. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Jumat, 30 Juli 2010

Good Mister Juara Foto Sadar Wisata 2010



Foto bocah lelaki Bali sedang memberi salam kepada turis pria tua berjudul Good Mister ini keluar sebagai juara pertama Lomba Foto Sadar Wisata 2010. Foto karya Anom Manik Agung dari Denpasar Bali ini mengalahkan 1.468 lembar foto hasil jepretan 367 fotografer dari seluruh Indonesia.

Read more...

Rabu, 28 Juli 2010

Enam Negara Gapai 2.958 Mdpl

Manajemen perjalanan yang baik, kekompakan, dan stamina prima, menjadi kunci rahasia  keberhasilan menggapai puncak Gunung Gede bersama pendaki mancanegara. 

Penggiat alam bebas dari 6 negara, bersama menggapai puncak Gunung Gede, Jawa Barat,  (25/7). Pasca-pendakian antarnegara itu, beberapa di antaranya berencana berpetualang ke objek alam Indonesia lainnya.

Kawah lebar dan menganga itu tampil gagah sekaligus seram dengan gigir tebingnya yang curam. Tak berlebihan bila di sepanjang setapak puncaknya diberi pembatas berupa tali agar pendaki tidak terpeleset dan jatuh ke dasar kawah. 

Masih di sebelah Barat, Gunung Pangrango berdiri anggun berselimut hutan hujan tropis, hijau rimbun. Sedangkan di sebelah Selatan, terlihat jelas savana (hamparan padang rumput) berwarna krem berhias pohon edelweiss (Anaphalis javanica). 


Itulah Aa Surken, lembah seluas 50 hektar yang indah dan tentu saja berudara dingin. Di sanalah, kami bermalam dengan mendirikan 7 tenda dome, tak jauh dari sumber mata air yang tak pernah kering.

Bukan panorama alam dari puncak Gede saja yang buat aku takjub. Keberadaan seorang pria penjual nasi uduk di puncak itu juga tak urung bikin aku terheran-heran. Gayanya seperti pendaki saja. Memakai raincoat (jaket hujan), balaklava (penutup kepala dari wol), dan daypack (ransel kecil) yang berisi dagangannya. Bayangkan dia harus mendaki sampai puncak cuma untuk menjual nasi uduk kuning dengan sedikit bihun dan potongan telur dadar goreng ukuran kecil seharga Rp 5.000 per bungkus.

 Lantaran penasaran ingin memotret isi nasi bungkus dan pedagangnya, aku pun membeli sebungkus nasi uduknya ditambah 3 gorengan bakwan jadi Rp 10.000. Ternyata nasi uduk khas Gunung Gede itu, lumayan enak meski dingin. Alison, Sally, dan Alexis mencicipi juga.

Usai minum teh hangat manis dan sarapan bubur kemasan yang dimasak tim porter, kami berfoto bersama berlatar kawah dan Gunung Pangrango. Wajah para pendaki mancanegara ini nampak semringah (cerah), lebih semringah dibanding saat foto bersama di awal pendakian lewat Gunung Putri. Mungkin mereka senang karena berhasil menggapai puncak gunung terpopuler di Indonesia ini untuk kali pertama.

Langit puncak Gede mulai terang. Kami pun turun gunung, lewati jalur dari Cibodas. Tepat di atas medan bertebing agak curam, kami berkumpul lagi. Lalu secara bergantian meniti tali nilon berwarna biru, menuruni jalur berjuluk Tanjakan Setan. Disebut begitu karena banyak pendaki yang mengucap kata ‘setan’ saat memanjat tanjakan tersebut.

Semua pendaki mancanegara menuruni medan itu, kecuali Penny yang memilih lewat jalur lain bersama tim porter. Dia tak mau ambil risiko mengingat pergelangan tangannya pernah cidera dan tidak memungkinkan menuruni jalur itu.


Aku sengaja berangkat lebih dulu dari mereka. Dan menunggu di tengah jalur tersebut, untuk mengabadikan satu per satu aksi mereka bergaya abseiling (turun tebing).

Selepas jalur agak menantang itu, kembali para pendaki asing ini melaju begitu cepat, seperti saat mendaki. Sampai porter tak mampu menandingi. Itu berlangsung sampai pertigaan menuju ke puncak dan Curug (air terjun) Cibeureum.

Stamina mereka begitu prima karena rajin olahraga dan kegiatan luar ruang lain. Tentunya didukung postur tubuh yang proposional. 

Sally, gadis berwajah fresh yang berprofesi pengacara dan gemar fitnes ini kembali berada di posisi terdepan bersama Jean. Disusul pasangan kekasih Alexis dan Alison lalu Penny, Marie, dan Isabelle.

Terapi Air Hangat
Meski naik-turun melintas lewat jalur umum. Namun pendakian 6 negara ini terasa bernilai lebih. Pasalnya selain berhasil menggapai puncaknya dalam waktu yang relatif singkat dari jalur Gunung Putri. Pun sempat mengunjungi beberapa objek dan menikmati fasilitas alami saat turun lewat jalur Cibodas.

Jean dan Marie misalnya, sempat merasakan segarnya mandi di aliran sungai kecil berair hangat dekat Pos Kandang Batu. Lokasinya masuk agak ke dalam, meniti bebatuan berarus dan menerobos belukar.

Aku yang sedang mandi sendiri di tempat eksotik alami itu, sempat kaget dengan kedatangan Jean. Guru yoga beraksen Inggris khas Irlandia ini memang paling bermental petualang. Buktinya dia menyusulku sendiri, lalu menikmati kucuran air hangat yang mengalir deras dari bebatuan. Dia mencoba water massage theraphy (terapi pijat dengan air) seperti yang aku lakukan.

Jean permisi turun, ingin memanggil rekan lainnya. Tak lama berselang, dia datang bersama Marie. Aku gantian turun untuk mengambil kamera. Lalu kembali ke tempat semua untuk mengabadikan dua perempuan cantik yang begitu asyik menikmati mandinya, bak bidadari sedang ber-Spa.

Kami juga mendatangi Curug Cibeureum dan dua air terjun lagi yang sedang ramai pengunjungnya. Puluhan wisatawan lokal yang tengah menikmati air terjun nampak sedikit terkejut dengan kehadiran para pendaki asing itu. Jean beberapa kali dimintai foto bersama oleh pengunjung. Dia seperti selebritis Hollywood yang tengah dikerumuni fans-nya.

Sepulang dari curug tersebut, kami menyempatkan waktu ke Goa Lalay (kelelawar). Lokasinya agak terpencil, menerobos hutan dan menapaki medan menanjak. Hanya segelintir orang yang tahu keberadaan goa yang mulutnya digenangi air tenang kebiruan, bak telaga ini. Dan tidak ada tanda petunjuk ke goa yang konon dihuni oleh putri ular, perempuan yang setengah badan hingga ekornya berbentuk ular ini. Mungkin itu disengaja oleh petugas setempat, untuk menghindari serbuan pengunjung agar keberadaan goa tersebut tetap asri.

Sebelum tiba di pos pintu masuk jalur Cibodas, kami sempat mampir ke Telaga Biru. Telaga seluas 5 hektar ini airnya tenang dan kebiruan saat diterpa sinar matahari karena dasarnya ditumbuhi sejenis ganggang biru. Beberapa pohon berukuran raksasa seperti Rasamala (Altingia excelsa) tumbuh di sekitarnya.


Jelang senja, kami tiba di halaman Kantor Taman Nasional Gede Pangrango, Cibodas. Sambil menunggu mobil jemputan. Isabelle dan Jean membeli bangkuang, sawi, wortel, dan nenas di kios sayur-mayur yang berjejer di tepi jalan raya Cibodas. Sementara yang lain rebahan di rumput taman.

Ketika aku tanya mengenai pendakian yang baru saja mereka lakoni, hampir semua mengaku puas dan senang. Bahkan beberapa di antaranya ingin mengikuti pendakian atau kegiatan petualangan lainnya. Isabelle misalnya ingin sekali mendaki Gunung Pangrango, sementara Penny tertarik dengan Gunung Salak, dan Jean ingin mencoba caving (menyusuri goa), sama seperti halnya Goz.

Dua mobil jemputan datang. Aku bersama Isabelle, Marie, dan Jean serta tim porter naik mobil bak terbuka di bagian belakang. Di atas mobil yang melaju, Isabelle melantunkan lagu anak-anak Indonesia tempo doeloe yang bercerita tentang pendakian. 

“Naik-naik ke puncak gunung tinggi-tinggi sekali. Kiri-kanan ku lihat saja banyak pohon cemara..,” dengan rona bahagia. Jean dan Marie hanya memandangi Isabelle dengan senyum mengembang cerah.

Naskah & foto: Adji TravelPlus (Jaberio Petrozoa)

Read more...

Rabu, 21 Juli 2010

Mendaki Cucu Krakatau dalam Festival


Seperti perayaan sebelumnya, Festival Krakatau 2010 yang akan berlangsung 24-25 Juli mendatang, diisi dengan pendakian ke Rakata, cucunya Gunung Krakatau. Festival yang diadakan untuk memperingati peristiwa bersejarah letusan Gunung Krakatau 1883 silam ini juga dimeriahkan dengan menyelam di Taman Bawah Laut Krakatau dan paralayang yang melibatkan komunitas hobiis.

Read more...

Selasa, 20 Juli 2010

Monumen Jenderal Sudirman Pascakabar Pelelangan



Hingga detik ini dia masih berdiri kokoh. Tenang dan tentu saja gagah. Sedikit pun dia tidak peduli dan ambil ambil pusing apa kata orang yang sedang hangat membicarakannya. Ada yang kecewa keberadaannya lalu meminta ganti rugi. Ada yang menentang pelelangannya. Ada pula yang terus mendukung kehadirannya. Dia cuma diam dan terus bertahan diterpa panas siang dan dibalut dingin malam. Entah sampai kapan.

Read more...

Kamis, 08 Juli 2010

Freefall di Curug Gendang



Dang..,dang..,dang...Begitu bunyi yang dihasil-kan oleh tumpahan air terjun itu hingga warga sekitar menamakannya Curug Gendang. Tapi itu dulu. Konon suara itu berasal dari terpaan airnya yang deras ke sebatang pohon besar di bawahnya. Belakangan batang pohon itu hanyut terbawa arus hingga bunyi seperti gendang ditabuh itu tak lagi terdengar. Namun nama gendang itu tetap melekat dan justru menarik orang untuk bertandang.

Read more...

Sabtu, 03 Juli 2010

Memacu Adrenalin di Tebing dan Jeram Toraja


Toraja tersohor lantaran budaya khasnya, sebut saja rambu tuka’, rambu solo’, dan desa wisata dengan tongkonan-nya. Padahal, obyek alamnya pun menarik untuk dijelajahi. Ada deretan tebing batu cadas yang menantang dipanjat, jeram-jeram sungai yang seru diarungi, dan obyek petualangan lain yang bisa memacu adrenalin Anda.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP