. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Sabtu, 18 April 2026

Seribu Kenangan dengan Prosper, Sang Petualang di Atas Rata-Rata dari TAPAL


"Baksos ke Lumajang kaki Semeru yuk. Sekalian bawa obat-obatan buat penduduk yang terkena dampak erupsi".

Itulah bunyi ajakan dari Prosper. Sebuah ajakan yang menarik dan punya muatan positif di pertengahan Februari 1995, dua pekan setelah mendaki Gunung Tanggamus bareng gue, Buche, dan Yosha yang kemudian gue sebut pendakian jalur empat sekawan.

Ketika itu Gunung Tanggamus masih masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel). Sekarang, tepatnya sejak 1997, gunung berketinggian 2.102 Mdpl tersebut masuk wilayah Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung.

Jujur, mendapat ajakan itu dari seorang senior, gue amat senang. Sayangnya, waktunya kurang mendukung. Akhirnya dengan berat hati gue putuskan untuk tidak ikut dengan alasan yang masuk akal.

"Sebenarnya gue pengen banget ikut bang. Cuma gue kan lagi puasa Ramadan, udah gitu baru banget balik dari Gunung Tanggamus. Jadi kali ini, maaf banget gue ga bisa ikutan ya," balas gue.


Mendengar jawaban itu, Prosper terdiam sejenak dan terlihat ada raut kekecewaan.

Tak lama kemudian dia membalasnya. "Oiya lo puasa Ramadan ya. Ya udah gapapa. Tapi nanti klo ada baksos lagi di luar Ramadan lo ikut ya," kata Prosper.

"Siap bang. Oiya, coba ajak Yosha aja, dia kan non muslim ga puasa Ramadan. Kalo Buche puasa juga," balas gue. "Bener juga lo. Dimana tuh Apache?," tanya Prosper.

Yosha memang kadang dipanggil begitu karena rambutnya panjang lurus, bentuk hidung, dan karakter mukanya kayak lelaki Indian, suku atau kelompok masyarakat asli yang hidup nomaden di beberapa tempat di benua Amerika.

"Yosha, jarang nongkrong lama-lama di kampus. Langsung ke kos-annya aja bang," terang gue.

"Sekarang lo mau kemana?"  Tanya Prosper lagi. "Nggak kemana-mana bang. Paling nunggu magrib di teras lapangan basket. Sambil buat tulisan pendakian Gunung Tanggamus, jalur empat sekawan".

"Itulah yang gue salut dari lo. Makanya kenapa gue sering ngajak lo bertualang. Karena lo kuat dan pinter bikin tulisan. Dan foto-foto lo juga bagus. Udah berapa kali gue lihat tulisan dan foto lo masuk di koran dan tabloid," ungkap Prosper.

"Gue masih belajar nulis dan motret bang. Oiya, ntar pas pulang dari baksos gue mau nanya-nanya ya, siapa tau bisa jadi bahan tulisan," balas gue.

"Sip, seneng gue dengernya. Gue jadi semangat berangkat ke kaki Semeru. Ya udah gue ke kos-an Yosha," balas Prosper . "Sip bang. Salam buat si bontot ya".


Nah, kalau gue kadang manggil Yosha dengan sebutan bontot karena dari 4 rekan sekawan pendakian Gunung Tanggamus 1995 itu, Yosha yang usianya paling muda.

Firasat Ada Apa Ya?
Sewaktu Prosper menyeberang Jalan Raya Lenteng Agung 32, Jakarta Selatan tepat di depan Kampus Tercinta (sebutan lain dari Institut Ilmu Politik dan Ilmu Sosial atau IISIP,  tempat kami kuliah), gue sempat melihatnya sampai dia tidak tampak lagi.

Saat itu gue langsung sadar, dan hati ini sempat bilang sekaligus bertanya begini. "Tumben banget Prosper nanyanya banyak dan ngomongnya lumayan panjang. Biasanya, ga begitu. Ini firasat ada apa ya?".

Selama ini kalau bertualang dengan Prosper, dia cenderung pendiam, boleh dibilang pelit bicara. Dan gue juga begitu, tidak banyak ngomong karena sungkan (mengingat dia senior banget, di atas gue beberapa tahun).

Ternyata, itulah pertemuan sekaligus obrolan cukup panjang terakhir gue dengan Prosper, sang petualang di atas rata-rata sekaligus motor penggerak organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL yang ada di Kampus Tercinta.

Kenapa gue juluki Prosper itu sang petualang di atas rata-rata? Ya karena cara bertualangnya boleh dibilang beda dan agak 'gila'.

Setiap bertualang dengan dia, misalnya kalau melakukan pendakian gunung, tidak ada yang namanya durasi naik-turun dalam satu hari atau istilah sekarang tektok. Kalau mendaki gunung dengan dia minimal banget 2 malam nge-camp di hutan dengan cara nge-bivak.

Bila melakukan susur pantai dan jelajah hutan dengan dia, tidak cukup cuma 2 malam tiga hari tapi bisa sampai sepekan atau 7 hari.

"Ngapain bertualang kalau cuma sebentar, buang-buang ongkos aja dan nggak bakalan dapet pengalaman seru di alam," begitu alasannya ketika gue tanya kenapa senang bertualang lama-lama.

Saking lumayan sering berpetulang dengan Prosper, beberapa senior dan teman seangkatan gue sampai ada yang bilang gue sama Prosper kayak adik-abang. Sama-sama gila bertualang dan kalau jalan di alam, sama cepatnya.

Irma dan Santa, dua anggota TAPAL yang pernah ikut kegiatan jelajah TN Ujung Kulon yang dipimpin Prosper pada tahun 1992, sama-sama pernah bilang begini: "Waktu susur pantai, lo sama Prosper jalan terus, ga ada udelnya. Kita lihat lo berdua udah jauh banget. Keseeel, kita udah kecapean. Lo sama Prosper masih terus jalan".


Awal Kenal
Ini agak panjang ceritanya. Sewaktu masih SMA, kebetulan gue sudah suka kegiatan pencinta alam dan tergabung dalam organisasi siswa pencinta alam (sispala).

Lulus SMA gue coba ikut tes UMPTN dengan memilih Universitas Indonesia (UI) Depok. Alasan memilih UI ketika itu biar nanti bisa ikut Mapala UI dan bertemu dengan Norman Edwin, idola pegiat outdoor gue saat itu.

Kenapa saat itu gue mengidolakan Norman Edwin? Karena anggota Mapala UI itu juga seorang wartawan yang aktif dalam berbagai ekspedisi penting Mapala UI di tahun 1980-1990an. Sayangnya dia wafat saat mendaki Gunung Aconcagua, Argentina pada 1992.

Saking mengidolakannya, gue sampai beli buku karyanya yang berjudul: 'Catatan Sahabat Sang Alam", yang berisi perjalanan sang jurnalis petualang ini.

Apesnya gue gagal, tak lulus UMPTN. Mimpi bisa masuk Mapala UI dan bertemu dengan Norman Edwin, kandas.

Kegagalan itu membuahkan kekecewaan dan hampir gue memutuskan untuk tidak kuliah.

Untunglah gue lekas sadar bahwa kuliah itu penting, lebih penting daripada mendaki gunung. Selanjutnya gue cari beberapa kampus swasta namun biayanya tak terjangkau. Akhirnya memilih IISIP, karena selain biayanya terjangkau, ada satu jurusan yang gue tertarik waktu itu yakni Jurnalistik (kewartawanan).

Pemicu lainnya, di kampus itu juga ada sobat gue Rizal teman satu organisasi sispala di SMA ternyata Rizal di Kampus Tercinta ikut Ompa Tapal. Dia kenal Prosper dan beberapa kali mengajak Prosper latihan panjat tebing untuk anggota-anggota baru Sispala, dari situlah gue kenal Prosper.

Setelah jadi mahasiswa IISIP angkatan 91 (seharusnya angkatan 90). Beberapa senior mencoba mengajak gue untuk masuk organisasi. Tapi gue tidak tertarik karena masih fokus jadi pengajar di sispala SMA dan naik gunung dengan teman-teman seangkatan. Bahkan gue sempat bikin komunitas pegiat outdoor bernama Phinisi OAC, khusus teman-teman seangkatan yang suka kegiatan luar ruang bermuatan petualangan.

Untuk membedakan dengan organisasi lain, gue bikin konsep sendiri yakni tidak pakai pelantikan, penggonjlokan seperti kebanyakan Mapala lain. Buat yang ingin ikut, cukup melakukan perjalanan atau pendakian lalu membuat tulisan atau foto-foto sesuai minatnya.

Selain dengan Phinisi, gue juga mulai akrab dengan beberapa anggota Tapal, seperti Irma, Santa, Ithink, Wina, Ubay, Gusur, dan lainnya termasuk dengan Prosper.

Motor Penggerak
Lalu kenapa gue menyebut Prosper itu motor penggerak Ompa TAPAL saat itu? Ya karena dialah yang sering mengadakan kegiatan petualangan dengan mengajak anggota-anggota TAPAL di bawahnya maupun simpatisan. Dengan kata lain, saat itu sepak terjangnya tak bisa dipungkiri membuat roda kegiatan TAPAL jadi terus bergerak (lebih hidup).

Beberapa kali Prosper mengajak gue bertualang menjelajahi Ujung Kulon, susur pantai dan hutan dari Tampang ke Belimbing, termasuk pendakian Gunung Tanggamus tahun 1995. Sebaliknya, gue juga pernah mengajaknya latihan panjat tebing di Gunung Munara dan mendaki Gunung Salak.

Lantaran kebanyakan petualangan dilakukan pada era manual/analog/konvensional maka dokumentasi sederet petualangan itu terbatas, hanya berupa foto-foto dari kamera analog yang menggunakan kamera film isi 24/36.

Saking minimnya dokumentasi foto-foto bertualang bareng Prosper buat pelengkap tulisan ini, gue sempat kirim pesan WA ke rekan-rekan lama: Irma, Santa, Wina, dan Ithink yang pernah ikut jelajah Ujung Kulon 1992 bareng Prosper. Gue minta dikirim dokumentasi foto-foto bergambar Prosper yang agak jelas/besar.

Alhamdulillah, keempatnya membalas dan mengaku masih punya dokumentasi foto-foto bertualang dengan Prosper dan akan segera mengirimkannya. Foto-foto tersebut nanti akan gue masukkan pula ke dalam tulisan ini, biar lebih komplet.


Pendakian Terakhir
Pertemuan dan obrolan dengan Prosper sebagaimana tersebut di atas, ternyata benar-benar menjadi pertemuan sekaligus obrolan terakhir. Dengan kata lain, pendakian empat sekawan ke Gunung Tanggamus tahun 1995 itu juga menjadi pendakian terakhir gue bersama Prosper.

Kenapa? Karena beberapa hari setelah Prosper dan Yosha mengadakan baksos ke Lumajang, gue mendengar kabar Prosper meninggal dunia terseret banjir lahar dingin di kaki Gunung Semeru tersebut.

Awalnya gue tidak percaya dengan kabar itu dan merasa yakin mayat yang ditemukan warga di aliran sungai itu bukanlah mayat Prosper. Kenapa? Karena gue tahu banget Prosper termasuk petualang yang mampu mengatasi hal-hal yang membahayakan nyawa meski terkadang nekadnya kerap berlebihan.

Tapi setelah mendengat kabar langsung dari Yosha, percaya tidak percaya akhirnya gue harus percaya bahwa Prosper sudah tiada.

Saat itu gue sama sekali tidak menyalahkan/menyudutkan Yosha dan bertanya kenapa sampai tidak melarang atau mencegah Prosper melompat dari satu ke batu lain saat lahar dingin menerjang.

Pertama, karena gue maklum dengan kondisi Yosha. Pasti dia sungkan/segan banget, mengingat Prosper seniornya. Gue sendiri yang sudah lebih dulu kenal Prosper saja masih kerap sungkan.

Kedua, karena rasanya tidak mungkin melarang Prosper yang punya keberanian dan nekadnya luar biasa. Akhirnya sampailah kejadian duka itu.


Mengingat Prosper waktu itu juga sudah bekerja sebagai freelance reporter dan namanya lumayan dikenal banyak orang/pihak, membuat kabar kematiannya diberitakan di beberapa koran. Gue pun sempat meng-kliping dua berita kabar duka tersebut. Dan sampai sekarang masih tersimpan dengan baik.

Beberapa tahun sejak kepergian Prosper, jujur gue merasa kehilangan sosok pendaki gunung, pencinta alam sekaligus abang yang jiwa petualangannya di atas rata-rata.

Teman Sepetualangan
Sejak kematian Prosper, gue sempat mencari-cari teman sepetualangan yang sefrekuensi dan punya jiwa petualangan yang lebih. Tapi tidak ada satupun. Akhirnya gue sadar, tak ada orang yang berjiwa petualang seperti Prosper karena memang sejatinya setiap orang itu punya jiwa petualangan dengan kadar dan karakter yang berbeda.

Karena tak lagi memiliki rekan sepetualangan sejati, termasuk dengan Yosha yang meninggal beberapa tahun kemudian dan Buche (tidak pernah bertemu lagi karena lost contact), akhirnya gue kerap mendaki gunung sendiri (solo hiking).

Sederet gunung yang pernah gue daki sendirian antara lain Gunung Salak, Gede, Ceremai, dan Merapi. Begitupun saat menjelajah TN Kelimutu, TN Komodo, dan lainnya, juga sendirian.

Setelah lulus kuliah dan bekerja sebagai wartawan sampai menjadi pemimpin redaksi di majalah khusus pariwisata dan kebudayaan, dan kini mengelola website TravelPlus Indonesia ini, gue masih tetap suka melakukan solo traveling dan solo adventuring sampai sekarang.


Mata Berkaca-kaca
Saat mendaki Gunung Tanggamus lagi, baru-baru ini tepatnya jelang akhir Maret 2026 via Pekon (Desa) Sidokaton, Kec. Gisting, bersinergi dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kab. Tanggamus, seribu kenangan petualangan dengan Prosper termasuk saat mendaki bareng Gunung Tanggamus pada 1995 atau 31 tahun lalu, kembali menari-nari di benak.

Sewaktu melintasi hutan lumut, sebelum summit attack Gunung Tanggamus, kenangan pendakian silam itu membuat gue sempat terdiam beberapa menit dan seketika mata berkaca-kaca.

Ketika itulah tercipta lirik lagu berjudul: "Lagu Buat Prosper dan Yosha (Andai)". Begini liriknya:

🎶... Andai Tuhan panjangkan umurnya
Masih sehat jiwa raga
Andai dia ada di dunia ini
Dan masih aktif mendaki

Akan ku ulangi mendaki Gunung Tanggamus lagi
Berempat seperti lalu
Walau tak lagi setangguh dulu

Andai Tuhan panjangkan umurnya
Bertualang kembali
Bersama-sama lagi ..🎶.

Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180

Captions:
1. Foto bareng sejumlah anggota Ompa TAPAL dan simpatisan yang mengikuti kegiatan jelajah Ujung Kulon 1992, dimana Prosper sebagai leader-nya. (Foto: dok. Irma/Tapal)
2. Dua kliping di surat kabar yang berbeda tentang berita kematian Prosper di Lumajang, kaki Gunung Semeru, Jatim.
3. Triangulasi puncak Gunung Tanggamus yang berketinggian 2.102 Mdpl.
4. Inilah Gunung Tanggamus di Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung yang pernah gue daki pertama kali tahun 1995 bareng Prosper, Buche, dan Yosha. Lalu 31 tahun kemudian mendaki lagi untuk kali kedua pada 2026.
5. Gue di puncak Gunung Tanggamus pada Sabtu (28/3/2026). Pendakian kali kedua ini merupakan hasil sinergi antara gue dari media/website TravelPlus Indonesia dengan dengan Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) Kabupaten Tanggamus.
6. Video dua kliping berita kematian Prosper.
7. Saat melintasi hutan lumut Gunung Tanggamus.

Cat. : Nanti kalau sudah ada foto-foto terkait Prosper, kiriman dari Irma, Santa, Wina, dan Ithink yang sama-sama pernah ikut jelajah Ujung Kulon bareng Prosper tahun 1992, akan saya masukkan ke dalam tulisan ini 🙏.

Inilah seribu kenangan dengan Prosper versi gue. Sebenarnya belum semua gue tuang dalam tulisan ini, karena bakal terlalu panjang.

Dan gue yakin setiap orang yang mengenal baik Prosper, terlebih yang pernah bertualang bareng dengannya, pasti memiliki kenangan, persepsi, dan penilaian tersendiri tentang sosok yang gue sebut sang petualang di atas rata-rata dari TAPAL ini.

Semoga Sang Maha Cinta, memberi tempat terbaik buat Prosper dan Yosha di alam keabadian, Aamiin YRA 🤲.

***




0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP