. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Selasa, 31 Mei 2016

Berjanji Setia di Air Terjun Janji

Entah kenapa air terjun ini diberi nama Janji. Sebuah nama yang unik dan menarik. Dari namanya saja, air terjun yang berada di Lembah Bakkara, tepian Danau Toba ini sudah berdaya pikat tinggi hingga banyak orang yang menyambanginya. Bahkan banyak pasangan kekasih yang percaya kalau berjanji setia di sini, pasti terpenuhi. Katanya, hubungannya bakal abadi. Aaah.., masa sih…


Di dekat tumpahan air terjun setinggi sekitar 30 meter ini, Liana (25) dan Binsar (27) terlihat duduk-duduk di sebongkah batu besar.

Seluruh rambut dan pakaian kedua sejoli ini basah oleh sapuan buih-buih Air Terjun Janji. “Aku janji setia sepanjang hidup denganmu Liona,” teriak Binsar samar-samar. Teriakannya kalah keras dibanding gemuruh tumpahan air terjun itu.

"Suweer,,, aku juga akan setia dampingimu Binsar,” balas Liana sambil mengangkat tangannya dengan jari telunjuk dan tengahnya membentuk huruf V.

Sepengal adegan  romantis sepasang kekasih dari Kota Medan yang mengaku ingin segera bertunangan dan menikah itu, sempat jadi perhatian beberapa pengunjung.

Tapi keduanya cuek. Usai berjanji seperti dalam adegan film drama cinta, mereka kembali berfoto narsis berlatar air terjun yang tak pernah letih menumpahkan berkubik-kubik air bersih alami. “Aiiih.., bikin iri,” ucap hati.

Ketika ditanya kenapa berjanji setia di air terjun yang berada di Desa Marbun, Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatera Utara (Sumut) ini? Liana menjawab tanpa malu-malu.

“Buat seru-seruan aja Om, kawan-kawan kami juga pernah berikras setia di sini. Dan ternyata hubungannya tetap awet sampai sekarang,” akunya.

Binsar pun mengangguk-angguk kepalanya, membenarkan alasan pacarnya itu.

Entahlah benar atau tidak keyakinan itu, yang pasti Air Terjun Janji sesuai namanya sudah bikin orang ingin datang dengan niat berjanji setia sebagai sepasang kekasih atau pun sebagai pasangan suami istri (pasutri) yang baru saja melangsungkan pernikahan.

Realita itu, justru menambah daya pikat lagi bagi air terjun ini. Mungkin setelah membaca tulisan ini, bisa jadi ada travel agent maupun indie travel (operator tur/petualangan berbasis komunitas) yang terpikat membuat Paket Wisata Berjanji Setia di Air Terjun Janji. “Aiiih.., romantis kali paketnya,” kata hati lagi.

Selasa sore (24/5) itu bukan cuma Liana dan Binsar saja yang berjanji setia.

Di sudut lain tak jauh dari tumpahan Air Terjun Janji, puluhan pelajar SMA/SMK/MA dari Aceh dan Sumatera Utara yang mengikuti Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) 2016 yang diselenggarakan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh, pun melakukan hal serupa. Namun janji yang mereka ucapan berbeda.

Para siswa/siswi yang didampingi beberapa guru pendamping dan panitia pelaksana ini, berjanji untuk mendalami dan mengambil nilai-nilai positif dari hasil kunjungan ke obyek-obyek sejarah dan budaya serta alam di Lembah Bakkara ini dan akan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. “Humbang Hasundutan.., hebaaat…” teriak mereka kompak berpadu deru gemuruh tumpahan Air Terjun Janji.

Usai berfoto bersama, rombongan LASEDA ke-15 diperintahkan panitia segera ke bus masing-masing untuk kembali ke penginapan di Dolok Sanggul, ibukota Kabupetan Humbahas yang berjarak sekitar 22 Km atau sekitar 45 menit dari lokasi air terjun ini.

Lantaran waktu kunjungan terlampau singkat, sejumlah pelajar membandel. Mereka terus berfoto-foto dengan teman-teman baru yang mereka temui di kegiatan yang digelar BPNB Aceh setahun sekali ini. “Bentar lagi ya kak, foto-foto dulu, mumpung di sini,” ujar salah seorang siswi. 

Bukan cuma pelajar, guru pendamping pun tak mau kalah. Yanti guru sejarah dari SMAN 2 Tanjung Balai, Sumut terlihat paling aktif ber-narsis ria. Bahkan beberapa kali dia minta tolong difoto.

Ah pesona air terjun yang berjarak sekitar 1 Km dari kota Kecamatan Baktiraja ini rupanya telah membuat mereka lupa diri, padahal hari sudah semakin senja.

Soalnya mereka masih ada kegiatan tampil dalam acara makan bersama sekaligus penutupan LASEDA 2016 di kediaman Bupati Humbahas yang bersebelahan dengan Kantor Bupati setempat.

Daya pikat Air Terjun Janji sejatinya memang bukan dari namanya saja. Panoramanya juga tak kalah elok dibanding Air Terjun Sipiso-piso yang sudah lebih dulu tersohor dan menjadi ikon air terjun di kawasan Danau Toba.

Kendati tak setinggi dan seheboh Sipiso-piso, tak bisa dipungkiri Air Terjun Janji menjadi salah satu anugerah alam terindah bagi Baktiraja khususnya dana Lembah Bakkara secara keseluruhan.

Air terjun ini bertengger di atas perbukitan. Tumpahannya sekilas terlihat seperti keluar dari bebatuan yang cukup besar. Airnya bersih dan sejuk, mengoda siapapun untuk mandi atau sekadar berbasah-basah. Namun pengunjung disarankan tidak mandi langsung di tumlahan air terjun ini, selain dalamnya satu meter juga tumpahan airnya sangat deras.

Sebagai penggantinya, pengunjung bisa bermain-main air di alirannya dari atas bebatauan, atau kalau mau mandi bisa di kolam kamar mandi yang dibuat warga secara terpisah untuk wanita dan pria. Airnya dialirkan melalui pipa-pipa membentuk pancuran-pancuran air.

Sayangnya bilik-bilik pemandian yang terbuat dari lembaran plastik berwarna biru itu terasa menggangu pemandangan. Terkesan jadi kotor. Sebaiknya dibenahi atau kalau memang dipertahankan, harus dibuat yang lebih bagus dan tertata rapih.

Keistimewaan lainnya, untuk mencapai lokasi ke titik air terjun ini sangat mudah, tak perlu usaha keras. Dari tepi jalan desa atau pintu masuk sekitar 100 meter melalui undakan batu. Bahkan dari kejauhan termasuk dari tepi jalan, sosok air terjun ini sudah terlihat.

Fasilitas di air terjun ini pun terbilang lengkap dibanding air terjun lainnya. Ada tempat berkemah (camping ground), lokasi pemancingan, MCK, sebuah warung kecil di dekat pinu masuk, dan pondok santai serta parkir yang dikelola warga setempat.

Tak jauh dari air terjun ini ada Desa Tipang, yang rencananya bakal dijadikan Desa Wisata Budaya. Di desa ini terdapat sebuah restoran apung yang terapung di atas permukaan Danau Toba, namanya Restoran Apung Tipang Mas.

Di resto ini pengunjung dapat menikmati kuliner sambil memandangi pesona Danau Toba. Menu utamanya ikan bakar dengan sambal adaliman, sambal khas orang Batak.

Asyiknya lagi  pengunjung bisa memilih ikan sesuai selera dengan cara menangkap sendiri dari kolam-kolam ikan di resto ini. Kalau mau bermalam, pengunjung tinggal pesan kamar di restoran terapung berpanorama cantik ini.

Kelebihan lainnya, perjalanan menuju Air Terjun Janji dari Dolok Sanggul saja sudah menawan hati. Akses jalannya sudah beraspal meskipun di beberapa titik ada yang berlobang dan berkelok-kelok, naik turun dengan jurang di tepi kiri.

Namun pemandangan elok Lembah Bakkara dari atas dipastikan bakal bikin siapapun ingin mengabadikannya. Sepintas mirip panorama Danau Lut Tawar di Takengon, Aceh. Tak heran ada beberapa spot pemberhentian yang biasa digunakan pengunjung untuk bernarsis ria sekaligus mengabadikan lembah itu.

Setelah pasar Kecamatan Baktiraja jalannya agak menyempit. Namun panorama bukit-bukit cadas dengan rerumputan dan pepohonan hijau bak bukit-bukit teletubis raksasa di kiri jalan dan pesona Danau Toba yang airnya tenang namun menghayutkan di sebelah kanan jalan, membuat perjalanan terasa menyenangkan.

Kendati Air Terjun Janji menawarkan beragam daya pikat, anehnya pengunjung yang datang menikmatinya tidak dikenai tiket masuk alias gratis. 

Menurut Kabid Pariwisata Dishubpar Humbahas Nelson Lumbantoruan, Air Terjun Janji merupakan satu dari 10 lokasi air terjun yang ada di Humbahas. Air terjun tertinggi bernama Aek Sipang dengan ketinggian 125 meter, lalu Sipulak (75 m), Sisira (75 m), Simarhilang (50 m), dan lainnya.

Keempat air terjun tersebut, lanjut Nelson berada di satu desa yakni Sijarango, Kecamatan Pakkat. “Walau Air terjun Janji tak setinggi keempat air terjun tersebut. Tapi namanya paling tersohor dan ramai pengunjungnya,” aku Nelson.

Berdasarkan informasi Nelson itu, termasuk beragam daya pikat air terjun ditambah kemudahan mencapai lokasinya, penulis yakin Air Terjun Janji pasti sudah sering ditulis dan diekpos baik oleh blogger maupun jurnalis.

Agar tak sama, penulis pun mengambil sudut cerita berbeda. Kisah sejoli Liana dan Binsar yang berjanji setia di air terjun ini menjadi menjadi bahasan utama, ditambah daya pikat lain serta kunjungan singkat peserta LASEDA 2016 ke air terjun ini. 

Sebagai pembeda lagi, di tulisan ini disertakan lirik lagu berjudul “Ke Danau Toba Jua”, yang penulis buat saat duduk-duduk di batu besar di tengah aliran Air Terjun Janji.

Lagu ber-genre pop melayu ini terinpirasi dari daya pikat Air Terjun Janji dan tentunya kisah asmara Liana dan Binsar yang sampai saat ini masih terganjal restu kedua orang tua masing-masing, lantaran mereka berbeda agama.

Begini lirik lagu bertajuk:

Ke Danau Toba Jua

*Air gunung gemuruh mengalir
Tahu kemana arah bermuara
Lewati lembah, ngarai, dan dusun
Akhirnya ke Danau Toba jua

Reff:
Andai saja terbendung dinding
Air tenang mencari celah
Andai saja terbentang jurang
Air terjun melaju kencang

Bridge:
Tak peduli batu menghampar
Tetap tegar melawan rintang
Semua itu hanya halangan
Tuk sampai di hamparan harapan

**Begitu semestinya cinta ini
Berujung dalam ikatan norma
Lampaui coba, suka dan duka
Hingga arungi bahtera bahagia

Back to: reff2X, bridge,*
Ke Danau Toba Horas (6X)

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 29 Mei 2016

Majalengka Mulai Serius Garap Aneka Potensi Wisatanya

Telat. Begitu memang pantas disandang Majalengka kalau bicara soal pengembangan pariwisatanya. Padahal kabupaten yang bertetangga dengan Cirebon ini menyimpan beragam potensi wisata yang luar biasa, mulai alam, petualangan, budaya, religi dan lainnya.

Baru setahun belakangan ini, masyarakat dan pemeriantahnya mulai melek, bahwa daerahnya punya sumber daya alam (SDA) yang kalau dikembangkan bakal menambah pundi-pundi kas Pendapatan Asli daerah (PAD), mensejahterahkan warganya sekaligus melambungkan nama Majelangka ke tingkat Nasional bahkan dunia.

Saat TravelplusIndonesia bertemu dengan Kepala Dinas Pemuda Olahraga, Kebudyaaan, dan Pariwisata (Kadisporabudpar) Kabupaten Majalengka Agus Permana di kantornya di Jalan K.H Abdul Halim No 311 Majalengka, Sabtu (28/5) disela-sela meliput Festival Pesona Wisata Religi Al-Mizan 2016 di Pondok Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, terungkap bahwa Pemkab Majalengka terlihat mulai serius menggarap sejumlah potensi wisatanya.

“Potensi wisata Majalengka banyak. Kita sudah mendatanya dan tinggal memprioritaskan mana yang akan menjadi unggulan,” kata Agus dengan wajah serius.

Menurut Agus ada beberapa obyek wisata Majalengka yang sudah dan tengah digandrungi wisatwan, baik lokal nusantara bahkan mancanegara. “Contoh yang sudah dikenal ada lokasi paralayang, teras siring, dan curug atau air terjun Ibun Pelangi yang disebut-sebut green canyon-nya Majalengka,” ungkap Agus.

“Begitupun dengan budaya, tercatat ada 300 lebih kelompok seni budaya di Majalengka," tambah Agus.

Kata Agus pihaknya tengah fokus mengembangkan pariwisata di Kabupaten Majalengka, termasuk memperbaiki berbagai kekurangan yang masih jadi kendala.

"Kami tengah menata infrastruktur ke lokasi wisata serta melengkapi segala sarana dan prasana yang menjadi kebutuhan wisatawan di sana," ujarnya.


Pihaknya juga mendorong investor untuk membuka hotel di Kabupaten Majalengka. “Majalengka kurang hotel,” akunya.

Agus menjelaskan sejak dibukanya Tol Cipali menjadikan akses menuju Majalengka semakin mudah. Jadi banyak peluang yang bisa diambil oleh investor.

“Saat ini tengah dibangun hotel dan mall besar di Majalengka. Mudah-mudahan ada investor lain menyusul menanamkan investasinya di Majalengka untuk sektor pariwisata,” harapnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis)

Read more...

Sabtu, 28 Mei 2016

Ke Majalengka Jangan Lupa Borong Batik Motif Genteng Jatiwanginya

Kalau bicara batik, Majalengka memang kalah jauh dengan Cirebon yang sudah lama tersohor dengan aneka batiknya terutama motif Mega Mendung atau awan. Padahal sejak beberapa tahun, segelincir warga Majalengka terutama yang tinggal di Kecamatan Jatiwangi juga mulai memproduksi batik. Salah satu motif batik yang tengah dikembangkan di sana adalah motif genteng. Maklum Jatiwangi sejak dulu dikenal sebagai daerah penghasil genteng.

Ada tiga jenis batik motif Genteng Jatiwangi khas Majalengka. Pertama batik tulis, batiuk cap, dan batik printing. Harga masing-masing jenis batik tersbut berbeda.

"Kalau batik tulis harganya berkisar 500 ribu sampai satu juta rupiah per lembar,” kata Entur (59), pelopor pembuat batik motif genteng Jatiwangi khas Majalengka kepada travelplusindonesia saat mengikuti pameran kerajinan tangan Majalengka sebagai salah satu dari rangkaian acara Festival Pesona Wisata Religi Al-Mizan 2016 di Alun-Alun Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mizan, Jariwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (28/5).

Kalau batik motif genteng yang printing, lanjutnya per lembar mulai Rp 100 ribu. “Kalau yang sudah jadi baju untuk pria yang lengan pendek Rp 250 ribu. Begitupun dengan pakaian perempuan,” terang ibu 4 anak dan 4 cucu ini.

Selain motif genteng, Batik Majalengka juga memiliki beberapa motif lain seperti motif Gunung Ceremai, Mangga Gedong, Cerobong Asap Pabrik Gula, dan Pohon Tebu serta kombinasi berbagai motif yang ada.

Entur menjelaskan motif-motif Batik Majalengka memang dominan dari apa yang ada di Majalengka. Motif Gunung Ceremai contohnya, karena gunung aktif itu masuk wisalah Majalengka.

"Kalau motif Cerobong Asap karena dulu di Majalengka banyak pabrik gula dan cerobong asapnya sampai kini masih ada di beberpa tempat, sedangkan Mangga Gedong karena Majalengka juga dikenal sebagai penghasil manga itu sampi sekarang perkebunan Mangga Gedong masih banyak terdapat di Majalengka. Sementara Pohon Tebu karena dulu Majalengka banyak perkebunan Tebu,” terang Entur.

Menurut pengusaha Batik Majelengka yang memiliki 12 perajin batik ini, produksi dan distribusi Batik Majalengka masih terbatas.  Begitupun dengan promosinya. "Biasanya pembeli datang langsung ke PKBM Bina Taruna dengan alamat RT 07 RW 04 Desa Loji, Kecamatan Jatiwangi," ungkapnya.

Berdasarakan pengamatan Travelplusindonesia, motif genteng dalam Batik Majalengka kurang menonjol. Ukurannya sangat kecil, sepintas bukan seperti genteng melainkan memory card kamera.

Selain itu motif tersebut masih sebagai pemanis saja karena dikombinasikan dengan motif lain seperti bunga, pohon tebu, dan lainnya yang justru berukuran dan berjumlah lebih besar daripada gambar gentengnya.

Andai saja motif genteng dibuat dengan ukuran lebih besar dan fokus, tentu kesan bahwa batik itu memang motif genteng akan lebih menonjol.

Contohnya motif Mega Mendung-nya Cirebon, langsung fokus ke bentuk awan, tidak ada motif tambahan lain sehingga lebih tegas dan amat menonjol karakternya.  

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

Read more...

Wawan Ajen Kecam Predator Seksual Saat Tampil di Festival Pesona Wisata Religi Al-Mizan 2016

Sejumlah kasus kejahatan seksual di sejumlah daerah di Tanah Air yang menggemparkan masyarakat baru-baru ini menarik perhatian Wawan Gunawan selaku dalang dari Wayang Ajen. Buktinya Ki Dalang Wawan Ajen yang akrab disapa Kang Wawan ini menyinggungnya saat dia tampil mendalang pada acara puncak Festival Pesona Wisata Al-Mizan 2016 di Alun-Alun Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Mizan, Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Sabtu (28/5).

Dalam penampilannya membawakan lakon cerita bertajuk "Satria Pindita Jatiwangi" yang dimulai pukul 10 malam itu, Wawan yang mengenakan kostum berwarna krem menyinggung beberapa kasus kejahatan seksual yang sempat menjadi headline sejumlah media, baik online, cetak maupun elektronik sepert kasus pemerkosaan Yuyun di Bengkulu yang dilakukan oleh 14 laki-laki hingga meninggal dunia, pemerkosaan ditambah pembunuhan dengan pacul yang terjadi di Tangerang, dan kasus pemerkosaan di bawah umur di Cilacap.

Dalang yang sudah mentas di 50 negara dan puluhan tempat di dalam negeri ini mengecam para predator seksual, terlebih para pelaku kejahatan sek terhadap anak-anak.

Menurutnya pelaku kejahatan seksual terhadap anak hukumannya harus dikebiri.

"Predator seksual bikin rusak, rusak moral anak bangsa, bikin hancur, hancur generasi muda," ujarnya dengan nada geram penuh amarah.

Mengangkat kejadian-kejadian yang lagi hagat dibicarakan masyarakat luas, kerap diungkap Wawan Ajen dalam setiap penampilannya mendalang.

Saat kasus penyanyi dangdut Zaskia Gotik melecehkan lambang Negara Indonesia Burung Garuda, Wawan pun menyenggolnya dalam pementasan sebelumnya.

Rupanya itulah trik dalang berpendidikan S3 asal Ciamis ini dalam menarik sekaligus mengikat perhatian penotonton. Dan itu berhasil membuat pagelarannya terkesan selalu segar, ada sesuatu yang baru.

Tak heran kalau dia dengan Wayang Ajen-nya disebut-sebut wayang gaul modern karena kerap mengangkat hal-hal kekinian, bukan cuma kasus pun teknologi mulai dari lighting, audio, multimedia, entertainment, dan lainnya

Buktinya pada acara puncak Festival Pesona Wisata Religi Al-Mizan 2016 ini, penonton yang sebagian besar para santri dan santriwati Ponpes Al-Mizan, ibu-ibu majelis taklim setempat, warga Jatiwangi dan sekitar serta segelincir wisatawan lokal dan nusantara yang hadir menyaksikannya berdalang, langsung terpikat dan enggan bergeser dari tempatnya duduk hingga akhir pagelaran.
.
Sejak ba'da Isya, penonton sudah berbodong-bondong mendatangi Alun-Alun Ponpes Al-Mizan untuk menyaksikan aksi Wayang Ajen. Sebagai pembuka, Prof. Dr. H. Dadang M.Hum menyampailan pengantar tentang sejarah Wayang Ajen berikut sepak terjangnya dalam pewayangan nasional.

Sebelum tampil, Wawan Ajen yang tak lain PNS Kemenpar berjabat Kasubid Wisata Sejarah dan Religi ini menjelaskan berwisata religi ini memiliki banyak keuntungan bagi pelakunya, mulai dari penguatan karakter diri, budi pekerti, sopan-santun dan tata karma.

Dalam wisata religi, lanjutnya pada dasarnya menghadirkan tata kehidupan yang sesuai deangan ajaran dan norma kehidupan.

Dia memberi contoh di Festival Pesona Wisata Religi Al-Mizan 2016 yang didukung penuh Kemenpar ini, wisatawan atau pengunjungnya dapat melihat dan mengambil manfaat dari kehidupan yang ada di dalam Ponpes Al-Mizan, baik kesahajaan kehidupannya maupun budaya di dalamnya.

"Semua itu bisa menjadi pelajaran hidup agar lebih baik lagi," terangnya.

Menurut Wawan, wisata religi juga erat kaitannya dengan pemenuhan kepuasan batin. "Batin perlu penyegaran dan penambahan wawasan, salah satunya dengan wisata religi ini," ujarnya.

Wisata religi, sambungnya juga dapat memperkuat jalinan budaya yang ada. Sebab masing-masing daerah memiliki karakter budaya yang berbeda.

"Dengan saling berkunjung, bersilaturahim lewat wisata religi, bukan hanya saling mengenal juga bisa kian memperkuat jalinan silaturahmi itu" pungkasnya.

Acara puncak Festival Pesona Wisata Religi Al-Mizan 2016 dibuka oleh Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kemenpar Esthy Reko Astuti.

Menurut Esthy festival ini sudah ke-15 kali digelar, kemungkinan untuk meraup wisatwan lokal dan nusanatra amat besar. "Perlu pengemasan dan promosi yang lebih intens lagi agar festival ini ke depan bisa menjaring lebih banyak wisnus dan menjadi event berskala Nasional," ujarnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 27 Mei 2016

Kulineran di Alun-Alun Majalengka, Ya Teguk Jamero

Mau menikmati suasana sore dan malam sambil berwisata kuliner di Majalengka? Pergi saja ke Alun-alun kotanya. Di sana ada beragam makanan dan minuman yang siap menemani Anda bersantai. Salah satunya Jamero alias jahe merah organik, minuman berbahan jahe yang dijamin bakal bikin badan hangat dan sehat. 

Oki Sanjaya (19), salah satu pedagang Jamero di pusat kota Majalengka. Pria muda lulusan SMK di Majalengka ini biasa berjualan di luar pagar Alun-alun, tepatnya di seberang antara gedung dinas pendidikan dan DPRD.

Tempat berjualannya boleh dibilang reda dengan gerobak penjaja kuliner lainnya. Gerobaknya berbentuk kotak dengan tiang memanjang ke atas.

Di atas gerobak hanya ada panci aluminium berisi air rebusan jahe merah yang diletakkan di atas kompor gas portable. Di samping panci ada meja kecil untuk menempatkan botol plastik berisi cairan gula aren, muk (gelas) plastik, susu kaleng, dan saringan. Di depan kotak gerobak tertulis Jamero (jahe merah organik) berikut logonya.

"Gerobak Jamero ini punya bos Om," kata Oki, begitu biasa dia disapa sambil membuat segelas Jamero di Alun-Alun Majalengka, Jumat (27/5) malam kepada Travelplusindonesia usai mengikuti Seminar Pariwisata salah satu mata acara Festival Pesona Religi Al-Mizan 2016 di Ponpes Al-Mizan, Jatiwangi.

Menurut bungsu dari 5 bersaudara ini membuat Jamero sangat mudah. Bahan utamanya Jahe Merah dicuci bersih lalu dipanggang, setelah itu dipotong atau dicacah dimasukan ke dalam air putih yang sudah dimasak dan airnya mendidih.

"Segelas Jamero ditambah cairan gula aren atau gula merah dan ditambah susu cair," terang Oki yang malam itu ditemani keponakannya yang masih SMP.

Segelas Jamero buatan Oki dijual Rp 5.000. "Saya cuma ambil seribu per gelasnya. Sisanya empat ribu buat bos," aku Oki yang terpaksa tidak bisa kuliah selepas SMK lantaran terbentur biaya, apalagi ayahnya belum lama meninggal dunia.

Setiap hari, Oki berjualan di Alun-alun mulai pukul 4 sore hingga tengah malam, membawa 6 liter air jahe merah atau sekitar 50 gelas. "Pokoknya sehabisnya Om. Kalau habis saya bisa mengantongi Rp 250 ribu. Dan saya kebagian Rp 50 ribu per hari. Jadi kalau ditotal sebulan nonstop saya dapat Rp1,5 juta, " ujarnya.

Penjual minuman jenis di Alun-Alun Majalengka bukan cuma Jameronya Oki, ada juga sop buah, aneka jus, kopi sachet, dan beragam kuliner seperti seblak, lumpia basah, mie ayam, bubur ayam, bubur kacang ijo, siomay, nasi goreng, dan kacang rebus.

Pedagangnya mengelilingi pagar luar Alun-alun yang bentuknya seperri lapangan sepak bola, persegi empat.

Ada dua pintu masuk atau gerbang ke Alun-alun yang mulai ramai pengunjungnya jelang sore hari.

Saat malam, pengunjungnya semakan banyak, di antara nya pasangan sejoli yang tengah memadu kasih, duduk-duduk di bagian dalam Alun-alun yang minim lampu penerang.

Di Alun-alun ini ada gazebo yang letaknya percis di seberang pintu gerbang Kantor Bupati Majalengka. Gazebo berlantai ubin itu kerap digunakan untuk duduk-duduk santai sampil menikmati kulineran, dan ada juga beberapa anak muda yang tengah berkegiatan, menari dan lain-lain.

Karena letaknya amat strategis, Alun-alun ini pun kerap digunakan sebagai lokasi meeting point sejumlah komunitas, antara lain anak-anak touring motor berbagai merk.

Bagi pengunjung yang membawa kendaraan, bisa parkir di luar pagar Alun-alun khusus parkir, tak jauh dari pintu gerbang.

Selain berkuliner, di Alun-alun ini pengunjung juga dapat melihat Masjid Raya Majalengka, Gedung Bupati, dan beberapa gedung tua lainnya.

Meskipun tidak seramai dan selengkap Alun-alun Semarang dan kota lainnya, namun Alun-alun Majalengka tak bisa dipungkiri menjadi pilihan warga dan wisatawan lokal untuk bersantai dan berkuliner, salah satunya menikmati kehangatan segelas Jamero.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

Read more...

Minat Wisatawan Dunia Bergeser ke Destinasi Religi

Tren minat wisatawan dunia mengalami pergeseran. Jika dulu banyak orang berwisata hanya untuk mencari kesenangan dan menikmati hura-hura dunia ke sejumlah denistasi alam yang menawan seperti pantai, gunung, obyek hiburan dan lainnya. Belakangan ini justru semakin banyak orang yang mencari dan meminati wisata sadar (bukan sadar wisata) yang dulu disebut darmawisata dengan tujuan untuk belajar dan memahami sesuatu.

“Salah satu contohnya darmawisata mengunjungi pesantren-pesantren, belajar dengan guru atau kyai atau ustad yang berbeda-beda,” ungkap Taufik Rahzen, pengamat seni budaya yang menjadi salah satu narasumber dalam Seminar Pariwisata bertema "Mengangkat Potensi Wisata Lokal di Kancah Nasional", di Pondok Pesantren  (Ponpes) Al-Mizan, Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, Jumat (27/5).

Menurut Taufik, wisata yang mencari Sun, Sea, and Sex atau 3S itu sudah kuno dan ketinggalan jaman. Wisata jenis itu pun menuai banyak kritik berbagai pihak, termasuk soal kerusakan lingkungan dan moral yang ditimbulkan. “Kalau darmawisata itu tidak berkonsep 3S dan tidak melihat hanya melihat dari sisi keindahan belaka,” ujarnya.

Destinasi dalam konsep darmawisata ini, lanjut Taufik tidak melulu gunung, pantai, hiburan, dan lainnya melainkan ke pesantren-pesantren. “Saya menunjuk Ponpes Al-Mizan ini sebagai destinasi darmawisata yang bakal dicari-cari atau diminati wisatawan dunia,” ungkapnya.

Kata budayawan kelahiran Sumbawa ini, Al-Mizan merupakan tempat orang belajar dan menemukan keberagaman. Proses pembelajaran itu juga merupakan sebuah destinasi. “Orang yang ingin mendapatkan pengalaman silturahim, menjalin tali kasih dan merasakan proses pembelajaran itu, ya harus ke Al-Mizan. Bukan melihat gambar atau video tentang Al-Mizan dan kegiatannya,” terang Taufik.


Konsep wisata sadar atau darmawisata ini, lanjut Taufik tidak mendiskriminasi pihak lain dan bukan pula karena tengah tren halal tourism maupun pemberlakuan peraturan daerah (perda).

“Hal ini terjadi karena memang ada pergeseran gaya hidup dan minat. Contohnya semakin banyak hotel dan resto/café yang tidak menyediakan minuman beralkohol seperti di Jakarta, Lombok, dan Bali karena memang banyak wisatawan yang menginginkan itu,” ungkap Taufik.

Melihat kondisi ini, Taufik menghimbau pemerintah terkait dalam hal ini Kementerian Pariwisata (Kemenpar) segera menyiapkan destinasi wisata sadar yang sudah ada seperti di Al-Mizan ini menjadi destinasi yang siap menerima wisatawan peminat tipe wisata baru tersebut. “Untuk mengangkat potensi lokal Al-Mizan, Kemenpar harus turut mengembangkan pusat wisata sadar yang sudah dilakukan Al-Mizan,” imbuhnya.

Menurut pria yang pernah menjajal kuliah di Yogyakarta ini, gaya hidup yang dikembangkan Al-Mizan bukan potong kompas atau jalan pintas dan cepat melainkan lewat proses secara perlahan dan menghayati apa yang dikembangkan sehingga timbul empati bukan sekadar simpatik. “Empati itu ikut merasakan dan bertanggungjawab lalu membantu secara tulus. Kalau simpatik itu hanya sekadar merasakan,” ujarnya.

Untuk meningkatkan wisata sadar hingga timbul empati, sambung Taufik ada 4 tahap yang harus diindahkan yakni mengumpulkan informasi, membangun impian, berinisiatif atau melakukan tindakan dan menjadi pribadi yang ihsan atau menjadi pribadi yang menyerahkan sepenuh hati hanya kepada Allah.

“Kalau Al-Mizan ini dibangun dengan keempat prinsip tersebut, dengan sendirinya Al-Mizan akan menjadi destinasi utama Majalengka yang akan diminati wisatawan dunia,” terang pria yang gemar berziarah ke tempat-tempat suci di berbagai belahan dunia ini.


Selain Taufik, Seminar Pariwisata yang menjadi rangkaian acara Festival Pesona Religi Al-Mizan 2016 ini juga ada pakar budaya Prof Dr Arthur S Nalana dan Kadisporabudpar Kabupaten Majalengka Agus Permana sebagai pembicara.

Festival tahunan ke-15 yang mendapat dukungan penuh Kemenpar ini juga disemarakkan dengan berbagai acara seni budaya bermuatan Islami seperti Festival Hadrah, pameran kerajinan dan foto obyek-obyek wisata yang ada di Kabupaten Majalengka, dan pentas komunitas.

Acara puncaknya, Sabtu (28/5) juga akan diramaikan antara lain dengan pagelaran Wayang Ajen dengan Ki Dalang Wawan Ajen yang akan berduet dengan pengasuh Ponpes Al-Mizan KH Maman Imanulhaq, mulai ba’da Isya di Alun-alun Ponpes Al-Mizan.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 26 Mei 2016

Ayo ke Majalengka, Wayang Ajen dan Wayang Kulit Dermayon Berkolaborasi di Festival Pesona Religi Al-Mizan

Festival Pesona Wisata Religi Al-Mizan 2016 digelar di Majalengka, Jawa Barat tepatnya di Pesantren Al-Mizan, Jatiwangi, 27-28 Mei. Berbagai acara bakal meramaikan festival yang tahun ini mendapat dukungan dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), salah satunya kolaborasi antara Wayang Ajen dengan Wayang Kulit Dermayon.

Kedua wayang berbeda genre itu akan tampil berkolaborasi pada puncak acara, Sabtu (28/5) malam. Ki Dalang Wawan Ajen dari Wayang Ajen juga akan berduet dengan KH. Maman Imanulhaq menyampaikan Dzikir Kebangsaan dan dipadupadankan dengan Wayang Kulit Dermayon Ki Dalang H.Rusdi serta Monolog Penyair Sunda Godi Suwarna. 

Sebelum Wayang Ajen tampil ada pèngantar pertunjukan yang akan disampaikan Guru Besar FIB Unpad Prof.Dr.H.Dadang Suganda, M.Hum. Penampilan Wayang Ajen juga akan dimeriahkan para penari cantik dan kreatif serta penyayi pop Sunda Rika Rafika yang ngetren dengan lagu Karedok Leunca.

Selain itu ada lawakan segar dari Aman Amin juara API yang kocak dan dipastikan bakal menghibur pengunjung. Sebelumnya Sabtu pagi hingga siang ada Karnaval Seni Budaya, Ritual Bakar Tanah, Fashion Show Baju Tanah, Live Musik, Klolosal Tanah Liat, Live konser Hanyaterra, Festival, Dulag & Dondang, Parade Seni Budaya Lokal:Barongsai, Kuda Renggong, Singan Depok, dan Tari Topeng. Setelah itu sejumlah pentas komunitas.

Sehari sebelumnya, Jumat (27/5) pagi ada Karnaval Wisata Religi, Jalan Sehat Cinta Wisata, Deklarasi Gerakan Nasional Sadar Wisata, Musik Etnik Bambu (konsep kampung Jatitujuh), aksi donor darah dan pengobatan gatis, Festival Hadroh Kebangsaan, dan Seminar Pariwisata yang bertema "Mengangkat Potensi Wisata Lokal di Kancah Nasional" dengan menghadirkan narasumber Taufik Razen (pengamat budaya) dan Arthur. S. Nalan (pakar budaya).


Di lanjutkan Pagelaran Seni Santri Nusantara, Pameran Wisata, Kerajinan, Kuliner Lokal dan Komunitas serta Lomba dan Pameran Foto Wisata & Budaya.

Festival Pesona Religi Al-Mizan ke-15 ini memadupadankan beberapa unsur seni budaya yang bersifat religius yang sangat relevan dengan keberadaan pesantren.

Keterlibatan Kemenpar tentu sesuai dengan tusi yaitu bagaimana bias bersinergi dukungan melalui promosi branding Pesona Indonesia. Kegiatan tersebut dapat berdampak untuk menarik jumlah kunjungan wisatawan nusantara untuk datang berduyun - duyun ke Al Mizan, artinya kegiatan tersebut sebagai peristiwa prosesi atraksi wisata budaya religi.  

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menjelaskan pergeseran orang dari satu titik kota ke kota yang lain di dalam negeri, itu sudah dihitung sebagai wisata. Karena mereka akan membelajakan uangnya selama berwisata, sekalipun motifnya untuk kepentingan religi. "

"Sebenarnya, orang Umrah dan Haji itu dalam konteks pariwisata juga disebut wisata. Arab Saudi mendapatkan pundi-pundi devisa besar dari wisata ziarah ke tempat-tempat bersejarah itu," ujar Arief Yahya seperti keterangan tertulisnya yang Travelplusindonesia terima di Jakarta, Kamis (26/5).

Festival tahunan ini sudah digelar untuk kesekian kali. Kemenpar tahun ini bersinergi dengan festival ini untuk mempromosikan pariwisata nusantara, karena dilihat dari rekam jejak festival ini yang sangat positif dan mampu menumbuhkan serta memberdayakan masyarakat sekitar melalui kemasan budaya yang menarik untuk pariwisata nusantara.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti menambahkan kegiatan ini bertujuan mempromosikan salah satu Pesona Indonesia dalam bentuk wisata budaya di pesantren yang sangat religius yang menjadi daya tarik wisata budaya religi. Tujuan lain untuk mendorong pemerintah daerah bersama stakeholder yang lain untuk membangun destinasi wisata religi Indonesia yang berdaya saing tinggi.

Di sisi lainnya dukungan pada kegiatan ini, sambung Esty dalam rangka menemukenali dan memperkenalkan wisata budaya religi unggulan daerah agar dapat menjadi ikon di daerahnya sekaligus memperkenalkan seni budaya tradisional Indonesia sebagai salah satu upaya khususnya mempromosikan pariwisata budaya di Jawa Barat.

Asisten Deputi Pengembangan Segmen Pasar Personal Kemenpar  Raseno Arya menambahkan sukses tidaknya dukungan kegiatan ini tak lepas dari support teknologi yang diterapkan Kemenpar.

Promosi festival ini dilakukan dengan memanfaatkan IT, internet dan sosial media. Kemenpar tak ingin melewatkan penggunaan instrumen digital, karena ini merupakan potensi jumlah besar pengguna internet dan tingkat keaktifan netizen dalam mengolah jari dan matanya di dunia maya.

Media baru ini, lanjut Raseno benar-benar dimanfaatkan Kemenpar menjadi media promosi sebagai bukti dukungan promosi pariwisata nusantara.

"Hasilnya memang efektif. Masyarakat begitu aktif meluncur di dunia maya. Mulai banyak yang mencari tahu. Masyarakat jadi makin mudah mengakses informasi. Nah, kesempatan-kesempatan inilah yang coba dimanfaatkan Kemenpar sebagai media promosi," ujarnya.

Kemenpar pun mulai membungkus beberapa aktivitas seperti ini sebagai bagian dari wisata religi. Ada pergerakan masyarakat, ada aktivitas keagamaan, budaya, kuliner, kerajinan tangan, penyewaan kendaraan, penginapan, souvenir, dan ekonomi kreatif lainnya.

Ribuan pengunjung diperkirakan akan tumpah ruah menyaksikan Festival Pesona Wisata Religi Al Mizan 2016 karena memang daya tariknya yang luar biasa, dengan konsep pengemasan kegiatan sebagai atraksi pariwisata yang dapat menyedot ribuan pengunjung. Terlebih Pesantren Al Mizan sudah lama terkenal sebagai ponpes yang juga menumbuhkembangkan kegiatan seni budaya di kalangan santrinya hingga namanya tersohor seperti sekarang ini.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 19 Mei 2016

Ayo Nonton Jagir Festival 2016, Ada Wayang Ajen, Pecak Silat, dan Perang Lumpur

Jelang Ramadhan, ada satu festival budaya yang sayang bila Anda lewatkan begitu saja. Namanya Jagir Festival 2016 yang akan pusatkan di Lapangan Jayagiri, Desa Jayagiri, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat selama dua hari, Jum’at-Sabtu, 3 - 4 Juni mendatang. Kenapa sayang kalau dilewatkan? Ya karena banyak acara menarik yang bakal disuguhkan antara lain pagelaran Wayang Ajen, Pencak Silat, dan Perang Lumpur.

Selain tiga acara tersebut, masih ada Helaran/Carnaval Seni Rakyat dan Budaya religi Masyarakat Jayagiri, Sirnarasa Panjalu, dan Pertunjukan Marawis, Jaipongan, Pengajian Akbar, Dzikir, dan Manaqib Qubro.

Dinamakan Festival Jagir, karena lokasinya di Desa Jayagiri, persis di kaki Gunung Sawal. Jayagiri biasa disingkat Jagir.

Festival Jagir kedua bermoto “Kami Ada untuk Pesona Indonesia” ini bertujuan membina, menggali, dan mengembangkan potensi yang ada ditengah-tengah masyarakat dalam bidang seni dan budaya daerah untuk dijadikan ajang promosi wisata budaya.

Festival ini juga sebagai bentuk pemberian motivasi bagi pelaku seni dan budaya dalam pengembangan kreativitas yang berkualitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Festival yang digelar Kementerian Pariwisata (Kemenpar) ini pun merupakan salah satu ajang promosi branding Pariwisata Nasional Pesona Indonesia, promosi wisata budaya lokal, dan sekaligus membuka peluang promosi bagi usaha perdagangan perikanan dan jasa di wilayah Ciamis Utara khususnya.

Kemenpar tentunya berharap festival ini menjadi daya tarik kunjungan dan mudik dalam menyambut Ramadhan sekaligus menjadi tujuan wisata mudik Mapag Ramadhan dan Nadran ke makam leluhur/keluarga serta berupaya untuk mengakomodir berbagai potensi seni budaya Kabupaten Ciamis khususnya di wilayah Utara.

Adapun peserta kegiatan Jagir Festival adalah seluruh masyarakat Desa Jayagiri Panumbangan Ciamis dan sekitarnya, santri, seniman dan budayawan dari berbagai daerah di Jawa Barat yang dapat menarik minat kunjungan wisatawan.

Profil Desa Jayagiri
Wilayah Desa Jayagiri dialiri aliran sungai dari anak Sungai Citanduy yang merupakan batas wilayah Utara Kabupaten Ciamis dengan wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Sekurangnya ada 4 aliran sungai berukuran sedang dan kecil yang mengalir di desa ini yakni aliran Sungai Cingoled, Cimuncang, Cibinuang, dan aliran Sungai Batudadar.

Desa ini pun memiliki beberapa mata air bersih dan mata air untuk pengairan sektor pertanian, salah satunya Mata Air Panadranan, yang letaknya persis di kaki Gunung Sawal, Dusun Cilimus.

Air dari Mata Air Panadranan menjadi salah satu air dari 7 mata air yang airnya digunakan untuk mencuci benda-benda pusaka Kerajaan Panjalu saat acara tradisi Nyangku setiap tahun. Mata air yang satu ini tak pernah kering sekalipun musim kemarau panjang.

Saat ini Desa Jayagiri dihuni 1.504 kepala keluarga atau 4.706 penduduk. Sarana pendidikannya baru ada 2 Taman Kanak-Kanak (TK), 3 Sekolah Dasar (SD), Madrasah dan Majelis Taklim di setiap dusun serta 3 Pondok Pesantren. SMP dan SMA adanya di luar desa.

Sarana kesehatannya baru berupa Pusat Kesehatan Desa (Puskesdes) dengan bidan desa dan paramedis serta kader untuk membantu pertolongan pertama buat warga.

Infrastrukturnya berupa jalan desa dan jalan lingkungan dalam kondisi yang kurang memadai namun cukup membantu masyarakat dalam menjalankan roda kehidupan sehari-hari. Ada satu hal yang menarik.

Kendati Jayagiri terletak di kaki gunung, lumayan jauh dari pusat kota dan bersuasana sepi, namun kondisi rumah warganya umumnya gedong dan besar-besar. 

Potensi Wisata
Desa Jayagiri yang berhawa sejuk ini pun memiliki sejumlah potensi wisata baik itu wisata alam, budaya, agro, dan petualangan.

Poteni wisata alam di desa seluas 348,07 hektar ini ada Gunung Sawal yang berstatus Suaka Margasatwa berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Nomor:420/kpts/UM/1979 tanggal 4 Juli 1979. Suaka margasatwa ini berluas 5.400 hektar, mencakup wilayah Kecamatan Panumbangan, Panjalu, Cipaku, Kawali, Sadananya, Sindangkasih, dan Kecamatan Cihaurbeuti.

Aktivitas wisata yang dapat dilakukan pengunjung di gunung berbentuk pegunungan ini antara lain berkemah (camping). Ada beberapa camping spot yang biasa digunakan para penggiat alam dari sekitar Ciamis dan Tasikmalaya, di antaranya spot Tugu di Sadananya, Gunung Golkar di Sindangkasih, Batu Datar di Cipaku, dan Curug Tujuh di Panjalu. Atap tertinggi Gunung Sawal berada di daerah Panjalu dengan ketinggian 1.764 meter di atas permukaan laut (Mdpl).

Gunung Sawal yang bermakna sumbernya tak terbatas ini menjadi rumah bagi ratusan monyet. Selain itu ada lutung, kijang, babi, ular bahkan macan tutul.

Selain hutan produksi milik rakyat yang ditanami kopi, cengkeh, pete, dan lainnya, gunung ini pun diselimuti hutan lindung milik negara yang berisi pohon rasamala dan pinus.

Potensi wisata budayanya ada wisata religi, wisata ziarah, kesenian tradisional, kuliner khas, dan tradisi masyarakat setempat antara lain pencak silat, reog buncis, qasidahan, ritus damar sewu, dan seni gembyung.

Selain itu ada ritus mangerankeun ngalokay cai di huluwotan atau ruwatan sumber mata air sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa atas karunia serta limpahan rezeki dan barokahnya sumber daya alam di Desa Jayagiri.

Potensi wisata religi Islaminya berupa kegiatan Manaqib di Masjid Al-Hidayah Dusun Cimuncang, Desa Jayagiri. Kegiatan manaqib ini digelar setiap sebulan sekali.

Potensi wisata ziarahnya berupa makam keramat Eyang Guru Aji yang berada di Kampung atau Dusun Cilimus. Lokasi makamnya masuk dalam areal hutan lindung. Sedangkan tradisi masyarakat Desa Jayagiri yang menarik antara lain perang leutak atau perang lumpur di sawah atau di balong (empang ikan).

Sementara kulinernya berupa nasi liwet dengan lauk pepes ikan mujaer, sambal dan aneka lalapan termasuk pete. Panganan kecilnya ada rangginang dan saroja yang terbuat dari tepung beras seperti kembang goyang serta bermacam kue kering lainnya. Tak ketinggalan kere ikan dari ikan mujair kecil yang diberi bumbu lalu digoreng kering dengan dua macam rasa, asin dan manis.

Desa ini juga menyimpan potensi wisata agro. Selain lahan pertanian yang berteras-teras juga ada perkebunan kopi dan cengkeh di lereng Gunung Sawal.

Potensi wisata petualangannya berupa pendakian gunung ke puncak Gunung Sawal, motor cross, dan lintas alam. Setiap akhir pekan banyak penghobi motor cross yang menjajal medan menantang di Gunung Sawal, selain para pendaki.

Soal akomodasi, memang belum ada homestay apalagi hotel  di desa ini. Namun beberapa rumah penduduk bisa digunakan untuk tempat inap jika ada pengunjung yang ingin menginap di desa ini. Ada sekitar 7 rumah yang siap menampung pengunjung dari luar Jayagiri.

Untuk memperkenalkan semua potensi wisata yang ada di Desa Jayagiri, Kemenpar bekerjasama dengan masyarakat Desa Jayagiri sudah melakukan beberapa upaya antara lain dengan menggelar Festival Religi Muharraman, Festival Wisata Budaya Religi Manaqib, dan Festival Jagir.

Nah, selagi di sana, usai menyaksikan Festival Jagir 2016, jangan pulang dulu. Lanjutkan perjalanan Anda mendaki Gunung Sawal.

Tak sulit menjangkau Desa Jayagiri. Anda yang datang dari Kota Bandung bisa naik bis BP ke Panjalu atau mobil travel selama kurang lebih jam.

Dari Panjalu ke Desa Jayagiri dengan angkutan desa yang jumlahnya masih terbatas, turun di Desa Sindangmukti. Dari Sindakmuti naik ojek Rp 10 ribu selama 10 menit atau kalau dari Terminal bis Panumbangan, Ibukota Kecamatan Panumbangan naik ojek motor sekitar Rp 20 ribu.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)
Foto: adji & dok. wawan gunawan


Read more...

Rabu, 18 Mei 2016

BPNB Aceh Tur Sejarah dan Budaya ke Humbang Hasundutan Lewat LASEDA 2016

Balai Pelestarian Nilai Budaya Aceh (BPNB Aceh) menggelar Lawatan Sejarah Daerah (LASEDA) 2016 di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara (Sumut) selama 4 hari mulai tanggal 22-25 Mei mendatang.

Acara LASEDA ke-14 ini selain diisi dengan diskusi yang menghadirkan beberapa narasumber berkompeten, juga ada lawatan atau tur ke objek-objek sejarah dan budaya yang ada di kampung halamannya Sisingamangaraja XII, Pahlawan Nasional asal Sumut.

Lawatan pertama LASEDA 2016 akan diadakan pada hari kedua, Senin (23/5). Usai sarapan dan persiapan perjalanan, para pesertanya yang terdiri atas 50 pelajar tingkat SMA dari Sumut dan Aceh termasuk guru pendamping dan intansi terkait akan mengunjungi objek Kompleks Istana Sisingamangaraja yang berlokasi di Bakkara.

Di sana peserta akan berdiskusi dengan narasumber lokal dan kemudian melakukan aksi bersih Istana Sisingamangaraja. Kompleks ini merupakan kediaman dari Sisingamangaraja I sampai XII.

Dalam buku panduan LASEDA 2016 dijelaskan bahwa dinasti Kerajaan Sisingamangaraja berdiri di Bakkara lebih kurang 1525-1907. Di dalam istana terdapat makam Makam Raja Sisingamaraja XI, Ruma Bolon, Ruma Parsaktian, Sopo Bolon, Bale Pasogit, dan Batu Siungkapungkapon.

Istana Raja Sisingamangaraja dibakar oleh pasukan Tuanku Rao tahun 1818 dan pasukan Belanda tahun 1878. Istana ini dibangun kembali oleh pemerintah dan masyarakat sejak tahun 1978.

Lawatan diteruskan ke Situs Taman Bumi Toba Tombak Sulu-Sulu. Di objek ini peserta juga akan berdiskusi dengan narasumber lapangan dengan tujuan mengenal perubahan alam dan sejarah kebudayaan setempat.

Situs Taman Bumi Toba Tombak Sulu-Sulu merupakan salah satu Taman Geopark Toba. Tombak Sulu-Sulu adalah tempat bertenunnya Boru Pasaribu, istri raja Bona ni Onan Sinambela.

Di tempat inilah dipercaya Boru pasaribu menerima wahyu dari Mula Jadi Nabolon bahwa dia akan mengandung dan melahirkan seorang anak yang memiliki kesaktian dan kelak akan menjadi raja di tanah Batak.

Ketika bayi itu lahir, bumi bergetar sehingga diberi nama Raja Manguntal. Raja Manguntal inilah yang dinobatkan menjadi Sisingamangaraja I.

Lawatan berikutnya ke objek Mata Air Kehidupan Batak Aek Sipangolu, masih di wilayah Bakkara. Di sini peserta juga akan berdiskusi sejaraha kebudayaan dan sejarah alam dengan narasumber lokal.

Kisah terjadinya Aek Sipangolu adalah ketika Raja Sisingamangaraja I berhenti karena gajahnya sedang kehausan. Lalu sang raja, berdoa kepada Mula Jadi Nabolon dan menancapkan tongkatnya ke batu dan terjadilah mata air.

Mata air tersebut kemudian diyakini warga setempat dapat menyembuhkan berbagai penyakit sehingga dinamakan dinamakan Aek Sipangoulu yang berarti “air yang menghidupkan”.

Selepas istarahat, sholat, dan makan siang (ISHOMA) di Aek Sipangoulu, peserta meneruskan lawatan ke Kampung Tradisional Batak Lumban Manalu, Tipang.

Kampung Tipang merupakan salah satu destinasi wisata di Kecamatan Baktiraja. Tipang dikenal sebagai perkampungan tua dengan hamparan sawah yang indah.

Di perkampungan tradisional Lumban Manalu di Desa Tipang nuansa Batak di masa lalu tergambar jelas dari tata letak perumahan penduduk yang berdiri kukuh di antara lereng-lereng gunung yang curam yang dipagari dan diturapi dengan batu-batu. Rumah-rumah tradisional ini tetap berdiri kokoh walaupun terus digerus putaaran waktu dan musim.

Dari Desa Tipang, panorama di Danau Toba dengan pulau Simamora tampak jelas dari kampung ini. Masih di Desa Tipang, kemudian peserta akan melihat pesona Air Terjun Janji yang berketinggian 30 meter.

Air terjun ini dilengkapi dengan patung ikan mas raksasa. Panoramanya sangat indah dan menawan. Secara geologi air terjun ini terjadi akibat dari letusan Toba pada 74.000-an tahun yang lalu.

Daerah Bakkara di sekitar Air Terjun Janji memiliki panorama alam Danau Toba yang sangat indah.

Keesokan harinya, Selasa (24/5), selepas sarapan peserta akan berkunjung ke Pasar Kemenyan Dolok Sanggul untuk mengetahui komoditas Historis dari Humbang Hasundutan.

Kemenyan merupakan salah satu tanaman yang menjadikan daerah Humbang Hasundutan menjadi unik dan menarik, selain dengan kuliner ‘gulai’ kuda. Kemenyan disebut juga Frankincense, Olibanum, Salai guggal, atau Boswellia serrata.

Kemenyan ini tanaman getah (Styrax spp.) dari suku Styracaceae; terutama S. benzoin Dryand. dan S. paralelloneurus Perkins. Kemenyan dapat tumbuh dengan baik di hutan di Dolok Sanggul. Salah satu hasil pertanian yang paling terkenal di sna adalah haminjon atau istilah lokal untuk “kemenyan”.

Desa Huta Gurgur memiliki hutan kemenyan terluas di Dolok Sanggul, yang luasnya sampai ke Sampean, perbatasan Kecamatan Parlilitan. Selain kemenyan, ada juga kopi, padi, dan tanaman-tanaman palawija.

Petani kemenyan umumnya adalah kaum pria. Selain karena pohon kemenyan hanya tumbuh baik di dalam hutan, juga karena harus memanjat untuk memelihara (mangguris) dan mengambil getahnya. Biasanya kaum laki-laki jumlahnya 3-7 orang berkumpul dan bermalam di sopo dalam hutan. Hari Senin pagi berangkat membawa bekal. Hari Kamis sore mereka kembali membawa kemenyan, karena hari Jumat, adalah ‘hari pekan’ di Dolok Sanggul.


Lawatan selanjutnya ke pulau-pulau di seberang Bakkara. Selama ini orang hanya mengenal Pulau Samosir di tengah Danau Toba. Padahal masih ada sejumlah pulau lainnya antara lain Pulau Tao, Sibandang, Tulas, dan Pulau Tolping di berbagai kabupaten di sekeliling Danau Toba.

Di Humbang Hasundutan sendiri terdapat dua pulau lainnya yakni Pulau Simamora dan Pulau Sirungkungon.

Pulau-pulau berukuran mini tersebut tidak berpenghuni. Namun tak terbantahkan, keberadaan keduanya menambah keindahan panorama Danau Toba dari Desa Tipang dan satunya di sisi lain di Kabupaten Humbang Hasundutan.

Menurut Kepala BPNB Aceh Irini Dewi Wanti, sebelum acara penutupan  LASEDA 2016 bertema "Merajut Simpul-Simpul Keindonesian di Humbang Hasundutan: Kekayaan Kisah Perjuangan, Sejarah, Alam, dan Kebudayaan" ini, para peserta akan melakukan penyusunan materi tugas kelompok berdasarkan hasil diskusi dan tur ke sejumlah objek sejarah dan budaya tersebut di atas.

“Setelah selesai, masing-masing kelompok wajib menyampaikan materi yang sudah dibuat berupa karya tulis. Nanti akan dipilih kelompok mana yang karya tulisnya paling baik,” jelas Rini.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)
Foto: dok. buku panduan LASEDA 2016

Read more...

Senin, 16 Mei 2016

Mau Even Kuliner Anda Sukses? Ini Rahasianya


Sejumlah event kuliner gencar digelar dan atau didukung Kementerian Pariwisata (Kemenpar) seperti festival kuliner, seminar, workshop, pameran/bazaar, lomba kuliner dan lainnya mulai 2015 lalu, terlebih sepanjang tahun ini.

Tujuannya selain untuk mempromosikan 5.000 jenis kuliner tradisional dari berbagai daerah di Tanah Air, terutama 30 jenis yang sudah ditetapkan menjadi Ikon Kuliner Tradisional Indonesia (IKTI), pun menjadikan kuliner lokal sebagai daya tarik wisata budaya untuk menjaring wisatawan baik setempat, nusantara maupun mancanegara.

Ujungnya tentu bermuara kepada semakin meningkatnya kesejahteraan para pelaku usaha kuliner khususnya dan masyarakat umumnya.

Tak bisa dipungkiri pada tahun 2013 sektor kuliner terbukti memberikan kontribusi nilai tambah bruto sebesar Rp 208,6 triliun dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 4,5 persen dan mampu menyerap 3,7 juta orang dengan pertumbuhan rata-rata 0,26 persen. Data tersebut membuktikan kuliner merupakan sektor yang juga amat potensial menjaring wisatawan dan menyerap lapangan pekerjaan.

Lalu yang menjadi pertanyaan besar, apakah cara yang ditempuh Kemenpar untuk mencapai semua tujuan itu dengan menyelenggarakan dan atau mendukung kegiatan seperti festival kuliner, seminar, workshop, pameran/bazaar, lomba kuliner dan lainnya sudah tepat?

Berdasarkan pengamatan penulis, cara-cara seperti memang sudah pas, hanya beberapa pelaksanaan di lapangannya yang masih menyisakan sejumlah 'catatan'.

Lewat tulisan inilah penulis bukan hanya sekadar mengkritisi pun memberi solusi agar even terkait kuliner yang dibuat/didukung Kemenpar ke depan, utamanya yang tersisa tahun 2016 ini, lebih sukses.

Kata sukses disini memang relatif kadarnya, subyektif. Penulis memberi kriteria even kuliner yang sukses itu antara lain pengunjungnya banyak sesuai yang ditargetkan, jumlah pesertanya entah itu peserta pameran maupun lomba tercukupi minimal sesuai target, aneka kuliner yang dipamerkan terpromosikan dengan baik lewat sejumlah media (spanduk, baliho, banner, media website, weblog, koran, radio, medsos, dan lainnya).

Kriteria sukses lainnya, omset penjualan pesertanya luar biasa paling tidak sesuai target, kemasan acaranya menarik, kreatif dan inovatif serta seluruh rangkaian acara termasuk hiburannya berjalan lancar dan memukau, termasuk dari segi kemanan dan kebersihannya.

Berikut ini penulis beberkan rahasia jika ingin sebuah event kuliner berakhir sukses.

Pertama, promosi pra even harus gencar dan tepat sasaran utamanya lewat media online (website, weblog) ditambah media sosial (medsos) mulai dari Facebook, Twitter, Instagram, dan lainnya minimal seminggu sebelum hingga sehari sebelum Hari 'H' secara terus menerus.

Tujuannya untuk menginformasikan kegiatan secara luas kepada masyarakat termasuk ke komunitas-komunitas pecinta kuliner. Informasi yang harus disampaikan antara lain nama even, rangkaian acara utamanya, pengisi acara, tempat, dan waktu.

Tak lupa menggelar jumpa pers dengan media lokal minimal sehari sebelum pelaksanaan even. Misalnya kalau diadakan di Medan, undang beberapa media lokal utama, terlebih media online agar tercepat tersiar beritanya. Berikutnya mengadakan talkshow atau promo event di radio lokal ternama.

Kedua, bawa jurnalis/blogger untuk meliput even kuliner Anda. Pilih jurnalis/blogger yang berkualitas dan berjiwa marketing tinggi. Artinya, bukan hanya rajin menulis Pra, On & Pasca (POP) even dari berbagai sudut pandang baik dalam format berita maupun feature/artikel, pun rajin mempublikasikan dan men-share tulisannya ke berbagai pihak terkait lewat beragam medsos agar tersiarkan secara nasional bahkan global.

Pilih juga jurnalis/blogger yang bisa memberi kritisi dan solusi/input/saran/masukan dalam tulisannya atas even yang digelar Kemenpar agar even berikutnya lebih baik dan sukses lagi. Jangan jurnalis/blogger yang cuma maunya jalan-jalan, senang-senang, dan bisanya cuma berbasa-basi dan bermanis-manis, tanpa bukti nyata mutu kinerjanya.

Ketiga, waktu pelaksanaan yang tepat. Perhatikan benar mengenai waktu pelaksaan even. Kalau evennya berupa festival, pameran, dan lomba kuliner sebaiknya diadakan pada akhir pekan (Sabtu-Minggu) atau pas hari libur, kecuali di Bandung dan kota lain yang selalu ramai baik weekday maupun weekend, jadi tidak begitu masalah diadakan di luar akhir pekan.

Keempat, lokasi atau venue acara pilih yang paling strategis, mudah diakses. Lebih bagus lagi lokasinya sudah menjadi sentra kuliner di kota tersebut. Contohnya kalau di Makassar, lokasi pameran kuliner yang strategis dan sudah menjadi sentra kuliner adalah di kawasan Pantai Losari, antara lain di Anjungan Pantai Losari seperti yang baru-baru ini Kemenpar lakukan yakni menggelar Lomba Kuliner Berbahan Ikan dan Pangan Lokal 2016 selama 2 hari, Sabtu-Minggu (14-15/5).

Perlu diketahui, kalau lokasi pameran/lomba kulinernya outdoor di kota berpantai yang berudara panas menyengat seperti Makassar, pengunjung biasanya baru ramai datang jelang sore mulai pukul 3 hingga tengah malam. Sementara kalau di kota pegunungan yang berudara sejuk seperti Bandung, biasanya pengunjung mulai dari jelang siang juga sudah datang.

Kelima, ada hiburan memikat artis ternama ibukota sebagai bintang tamu utama. Artisnya terdiri atas penyanyi solo atau band yang sudah terkenal atau tengah digandrungi, ditambah artis dan kesenian lokal.

Jangan lupa celebrity chef, mengingat ini acara kuliner. Pilih chef ibukota yang tengah booming namanya dan atau berkarakter khas dan diminati masyarakat untuk acara demo masak. Kalau ada seminar, sebaiknya pilih narasumber berkompeten di bidangnya termasuk dari media.

Keenam, gratis alias tidak dipungut bayaran baik itu bagi peserta pameran, lomba maupun pengunjung. Mengingat even ini dilaksanakan oleh pemerintah dalam hal ini Kemenpar yang sepenuhnya dibiayai lewat APBN, jelas tidak boleh mengambil profit melainkan semata bertujuan memajukan sektor kuliner dalam rangka mensejahterakan masyarakat.

Informasi bahwa even kuliner ini GRATIS bagi peserta pameran, lomba maupun pengunjung harus disampaikan lewat jumpa pers, medsos, baliho, banner, talkshow di radio, dan lainnya. Tujuannya agar jelas, tidak menimbulkan keraguan peserta dan pengunjung, serta tidak memberi kesempatan buat pihak-pihak yang tak bertanggungajawab yang mencoba mengambil keuntungan dengan memungut biaya pendaftaran atau tiket masuk.

Ketujuh, hadiah menarik bagi peserta lomba, pameran dan pengunjung. Untuk peserta lomba sebaiknya selain hadiah berupa uang juga berupa barang seperti perlengkapan dapur atau masak. Hadiah bagi peserta pameran, pilih stan yang paling menarik dari sisi penampilan, kreativitas maupun dari segi omset penjualan.

Buat pengunjung, berikan pula door prize berupa barang dan atau voucher makan di lokasi pameran. Semua hadiah itu pun harus dinformasikan di berbagai wadah promosi seperti spanduk, baliho, banner, jumpa pers, talkshow di radio, dan lainnya agar masyarakat tahu dan tertarik datang.

Kedelapan, pilih event organizer (EO) sebagai pelaksana even kuliner yang benar-benar profesional, kreatif, inovatif, dan memberikan bukti apa yang Kemenpar inginkan, lebih bagus lagi kalau EO tersebut memberikan lebih daripada yang Kemenpar mau.

Jangan pakai EO abal-abal atau hanya karena bisa diajak kongkalikong oleh oknum-oknum tertentu yang ingin mengeruk keuntungan lewat even ini, padahal sudah tahu prestasi atau bukti pengalaman kinerja EO tersebut belum ada, lebih parah kalau sudah dikenal tak becus kerjanya.

Oleh karena itu saat bidding (proses tender), perhatikan riwayat reputasi EO tersebut, perhatikan pula apakah mereka rela banting harga demi mendapatkan proyek even ini namun kinerjanya amat tidak memuaskan, atau EO yang tetap mempertahankan standar harganya namun kualitas dan reputasi kinerja serta keprofesionalannya sudah terbukti dan tak diragukan lagi.

Jika ada EO melanggar ketentuan perjanjian, dengan kata lain tak memberikan apa yang dijanjikan saat bidding, sebaiknya dikenakan sanksi. Sanksi tersebut harus sudah disepakati sejak awal proses tender.

Itulah delapan (8) rahasia utama yang dapat Anda terapkan jika ingin even kuliner Anda sukses. Kedelapan rahasia itu pun bisa diterapkan untuk even-event lain seperti even budaya, religi, sejarah, petualangan, MICE, dan lainnya.

Selain itu masih ada sejumlah rahasia lain yang juga kudu diindahkan penyelenggara agar even kulinernya benar-benar sukses, antara lain menyiapkan petugas keamanan agar kegiatan berlangsung aman terutama dari gangguan preman-preman lokal, copet dan sebagainya.

Menyiapkan pula petugas kebersihan termasuk tong-tong sampah yang memadai agar even yang digelar tidak bikin sampah, tetap bersih dan rapih.

Sebaiknya sehari sebelum Hari 'H', pihak Kemenpar yang bertanggung jawab dengan even ini harus datang untuk mengawasi kinerja EO di lapangan (terutama di lokasi acara).

Dia sekaligus mengecek apakah tenda pameran yang dipasang sudah sesuai perjanjian, begitupun dengan photo booth, panggung, sound system, lampu penerang, jenset, tenda khusus pengunjung bersantap lengkap dengan kursi dan meja agar terhindar panas dan hujan, taman buatan, dan perlengkapan pendukung lainnya.

Jika ada yang tidak beres atau kurang memuaskan sebaiknya dikomplain dan minta diperbaiki hari itu juga dan harus beres sebelum even berlangsung.

Lalu membuat tema even yang menarik/unik/tak biasa dan kuliner yang dipamerkan juga beragam dan pilihan bukan kuliner yang tidak sesuai standar ketentuan. Tak lupa menginformasikan jadual acara (tempat dan waktu) yang jelas lewat beragam media promosi seperti tersebut di atas.

Acara sebaiknya dipandu oleh MC atau pembawa acara yang menarik dan kreatif. Tak ketinggalan didukung dengan gapura, stan, panggung utama, sound system, jenset, photo booth yang menarik. Jangan sampai dibuat asal-asalan apalagi apa adanya.

Khusus photo booth yang bertuliskan PESONA INDONESIA berikut logonya harus dibuat semegah, semenarik dan sekeren mungkin mengingat booth itu bakal menjadi pusat perhatian pengunjung untuk selfie dan groufie kemudian di-upload dan di-share ke berbagai medsos.

Kalau photo booth itu bagus, tentu imej Kemenpar akan bagus juga, tapi kalau apa adanya, asal jadi justru akan memberikan citra kurang sedap.

Terakhir buatlah dokumentasi hasil semua even kuliner yang digelar Kemenpar selama setahun dalam bentuk buku.

Tujuannya selain sebagai bukti laporan yang lebih komplit dan eksklusif, pun sebagai bahan informasi penyelenggaraan even-even serupa tahun berikutnya.

Salam Kuliner Nusantara, Salam Pesona Indonesia.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

NB.: Penulis adalah wartawan, blogger, fotografer dan pemerhati kepariwisataan dan kebudayaan serta pemilik BLOGNESIA (Blogger for Indonesia Culture & Tourism) yang beranggotakan sejumlah blogger, jurnalis, fotografer, videografer & writer khusus budaya & wisata.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP