. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Juli 2011

US Beef Versus Ikan Nila di Grand Sahid Jaya


Suka masakan berbahan daging? Coba saja nikmati aneka sajian beef dari negeri Paman Sam AS di Hotel Grand Sahid Jaya Jakarta. Kalau lebih suka menu dari ikan, santap saja olahan ikan nila dengan beragam pilihan rasa. Harga US beef istimewanya itu sampai ratusan ribu per porsi. Namun rasanya dijamin memuaskan selera Anda.

Promosi menu istimewa US beef dapat Anda nikmati selama Juli 2011 di Andrawina Restaurant. Anda bisa memilihi Tenderloin, Rib Eye, dan Sirloin steak yang disiapkan dengan 2 menu pendamping yang dapat Anda pilih sendiri sesuai selera.

Harga menu US beef ini mulai dari Rp 225.000,- ++ / per porsi sampai dengan Rp 385.000,- ++ /per porsi.

Kalau Anda ingin mencoba aneka kudapan gorengan platters bersama teman maupun keluarga datanag saja ke Solo Lounge. Pilihan platters-nya beragam, ada Traditional Indonesian Platters seharga Rp 65.000,- ++/porsi, Sahid Specialities Rp 85.000,- ++/porsi, dan Western Platters Rp 110.000,- ++/porsi.

Di outlet cake and pastry Deli Choice, Anda dapat menyantap kelezatan Pie. Pilihan pie-nya juga beragam, ada Apple Pie yakni pie original Amerika dengan rasa gurih, kenikmataan coklat yang lezat dari Mississippi Pie, dan rasa unik Florida Keylime Pie.

Harganya mulai dari harga Rp 165.000,- ++, Rp 185.000,-++, dan Rp 210.000,- ++ per whole cake. Outlet ini juga menawarkan beberapa cake terbarunya seperti Cheese Quiche, Mushroom Quiche, dan Beef & Pepper Quiche.

Di Bengawan Solo Restaurant, Anda dapat menikmati aneka sajian masakan Nusantara, spesial ikan Nila. Menu ikan ini diolah bermacam rasa seperti rasa Dendeng Bakar, Bumbu Pesmol, Pecak Betawi, Bakar Bumbu Asam, dan rasa Tim Hongkong. Harganya cuma Rp 65.000,- ++ per porsi.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Grand Sahid Jaya

Read more...

Rabu, 25 Mei 2011

Gurihnya Kepiting dan Udang Goreng Barelang



Apa yang bakal Anda temui saat bertandang ke Jembatan Barelang jelang sore hingga malam? Hmmm..., selain sejumlah pasangan muda-mudi yang asyik berpacaran, Anda pun bakal menjumpai para pedagang kepiting dan udang goreng khas trade marknya Kota Batam ini. Mengapa kedua penganan itu diminati pengunjung?

Jelang sore dan malam hari di Jembatan Barelang yang dibangun pada 1992 oleh Jusuf Habibie sebagai pengembang Kota Batam melalui Otorita Batam ini, banyak pedagang makanan dan minuman ringan yang berjejer di pinggiran jembatan. Jajanan yang dijual cukup bervariasi, ada rujak, es kelapa muda, otak-otak, jagung bakar, dan lainnya. Tapi yang paling menarik perhatian penganan kepiting dan udang goreng.

Pedagang yang menjual dua penganan ini lumayan banyak. Tapi karena pengunjungnya banyak, dagangan mereka tetap laris, terutama akhr pekan dan hari liburan.

Udang goreng di jembatan yang menghubungkan 6 pulau dan namanya diambil dari singkatan nama Kota Batam, Pulau Rempang, dan Pulau Galang ini berbentuk sate. Udangnya digoreng dengan tepung lalu ditusuk satu per satu dengan lidi bambu. Satu tusuk beriisi 6-7 udang goreng harganya Rp 5.000.

Sedangkan kepitingnya juga digoreng dengan tepung beras. Satu ekornya Rp 10.000 untuk ukuran yang kecil dan Rp 30.000 untuk yang jumbo atau kepiting ukuran besar. Menurut penjualnya, udang dan kepiting itu di dapat dari perairan di sekitar bawah Jembatan Barelang.

Kedua penganan ini digemari pengunjung, karena rasanya gurih. Dan yang pasti karena suasananya itu. Sambil makan, pengunjung dapat bersantai seraya menikmati pemandangan indah dari atas jembatan, berupa hamparan laut dan beberapa pulau kecil lainnya yang dihubungkan dengan jembatan lainnya.

Kehadiran sejumlah pedagang di Jembatan Barelang ini, semakin melengkapi kekhasan Barelang sebagai tujuan wisata di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau.

Tak sulit mencapai jembatan indah ini. Lokasinya berjarak 20 Km dari pusat kota Batam. Anda dapat naik bus kota dari berbagai halte bus di Batam atau menyewa taksi.

Jadi selagi berlibur ke Batam, tak ada salahnya Anda luangkan waktu ke Jembatan Barelang untuk menikmati kepeting dan udang gorengnya. Karena memang cuma ada di jembatan yang menjadi ikon wisata Kota Batam ini.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Adji & dok Ist.

Read more...

Kamis, 23 Desember 2010

Batam, Surga Bagi Para Vegetarian



Sate yang terlihat di foto ini bukan sate ayam, daging kambing ataupun sapi. Sate ini dari jamur yang diperuntukkan bagi penganut vegetarian. Mungkin di kota Anda, sate vegetarain ini juga ada. Tapi mungkin tidak selengkap bila Anda bertandang ke Batam. Di pulau yang berdekatan dengan negeri mungil Singapura itu tersedia aneka makanan berat dan ringan khusus vegetarian. Dimana lokasi tepatnya dan ada apa saja?

Adalah Maha Vihara Duta Maitreya yang menjadi surga bagi para vegan (istilah orang yang bervegetarian atau tidak makan daging). Bukan hanya vegan dari Batam, pun dari daerah lain di Indonesia bahkan mancanegara seperti Singapura, Malaysia, bahkan India. Pasalnya, di dalam kompleks vihara terbesar di Asia Tenggara ini terdapat restoran vegetarian serta toko makanan kecil khusus vegetarian yang lengkap. Nama restorannya Ariya Maitreya Vegetarian Restaurant yang mampu menampung sekitar 100 orang.

Beragam menu vegetarian yang ’menipu’ seperti sate, rendang, babat, dan lainnya yang bentuknya menyerupai aslinya ada di resto ini. Padahal sebenarnya bukan dari daging, melainkan olahan dari sayur-sayuran dan bahan nabati lainnya.

Pengunjung yang datang ke resto ini, bukan cuma bisa membeli dan menyantapnya di sana, pun bisa melihat proses pembuatan aneka makanan vegetarian itu di dapur restoran tersebut yang beruangan besar, bersih, dan peralatannya higenis serta modern.

Masih di dalam resto ini, dekat pintu masuk sebelah kanan terdapat Arya Maitreya Shop yang menjual aneka makanan kecil khusus vegetarian. Ada biskuit, kacang-kacangan, aneka penganan nabati dan lainnya yang non hewani. Biasanya pengunjung datang membeli untuk oleh-oleh. ”Produk makanan ringannya ada yang dari Cina, Singapura, dan Malaysia selain dari dalam negeri sendiri seperti mie instan, keripik balado dan lainnya,” jelas Alvin Octavianus Yolanda, Humas Maha Vihara Duta Maitreya.

Di sebelah kiri dari pintu masuk resto ini terdapat sekretariat komunitas Indonesia Vegetarian Society (IVS). Di dinding depan ruang ini terdapat majalah dinding (mading) berupa kliping info tulisan berkaitan dengan vegetarian.

Di tengah antara toko dan ruang komunitas, tepat menghadap pintu masuk resto ini terdapat patung dewa penjaga yang lucu, berbadan tambun dan tersenyum, seolah menyapa siapapun yang masuk ke resto ini.

Kelebihan lain, selain dapat menyantap menu serba vegetarian. Anda dapat melihat bangunan vihara di mana di bagian luarnya terdapat beberapa patung berukuran besar, berbadan tambun, dan berkepala plontos dengan mimik wajah yang lagi-lagi selalu tersenyum. Tak heran banyak pengunjung yang datang ke vihara yang diresmikan pada tanggal 23 Januari 1999 oleh Menteri Kebudayaan, Seni dan Budaya Marzuki Usman dan Menteri Agama A. Malik Fadjar ini.

Pengunjungnya bukan hanya untuk bersembahyang khusus buat pemeluk agama Budha, tapi banyak juga yang sekadar bertandang untuk melihat-lihat dan berfoto-foto. ”Vihara ini terbuka untuk umum, apapun agamanya dan gratis. Restorannya pun begitu buka tiap hari, dari pagi hingga malam,” kata Alvin.

Di bagian di belakang kompleks vihara ini pun berdiri bangunan sekolah khusus vegetarian, mulai dari tingkat TK, SD, SMP sampai SMA. Boleh dibilang vihara ini semacam pondok pesantren modern yang tidak hanya sebagai pusat pendidikan, pun bermacam aktivitas yang didukung fasilitas yang memadai dan tenaga profesional.

Dengan keberadaan vihara besar ini lengkap dengan restoran dan sekolah khusus vegetarian, wajar bila Batam kerap menjadi lokasi penyelenggaraan kegiatan vegetarian baik tingkat nasional maupun internasional.

Pada tahun 2009 misalnya, pulau surga bagi vegetarian ini menjadi tuan rumah The 4th Asian Vegetarian Congress dengan tema Vegetarian: Healthy and Eco-Friendly For All, dan dipengujung 2010 menjadi tuan rumah event The 3rd Vegetarian Food bertajuk Lets Save Life, Lets Save Planet Earth yang diorganisir oleh IVS didukung Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

Acara Vegetarian Food ini digelar rutin tiap tahun di vihara ini dan berhasil menarik kunjungan wisatawan dari negara tetangga terutama Singapura, Malaysia, Thailand, dan India. ”Kemenbudpar mendukung kegiatan ini karena mampu menjaring wisman, terlebih event ini berbasis komunitas tersendiri yakni para vegetarian baik dari dalam maupun luar negeri. Tahun depan akan kita perkaya lagi acara ini biar lebih besar gaungnya hingga menarik lebih banyak wisman terutama dari negara-negara yang penduduknya banyak menganut gaya hidup makan vegetarian,” jelas Nia Niscaya selaku Direktur Meeting, Incentive, Conference, & Exhibition (MICE, Kemenbudpar.

Alvin menambahkan vegetarian itu bukan ajaran agama tertentu. Ini adalah gaya hidup sehat yang dapat dilakukan oleh penganut agama manapun. Tak begitu sulit menjalaninya, karena sebagian besar makanan vegetarian sudah biasa kita makan sehari-hari. Bedanya tidak makan daging, baik ikan, maupun daging hewan lainnya. ”Seminggu pertama mungkin akan ngantuk, karena belum terbiasa. Tapi seterusnya sudah bisa beradaptasi dan bikin badan terasa lebih sehat dan bugar,” jelas Alvin yang sudah 20 tahun lebih menjadi vegan.

Tips Perjalanan
Bila ingin ke Maha Vihara Duata Maitreya yang berada di di Jl. Bukit Beruntung, Sei Panas, Batam Center, Batam. Dari Jakarta Anda naik pesawat udara ke Bandara Hang Nadim Batam. Setelah itu naik taksi ke lokasi. Di bandara ini sudah tersedia tarif taksi sesuai jarak dari bandara ke lokasi yang Anda tuju. Tarif taksi ke Batam Center Rp 75.000.

Akomodasi terdekat dengan vihara ini antara lain Hotel Sky View dan Hotel Sydney di kawasan Batam Center dengan tarif sekitar Rp200.000-an per kamar termasuk makan pagi. Kalau punya budget lebih, Anda bisa memilih bermalam di hotel berbintang 3 maupun bintang 4.

Obyek wisata bahari yang dapat Anda kunjungi Pantai Melur. Tiket masuknya Rp 10.000 per mobil. Di pantai ini bisa berenang atau sekadar makan siang.

Lalu ke kawasan Jembatan Barelang (Batam – Rempang – Galang). Kalau mau sewa mobil sekitar 400 sampai 500ribu sehari untuk mobil jenis Kijang. Beli makanan kecil dan minuman untuk bekal perjalanan di supermarket yang dilewati selama perjalanan ke Barelang.

Lanjutkan ke Pulau Galang, eks kamp pengungsi Vietnam. Tiketnya sekitar Rp 20.000 per mobil. Di lokasi ini Anda dapat melihat bekas barak-barak atau rumah pengungsi asal Vietnam, gereja atau dari kayu yang masih cukup terawat, dan sisa-sisa perahu yang dipakai oleh para pengungsi.

Sebelum kembali ke penginapan, Anda bisa ke perkebunan buah naga asal Taiwan yang belakangan banyak dibudidayakan di daerah Barelang. Hasil buahnya bertebaran di sejumlah supermarket dan pasar di Batam, bahkan diekspor ke Singapura dan Malaysia.

Di perkebunan buah naga ini, Anda dapat membeli langsung semasa panen. Biasanya panen buah naga dilakukan 2 pekan sekali, setiap Sabtu dan Minggu. Harga buah naga di perkebunan ini jauh lebih murah dibandingkan di mall dan pasar di Batam. Kalau mau menikmati buah naga dan jusnya, singgah saja di salah satu rumah makan yang menyediakan berbagai makanan dari buah naga.

Sebelum pulang ke Jakarta, bisa berbelanja buat sendiri dan oleh-oleh di kawasan Nagoya. Jangan lupa menikmati pempek dan pisang goreng aisuka di dekat Hotel Kolecta atau makan siang dengan sop ikan khas Batam di Rumah Makan Yongkie.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 12 November 2010

Sensasi Robatayaki, Khas Keyaki Japanese Restaurant



Hidang-an dari Jepang yang otentik di Keyaki Japanese Restaurant memang beragam. Tapi yang paling banyak pemintanya menu Robatayaki. Mengapa dan apa isi menu khas negeri sakura itu?

Keyaki Japanese Restaurant menawarkan beragam pilihan kuliner Jepang seperti Teppanyaki, Robatayaki, Sukiyaki, Yakiniku, aneka Sushi, dan banyak lagi menu pilihan lainnya. Tapi yang paling diminati adalah Robatayaki, yakni menu dari berbagai pilihan hasil laut segar seperti aneka jenis ikan, udang, kerang, cumi-cumi, aneka pilihan jamur, daging sapi, dan sayur buah. Bermacam jenis makanan tersebut diberi rendaman saus Jepang yang unik, lalu dipanggang dan disajikan dengan saus spesial kreasi Chef Riichiro Matsui.

Sedangkan makanan penutupnya yang menjadi favorit pengunjung antara lain Ogura, sajian es krim Keyaki terbuat dari kacang merah. Ada pula Melon a la mode yaitu buah melon disajikan bersama es krim Ogura, Uji Kintoki, es krim disajikan dengan kacang merah, Dorayaki dan Yaki Banana, pisang bakar disajikan dengan es krim.

Keyaki Japanese Restaurant buka setiap hari mulai pukul 11.30-14.30 WIB untuk makan siang, dari pukul 18.00-22.30 WIB umtuk makan malam. Pada hari Sabtu dan Minggu, makan siang prasmanan dimulai pada pukul 11.00 sampai 14.30 WIB.

Sejak pertama kali dibuka telah menjadi pilihan pertama bagi penikmat masakan Jepang di Jakarta. Restoran ini telah beroperasi bersamaan dengan dibukanya Hotel Sari Pan Pacific pada 1976 dengan nama Furusato, dan pada 1987 berganti nama menjadi Keyaki Japanese Restaurant.

Kalau Anda ingin menikmati sajian masakan otentik Jepang dari resto ini tanpa harus keluar rumah, Chef Matsui akan menyediakan berbagai masakan pilihan Anda langsung di rumah atau kantor Anda.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Sari Pan Pacific

Read more...

Rabu, 08 September 2010

Thimpan Aceh Versus Dodol Betawi Khas Lebaran



Pas lebaran, ketupat dimana-mana ada dan bentuk-nya hampir serupa. Tapi penganan khas lebaran belum tentu sama. Di Aceh misalnya ada thimpan tapi di Jakarta ada dodol Betawi. Seperti apa dan bagaimana membuat kedua kue utama lebaran itu?

Thimpan adalah kue istimewa dalam kehidupan masyarakat Aceh, khususnya di Sigli, Kota Banda Aceh, Lhokseumawe, Langsa, Bireun, dan lainnya setiap Hari Raya Idul Fitri atau lebaran.

Biasanya thimpan untuk lebaran dimasak pada malam terakhir puasa atau malam takbiran pertama oleh para ibu dibantu remaja puteri di daerah-daerah tersebut. Di luar lebaran, para ibu di sana kurang tertarik membuat thimpan sendiri. Mereka yang ingin makan kue itu biasanya membeli di toko-toko roti, kendati rasanya berbeda bila membuat sendiri.

Harga sebungkus thimpan biasa berukuran kecil sekitar 5 cm standar di kampung-kampung Rp 1.000. Kalau thimpan srikaya, labu atau kelapa Rp 2.000 per bungkus. Sedangkan yang ukurannya lebih besar sekitar 7 cm Rp 2.500 per bungkus yang biasa dijual di toko roti atau pesanan khusus.

Bahan baku thimpan terdiri atas tepung ketan, pisang raja, gula, telur ayam kampung, kelapa, minyak goreng, dan pucuk daun pisang sebagai pembungkus. Kendati harga telur ayam kampung lebih mahal, para ibu di sana lebih memilih menggunakannya dibanding telur ayam buras. Karena rasanya jauh lebih enak.

Cara membuatnya pun tidak rumit, cuma butuh waktu cukup lama. Kalau membuatnya selepas shalat isya, maka thimpan baru masak mendekati subuh. Ada dua jenis thimpan yakni thimpan isi telur dan kelapa. Untuk membedakannya, daun pisang raja untuk membungkus thimpan telur warnanya agak hijau muda keputihan. Sedangkan untuk thimpan kelapa, daunnya lebih hijau atau kemerahan setelah kena uap.

Cara memasak thimpan secara tradisional menggunakan periuk tanah liat yang bagian tengahnya diberi sekat dengan lubang-lubang halus seperti saringan untuk menempatkan thimpan. Di bagian bawah periuk diisi air. Jadi thipan dikukus bukan direbus. Ini biasanya dilakukan para ibu di kampung-kampung. Sementara tukang masak di toko roti di kota menggunakan panci aluminin atau stainless steel untuk mengukus thipan hingga matang. Rasanya jela beda. Lebih enak thimpan yang dikukus dalam periuk.

Rata-rata ibu di Banda Aceh bisa membuat thimpan seperti Rini, pegawai di BPSNT Aceh-Sumut. Ibu muda ini setiap lebaran kadang membuat sendiri untuk disantap atau menjamu tamu. Tapi kalau untuk hantaran ke kolega, saudara atau rekan, biasanya dia memesan di langganannya. “Buat thimpan mudah kok. Cuma harus tahu tekniknya. Kalau salah, orang bisa makan dengan daun pembungkusnya karena lengket,” jelasnya.

Buat orang-orang kampung dan juga warga di Serambi Mekkah, thimpan menjadi kue spesial lebaran yang tetap dipertahankan meskipun bahan bakunya semakin mahal. Tanpa thimpan srikaya ataupun kelapa pada hari raya, lebaran terasa kurang lengkap meskipun sudah ada aneka penganan lain.

Thimpan yang biasanya ditempatkan di nampan lebar atau piring-piring ceper, menjadi kue utama untuk menjamu tamu lebaran. Bagi menantu, thimpan seolah menjadi hantaran wajib ke rumah mertua saat berlebaran. Bila sudah begini, rasanya tak berlebihan bila banyak orang yang bilang thimpan itu kue Aceh paling istimewa untuk lebaran.

Dodol Betawi
Bagi orang Betawi atau masyarakat asli Jakarta yang tinggal baik di Jakarta maupun pinggiran seperti Depok, Bekasi, Tangerang, dan lainnya masih menjadikan dodol Betawi sebagai penganan spesial lebaran meskipun tersedia bermacam kue modern. Buktinya, penganan yang menjadi hantaran wajib bagi pengantin Betawi ini, penjualannya meningkat setiap lebaran.

Namun tidak semua orang betawi bisa membuat penganan ini. Hanya segelincir saja yang masih mahir membuatnya yang diturunkan secara turun temurun. Di antaranya Nawiyah dan Ahmad Rido yang hingga kini masih berjualan dodol Betawi dan penganan khas lebaran lain seperti wajik, geplak, kue pepe, kue akar kelapa, dan manisan jahe dan lainnya di rumah sekaligus warungnya di Tegalrotan, Bintaro.

Dodol Betawi buatan Nawiyah laris setiap menjelang lebaran. Dia bisa mendapat pesanan lebih dari 500 tenong (wadah bulat terbuat dari anyaman bambu) setiap lebaran. Banyak yang bilang dodolnya legit dan rasanyapun tidak terlalu manis. Pembeli bisa memesan rasa dodolnya sesuai selera.

Cara membuat dodol Betawi menurut Nawiyah memang agak sulit dan melelahkan. Butuh waktu sekitar 8 jam berikut mengindahkan tabu tak tertulis seperti tidak boleh bicara selama membuat dodol karena dapat mempengaruhi rasanya. Bahan utama dodol Betawi dari beras ketan yang digiling lalu ditambah gula merah dan sari pati santan kelapa.

Harga dodol Betawi bervariasi tergantung ukuran dan campurannya. Dodol dalam tenong kecil per satuannya Rp 90.000 ribu rupiah. Sedangkan yang besar Rp 180.000. Kalau yang dicampur durian lebih mahal lagi.

Selain dodol, masyarakat Betawi juga punya penganan khas lebaran lain seperti rengginang aneka warna, manisan kolang-kaling atau beluluk, dan tape uli ketan hitamnya. Sedangkan makanan utamanya ketupat dengan santan kacang panjang dan semur kebo (dari daging kerbau).

Semua kue khas lebaran, baik di Aceh, Jakarta dan lokasi lainya, bukan semata menjadi produk budaya lokal yang harus dijaga kelestariannya. Pun dapat dijadikan sebagai daya tarik wisata kuliner buat pendatang saat bertandang di daerah-daerah tersebut.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@ayahoo.com)

Read more...

Rabu, 03 Maret 2010

FHT Bali 2010 Harus Tampilkan Makanan Tradisional Indonesia


Pameran industri pangan dan dunia perhotelan/hospitality bertajuk Food, Hotel and Tourism (FHT) Bali 2010 yang akan digelar 11-13 Maret di Bali International Convention Center, Nusa Dua harus menampilkan makanan tradisional Indonesia.

Begitu disarankan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata (PDP) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Firmansyah Rahim kepada PT Pamerindo Buana Abadi selaku penyelenggara pameran saat konferensi pers di Gedung Sapta Pesona, Jakarta (3/3).

Makanan tradisional itu, lanjut Firmansyah bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. “Banyak wisatawan yang berwisata khusus untuk mencari makanan tradisional setempat. Oleh sebab itu seharusnya pameran food ini juga menampilkan bermacam makanan tradisional Indonesia agar wisatawan tertarik untuk datang,” imbaunya.

Pameran food ini juga harus mencatumkan makanan yang halal dan non halal agar pengunjung merasa aman dan tidak ragu-ragu untuk membeli dan mencicipinya. “Sebaiknya ada corner khusus makanan halal dan corner makanan yang non halal,” imbuh Firmansyah lagi.

Sedangkan Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Iptek Titien Soekarya menyarankan supaya dalam FHT Bali 2010 juga menampilkan cara-cara memasak khas Indonesia dengan peralatan masak yang khas juga dengan tetap memperhatikan faktor higenisnya. “Indonesia memiliki banyak cara memasak yang khas dan peralatan yang juga khas seperti memasak dengan asupan atau kukusan, bakar batu, dan lainnya,” terang Titien.

Menanggapi saran-saran tersebut, Astrid dari PT Pamerindo mengatakan dalam FHT Bali 2010 nanti memang hanya memamerkan bahan baku makanan seperti sosis, keju, mentega, bumbu masak produk lokal, lembaran sushi dan lainnya berikut peralatan masak. “Tapi kami usahakan juga akan menampilkan makanan tradisional Indonesia meski mungkin tidak banyak. Mudah-mudahan pameran food berikutnya akan lebih banyak makanan tradisional Indonesia yang akan kami tampilkan secara bertahap,” jelasnya.

FHT Bali 2010 lanjut Astrid merupakan pameran food yang ke 7 kali. Ada 428 perusahaan dari 32 negara yang mengikuti pameran ini antara lain Indonesia, Italia, Peru, Singapura, Taiwan, Amerika Serikat dan peserta baru dari Tunisia.

“Bersamaan dengan pameran food ini juga ada Salon Culinaire yang akan memperlombakan keahlian memasak para chef dan artis kuliner. Selain itu juga ada acara mencicipi minuman rasa anggur atau wine dengan tema Around the Word in Harmony,” terang Astrid.

Target pengunjung pameran food ini, lanjut Astrid sekitar 8 ribu orang, lebih tinggi dari tahun 2008 yang hanya 5 ribu orang. “Kami memang tidak mengejar kuantitas pengunjung tapi kualitasnya,” terang Astrid yang menargetkan nilai transasksi bisnis FHT Bali tahun ini mencapai 100 juta dollar.

Mengenai Bali sebagai venue FHT tahun ini, Astrid menjelaskan karena imej Bali sebagai daerah kunjungan wisata dunia sekaligus pintu gerbang hotel, tourism untuk Indonesia bagian Timur.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 03 Februari 2010

Makanan & Minuman Indonesia Diminati Negara-Negara Islam



Ditengah kekhawa-tiran sejumlah pihak terhadap perjanji-an pasar bebas antara pemerintah RI dengan China melalui ACFTA (Asean China Free Trade Area) yang sudah berjalan per 1 Januari lalu, ternyata masih ada peluang pasar produk lain yang potensial. Salah satunya produk makanan dan minuman.

Demikian disampaikan Ketua DPR RI Marzuki Alie saat konferensi pers peluncuran Gerakan Anti Bolos (GAB) oleh PT Bintang Toedjoe dalam rangka memperingati ulang tahun Extra Joss ke-16 di Cafe de France, Hotel Ambhara, Jakarta (3/2). Acara trsebut juga dihadiri Presdir PT Bintang Toedjoe Apik Ibrahim, Sales Marketing Director PT Bintang Toedjo Patrick Atmadjaja, dan Ambassador Extra Joss Dik Doang yang memandu acara.

Produk makanan dan minuman Indonesia, lanjut Marzuki Alie, sangat diminati masyarakat di negara-negara Islam, seperti mie instan dan minuman semacam Extra Joss. “Negara-negara Islam di kawasan Arab dan Afrika lebih menerima produk makanan dan minuman dari Indonesia temasuk tenaga kerjanya dibanding Filipina, Thailand dan lainnya karena kesamaan kultur dan agama,” jelas Marzuki yang belum lama ini terpilih menjadi Ketua Parlemen Negara-Negara Islam Sedunia.

Menurut Marzuki, pengusaha-pengusaha Indonesia di bidang makanan dan minuman sangat ditunggu oleh negara-negara Islam untuk mengembangkan usahanya dengan berinvestasi disana. “Beberapa perusahaan besar makanan Indonesia berencana membuat pabrik di negara Islam, seperti Indofood yang akan membangun pabrik di Nigeria, Afrika,” terang Marzuki.

Bila peluang ini jeli ditangkap pengusaha kita, lanjut Marzuki, jelas akan makin memperluas jangkauan pasar industri makanan dan minuman buatan dalam negeri.

Terkait ketidaksiapan Indonesia dalam menerapkan perjanjian ACFTA dengan China, Marzuki menilai pemerintah harus menghargai perjanjian antarnegara tersebut. “Bila tidak diindahkan akan menurunkan tingkat kepercayaan dunia terhadap Indonesia,” katanya.

Salah satu cara untuk mengatasi ketidaksiapan tersebut, Marzuki menyarankan agar pemerintah melakukan renegosiasi atau negesiasi ulang kesepakatan perdagangan bebas itu, terutama untuk sektor-sektor yang belum siap.

Mengenai tema GAB yang diusung Extra Joss dalam perayaan ultahnya tahun ini, Marzuki menilai sangat bagus dan sesuai dengan kondisi saat ini. “Extra Joss sebagai penggagas gerakan ini, harus bisa menularkan ke pengusaha-pengusaha lain untuk melakukan gerakan yang sama agar bisa bersaing dengan negara lain. Bila bolos kita tidak bisa menghasilkan sesuatu alias tidak produktif,” kata Marzuki.

Menurut Apik Ibrahim, salah satu cara untuk memenangkan persaingan dalam era perdagangan bebas adalah dengan membuat produk yang berkualitas dan kompetitif. “Selain itu imej perdagangan kita harus bagus,” jelas Apik seraya menambahkan bahwa Extra Joss sudah dipasarkan ke Malaysia dan menyusul ke India dan Afrika termasuk ke China.

Patrick Atmadjaja mengatakan Extra Joss sebagai minuman energi dapat menjadi ‘teman’ para pekerja dalam menghadapi tantangan dan persaingan global ini karena dapat membantu meningkatkan stamina. “Extra Joss mengandung 7 vitamin B, lebih lengkap dibanding minuman lain. Bisa bikin stamina bandel, dompet jadi tebel,” ungkapnya.

Dalam peluncuran GAB tadi, Extra Joss membagikan ribuan jaket hujan berwarna kuning, bermacam produknya, dan puluhan bus gratis di Jakarta. Pembagian jas hujan dilakukan secara serentak di 10 lokasi, sementara puluhan bis umum yang memasang spanduk Extra Joss sejak pukul 06.00 s/d 20.00 mengantar warga Jakarta beraktivitas secara gratis.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 09 Januari 2010

Paduan Khas Sate Karang & Lodeh Lontong



Soal kuliner, Jogja tak mau kalah dengan Bandung. Begitu banyak varian makanan berat, minuman, dan penganannya. Sate contohnya. Ada beragam sate di Kota Gudeg ini, salah satunya Sate Karang yang punya teman makan khas.

Saat bertandang ke Jogja untuk meliput Menbudpar Jero Wacik meresmikan purnapugar Bangsal Trajumas Keraton Yogyakarta dan meninjau candi-candi kawasan Prambanan dan Candi Kimpulan di UII Sleman (4/1), saya bersama tim publikasi dan dokumentasi Dirjen Sejarah dan Purbakala (Sepur), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), menyempatkan mampir ke Kotagede.

Di sentra pengrajin perak itu, saya bukan diajak meliput dan membeli aksesoris perak lho, melainkan menikmati Sate Karang yang sudah menjadi salah satu ikon kulinernya.

Sewaktu tiba di warung sate Pak Cipto di Jalan Kemasan, saya belum menemukan gambaran seperti apa perbedaan sate karang dengan sate lainnya. Di dalam warung, terlihat beberapa pengunjung yang sedang asyik menyantap sate karang, termasuk Dirjen Sepur Kemenbudpar Hari Untoro Dradjat, Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) DIY Herni Pramastuti, dan Kepala BP3 Jateng Tri Hatmadji.

Tapi setelah seporsi sate karang disajikan, saya baru menemukan sesuatu yang beda. Ada tiga macam bumbu satenya. Selain bumbu kacang, ada sate bumbu kecap dan juga sate bumbu kocor. Saya memilih sate karang bumbu kacang.

Biasanya sate baik daging ayam, sapi maupun kambing disajikan dengan lontong atau nasi atau disantap tanpa lontong maupun nasi. Tapi kalau sate karang daging sapi ini, teman santapnya seporsi sayur lodeh lontong. Kuah lodeh lonton ini dicampur potongan otot yang tidak dipakai sebagai sate hingga terasa gurih. Bumbu kuahnya rempah-rempah seperti laos, kencur, dan lainnya.

Setelah saya santap, bukan cuma teman makannya yang beda tapi juga citra rasa yang dihasilkan dari paduan keduanya jelas khas dan mampu membakar selera. Kata orang sana rasanya nyampleng.

Minumnya pun tak kalah khas. Ada wedang ronde yang dikasih irisan jeruk dan ketan putih yang dijual oleh pasangan Jaunuri (70) dan Khasinah (63) di warung yang sama. Tinggal pilih mau yang dingin dengan es atau hangat. Pilihan saya jatuh ke es ketan putih yang terasa unik, lebih nikmat mengalir ditenggorakan usai menyantap sate karang dan lodeh lontongnya.

Khasinah yang sudah 45 berjualan es ketan putih, juga menjual menu kupat tahu berisi ketupat, toge, tahu, tempe, kubis, dan seledri dengan kuah air gula manis dan kecap seharga Rp 5.000 per porsinya.

Seporsi sate karang daging sapi berisi 10 tusuk di warung ini harganya Rp 17.000, lodeh lontong Rp 3.000 per porsi, es ketan putih, dan wedang ronde masing-masing Rp 2.500 per gelas.

Menurut Sumadi, karyawan warung Pak Cipto yang bertugas membakar sate karang, dinamakan begitu karena semula tempat penjualannya di Lapangan Karang, Kotagede. “Sate Karang mulai dijual tahun 1948, dijajakan berkeliling oleh Pak Karyo Semito, ayah Pak Prapto. Sejak 1955, Pak Karyo memutuskan menetap di Lapangan Karang. Ada dua orang anak Pak Karyo yang meneruskan berjualan sate ini yakni Pak Prapto di Lapangan Karang dan Pak Cipto yang membuka warung di Jalan Kemasan Kotagede ini,” jelas Sumadi.

Penasaran? Datang saja ke Kotagede dan nikmati sate karangnya.

Tips Berburu Sate
Sate Karang Warung Cipto mudah sekali dijangkau. Letaknya di tepi Jalan Kemasan, Depan BPD Kotagede, Yogyakarta. Selain di tempat ini, Anda bisa datang ke warung di Jalan Gedong Kuning, Jalan Pramuka 113, atau gerobak sate karang di Lapangan Karang. Anda bisa naik becak, andong, atau sewa mobil travel sekalian keliling city tour Jogja.

Kalau Anda penggila sate, masih ada Sate Klatak yakni sate kambing yang dibumbui garam lalu dibakar. Irisan dagingnya besar-besar. Dagingnya ditusuk dengan jeruji sepeda lalu dibakar di atas anglo berbahan bara dari arang kayu sehingga dagingnya matang sampai ke dalam.

Penjual sate klatak antara lain di Pasar Jejeran, Bantul. Seporsi sate klatak terdiri dari dua tusuk sate dan sepiring nasi yang khas secara lesehan. Sate ini sama enak dimakan dengan atau tanpa nasi. Pilihan sate lain di Jogja adalah Sate Daging Kuda yang diyakini berkhasiat menambah vitalitas bagi kaum pria.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 29 Desember 2009

Durian Medan + Boh Drien Aceh



Sama-sama durian. Buahnya berkulit tebal, berduri, dan beraroma khas. Tapi soal kenikmatannya belum tentu sama. Durian Medan dan Aceh misalnya, meski keduanya berada di satu pulau yakni Sumatera dan letaknya pun berdekatan, namun rasa, ukuran, dan cara makan duriannya pun berbeda.

“Makan Durian Medaaaaan,” begitu teriak rekan-rekan serempak begitu tahu ada waktu luang sekitar 3 jam saat pesawat transit di Bandara Polonia, Medan sebelum melanjutkan penerbangan ke Bandara Iskandar Muda, Banda Aceh dalam rangka meliput acara peringatan 5 tahun tsunami di Banda Aceh yang puncak acaranya berlangsung 26 Desember lalu.

Betty Anita, Kasi Asosiasi Luar Negeri Direktorat MICE, Depbudpar yang menjadi kepala rombongan, langsung memesan 2 mobil rental selama 2 jam di bandara tua itu untuk keliling Kota Medan mencari dan menikmati Durian Medan.

Mobil pun meluncur ke dalam Kota Medan dan akhirnya berhenti di Jalan Sultan Iskandar Muda, tempat mangkal salah satu penjual Durian Medan terkenal di Ibukota Provinsi Sumatera Utara itu.

Di jalan itu, tepat di depan deretan ruko dan di samping halte ada plang bertuliskan Ucok Durian berukuran panjang 2 meter, lengkap dengan nomor handphone untuk pemesanan.

Di samping deretan durian, dekat halte, terpampang beberapa tulisan koran tentang Durian Medan dan profil sukses pedagangnya ini, yang tersimpan dalam 7 bingkai kaca. Di bawah bingkai-bingkai tulisan tersebut, ada whiteboard yang memuat daftar pemesan Durian Medan dari berbagai tempat.

Sewaktu kami tiba, seorang anak muda yang kemudian kami panggil abang itu tengah membelah durian satu per satu lalu isinya dimasukkan ke dalam kotak plastik. “Ini sudah dipesan, isi per kotak-nya bisa memuat 20 durian, harga satu kotaknya 175 ribu rupiah dan aman dibawa naik kapal terbang karena sudah dibungkus rapat,” jelasnya.

Betty pun langsung memesan beberapa durian seharga Rp 15.000 per buahnya. Tak lama kemudian pesanan itu datang. Pesta durian pun berlangsung. Rekan-rekan perempuan nampak lebih ‘bersemangat’ menyantap durian dibanding rekan-rekan pria. Betty, Lina, Hani, Ika, dan Melati begitu menikmatinya sampai tak mau beranjak dari kursi plastik yang disediakan pedagangnya. Cuma rekan Hilda yang nampak kurang bernafsu menyantapnya, terlebih Ida dan Asep yang memang diet durian.

Durian Medan yang kami santap luar biasa nikmat. Isi dagingnya tebal, bijinya kecil, rasanya manis, dan baunya harum. Belasan Durian Medan pun habis dalam hitungan menit, padahal belum makan siang.

Setelah merasakan Durian Medan di kotanya langsung, kami jadi yakin kenapa buah berduri ini begitu tersohor dan kerap direkomendasikan oleh pelancong usai berlibur ataupun berbisnis di kota terpadat di Sumatera itu.

Pakai Ketan
Belum puas menikmati durian Medan, ketika berada di Banda Aceh, rekan-rekan ‘mengancam’ makan durian lagi tapi Durian Aceh. Usai berwisata gerilya di daerah Pucuk Krueng, Lhok Nga, Aceh Besar, malamnya rekan-rekan mencari durian khas Bumi Iskandar Muda ini.

Ismail, staf Pengembangan Usaha Pariwisata dan Jufri, staf Pemasaran Disbudpar Provinsi Aceh yang setia menemani kami selama berkeliling di sejumlah obyek wisata di Aceh Besar dan Banda Aceh, menunjukkan dimana biasanya pedagang Durian Aceh berjualan.

Dengan Bus Damri yang disopiri Saidi dan menjadi kendaraan kami selama keliling Tanah Rencong ini, kami meluncur menuju Simpang BPKP, tepatnya di Jalan P. Nyak Makam, Banda Aceh. Di sana ada beberapa penjual Durian Aceh. Durian dalam Bahasa Aceh disebut Boh Drien. Harganya Rp 15.000 per buah.

Karena ada dua penjual durian yang berdekatan, kami pun membagi dua kelompok biar adil bagi-bagi rezeki. Satu kelompok pria menyantap durian di pedagang dekat simpangan. Sedangkan kelompok perempuan mengambil tempat di pedagang durian depan kedai kopi.

Di tempat rekan perempuan menyantap Durian Aceh, ada wanita setengah baya yang menjajakan ketan panggang sebagai teman makan Durian Aceh. Harga ketannya Rp 2.000 per bungkusnya.

Belasan buah durian habis kami santap, di antara hujan gerimis. Ada yang rasanya manis, ada juga yang hambar. Ukuran buahnya pun lebih kecil dan daging buahnya tak setebal Durian Medan.

Kendati begitu, ada yang unik dari cara makannya. Kalau di Banda Aceh, durian matang biasanya disantap dengan ketan putih panggang yang dibungkus daun pisang seperti bungkusan penganan otak-otak. Tapi ada juga yang menyantapnya tanpa ketan.

Meski berbeda rasa dan isi, tetap saja Durian Medan dan Boh Drien Aceh menggoda siapapun terlebih bagi penggila durian. Bukan cuma itu, kedua buah khas tropis ini pun mampu menarik orang untuk datang kembali ke Medan selain mencicipi Bika Ambonnya maupun ke Banda Aceh selain minum kopi tariknya.

Tips Menyantap Durian
Sebaiknya membeli durian pas sedang musimnya karena lebih banyak yang menjual, dan harganya juga lebih murah dibanding sedang tak musim.

Pilihlah durian yang matang di pohon karena rasanya lebih manis, enak, dan fresh, bukan hasil karbitan. Tanyakan terlebih dulu ke pedagangnya, jenis dan rasa durian yang akan Anda santap. Coba dulu satu buah untuk dibelah. Bila manis, ambillah dan mintalah buah yang serupa.

Makanlah perlahan, jangan terburu-buru. Bagi yang memiliki penyakit stroke dan maag berat, sebaiknya makan sekadarnya saja.

Selepas makan durian, sebaiknya minum air putih yang ditempatkan di kulit durian bagian dalam. Sebelum diminum, airnya diaduk-aduk biar getah di kulit bagian dalam durian itu tercampur. Khasiatnya selain melepas haus juga mampu menghilangkan rasa panas dan bau durian yang keras.

Bila ingin membawa pulang durian sebagai oleh-oleh dengan naik pesawat, sebaiknya buahnya dikemas dalam kotak plastik dan dibungkus rapi dan rapat agar baunya tidak menyebar kemana-mana.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 28 Desember 2009

Ayam Tangkap Versus Ayam Tsunami




Selagi berada di Aceh, coba nikmati menu ayam gorengnya yang punya citra rasa dan penyajian yang berbeda. Kalau di tempat asalnya Aceh, menu ini diberi nama Ayam Tangkap, tapi di Jakarta diberi label Ayam Tsunami. Apa bedanya?

Ayam Tangkap khas Aceh mudah dijumpai di sejumlah rumah makan besar maupun kecil yang ada di Banda Aceh dan sejumlah daerah lain. Kendati sama-sama digoreng, namun menu berbahan utama ayam kampung ini memiliki pengolahan dan penyajian yang berbeda dengan ayam goreng lainnya.

Menurut Ita, kasir Rumah Makan Cute Dek di Aceh Besar yang juga kerap memasak Ayam Tangkap mengatakan proses pengolahan menu inip sangat sederhana.

Sebelum perempuan berjilbab ini menjelaskan lebih jauh mengenai proses masaknya, dia menjelaskan mengapa menu tersebut di Aceh dinamakan Ayam Tangkap. “Dulu sebelum memasak menu ini, orang sering menangkap ayam kampung yang dipelihara di pekarangan rumah. Setelah tertangkap ayam itu dipotong, oleh karenanya dinamakan Ayam Tangkap,” jelasnya.

Setelah dipotong-potong, lanjut Ita, daging ayam tersebut direndam dengan air kelapa ditambah garam dan ketumbar serta bumbu khas Aceh. Setelah meresap, baru kemudian digoreng sampai garing dengan daun kari atau daun salam koja dan daun pandan yang sudah dipotong-potong serta irisan bawang merah. Setelah masak, disajikan dalam piring ceper besar.

Menu Ayam Tangkap ini kalau di Jakarta dinamakan Ayam Tsunami. Begitu menurut Muhammad Ali Adam, pemilik Rumah Makan Aceh Baru, salah satu rumah makan khusus penyedia masakan Aceh di Jakarta.

Dinamakan Ayam Tsunami, lanjut Ali, karena cara menghidangkannya terlihat seperti banyak ‘sampah’nya karena banyak daunnya. Proses pengolahan Ayam Tsunami ini, lanjut Ali, sama seperti pembuatan ayam goreng pada umumnya. "Khusus Ayam Tsunami, ayam dipotong-potong kecil dan diberi bumbu-bumbu khas Aceh. Kemudian ayam ‘diungkep’ atau direbus dengan air yang tidak terlalu banyak lalu diaduk dengan bumbu-bumbu khas Aceh," jelasnya.

Potongan ayam didiamkan sebentar, sampai bumbunya meresap, kemudian digoreng ke dalam wajan berisi minyak yang sudah mendidih. Setelah matang dengan ciri warnanya menjadi agak kecoklatan, lalu ditaburi irisan bawang, daun pandan, daun jeruk nipis, dan daun sereh. Karenanya banyaknya dedaunan yang dimasukkan ke dalam menu ini maka dinamakan Ayam Tsunami, yakni ayam goreng kecil-kecil yang penuh sampah seperti terlihat dulu saat Aceh diterjang tsunami.

Tips Perjalanan
Kalau Anda ingin mencicipi Ayam Tangkap di Aceh, datanglah ke Rumah Makan Cut Dek di Jalan Banda Aceh-Lambaro Km 4 atau ke Rumah Makan Aceh Rayeuk di Jalan Soekarno-Hatta, Aceh Besar, tepatnya di seberang The Pade Hotel. Pilihan lain ke Restoran Banda Seafood di Jalan Raya Kp. Blang, Ulee Lheue, Banda Aceh. Di resto ini Anda bisa menikmati pemandangan matahari tenggelam, karena lokasinya tak jauh dari pantai.

Seporsi Ayam Tangkap di Rumah Makan Cut Dek Rp 60.000. Selain itu masih ada aneka makanan khas Tanah Rencong lainnya seperti Ikan Kayu Tumis Rp 10.000, Sambal Asam Udang Rp 10.000, Gule Kari Rp 20.000, Sate Matang Rp 15.000, Tiram Tumis Rp 12.000, Sayur Bliu (daun melinjo) Rp 10.000, dan Gule Udang Rp 12.000.

Bila ingin menikmati Ayam Tsunami di Jakarta, Anda bisa mengunjungi Rumah Makan Aceh Baru yang menjadi langganan para pesohor dan artis ibukota. Lokasinya berada di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara. Seporsi kecil Ayam Tsunami di rumah makan ini Rp 30.000, jauh lebih murah.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelpuls@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 12 November 2009

Gurihnya Wader dari Kolamnya Majapahit



Berkun-jung ke Trowulan usai melihat tinggalan sejarah dan purbakalanya, rasanya kurang lengkap kalau belum mencicipi Sambel Wedar-nya. Meski cuma menu sederhana semacam pecel lele dengan sambel tomatnya, tapi terasa beda. Pasalnya wader atau ikan air tawar berukuran kecil-kecilnya diambil dari Segaran, kolam bersejarah warisan Kerajaan Majapahit.

Seporsi Sambel Wader ditempatkan dalam piring tanah liat berukuran kecil yang berisi ikan wader kecil-kecil yang digoreng. Di bawah tumpukan wader ada sambel tomat. Lalu ada 3 irisan mentimun, daun kemangi, dan kol putih di pinggir piring. Rasa ikannya gurih dan lumayan renyah. Sambelnya pedas-pedas asam dari cabe merah dan tomat yang digoreng lalu diulek. Harga cukup terjangkau, hanya Rp 10.000 seporsinya ditambah sepiring nasi putih.

Sambel Wedar ini dapat Anda nikmati di sebuah Warung Raharjo yang berada di Jalan Raya Pendopo Agung, Desa Trowulan, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Letak warungnya di seberang Kolam Segaran, sebuah kolam peninggalan Kerajaan Majapahit yang sekaligus menjadi salah satu bukti kuat bahwa Trowulan merupakan ibukota Kerajaan Majapahit pada masa silam.

Selain Sambel Wader, juga ada menu lain seperti mujaer, gurame, belut, dan ayam goreng serta bothok. Sedangkan untuk minumnya ada teh panas-dingin, kopi, es kelapa muda, air mineral, dan bermacam softdrink. Namun dari sejumlah menu warung sederhana itu, yang paling banyak dicari pengunjungnya tentu saja Sambel Wader dan es kelapa muda.

Tak sulit mencari warung kecil tapi cukup bersih ini. Lokasinya mudah dijangkau, tepat di tepi jalan raya. Lokasinya tak jauh dari Pusat Informasi Majapahit (PIM).
Pengunjung yang datang dari luar Mojokerto seperti dari Surabaya atau kota lain, usai berwisata ke sejumlah situs di Trowulan, biasanya meluangkan waktu mampir ke warung ini untuk menyantap Sambel Wader-nya.

Seperti penulis dengan rekan seprofesi yang didampingi staf Dirjen Sejarah dan Purbakala, Depbudpar yang akrab disapa Lien dan Umi. Usai mengikuti pembukaan Pameran Majapahit: Keseharian di Trowulan (11/11) lalu, langsung mendatangi Warung Raharjo untuk santap siang dengan Sambel Wader.

Saat kami tiba di warung yang buka sejak pagi hingga sore itu, beberapa pengunjung sedang makan siang dengan menu tersebut. Untunglah, kami masih kebagian menu spesial warung itu. Maklum kalau sedang ramai pengunjungnya, tak sampai sore hari menu tersebut biasanya sudah habis.

Tak lama kemudian pengunjung lain datang silih-berganti ke warung itu, termasuk 3 orang staf Disbudparkot Surabaya, Yayu dan 2 rekannya. Mereka mampir juga usai menghadiri pameran tentang sejarah Majapahit di PIM yang berlangsung sampai 15 November 2009. Mereka sama seperti kami, memesan dan menyantap seporsi Sambel Wader-nya.

Anda ingin menyantap Sambel Wader juga? Datang saja usai atau disela-sela melihat koleksi museum PIM dan bermacam situs peninggalan Kerajaan Majapahit di Trowulan. Anda juga bisa membeli Onde-onde, penganan khas Mojekerto untuk oleh-oleh di Desa Sentanan, Kecamatan Magersari, Mojokerto, tepatnya di sepanjang Jalan Niaga. Harga satuannya Rp 2.000. Atau di Rumah Makan Melati di Kecamatan Krian, Sidoarjo sebelum kembali ke Surabaya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 06 Oktober 2009

Serunya Makan Mie Aceh di Pesawat Saat Terbang



Menyan- tap Mie Aceh di rumah makan yang tersebar di Banda Aceh maupun di kota lain termasuk Jakarta, itu sudah biasa. Tapi kalau makannya di dalam pesawat saat terbang, itu baru tidak biasa. Kok bisa?

Ceritanya begini. Lantaran padatnya jadual press tour “Menelusuri Jejak Masjid & Peninggalan Bersejarah di Aceh” yang diadakan Direktorat Nilai Sejarah, Dirjen Sejarah & Purbakala (Sepur), Depbudpar beberapa waktu lalu, sampai tidak ada waktu untuk menikmati kuliner khas Tanah Rencong ini, di salah satu rumah makannya dengan santai.

Pas hari terakhir setelah 5 hari berkeliling 4 kabupaten, Kota Banda Aceh, dan Sabang, Pulau Weh, akhirnya baru sempat mampir ke Restoran Mie Razali atas rujukan Drs. Shabri A, Direktur Nilai Sejarah, 1 jam sebelum pesawat tinggal landas menuju Jakarta.

Menurut Shabri, resto yang berada di tepi jalan raya Panglima Polim, dekat dealer Suzuki itu salah satu resto bermenu Mie Aceh yang enak di Banda Aceh. Selain itu, juga ada Mie Goreng Special Kepiting dengan harga Rp 28.000 per porsinya. Sebenarnya aku ingin menyantap mie goreng specialnya itu, tapi karena waktu sudah mepet. Akhirnya Sri Suharni, Kasi Publikasi & Dokumentasi, Direktorat Nilai Sejarah, cuma memesan 10 Mie Aceh yang dibungkus.

Waktu sang koki asyik memasak Mie Aceh, aku dan Sri mengintipnya bahkan Sri membantu mengaduk mie yang sedang merangsang di dalam wajan besar. Sebentar-bentar HP Sri berbunyi di telepon rekan lain yang sudah lebih dulu tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) untuk segera ke bandara. “Mas cepetan masaknya, nanti kami ketinggalan pesawat,” kata Sri kepada sang koki. Untuk mempercepat waktu, kami pun membantu karyawan resto itu memasukkan acar ke dalam kantung plastik agar cepat selesai. Acar timun dan wortel dan cabe itu menjadi teman santap Mie Aceh.

Setengah jam kemudian, 10 bungkus Mie Aceh selesai dibungkus. Sri kemudian membayarnya di kasir. Kami segera bergegas ke mobil lalu menuju bandara. Sepanjang perjalanan ke bandara beberapakali HP Sri berbunyi lagi. Ia terpaksa berbohong, bilang sudah dekat bandara padahal masih jauh.

Kami sempat tegang, karena sebentar lagi pesawat tinggal landas. “Agak cepatan mas bawa mobilnya, tapi hati-hati ya,” kata Sri. Untunglah, setibanya di bandara SIM pesawat belum berangkat. Kami segera menghampirinya sambil lari-lari seperti dikejar-kejar setan.

Setelah pesawat take off dan peringatan membuka sabuk pengaman diperbolehkan bagi penumpang yang hendak ke toilet dan lainnya, saya pun membagikan bungkusan Mie Aceh yang tidak sempat kami santap di bandara. Masing-masing rekan juga kebagian satu minuman kotak. Lengkap sudah.

Saat menyantapnya, beberapa penumpang nampak memperhatikan kami. Maklum mungkin baru ini mereka melihat ada sekelompok penumpang pesawat makan Mie Aceh bungkus di dalam pesawat saat terbang. Meski aroma tidak begitu menyengat lagi karena mie-nya sudah dingin, tetap saja bau khasnya masih tercium oleh beberapa penumpang, terutama yang duduk dekat dengan kami.

Sewaktu turun dari pesawat, salah seorang pramugari sempat bilang. “Duh mas, seru banget makan Mie Acehnya tadi. Baru kali lho ada penumpang yang melakukannya,” katanya. Aku cuma bilang, sebenarnya terpaksa karena mubazir kalau tidak dimakan. “Kalau dimakannya di Jakarta kan dah nggak seru lagi”. Mendengar balasanku, si pramugari cantik itu pun tersenyum manis.

Menyantap Mie Aceh di dalam pesawat yang tengah melintasi sekumpulan awan sore di ketinggian 3.000 kaki di atas Banda Aceh, tentu bukan sekadar pengalaman yang tak biasa tapi juga sulit terlupakan.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)


Read more...

Selasa, 16 Juni 2009

Kuliner “Horor” Bikin “Kesetanan”


Apalah arti sebuah nama, begitu menurut William Shakespeare. Namun buat pedagang jajajan, justru nama itu bisa mendatangkan hoki lantaran bikin orang penasaran lalu berebut mencicipi. Buktinya, belakangan ini muncul nama-nama kuliner tradisional berlabel horor baru yang sukses memikat perhatian. Kuliner apa saja yah?

Pemburu jajanan tradisional Indonesia yang suka berwisata kuliner ke berbagai tempat, mungkin pernah mencicipi rawon setan, serambi kuntilanak, dan es pocong. Maklum ketiga jenis makanan bertema horor ini lumayan populer dan sudah cukup lama beredar.

Rawon setan? Ah, dari namanya saja sudah menggelitik rasa ingin tahu, terutama buat orang yang baru mendengarnya. Makanan tradisional khas Jawa Timur ini kini ada di beberapa tempat. Di Surabaya misalnya ada di Jalan Embong Malang yang cukup tersohor dan katanya tidak buka cabang lain.

Menurut cerita pedagangnya, dulunya rawon ini tidak bernama. Namun ketika ada beberapa wartawan dari salah satu surat kabar yang datang menikmati rawon itu, besoknya membuat tulisan di koran dengan sebutan rawon setan “Katanya kemunculannya dianggap seperti hantu pada malam hari. Sebab biasanya rawon dijual pagi dan siang hari,” kata pedagangnya yang mengaku omset-nya melonjak gara-gara menjual makanan berkuah pekat itu.

Sebenarnya, rawon setan ini sama seperti rawon lainnya. Bahan utamanya bisa daging kambing atau sapi berikut tetelan. Bumbunya antara lain serai, lengkuas, minyak sayur, jahe, gula Jawa, ketumbar, cabe merah, ketumbar, bawang putih, bawang merah dan keluak yang menjadi ciri khas dari rawon. Semua bumbu dihaluskan lalu digoseng hingga keluar minyaknya dan berwarna hitam dan wangi ditambah penyedap rasa seperti garam dan mecin.

Di Jakarta Pusat tepatnya di Kantin Swadaya yang berada di belakang Hotel Shangril-la, juga ada pedagang yang menjual rawon setan bernama Ibu Enung. Anehnya meskipun namanya sama-sama rawon setan namun dia tidak menjualnya pada malam hari. Rawon setan di kantin ini justru dijual siang hari mulai pukul 10 pagi sampai 4 sore. Satu porsinya Rp 7.500 per porsi.

“Dinamakan rawon setan karena rasanya pedas. Yang makan pasti kesetanan alias kepedasan tapi dijamin ketagihan,” kata Enung berpromosi. Penikmat rawon ini para karyawan yang bekerja di perkantoran atau hotel-hotel setempat. “Setiap hari rawon setan tak tersisa, bahkan ada pelanggan yang memesannya untuk disantap esok hari,” jelas Enung.

Risol Setan
Di dekat kantin ini juga ada Kedai Betawi yang khusus menjual makanan khas Betawi. Namun yang paling menarik perhatian, justru penganan risol setannya. Menurut Bang Jaka pemilik Kedai Betawi, asal muasal pemberian nama “setan” di belakang risolnya berawal dari gaya bicara orang Betawi yang ceplas-ceplos. Sewaktu pertama kali mencicipi risol ini dengan sambalnya yang super pedas, ada orang yang spontan bilang setan sembari memaki-maki citra rasa jajajan ini. “Setaaaaan…, pedes banget nih risol,” begitu Jaka mencontohkan dengan logat Betawinya yang khas.

Sebenarnya risol setan ini sama seperti risol lainnya, baik dari bentuk maupun bahan dasarnya. Risol dan isinya terbuat dari wortel, kentang, daging, ayam, telor diiris lalu diberi bumbu beroma pedas dan diaduk dengan terigu. “Sambalnya dari kacang tanah ditambah cabe rawit yang rasanya bikin nampar,” terang Jaka.

Menurut Jaka makanan ini bisa menjadi lauk nasi atau dimakan terpisah. “Enaknya digadoh selagi masih anget ditotolin sambel kacang yang luar biase pedes,” tambahnya sembari nyengir. Di kedainya, risol setan ini dijual Rp 2.000 per potong.

Lain lagi dengan es pocong yang sebenarnya adalah es palubutung khas Makassar yang berisikan bubur sum-sum dari beras ketan, potongan pisang kepok kukus, dan kue moci. Es yang disajikan dengan sirup pisang susu ini berada di Kafe Lorong di Jalan Margonda Raya, Depok, tepatnya di sebelah Gang Sawo. Menurut Dado pegawai kafe lorong yang berdiri sejak 19 Juni 2006 ini, pertama kali yang menamakan es pocong adalah Bang Midun, salah seorang pemilik kafe ini secara kebetulan. “Waktu itu katanya dia asal nyeletuk aja. Mungkin terinspirasi dari lokasi kafe ini yang kebetulan dekat dengan kuburan Kober,” terang Dado.

Tak disangkal, lanjut Dado, nama es pocong kontan membuat orang penasaran dan ingin mencicipinya. “Karena laku, akhirnya pemiliknya memberi nama makanan dan minuman lain yang bertema horor,” ujatnya Dado

Kini selain es pocong Rp 3.500 per cup, di Kafe Lorong juga ada es voodoo (racikan dari sirup capmangga gedong, soda, dan susu), es kuntilanak (campuran dari kopor, susu, dan soda), es black magic (isi mocca caramel, susu, dan soda), es jelangkung, es hantu laut, es setan brekele, dan es kolor ijo yang harganya masing-masing Rp 3.500. Selain itu ada es setan merah dan es green goblin (tokoh seram dalam dongeng anak-anak) Rp 3.000. “Dalam satu hari kami bisa menjual 1000 cup es yang terdiri dari 500 cup es pocong dan 500 cup lagi dari bermacam es lainnya,” akunya.

Kafe mungil sederhana ini juga menjual makanan bertema horor antara lain nasi uduk tuyul Rp 100 per bungkus daun pisang dan lontong setan isi oncom pedas Rp1.000. “Dulu ada menu ati ampela mayat dan usus leak namun sekarang distop dulu,” terang Dado sambil mempromosikan menu terbaru kafe ini yakni es suster ngesot dan es kalong wewe.

Serabi Kuntilanak
Sedangkan serabi kuntilanak yang berada di Rengasdengklok, Kerawang pun sudah lama beredar. Warung serabi produksi Pak Kasim ini berada di depan pemakaman umum. “Lantaran tempat berjualannya di dekat kuburan, orang menyebutnya serabi kuntilanak,” kata Kasim.

Menurut Kasim, dia tidak membuka cabang di manapun. Lantaran setiap harinnya bisa menjual 300 serabi. “Pembelinya bukan cuma warga Kerawang, tapi juga orang dari Jakarta dan kota lain,” kata Kasim yang pernat diundang ke Hongkong, Malaysia, dan Australia untuk membuatkan serabi.

Rasa dan penampilan serabi kuntilanak Kasim memang berbeda. Empuk dengan aroma alami daun pandan sebagai pewarna hijaunya. Harganya cukup murah Rp1.200 per tangkep untuk serabi kuah manis dan Rp1.600 per tangkep untuk serabi kuah durian ketika itu.

“Digampar” Iblis
Melihat kesuksesan makan bertema mesteri, kemudian sejumlah pedagang lain ikut latah menamakan dagangannya dengan tema serupa. Rumah makan Mbah Jingkrak, misalnya menamakan beberapa menunya dengan nama-nama seram antara lain pitik rambut setan, sambel iblis, ayam wewe gombel, dan teri buto ijo.

Di antara makanan itu, sambal iblis yang jadi unggulan warung ini. Sambal iblis terbuat dari tempe goreng yang diuleg bersama cabai rawit merah yang terkenal lebih pedas dibanding cabai rawit hijau. Kalau Anda tidak doyan pedas, jangan coba-coba cicipi sambal ini. “Rasanya wuah...wuah...benar-benar pedas seperti “digampar” iblis,” kata Lina usai mencicipi sambal tersebut.

Pitik rambut setan bahan dasarnya terdiri dari 1 ekor ayam yang diungkep, cabe merah rawit ditumbuk, bawang merah, bawang putih, daun kemangi, daun bawang dipotong- potong menyerong, daun jeruk diiris tipis, minyak goreng, garam, dan gula. Cara memasaknya cukup mudah. Tumis bawang merah, bawang putih sampai harum tambahkan cabai rawit tumbuk tumis sampai layu. Setelah itu masukkan ayam, aduk- aduk, lalu tambahkan garam, gula, daun bawang, daun jeruk dan daun kemangi. Aduk- aduk sampai layu dan angkat.

Sedangkan untuk teri buto ijo bahan dasarnya terdiri dari ikan teri tawar kering digoreng sampai garing, bawang merah, bawang putih, cabe rawit hijau utuh, garam, gula, dan kecap. Untuk membuatnya sangat mudah sekali tumis bawang merah, bawang putih masukkan teri tambahkan garam, gula, kecap lalu aduk . Setelah itu masukkan cabai rawit hijau aduk- aduk sampai rata dan siap disajikan.

Menurut Yunita pemilik rumah makan Mbah Jingkrak, dia memberi nama masakannya dengan nama-nama horor dikarenakan rasanya luar biasa pedas, seperti sambal iblis. Kalau pitik rambut setan dalam bahasa Jawanya disebut ayam rambut setan, dinamakan begitu karena cara memasaknya yang menggunakan daun jeruk yang di potong panjang-panjang dan tipis menyerupai helaian rambut setan. “Dan rasa bumbunya pedas juga,” kata Yunita.

Anda ingin “digampar” iblis setelah mencicipi sambal iblis? “Ditampar” setan usai mencicipi risol setan dengan sambalnya? Atau mau “kesetanan” saat mencicipi rawon setan? Coba saja jelajahi lidah Anda dengan aneka kuliner horor ini.

Travel Tips
Kalau Anda ingin menikmati rawon setan, Anda bisa datang ke Jalam Embong Malang, Surabaya. Lokasinya dekat Hotel JW Marriot. Pilihan lain ke Kedai Swadaya di belakang Hotel Shangri-la, Jakarta Pusat. Naik busway Transjakarta dari Blok M atau Kota turun di Halte Duku Atas Rp 3.500 per orang, lalu jalan kaki.

Es pocong dan teman-teman horornya dapat Ada temui di Kafe Lorong di Jalan Margonda Raya, Depok, tepatnya di sebelah Gang Sawo. Bisa menggunakan kendaraan umum dari berbagai terminal di Jakarta dengan tujuan Depok, baik patas AC maupun metromini. Kafe ini buka setiap hari mulai puluk 10 pagi sampai 10 malam. Kendati kedainya sederhana namun pengunjungnya ramai, terutama para mahasiswa/i lantaran lokasinya di dekat kawasan kampus.

Kalau ingin mencicipi serabi kuntilanak, datang saja ke Jalan Kalijaya, Rengasdengklok, Kerawang. Anda dapat menjangkaunya dengan kendaraan roda empat baik pribadi maupun umum.

Kalau ingin menikmati aneka makanan misteri ala Warung Mbah Jingkrak, datang saja ke Jalan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan. Dari Terminal Blok M tinggal jalan kaki menuju Kawasan Bulungan. Rumah makan ini buka dari pukul 10 pagi sampai 10 malam. Warung yang dibuka tahun 2006 lalu ini merupakan cabang dari Semarang. Semua lauknya disajikan dalam piring cekung, begitu pun nasinya disajikan hangat di atas piring beralas daun pisang. Anda bisa pilih nasi merah atau nasi putih. Harga makanan berkisar Rp. 5.000 sampai Rp. 17.000 per porsi.

Naskah & Foto: Adji K. (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP