. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }
Tampilkan postingan dengan label Pementasan Teater Mastodon dan Burung Kondor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pementasan Teater Mastodon dan Burung Kondor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Agustus 2011

Protes dalam Mastodon dan Burung Kondor Versi Ken Zuraida


Kendati naskah Mastodon dan Burung Kondor menyebut Spanyol sebagai setting tempat kejadian. Dan nama-nama pemainnya pun sangat berbau Amerika Latin. Sesungguhnya isi pesan pementasan teater ini mengkritisi arah dan kebijakan pembangunan di negeri ini. Semasa Rendra menyutradari dan memerankan tokoh utamanya, kritikan itu ditujukan kepada pemerintahan Soeharto. Kini ditangan Ken Zuraida sangat jelas kemana protes tersebut diarahkan.

Tanpa perlu dikatakan, tanpa perlu disebut namanya. Sangat jelas, begitu eksplisit ‘kemarahan’ yang dilontarkan dalam pementasan Mastodon dan Burung Kondor versi KenZuraida ini. Penonton yang hampir memenuhi kursi Graha Bakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta semalam, Kamis (11/8/2011), rasanya sudah paham benar, orang, pihak, dan era yang ‘ditunjuk’ dalam pementasan itu.

Ya kemarahan atas ketidakberesan berbagai aspek kehidupan di era ini, baik pembangunan di bidang ekonomi, pendidikan, sosial, politik bahkan bidang kebudayaan.

Tapi entah kenapa. Greget protesnya terasa kurang. Bisa jadi karena apa yang diproteskan itu sebenarnya sudah terpapar dengan gamblang di sejumlah media massa. Tiap hari, koran, TV, online bahkan jejaring sosial ikut mengkritisinya. Dan ketika kembali tampilkan lewat media teater, rasanya jadi hambar.

Beda ketika, Rendra mementaskannya tahun 1973, . Ketika itu media massa bisa dihitung dengan jari. Orang belum sebebas seperti sekarang melontarkan ‘amarah’ atas ketimpangan yang dilakukan pemerintahan. Alhasil, pementasan itu dianggap sebagai wakil mereka yang tak bisa menyuarakan jeritan hatinya. Dan Rendra berhasil.

Buktinya, sebulan setelah pementasan di Istora Senayan, terjadi kerusuhan besar-besar di Jakarta sebagai bangkitnya kesadaran mahasiswa menentang cengkaraman modal atau kekuatan asing, yang kemudian mensejarah dan terkenal dengan Peristiwa 14-15 Januari 1974 atau MALARI. Beberapa media cetak menyebut pentas Mastodon dan Burung karya Rendra ketika itu turut memicu kesadaran para aktivis MALARI.

Akankah pementasan versi Ken Zuraida mampu begitu? Hmmm.. rasanya sulit. Eranya berbeda. Kondisi sosial-politiknya berbeda. Dan rasanya Ida, panggilan akrab Ken Zuraida memang bukan untuk itu mementaskan karya mendiang suaminya ini. Dia hanya ingin mengenang 2 tahun Rendra berpulang, sekaligus memperkenalkan karya suaminya itu kepada generasi kini.

Namun ada yang menarik . Ida tdak ikut-ikutan mengajak artis atau penyayi top dalam pementasan ini. Padahal belakangan ini banyak pementasan baik itu teataer atau keseniaan tradisional yang melakukan trik semacam itu.

Kendati tak ada bintang tamu spesial dalam pementasan ini, secara keseluruhan cukup menarik dilihat. Hanya ada beberapa bagian yang terlalu panjang dialognya sehingga bikin ngantuk.

Andai saja, Ida membuatnya lebih santai, lebih kekinian. Pementasan ini mungkin akan mengalir lebih rileks. Toh, mengritik itu tak mesti selalu tampil berat dan ngotot bukan, apalagi isi protes itu sudah menjadi rahasia umum, sudah jadi santapan sehari-hari masyarakat yang kadang memuakkan.

Pementasan teater Mastodon dan Burung Kondor versi Ken Zuraida ini masih akan berlangsung sampai tanggal 14 Agustus 2011, pukul 20.30 WIB.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 25 Juli 2011

Mastodon dan Burung Kondor Versi Baru, 'Hidupkan’ (lagi) Rendra



Dua tahun sudah Rendra berpulang. Namun geliat kebudayaan penyair mualaf ini tak pernah mati. Dua karya monumental seniman kelahiran Solo ini sebelumnya dipentaskan istrinya, Ken Zuraida yakni Bib Bob dan SEKDA dengan bendera Bengkel Teater yang didirikan Rendra di Jogja pada 1967 sepulang dari AS. Tahun ini, Ken Zuraida mementaskan masterpiece lain karya penyair berjuluk si Buruk Merak ini yakni Mastodon dan Burung Kondor lewat label Ken Zuraida Project. Mengapa dan apa bedanya?

Mastodon dan Burung Kondor merupakan drama karya Rendra yang ditulisnya dalam rentang 1971-1973. Salah satu maha karya Rendra ini pertama kali dipentaskan oleh Bengkel Teater pada 1973 di 3 lokasi yakni Jogja, Bandung, dan Jakarta.

Ketika itu Rendra yang menjadi pemeran utamanya sebagai Jose Karosta, sang penyair yang berhelat di tengah pergulatan sosial politik di Amerika Latin yang tengah didera kontra revolusi ketika itu.

Menurut sang penyair, setiap revolusi membuahkan sikap fanatik atau ekstrim yang melahirkan mastodon-mastodon alias penindas-penindas. Dan revolusi yang dimenangkan kaum radikal akan melahirkan kembali pemerintahan mastodon.

Tahun ini, pementasan teater Mastodon dan Burung Kondor disutradari Ken Zuraida yang akrab disapa Ida akan digelar di Graha Bakti Budaya (GBB), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, 11-14 Agustus 2011.

Kata Ida, harkat pementasan kali ini bukan sebatas persembahan mengenang dua tahun Rendra berpulang. Melainkan pula untuk mengingatkan semua elemen masyarakat tentang negeri ini bahwa sampai detik ini kondisinya dalam beberapa hal tak sebaik era 70-an. Kebudayaan Indonesia yang cemerlang lantaran berbasis adat dan kesenian tradisonal, kini terlindas oleh maraknya enkultrasi budaya kekinian yang serba instan dan populis.

Pemakaian label Ken Zuraida Project dalam pementasan tahun ketiga ini disepakati atas dasar semakin banyaknya anggota baru yang dilatih Ida dengan ilmu dan metode latihan warisan Rendra. Anggota baru itu datang silih berganti dan jumlahnya melebihi anggota Bengkel Teater.

Kendati begitu, Ida tetap memakai orang-orang yang kerap bekerjasama dengan Rendra untuk bergabung dalam tim manajemen dan produksi antara lain Arif Budimanta sebagai produser eksekutif, Amir Husain Daulay dan Edi Haryono yang disebut-sebut ‘anjingnya’ Rendra serta Rusdy Setiawan Putra.

Begitu pun para pemainnya yang berjumlah 33 orang. Ida meminjam 2 aktornya Mas Willy, sapaan akrab Rendra yang tak lain pemain lama Bengkel Teater yakni Awan Sanwani sebagai Kolonel Max Carlos dan Iwan Purna yang dulu dijuluki ‘Singa Panggung’ Bengkel Teater sebagai Profesor Tovas.

Selebihnya pemain muda potensial yang berdatangan dari Palangkaraya, Surabaya, Jogja, Solo, Ciamis, Purwakarta, Malang, Salatiga, Makassar, Bogor, Tangerang, Kupang, Samarinda, Bandung, dan Jakarta. Salah satunya Totenk Mahdasi Tatang asal Bandung yang berperan sebagai Jose Karosta versi Ida.

“Mereka kawan dan saudara baru kami yang berkumpul setiap hari 24 jam, berlatih mulai dari pukul setengah 6 pagi sampai 10 malam. Intens bertukar keringat, airmata, dan darah. Lebih banyak berantemnya,” jelas Ida saat konferensi pers di Teater Luwes, IKJ, TIM, Senin (25/7/2011).

Ida menegaskan, pementasan Mastodon dan Burung Kondor kali ini berbeda sekali dengan pementasan dulu. “Ini sangat beda dengan kemasan teater Rendra dulu secara kemasan artistik,” tegasnya.

Alasannya Ida bukan Rendra dan tidak akan bisa seperti Rendra. “Saya tidak mau mem-photocopy dia. Nanti seperti katak menjadi lembu, meletup. Ini kemampuan saya, yang terbaik dari saya. Mudah-mudahan saja bisa ditonton,” harapnya.

Eef Saefullah Fatah yang cukup mengenal Rendra selama 10 tahun terakhir mengatakan, pementasan ini punya makna memperkenalkan segala pesona Rendra kepada generasi kini. "Setahu saya, Rendra bukan tipe seniman yang narsis dan kegenit-genitan. Dia jujur apa adanya dan menyodorkan dirinya sendiri untuk melakukan perubahan dengan segala risikonya, bukan dengan mendorong atau menjerumuskan orang lain," jelas Eef.

Jalan Bisu
Yang menarik, sebelum pementasan Mastodon dan Burung Kondor, digelar serangkaian kegiatan pendukung antara lain Lingkaran Doa Mengenang Rendra yang akan dipimpin Eef Saefullah Fatah pada 7 Agustus di Kampus Bengkel Teater Rendra, Cipayung, Depok. Dilanjutkan Jalan Bisu yakni jalan massal dari pusat latuhan di Cipayung ke TIM pada 7-8 Agustus mulai pukul 23.00 WIB.

Pada 8 Agustus juga diadakan Ruwatan Gedung GBB. Kemudian Perkemahan Kaum Urakan di Kompleks TIM yang diisi dengan diskusi, kongkow budaya dan lainnya mulai 8-15 Agustus. Dan kegiatan Public Expose Workshop teater metode Rendra di panggung terbuka pada 9-14 Agustus 2011, jelang buka puasa bersama pukul 15.30-17.50 WIB.

Harga tiket pementasan Mastodon dan Burung Kondor versi baru yang juga didukung Bakti Budaya Jarum Foundation dan TIM ini, terbagi lima kelas yakni tiket Rp 500ribu untuk undangan khusus, Rp 200ribu (VVIP), Rp 150ribu (VIP), Rp 100ribu (reguler) atau di sayap kiri dan kanan, dan Rp 50ribu untuk Balkon atau di bagian atas. Tiket ini sudah dijual sejak 15 Juli sampai dengan 10 Agustus 2011.

Pemesanan dan pembelian tiketnya dapat menghubungi Nita di nomor HP 0812 860 91255 atau Septian (0857 8097 3321), email: kenzuraidaproject@gmail.com, dan loket GBB, TIM Jakarta.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP