. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Jumat, 16 Januari 2026

Kiat Hijrah dalam Konteks Berwisata


Ada tiga poin (hal penting) yang tercantum dalam judul tulisan ini yakni 'kiat' 'hijrah', dan 'berwisata'.

Kiat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya akal, seni, atau cara melakukan sesuatu, juga taktik; sering dipakai untuk merujuk pada teknik atau metode khas.

Berwisata kata dasarnya wisata, berdasarkan Undang Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, wisata adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam waktu sementara.

Wisata dalam KBBI bermakna bepergian bersama-sama (untuk memperluas pengetahuan, bersenang-senang, dan sebagainya); bertamasya; piknik. Sedangkan berwisata berarti melakukan perjalanan wisata.

Adapun hijrah dalam KBBI antara lain berarti berpindah atau menyingkir untuk sementara waktu dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik dengan alasan tertentu (keselamatan, kebaikan, dan sebagainya).

Dalam konteks agama (khususnya Islam), hijrah bermakna meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT (maksiat, keburukan) atau menghindari hal-hal yang melalaikan dari kewajiban sebagai muslim.

Dengan begitu kiat hijrah dalam konteks berwisata versi TravelPlus Indonesia adalah cara wisatawan muslim melakukan perjalanan wisata baik itu yang bersifat rekreasi ataupun bermuatan petualangan dengan tujuan bersenang-senang dan lainnya namun tetap mengindahkan kewajibannya sebagai muslim, terutama salat wajib lima waktu.

Lalu apa saja kiatnya. Sekurangnya ada ada tujuh kiatnya berdasarkan pengamatan dan pengalaman TravelPlus Indonesia.

Namun sebelumnya perlu digarisbawahi bahwa hijrah dalam wisata dapat diterapkan diberbagai jenis wisata baik itu wisata alam yang bersifat rekreasi ataupun petualangan, budaya, kuliner, bahari, belanja, sejarah, kota, hiburan, dan lainnya. Tidak melulu atau harus wisata religi. Jadi mau berwisata kota (city tour), kulineran, hiburan bahkan wisata petualangan seperti mendaki gunung dan lainnya tetap bisa diterapkan.


Kiat pertama, pemilihan tempat wisata. Sebaiknya pilih tempat wisata yang tidak membuat kita sampai lalai  meninggalkan kewajiban sebagai muslim traveler ataupun muslim adventurer, terutama salat wajib lima waktu.

Caranya sebelum berkunjung, sebaiknya cek keberadaan masjid ataupun musala di tempat wisata yang dituju. Biasanya di destinasi wisata populer atau ramai peminatnya lebih mudah menemukan masjid atau musala yang dapat kita gunakan untuk salat wajib berjemaah. 

Bagaimana kalau wisata mendaki di gunung yang tidak memiliki musala?  Bisa salat wajib terlebih dahulu di musala yang tersedia di basecamp (BC) atau di masjid terdekat dengan BC. Bila tidak ada musala di sepanjang pos pendakian, bisa cari lahan yang agak datar di sekitar area camp lalu gelar beberapa matras ataupun tikar/sajadah traveling untuk salat berjemaah dengan pendaki gunung lain.

Kiat kedua, bila menggunakan moda transportasi umum seperti bus, gunakan waktu singgah di rumah makan untuk salat. Bisa juga memilih  bus umum yang memang singgah ke masjid agar penumpangnya bisa menunaikan salat berjemaah.

Saat menyeberangi selat/laut dengan kapal feri ataupun kapal besar, manfaatkan fasilitas musalanya untuk salat.

Bila menggunakan kereta api, bisa salat sambil duduk. Bisa juga salat di musala maupun masjid di stasiun keberangkatan ataupun stasiun kedatangan. Begitupun kalau naik pesawat terbang, bisa salat sambil duduk dan di musala maupun masjid di bandara keberangkatan ataupun bandara kedatangan.


Berikutnya atau kiat yang ketiga, pilih akomodasi (hotel, resort, hostel, homestay, camping ground, dan jenis penginapan lainnya) yang memiliki musala atau paling tidak yang memiliki kamar yang menyertakan tanda arah kiblat, sajadah, dan ruang untuk salat. Fasilitas tersebut bisa ada ketahui dengan cara menghubungi pengelola penginapan tersebut ataupun melihat di aplikasi booking hotel yang ada gunakan.

Khusus untuk camping ground, saat ini sudah banyak yang menyediakan musala sebagai salah satu fasilitas pendukungnya. Jika memang tidak ada musalanya atau terlalu jauh dari tempat berkemah, bisa salat di dalam tenda sambil duduk atau di luar tenda dengan menggelar matras/sajadah/tikar traveling.

Sebagai muslim traveler ada baiknya membiasakan membawa perlengkapan salat sendiri, minimal sajadah traveling dan sarung buat laki-laki atau mukena traveling bagi perempuan mengingat belum tentu semua akomodasi menyediakannya. Jika tidak ada tanda arah kiblat, bisa menggunakan kompas di HP, melihat arah cahaya matahari atau menanyakannya ke resepsionis penginapan tersebut.

Kiat keempat, kalau berwisata hiburan seperti menonton konser musik di venue outdoor sebaiknya tanya penyelenggaranya apakah menyediakan musala. Berdasarkan amatan TravelPlus Indonesia biasanya setiap konser musik di ruang terbuka, penyelenggaranya juga menyediakan tenda untuk musala pria yang terpisah dengan perempuan, begitupun dengan tempat ber-wudu.

Bila konser berlangsung sore sampai malam hari bisa tunaikan salat asar, magrib, dan isya di tenda musala tersebut. Kalau konsernya digelar di venue indoor yang memang kerap digunakan untuk konser musik, biasanya sudah difasilitasi dengan musala.

Selanjutnya atau kiat yang kelima, bila membeli paket wisata ataupun open trip, pilihlah travel agent (TA) ataupun indie travel (IT) yang sedia membantu/ memudahkan wisatawan menunaikan salat wajib lima waktu selama melakukan wisata.


Kiat keenam, kalau senang membuat konten saat berwisata baik itu tulisan, foto, video dan lainnya mulainya membuat pula konten-konten keberadaan masjid atau musala di tempat wisata yang dikunjungi secara menarik, lalu disebarluaskan lewat ragam media sosial supaya publik atau calon wisatawan tahu kelebihan/keistimewaannya. Jadi jangan hanya konten narsis, keindahan alam, keunikan budaya, kelezatan kuliner, resto/hotel, kegiatan wisata dan atau hal-hal yang bersifat senang-senang saja
.


Ramah Lingkungan
Rangkaian kiat di atas (1-6), TravelPlus Indonesia tujukan buat muslim traveler/adventurer. Sedangkan kiat terakhir atau yang ketujuh ini, ditujukan pula buat wisatawan non muslim yakni hijrah dalam kontek berwisata juga berarti menerapkan wisata yang ramah lingkungan seperti menjaga kebersihan dimanapun (membuang sampah pada tempatnya, menggunakan air secukupnya/tidak berlebihan, mendukung aksi tanam pohon/reboisasi, tidak mencemarkan mata/sumber air, dan lainnya).

Kalau berwisata belanja termasuk kulineran aneka makanan dan minuman, bahan serta proses memasak/membuatnya tentu harus halal. Dan membelinya termasuk buat buah tangan, sebaiknya jangan hanya di rumah makan/resto/cafe/toko oleh-oleh populer/ternama dan kelas atas, ada baiknya juga belanja/kulineran di warung/pedagang warga lokal/masyarakat sekitar agar mereka juga kecipratan rezeki.

Begitupun dalam memilih akomodasi, jangan hanya selalu hotel berbintang, coba juga hostel, homestay, losmen dan atau camping ground yang dikelola/milik penduduk setempat.


Intinya hijrah dalam kontek berwisata adalah tetap mengindahkan salat wajib lima waktu (khusus bagi muslim traveler) dan senantiasa melibatkan Allah SWT, pun punya kebermanfaatan turut menjaga kebersihan dan keasrian lingkungannya serta bisa pula menambah pendapatan masyarakat lokal (buat muslim dan non muslim traveler).

Nah, supaya tujuan hijrah dalam konteks berwisata tercapai yakni menjadi wisatawan yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah SWT serta bermanfaat lebih buat lingkungan dan warga lokal, niat baiknya tersebut harus bulat/teguh, persiapan dan perencanaannya juga kudu matang serta istiqomah atau kontinyu dalam menjalaninya sekalipun penuh rintangan.

Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, tiktok @faktawisata.id & youtube @kelana180

Captions:
1. Wisatawan berkunjung ke kampung Gang Apandi belakang Jalan Braga, Bandung.
2. Masjid di lereng Gunung Sumbing menjadi daya tarik tersendiri.
3. Camping ground di pantai salah satu alternatif akomodasi dalam berwisata.
4. Masjid di kawasan Stasiun Bandung.
5. Wisata ramah lingkungan turut menjaga kebersihan dan keasrian alam.
6. Belanja dan kulineran di pedagang lokal menambah pendapatan masyarakat setempat.



0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP