. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Sabtu, 27 Juni 2015

Raisa Jadi Pemeran Utama Malam Pertama RJF 2015

Tampil lagi di Ramadhan Jazz Festival (RJF), penyanyi cantik bersuara khas rada nge-jazz Raisa menjadi penampil yang ditunggu-tunggu ratusan penonton RJF 2015 di pelataran Masjid Cut Muetia, Menteng Jakarta Pusat pada Jumat (26/6) malam. Acara malam pertama RJF yang digelar Remaja Islam Cut Muetia (RICMA) dengan WartaJazz ini pun terbilang sukses. 

“Raisa..., raisa.., raisa...”, begitu teriak penonton memangil Raisa untuk segera naik panggung. 

Tak lama kemudian pemilik rambut panjang hitam berkilau ini pun tampil. Dia mengenakan atasan panjang berwarna coklat muda dan celana jeans serta sepatu high hills berwarna senada dengan atasannya. 

Rambutnya seperti biasa diurai, cuma dengan tatanan bergelombang bukan lurus. Dia juga menggenakan aksesoris berupa rantai ikat kepala yang memberikan kesan casual namun tetap elegan, sebagaimana ciri khas Raisa setiap berpenampilan.

Raisa tampil diurutan ketiga. Sebelum tampil ada suguhan pesta kembang api dari atap Masjid Cut Meutia yang memberikan nuansa berbeda RJF kali ini. Kendati menurut panitia pesta kembang api itu hasil sumbangan untuk memberikan kesan meriah, namun justru membuahkan kesan mubazir. Mungkin tahun depan bisa diganti cara lain yang lebih bermanfaat. 

Perbedaan cukup mencolok RJF kelima ini, di panggung terpampang nama merek kecantikan berkonsep Islami yakni Wardah. Menurut Agus Setiawan Basuni dari Warta Jazz sekaligus  Artistic Director RJF menjelaskan memang Wardah menjadi sponsor utama RJF tahun ini. Bahkan pendanaan RJF untuk penyelenggaraan 2 tahun kedepan sudah aman.

Kembali ke Raisa yang tanpa basa-basi langsung membawakan lagu semi beat-nya bertajuk “Teka-Teki”. Selepas itu dia baru menyapa penonton. “Assalamualaikum semua, senang sekali saya bisa kembali hadir di Ramadhan Jazz Festival ini. Mudah-mudahan bisa diundangi lagi RJF berikutnya,” ucapnya.

Kehadiran Raisa kali ini memang bukan untuk kali pertama. Tahun sebelumnya pada RJF 2014, dia juga sempat hadir dan menjadi andalan saat itu. Dan rupanya kali ini pun begitu. Raisa kembali menjadi pemeran utama pada pagelaran malam pertama RJF 2015. 

Selanjutnya Raisa membawakan lagu LDR, Goodbye, dan satu lagu religi lawas yang sebelumnnya dipopulerkan oleh Novia Kolopaking bertajuk “Dengan Menyebut Nama Allah”. 

Menurutnya lagu itu salah satu kesukaannya dan kerap dia bawakan. “Lagu enak banget ya,” ujarnya usai membawakan lagu itu. Dan Raisa pun mendapat jawaban cinta dari fans beratnya. “I love you Raisa,” teriak salah satu penonton. 

Menyaksikan keseluruhan penampilan Raisa malam itu, jelas tidak bisa kita bandingkan dengan penampilannya saat menggelar konser solo perdananya yang sukses dihadiri sekitar 5.000 penonton, termasuk dua diva pop Indonesia Krisdayanti dan Titi DJ di Istora Senayan, Jakarta sebelumnya. Kendati panggungnya tidak semegah panggung konser tunggalnya itu, begitupun sound systen, lighting, dan lainnya. Namun di RJF 2015 ini, dia tetap berusaha menampilkan yang terbaik malam itu. 

Selain Raisa juga tampil sebelumnya Abank Alter lalu Abdul & the Coffee Theory sebagai penampil kedua. Penampilan Abdul mulai memanaskan suasana. Beberapa lagu yang mereka suguhkan cukup menghibur penonton. Yang menarik mereka menyanyikan lagu "Akhirnya" yang pernah dipopulerkan grup Gigi. Sebelumnya satu lagu lawas lagi juga dijazzkan oleh Abenk Alter sebagai penampil pertama. 

Usai Raisa, kemudian giliran Kunto Aji yang penampilannya juga mendapat sambutan hangat penonton. Disambung band senior Emerald yang membawakan beberpa instrumetal. 

Acara malam pertama RJF 2015 ini dimulai pukul 9 malam ba'da tarawih. Pada malam itu jamaah masjid yang bersejarah itu membludak sampai pelataran dan lantai 2 masjid.

Acara yang dipandu Aldi penyiar radio Emotion dan Shafira, pembawa acara Entertainment News NET TV yang berbusana muslimah warna serba putih ini terasa lebih spesial karena kehadiran Menteri Komunikasi dan Informantika (Kominfo) Rudiantara. 

Menurut Rudiantara acara seperti ini sangat positif sekali oleh karena itu harus didukung pemerintah. “Dukungan kementerian saya tentu berkaitan IT. Itu drone, salah satu dukungan kami untuk acara ini. Drone dan pengontrol frekuensi," ungkapnya.

Rudiantara akui acara ini sebenarnya melenceng dari kementerian yang dipimpinnya. Selama ini, acara musik dikaitkan dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Pariwisata. “Saya belum telepon menteri-menteri yang langsung bisa membawahi acara musik seperti ini. Nanti saya akan telepon pak Arief Yahya (Menteri Pariwisata-Red) untuk mendukung acara-acara seperti ini," kata Rudiantara. 

Ketua RICMA Muhammad Soekarno Hatta yang biasa disapa Ai mengatakan musik jazz ini dipilih RICMA karena sesuai seqmentasi Ricma yakni pemuda-pemudi berusia 16-25 tahun yang tengah menggandrungi musik jazz. "Mudah-mudahn acara ini memberi inspirasi mereka untuk lebih meningkatkan ibadah dan semoga acara ini membawa keberkahan,” terang Ai. 

Mantan Ketua RICMA yang kini menjadi Ketua Yayasan Ramadhan Masjid Cut Meutia Muhammad Pradana yang akrab dipanggil Dana menambahkan acara ini untuk siar islam. “Musik adalah salah satu sarana siar islam,” ujarnya. 

Sabtu malam ini (27/6), RJF 2015 malam kedua atau terakhir ini akan menampilkan Tulus, Maliq dan lainnya. Seperti malam pertama, penonton tidak dikenakan tiket masuk. Sebagai gantinya setiap pengunjung bisa menyumbang buku inspiratif atau donasi untuk donor darah dan penyediaan air bersih di sejumlah daerah Indonesia yang minim air bersih, yang digalang Dompet Duafa. 

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com) 

Captions: 
1. Aksi Raisa pada malam pertama RJF 2015 
2. Ratusan penonton antusias menyaksikan penampilan Raisa di RJF 2015. 
3. Logo RJF kelima di t’shirt yang dijual pedagang di sekitar lokasi acara.

Read more...

Senin, 22 Juni 2015

Kado 20 Bus SCANIA Asal Swedia Past HUT Jakarta ke-488

Kota Jakarta hari ini, Senin (22/6) genap berusia 488 tahun. Bertepatan dengan itu perayaan itu PT Transportasi Jakarta (Transjakarta) mengoperasikan 20 bus SCANIA asal Swedia di Lapangan Silang Monas. 

Direktur Utama PT Transjakarta Antonius NS Kosasih menyatakan bus tersebut akan beroperasi pada pertengahan Juli menunggu proses perizinan dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) rampung.

"Kami akan operasikan bus-bus SCANIA baru ini di beberapa koridor yang dapat dilalui bus gandeng. Direncanakan sebelum akhir Desember sisanya sebanyak 31 unit akan diserahkan oleh PT. United Tractors selaku APM atau Agen Pemegang Merek SCANIA," ungkap Kosasih di Lapangan Monas sesuai upacara peringatan HUT DKI ke-488.

Bus baru ini diakui Kosasih merupakan yang pertama bagi Transjakarta melakukan pengadaan barang/jasa secara elektronik melalui eKatalog LKPP (Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah). Pasalnya, sistem pengadaan secara elektronik melalui eKatalog atau ePurchasing ini benar-benar transparan karena dilakukan secara online dan lelang serta seleksinya dilakukan oleh Pemerintah melalui LKPP.

Untuk menghadirkan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan, termasuk penyampaian informasi secara lengkap dan detail, Transjakarta hari ini menghadirkan Layanan Call Centre 1500-102 yang membuat pelanggan menjadi lebih cepat terlayani.

"Call Center hadir untuk memberikan kemudahan kepada pelanggan dalam memperoleh informasi yang diinginkan mengenai operasional Transjakarta. Petugas kami siap memberikan layanan selama 24 jam. Kami juga telah menambah jumlah personil pelayanan di Call Center kami," tutur Kosasih.

Bus Scania tersebut memiliki kapasitas 140 orang dengan 39 kursi terdiri dari 6 kursi prioritas dan 2 ruang untuk pengguna kursi roda. Di bus ini terdapat 4 CCTV dan di bagian luar terdapat 2 CCTV di depan dan belakang bus untuk mengawasi dan mengamankan penunpang.

Pada kesempatan itu Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) yang meresmikan 20 armada bus gandeng merek Scania ini mengungkapkan kebahagiaannya karena ini merupakan bus pertama yang dibeli PT Transportasi Jakarta melalui LKPP. "Saya gembira bus ini pembeliannya melalui LKPP," ujarnya saar memberikan sambutan.

Ahok mengaku dia lebih baik membeli bus dengan harga yang lebih mahal namun terjamin kualitasnya. Dia tak mau main-main dalam hal pembelian bus TransJ yang bisa digunakan untuk melayani masyarakat.

"Kenapa dulu ada Daiwoo dan Hyundai sekarang nggak? Ternyata kalau lelang pasti kalah sama produk China yang murah tapi mereknya nggak pernah dengar. Saya tanya ke orang kampung saya, pilih mobil Mercedes Benz atau Weichai. Mereka saja bisa milih Mercedes kok," jelasnya.

PT Transportasi Jakarta juga mendapat satu unit bus sumbangan bertingkat dari Coca Cola untuk pariwisata. Ahok pun tak henti-hentinya mengungkapkan rasa terima kasih atas kado HUT Jakarta kali ini.

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Captions: 
1. Jakarta dapat kado 20 bus Scania asal Swedia saat HUT-nya yang ke-488.

Read more...

Pemudik Lebaran Tahun ini 20 Juta Orang

Jumlah pemudik lebaran tahun ini diperkirakan mencapai 20 juta orang di seluruh Indonesia. Sayangnya tradisi tahunan era pertama Jokowi-JK, diprediksi belum memberikan kenyamanan bagi para pemudik. Sejumlah titik-titik ruas jalan Pulau Jawa masih tetap berpotensi menjadi penyebab kemacetan. Begitupun sejumlah ruas jalan trans Sumatera masih banyak yang rusak. Fenomena ini telah terjadi hampir 10 tahun terakhir. 

Keberadan jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali) di Jawa Barat yang baru diresmikan Presiden Jokowi sebagai jalan tol terpanjang di luar tol Jakarta – Merak yang terbentang lebih dari 116 Km ini, diharapkan bisa mengurai beban lalu lintas sekitar 40 Km di Jalur Pantura, ternyata diprediksi tidak akan bisa mengatasi kepadatan arus mudik tahun ini.

Pasalnya jumlah pengguna jalan belum sebanding dengan daya tampung jalan yang tersedia sehingga perlu ada gebrakan baru untuk mengatasi kemacetan.

Dirjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Hediyanto W. Husaini mengklaim Jalan Tol Cipali akan menaikkan daya tampung di Jalan Pantura dari 30.000-40.000 kendaraan jadi 70.000-80.000 unit per hari. Namun, jumlah itu belum cukup menampung pemudik yang diperkirakan mencapai 125.000 kendaraan per hari sehingga potensi kemacetan masih ada walau berkurang.

Menurut Hedianto, Tol Cipali saat ini hanya mampu mengurangi tingkat kemacetan sampai 40 persen dari tingkat kemacetan yang biasa terjadi di jalur arus mudik. Kendati diperkirakan masih macet, arus mudik tahun ini bisa lebih lancar. 

Menurut Hediyanto, Tol Cipali sedikit banyak membantu mengurai kepadatan arus mudik. Untuk menarik pemudik, operator jalan tol juga akan memberikan diskon bagi penggunanya. Di Tol Cipali, misalnya, diberikan diskon 25 persen. ”Diskon di tol lain juga ada, tetapi ada yang hanya 10 persen. Setidaknya ini bisa menarik banyak pemudik untuk memakai jalan tol,” katanya di diskusi Teras Kita bertema ”Mengurai Keruwetan Arus Mudik” yang diselenggarakan Radio Sonora, harian Kompas, dan Keluarga Besar Universitas Gadjah Mada, di Solaria FX, Jakarta, baru-baru ini. 

Pada kesempatan yang sama Direktur Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ), Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, Kementerian Perhubungan Eddi memperkirakan tahun ini jumlah kendaraan pribadi roda empat yang akan mudik meningkat dari 1,59 juta unit menjadi 1,6 juta unit dan 1,8 juta kendaraan roda dua menjadi 2 juta unit. Alhasil kemacetan tak terhindari.

Ini disebabkan, salah satunya karena kebiasaan masyarakat yang membawa kendaraan pribadi saat mudik lantaran ingin pamer ke keluarga maupun tetangganya. Sehingga, masyarakat tetap memilih membawa motor mereka ke kampung halaman meskipun sebelumnya Kemenhub telah menyediakan jasa mudik gratis menggunakan transportasi massal. "Kebiasaan masyarakat seperti ini yang sulit diatur pemerintah," ujarnya. 

Guna mengurangi tingkat kemacetan yang rawan terjadi saat arus mudik, pihaknya akan memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan memberikan informasi titik-titik rest area di dalam Tol Cipali. "Sekarang kecelakaan itu 90 persen dari arah Surabaya ke Jakarta. Mereka kelelahan, harus tahu titik tempat beristirahat dimana. Akan kami informasikan secepatnya," kata Eddi. 

Pihaknya juga meminta kepolisian di masing-masing wilayah, terutama di area mudik untuk melakukan pemantauan dan penindakan arus. Eddi mencontohkan Polda Riau mampu mengatur lalu lintas saat arus mudik untuk mengurai kemacetan di sepanjang jalan. 

Selain itu, pihaknya mengimbau pemerintah daerah (pemda) yang memiliki kebijakan menangani simpul ruas jalan yang menjadi titik kemacetan. Misalnya jalanan pulang kampung tersendat akibat berdirinya pasar tumpah di badan jalan. "Ternyata, kondisi itu sudah berlangsung selama bertahun-tahun maka penanganannya harus diubah, misalnya memindahkan pasar itu ke tempat lain," katanya. 

Masih di acara yang sama, Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit mengatakan pemerintah dinilai hanya melakukan terobosan yang tidak menyelesaikan masalah. “Pendekatannya masih sama saja. Supplied side. Saya tidak punya ekspektasi kita dapat mengurangi volume kemacetan nanti," ujarnya. 

 Lebaran tahun ini, pemerintah diuntungkan dengan jadwal libur lebaran sampai 14 hari sehingga, mampu mengatur distribusi kendaraan arus mudik dengan lebih merata. "Tahun 2012 itu libur delapan hari. Tahun lalu 10 hari. Pemerintah bisa mengatur distribusi dari 20 juta angkutan umum, dan 4 juta angkutan pribadi dengan baik," ujarnya. 

Danang berharap, situasi ini mampu meningkatkan tingkat kecepatan angkutan baik dari angkutan pribadi maupun angkutan umum. "Saya berharap nanti semua cepat sampai tujuan mudik. Apalagi ada tambahan jalan ruas Tol Cipali. Saya kira kecepatan akan lebih baik dari tahun lalu,"tuturnya.

Danang juga menghimbau pemerintah menerapkan manajemen arus mudik lintas sektor untuk mengatasi keruwetan yang terjadi setiap tahun. Misalnya pemerintah mengatur jadwal mudik dengan menetapkan pencairan tunjangan hari raya (THR) lebih awal. “Pemberian THR memengaruhi jadwal mudik. Oleh karena itu, dalam hal ini Kementerian Tenaga Kerja perlu dilibatkan,” ujarnya.

Menurut Danang libur sekolah lebaran semestinya lebih panjang, dengan begitu rentang waktu mudik pun akan lebih panjang. 

Danang mengapresiasi langkah pemerintah yang memberikan rentang liburan panjang sekolah saat Lebaran pada musim mudik saat ini. 

Langkah lainnya pemerintah mesti lebih memopulerkan angkutan umum. Caranya, memberikan subsidi bahan bakar minyak pada kendaraan umum, bukan pada kendaraan pribadi. Subsidi juga bisa diberikan dalam bentuk pembebasan atau diskon jalur tol bagi kendaraan umum. 

Kenyamanan kendaraan umum pun perlu diperhatikan agar masyarakat nyaman memakai transportasi publik. ”Selama ini masyarakat bisa pindah moda berkali-kali untuk mencapai satu tujuan. Hal itu membuat mereka enggan memakai kendaraan umum dan memilih kendaraan pribadi,” pungkas Danang. 

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com) 

Captions: 
1. Pengguna kereta api.
2. Diskusi Teras Kita bertema ”Mengurai Keruwetan Arus Mudik” yang diselenggarakan Radio Sonora, harian Kompas, dan Keluarga Besar Universitas Gadjah Mada, di Solaria FX, Jakarta.
3. Kereta api masih jadi pilihan pemudik .

Read more...

Rabu, 17 Juni 2015

Kala Langit Bogor Berhujan Payung

Bogor di kaki Gunung Salak, Jawa Barat hampir setiap hari turun hujan, sekalipun musim panas. Tak heran kota yang memiliki Istana Kepresidenan ini mendapat predikat sebagai Kota Hujan sejak lama. Di penghujung bulan Mei lalu, kota berhawa sejuk ini mengejutkan banyak orang. Pasalnya hujan yang turun bukan air melainkan ribuan payung. 

Hujan payung di kota yang beroleh-oleh antara lain Asinan dan Roti Unyil ini sengaja dihadirkan terkait dengan penyelenggaraan Festival Payung atau Umbrella Festival dalam rangka Hari Jadi Bogor (HJB) ke-533.

Sekitar 10.000 payung warna-warni dipasang menggantung di sejumlah tempat, sudut, dan jalanan, terutama di jalan-jalan utama seperti Jalan Suryakencana, sekiling jalan yang mengitari Kebun Raya Bogor, Jalan Jalak, Harupat, Juanda, Padjajaran, dan di sepanjang Jalan Sudirman.

Tiga lapis payung bergantung indah di setiap lampu jalan yang berjejer di jalan-jalan tersebut menghias wajah Kota Bogor menjadi lebih menawan. Begitu juga di depan Kantor Pengawasan Bangunan dan Pemukiman Jalan Pengadilan, ratusan payung bergantung menghiasi pohon dan ditiang-tiang penerangan jalan umum (PJU).

Hiasan payung juga dipasang di sejumlah sarana milik pemerintah antara lain di Plaza Balaikota Bogor dan di deretan pohon pinang di depan gedung tersebut. Beberapa pusat perbelanjaan seperti Yogya Toserba di Jalan Sudirman dan Bogor Trade Mall pun terlihat lebih menawan dengan puluhan payung yang bergantung dan berjejer rapi di tiga lapis bagian depan gedung, menyerupai lampu hias.

Bahkan Istana Kepresidenan atau yang tersohor dengan sebutan Istana Bogor, hujan payung menghias beberapa pohon besar di halaman istana. Payung-payung tersebut sengaja di pasang selama sebulan. Salah satu pohon raksasa di halaman Istana, tempat Presiden Jokowi beristirahat setiap akhir pekan, dipasang puluhan payung. Kehadiran payung-payung itu menambah kesan artistik pohon tersebut.

Warga sekitar dan wisatawan mengaku terpesona dibuatnya. Mereka bukan hanya melihat, pun mengabadikan pohon berpayung tersebut dari balik pagar Istana yang jaraknya sekitar 50 meter. “Baru kali ini saya lihat aneka payung menghias pohon besar di halaman Istana. Untung jaraknya dekat dari pagar, jadi bisa lihat dan motret,” kata Linda dari Kabupaten Bogor yang datang bersama rekannya.

Wali Kota Bogor, Bima Arya Sugiarto saat meluncurkan pembukaan HJB mengatakan Festival Payung tersebut menjadi ajang untuk "menasbihkan" Bogor sebagai Kota Hujan yang identik dengan payung. 

Menurut Bima filosofi dari festival payung ini, selain sebagai simbol melindungi dari hujan, juga mengingatkan pengunjung untuk sedia payung sebelum hujan. 

“Intinya dengan festival ini diharapkan dapat mendorong perajin payung berkreativitas dan menjadi sumber pendapatan baru. Diharapkan pula ke depannya, Bogor bisa jadi pusat penjualan payung dengan tren-tren baru,” ungkap Bima. 

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kadisbudparekraf) Kota Bogor Shahlan Rasyidi menambahkan Festival Payung ini baru pertama kali digelar di Kota Bogor. Festival Payung ini diluncurkan berbarengan dengan pembukaan Festival Budaya Helaran yang masih menjadi rangkaian peringatan Hari Jadi Bogor yang jatuh setiap 3 Juni. 

“Alhamduliilah respon warga termasuk wisatawan yang datang menyaksikan Festival Payung cukup antusias. Festival Payung ini juga memberi warna lain bagi Kota Bogor. Mudah-mudahan tahun depan penyelenggaraannya lebih maksimal lagi,” ujar Shahlan. 

Bersamaan dengan Festival Payung juga digekar Pawai Helaran Budaya yang meampilkan puluhan kendaraan hias, atraksi seni dan budaya, serta beragam hiburan lainnya yang sengaja dipersembahkan oleh Pemkot Bogor untuk warganya. 

Peserta helaran budaya ini berpawai menempuh sekitar 2,5 kilometer dari Gelanggang Olahraga (GOR) Pajajaran melintasi Jalan Ahmad Yani, Jenderal Sudirman, dan Jalan Jalak Harupat lalu finish di Lapangan Sempur. 

Mengenai pawai ini, Bima kembali menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara itu. “Semoga kegiatan ini bisa mendorong para pelaku seni di Bogor agar lebih kreatif lagi,” harapnya. 

Ketua Umum Paguyuban Bogor, Iwan Kurniawan menjelaskan Pawai Helaran Budaya ini diikuti sekitar empat ribuan peserta yang terdiri dari berbagai unsur seperti sanggar, komunitas, masyarakat umum, pelajar, dan instansi pemerintahan. “Peserta helaran budaya ini bukan hanya dari Bogor dan sekitarnya, melainkan juga dari luar Bogor seperti dari Purwakarta yang turut berpawai menampilkan keseniannya,” ujar Iwan. 

Usai menikmati pawai tersebut, sejumlah fotografer dan warga kembali ke Balaikota yang berjarak sekitar 300 meter dari Lapangan Sempur untuk mengabadikan deretan payung yang bertengger di antara pohon palem berlatar belakang matahari tenggelam.

Sejumlah warga lainnya melihat pesona itu seraya duduk-duduk sambil menikmati aneka jajanan seperti kacang rebus, gulali, uli bakar, dan lainnya. 

Pesona yang diterbitkan sore itu jauh lebih memikat dibanding tadi siang. Warna keemasan langit beronnamen deretan payung yang seolah-olah turun dari langit sungguh fantastik. 

Buktinya sewaktu travelplusindonesia, mem- publish foto tersebut lewat media sosial (facebook, twitter, dan instagram serta display BB) banyak yang terpukau dan menanyakan foto hujan payung itu. Bahkan banyak yang tak menyangka festival itu digelar di Bogor, karena sepintas deretan payung berlatar senja emas itu seperti berlokasi di pantai. 

Kalau sudah begini, tak terbantahkan, hujan payung di Kota Hujan terkait Festival Payung baru-baru ini, cukup berhasil membetot perhatian bukan hanya warga, pun wisatawan yang bertandang. Bahkan masyarakat Indonesia di sejumlah daerah dan kota lain yang melihat foto-foto hujan payung tersebut lewat bermacam media sosial, tak sedikit yang berniat berkunjung ke Bogor tahun depan untuk menyaksikan Festival Payung secara langsung. 

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com) 

Captions: 
1. Senja berornamen deretan payung di depan Balaikota Bogor, saat Festival Payung berlangsung.
2. Plaza Balaikota Bogor pun berhias payung. 
3. Pohon payung di halaman Istana Kepresidenan Bogor.

Read more...

Selasa, 16 Juni 2015

Ramadhan Jazz Festival 2015 Targetkan 7.000 Penonton

Usai sukses empat kali menggelar Ramadhan Jazz Festival (RJF) sejak 2011, 2012, 2013, dan 2014 lalu, Remaja Islam Masjid Cut Meutia (RICMA) dan WartaJazz akan menyelenggarakan 5th Ramadhan Jazz Festival di pelataran Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat pada 26-27 Juni mendatang. 

Pada gelaran tahun ini rencananya akan menampilkan deretan musisi jazz antara lain Raisa, Tulus, Rieka Roeslan, Kunto Aji, Inna Kamarie, Tohpati, White Shoes & The Couples Company, Gugun Blue Shelter, Idang Rasjidi, Yamce Manusama, Otti Jamalus, dan Beben Supendi Mulyana alias Beben Jazz yang merupakan kakak penyanyi Dik Doank.

Penggagas sekaligus Artistic Director RJF, Agus Setiawan Basuni dari WartaJazz mengatakan setiap pemyanyi dan band yang tampil dijadwalkan akan membawakan minimal satu lagu bertema religi yang dibalut dengan musik bernuansa jazz dengan tujuan untuk memberikan inspirasi bagi mereka yang menonton RJF. "Contohnya Lantun Orchestra yang akan membawakan lagu Indung-Indung yang di-jazz-kan," jelas Agus dalam konferensi pers di Masjid Cut Meutia, Senin (15/6).

Agus mengaku RJF kali ini sudah banyak sponsor yang masuk. “Alhamdulillah sekarang bukan kita yang mencari-cari sponsor tapi sponsorlah yang mendatangi kita. Bahkan untuk RJF dua tahun kedepan sudah aman,” akunya.

Ketua Umum RICMA, M. Sukarno Hatta mengatakan acara RJF 2015 akan digelar ba’da Salat Isya dan Tarawih berjamaah.

“Penonton bisa buka puasa bersama di Masjid Cut Meutia juga, lalu Sholat Magrib, Isya, dan Taraweh, sebelum menyaksikan RJF,” terangnya. 

Menurut Sukarno Hatta, tahun lalu pengunjung RJF mencapai 5.000 orang, “Tahun ini diharapkan bisa mencapai 7.000 orang yang hadir menyaksikan RJF 2015 selama 2 hari berlangsung,” harapnya. 

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pengunjung RJF tidak dikenakan tiket masuk alias gratis. Sebagai pengganti tanda masuk setiap penonton diharuskan menyumbangkan buku bacaan inspiratif untuk didonasikan ke taman baca.

“Cara lainnya memberikan donasi untuk penyediaan air bersih atau juga berdonor darah,” terang Sukarno Hatta seraya menambahkan hasil donasi buku pada RJF 2014 berhasil terkumpul sekitar 2.000 buku yang telah disumbangkan.

Ketua Gema Ramadhan 2015 RICMA, Afrizal Dhea Amanulla mengatakan RJF 2015 merupakan salah satu dari 6 rangkaian acara Gema Ramadhan tahun ini yang bertemakan Ramadhan Indah (Inilah Nikmatnya Beribadah).

Jadi selain RJF ada acara 1436 Alat Shalat, RICMA Fair, RICMA Camp, Nuzulul Qur’an, Duta Ramadhan, dan Jakarta Souk. 

“Acara Jakarta Souk akan digelar 11-12 Juli 2015 di Mall Gandaria City. Kegiatan ini menjadi puncak dari seluruh rangkaian Gema Ramadhan 1436 H yang dibuat RICMA,” terang Afrizal. 

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com) 

Captions: 
1. Jumpa pers Ramadhan Jazz Festival (RJF) 2015.
2. Interior klasik khas Masjid Cut Meutia yang bersejarah. 
3. Aksi Andien saat meramaikan RJF pertama tahun 2011 di pelataran Masjid Cut Meutia.

Read more...

600 Atlit Arung Jeram Mancanegara Bakal Ikut WRC 2015 di Citarik

Sebanyak 600 atlit mancanegara dan 50 atlit Indonesia akan mengikuti World Rafting Championship (WRC) 2015 yang akan berlangsung di Sungai Citarik, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada 29 November hingga 8 Desember mendatang. 

Ada empat divisi dalam WRC 2015, yakni Open, Youth (U-19), Junior (U-23), dan Master untuk pria dan wanita dalam. Masing masing divisi diwakili 1 tim terbaik dari masing-masing negara di ajang kejuaraan arung jeram tingkat dunia berbiaya Rp 8 miliar lebih ini.

Ketua Harian Pengurus Besar Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Amalia Yunita menjelaskan ditunjuknya Indonesia menjadi tuan rumah WRC 2015 bermula sejak 2001 Pengurus Besar FAJI kerap mengirimkan atlet-atletnya untuk berlaga di arena kejuaraan dunia arung jeram.

“Baru pada tahun 2012 PB FAJI memberanikan diri untuk mengikuti proses penawaran atau bidding menjadi tuan rumah WRC 2015, dan berhasil memenangkannya untuk menjadi tuan rumah tahun ini,” jelasnya di acara sosialisasi WRC di Arus Liar, Citarik, Sukabumi, Minggu (14/6).

Menurut Yunita Sungai Citarik terpilih sebagai lokasi kejuaraan karena mempunyai keunggulan lebih dibandingkan dengan sungai yakni memiliki Grade 4 dan sudah memenuhi standar dari Federasi Arung Jeram Internasional atau International Rafting Federation (IRF) untuk semua nomor lomba, baik itu sprint, head to head, slalom, dan down river race.

“Arus di sungai ini dikenal liar, deras, dan banyak disukai atlet arung jeram, apalagi akhir November hingga Desember biasanya memasuki musim hujan yang semakin membuat kompetisi semain seru dan menengangkan,” aku sang diva rafting Indonesia ini.

Disamping itu di Citarik tersedia 5 operator rafting dengan tenaga-tenaga pengaman berarungjeram yang memadai. “Faktor pendukung lainnya di Citarik dekat dengan akomodasi yang mampu menampung seribu-an peserta, termasuk resorts,” ungkapnya.

Dengan menjadi tuan rumah, lanjut Yunita, Indonesia lebih diuntungkan karena atlit Indonesia sudah lebih mengenal kondisi sungainya. “Ajang ini juga menjadi ajang promosi wisata sehingga menjaring peserta asing dan wisatawan mancanegara (wisman) yang kemudian diharapkan dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat,” terang Yunita.

Ketua Pengurus Cabang FAJI Kabupaten Sukabumi Saefu Drajat mengatakan pada WRC 2015 pihak Indonesia akan diwakili oleh tujuh tim yang berlaga. “Empat tim di antaranya berasal dari atlet Pengurus Cabang FAJI Kabupaten Sukabumi, ini membanggakan,” ucap Saefu. 

Saefu, yang juga anggota DPRD Kabupaten Sukabumi, sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi untuk menyediakan dan memperbaiki fasilitas di lokasi arung jeram Citarik, karena nantinya akan didatangi oleh ratusan atlet dari puluhan negara dan ribuang wisman.

"Selain menjadi kebanggaan bahwa Sungai Citarik dijadikan lokasi kejuaraan dunia, imbas positif lainnya adalah pemasukan asli daerah (PAD) dari wisman dan ajang ini menjadi iklan gratis untuk dunia pariwisata di Kabupaten Sukabumi," katanya. 

Yunita menambahkan guna mendukung target juara sebagai tuan rumah, para atlet akan mendapatkan pelatihan sport science, teknologi olahraga (khususnya olahraga air) dan pelatih khusus yang berkualitas. "Atlet kita dari Citarik mendapat binaan dari Prima (program Indonesia emas) dan KONI (Komite Olahraga Nasional Indonesia) langsung," jelasnya. 

Pelatih arung jeram dari PB FAJI, Toni Dumalang mengatakan anak didiknya akan menggunakan strategi stand up (dayung berdiri) sebagai salah satu strategi guna mematahkan lawan-lawannya pada laga WRC nanti. Gaya tersebut cukup diakui unik dan disegani lawan dari berbagai negara. 

"Ini adalah gaya mendayung Papua. Pada kejuaraan WRC sebelumnya di Costa Rika (Amerika Latin) yang tahun 2011 pernah kita praktikkan dan berhasil melewati lawan-lawan, tinggal power atau tenaganya saja yang diperkuat, maka hasilnya bisa maksimal," terangnya. 

Menurut Toni berkat gaya tersebut tim arung jeram Indonesia menduduki peringkat ketujuh dunia. Namun teknik dunia olahraga air khususnya arung jeram semakin berkembang. “Untuk itu, pada WRC 2015, kita akan memadukan dengan gaya lainnya dan melihat situasi serta kategori lintasan panjang atau pendek,” akunya. 

Yunita menambahkan lagi, Sungai Citarik merupakan salah satu dari sekian sungai yang menjadi lokasi favorit berarung jeram baik turis asing maupun lokal dan wisatawan Nusantara selain Sungai Alas di Aceh, Asahan (Sumut), dan sejumlah sungai di Jawa Barat, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan, dan beberapa sungai di Bali. 

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Captions: 
1. Sosialisasi World Rafting Championship (WRC) 2015 di Arus Liar, Citarik, Sukabumi, Jabar.
2. Salah satu tim atlir Arung Jeram Indonesia tengah menjajal salah satu jeram di Sungai Citarik.

Read more...

Kamis, 11 Juni 2015

Ini Jawaban Kenapa Jamur Kelambu pun Nyaman Tinggal di Tanah Adat Baduy

Sepulang dari Cibeo, salah satu dari tiga kampung di Baduy Dalam, tak sengaja saya menemukan jamur yang bentuknya cukup unik dan menarik perhatian. Jamur itu memiliki jaring atau jala berwarna putih. Karena tak tahu namanya, spontan saya menyebutnya jamur kelambu lantaran bentuknya mirip kaos lampu bohlam petromak. 

Kira-kira tinggi tangkai jamur yang juga berwarna putih itu sekitar 25 Cm dengan tebal tak sampai 3 Cm. Letaknya berada di antara semak belukar pendek di tepi jalur setapak alami yang sebelahnya berbatasan dengan lembah berhutan.

Tidak seperti jenis jamur lain yang tumbuh bergerombol, jamur kelambu justru terlihat lebih suka menyendiri.

Untungnya, karena bentuknya yang unik berkelambu dengan warna putih terang, agak mudah melihatnya walaupun berada di antara semak belukar. Tapi tetap saja perlu kejelian untuk menemukannya, terlebih di Pegunungan Kendeng yang luasnya ribuan hektar.

Saya merasa beruntung perjalanan ke Badui Dalam kali ini bisa bertemu dengan jamur kelambu tanpa disengaja. Semula saya tidak menyangka sama sekali jamur unik satu ini ada di sini. Saya kira hanya tumbuh di Kalimantan dan Papua. Pasalnya sebelumnya saya pernah menemukan jenis jamur itu di Kotawaringin, Kalimantan Tengah dan di daerah hutan lebat Mamberamo, Papua. Bentuknya sangat mirip, cuma warna jaring atau kelambunya saja yang beda, kuning cerah.

Tanpa menyiakan kesempatan langka itu, saya pun segera mengabadikan jamur itu beberapa kali. Menurut Nurman (32), orang Baduy Luar yang menemani perjalanan saya ke Baduy Dalam, jamur tersebut tidak bisa dikonsumsi karena mengandung racun. “Iya jamur itu beracun. Orang Baduy tidak ada yang memakannya. Orang sini menyebutnya iles,” terang Nurman.

Berdasarkan ilmu yang saya dapat dari orang Dayak Desa Inan, Kecamatan Paringin Selatan, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan, saya sedikit tahu bagaimana membedakan mana jamur yang aman dikonsumsi mana yang beracun.

Orang Dayak di sana biasa mencari jamur atau biasa disebut kulat ke hutan atau ke semak belukar. Cara mereka membedakan mana kulat sehat mana yang beracun  cukup dengan melihat kondisi kulat itu.

Jika kulat ada ulat atau terdapat bekas dimakan ulat dan binatang kecil,  berarti kulat tersebut sehat dan bergizi. Tanda lain kalau kulat tersebut dihurung  atau dikerumuni binatang kecil yang bernama lokal bari-bari, maka kulat itu sehat alias boleh disantap. Sebaliknya kalau kulat tersebut terlihat utuh walau sudah berumur tua, tidak ada bekas dimakan ulat atau binatang kecil, itu dipastikan beracun.

Entah kenapa mendengar penjelasan Nurman tentang jamur kelambu itu beracun, rasa penasaran saya terhadap jamur itu justru semakin menjadi. Saya ragu kalau jamur itu beracun meskipun keseluruhan badan jamur itu  mulus dan tidak ada ulat, serangga atau hewan kecil? Pertanyaan lain yang juga mengendap dibenak saya, apa yang membuatnya tumbuh nyaman di Tanah Adat Baduy?

Apalagi jamur yang saya temukan bukan cuma satu, tapi ada satu lagi yang lokasinya berada beberapa meter dari jamur pertama. Berarti kemungkinan besar jamur kelambu ini memang banyak dan sebenarnya sudah lama menetap di Tanah Adat Baduy di Pegunungan Kendeng ini.

Rasa penasaran itulah yang membuat saya mencari informasi lebih jauh tentang rahasia besar jamur tersebut. Salah satunya dengan bertanya ke mbah google. Beberapa data akhirnya saya temui.

Dari soal nama misalnya, ternyata selain dijuluki jamur jala, jaring, dan kelambu, ada juga yang memanggilnya jamur wanita berkerudung, jamur bambu, dan jamur jaring panjang. Namun yang pasti jamur yang berasal dari keluarga Phallaceae ini, bernama ilmiah Phallus indusiatus.

Di daerah lain, misalnya orang Bugis di Sulawesi Selatan biasa menyebut jamur yang tumbuh di daerah tropis dan ditemukan di Australia, Asia Selatan, Afrika, dan Amerika ini dengan sebutan “basi jala-jala”.

Data lainnya menyebutkan jamur yang tumbuh di hutan lembab atau kebun yang kaya dengan bahan kayu yang telah membusuk ini, tidak bisa bertaham lama. Siang hari jamur ini sudah layu, apalagi kalau terlalu lama terpapar sinar matahari terik.

Data lain menerangkan jamur Phallus indusiatus ini memiliki kerabat serupa bentuknya yakni Phallus multicolor. Tetapi jamur Phallus multicolor memiliki topi berwarna lebih terang, dan batang serta indusium biasanya lebih kecil. 

Jenis lainnya ini biasa ditemukan di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua Nugini, Zaire, Tobago, Hawaii, Australia, dan Guam. 

Di samping itu ada pula Phallus merulinus yang lebih halus dan lebih pendek dari Phallus indusiatus. Umumnya ditemukan di Jepang, Amerika Utara bagian timur, beberapa daerah di Eropa. 

Kebenaran jamur kelambu ini benar beracun atau tidak akhirnya terjawab. Berdasarkan info lainnya diceritakan bahwa di Asia Timur, tepatnya di China, jamur ini sudah dikonsumsi sebagai santapan lezat sejak masa Dinasti ing. Bahkan sampai sekarang jamur ini masih diperjualbelikan sebagai bahan sup. 

Setelah dianalisis oleh ahli gizi, ternyata jamur ini mengandung protein dan serat tinggi sebanding dengan nilai protein dalam daging dan sayuran. Jamur ini pun memiliki kandungan mineral, kalium, natrium, dan besi yang kadarnya tergantung dimana jamur ini tumbuh. 

Mengapa jamur kelambu ini tumbuh dengan nyaman di kawasan hutan hak ulayat Baduy seluas 5.101,85 hektar sesuai dengan Peraturan Daerah Nomor 32 Tahun 2001 hingga kini? Jawabannya karena konsistennya orang Baduy menjaga kelestarain alamnya. 

Selain menjaga hutan-hutan lindung termasuk hutan bambunya, mereka juga melakukan penanaman berbagai jenis pohon serta menjaga dengan apik kelestarian sungai-sungainya seperti Ciujung, Cisimeut, Ciberang, dan Cimadur. 

Sejak nenek moyang mereka sampai sekarang, mereka berkomitmen teguh menjaga dan melestarikan lingkungan sebagai pilar kehidupan. Warga Baduy yang menetap di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, yang berjarak sekitar 40 Km dari Kota Rangkasbitung, atau sekitar 160 Km sebelah Barat Kota Metropolitan Jakarta ini diharamkan sembarang menebang pohon apalagi merusak hutan. Jika warga ingin melakukan penebangan harus seizin lembaga adat. 

Bahkan, kawasan Baduy hingga kini sengaja tidak memiliki jalan aspal untuk menghindari mudahnya orang luar keluar masuk hutan mereka. Andai ada warga luar yang ingin masuk hutan hak ulayat Baduy, tidak diperkenankan membawa angkutan, seperti motor, mobil, dan truk sebab kendaraan-kendaraan tersebut bisa merusak hutan kawasan Baduy.

Wilayah yang mereka diami merupakan bagian dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300-600 meter di atas permukaan laut (Mdpl) dengan topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai 45 derajat serta suhu rata-rata 20 °C, dan tentunya hutan yang tetap terjaga dengan baik termasuk hutan bambunya. Kondisi itu merupakan rumah ideal bagi jamur kelambu untuk tumbuh dan berkembang. 

Dampak positif dari pelestarian hutan, sungai, danau, dan gunung yang diterapkan masyarakat Baduy dari dulu hingga kini, bukan hanya mampu mengurangi bencana alam seperti banjir, longsor, dan pemanasan global, pun memberi kehidupan yang cukup dan nyaman bagi masyarakatnya, termasuk bagi sejumlah tanaman seperti jamur kelambu ini. 

Jadi tak heran rasanya kalau jamur berkerudung jaring ini betah dan nyaman tinggal di semak belukar, di bawah pepohonan bambu, dan hutan belantara Pegunungan Kendeng, Baduy lantaran semuanya masih terjaga dengan apik dan lestari hingga kini.

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com) 

Captions: 
1. Jamur kelambu tumbuh nyaman di lereng Pegunungan Kendeng, yang menjadi Tanah Adat Baduy. 
2. Kawasan Pegunungan Kendeng yang berbukit dan bergelombang serta berhutan lebat. 
3. Jamur berjaring bernama ilmiah Phallus indusiatus ini lebih senang tumbuh menyendiri.

NB.: DILARANG COPAS!

Read more...

Senin, 08 Juni 2015

Menyelam Sambil Merokok Cuma Ada di Festival Danau Sentani 2015

Melihat orang merokok sambil ngopi di café, itu biasa. Tapi kalau merokok sambil menyelam itu baru unik dan boleh dibilang luar biasa. Apalagi yang melakukannya para ibu. Pemandangan langka itu mungkin hanya dapat Anda jumpai kalau datang ke Papua, tepatnya di daerah sekitar Danau Sentani, Kabupaten Jayapura. 

Kebiasaan para ibu disana menyelam untuk mencari ikan sambil merokok itu rupanya menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Oleh karena itu dalam penyelenggaraan Festival Danau Sentani (FDS) 2015 yang akan digelar di Kawasan Wisata Khalkote, Distrik Sentani Timur, Kabupaten Jayapura, pada 19-23 Juni mendatang, atraksi aneh itu akan ditampilkan.

“Ibu-ibu disana terbiasa merokok setiap hari bahkan saat menyelam mencari ikan. Saat menyelam, bagian api dimasukkan ke dalam mulut,” ujar Bupati Jayapura Mathius Awoitauw dalam jumpa pers FDS 2015 bersama Menteri Pariwisata Arief Yahya di Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Senin (8/6).

Menurut Mathius attraksi menjadi lebih menarik karena yang melakukan adalah ibu-ibu yang usianya sudah agak tua. “Bagi mereka itu sesuatu yang biasa karena hampir setiap hari melakukan itu, merokok sambil menyelam untuk mencari ikan. Tapi bagi wisatawan ini menjadi atraksi menarik dan unik,” akunya.

Selain merokok sambil menyelam, event FDS 2015 ini juga akan “Kita akan menampilkan keunikan lain seperti menari di atas perahu, berperang di atas perahu, dan gema tifa kolosal yang diikuti sejumlah Ondoafi. 

Nanti akan ada 100 grup tari terdiri dari 24 grup Ondoafi (4 distrik) di sekitar Danau Sentani, 15 grup distrik di lingkup Kabaupaten Jayapura, 30 grup dari luar Kabupaten Jayapura, 15 grup dari Kota Jayapura, dan 16 grup dari kelompok Paguyuban.

Sejumlah kabupaten lain seperti Kabupaten Boven Digul, Kabupaten Asmat, Kabupaten Memberamo Raya, Kabupaten Yalimo, dan Kabupaten Sarmi juga akan ikut berpartisipasi meramaikan gelaran budaya tahunan ini.

FDS 2015, lanjut Mathius juga akan dimeriahkan dengan Pameran dan Pasar Produk Ekonomi meliputi Pameran Benda-Benda Budaya, Kerajinan Batu Cycloops, Aksesoris, Literatur Budaya dan Hasil-Hasil Pembangunan, serta Agenda Ketiga : Tour Wisata di Danau Sentani, Overland Tour dan Diplomatic Tour. Disamping itu akan ada pemecahan Rekor MURI untuk Tebar Benih Nila 1 Juta Ekor, Kerja Bakti Massal 10.000 orang,Pembersihan Danau Sentani (Save Sentani Lake) dan Bursa Batu Cycloop (Save Cycloop Mountain).

Setiap FDS berlangsung, lanjut Mathius wisatawan lokal sangat antusias. ”Kalau turis lokal dipastikan selalu full, ditambah wisnus dan wismannya,” akunya.

Penyelenggaraan FDS 2015 oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Jayapura, lanjut Mathius merupakan kali kedelapan. “FDS tahun ini mengamil tema “Budayaku Sejahteraku” (My Culture My Prosperous) merupakan ekspresi dari kecintaan terhadap sesama manusia melalui penguatan karakter budaya yang diimplementasikan dalam norma kehidupan yang damai,” jelas Mathius.

Pelaksanaan FDS 2015 yang mendapat pendukungan dari Kemenpar sejak penyelenggaraan pertama tahun 2008 ini dimaksudkan untuk mempromosikan potensi seni budaya dan obyek wisata, pelestarian seni budaya dan ekosistem Kabupaten Jayapura serta untuk menggerakan ekonomi daerah serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di wilayah Kabupaten Jayapura. 

Menpar Arief Yahya mengatakan Danau Sentani itu alamnya sangat bagus dan jika dikemas dengan budaya seperti dalam kemasan FDS ini bisa mendatangkan turis. Mengingat di atas 60 persen turis yang datang ke Indonesia adalah untuk melihat budaya. 

Arief menambahkan setiapkali FDS digelar bukan hanya menarik kunjungan wisatwan lokal, nusantara maupun mancanegara pun mendatangkan perputaran uang yang cukup signifikan. “Kita selalu melakukan evaluasi setiap penyelenggaran FDS. Contohnya selama FDS 2013 terjadi transaksi perputaran uang 350 milyar dan tahun berikutnya 2014 naik menjadi 450 milyar. Jika ini sering dilakukan akan lebih banyak lagi uang yang masuk,” jelasnya. 

Mengenai target kunjungan wisatawan, Arief menjelaskan untuk Jayapura tahun 2015 ini target wismannya 1000 orang, sedangkan wisnusnya 100 ribu orang. “Sementara untuk Provinsi Papua targetnya 10 ribu total wisman yang akan di attract,” pungasnya. 

Kata Arief akses udara ke Papua dan Kota Jayapura sudah banyak. “Pesawat Garuda sudah ada 4 kali penerbangan dari Jakarta ke Jayapura yang ditempuh selama 5 jam. Selain itu ada Lion Air, Batik Air, dan Sriwijaya yang terbang 2 kali,” terang Arief seraya menambahkan jumlah penginapan di Kota Jayapura tercatat ada 22 hotel dan 4 tempat penginapan lain.

Sebagai catatan Papua akan menjadi tuan rumah PON 2020. Berdasarkan instruksi presiden, lanjut Arief akses sudah harus selesai sebelum penyelenggaran event PON tersebut. 

“Pembangunan akses ke seluruh di Papua sudah harus selesai tahun 2019. Ketika akses sudah jalan maka akan lebih mudah mempromosikan Papua,” pungkas Arief. 

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com) 

Captions: 
1. Pesona alam Danau Sentani, Kabupaten Jayapura, Papua. 
2. Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam jumpa pers Festival Danau Sentani 2015 bersama Bupati Jayapura Mathius Awoitauw di Gedung Sapta Pesona, kantor Kementerian Pariwisata, Jakarta, Senin (8/6). 
3. Gadis Danau Sentani jadi model salah satu wadah promosi FDS 2015.

Read more...

Kamis, 04 Juni 2015

Festival Sriwijaya XXIII Momen Pas Berkunjung ke Kota Pempek

Punya rencana berlibur ke Palembang dalam waktu dekat? Kalau iya, rasanya acara Festival Sriwijaya ke-23 yang akan berlangsung di Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (TPKS) Karang Anyar, Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel) pada 11-14 Juni 2015 mendatang, menjadi momen yang pas buat pelesiran ke Kota Pempek ini. Pasalnya dalam feastival tersebut ditampilkan beragam budaya khas Palembang dan daerah lainnya. 

Gubernur Sumsel Alex Noerdin saat menghadari pers Launching Festival Sriwijaya ke-23 tahun 2015 di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Rabu (3/6) mengatakan dalam Festival Sriwijaya kali ini Pemprov Sumsel telah menyiapkan ragam kegiatan yang berbeda dari tahun sebelumnya yang kali ini dengan banyak melibatkan para seniman dan budayawan.

“Kita mementaskan Dul Muluk, teater tradisional khas Sumsel yang menampilkan pantun, syair dan nyanyian di dalam ceritanya. Juga seni musik tradisional Batang Hari Sembilan oleh 60 pemusik dan musisi bernada Pentatonis berlirik pantun serta nasehat,” papar Alex.

Festival Sriwijaya tahun ini pun menyediakan ruang bagi pemusik jalanan, baik yang tradisional hingga kontemporer, untuk menampilkan hasil karya mereka. Sedikitnya 20 grup pemusik jalan bakal memeriahkan acara yang mereka sebut sebagai tempat ekspresi dan kreativitas.

Plt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel, Irene Camelyn Sinaga mengatakan dalam festival kali ini juga ditampilkan kesenian Kuda Lumping yang melibatkan 64 paguyuban Kuda Lumping se-Sumsel. Kesenian Tanah Jawa yang juga dimainkan oleh masyarakat pribumi di Sumsel itu menjadi yang pertama kali tampil pada festival serupa di Indonesia.

“Ada juga pertunjukkan dan workshop Wayang Kulit Palembang. Kesenian ini berbeda dengan Wayang Kulit Purwo yang biasa dimainkan di Pulau Jawa karena dimainkan dengan bahasa Palembang Kuno, dan tokoh raja-raja perwayangan yang tampil dari sisi kiri,” jelas Irene seraya menambahkan juga akan dimeriahkan dengan sejumlah permainan rakyat antara lain terompah panjang, gasing, panjat pinang, dan lainnya.

Alex Noerdin menambahkan penyelenggaraan Festival Sriwijaya merupakan salah satu langkah Pempriov Sumsel untuk mengembalikan kebesaran Kerajaan Sriwijaya. 

Menurutnya dengan kembalinya nama besar Kerajaan Sriwijaya yang dikenal dunia, akan turut andil dalam meningkatkan pariwisata di Indonesia. "Kami (Sumsel) mungkin provinsi yang paling bersemangat mengangkat derajat bangsa. Maka itu kami saat ini sedang mencoba untuk mengembalikan kebesaran Kerajaan Sriwijaya. Salah satunya dengan Festival Sriwijaya," ungkapnya. 

Kata Alex lagi, Kerajaan Sriwijaya pada masanya merupakan kerajaan yang besar. “Tidak menutup kemungkinan kejayaan Sriwijaya dapat dikembalikan lagi. Palembang dikenal sebagai pusatnya Kerajaan Sriwijaya dan dunia sudah mengakui itu," ucapnya. 

Pada kesempatan yang sama Menpar Arief Yahya mengaku menyambut baik diselenggarakan Festival Sriwijaya ke-23 tahun 2015 yang diselnggarakan Pemprov Sumsel. “Melalui penyelenggaraan Festival Sriwijaya ini kita mengharapkan agar masyarakat Sumsel terus memperbaiki kelemahan pariwisata terutama di bidang infrastruktur ICT dan infrastrutur pariwisata maupun kesehatan dan higenitas lingkungan,” imbaunya. 

Menurut Arief target pariwisata yang ditetapkan oleh Presiden Joko Widodo selain jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia pada 2019 menjadi 20 juta wisman atau naik dua kali lipat dibandingkan tahun ini, juga peringkat daya saing harus meningkat menjadi ranking 30 dunia. “Untuk itu berbagai upaya harus dilakukan di antaranya meningkatkan fasilitas infrastruktur ICT, infrastruktur pariwisata, maupun kesehatan dan higenitas lingkungan yang selama ini menjadi kendala,” jelasnya. 

Arief optimis penyelengaraan Festival Sriwijaya 2015 ini dapat mendongkrak pariwisata Indonesia. "Festival Sriwijaya ini diharapkan bisa memperbaiki kelemahan pariwisata, terutama memperbaiki pada bidang infrastruktur pariwisata. Kita berharap masyarakat Sumsel mampu me ningkatkan pariwisata dalam upaya menampilkan budaya khas Sumsel," ucapnya.

Menurut mantan Direktur Utama PT Telkom ini, ketenaran Kerajaan Sriwijaya dan sitis-situsnya sampai ke negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, dan lainmya menjadi modal untuk mempromosikan Festival Sriwijaya sekaligus obyek-obyek wisata Sumsel. 

"Modal inilah yang akan kita gunakan untuk menarik wisatawan mancanegara, agar tertarik ke Sumsel. Apalagi wisman paling besar ke Sumsel adalah dari Malaysia, Jadi apakah Sumsel selama ini sudah berpromosi di Malaysia,” tanyanya. 

Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com) 

Captions: 
 1. Jembatan Ampera dan Sungai Musi yang menjadi ikon wisata Palembang. 
 2. Menpar Arief Yahya dan Gubernur Sumsel Alex Noerdin memukul gendang saat me-launching Festival Sriwijaya ke-23 tahun 2015 di Jakarta. 
 3. Salah satu bahan promosi Festival Sriwijaya XXIII.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP