. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Selasa, 28 April 2009

Berpetualang di Pulau Komodo: Diterjang Kala-Kala, Diburu Ora


Jangan main-main saat berada di Pulau Komodo, lengah sedikit Anda bisa jadi santapan sang penguasanya. Simak kisah mendebarkan yang dialami TravelPlusIndinesia (TPI) saat berpetualang di Kerajaan Komodo, Pulau Komodo.

Jelang siang, perahu motor yang TPI sewa, meluncur meninggalkan Teluk Labuanbajo. Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pemandangan laut biru tenang dengan pulau-pulau kecil coklat berbukit menemani awal perjalanan menuju Loh Liang, Pulau Komodo. Cuaca diawal cukup cerah. Ketika perahu mulai memasuki perairan Batu Tiga, suasana yang semula nyaman berubah mencekam. Ombak berputar diiringi angin badai, menguncang dan memainkan perahu tak tentu arah.

Perairan Batu Tiga terletak di antara Teluk Labuanbajo dan Pulau Komodo. Disebut begitu karena di sekitarnya ada 3 gugus pulau batu yang berjajar. Bagi masyarakat setempat yang dominan berasal dari Suku Laut Bajo dan Bugis, perairan Batu Tiga dinilai angker. Saat musim barat seperti bulan Januari, arus lautnya kadang bergerak tak beraturan, membuat pusaran yang bergerak cepat sampai berbusa dan bersuara seperti ular berdesis, wuzz,…Arus turbulen itu oleh penduduk di sana dinamakan kala-kala.

Saat musim tenggara, Juli–Agustus, banyak perahu, speed boat bahkan feri yang jadi mainan keganasan kala-kala. Bahkan sampai meminta korban.

Untunglah nahkoda perahu TPI yang asli Labuanbajo begitu cekatan mengemudikan perahu kami. Dia tenang-tenang saja, seolah tak ada marahabaya. Bahkan sempat menenangkan kami yang pucat pasi dan ketakutan. “Bapak dan ibu aman-aman saja, saya sudah bisa menghadapi cuaca seperti ini,”jelasnya sambil memainkan setir perahu.

Dipojok perahu, Edward dan Catherine pasangan turis bule, saling berpegang erat takut terlepas. Catherine yang tomboy sempat menangis lantaran terpental dan kepalanya terbentur atap perahu. Tak ada yang bisa aku lakukan saat itu kecuali berzikir dan berdoa. “Ya Allah ya tuhanku, jangan Engkau akhiri hidupku di sini,” begitu pintaku seraya berharap cuaca kembali normal dan perahu selamat sampai Loh Liang. Bayangkan, kejadian mencemaskan itu berlangsung hampir satu jam.

Alhamdulillah doaku didengar tuhan. Perahu berhasil keluar dari pusaran. Aku dan pasangan bule itu memberi selamat kepada sang nakoda atas kepiawaiannya. Perutku keroncongan. Langsung ke penginapan mengambil parafin (gas padat), kompor lapangan, dan nasting (wadah untuk memasak). Tanpa sepengetahuan petugas, aku turun ke pantai yang ber-sunset. Padahal pengunjung dilarang turun dari penginapan dan kafetaria menjelang malam, sebab di bawah komodo atau ora orang setempat menyembutnya, berkeliaran.

Belum lagi masakan matang, suara gemerisik seperti kaki menginjak ranting kering terdengar. Bulu kuduk mulai berdiri, khawatir kalau komodo yang datang. Ternyata setelah di dekati, di semak-semak beberapa komodo sedang menatap liar. Di sebelah kanan juga ada beberapa ekor lagi yang hendak turun ke pantai. Aku langsung lari, lampu senter jatuh dan tak sempat membawa masakan. Malam itu akhirnya makan di kafetaria juga, lalu ke penginapan tanpa banyak cerita ke petugas tentang kejadian itu.

Kian Mencekam
Esok harinya bersama tujuh turis eropa dan dua petugas taman nasional atau jagawana beranjak ke Banu Nggulung, lokasi khusus melihat dan memotret komodo. Jagawana memberi penjelasan kepada rombongan agar tidak merokok, buang sampah apalagi membakarnya di sembarang tempat. Ia pun melarang pengunjung berjalan sendirian. Jagawana mengambil tongkat khusus bercabang dua. Tongkat tersebut berguna untuk mengantisipasi serangan komodo dan ular.

Banu Nggulung berjarak 2 Km ke arah timur dari Loh Liang. Lebih kurang 45 menit menyusuri setapak alami di antara pepohonan kapuk hutan, asam, dan warui. Sepanjang jalan terlihat beberapa ekor komodo besar dan kecil, mereka seolah siap menyantap pengunjung yang lengah. Di sana terdapat pos rumah panggung yang dipagari kawat untuk mengamankan pengunjung dari serangan komodo.

Setengah jam kemudian rombongan kembali pulang. Aku menghindar dari pantauan jagawana. “Lebih puas memotret sendirian dibanding banyak orang,” pikirku. Setelah mereka pergi, aku keluar dari pagar pos menuju tanah lapang terbuka. Di sana ada 5 komodo besar berukuran 2 meter. Komodo lainnya berpencar-pencar. Aku bergerak lebih dekat lagi meski jantung berdetak cepat. Sambil melangkah perlahan, tak henti-hentinya menoleh ke kiri-kanan dan belakang, takut kalau komodo menyerang diam-diam. Di sana juga terlihat beberapa anak komodo memanjat pohon sambil menyantap semut.

Hampir 1 jam mengamati tingkah komodo dan sejumlah hewan liar lain yang asyik meneguk di genangan air hampir kering. Empat turis lain datang dipandu seorang jagawana. Mereka heran melihatku sendirian di Banu Nggulung. Sewaktu mereka ingin kembali, jagawa mengajakku pulang bersama. Tapi aku tolak dengan alasan menunggu rombongan berikut. Sebenarnya, aku berencana pulang sendirian menjelajahi hutan menuju pos Loh Liang. Kalau jujur, pasti tak diijinkan.

Meski risiko diserang komodo, namun rasa cemas kalah dengan rasa penasaranku. Petualangan berjalan sendiri di kerajaan komodo pun dimulai. Dan ternyata lebih mencekam dan menantang daripada rombongan dikawal jagawana. Begitu banyak komodo yang bermunculan dari balik batang pohon yang tumbang dan semak-belukar. Suara gemerisik ranting pohon yang diinjak kaki-kaki komodo terdengar jelas dari berbagai sudut. Detak jantungku kembali berdebar cepat. “Kawasan ini memang kerajaan komodo,” pikirku.

Aku beranikan diri masuk pelosok hutan ke arah Selatan. Dari arah tersebut terdengar suara gaduh yang mengusik keingintahuanku. Setibanya di lokasi sedikit terbuka, aku terkejut melihat 2 komodo besar sedang berkelahi seru sambil berdiri. Yang lainnya asyik menyantap babi hutan yang isi perutnya dikoyak-koyak. Bulu kudukku berdiri lagi, keringat dingin mengucur di dahi, tak percaya menyaksikan pemandangan buas itu. Segera ambil tempat aman untuk memotret. Sayang, ranting kayu terinjak dan suaranya terdengar oleh kawanan komodo tersebut. Mereka serentak menengok ke arahku seolah berkata, inilah santapan lezat yang baru. Tatapannya amat tak bersahabat dan mengerikan. Tiga ekor di antaranya memburuku. Aku pun ambil langkah seribu, kembali ke arah jalan setapak semula lalu menuju Loh Liang. Nafasku terasa berat dan keringat membasahi wajah dan pakaianku.

Dihadang Komodo
Esok paginya, ditemani staff pos Loh Liang beranjak menuju Poreng Sabieta, lokasi kerbau liar merumput. Dari atas bukitnya terlihat padang rumput (savana) diselingi deretan pohon lontar dan bidara. Jarak Poreng Sabieta 10 km arah Timur dari Loh Liang, menyusuri setapak alami (natural trail) dengan medan naik turun perbukitan.

Di Poreng Sabieta juga ditemukan sebuah kuburan berpalang putih. Konon, itu prasasti immemorial turis asing yang lenyap dilahap komodo. Melihat kuburan itu, terbayang kembali kejadian kemarin siang. “Mungkin kalau tak lari, nasibku seapes wisatawan ini, ditelan komodo tanpa sisa,” pikirku.

Saat TPI berada di Poreng Sabieta yang berbukit, tak disangka banyak komodo dewasa berwarna kehitaman mencari kerbau apes yang kerap berliaran. Ini mempertegas pernyataan petugas pos Loh Liang yang mengatakan bahwa komodo dewasa mampu berjalan cepat di medan menanjak apalagi di tanah datar.

Belum puas menjelajahi Pulau Komodo, esok paginya TPI ikut menumpang perahu motor dengan turis asing ke Pantai Merah. Perjalanan lewat laut kali ini tak ada hambatan berarti. “Pantai Merah sangat indah jika dilihat dari bukit yang berada di belakangnya,” kata sang nahkoda perahu. Aku penasaran, sewaktu rombongan kembali ke Loh Liang, aku justru pergi sendirian mendaki bukit karang berwarna coklat untuk membuktikan perkataan nahkoda itu. Ternyata benar, dari atas bukit, baru terlihat keunikan Pantai Merah. Di kanan-kirinya yang juga pantai, pasirnya justru berwarna putih.

Turun bukit ke Pantai Merah, ada 2 pasang turis asing lain yang berjemur tanpa sehelai benang. Sebenarnya aku bisa saja ikut speedboat mereka kembali ke Loh Liang. Tapi aku berencana lain, berjalan kaki menyusuri pantai dan hamparan karang seorang diri. Mungkin ini gila, tapi aku harus mencoba. Rasa penasaran dan hasrat petualanganku kembali mengalahkan kegalauan.

“Kemarin di tengah hutan hampir disantap komodo, kini pengalaman baru apa lagi yang akan kudapat”, kataku dalam hati. Setelah dapat sepotong kayu meski tak bercabang, aku segera menyusuri pantai, melewati hamparan karang sambil memilih-milih jalan aman dari ular karang berbisa yang beberapa kali aku temukan. Di sisi kanan ada gugusan tebing karang (rockstone) setinggi 20-an meter. Satu jam kemudian, hutan bakau yang rapat dan panjang menghadang. Terlintas di benak, ular cincin emas menetap di dalamnya. Apa boleh buat, itu satu-satunya jalan. Kalau ke kiri harus merenangi laut, ke kanan memasuki hutan yang pasti komodo lapar isinya.

Aku lari secepat mungkin di antara pohon bakau. Bret,..bret. .. baju dan lenganku tergores ranting, perih. Aku tak peduli, terus berlari. Nafasku terengah-engah. Sepotong kayu, senjataku satu-satunya tersangkut batang dan hilang. Untunglah berhasil keluar dari hutan itu. Di pantai, aku langsung menjatuhkan badan.

Ketika bangun seraya memegang lutut, di depanku ada 2 ekor komodo besar berenang menarik bangkai ikan seperti buaya. “Wah apa yang dikatakan pos penjaga Loh Liang itu benar, komodo juga pandai berenang,” gumanku. Sedangkan 3 ekor lagi saling berebut ikan besar yang mati terdampar. Dan yang bikin kaget lagi, ketika menoleh ke kanan ke arah semak belukar di tepi pantai, sekawanan komodo berbaris menyaksikan teman-temannya dan sesekali menatapku penuh curiga.

Melihat kejadian itu, aku langsung berdiri lalu mencari sepotong kayu tapi yang ada cuma bambu. Beberapa komodo di pantai lari memasuki hutan, yang lain masih asyik mencabik perut ikan dengan giginya yang tajam. Air liurnya yang beracun karena gemar bangkai, menetes di antara moncong mulutnya yang bisa terbuka lebar.

Aku coba lewati kawanan komodo sambil memukul bambu ke pasir untuk mengusirnya. Wush,… wush,…wush, komodo tetap tak mau pergi, justru menatapku dengan liar dan sinis. Yang di semak-semak muncul lagi dan siap-siap menyerang. Melihat gelagat membahayakan, aku langsung ambil langkah seribu di antara 2 komodo yang masih berenang hampir mencapai pantai dan 3 ekor lagi yang masih menyantap ikan. Lantaran kencangnya berlari, aku tak sempat lagi menghindar batu hingga terjatuh dan kamera pun terpental. Untunglah tak rusak, cuma sayang tak sempat mengabadikan peristiwa mendebarkan itu.

Kejadian itu makin membuatku yakin, prilaku komodo di habitatnya jauh berbeda daripada di kebon binatang. Di Taman Nasional Komodo (TNK),Flores NTT, komodo betul-betul liar dan amat berkuasa. Aku kembali menyusuri pantai. Di tengah perjalanan menuju Pos Loh Liang bertemu dengan salah seorang nelayan penduduk Kampung Komodo yang sedang menjala ikan. Kuceritakan semua kejadian tadi. Dia tersentak kaget. “Ha, saya saja orang sini belum pernah jalan kaki dari Pantai Merah,” katanya sambil geleng-geleng kepala keheranan.

Berpetualang sendiri ke TNK memang amat menantang dan mengesankan. Terlebih berangkatnya dari Labuanbajo dengan perahu motor saat kala-kala menerjang. Bukan cuma komodonya saja yang menjadi penguasa mengerikan, perjalanan laut menuju ke warisan alam dunia ini pun menegangkan.

Sebelum Anda menjelajahi Pulau Komodo dan pulau-pulau lain di kawasan TNK, ada baiknya Anda berpartisipasi dengan memilih Taman Nasional Komodo (TNK) agar terpilih masuk dalam 7 keajaiban dunia baru versi Yayasan New 7Wonders. Caranya dengan melakukan vote di http://www.new7wonders.com/nature/en/vote_on_nominees. Selamat memilih dan kemudian berpetualang di kerajaan komodo, Taman Nasional Komodo.***

naskah & foto: A. Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)


0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP