. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Sabtu, 15 Oktober 2016

Tabuik Wisata dan Budaya Dikembangkan, Kota Pariaman Petik Banyak Keuntungan

Melihat Tabuik potensinya amat besar dalam menjaring wisatawan, Pemkot Pariaman Sumatera Barat (Sumbar) kemudian mengembangkannya sebagai daya tarik wisata dan budaya. Sejumlah keuntungan pun dipetik, kunjungan wisatawan meningkat dan berdampak positif buat berbagai sektor ekonomi, termasuk industri kreatif.


Dalam seminar bertema “Tabuik dalam Perspektif Budaya” di Aula Balai Kota Pariaman, Sabtu (15/10) yang diselenggarakan dalam rangka Pesona Hoyak Tabuik Piaman 2016, dari sejumlah materi narasumber terungkap bahwa dapat banyak keuntungan yang didapat jika Tabuik yang selama ini bersifat ritual yang menimbulkan pro-kontra, kemudian dikembangkan dalam kemasan wisata dan budaya.

Dosen Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang, Dr. Asril Muchtar mengatakan pertunjukan Tabuik telah berkembang menjadi pertunjukan budaya yang dimasuki oleh kapitalisme pariwisata.

Dampaknya selain mendorong bermacam genre seni pertunjukan penopang kesuksesan pertunjukan Tabuik, juga berbagai sektor ekonomi lainnya.

“Beberapa sektor ekonomi yang mendapat berkah dari Tabuik dalam kemasan wisata dan budaya ini seperti sektor jasa dengan aneka variannya, lalu kuliner, fotografi, dan iklan,” terangnya.

Menurut Asril bila dilihat dari aspek ekonomi kreatif, Tabuik wisata dan budaya telah menjadi core creative industry.

“Artinya Tabuik menjadi inti industri kreatif karena berbagai subsektor yang menjadi bagian dari industri kreatif ikut bergerak karena adanya pertunjukan Tabuik,” ungkapnya.

Kata Asril dampak saling menguntungkan berbagai sektor dan elemen ini terjadi karena berubahnya pertunjukan Tabuik dari pertunjukan ritual ke pertunjukan budaya yang mengutamakan aspek tontonan untuk konsumsi para wisatawan.

Guru Besar Pemikiran Islam IAIN Imam Bonjol, Prof. Duski Samad mengatakan Tabuik sebagai budaya sudah berjalan sesuai situasi dan kondisi yang ada setiap tahunnya.

“Yang pasti sampai saat ini belum ada laporan resmi yang menyebutkan bahwa selesai Hoyak Tabuik sekian umat Islam Pariaman menjadi Syiah. Belum juga ada “kabar Burung” yang bernyanyi bahwa iven budaya Tabuik telah merusak akidah pembuatnya atau mereka yang menyaksikannya lalu pindah warga negara menjadi warga negara Iran,” terangnya.

Prof. Duski Samad menjelaskan Tabuik Rihlah atau wisata adalah menjadikan iven budaya Tabuik sebagai kalender wisata.

“Dengan menjadikan Tabuik bebas dari nilai-nilai aqidahnya dan tidak perlu dibesar-besarkan kaitannya dengan sejarah Syiah,” terangnya.

Menjadikan Tabuik sebagai iven wisata adalah menjadikannya sebagai produk budaya kontemporer yang didisain bebas dari aqidah Syiah, bersih dari tradisi pertentangan kelompok, dan terus dikembangkan dalam seni serta aktivitas sosial budaya bernilai ekonomis.

“Artinya Tabuik Wisata yang dimaksudkan disini adalah bahagian kalender wisata yang melibatkan semua unsur guna menuju Pariaman Kota Wisata dengan dampak ikutannya,” tegasnya.

Kata Prof. Duski Samad lagi, penyelenggaraan Tabuik mempunyai dampak positif terhadap kehidupan sosial kemasyarakatan, sebab pengunjung Tabuik yang begitu ramai merupakan panen tahunan bagi masyarakat ditinjau dari segi sosial ekonomi.

“Misalnya memberikan peningkatan penghasilan bagi para pedagang, income daerah, pengusaha transportasi, pemilik penginapan, dan lainnya,” terangnya.

Wakil Walikota Pariaman Genius Umar usai memberi sambutan dan membuka secara resmi seminar ini mengatakan pesta budaya Hoyak Tabuik Piaman yang diselenggarakan Pemkot Pariaman bukan untuk mengenalkan paham Syiah melainkan sebuah kegiatan wisata budaya dalam kemasan wisata.

Menurut Genius Umar, Tabuik sudah berlangsung sejak tahun 1826. Potensi budaya tradisional ini harus dipertahankan karena mampu menjaring wisatawan dalam jumlah besar.

“Sudah terbukti Tabuik dalam kemasan wisata mampu menjaring hingga 150.000 pengunjung lokal,  dalam dan luar negeri. Otomatis jumlah kunjungan wisatawan ke Kota Pariaman ikut terdongkrak,” ungkap Genius.

“Kalau masih ada yang pro dan kontra terkait Hoyak Tabuik, lalu disebar ke media sosial, biarkan saja itu justru akan menambah ketersohoran Tabuik ini,” tegasnya.

Pemkot Pariaman menyelenggarakan seminar ini, lanjut Genius untuk mengupas permasalahan Tabuik dalam perspektif budaya sehingga dapat menyatukan pandangan dan persepsi yang sama.

Ketua pelaksana seminar yang juga menjabat Sekretaris Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Pariaman, Jafreki mengatakan seminar yang diikuti berbagai unsur baik pemerintahan, swasta, pelajar, mahasiswa, dan tokoh masyarakat ini bertujuan untuk mencari argumen dan dokumentasi sebagai catatan bahwa Tabuik dalam kemasan wisata dan budaya yang dikembangkan dan didukung Pemkot Pariaman kini tidak bertentangan dengan agama.

“Lewat seminar ini, kita ingin mendapatkan dokumen dan referensi dari sejumlah narasumber dan juga masukan positif dari para tamu undangan,” terangnya.

Naskah & foto: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)

1 komentar:

Jafreki Paris 15 Oktober 2016 17.07  

Terima kasih..,adji salud dgn artikelnya..!
Sedikit ralat, 1.500 pengunjung selayaknya 150.000 pengunjung.

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP