. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Selasa, 31 Agustus 2010

10 Gunung Favorit Pendaki Pascalebaran



Kemana pendaki sejati mengisi liburan lebaran? Pasti gunung dan gunung lagi. Bahkan saat Ramadhan pun ada segelincir pendaki yang melampiaskan hasratnya, mendaki. Namun secara umum kegiatan pendakian selama bulan puasa tahun ini menurun. Pascalebaran, diperkirakan suhu pendakian kembali meninggi. Dari sejumlah gunung ternama di Tanah Air, ada 10 gunung favorit pilihan banyak pendaki untuk mengisi liburan lebaran. Gunung apa saja dan mengapa?

Usai rehat mendaki karena menunaikan rutinitas puasa tahunan sebulan dan merayakan Hari Kemenangan bersama keluarga, kerabat dan orang terdekat, sejumlah komunitas pendaki kembali unjuk gigi, mendaki gunung lagi untuk mengobati kerinduan.

Rencana pendakian pascalebaran sudah dirancang jauh-jauh hari sebelumnya. Ada yang membuka pendaftaran pendakian massal (penmas) lewat jejaring sosial facebook, ada juga yang sebatas untuk kalangan interen organisasi, maupun kelompok kecil.

Dari sekian gunung populer di negeri ini, setidaknya ada 10 gunung yang paling diminati pendaki untuk mengisi liburan lebaran tahun ini. Kesepuluh gunung tersebut adalah :

1. Gunung Gede, Jawa Barat
Dari sekian gunung yang ada di Provinsi Jawa Barat, Gunung Gede masih menjadi yang terfavorit. Pendakinya bukan datang dari Jabodetabek (Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang dan Bekasi), dan kota lain di Jawa Barat seperti Bandung dan Sukabumi. Pun dari kota lain di Jawa dan luar Jawa. Bahkan pendaki mancanegara kerap mendaki gunung ini. Selain dekat dengan dua kota besar yakni Jakarta dan Bandung, serta mudah menjangkau titik awal pendakiannya, panorama di puncak gunung aktif ini pun cantik.

Setidaknya ada beberapa komunitas pendaki yang berencana akan mendaki gunung berdekatan dengan Gunung Pangrango ini pascalebaran. Bahkan sebelum lebaran (masih Ramadhan) ada organisasi pecinta alam yang menggelar pendakian bersama sambil operasi bersih.

2. Gunung Papandayan, Jawa Barat
Pascaletusan 7 tahun lalu, Gunung yang berada di Kabupaten Garut, Jawa Barat ini semakin diminati pendaki lantaran perubahan alamnya yang kian cantik, terutama sekitar kawah utamanya. Semakin banyak dinding tebing berwarna kekuningan dan kawah baru yang muncul. Medan pendakiannya relatif mudah, bahkan sampai mendekati kawah bisa dijangkau dengan kendaraan roda empat. Ini alasan lain mengapa gunung ini kerap dikunjungi bukan cuma pendaki tapi juga wisatawan biasa.

Ada beberapa kelompok yang akan mengelar kegiatan di gunung ini, salah satunya Lembah Pelangi yang bermarkas di Depok menggelar acara bertajuk Camping Ceria dalam Pesona Gunung Papandayan pada 12-13 September mendatang dengan biaya Rp 450.000 per orang.

3. Gunung Merbabu, Jawa Tengah
Gunung yang memiliki 7 puncak ini begitu diminati kalangan pendaki Jateng dan Jogja. Panorama khasnya selain puncak 7 itu juga savana dan matahari tenggelamnya (sunset) yang eksotis. Lambat laut warna langit dan awannya pun berubah. Semakin mendekati mentari tenggelam, warna kuning keemasan begitu mendominasi. Sunset-nya berornamen Gunung Sundoro dan Sumbing. Sedangkan savananya cukup luas, mencakup lembah, lereng, dan punggungnya bak hamparan permadani alami raksasa bila dilihat dari kejahuan.

Ada 4 jalur pendakian yang biasa dipakai pendaki untuk mencapai puncak-puncak Merbabu, yakni jalur Wekas, Chuntel, Gentis, dan Thekelan. Namun yang paling popular jalur dari Wekas dan Thekelan.

Jalur Wekas sangat populer dikalangan pendaki Kabupaten dan Kota Magelang. Selain lebih dekat juga banyak terdapat sumber air. Waktu tempuhnya sekitar 6-7 jam. Jalur Dusun Thekelan, Desa Batur, Kecamatan Ketasan, Kabupaten Semarang diminati kalangan pendaki di Kabupaten dan Kota Semarang.

Pascalebaran ini, sejumlah pendaki dari Jogja dan Jateng termasuk komunitas dari Jakarta menggelar pendakian plus bersih gunung ini. Kura-Kura Adventure dari Jakarta misalnya menggelar pendakian Merbabu dan Merapi dari Thekelan menuju 7 puncaknya lalu turun ke Selo dan dilanjutkan mendaki Merapi, dan diteruskan ke Candi Borobudur pada 23-26 September nanti.

4. Gunung Merapi, Jawa Tengah
Gunung berapi paling aktif di Jawa ini juga sangat popular di kalangan pendaki Jogja dan Jateng. Jalur umumnya ada dua yakni Selo dan Kaliurang. Namun yang paling sering digunakan karena paling dekat adalah Selo, Kabupaten Boyolali, Jateng. Waktu tempuhnya sekitar 5 jam hingga ke puncak. Sedangkan Jalur Kaliurang, Kecamatan Pakem, Kabuapaten Sleman, Yogayakarta, medannya lebih terjal dan waktu tempuhnya lebih lama 6-7 jam hingga ke puncak.

Pascalebaran, sejumlah pendaki sudah banyak yang berencana ke gunung ini, termasuk Kura-Kura Adventure yang berencana menggelar pendakian berantai Merbabu-Merapi plus Borobudur.

5. Gunung Semeru, Jawa Timur
Atap Jawa berketinggian 3.676 mdpl ini juga menjadi gunung favorit pendaki Indonesia. Selama Ramadhan kemarin, ada beberapa pendaki yang mendaki puncaknya yang bertitle Mahameru.

Gunung dengan kawah di puncaknya yang berlabel Jonggring Saloko ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Ada beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain Guung Bromo (2.392m), Batok (2.470m), Kursi (2.581m), Watangan (2.662m) dan Gunung Widodaren (2.650m). selian itu ada 4 danau (ranu) di kawasannya yakni Ranu Pani, Regulo, Kumbolo, dan Ranu Darungan.

Pascalebaran, sejumlah pendakian ke gunung ini digelar oleh komunitas baik dalam kelompok kecil maupun pendakian massal.

6. Gunung Marapi, Sumatera Barat
Gunung berapi ini tergolong paling aktif di Sumatera. Sudah 50-an lebih meletus. Justru keaktivannya itulah yang menjadi daya tarik gunung ini hingga sering didaki. Gunung berketinggian 2.891 mdpl ini dapat dilihat dari Bukit Tunggi, Padanpanjang dan Kabupaten Tanah Datar.

Pascalebaran, sejumlah pendaki dari berbagai komunitas di Kota Padang dan sekitarnya berencana mendaki gunung ini.

7. Gunung Sinabung, Sumatera Utara
Setelah tidur panjang, gunung berketingian 2.460 mdpl ini meletus, Minggu dini hari 29 Agustus 2010 setelah sehari sebelumnya menyemburkan asam pekat. Gunung yang berada dekat dengan Gunung Sibayak ini diminati banyak pendaki khususnya dari Kota Medan dan beberapa kota/kabupaten lain di Sumut.

Letusan gunung yang berada di Kabupaten Tanah Karo, Sumut ini justru memicu sejumlah pendaki dari luar Sumut untuk mendakinya termasuk beberapa pendaki Jakarta. Alasannya tentu ingin melihat perubahan yang terjadi pascaerupsi. Diperkirakan gunung berpanorama cantik ini semakin cantik setelah meletus.

Gunung Sinabung merupakan anak gunung raksasa Toba purba yang pernah meletus dasyat pada 70.000 tahun silam. Berdasarkan pengamatan peta citra satelit, disimpulkan gunung ini merupakan anak gunung terbesar dan aktif di kompleks Gunung Toba yang juga mewarisi kaldera terbesar di muka bumi yaitu kaldera Danau Toba.

8. Gunung Bawakaraeng, Sulawesi Selatan
Gunung berketinggian 2.830 mdpl yang berada di Kabupaten Gowa, Provinsi Sulsel ini menjadi salah satu gunung favorit pendaki Kota Makassar dan sejumlah kabupaten di Sulsel selain Gunung Lompobattang. Jaraknya sekitar 75 Km dari Kota Makassar. Di lereng gunung ini ada Malino, tempat wisata berhawa sejuk.

Yang unik selain pendaki, gunung ini pun kerap didaki oleh penganut sinkrerisme yang meyakini gunung ini sebagai tempat pertemuan para wali. Mereka menjalankan ritual ibadah haji ke puncak gunung ini setuap musim haji atau bulan Zulhijjah bersamaan dengan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Dan pada tanggal 10 Zulhijjah, mereka melakukan salat Idul Adha di puncak Gunung Bawakaraeng atau di puncak Gunung Lompobattang.

Ada beberpa rute menuju puncaknya. Rute yang sering digunakan pendaki lewat Desa Lembanna yang berada di ketinggian 1400 mdpl. Waktu tempuh sampai puncaknya sekitar 6-8 jam. Pemandangan dari puncaknya antara lain panorama laut dan Kota Makassar di arah Barat dan Gunung Lompobattang di arah Selatan. Obyek alam menarik di dekat basecamp desa terakhir, antara lain Air Terjun Lembanna yang berair dingin.

Pascalebaran, gunung ini kembali ramai didaki oleh sejumlah komunitas pecinta alam di Sulsel.

9. Gunung Dempo, Sumatera Selatan
Gunung tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan dengan ketinggian 3.195 mdpl ini menjadi gunung favorit pendaki sekitar Sumsel dan Bengkulu. Biasanya kalau dari Sumsel jalur yang dipilih lewat Pagaralam yang berpanorma indah, sekitar 7 jam perjalanan darat dengan kendaraan roda empat dari Palembang.

Gunung ini diminti karena selain airnya jernih dan mudah didapat sampai setengah perjalanan, pendakian ke puncak utamanya pun tidak terlalu sulit, dan yang pasti pemandangan dari puncaknya indah. Dari puncaknya terlihat kawah, pemandangan Provinsi Bengkulu dengan Lautan Hindia, dan hamparan lembah indah.

Pendaki yang tertarik mendaki gunung ni pascalebaran bukan cuma dari Sumsel dan Bengkulu tapi dari komunitas yang ada di Jakarta, antara lain Komunitas PURPALA atau Pura-pura Pecinta Alam ini mengadakan pendakian bersama dengan biaya Rp 500.000 per orang sudah atermasuk transportasi P/P, t’shirt, dan sertifikat pendakian.

10. Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat
Gunung berketinggian 3.726 mdpl di Pulau Lombok, NTB ini masih menjadi gunung berapi favorit pendaki Indonesia karena keindahan pemandangannya. Dari puncaknya, saat cuaca cerah di pagi hari pendaki disuguhi ‘sarapan’ panorama Gunung Agung di Bali, Gunung Ijen-Merapi di Banyuwangi dan Gunung Tambora di Sumbawa. Obyek menarik berpanorama indah juga sudah didapat sebelum puncak, antara lain Segara Anakan, sebuah danau kawah di ketinggian 2.000 mdpl.

Ada dua jalur yang biasa digunakan poendaki yakni dari Desa Senaru (500 mdpl) dan Desa Sembalun Lawang (1.200 mdpl). Namun jalur mendaki yang paling disukai pendaki dari Sembalun karena bisa hemat 700m ketinggian lalu turun ke Senaru. Jalur Sembalun agak panjang dan datar namun cuaca lebih panas karena melewati savana. Sedangkan Senaru lebih terjal namun sucanya lebih lembut karena berhutan rimbun.

Pendakian ke puncak terbilang lumayan, meniti di bibir kawah dan medanya berpasir yang mudah terperosok. Kendati harus menempuh perjalanan sekitar 3 hari 2 malam, ke puncaknya dengan medan yang cukup menantang namun gunung ini tetap disukai banyak pendaki karena beratnya medan terbayar dengan panorama yang cantik. Kalau ingin mengunjungi 2 obyek lagi yakni Gua Susu dan Gunung Baru Jari (anak Gunung Rinjani dengan kawah baru di tengah danau), perlu tambah 2 hari.

Pascalebaran ini, sejumlah komunitas pendaki menggelar pendakian ke Rinjani, salah satunya Jejak Adventure Community yang bermarkas di Jakarta Timur menggelar Pendakian Bersama Gunung Rinjani ke-XII pada 12-21 September mendatang. Biayanya Rp 1,2 juta per orang sudah termasuk Bus AC P/P, tiket registrasi, homestay, t’shirt, souvenir, stiker, ID Card, sertifikat, wisata belanja, wisata pantai di Lombok dan Bali serta doorprize.

Bagaimana dengan Anda, apakah termasuk memilih salah satu dari 10 gunung di atas untuk mengisi liburan lebaran. Atau punya alternatif gunung lain. Apapun pilihan gunung yang menjadi favorit Anda, yang terpenting selama pendakian tetap mengedepankan ramah lingkungan dengan tidak membuang sampah atau dengan kata lain membawa turun kembali sampah sendiri, agar keasrian gunung yang Anda daki tetap terjaga.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan_Pemerhati Kepecintaalaman & Pendakian Gunung (adji_travelpus@yahoo.com)

NB.: Tulisan ini boleh disebarluaskan untuk informasi dan lainnya asal mencantumkan/menyebutkan penulis dan sumbernya, trimakasih.

Read more...

Senin, 30 Agustus 2010

10 Tips Aman Mudik dan Balik



Musim mudik lebaran tinggal beberapa hari lagi. Tapi aromanya sudah mulai terasa. Banyak pemudik yang sudah beli tiket kereta, bus, kapal laut, dan pesawat untuk mudik dan balik jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan sebelum Ramadhan. Padahal punya tiket p/p itu belum cukup. Masih ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan agar terhindar dari tindak kriminal selama mudik dan balik. Apa saja?

Biar perjalanan pulang dan kembali dari kampung halaman Anda lancar, aman, dan terbebas musibah seperti dihipnotis, dicopet, dirampok, diracuni orang jahat, dan lainnya. Tak ada salahnya ikuti 10 panduan aman mudik dan balik berikut:

1. Berdoa sebelum berangkat mudik dan balik agar senantiasa diberi kemudahan, kelancaran, keamanan, dan kenyamanan di perjalanan sampai tujuan. Bagi yang muslim bacalah doa perjalanan, Surat Al Fatihah, An Nas, Al Falaq, dan Surat Al Ikhlas. Sedapat mungkin tetap menjalankan ibadah puasa Ramadhan dan pastinya sholat wajib 5 waktu, baik di-jama maupun solat dalam perjalanan sambil duduk. Jangan karena mudik, kewajiban terlalaikan.

2. Jangan mengenakan pakaian yang mewah/glamaor atau pun seronok bagi perempuan. Berpenampilanlah yang biasa-bisa saja, sopan, dan nyaman

3. Jangan pamer perhiasan mahal seperti anting, kalung, dan cincin emas/berlian, atau jam tangan dan HP bermerek

4. Jangan melamun sendirian, jangan seperti orang kebingungan, dan jangan menatap kosong

5. Jangan membawa barang berlebihan hingga membuat Anda susah dan repot membawanya

6. Untuk menghindari diracuni orang jahat, jangan memakan/meminum makanan & minuman pemberian orang yang baru dikenal. Sebaiknya bawa makanan kecil dan minuman sendiri sebagai bekal perjalanan

7. Untuk menghindari dihipnotis orang jahat, bila ditepuk pundak oleh orang yang baru dikenal, balas tepuk pundaknya lagi tapi jangan menatap matanya

8. Sebaiknya bersama teman, kerabat atau orang yang sudah dikenal. Paling tidak ditemani sampai Anda berangkat

9. Jangan menunggu di tempat yang sepi. Sebaiknya mendekat dengan kantor polisi atau petugas setempat

10. Selama perjalanan tetap waspada, dan jangan mudah percaya dengan orang yang baru dikenal.

Selamat mudik lebaran semoga aman dan lancar sampai tujuan. Dan bisa berkumpul di hari yang fitri bersama keluarga dan kerabat di kampung atau kota halaman dengan penuh suka cita.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 27 Agustus 2010

Membongkar 10 ‘Dosa’ Pendaki Gunung


Siapa yang punya andil besar mencemarkan sejumlah gunung? Jawabannya jelas pendaki sendiri. Bukankah yang biasa melakukan kegiatan mendaki gunung itu pendaki. Jadi rasanya tak etis menuding pihak lain atau mengarahkan jari telunjuk ke wajah lain. Kebiasaan mencemarkan gunung itu adalah satu dari 10 ‘dosa’ yang diperbuat pendaki. Dosa-dosa apa lagi?

Pencemaran sejumlah gunung populer bukan hanya terjadi di Tanah Air. Sejumlah gunung di mancanegara dengan tingkat pendakian tinggi, termasuk Everest pun tak luput dari sampah. Bahkan atap dunia itu pernah mendapat julukan sebagai tempat sampah tertinggi di bumi. Mulai dari sampah bekas tabung gas, peralatan pendakian dan kemah, kotoran pendaki sampai mayat pendaki yang tewas.

Tapi tidak semua gunung populer yang tercemar. Buktinya ada beberapa gunung di negara lain yang setiap tahun didaki oleh ribuan pendaki, ternyata tetap bersih dan asri, bebas sampah.

Ini membuktikan bahwa gunung bisa terbebas sampah meski jalurnya gemuk (padat) pendaki asal setiap pendakinya mengindahkan nilai-nilai konservasi yakni mematuhi aturan bahwa gunung bukanlah tempat sampah. Caranya dengan menurunkan kembali sampah sendiri yang dibawa selama pendakian.

Bila ternyata dilanggar, rasanya dia termasuk dalam barisan pendaki yang ber’dosa’. Berikut 10 ‘dosa’ yang dibuat oleh pendaki gunung tak bertanggungjawab:

1. Andil Mencemari Lingkungan Gunung
Melakukan berbagai bentuk pencemaran di gunung selama pendakian seperti membuang sampah (tidak membawa turun sampah yang dibawanya), mengotori sumber mata air, dan atau membawa barang/zat yang mencemarkan bumi, air, dan udara dalam jangka lama.

2. Ikut Merusak Keasrian Gunung
Melakukan bermacam pengrusakan seperti mencorat-coret batu, batang pohon, pos shelter (vandalism), menebang pohon tanpa batas, mengambil flora/fauna langka dan khas gunung setempat, bertindak sembrono hingga mengakibatkan kebakaran hutan, savana dll seperti membuang putung rokok yang masih menyala sembarangan, dan lalai mematikan dengan seksama bekas api unggun atau memasak.

3. Membawa ‘Sampah’ Pribadi
Mengikutsertakan prilaku negatif dari tempat asal/kota ke gunung seperti membawa minuman keras dan meminumnya hingga lupa diri, mengenakan pakaian yang kurang sopan hingga jadi pusat perhatian dan omongan, bergaya kekota-kotaan, angkuh, individualitis, dan sok pamer hingga secara tidak langsung mencemari dan merusak budaya penduduk di kaki gunung setempat.

4. Ekspedisi Tak Ramah Lingkungan
Melakukan ekspedisi seperti membuat jalur pendakian baru tanpa mengindahkan nilai-nilai konservasi. Semata hanya mencari sensasi, prestasi, dan atau keuntungan pribadi. Seenaknya membabat hutan, kemudian mengajak pendaki-pendaki baru untuk menggunakan jalur tersebut lalu mengkomersialkannya.

5. Menggelar Pendakian Massal (penmas) Non Konservatif
Membuat pendakian dengan peserta dalam jumlah besar tanpa berkonsep konservatif. Justru hanya memindahkan sampah pribadi dan kelompok ke gunung hingga kian memparah pencemaran dan pengrusakan gunung.

6. Memberikan Data Keliru
Memberikan informasi yang salah mengenai sejarah, karakter gunung, dan hasil pencatatan perubahan terbaru baik ketinggian puncak gunung dan lainnya.

7. Bersikap Masa Bodoh
Tidak menghargai adat istiadat maupun kearifan lokal, aturan tidak tertulis atau tabu penduduk setempat dalam menjaga keasrian alam gunung. Masa bodoh melihat pendaki melakukan pencemaran dan mendiamkannya.

8. Bersikap Pasif
Berdiam diri, tidak peduli soal pencemaran dan pengrusakan yang dilakukan oleh pendaki. Menganggap masalah tersebut adalah urusan LSM lingkungan, penjaga taman nasional, porter, dan lainnya. Padahal pendaki yang punya andil besar terjadinya persoalan tersebut.

9. Cari Laba Semata
Hanya mencari keuntungan dari kegiatan mengorganisir pendakian atau hanya sekadar mendapatkan kenikmatan mendaki (mountain climbing just for fun), tanpa melakukan dan atau berperan aktif mensosialisasikan pendakian bernilai konservasi.

10. Tidak Mewarisi Pengetahuan tentang Pendakian Konservatif
Hanya mewarisi semangat mengajak mendaki gunung kepada orang-orang baru dengan berbagi cara, tanpa dibarengi semangat melakukan dan mensosialisasikan pendakian konservatif. Akibatnya lahir generasi pendaki yang antipati lingkungan. Dengan kata lain hanya membentuk mental pendaki senang-senang bukan pendaki konservatif.

Sepuluh ‘dosa’ pendaki di atas mungkin pernah dilakukan oleh kita saat mendaki, baik disengaja ataupun tidak. Untuk menebusnya cukup mudah. Tidak melakukan pencemaran dan pengrusakan lagi dan ikut aktif menyuarakan semangat pendakian konservatif di gunung manapun dan kapanpun.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan_Pemerhati Kepecintaalaman & Pendakian Gunung (adji_travelplus@yahoo.com)

NB: Tulisan ini boleh disebarluaskan atau digunakan untuk materi pendidikan dan diskusi, asal mencantumkan penulis dan sumbernya.

Read more...

10 Kiat Menanamkan Spirit Pendakian Bernilai Konservasi


Kegiatan pecinta alam di Tanah Air belakangan ini kembali bergairah. Ditandai dengan tingginya animo mendaki gunung, termasuk rencana menggelar ekspedisi terbaru. Sayangnya semangat mengajak orang mendaki gunung belum dibarengi dengan semangat mensosialisasikan nilai-nilai konservasi.

Bukti menggeliatnya dunia petualangan khususnya pendakian gunung, selain disebutkan di atas. Pun dibuktikan dengan munculnya komunitas-komunitas penggiat alam bebas baru yang menitikberatkan pada pendakian instan.


Naik gunung sampai puncak, narsis-narsisan lewat foto atau video lalu turun. Itu saja, dan cara itu terus berlanjut ke gunung-gunung berikutnya.

Wajah-wajah fresh pendaki baru, muda, dan enerjik bermunculan bak jamur di musim penghujan.

Mereka adalah pendaki era digital yang datang saat perlengkapan pendakian semakin beragam dan komplit, termasuk peralatan pendakian navigasinya yang serba digital.

Mereka hadir di era narsisme lewat bermacam jejaring sosial dunia maya, yang memudahkan mereka terhubung lalu bergabung dengan komunitas pendaki lain atau bahkan membentuk komunitas baru, cepat dan lagi-lagi instan.

Bukti lain bergairahnya dunia pendakian, munculnya rencana ekspedisi berupa pendakian ke gunung-gunung terpilih untuk menjadi orang/kelompok yang pertama. Misalnya ada yang ingin melakukan pendakian solo 25 gunung secara berantai.

Ada juga yang mau mengadakan pendakian perempuan ke 7 puncak gunung tertinggi di Tanah Air, dan ada juga yang berencana mengajak anak-anak kecil mendaki bersama ke puncak-puncak tertinggi.

Kabar rencana aneka ekspedisi tersebut jelas kabar yang menggembirakan. Maklum ekspedisi gunung sempat mati suri, padahal dulu pernah booming pada era 70-an dan 80-an, terutama didominasi oleh dua organisasi kepecintaalaman pertama dan terbesar ketika itu Mapala UI dan Wanadri.

Kini dengan adanya rencana ekspedisi tersebut, jelas memberi warna baru mengingat ekspedisi tersebut dilakukan oleh organisasi atau orang diluar kedua organisasi tua tersebut.

Bila semangat mendaki gunung serta ekspedisi yang akan dilakukan itu dibarengi dengan kegiatan konservasi, minimal membawa turun sampah sendiri apapun itu, tentu akan berdampak positif bagi kondisi gunung di Tanah Air yang hingga kini sebagian besar masih merana karena belum terbebas dari sampah produksi pendaki.

Sejatinya harus ada kegiatan kepecinataalaman/petualangan yang bernilai konservasi secara kontinyu untuk paling tidak mengimbangi kegiatan pendakian atau ekspedisi semata.

Biarlah pendakian dan ekspedisi marak dengan segala pencapaian prestasi terbaru, baik sebagai yang pertama, tercepat, ataupun terbanyak.

Karena itu pun menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia petualangan pendakian di manapun. Namun alangkah bijaknya bila dibalut dengan selimut konservasi.

Berikut 10 (sepuluh) kiat menanamkan spirit bernilai konservasi dalam kegiatan kepecintaalaman, petualangan, khususnya pendakian gunung:

1. Membuat Diskusi Pendakian Konservasi
Tujuannya untuk mencetak pendaki-pendaki bermental konservasi, ramah lingkungan, dan selalu menyuarakan spirit go green mountaineering.

Diskusi harus diikuti oleh komunitas pendaki atau pecinta alam baik tingkat SMU maupun umum, serta pengelola paket-paket petualangan pendakian.

Diskusi tersebut sebaiknya diisi oleh narasumber dari kalangan pendaki dan lainnya yang konsen menggaungkan pendakian konservasi di berbagai media.

2. Rutin dan Biar Tak Jenuh
Diskusi pendakian konservasi harus dilakukan rutin. Biar tak jenuh, sebaiknya dikemas secara kreatif dan menarik, misalnya tempatnya bergantian di indoor dan outdoor.

Kalau menggelar diskusi outdoor bisa berbentuk perkemahan bersama yang diisi dengan pensosialisasian pendakian konservasi.

3. Menerapkan Pendakian Konservasi
Selalu melakukan pendakian gunung baik perorangan, kelompok kecil maupun pendakian massal yang berkonsep konservasi, minimal menurunkan sampah sendiri dan kelompok.

4. Aksi Bersih Plus Sosialisasi
Lebih bagus lagi bila menggelar aksi bersih gunung atau ada yang menyebutnya opsih (operasi bersih) disertai dengan pensosialisasian pendakian konservasi. Kemudian hasil kegiatan tersebut disebarluaskan ke berbagai media. Lebih baik lagi mengikutsertakan sejumlah media pers agar gaung informasinya lebih meluas.

5. Untuk Investasi Masa Depan
Jadikan kegiatan bernilai konservasi sebagai investasi masa depan. Sesering mungkin digelar di berbagai tempat/kota/daerah agar sasarannya lebih luas. Paling tidak minimal satu kali dalam setahun mengadakan kegiatan bernilai konservasi, entah diskusi, perkemahan ataupun pendakian konservasi bersama.

6. Ikut Berkontribusi
Ikut andil dalam menyuarakan atau mensosialsasikan pendakian konservasi sekecil apapun, mulai dari teman terdekat hingga ke kelompok/komunitas lain lewat berbagai cara seperti diskusi, membuat tulisan dan buku yang memuat pesan nilai-nilai konservasi.

7. Gandeng Perusahan Makanan & Minuman
Ajak sejumlah perusahaan yang terbukti memproduksi bermacam produk makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi pendaki atau dibawa saat pendakian, untuk bekerjasama mensponsori atau membantu mendanai pelaksanaan bermacam kegiatan pensosialisasian nilai-nilai konservasi seperti diskusi, kemah dan pendakian konservasi.

8. Buat Aksi Simpatik
Bila perusahaan-perusahaan yang dimaksud tidak mau mendukung, lakukan aksi simpatik agar mereka ikut bertanggungjawab atas pencemaran termasuk di gunung dengan memproduksi kemasan produk yang ramah lingkungan.

9. Kuatkan Mental
Jangan mengeluh apalagi menyerah bila ada segelincir orang termasuk pendaki yang mencibir atas usaha pensosialisasian pendakian konservasi yang Anda galakkan.

Setiap aksi pasti ada yang pro dan kontra, ada yang mendukung dan ada pula yang mencemooh.

Sejauh yang Anda lakukan itu positif untuk menjaga keasrian gunung-gunung di Tanah Air, itu lebih mulia daripada rajin mendaki dan berekspedisi tapi justru hanya menambah pencemaran dan perusakan.

10. Sinergi Konservasi
Menjalin sinergi yang kuat antarpendaki, baik komunitas pendaki yang hanya mencari kesenangan ataupun prestasi dengan pendaki/komunitas konsen berjuang menyebarluaskan nilai-nilai konservasi.

Misalnya dengan bekerjasama mengadakan kegiatan konservasi entah itu diskusi, kemah, pendakian dan lainnya yang bermuara pada penanaman wawasan konservasi.

Sekali lagi, semangat mengajak orang-orang untuk menyukai gunung hingga mereka akhirnya rutin mendaki, itu bagus.

Tapi lebih bagus lagi, bila diiringi dengan semangat melakukan kegiatan konservasi tiada henti.

Dengan begitu secara tidak langsung, Anda sudah berjasa menanamkan dan membentuk pendaki bermental konservasi selain mewariskan pengetahuan dan pengalaman pendakian Anda ke generasi pendaki berikutnya.

Naskah & Foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com)

NB: Tulisan ini boleh disebarluaskan atau digunakan untuk materi pendidikan dan diskusi, asal mencantumkan penulis dan sumbernya.

Read more...

Rabu, 25 Agustus 2010

Indonesia Tampilkan Tari Saman dan Lenso di Belanda


Pemerintah Indonesia akan mengadakan Indonesia State Dinner atau Jamuan Makan Kenegaraan di Kurhaua Hotel, Den Haag, Belanda yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Ratu Beatrix, tanggal 7 Oktober mendatang.

“Dalam acara santap malam pada kunjungan kenegaraan itu akan ditampilkan Indonesia Cultural Performance dengan menyuguhkan antara lain Tari Saman dari Aceh dan Tari Lenso dari Maluku”, kata Pelaksana Tugas Direktur Promosi Luar Negeri, Ditjen Pemasaran, Kementerian Kebudayaan Pariwisata (Kemenbudpar), Syamsu Nusa.

Terkait dengan acara tersebut, Ditjend Pemasaran Kemenbudpar menggelar audisi Tari Saman di Gedung Sapta Pesona Kemenbudpar, Selasa (24/8/2010). Ada sembilan tim Tari Saman 5 dari sekolah dan 4 sanggar tari yang ikut audisi yakni SMP Islam Al Ikhlas Jakarta, SMA Islam Al Izhar Pondok Labu, SMA Dian Didaktika Islamic School Cinere, SMA Islam Al Azhar 1 Kebayor an Baru, SMA Negeri 68 Jakarta, Sanggar Gema Citra Nusantara, Diah Group, Sanggar Tari Pimpinan Ayoub, dan Blitarose Dancer.

Kesembilan tim tersebut diaudisi oleh tiga juri, yaitu Triesna Wacik (istri Menteri Pariwisata Jero Wacik), Wahyuni Saptatinah (Kepala Bagian Museum dan Sanggar Seni Rumah Tangga Kepresidenan), dan Marjuki Hasan (dosen Institut Kesenian Jakarta) yang akan memilih satu tim terbaik untuk ikut dalam rombongan SBY ke Den Haag, Belanda.

Dalam audisi yang berlangsung sore hari, satu tim Tari Saman terdiri atas 12 penari menampilkan bermacam gerak Tari Saman berdurasi 7 menit.

Syamsu Nusa mengatakan, tim yang tidak berhasil terpilih tidak perlu berkecil hati. “Sebaiknya terus berlatih untuk berhasil di audisi-audisi berikutnya, mengingat tahun 2011 nanti sudah ada sekitar 100 event promosi luar negeri yang memerlukan tim tari sebagai cultural performance,” jelasnya seraya menambahkan sebelumnya sudah digelar audisi untuk Tari Lenso tanggal 20 Agustus lalu di Ambon yang berhasil memilih 6 orang penari Lenso dari Ambon.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 22 Agustus 2010

Menyusuri Kerajaan Biawak



Melihat seekor biawak berjemur di atas batu di pinggir sungai itu biasa. Tapi kalau puluhan biawak berebut ikan di pantai, itu baru luar biasa. Itu mungkin cuma bisa Anda lihat di Pulau Biawak, Indramayu, Jawa Barat. Pasalnya, pulau tersebut jadi kerajaan ribuan biawak yang hidup bebas sejak ratusan tahun silam.

Pulau Biawak termasuk satu satu pulau yang ada di Kepulauan Rakit di perairan Indramayu, Jawa Barat. Dinamakan Pulau Biawak karena sekitar 1.000 ekor lebih biawak komodo (Varanus salvator) bermukim di sana sejak lama.

Pulau tak berpenduduk ini luasnya sekitar 120 Ha, terdiri atas 80 Ha ekosistem hutan bakau (mangrove) dan sisanya 40 Ha hutan. Floranya didominasi berbagai jenis bakau yang sudah langka dan mulai jarang dijumpai di pesisir Pantai Utara (Pantura).

Pulau ini pun memiliki padang lamun yang cukup luas, mencapai 1/3 pulau. Kebaradaan padang lamun ini sekaligus diduga menjadi tempat mencari makan (feeding ground) bagi ikan duyung (Dugong dugong).

Selain biawak sebagai satwa utama, di pulau ini Anda juga mudah menemui kelelawar dan beragam jenis burung air, di antaranya Trinil pantai (Bubulkus ibis) dan Burung udang biru (Alcedo caerulescens).

Kondisi hutannya, terutama mangrove yang relatif masih utuh dan terjaga, membuat jutaan burung yang migrasi setiap pergantian musim dari Benua Australia ke Asia atau sebaliknya, betah transit di pulau ini.

Pulau lain yang masih dalam gugusan Kepulauan Rakit, seperti Pulau Gosong dan Rakit Utara juga dijadikan sebagai terminal pemberhentian bagi jutaan burung itu setelah terbang sejauh ribuan kilometer. Burung-burung itu singgah sekitar 3 bulan.

Di Pulau Biawak, aneka burung itu bukan cuma bersarang di vegetasi hutan sisi timur yang kondisi tegakan hutannya relatif tinggi, tapi juga melakukan reproduksi, kawin, dan menetaskan telurnya.

Perairan pulau Biawak juga kaya aneka jenis ikan pangan dan hias. Bahkan berdasarkan penelitian, jenis ikannya lebih banyak daripada di Kepulauan Seribu, Jakarta. Beberapa di antaranya predator air yang terkenal seperti hiu martil dan ikan pari. Di beberapa bagian pantainya menjadi sarang bagi kepiting besar. Bentuk sarangnya unik dan besar, sepintas mirip dataran di planet lain.

Sayangnya, seperti di pulau-pulau lainnya, beberapa bagian pulau ini pun mengalami ancaman abrasi. Terutama di bagian pulau yang langsung berhadapan dengan laut lepas, hembusan angin, dan gempuran ombak.

Meskipun sejak tahun 1995 pulau ini sudah dijadikan sebagai daerah konservasi laut Kabupaten Indramayu, namun menurut pengamat lingkungan, jika abrasi tidak segera dicegah, dalam kurun waktu puluhan tahun ke depan, daratannya lambat laun kian tergerus bahkan mungkin bisa tenggelam.

Snorkeling & Birdwaching
Belum banyak orang yang tahu keberadaaan dan isi Pulau Biawak. Selama ini, pengunjung yang datang kebanyakan para nelayan di sekitar Pantura, pemancing, pegiat alam dan lingkungan dari Indramayu dan sekitarnya termasuk dari Jakarta. Para pemancing biasanya datang untuk menangkap aneka jenis ikan, sementara pegiat alam dan lingkungan melakukan observasi ataupun penelitian tentang keberadaan biawak, burung, dan lainnya.

Banyak aktivitas lain yang dapat anda lakukan di pulau ini. Misalnya berenang, snorkeling untuk menikmati taman laut yang dihuni beraneka ikan hias, memancing, berjemur atau sekadar santai di pasir putihnya.

Kalau Anda gemar fotografi, banyak objek menarik untuk diabadikan, mulai dari tingkah laku biawak, panorama alam, dan mercusuarnya. Di pulau ini memang terdapat mercusuar kuno peninggalan Belanda, bernama Willem III buatan abad XVII. Mercusuar setinggi 50 meter ini dibuat oleh Belanda pada tahun 1872. Dari puncak mercusuar, kita bisa melihat dan memotret seluruh bagian pulau.

Suka burung? Anda bisa mengamati burung (bird watching) dengan monokuler. Tak begitu sulit melihat rombongan burung dengan mata telanjang. Burung-burung itu biasanya melakukan migrasi harian ke pesisir pantai sekitar Indramayu untuk mencari makan pada siang hari dan kembali pada sore hari.

Anda pun dapat menikmati fenomena matahari tenggelam di balik lautan dari puncak mercusur. Malam harinya, dilanjutkan dengan api unggun sambil bakar ikan laut hasil tangkapan sendiri atau esok siangnya menikmati air kelapa muda yang di ambil dari pohon nyiur yang tumbuh di sekitar mess.

Seperti Komodo
Pulau Biawak memang kerajaannya biawak. Kadal besar ini tersebar di seluruh daratannya. Kalau Anda menyusuri pantainya, pasti bakal melihat beberapa biawak yang sedang mengintip dari balik rerimbunan bakau, berjemur di pantai atau di bawah kerindangan semak belukar. Bahkan ada yang sedang asyik berenang di aliran sungai dan padang lamun. Kalau Anda memasuki hutan, juga akan menemukan sarangnya. Ciri sarangnya mudah dikenali, berbentuk lubang di pasir atau tanah, kondisi sarangnya bersih dan ada tapak cakarnya yang membekas di pasir.

Bila malas menjelajahi pulau ini, ada trik khusus agar Anda bisa melihat dan memotretnya, yakni dengan memberi umpan ikan mentah atau sisa ikan bakar yang Anda santap. Semakin banyak umpan berupa ikan, bau amisnya akan semakin menarik perhatian biawak untuk keluar dari sarangnya lalu mendekat. Bisanya kalau sudah mengendus bau amis ikan, satu persatu mereka datang untuk menyantapnya. Ikan yang disantapnya ditelan utuh. Meskipun terlihat jinak, Anda harus waspada. Karena penjaga mercusuar setempat ternyata pernah digigit biawak. Menurutnya, gigitannya seperti terkena sayatan silet.

Perilaku biawak di pulau ini memang agak berbeda dibanding biawak yang ada di daerah lain. Mungkin karena terisolir dengan komunitas biawak dari habitat lainnya selama ribuan tahun dan beradaptasi dengan kondisi alam pulau ini. Bentuknya mirip sekali dengan komodo. Ukurannya paling kecil 80 cm dan terbesar mencapai 2 meter lebih, lebar badannya seukuran paha orang dewasa yang gemuk. Kulit di bagian bawah perutnya berwarna agak kekuning-kuningan oleh sebab itu disebut juga biawak kuning. Kuku-kukunya panjang dan ototnya kuat, mampu berdiri saat sesama jantan berkelahi.

Penciumannya sangat kuat tapi penglihatannya lemah. Oleh karena itu mereka kerap mencari makan pada siang hari dan kembali ke sarangnya saat senja. Mereka menyukai kawasan rawa-rawa, pinggir pantai, dan aliran sungai. Biawak air ini mampu menyelam dan berburu ikan di air. Meskipun termasuk hewan predator tapi tidak terlalu buas. Ia pemakan segala (omnivora), santapannya berupa serangga, telur burung, mamalia kecil, dan ikan.

Di pulau ini, biawak cepat sekali berkembangbiak. Ada masa dimana mereka kawin dan bertelur. Biasanya jantan dan betina dewasa mulai bercumbu pada bulan Maret dan April. Lalu kawin pada bulan Mei dan Juni. Pada bulan Juli-September betinanya bertelur di sarang kemudian mengeram selama 60 hari. Setiap betina menelurkan 20-40 butir. Namun tidak semuanya menetas, paling sekitar 20- 30 ekor yang berhasil menjadi bayi biawak karena disantap predator lain.

Keberadaan biawak di pulau ini agak terlindungi dengan adanya mitos yang melarang membunuh biawak di sana. Jika dilanggarm pembunuhnya akan ketiban celaka. Walaupun tidak diburu tapi tetap saja keberadaan biawak ini terancam, mengingat pengawasan di pulau ini belum maksimal.

Sementara permintaan akan biawak tak pernah sepi mengingat biawak punya nilai komoditas cukup tinggi. Dagingnya banyak disantap orang karena konon dipercaya sebagai obat kulit dan gatal-gatal. Kulitnya diambil untuk bahan baku tas, dompet, ikat pinggang atau ada yang diawetkan utuh untuk pajangan ruang tamu.

Buktinya, ada warung sederhana masih di kawasan Pantura yang dengan gamblang menuliskan menunya, ‘menyediakan sate binyawak’. Bisa jadi daging biawak yang dijual diwarung itu di antaranya dipasok dari negeri biawak. Mengenaskan.

Tips
Pulau Biawak merupakan salah satu wilayah Kabupaten Indramayu yang terletak dilepas pantai Laut Jawa, kurang lebih 40 km atau sekitar 26 mil di sebelah utara Indramayu. Cukup mudah menjangkaunya. Dari Jakarta dengan bus umum sekitar 4 jam ke Indramayu dan lebih kurang 5 jam lagi menyeberangi Laut Jawa dengan kapal kayu bermotor.

Pulau ini masih sebagai obyek wisata terbatas yang menjual keaslian alam. Oleh karena itu, belum banyak prasarana penunjang buat pengunjung umum. Dermaga yang permanen tidak ada. Dulu dermaga kayu pernah dibuat tapi hancur terhantam ombak. Ketika kami datang, tinggal sisa kayu-kayu penyangganya saja. Di sana juga belum tersedia penginapan. Biasanya rombongan pegiat alam dan lingkungan yang datang, membuka tenda di dekat kompleks mess panjaga mercusuar. Atau menginap di mess penjaga mercusuar kalau mereka datang dalam jumlah kecil.

Transportasi laut satu-satunya dengan menyewa kapal kayu motor milik penduduk nelayan pesisir Indramayu, seperti di Pantai Balongan dan di Muara Brondong, Desa Brondong. Harganya bisa dinegosiasi. Perjalanan lautnya cukup panjang dan berbahaya pada waktu-waktu tertentu. Menurut beberapa nelayan, sudah banyak gelombang laut dan karangnya menenggelamkan perahu nelayan yang kurang waspada. Oleh karena itu, kalau pergi dalam jumlah besar, sebaiknya membawa life jacket atau pelampung penyelamat sendiri dan minum obat anti mabok laut agar perjalanan lebih nyaman.

Sebelum berangkat, sebaiknya konsultasi dulu dengan pemilik kapal, apakah kondisi cuaca dan gelombang laut memungkinkan untuk ditempuh, termasuk kelayakan dan perlengkapan perahunya. Kalau ingin pulang dari Pulau Biawak ke Indramayu sebaiknya pada pagi hari atau sewaktu air laut masih pasang agar perahu bisa lebih mendekat ke pantai. Sebab kalau air surut, perahu akan bertabrakan dengan hamparan atol karang yang banyak terdapat di perairan pulau ini.

Kalau berencana tinggal beberapa hari, selain tenda, pengunjung harus membawa perlengkapan mandi, masak, makan, minum, dan obat-obatan sendiri, termasuk lotion anti nyamuk. Pulau ini tidak berpenduduk, tidak ada warung, rumah makan, dan fasilitas umum lain. Minumlah pil anti malaria seminggu sebelum berangkat dan sepulang dari pulau ini. Bawa pula perlengkapan memancing dan peralatan aktivitas lain untuk mengusir jenuh.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 19 Agustus 2010

Mudik Nyaman Via Kereta Wisata



Mau pulang kampung (mudik) tanpa berdesak-desakan? Coba saja naik Kereta Api (KA) Wisata yang kembali ditawarkan PT KA. Pasti Anda bakal merasakan bermacam fasilitas dan kenyamanan yang memuaskan. Namun untuk menikmatinya, Anda harus merogok kocek puluhan juta.

Seperti tahun sebelumnya PT KA menawarkan 3 gerbong KA Wisata, yakni KA Nusantara, KA Toraja, dan KA Bali yang dapat Anda sewa dengan tarif khusus sesuai jarak. KA ini disambungkan dengan dengan KA kelas Argo sesuai kapasitas tarik lokomotif.

KA Nusantara berkapasitas 19 tempat duduk eksklusif, kamar tidur untuk 2 orang yang dilengkapi kaca rias, lampu tidur, dan wastafel. Gerbong ini juga dilengkapi balkon VIP , jadi Anda dapat melihat pemandangan ke arah luar arah belakang secara leluasa. Di lobi tengah Anda dapat berkaroke atau menonton TV, ruangannya ditata mewah berikut fasilitas audio-video, TV monitor, AC, dan kamar mandi. Desain interior dan segala aksesoris di KA Nusantara menggambarkan seni dan keindahan dari berbagai pelosok Nusantara.

KA Toraja bernomor seri S67802 memiliki 22 tempat duduk eksklusif, 16 tempat duduk di meeting room, dan 6 tempat duduk di ruang khusus (kabin). Sama seperti KA Nusantara, KA ini pun dilengkapi minibar, kamar mandi, fasilitas audio-video, dan AC. Desain interiornya serta ukiran dan lukisan di dinding kereta bermotif seni budaya Tana Toraja.

Begitu pula dengan fasilitas dan desain interior dan pernak-pernik KA Bali, yang mencerminkan seni budaya Bali seperti lukisan penari perempuan Bali dan lainnya.

Untuk menikmati KA Wisata yang dijadikan satu rangkaian dengan KA eksekutif itu, Anda harus menyewa satu gerbong yang tarifnya mencapai Rp 20 juta per satu gerbong atau setara dengan 40 tempat duduk KA Argo Gede yang harga tiketnya sekitar Rp 500.000 per orang.

Tarif KA Wisata dari Jakarta ke Yogyayakarta dan Solo Rp 17,5 juta. Sedangkan dari Jakarta ke Surabaya (Rp 20 juta). Kalau di bagi 22 orang tidak sampai 1 juta per orang.

Kendati tarifnya lumayan mahal, namun permintaan KA Wisata ini banyak, terutama mereka yang berkantong tebal seperti kalangan pejabat dan artis. Tahun 2009 lalu Mantan Menkeu Fuad Bawazier menyewa KA Wisata ini untuk mudik ke Cilacap. Sedangkan artis Mayang Sari dan keluarga menggunakannya untuk balik ke kampung halamannya, Purwokerto.

Nah, kalau Anda punya dana berlebih dan ingin menikmati kenyamanan dan fasilitas mewah KA Wisata, mengapa tidak mencobanya. Sekali-kali memanjakan diri mudik dengan KA khusus ini tidak masalah bukan. Kalau Tahun ini belum bisa, ya coba saja mudik lebaran tahun depan.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Delapan Ajakan SBY Demi Indonesia Lebih Baik, Aman, & Lebih Maju


Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengajak seluruh lapisan rakyat Indonesia termasuk pemerintah untuk kompak dan bersatu menciptakan Indonesia yang lebih baik, aman, dan lebih maju. Ada delapan butir ajakan SBY terkait hal itu. Beberapa butir ajakannya tentu erat hubungannya dengan perkembangan pariwisata Indonesia. Apa saja isi ajakannya?

Delapan ajakan SBY yang disampaikan dalam acara Silaturahim dengan pasukan pengibar bendera pusaka (Paskibraka), para teladan tingkat nasional, atlit berprestasi, Gita Bahana Nusantara 2010, peserta lomba foto pembangunan Indonesia 2010 dan lainnya di Hall D2, Jakarta International Expo, Kemayoran, Rabu malam (18/8), sebagai berikut:

1. Pandai-pandailah Bersyukur
Bersyukurlah karena kita menjadi bangsa yang merdeka, dan berhasil mengatasi cobaan yang datang silih berganti. Misalnya berhasil mengatasi terjangan krisis global, bahkan ekonomi kita tetap selamat dan tumbuh.

2. Cintai dan Bangga pada Bangsa & Negeri Sendiri
Jangan memperolok-olok diri atau bangsa sendiri, lalu memuja-muja bangsa lain. Seharusnya banggalah menjadi Bangsa Indonesia dan mencintai sepenuh hati. Sebab bangsa kita besar dan memiliki sejarah dan peradaban yang besar pula.

3. Saling Sayang, Rukun, dan Bersatu
Sebagai satu bangsa, jangan membeda-bedakan secara negatif. Jangan berhadap-hadapan meski berbeda politik. Semestinya selalu menjaga persatuan dan kesatuan sebagai bangsa yang majemuk.

4. Jangan Mudah Menyalahi atau Mencerca Saudara Sendiri
Jangan suka melihat kekurangan orang lain sampai lupa membenarkan kesalahan sendiri. Jangan hanya melihat sisi buruk orang lain tanpa melihat sisi baiknya. Bila masih berkutat menyalahi dan mencerca saudara sendiri, kita akan tertinggal dengan bangsa lain.

5. Cari Solusi Damai Terbaik
Bila terjadi perselisihan, perbedaan atau konflik sesama saudara se-Indonesia agar segera dicari solusinya yang terbaik secara damai dan musyawarah sesuai norma adat, ajaran agama atau pranata sosial. Bukan dengan kekerasan atau main hakim sendiri hingga jatuh korban sia-sia.

6. Tegakkan Kedaulatan Negara
Kalau ada yang mengganggu kedaulatan wilayah negara kita, harus kita lawan. Kalau ada daerah yang ingin memisahkan diri dari Indonesia harus dicegah dengan cara-cara yang baik. NKRI harus tetap untuh dan berdiri tegak.

7. Jaga Keamanan dan Kestabilan
Agar ekonomi kita tumbuh maka hukum harus ditegakkan, korupsi dan makelar kasus diberatas, dan para penyelenggara negara dari tingkat daerah hingga pusat harus bekerja sungguh-sungguh melayani rakyat. Agar negara maju, kita harus mengajak semua lapisan masyarakat baik LSM, dunia pendidikan, dan dunia usaha untuk bersama membangun bangsa dan negera ini. Jangan buat huru-hara. Politik harus stabil, dengan begitu ekonomi bisa tumbuh dan kesejahteraan rakyat meningkat.

8. Pemimpin dan Masyarakat Saling Dukung
Pemimpin harus mengayomi, menyayangi, dan membangun rakyatnya. Pemimpin tidak boleh membeda-bedakan masyarakatnya yang majemuk. Sementara masyrakat harus memberi dukungan penuh pemimpinnya tanpa melihat agamanya maupun partainya.

Kedelapan butir ajakan yang disampaikan SBY tersebut disambut tepuk tangan hangat dan meriah oleh undangan dari bermacam provinsi dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid 2.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 18 Agustus 2010

Lampung Juara Kategori Umum Lomba Foto Pembangunan Indonesia 2010



Foto ber-judul “Bu-didaya Kekaya-an Laut Lam-pung” jepretan Budhi Marta Utama dari Lampung meraih juara pertama Lomba Foto Pembangunan Indonesia 2010 untuk kategori Umum. Foto yang diambil dari atas pesawat terbang ini menyisihkan 9 finalis lainnya yang dinilai tim juri nasional atas dasar kesesuaian tema, daya tarik, keunikan, dan harmonisasi. Penjurian dilakukan pada Hari Kemedekaan RI ke-65 di Jakarta.

Bertepatan dengan acara Silaturahim Bapak Presiden RI dengan peserta lomba foto bertema “Karya Pembangunan Bangsaku” tersebut, para pemenang lomba foto menerima hadiah berupa uang, tropi, dan piala yang diserahkan langsung oleh Susilo Bambang Yudhoyono di Hall D2, Jakarta International Expo, Kemayoran, Rabu malam, (18/8).

Lampung juga menyabet juara II kategori Mahasiswa lewat foto berjudul "Pendidikan" karya Suhandi dan juara harapan I kategori Pelajar berkat foto "Mereka adalah Penerus Bangsa" bidikan Chrisila Wenti Sari.

Provinsi lain yang sama-sama menyabet 3 penghargaan dalam lomba foto yang kali pertama digelar Direktorat Jenderal (Ditjen) Nilai Budaya, Seni, dan Film (NBSF), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) ini adalah Bali dan Jawa Timur.

Bali menyabet antara lain Juara I kategori Mahasiswa lewat foto bertajuk "Non Diskriminasi" karya Syafi’udin. Sedangkan Jawa Timur antara lain meraih Juara I kategori Pelajar lewat foto "Langkah Kaki Anak Negeri" karya Bintang Dewi Wilis.

Sejumlah foto Pembangunan Indonesia 2010 beserta foto-foto karya Ani Bambang Yudhoyono dan lomba cipta desain motif batik, lukis, puisi serta lomba cipta lagu bertema kebangsaan, semalam dipamerkan di lobby Hall D2, gedung yang sama. Semua karya seni tersebut akan dipamerkan ke beberapa tempat lagi antara lain di Galeri Nasional pada tanggal 20-25 Agustus.

Usai acara, Menbudpar Jero Wacik mengatakan Lomba Foto Pembangunan Indonesia dan juga karya seni lain yang digelar Kemenbudpar tahun ini merupakan gagasan SBY yang bertujuan untuk menanamkan rasa cinta tanah air dan membangun karakter bangsa. “Lewat foto-foto ini setidaknya memberikan informasi kepada masyarakat luas tentang pembangunan Indonesia yang sudah dan tengah berlangsung, sekaligus memacu semangat untuk membangun Indonesia lebih maju dan sejahtera,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 17 Agustus 2010

Berbagi Pengalaman Petualangan di Bukberpala 2010



Penggiat alam bebas se-Jakarta, Bogor, Depok, Tange-rang, dan Bekasi (Jabodetabek) menggelar buka puasa bersama di Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Minggu (15/8). Ada 20-an orang yang hadir dari beberapa komunitas pecinta alam. Selain diwarnai dengan obrolan hasil perjalanan lalu dan rencana kedepan serta perkenalan, pun diisi dengan berbagi pengalaman petualangan yang mencerahkan.

Usai kumandang azan magrib, peserta yang hadir berbuka puasa dengan minuman es kelapa dan penganan kecil. Dilanjutkan dengan shalat Magrib berjamaah dan makan bersama.

Selepas makan, acara diteruskan dengan sambutan dari perwakilan komunitas yang hadir antara lain Asih dan suami selaku tuan rumah, komunitas Purpala, Tim SAR Cikurai, dan Milist Pangrango. Isi sambutan mereka intinya sama mengucapkan terimakasih atas terselenggaranya acara dan kehadiran peserta meskipun lokasinya jauh.

Acara buka bersama pecinta alam (bukberpala) dari berbagai komunitas untuk kali pertama ini diteruskan dengan sharing pengalaman, usai perkenalan seluruh peserta satu per satu.

Meskipun santai, acara berbagi pengalaman dadakan itu ternyata cukup berisi. Harley Bayu Sastha_pendaki gunung sekaligus penulis buku Mountain Climbing for Everybody ini berbagi pengalaman bagaimana caranya membuat buku pedoman mendaki gunung untuk umum pertamanya itu. “Yang terpenting kita tahu apa yang kita tulis dan tujuannya utuk apa,” jelas Ale, begitu sapaan akrabnya yang tengah menulis buku pendakian gunung seri kedua dan rencananya akan diterbitkan setelah Idul Fitri.

Lain lagi dengan Wahyu_petualang senior yang belum lama ini memimpin pencarian sejumah pendaki yang hilang di Gunung Cikurai, Garut, Jawa Barat. Selain menceritakan pengalaman suka dukanya sampai 6 kali SAR di gunung tersebut namun belum menemukan hasil, dia pun memberi sedikit wejangan bagaimana mengikuti SAR. “Sebaiknya pendaki yang ingin ikut SAR harus benar-benar siap baik secara fisik-mental, skill maupun peralatan. Jangan sampai justru merepotkan tim atau malah jadi korban yang di-SAR,” jelasnya.

Saya yang berlatar jurnalis dan diminta Ajhies selaku moderator untuk berbagi pengalaman seputar dunia jurnalistik petualangan, berkesempatan memaparkan bagaimana menulis hasil perjalananan sesuai apa yang dilihat, didengar, dan dialami ditambah data skunder kemudian di-publish ke media massa baik cetak maupun online.

Pada kesempatan baik itu, saya memberikan sedikit kiat agar pendakian yang dilakukan para penggiat alam bebas dapat bernilai plus dengan melakukan aksi konservasi, minimal membawa turun sampah sendiri, termasuk menghargai adat dan tabu penduduk setempat.

Setelah doa bersama, bukberpala 2010 ditutup dengan foto bersama. Kendati pencinta alam yang hadir tidak terlampau besar, namun peserta cukup antusias bertanya saat berbagi pengalaman. Mudah-mudahan sharing tersebut dapat memberi pencerahan baru yang positif dan diterapkan dalam setiap pendakian maupun petualangan lain berikutnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@ayahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP