. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Selasa, 22 Juni 2010

Tanah Air Beta, Pamer Pesona Alam Khas NTT



Awam seperti apa alam Kabupa-ten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT)? Tonton saja film Tanah Air Beta (TAB) yang tengah tayang di sejumlah bioskop di kota-kota besar. Anda bukan sekadar disuguhkan pesona alam khasnya, pun beragam pesan moral yang dikemas dalam kelucuan alami dan menyentuh.

Pesona perbukitan tandus dengan jalan raya kosong berliku jadi suguhan gambar yang apik dalam film TAB. Apalagi di dalamnya ada unsur drama perjuangan seorang gadis lokal bernama Merry (Griffit Patricia) sedang berjalan kaki menuju perbatasan, Motaain untuk mencari kabar kakaknya Mauro (Marcel Raymond) yang terpisah dan memilih tinggal di Timor Leste.

Masih banyak lagi gambar yang mempertontonkan keindahan alam NTT yang penuh makna, baik yang tersirat maupun tersurat dalam film produksi Alenia Pictures milik pasangan artis Ari Sihasale dan Nia Dicky Zulkarnaen ini.

Misalnya visual Carlo (Yehuda Rumbindi) teman sekelas Merry yang jahil mengejar Merry, memotong kompas menuruni bukit hingga ke jalan beraspal lalu menyetop kendaraan yang membawa gerobak berisi rumput.

Terlebih gambar Merry dan Carlo saat berada di atas truk melintasi jalan raya yang lengang dengan latar belakang perbukitan coklat beratap langit biru. Dan ketika kedua bocah itu menikmati senja dalam perjalanan ke perbatasan. Wow fantastik, seperti berada dalam petualangan di kawasan gersang Afrika.

Begitu juga saat Merry bersusah payah mengambil buah kuning di sebuah pohon kering dengan sebatang kayu. Sungguh artistik, dan mampu menyiratkan nilai pantang menyerah dalam keadaan sulit.

Bukan cuma indah, artistiktik, dan menyentuh, film berkisah tentang keluarga yang tercerai-berai akibat terpisahnya Timor Leste dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini menawarkan kelucuan alami, terutama dari ucapan spontan dan tingkah Carlo.

“Kalau tahu, kenapa aku tanya,” begitu tandas Carlo dengan mimik kesal. Namun sanggup membuatku dan sejumah penonton di Planet Hollywood, Jakarta tertawa habis. Atau saat dia sok jagoan memanjat pohon untuk mengambilkan buah kuning untuk Merry namun justru badannya digigit semut. “Ini pohon tinggal semutnya saja,” gerutunya yang justru berhasil membuatku dan penonton tertawa lagi. Begitu juga ketika melihat mimiknya yang memelas berharap Merry memberinya buah kuning dan juga air. Begitu polos dan menggelikan.

Film yang mengambil lokasi di Kabupaten Belu, NTT, termasuk Jembatan Air Mata di Motaain, jembatan bersejarah tempat bertemunya sejumah keluarga yang terpisah, sebagian masuk ke Timor Leste, sebagian tinggal di Atambua ini pun menyelipkan unsur edukasi mencuci tangan sebelum makan. Sebuah pesan sponsor produk sabun ini dikemas secara cerdas, menarik, dan tak menggurui.

Film yang dibintangi Alexandra Gottardo sebagai Tatiana-ibunya Merry, Arul Dahlan (Abu Bakar) yang terpisah dengan istrinya namun terpesona dengan Tatiana, Lukman Sardi sebagai petugas relawan perbatasan, Robby Tumewu (Koh Ipin), dan Thessa Kaunang (Ci Irene) pedagang keturunan Tionghoa ini juga menyentuh rasa cinta terhadap ibu saat lantuan biola mengalunkan tembang Kasih Ibu; ...Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi tak harap kembali. Bagai sang surya menyinari dunia...

Dan di ujung film, lagu Indonesia Pusaka karya Ismail Marzuki berhasil menutup film ini dengan menawan sekaligus menggetarkan dan membangkitkan nasionalisme. ...Indonesia Tanah Air beta, pusaka abadi nan jaya. Indonesia sejak dulu kala tetap dipuja-puja bangsa. Di sana tempat lahir beta. Dibuai dibesarkan bunda. Tempat berlindung di hari tua, tempat akhir menutup mata...

Usai menonton TAB, rasanya ingin segera mengeksplor kekhasan alam NTT, termasuk mengunjungi daerah perbatasan dan sejumlah tempat yang menjadi lokasi film mendidik dan nasionalis ini.

Mampukah film ini mengangkat pariwisata Belu khususnya atau bahkan membuat kabupaten di perbatasan dan beribukota Atambua ini mendapat predikat baru sebagai kabupaten Tanah Air Beta, sebagaimana pariwisata Belitung yang terangkat lalu menyandang julukan Bumi Laskar Pelangi setelah terekspos dalam film Laskar Pelangi? Tunggu saja hasilnya.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Alenia Pictures

Read more...

Kamis, 17 Juni 2010

500 Pelajar SD Serempak ke 7 Museum



Dalam rangka menyuk-seskan Tahun Kun-jungan Museum 2010 yang dicanangkan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), 500 pelajar Sekolah Dasar (SD) dari 102 SD se-DKI Jakarta bersama Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) serempak mengunjungi 7 museum yang ada di Jakarta. Salah satunya ke Museum Indonesia di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Kamis (17/6).

Alva, siswi kelas 5 SD 24 Klender, Jakarta Timur bersama seorang siswa terlihat serius mencatat sejumlah koleksi bertema seni dan kriya yang tersimpan di dalam lemari berkaca, di lantai 3 Museum Indonesia. Selain mencatat di buku tulis, siswi berambut panjang ini aktif menanyakan beberapa koleksi yang tidak diketahuinya kepada pemandu.

Bukan cuma Alva dan temannya saja yang terlihat di museum berarsitektur pura Bali itu. Masih ada 48 pelajar SD lagi yang juga terlihat antusias mencatat, bertanya, bahkan di antaranya mengabadikan beberapa koleksi dan keindahan bangunan berukir khas Pulau Dewata dengan ponselnya.

Ke-50 pelajar berkaos seragam putih itu didampingi SIKIB. Mereka dibagi menjadi beberapa kelompok, satu kelompok terdiri 5 pelajar yang dipandu oleh seorang pemandu. Masing-masing pemandu menerangkan seluruh koleksi yang ada di Museum Indonesia. Semua lantai ditelusuri rombongan peajar itu, mulai dari lantai dasar yang menyimpan koleksi bermacam wayang, lantai dua yang berisikan koleksi bertema manusia dan lingkungan, dan terakir lantai 3 yang antara lain mengoleksi ukiran tembaga bertajuk pohon hayat (the tree of life) yang tinggi menjulang, berada tepat di bawah atap.

Vita Nova Gamawan Fauzi, istri Menteri Dalam Negeri memimpin rombongan pelajar SD ke museum yang bertaman luas dan bekolam indah ini. Vita didampingi Ade F. Meyliala, Direktur Operasional TMII. “Tujuan kunjungan ke museum ini untuk memperkenalkan museum sejak dini kepada kalangan pelajar terutama SD agar mereka mengetahui apa itu museum dan koleksinya agar kelak tumbuh rasa cinta Tanah Air dan museum,” ungkap Vita.

Selain Museum Indonesia, ada dua museum lagi di TMII yang menjadi lokasi acara serupa yakni Museum Iptek dan Museum Transportasi. Sedakan 4 museum lainnya di luar TMII.

Ketujuh museum tersebut serempak dikunjungi oleh 500 pelajar SD bersama SIKIB dalam rangka menyukseskan Tahun Kunjungan Museum 2010 yang dicanangkan Kemenbudpar.

Menurut Vita Gamawan Fauzi, hasil dari kunjungan ke beberapa museum ini akan dievaluasi. “Kalau ternyata hasilnya baik, dapat menumbuhkembangkan minat cinta museum, kegiatan ini sebaiknya dilanjutkan setiap tahunnya,” jelasnya.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 16 Juni 2010

Gaya Penggiat Alam Bebas Era Digital



Pernah booming lalu hening. Kini kegiatan alam bebas kembali bergeming. Komunitas baru bergenre petualangan bermunculan bak jamur di musin hujan. Ada yang memiliki warna tersendiri dengan penambahan kegiatan khusus. Tak sedikit yang masih sekadar wadah penyaluran hobi. Tapi yang pasti, gaya dan karakternya beda dengan pendahulunya.

Daftar acara di facebook Anjani (27) dan Rahman (29), penuh undangan kegiatan alam bebas dari sejumlah komunitas. Ada yang mengajak mereka mendaki gunung, rafting, caving, diving, hunting photography, offroad, mengunjungi suku pedalaman, menjambangi pulau-pulau eksotis, mencicipi kuliner tradisional, menyusuri peninggalan bersejarah, dan melakukan aksi konservasi.

Kedua penggiat alam bebas yang bekerja di perusahaan swasta di Jakarta ini mengaku senang mendapat bermacam undangan itu namun terkadang bingung memilihnya. “Kalau diikuti semua, mungkin hampir setiap akhir pekan tak pernah di rumah. Jadi aku pilih yang menarik dan pas waktunya,” jelas Anjani yang diamini Rahman.

Sejumlah pemilik akun di jejaring sosial yang belakangan ini digandrungi masyarakat Indonesia pun kebanjiran undangan serupa, terutama mereka yang berteman dengan penyuka kegiatan alam bebas bernuansa petualangan. Belum termasuk lagi undangan senada dari milist-milist berbasis minat yang sama. Ini menjadi bukti kegiatan alam bebas yang dulu lebih sering disebut kepecintaalaman, kembali berdenyut.

Bagaimana bisa kembali bergairah dan apakah ada perbedaan karakter kepecintaalaman dulu dan kini? Berdasarkan pengamatan penulis, banyak faktor penyebab terjadinya kelemahan lalu kegairahan kembali kepecintaalaman di Tanah Air. Perbedaan karakternya juga kental, mulai dari peminatnya, perlengkapan, kekuatan keanggotaan, dan cara penjaringan anggotanya.

Masa Keemasan
Sebelum mendalam, baiknya kita tengok sedikit latarbelakang organisasi kepecintaalaman terbesar di Indonesia yang muncul pada era tahun 60-an yakni Wanadri di Bandung dan Mapala UI di Jakarta. Wanadri dicetuskan oleh sekelompok pemuda yang sebagian besar bekas pandu (pramuka) Januari 1964 kemudian diresmikan 16 Mei 1964.

Sedangkan Mapala UI, cikal-bakalnya tercetus 8 November 1964 oleh Soe Hok Gie yang meninggal karena menghirup gas beracun saat turun dari Puncak Mahameru Gunung Semeru pada 16 Desember 1969 (satu hari jelang ultahnya ke-27). Semula bernama Impala, kemudian Mapala Prajnaparamita dan kemudian sejumlah organisasi kepecintaalaman di UI itu bergabung dan menyandang nama Mapala UI.

Kedua organisasi di atas menjadi pelopor berbagai ekspedisi baik di dalam maupun mancanegara. Mereka seolah ‘bersaing’, dan ternyata keduanya berhasil mendapat simpati dan tempat di hati para pendatang baru di dunia petulangan Indonesia.

Semasa itu kelompok-kelompok pecinta alam marak di kalangan SMA dan kampus lain. Beberapa di antaranya gaungnya cukup menonjol seperti Trupala SMA 6 Jakarta. Ada juga kelompok pecinta alam yang dibangun oleh anak-anak karang taruna yang memiliki pendidikan dasar dan pengalaman kepecintaalaman.

Jalur umum pendakian seperti Jalur Cibodas Gunung Gede-Pangrango ketika itu sudah ramai ditapaki pendaki dari berbagi penjuru kota di Pulau Jawa. Bahkan jalur tersebut dijuluki ‘jalan raya’ oleh para pendaki yang berpengalaman dan suka membuka jalur baru atau mencoba jalur lama yang sudah jarang dijajaki.

Sejumlah prestasi berhasil diraih saat itu, Wanadri misalnya sukses ber-ekspedisi di Sungai Mahakam tahun 1987, pendakian gunung es di Garwal dan Gunung Himalaya (1982), dan ekspedisi Leuser (1986). Sedangkan Mapala UI juga berhasil melakukan ekspedisi pendakian puncak Trikora bersama pendaki Amerika tahun 1981, penelitian pegunungan salju katulistiwa (1984), pendakian Himalaya (1986), mengarungi Jeram Sungai Alas 1986, pemanjatan dinding Utara Jayakusuma (986), pemanjatan Bogaboo Spire, Canada (Juli– gustus 1988), pendakian Gunung Salju Kaulistiwa Andes (September 1988), dan ekspedisi caving Gua Lebak Tipar(1987).

Tak sedikit pula petaka yang berujung kematian para pedaki gunung, antara lain Willy dan Arief di Pangrango tahun 1970, Sukardi di Gunung Burangrang (1986), enam pelajar STM Pembangunan di Gunung Salak (1987-penulis sempat ikut SAR), dan Sri Yanser di Gunung Ceremai(1988).

Puncak dukanya, ketika pecinta alam legendaris Norman Edwin meninggal saat mendaki Gunung Aconcagua (6.959 m dpl) di perbatasan Argentina-Chile, April 1992. Pendakiannya merupakan rangkaian dari ekspedisi Sevent Summits atau pendakian 7 puncak dunia oleh Mapala UI. Norman merupakan salah satu pelopor ekspedisi besar ke beberapa gunung ternama di dunia. Berkat aksi dan prestasinya semasa itu, nama Mapala UI kian tersohor.

Era Pengujian
Entah benar atau tidak, sejak kematian Norman, masa keemasan Mapala UI ikut meredup. Meski ekspedisi baru masih dilakukan, namun tak jua mengangkat ketenarannya. Begitu juga dengan Wanadri, kendati sejumlah ekspedisi rajin digelar sampai era 2000-an, namun gaung dan kibarnya tak setegar dulu, semasa era 70 dan 80-an.

Aktivitas organisasi kepecintaalaman lain di tingkat SMA dan kampus juga turut melemah. Bahkan ada yang mati lantaran tak lagi mendapat izin pihak sekolah. Pendakian pun tak seramai dulu dan bukan satu-satunya pilihan. Kemunculan kegiatan alam bebas lain yang kian berkembang seperti wall-climbing, caving, rafting, paragliding, dan menyusul diving yang 5 tahun belakangan ini mendapat respon luar biasa, menjadikan pendakian gunung tidak lagi memonopoli kegiatan alam bebas Indonesia. Kegiatan pendakian pun sempat hening.

Akibat krisis moneter (krismon) tahun 1998, biaya pendakian meninggi. Tarif transportasi, perlengkapan, dan logistik ikut-ikutan naik. Pendakian yang dulu terjangkau kalangan pelajar dan mahasiswa berubah menjadi kegiatan mahal. Kondisi itu pun berimbas terhadap kegiatan pendakian yang kian hening.

Setelah perekonomian Indonesia membaik, peminat kepecintaalaman belum sepenuhnya pulih. Menjamurnya pusat hiburan di kota-kota besar seperti mall, diskotik, fitnes, dan karoke membuat banyak generasi muda memiliki alternatif selain mendaki gunung dan kegiatan alam bebas lain.

Kegiatan pendakian sepi tapi tidak mati. Bendera beberapa organisasi pecinta alam masih berkibar di puncak-puncak gunung meski tak seramai dulu. Masa-masa itulah kualitas kepecintaalaman seseorang teruji. Ketika banyak orang memilih kegiatan lain termasuk sejumlah pendaki yang pindah ke lain hati, segelincir pendaki tetap loyal dengan pilihannya. Tak sedikit terdengar cemoohan, “hari gini masih naik gunung” dari mereka yang sudah mati rasa dengan kegiatan mendaki. Bahkan generasi anak mall dan dugem, seakan aneh melihat para pendaki yang tetap setia di jalurnya.

Proses alami pun terjadi. Mereka, pendaki sejati, tak bergeming dengan godaan hiburan gaya anak-anak urban kota. Andaipun ada yang mencoba kegiatan petualangan lain seperti rafting, paragliding, surfing, dan diving, mereka hanya ingin melebarkan sayap petualangannya. Rasa cinta terhadap pendakian tetap hidup dan tak pernah ditinggalkan.

Sementara mereka yang menjadikan kegiatan kepecintaalaman sebagai wadah pelarian dari masalah pribadi (entah itu masalah asmara, keluarga, sekolah, kampus, dan masalah di lingkungan pergaulannya) akhirnya kandas, mundur perlahan tapi pasti. Sebaliknya, mereka yang lebih serius menganggap kepecintaalaman sebagai wadah untuk mengenal Tanah Air lebih dekat sekaligus menumbuhkan nasionalisme-nya, tetap bertahan. Terlebih mereka yang memberi nilai plus atas kegiatan kepecintaalamannya dengan berekspedisi, penelitian, dan pelestarian.

Masa Kebangkitan
Memasuki era 2000, kepecintaalaman khususnya pendakian mulai berdenyut. Pengaruh perkembangan internet dan teknlogi informasi termasuk ponsel turut membantu geliat itu. Muncul komunitas-komunitas baru penggiat alam bebas yang menjaring anggotanya lewat milist.

Contoh Kembaratropis yang terbentuk akhir 2001 usai kegiatan di Taman Nasional Ujung Kulon. Komunitas ini memiliki ciri khas makan bersama beralaskan daun pisang atau daun jati utuh dalam setiap perjalanannya.

Mereka berhasil melakukan sejumlah petualangan, antara lain caving Gua Kerek di Sukabumi, pendakian ke Gunung Krakatau, Puntang, Gede, Papandayan, Guntur, Klabat, dan Gunung Salak, perjalanan ke Kawah Ratu, Badui, Taman Nasional Meru Betiri, Alas Purwo, Kawah Ijen, Ujung Genteng, Curug Cikaso, hingga ke Curug Gendang di Pandeglang Mei 2010 lalu. "Meski anggotanya kian menipis lantaran kesibukan mengurus rumah tangga dan pekerjaan, namun komunitas yang selalu mempublikasikan hasil kegiatannya ke media cetak dan online ini tetap hidup," aku Herman salah satu pendiri.

Kehadiran tayangan kegiatan kepecintaalaman di stasiun TV swasta seperti Jejak Petualang dengan host cantik dan fresh Riani Jangkaru tak bisa dipungkiri ikut menggairahkan kepecintaalaman Tanah Air yang sempat lesu. Terlebih sejak booming-nya jejaring sosial facebook yang memudahkan segelincir orang membuat jaringan pertemanan baru lalu membentuk komunitas penggiat alam bebas dadakan.

Komunitas yang tercipta dari hasil perjalanan atau dari pertemanan dunia maya itu, keanggotaanya lebih bersifat longgar. Jarang atau mungkin tidak ada yang memberikan pendidikan dasar kepecintaalaman kepada anggotanya sebagai bekal sebelum terjun berpetualang. Anggotanya didasarkan perasaan sehobi. Umumnya para pekerja yang semasa sekolah atau kuliah pernah bergelut dalam kegiatan alam bebas. Tapi banyak pula yang tidak punya latar belakang itu, alias pemain baru dalam dunia petualangan.

Karena tidak terikat, komunitas ini mudah menerima anggota dan simpatisan, kapanpun dan dari manapun. Tapi mudah pula ditinggalkan. Rasa memiliki (sense of belonging) terhadap komunitas itu pun tidak sekuat dibandingkan organisasi pecinta alam di kampus atau sekolah, yang harus melalui proses pendidikan dasar dan serangkaian ‘tugas’ sebelum menjadi anggota tetap.

Justru kelonggaran itulah membuat orang dengan mudah membuat komunitas baru tanpa harus repot menyusun Angaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga sebagaimana organisasi resmi di kampus maupun sekolah. Komunitas-komunitas baru ini kian marak meski kebanyakan peminatnya menjadikannya semata sarana buat alternatif mengusir jenuh dari rutinitas sehari-hari, pelampiasan hobi lama, dan sekaligus menjalin pertemanan baru.

Tapi ada pula beberapa komunitas yang punya karakter lebih, misalnya dengan memberi pelatihan penulisan dan pemotretan perjalanan kepada anggotanya. Komunitas khusus seperti itu memang bukan hal baru, jauh sebelumnya sudah ada PHINISI Outdoor Activity Companion (POAC) yang terbentuk di Jakarta tahun 1992.

Komunitas ini bermotto journalistic adventure, yang mewajibkan anggotanya membuat hasil karya jurnalistik baik itu tulisan maupun foto dari setiap perjalanan yang dilakukan. “Anggotanya sekarang sibuk bekerja sebagai wartawan di berbagai media, jadi komunitas ini perlahan lenyap,” kata Erwin, salah satu anggotanya yang kini sukses menjadi fotografer di sebuah kantor berita asing.

Ada juga komunitas baru yang menekankan pada kegiatan petualangan yang peduli akan kelestarian. Namanya PROGA (Pro Green Adventures). Komunitas yang terbentuk 2008 lalu di Jakarta ini memiliki 10 sub bidang petualangan; Pro Green Mountaineering, Climbing, Diving, Rafting, Caving, Paragliding, Surfing, Sailing, Canoeing, dan Pro Green Camping. “Kegiatan kami menekankan petualangan yang berpihak pada kelestarian alam dan konservasi, bukan sekadar pemuasan adrenalin semata” jelas Bara, pendiri komunitas ini.

Masih banyak komunitas lain yang mengkhususkan pada kegiatan bernilai plus seperti FORPEG (Forum Pengelolaan dan Pemanfaatan Gunung) yang kerap menggadakan penelitian di gunung mulai dari flora, fauna, kondisi tanah, batu, dan obyek-obyek alamnya, serta tradisi budaya masyarakatnya. “Tujuannya untuk pengumpulan data yang berujung pada pengembangan daya tarik wisata dan lainnya,” terang Bram, sang pendiri.

Penampilan & Perlengkapan
Penampilan peminat penggiat alam bebas era digital ini juga beda, lebih fashionable dan lengkap. Pakaian, kaos, celana, dan aksesorisnya (kacamata, balaklava, jam tangan, dan topi) bermacam pilihan. Begitu juga dengan sepatu, sandal lapangan, dan raincoat-nya. Ranselnya besar berwarna-warni. Intinya, pendaki era masa kini dimanjakan dengan berbagai macam pilihan perlengkapan pendakian dari bermacam merk dalam dan luar negeri. Dulu, hanya ada dua produk lokal yang ketika itu berkibar namanya (maaf tidak bisa saya sebutkan di sini). Paling banter sepatu dan ransel ABRI serta kemeja planel kotak-kotak.

Perlengkapan masaknya juga lebih praktis, ada satu set trangia bermacam ukuran dengan bahan baker spritus. Tidak seperti jaman dulu, cuma parafin atau gas padat, kompor parafin dari seng dan wadah nasting. Perlengkapan tidurnya tenda domme aneka warna berbeda ukuran, lengkap dengan sleeping-bag yang lebih ringkas namun hangat serta matras aluminiumfoil yang dapat mengantarkan panas. Tidak seperti jaman dulu, bivak jadi andalan untuk bermalam atau tenda pramuka, karena tenda domme masih barang langka.

Alat navigasi untuk orientasi medan (ormed) pendaki sekarang jelas hightec seperti alat pengukur ketinggian sekaligus pencatat suhu digital Garmint GPS Map 76, Garmint Vista CX, Garmint 60, dan tentu saja ponsel teranyar dengan fitur-fitur lengkap dan praktis. Sedangkan dulu, cuma ada kompas dangdut dan peta tofografi lama buatan Belanda.

Pembekalan
Mengingat kegiatan kepecintaalaman berunsur petualangan termasuk kegiatan yang berisiko tinggi (high risk activity), komunitas-komunitas penggiat alam bebas yang baru terbit, semestinya membekali anggotanya dengan pengetahuan dasar kepecintaalaman meski kadar dan bentuk penyampaiannya berbeda dengan pendidikan dasar di sekolah dan kampus. Namun materinya tetap sama, seperti pembekalan tentang orientasi medan (navigasi), survival, ketrampilan tali-temali, pengepakan peralatan, penguasaan PPPK, dan ketrampilan SAR serta etika.

Pembekalan materi itu ditujukan terutama buat anggota yang tidak punya latarbelakang kepecintaalaman untuk menghindari atau mengurangi risiko yang sangat mungkin terjadi. Sebaiknya pula dibekali pengetahuan dalam bidang lingkungan hidup seperti konservasi, penghijauan, dan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat lokal.

Dengan pembekalan itu, pengikut komunitas penggiat alam bebas era dunia maya ini bukan sekadar lebih gaya dalam penampilan tapi juga kaya akan wawasan kepecintaalaman. Kemudahan mengakses informasi aktivitas alam bebas lewat internet dan kelengkapan perangkat digitalnya, turut menunjang.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan_pemerhati gunung & pariwisata (adji_travelplus@yahoo.com)

NB.: Boleh mengutip tulisan ini, asal menyebutkan sumbernya.

Read more...

Selasa, 15 Juni 2010

Melacak Sang Primadona Ujung Kulon



Kalau Komodo menjadi raja di Taman Nasional Komodo lantaran populasinya banyak dan penyebarannya merata hingga mudah dilihat. Sebaliknya Badak Jawa, sang primadona Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), amat sulit dijumpai. Perlu kiat tersendiri untuk berhasil melacaknya, selain didukung faktor keberuntungan.

Sampai kunjungan kelima Ke TNUK ini, saya pun belum berhasil melihat hewan purba ini secara utuh di habitatnya. Kunjungan sebelumnya, saya cuma melihat dan memotret jejak tapak dan kotorannya, kali ini kebagian kubangannya saja. Dalam hati bertanya, apa yang sebenarnya terjadi dan kemana sang primadona sembunyi?

Keberhasilan melihat kubangan badak bercula satu ini bukan tanpa usaha. Saat berada di Pos Karang Ranjang, saya berusaha menggali data tentang keberadaan satwa berkulit tebal berbentuk pelana ini. Untunglah R. Uus Sudjasa, yang ketika itu menjabat ketua Rhino Monitoring & Protection Unit (RMPU), dengan ramah membeberkan semua prilaku dan permasalahan Badak Jawa di habitatnya ini.

Menurut Uus, hasil sensus tahun 2003, populasi Rhinocerus sondaicus ini di TNUK kurang lebih 58 ekor. “Selain itu hidupnya soliter alias menyendiri, lebih sering keluar pada malam hari dan daya jelajahnya luas mencapai 25 Km persegi, inilah yang membuatnya sulit dilihat,” paparnya.

Sensus Badak Jawa yang dilakukan saat ini merupakan perpaduan antara tiga sistem yakni sistem transek, membuat jalur di hutan selebar 1 meter dengan jarak 2 KM lalu mengecek arah lintasan badak, menghitung jumlah dan usia tapak serta lokasinya. Kedua, sistem penempatan kamera trap, memasang kamera infrared di lintasan badak dan terakhir sistem pengujian DNA, dengan mengambil ta’ik dan urine-nya. Dari ukuran tapak badak bisa diketahui umurnya. “Tapak 29-30 Cm itu badak dewasa, 16-17 Cm badak remaja, sedangkan dibawah 16 Cm itu anak badak,” terangnya.

Pakan utama badak adalah tanaman. Ada 200 jenis tanaman badak yang tumbuh di kawasan ini antara lain sulungkar, segel, teleksa, jinjing kulit, dan tepus. “Semua tanaman itu mengandung obat-obatan, biasanya yang dimakan pucuk daun mudanya,” kata Uus. Kendati hewan herbivora, namun bobot badak dewasa bisa mencapai 1,3 ton. Bahkan dulu pernah ditemukan fosil badak raksasa, seberat 2,3 ton dengan panjang 3,1 meter dan tinggi 1,6 meter.

Berdasarkan sensus badak dengan sistem transek di daerah aliran sungai di wilayah pantai selatan, terdeteksi perubahan daya jelajah badak. “Dulu jangkauannya di wilayah pantai utara tapi sekarang ke kawasan selatan termasuk Semenanjung Ujung kulon yang merupakan zona inti,” jelasnya.

Hasil pemantauan kamera trap, ternyata populasi badak jantan sekarang ini lebih banyak daripada betina. Perbedaan jenis kelamin badak menurut Uus, dapat dilihat dari bentuk culanya. Cula merupakan kumpulan serabut rambut yang mengeras dan mengandung zat karofin. “Cula jantan lebih meruncing, panjangnya berkisar antara 15-20 Cm. Yang betina culanya seperti batok kepala oleh sebab itu disebut cula batok,” terangnya.

Mitos Keliru & Dilema
Populasi Badak Jawa yang sedikit ini masih pula terancam oleh ulah para pemburu. Ancaman lain terhadap TNUK adalah pemanfaatan hutan oleh masyarakat sekitar kawasan termasuk pengunjung yang tidak mengerti nilai-nilai konservasi.

Menurut Uus, pemburu badak menggunakan locok, yakni senjata laras panjang sekitar 1,5-2 meter dengan amunisi besi dan timah. Badak yang mati hanya diambil cula, kuku dan taringnya kemudian dijual ke kolektor atau ke peramu obat tradisional Tionghoa, sementara tulang iganya untuk bahan baku pipa rokok.

Masih kuatnya mitos bahwa cula badak mujarab untuk obat kuat dan penjernih air laut, membuat orang terpikat. Terlebih dengan iming-iming imbalan harga tinggi terutama dari kolektor, membuatnya diburu. Banyak orang mengira bahwa cula badak sama dengan tulang. Padahal cula itu kumpulan dari serabut rambut yang mengeras. cula akan mengalami keropos sedangkan tulang tidak. Ada juga yang menggagap cula Badak itu senjata. Sebenanya cula bagi badak adalah perhiasan yang antara lain untuk membedakan mana jantan dan betina “Semua itu mitos keliru. Sebab berdasarkan penelitian sebuah LSM dan beberapa perguruan ternama, ternyata cula badak tidak berkhasiat,” jelasnya.

Meski keberadaan Badak Jawa dilindungi oleh UU Konservasi No. 5 tahun 1990, dengan memberi sanksi 5-20 tahun kurungan penjara atau denda Rp 200 juta, namun pendekatan secara fisik itu kurang optimal. “Itu tak membuat para pemburu takut dan jera, padahal pernah ada yang tertangkap dan dijebloskan ke buih selama lima tahun,” ujarnya.

Belakangan RMPU dan pihak terkait melakukan cara lain untuk menanggulangi masalah itu, seperti pendekatan keagamaan, yakni dengan memberikan penyuluhan kepada para kyai dan tokoh masyarakat tentang pentingnya kelangsungan hidup badak. Dan pendekatan kesejahteraan, yakni melatih penduduk menjadi pengrajin patung atau replika badak, pemandu maupun porter. Kedua langkah preventif tersebut dilakukan dengan mendatangi langsung penduduk di sekitar pegunungan. Dan cara terakhir, berupaya memutus jalur perdagangan cula badak di Jakarta, Bangkok, dan Singapura.

Seperti dialami beberapa taman nasional lain, kepentingan konservasi dan ekonomi pedesaan kerap berbenturan, termasuk menyangkut pemanfaatan hutan kawasan. Selalu ada dilema di sana. Idealnya, keduanya berjalan serasi, selaras, dan seimbang. Ada timbal balik untuk masyarakat jika memang dilarang memanfaatkan hutan taman nasional, salah satunya dengan menciptakan lapangan pekerjaan.

Selama ini, tambah Uus, perhatian Pemda terhadap kelangsungan badak masih kurang. Program Konservasi Badak Jawa Terpadu, baru pada tahap wacana. Pelestarian alam dan masalah perekonomian masyarakat lokal justru dibebankan ke pihak taman nasional. “Seharusnya Badak Jawa menjadi perhatian dunia karena sudah menjadi warisan alam dunia, sayang lobi-lobi Pemda untuk itu masih kurang,” jelas Uus.

Kubangan
Usai mendapat informasi lengkap, saya pun minta diantar ke kubangan badak yang terdekat dari Pos Karang Ranjang. Sayang, menurut petugas, lokasi yang dimaksud sudah lama ditinggalkan badak. Kubangannya mengering dan tertutup semak belukar. Dengan penjelasan tentang pentingnya gambar untuk kelengkapan dan keakuratan informasi, akhirnya Uus dan anggotanya, Untung Sunarko serta Tura, seorang pemandu, mengantarkan saya ke kubangan badak lain di pedalaman Semenanjung Ujung Kulon.

Dari Pos Karang Ranjang kami melewati trek umum sekitar 1 Km, lalu memasuki hutan sejauh kurang lebih 2 Km, menembus kerapatan pepohonan dan palem berduri. Akhirnya kami sampai di sebuah kubangan badak yang tak berpenghuni selebar 3-5 meter persegi. Beberapa jenis pakan badak tumbuh di sekitar kubangan yang tergenang air berwarna coklat. “Kubangan ini kadang digunakan babi hutan dan biawak, dalam jangka sebulan biasanya badak akan kembali ke kubangan ini,” kata Untung.

Mei 2010 lalu, Uus yang kini menjabat sebagai Kepala SPTN Wilayah II Handeuleum menyerahkan hasil penemuan tulang Badak Jawa ke Kantor Balai Taman Nasional Ujung Kulon di Labuan, Pandeglang. Tulang itu ditemukan hari Kamis (20/5) sekitar jam 14.40 WIB di Blok Nyiur TNUK.

Menurut Kepala Balai Taman Nasional Ujung Kulon Ir. Agus Priambudi MSc, ini tulang Badak Jawa pertama yang ditemukan tahun 2010. “Penemuan Tulang Badak Jawa terbanyak terjadi tahun1982 sebanyak lima ekor. Tahun 2003 satu ekor dan tahun ini baru satu ekor,” ungkapnya.

Badak Jawa termasuk binatang berusia lama karena bisa hidup antara 40 hingga 60 tahun, kendalanya perkembangbiakannya sangat lamban. Populasi Badak tahun ini belum terdata, tahun 2009 diperkirakan ada 50 ekor. Menurut Agus Primabodo, pihaknya tengah melakukan sensus badak untuk mengetahui jumlah pasti populasi Badak Jawa ini. “Pendataan ulang badak ini dilakukan dengan memasang kamera trap. Keuntungannya mendapatkan angka yang tepat dan bisa mengamati perilaku badak serta memprediksi umur rata-rata badak yang terpantau,” terangnya.

Uus menghimbau pengunjung TNUK dan masyarakat untuk ikut menjaga populasi Badak Jawa (rhinoceros sondaicus) mengingat badak tersebut merupakan salah satu badak purba yang masih hidup di Indonesia selain Badak Sumatera (dicerorhinus sumatrensis). Masih ada 3 spesies badak lagi yang ada di dunia, yakni Badak Hitam (diceros bicornis), Badak Putih (ceratotherium simum), dan Badak India (rhinoceros unicornis).

Uus juga memberikan tips sukses melacak dan melihat badak. Selain seijin pihak taman nasional, sebaiknya membentuk satu tim kecil yang terdiri dari dua orang pengunjung, seorang polhut, dan pemandu. Pengunjung yang datang rombongan, jelas tidak diijinkan melewati jalur inti atau lintasan badak, melainkan lewat trek wisata yang sudah ditentukan.

Saran berharga itu, tak ada ruginya dicoba agar beruntung melihat sang primadona Ujung Kulon pada kesempatan berikut.

Naskah & foto: Adji TravelPlus  (Jaberio Petrozoa)


NB.: Tulisan ini boleh dikutip asal menyebutkan sumbernya.

Read more...

Panduan ke Negeri Terakhir Badak Jawa



Negeri terakhir Badak Jawa itu bernama Ujung Kulon. Letaknya di ujung Barat Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Tak begitu sulit menjangkaunya. Anda tinggal pilih, dari Sumur lewat darat atau laut, atau kombinasi keduanya.

Berdasarkan leaflet mengenai profil Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), luas keseluruhan kawasan ini 120.551 Hektar, terdiri dari 76.214 Ha daratan dan 44.337 Ha perairan laut. Secara garis besar wilayahnya terbagi menjadi tiga bagian yakni segitiga membentuk Semenanjung Ujung Kulon, kawasan Gunung Honje, dan Pulau Panaitan. Tofografi tertinggi kawasan ini adalah Gunung Honje 620 Meter dia atas permukaan laut, Gunung Payung 500 m dpl di Semanjung Ujung Kulon, dan Gunung Raksa 320 m dpl di Pulau Panaitan.

Ekosistemnya pun terbagi menjadi tiga tipe yakni ekosistem perairan, pesisir pantai dan daratan. Di dalamnya terdapat 700 jenis flora antara lain Bunga Anggrek di Nyawaan, Buah Butun (Barringtonia asiatica) di Pulau Panaitan, Burahol- salah satu tumbuhan langka di Cibunar dan pohon Kiara di Pulau Peucang.

Faunanya terdiri dari 240 jenis aves antara lain Burung Enggang dan Merak Hijau di Semenanjung Ujung Kulon, 142 fisces, 72 insekta, 59 reptilia antara lain buaya di dekat laguna Kalajetan, 35 mamalia antara lain macan tutul (Phantera pardus) di sekitar Sungai Cigenter dan Gunung Telanca, 33 terumbu karang, 22 amphibia, dan 5 jenis primata antara lain si pemalu, Kukang (Nycycebus coucang) serta Owa Jawa (Hylobates moloch) di hutan Gunung Honje.

Ada tiga pintu masuk ke taman nasional ini yakni, Taman Jaya, Pulau Peucang dan Pulau Handeuleum. Ketiga pintu masuk tersebut dapat dicapai langsung dari Labuan maupun Sumur, yang merupakan titik awal memulai kunjungan ke seluruh penjuru taman nasional ini, termasuk dua kawasan yang jarang dikunjungi yakni Pulau Panaitan dan Gunung Honje. Tiket masuk bisa dibeli di kantor Balai TNUK di Jl. Raya Labuan, Pandeglang.

Jalan masuk via laut dengan menyewa perahu motor berkapasitas maksimal 30 orang atau 20 orang plus barang. Menurut Rudi, 25, salah seorang nahkoda perahu motor yang biasa mengantar wisatawan lokal dan mancanegara ke obyek-obyek TNUK, biaya sewa perahu motor p/p dari Sumur/Taman Jaya ke Pulau Peucang Rp1,5 juta, ke Pulau Handeuleum Rp1,2 juta, dan ke Tanjung Lame Rp 1 juta. Jika bertolak dari Labuan dengan perahu motor ke tiga lokasi tersebut, jelas lebih mahal. Sedangkan lewat darat, dari Labuan ke Sumur naik mobil angkot Elf 300. Atau carter bus bila rombongan. Dari pertigaan Sumur ke Taman Jaya naik ojek sepeda motor kemudian treking ke obyek-obyeknya.

Setiap kunjungan dan kegiatan di negeri Badak Jawa ini harus didampingi oleh pemandu wisata atau polisi hutan (jagawana). Untuk perjalanan panjang dengan tujuan melacak badak, dan lainnya perlu juga porter. Pemandu tersedia di Taman Jaya, Peucang, dan Pulau Handeuleum sedangkan porter bersertifikat di Taman Jaya dan Labuan, biayanya sesuai kesepakatan.

Pengunjung harus membawa bekal makan, minum, obat-obatan pribadi, dan perlengkapan perjalanan lain yang cukup selama kegiatan, termasuk untuk pemandu dan porter. Kalau cuma sekadar rekreasi, cukup bawa duit ke Pulau Peucang, di sana sudah tersedia penginapan dan kafetaria.

Naskah & foto : Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 12 Juni 2010

10 Kiat Sukses Mengelola Pendakian Massal



Naik gunung rame-rame, kembali mengge-liat. Ada yang bilang lebih seru, dapat teman baru sehati, dan puas saling motret sana-sini buat diupload ke FB or twitter. Tak sedikit yang enggan, katanya lebih merepotkan. Anggapan itu tak sepenuhnya keliru. Yang pasti, pendakian massal perlu pengelolaan ekstra ketimbang dilakukan secara kelompok kecil apalagi perorangan.

Pengalaman adalah guru terbaik, pepatah usang itu patut diapilikasikan dalam pendakian massal. Bila pendakian sebelumnya dirasakan masih penuh ‘catatan’ kekurangan, sebaiknya dijadikan pedoman agar tak terulang, atau bisa juga belajar dari pengalaman pendaki yang sudah lama menggeluti dan banyak makan 'asam-garam' pendakian.

Di bawah ini ada 10 kiat sukses mengelola pendakian massal berdasarkan hasil pengalaman penulis selama puluhan tahun berkecimpung dalam kegiatan alam bebas, khususnya pendakian gunung. Panduan ini bisa menjadi ‘bekal’ baru bagi komunitas-komunitas pendaki gunung yang berkeinginan membawa rombongan dalam pendakian massal berikutnya agar berjalan mulus, nyaman, berkesan, dan bernilai lebih.

1. Penentuan waktu
Tak ada ukuran waktu yang pas untuk melakukan pendakian massal. Ada yang bilang pas musim kemarau agar pendakian tak terganggu hujan. Ada yang setuju, kala musim penghujan biar mudah mendapatkan sumber mata air terutama di gunung-gunung gersang dan sulit air. Ada yang maunya saat libur panjang atau minimal long wikN supaya tak menggangu rutinitas kerja atau kuliah dan bisa berkenalan dengan kelompok pendaki lain. Tapi banyak pula yang memilih di luar musim liburan dengan cara cuti atau bahkan bolos, tujuannya biar mendapatkan suasana yang lebih tenang karena relatif sepi pendaki.

Berdasarkan keberagaman keinginan itu, panitia harus pandai meracik waktu pendakian massal dengan memperhatikan faktor musim, kondisi dan karakrer gunung, serta ketersediaan atau kesanggupan waktu para pesertanya. Pengetahuan panitia tentang profil dan tabiat gunung yang akan didaki, diuji disini.

Bila waktu pendakian sudah ditentukan, segera sebarluaskan ke publik lewat berbagai media untuk menjaring peserta. Beri rentang waktu yang cukup agar peserta yang tertarik mengikuti pendakian ini dapat menyiapkan segala sesuatu baik itu finansial, fisik dan mental maupun perlengkapan pendakian.

2. Pembatasan kuantitas
Berapa jumlah peserta ideal dalam pendakian massal? Jawabannya relatif. Itu tergantung kesanggupan dan ketersedian panitia. Yang pasti, pendakian yang dikuti di atas sepuluh orang itu sudah termasuk pendakian massal. Semakin besar jumlahnya semakin kompleks pengelolaannya. Untuk memudahkan kinerja, panita harus membatasi jumlah peserta. Jangan memaksa diri membawa rombongan besar, sementara panitia terbatas. Jumlah peserta dalam pendakian massal berpengaruh terhadap jumlah panitia, porter, pemandu, perlengkapan tim, logistik, dan lainnya.

3. Pengukuran kualitas
Pendakian gunung massal tetap bermuatan petualangan, bukan wisata biasa. Perlu pengukuran kualitas peserta agar berjalan mulus. Kualitas peserta antara lain dapat dilihat dari umur dan pengalaman mendaki.

Umur di atas 17 tahun sampai di bawah 50 tahun merupakan batasan yang masih aman untuk mengikuti kegiatan ini. Memang tak ada larangan membawa peserta di bawah 17 tahun atau di atas 50 tahun dalam pendakian massal. Namun perlu penanganan khusus. Pasalnya, usia muda rentan mental dan prilaku yang labil. Sementara di atas 50-an, faktor fisik bisa jadi penghambat. Usia tak bisa berbohong. Fisik pemilik usia senja tak bisa disamakan dengan usia belasan atau 20-an, apalagi harus melalui medan panjang, terjal, dan curam.

Pengalaman mendaki juga menjadi alat ukur kualitas peserta. Bagi peserta yang punya segudang pengalaman mendaki dan masih rutin melakukannya, jelas mental-fisiknya lebih siap ketimbang yang minim pengalaman apalagi belum pernah mendaki. Kualitas peserta dari dua alat ukur tersebut, bisa dikumpulkan dari pendataan profil masing-masing peserta sebelum pendakian.

4. Pembagian tugas
Setelah mengenali kualitas peserta. Bagilah dalam 3 kelompok (1. baik, 2. setengah baik, dan 3. kurang, sesuai penilaian fisik maupun pengalaman pendakiannya). Masing-masing kelompok ditemani pemandu dan panitia dari awal hingga akhir pendakian. Kelompok pertama yang kualitasnya baik ditempatkan di depan, bersama pemandu dan panitia yang bertugas memasak, serta porter yang membawa logistik, perlengkapan masak dan tenda. Setibanya di pos peristirahatan, panitia bisa mendirikan tenda dan masak untuk keperluan seluruh peserta.

Kelompok kedua berada di tengah, sementara kelompok ketiga di tempatkan dibelakang dengan panitia pendamping yang lebih banyak untuk membantu mempercepat waktu tempuh. Jangan saling menunggu, buang waktu.

Beri tugas dan tanggungjawab yang jelas kepada masing-masing panitia. Siapa yang bertugas masak, memandu masing-masing kelompok, menjalankan kegiatan selama perjalanan, dokumentasi, dan lainnya. Tim harus kuat dan kompak.

5. Tegas & tanggap
Dalam pendakian massal, ketegasan & ketanggapan ketua rombongan diperlukan. Tegas memberi rambu-rambu yang harus diindahkan peserta, misalnya tidak berlama-lama mengabadikan gambar diri atau pemadangan karena bisa menyita waktu, menginformasikan lokasi yang rawan, angker, tabu tak tertulis, dan lainnya yang sebaiknya diperhatikan. Tanggap melihat kondisi mental & fisik peserta serta faktor alam yang tengah dan akan terjadi, kemudian mengambil keputusan tepat dengan mempertimbangkan masukan yang ada sebagai solusi terbaik.

6. Pemanfaat warga lokal
Menggunakan warga lokal, baik itu pemandu maupun porter adalah keputusan yang bijak dalam pendakian massal. Dengan begitu pendakian memberi manfaat bagi masyarakat, khususnya warga yang tinggal di kaki gunung atau di dusun yang menjadi titik awal pendakian. Tenaga dan keahlian meraka sangat membantu panitia memperlancar jalannya pendakian. Jumlah pemandu dan porter disesuaikan dengan jumlah peserta dan perlengkapan yang dibawa selama pendakian.

7. Pemilihan logistik
Membawa logistik serta perlengkapan memasaknya untuk pendakian massal bukan perkara mudah, apalagi pesertanya dalam jumlah besar dengan bermacam kesukaan dan pantangan.

Pemilihan logistik pendakian massal tidak berpatokan dengan kesukaan dan pantangan setiap peserta, tapi lebih didasarkan atas kepraktisan membawa dan memasaknya serta nilai asupan nutrisi yang dibutuhkan seorang pendaki. Maklum kegiatan pendakian berbeda dengan liburan di villa yang bisa berleha-leha. Pastinya pendakian lebih menguras banyak tenaga, karenanya harus dimbangi dengan makanan dan minuman yang cepat dan ampuh memulihkan dan mengembalikan tenaga.

Buat daftar menu harian agar menu makan pagi, siang dan malam berbeda. Sebaiknya membawa logistik yang variatif dan simple, seperti aneka buah baik yang fresh maupun kemasan.

Berdasarkan penelitian, makanan yang cocok untuk pendakian adalah yang direbus daripada digoreng. Namun untuk menghindari jenuh, sebaiknya dibuat variasi. Yang penting proses memasaknya tidak membuang waktu dan tetap bermuatan gizi tinggi.

Logistik yang dibawa harus memenuhi kebutuhan seluruh peserta termasuk panitia, porter, dan pemandu selama pendakian (naik-turun). Ditambah emergency food atau makanan dan minuman cadangan untuk mengantisipasi kondisi darurat seperti tersesat dan lainnya. Perlengkapan memasaknya juga harus disesuaikan dengan jumlah menu yang akan dimasak sesuai daftar menu dan jumlah seluruh peserta.

Selama pendakian, sebaiknya setiap peserta membawa bekal minum dan makanan kecil yang cukup. Jangan selalu tergantung dengan peserta lain maupun porter. Sementara kebutuhan tim dibawa porter dan panitia.

8. Antisipasi faktor ‘X’
Mengantisipasi faktor ‘X’ dalam pendakian massal mutlak dilakukan. Faktor cuaca alam yang tak bersahabat seperti hujan badai, dingin yang menusuk tulang, longsor dan lainnya dapat menghambat pendakian. Faktor kecelakaan yang menimpa peserta seperti jatuh, terkilir, kesurupan, dan lainnya juga patut diperhitungkan. Panitia tak cukup membawa peralatan keselamatan dan P3K, alangkah baiknya mengikutsertakan seseorang yang ahli dibidang kesehatan, dan lainnya.

9. Bernilai plus
Jumlah peserta yang besar dalam pendakian massal adalah nilai lebih. Bila pendakian itu dibarengi dengan kegiatan yang tak sekadar pendakian biasa, tentu point-nya bertambah. Misalnya dengan melakukan pendataan flora, fauna, mineral, tanah dan bebatuan, pemetaan ulang, serta pencatatan ketinggian terbaru, atau pendakian bertema green hiking seperti aksi bersih gunung, penghijuan, dan lainnya. Andai tidak melakukan apa-apa, minimal pendakian tersebut membawa pulang sampah masing-masing. Jangan sampai pendakian massal cuma jadi kegiatan pemindahan sampah dari bawah, baik itu sampah dalam arti sebenarnya maupun ‘sampah’ prilaku kota ke gunung.

10. Evaluasi
Mengevaluasi hasil perjalanan dari start ke pos satu dan seterusnya hingga finish, atau secara keseluruhan setelah pendakian. Dengan cara ini, dapat diketahui kekurangan yang terjadi selama pendakian. Bagaimanapun, meski gunung itu didaki lagi dikemudian hari, pasti cerita, tantangan, dan atmosfir yang didapat akan berbeda. Dengan belajar dari hasil evaluasi pendakian sebelumnya, minimal meminimalisir hambatan atau justru memberi warna baru yang lebih cerah dan nilai tambah dalam pendakian massal selanjutnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan_pemerhati gunung & pariwisata (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 09 Juni 2010

Aksi Penari Uzur di 42 Tahun LKB Saraswati



Ada yang berbeda dalam Pagela-ran Lintas Generasi Lembaga Kesenian Bali (LKB) Saraswati ke 42 tahun di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), (5/6). Selain menghadirkan sejumlah penari tua yang ‘beraksi’ menari klasik Bali, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Jero Wacik dan juga Guruh Soekarno Putra turut unjuk gigi.

Tari Puspanjali yang berati menghormati bunga, puspa (bunga), anjali (menghormati) mengawali pagelaran ini. Tarian yang diciptakan N.L.N Swasti Wijaya sebagai penata tari dan I Nyoman Winda selaku penata tabuh pengiring pada 1989 ini merupakan tarian penyambutan yang ditarikan oleh sekelompok penari putri. Gerakannya lembut dan lemah gemulai berpadu dengan gerakan ritmis nan dinamis.

Yang unik, dalam pagelaran kali ini, tarian tersebut ditarikan 10 penari Bali berusia lanjut dari Jakarta, anggotan LKB Saraswati era 60 dan 70-an. Kendati sudah nenek-nenek, gerakan mereka masih energik. Kendati sudah tak selentur penari muda, gerakan mereka masih kompak. Alhasil jerih payah mereka pun mendapat ganjaran tepukan hangat para penonton antara lain Direktur jendral Nilai Budaya, Seni dan Film (Dirjen NBSF) Tjetjep Suparman, para alumni LKB Saraswati Jakarta, dan undangan lainnya, sejak awal mereka muncul hingga akhir tarian.

“Benar-benar tidak ada jongkoknya,” kata I Gusti Kompiang Raka, pimpinan LKB Saraswati yang mengomentari penampilan tarian pertama pagelaran ini. Komentar itupun tak ayal mendapat sambutan tawa penonton. Menurut Kompiang Raka, tarian yang disuguhkan tadi memang disesuaikan dengan usia para penarinya yang sudah uzur. “Mereka minta tariannya nggak pake jongkok,” terangnya.

Tari Trunajaya dari Buleleng, Bali Utara yang semula diciptakan Pan Wandres dalam bentuk Gebyar Legong lalu disempurnakan I Gde Manik menjadi tarian berikutnya. Tarian yana menggambarkan gerak-gerik seorang remaja muda yang beranjak dewasa, emosional, dan kerap bertingkah menarik hati wanita.

Yang menarik meskipun tarian ini termasuk tarian putra namun ditarikan oleh 4 penari putri anggota LKB Saraswati yang juga tak lagi muda lagi, angkatan 80 dan 90-an. Dan yang lebih menarik lagi, Menbudpar Jero Wacik tampil sebagai salah satu penabuh setelah diminta oleh Kompiang Raka.

Jero Wacik yang sewaktu mudanya mengaku kerap berlatih di LKB Saraswati terlihat masih memiliki kebolehannya dalam menabuh. Dia mampu mengikuti cara menabuh penabuh di sampingnya, mengiringi 4 penari yang gerakannya begitu dinamis.

Tari Rebong Puspa Mekar menjadi suguhan penutup sesi pertama pagelaran ini. Tarian yang terinspirasi dari adegan rebong pada wayang kulit Bali dan Tari Kakan-Kakan pada Parwa, melukiskan putri-putri nan elok dan manis laku bak bunga yang mekar mewangi. Kali ini ini tarian tersebut dibawakan 7 penari anggota LKB Saraswati era 80 dan 90-an.

Dalam tarian tersebut, setiap penari membawa wadah berisi dupa dan aneka bunga yang beberapa kali ditaburkan hingga lantai pementasan penuh dengan bunga beraneka warna. Aroma asap dupa tercium oleh penonton di bagian atas. Namun ada yang lebih menarik lagi, pencipta tarian ini Guruh Soekarno Putra ikut mengiringi para penari dengan menabuh gendang Bali.

Sewaktu Kompiang Raka meminta Guruh naik ke pentas untuk turut menampilkan kebolehannya, para penonton meminta Guruh untuk menari. Namun anak presiden pertama RI ini memilih menabuh dengan alasan pakaian yang dikenakannya sudah seperti penabuh. Gaya menabuh Guruh masih terlihat lihai. Tangannya mudah mengikuti tepukan penabuh di sampingnya yang tak lain Kompiang Raka.

Alhasil sesi pertama Pagelaran Pentas Generasi 42 Tahun LKB Saraswati menghadirkan suguhan kolaborasi 2 penabuh dan 7 penari beda generasi yang apik.

Sebelum pementasan, Kompiang Raka menjelaskan LKB Saraswati yang terbentuk 3 April 1968 telah melahirkan 3000 penari Bali dan 5000 kali pementasan di dalam dan luar negeri ini, sengaja tampil di GKJ sebagai bentuk kepedulian akan kesenian Bali di Jakarta. “Ini sebagai ajang reuni para penari Bali alumni LKB Saraswati, berkumpul sekaligus mengadakan pertunjukan untuk mengangkat kesenian Bali, khususnya di Jakarta di tengah gempuran pesatnya perkembangan budaya asing,” terangnya.

Jero Wacik menyambut baik pagelaran LKB Saraswati ke 42 tahun ini. Menurutnya pagelaran semacam ini merupakan bagian dari pembangunan karakter bangsa sebagaimana tengah digiatkan pemerintah. “Dalam 5 tahun ke depan ini, pemerintah dalam hal ini Kemenbudpar akan terus menggalakan pembangunan karakter bangsa. Dan pembangunan karakter bangsa ini akan terus berlanjut. Medianya bisa lewat tari, musik, film, teater, dan kesenian lainnya guna menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air serta menggalang persatuan dan kesatuan,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP