kediamannya di Dusun Kinahrejo, Cangkringan, Umbul Harjo, Sleman, Yogyakarta, Rabu, 27 Oktober 2010 atau sehari setelah gunung api aktif itu erupsi.

Keteguhannya memegang prinsip yang seolah sudah menjadi pegangan hidupnya itu, membuat namanya tersohor sekaligus disegani dan semakin dihormati pengikutnya. Lambat laun tapi pasti, pamor dan ‘kesaktiannya’ turut naik.

Bila dulu lelaki berperawakan kecil kelahiran tahun 1927 ini hanya dikenal di kalangan warga dusun sekitar kaki Gunung Merapi, kemudian namanya menasional. Terlebih setelah dia berhasil selamat dari letusan merapi 2006 silam dan kemudian menjadi bintang iklan sebuah produk suplemen. Wajahnya pernah wara-wiri di layar kaya seraya mengepalkan tangan dan berteriak rosso-rosso. Gambarnya pernah terpampang di badan bus-bus umum di ibukota Jakarta.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, pria bernama asli Mas Penewu Suraksohargo atau Ki Surakso ini begitu yakin semua muntahan material dari perut Merapi tidak akan sampai ke dusunnya, memporak-porandakan rumahnya apalagi merenggut nyawanya. Keyakinan semakin kuat karena mendapat dukungan penuh pengikutnya. Dia tak mau beranjak dari kediamannya. Dia tak gubris sedikitpun seruan banyak pihak untuk segera eksodus.

Bak seorang olahragawan yang bertanding dengan lawan tandingnya yakni amarah Merapi, bak seorang pemimpin prajurit yang berperang dengan musuhnya yakni murka Merapi, dia terus bertahan dan melawan. Ketika itu dia berhasil keluar sebagai pemenangnya. Dialah juaranya. Dialah pahlawannya. Dia benar-benar selamat dan kemudian mendapat pujian.

Keselamatannya ketika itu adalah pialanya yang seketika tersiar ke khalayak luas negeri ini. Banyak yang kagum padanya. Simpatik pun mengalir padanya. Pengikutnya semakin hormat dan percaya akan pendiriannya itu. Penggemar barunya pun semakin bertambah.

Rupanya kali ini, pria yang sulit berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia ini tak seberuntung dulu. Dia tewas oleh keteguhan pendiriannya sendiri yang kukuh bertahan meskipun Merapi meletus. Kali ini dia kalah. Bukan keselamatan yang diperolehnya tapi kematian yang direngkuhnya. Ketika ditemukan tewas, dia mengenakan batik dan kain sarung. Tubuhya sudah terbakar dan sulit dikenali, tertimpa reruntuhan puing rumah dan pohon. Sekitar kediamannya pun rusak parah bukan oleh lahar tapi awan panas dan debu vulaknik Merapi.

Kendati kematian Mbah Maridjan disayangkan banyak orang, tapi tetap saja mendapat simpatik luar biasa. Hari ini sejumlah pemilik akun jejaring facebook dan twitter menuliskan ucapan belasungkawa padanya, bahkan ada yang menyebutnya “Sang Pahlawan Merapi”. Video jenazahnyapun segera beredar di youtube. Sejumlah media baik koran, online, radio maupun TV lekas memberitakan kematiannya. Bahkan ada stasiun TV yang membahas kepergiannya itu dalam dialog khusus dengan mewawancarai Sri Sultan Hamengkubowono X, orang nomor satu yang selama ini dipatuhi perintahnya oleh almarhum.

Bagai Karang Kokoh
Manusia-manusia pemegang teguh prinsipnya seperti Mbah Maridjan, senantiasa mewarnai dunia. Sepak terjangnya kerap mencengangkan, mengejutkan, dan jadi bahan pembicaraan mayarakat luas di ruang-ruang publik.

Mbah Mardijan adalah pemegang teguh pendirian berskala nasional yang dimiliki negeri ini dari kalangan masyarakat sipil. Di dunia, setidaknya ada Hitler yang keras pendiriannya membasmi bangsa Yahudi, Saddam Husein yang otoriter, berani melawan aturan polisi dunia AS, dan kini ada Mahmoud Ahmadinejad yang teguh menentang AS dan Israel hingga mendapat simpatik luar biasa umat Islam di dunia.

Kadar keteguhan prinsip Mbah Maridjan memang tidak bisa dibandingkan dengan Hitler, Saddam Husein, dan Mahmoud Ahmadinejad yang mendunia itu. Tapi sampai kapanpun cerita keteguhan prinsipnya itu akan tertoreh dalam lembaran sejarah dan dikenang banyak orang terlepas benar atau tidaknya prinsip yang dipegangnya.

Seperti daun kering di tengah samudera, begitulah manusia yang tak berprinsip kukuh. Dia terombang-ambing dalam riak ketidakpastian. Bagai karang kokoh yang tertancap kuat di tepi pantai, begitulah gambaran manusia yang memegang kuat pendiriannya. Dia tetap bertahan meski terhempas ombak bertubi-tubi. Dan Mbah Mahridjan adalah salah satunya.

Tulisan ini saya persembahkan buat mendiang Mbah Maridjan yang semasa hidup pernah menerima saya dua kali di kediamannya yang bersahaja. Pertemuan terakhir dengannya, ketika mengikuti Lava Tour bersama tim Java Promo pasca letusan Merapi 2006 silam. Saya sempat shalat di musolah dekat rumahnya. Saat bercerita dia hanya menggunakan Bahasa Jawa dan tidak berkenan difoto. Meski ora mudeng dengan pembicaraannya, saya tetap mengindahkan prinsipnya itu. Tapi ada saja tamu lain yang diam-diam mengambil gambarnya.

Berkunjung ke kediaman Mbah Maridjan sekaligus bertemu dan berbincang dengannya menjadi nilai lebih paket wisata alam unik satu ini. Saya yakin, setelah pria sederhana ini tewas, bekas reruntuhan kediaman dan sekitar dusunnya serta cerita keteguhan pendiriannya, tetap menarik perhatian wisatawan dan menjadi nilai lebih tour package ini kelak.

Selamat jalan sang pemegang teguh pendirian. Kekuatan dan kebenaran akan prinsipmu itu, cuma tuhan yang berhak menilai dan memutuskan. Bukan rakyat, bukan pemimpin, bukan pula dunia.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Adji & Dok Ist.

Read more...

Senin, 11 Oktober 2010

Rafting & Flying Fox Pacu Adrenalin Jurnalis & Humas Budpar



Rafting dan flying fox bukan cuma ramai-kan acara Peningkatan Pema-haman Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Bagi Jurnalis dan Pers yang digelar Pusat Informasi dan Humas (Pusformas), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, (7-9/10/2010). Pun memacu adrenalin para pewarta dan humas kebudayaan dan pariwisata (budpar).

Kamis sore (7/10/2010), usai mengikuti pembekalan di Gedung Sapta Pesona, Jakarta yang dihadiri Menbudpar Jero Wacik dan sejumlah direktur jenderal (dirjen) antara lain Dirjen Sejarah & Purbakala Aurora Tambunan dan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Firmansyah Rahim, sekitar 20 jurnalis baik cetak, elektronik maupun online beranjak ke Pangalengan dengan 1 bus pariwisata ukuran besar. Sementara rombongan Pusformas Kemenbudpar dalam 1 bus ukuran sedang.

Rombongan singgah di Rumah Makan Sari Sunda, Bandung untuk santap malam. Dilanjutkan ke Pangalengan menuju penginapan Citere Resort.

Keesokan paginya, Jum’at (8/10/2010), selepas sarapan rombongan menuju Hutan Rahong yang berpanorma indah, berupa hutan pinus dan hamparan teh berlatar Sungai Palayangan dan pegunungan.

Dipandu tim instruktur outbond, peserta rombongan melakukan bermacam permainan untuk membentuk kerjasama dan kekompakan seperti fun games, flying fox, dan paint ball. Hampir semua jurnalis dan staff Pusformas Kemenbudpar termasuk Kapusformas I Gusti Ngurah Putra melakukan flying fox yakni menggantung lalu meluncur di dua utas tali baja yag tersambung dengan peralatan bantu khusus seperti harness, carabinner dan lainya dari ketinggian menuju finish di dataran rendah. Permainan yang diadaptasi dari pelatihan militer ini bertujuan untuk menguji nyali atau mental individu.

Beberapa jurnalis mengaku ini kali pertamanya melakukan flying fox. Awalnya banyak yang takut tapi setelah meluncur dan sampai finish, justru berubah senang. Bahkan ada beberapa peserta yang mencoba meluncur dua kali.

Selepas shalat Jum’at dan makan siang prasmanan dengan menu khas tradisional Sunda antara lain karedok, sayur asam, empal daging, sambal, dan lalapan, intrusktur outbond membagi rombongan menjadi dua kelompok yakni arung jeram (rafting) dan pemerahan susu sapi. Ternyata para jurnalis maupun staff Pusformas Kemenbudpar lebih banyak yang memilih olahraga petualangan yang biasanya dilakukan di sungai berjeram-jeram secara berkelompok dengan tujuan membentuk kerjasama yang kuat dalam satu tim.

Seluruh rombongan kemudian menuju Situ Cileunca untuk melakukan melakukan pemanasan pra berarung jeram di sungai yang sesungguhnya. Ada 6 perahu karet khusus rafting yang dipakai. Satu perahu diisi 6 orang termasuk intrusktur. Kelompok yang memilih memeras susu sapi, menuju lokasi diantar oleh kru.

Sebelum mengarungi Sungai Palayangan, instruktur rafting memberikan pembekalan cara berarungjeram yag benar termasuk istilah-istilah yang digunakan dalam olahraga petualangan ini. Setiap peserta diharuskan mengenakan pelampung dan helm yang sudah disediakan. Dua peserta yang duduk di perahu bagian depan dan belakang termasuk intusktur, masing-masing memegang alat pendayung.

Selama lebih kurang 10 menit, masing-masing perahu melakukan pemanasan di permukaan air Situ Cileunca. Setelah dirasa cukup, kemudian melaju menuju jembatan. Setibanya di jembatan, para peserta turun dari perahu karet lalu menyeberang jembatan menuju hulu Sungai Palayangan yang menjadi titik awal arung jeram yang sebenarnya.

Setidaknya ada 3 jeram besar yang harus dilewati masing-masing perahu, yakni jeram domba, blender, dan jeram kecapi. Di sebut jeram domba karena dulu ada domba yang mati terjatuh di jeram tersebut. Dinamakan jeram blender, karena arusnya berputar-putar deras seperti sedang memblender apa pun yang masuk ke dalamnya. Sedangkan jeram kecapi lantaran jeramnya yang panjang dan menurun seperti tingkatan dawai alat musik petik kecapi.

Meski ada beberapa peserta yang baru pertama kali berarungjeram, namun mereka mengaku lebih enjoy, tidak setakut sewaktu pertama kali flying fox. Usai puas jadi mainan jeram-jeram Sungai Palayangan selama sekitar 1,5 jam hingga seluruh pakaian peserta basah dan pegal-pegal, seluruh peserta kembali ke penginapan.

Pengurus Forbudpar Baru
Malam harinya, sehabais makan malam diteruskan dengan diskusi dengan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Kadis Kopar) Kabupaten Bandung Dicky Anugerah dan Wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Wakadis Dikbud) Kabupaten Bandung Lilis yang menjelaskan kepada para jurnalis mengenai program kerja dan unggulan masing-masing dinas.

Menurut Dicky Kabupaten Bandung memiliki banyak obyek wisata alam yang potensial seperti Sungai Palayangan untuk arung jeram, Kawah Putih, Ranca Upas, Situ Patengan, Air Terjun Cicalengka, Gunung Puntang, Pemandian Air Panas Cibolang, dan lainnya. Serta beberapa desa wisata yang dalam pengembangannya bermitra dengan Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar), dimana anggotanya adalah masyarakat sekitar obyek tersebut.

Sementara Lilis menjelaskan seni budaya tradisional Kabupaten Bandung dimasukkan sebagai kegiatan ekstrakulikuler sekolah, mulai tingkat Sekolah Dasar dengan tujuan untuk menjaga kelestariannya.

Usai diskusi, dilanjutkan dengan pemilihan pengurus Forum Wartawan Kebudayaan dan Pariwisata (Forbudpar) yang baru. Dari hasil pemilihan akhirnya terbentuk kepengurusan baru periode 2010-2012 dengan format Adji Kurniawan selaku Ketua, Koko Sudjatmiko (sekjend), Hani Sofia (Sekretaris 1), Nikson (sekretaris 2),dan Stevani Elisabeth (Bendahara).

Sabtu pagi (9/10/2010), selepas sarapan. Rombongan check out dari penginapan lalu menuju pengolahan pabrik permen susu, masih di Pangalengan. Sayang pabrik tersebut sedang libur. Rombongan tidak bisa melihat proses pembuatan permen dari susu sapi tersebut. Akhirnya rombongan hanya membeli aneka penganan berbahan susu sapi antara lain dodol, permen, dan kerupuk susu untuk oleh-oleh.

Selanjutnya rombongan menuju rumah Makan Asti untuk santap siang dengan menu nasi liwet khas Sunda. Disambung dengan pengumuman dan pembagian hadiah bagi peserta yang memenangkan lomba foto selama kegiatan berlangsung. Setelah itu dilanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Di dalam bus, beberapa jurnalis memberi masukan baik mengenai Forbudpar kedepan, lokasi outbond untuk tahun depan, sampai saran tentang pemanfaatan press room di Kemenbudpar yang selama ini kurang terfungsikan secara optimal lantaran kurangnya prasarana penunjang seperti ketersediaan komputer yang terkoneksi internet berakses cepat.

Tahun depan, ada usulan untuk memilih lokasi outbond beratmosfir pantai di Tanjung Lesung, Banten, mengingat lokasinya masih terjangkau relatif cepat via darat dari Jakarta. Maklum 3 tahun berturut-turut outbond tahunan ini berlokasi di obyek wisata pegunungan yang ada di Jawa Barat. Usulan ini dimaksudkan selain untuk mendapatkan nuansa yang beda, pun bertujuan memberi kesempatan kepada obyek wisata di provinsi lain, terekspos oleh media yang ikut outbond.

Secara keseluruhan, sejumlah jurnalis yang pernah mengikuti outbond tahunan Pusformas Kemenbudpar ini sebelumnya, mengaku kegiatan outbond tahun ini lebih menarik dan berkesan, terutama lokasi outbond-nya yang berpanorama indah. Alasan lain tentunya karena ada dua kegiatan bernuansa petualangan yakni flying fox dan rafting yang mampu memacu adrenalin para jurnalis dan humas budpar.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 26 September 2010

Melintasi Tujuh Puncak Merbabu



Dunia boleh bangga punya 7 (tujuh) puncak gunung tertinggi. Tapi Indonesia pun boleh bangga punya satu gunung berpuncak 7 yakni Gunung Merbabu di Jawa Tengah yang menantang untuk didaki.

Mendaki Gunung Merbabu kurang sempurna bila tidak menggapai ketujuh puncaknya. Begitu yang kerap terdengar dari pembicaran sejumlah pendaki. Karena itulah abanyak pendakai yang melakukan hal serupa, termasuki 19 pendaki dari Jakarta yang belum lama ini berhasil melintasi ketujuh puncaknya dari Dusun Thekelan lalu turun ke Dusun Gentis.

Dari Base Camp KOMPPAS (Komunitas Peduli Putra Syarief) di Thekelan, rombongan berangkat sore. Lepas Magrib, rombongan tiba di Pos I atau Pos Pending sekitar 1,5 jam berjalan.

Sejumlah peserta yang membawa beban berat nampak susah payah, maklum fisik belum beradaptasi. Bahkan ada yang nafasnya sesak, dan memohon untuk memasang tenda di pos tersebut untuk istirahat dan bermalam. Padahal sesuai rencana, di Pos I cuma istirahat sejenak lalu mengambil air untuk persedian minum dan masak. Nge-camp-nya di Pos II. Namun kondisi berkata lain, terpaksa memasang tenda, lalu masak, dan bermalam di Pos I.

Pagi, usai sarapan, rombongan berangkat ke Pos II. Melewati sungai kecil yang biasa disebut Kali Sowo. Terus melewati punggungan yang kanan dan kirinya dikelillingi deretan tebing berwarna putih. Itulah tebing yang oleh penduduk setempat dinamakan Pereng Putih. Istirahat sejenak di Pos II Pereng Putih yang juga disebut Pos Seng, karena berupa gubuk kecil yang dinding serta atapnya menggunakan bahan seng.

Dari Pos II menuju Pos III atau Gumuk Menthul sekitar 30 menit. Jalurnya tidak terlalu curam. Keluar dari hutan pos Gumuk Methul, jalur di depan menanjak berkemiringan hampir 30 derajat. Di atas tanjakan ada dataran sedikit lapang. Itulah Pos IV atau pos terakhir.

Dari pos itulah, rombongan harus melewati jalur terberat di Thekelan, sebelum mencapai Puncak I Merbabu, yang punya nama lain Watu Gubung. Beberapa rekan mencatat ketinggian Puncak I per 29 Mei 2010 dan hasilnya tercatat 2.732 meter di atas permukaan laut (mdpl). Tidak ada perubahan ketinggian.

Dari Puncak I, dilanjutkan ke Puncak II atau Watu Tulis atau juga Pemancar. Disebut pemancar karena di puncak ini terpancang menara pemancar. Pukul 13.00, peserta terdepan tiba di Puncak II dan berhasil mencatat ketinggiannya 2.917 mdpl. Di dekat batu, bebrerpa rekan masak untuk makan siang sambil menunggu rekan lain yang masih berjuang di bawah. Cukup lama beristirahat karena hujan. Untunglah setelah itu udara cerah. Sunset hadir begitu indah, menghapus letih pendakian tadi.

Beberapa rekan lain langsung menuju Heliped, mendirikan tenda untuk bermalam. Paginya, usai sarapan, dilanjutkan ke Puncak III atau Geger Sapi karena lokasinya mirip punggung sapi. Ketinggian yang terdata per 30 Mei 2010 adalah 3.001 mdpl. Dan yang menarik setelah tiba di Puncak IV atau lebih dikenal dengan Puncak Syarief, semula ketinggiannya 3.119 mdpl menjadi 3.132 mdpl. Jadi ada kenaikan 13 meter.

Ketika berada di Puncak V atau Ondorante terdata 3.112 mdpl. Sewaktu menuruni puncak ini perlu kewaspadaan tinggi, karena berupa gigir tebing dengan kiri-kanan jurang. Disarankan tidak membawa barang atau ransel saat menuruni puncak ini.

Rombongan terus menuju Puncak VI atau Kentheng Songo (semilam kentheng). Di puncak itu ada 5 kentheng atau lubang batu yang seolah dipahat membentuk luang berisi air, 1 di padang rumput dan 3 lagi di kawasan bumi perkemahan Desa Ketuk Pakis. Ketinggian puncak ini terdata sama dengan ketinggian Puncak Syarief.

Tepat pukul 12.30 WIB, peserta terdepan tiba di Puncak VII atau Triangulasi yang menjadi puncak utama Merbabu dengan tanda triagulasi bertuliskan 3.142 mdpl. Namun setelah diukur ulang, ketinggiannya 3.158 mdpl. Dengan begitu ada kenaikan 16 meter akibat pergeseran tektonik gempa Jogja dan letusan Merapi setahun lalu.

Pencatatan ketinggian terbaru ketujuh puncak Merbabu ini menggunakan 3 alat pencatat ketinggian digital Garmint GPS map 76, Garmint Vista CX, dan Garmint 60.

Di Puncak Utama, beberapa rekan yang tiba lebih awal mengambil inisiatif memasak sambil menunggu peserta lain yang terlihat sedang mengabadikan gambar di Puncak VI. Usai makan siang, seluruh peserta membuat dokumentasi bersama di Puncak Utama.

Pukul 3 sore, seluruh peserta turun puncak melewati padang rumput (savana). Dan seperti dugaan sebelumnya, savana itu berhasil menghipnotis beberapa rekan hingga lupa waktu, lantaran keasyikan berlama-lama mengambil gambar. Untunglah kelompok peserta terakhir berhasil tiba di Dusun Genting, Selo, meski tengah malam.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Pesona Sunset & Savana Merbabu



Selain 7 (tujuh) puncak-nya, pesona matahari tengge-lam (sunset) dan padang rumputnya (savana) menjadi alasan lain mengapa banyak penggiat alam bebas yang mau mendaki Gunung Merbabu di Jawa Tengah.

Titik terbaik untuk mengabadikan sunset Merbabunya dari ketujuh puncaknya, terutama dari Puncak Utama dan Puncak III. Dari Puncak III yang ditancapi menara pemancar ini, pesona sunset-nya begitu memukau. Warna langit yang muncul sebelum sunset, abu-abu kebiruan dengan aksesori alam berupa gerombolan gumpalan awan putih beragam bentuk yang berarak pelan.

Lambat laut warna langit dan awannya pun berubah. Semakin mendekati mentari tenggelam, warna kuning keemasan begitu mendominasi. Lalu langit memerah dan awan pun berubah menipis kehitaman. Yang lebih menarik lagi ada dua gunung yang berdiri anggun berdampingan yakni Sundoro dan Sumbing. Keduanya menjadi ornammen pemanis sunset Merbabu.

Ketika setengah bulatan matahari senja masuk ke garis batas cakrawala, itulah moment yang paling sempurna untuk mengabadikan sunset Merbabu. Itu pula yang membuat banyak orang terhipnotis pesonanya hingga lupa waktu. Ada yang keasyikan memotret atau merekam fenomena alam yang fantastik itu lewat kamera digital maupun handycam. Ada pula yang terlena berlama-lama mengabadikan diri berlatarbelakang langit memerah hingga tak terasa gelap karena sudah berganti malam.

Savana-nya juga mudah ditemui di beberapa titik, terutama di lembah dan punggungan setelah menuruni puncak utama Merbabu yang ditandai dengan triangulasi. Atau sebelum menuju puncak utama bila pendakian dari Dusun Genting, Desa Tarubatang, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, karenanya banyak yang bilang Savana Selo.

Savana Merbabu punya keeksotisan tersendiri. Rumputnya tumbuh di areal cukup luas, mencakup lembah, lereng, dan punggungnya bak hamparan permadani alami raksasa bila dilihat dari kejahuan. Bila dilihat dari dekat, savana-nya berupa padang rumput yang luas, dengan beberapa pohon edelweiss yang tumbuh secara berkelompok maupun menyendiri.

Waktu yang tepat untuk mengabadikan savana Merbabu, saat musim panas. Ketika itu, warna savana-nya hijau muda bercampur kuning keabu-abuan. Pesonanya begitu menggoda dan mampu menerbitkan rasa kagum siapapun.

Sampai kini, 7 puncak, sunset, dan savana Merbabu masih menjadi daya pikat utama orang datang mendaki. Peminatnya bukan cuma pendaki dari berbagai kota dan daerah di Indonesia tapi juga mancanegara seperti Swiss, Jepang, Amerika Serikat, dan beberapa negara Eropa.

Untuk dapat menikmati sunset dan savana Merbabu, tak ada pilihan lain selain mendaki gunung yang sudah berstatus Taman Nasional Gunung Merbabu (TNGM) sejak 2004 lalu.
TNGM seluas 5.725 Ha ini berada di 3 Kabupaten yakni, Kabupaten Magelang, Boyolali, dan Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Selain sunset dan savana Merbabu, TNGM ini menyimpan sejumlah flora antara lain pinus, puspa, bintamin, akasia decuren, dan beberapa jenis perdu, adas, eldeweis serta tanaman efifit.

Hutannya menjadi rumah bagi sejumlah fauna seperti kera ekor panjang, lutung hitam, kijang, musang, macan tutul, landak, luwak, dan beberapa jenis burung seperti elang hitam, kutilang, pentet, sepah gunung, dan puter.

Gunung Merbabu berasal dari kata “meru” yang berarti gunung dan “babu” yang berarti wanita. Kendati memiliki 5 buah kawah yakni Kawah Condrodimuko, Kombang, Kendang, Rebab, dan Kawah Sambernyowo, namun gunung ini dikenal sebagai gunung tidur karena jarang sekali meletus.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP