. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Minggu, 06 September 2026

Lima Keistimewaan Gunung Anak Krakatau yang Abu Vulkaniknya Kini Terbawa Angin Kemana-mana



Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel), Lampung baru saja batuk-batuk (baca: erupsi) dan  abu vulkaniknya menyebar ke wilayah Jakarta dan sekitarnya akibat terbawa angin. Kabar itu tersebar luas di ragam media termasuk medsos dan WAG. Nah, supaya publik khususnya wisatawan minat khusus yang belum tahu apa saja keistimewaan gunung api aktif ini, saya buatkan tulisan ini.

Keistimewaan Gunung Anak Krakatau, seterusnya saya singkat GAK, yang pertama merupakan gunung api aktif yang tumbuh di dasar laut tepatnya di perairan Selat Sunda, bukan di daratan pulau sebagaimana umumnya gunung-gunung api yang ada di Sumatra, Jawa, dan sejumlah pulau di Tanah Air.

Keistimewaan yang kedua, GAK yang berstatus cagar alam merupakan sedikit dari gunung yang pendakiannya dimulai dari O Mdpl atau dari pantai.

Berikutnya atau keistimewaan GAK yang ketiga, namanya mendunia karena induk GAK yakni Gunung Krakatau pernah meletus dahsyat pada Agustus 1883 yang mengakibatkan gelombang tsunami hebat kemudian kabarnya tersiar luas ke mancanegara.

Keistimewaan yang keempat, Krakatau merupakan salah satu gunung yang paling sering dibukukan oleh sejumlah penulis termasuk artikel yang dibuat jurnalis.

Salah satu buku tentang Krakatau berjudul “Krakatoa: Saat Dunia Meledak: 27 Agustus 1883”. Judul aslinya: “Krakatoa: The Day the World Exploded: August 27, 1883”, yang ditulis Simon Winchester.


Bukan cuma itu juga kerap difilmkan, antara lain
Krakatoa, East of Java bergenre drama produksi Amerika Serikat tahun 1969 yang disutradarai Bernard Kowalski dengan pemeran utama Maximilian Schell dan Dokudrama berdurasi 87 menit berjudul Krakatoa, The Last Days, produksi BBC Inggris tahun 2006 yang disutradarai Sam Miller dengan Rupert Penry Jones dan Olivia Willians sebagai pemeran utamanya.

Terakhir atau keistinewaannya yang kelima, Krakatau juga menjadi inspirasi bagi sejumlah orang untuk membuat sastra lisan, lagu, festival, teater bahkan sendratari.

Contoh sastra lisan Kiya Kelebu (atau ditulis sebagai bagian dari tradisi Kias/Kiyas) merupakan salah satu bentuk sastra lisan lama dari masyarakat adat Lampung Saibatin yang bersumber dari narasumber Datuk Jamaluddin AK yang menyandang gelar adat Khaja Niti Gama dari Kalianda, Lamsel.

Kalau festival, contohnya Festival Krakatau yang dihelat Pemprov Lampung setiap tahun pada bulan Agustus.

Adapun teater, contohnya "Under the Volcano” yaitu pentas teater-tari yang disutradarai oleh Yusril Katil, berkolaborasi dengan penata musik Elizar Koto, direktur artistik Restu Kusumaningrum, dan dramaturg Rhoda Grauer, dengan para aktor dari Komunitas Seni Hitam-Putih dari Padang Panjang, Sumatera Barat yang mengambil inspirasi dari Syair Lampung Karam karya Muhammad Saleh yang bercerita tentang meletusnya Gunung Krakatau pada Agustus 1883.

"Under the Volcano” tampil belum lama ini di Biennale Venesia 2026 khusus untuk teater yakni Festival Teater Internasional Ke-54 (The 54th International Theatre Festival).


Sementara sendratari, contohnya sendratari kolosal berjudul "Gelora Gelegar Kraktau, Nadi Baru Menembus Abu" karya koreografer M. Nurhayatun Nufus Spd yang terinspirasi dari dari sastra lisan lama bertajuk
Kiya Kelebu.

Tulisan terkait mengenai Sendratari Krakatau ini bisa traveler baca di website ini yang berjudul "Sendatari tentang Gunung Krakatau Ini Bikin Festival Krakatau 2026 Kian Memukau".

Melihat ketenaran nama serta sederet keisimewaan GAK dan induknya, Krakatau, saya yakin kedepan masih akan ada banyak karya bermacam seni termasuk film dan lainnya yang terinspirasi dari keduanya.

Jadi sebagai bangsa Indonesia, tetaplah bersyukur karena sudah dikaruniai  objek alam berupa Krakatau dan anaknya (GAK) oleh Sang Maha Pencipta yang kemudian bukan hanya menjadi daya tarik wisata minat khusus pun sumber inspirasi berbagai karya seni budaya dan lainnya meskipun abu vulkaniknya kini tengah melayang terbawa angin kemana-mana.


TravelTips
Kalau traveler terpesona dengan sederet keistimewaan GAK dan ingin mengunjunginya dari dekat, sebaiknya tunggu sampai kondisinya membaik alias benar-benar kondusif. Serta tak ada larangan berkunjung ke GAK dari pihak-pihak terkait. Kalau masih ada peraturan larangan, sebaiknya indahkan.

Kalau ingin mendakinya dari Lamsel secara backpacker-an, dari Jakarta bisa naik kereta ke Merak, Banten. Lalu naik kapal ferry dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni, Lampung selama sekitar 3 jam.

Kalau berangkat pukul 1 siang dari Merak, kira-kira tiba di Bakauheni pukul 4 sore. Lanjutkan ke Dermaga Canti sekitar 1 jam dengan ojek sepeda motor. Kemudian perjalanan laut lagi dengan perahu motor reguler ataupun sewa ke Pulau Sebesi.

Di Pulau Sebesi, bisa bermalam di homestay. Pukul 3 pagi harus sudah bagun tidur untuk siap-siap ke GAK. Pukul 4 pagi bergerak menuju GAK dengan kapal motor.

Dua jam kemudian, tepatnya pukul 6 pagi tiba di Pantai GAK, langsung menuju lereng GAK, melihat gugusan kepulauan Lamsel beserta gunung-gunung yang ada di sekitarnya.

Usai puas menikmati dan mengabadikan pesona alam dari lereng GAK (sebaiknya jangan berlama-lama), kembali turun ke pantai GAK, tiba pukul 8 pagi untuk sarapan. Selepas itu ke Pulau Lagoon Cabe dengan menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam.

Di Lagoon Cabe bisa snorkeling menikmati alam bawah lautnya. Usai makan siang, kembali ke homestay di Pulau Sebesi atau langsung ke Dermaga Canti.

Kalau tak mau repot dan tidak berjiwa backpacker/adventurer, bisa mengikuti open trip atau membeli paket tur untuk menjelajahi GAK dan beberapa pulau lainnya. Mau yang lebih berkelas, bisa pilih private trip dalam kelompok kecil (small group), minimal berdua.

Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id, dan YouTube @kelana180

Captions:
1. Pendaki mancanegara menuruni lereng Gunung Anak Krakatau (GAK) yang berpasir beberapa tahun lalu sebelum erupsi dan berubah bentuknya. (foto: adji)
2. GAK sebelum erupsi, sempat menjulang cukup tinggi. (foto: adji)
3. Sendratari Krakatau karya koreografer M. Nurhayatun Nufus Spd ditampilkan secara kolosal untuk pertama kali pada malam kemilau Festival Krakatau 2026 baru-baru ini di Bandar Lampung. (foto: dok.nufus)
3. Menikmati pesona GAK dari atas kapal saat tour Krakatau yang merupakan salah satu acara menarik dari Festival Krakatau sebelum GAK erupsi. (foto: adji)



0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP