. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label bahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahari. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Mei 2011

Menari di Tujuh Lapis Ombak Sungai Kampar


Lihat orang surfing di laut, ah biasa. Ada orang berselancar di sungai, itu pun bukan hal baru. Tapi kalau ada peselancar menari-nari di 7 (tujuh) lapis ombak berdurasi sampai 1 jam lebih, itu baru ruaaaarrrrr... biasa. Dan itu cuma bisa kita lihat dan bahkan coba di Sungai Kampar. Kenapa sungai di Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan, Riau ini bisa bergelombang bak laut?

Pertanyaan itulah yang mungkin pertama muncul di benak siapapun saat melihat kenyataan Sungai Kampar tak seperti sungai-sungai lain di Indonesia bahkan di dunia dengan gelombangnya yang disebut bono oleh warga setempat, hingga 7 lapis gelombang berketinggian sampai 6 meter.

Di sungai lain, masih di Riau memang ada tapi tak dasyat di Sungai Kampar. Bahkan Di negara lain juga pernah ada gelombang serupa seperti di Sungai Batang Lumpar di Malaysia, Siene (Perancis), Shubenacadie, Stewackie (Kanada), Yang Tse-Kiang dan Hangzhou (China), Amazon (Brazil), serta Sungai Gangga di India.

Tapi menurut beberapa peselancar dunia yang pernah mencoba beberapa sungai itu, memastikan Sungai Kampar-lah yang paling banyak gelombangnya, paling tinggi gelombangnya, dan paling lama durasi atau rentang waktu sampai habis gelombangnya. Mereka menyebutnya Sevent Ghost. Karenanya sejak tahun 2010, sungai ini jadi surga baru para peselancar dunia, terutama dari Perancis, Australia, Brazil, dan juga Bali-Indonesia.

Sampai saat ini penyebab pasti mengapa Sungai Kampar sampai bergelombang 7 lapis belum diketahui. Penelitian untuk mencari tahu jawabannya masih terus dilakukan oleh sejumah pihak yang tertarik dengan kondisi sungai ini.

Ada yang mengatakan, Bono merupakan gelombang yang terkategori Tidal Bore, yakni fenomena hidrodinamika yang terkait dengan pergerakan massa air dimana gelombang pasang menjalar menuju ke hulu dengan kekuatan yang bersifat merusak.

Ada yang mengatakan gelombang ini muncul akibat pertemuan tiga gelombang laut dari Laut China, Laut Jawa, dan Selat Malaka. Ketiga arus laut itu kemudian menyatu ke muara hingga masuk ke badan Sungai Kampar terus-menerus.

Ada yang menyebutkan pola Sungai Kampar yang berbentuk huruf ‘V” turut memicu terjadinya gelombang yang berlapis-lapis. Desakan arus yang semula luas kemudian mengerucut setibanya di muara hingga ke badan dan hulu sungai ini.

Legenda Bono
Kedua alasan di atas secara logika memang masuk akal dan mungkin bisa benar, meski belum pasti benar. Tapi ada satu lagi yang menyebabkannya demikian, dan ini terkait dengan kepercayaan masyarakat. Semacam legenda.

Konon, bono yang terdapat di Sungai Kampar merupakan pasangan jantan dari bono betina yang terdapat di Sungai Rokan. Saat musim pasang mati, bono jantan mengajak main bono betina di Selat Malaka. Kalau bulan mulai membesar, keduanya pulang ke tempat asalmasing-masing, bono jantan mudik ke Sungai Kampar dan bono betina kembali ke Sungai Rokan. Kalau bulan semakin purnama, keduanya saling berpacu dengan cepat ke tempat assalnya dengan suara yang bergemuruh.

Legenda lain menyebutkan pada awalnya bono di sungai ini berjumlah 7 ekor. Tapi salah satunya mati dan menghilang tertembak meriam Belanda. Ke-6 ekor bono yang tersisa, dari yang kecil hingga yang besar pada saat-saat tertentu mengamuk bak seekor induk yang marah besar karena kehilangan anaknya.

Bagi warga sekitar Kuala Kampar, keberadaan bono bukanlah hal aneh. Mereka sejak lama mengakrabinya dan menjadikannya sebagai wahana bermain sekaligus menguji kecakapan berperahu dengan menaklukan bono yang oleh masyarakat setempat disebut Bekudo Bono. Bahkan pada zaman Belanda, rakyat Teluk Meranti ini sering ditantang keberaniannya oleh Belanda untuk Bekudo Bono dengan imbalan Rp. 5 yang saat itu bernilai cukup tinggi.

Tapi bagi wisatawan, terlebih para surfer, bono buka sekadar fenomena alam yang menakjubkan. Melainkan surga baru, untuk melampiaskan hasrat menari-nari di atas 7 lapis ombak dengan sebilah papan selancar. Anda bernyali lebih dan mau mencoba? Silahkan.

Untuk mencapai lokasi bono Sungai Kampar, dari Pekanbaru ibukota Provinsi Riau dengan transportasi darat ke Pangkalan Kerinci sekitar 70 Km selama sekitar 1,5 jam. Diteruskan ke Desa Teluk Meranti, Kecamatan Teluk Meranti melalui Kecamatan Bunut juga dengan angkutan darat sekitar 4 jam. Kalau dengan trasportasi air, dari Pangkalan Kerinci (pelabuhan di Jembatan Pangkalan Kerinci) dengan speedboat ke Desa Pulau Muda yang menjadi lokasi terbaik untuk melihat kedasyatan bono. Waktu tempuhnya sekitar 4.5 jam.

Nakah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: dok ist.

Read more...

Selasa, 03 Mei 2011

Lomba Mancing Ramaikan Festival Teluk Banten 2011


Akhir pekan pertama Mei ini Anda belum punya acara dan tak tahu mau berlibur kemana? Pergi saja ke Banten, saksikan Festival Teluk Banten ke-5. Anda juga bisa ikutan lomba mancing di festival yang di gelar di Pelabuhan Karangantu, Teluk Banten, Serang, Banten ini.

Setelah 3 tahun vakum, tahun ini Pemkot Banten menggelar Festival Teluk Banten ke-5 (FTB V). Menurut Kepala Dinas Pemuda Olahraga Pariwisata dan Kebudayaan (Disporaparbud) Kota Serang Engkos Kosasih, tujuan FTB V ini untuk mengangkat potensi wisata bahari Teluk Banten sekaligus promosi wisata bahari Teluk Banten.

”Festival ini juga sebagai wadah pem¬ber¬dayaan masyarakat pesisir dan untuk menumbuhkembangkan kesadaran masyarakat terhadap pariwisata bahari Teluk Banten serta meningkatkan peran kreativitas generasi muda dalam pembangunan, dan mengangkat kearifan lokal Teluk Banten,” jelasnya.

Festival bertema bahari ini akan digelar pada hari Jumat mulai pukul 15.00 sore sampai dengan Minggu malam pukul 21.30 WIB atau pada tanggal 6-8 Mei 2011.

Menurut Pembina Kegiatan FTB V Rizal Aziz, ada serangkaian lomba dan kegiatan untuk meramaikan FTB V kali ini, antara lain lomba mancing, lomba dayung sampan, pasar pesisir, pentas hiburan pesisir, kirab budaya, dan bakti sosial.

Peserta lomba mancing, lanjut Rizal Aziz terbuka untuk umum. Bukan cuma masyarakat yang tinggal di Banten tapi juga di luar Banten, baik secara perorangan maupun perkelompok. ”Dua FTB sebelumnya, pemenang lomba mancing justru peserta dari luar Banten,” terangnya.

Pemenang lomba mancing adalah peserta yang berhasil memancing satu ikan seberat 5 Kg. Ikan yang ditangkap boleh apa saja, kecuali kura-kura dan ikan pari.

Pembukaan dan start lomba mancing bertempat di Tempat Pelelangan Ikan Karangantu pukul 06.00 WIB sampai dengan pukul 17.15 WIB. Peserta baik perorangan maupun perkelompok menggunakan satu kapal nelayan berkapasitas 5-6 orang pemancing. Dalam satu perahu ada dua orang juri sebagai pengawas.

Banyaknya kail dan senar tidak dibatasi dan umpan yang digunakan bebas. Area pemanciang bebas, asal masih di perairan Teluk Banten.

Kalau peserta melewati batas waktu yang telah ditentukan maka peserta dianggap gugur. Begitu pula kalau terbukti ikan yang didapat bukan hasil pancingan maka dianggap gugur.

Pemenang lomba mancing kategori hobi ini sebanyak 3 orang pemenang, ditambah satu kapal terbaik. Kalau ditemukan kesamaan berat ikan hasil pancing antar peserta, pemenang akan diputuskan berdasarkan cepatnya waktu tangkap ikan.

Biaya pendaftaran lomba mancing FTB V Rp. 150.000 sudah termasuk t-sirt, makan satu kali, perahu, dan asuransi.

Peserta lomba dayung sampan juga terbuka untuk umum. Lokasi lombanya di alur pelabuhan Pelelangan Ikan Karangantu. Satu regu sebanyak 2 orang. Sampan yang digunakan untuk lomba sebanyak 5 sampan dengan sistem gugur. Pemenang pertama berhak mengikuti lomba selanjutnya. Jumlah pemenang sebanyak 3 regu. Pemenangnya yang tercepat sampai finish dari start.

Sejak tahun 2000, masyarakat Banten sudah menggelar kegiatan festival budaya dan bahari yang salah salah program intinya untuk menanamkan cinta bahari dengan menggelar lomba mancing.

Pada tahun 2000 provinsi di ujung Barat Pulau Jawa ini menggelar Safari Baduy Nasional, tahun 2002 Wisata Bahari dan Lomba Mancing Teluk Banten, tahun 2003 Festival Teluk Banten I dan Lomba Mancing Teluk Banten, tahun 2004 Lomba Mancing Teluk Banten, tahun 2005 Festival Teluk Banten II, tahun 2006 Festival Teluk Banten III, dan tahun 2007 mengadakan Festival Teluk Banten IV.

Dengan FTB V, Rizal Aziz berharap Karangantu nantinya menjadi tujuan wisata andalan Kota Serang, di samping wisata ziarah di Banten Lama. Untuk mendukung itu, akan dibangun rumah makan apung di Karangantu dan penataan kawasan pesisir pada tahun ini, tujuannya agar wisatawan bisa berwisata pulau.

Menurut Engkos Kosasih, FTB akan menjadi event tahunan ini. Bila semakin baik, dia yakin kelak FTB dapat menarik kunjungan wisatawan sebanyak mungkin ke Banten, baik wisnus maupun wisman.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 29 April 2011

Seribu Homestay untuk Sail Morotai 2012

Karena belum ada hotel berbintang, untuk menampung tamu dan wisatawan Sail Morotai (SM) 2012, Provinsi Maluku Utara (Malut) menyiapkan seribu homestay. Apa lagi yang dipersiapan untuk mensukseskan event besar itu? Dan kegiatan apa saja yang akan digelar untuk meramaikan acara tersebut?

Untuk mengetahui sejauh mana persiapan yang dilakukan Maluku terkait event tersebut, Ditjen Pemasaran Pariwisata, Kemenbudpar mengambil inisiatif menyelenggarakan Semilokarya bertema "Akselerasi Pengembangan Pariwisata Malauku Utara" di Hotel Akmani, Jakarta, Jumat (29/04/2011).

Guburnur Maluku Utara Thaib Armaiyn mengatakan Pemprov Malut sudah mempersiapkan segala hal terkait penyelenggarakan SM 2012, jauh sebelum semiloka ini berlangsung. Mulai dari akses penerbangan, penyediaan penginapan, persiapan sejumlah acara yang akan digelar, pembenahan obyek wisata,. dan kesiapan masyarakat Malut.

“Di bidang transportasi udara misalnya, Bandara Morotai sudah difungsikan dan kami sudah menyurat ke Kemenhub untuk dijadikan bandara internasional dan mendapat lampu hijau,” jelasnya.

Seluruh walikota dan bupati se-Malut, lanjut Thaib juga sudah dihimbau supaya menata obyek-obyek wisatanya sebaik mungkin dan terus berkoordinasi untuk mensukseskan SM 2012.

Untuk menampung tamu dan wisatwang SM 2012, Pemda setempat menyiapkan 1.000 homestay di Morotai dengan dilengkapi toilet yang bersih. “Di Morotai memang belum ada hotel, jadi rumah-rumah penduduk sementara dijadikan homestay, Diharapkan ada investor yang akan membangun hotel berbintang tahun 2012,” jelasnya.

Direktur Pemasaran Pariwisata Kemenbudpar Sapta Nirwandar mengatakan agar hasil SM 2011 terukur dan terintegrasi, butuh visi yang jelas dan konsisten terutama dari pemimpinnya dalam hal ini gubernur. Banyak yang bisa dikembangkan di Malut selain wisata baharinya, seperti obyek sejarah dan kulinernya termasuk wisata rempah-rempah yang dapat dikembangkan menjadi Museum Rempah-Rempah.

“Selain produk wisata dan obyek-obyek wisatanya, yang perlu dipersiapkann adalah keramahtamahan masyarakat atau sumber daya manusianya. Minimal tersenyum biar wisatawan yang datang senang,” jelasnya.

Mengenai keramahtamahan masyarakat Malut dalam menyambut tamu dan pengunjung SM 2012, Thaib mengatakan tak perlu dikhawatirkan. “Masyarakat Malut terkenal akan keramahannya, terbuka dan menerima pendatang sejak dulu. Kami juga merekrut sejumlah pemandu wisata untuk melayani tamu dan pengunjung yang ingin berwisata ke sejumlah obyek wisata di Malut,” jelasnya.

Adapun rencana kegiatan SM 2012 antara lain upacara bendera peringatan HUT Kemerdekaan RI di salah satu pulau terluar, lintas nusantara remaja & pemuda bahari, reli kapal layar (yacht rally), pameran potensi daerah, semianar nasional dan internasional, sejumlah olahraga bahari, dan pentas seni-budaya serta atraksi wisata.

Sebagai pemanasan sebelum SM 2012 sekaligus mempromosikan pariwisata Malut, Pemprov Malut menggelar Festival Budaya Malauku Utara di Ternate pada Juni 2011. Event ini akan menampilkan seni tradisi khas Malut.

Semiloka ini juga menampilkan para pembahas antara lain dari Asosiasi Penerbangan Nasional Indonesia (INACA, Masyarakat Pariwisata Indonesia, dan akamedisi yang membahas presentasi dari para pembicara. Dari bahasan presentasi tersebut, diharapkan menghasilkan rekomendasi sebagai langkah-langkah strategis yang harus dilaksanakan untuk mensukseskan SM 2012.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 21 Desember 2010

Melongok Potensi Budaya dan Wisata Bahari Miangas



Pulau Miangas yang berbatasan dengan Filipina, memiliki potensi budaya dan wisata bahari yang belum tergarap maksimal. Ini terungkap dari hasil penelitian Badan Pengembangan Sumber Daya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, baik di bidang kebudayaan maupun pariwisata pada 2010. Apa saja hasil dua penelitian di pulau yang berjuluk pulau menangis dan yatim piatu ini?

Penelitan di bidang kebudayaan mencatat kesatuan sosial masyarakat Miangas sangat kuat dilandasi sistem norma sosial dan rasa solidaritas sosial tinggi. “Warganya sangat mentaati norma adat atau eha. Ada Eha berlaku dlm pengelolaan perkebunan kelapa mulai dari memanam sampai memetiknya, penangkapan ikan, dan pelestarian hutan bakau,” jelas Bambang H. Suta Purwana selaku ketua tim penelitian dibidang kebudayaan masyarakat Pulau Miangas, di Jakarta, Selasa (21/12/2010).

Budaya masyarakat Miangas yang mulai dikenal masyarakat luar adalah upacara panen ikan secara kolektif yang disebut Manammi. “Kalau dapat ikan besar selalu ada jatah untuk janda dan anak yatim,” terang Bambang.

Selain itu juga ada upacara syukur tutup tahun dan doa awal tahun yang menjadi wahana ekspresi budaya masyarakat Miangas. “Biasanya ada pentas tarian Cakalele, dan lainnya,” kata Bambang.

Penelitian di bidang kebudayaan menyimpulkan tidak ada kebijakan pelestarian kebudayaan untuk membangun ketahanan sosial budaya masyarakat Miangas kecuali upaya promosi upacara manammi. Rekomendasinya, pendekatan kebudayaan dalam membangun ketahanan sosial budayanya, dilakukan pemerintah dengan merumuskan kebijakan penguatan adat-istiadat, kearifan lokal, dan kesenian lokal.

Penelitian di bidang pariwisata khususnya pengembangan wisata bahari di Miangas, mencatat panjang pantai pulau ini 6 Km. “Ada beberapa pantai yang potensial dijadikan sebagai obyek wisata bahari. Sementara upacara Manammi sudah menjadi event wisata bahari Kabupaten Kepulauan Talaud,” jelas Robby Binarwan selaku ketua tim penelitan di bidang pariwisata Pulau Miangas.

Pengembangan wisata bahari di pulau Miangas, lanjut Roby memerlukan langkah yang arif bijaksana dan kehati-hatian agar tidak menimbulkan masalah, seperti masalah disintegrasi, kerusakan lingkungan dan masalah lain terkait dengan sumberdaya manusia. ”Yang pasti pemgembangan wisata bahari harus memberi peluang bagi masyarakat agar mendatangkan kemakmuran. Misalnya dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal,” jelasnya.

Pulau Miangas terletak di Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Pulau ini tercatat sebagai salah satu di antara 92 pulau-pulau terluar, dan termasuk di antara 12 pulau yang kini mendapat perhatian khusus pemerintah Indonesia karena posisinya.

Luas Pulau Miangas 6.227 km2. Sementara penduduknya 763 orang atau 196 KK yang tinggal di 3 desa yakni Desa Karutung Utara, Tengah, dan Karutung Selatan dengan mata pencaharian utama sebagai petani kopra dan nelayan.

Bila ingin ke pulau yang berarti miangasa atau menangis ini sebaiknya di luar bulan Desember – Januari – Pebruari karena tidak ada kapal yang berani datang ke pulau ini mengingat besarnya gelombang ombak dari Samudera Fasifik. Pada bulan-bulan tersebut biasanya masyarakatnya sudah kehabisan beras dan barang kebutuhan hidup sehari-hari sehingga mereka harus memakan laluga, sejenis talas sebagai pengganti nasi.

Untuk mencapai pulau ini, dari Pelabuhan Bitung, Sulut dengan naik kapal perintis selama 3-4 hari. Sebaiknya membawa perlengkapan masak berikut logistik untuk makan dan ngemil selama di perjalanan laut yang panjang, pergi dan pulang.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Puslitbangbudpar, Kemenbudpar

Read more...

Jumat, 21 Mei 2010

Mengabadikan Pulau-Pulau Cantik Anambas-Batam


Ssssssttt.., Jangan diam termangu apalagi tidur saat mengudara dari Bandara Matak, Anambas menuju Bandara Hang Nadim, Batam. Buka mata, lihatlah ke bawah. Di sana ada pulau-pulau cantik beragam bentuk yang muncul di tengah lautan. Ambillah kamera, lalu abadikanlah.

Kabupaten Kepulauan Anambas, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) memiliki 238 pulau. Yang berpenguni baru 26 pulau, sisanya (212 pulau) masih kosong alias tak berpenduduk termasuk di dalamnya 5 pulau terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga.



Dengan kondisi berpulau-pulau, kabupaten ini hanya terbagi menjadi 7 Kecamatan, yakni Kecamatan Siantan, Siantan Tengah, Siantan Timur, Siantan Selatan, Palmatak, Jemaja, dan Kecamatan Jemaja Timur. Di sebelah Utara, kabupaten ini berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah Selatan dengan Kepulauan Tembelan, sebelah Barat dengan Laut Cina Selatan, dan sebelah Timur dengan Laut Natuna.

Dengan kondisi berpulau-pulau, kabupaten ini hanya terbagi menjadi 7 Kecamatan, yakni Kecamatan Siantan, Siantan Tengah, Siantan Timur, Siantan Selatan, Palmatak, Jemaja, dan Kecamatan Jemaja Timur. Di sebelah Utara, kabupaten ini berbatasan dengan Laut Cina Selatan, sebelah Selatan dengan Kepulauan Tembelan, sebelah Barat dengan Laut Cina Selatan, dan sebelah Timur dengan Laut Natuna.

Rasanya tak mungkin dapat menjelajahi semua pulaunya dalam sepekan. Selain waktunya tak cukup, akses untuk menjangkau semuanya juga sulit. Hanya dengan transportasi laut yang jumlahnya juga belum memadai.

Untuk menyiasatinya, pilihlah pulau-pulau yang memiliki potensi wisata luar biasa, baik yang sedangdikembangkan maupun yang belum dipoles sama sekali. Masing-masing pulaunya memiliki pesona dan daya tarik tersendiri.

Kalau suka berwisata bahari rasanya kabupaten ini punya segalanya. Anda bisa datangi Pulau Penjalin, Kecematan Palmatak. Pemandangan alam pulau ini sangat indah berhias pulau-pulau mungil di sekitar perairannya. Pantainya berpasir putih dan lembut sangat cocok untuk tempat berjemur dan melakukan bermacam aktivitas pantai lainnya. Perairannya tenang, berair biru dan dihiasi ornamen bebatuan bermacam bentuk dan ukuran, sangat cocok untuk tempat berolahraga air seperti menyelam, snorkeling, berenang ataupun bersampan.

Gugusan Pulau Penjalin ini rencana akan ditetapkan sebagai kawasan konservasi dengan status cagar alam atau mungkin taman nasional laut. Untuk menjangkau pulau ini dari Tarempa, Ibukota Kabupaten Kepulauan Anambas dapat ditempuh dengan perahu kayu motor atau pompong sekitar 3 jam atau kalau dengan speedboat waktu tempuhnya lebih cepat.

Dilanjutkan ke Pulau Durai, pulau mungil yang juga berlokasi di Kecamatan Palmatak. Di pulau ini Anda bisa melihat penyu bertelur di bentangan pasir putih nan lembut. Menjelang sore puluhan penyu betina mendarat ke pantai lalu menggali pasir pantai kemudian bertelur. Setelah itu penyu menutup lubang yang berisi puluhan telur kemudian kembali ke laut.

Kalau suka menyelam, datang saja ke Pulau Bawah di Kecamatan Siantan Selatan. Panoramanya indah dengan pantai berpasir putih dan halus, air lautnya biru lengkap dengan terumbu karang dan bermacam ikan hiasnya. Lokasinya dapat ditempuh dari Matak dengan menyewa perahu kayu bermotor maupun speedboat.

Lokasi lainnya Padang Melang, sebuah pantai panjang yang berada di Kecamatan Jemaja ini dapat dijangkau dengan menggunakan kendaraan roda 2 selama lebih kurang 30 menit dari Letung, Ibukota Kecamatan Jemaja. Pantai ini punya keistimewaan sendiri. Panjangnya mencapai lebih 7 kilometer. Pasirnya sangat landai dan bentangannya cukup lebar sehingga sering digunakan masyarakat untuk lomba volley pantai bahkan motor cross.

Bila belum puas lanjutkan ke Selat Rangsang yang memiliki pemandangan alam yang menawan berupa beberapa pulau berbukit yang rimbun. Perairan tenang yang berada di Kecamatan Siantan Timur ini sangat cocok untuk tempat bersantai sambil melakukan berbagai aktivitas bahari seperti snorkeling, renang, dan bersampan atau sekadar berjemur di pantainya yang berpasir putih dan halus.

Lokasi menyelam lainnya ada di Perairan Pulau Berhala yang dikenal sebagai salah satu lokasi menyelam dan snorkeling terbaik di Kepulauan Anambas, tepatnya di Kecamatan Jemaja. Di perairan ini Anda juga dapat melihat lebih dekat kehidupan masyarakat melayu pesisir yang memelihara bermacam ikan karang dan konsumsi di perairan tersebut. Lokasinya sangat dekat dengan pelabuhan Jemaja atau bisa juga dari Padang Melang dengan ojek sepeda motor sekitar 20 menit.

Masih ada sejumlah obyek wisata bahari lain di kabupaten ini yang tersebar di sejumlah kecamatan. Di Kecamatan Palmatak misalnya ada Pulau Kelong, Semut, Pahat, dan Pulau Batu Alam serta sejumlah pantai indah dengan pemandangan bawah laut berupa aneka ikan dan terumbu karang. Di Kecamatan Jemaja ada sejumlah pantai menawan seperti Pantai Air Raya, Kresik Rewak, Kuku, Keramut, Pantai Nguan Bay, dan Pulau Ayam.

Sedangkan di Kecamatan Jemaja Timur ada Genting Pulur lokasi pemukiman masyarakat melayu pesisir dan Juga Bukit Padi tempat contoh persawahan. Di Kecamatan Siantan Selatan ada Pulau Mengkait dan juga Telaga. Di Kecamtan Siantan Timur ada Pulau Temawan, dan di Kecamatan Siantan Tengah ada penambakan bermacam ikan laut di Desa Air Sena dan Desa Air Asuk serta sentra pembuatan sampan dan perahu kayu bermotor (pompong).

Di Bawah Negeri Awan
Sisa pulau yang belum dikunjungi di kabupaten ini, jelas masih banyak. Sementara waktu terbatas. Nah, sewaktu terbang pulang dari Bandara Matak, Palmatak ke Bandara Hang Nadim, Batam itulah kesempatan untuk melihat sejumlah pulau lainnya yang belum disinggahi, dari atas ketinggian. Seperti yang penulis lakukan usai menghadiri acara peluncuruan buku Mak Atun, Pejuang Kesehatan di Tapal Batas di Tarempa, pertengahan Mei lalu.

Bila terbang dalam kondisi cuaca cerah, dipastikan akan mendapat pemandangan yang jelas, baik bentuk pulau, hutan belantara, maupun bentangan pantainya. Gugusan awan putih yang berarak-arak menjadi ornamen alam yang kian memperindah pemandangan.

Dengan pesawat Deraya berkapasitas duduk 36 seat, Anda bisa menikmati suguhan berbeda pulau-pulau cantik antara Anambas-Batam di bawah negeri awan. Waktu tempuhnya sekitar 1 jam lebih. Sayangnya Anda harus mencarter pesawat ini, karena tidak lagi beroperasi secara reguler. Pilihan lain naik pesawat RAL dari Matak ke Tanjung Pinang. Tarifnya sekitar 800.000 per orang.

Selagi di atas, siapkan kamera lalu jepretlah pulau-pulau tak berpenghuni dan masih perwan itu. Untuk sementara, rasa penasaran Anda akan terobati. Suatu hari, bila ada kesempatan, Anda pasti bisa mengunjungi dan mengeksplor pulau-pulau itu lebih puas.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 28 April 2010

Cowboys in Paradise Kian ‘Panaskan’ Bali


Udara pantai tersohor di Bali, seminggu belakangan ini 'memanas' oleh hembusan pembicaraan Cowboys in Paradise. Hembusannya hingga ke kawasan berbukit dan bergunungnya. Bahkan perbincangan film dokumenter tentang kehidupan gigolo di pulau dewata ini pun menghangatkan udara daerah dan kota lain, jauh di luar Bali.

Bagai dua sisi mata uang, begitu Bali pasca beredarnya cuplikan Cowboys in Paradise di internet dan hebohnya perbincangan seputar film dokumenter berkisah gigolo di Pantai Kuta, Bali tersebut.

Di satu sisi banyak pihak yang merasa film dokumenter garapan Amit Virmani ini mencoreng pariwisata Bali. Buktinya, rahazia terhadap warga yang tidak beridentitas terutama ‘pria berkulit gelap, berbadan kekar, dan bertelanjang dada’ di Pantai Kuta pun digelar Satgas setempat, Senin 26 April lalu. Hasilnya 28 pria dan 1 wanita tanpa identitas diciduk. Sebagian besar dari mereka ternyata bukan warga asli Bali. Sehari setelah razia itu, Pantai Kuta pun sepi dari beach boys.

Bahkan orang nomor satu di Bali, Gubernur Made Mangku Pastika ikut gerah oleh panasnya pembicaraan tersebut hingga berjanji akan mengambil tindakan tegas agar citra Bali sebagai pulau spritual tidak ternoda oleh film yang dinilainya ilegal karena pembuatannya tidak mengantongi izin resmi. Sejumlah public figure pun ikut-ikutan angkat bicara dan menilai film tersebut bisa menurunkan nilai pariwisata Bali.

Film besutan sutradara asal Singapura berdarah India ini pun menuai kontroversial karena para pelaku yang disebut 'cowboys' dalam film ini membantah disebut sebagai gigolo. Arnold dan Fendi, dua pria berbadan kekar dan berkulit coklat gelap yang menjadi pemain dalam tersebut mengaku kecewa dan marah karena dicap gigolo akibat film tersebut. Mereka mengaku hanya pelatih surving di Pantai Kuta. Akibat film tersebut, nama mereka tercoreng dan meminta sang sutradara mengklarifikasikan kepada mayarakat agar namanya tidak tercemar.

Di sisi lain, pembicaraan hangat seputar film yang menggegerkan pariwisata Bali itu justru kian menyohorkan nama Bali. Seminggu belakangan ini, Bali menjadi salah satu pulau pariwisata di Indonesia yang paling hangat dibicarakan di Indonesia bahkan mungkin di sejumlah negara lain.

Lihat saja, di beberapa daerah dan kota di dalam negeri. Sejumlah pelajar mendatangi warung internet untuk mencari dan men-download video film yang diambil gambarnya oleh sang sutradara saat berkunjung ke Bali tahun mulai 2007, akhir November 2008, dan Januari 2009. Beberapa di antaranya mengaku penasaran apa benar di Bali banyak gigolo seperti yang dikisahkan dalam film tersebut, hingga mereka berencana ingin ke pulau wisata impian tersebut saat liburan panjang tahun ini.

Berdasarkan analisa penulis, penanyangan dan perbincangan hangat Cowboys in Paradise tidak akan menurunkan minat wisatawan untuk berwisata ke Bali. Sebelum kasus ini hangat dibicarakan, Bali sudah menjadi destinasi favorit liburan panjang tahun ini berdasarkan transaki penjualan paket wisata dalam pameran Indonesia Travel & Holiday Fair (ITHF) 2010 awal April lalu. Pasca penanyangan dan perbincangan panas film ini, penulis berasumsi justru kian membuat orang penasaran dan tertarik datang ke Bali, khususnya ke Pantai Kuta dan sekitarnya.

Berdasarkan pantauan Travelplusindonesia beberapa kali ke Bali. Fenomena gigolo di sejumlah pantai ternama di pulau para dewa ini justru menjadi daya tarik turis tersendiri, khususnya turis asing perempuan yang kesepian. Dan ini sudah berlangsung sejak lama.

Selain keindahan alam dan keunikan budayanya, banyak turis perempuan mancanegara yang senang ke Bali justru karena terpikat oleh daya tarik pria berbadan atletis, berkulit gelap, dan kerap bertelanjang dada sebagai teman kencan sesaat selama liburan di Bali.

Mereka menilai lelaki-lelaki tersebut bukan saja pandai ‘menyenangkan’ hasratnya tapi juga menawarkan romantisme yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Ada rasa bangga bila mereka berhasil ‘memiliki’ pria yang dimata mereka itu sungguh eksotis dan sexy itu. Mereka merasa liburan mereka menjadi lebih lengkap dan sempurna dengan kehadiran pria penjaja cinta khas pantai-pantai Bali.

Kehadiran ‘beach boys’ atau ‘cowboys’ julukan terbaru buat gigolo di Bali dalam film Cowboys in Paradise, membuat banyak turis perempuan yang kesepian lantaran ditinggal pasangannya atau bercerai, ketagihan datang ke Bali. Bahkan ada yang berencana menetap selamanya dengan lelaki idamannya itu di pulau cintanya ini.

Jadi, bila banyak turis yang ke Bali tujuannya justru untuk mendapatkan kehangatan cinta dan romantisme dari ‘cowboys’ di pantai-pantai tersohor itu, rasanya bukan masalah dan bukan pula salah turis.

Sekali lagi, Cowboys in Paradise bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, mungkin banyak pihak merasa fenomena gigolo yang dikisahkan dalam film dokumenter tersebut membuka aib dan dapat menjatuhkan citra pariwisata Bali. Tapi di sisi lain, mungkin bagi turis spesialis pemburu kenikmatan dunia dari berbagai belahan dunia, realita para ‘cowboys’ itu justru jadi ‘bumbu penyedap’ hingga Bali kian lezat disantap sebagai destinasi wisata impian yang sempurna.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji-travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 08 Oktober 2009

Ayo Berdansa di Dancing Queen in Concert


Ada pernah tergila-gila dansa dengan musik ABBA? Atau penasaran seperti apa aranjer Andi Rianto mengemas musik ABBA yang dikaguminya itu dalam sebuah konser megah? Datang saja ke Dancing Queen in Concert yang akan digelar 14 Oktober ini di Istora Senayan, Jakarta.

Konser yang menampilkan sederet penyanyi papan atas seperti Titi DJ, Agnes Monica, Mulan Jameela, Elfa’s Singers, Sita Nursanti, Mike Idoe, Vidi Aldianto, Panton Idola cilik dan band pendatang baru Drew serta BBC ini akan menyuguhkan sebuah tontonan musik berbeda. “Akana ada dialog lewat lagu dan musik yang dibangun oleh para penyanyi dan juga para musisi Magenta Orchestra yang berjumlah sekitar 40 personil serta kuartet cewek Magenta Chamber Girls,’ jelas Andi Rianto.

Menurut aranjer kelahiran Pontianak 7 Mei 1972 ini , ada sekitar 26 lagu ABBA yang akan dibawakan para penyanyi secara solo, duet, maupun bersama, seperti lagu Mamamia, Fernando, Waterloo, I do I do Ido, Chiquitita, The Winner Takes It All, dan tentu saja Dancing Queen. “Juga ada beberapa lagu yang dinyanyikan secara medley serta satu ‘production number’ yang akan dipersembahkan secara instrumental, kolaborasi saya dengan Magenta Chamber Girls,” jelasnya.

Salah satu Diva Pop Indonesia, Titi DJ mengaku senang bisa diajak Andi Rianto. Dalam konser ini. “Kita sudah sering bekerjasama, jadi kalau nggak diajak keterlaluan,” canda penyanyi yang rumahtangganya tengah digosipkan retak.

Dalam konser nanti, pelantun 'Bahasa Kalbu' ini akan membawakan 4 lagu. “Satu lagu berduet dengan Sita, satu lagu nyanyi Dancing Quen rame-rame, dan dua lagu sendiri dimana ada satu nomor yang dibawakan secara teatrikal. Ini sesuatu yang baru buat saya,” kata Titi yang kemudian dikerubuti infotainmnet lalu diberondong pertanyaan soal isu keretakan rumahtangganya usai perskon konser ini di Juststeak Cafe & Lounge, Jakarta Selatan (7/10).

Denny Malik selaku Art Director menjelaskan dalam konser ini nanti para penyanyi akan membawakan lagu sesuai urutannya dan berdasarkan plot cerita di film, berlatar belakang set seperti sandiwara musical ‘play’. “Panggungnya 3 dimensi dengan sound system yang spesial dan tata lampu menarik dari Mata Elang,” kata Denny.

Semua penyanyi, lanjut Denny akan dibalut dengan kostum era 70-an yang sudah dieksplore sesuai masa kini termasuk koreografinya. “Penyanyi wanita akan memakai rancangan Lenny Agustine dan Jazz Pasai, sedangkan penyanyi pria mengenakan rancangan Wong Hang,” jelas Denny.

Yang menarik lagi, konser ini juga akan menampilkan 10 model dan peragawati top era tahun 70-an antara lain Eni Soekamto dan kawan-kawan yang tergabung dalam ibu-ibu Dancing Queen.

Untuk menyaksikan konser megah ini, tiketnya sudah bisa Anda beli. Untuk VVIP Rp 750.000, VIP Rp 350.000, Tribun Rp 150.000, dan Festival Rp 100.000. Anda bakal dijamin ikut berdansa, sebab Andi Rianto yang jebolan Berklee College of Music ini, akan mengarransemen ulang setiap lagu dengan harapan penonton tergugah, berdiri, dan ikut berdansa. Ayo berdansa-dansi di Dancing Queen in concert.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 16 September 2009

Woooy... Jangan Mesum di Mercusuar Bangkalan



DILARANG BERBUAT MESUM. Begitu tulisan bercat merah berhuruf kapital yang tertulis di tiang mercusuar Bangkalan, sisi Barat Madura. Tulisan bernada larangan keras itu pun menempel lebih dari satu. Benarkah tinggalan sejarah buatan Belanda berusia ratusan tahun ini sudah disalahgunakan pengunjungnya sebagai tempat mesum sampai ada larangan tertulis seperti itu?

Bukan cuma tulisan merah itu yang membuatku bertanya-tanya dalam hati. Masih banyak lagi coretan tangan tak bertanggugjawab yang tertera di dinding-dinding baja bagian dalam mecusuar bercat putih itu, yang terkadang menggelitik hatiku usai membacanya.

“...Kau tak pernah mau mengerti akan cintaku. Kau selalu mikirin perasaanmu sendiri. Kau tak pernah mengasihiku...”. Begitu bunyi tulisan hitam beraroma kepedihan karena tersakiti oleh cinta. Entahlah, mungkin penulisnya sedang sakit hati lalu mencurahkan luka perasaannya di dinding mercusuar itu.

Yang menjadi pertanyaan kenapa harus di mercusuar? Mengapa tidak di buku hariannya saja. Apa dia tidak tahu kalau tulisan itu justru merusak keindahan dan kemulusan mercusuar? Begitulah pertanyaan yang muncul tanda geram usai melihat aksi vandalisme di mercusuar itu.

Ketika naik ke lantai berikutnya. Di tiang utama yang sama, ada tulisan DILARANG BERBUAT MESUM lagi. Sementara di dinding-dindingnya pun kembali berhias bermacam coretan aneka warna. Salah satunya tulisan berwarna biru bernada makian terhadap sang pacar: “... Goblok! Cinta itu harus saling memiliki...”.

Dari sekian corat-coret gambar dan tulisan yang memberi kesan kotor itu, jelas tulisan DILARANG BERBUAT MESUM itulah yang mengundang keingintahuanku tentang apa yang sebenarnya telah terjadi di mercusuar peninggalan Belanda karya Z.M. Willem III tahun 1879 itu. Apa benar permesuman kerap terjadi di sana?

Soalnya ketika berkunjung ke menara yang berdiri gagah namun anggun itu, tak ada sedikitpun tanda-tanda yang mengarah ke sana. Jangankan memergoki pasangan yang sedang berbesum, pengunjungnya satu orang pun tak nampak.

Cuma ada beberapa warga yang tengah duduk-duduk di sebuah bale-bale, tepat di bawah sebuah pohon asam yang masih berdaun dan berbuah rindang. Menurut salah satu orang itu, kalau bulan puasa pengunjungnya tak ada, apalagi ini hari biasa.

Setelah diselidik lebih jauh tentang tulisan larangan berbuat mesum di dalam mercusuar, dia membenarkan bahwa Mercusuar Bangkalan kerap dijadikan sebagai tempat mangkal pasangan muda yang tengah dimabuk asmara. “Pas akhir pekan pasti banyak orang yang berpacaran di dalam mercusuar. Bahkan pernah ada yang kepergok sedang berbuat mesum oleh petugas,” jelas warga yang enggan disebut namanya itu.

Menurut lelaki paruh baya itu, yang datang berpacaran ke mercusuar itu bukan cuma orang dewasa tapi juga anak-anak sekolah. “Kalau mau melihat ramai pengunjungnya, datang saja pas liburan sekolah dan liburan hari-hari besar Islam, seperti tellasan topak atau lebaran ketupat sebagai puncak perayaan Idul Fitri nanti,” terangnya.

Bisa jadi banyaknya pasangan yang nekat berbuat mesum di mercusuar ini terkait minimnya petugas jaganya. Apalagi tempatnya memang memungkinkan untuk itu. Ada 16 lantai yang cukup luas yang masing-masing lantainya tak ada petugasnya. Kalaupun ada paling cuma petugas di loket dan di lantai dasar, pas pintu masuk ke dalam mercusuar.

Lanjut orang itu, mereka yang datang dengan pasangannya, biasannya berpura-pura melihat-lihat atau mengabadikan pemandangan lewat jendela yang beberapa di antaranya sudah tak berkaca lagi. “Kalau tidak ada orang, mereka pun mengambil peluang itu untuk bermesum,” jelasnya.

Tiket masuk mercusuar yang cuma Rp 2.000 per orang bisa jadi faktor pendukung. Buat anak sekolah pun, tiket itu sangatlah murah. Andai tiketnya lebih dari itu, pasti masih banyak pengunjung yang rela membayarnya, mengingat tempat itu sepi penjaga dan juga bernuansa romantis sehingga dinilai sangat cocok untuk lokasi memadu kasih.

Sudah saatnya petugas mercusuar bukan cuma membuat tulisan larangan itu saja di tiang dalam mercusuar. Tapi juga memperketat penjagaan agar mercusuar yang menjadi tinggalan sejarah itu tidak bercitra negatif lagi di kemudian hari.

Masih Menyala
Mercusuar Bangkalan terletak di Desa Sembilangan, Kecamatan Socah, 6 Km dari pusat ibu kota Bangkalan, Madura. Oleh karenanya disebut juga Mercusuar Sembilangan. Mercusuar setinggi 78 m ini memiliki lampu yang masih menyala saat malam dan juga pada hari-hari bercuaca gelap. Oleh karenanya, penduduk sekitar menyebutnya Lampu.

Untuk mencapainya, dari jalan utama memasuki Desa Sembilangan, melintasi jalan tak mulus lagi karena beberapa bagiannya tergerus oleh air pasang laut. Tak lama berselang, bangunan menjulang berwarna putih kelabu itu pun terlihat. Sebelum tiba, hamparan tambak dan persawahan yang belum ditanami padi mewarnai perjalanan di kiri jalan saat kemarau. Sementara di kanannya adalah tepi laut.

Setibanya di luar tembok mercusuar itu, ada deretan pohon asam yang menghadirkan pemandangan indah. Sementara pepohonan lainnya, tinggal ranting-rantingnya saja karena dedaunannya sudah berguguran tersengat matahari pantai. Kondisi seperti itu justru menghadirkan atmosir yang berbeda.

Untuk mencapai puncak mercusuar, pengunjung harus menapaki undakan tangga besi berwarna hitam sebanyak 16 tangga. Kalau Anda punya penyakit ketinggian ataupun sakit jantung sebaiknya tak perlu naik sampai puncaknya. Kalau berani dan sanggup, ya boleh-boleh saja.

Dari puncaknya Anda akan dapati pemandangan laut beserta hilir mudik kapal kecil dan besar. Juga hamparan petak-petak sawah dan tambak serta beberapa rumah penduduk. Bahkan kalau cuaca sedang bagus, Jembatan Suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura pun bisa terlihat. Penasaran? Datang dan nikmati saja. Tapi JANGAN BERBUAT MESUM!

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 18 Juli 2009

Geliat Pantai Padang dari Subuh hingga Malam


Bila Anda berkunjung ke Padang, Sumatera Barat, rasanya belum lengkap kalau belum ke Pantai Padang. Selain masih gratis, banyak warna dan cerita yang bakal Anda temui di sana. Ada kisah asmara subuh, aktivitas pegunjung, pengais rezeki hingga pencari jodoh.

Pantai Padang sejak subuh hingga larut malam terus menggeliat. Di setiap perbedaan waktu itu, ada saja warna dan cerita yang disuguhkan. Kisah asmara subuh misalnya mucul saat bulan puasa. Biasanya usai sahur dan shalat subuh, banyak warga Kota Padang dan sekitarnya yang datang ke pantai ini. Beberapa di antaranya muda-mudi yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, diam-diam berpacaran. Sejak itulah muncul julukan asmara subuh di Pantai Padang setiap bulan puasa.

Bagi warga Kota Padang, pantai ini bukan sekadar tempat bersantai. Tapi juga tempat untuk bersosialisasi, mencari jodoh, mengais rejeki, dan berekspresi seni. Setiap hari, mulai matahari terbit, sejumlah pedagang ikan hasil tangkapan nelayan menjajakan bermacam ikan di sepanjang jalan di tepi pantai ini. Ada ikan tuna bermacam ukuran sampai ada yang besarnya sepaha orang dewasa, bawal, kakap, cumi, rajungan, lobster dan lainnya. Para pembeli mulai berdatangan bahkan sampai sore masih ada beberapa pedagang ikan yang berjualan termasuk pembeli yang datang.

Ketika matahari di atas kepala, sejumlah warung makan di tepi pantai maupun di seberang jalan yang menjajakan aneka masakan khas Minang diserbu pengunjung untuk santap siang. Warung-warung tersebut juga menjual ikan bakar dan aneka minuman jus dan kelapa muda.

Menjelang sore, warga Kota Padang dan sekitarnya berdatangan dengan sepeda motor ataupun mobil. Sementara yang tinggal di sekitar pantai cukup berjalan kaki. Pantai Padang oleh warga Padang lebih dikenal dengan sebutan Taplau singkatan dari tapi lauit atau tepi laut. Umumnya warga mulai dari anak-anak laki sampai orang dewasa datang untuk main layang-layang. Langit di atas pantai ini pun sekejap berubah lebih berwarna dan seperti hidup oleh bermacam layang-layang yang melayang, tak bisa diam.

Yang menarik lagi, para pedagang pakaian anak-anak sampai orang dewasa, bermacam balon tiup, aksesoris dan lainnya mulai menggelar dagangannya di tepian jalan di sepanjang tepi pantai. Sepintas seperti pasar kaki lima. Para ibu dan wanita muda memburu sejumlah barang yang dijajakan. Harganya cuku terjangkau, pakaian pantai atau pun t'shirt wanita dijual mulai Rp 25.000 per potong.

Saat malam merayap, cafe-cafe di tepi pantai mulai ramai di datangi rombongan anak muda dan keluarga terutama pasangan muda-mudi untuk ngobrol sana-sini sambil menikmati aneka penganan seperti roti dan pisang bakar, nasi goreng, kopi susu, dan lainnya.

Di Gedung Budaya di seberang pantai, hentakan musik terdengar sampai pantai. Sejumlah band bergantian unjuk kebolehan. Aksi musik mereka menarik perhatian pengendara motor dan mobil untuk mendekat ke areal panggung.

Semakin larut, suasana pantai semakin ramai. Mereka yang ada yang berniat mencari pasangan. Sebab bukan rahasia lagi, sudah lama pantai ini menjadi tempat mendapatkan teman dekat bahkan pasangan hidup bila memang berjodoh.

Hotel Tepi Pantai
Bagi pengunjung Hotel Pangeran Beach, Pantai Padang menjadi bonus sendiri saat menginap di hotel, termasuk buat peserta yang sedang mengikuti Sumatera International Travel Fair (SITF) 2009 di hotel ini. Maklum sesuai namanya, hotel berbintang 4 ini lokasinya masih di deretan Pantai Padang. Halaman belakang hotel ini terdapat kolam renang yang menghadap ke pantai ini. Dari tempat itu, pengunjung hotel termasuk peserta SITF 2009 lalu meluangkan waktu berenang atau sekadar menyaksikan matahari terbenam serta melihat para pemancing sedang menunggu kailnya disambar ikan laut.

Saat malam Minggu, geliat Pantai Padang berdenyut hingga larut. Jelang subuh kembali berdenyut dengan warna dan cerita lain. Aktivitas para nelayan melaut terlihat mewarnai pantai ini. Bila cuaca tak bersahabat, deretan perahu kayu bermotor dan bercadik ditambatkan di pantai ini.

Untuk menikmati semua geliat pantai ini, pengunjung tak perlu mengeluarkan uang lantaran masih gratis. Sebenarnya kalau kawasan pantai ini dikelola Pemkot Padang atau Pemprov Sumbar dengan segala macam fasilitas wisata yang lebih memadai, pasti namanya kian masyur dan mampu menjaring investor untuk membangun pantai ini menjadi lebih indah, lengkap, dan mentereng.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 16 Juni 2009

Sepotong Surga Tropis di Pulau-Pulau Mungil


Mencari sepotong surga tropis tak perlu terbang jauh ke negeri orang. Di sini pun tersedia banyak tempat yang menawarkan itu. Di antaranya pulau-pulau mungil yang bersemayam di Perairan Salat Sunda, tepatnya di Ujung Barat Pulau Jawa, Provinsi Banten. Beragam aktivitas bahari dapat dilakukan di daratan dan perairannya yang menawarkan sejuta keindahan, bagai berada di alam nirwana.

Pulau-pulau mungil yang menyuguhkan pesona nirwana alam tropis itu, berada di dalam kawasan Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), antara lain Pulau Peucang, Handeuleum, dan Pulau Panaitan. Sedangkan yang di luar atau berbatasan dengan perairan kawasan konservasi tersebut, antara lain Pulau Umang dan Pulau Oar.

Pulau Peucang menawarkan pantai berpasir putih halus sepanjang 600 meter yang disebut golden beach. Di pantainya, kita bisa berjemur sambil membaca buku favorit, melupakan rutinitas kota sejenak. Air lautnya biru, tenang, jernih dan kaya ikan konsumsi. Jadi cocok untuk Anda yang hobi mancing. Satu Km ke arah Selatan, terdapat taman laut yang huni beragam ikan hias beraneka warna berikut terumbu karangnya. Lokasi ini cocok untuk bersorkeling dan diving atau sekadar berenang.

Di daratan pulaunya terdapat hutan berikut beberapa satwa yang di antaranya berprilaku jinak seperti rusa, biawak, dan monyet. Selain menikmati pemandangan, Anda dapat trekking memasuki hutannya atau mengelilingi pulaunya. Di pulau mungil ini terdapat penginapan dan restoran menghadap ke laut lepas. Ketika sarapan pagi atau makan siang, Anda dapat menikmati belaian angin laut dan melihat rusa, biawak, dan monyet yang berkeliaran bebas dari jarak dekat.

Sedangkan di Pulau Handeuleum, Anda dapat mengamati satwa liar seperti banteng, babi hutan, rusa, jejak-jejak Badak Jawa, dan berbagai macam jenis burung. Kegiatan yang paling mengasiikan, menyelusuri Sungai Cigenter dengan sampan di antara ekosistem hutan mangrove. Di pulau ini terdapat pos jagawana TNUK.

Bagi penggemar surfing dan diving, perairan Pulau Panaitan merupakan lokasi ideal. Bahkan menurut beberapa surfer asing yang pernah melakukannya, perairannya disebut-sebut sebagai salah satu dari tiga tempat terbaik di dunia untuk hobi itu. Beberapa kapal pesiar yang mengangkut orang asing bisa berhari-hari terapung-apung di sekitar Selat Panaitan untuk menyelami keindahan ikan dan terumbu karangnya. Belum lagi keliaran hutan rimbanya yang memiliki daya tarik tersendiri untuk dijelajahi.

Makam Malam di Tepi Pantai
Dua pulau lainnya adalah Pulau Umang dan Oar yang dikelola swasta. Kedua pulau ini berada di luar kawasan TNUK. Dapat di tempuh sekitar 10 menit dengan kapal motor berkapasitas sekitar 20 orang dari Sumur. Dinamakan Umang, karena penghuni asli pulau ini adalah hewan bernama umang (keong pantai) yang memiliki rumah berupa cangkang.

Di pulau ini, Anda dapat menemukan konsep resort bernuansa tropis. Rangka bangunannya dan lantainya dari kayu. Kesan itu semakin kuat dengan atap dari ilalang. Pelayanannya pun demikian, setiba di pulau ini kita diberikan handuk basah dingin beraroma khas untuk mengusir panas di wajah serta disuguhi minuman jus buah tropis, seperti jambu merah dan jeruk.

Di pulau seluas 5 hektar ini, Anda bisa berenang di kolam renang yang langsung menghadap ke laut, berendam air hangat di yakuzi yang juga menghadap ke laut, spa di gazebo beratap rumbai dekat laut, dan makan malam bersama di tepi pantai. Kita juga bisa mengelilingi pulau ini dengan berjalan kaki ini, selama sekitar 15 menit.

Pulau Umang merupakan anggota dari UCS (Ujungkulon Coservation Sosiety) yaitu organisasi non pemeritah yang melaksanakan program penanaman sejuta pohon secara bertahap di sekitar kawasan hutan TNUK. Pulau Umang dijadikan tempat penanaman (adopsi) dan pemeliharaan awal tanaman. Setelah besar tanaman akan dipindahkan ke lokasi penanaman. Selain masyarakat, ada beberapa pejabat, tokoh masyarakat, dan artis yang ikut berparisipasi dalam program ini.

Sedangkan Pulau Oar terletak tepat di sebelah Tenggara Pulau Umang, dan bisa dicapai dalam waktu sepuluh menit menggunakan perahu mesin biasa. Di pulau seluas 4 hektar ini kita bisa berwater sport seperti banana-boat, jetski dan snorkeling untuk menikmati terumbu karangnya.. Lokasi snorkeling hanya sekitar 10 meter dari bibir pantai pulau ini.

Pulau Oar merupakan pulau tidak berpenghuni. Hanya disediakan beberapa gazebo untuk tempat singgah sementara para pelancong yang ingin ber-water sport. Di pulau ini kita juga bisa menikmati panorama sunset di antara pepohonan bakau.
Masing-masing pulau mungil di atas, menawarkan sepotong surga tropis tersendiri. Rasanya Anda tak perlu lagi pergi jauh untuk mendapatkannya.

Travelplus Tips
Perjalanan menuju pulau-pulau mungil itu membutuhkan waktu kurang lebih 6 jam dari Jakarta. Anda bisa melalui rute pintu tol Cilegon Barat-Anyer-Carita-Labuan selama 3 jam. Dari Labuan kemudian disambung menuju Sumur dan Tamanjaya, gerbang terakhir ke TN Ujung Kulon. Alternatif lain, lewat Jakarta –Serang (via tol) lalu ke Pandeglang-Labuan (3 jam). Bisa juga dari Bogor - Rangkasbitung - Pandeglang - Labuan (4 jam).

Dari Labuan, perjalanan masih sekitar 3 jam lagi menuju Kota Kecamatan Sumur. Di Sumur, Anda dapat melihat hutan lebat Gunung Honje yang berada di sepanjang kiri jalan yang termasuk bagian dari TNUK. Dari Sumur ke Pulau Peucang (1 jam dengan kapal motor nelayan), biayanya sekitar Rp 1,5 juta. Bisa juga dari Labuan - Pulau Peucang (4 jam dengan kapal motor nelayan), ongkosnya tentu lebih mahal.

Kalau kemalaman menuju Tamanjaya, tak perlu cemas. Di Sumur ada penginapan Hostel Rhino, tarifnya sekitar Rp 75.000 per malam. Dari Sumur, perjalanan bisa dilanjutkan ke Desa Tamanjaya sekitar 12 km. Kalau barang yang dibawa tidak terlalu banyak, lebih nyaman dan cepat naik ojek sepeda motor di pertigaan Sumur.Dari Taman Jaya bisa sewa perahu motor berkekuatan mesin 24 PK ke Pulau Peucang.

Biaya sandar kapal di perairan Pulau Peucang sekitar Rp 50.000 per hari. Penginapan 1 kamar standar non AC dengan 2 tempat tidur dan toilet, bianya sekitar Rp 200.000 per malam. Sedang yang AC sekitar Rp 400.000 per malam. Mau yang lebih murah bisa menggunakan mess jagawana dengan kamar mandi di luar rame-rame tapi bersih. Tarifnya bisa nego langsung. Musim kunjungan terbaik bulan April s/d September.

Bagi pelancong yang membawa mobil sendiri, pengelola Pulau Umang & Oar menyediakan garasi penyimpanan mobil selama berkunjung. Bila enggan membawa kendaraan sendiri disediakan sarana transportasi Shuttle melalui pemesanan. berupa mini bus dengan ongkos P/P Rp. 250.000, per orang. Kalau ingin tetap datang tanpa registrasi terlebih dahulu, bisa naik bus AKAP jurusan Kalideres-Labuan Rp 25.000 per orang. Lalu dilanjutkan dengan bus jurusan Labuan-Sumur Rp 15. 000 per orang.

Obyek lain di Kecamatan Sumur antara lain Pantai Dadap Langu, Pantai Kesik Panjang, dan Pantai Ciputih. Ketiga pantai berpasir putih itu membentang panjang di Desa Kerta Mukti. Selain itu terdapat desa wisata yang memiliki keaslian rumah penduduk Ujung Kulon berupa rumah panggung sederhana, berdinding anyaman bambu, berlantai papan, dan beratap daun kelapa. Penghuni desa ini memproduksi kerajinan tangan dengan bahan baku setempat. Melihat potensi wisatanya, Pemerintah Kabupaten Pandeglang berencana menjadikan Kecamatan Sumur sebagai "Bali Kedua".

Naskah & Foto: Adji K. (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP