. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Selasa, 24 Januari 2017

Meramu Rindu Sambil Merajut Ilmu di Kampung Jamu

RINDU. Satu kata terdiri atas lima huruf ini memang mudah sekali diucapkan. Tapi bisa jadi teramat sukar dijalani bila terbebani. Setiap orang termasuk Anda pasti pernah mengalaminya, diserang, diamuk, dilanda yang namanya rindu, terlebih rindu berat dengan orang-orang tersayang, terdekat. Lalu apa kaitannya antara rindu, wisata, dan jamu seperti makna judul di atas? Begini jabarannya.

Obat terampuh mengatasi beban rindu di seantero dunia bahkan luar angkasa, tak ada yang lain selain bertemu. Jadi bukan makan, bukan tidur, dan bukan pula jalan-jalan.

Bertemu yang seperti apa, dimana, dan bagaimana? Tentu, bertemu dengan orang/pihak yang dirindukan, di tempat yang memiliki daya tarik, punya sesuatu yang pantas untuk disambangi, dan pastinya bermanfaat.

Seperti apa contohnya? Seperti yang dilakukan Komunitas Asgob (Asal Goblek). Kala rindu dengan sahabat lama membuncah,  mereka pun menggelar ajang temu pada waktu-waktu tertentu.

Komunitas yang beranggotakan sejumlah alumni angkatan 1991 Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) yang lebih dikenal dengan nama Kampus Tercinta di Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini punya cara sendiri dalam mengobati kerinduan terhadap sesama anggotanya yang disebut Asgober.

Caranya dengan bertemu di salah rumah anggotanya kemudian dilanjutkan dengan berkunjung ke objek wisata, entah itu objek wisata alam seperti danau atau wisata buatan seperti yang baru-baru ini mereka lakukan, yakni bertandang ke Kampung Jamu Martha Tilaar di Cikarang, Jawa Barat.

“Ini sudah ciri khas kita. Setiap ketemu, kangen-kangenan, sekalian ngegoblek (ngobrol ngolor-ngidul), kemek (makan), dan nyanyi bareng terus berwisata ke salah satu objek wisata terdekat,” ungkap Tyas, salah satu pengurus Asgob kepada Travelplus Indonesia, di Jakarta, Senin (23/1).

Kata Tyas ada 15 Asgober yang ikut dalam temu kangen dan kunjungan ke Kampung Jamu Martha Tilaar. “Tempat kita kumpul kali ini di rumah Asgober bernama Nur alias Nunuy di Cikarang. Kebetulan rumahnya dekat dengan objek wisata menarik bernama Kampung Jamu Marta Tilaar. Jadi kita schedulin-lah ke sana, main-main cantik sambil foto-foto,” terang Tyas.

Ada dua paket tiket yang bisa dipilih pengunjung di Kampung Jamu tersebut, yakni Paket Tiket Rp 20 ribu per orang dan Paket Tiket Rp 110 ribu per orang.

“Kita ambil paket yang Rp 20 ribu per orang karena durasinya lebih singkat. Kalau paket yang Rp 110 ribu lebih lama tapi sudah termasuk makan siang. Di sana kita dipandu sama guide setempat, berkeliling mengenal lebih dekat Kampung Jamu dan isinya,” jelas Tyas.

Pengunjung yang datang kesana, lanjut Tyas disambut dengan welcome drink berupa lemon grass tea. Setelah itu pemandunya memberikan penjelasan tentang training center kecantikan khas Martha Tilaar, mulai dari perawatan rambut sampai kaki dengan menggunakan ramuan jamu.

“Hampir tiga jam kita di Kampung Jamu itu, termasuk sesi ber-narsis ria di beberapa titik karena banyak lokasi buat foto-foto seru. Kemudian baru ke rumah Nur untuk bakar ayam,” kata Tyas.

Menurut Tyas, banyak manfaat yang didapat para Asgober yang ikut ke Kampung Jamu Martha Tilaar. “Ilmu kita jadi bertambah terutama tentang tanaman rempah-rempah yang bisa diolah menjadi bahan baku alami untuk jamu dan melihat proses pembuatan jamu. Selain itu kita jadi tahu pelatihan kecantikan ala Martha Tilaar, dan juga ditawarkan untuk berbisnis Salon & Spa dengan mereka,” terangnya.

Kampung Jamu satu ini, lanjut Tyas cocok buat alternatif liburan bersama keluarga karena punya muatan edukasi yang bermanfaat buat orang tua dan juga anak-anak.

“Selain itu harga tiketnya relatif terjangkau dan tempatnya lumayan asri,” tambahnya.

Sepulang dari Kampung Jamu Martha Tilaar, mereka langsung menuju rumah Nur. Di sana aksi bakar-bakar pun dilakukan.

Para Asgober pria kebagian tugas membakar ayam, sementara Asgober perempuan menyiapkan nasi dan menu lainnya.

Usai bersantap, mereka masih terus meramu rindu. Beberapa lagu mereka lantukan dengan petikan gitar Agus ‘Lennon’, salah satunya lagu kebangsaan saat bertemu, yakni  Kemesraan,  karya Iwan Fals.

Sementara Zul Armain yang biasa disapa Butom, Asgober yang berprofesi fotografer asyik mengabadikan rekan-rekannya dengan kamera ber-monopod. Sedangkan rekannya yang lain merekam lewat kamera video. Alhasil beberapa video akustik ‘live concert’ mereka pun di-posting di youtube.


Begitulah cara komunitas Asgob yang anggotanya rata-rata berusia 40 tahunan ini, mengobati sekaligus meramu kerinduan mereka.

Sebelumnya mereka juga sudah melakukan hal serupa, berkunjung ke rumah Agus ‘Lennon’ salah satu Asgober yang juga anggota komunitas Forever Young (FY), yang tinggal di Sukabumi, Jawa Barat tepatnya di Parakan Salak.

Di kaki Gunung Salak dan Halimun itu, mereka pun berwisata alam ke Situ (danau kecil) Sukarame, makan bersama, dan tentunya ber-narsis ria.

Meramu rindu di objek wisata, ah sudah jelas membuahkan cerita dan kenangan indah.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: zul ‘butom’ armain & neng tyas

1 komentar:

Unknown 24 Januari 2017 pukul 01.20  

Manteeepp dahh adji jaberr mks yakk dah ditulis topp

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP