15 Fakta Pendaki Usia Senja di Indonesia, Nomor 10 Kangen Tapak Tilas
Pendaki usia senja adalah pendaki gunung yang berusia 50 tahun ke atas atau pra-lansia dan seterusnya yang masih melakukan pendakian gunung, khususnya di Tanah Air tercinta.
Menurut Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, kategori umur lansia terbagi atas pra-lansia: usia 45 – 59 tahun (masa persiapan menuju lanjut usia); lansia muda: usia 60 – 69 tahun; lansia madya/tua: usia 70 – 79 tahun; dan lansia risiko tinggi (paripurna): isia 80 tahun ke atas.
Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia lewat pertemuan disengaja maupun tak disengaja dengan sejumlah pendaki usia senja saat melakukan pendakian dibeberapa gunung maupun diluar pendakian, sekurangnya ada limabelas (15) fakta terkait pendaki berusia senja yang belakangan ini marak membentuk komunitas di Indonesia.
Fakta yang pertama, ada pendaki usia senja yang memang ternyata baru memulai/menyukai dunia pendakian gunung pada usia senja (dulunya memang tidak pernah mengikuti atau menjadi anggota organisasi pencinta alam saat SMA ataupun kuliah).
Pemicunya antara lain karena berteman/berkomunitas dengan pendaki senja yang masih aktif, baru mengenal lalu jatuh hati dengan pendakian gunung, dan atau baru memiliki kesempatan melakukan pendakian gunung. Ada juga karena ingin anak atau cucunya tertarik dengan pendakian gunung lantaran banyak manfaatnya lalu mengajak buah hatinya mendaki.
Fakta kedua, ada pendaki usia senja yang kembali mendaki gunung setelah sekian lama vakum namun sewaktu muda pernah melakukan pendakian gunung (dulunya memang berlatar pencinta alam dan ada juga yang bukan pencinta alam).
Berikutnya atau fakta ketiga, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung tapi tidak berlatar anggota pencinta alam.
Pemicunnya antara lain karena rumahnya berada di kaki ataupun lereng gunung alias akamsi (anak kampung sini) sehingga sewaktu muda sudah sering mendaki gunung tersebut.
Fakta keempat, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung serta punya latar belakang sebagai anggota sispala (siswa pencinta alam) sewaktu SMA dan atau anggota mapala (mahasiswa pencinta alam) ketika kuliah serta memiliki profesi tertentu (diluar jurnalis/pewarta/wartawan).
Selanjutnya atau fakta kelima, ada pendaki usia senja yang memang sejak muda sudah mendaki gunung dan terus sampai kini tetap aktif melakukan pendakian gunung serta punya latar belakang sebagai sispala/mapala, dan berprofesi sebagai wartawan/jurnalis outdoor activities termasuk pendakian gunung.
Poin fakta keempat dan kelima, boleh dibilang pendaki usia senja yang menjadikan kegiatan pendakian gunung bukan sekadar hobi melainkan sudah menjadi passion-nya alias gairah, api semangat, dan energi pendorong atau bisa dibilang sudah lama mendarah daging.
Fakta keenam, ada pendaki usia senja yang membentuk dan atau bergabung dengan komunitas antara lain Kumpul (Komunitas Pendaki 50+) atau usia 50 tahun ke atas, Pendaki Napas Tua, Pendaki U50+, Pendaki U60+, Pendaki Lawas, Pendaki Senja, dan lainnya.
Fakta ketujuh, ada pula pendaki usia senja yang memilih tidak membuat dan atau tidak bergabung dalam komunitas sebagaimana tercantum di poin fakta keenam.
Berikutnya atau fakta kedelapan, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan pembuatan kaos, bendera, stiker, dan atau merchandise komunitas untuk dijual dan digunakan anggota komunitasnya pada saat-saat pendakian bersama, kopdar (kopi darat), dan acara lainnya.
Fakta kesembilan, ada pendaki usia senja yang membuat WAG sebagai wadah komunikasi antar-penghuninya, berbagi informasi, dan lainnya.
Fakta kesepuluh, ada pendaki senja yang mengoordinasikan pendakian gunung bersama dalam kelompok besar (big group) dengan tujuan tapak tilas, dan lainnya.
Diberi label tapak tilas lantaran sewaktu muda pernah mendaki gunung "A" lewat jalur "A" lalu setelah berusia senja kangen ingin mendaki gunung "A" lewat jalur "A" lagi bersama dengan rekan-rekan pendaki sekomunitas.
Contohnya baru-baru ini, tepatnya diujung Mei 2026, Kumpul mengadakan pendakian tapak tilas Gunung Gede via Salabinta. Jumlah anggotanya yang ikut sekitar 30 orang.
Kabarnya mereka akan mengadakan pendakian serupa atau tapak tilas ke Gunung Ciremai via Linggarjati masih pada tahun ini. Flyer kegiatannya pun sudah muncul di WAG Kumpul dengan berbagai respons positif dan juga beberapa saran.
Sebagai informasi tambahan, penulisan yang benar/baku menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah "menggoordinasikan" bukan "mengkoordinir" dan satu lagi "tapak tilas" bukan "napak tilas". Oleh karenanya saya menggunakan kata "mengoordinasikan" dan "tapak tilas" sebagai edukasi penulisan yang benar.
Selanjutnya atau fakta ke-11, ada pula pendaki usia senja yang melakukan pendakian gunung sendiri ataupun dalam kelompok kecil (small group) lalu mengenakan atribut komunitas seperti kaos dan atau bendera komunitas.
Contohnya saya dari TravelPlus Indonesia yang mendaki Gunung Kembang via Lengkong sehari setelah salat Iduladha 1447 H/Mei 2026 di Garung dengan mengenakan kaos Kumpul berwarna merah kemudian membuat tulisan yang tayang di website TravelPlus Indonesia dan beberapa konten video di reels IG @adjitropis. Beberapa pendaki lainnya juga melakukan pendakian ke Gunung Arjuna juga dengan mengenakan kaos Kumpul bahkan membawa bendera Kumpul.
Fakta ke-12, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan acara gathering (kumpul bersama) ataupun sekadar kopdar antara lain lewat kegiatan camping ceria (camcer) sebagai ajang tatap muka dan temu kangen antar-sesama anggota komunitas.
Fakta ke-13, ada pendaki usia senja yang mengoordinasikan kegiatan bermuatan sosial seperti membagikan paket berbuka puasa saat bulan Ramadan ataupun kegiatan bermuatan ramah lingkungan seperti aksi tanam pohon dan atau aksi bersih sampah di gunung.
Berikutnya atau fakta ke-14, ternyata masih banyak pendaki usia senja yang belum mengetahui bahwa ada sejumlah komunitas pendaki pra-lansia dan seterusnya yang terbuka untuk umum sesuai dengan usianya, seperti Kumpul, Pendaki U60+, dan lainnya lantaran gaptek (gagap teknologi), tidak aktif bermedsos, keterbatasan infomasi, dan lainnya.
Terakhir atau fakta yang ke-15, banyak juga pendaki usia senja yang ketika muda pernah mendaki dan atau aktif mendaki gunung namun setelah memasuki usia senja berhenti melakukan pendakian dengan berbagai sebab, antara lain sudah tidak kuat lagi, ada penyakit tertentu, kondisi ekonomi, hilang gairah/tidak punya minat lagi, dan lainnya.
Namun banyak pula yang masih aktif dan atau kembali aktif mendaki dikarenakan beberapa alasan, di antaranya supaya terpacu untuk rajin berolah raga tipis-tipis seperti jalan kaki/jalan santai, joging/lari santai/pelan, renang, dan lainnya sehingga tetap sehat dan aktif sekaligus sebagai persiapan fisik sebelum melakukan pendakian.
Tak sedikit pula yang beralasan sekaligus ingin berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalaman tentang pendakian yang pernah dilakukan kepada rekan pendaki lain terutama yang lebih muda atau baru menyukai dunia pendakian saat usia sudah senja, dan atau pendaki yang belum pernah melakukan pendakian ke gunung-gunung tertentu.
Menariknya lagi, ada pula pendaki usia senja yang memang sejak muda sangat aktif mendaki dan sampai saat ini tetap begitu (masih aktif mendaki) dengan tujuan bukan hanya berbagi pengetahuan, wawasan, dan pengalamannya di bidang pendakian gunung pun sebagai ajang bertadabur alam dengan tujuan supaya lebih dekat dengan Sang Maha Pencipta, Allah SWT dan sekalian menyebarluaskan keindahan/keistimewaan gunung-gunung di Tanah Air supaya pendaki dalam dan luar negeri tertarik mendaki gunung-gunung di Indonesia, serta tak lupa mengimbau setiap pendaki gunung atau wisatawan minat khusus untuk mengindahkan pendakian yang ramah lingkungan atau pro konservasi alam lewat bermacam tulisan/artikel memarik, informatif, dan kreatif yang tayang di media online maupun dalam bentuk berbagai konten video dan lainnya yang kemudian diunggah di ragam medsosnya.
Itulah 15 fakta tentang pendaki berusia senja di Indonesia hasil amatan saya yang kini masuk dalam kategori pendaki gunung pra-lansia (umur sudah lebih dari separuh abad) namun masih aktif mendaki dan berbagi pengalaman sebagaimana tercantum pada fakta yang kelima dan penjelasan terakhir pada fakta yang ke-15.
Semoga bermanfaat🙏.
"Usia Boleh Senja, Semagat Tetap Pagi".
Naskah Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Foto & video: dok. Kumpul dalam pendakian tapak tilas Gunung Gede via Salabinta
Captions:
1-6. Pendakian tapak tilas Gunung Gede via Salabinta yang dilakukan sekitar 30 anggota Kumpul (Komunitas Pendaki 50+) dan Pendaki U60+ baru-baru ini.
7. Saya pendiri komunitas pegiat outdoor activities Pinisi-OAC, Kembara Tropis, dan website TravelPlus Indonesia yang juga tergabung dalam Kumpul berfoto di puncak Gunung Kembang berlatar Gunung Sindoro memakai kaos Kumpul. (foto: dok rekan pendaki)
8. Anggota Kumpul di puncak Gunung Arjuno mengenakan kaos Kumpul dan membentangkan bendera Kumpul. (foto: dok rekan pendaki)
9. Sejumlah anggota Kumpul dan Pendaki U60+ berfoto bersama di puncak Gunung Gede.
10. Buat saya pendakian gunung bukan sekadar hobi tapi sudah menjadi my passion. (foto: dok rekan pendaki)
11. Sepenggal video anggota Kumpul dan Pendaki U60+ yang ikut dalam pendakian tapak tilas Gunung Gede via Salbin.











0 komentar:
Posting Komentar