. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Minggu, 31 Juli 2022

Kiat Sukses Nanjak Gunung (Lagi) di Usia Senja


Mendaki gunung (nanjak) bukan semata aktivitas wisata minat khusus milik kalangan anak muda. Pendaki berusia senja pun bisa melakukannya. Namun untuk itu, perlu kiat tersendiri agar pendakian yang dilakukan pendaki lawas berujung sukses.

Ada 3 hal penting yang tercantum dalam lead/teras/kepala tulisan di atas, yakni pendaki senja, pendakian yang sukses, dan kiatnya.

Pendaki senja yang TravelPlus Indonesia maksud di sini, indikatornya dilihat dari segi umur. Adapun yang masuk golongan pendaki senja versi TravelPlus adalah setiap pendaki gunung baik itu pria maupun perempuan yang umurnya sudah di atas 50 tahun atau lewat separuh abad.

Kalau di bawah itu, kategorinya masuk jelang senja (40 - 50 tahun), lalu dewasa (25 - 39 tahun), muda/mudi (17 - 24 tahun), remaja (10-16 tahun), dan anak-anak serta ABG (6 - 9 tahun).

Sementara pendakian yang sukses adalah pendakian yang bukan saja pendakinya berhasil mencapai puncak gunung yang didaki, pun pendakiannya memberikan manfaat buat alam dan sesama.

Adapun kiatnya adalah cara, upaya, dan atau strategi yang harus dilakukan supaya pendakian gunung itu sukses.

Apa saja kiatnya? Berdasarkan pengalaman TravelPlus sekurangnya ada 8 kiat yang semestinya dilakukan seorang pendaki yang sudah tergolong senja, terlebih yang sudah lama vakum nanjak lalu ingin kembali menggapai puncak gunung lagi.

Kiat pertama, bulatkan niat kalau memang ingin melakukan pendakian gunung lagi. Niat adalah penguat upaya/ikhtiar yang akan dilakukan. Bila niat sudah teguh, apapun akan dilakukan untuk mewujudkan keinginan itu. 

Selanjutnya atau kiat kedua, mempersiapkan fisik kembali dengan berolahraga yang cocok buat pendaki gunung, antara lain jalan cepat, jogging, lari, dan renang. 

Biar fisik tidak kaget, mulailah dari olahraga ringan seperti jalan cepat mulai dari durasi dan jarak yang pendek, sedang sampai jauh. 

Rutin melakukan jalan cepat selama 30 menit setiap hari atau minimal 3 - 5 kali per minggu.

Banyak manfaat berjalan cepat  bagi  kesehatan tubuh, antara lain meningkatkan kekuatan otot tulang dan sendi, serta menyehatkan jantung serta otak (supaya tidak cepat pikun).

Naikkan tingkatannya dari jalan cepat ke jogging alias lari laun/lari santai/lari kecil dengan kecepatan lambat atau santai. 

Jogging ini berfaedah meningkatkan kebugaran jasmani, membentuk massa otot, membakar kalori, mengurangi jaringan lemak tubuh, dan menjaga kesehatan jantung. Olahraga ini bahkan disebut lebih efektif membakar lemak perut dibanding angkat beban.

Seperti jalan cepat, sebaiknya jogging ini juga dilakukan berjenjang dari jarak pendek, sedang kemudian jauh sesuai kemampuan.

Berikutnya baru melakukan olahraga lari mulai dari trek beraspal mulus lalu trek berbukit-bukit mirip trek jalur pendakian (japen) gunung.

Olahraga lari selain efektif untuk menjaga bahkan menurunkan berat badan, pun bermanfaat mengurangi risiko kematian akibat stroke, dan tentunya menguatkan otot kaki.

Waktu terbaik berolahraga adalah selepas subuh sampai sekitar pukul 9 pagi. Kalau tidak bisa, pilih sore lepas salat asar sampai jelang maghrib. Perlu diingat, sebelum melakukan masing-masing olahraga tersebut warming up atau pemanasan biar otot tidak kaget.

Begitupun dengan renang, baik di kolam renang umum maupun khusus. Pilih gaya renang yang disuka. Tapi pemanasan terlebih dulu sebelum nyebur.

Adapun manfaat renang antara lain selain  menjaga berat badan ideal, pun bisa membentuk/menguatkan otot, dan bikin tubuh jadi lebih rileks serta bagus untuk kesehatan jantung. 

Persiapan fisik dengan beragam olahraga tersebut sebaiknya dilakukan minimal satu bulan sebelum melakukan pendakian gunung. 

Kiat ketiga, selain persiapan fisik tak kalah penting juga menyiapkan semua peralatan/perlengkapan mendaki gunung.

Peralatan utamanya antara lain ransel/keril yang kuat dan nyaman, sepatu lapangan yang kuat dan nyaman (sebaiknya sudah di-sol) ditambah sandal, matras/alas tidur, sleeping bag (SB), tenda dome yang nyaman, perlengkapan salat, senter dan baterai serta perlengkapan masak dan makan.

Buat pendaki senja yang sudah lama tidak nanjak lagi, bisa jadi semua peralatan itu masih ada namun kondisinya sudah tak lagi sekuat dan senyaman dulu alias sudah ada yang rusak atau tak berfungsi dengan baik. Bisa juga sudah tidak ada, karena lupa dimana menyimpannya atau hilang.

Keempat, menentukan gunung yang akan didaki. Sebaiknya karena sudah uzur apalagi sudah lama tidak nanjak, sebagai tahap awal pilihnya gunung yang tidak terlalu tinggi atau pilih japen yang paling mudah dibandingkan japen lain.


Contohnya TravelPlus baru-baru ini memilih nanjak Gunung Ciremai yang berketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (Mdpl) tapi via japen Apuy, Majalengka, Jawa Barat (Jabar) dengan 2 alasan. Pertama, penasaran karena belum pernah lewat Apuy (sebelum era digital pernah 3 kalau ke puncak Ciremai tapi semuanya via japen Linggarjati, Kuningan). Alasan kedua, karena japen Apuy lebih ringan dibanding Linggarjati dan japen lainnya. Jadi pilihan itu juga disesuaikan dengan umur dan kondisi fisik teranyar.

Kiat kelima, memilih rekan sependakian yang tepat, baik itu pendakian bersama atau bisa juga dengan memilih open trip (OT) pendakian yang digelar sebuah komunitas/kelompok yang berpengalaman, bertanggungjawab, dan punya reputasi yang cukup baik. Dengan kata lain minimal penyelenggaranya tidak punya catatan masalah dengan peserta OT sebelum-sebelumnya.

Berikutnya atau kiat keenam, memberitahukan kondisi fisik terkini, kemampuan, persiapan yang dilakukan, dan pengalaman pendakian sebelumnya kepada rekan sependakian baik itu pimpinan pendakian bersama atau pimpinan OT. Jangan sungkan, gengsi apalagi malu.

Hal itu pun TravelPlus lakukan saat mendaki Gunung Ciremai dengan mengatakan kepada rekan sependakian bahwa sudah hampir 6 tahun vakum nanjak lantaran kesibukan sebagai wartawan, sakit dan harus dioperasi, ditambah dengan adanya pandemi Covid-19 serta harus melewati masa pemulihan pasca-operasi hingga baru kali ini, tepatnya jelang akhir Juli 2022 kembali nanjak Ciremai dengan memilih japen Apuy. 

TravelPlus juga menginformasikan bahwa pendakian yang dilakukan ini sebagai uji coba fisik sebelum mendaki gunung yang lebih tinggi lagi dengan cara melintas. 

Jadi harap dimaklum kalau nanti jalannya santai, apalagi kebiasaan TravelPlus sejak dulu kalau nanjak itu sambil mengabadikan (memotret, mengamati/mendata flora, fauna, dan spot alam berikut atmosfernya).

Dengan pemberitahuan itu, rekan sependakian yang rata-rata masih muda belia dan masih aktif nanjak, bisa memaklumi kemampuan fisik TravelPlus saat ini yang tentu saja sangat jauh berbeda bila dibanding ketika masih berusia belasan sampai 30 tahunan yang merupakan masa keemasan petualangan.

Serba Praktis
Kiat ketujuh, menerapkan strategi khusus yang sesuai dengan kondisi fisik saat ini. Caranya dengan tidak membawa beban yang berlebihan bila memang tidak menggunakan jasa porter.

Saat melakukan pendakian ke gunung berstatus taman nasional ini via Apuy, misalnya TravelPlus membawa peralatan dan perlengkapan nanjak yang se-praktis mungkin. Misalnya, tidak membawa tenda dome dan peralatan masak karena keduanya sudah disiapkan rekan sependakian. 

TravelPlus juga tidak membawa SB dan matras gulung, sebagai penggantinya menyertakan perlengkapan tidur seperti  kain sarung, kaos lengan panjang, sweater, celana panjang, sarung tangan, kaos kaki, balaklava gaya Rusia, bantal tiup, dan alas lipat yang bisa dimasukkan dalam ransel. 

Selain itu juga membawa bermacam logistik (panganan dan minuman) yang praktis disesuaikan dengan durasi pendakian.

Bila sejak awal merasa tak sanggup membawa beban berat, pilihan yang tepat dengan menggunakan jasa porter. Anda cukup membawa ransel kecil yang berisi makanan kecil, air mineral, dan ponco/jas hujan serta tas pinggang yang memuat peralatan penting seperti HP, dompet, dan lainnya.

Terakhir atau kiat kedelapan, melakukan pendakian yang teratur antara lain selepas salat subuh, buang air besar dan kecil sekaligus bersih-bersih, kemudian mempersiapkan perlengkapan, dan sarapan. Sebelum memulai pendakian, melakukan pemanasan berupa perenggangan otot agar tidak kaku dan tak lupa berdoa memohon kelancaran dan keselamatan.

Di awal pendakian, sebaiknya melangkah sedang, tidak terlalu panjang dan cepat dengan kata lain dilakukan dengan santai namun konstan. Tidak usah mengikuti rekan sependakian yang masih belia dan berjalan ngacir atau cepat. Begitupun saat turun dari puncak sampai ke basecamp awal.


Alhamdulillah
, semua kiat itu membuahkan hasil. TravelPlus sukses menggapai atapnya Jabar kembali namun kali ini via Apuy sekalipun sempat tertatih-tatih dan sewaktu turun dengkul sebelah kiri yang sejak dulu bermasalah kembali kambuh. Bahkan sampai susah jongkok dan duduk di antara dua sujud saat menunaikan shalat selepas turun gunung.

Bagaimana dengan orang yang sudah berusia senja dan belum pernah mendaki gunung tapi ingin nanjak? Jawabannya harus mempersiapkan hal-hal sebagaimana tersebut di atas dengan lebih intens lagi ditambah persiapan mental serta memilih gunung-gunung yang pendek atau japen-nya ringan terlebih dulu. 

Kenapa harus persiapkan mental pula? Karena mendaki gunung bukan cuma butuh fisik yang siap pun mental yang tahan banting dengan kondisi alam, trek pendakian, dan lainnya.

Lalu bagaimana dengan pendaki yang sudah senja, masih aktif mendaki, dan ingin mendaki gunung berikutnya dalam waktu dekat? Karena masih aktif, tentu fisik dan mentalnya sudah terbiasa dan jauh lebih siap. Jadi persiapan yang dilakukan tak sekencang pendaki senja yang sudah lama vakum nanjak.

Semoga bermanfaat 🙏.

Naskah: Adji TravelPlus @adjitropis &  @travelplusindonesia

Foto: adji, firman & nizar
Lokasi: pendakian Gunung Ciremai via Apuy

Read more...

Sabtu, 30 Juli 2022

Tahun Baru Islam 1444 H, Momentum Jadi Pendaki Gunung yang Lebih Berfaedah


Tahun Baru Islam atau Tahun Baru Hijriah yang diperingati setiap 1 Muharram, juga bisa dijadikan momentum untuk hijrah atau merubah sikap, tingkah laku, dan sebagainya hingga menjadi pendaki gunung yang lebih berfaedah.

Lebih berfaedah yang TravelPlus Indonesia maksud disini adalah pendakian gunung yang dilakukan bukan hanya bertujuan ingin mencapai puncaknya, foto-foto lalu dipamerkan di ragam medsos termasuk di WAG agar dapat tanda jempol atau komentar sanjungan/pujian dan bukan semata untuk menambah perbendaharaan jumlah gunung/jalur pendakian (japen).

Bukan pula sekadar untuk kesenangan diri sendiri/penyaluran hobi, dan atau semata mendapatkan keuntungan finansial, melainkan punya kontribusi terhadap sekurangnya 4 hal yakni keberadaan sarana prasarana (sarpras), kelestarian spot alamnya, ketenangan lingkungan/kehidupan masyarakat sekitar, dan tanggungjawabnya sebagai muslim.

Hal pertama menyangkut sarpras di gunung di antaranya pusat informasi yang biasanya merangkap kantor pengelola gunung tersebut, MCK, musala, pos/shelter, tanda/rambu petunjuk, lokasi basecamp atau tempat berkemah, dan triangulasi  di puncak.

Di momen spesial Tahun Baru Islam 1444 Hijriah ini, sebagai pendaki terlebih yang muslim berjanji tidak akan lagi melakukan hal-hal yang bikin sarpras tersebut kotor, penuh corat-coretan, terkesan kumuh, dan lainnya yang jelas-jelas bikin tak sedap dipandang mata.

Dengan kata lain di momen spesial Tahun Baru Islam 1444 Hijriah ini, bersungguh-sungguh berniat menjaga semua itu agar terpelihara dengan baik, termasuk dalam menggunakan air, lampu penerang/listrik dengan bijak, artinya tidak berlebihan/boros sehingga pendaki berikutnya masih bisa memanfaatkannya.

Hal kedua terkait spot alam di gunung antara lain bermacam tipe hutan beserta isinya (beragam flora dan fauna), jalur pendakian (japen) yang dilalui, sabana, bebatuan beragam bentuk, lereng, lembah, perbukitan, gua, dan sumber air baik itu mata air/telaga/danau/air terjun dan aliran sungai.


Di momen spesial Tahun Baru Islam 1444 Hijriah ini, sejatinya sebagai pendaki khususnya yang muslim berjanji untuk tidak lagi membuang sampah logistik di gunung, terlebih yang berbahan tak ramah lingkungan seperti plastik, stereo foam, dan lainnya; tidak lagi melakukan aksi penebangan pohon atau pengambilan tanaman/bunga yang tumbuh apapun jenisnya; dan tidak melakukan aksi vandalisme (corat-coret, menguliti/menggores/melukai batang pohon/bebatuan, dll).

Dengan kata lain, di momen spesial Tahun Baru Islam 1444 Hijriah ini, berniat bulat untuk selalu membawa turun kembali minimal sampah logistik sendiri setiap melakukan pendakian baik itu di gunung yang berada di kawasan konservasi atau berstatus taman nasional (TN)/taman wisata alam (TWA) maupun yang non konservasi sekalipun sampah logistik itu cuma bungkus permen, bungkus aneka minuman sachet-an, dan lainnya. 

Sampah-sampah itu lalu dikumpulkan di tempat penampungan sampah yang sudah disediakan pengelola di basecamp awal.

Andai tahun ini mampu berkontribusi melakukan aksi konservasi yang lebih, misalnya turut melakukan aksi menanam pohon, tentu itu lebih bagus lagi.

Bukankah menanam pohon merupakan hal yang sangat dianjurkan karena bukan semata menikmati hasilnya, para penanam pohon adalah para penyedekah dengan pahala yang mengalir, sadar atau tidak. Hal itu sebagaimana tercantum dalam hadis riwayat Muslim dari Ibnu Numair yang artinya :

“Rasulullah saw, bersabda, “Seorang muslim tidak menanam tanaman kecuali apa yang dimakan dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Apa yang dicuri dari tanaman itu menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan binatang buas menjadi sedekah baginya. Apa yang dimakan burung menjadi sedekah baginya. Dan tidaklah orang lain mengambil manfaat (dari pohon itu) kecuali menjadi sedekah bagi (penanam)nya...”.

Selain itu, di tahun baru Islam ini juga berjanji tidak akan mencemari bermacam sumber mata air yang ada di gunung, misalnya tidak buang air besar dan kecil di jalan, di sumber air, tempat pertemuan air, pinggiran sungai, di air yang tidak mengalir, di liang-liang tanah tempat hewan tinggal, di tempat berteduh, dan di bawah pohon yang berbuah.

Bukankah dalam Hadis Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra menyebutkan: “Janganlah seseorang dari kalian kencing di dalam air yang diam, yang tidak mengalir, kemudian mandi darinya".


Hal ketiga yang TravelPlus maksud masyarakat sekitar adalah warga yang menetap di dusun atau kampung terakhir di kaki gunung tersebut. 

Di momen spesial Tahun Baru Islam 1444 Hijriah ini, sebagai pendaki muslim sebaiknya juga berjanji untuk tidak melakukan kegiatan yang membuat kebisingan yang berlebihan sampai mengusik ketenangan warga setempat, termasuk penghuni hutan di sekitar japen gunung tersebut.

Dengan kata lain di momen spesial Tahun Baru Islam 1444 Hijriah ini, antara lain tidak lagi menyetel musik/lagu terlampau keras dan tidak melakukan keributan apalagi keonaran. 

Tak cuma itu, juga berjanji menjaga tingkah laku dalam bersilaturahmi/berkomunikasi baik dengan rekan sependakian, kekasih atau bahkan dengan istri/suami sendiri, serta tidak mengenakan pakaian yang kurang sopan/terlalu terbuka/fulgar.

Satu hal lagi terkait tanggungjawab sebagai pendaki muslim, adalah alangkah baiknya menjadikan Tahun Baru Islam 1444 Hijriah ini sebagian momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Sang Pencinta, Allah SWT dengan cara antara lain  menunaikan salat 5 waktu tepat waktu sekalipun saat melakukan pendakian (nanjak dan turun).

Dengan kata lain, di momen spesial Tahun Baru Islam 1444 Hijriah ini berjanji untuk tidak lagi menunda-nunda apalagi meninggalkan salat wajib 5 waktu selama melakukan pendakian.

Sebaliknya, justru berniat kuat untuk taat menunaikan kewajiban tersebut secara berjamaah baik di musala yang ada di basecamp awal, saat melakukan pendakian di pos pendakian, pos bayangan maupun di spot alam yang ada di gunung tersebut serta saat turun gunung dari puncak ke basecamp awal.

Bila keempat hal itu diindahkan, Insya Allah pendakian gunung yang dilakukan jauh lebih bermanfaat, dengan kata lain bisa berubah menjadi pendaki gunung yang lebih berfaedah bukan cuma buat diri sendiri pun untuk kelestarian alam dan ketenangan bahkan kesejahteraan para penghuninya. 

Naskah & foto: Adji TravelPlus @adjitropis & @travelplusindonesia

Lokasi foto: pendakian Gunung Ciremai via Apuy


Read more...

Jumat, 29 Juli 2022

Santap Nasi Kebuli di Puncak Ciremai, Sensasinya Ruaaar Biasaaa...


Makan nasi kebuli di rumah, kedai ataupun resto itu sudah biasa. Tapi kalau menyantapnya di puncak gunung, itu baru ruaaaaar biasaaaa.., alhamdulillah.

Sensasi seperti itulah yang TravelPlus Indonesia dapatkan saat menyantap nasi di puncak Gunung Ciremai yang berketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (Mdpl) baru-baru ini.

Dari mana TravelPlus mendapatkan hidangan utama yang dipengaruhi oleh budaya Arab dan asal usulnya dapat ditelusuri dari Timur Tengah, terutama pengaruh Yaman Arab (nasi mandhi atau kabsa), dengan pengaruh masakan India (nasi biryani), dan pengaruh Afghanistan (palaw kabuli), sejenis pilaf tersebut? Apakah dibawa sendiri dari rumah atau masak di puncak?

Jawabannya jelas bukan dibawa dari rumah ke atapnya tatar (tanah) Sunda, Jawa Barat (Jabar) ini. Bukan pula TravelPlus yang masak, karena jujur sampai hari ini TravelPlus belum bisa membuat nasi yang dimasak bersama kaldu daging kambing, susu kambing, minyak samin dan sejumlah bumbu lalu ditaburi dengan irisan kismis  tersebut.

Santapan utama atau makanan berat yang  populer di kalangan warga Betawi di Jakarta dan warga keturunan Arab di sejumlah daerah/kota di Tanah Air ini, TravelPlus peroleh dari seorang pendaki lawas di puncak gunung berjenis  stratovolcano atau gunung berapi kerucut ini.


Nama pendaki pria itu Catur Bagus Cahyanto yang akrab disapa Catur. Pendaki asal Kota Cimahi, Jabar inilah yang memasak nasi khas warga keturunan Hadrami di Indonesia ini yang populer di kawasan kota yang banyak terdapat warga keturunan Arab-nya, seperti Jakarta, Surabaya, Gresik, dan lainnya.

Saat TravelPlus bertemu pria berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) sekarang disebut Aparatur Sipil Negara Sipil (ASN) ini di Puncak Ciremai pada Ahad pagi, dia sedang memasak nasi kebuli dengan wadah seperti wajan.

Beras yang digunakannya adalah beras basmati khusus untuk nasi kebuli, mandhi, dan biryani. Beras tersebut menghasilkan nasi yang pera dengan bentuk yang agak lebih panjang dari jenis beras lain.

Menurut Catur, semua bumbu nasi kebuli antara lain bawang putih, bawang merah, lada hitam, cengkih, ketumbar, jintan, kapulaga, kayu manis, pala yang dihaluskan, sudah ditumis di rumah. 

"Jadi di sini tinggal memasukkan bumbu itu bersama nasi dan kaldu kambing serta santan sebagai pengganti susu kambing. Lalu daging kambing yang sudah ditumis dengan minyak samin juga dicampurkan ke dalam nasi yang sudah setengah matang sampai akhirnya benar-benar matang," terangnya.

Sambil menanak nasi yang bercitarasa gurih itu matang, Catur sesekali mengaduknya. Sementara TravelPlus mengabadikan aksinya yang terbilang beda dibanding pendaki-pendaki lainnya itu.


Ketika TravelPlus tanya belajar dari siapa sampai bisa bikin nasi kebuli? Dan kenapa sampai niat sekali masak nasi kebuli di puncak Ciremai?

"Belajar sendiri, tapi awalnya sempat gagal berkali-kali," akunya.

Tak lama kemudian Catur mengeluarkan dan menunjukkan kartu Surat Izin Mengemudi (SIM) C kepada TravelPlus.

Sesuai tanggal lahirnya yang tertera di SIM-nya, TravelPlus sempat terkejut karena ternyata hari itu bertepatan dengan hari kelahirannya. Dengan kata lain Catur mendaki Gunung Ciremai sendirian (solo hiking) lalu memasak nasi kebuli itu adalah untuk merayakan Hari Ulang Tahun (HUT)-nya.

TravelPlus pun langsung menjabat tangannya dan memberi ucapan selamat ultah disertai doa semoga Catur panjang umur, selalu diberi kesehatan, keberkahan, dan dimudahkan segala urusan.

Paling Juara
Setelah nasi kebuli matang, Catur kemudian mengajak TravelPlus dan beberapa pendaki lain untuk makan bareng (mabar) nasi kebuli hasil racikannya.


Sewaktu mencicipinya, TravelPlus menilai kematangan nasinya pas, begitupun dengan keempukan daging kambingnya. Sementara rasa dan aromanya juga tak beda jauh dengan nasi kebuli yang pernah TravelPlus beli di kedai atau resto Jakarta.

Namun yang membedakannya adalah tempat dan atmosfernya. Makan nasi kebuli di puncak Ciremai bareng juru masak (koki)-nya langsung, sensasinya jelas lebih dari biasa dan boleh dibilang paling juara.

Alasan itulah yang membuat TravelPlus membuat tulisan ini sekaligus dengan konten videonya. Kenapa? karena memasak lalu menyantap nasi kebuli di puncak gunung berapi yang masih aktif seperti yang dilakukan Catur ini, bukan cuma menarik pun menjadi sesuatu aktivitas yang langka/unik.

Naskah & foto: Adji TravelPlus @adjitropis & @travelplusindonesia


Read more...

Kamis, 28 Juli 2022

Tiga Pendaki Jepang Gapai Atapnya Jabar, Ini Buktinya


Ada pemandangan berbeda di puncak Gunung Ciremai, baru-baru ini. Di atap tertingginya Jawa Barat (Jabar) itu, terlihat tiga pendaki laki-laki asal Jepang.

Kehadiran ketiga pendaki pria dewasa dari negeri sakura itu, membuat atmosfer puncak berketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (Mdpl) jelang akhir Juli ini, terasa lebih berwarna dan bercerita.

Dibilang lebih berwarna karena keberadaan ketiga pendaki itu menambah panjang daftar asal domisili pendaki yang berhasil menggapai atapnya tatar (tanah) Sunda dari negara lain atau dengan kata lain pendaki asing atau mancanegara. 

Selama ini pendaki yang nanjak gunung berkawah luas dan dalam ini didominasi pendaki lokal atau dalam negeri yang datang dari berbagai daerah.

TravelPlus Indonesia mencatat pendaki WNI yang berada di puncak itu datang dari Jakarta, Bandung, Cimahi, Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, dan Bengkulu usai bersilaturahmi (berkenalan mulai dari awal pendakian).

Dikatakan lebih bercerita karena kehadiran tiga pendaki dari negara berjuluk Matahari Terbit (Nippon atau Nihon) itu membuahkan catatan membanggakan tersendiri bagi Gunung Ciremai. Catatan itu adalah gunung berstatus taman nasional ini ternyata diminati pendaki mancanegara selain pendaki nusantara.

Awal cerita TravelPlus tahu kalau ketiga pendaki itu berasal dari Jepang, setelah melihat penampilan mereka, baik secara postur tubuh, bentuk wajah apalagi mata yang memang khas pria Jepang. Terlebih setelah mendengar mereka saling bicara dalam Bahasa Jepang.

Untuk lebih meyakinkan apakah ketiganya  benar-benar dari Jepang, TravelPlus sempat bertanya kepada salah satu porter yang mendampingi mereka saat berada di awal pendakian tepatnya di Basecamp Berod sebelum memulai pendakian menuju pos 1 (Arban). Dan menurut penuturan porter lokal dari Majalengka, ketiga pendaki pria itu memang benar berasal dari Jepang.

Sewaktu TravelPlus tiba di puncak gunung berjenis stratovolcano atau gunung berapi kerucut ini, ketiga pendaki Jepang itu tengah bersantai sambil duduk-duduk di batu dekat dengan batas kawah.

Mereka tiba lebih cepat di puncak lantaran mulai summit attack dari pos 5, jauh sebelum masuk waktu subuh.  

Pos 5 atau disebut Sanghyang Rangkah yang berada di ketinggian sekitar 2.540 Mdpl  merupakan tempat nge-camp atau bermalam bagi para pendaki yang nanjak Ciremai via jalur pendakian (japen) Desa Apuy, Kabupaten Majalengka, Jabar.

Keesokan paginya, biasanya sebelum subuh, para pendaki melakukan summits attack menuju pos 6 (Goa Walet) sampai puncak.

Di pos 5 yang juga memiliki pondok rumah tak berdinding seperti di pos 1 itu, biasanya pendaki bermalam dengan mendirikan tenda pada sore hari, usai melakukan pendakian yang dilakukan mulai sekitar pukul 8 pagi dari basecamp Berod. 

Basecamp Berod juga merangkap pusat informasi dan registrasi bagi setiap pendaki yang ingin menggapai puncak Ciremai via Apuy.

Ahad pagi itu, setelah seluruh wajah puncak Ciremai nampak jelas diterangi cahaya matahari, sejumlah pendaki langsung mengabadikan kesuksesannya merengkuh puncak dengan berfoto narsis baik sendiri-sendiri, berdua ataupun bersama-sama dengan rekan sekomunitas.


Ada sekurangnya 2 spot foto yang paling diincar pendaki di puncak Ciremai. Pertama, spot tiang kayu berbendera Merah Putih dengan papan kayu berwarna oranye bertuliskan MT. Ciremai 3078 Mdpl. Spot itu berlatar pemandangan lautan awan putih pagi itu.

Berikutnya spot tiang kayu dengan papan segi empat berwarna oranye dengan tulisan "Top Ciremai Jalur Pendakian Apuy" berwarna putih. Spot tersebut berlatar kawah Ciremai yang masih aktif dan mengeluarkan asap berbau belerang.

Ketiga pendaki Jepang juga terlihat berfoto di kedua spot tersebut. "Terimakasih", ucap ketiganya setelah diabadikan oleh porter lokal. 

Beberapa pendaki nusantara yang baru tahu kalau ada tiga pendaki Jepang di puncak Ciremai, tak lupa meminta foto bareng dengan ketiganya, salah satunya Catur pendaki lawas asal Kota Cimahi yang melakukan solo hiking ke Ciremai.

TravelPlus sempat mengabadikan (memotret dan merekam) ketika tiga pendaki Jepang itu berfoto di salah satu spot tersebut.

Pendaki Mancanegara
Melihat pendaki Jepang di puncak Ciremai, seketika TravelPlus teringat dengan 4 pendakian lawas yakni ke puncak Gunung Kelimutu di Flores, NTT naik turun lewat Desa Moni dan ke puncak Gunung Merapi, Jawa Tengah naik turun lewat japen Selo. Kedua pendakian itu TravelPlus lakukan sekitar tahun 90-an. 

Dua lagi, pendakian ke Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda, tepatnya di perairan yang masuk wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Lampung  dan ke puncak Gunung Gede, Jawa Barat lewat japen Gunung Putri turun Cibodas atau dengan kata lain melintas. Keduanya TravelPlus lakukan pada tahun 2000-an awal.

Sewaktu mendaki sendirian (solo hiking) ke Gunung Kelimutu yang dari puncaknya dapat melihat Danau Tiga Warna, TravelPlus bertemu dengan seorang pria petualang sekaligus pendaki dari Jepang. Waktu itu sempat meminta tolong sama pendaki itu untuk mengabadikan TravelPlus dengan Nikon FM2 salah satu jenis kamera konvensional (manual) buatan Jepang yang masih menggunakan rol film. 

Ketika mendaki Gunung Merapi juga sendirian, TravelPlus berjumpa dengan dua pendaki laki dan perempuan asal Eropa (lupa asal negaranya).  

Begitupun saat ke Gunung Anak Krakatau, bertemu dengan seorang pendaki pria dewasa asal Eropa bersama seorang putranya yang masih remaja. Sedangkan sewaktu ke Gunung Gede, TravelPlus melakukan pendakian bersama para pendaki dari 6 negara antara lain Indonesia, Australia, dan Inggris.


Mendaki gunung di Tanah Air bertemu dengan pendaki asing, rasanya ada kesenangan tersendiri. 

Senangnya karena ternyata ada banyak gunung di Indonesia yang juga diminati pendaki mancanegara selain Puncak Jaya  (Gunung Puncak Carstenz Pyramid) di Papua yang merupakan gunung tertinggi di Indonesia, Gunung Leuser di Aceh, Gunung Agung dan Batur di Bali, Gunung Rinjani di Lombok NTB, serta Gunung Bromo dan Semeru di Jawa Timur.

Lewat tulisan ini, TravelPlus berharap ketiga pendaki Jepang yang sukses mendaki puncak Ciremai via Apuy itu mendapat pengalaman yang menyenangkan serta kesan yang positif, kemudian mereka mau mengabarkan semua kenangan baiknya itu kepada pendaki-pendaki gunung lain atau peminat wisata minat khusus bermuatan petualangan di negaranya sehingga semakin banyak pendaki Jepang yang tertarik datang menggapai atapnya Jabar.

Naskah & foto: Adji TravelPlus @adjitropis & @travelplusindonesia




Read more...

Rabu, 27 Juli 2022

Nanjak Ciremai, Enam Aktivitas Ini Bikin Pendakian Bermanfaat Lebih


Banyak aktivitas positif yang dapat diterapkan selama melakukan pendakian gunung (nanjak). Tujuannya supaya pendakian yang dilakukan punya manfaat lebih. 

Ragam aktivitasnya antara lain mengamati flora dan fauna, mengabadikan spot alam yang cantik dan unik/khas, menunaikan kewajiban sebagai pendaki muslim, bersilaturahmi, membawa turun sampah logistik, dan terakhir aktivitas membuat konten (tulisan, foto, video serta lagu).

Keenam aktivitas tersebut, baru-baru ini TravelPlus Indonesia terapkan saat melakukan pendakian ke Gunung Ciremai yang berketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (Mdpl) lewat jalur pendakian (japen) Apuy, yang berada di Desa Apuy, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Pendakian dimulai sekitar pukul 8 pagi, selepas sarapan dan berdoa dari basecamp Berod di hutan pinus yang dilengkapi dengan beberapa sarana dan prasarana (sarpras) pendukung antara lain pusat informasi sekaligus tempat registrasi, beberapa MCK, satu musala, dan sederet warung yang menjual aneka makanan (mie instan, nasi dengan beberapa lauk ringan), dan bermacam minuman ringan serta tempat parkir.


Selanjutnya menuju pos 1 (Arban), pos 2 (Tegal Pasang), pos 3 (Tegal Masawa), pos 4 (Tegal Jamuju), pos 5 (Sanghyang Rangkah) di ketinggian sekitar 2.540 Mdpl  yang menjadi tempat nge-camp atau bermalam, keesokan paginya tepatnya sebelum subuh melakukan summits attack menuju pos 6 (Goa Walet) sampai puncak.

Aktivitas pertama yang TravelPlus lakukan di gunung aktif yang menjadi atapnya tatar (tanah) Sunda atau puncak tertinggi di provinsi Jawa Barat ini adalah pengamatan flora dan fauna yang menghuni hutannya, terutama yang ada di sekitar jalur pendakian.

Hasilnya ada beberapa flora yang teramati di gunung berstatus taman nasional (TN) ini, seperti pinus merkusii, puspa, akasia, soro, cemara gunung, anggrek hutan, jamur hutan, cantigi, sabana, dan tentunya edelweis jawa.

Sejumlah pohon raksasa dengan batang berukuran besar dan tinggi jelas terlihat dari pos 1 sampai 5. Beberapa di antaranya bahkan berdiri tegak di dekat jalur pendakian. 


Sebagai tanda kagum dan cinta, setiap kali melewatinya TravelPlus sapa dengan salam "assalamualaikum" lalu mengusap atau bahkan memeluk batangnya sambil berucap "terimakasih" karena sudah memberi oksigen, mengurangi karbondioksida, meningkatkan cadangan air tanah, menahan laju air dan erosi, menjaga kesuburan tanah, meneduhkan dan menyejukkan mata, menambah indah pemandangan, mengurangi zat pencemar udara serta menjadi rumah tinggal bagi sejumlah hewan seperti burung.

Khusus si bunga abadi, edelweis jawa yang berada mulai pos 5 hingga jelang puncak, beberapa di antaranya TravelPlus cium sayang sambil berucap " i love you".

Perlu diingat, semua pohon/tanaman dan bunga yang diamati hanya boleh dilihat, disentuh, dan diabadikan (foto dan video). Tidak boleh sama sekali ditebang, dipatahkan ataupun dipetik.
 
Adapun fauna yang terlihat antara lain tupai kekes, lutung budeng, lebah, dan beberapa jenis burung termasuk beberapa ekor burung berukuran kecil yang hinggap di pepohonan menjelang puncak.

Aktivitas kedua sambil mengabadikan spot alam yang cantik dan unik/khas terutama di sepanjang jalur pendakian, antara lain hutan berselimut kabut yang menawarkan atmosfer yang berbeda, terasa lebih eksotis. 

Hutan di gunung berjenis stratovolcano atau gunung berapi kerucut ini terdiri atas hutan pegunungan bawah (submontane forest), hutan pegunungan atas (montane forest), dan hutan subalpin (subalpine forest) yang berada menjelang puncak.

Di beberapa posnya terutama setelah melewati pos 2 sampai pos 4, hutannya diselimuti kabut lumayan tebal, lalu diikuti rintik-rintik hujan di beberapa titik.

Pemandangan hutan berkabut menawarkan lukisan alam yang lebih menawan dibanding saat bercuaca cerah. Kondisi seperti itu, justru diminati para fotografer ataupun videografer termasuk TravelPlus karena mendapatkan sensasi misterius atau kesan horor sekaligus artistik.


Spot alam lainnya berupa hutan yang pepohonannya dibaluti lumut yang tak kalah uniknya. Lokasinya berada setelah melewati pos 3.

Selanjutnya spot akar-akar pohon yang  membentuk gerbang bertirai. Lokasinya berada setelah pos 4. 

Ada lagi sabana setelah pos 5 sampai sebelum Simpang Apuy, Goa Walet (tempat mengambil air), dan terakhir tentu saja spot puncak dengan kawahnya serta pemandangan matahari terbit dan lautan awannya saat cuaca cerah.

Setiap spot alam menawarkan keindahan dan kekhasan masing-masing yang sayang kalau tidak diabadikan.

Aktivitas ketiga, tak lupa menunaikan kewajiban sebagai pendaki muslim yakni salat wajib 5 waktu. 

Salat subuh TravelPlus lakukan di musala yang ada di basecamp Berod. Tak lupa menyempatkan waktu salat sunah dhuha di musala tersebut sebelum pendakian dimulai.


Shalat zuhur, TravelPlus indahkan di pos 2, salat ashar di pos 4 dengan beralas matras, salat maghrib dan isya di dalam tenda dome di pos 5. Sedangkan salat subuh hari kedua, setelah Simpang Apuy atau sebelum puncak dengan beralas matras. Semua dilakukan secara berjamaah dengan beberapa pendaki lain.

Menunaikan kewajiban sebagai muslim saat pendakian meskipun dengan ber-tayamum (pengganti wudhu), terasa lebih khidmat terlebih saat salat di hutan berselimut kabut.

Silaturahmi
Aktivitas keempat bersilaturahmi dengan para pendaki lain yang sama-sama mendaki Gunung Ciremai via Apuy.

Desa Apuy yang berada di Kabupaten Majalengka merupakan salah satu japen favorit pendaki yang ingin menggapai puncak Ciremai. Soalnya terbilang lebih mudah dan lebih cepat sampai dibanding japen lainnya. 

Saat masa liburan dan akhir pekan, japen yang memiliki 6 pos pendakian ini dipastikan ramai pendakinya.

Amatan TravelPlus, waktu mendaki via Apuy jelang akhir Juli ini, ada ratusan pendaki dari berbagai wilayah yang datang. 


Kesempatan itu TravelPlus manfaatkan untuk bersilaturahmi antara lain dengan teteh Reni, seorang ibu sekaligus pengusaha biro perjalanan umroh yang berdomisili di Cibaduyut, Bandung. Dia ditemani, Firman, putranya yang masih berstatus mahasiswa.

Selain itu ada Amir dan Nizar, dua pemuda kakak beradik dari Majalengka yang sejak kecil sudah mendaki Gunung Ciremai bersama ayahnya, kang Azi. Keluarga pendaki gunung ini membuat komunitas Islamic Adventure yang rajin membuat open trip (OT) pendakian ke sejumlah gunung.

Berikutnya bertemu dengan Ratih dan Fahri, dua pendaki pemula dari Cirebon yang baru pertama kali mendaki gunung, langsung ke Gunung Ciremai. Selanjutnya ada Andi dari Indramayu yang pernah melakukan foto prewed di puncak Ciremai bersama perempuan asal Cirebon yang kini menjadi istri sekaligus ibu dari 2 anak tercintanya.


Silaturahmi juga TravelPlus lakukan dengan Catur, pendaki lawas asal Kota Cimahi yang mendaki sendirian (solo hiking) ke Ciremai. Ada juga Kosasih, pria asal Jakarta Timur yang mengikuti salah satu OT pendakian. 

Selain itu TravelPlus juga bertemu dengan kelompok mahasiswa pendaki dari Bengkulu, kelompok pendaki lulusan SMA asal Cirebon, 4 pendaki mahasiswa dari Bandung, keluarga pendaki dari Cikarang dan Jakarta Utara yang membawa 4 pendaki bocah cilik (bocil), serta 3 pendaki asing asal Jepang. 

Lewat silaturahmi singkat, selain jadi saling kenal, TravelPlus juga mendapatkan berbagai informasi sekaligus inspirasi.


Aktivitas kelima, membawa turun sampah logistik. Sewaktu turun dari puncak menuju Pos 5 tempat nge-camp, lalu dilanjutkan sampai Berod, TravelPlus diam-diam memungut sampah kecil sisa logistik pendaki seperti bungkus permen, kemasan bumbu masak, bungkus kopi sachet-an, dan lainnya termasuk sampah logistik sendiri. Semua dikumpulkan dan akhirnya ditaruh di tempat sampah yang ada di sebelah kanan bangunan pusat informasi.

Terakhir atau aktivitas keenam, membuat konten baik itu berupa tulisan, foto, video, maupun lagu. 

Sampai hari ini sudah ada tiga lagu yang TravelPlus buat sebagai "oleh-oleh" dari pendakian Ciremai yang kemudian  diunggah di akun IG @adjitropis. Ketiga lagu itu berjudul "Aku Hamba-Mu", "Nanjak Gunung Lagi", dan "Berselimut Kabut". 


Sebenarnya masih ada beberapa konten video dan lagu lagi yang terinspirasi dari pendakian Ciremai via Apuy ini. Cuma sementara ditahan dulu masa unggahnya agar tidak bersamaan/terlalu berdekatan.

Ada pula beberapa tulisan terkait pendakian yang dimuat di weblog TravelPlus Indonesia, di antaranya tulisan ini yang bertajuk "Nanjak Ciremai, Enam Aktivitas Ini Bikin Pendakian Bermanfaat Lebih". 

Semua tulisan tersebut berdasarkan hasil pemantauan, silaturahmi, dan tentunya pengumpulan data mulai dari awal pendakian sampai kembali turun.

Kenapa TravelPlus sampai bikin banyak  konten lalu link-nya disebarluaskan via ragam medsos (IG, FB, dan Twitter) serta WA/WAG? 

Jawabannya simpel, supaya masyarakat luas/warganet mengetahui keindahan/keistimewaan pendakian Gunung Ciremai via Apuy. Alasan lain, ingin berbagi pengalaman pendakian yang punya manfaat lebih sekaligus bersyiar Islam.

Naskah: Adji TravelPlus @adjitropis & @travelplusindonesia

Foto: adji, firman, nizar & ratih


Read more...

Selasa, 19 Juli 2022

Curug Bunar, Sepenggal Surga di Gunung Cakrabuana


Sepenggal surga tersembunyi di Gunung Cakrabuana itu bernama Curug Bunar.

Begitu kesan pertama ketika saya tiba di air terjun (curug) Bunar, Senin (18/7/2022) pagi bersama tiga anak muda berdarah Sunda Maulana, Acha, dan Suhud.

Kenapa bisa muncul kesan seperti itu? Ya karena curug bertingkat dua yang sering juga disebut Curug Gedong itu letaknya tersembunyi, masih asri dalam artian belum ada fasilitas atau sarana prasarana (sarpras) sebagai objek wisata, namun menawarkan keindahan yang masih begitu alami dan indah, bak sepotong surga.

Airnya jernih dan dingin mengalir dari sungai alami di pedalaman hutan Gunung Cakrabuana, lalu tumpah dan meluncur bebas di antara tebing bebatuan berwarna hitam setinggi sekitar 7 meter di tingkatan pertama.

Mengingat tumpahan airnya tidak terlampau besar dan deras, tebing di curug tingkatan pertama ini kabarnya pernah dipakai untuk latihan turun tebing atau rappelling dengan menggunakan tali karmantel, carabiner, harness, webbing, dan peralatan turun tebing lainnya.

Di kiri kanannya, tumbuh berbagai tanaman hutan, seperti pakis dan lainnya yang menambah keartistikan parasnya.


Tumpahan air dari tingkatan pertama kemudian melewati bebatuan beragam bentuk, lalu kembali terjun bebas menjadi air terjun tingkatan kedua yang tingginya sekitar 3 meter.

Tumpahan airnya di tingkatan kedua membentuk kolam alami yang bisa kita gunakan untuk berendam sekaligus berenang sepuasnya. 

Mandi di kolam alaminya, dijamin mampu mengembalikan kesegaran badan, usai treking melewati perkampungan, perkebunan teh, dan hutan di kaki Gunung Cakrabuana.

Sebenarnya rencana saya ke Curug Bunar itu, terjadwal hari Minggu (17/7/22) usai mengikuti "Aksi Penanaman 1000 Pohon" di Puncak Jamiaki, Kabupaten Ciamis. Namun urung, lantaran tiba di Kampung Cibunar, Desa Sukapada, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, tepatnya di kaki Gunung Cakrabuana sudah kesorean.

Akhirnya keesokan paginya, setelah bermalam di salah satu rumah penduduk setempat, saya yang berdomisili di Jakarta bersama Maulana dari Tasikmalaya, Acha (Parung), dan Suhud dari Garut berniat bulat ke Curug Bunar sekalipun sama-sama tidak tahu jalur treknya karena memang keempatnya belum pernah ke sana.

Berbekal informasi dari beberapa rekan yang sudah pernah ke Curug Bunar dan ditambah data dari penduduk Kampung Cibunar, akhirnya dari tempat menginap kami berangkat dengan dua sepeda motor menuju rumah terakhir di kampung tersebut yang berbatasan dengan bumi perkemahan (bumper) dan perkebunan teh Cibunar.

Setelah parkir motor, kami langsung jalan kaki menuju perkebunan teh melewati bumper yang saat itu penuh dengan tenda dome untuk tidur, pleton, toilet, dan tenda khusus untuk mandi.

Rupanya di bumper itu sedang ada kegiatan Women Jungle Survival Course (WJSC) 2022 yang diadakan oleh salah satu merek produk peralatan kegiatan alam bebas ternama. 

Kabarnya kegiatan yang bertujuan untuk melatih perempuan yang menyenangi kegiatan alam bebas agar mampu bertahan hidup dalam situasi darurat di gunung dan hutan ini, diikuti puluhan peserta perempuan dari seluruh Indonesia dengan memberikan sejumlah materi teknik hidup di alam bebas atau survival, baik di kelas maupun di lapangan/alam, tepatnya di hutan Gunung Cakrabuana yang memiliki keanekaragaman hayati melimpah.


Selepas melewati bumper, kami terus menuju bagian atas perkebunan teh. Pagi itu kabut Gunung Cakrabuana turun sampai menutupi bagian atas perkebunan teh. Sungguh menawarkan pesona berbeda, jelas lebih artistik.

Suhud menyempatkan waktu mengabadikan pemandangan menawan itu dengan HP yang diletakkan di atas sebuah batu di tengah perkebunan teh.

Setelah melewati perkebunan, ada tiga anak jalan ke kiri, kanan, dan ke atas. Kami  memilih arah ke atas dengan trek menanjak. 

Tak lama berselang, kami bertemu dengan perkebunan kopi. Setelah itu melewati trek yang benar-benar bikin saya jatuh cinta, lantaran seketika mengingatkan saya akan trek alami (natural trail) hutan Gunung Salak yang ada di Kabupaten Bogor dan Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Trek itu begitu rimbun dengan aneka tanaman, sampai membentuk terowongan semak belukar. 

Acha menemukan beberapa tanaman dan buah hutan yang dapat dimakan dan atau sebagai obat-obatan seperti blueberry hutan yang sudah matang, pakis/paku muda, dan lainnya.

Akhirnya kami tiba di sebuah  tanah datar seperti tempat nge-camp atau berkemah alami.

Sadar kalau trek itu bukan menuju ke Curug Bunar, kami memilih kembali ke trek sebelumnya lalu mengambil trek alami lainnya menuju suara gemuruh air terjun. 

Rupanya trek yang kami pilih itu langsung menuju bagian bawah Curug Bunar. Lantaran tak ingin cepat sampai dan ingin melihat bagian atas curug tersebut, kami kemudian mencari trek alami lainnya menuju bagian atas.

Kali ini treknya pun tak kalah seru. Sepertinya jarang sekali dilewati orang. Lagi-lagi saya bergumam, trek seperti inilah yang didamba pendaki gunung/pecinta alam yang berjiwa petualang, bukan trek wisata. 

Setiap kali melewati trek menanjak, tak lupa saya berzikir dengan berucap "Allahu Akbar". Dan ketika melalui trek menurun yang curam dan licin, tak lupa pula berkata "Subhanallah". 

Cara itu selalu saya terapkan di alam saat mendaki gunung dan lainnya, sebagai tanda selalu mengingat dan memuji-Nya baik dikala senang maupun susah, sekaligus sebagai "obat" penguat fisik dan mental yang ampuh.

Akhirnya kami tiba di sungai yang menjadi hulu dari Curug Cibunar. Kondisi sungainya sebenarnya tidak terlalu lebar namun airnya mengalir jernih, sepertinya tak pernah kering sepanjang musim lantaran hutan di bagian atasnya masih terjaga keasriannya, lebat dan rapat.

Usai mengabadikan sungai tersebut, termasuk tumpahan airnya yang membentuk Curug Bunar tingkatan pertama, kami kembali ke trek awal menuju lantai Curug Bunar tingkatan kedua.

Setibanya di sana, saya langsung berucap kagum: "Masya Allah indah dan asrinya, Alhamdulillah masih diberi kesempatan menikmati maha karya-Mu".

Tak kuasa menahan godaan kolam alami yang ada di bawah tumpahan Curug Bunar tingkatan kedua, saya langsung lepas rain coat, kaos, dan celana panjang, hanya menggenakan sempak (celana dalam) lalu mandi di bawah guyuran air terjun yang bersuhu dingin. (Tapi sebelum mandi saya sempatkan berdoa supaya aman dan tidak ada "penghuni" yang mengganggu). 

Tak lama kemudian, Suhud menyusul, ikut mandi. Sementara Acha dan Maulana langsung menuju Curug Bunar tingkatan pertama.

Puas melihat-lihat pesona Curug Bunar tingkatan pertama, Acha dan Maulana kembali menuju Curug Bunar tingkatan kedua lalu masak air untuk menyeduh kopi dan mie goreng buat sarapan di atas bebatuan.

Selepas mandi, saya dan Suhud bergabung dengan mereka lalu menikmati kopi dan mie goreng yang dicampur kacang goreng dan daun pohpohan yang tumbuh subur di sekitar curug. Alhamdulillah, nikmatnya.


Selesai sarapan, giliran Acha dan Maulana yang mandi di curug tingkatan kedua. Acha bahkan melakukan aksi petualangan dengan memanjat tebing curug tingkatan kedua menuju curug tingkatan pertama. Dan dia berhasil. Sementara Maulana yang berambut panjang lurus sebahu, melakukan aksi teatrikal kocak yang bikin kami tertawa.

Sebagai bentuk kesadaran menjaga keasrian Curug Bunar, kami sama sekali tidak menggunakan shampoo dan sabun saat mandi. Satu lagi, sisa sampah logistik seperti bungkus mie, kopi, dan lainnya, kami masukkan dalam kantong plastik, lalu kami bawa turun.

Kami berharap, siapapun yang berkunjung ke Curug Bunar yang indah dan masih alami ini pun melakukan hal yang sama seperti yang kami terapkan, agar keasrian sepenggal surga tersembunyi di Gunung Cakrabuana ini tetap terjaga.

Buat Anda yang ingin menikmati pesona asri Curug Bunar, bisa memulainya dari pusat Kota Tasikmalaya yang berjarak sekitar ±35.32 Km dari Kantor Walikota Tasikmalaya. Dari pusat kota Tasikmalaya mengambil arah ke jalan Ciawi, kemudian belok ke kanan menuju Kecamatan Pageurageug. Dari jalan raya Pageurageung selanjutnya belok ke kiri menuju arah Desa Sukapada.

Sekitar 14 kilometer melewati jalan yang meliuk-liuk, menurun, dan menanjak dengan kondisi beberapa jalannya tak lagi beraspal mulus, Anda akan sampai di parkiran area rumah perkampungan. 

Usai parkir kendaraan langsung treking menuju curug. Kalau Anda belum pernah ke sana, ada baiknya dipandu warga setempat. Kecuali kalau Anda nekat dan berjiwa petualang, boleh-boleh saja menjajal menyusuri treknya tanpa bantuan pemandu seperti yang kami lakukan. Namun harus pandai membaca jejak alam, orientasi medan, dan tentunya diiringi dengan doa serta kesabaran. 

Sebelum pulang, Anda bisa beli kopi bubuk ataupun teh khas Cibunar sebagai oleh-oleh. 


Jalur Pendakian & Status
Mengingat Gunung Cakrabuana yang berketinggian 1.721 meter di atas permukaan laut (Mdpl) berada di tapal batas antara 3 kabupaten di Jawa Barat yaitu Kabupaten Garut (Malangbong), Kabupaten Tasikmalaya (Pagerageung) dan Kabupaten Majalengka (Lemah Sugih), membuat jalur pendakian ke puncaknya pun banyak, salah satunya Jalur Bunar yang berada di Kampung Cibunar, Desa Sukapada, Kecamatan Pageurageung, Kabupaten Tasikmalaya. 

Pilihan jalur pendakian lainnya, ada Jalur Sukanyiru yang berada di Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang; Jalur Cakrawati Lemah Putih, Kecamatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka; dan jalur dari arah Barat dari Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut.

Sebagai pengingat, Gunung Cakrabuana pernah diusulkan statusnya menjadi Taman Hutan Raya (Tahura) oleh sejumlah warga  yang daerahnya berbatasan langsung dengan gunung tersebut.

Usulan itu tentu bukan tanpa sebab. Soalnya kekayaan alam Gunung Cakrabuana bukan hanya sejumlah curug, pun menjadi hulu dari Sungai Citanduy dan Cimanuk yang keberadaannya sangat penting bagi kelangsungan hidup dan perekonomian ribuan warga yang tinggal di bawahnya.


Hutan Gunung Cakrabuana pun penyimpan banyak tanaman endemik, di antaranya pohon aren yang menjadi bahan baku pembuatan gula merah.

Di sekitar Gunung Cakrabuana juga terdapat beberapa objek wisata yang tersebar di beberapa kabupaten seperti Cipanas Cipacing yang berada di Cipacing, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya; Situ Lengkong di Kecamatan Panjalu, Kabupaten Ciamis; Air Terjun Cilutung Talagakulon di Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka; Situ Batu di Kecamatan Babakan Jawa, Kabupaten Majalengka; Museum Talaga Manggung di Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka; Makam Pangeran Muhammad di Kecamatan
Majalengka Kulon, Kabupaten Majalengka; Panorama Cikebo di Sagara, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka; dan Makam Dayeuh Luhur di Dayeuh Luhur, Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang.

Apapun status Gunung Cakrabuana, satu hal yang harus kita lakukan sebagai pengunjung yang baik dan peduli lingkungan adalah tetap menjaga keasrian alamnya saat berkunjung. Minimal tidak nyampah, membawa turun sampah logistik, tidak melakukan vandalisme, dan tidak menggunakan shampoo/sabun/odol saat mandi di curugnya.

Selain itu kita juga bisa mengingatkan terus semua pihak terkait termasuk warga serta pemerintah setempat untuk terus merawat hutan, sungai, curug, dan semua jenis flora dan fauna yang menghuninya agar tetap lestari, demi kehidupan generasi kini dan nanti.

Naskah & foto: Adji TravelPlus @adjitropis & @travelplusindonesia



Read more...

Minggu, 17 Juli 2022

Puncak Jamiaki Jadi Lokasi Aksi Penanaman 1000 Pohon, Ini Alasan dan Tujuannya



Puncak Jamiaki yang berada di Dusun Pangligaran, Desa Medanglayang, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat menjadi lokasi Aksi Penanaman 1000 Pohon yang dilakukan perwakilan sejumlah komunitas pecinta alam/pendaki gunung/peduli lingkungan

Aksi bermuatan pro konservasi alam itu berlangsung 2 hari, Sabtu dan Minggu, namun aksi penanamannya pada Minggu (17/7/2022).

Ketua penyelenggara Aksi Penanaman 1000 Pohon, Irfan Yusup mengatakan Puncak  Jamiaki dipilih menjadi lokasi penanaman karena di salah satu titiknya terjadi longsor belum lama ini.

"Di titik longsoran itulah yang kami pilih sebagai tempat untuk melakukan aksi ini," terangnya kepada TravelPlus Indonesia.

"Tujuannya supaya pohon-pohon yang ditanam kelak bisa menahan erosi bahkan longsor," tambahnya.

Untuk itu pohon yang ditanam adalah jenis pohon yang mampu hidup di sela-sela bebatuan di medan yang memiliki kemiringan.

"Jenis pohon yang kami pilih antara lain Pohon Picung, Kawung, Caringin, dan Pohon Beringin hasil sumbangan dari berbagai pihak seperti Perhutani," ungkapnya.


Amatan TravelPlus, sejumlah perwakilan komunitas yang hadir, termasuk Irfan dan Kepala Dusun Pangligaran Asep Widaya turun langsung menanam di lokasi yang berkontur miring/cukup terjal dan penuh bebatuan bekas longsoran.

TravelPlus yang mewakili media yang meliput aksi tersebut ikut menanam pohon beringin di lokasi.

Menurut Irfan, setelah aksi penanaman pihaknya akan melakukan pengontrolan terhadap pohon-pohon yang sudah ditanam ini secara berkala.

"Kami akan merawat sekaligus memantau kondisi pohon agar terdeteksi pertumbuhannya," terangnya.

Pihaknya, sambung Irfan juga akan berkoordinasi dengan Kepala Dusun Pangligaran maupun pegelola  Puncak Jamiaki untuk turut melakukan hal yang sama.

"Jadi setelah penanaman, intinya ada pemantauan dan perawatan supaya pohonnya bisa tumbuh dengan baik," pungkasnya seraya berucap terimakasih kepada semua pihak pendukung dan para peserta dari berbagai daerah di Jawa Barat, bahkan dari Jakarta dan Banten.

TravelPlus sendiri hadir meliput langsung ke Puncak Jamiaki karena menilai aksi ini sangat bermanfaat, bermuatan pro konservasi alam.


Kehadiran TravelPlus juga sekaligus sebagai bentuk dukungan agar pihak penyelenggara terus bersemangat melanjutkan aksi peduli lingkungan lainnya dengan melibatkan lebih banyak lagi pihak terkait termasuk media (jurnalis, blogger, content creator, youtuber, dan lainnya) agar informasinya tersiar lebih luas sehingga menginspirasi komunitas pegiat alam bebas/peduli lingkungan & pihak lainnya untuk melakukan hal serupa dimanapun.

Sebagai informasi tambahan, Puncak Jamiaki yang berketinggian 1019 meter di atas permukaan laut (Mdpl) merupakan salah satu puncak yang berada di kawasan pegunungan Sawal (masyarakat lebih sering menyebutnya Gunung Sawal).

Di Puncak Jamiaki sejak 3 tahun belakangan ini dijadikan Bumi Perkemahan (Bumper) yang ramai dikunjungi pengunjung terutama akhir pekan dan masa liburan sekolah/kuliah.

Naskah: Adji TravelPlus @adjitropis & tim @travelplusindonesia

Foto: Adji, Rizal & Ramayanti


Read more...

Cantiknya Deretan Pinus Berselimut Kabut Khas Puncak Jamiaki


Deretan pohon pinus gunung saat berselimut kabut ini tampil lebih cantik, seperti lukisan alam nan menawan.

Pemandangan indah itu menjadi salah satu daya tarik yang dapat Anda lihat bila berkunjung ke Puncak Jamiaki yang berada di Dusun Pangligaran, Desa Medanglayang, Kecamatan Panumbangan, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.

Untuk mendapatkan pesona berbeda itu, Anda harus berkemah di Puncak Jamiaki, lalu bangun pagi-pagi, tunaikan salat Subuh di musala setempat, baru kemudian menikmati dan mengabadikannya.

Kenapa pagi? Ya karena terutama setelah matahari keluar dari peraduannya, akan terlihat deretan pinus tua yang diselimuti kabut putih keabu-abuan.

Apakah cuma itu daya tarik di Puncak Jamiaki yang berketinggian 1019 meter di atas permukaan laut (Mdpl)? Tentu tidak.


Dari Puncak Jamiaki yang merupakan salah satu puncak yang berada di kawasan pegunungan Sawal (masyarakat lebih sering menyebutnya Gunung Sawal), Anda juga bisa melihat pemandangan hamparan kelap-kelip lampu Kota Ciamis, Tasikmalaya dan lainnya pada malam hari saat cuaca cerah.

Lalu aktivitas wisata apa saja yang dapat Anda lakukan di Jamiaki, selain menikmati dan mengabadikan deretan pinus berkabut serta pemandangan kelap-kelip kota di bawahnya? Tentu saja treking atau berjalan kaki dari pos tiket masuk yang juga merangkap lokasi parkir motor ke puncaknya. 

Kalau Anda senang bersepeda, bisa mencapai pos tiket masuk dengan bersepeda, melewati jalan beraspal yang berbelok-belok dan menanjak. Selanjutnya treking ke puncaknya.

Kedua aktivitas cukup menguras tenaga itu, sangat bagus untuk menjaga kesehatan fisik dan mental, sambil menikmati pemandangan leweung gamblung atau hutan yang masih rimbun serta udara yang bersih serta sejuk bahkan dingin terutama pada malam dan pagi hari.

Treking dari pos tiket masuk ke Puncak Jamiaki sekitar 1 jam (tergantung kondisi fisik dan kecepatan langkah) dengan kondisi trek yang menanjak dan becek serta licin setelah diguyur hujan.


Sebelum treking, Anda bisa beli tiket masuknya di pos dengan harga Rp 5 ribu per orang, parkir motor 5 ribu, dan parkir mobil Rp 20 ribu. Di pos tiket, Anda juga bisa membeli voucher WiFi durasi 6 jam Rp 5 ribu dan durasi 12 jam Rp 10 ribu. 

Di Puncak Jamiaki sejak 3 tahun belakangan ini dijadikan Bumi Perkemahan (Bumper). Jadi Anda juga bisa berkemah di sana. Tarifnya Rp 20 ribu per tenda/lapak.

Menurut Kepala Dusun Pangligaran Asep Widaya, Bumper Puncak Jamiaki ramai dikunjungi pengunjung terutama akhir pekan dan masa liburan sekolah/kuliah. "Kehadiran Bumper 3 mampu menambah  pendapatan warga dusun dan sekitarnya," terangnya.


Kalau Anda berkemah, disarankan membawa perlengkapan tidur yang nyaman seperti tenda, matras, sleeping bag, dan lainnya. Jangan lupa membawa sweater atau jaket untuk mengurangi hawa dingin.

Logistik cukup bawa makanan ringan kesukaan Anda. Untuk sarapan atau makan malam, Anda bisa membelinya d warung-warung yang ada di Bumper.

Beberapa warung menyediakan aneka makanan seperti mie instan, lontong, bala-bala, nasi liwet, dan nasi goreng serta bermacam minuman termasuk kopi asli Puncak Jamiaki buat oleh-oleh. Harga kopi bubuknya Rp 15 ribu per bungkus dengan berat 50 gram.

Selain kopi, penduduk yang menghuni kaki Jamiaki juga penghasil pala. Sayangnya buah pala-nya belum diolah menjadi aneka kudapan seperti manisan, sirup dan lainnya.  Penduduk setempat baru menjual dalam bentuk bahan mentah pala baik itu buah, biji, maupun kulitnya.


Selain warung, Bumpernya sudah dilengkapi fasilitas MCK, musala, saung, dan penerangan lampu listrik. Di Bumpernya juga ada lahan datar seluas lapangan voli yang dapat digunakan untuk acara camping ceria bersama dalam rangka gathering, reuni, ulang tahun, dan lainnya.

Di lahan datar itu, pada Sabtu dan Minggu (16 & 27/7/22) menjadi tempat berkemah sekaligus acara pembukaan dan penutupan Aksi Penanaman 1000 Pohon yang digelar sejumlah komunitas pecinta alam/pendaki gunung/ peduli lingkungan yang ada di Ciamis dengan pesertanya dari berbagai daerah di Jawa Barat termasuk Banten dan Jakarta.

Ketua penyelenggara "Aksi Penanaman 1000 Pohon" Irfan Yusuf mengatakan aksi ini sekaligus untuk mengangkat nama Puncak Jamiaki termasuk Bumpernya agar semakin dikenal. "Disamping itu tentunya untuk mengembalikan kondisi lahan yang terkena longsor agar kembali ditumbuhi bermacam pohon yang kami tanam seperti Pohon Picung, Beringin, Kawung, dan Pohon Caringin," terangnya.

Pernah Dikunjungi Wisman
Menurut petugas pos tiket masuk Puncak Jamiaki, jumlah pengunjungnya dominan wisatawan lokal masih dari Kabupaten Ciamis, Tasikmalaya dan beberapa kabupaten yang ada di Jawa Barat. Sementara wisatawan nusantara (wisnus) dari luar Jabar terbilang masih sedikit termasuk wisatawan mancanegara (wisman). 

Catatan petugas pos setempat sampai saat ini baru dua wisman yang datang ke Puncak Jamiaki yaitu dari Cina dan Jerman.


Ini membuktikan bahwa Puncak Jamiaki sebenarnya punya potensi besar untuk diminati bukan hanya wisatawan lokal, pun nusantara bahkan mancanegara. 

Namun untuk mencapai itu perlu upaya dan kreativitas lebih. Upaya yang harus dilakukan antara lain promosi yang gencar, minimal memiliki ragam media sosial (medsos) antara lain Instagram (IG) yang aktif menggunggah informasi menarik terakit Puncak Jamiaki termasuk Bumpernya. 

Selain itu harus kreatif dalam mengemas acara, baik itu bertema budaya, hiburan konser musik, religi, sosial, maupun yang bertema lingkungan seperti "Aksi Penanaman 1000 Pohon" yang baru saja dilakukan.

Semakin banyak acara positif dan menarik yang dibuat dengan tetap menjaga keindahan, kebersihan, keasrian, kenyamanan, dan ditambah dengan fasilitas yang semakin lengkap serta menerapkan konsep wisata yang berkelanjutan atau ramah lingkungan, semakin berpeluang menjaring pengunjung sehingga akhirnya Puncak Jamiaki bisa menjadi destinasi wisata alam andalan bagi Kabupaten Ciamis.

Naskah & foto: Adji TravelPlus @adjitropis & tim @travelplusindonesia


Read more...

Jumat, 15 Juli 2022

JogjaROCKarta Festival 2022 Pindah Venue ke Tebing Breksi, Ini Alasannya


JogjaROCKarta Festival 2022 yang semula akan digelar di LANUD Gading Wonosari sebagai venue penyelenggaraannya, akhirnya dipindahkan ke Tebing Breksi Yogyakarta, 24 dan 25 September mendatang.

Pemindahan tersebut dikarenakan adanya perubahan tema dan cara menontonnya.

Rajawali Indonesia selaku promotor JogjaROCKarta Festival menjelaskan sebelumnya JogjaROCKarta Festival 2022 bertemakan “Rock on Jeep”, yang mengharuskan para penonton menikmati konser dari atas mobil jip (Drive-in), kini JogjaROCKarta Festival mengubah temanya menjadi “History Continues” dengan target 10 ribu penonton per hari.

“Setelah dua tahun vakum, tahun ini akhirnya JogjaROCKarta akan kembali terselenggara. Dalam perjalanannya, kami banyak melalui dinamika regulasi penyelenggaraan festival musik di Indonesia. Melalui tema History Continues, kami ingin menyampaikan perjalanan JogjaROCKarta harus tetap dilanjutkan, dengan semangat, dan experience baru”, ungkap Anas Syahrul Alimi, Founder Rajawali Indonesia & CEO JogjaROCKarta Festival.

Meskipun berganti tema, kehadiran mobil jip akan tetap tersedia sebagai alat penjemputan penonton dari titik kumpul menuju venue.

“Merespon kondisi yang termutakhir, ada beberapa perubahan. Pertama, konsep awal itu merespon regulasi yang ada, jadi menonton berjarak. Cara yang paling pas adalah nonton di jip jadi Rock on Jeep. Tetapi sekarang lebih efektif, dan semua penonton berdiri, bisa lompat-lompat, bisa moshing. Kita kembalikan ke habitat awal musik rock,” tambahnya.

Dipilihnya Tebing Breksi sebagai venue terbaru JogjaROCKarta Festival, karena tempat tersebut memiliki landscape yang eksotis dengan spot yang beragam. Selain itu, sajian festival musik rock, dengan latar tebing bebatuan yang menjulang tinggi adalah kombinasi yang pas.

“Konsep JRF tidak terpaku di satu venue, kita coba eksplor di Tebing Breksi. Awalnya pilihan agak jauh agar ada jarak untuk naik jip. Venue ini penting dengan background gunung purba, dan tata cahaya yang bagus. Yang paling penting adalah diikuti dengan harga yang kita sesuaikan. Peta, panduan akses ke lokasi, dan titik kumpul jip akan kami share ke sosial media,” jelas Anas Syahrul Alimi.

Selain 11 headliners yang telah diumumkan, Burgerkill, Dead Squad, Superman is Dead, Serigala Malam, The Hydrant, Jamrud, Edane, Seringai, Death Vomit, Voice of Baceprot, dan Prison of Blues, JogjaROCKarta juga menambah tiga line up lagi, yaitu Sangkakala, The Melting Minds, dan Grass Rock.

“Untuk menambah kemeriahan JogjaROCKarta Festival 2022, dan beragamnya jenis musik rock di deretan headliners, kami menambah tiga line up lagi. Dua band dari Yogyakarta, Sangkakala dengan genre Heavy Metal, The Melting Minds dengan genre Psychedelic Rock, dan legenda rock asal Surabaya, Grass Rock,” ungkap Bakkar Wibowo, Co Founder JogjaROCkarta Festival.

Side Stage
Untuk menambah kemeriahan JogjaROCKarta Festival 2022, Rajawali Indonesia selaku promotor JogjaROCKarta Festival juga akan menambah 30 line up yang akan tampil di side stage.

Dengan hadirnya side stage, harapannya JogjaROCKarta Festival bisa menjadi festival musik yang dekat, dan ramah untuk regenerasi band-band rock di Indonesia, khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sekitarnya.

“Selama penyelenggaraan JogjaROCKarta Festival, kami sering mendapat respon positif  dari band-band rock dari segala penjuru nusantara. Regenerasi band rock di Indonesia juga menjadi hal penting yang perlu diperhatikan. Oleh karena ini, hadirnya side stage, kami rasa menjadi penting bagi kelangsungan regenerasi band rock untuk menambah jam terbang mereka,” ungkap Ahmad Sobirin, Project Manager JogjaROCKarta Festival #5 2022.

Bakkar Wibowo, selaku Co Founder JogjaROCkarta Festival, menambahkan bahwa akhir-akhir ini deras terdengar diskriminasi penampilan musisi rock di panggung tertentu. Lantaran hal ini, dirinya mengungkap jika di JogjaROCKarta akan mewadahi seluruh genre rock dan turunannya dengan mekanisme yang sudah ditentukan tim.

Di tahun 2022, JogjaROCKarta Festival hadir kembali dengan konsep berbeda, salah satunya dengan program submission “ROCKFIVETIVAL Goes To JOGJAROCKARTA” untuk musisi-musisi ber-genre rock dari Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara.

“Meskipun untuk tahun 2022 ini belum mendatangkan artis internasional, tapi kita akan mendatangkan banyak musisi dari tanah air, termasuk big four musik cadas Indonesia yaitu Burgerkill, Seringai, DeadSquad, dan Death Vomit. Tidak hanya itu, JogjaROCKarta Festival 2022 juga  akan memberi kesempatan bagi 2 band pemenang ajang ROCKFIVETIVAL Goes To JOGJAROCKARTA 2022 untuk turut tampil," jelas Ahmad Sobirin, selaku Project Manager JogjaROCKarta Festival 2022.

"Di JogjaROCKarta Festival 2022 ini direncanakan ada 3 panggung,  yang akan diisi penampilan sekitar 50 band, selama dua hari berturut-turut. JogjaROCKarta kali ini ingin lebih merangkul dan memberi ruang untuk musisi Jogja sendiri karena memang pelaksanaannya di Jogja,” tambahnya.

ROCKFIVETIVAL Goes To JOGJAROCKARTA 2022 sebagai ajang pencarian musisi yang digagas oleh iKonser, Metranet, dan Telkom Regional 5 yang menyasar wilayah Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara. Kegiatan ini diharapkan bisa menjadi regenerasi musisi-musisi rock, dan mewadahi pendistribusian karya agar dapat diakses lebih luas, melalui  rangkaian aktivasi yang dituangkan ke dalam aplikasi iKonser, channel televisi kabel iKonser dan bermuara pada panggung JogjaROCKarta Festival 2022.


Harga Tiket
Dengan bergantinya konsep baru, untuk harga tiket JogjaROCKarta Festival 2022 juga mengalami perubahan.

Sebelumnya tiket dibanderol dengan harga Rp 750.000,-(Rock on Jeep A), dan Rp 500.000,-(Rock on Jeep B). Kini harga tiket JogjaROCKarta Festival 2022 diubah menjadi Rp 150.000,- (Early entry), Rp 200.000,-(Reguler), dan Rp 300.000,-(OTS).

Tiket JogjaROCKarta Festival 2020, akan mulai dijual pada 19 Juli 2022, di official ticket partner Tiketapasaja dan aplikasi SerMorpheus. Untuk pembeli tiket lama atau “Rock on Jeep”, akan dihubungi oleh panitia untuk proses kembalian uang tiket, dan tetap bisa menonton JRF 2022.

Konsep NFT Tickets
Di tahun ini pula, untuk kali pertama JogjaROCKarta Festival memanfaatkan Non-Fungible Token (NFT) yang bernamakan “JogjaROCKarta Festival NFT” sebagai bentuk upaya JRF dalam mengikuti perkembangan teknologi NFT yang merupakan teknologi terbaru dalam hal kepemilikan aset digital.

Konsep yang bersandarkan pada teknologi blockchain ini membuka era baru untuk para artis dan musisi dalam pemanfaatannya salah satunya yang berkaitan dengan hak atas kekayaan intelektual. JogjaROCKarta Festival menjadi pioner dalam pemanfaatan teknologi NFT di ranah festival musik rock di Indonesia.

“SerMorpheus sangat bangga bisa menjadi bagian sejarah ajang rock dan metal terbesar di Indonesia. JogjaROCKarta akan menjadi festival musik cadas pertama di Indonesia yang mengeluarkan tiket dengan teknologi NFT”, ungkap Kenneth Destian Tali, CEO SerMorpheus.

Lewat aplikasi SerMorpheus, pengunjung bisa membeli tiket NFT JogjaROCKarta dalam mata uang rupiah, tanpa perlu repot mempunyai aset kripto.

Dengan menggunakan teknologi NFT, dipastikan tidak ada lagi tiket palsu yang beredar untuk event Jogjarockarta.

Tiket NFT JogjaROCKarta juga bukan tiket biasa, pengunjung akan mempunyai kesempatan untuk mendapatkan real-life benefit pada saat event tergantung dari jenis NFT yang didapatkan.

“Inklusivitas dari event ini yang kita suka dan siap dukung. Kita percaya NFT harusnya bukan cuma untuk investor aset kripto, tapi teknologinya harus juga bersifat inklusif dan bisa memberikan benefit pada banyak orang,” tambahnya.

Naskah: Adji TravelPlus @adjitropis & tim @travelplusindonsia.

Sumber: press release JogjaROCKarta Festival #5|2022“History Continues”

Foto: dok. Rajawali Indonesia


Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP