Kata Siapa Berwisata Cuma Buat Anak Muda? Lansia pun Butuh
Kalau Anda perhatikan, wisatawan mancanegara (wisman) khususnya turis bule yang berwisata ke Indonesia juga banyak yang berusia uzur alias lanjut usia (lansia), di atas 60 tahun. Kenapa? Ternyata berwisata juga dibutuhkan oleh kaum lansia karena banyak manfaatnya. Selain untuk menghilangkan depresi, menumbuhkan rasa gembira, juga meningkatkan kepercayaan diri dan ingatan hingga mengurangi kepikunan.
Demikian disampaikan Dr. Aulia Rizka, SpPD disela-sela diskusi bertema “Kualitas Hidup Lansia Tanggung Jawab Bersama” dengan sub tema “Perawatan Geriatri Secara Menyeluruh” di RSU Bunda, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (15/10).
Namun Aulia mengingatkan kendati berwisata juga penting buat kaum lansia, tetap harus diseuaikan dengan kondisi fisik dan kesehatannya. “Pilihlah wisata yang ringan namun menyenangkan serta disukai mereka,” imbaunya.
Dengan kata lain ada jenis wisata yang sesuai untuk para lansia. “Kalau kondisi fisiknya masih bisa berjalan dengan baik, bisa jalan-jalan santai di taman atau di halaman rumah yang terkena paparan matahari. Tapi kalau lututnya sakit-sakitan, bisa diajak berenang. Pilihan lainnya bersepeda statis,” ujar Aulia.
Bukti wisata dibutuhkan lansia, selain masih banyak terlihat turis bule lansia yang berwisata, di Bandung ada taman yang khusus diperuntukkan untuk para lansia rileks, jalan-jalan santai, duduk-duduk sambil membaca koran, makan bersama dengan keluarga, dan lainnya.
Namun waktu berwisata untuk lansia harus diperhatikan. “Kalau senang jalan-jalan pagi, sebaiknya dilakukan jam 8-9 pagi karena saat itulah sinar matahari menyuplai banyak viatamin B yang bagus untuk tulang mereka,” ujarnya.
Wisata santai berunsur olahraga ini, lanjut Aulia bisa bisa dilakukan 2 sampai tiga kali dalam seminggu. Intinya sebenarnya, lanjut Aulia lansia harus diajak aktif, harus dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan. “Jadi jangan disuruh diam saja di rumah. Kalau mereka merasa dibutuhkan orang dan dilibatkan bersama orang banyak, mereka akan senang, percaya diri, dan ingatannya menjadi bagus. Jadi kemungkinan pikunnya bakal menurun,” ungkapnya.
Selain berwisata, bentuk interaksi dengan banyak orang bisa dilakukan dengan mengikuti pengajian, majelis taklim, dan lainnya bagi lansia yang Muslim.
Demensia atau masyarakat awam menyebutnya pikun, merupakan penyakit yang kerap menerpa lansia. Menurut Aulia demensia umumnya menyebabkan lansia mengalami gangguan pada ingatan, penilaian, dan sulit berpikir. "Demensia itu gangguan memori yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari lansia. Penderitanya akan merasa sulit konsentrasi dan berkomunikasi, depresi, halusinasi, hingga gangguan perilaku," terangnya.
Pengobatannya dengan memberikan dukungan secara fisik dan psikologis serta segera berkonsultasi ke dokter. “Sering diajak berbicara. Tapi saat berbicara jangan bersamaan dengan suara lain, misalnya televisi atau radio. Dekati dengan pelan dari depan dan tetaplah kontak mata. Gunakan kalimat pendek dengan tempo pelan,” imbaunya.
Ahli nutrisi Dr. Marya W H, MGizi, SpGK menyarankan sebelum melakukan wisata ataupun kegiatan olahraga ringan, pastikan lansia memiliki cukup waktu tidur. “Waktu jam tidur yang cukup buat lansia sekitar tujuh hingga delapan jam setiap hari,” terangnya.
Porsi wisata yang dilakukan sebaiknya jangan berlebihan. Sebab kalau terlalu lama di alam terbuka misalnya akan menimbulkan dehidrasi yang juga kerap menyerang lansia.
Menurut Marya penyebab dehidrasi pada lansia akibat terjadinya inkontinensia atau suka ngompol dan membatasi minum. Cara mengatasinya, lanjut Marya dengan memberikan cairan sesuai kebutuhan. “Mungkin bisa 30 mL per kg berat badan per hari. Bisa juga mengganti cairan yang hilang akibat muntah dan diare dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung cairan,” imbaunya.
Perawatan Pasien Geriatri
Berdasarkan data RSU Bunda populasi lansia di Indonesia makin meningkat. Diperkirakan pada 2025 mendatang proporsi usia lanjut di Indonesia mencapai 13,1% atau sekitar 27 juta jiwa.
Umumnya para lansia mempunyai beberapa penyakit yang disebut pasien geriatri
“Pasien geriatri itu biasanya memiliki lebih dari dua macam penyakit,” terang Aulia.
Secara umum, lanjutnya, permasalahan pada pasien geriatri dibedakan menjadi masalah fisik, mental, sosial, dan lingkungan serta iatrogenik atau salah obat/rawat.
“Perawatannya membutuhkan pendekatan khusus karena biasanya gejala penyakit tidak khas, dan fungsi organ menurun. Jika pasien membutuhkan perawatan di rumah sakit, maka harus dilakukan layanan terpadu," ujar Aulia.
Aulia menjelaskan RSU Bunda Jakarta kini sudah memiliki layanan baru, Senior Clinic yakni layanan komprehensif dan terpadu untuk pasien lansia, baik pasien lansia yang sehat dalam rangka pencegahan penyakit, maupun pasien geriatri.
“Senior Clinic RSU Bunda Jakarta ini memiliki tim dokter ahli antara lain dokter spesialis penyakit dalam ahli geriatri, spesialis saraf, rehabilitasi medic dan psikolog. Layanan unggulannya antara lain perawatan neuro-geriatri seperti demensia, stroke, dan parkinson hingga home care atau layanan asuhan rumah, dimana dokter yang akan menyambangi pasien di rumahnya,” terangnya.
Dengan layanan ini, lanjut Aulia akan meningkatkan kualitas hidup pasien geriatri sehingga para lansia dapat menghabiskan masa senjanya dengan sempurna dan bermakna bersama keluarga tercinta.
Psikolog Harucha Tamlicha Aly menambahkan setiap perawat yang merawat pasien lansia geriatri harus menjaga kesehatan fisik dan mental penderitanya dengan menjaga keseimbangan antara pekerjaan dengan tanggungjawab keluarga. “Emosi pisik harus dipertahankan tetap sehat,” imbaunya.
Selain itu diperlukan kerjasama dengan anggota keluarga pasien untuk bersama-sama merawat pasien lansia jenis ini. “Terkadang perawat juga membutuhkan jeda untuk memulihkan kondisi fisik dan mentalnya saat merawat lansia geriatri,”ujar Harucha.
Naskah & foto: adji kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Captions:
1. Para lansia juga masih banyak yang berwisata karena menyehatkan.
2. Suasana diskusi “Kualitas Hidup Lansia Tanggung Jawab Bersama” dengan sub tema “Perawatan Geriatri Secra menyeluruh” di RSU Bunda Jakarta.
3. Dr. Aulia Rizka, SpPD dari RSU Bunda Jakarta.
0 komentar:
Posting Komentar