. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Kamis, 17 November 2016

Kulineran Boleh Saja Sesuai Takaran, Waspada Diabetes

Indonesia itu surganya kuliner. Dari Sabang sampai Merauke, kulinernya serba enak dam lezat. Namun dibalik kelezatannya itu perlu diwaspadai akan bahaya diabetes yang mengancam penikmatnya.

“Boleh saja berwisata kuliner apalagi kuliner yang disukai tapi ingat takarannya, tahu porsinya,” begitu saran Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dr. Lily S. Sulistyowati, MM dalam diksusi bertema “Cegah, Obati, Lawan Diabetes” di Jakarta, Kamis (17/11).

Menurutnya berdasarkan data Sample Registration Survey (SRS) 2014 diabetes merupakan penyebab kematian terbesar nomor 3 di Indonesia dengan persentase sebesar 6,7%, setelah stroke (21,1%), dan penyakit jantung koroner (12,9%).

Diskusi yang digelar Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ini juga menghadirkan Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof. DR. dr. Achmad Rudijanto, Sp. PD-KEMD dan Ketua Persatuan Diabetes Indonsia (PERSADIA) Prof. DR. dr. Agung Pranoto, Sp. PD-KEMD. Menurut Prof. DR. dr. Achmad Rudijanto berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF) pada 2015, jumlah penyandang diabetes di Indonesia diestimasikan sebanyak 10 juta jiwa.

“Angka ini menempati peringkat ke tujuh di dunia setelah China, India, Amerika Serikat, Brazil, Rusia, dan Meksiko,” terangnya.

Data tersebut, lanjutnya diperkuat dengan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, 2010, dan 2013 yang menyebutkan prevalensi orang dengan diabetes di Indonesia cenderung meningkat, yaitu 5,7% (2007) menjadi 6,9% (2013).

Kata Prof. DR. dr. Achmad Rudijanto lagi, setidaknya 415 juta orang dewasa di dunia menderita diabetes pada 2015, dimana sebagian besar kasus merupakan diabetes tipe II.

“IDF juga memprediksi angka ini diperkirakan akan terus bertambah hingga 642 juta atau sekitar 1 dari 10 orang dewasa mengidap diabetes pada 2040,” ungkapnya.

Prof. DR. dr. Agung Pranoto menambahkan dalam beberapa tahun terakhir kejadian diabetes tipe II telah meningkat secara dramatis di kalangan anak-anak dan remaja. Hal ini berkaitan erat dengan anak-anak yang memiliki berat badan berlebih atau obesitas.

“Umumnya diabetes tipe II pada anak-anak dan remaja disebabkan oleh pola diet tidak seimbang dan kurangnya aktivitas fisik. Hal ini didukung dengan kemajuan teknologi serta tersedianya berbagai fasilitas yang menjadikan anak malas bergerak,” papar Prof. DR. dr. Agung Pranoto.

dr. Lily S. Sulistyowati juga menjelaskan bahwa satu dari dua orang hidup dengan diabetes tipe II untuk waktu yang cukup lama dan sama sekali tidak menyadari kondisi kesehatannya tengah terganggu.

“Diabetes tipe II memiliki gejala yang begitu ringan, sehingga terabaikan oleh penderita, namun diam-diam merusak fungsi berbagai organ tubuh,” ungkapnya.

Pada saat penyakit ini terdiagnosis, lanjut dr. Lily berbagai komplikasi serius kemungkinan sudah timbul seperti penyakit kardiovaskular, kebutaan, gagal ginjal, dan amputasi anggota tubuh bagian bawah.

Setiap tahunnya pada tanggal 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia. “Di tahun 2016, Hari Diabetes Sedunia mengangkat tema “Eyes on Diabetes” yang bertujuan mempromosikan pentingnya upaya skrining untuk memastikan diagnosis awal dan inisiasi pengobatan diabetes tipe II,” terang dr. Lily.

Semakin cepat kasus diabetes tipe II terdeteksi, lanjut dr. Lily maka pengobatan dapat segera dilakukan sehingga dapat menghindari berbagai komplikasi yang membahayakan serta biaya perawatan yang mahal.

Pelaksanaan skrining diabetes tipe II merupakan faktor penting dalam memodifikasi faktor risiko dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi, kecacatan substansial, serta kematian dini (kematian pada usia < 70 tahun).

“Skrining diabetes tipe II dapat dilakukan di rumah sakit, klinik, laboratorium dan Posbindu PTM yang berada di bawah pengawasan puskesmas,”jelas dr. Lily.

Berdasarkan data IDF, sebanyak 70% kasus diabetes tipe II dapat dicegah atau ditunda dengan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Angka itu menurut IDF setara dengan menyelamatkan 160 juta kasus diabetes tipe II di tahun 2040.

dr. Lily mengatakan pencegahan dan pengendalian diabetes tipe II dapat dilakukan dengan menjalankan metode CERDIK.

“CERDIK itu merukapan singkatan. Pertama, Cek kesehatan secara berkala, dalam hal ini melakukan tes glukosa darah dan kadar HbA1c secara teratur,” terangnya.

Kedua, Enyahkan asap rokok dengan menghindari pengunaan tembakau (rokok atau tembakau kunyah).

Kemudian, Rajin aktivitas fisik yaitu dengan melakukan latihan fisik secara teratur selama 30 menit sebanyak 5 kali dalam seminggu.


Tak lupa DIet sehat dan seimbang, yaitu dengan mengonsumsi 3 – 5 porsi buah dan sayuran setiap hari, serta mengurangi asupan gula, garam, dan lemak jenuh.

Terakhir, Kelola stres. Usahakan jangan mudah stress saat menghadapi masalah. Sebaiknya lebih rileks dan tidak ngoyo.

“Kalau suka berwisata kuliner, pilih-pilih kulinernya. Jangan yang  mengandung terlalu banyak karbohidrat dan gula,” imbauya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig:@adjitropis)

0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP