. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Selasa, 15 November 2011

Perang Topat Bukti Toleransi Antaragama di Lombok



Mau lihat bukti kerukunan antarpemeluk agama Islam, Hindu, dan Wektu Telu kepercayaan Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB)? Datang saja ke Pura Lingsar awal pekan kedua Desember nanti. Pasalnya di tempat peribadatan umat Hindu di Lombok Barat itu akan diselenggarakan serangkaian acara berlabel Perang Topat yang puncak acaranya jatuh pada tanggal 10 Desember 2011. Ada apa saja?

Pura Lingsar yang terletak di Desa Lingsar, Kecamatan Narmada, Lombok Barat merupakan pura terbesar sekaligus tertua di Lombok yang dibangun pada tahun 1714 oleh Raja Agung Ngurah Karangasem dari Bali semasa kejayaan Kerajaan Karangasem.

Kendati bentuknya nyaris serupa dengan pura-pura lain di Lombok maupun di Bali. Namun khusus Pura Lingsar ini memiliki keistimewaan tersendiri, terutama nilai-nilai toleransi yang terpupuk sejak ratusan silam antarwarga berbeda agama yang menetap di sekitar pura ini.

Sejak lama umat Hindu dan Islam termasuk penganut Wektu Telu Suku Sasak hidup saling berdampingan. Mereka hidup akur bak saudara yang saling bantu, saat senang maupun susah. Dan lewat perang topat-lah mereka buktikan adanya kerukunan itu yang membuat hidup mereka tentram dan damai hingga kini. Bukti lainnya, pura ini dikelola secara bersama oleh umat Hindu, Islam, dan Wektu Telu.

Ada 4 bangunan pokok di pura ini yakni Pura Gaduh, Kemaliq, Pesiraman Pesimpangan Bhatara Bagus Balian, dan Lingsar Wulon.

Selain digunakan untuk persembahyangan umat Hindu, pura ini juga dimanfaatkan Suku Sasak untuk tempat ibadah terutama di bangunan Kemaliq yang berada di bagian dalam pura.

Di samping tempat berdoa, terdapat kolam air kecil yang berisi ikan purba. Di kolam ini ada ritual melempar koin ke kolam dengan membalikkan badan seraya memanjatkan keinginan. Ada yang berharap usahanya lancar, kariernya bagus, dan harapan baik lainnya. Kalau koin yang dilepar kemudian disambar ikan purba berarti doanya terkabulkan.

Perang topat yang akan berlangsung di Pura Lingsar diawali prosesi adat setempat yakni pujawali setiap purnamaning sasih kanem, menurut hitungan penanggalan Bali atau sekitar bulan Desember.

Pujawali di pura-pura lain dilaksanakan sepenuhnya oleh umat Bali. Lain halnya di Pura Lingsar, upacara ini dirangkai dengan tradisi perang topat yang pelaksanaannnya didominasi warga Suku Sasak bersama dengan masyarakat Bali lainnya yang sudah hidup turun-temurun di Lombok.

Sehari sebelum pujawali ada upacara panaek gawe atau permulaan kerja. Dilanjutkan dengan acara mendak atau menjemput roh-roh gaib yang berkuasa di Gunung Rinjani dan Gunung Agung, dan penyembelian kerbau serta sesajian berupa 9 jajajan, buah-buahan, dan minuman.

Menurut Ramlan, salah seorang pemandu wisata di pura ini, prosesi adat praperang topat itu berlangsung sejak tanggal 7 Desember 2011.

Usai umat Hindu melakukan ngaturang bakti dan ngelungsur amertha, prosesi perang topat pun dimulai. Diawal dengan mengelilingi purwadaksina yang berada di areal Kemaliq. Para tokoh Suku Sasak dan umat Hindu bergabung dalam prosesi ini yang dimeriahkan denga tarian batek baris dan kesenian gendang beleq.

Peluru Ketupat
Sore, sekitar pukul lima bertepatan dengan gugurnya bunga pohon waru, perang topat pun dimulai. ‘Peluru’ yang digunakan dalam ‘peperangan’ ini bukan peluru senapan melainkan topat atau ketupat yang sebelumnya menjadi sarana upacara lalu dilempar ke siapa saja tanpa menimbulkan cedera. Saat berperang ada iringan bunyi-bunyian kul-kul atau kentongan.

Pascaperang, ketupat yang dijadikan peluru lalu dipungut dan dibawa pulang olehawarga. Ketupat itu ada yang disebar di persawahan karena diyakini memberi kesuburan bagi padi.

Ramlan menyarankan, kalau ingin melihat perang topat secara lengkap sebaiknya mengaikuti seluruh prosesi adatnya sejak awal hingga acara puncaknya. “Datang saja pada tanggal 7 Desember. Di sekitar Pura Lingsar ini ada penginapan murah dengan harga sekitar seratusribu rupiah per kamar,” jelasnya.

Buat pengunjung yang ingin menyaksikan acara ini dan masuk ke areal dalam pura ini, diharuskan mengenakan pakaian adat Hindu. “Minimal mengenakan selendang yang diikatkan di pinggang,” jelas Ramlan lagi.

Di pura ini, memang tidak ada mushola. Tapi pengunjung muslim disediakan ruang khusus untuk shalat di saung berlantai ubin lengkap dengan sajadah, sarung, dan mukena. Di samping kanan saung ini terdapat 5 pancuran air yang biasa digunakan pengunjung untuk berbasuh muka dan dapat digunakan untuk mengambil wudhu. Di dekat saung terdapat beberapa pohon putri anjing yang buahnya mirip jengkol.

Pura Lingsar berjarak sekaitar 15 Km dari Kota Mataram, Ibukota Provinsi NTB. Mudah menjangkaunya, dari Bandara Internasional Lombok (BIL), pengunjung yang ingin datang ke pura ini dapat menyewa mobil travel, taksi ataupun naik bus damri langsung ke lokasi.

Selama berada di pura yang dilindungi UU RI No 5 tahun 1992 tentang benda cagar budaya ini, pengunjung dilarang membawa minuman keras, melakukan permainan yang menjurus ke perjudian, membunyikan tape recorder, radio, dan lainnya serta dilarang membuat kegaduhan saat orang melakukan acara ritual dan istirahat.

Seperti di obyek wisata lain yang ada di Lombok, di pura ini juga banyak para pedagang asongan baik anak-anak maupun orang tua yang menjajakan aksesoris mutiara, gelang, cincin, dan minyak urut. Seperti biasa pula, mereka menawarkannya dengan ‘gigih’ mulai dari gapura hingga bagian depan pura.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP