Cacatan Krusial Diskusi Budaya Seba Baduy 2026: "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara"
Saat dunia sampai hari ini masih sibuk merumuskan konsep keberlanjutan. Di sini, di sudut Nusantara, masyarakat Baduy justru telah lama menjadikannya sebagai cara hidup. Ketika dunia masih berbicara tentang keberlanjutan sebagai tujuan, Baduy sudah menjadikannya sebagai jalan hidup.
Itulah ujung kesimpulan dari diskusi bertajuk "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara" di Panggung Utama, Alun-Alun Kota Serang, Banten pada Jumat, 24 April 2026.
Diskusi budaya sesi 2 yang digelar dalam rangka kegiatan Seba Baduy 2026 tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten dan Panitia Seba Baduy 2026.
Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Wawan Gunawan sebagai salah satu narasumber menjelaskan masyarakat Baduy mungkin tampak sederhana dalam gaya hidupnya.
"Mereka menolak modernisasi dalam bentuk tertentu, menjaga tradisi leluhur, dan hidup dalam keterbatasan yang disengaja. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan sistem pengetahuan ekologis yang sangat maju," terangnya.
Filosofi hidup mereka, lanjut Wawan terangkum dalam ungkapan: “Ngajaga Amanat, Ngarumat Jagat” artinya menjaga titipan, merawat dunia. Ini bukan sekadar slogan, melainkan mandat moral yang mengikat seluruh aspek kehidupan.
Dalam perspektif global, filosofi tersebut menurutnya sejalan dengan konsep intergenerational responsibility, tanggung jawab lintas generasi. Bahwa bumi bukan milik kita, melainkan titipan yang harus dijaga untuk masa depan.
Dijelaskan pula oleh pemilk grup Wayang Ajen yang berbasis di Bekasi ini, salah satu konsep kunci dalam kehidupan Baduy adalah Tri Tangtu Buana, yang membagi kehidupan ke dalam tiga lapisan: spiritual, manusia, dan alam. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dalam keseimbangan yang dinamis.
"Jika salah satu terganggu, maka keseluruhan sistem akan terdampak. Ini adalah bentuk kosmologi ekologis yang melampaui pendekatan ilmiah modern yang sering kali bersifat sektoral dan terfragmentasi," paparnya.
Menurut Wawan yang pernah bertugas di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan ini, pendekatan Baduy justru holistik, mengintegrasikan nilai spiritual, sosial, dan ekologis dalam satu kesatuan.
Selain itu dalam kehidupan Baduy, terdapat aturan adat yang disebut pikukuh. Berbeda dengan regulasi formal yang bersifat eksternal, pikukuh adalah etika yang diinternalisasi. Ia mengatur bagaimana manusia berinteraksi dengan alam, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan.
"Misalnya, larangan merusak hutan, penggunaan bahan kimia dalam pertanian, hingga pembatasan konsumsi. Semua ini bukan sekadar aturan, tetapi bagian dari kesadaran kolektif," bebernya.
Konsep tersebut diperkuat oleh papagon karuhun (pedoman leluhur) dan rawayan jati (jalan kebenaran), yang memastikan bahwa setiap tindakan manusia selalu berada dalam koridor keseimbangan.
Menurut Wawan apa yang dilakukan masyarakat Baduy hari ini sejatinya adalah praktik hidup rendah karbon yang kini gencar dikampanyekan secara global. "Mereka bertani tanpa bahan kimia, menjaga hutan sebagai ruang sakral, dan hidup dalam prinsip “cukup”," ungkapnya.
Kata Wawan lagi, dalam dunia yang didorong oleh konsumsi berlebih, prinsip ini menjadi sangat relevan. "Baduy menunjukkan bahwa kesejahteraan tidak selalu identik dengan akumulasi materi, melainkan keseimbangan hidup," tegasnya.
Terkait ekowisata, sambung Wawan, di Baduy wisata tidak diposisikan sebagai konsumsi, melainkan pembelajaran. "Pengunjung diharapkan menghormati aturan adat, budaya menjaga perilaku, dan memahami nilai-nilai yang hidup di dalamnya," terangnya.
Pendekatan tersebut menghadirkan standar etika baru: bahwa interaksi dengan komunitas adat harus dilandasi rasa hormat, bukan sekadar keinginan untuk “melihat” atau “mengalami”.
Menurut Wawan, ekowisata juga membawa risiko sosial-ekonomi. "Jika tidak dikelola dengan bijak, ia dapat menggerus nilai budaya dan mengubah orientasi hidup masyarakat. Karena itu, keseimbangan antara manfaat ekonomi dan perlindungan budaya menjadi krusial," pungkasnya.
Naskah,: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Sumber: tulisan Wawan Gunawan bertajuk Cacatan Krusial Hasil Diskusi Budaya "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara"
Captions:
1 & 2: Dosen Pascasarjana Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Wawan Gunawan saat menjadi narasumber Diskusi Budaya Seba Baduy 2026: "Kearifan Lokal Baduy sebagai Pilar Ekologi Nusantara". (foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)
3. Masyarakat dari berbagai kalangan mengikuti diskusi budaya sesi 2 tersebut yang bertempat Panggung Utama, Alun-Alun Kota Serang, Banten pada Jumat, 24 April 2026. foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)
4. Pemilik grup Wayang Ajen yang pernah bertugas di Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan ini menyampaikan pula ekowisata yang tunbuh di Baduy. (foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)
5 Berdoto bersama dengan narasumber dan pelaksana diskusi budaya Seba Baduy 2026. (foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)
6. Sekitar 1.500 orang Baduy atau urang Kanekes mejalankan tradisi tahunan Seba Baduy 2026. (foto: @adjitropis)
7. Wawan Gunawan di stan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten saat Seba Baduy 2026 di Kota Serang. (foto: dok. diskusibudaya/wawangunawan)








0 komentar:
Posting Komentar