. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Selasa, 12 Oktober 2010

Peserta PPI 2010 Masuk Karantina



Yayasan EL JOHN Indone-sia meng-gelar pemilih-an Putri Pariwisata Indonesia (PPI) 2010 ber-tagline “Bring Indonesian Culture to The World” dengan mengangkat sub tema “Menabur Pesona Budaya Nusantara-menuai kekaguman dunia melalui PPI”. Miss Tourism asal Jerman akan hadir dalam malam grandfinal.

Ada 37 putri yang mengikuti ajang pemilihan PPI 2010 yang mewakili 33 provinsi di Tanah Air. Namun pada malam pertama memasuki masa karantina di Hotel Merlynn Park, Jakarta, Senin, (11/10/2010) hanya ada 31 provinsi yang mewakili putrinya. “Peserta dari Jambi dan Kalimantan Timur sampai malam awal karantina ini belum hadir, padahal sebelumnya sudah menyatakan bersedia ikut,” kata Johnnie Sugiarto selaku Ketua Umum Yayasan El JOHN Indonesia.

Selama karantina seluruh peserta PPI 2010 akan mendapat materi pembekalan tentang kebudayaan dan pariwisata, etika dan keperibadian, etika keprotokolan negara, tips kecantikan, humas, komunikasi, Bahasa Inggris, marketing, dan psikologi.

Malam penobatan PPI 2010 akan digelar di Jakarta International Event & Convention Centre, 22 Oktober 2010. Acara ini akan disiarkan langsung Stasiun ANTV mulai pukul 21.00 s/d 23.00 WIB. “Malam grandfinal ini juga akan dimeriahkan oleh Miss Tourism dari Jerman,” tambah Johnnie seraya menambahkan bahwa pemenang PPI 2010 akan berangkat ke London 8 November 2010.

Acara grandfinal PPI 2010 lanjut Johnnie terbuka untuk umum. “Tiketnya dapat diperoleh dengan cara membeli majalah Travel Club terbitan EL JOHN seharga Rp 50.000 per ekslempar yang di dalamnya tersedia 2 (dua) tiket nonton grandfinal PPI 2010,” terangnya.

Tim juri PPI 2010 yang diketuai Dirjen Pemasaran Kemenbudpar Sapta Nirwandar dengan anggota direktur & founder the London School of Public Relation Pritta Kemal Gani, presdir Duta Bangsa Mien R. Uno, Walikota Jakpus Sylviana Murni, giuru besar ekonomi industri jasa dan pariwisata M Yuwana Marjuaka, dan pakar kecantikan Hermawan Kertajaya akan menyeleksi seluruh peserta untuk mendapatkan pemenang PPI 2010 dengan penyeleksian ketat berdasarkan tiga kriteria yakni Smart, Charming, dan Hospitable. “Dalam ajang ini masyarakat juga bisa berparitsipasi dengan volling SMS untuk memilih Putri Favorit,” jelas Johnnie.

Duta Ekonomi
Hadir dalam malam gala dinner awal masa karantina PPI 2010, direktur pemasaran dalam negeri, Kemenbudpar Fathul Bachri, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawady, PPI 2009 Andara Rainy Ayudini, dan runner up PPI 2010 Rieke Caroline.

Fathul Bachri yang mewakili Sapta Nirwandar yang berhalangan hadir menegaskan Kemenbudpar mendukung ajang pemilihan PPI ini mengingat labelnya pariwisata, bukan putri perniagaan dan lainnya. “Harapannya para PPI sebaik mungkin turut gencar mempromosikkan pariwisata nusantara ke mancanegara,” jelasnya.

Edy Putra Irawady menghimbau PPI bukan hanya sebagai duta pariwisata tapi juga sekaligus menjadi duta ekonomi. “Harus mampu menjadi pengekspresi atau penjelas untuk mengambarkan tentang budaya, obyek wisata, kuliner, dan usaha pariwisata yang dapat dikembangkan di Indonesia. Dengan kata lain sebagai duta TTI atau tourism, trade and investment,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Andara membagi pengalaman kepada peserta PPI 2010 agar memanfaatkan masa karantina dengan sebaik mungkin. “Masa karantina dan kemudian terpilih menjadi PPI 2010 nanti merupakan awal untuk terus menggali ilmu mengenai kebudayaan dan pariwisata Indonesia. Jangan berhenti untuk belajar dan terus belajar,” jelasnya.

Hal senada juga disampaikan Rieke yang belum lama ini meraih runner up pertama Ratu Pariwisata Internasional di China. Dia berbagi pengalaman agar peserta PPI 2010 memiliki kepercayaan yang tinggi saat bertanding di ajang nasional maupun internasional. “Bekal percaya diri itu didapat dari penguasaan pengetahuan, keramahtamahan dan kekhasan budaya kita yang beragam,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 11 Oktober 2010

Rafting & Flying Fox Pacu Adrenalin Jurnalis & Humas Budpar



Rafting dan flying fox bukan cuma ramai-kan acara Peningkatan Pema-haman Bidang Kebudayaan dan Pariwisata Bagi Jurnalis dan Pers yang digelar Pusat Informasi dan Humas (Pusformas), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, (7-9/10/2010). Pun memacu adrenalin para pewarta dan humas kebudayaan dan pariwisata (budpar).

Kamis sore (7/10/2010), usai mengikuti pembekalan di Gedung Sapta Pesona, Jakarta yang dihadiri Menbudpar Jero Wacik dan sejumlah direktur jenderal (dirjen) antara lain Dirjen Sejarah & Purbakala Aurora Tambunan dan Dirjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Firmansyah Rahim, sekitar 20 jurnalis baik cetak, elektronik maupun online beranjak ke Pangalengan dengan 1 bus pariwisata ukuran besar. Sementara rombongan Pusformas Kemenbudpar dalam 1 bus ukuran sedang.

Rombongan singgah di Rumah Makan Sari Sunda, Bandung untuk santap malam. Dilanjutkan ke Pangalengan menuju penginapan Citere Resort.

Keesokan paginya, Jum’at (8/10/2010), selepas sarapan rombongan menuju Hutan Rahong yang berpanorma indah, berupa hutan pinus dan hamparan teh berlatar Sungai Palayangan dan pegunungan.

Dipandu tim instruktur outbond, peserta rombongan melakukan bermacam permainan untuk membentuk kerjasama dan kekompakan seperti fun games, flying fox, dan paint ball. Hampir semua jurnalis dan staff Pusformas Kemenbudpar termasuk Kapusformas I Gusti Ngurah Putra melakukan flying fox yakni menggantung lalu meluncur di dua utas tali baja yag tersambung dengan peralatan bantu khusus seperti harness, carabinner dan lainya dari ketinggian menuju finish di dataran rendah. Permainan yang diadaptasi dari pelatihan militer ini bertujuan untuk menguji nyali atau mental individu.

Beberapa jurnalis mengaku ini kali pertamanya melakukan flying fox. Awalnya banyak yang takut tapi setelah meluncur dan sampai finish, justru berubah senang. Bahkan ada beberapa peserta yang mencoba meluncur dua kali.

Selepas shalat Jum’at dan makan siang prasmanan dengan menu khas tradisional Sunda antara lain karedok, sayur asam, empal daging, sambal, dan lalapan, intrusktur outbond membagi rombongan menjadi dua kelompok yakni arung jeram (rafting) dan pemerahan susu sapi. Ternyata para jurnalis maupun staff Pusformas Kemenbudpar lebih banyak yang memilih olahraga petualangan yang biasanya dilakukan di sungai berjeram-jeram secara berkelompok dengan tujuan membentuk kerjasama yang kuat dalam satu tim.

Seluruh rombongan kemudian menuju Situ Cileunca untuk melakukan melakukan pemanasan pra berarung jeram di sungai yang sesungguhnya. Ada 6 perahu karet khusus rafting yang dipakai. Satu perahu diisi 6 orang termasuk intrusktur. Kelompok yang memilih memeras susu sapi, menuju lokasi diantar oleh kru.

Sebelum mengarungi Sungai Palayangan, instruktur rafting memberikan pembekalan cara berarungjeram yag benar termasuk istilah-istilah yang digunakan dalam olahraga petualangan ini. Setiap peserta diharuskan mengenakan pelampung dan helm yang sudah disediakan. Dua peserta yang duduk di perahu bagian depan dan belakang termasuk intusktur, masing-masing memegang alat pendayung.

Selama lebih kurang 10 menit, masing-masing perahu melakukan pemanasan di permukaan air Situ Cileunca. Setelah dirasa cukup, kemudian melaju menuju jembatan. Setibanya di jembatan, para peserta turun dari perahu karet lalu menyeberang jembatan menuju hulu Sungai Palayangan yang menjadi titik awal arung jeram yang sebenarnya.

Setidaknya ada 3 jeram besar yang harus dilewati masing-masing perahu, yakni jeram domba, blender, dan jeram kecapi. Di sebut jeram domba karena dulu ada domba yang mati terjatuh di jeram tersebut. Dinamakan jeram blender, karena arusnya berputar-putar deras seperti sedang memblender apa pun yang masuk ke dalamnya. Sedangkan jeram kecapi lantaran jeramnya yang panjang dan menurun seperti tingkatan dawai alat musik petik kecapi.

Meski ada beberapa peserta yang baru pertama kali berarungjeram, namun mereka mengaku lebih enjoy, tidak setakut sewaktu pertama kali flying fox. Usai puas jadi mainan jeram-jeram Sungai Palayangan selama sekitar 1,5 jam hingga seluruh pakaian peserta basah dan pegal-pegal, seluruh peserta kembali ke penginapan.

Pengurus Forbudpar Baru
Malam harinya, sehabais makan malam diteruskan dengan diskusi dengan Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Kadis Kopar) Kabupaten Bandung Dicky Anugerah dan Wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Wakadis Dikbud) Kabupaten Bandung Lilis yang menjelaskan kepada para jurnalis mengenai program kerja dan unggulan masing-masing dinas.

Menurut Dicky Kabupaten Bandung memiliki banyak obyek wisata alam yang potensial seperti Sungai Palayangan untuk arung jeram, Kawah Putih, Ranca Upas, Situ Patengan, Air Terjun Cicalengka, Gunung Puntang, Pemandian Air Panas Cibolang, dan lainnya. Serta beberapa desa wisata yang dalam pengembangannya bermitra dengan Kelompok Penggerak Pariwisata (Kompepar), dimana anggotanya adalah masyarakat sekitar obyek tersebut.

Sementara Lilis menjelaskan seni budaya tradisional Kabupaten Bandung dimasukkan sebagai kegiatan ekstrakulikuler sekolah, mulai tingkat Sekolah Dasar dengan tujuan untuk menjaga kelestariannya.

Usai diskusi, dilanjutkan dengan pemilihan pengurus Forum Wartawan Kebudayaan dan Pariwisata (Forbudpar) yang baru. Dari hasil pemilihan akhirnya terbentuk kepengurusan baru periode 2010-2012 dengan format Adji Kurniawan selaku Ketua, Koko Sudjatmiko (sekjend), Hani Sofia (Sekretaris 1), Nikson (sekretaris 2),dan Stevani Elisabeth (Bendahara).

Sabtu pagi (9/10/2010), selepas sarapan. Rombongan check out dari penginapan lalu menuju pengolahan pabrik permen susu, masih di Pangalengan. Sayang pabrik tersebut sedang libur. Rombongan tidak bisa melihat proses pembuatan permen dari susu sapi tersebut. Akhirnya rombongan hanya membeli aneka penganan berbahan susu sapi antara lain dodol, permen, dan kerupuk susu untuk oleh-oleh.

Selanjutnya rombongan menuju rumah Makan Asti untuk santap siang dengan menu nasi liwet khas Sunda. Disambung dengan pengumuman dan pembagian hadiah bagi peserta yang memenangkan lomba foto selama kegiatan berlangsung. Setelah itu dilanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Di dalam bus, beberapa jurnalis memberi masukan baik mengenai Forbudpar kedepan, lokasi outbond untuk tahun depan, sampai saran tentang pemanfaatan press room di Kemenbudpar yang selama ini kurang terfungsikan secara optimal lantaran kurangnya prasarana penunjang seperti ketersediaan komputer yang terkoneksi internet berakses cepat.

Tahun depan, ada usulan untuk memilih lokasi outbond beratmosfir pantai di Tanjung Lesung, Banten, mengingat lokasinya masih terjangkau relatif cepat via darat dari Jakarta. Maklum 3 tahun berturut-turut outbond tahunan ini berlokasi di obyek wisata pegunungan yang ada di Jawa Barat. Usulan ini dimaksudkan selain untuk mendapatkan nuansa yang beda, pun bertujuan memberi kesempatan kepada obyek wisata di provinsi lain, terekspos oleh media yang ikut outbond.

Secara keseluruhan, sejumlah jurnalis yang pernah mengikuti outbond tahunan Pusformas Kemenbudpar ini sebelumnya, mengaku kegiatan outbond tahun ini lebih menarik dan berkesan, terutama lokasi outbond-nya yang berpanorama indah. Alasan lain tentunya karena ada dua kegiatan bernuansa petualangan yakni flying fox dan rafting yang mampu memacu adrenalin para jurnalis dan humas budpar.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 06 Oktober 2010

Wayang Suket Slamet Gundono Mengocok Perut




Sejak awal sampai akhir pertunjukan Wayang Suket yang didalangi Slamet Gundono, mengocok perut penonton di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), Rabu malam, (6/10/2010). Wayang kontemporer yang tampil dalam perhelatan seni kelas dunia Art Summit Indonesia 2010 ini pantas disebut wayang “gado-gado”, paduan unsur teater tradisi seperti lenong, ketoprak, dan makyong serta musik dengan melakonkan cerita yang aktual secara jenaka.

Lewat lakon bertajuk “Minggatnya Cebolang”, salah satu fragmen petikan dari Serat Centini yang diadaptasi oleh Elizabeth D. Inandiak, wartawan Perancis yang telah lama menggeluti kebudayaan Indonesia, Ki Dalang Gundono bersama komunitas Wayang Suket-nya ini tetap konsisten menggali dan mengembangkan kearifan lokal (wayang) dengan pendekatan kontemporer.

Dibilang kontemporer, sebab dalam berwayang, jebolan ISI Surakarta ini keluar dari kenormalannya. Dia tidak berpihak kepada gaya Surakarta maupun gaya Yogyakarta yang selama ini kita kenal. Dia menjadikan apapun, termasuk dirinya sebagai wayang untuk mengalirkan lakon.

Dari sisi postur saja, dalang ini sudah menyedot perhatian. Bukan saja bertubuh tambun bak seorang sumo dari negeri matahari Jepang, tapi juga nyentrik. Dia sengaja tampil tak berbaju (tapi tetap bercelana). Bagian tubuh atasnya yang berlemak-lemak dibiarkan terbuka. Penonton dengan jelas dapat melihat kedua buah dadanya yang lembek dan menjuntai, mirip payudara perempuan tua gemuk.

Kehadiran perempuan paruh baya di sampingnya, Elizabeth D. Inandiak yang bertugas membacakan narasi mencuatkan kesan kontras sekaligus nilai tambah yang tak biasa.

Pun dengan perangkat yang digunakan seperti sapu, tirai kelambu, kasur kapuk, alat pukul rebana, dan sarung yang dipakai dua aktornya yakni Hanindan dan Ida Lala sampai laptop yang digunakan Elisabeth untuk membaca skrip lakon tersebut. Secara keseluruhan menghadirkan nuansa tradisional sekaligus modernitas di sana.

Gaya berdalangnya pun nyaris 360 derajat berbeda dengan gaya berdalang para pedalang wayang kulit umumnya. Dia duduk dimuka berhadapan dengan penonton. Mikropon digantungkan di lehernya dengan seutas tali. Dia kadang berdiri, berjalan, berjoget, bahkan berguling-guling. Pokoknya seenak udelnya. Seenak dia menembang sambil memetik ukelele_alat petik tradisional.

Yang menarik lagi bahasa verbal yang digunakan juga campur aduk. Paduan antara Bahasa Jawa Tegal, Bahasa Indonesia sampai Bahasa Inggris dengan logat dan pengucapan yang lepas dan kocak. Kendati tidak semua bahasa verbalnya dipahami penononton, tapi anehnya pesan yang ingin disampaikan tetap sampai. Bahkan lebih dari itu, penonton dibuat terpingkal-pingkal. Tak urung ruangan GKJ yang biasa hening saat menyaksikan pementasan seni kelas tinggi, malam itu justru sebentar-sebentar bergemuruh oleh suara tawa puas penontonnya.

Kendati pertunjukannya terasa keluar masuk antara absurditas dan realitas, terang dan samar-samar. Namun berkat kemampuannya mengolah, menjaga, dan menyeimbangkan berbagai unsur pentas, secara keseluruan pentasnya enak dinikmati, menghibur, dan sukses membuat penonton tak beranjang dari kursinya sampai akhir.

Penampilan Slamet Gundono semalam terlihat kian santai, akrab, dan tentu saja tanpa menghilangkan greget kreativitas seninya yang berbeda itu. Dia paham benar bagaimana mengatur ritme pertunjukkannya agar penontonnya tidak jenuh bahkan sebaliknya terus terpikat. Itu membuktikan bahwa dia memang sudah mengantongi banyak pengalaman di dunia pertunjukkan dalam dan luar negeri.

Dan yang pasti, Slamet Gundono dengan komunitas Wayang Suket-nya bukan cuma berhasil memadukan unsur tradisi dan modern dalam pertunjukan wayang yang berbeda, segar, dan nyentrik. Pun sekaligus menanamkan karakter bangsa yang kuat di tengah gempuran budaya global.

Pengembaraan Jatidiri
Lakon "Minggatnya Cebolang" ini berkisah tentang remaja nakal bernama Cebolang yang meninggalkan orangtuanya, Syek Akhadiyat untuk mengembara mencari jatidiri. Dalam pengembaraannya dia harus menjalani carut-marut kehidupan. Sampai dia melampiaskan nafsu syahwatnya dengan ronggeng, janda suci, bahkan dengan penari reog. Akhirnya dia bertemu dengan seorang petapa suci yang mengajarinya kisah Dewa Ruci hingga ia menemukan tuhan dan jatidirinya.

Kisah pengembaraan Cebolang yang dibawakan dengan gaya pewayangan khas Ki Dalang Slamet Gundono dan komunitas Wayang Suket-nya ini, masih akan tampil lagi malam ini pukul 19.00 WIB di GKJ.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 05 Oktober 2010

Raja Ampat Jadi Lokasi Syuting Film Perancis


Setelah Bali terpilih menjadi salah satu lokasi syuting film Eat Pray Love (EPL) yang dibintangi Julia Roberts dan Christine Hakim, produksi Sony Pictures Entertainment dari AS pada 2009 lalu. Tahun depan giliran Raja Ampat, yang menjadi lokasi syuting film produksi Tim Pictures Entertainment dari Perancis.

Film yang mengambil keindahan alam dan budaya Raja Ampat, salah satu kabupetan di Provinsi Papua Barat ini bergenre permainan petualangan (survivor) berjudul Kohlanta.

Dipastikan sekitar 80 kru produksi film ini sudah selesai melakukan persiapan awal dan sesuai jadual akan melakukan syuting pada bulan Maret 2011.

Menurut Menbudpar Jero Wacik, Raja Ampat terpilih menjadi lokasi syuting film tersebut karena keindahan alam lautnya. “Raja Ampat memiliki potensi keindahan bawah laut yang luar biasa indah. Dan itulah yang membuat perusahaan film asal Perancis ini tertarik syuting di sana,” jelas Jero Wacik saat premiere film EPL di Kuningan, Jakarta, Senin (4/10, didampingi Dirjen Nilai Seni Budaya dan Film (NBSF),Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Tjetjep Suparman.

Setiap tahun, tambah Jero Wacik, permohonan untuk memanfaatkan lokasi syuting di Indonesia mencapai 100 judul film dokumenter. Pembuatan film tersebut dilakukan oleh sejumlah televisi dan perusahaan film internasional.

Berdasarkan izin syuting di Indonesia yang dikeluarkan Kemenbudpar, jumlah tim yang terdaftar merekam potensi alam dan budaya Indonesia selama tahun 2009 sebanyak 115 tim. Untuk tahun 2010 sampai dengan bulan September tercatat 86 tim yang melakukan syuting di sini, di antaranya BBC, TV France, NHK Jepang, TN NDR Jerman, Invinity Vision Inggris, Channel 9 Australia, TV Espana Spayol, dan Discovery serta National Geographic Channel.

Selama 5 tahun Kemenbudpar melakukan promosi lokasi syuting Indonesia secara intensif bersama masyarakat perfilman ke berbagai festival film internasional, pameran dan pasar film, seperti Hongkong Film Mart, March du Film Cannes, Berlin Film Festival, dan Asian Film Market di Fusan Korea Selatan.

Menurut Jero Wacik lagi, strategi lainnya dengan memberi berbagai kemudahan dan memfasilitasi tim produksi yang ingin syuting film di Indonesia. “Kemudahan proses perizinan di pusat dan daerah, penjaminan pemasukan barang, dan fasilitasi saat melakukan syuting,” jelasnya.

Bukan Cuma Menyelam
Terkait terpilihnya Raja Ampat sebagai lokasi syuting film produksi Perancis, Bupati Raja Ampat Marcus berharap dapat mengangkat potensi pariwisata Raja Ampat ke dunia internasional.

Menurut Marcus selain menyelam (diving) dan snorkeling, di Raja Ampat juga terdapat tarian tradisional dan kapal kuno khas Raja Ampat yang hampir punah dan pernah digunakan nenek moyang masyarakatnya.

Raja Ampat dapat dijangkau via udara dengan pesawat terbang dari Jakarta-Makassar-Sorong-Raja Ampat. Pilihan lain dari Jakarta-Depansar-Sorong-Raja Ampat atau dari Jakarta-Manado-Sorong-Raja Ampat. Dari Sorong ke Raja Ampat dilanjutkan dengan naik Kapal Laut. “Setiap hari ada kapal laut yang ke Raja Ampat dari Sorong dengan waktu tempuh selama 2,5 jam,” kata Marcus.

Akomodasi di Raja Ampat berupa 4 resort yang 3 di antaranya dimiliki oleh pihak asing dan 1 resort punya Pemda. “Harganya yang paling mahal Rp 3 juta per malam,” ungkap Marcus lagi.

Selama tahun 2008, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Raja Ampat belum mencapai 1.000 orang. Tahun 2009 mencapai 4.600 wisman. “Kebanyakan turias asal Eropa, Amerika Serikat, dan Jepang”, terang Marcus yang menargetkan 2010 ini bisa menjaring 6.000 wisman ke Raja Ampat dengan menyelesaikan pembangunan 2 resort baru tahun ini.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Weeko

Read more...

Madona My Darling Memukau Pembukaan Art Summit Indonesia 2010


Penari pria dan wanita grup Daegu City Modern Dance Company tampil memukau penonton yang hadir dalam pembukaan Art Summit Indonesia VI 2010 di Graha Bakti Budaya, Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (GBB PKTIM), Jakarta, Senin (4/10/2010). Para penari dari Negeri Gingseng, Korea Selatan ini menarikan tarian Madona My Darling karya Hyun-OK Park.

Tarian kontemporer Madona My Darling ini diilhami salah satu puisi terkenal berjudul To My Bedroom karya seniman Sanghwa Lee. Tarian yang memadupadankan tari tradisional dan modern ini menyampaikan kritik dan keputusasaan sang narator ke dalam dunia yang seseungguhnya cerah dengan gaya yang sensasional. Tarian ini berhasil memikat perhatian tamu undangan pembukaan Art Summit Indonesia2010 yang diikuti 10 grup tari, musik, dan teater dari 5 negara. Tarian ini tampil dua kali tanggal 4 dan 5 Oktober di GBB, PKTIM.

Selain di PKTIM, perhelatan seni kontemporer kelas dunia ini juga digelar di dua kantung kesenian lainnya di Jakarta, yakni Gedung Kesenian Jakarta (GKJ), dan Komunitas Salihara selama 20 hari, sejak 4 sampai dengan 24 Oktober ini.

Besok, tanggal 6 Oktober akan tampil musik Gamelan Pendro dan Cudamani pimpinan I Made Arnawa di Teater Kecil PKTIM, dan juga Teater Wayang Suket oleh Slamet Gundono di GKJ. Pada tanggal 8 & 9 Oktober tampil Teater Satu dari Lampung di Teater Kecil PKTIM. Dan pada 12 7 13 Oktober tampil musik gamelan oleh Blacius Subono di GKJ. Penampil tuan rumah lainnya tari Sekar Kliwon karya Nanu Munajar pada tanggal 16 dan 17 Oktober di GKJ, dan tari Nan Jombang Dance Company pada tanggal 23 dan 24 Oktober di GKJ.

Penampil dari mancanegara di antaranya tari Leine Roebana dari Belanda akan tampil pada tanggal 15 & 16 Oktober di GBB PKTIM, musik Talea Ensemble dari Amerika pada tanggal 20 & 21 Oktober di Teater Kecil PKTIM, dan musik Pierrot Lunaire dari Austria pada tanggal 22 & 23 Oktober di Komunitas Salihara.

“Sebagian besar karya dari penampil Indonesia adalah world premiere. Cuma selama ini kita tidak mengatakan begitu. Hal serupa dengan beberapa penampil dari luar negeri setelah diseleksi dan dipilih tim kurator,” terang Putu Wijaya sebagai salah seorang anggota tim kurator Art Summit Indonesia 2010.

Menurut Putu Wijaya lagi, Art Summit Indonesia 2010 ini lebih berbobot nilainya karena disertai seminar untuk pihak yang tertarik pada dunia kajian dan penelitian seni. Seminar mengangkat tema "Contemporary Arts and the Demand of Cultural Industries", akan digelar pada 11 Oktober di Hotel Treva International, Jakarta. Pembicara seminar antara lain Farouq Chaudry (London) Cobina Gillit (Amerika), Franky Raden (Indonesia), dan Nyak Ina Raseuki (Indonesia).

Membangun Karakter Bangsa
Hadir dalam pembukaan Art Summit Indonesia keenam ini, sejumlah seniman, budayawan, penikmat seni berkualitas, dan para pejabat pemerintahan antara lain Direktur Jenderal Nilai Budaya Seni dan Film (Dirjen NBSF) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Tjetjep Suparman.

Menurut Tjetjep Suparman perhelatan pentas seni bertaraf internasional yang digelar Kemenbudpar ini bukan sekadar pemenuhan mengenai perkembangan kebudayaan terkini kepada publik untuk berbagai kepentingan, baik itu bahan studi, keperluan kreatif, analisis, bahan kajian program pendidikan, bahan promosi dan diplomasi, dan kepentingan apresiasi. “Art Summit Indonesia 2010 ini pun erat kaitannya dengan program nasional membangun karakter bangsa,” jelasnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rieke Caroline Raih 1st Runner Up Ratu Pariwisata Internasional


Runner Up 1 Putri Pariwisata Indonesia 2009 Rieke Caroline menyabet juara 1st Runner Up ajang pemilihan ratu pariwisata internasional “Miss Tourism Queen of The Year International 2010 di Shandong China, September 2010. Dia juga meraih predikat Miss Friendship dan masuk dalam Top Miss Talented dengan tampil menyanyi di panggung final. Apa tanggapan Menbudpar?

“Rieke berhasil menyisihkan peserta lainya yang datang dari 78 negara. Kini Rieke menjadi ratu pariwisata dunia. Saat pemilihan, ajang ini disiarkan langsung oleh stasiun TV di China dan ditonton ratusan juta orang. Dan juga diliput oleh media massa dari berbagai negara,” kata Johnnie Sugiarto, Ketua Umum Yayasan EL JOHN Indonesia selaku pemegang lisensi untuk penyelenggaraan pemilihan Putri Pariwisata Indonesia (PPI) saat melaporkan keberhasilan Indonesia di ajang tersebut kepada Menbudpar Jero Wacik di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Selasa, (5/10/2010).

Dalam pemilihan ratu pariwisata internasional tersebut, Rieke tampil mengenakan pakaian tradisional minang, Sumatera Barat yanag mencuri perhatian juri dan penonton. Dia juga mengenakan baju batik. “Banyak peserta yang suka dengan batik Indonesia. Kebetulan saya membawa beberapa syal batik. Saya juga memberikan syal batik kepada peserta finalis untuk diperkenalkan ke negara mereka,” jelas Rieke.

Agen Penanaman Karakter Bangsa
Menbudpar Jero Wacik sempat bertanya kepada Rieke apakah di ajang tersebut ada sesi mengenakan bikini? Rieke menjawab ada, saat tampil bernyanyi. Mendengar jawaban itu Jero Wacik sempat heran juga kenapa dalam ajang pemilihan ratu pariwisata masih ada sesi yang selama ini bikin heboh masyarakat Indonesia sebagaimana pemilihan putri kecantikan taraf internasional lainnya.

Menanggapi hal itu, Jero Wacik menyarankan keikutsertaan Indonesia di ajang ini tentu sangat positif karena dapat mengharumkan nama Indonesia dan mempromosikan pariwisata Indonesia ke dunia internasional. “Tapi kalau ada sesi semacam itu dan Indonesia tidak cocok sebaiknya jangan ikuti sesi tersebut, itu tidak masalah. Kalau sesi tersebut punya bobot nilai tinggi di mata juri, biar saja. Menang atau tidak, gara-gara tidak ikut sesi tersebut, itu tidak penting. Yang terpenting kita sudah mengirimkan perwakilan putri pariwisata kita di ajang tersebut,” imbaunya.

Jero Wacik berpesan, putri pariwisata Indonesia yang menang maupun yang kalah selain menjadi duta pariwisata, juga harus bisa menjadi agen penanaman karakter bangsa di daerahnya masing masing. “Para Putri Pariwisata Indonesia harus pandai pula menyampaikan kepada masyarakat untuk hidup damai dan saling akur, menjaga persatuan dan kesatuan, dan selalu bangga menjadi orang Indonesia dengan mencintai budayanya,” pesannya lagi.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@ayahoo.com)

Read more...

Senin, 04 Oktober 2010

Pesona Julia, Bali & Sphagetti dalam EPL


Poster Eat Pray Love (EPL) memang tidak memperlihatkan gambar pemandangan Bali dengan jelas. Tapi isi film ini justru mengekspos keindahan alam, budaya, dan keramahan orang Bali. Dan tentu saja pesona luar biasa Julia Roberts, pemeran utamanya. Daya pikat aktris kaliber oscar ini begitu kuat, mengalahkan daya tarik masing-masing ketiga lokasi syuting utama film ini yakni Bali, India, dan Italia.

Setelah sempat menjadi perbincangan hangat lantaran Bali terpilih menjadi lokasi film Eat Pray Love (EPL), akhirnya film yang mengikutsertakan aktris nasional Christine Hakim ini premiere (tayang perdana) di Epicentrum XXI, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (4/10/2010).

Film EPL yang ceritanya diambil berdasarkan novel terlaris karya Elizabeth Gilbert ini dibuka dengan gambar ombak laut, hutan, dan persawahan khas Bali yang direkam dari atas (bird-angle). Kemudian tampil sosok Liz Gilbert (Julia Roberts) mengayuh sepeda berkeranjang di jalan desa dengan kiri-kanan pematang sawah Bali.

Perempuan berambut pirang sebahu ini mendatangi Ketut, seorang paranormal (dukun) terkenal di Bali yang pandai melucu dan Bahasa Inggris-nya pas-pasan. Ketika itu Liz datang dengan wajah murung. Ada setumpuk masalah yang tengah dia hadapi dan dipendam. Kondisinya itu diketahui Ketut setelah diterawang dengan membaca garis telapak tangannya.

Siapakah Liz? Dan apa masalahnya? Belum terbaca di awal cerita. Enam bulan kemudian dia balik ke negara asalnya, AS. Mulai terkuak siapa dia. Liz adalah perempuan modern yang bersuami, memiliki rumah, dan karier yang sukses.

Namun seperti orang kebanyakan, dia merasa jenuh dengan rutinitasnya. Dia merasa tersesat, bingung, dan ingin menemukan kebahagiaan yang hakiki dan mencai tuhan dalam hidupnya.

Sebelum bercerai resmi dia sempat jatuh hati dengan pemuda tampan, aktor teater. Dia sempat menemukan kebahagiaan sejenak. Setelah bercerai dengan suaminya, hubungannya dengan sang kekasih justru tak berjalan mulus. Dia berada di persimpangan jalan. Akhirnya dia memutuskan melangkah keluar dari zona aman, mengambil risiko apapun untuk mendapatkan tuhan dan kebahagiaan yang diinginkan. Dia memilih 3 tempat wisata dunia untuk mencari penemuan diri. Pertama dia terbang ke Italia, kemudian beralih ke India, dan akhirnya kembali lagi ke Bali.

Di Italia, kendati sempat menemukan kesulitan berbahasa setempat, namun dia mendapatkan kenikmatan sejati bermacam makanan khas bangsa penggila sepak bola ini. Bermacan kuliner khas negeri yang meemiliki bangunan tua dan bersejarah ini terekpos detil seperti sphagetti, pizza dan lainnya. Bahkan di bagian ini tergambar cukup lama bagaimana cara Liz menyantap sphagetti-nya yang bikin ngiler. Di bagian ini juga diperlihatkan beberapa kali gambar sepasang muda-mudi yang tengah dimabuk asmara di tempat umum, menyiratkan bahwa hal seperti itu sudah menjadi pemandangan biasa di negeri pizza.

Saat berada di India, Liz mendapatkan kekuatan doa dengan bermeditasi khas India. Di bagian ini, selain meditasi justru kondisi kemiskinan India yang terekspos cukup detil. Keindahan alam India, termasuk bangunan bersejarahnya seperti Taj Mahal dan Sungai Gangga-nya, samasekali tidak diperlihatkan. Di negeri yang warganya dekat dengan gajah ini, kondisi batin Liz semakin fokus dengan kekuatan doa. Dia mulai menemukan tuhan.

Cinta Sejati
Di akhir cerita, Bali menjadi lokasi terakhir pencarian dirinya. Liz kembali menemui Ketut yang sempat tidak mengenalinya lagi. Setelah dia tunjukkan sketsa gambar yang dulu pernah diberikan Ketut, akhirnya lelaki tua itu mengingatnya kembali.

Ketika sedang menikmati alam desa Bali dengan bersepeda keranjang. Liz terserempet mobil hingga tersungkur ke parit oleh lelaki yang kemudian diketahui seorang duda asal Brazil yang jatuh hati padanya. Kaki Liz terluka. Oleh Ketut, dia disarankan menemui Wayan (Christine Hakim), seorang ahlli pengobatan tradisional Bali.

Christine Hakim yang film ini bertubuh agak gendut, tampil memukau. Mampu mengimbangi kekuatan pesona Julia Roberts. Kehadirannya di film ini cukup lama dan punya kekuatan tersendiri meski hadir jelang ending cerita. Lewat Wayan, luka Liz bukan cuma sembuh tapi dia juga mendapat pelajaran hidup berharga. Dia simpatik dengan Wayan yang dinilainya sebagai seorang sosok perempuan dan juga seorang ibu beranak satu yang kuat. Sebagai tanda terimakasihnya, dia memberikan hadiah rumah berlantai ubin biru sesuai impian Tuti, putri kandung Wayan.

Di Bali, sesuai saran Ketut, Liz memadukan kekuatan doa India dengan bermeditasi di alam yang tenang dan indah bak surga khas Pulau Dewata. Tanpa diduga, di Bali dia bukan hanya menemukan kedamaian batin tapi juga keseimbangan cinta sejati.

Dari sisi cerita, EPL termasuk sederhana. Kelebihannya terletak pada pengemasan alur ceritanya yang memadupadankan unsur flashback. Kekuatan utamanya justru terletak pada pesona Julia Roberts. Melihat senyum si-pretty woman ini di EPL, menghadirkan aura positif tersendiri. Kecantikan terutama senyumnya, menyedot perhatian, melebihi keindahan dan daya pikat Bali, India, dan Italia.

Pemilihan Julia Roberts sebagai pemeran utama EPL sangatlah tepat. Dia bukan semata sebagai jualan utama film ini. Tapi juga menjadi daya tarik kuat EPL. Andai bukan Julia Roberts yang memainkannya, mungkin EPL takkan semenarik ini.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@ayahoo.com)

Read more...

Launching Pesta Danau Toba 2010


Belum pernah ke Danau Toba? Atau ingin melihat lagi setelah sekian lama tak berjumpa. Kalau memang benar berniat ke danau vulkanik terbesar di Asia Tenggara ini, rasanya waktu yang tepat, pas penyelenggaraan Pesta Danau Toba 2010 yang akan digelar 20-24 Oktober ini di Parapat, Sumatera Utara. Ada apa saja?

Pesta Danau Toba (PDT) 2010 bukan semata bentuk pengembangan pariwisata melainkan sebagai wahana untuk melestarikan budaya dan kearifan lokal serta menggairahkan kelestarian alam dan lingkungannya.

Demikian sambutan Menbudpar Jero Wacik yang disampaikan Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) I Gede Pitana saat launcing PDT 2010 di Balairung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (4/10/2010).

Renaisance of Lake Toba atau Kebangkitan Kembali Danau Toba sebagai tema PDT 2010, lanjut Jero Wacik sudah kelihatan tanda-tandanya. ”Buktinya ada 7 kabupaten yang ikut bergabung untuk mensukseskan pesta ini. Termasuk tokoh-tokoh Sumut baik yang menetap di Sumut maupun di Jakarta dan kota lain yang akan mendukung dari segala asfek, termasuk para seniman, pengusaha, dan lainnya,” jelas Wacik.

Ketujuh kabupten yang dimaksud Jero wacik adalah Kabupaten Toba Samosir, Dairi, Karo, Samosir, Tapanuli Utara, Simalungun, dan Kabupaten Humbang Hasundutan.

Gubernur Sumut Syamsul Arifin dalam sambutannya sebelum membuka launching PDT 2010 ini menghimbau para tokoh-tokoh masyarakat, pengusaha dan lainnya untuk mendukung PDT 2010. ”Kita harus bekerja keras dan bekerjasama secara kongkrit. Jangan omdo atau omong doang,” jelasnya.

Syamsul Arifin juga menghimbau pihak media untuk tidak membesar-besarkan pemberitaan mengenai penanganan kelompok bersenjata di Sumut karena berdampak buruk terhadap dunia pariwisata. ”Wisatawan itu butuh keamanan dan kenyamaan. Bila mereka mendengar hal-hal buruk yang sebenarnya kecil namun terlalu dibesar-besarkan, mereka bisa enggan datang,” jelasnya.

Lingkungan, Budaya & Olahraga
Ketua Panitia PDT 2010 Parlindungan Purba menjelaskan acara PDT 2010 ditekankan pada tiga kegiatan yakni peduli lingkungan, pentas seni-budaya, permainan rakyat tradisional dan olahraga.

Pentas seni budaya yang akan ditampilkan dalam PDT 2010 antara lain pagelaran budaya dan musik tradisional, festival tari tradisonal, festival gondang, festival suling tradisional, festival lawak daerah, opera batak, dan tao toba star.

Festival permainan rakyat tradisonal yang akan digelar antara lain lomba marjalekkat, solu dakdanak pardua dua, dan parade kapal hias tradisional. Ketiga lomba tersebut diadakan di Pantai Bebas, Parapat. Serta lomba margala yang digelar di SMA HKBP Harapan, Parapat.

Kegiatan olahraga dan pamerannya antara lain pameran foto bertajuk Lake Toba in Frame di Lobby Hotel Inna & Niagara, rally wisata medan-parapat, dan bermacam olahraga petualangan bertajuk X-trim Lake Toba Trail Adventure yang akan digelar di tiga tempat yakni di Siantar, Parapat, dan Samosir.

Untuk mensukseskan PDT ini, lanjut Parlindungan, Organda Sumut menempelkan stiker di kendaraan masing-masing untuk membantu mempromosikan acara ini. ”Panitia membangun homestay untuk menampung wisatawan. Dan ada penerbangan langsung dari Jakarta-Medan-Silangit untuk mempermudah akses mencapai lokasi PDT,” jelasnya.

Nah, melihat sejumlah acara di atas, rasanya tepat bila Anda bertandang ke Danau Toba bertepatan dengan penyelenggaraan PDT 2010. Sambil menikmati pesona danau seluas 110 ribu hektar, di ketinggian 900 mdpl ini, Anda bisa menikmati bermacam kesenian tradisional Sumut atau bahkan mengikuti bermacam lomba termasuk olahraga yang diadakan panitianya.

Naskah : Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Tri Akbar Handoko, Kemenbudpar

Read more...

Minggu, 03 Oktober 2010

Pergelaran Wayang Kulit Purwa 2010


Dalam rangka melestarikan wayang sebagai warisan budaya asli Indonesia yang sudah diakui dunia, Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) bekerjasama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) mengelar Wayang Kulit Purwa 2010 berlakon Banjaran Bratasena di Balairung Sapta Pesona, Jakarta, Jumat malam (1/10/2010). Menurut pedalangnya, wayang harus berubah. Apa maksudnya dan perubahan apa saja?

Banjaran Bratasena berkisah tentang tokoh Bima sejak kelahirannya hingga Phandhu Swarga. Sewaktu kecil Bama bertanya kepada Ibunda Kunthi perihal siapa bapaknya yang sebenarnya. Ibundanya menjelaskan bahwa Bima sejatinya putra dari Raja Astina Pandu Dewananta yanag sudah meninggal dan kini berada di dalam neraka. Bima bertanya lagi, dosa apa yang telah diperbuat ayahandanya hingga masuk neraka. Bima yang tumbuh menjadi pria gagah berbadan tinggi, besar, dan kuat berniat menolong ayahandanya keluar dari neraka apapun tebusannya.

Cerita Banjaran Bratasena ini terbagi menjadi beberapa babak. Dimulai dari babak Bimo Bungkus yang berkisah di Mandala Sara, sebuah hutan belantara lahirlah seorang bayi dengan keadaan terbungkus yang semakin lama semakin membesar. Bermacam binatang buas seperti singa, harimau, buaya dan lainnya berusaha memangsa bayi terbungkus itu namun semua gagal.

Suatu hari seekor gajah bernama Gajah Sena yang merupakan penjelmaan salah satu dewa dari khayangan berhasil memecahkan bungkusan bayi tersebut hinga mengeluarkan seorang pria kstaria dari bungkusan tersebut. Keduanya saling adu kekuatan dan pria kstaria itu menang. Arwah dan jasad Gajah Sena menyatu ke jasad dan jiwa pria kesatria yang akhirnya dikenal dengan nama Bima.

Babak selanjutnya Pendadaran Sokalima, Balesigala-gala, Prabu Boko, Babad Wanamarta, Bimo Suci, dan Pandu Swarga. Secara garis besar cerita wayang kulit purwa ini diharapkan turut andil membentuk karakter bangsa.

Menbudpar Jero Wacik dalam sambutan untuk pagelaran wayang kulit purwa ini menjelaskan bahwa Indonesia sudah berhasil memperjuangkan wayang di UNESCO, dimana pada 2003 wayang diakui sebagai salah satu Masterpiece of the Oral nad Intangible Heritage of Humanity. Dan 2008 wayang sudah terantum dalam Representative List of the Intangible Cltural Heritage of Humanity.

Kata Jero Wacik lagi, wayang bukan sekadar tontonan. “Lewat wayang kita dapat memperoleh tuntunan dan pelajaran untuk memahami kehidupan. Sebab wayang kaya akan falsafah hidup, ajaran etika dan moral, nilai-nilai spritual, dan keindahan seni,” terangnya.

Ketua PEPADI Ekojtipto menjelaskan pagelaran wayang kulit ini dalam rangka menghidupkan tradisi wayangan di Istana Negara yang sudah ada sejak pemerintahan Presiden RI pertama Soekarno. “Kini tradisi tersebut dihidupkan kembali meskipun bukan di Istana Negara karena alasan keamanan dan situasi yang tidak memungkinkan, melainkan di Kemenbudpar,” jelasnya.

Sejalan Kemajuan Jaman
Ki Sun Gondrong, pedalang pergelaran wayang kulit ini mengatakan pertunjukan wayang harus berubah mengikuti modernisasi. “Bila wayang tidak sejalan dengan gerak kemajuan jaman, wayang hanya menjadi romantisme tradisional,” imbaunya.

Perubahan wayang yang bisa dilakukan, tambah pedalang bernama asli Sun Sahrir kelahiran Tulung Agung ini, misalnya dengan memberi penambahan unsur musik, lawakan, dan tarian. “Sejauh ketiga unsur tambahan tersebut mendukung atau masih berkaitan dengan benang merah ceritanya, tak ada salahnya dimanfaatkan dalam pementasan wayang kulit,” terangnya.

Rupanya dalam pergelaran wayang kulit purwa ini, pedalangnya ingin membuktikan imbauannya tersebut. Dalam pergelaran wayang ini dia selingi dengan musik dan lagu yang dibawakan oleh pemain musik dan beberapa sinden perempuan. Bahkan salah satu sindennya adalah wanita bule yang berkebaya hijau muda dan berkonde ala perempuan Jawa. Sejak awal kehadiran sinden perempuan orang asing itu sudah menarik perhatian tamu undangan dan penonton.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 01 Oktober 2010

Art Summit 2010 Festival Seni Kelas Dunia 5 Negara


Oktober ini menjadi bulan bagi para penikmat pertenjukan seni terkini dan terbaru berkelas dunia. Pasalnya selama 20 hari dari 4-24 Oktober akan hadir Festival Art Summit 2010 yang kali ini diikuti grup kesenian terpilih dari 5 negara yakni Korea Selatan, Austria, Belanda, Amerika Serikat, dan tuan rumah Indonesia. Apa saja yang akan mereka tampilkan?.

Ada 10 grup kesenian yang akan tampil di Art Summit ke-6 ini setelah diseleksi artistic board (tim artistik) yang diketuai Prof Rahayu Supanggah dengan anggota Putu Wijaya, Arthur S. Nalan, Deddy Luthan, Tom Ibnur, Amna Kusumo, dan Tony Prabowo, yakni tarian kontemporer Hyun Ok Park dari Korea Selatan sebagai pembuka festival.

Penampil Indonesia tampil pada malam-malam berikutnya yakni gamelan Pendro dan Cudamani, teater Wayang Suket Slamet Gundono, teater Satu Lampung, dan gamelan Blacius Subono. Disusul tarian Leine Roebana (Belanda), tarian Sekar Kliwon, Nanu Munajar (Indonesia), music Talea Ensemble (Amerika Serikat), music Pierrot Lunaire (Austria), dan Nan Jombang Dance Company (Indonesia).

Menurut Putu Wijaya semua penampil dari Indonesia itu termasuk word premier berkelas dunia. “Namun yang paling menjadi andalan dalam festival Art Summit kali setidaknya ada dua yakni Wayang Suket Slamet Gundono dari Indoensia dan music Talea Ensemble dari Amerika Serikat,” jelasnya di Jakarta (1/10/2010).

Arts summit kali ini juga dilengkapi dengan seminar bertema Contemporary Arts and the Demand of Cultural Indrustries. Pada tanggal 11 Oktober 2010 di Hotel Treva, Jakarta Pusat. Seminar akan dibuka Wakil Menteri Pendidikan Dr. Fasli Jalal dengan pembicara kunci Menteri Perindustrian Ir. MS Hidayat dan sejumlah pembicara lain yakni Cobina Gillit (AS), Dr. Nyak Ina Rasuki (Indonesia), Farouq Chaudry (London), dan Dr. Franky Raden (Indonesia).

Ars Summit 2010 ini diperkirakan akan menyedot penikmat seni atau wisatawan mancanegara (wisman) seperti art summit sebelumnya. Menurut Jero Wacik secara kuantitas, jumlah wisman yang terjaring mungkin tidak terlalu signifikan. “Namun dari segi imej, festival ini akan menaikkan citra positif dunia kebudayaan dan pariwisata Indonesia di mata dunia yang pada akhirnya akan membuat mereka tertarik untuk datang ke Indonesia kelak,” jelasnya.

Nah, Kalau Anda tertarik untuk menikmati perhelatan seni kelas dunia ini, luangkan waktu Anda untuk menyaksikan Art Summit 2010. Ada 3 kantung kesenian termuka yang dipilih sebagai lokasi festival ini yakni Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM), Gedung Kesenian Jakarta, dan Komunitas Seni Sahara. semuanya di Jakarta.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Tri Akbar Handoko, Kemenbudpar

Cat.: Selama Festival Art Summit 2010 berlangsung, Travelplusindonesia akan mengupas pertunjukan yang ditampilkan berikut seminarnya.

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP