. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Rabu, 24 Agustus 2016

Kande-kandea, Bukan Sekadar Makan Bersama dalam Balutan Festival Budaya Tua Buton

Masyarakat Wolio di Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) memiliki tradisi makan bersama yang dikenal dengan nama Kande-kandea. Tradisi makan-makan ini kembali diperkenalkan dalam puncak acara Festival Budaya Tua Buton ke-4 tahun ini, yang berpusat di lapangan Takawa, depan perkantoran baru Pemkab Buton, Rabu (24/8).

Ada sekitar 2.000 talang berisi aneka makanan dan penganan tradisional Buton yang disajikan dalam tradisi ini. Masing-masing talang dijaga seorang penjaga talang, biasanya perempuan muda cantik, masih gadis, dan mengenakan pakaian tradisional yang jelas menarik perhatian tamunya.

Yeyen (18), salah satu dari ribuan penjaga talang jelang siang itu. Perempuan belia yang baru tamat SMA ini mengenakan pakaian tradisional Buton berwarna hijau berikut sejumlah aksesoris.

“Ini yang saya pakai, pakaian tradisional untuk perempuan muda yang masih gadis. Kalau buat ibu-ibu atau perempuan yang sudah menikah, beda lagi potongannya,” ujar Yeyen kepada TravelPlusIndonesia saat menjadi penjaga talang di acara Kande-kandea yang menjadi puncak acara Festival Budaya Tua 2016.

Tamu yang ada di depan Talang milik Yeyen bukan sembarang tamu. “Om tamu di depan saya siapa ya,” tanyanya.

“Namanya Ukus Kuswara. Dia yang mewakili Menteri Arief Yahya yang berhalangan hadir di festival ini, Jabatannya Sekretaris Kementerian Pariwisata atau biasa disingkat Kemenpar,” terang TravelPlusIndonesia.

“Wah pejabat penting dari pusat ya,” ujar Yeyen dengan wajah agak terkejut.

Di sebelah Ukus Kuswara sebenarnya tempat dimana Bupati Buton Umar Samiun duduk untuk menikmati hidangan Talang.

Sayang, baru duduk, orang nomor satu di Kabupaten Buton ini pamit karena harus menjadi narasumber untuk wawancara secara live dengan sebuah stasiun swasta.

“Pak Ukus mau makan apa,” tanya Yeyen. “Ini ada aneka makanan khas Buton yang disajikan khusus dalam kegiatan Kande-kandea ini,” tambah Yeyen.

Setelah menunjuk salah satu menu yang dipilih Ukus, si penjaga talang pun mengambilkan sepotong Lapa Lapa yang sudah dibuka pembungkusnya kemudian diletakkan ke dalam piring.

“Bapak mau menu apa,” tanya Yeyen lagi. Saling banyaknya menu yang disuguhkan, sempat membuat Ukus bingung sekali lagi. Namun akhirnya dia memilih ikan bakar sebagai menua utamanya, kemudian cumi bakar, dan lainnya.

Menurut Ukus tradisi Kande-kandea bukan sekadar unik tapi juga menjadi atraksi yang dapat memikat sekaligus menjaring wisatawan baik lokal, domestik maupun mancanegara.

Lewat tradisi makan bersama ini, lanjut Ukus masyarakat Buton secara tidak langsung belajar bagaimana melayani tamu di restoran dan hotel serta menarik minat/perhatian bagi sejumlah turis asing.

“Jadi muda-mudi di sini bisa disiapkan untuk mengisi kekosongan lapangan pekerjaan di sekitar Kota Buton dan beberapa kabupaten tetangga. Setelah selesai ici-icip, Yeyen memberi segelas minuman es kelapa ijo yang dicampur air dan gula aren serta batu es, " terang Ukus.

“Tradisi makan bersama khas Buton ini unik dan beda dengan tradisi serupa di daerah lainnya,” terang Ukus.

Sebelum beranjak, Ukus memberikan salam tempel untuk Yeyen. Dan sebaliknya Ukus pun mendapat bingkisan berupa aneka kue yang belum sempat dicicipi Ukus.

Selain Ukus, ada beberapa pejabat dan tokoh masyarakat lainnya yang berada di barisan VVIP, seperti wakil bupati Bakri, Kapolda Sultra, dan lainnya. Mereka duduk di depan talang yang masing-masing yang dijaga gadis muda yang tampil cantik.

Ajang Cari Jodoh
Tradisi Kande-kandea dalam tradisi masyarakat Buton berarti “makan-makan”, sebagai warisan leluhur Suku Wolio Buton yang sudah berlangsung berabad-abad.

Seiring berputarnya roda waktu dan pergantian jaman, tradisi Kande-kandea yang semula bermakna sebagai acara tradisi syukuran kepada sang pencipta atas keberhasilan aktivitas masyarakatnya, kemudian berganti menjadi salah satu acara tradisional yang diadakan oleh masyarakat Buton dalam rangka menyambut kedatangan para pahlawan negeri yang kembali dari medan juang dengan membawa kemenangan gemilang.

Seiring berjalannya waktu dan perkembangan guna mempertahankan tradisi leluhur, makna dari nilai-nilai dalam acara Kande-kandea mengalami pergeseran pada hal-hal.

Acara ini pun kemudian dimanfaatkan sebagai wadah pertemuan muda-mudi untuk saling kenal dan kemudian menjalin hubungan yang lebih serius hingga tak sedikit yang akhirnya berjodoh, mengikat janji setia dalam biduk rumah tangga.

Tradisi ini pun juga menjadi ajang silaturahmi untuk memupuk rasa kebersamaan antar masyarakatnya maupun antara pemimpin dengan masyarakatnya.

Sebelumnya, Kande-kandea juga digelar sebagai bentuk nyata rasa syukur kepada sang pencipta setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa dibulan Ramadhan.

Dalam pelaksanaan tradisi penuh suka cita ini, masyarakat menyiapkan talam atau dulam berkaki (bisa terbuat dari kuningan, rotan dan lainnya, yang berisikan aneka makanan tradisional, kemudian secara bersama berkumpul dalam satu arena yang telah ditetapkan.

Aneka macam makanan tradisional khas Buton diletakkan di atas talang tersbut anatra lain lapa-lapa yakni beras ketan yang dikukus dengan santan lalu dibungkus dengan janur, ayam Nasu Wolio (ayam dibakar lalu dimasak kelapa, ikan kadhole, serta aneka macam kue tradisonal seperti epu-epu (gorengan adonan beras ketan di campur gula merah), onde-onde, cucur, palaiya, bolu, dan bharuasa.

Setiap talang berisikan makanan dijaga oleh gadis-gadis remaja yang cantik dengan menggunakan busana tradisional. Para remaja putri itu bertugas melayani tamu/pengunjung yang ingin makan.

Setelah tiba saatnya, tampilah dua orang pelaksana untuk mengucapkan Wore, sebagai satu pertanda bahwa acara Kande-kandea siap dimulai. Selanjutnya disusul dengan alunan musik Kadandio dan Dounauna yang indah.

Selepas itu terbukalah kesempatan bagi siapa saja untuk duduk menghadapi talang. Disitulah remaja putera menyampaikan isi hatinya melalui irama lagu berupa pantun, seraya menunggu saatnya pria melaksanakan tompa.

Kemudian sebagai tanda terima kasih sang pemuda memberikan hadiah pada sang puteri yang memberikan suapan atau sipo kepadanya.

Biasanya Kande-kandea diadakan di satu lapangan terbuka atau aula sebuah gedung besar untuk menikmati berbagai hidangan makanan tradisional di atas talang, dan penjaga talang serta tamunya duduk beralas tikar.

Tradisi makan bersama Kande-andea di Buton ini juga serupa dengan tradisi makan bersama masyarakat Minang, Sumatera Barat yang disebut Makan Bajamba atau Makan Barapak.

Begitu pun masyarakat Maluku punya hal serupa dengan sebutan Makan Patitu.

Kendati formatnya hampir sama, namun masing-masing maknanya beda, termasuk sajian kulinernya dan nuansanya.

Kalau Kande-kandea maknanya bisa macam-macam, salah satunya juga menjadi ajang perkenalan dan mencari jodoh para muda-mudi.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

1 komentar:

Deni Iskandar Razak 25 Agustus 2016 09.25  

Keren ji...apa lagi kalo di bikinin videomnya...cantik dah

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP