. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Jumat, 30 April 2010

Promosi Destinasi Via Festival Paduan Suara


Festival paduan suara berskala internasional yang digelar di dalam negeri dan diikuti peserta dari mancanegara, dapat menjadi wadah untuk mempromosikan destinasi pariwisata yang ada di Indonesia.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata (Dirjen PDP) Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Firmansyah Rahim kepada sejumlah media saat mensosialisasikan kegiatan Festival Paduan Suara (FPS) ITB 2010 yang ke-22 dan ITB International Choir Competition (ICC) 2010 yang ke-1 di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, (28/4).

Ajang festival paduan suara tingkat internasional, menurut Firmansyah sangat potensial mendatangkan wisatawan, khususnya pesertanya sekaligus memperkenalkan destinasi wisata yang lain.

“Bayangkan biasanya dalam festival tersebut satu negara mengikuti lebih dari satu tim paduan suara. Satu tim minimal beranggotakan 30 orang plus pelatih, kru, dan keluarganya jadi sekitar 50-60 orang 1 tim. Bila negara yang ikut banyak, berarti jumlah peserta yang datang jelas makin banyak. Mereka akan membawa oleh-oleh minimal cerita mengenai destinasi yang mereka kunjungi kepada keluaraga, rekan atau orang lain di negaranya masing-masing,” jelasnya.

Namun untuk menjadi tuan rumah festival paduan suara internasional yang baik dan profesional, lanjutnya, Indonesia harus memiliki pengalaman pelaksanaan festival tersebut. “Kalau kita sebagai tuan rumah sudah menyelenggarakannya dengan baik dan melayani peserta mancanegara dengan memuaskan, pasti akan berdampak baik bagi pariwisata kita ke depan,” jelasnya.

Oleh karena itu, Kemenbudpar dalam hal ini Direktorat Jenderal (Ditjen) PDP dan Ditjen Nilai Budaya Seni & Film (NBSF) menilai perlu mendukung pelaksanaan FPS ITB 2010 yang akan digelar pada 24-29 Juli 2010 dan ITB ICC 2010 pada 29 Juli-1 Agustus 2010 di Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat.

Menurut Tere, perwakilan panitia FPS ITB, tujuan pelaksanaan kedua festival paduan suara ini selain untuk pembinaan paduan suara di Indonesia agar siap dan layak tampil di tingkat internasional juga sekalian mempromosikan destinasi pariwisata di Bandung khususnya dan juga di luar Bandung.

Sampai tanggal 23 April, peserta FPS ITB 2010 yang mendaftar ada 138 tim dari seluruh pulau besar di Indonesia, kecuali Papua. Sedangkan jumlah peserta ITB ICC 2010 ada 53 tim, 7 tim di antaranya dari Filipina. “Target peserta luar negari di ITB ICC 2010 sebenarnya semua negara di kawasan ASEAN dan Australia. Tapi karena undangan yang kami kirim telat, jadi banyak peserta dari mancanegara yang tidak bisa ikut karena sudah punya jadual tersendiri. Baru tim dari Filipina yang ikut serta,” aku Tere.

Mengenai biaya pendaftaran peserta FPS ITB 2010 Rp 800.000/tim. Sedangkan peserta ITB ICC 2010 sebesar 250 dolar AS/tim. “Hadiah pemenang FPS ITB 2010 berupa piagam dan sertifikat. Sedangkan total hadiah ITB ICC 2010 sebesar 14.000 dolar AS dengan tujuan menarik minat peserta dari mancanegara,” jelas Tere.

Tim dari luar negeri yang mengikuti ITB ICC 2010 diwajibkan membawakan 1 lagu daerah dari Indonesia. “Tujuannya agar lagu daerah kita semakin dikenal masyarakat dunia, minimal peserta dari mancanegara tersebut,” terang Tere.

Untuk menyaksikan kedua festival ini, panitia menjual tiket mulai dari Rp 30.000 s/d Rp 300.000. “Target penontonnya untuk tahun ini 20.000 orang,” ungkap Tere lagi.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Kamis, 29 April 2010

Melongok Baduy, Negeri Berpagar Tabu



Wilayah Baduy, Banten hanya berjarak sekitar 165 km dari Jakarta. Informasi dan segala macam dampaknya, jelas mudah masuk. Apalagi Cilegon dan Serang, dua kota terdekat terus berkembang. Berkat bermacam tabu atau pantangan serta kesetiaan menjalankan pikukuh adat leluhur, budaya dan alam mereka relatif tetap terjaga hingga menarik banyak pengunjung.

Orang Baduy atau urang Kanekes (begitu mereka lebih suka menyebut dirinya) menetap di sekitar lembah bukit dan Sungai Kanekes secara berkelompok.

Masyarakatnya terbagi dua kelompok, yakni Baduy Dalam (Tangtu) dan Baduy Luar (Panamping). Namun warga Panamping tetap menjadi bagian dari komunitas adat Baduy. Sebab sebagai urang Kanekes, mereka harus patuh kepada semua ketentuan pu’un selaku kepala adat. Dan mereka memiliki cara tersendiri untuk menangkis kepungan beragam budaya modern.

Laki-laki Tangtu biasanya mengenakan baju putih berlengan panjang tanpa kerah, tak berkancing dan dijahit dengan tangan serta kain sarung hitam yang dililitkan pada bagian bawah. Wanitanya berkebaya putih dengan kain hitam.

Adapun pria Panamping berpakaian serba hitam. Begitupun dengan wanitanya, berkebaya hitam atau biru tua. Ciri khas lainnya, orang Baduy selalu mengenakan ikat kepala agar terlihat rapih. Golok selalu terselip dipinggang. Tak bersandal apalagi bersepatu ke mana pun pergi.

Wilayah Tangtu terdiri atas tiga desa yakni Cikartawarna, Cibeo, dan Cikeusik. Ketiga desa inti ini hanya boleh dihuni oleh orang Baduy yang sanggup menjalankan seluruh aturan adat secara utuh. Di antaranya, urang tangtu dilarang merokok, berbuat kriminal seperti berkelahi apalagi membunuh, pantang bercerai setelah menikah dan tidak boleh naik kendaraan saat berpergian. Jadi mereka harus berjalan kaki tanpa alas kaki jika pergi ke Merak, Jakarta atau ke Bandung.

Kawasan Tangtu haram dimasuki sejumlah produk modern seperti listrik dan alat-alat eloktronik. Dan urang tangtu percaya kalau menyimpan barang terlarang itu, akan terkena mamala (kutukan). Untuk memantau benda-benda haram, pada saat-saat tertentu setiap rumah digeledah oleh ‘petugas penertiban’ Baduy yang disebut baresan atas perintah pu’un.

Urang Panamping tersebar di bagian Barat, Timur, dan Utara dari wilayah tangtu. Tabu buat mereka lebih ringan daripada urang tangtu. Misalnya, mereka tidak diharamkan naik kendaraan jika ingin saba kota.

Namun, baik urang tangtu maupun panamping, pantang bersekolah. Menurut mereka bersekolah membuat orang jadi pintar. Dan biasanya kalau sudah pintar kadang menjadi serakah, menghalalkan segala cara dan akhirnya menolak semua tabu adat.

Ilmu yang diturunkan orangtua pada anaknya hanya sebatas ngored atau cara bertani ladang, menjaga kelestarian alam dan memanfaatkannya dengan bijaksana. Jika pantangan-pantangan itu dilanggar, maka pelakunya akan berhadapan dengan sejumlah sanksi yang telah dirumuskan turun-temurun. Mulai dari teguran lisan hingga sanksi terberat, dikeluarkan dari wilayah Baduy untuk selamanya.

Tabu juga berlaku buat orang non Baduy yang bertamu. Ada semacam ketentuan tidak tertulis bahwa ras keturunan Mongoloid, Negroid, dan Kaukasoid dilarang masuk ke wilayah Tangtu. Dengan kata lain turis asing diperbolehkan memasuki daerah Panamping saja. Jika ketentuan adat ini dilanggar maka yang kena kuwalat atau pamali adalah orang Baduy sendiri. Pengunjung pun hanya diijinkan bermalam, tapi tak lebih dari semalam.

Tamu tidak diijinkan masuk ke daerah Tangtu pada masa puasa (kawalu). Tidak boleh memotret atau mengambil gambar di lokasi tangtu. Sebab orang Baduy yang mengetahui dirinya dipotret di wilayah ini, harus berpuasa satu hari penuh. Bahkan di wilayah Panamping, ada orang Baduy Luar yang tidak bersedia dipotret. Jadi sebaiknya minta ijin lebih dulu.

Sungai merupakan sumber air utama orang Baduy untuk keperluan sehari-hari, memasak, mencuci, dan mandi. Mereka amat peduli akan kelestarian sungai hingga melarang penggunaan bermacam produk yang dapat mencemarkan airnya seperti sabun, deterjen, shampoo, dan tapal gigi. Kalau ingin ke pancuran atau berjalan di malam hari, gunakan senter seminimal mungkin. Kalau berbicara, tertawa atau bercanda sebaiknya dikontrol, jangan sampai menimbulkan kegaduhan.

Begitulah pantangan atau tabu yang memagari negeri Baduy. Karena tabu itu pula komunitas masyarakat adat satu ini menjadi begitu khas sekaligus menarik perhatian banyak orang, peneliti, wisatawan, dan lainnya karena mampu menjaga keberadaan budaya, kearifan lokal (local wisdom), dan alamnya sekalipun terus digempur keras modernisasi.

Naskah & foto: Adji TravelPlus (Jaberio Petrozoa)
Cat.: foto2 diambil penulis di Baduy Luar.

Read more...

Rabu, 28 April 2010

Cowboys in Paradise Kian ‘Panaskan’ Bali


Udara pantai tersohor di Bali, seminggu belakangan ini 'memanas' oleh hembusan pembicaraan Cowboys in Paradise. Hembusannya hingga ke kawasan berbukit dan bergunungnya. Bahkan perbincangan film dokumenter tentang kehidupan gigolo di pulau dewata ini pun menghangatkan udara daerah dan kota lain, jauh di luar Bali.

Bagai dua sisi mata uang, begitu Bali pasca beredarnya cuplikan Cowboys in Paradise di internet dan hebohnya perbincangan seputar film dokumenter berkisah gigolo di Pantai Kuta, Bali tersebut.

Di satu sisi banyak pihak yang merasa film dokumenter garapan Amit Virmani ini mencoreng pariwisata Bali. Buktinya, rahazia terhadap warga yang tidak beridentitas terutama ‘pria berkulit gelap, berbadan kekar, dan bertelanjang dada’ di Pantai Kuta pun digelar Satgas setempat, Senin 26 April lalu. Hasilnya 28 pria dan 1 wanita tanpa identitas diciduk. Sebagian besar dari mereka ternyata bukan warga asli Bali. Sehari setelah razia itu, Pantai Kuta pun sepi dari beach boys.

Bahkan orang nomor satu di Bali, Gubernur Made Mangku Pastika ikut gerah oleh panasnya pembicaraan tersebut hingga berjanji akan mengambil tindakan tegas agar citra Bali sebagai pulau spritual tidak ternoda oleh film yang dinilainya ilegal karena pembuatannya tidak mengantongi izin resmi. Sejumlah public figure pun ikut-ikutan angkat bicara dan menilai film tersebut bisa menurunkan nilai pariwisata Bali.

Film besutan sutradara asal Singapura berdarah India ini pun menuai kontroversial karena para pelaku yang disebut 'cowboys' dalam film ini membantah disebut sebagai gigolo. Arnold dan Fendi, dua pria berbadan kekar dan berkulit coklat gelap yang menjadi pemain dalam tersebut mengaku kecewa dan marah karena dicap gigolo akibat film tersebut. Mereka mengaku hanya pelatih surving di Pantai Kuta. Akibat film tersebut, nama mereka tercoreng dan meminta sang sutradara mengklarifikasikan kepada mayarakat agar namanya tidak tercemar.

Di sisi lain, pembicaraan hangat seputar film yang menggegerkan pariwisata Bali itu justru kian menyohorkan nama Bali. Seminggu belakangan ini, Bali menjadi salah satu pulau pariwisata di Indonesia yang paling hangat dibicarakan di Indonesia bahkan mungkin di sejumlah negara lain.

Lihat saja, di beberapa daerah dan kota di dalam negeri. Sejumlah pelajar mendatangi warung internet untuk mencari dan men-download video film yang diambil gambarnya oleh sang sutradara saat berkunjung ke Bali tahun mulai 2007, akhir November 2008, dan Januari 2009. Beberapa di antaranya mengaku penasaran apa benar di Bali banyak gigolo seperti yang dikisahkan dalam film tersebut, hingga mereka berencana ingin ke pulau wisata impian tersebut saat liburan panjang tahun ini.

Berdasarkan analisa penulis, penanyangan dan perbincangan hangat Cowboys in Paradise tidak akan menurunkan minat wisatawan untuk berwisata ke Bali. Sebelum kasus ini hangat dibicarakan, Bali sudah menjadi destinasi favorit liburan panjang tahun ini berdasarkan transaki penjualan paket wisata dalam pameran Indonesia Travel & Holiday Fair (ITHF) 2010 awal April lalu. Pasca penanyangan dan perbincangan panas film ini, penulis berasumsi justru kian membuat orang penasaran dan tertarik datang ke Bali, khususnya ke Pantai Kuta dan sekitarnya.

Berdasarkan pantauan Travelplusindonesia beberapa kali ke Bali. Fenomena gigolo di sejumlah pantai ternama di pulau para dewa ini justru menjadi daya tarik turis tersendiri, khususnya turis asing perempuan yang kesepian. Dan ini sudah berlangsung sejak lama.

Selain keindahan alam dan keunikan budayanya, banyak turis perempuan mancanegara yang senang ke Bali justru karena terpikat oleh daya tarik pria berbadan atletis, berkulit gelap, dan kerap bertelanjang dada sebagai teman kencan sesaat selama liburan di Bali.

Mereka menilai lelaki-lelaki tersebut bukan saja pandai ‘menyenangkan’ hasratnya tapi juga menawarkan romantisme yang sulit ditemukan di belahan dunia lain. Ada rasa bangga bila mereka berhasil ‘memiliki’ pria yang dimata mereka itu sungguh eksotis dan sexy itu. Mereka merasa liburan mereka menjadi lebih lengkap dan sempurna dengan kehadiran pria penjaja cinta khas pantai-pantai Bali.

Kehadiran ‘beach boys’ atau ‘cowboys’ julukan terbaru buat gigolo di Bali dalam film Cowboys in Paradise, membuat banyak turis perempuan yang kesepian lantaran ditinggal pasangannya atau bercerai, ketagihan datang ke Bali. Bahkan ada yang berencana menetap selamanya dengan lelaki idamannya itu di pulau cintanya ini.

Jadi, bila banyak turis yang ke Bali tujuannya justru untuk mendapatkan kehangatan cinta dan romantisme dari ‘cowboys’ di pantai-pantai tersohor itu, rasanya bukan masalah dan bukan pula salah turis.

Sekali lagi, Cowboys in Paradise bagai dua sisi mata uang. Di satu sisi, mungkin banyak pihak merasa fenomena gigolo yang dikisahkan dalam film dokumenter tersebut membuka aib dan dapat menjatuhkan citra pariwisata Bali. Tapi di sisi lain, mungkin bagi turis spesialis pemburu kenikmatan dunia dari berbagai belahan dunia, realita para ‘cowboys’ itu justru jadi ‘bumbu penyedap’ hingga Bali kian lezat disantap sebagai destinasi wisata impian yang sempurna.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji-travelplus@yahoo.com)

Read more...

Selasa, 27 April 2010

Kepergok Membaca di Pantai Batu Karas


Siapa bilang, berwisata cuma buang waktu percuma? Tengoklah sepasang turis asing di foto ini. Saat mereka berwisata di Pantai Batu Karas, Ciamis, Jawa Barat. Mereka masih meluangkan waktu untuk membaca buku favorit. Wisata dapat, ilmu pun dapat.

Foto berjudul Santai di Pantai karya M. Salim Bhayangkara di atas hanya salah satu dari puluhan foto bertema ‘Kepergok Membaca!” yang dipamerkan di Pasar Festival, Kuningan, Jakarta Selatan sejak 23 April lalu s/d 2 Mei 2010.

Masih ada sejumlah foto lain yang menarik, menyentuh, menggelitik, dan sekaligus menumbuhkan minat membaca yang dipamerkan dalam pameran fotografi yang diselenggarakan World Book Day Indonesia 2010 bekerjasama Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) DKI Jakarta.

Foto berjudul Saat Beristirahat hasil jepretan fotografer wanita Linda Susanti yang diambil di Jalan Suropati, Menteng, Jakarta Pusat misalnya, menggambarkan semangat membaca seorang bapak tukang sapu. Di waktu istirahatnya, penyapu jalanan ini mengisinya dengan membaca koran di bawah sengatan matahari siang hari.

Foto bertajuk Jangan Ganggu! Karya Andhika Akbar yang diambil di Stasiun Tanjung Priok, Jakarta Utara, tak kalah menggelitiknya. Foto tersebut menggambarkan seorang preman yang memiliki keinginan menambah pengetahuan dan membuka mata terhadap apa yang ada di sekililingnya dengan membaca koran.

Ada foto menyentuh lainnya berjudul Tidak Mudah Menyerah karya Dian Agustini yang diabadikan di Jalan Pemuda, Jakarta. Foto tersebut memvisualkan seorang anak penambal ban yang sedang belajar di trotoar jalan, disela membantu ayahnya bekerja. Semangat belajar anak lelaki itu sangat terpancar dalam foto tersebut.

Foto menggelitik lainnya berjudul Gila Membaca karya Ajeng Arifani yang diambil di Pekalongan. Foto tersebut menggambarkan seorang pria gila atau tak waras tampak belakang sedang membaca koran dinding. Orang gila saja membaca, masak kita yang waras tidak suka membaca, mungkin begitu makna sindiran foto tersebut.

Foto berjudul Berdiri di Kereta Bekasi-Jakarta karya Destia Marana juga cukup menyentuh. Foto tentang seorang wanita dewasa yang tengah asyik membaca buku tebal semacam kamus, meski berdiri di dalam kereta yang tengah melaju karena tidak kebagian tempat duduk. Foto tersebut menggambarkan bahwa membaca bisa dilakukan dalam kondisi apapun.

Lokasi pengambilan foto-foto yang dipamerkan juga beragam. Selain di Jakarta, Ciamis, Pekalongan, juga di Semarang, Ambon, bahkan Papua. Contonya foto berjudul Tak Pernah Tua karya Sugiarto yang diambil di kawasan wisata Kota Tua Semarang. Foto hitam putih tersebut menggambarkan seorang bapak tua kurus, berkulit hitam sambil membaca berlatar gedung tua berarsitektur kuno.

Foto berlabel Perahu karya Daurie Bintang yang diambil di Pantai Poka, Ambon juga menarik perhatian. Foto mengenai anak-anak setempat yang tengah membaca bersama di pantai pada sore hari tersebut, diambil pemotretnya saat perjalanan menuju lokasi traumahealing korban konflik di Ambon 2009 lalu.

Sedangkan foto yang abadikan di Papua antara lain berjudul Asyik Membaca karya Onny Wiranda tentang anak-anak lokal yang sedang asyik membaca mading atau majalah dinding sekolah di dinding sekolah mereka yang masih terbuat dari papan kayu.

Foto-foto yang dipamerkan secara teknis tidak begitu wah. Namun secara ide begitu kuat dan mengesankan lantaran mengajak penikmat fotonya untuk gemar membaca di manapun dan kapanpun.

Usai menikmati foto-foto yang dipamerkan, pasti Anda tergugah mulai rajin membaca buku atau apapun itu untuk menambah wawasan.

Bila Anda belum sempat menikmati pameran fotografi gratis ini di Pasar Festival, Anda masih bisa menikmatinya nanti di Museum Mandiri, Jakarta pada tanggal 15 s/d 25 Mei 2010. Di pameran ini, selain memamerkan foto-foto menggugah minat membaca, juga ada temu penulis muda serta bursa naskah dan buku.

Teks & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 25 April 2010

Mei Awal, Borong Mutiara di Lombok



Kalau Anda berenca-na berwisata ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada pekan pertama bulan depan, pasti akan mendapatkan suguhan tambahan selain Pantai Senggigi yang tersohor. Pasalnya di Lombok pada 6 s/d 9 Mei, ada acara Lombok Sumbawa Pearl Festival 2010 yang memamerkan beragam mutiara pilihan.

Kalau Anda berencana berwisata ke Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) pada pekan pertama bulan depan, pasti akan mendapatkan suguhan tambahan selain Pantai Senggigi yang tersohor. Pasalnya di Lombok pada 6 s/d 9 Mei, ada acara Lombok Sumbawa Pearl Festival 2010 yang memamerkan beragam mutiara pilihan.

Di Lombok Sumbawa Pearl Festival 2010 yang berlangsung di Santosa Villas Senggigi, Anda bukan cuma bisa melihat dan atau membeli mutiara bundar (round pearl) khas NTB, tapi juga bermacam jenis mutiara daerah lain seperti Maluku, Ternate, dan Papua.

Di festival yang diselenggarakan atas kerjasama Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kembudpar), Disbudpar NTB, dan Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) ini, Anda juga dapat menyaksikan dan mengikuti Lelang Mutiara yang diikuti sejumlah pembeli dari mancanegara. Selain itu, ada kegiatan Panen Mutiara yang akan dilakukan presiden Susilo Bambang Yudoyono (SBY) yang rencananya bakal membuka festival ini bersama dengan Menbudpar Jero Wacik, Gubernur NTB M. Zainul Majdi, dan Dirjen Pemasaran Kemenbudpar Sapta Nirwandar.

Masih banyak kegiatan menarik terkait festival tersebut yang dapat Anda lihat antara lain pagelaran busana dan perhiasan karya disainer asal Maluku Samuel Watumena, pentas seni budaya yang menyuguhkan aneka tarian asal NTB, dan penampilan kelompok penyanyi ternama ‘Be 3’ Nola, Widi, dan Chintia.

“Indonesia kaya akan mutiara alami dan yang dibudidayakan. Bahkan hasilnya sudah diekspor ke Jepang, AS, Jerman, Italia dan beberapa negara lainnya. Mutiara kita menjadi daya tarik wisman datang ke Indonesia,” kata Sapta Nirwandar.

Anda juga tertarik dengan mutiara laut selatan (south sea pearl) khas NTB? Datang saja ke Lombok, awal pekan Mei.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
foto: dok.matanews.com

Read more...

Kamis, 22 April 2010

Dukungan Taman Nasional Komodo Teratas


Taman Nasional Komodo, Indonesia berada di urutan teratas, dalam pertumbuhan dukungan voting 7 (tujuh) keajaiban dunia baru dalam 4 minggu terakhir ini. Voting yang diselenggarakan Yayasan News7wonders ini masih berlangsung dan pemenangnya akan diumumkan tahun depan, tepatnya 11 November 2011.

Taman Nasional Komodo mengalahkan sejumlah taman nasional ternama di dunia. Setelah Taman Nasional Komodo menyusul Dead Sea atau Laut Mati di Israel, Great Barrier Reef (Australia), Grand Canyon (AS), dan Amazon (Brazil).

Menurut analisa situs alexa.com, pengunjung website new7wonders.com yang memberikan suaranya, terbanyak Indonesia dengan prosentase pengunjung 22,1 %. Kemudian menyusul India (12.7 %), AS (12.2 %), Bangladesh (6,3 %), dan Afrika Selatan (3,7 %).

Kepala Seksi promosi VCD, DV & IT, Direktorat Sarana Promosi, Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata, Kementerian Kepariwisataan & Kebudayaan (Kembudpar) Hanif mengatakan panitia pemilihan news7wonder tidak memberikan siapa peringkat teratas setelah pemilihan finalis Juli 2009 lalu sampai sekarang.

Sewaktu penyisihan finalis, Taman Nasional Komodo berada diperingkat ke 13. “Sejak penyisihan finalis sampai kini belum ada pengumuman siapa yang berada di urutan pertama berdasarkan total jumlah suara,” jelas Hanif kepada Travelplusindonesia saat menggelar voting komodo di acara bazar perayaaan HUT TMII, Rabu (21/14).

Menurut Hanif keberhasilan Taman Nasional Komodo meraih dukungan tertinggi membuktikan usaha sosialisasi vote komodo yang dilakukan Kemenbudpar selama ini cukup berhasil. Sosialisasi dilakukan bukan hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri seperti mengikuti setiap event pameran wisata di luar negeri. “Kita pernah bersosialisasi di pameran ITB-Berlin, MITF-Moskow, MATTA-Malaysia, dan belum lama ini pameran di Asutralia,” ungkapnya.

Setelah sosialisasi di TMII ini, lanjut Hanif, sosialisasi Vote Komodo berlanjut ke Universitas Pelita Harapan (UPH) di Tangerang dan kemudian ke SMA 2 Depok. “Sosialisasi selanjutnya memang lebih ditujukan kepada pelajar dan mahasiswa karena mereka yang melek internet dibanding kalangan orang tua,” jelasnya.

Pengumuman pemenang voting 7 keajaiban dunia baru ini akan berlangsung pada 11 November 2011. “Semua finalis termasuk Indonesia ditawarkan panitia menjadi venue atau tempat pengumuman pemenang. Sampai kini panita belum mengumumkan negara mana yang akan menjadi tuan rumah pengumuman tersebut,” terangnya.

Anda sudah memberikan suara kepada Taman Nasional Komodo agar menjadi pemenang dalam pemilihan 7 keajaiban baru versi new7wonders? Kalau belum dan atau ingin memberikan suara lagi, silakan mem-voting di www.new7wonders.com/nature/en/vote_0n_nominees.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Golf Channel, Tayangan Golf 24 Jam


Suka berwisata olahraga golf dan menikmati sejumlah pertandingan golf kelas dunia? Tak usah berkecil hati kalau tak bisa merasakannya langsung. Nonton saja tayangan khusus golf di Indovision. Pasalnya sejak 16 April lalu, Indovision menghadirkan saluran televisi eksklusif ke-5 yaitu Golf Channel.

Golf Channel yang ber-tagline 'The Home of Golf' ini menayangkan beragam program golf selama 24 jam nonstop. Dan ini saluran televisi khusus golf pertama di Indonesia. Demikian disampaikan Wakil Direktur Utama MNC Sky Vision Handhi S. Kentjono saat launching Golf Channel di Driving Range Senayan, Jakarta, (21/4).

”Golf Channel melengkapi pilihan tayangan yang ada saat ini. Ini membuktikan Indovision menyediakan tayangan terlengkap bagi masyarakat Indonesia. Sebelumnya beragam tayangan olahraga kelas dunia ditayangkan di Vision1 Sports, yang merupakan saluran in house kami,” jelasnya.

Menurut Hery Kusnanto selaku Direktur Keuangan MNC Sky Vision yang juga penggemar olah raga golf, kehadiran Golf Channel dirasa sangat tepat mengisi celah pasar para golfers yang tentunya sangat dinantikan oleh seluruh penggemar olah raga golf di Indonesia. “Saluran ini merupakan sumber terlengkap beragam program golf,” ungkapnya.

Golf Channel berada di saluran 305 Indovision. Programnya antara lain turnamen yang di siarkan LIVE, highlight, profile, tips & tricks dan beragam topik lainnya seputar dunia golf. Selain itu ada rangkaian turnamen internasional dalam PGA Tour, Asian Tour, Ladies PGA dan European Tour dengan total lebih dari 90 turnamen ditayangkan sepanjang tahun 2010 secara LIVE dan exclusive.

Belum lagi program series berbobot seperti Golf In America yang menceritakan beragam permainan golf dan orang-orang luar biasa dengan kehidupannya seputar golf. Juga ada tayangan The Golf Fix, program yang dibawakan oleh instruktur golf populer – Michael Breed yang memberikan tips menarik dalam bermain golf melalui pembahasan berbagai turnamen. Selain itu ada Golf Central yang memberikan berita ter-update seputar dunia Golf Professional.

Permainan luar biasa dari para bintang dunia golf seperti Tiger Woods, Steve Stricker, Lorena Ochoa, dan Ai Miyazato, dapat Anda saksikan di saluran yang ditawarkan dalam 2 paket, yakni paket tambahan Indovision Sports Plus dengan harga Rp 100.000 (ESPN, STARSports, Eurosports, Golf Channel). Dan single ala carte Golf Channel dengan hanya Rp 75.000.

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: Dok. Indovision


Read more...

Mendaki Pegunungan Jayawijaya di Hari Bumi


Banyak cara untuk memperingati hari bumi yang jatuh hari ini, Kamis 22 April. Ada yang memberikan pohon dan masker di jalanan, berdemo di depan Mahkamah Konstitusi, dan ada juga yang membahas permasalahan global warming di salah satu puncak Pegunungan Jayawijaya.

Di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), sejumlah mahasiswa dari Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan, Sekolah Tinggi Teknik Nusantara Indonesia dan Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia Regional VI Sulsel memperingati Hari Bumi dengan aksi simpatik membagi-bagikan pohon dan masker kepada setiap pengguna jalan yang melintas di jalan.

Beberapa mahasiwa tersebut membawa miniatur bumi dari kertas dan keranda mayat bertuliskan Selamat Tinggal Hutanku, Selamat Datang Bencana Alam di flyover Makassar. Menurut salah seorang mahasiswa tujuan aksi tersebut untuk mengajak masyarakat segerak berbenah diri dan lingkungan serta menjaga kelestarian hutan dan lingkungan.

Di Jakarta, puluhan aktivis Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) memperingati Hari Bumi dengan berdemo di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK).

Mereka mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberantas mafia hutan dan mengeluarkan kebijakan untuk menghentikan eksploitasi sumber daya alam. Mereka juga mendesak pemerintah untuk mencabut izin-izin perusahaan yang merusak lingkungan hidup dan pelanggaran HAM.

Menurut pendemo, akibat ulah mafia hutan yang telah mengeksploitasi hutan tanpa memperhatikan dampak lingkungan telah merusak ekologi hutan. Akibat eksploitasi yang menguras sumber daya alam, bumi Indonesia mengalami kerusakan hebat.

Di Papua, tepatnya di Pegunungan Jayawijaya, tim ekspedisi 7 Summits yang terdiri atas pendaki dari Wanadri memperingati Hari Bumi dengan membahas antara lain pemasalahan pemanasan bumi (global warming) di bentangan es Ngapulu, Puncak Soekarno, salah satu puncak Pegunungan Jayawijaya.

Sebelumnya, tim ini sudah berhasil menggapai Puncak Cartenz atau Ndugu-Ndugu (4.884m), 18 April lalu. Puncak tertinggi pegunungan Jawawijaya ini menjadi bagian pertama dari rencana pendakian ke tujuh puncak tertinggi di dunia.

Tim ekspedisi 7 Summits ini akan mendaki 6 puncak gunung tertinggi lainnya dalam rentang waktu satu tahun. Enam puncak gunung tertinggi dunia itu adalah Kilimanjoro (5892m) di Tanzania, Elbrus (5642m) di Rusia, VInson Massif (4897m) di Antartika, McKinley (6194m) di Alaska, Aconcagua (6962m) di Argentina, dan terakhir Puncak Everest (8850m) di Nepal.

Bagaimana dengan Anda?

Naskah: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)
Foto: dok.7summits.com

Read more...

Selasa, 20 April 2010

Inacraft 2010 di Jakarta Dibuka SBY dari Bali


Jakarta International Handicraft Trade Fair atau yang dikenal Inacraft, besok rencananya dibuka oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dari Bali secara teleconference. Pameran kerajinan terbesar dan terlengkap di Indonesia ke-12 ini berlangsung 21 s/d 25 April 2010 di Jakarta Convention Center, Senayan.

Demikian disampaikan Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi), Rudi Lengkong di Jakarta. Rudi mengatakan semestinya Pak SBY dijadwalkan akan membuka secara langsung pameran ini. Namun karena hari Rabu besok beliau masih di Istana Tampaksiring, Bali memimpin rapat kerja dengan para gubernur dan para menteri, maka pembukaan dilakukan secara teleconference.

Sejak Inacraft berlangsung kali pertama tahun 1999, telah turut menjadi salah satu faktor pendukung perkembangan industri kerajinan Indonesia. Hingga industri ini berhasil menyumbangkan pendapatan 30% terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Pameran ini pun diakui sejumlah pihak (produsen dalam hal ini para perajin dan pengusaha, konsumen yakni pemakai dan pengunjung) sebagai wadah terbaik untuk mempromosikan dan menjual bermacam produk kerajinan.

Panitia Inacraft 2010 menyediakan 120 stan yang akan diisi hampir 1.800 peserta yang terdiri atas para perajin, produsen, dan pengusaha handicraft dari Jawa, Bali, Lombok, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan luar negeri.

Beragam produk berkualitas terbaru dan terkini ditampilkan dalam Inacraft tahun ini. Ada produk gift antara lain ballpoint & wooden box, candy jar, aksesoris kunci, lighter box, jewelry box, bingkai foto kecil, kotak rokok, aromatherapy, dan stationery item.

Produk peralatan rumah tangga serta home & garden dekorasi antara lain bunga buatan, bunga kering, keramik vas bunga, tempat lilin, penerangan lampu, ukiran kayu, hiasan, kerajinan perak, bordir penutup meja, sarung bantal, mate tempat, cover bordir tempat tidur, mebel kayu, mebel rotan, mebel serat, furniture kelapa, mebel bambu, furnitur taman, peralatan dapur, keranjang, meja dagangan, peralatan kamar mandi, karpet, lukisan, lilin, barang gelas, batu alam, gerabah, burung rumah & aksesoris, payung, berpadu angin, keset, ornamen taman, rencana teras ditetapkan, gantung diri penyiraman perkebunan, jembatan taman, dan patung taman.

Produk mainan antara lain mainan kayu, mainan lunak, papan permainan, mainan inflatable, kotak mainan, bola, jigsaw puzzle, dan game pendidikan. Produk perhiasan antara lain perhiasan emas, perak, mutiara, shell, dan perhiasan dari batu mulia.

Produk batik antara lain lukisan batik, printing batik, rotan batik, dan silk. Serta produk fashion garment & embroidery antara lain fashion garmen bordir, pakaian muslim, tenun ikat, songket, ulos, dan hand oven fabric.

Menurut Rudi, target transaksi penjualan dalam Inacraft 2010 sampai Rp 200 miliar dari penjualan ritel sebesar Rp 110 miliar dan kontak bisnis Rp 90 miliar. Sedangkan target pembelinya 1.200 perusahaan dari 60 negara.

Asephi selaku penyelenggara Inacraft, tahun ini akan memberikan penghargaan (Inacraft Award) kepada para perajin yang berprestasi.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Sabtu, 17 April 2010

Taman Nasional, Wisata Unggulan Masa Depan



Indone-sia memiliki 50 taman nasional yang tersebar di hampir seluruh Tanah Air. TN tersebut memiliki sumber daya alam luar biasa baik keanekaragaman flora dan fauna maupun keindahan alamnya. Oleh karenanya Kementerian Kehutanan sangat concern untuk menjadikan taman nasional sebagai destinasi wisata unggulan dikemudian hari.

Hal ini terlontar dalam acara Temu Bisnis Taman Nasional yang berlangsung di Asembly, Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Kemarin (Sabtu (17/4). Temu Bisnis tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam pameran Indogreen Forestry 2010 yang berlangsung sejak 15 April lalu dan berakhir hari ini, 18 April di JCC.

Temu Bisnis Taman Nasional bertema “Pengembangan Taman Nasional dan Taman Wisata Alam Menjadi Objek Wisata Masa Depan” ini diikuti sejumlah panelis baik dari pemerintah pusat dan daerah maupun pengelola sejumlah Taman Nasional seperti Way Kambas-Lampung, Bukit Barisan Selatan, Ujung Kulon-Banten, Halimun-Salak & Gede-Pangrango-Jawa Barat, Gunung Merapi-Yogyakarta, Kepulauan Seribu-DKI Jakarta, Karimun Jawa-Jawa Tengah, Tanjung Puting, Sebangau, Siberut, dan Kerinci Seblat. Serta pengelola Taman Wisata Alam, antara lain Gunng Pancar, Carita, Pulau Sangean, Jember, Tangkupan Perahu, Telaga Warna, Sukawayana, dan Cimanggu.

Peserta temu bisnis ini antara lain para pengusaha wisata, resort/hotel, dan biro perjalanan serta pengunjung. Adapun tujuan temu bisnis taman nasinal ini agar terwujud pembangunan, pengembangan, dan peningkatan arus tujuan wisata ke taman nasional dan taman wisata alam yang pada akhirnya bermuara pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Minggu (18/4) siang ini, di pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Kehutanan dan PT Wahyu Promocitra ini berlangsung talkshow bertema “Peran Swasta dalam Melestarikan Hutan Indonesia” yang diselenggarakan oleh PT Artha Graha, salah satu peserta pameran.

Terkait dengan tema talk show tersebut dan juga tema pameran ini “Melestarikan Hutan Indonesia untuk dunia”, Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyerukan “Gerakan Menanam 1 Miliar Pohon”.

Seruan tersebut ditujukan kepada seluruh masyarakat Indonesia khususnya pihak-pihak yang berkompeten pada upaya-upaya penyelamatan hutan seperti pengembangan hutan industri yang berkelanjutan, reboisasi, dan pengembangan potensi hutan tanaman industri. Gerakan ini, lanjut Zulkifli Hasan sangat mendesak untuk dilakukan, terlebih ditengah isu pemanasan global dan peningkatan suhu bumi.

Pameran ini gratis untuk umum. Diikuti 108 peserta dari pemda melalui dinas kehutanan, perusahaan kehutanan, perkebunan, pertambangan, minyak dan gas bumi, pulp & paper, serta perusahaan yang peduli akan pelestarian hutan dan lingkungannya.

Di pameran ini, pengunjung dapat melihat prses pembangunan hutan berkelanjutan termasuk reklamasi pada lahan bekas tambang, sejumlah potensi hutan non kayu seperti rotan, gaharu, biofarmaka, madu, dan kekayaan biodiversity serta serta kegiatan penanaman serentak dalam rangka menyukseskan program penanaman satu miliar pohon.

Berdasarkan pantauan Travelplusindonesia, sejumlah sekolah mengajak para siswanya ke pameran ini untuk mengetahui potensi kehutanan Indonesia. “Berlibur sambil belajar,” kata salah seorang guru pendamping. Masing-masing siswa diberi tugas oleh guru pendaping, mencatat pohon-pohon yang dipamerkan termasuk hasil produksi hutan.

Di salah satu booth peserta pameran terpajang tengkorak kepala buaya muara. Tengkorak tersebut jadi perhatian pengunjung dengan mengambil gambarnya. Beberapa di antaranya berfoto bersama dengan tengkorak tersebut.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Mercedes-pun Berbatik di Adiwastra Nusantara 2010



Inovasi batik tak pernah kering. Tiap tahun hadir kreasi baru, unik dan menarik. Sebelumnya ada batik gaul yang sukses merubah citra batik yang dianggap tua, formal, dan terkesan berat menjadi kekinian, nyantai, dan tentu saja fashionable hingga diminati kalangan anak muda. Lalu muncul batik harajuku, jaket batik, dan kini mobil berbatik seperti yang ditampilkan di pameran kain tradisional Adiwastra Nusantara 2010 di Jakarta Convention Center (JCC).

Mobil mewah Mercedes seri C250i CGI yang ditampilkan di ruang depan sebelum memasuki ruang utama Hall A & B pameran Adiwastra ke-3 ini, menjadi pusat perhatian pengunjung sejak hari pembukaaan 14 April lalu s/d hari terakhir pameran 18 April ini. Pasalnya baru kali ada pameran kain yang menampilkan mobil mewah sebagaimana pameran otomotif. Dan yang menarik lagi, mobil tersebut bermotif batik karya perancang busana ternama Carminta yang diberi judul ”Melukis Batik Di Atas Mobil Mercedes”.

Pengunjung yag datang ke pameran pun banyak yang mengabadikan mobil tersebut lewat kamera bermacam jenis, tak lupa foto narsis berlatar mobil batik tersebut. “Aku nggak nyangka mobil mewah bisa dicat dengan motif batik, kesan yang muncul moderen dan klasik serta membuat citra batik jadi lebih elegan,” jelas novi (27) salah seorang penunjung yang menyempatan diri berfoto berlatar mobil tersebut untuk di-upload ke facebook-nya.

Pameran yang dibuka Hj. Ani Bambang Yudhoyono, Rabu pagi lalu (14/4), memamerkan beragam kain nusantara, busana karya puluhan desainer, dan produk ratusan perajin nasional dari berbagai daerah dan negara-negara sahabat antara lain China, Jepang, Belgia, Bosnia, dan Austria.

Bahkan koleksi pribadi Ani Bambang Yudhyono berupa kain Tapis Muara Duo, Lampung yang berusia 200 tahun juga dipamerkan di pameran ini. Kain tapis tersebut berwarna hitam, merah, coklat, dan biru tua yang bermotif ragam hias Cucuk Andak Serat Kayu. Bahan dasar tapis tersebut adalah tenun yang dibordir dengan benang emas bermotif Sasab, bergambar manusia menunggang carabou (kerbau) yang dihiasi berbagai payet. Motif tersebut melambangkan kemakmuran dan kedudukan manusia lebih tinggi dari hewan.

Koleksi lain milik ibu negara yang dipamerkan adalah beberapa kain batiknya antara lain kain panjang batik dengan ragam hias Kawung Dwi Warna yang berusia 50 tahun. Kain berwarna dasar dasar coklat muda itu dikenakan pada akad nikah beliau 34 tahun lalu, tepatnya 30 Juli 1976. Motif Kawung bermakna memberi kewibawaan bagi pemakainya.

Lalu ada selendang ragam hias Manuk Sepasang berwarna dasar putih bergaya Cirebon, kain panjang Soga bermotif Peksi Cendrawasih asal Kudus berusia 85 tahun, kain panjang Yogya bermotif batik Semen Sidho Asih berusia 60 tahun, dan kain panjang ragam hias pagi-sore berusia 85 tahun.

Koleksi lain yang sayang diilewatkan adalah koleksi Gendongan Nusantara dan koleksi wastra unggulan dari para kolektor, museum tekstil Jakarta, museum Purna Bhakti Pertiwi dan masih banyak lagi. Gendongan yang menjadi subyek topik pameran kali ini merupakan alat sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat nusantara. Pengunjung juga dapat menyaksikan cara pembuatan batik, menenun tenunan dan tapis.

Selain itu juga ada koleksi batik 4 Keraton Jogya-Solo yaitu Keraton Kasultanan Hamengku Buwono (HB), Puro Paku Alaman (PA), Keraton Kasunanan Paku Buwono (PB), dan Puro Mangkunegaran (MN). Semua koleksi 4 keraton tersebut merapakan koleksi turun temurun dan sebagian besar karya kerabat keraton. Koleksi yang ditampilkan rata-rata berusia 25 tahun hingga 200 tahun dengan motif langka.

Kendati batik begitu mendominasi pameran ini dan diborong pengunjung, namun sejumlah kain tradisional dari daerah lain seperti Songket dari Palembang-Sumatera Selatan, Ulos dari Batak-Sumatera Utara, Tapis dari Lampung, dan tenun sutera Pinawetengan dari Minahasa-Sulawesi utara, serta tenun ikat dari NTB dan NTT juga tak kalah peminatnya. Harga kain-kain tersebut berkisar ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Sementara baju batik, ada yang puluhan ribu, tergantung bahan, motif dan disainnya.

Tahun 2008, pameran yang diselengarakan oleh Himpunan Pecinta Kain Wastraprema dan PT Fortune Adwicipta ini berhasil meraup transaksi senilai lebih dari Rp20 miliar dan dikunjungi lebih dari 40.000 orang. Dan Adiwastra Nusantara 2010 ini diperkirakan akan sukses melebihi kedua pencapaian pameran sebelumnya.

Pada hari terakhir pameran ini, sejumlah perajin memberikan harga yang lebih miring bagi pengunjung. Nah, jangan buang kesempatan ini, datang saja sambil melihat mercy berbatik. Tiket masuknya Rp 10.000 per orang dewasa dan Rp 5.000 per pelajar dan anak-anak.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Dekranas Mengembangkan Kerajinan Berbasis Budaya


Pengembangan inovasi dan kreasi produk kerajinan menjadi salah satu program kerja kepengurusan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) 2009-2014 guna meningkatkan kesejahteraan para perajin. Hal ini mengemuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) Dekranas 2010 yang berlangsung di Gedung Smesco UKM, Jakarta, Sabtu (17/4) yang dibuka secara resmi oleh Ibu Negara Hj. Ani Bambang Yudhoyono selaku pembina Dekranas.

Menurut Ani Bambang Yudhoyono, kerajinan sebagai salah satu dari 14 sub sektor industri kreatif mampu menyumbangkan pendapatan bagi negara dan bangsa ini. “Kualitas beberapa produk kerajinan kita tak kalau dengan produk luar negeri. Dan harus kita akui pula beberapa produk lainnya, kualitasnya masih dibawah produk negara lain. Untuk itu pemerintah berusaha meningkatkan mutu dan kemasan sesuai selera pasar,” jelasnya.

Pemerintah, lanjut Ani, juga akan mengkampanyekan kembali “Aku Cinta Produk Indonesia” agar masyarakat mencintai dan menggunakan produk buatan dalam negeri.

Sebelumnya, Ketua Umum Dekranas Herawati Budiono berjanji dalam masa kepengurusan 5 tahun kedepan akan meningkatkan mutu, desain, dan kemasan produk kerajinan Indonesia agar punya daya saing di pasar nasional maupun internasional. “Kami juga akan membantu memasarkan kerajinan itu dengan cara mengikuti bazar, pameran dan sebagainya,” jelasnya.

Munas Dekranas 2010 bertema “Membangun Ekonomi Kreatif Melalui Pengembangan Kerajinan Berbasis Budaya, Inovasi, dan Teknologi” ini berlangsung sehari penuh. “Pesertanya 300 orang mulai ketua dan pengurus Dekranasda provinsi yang masing-masing diwakili 5 orang, kabupaten, dan kota seluruh Indonesia, serta pemerhati, pecinta, dan asosiasi yang berkaitan dengan pengembangan dan pelestarian kerajinan,” jelas Fozi Azis selaku Ketua Pelaksana Munas Dekranas 2010.

Selain Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, agenda pokok lain yang dibahas Munas Dekranas kali ini adalah program kerja 5 tahun dan pengukuhan serta pelantikan Pengurusan Dekranas 2009-2014.

Program kerja yang akan dilaksanakan oleh kepengurusan Dekranas 2009-2014 ini antara lain pengembangan inovasi dan kreasi produk kerajinan, mendukung upaya pelestarian kriya sebagai warisan budaya bangsa, dan memfasilitasi penerapan dan perlindungan hak atas kekayaan intelektual.

Untuk melaksnakan program tersebut, Dekranas berkerjasama dengan berbagai pihak seperti Kadin dan asosiasi kerajinan serta didukung 6 kementerian terkait yakni Kementerian Perindustrian, Perdagangan, Kebudayaan dan Pariwisata, Koperasi & UKM, BUMN, dan Kementerian Dalam Negeri.

Dirktur Jenderal Nilai Budaya, Seni, & Film (NBSF), Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar) Tjetjep Suparman mengatakan pemeritah masih terus mencatat jumlah warisan budaya bangsa dari berbagai penjuru tanah air. “Jumlah warisan budaya baik yang benda maupun tak benda yang berhasil dicatat setiap waktu semakin bertambah, termasuk dari produk kerajinan. “Setelah dicatat, kemudian produk tersebut dikajiulang apakah benar asli buatan dalam negeri dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Setelah itu diusulkan untuk mendapatkan pengakuan Hak Atas Kekayaan Intelektual. Bila produk tersebut diakui secara nasional bisa dijadikan warusan budaya bangsa,” jelas Tjetjep.

Munas Dekranas 2010 sekalian melantik pengurus Dekranas baru yang kepengurusannya ditetapkan oleh Surat Keputusan Bersama 6 menteri terkait.

Usai acara inti, dilanjutkan dengan launching “Lomba Desain Kreatif Produk Kulit Indonesia 2010” atas kerjasama Dekranas dengan Kementerian Koperasi & UKM.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Rabu, 14 April 2010

10 Alasan Wisata Bopunjur Diminati Warga Jakarta



Warga Jakarta dan sekitar-nya kerap berwisata ke Bopunjur (Bogor-Puncak-Cianjur). Alasannya, lokasinya dekat. Sebenarnya masih banyak alasan lain yang menyebabkan wilayah berbukit dan bergunung ini tetap diminati wisatawan lokal bahkan turis Arab hingga menjadi salah satu andalan pariwisata Jawa Barat sampai kini. Apa saja alasan lainnya?

Kendati bermacam pemasalahan lingkungan muncul di Bopunjur, termasuk macet yang luar biasa ketika akhir pekan, liburan sekolah, hari besar, dan long weekand, tetap saja tak mengurangi minat orang untuk berwisata, bermukim, dan berbisnis di sana.

Alasan pertama, seperti disinggung di atas, Bopunjur lokasi pegunungan yang paling dekat dengan Jakarta. Sekitar 100 Km dengan waktu tempuh sekitar 2-4 jam tergantung kondisi lalulintasnya. Bisa dengan kendaraan pribadi maupun umum. Secara adminstratif berada di dua kabupaten yakni Bogor dan Cianjur, di jalur lintas antar Provinsi DKI Jakarta-Jawa Barat.

Kedua, panoramanya indah khas pegunungan. Maklum kondisi topografinya sangat bervariasi dari bergelombang, berbukit sampai bergunung dengan kemiringan lereng 15 - >45%.

Ketiga, udaranya sejuk. Maklum iklimnya bercurah hujan 2.428-4.053 mm per tahun dan bertemperatur rata-rata harian 4,8° C s/d 26,6° C. Berdasarkan klasifikasi iklim dari Schmidt dan Ferguson, kawasan ini termasuk beriklim A (sangat basah) dan B (basah). Jadi kerap berkabut dan turun hujan.

Keempat, obyek wisatanya beragam. Ada Gunung Gede & Pangrango, perkebunan teh, Telaga Warna, Air terjun Curug Cilember dan Cibeurem, Kebun Raya Bogor & Cibodas, Istana Presiden Cipanas & Bogor, Taman Bunga Nusantara & Melrimba, Taman Safari Indonesia, Museum Dinosourus, Makam Dalem Cikundul buat berwisata ziarah, dan tirta di Jangiri/Calincing untuk berwisata tirta.

Kelima, aktivitas wisatanya variatif. Bila dulu, orang cuma datang lalu makan jagung bakar, minum bandrek (minungan khas sunda dari jahe) hangat, dan foto-foto di perkebunan teh. Tapi belakangan dapat melakukan bermacam kegiatan baru yang menantang dan mengasyikkan. Bisa mendaki Gunung Gede & Pangrango atau treking ke beberapa bukitnya, ber-paralayang di Riung Gunung, ber-outbond di sejumlah resort, memancing di kolam pemancingan, menunggang kuda, tea walk di perkebunan teh Gunung Mas dan Telaga Warna, ber-Yoga, Spa, dan meditasi lain mengingat di beberapa resort disediakan fasilitas untuk melakukan hal itu.

Keenam, akomodasinya lengkap mulai vila, bungalow, hotel dan resort dengan tarif mulai dari puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah per malam. Sementara sewa vila dan bungalow-nya berkisar di atas Rp1 jutaan. Kalau cari yang murah dan menyatu dengan alam, bisa berkemah (camping) di Wanawisata Mandalawangi.

Ketujuh, ada taman hiburan baru yang cocok untuk keluarga antara lain Taman Wisata Matahari di KM 77 Jalan Raya Puncak Bogor dan The Jungle di Perumahan Bogor Nirwana Residence di Jalan Dreded. Dengan tiket masuk Rp 30.000 per orang untuk hari biasa dan Rp 50.000 untuk weekend & hari libur.

Kedelapan, sebagai tempat rapat (meeting) yang tenang dan nyaman karena tersedia fasiltas untuk itu. Biasanya rapat digelar hari kerja menjelang akhir pekan, dilanjutkan berakhir pekan dengan incentive berwisata di sekitar Bopunjur. Selain itu sebagai lokasi meeting yang lain, biasa diplesetin jadi ‘miting’ alias mijet yang penting-penting. Maklum di sejumlah tempat tersedia pelayanan pijat plus-plus terselubung atau dapat memesan secara privat untuk pelayanan di kamar atau vila yang disewanya.

Kesembilan, bagi turis lainnya, menjadi tempat bukan sekadar berwisata melainkan juga mencari perempuan sekitar Puncak untuk kawin kontrak sebagaimana dilakukan turis Timur Tengah terutama dari Irak, Iran, dan Arab Saudi pada bulan Mei sampai 2-3 bulan ke depan atau dikenal dengan ’Musim Arab’. Selama berlibur itulah, tak jarang ada turis Arab yang ‘jajan’ atau bahkan melakukan kawin kontrak dengan warga sekitar dan pendatang, dengan biaya antara Rp 5 juta s/d Rp10 juta sebagai maharnya.

Kesepuluh, menikmati beragam kulinernya. Dari Bogor misalnya ada asinan, soto kuning, roti unyil, dan es duren. Selanjutnya di Jalan Raya Puncak berdiri puluhan rumah makan yang didominasi masakan khas Sunda seperti Waroeng Gumati dengan menu lobster-nya, Rumah Makan Dulang dengan Gurami Terbang, Rumah Makan Mirasa dengan Pepes Bandengnya, Saung Pang Lawung milik H. Hihin dengan Bubur Ayam Cianjur, Warung Sate H. Kadir dengan sate buntut kambingnya, dan bakso setan seukuran bola golf, tenis, dan bola sepak, Cimory Resto dengan susu segar dan sosis bratwurst-nya. Dan sekalian belanja buah dan sayur made in Puncak di kios-kios buah dan sayur di tepi jalan seperti wortel, aneka pisang, talas, ubi lembu, lobak, manggis, nenas, dan alpukat.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com).

Read more...

Masuk Borobudur, Pelajar Diskon 40 %



Pelajar SMP yang berwisata ke Candi Borobu-dur dapat diskon 40 % mulai 14 April 2010. Potongan harga ini berlaku bagi sekolah yang mengikuti world heritages education yang diselenggarakan PT. Taman Wisata Candi Borobudur Prambanan Ratu Boko (PT.TWC BPRB) bekerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) dan Komite Nasional Indonesia untuk Unesco (KNIU).

Demikian disampaikan Presdir PT. TWC BPRB Purnomo Siswoprasetdjo pada acara Workshop Pendidikan Warisan Dunia Candi Borobudur dan Prambanan di Gedung A, Komplek Kemendiknas, Jakarta, Rabu (14/4).

Untuk mendapatkan diskon tersebut, kata dia, pihak sekolah harus mengirimkan surat permohonan kunjungan ke PT TWC BPRB. “Diskon ini diperuntukan bagi rombongan pelajar minimal 50 orang dan hanya berlaku pada Senin s/d Jum’at untuk masuk Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko” jelasnya.

Dengan diskon 40 %, tambah Purnomo, tiket masuk Borobudur buat pelajar menjadi Rp 9.000 per orang. “Selain diskon tersebut, rombongan pelajar juga mendapat pemandu wisata profesional yang akan menjelaskan sejarah Candi Borobudur berikut reliefnya secara detil, dan asuransi per orang serta sertifikat untuk guru pembimbing,” terangnya.

Bagi sekolah yang tidak mengikuti workshop, lanjut Purnomo, pelajarnya tetap mendapat diskon namun hanya 25 % dari harga publish.

Sejumlah kepala sekolah mengaku senang dengan pemberlakukan diskon 40 % bagi pelajar ke Borobudur. “Kebetulan sekolah kami belum pernah ke Borobudur, biasanya hanya ke sekitar obyek wisata yang ada di Jakarta atau kawasan puncak. Dengan diskon ini, kami akan mencoba membawa para sisiwa kami berwisata ke Borobudur,” terang Sr. M. Katrinia, Kepala SMP Bunda Hati Kudus (BHK), Jakarta Barat.

Hal senada juga diutarakan oleh Abdul Syukur Kepala SMP Setia Gama, Atif Kepala SMP IT Daarun Naiim-Jakarta Barat, dan Sri Finayani Wakil Kepala SMP Taman Siswa-Jakarta Pusat.

“Kebetulan sekolah kami sering ke Yogya dan pernah ke Candi Borobudur dan Prambanan, terakhir tahun 2003. Dengan adanya diskon 40 % tentu ini menguntungkan bagi pelajar khususnya dan akan membawa siswa kami liburan ke Borobudur,” kata Sri Finayani.

Identitas & Karakter Bangsa
Workshop yang diikuti 300 Kepala dan atau Wakil Kepala Sekolah Menengah Pertama se-Jakarta ini dibuka oleh Direktur Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Dirjen PMPTK), Kemendiknas Baedhowi yang mewakili Mendiknas M. Nuh.

M. Nuh dalam sambutannya yang dibacakan Baedhowi mengatakan workshop ini untuk memperbaiki pendidikan kita agar lebih berbudaya. “Lewat metode pendidikan yang mengasyikan mengenai warisan budaya dunia yang ada di negara ini, diharapkan dapat menumbuhkan identitas dan karakter bangsa kita,” jelasnya.

“Mendiknas menyarankan supaya pendidikan membangun identitas dan karakter bangsa ini diintegeralkan dengan pendidikan di sekolah,” kata Baedhowi.

Sedangkan Purnomo lewat workshop ini mengharapkan kepala atau wakil kepala sekolah yang ikut kemudian menularkan pengetahuannya kepada guru-guru dan kemudian guru-guru menyampaikan ke para siswa. Dengan begitu para siswa yang berkunjung Borobudur mendapat bekal pemahaman mengenai makna heritages agar mereka mencintai dan menghargai candi-candi warisan dunia ini.

“Jadi para siswa yang datang ke Borobudur tidak lagi lari-larian atau berdiri di atas stupa, namun justru membawa pulang pengetahuan yang lebih lengkap dan berkualitas mengenai candi yang dikunjunginya,” ungkapnya.

Workshop di Jakarta ini, tambah Purnomo lagi sebagai awal dari kegiatan serupa yang akan dilanjutkan ke berbagai kota dengan target 10.000 sekolah. “Caranya kami akan roadshow workshop pendidikan heritages ini ke kota-kota besar seluruh Indonesia secara bertahap bekerjasama dengan KNIU,” paparnya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)


Read more...

Selasa, 13 April 2010

Bali dan Singapura Tujuan Wisata Favorit Liburan 2010



Berda-sarkan hasil transaksi penju-alan paket wisata dan tiket pesawat selama pameran Indonesia Travel & Holiday Fair (ITHF) 2010 yang berlangsung 3 hari, 9-11 April lalu, Bali dan Singapura masih menjadi tujuan wisata favorit warga Jakarta dan sekitarnya untuk liburan panjang Juni-Juli tahun ini. Apa alasannya?

Keberhasilan Bali menjadi destinasi dalam negeri favorit tahun ini bukan tanpa alasan. Pulau para dewa ini bukan cuma indah alamnya, khas budayanya, mudah aksesnya, beragam obyek wisatanya, kelengkapan akomodasi dan fasilitas pendukungnya tapi juga kreatif dalam pengemasannya serta hospitality-nya yang baik. Semuanya itu bercitra positif hingga membuat orang bangga, senang, dan nyaman berlibur ke Bali. imej baik itu pula yang rupanya membuat orang ingin kembali ke Bali berkali-kali.

Sedangkan alasan kuat Singapura kembali terpilih menjadi tujuan wisata luar negeri favorit warga Jakarta dan sekitarnya karena memiliki obyek wisata baru Universal Studios Singapore (USS). Bila sebelumnya orang Indonesia berbodong-bondong datang ke negeri mungil ini untuk berbelanja di sejumkah mall dan pusat perbelanjaannya, kini selain alasan itu juga ingin menikmati USS yang dilengkapi kasino, wahana permainan, resto, dan sejumlah hotel berskala internasional.

Alasan lain mengapa banyak orang Indonesia kembali memilih mengisi liburan panjang tahun ini ke Singapura, karena aksesnya mudah dan tarifnya terjangkau, beragam obyek wisatanya terutama buatan yang dirancang dengan profesional dan berskala dunia, akomodasi dan fasilitas pendukungnya sangat memadai, serta pencitraan yang baik sebagaimana Bali hingga membuat orang kita bangga, senang, dan nyaman bukan hanya berwisata, berbelanja, tapi juga berobat di negeri jiran tersebut.

Selain Bali, tujuan wisata dalam negeri yang diminati warga Jakarta dan sekitarnya adalah Lombok, Manado, Yogyakarta, Makassar dengan obyek wisata barunya Trans Studio World Makassar (TSWM), dan Sumatera Utara dengan paket Medan-Brastagi-Danau Toba-nya.

Obyek wisata buatan TSWM merupakan theme park indoor terbesar di dunia yang memiliki 20 wahana permainan tematik yang juga difasilitasi hotel, mall, restoran, serta marina. Lokasinya di Kawasan Bisnis Gobal dan Pariwisata Terpadu Tanjung Bonga, sekitar 5 Km dari pusat Kota Makssar atau Lapangan Karebosi.

Sedangkan untuk luar negeri, setelah Singapura menyusul Thailand dengan Paket Phuket-Phi Phi Island-nya, Hongkong, Malaysia dengan Kualalumpur-nya, China, dan Dubai.

Phi Phi Island diminati warga Jakarta dan sekitarnya setelah salah satu pantainya yakni Pantai Maya menjadi lokasi syuting Film The Beach yang dibintangi aktor Hollywood Leonardo DiCaprio. Pulau ini berada di Provinsi Krabi, Thailand. Letaknya 40 Km dari Phuket. Waktu tempuh sekitar 1,5 jam dengan speedboat atau 2,5 jam dengan perahu biasa. Gugusan pulau ini memiliki 2 pulau utama, yakni Phi Phi Ley dan Phi Phi Don. Phi Phi Ley merupakan kawasan konservasi cagar alam yang terjaga keasriannya untuk ekowisata dan dilarang dihuni. Sedangkan Phi Phi Don merupakan lokasi wisata umum yang sudah dilengkapi resort, hotel, dan rumah sakit.

Naskah & foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Senin, 12 April 2010

Paket Wisata ke Asia Laris Manis di ITHF 2010



Paket wisata luar negeri (out-bond) terutama ke Asia laris manis di Indonesia Travel & Holiday Fair (ITHF) 2010. Sementara paket wisata dalam negeri (inbond), kurang diminati pengunjung pameran bertema “Overseas and domestic travel on lowest rate ever” ini. Mengapa?

Sejumah travel agent yang mengikuti ITHF ke-4 ini mengaku pengunjung yang datang ke pameran liburan terlengkap ini lebih banyak yang membeli paket outbond ke Asia, antara lain Singapura, Hongkong, Malaysia, Thailand, Dubai, China, Jepang, dan Korea.

Menurut General Manager Surprise, wholesaler tour operator K. Halim, selama 3 hari berpameran sejak 9-11 April 2010, paket outbond yang paling laku terjual di booth-nya adalah paket wisata ke Singapura, Hongkong, dan Kuala Lumpur, Malaysia. “Paket wisata ke Singapura paling banyak peminatnya karena terdapat obyek wisata baru berkelas dunia, Universal Studio. Pada hari terakhir pameran saja ada ratusan paket outbond yang terjual hanya di booth kami. Kalau overall, semua booth mungkin ribuan paket outbond yang terjual,” jelasnya.

Paket inbond yang masih lumayan permintaannya, lanjut Halim hanya paket ke Bali. Sementara paket lain termasuk ke Yogya dan Danau Toba kurang diminati. “Bukan kami tidak mau jual paket inbond lainnya, tapi karena memang permintaannya kurang,” akunya.

Staff Panorama Tour yang enggan disebut namaya pun mengaku selama pameran, paket wisata outbond paling banyak peminatnya. “Sepengetahuan saya yang paling laku terjual di booth kami paket ke Singapura, Hongkong, Jepang, dan Cina. Sementara paket inbond tetap Bali,” jelasnya tanpa merinci berapa besar nilai transaksinya.

Tour Division Rotama Tour, Tania mengatakan selama pameran ini pengunjung yang datang ke booth-nya banyak yang membeli paket individu 3 hari ke Singapura dengan tarif 209 dolar AS dan paket 3 hari Phuket Phi-Phi Island Tour seharga 345 dolar AS per orang.

Tour division Alia Wisata Tutut Winarto mengaku meskipun sudah menjual paket inbond ke Lombok namun peminatnya kurang. “Justru yang laku paket umroh plus Dubai, Istambul,” jelasnya.

Sepinya transaksi paket inbond juga dialami PT Lovely Holiday (LH) yang tergabung di booth Dinas Pariwisata Sumatera Utara. Biro Perjalanan Wisata ini hanya menawarkan 2 paket special promo Medan-Danau Toba 5 hari 4 malam dan 4 hari 3 malam. Harganya berkisar 1 jutaan s/d 2 jutaan per orang tergantung hotelnya. Ada 4 hotel pilihannya yakni Grand Antares Medan, Soechi Medan, Tiara Medan dan J.W. Marrriot Medan. “Tapi siang hari terakhir cuma ada 10 paket yang terjual,” aku Eva, tour division LH.

Namun setelah pameran ini, Dewi Juita Purba Direktor of Sales Hotel Tiara Medan sekaligus mewakili Disbudpar Sumut, mengatakan paket wisata Medan-Brastagi-Danau Toba yang terjual dalam ITHF 2010 ini sebanyak 62 paket, dan masing-masing hotel yang ikut juga mendapat booking reservasi.

Begitu juga dengan paket liburan yang ditawarkan Hotel Soechi Medan untuk 3 hari 2 malam Rp 900.000. “Harganya sudah sangat murah untuk 3 hari dan gratis makan malam 1 orang. Padahal di luar paket untuk 1 malam Rp 600.000. Tapi sampai hari ketiga pameran, paket liburan ini belum terjual namun yang bookig reservasi inap sudah ada. Mungkin karena market hotel kami adalah company & bisnis bukan individu atau keluarga,” aku Rury Indrawati, sales executif Hotel Soechi.

Kurangnya minat pengunjung pameran kali ini untuk membeli paket wisata inbond, menurut K. Halim bisa jadi dikarenakan promosi paket dan obyek wisata domestik sangat minim. Sementara negara lain yang mengikuti pameran ini sangat bagus dalam mengemas dan menjual paketnya termasuk menata booth-nya semenarik mungkin seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Korea. “Seharusnya pengelola wisata domestik termasuk dinas pariwisata daerah dan pusat memanfaatkan pameran ini dengan menjual paket wisata yang layak jual dan mengemas booth-nya semenarik mungkin agar pengunjung tertarik datang dan membelinya,” imbuhnya.

Faktor lainnya, lanjut Halim, banyak obyek wisata kita yang pengelolaannya kurang baik dan kemasannya kurang menarik sehingga pengunjung enggan membeli. “Semestinya ada festival atau aktivitas yang menarik di suatu obyek wisata domestik agar pengunjung tidak bosan dan mau datang lagi,” sarannya.

Berdasarkan pantauan Travelplusindonesia, pengunjung ITHF kali ini tetap membludak meskipun dikenakan tiket masuk. Sejumlah pengunjung memadati sejumlah booth yang menjual paket outbond dengan diskon dan hadiah langsung.

Untuk menjaring pengunjung dan membeli paket wisatanya, sejumlah travel agent besar menata boothnya semenarik mungkin, lengkap dengan badut, games, dan hadiah langsung berupa aneka souvenir.

Melihat animo masyarakat dalam pameran ini, sepertinya 25.000 pengunjung yang ditargetkan Rajamice.com sekalu event organizer ITHF tahun ini berikut transaksi penjualan langsung produk perjalanan hingga Rp30 miliar atau naik 30% dari event sebelumnya,tercapai. Tapi sayangnya paket outbond yang lebih laris dibanding inbond. Dan ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) buat industri pariwisata, pemerintah pusat dan daerah serta instansi terkait untuk mengelola dan mengemas obyek dan paket wisata domestik lebih baik lagi.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Jumat, 09 April 2010

Destinasi Indonesia Termurah Ke-3 di Dunia


Daya saing pariwisata Indonesia menurut survey World Economic Forum (WEF) tahun lalu memiliki nilai unggul di pilar daya saing harga. WEF menilai Indonesia adalah destinasi termurah ketiga di dunia setelah Mesir dan Brunei Darussalam.

Destinasi Indonesia termurah ketiga untuk tarif hotel, tiket pesawat, dan BBM. Namun penilaian di pilar lainnya Indonesia kurang beruntung sehingga penilaian secara keseluruhan indeks daya saing pariwisata Indonesia tahun ini berada di peringkat 81 dari 133 negara yang disurvei WEF. Berarti menurun terus tiap tahunnya, 2007 diperingkat ke-60, 2008 di peringkat ke-80.

Demikian disampaikan Dirjen Pengembangan Destinasi Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Kemenbudpar), Firmansyah Rahim, dalam Diskusi Pariwisata bertema Meneropong Daya Saing Pariwisata Indonesia dengan sejumah media yang tergabung dalam Forum Wartawan Kebudayaan dan Pariwisata (Forbudpar), di FX, Senayan, Jakarta, (10/4).

“Untuk mengetahui penyebab menurutnya peringkat Indonesia dalam indeks daya saing pariwisata, kita harus melihat variabel yang menjadi acuan survei. Dan untuk memperbaikinya kita harus mempelajari apa saja yang dinilai oleh WEF,”ungkapnya.

Menurut Firmansyah, ada 3 parameter utama penilaian WEF yakni kerangka regulasi, lingkungan bisnis dan infrastruktur, serta sumber daya manusia dan sumber daya alam dengan total 73 varibel penilainya.

“Ke 73 variabel yang dinilai itu meliputi berbagai hal. Untuk kerangka regulasi mencakup kebijakan dan peraturan, kewajaran kepemilikan usaha asing, hak kekayaan intelektual, peraturan terkait investasi asing, persyaratan visa, dan keterbukaan kerja sama `open air access`,” jelasnya.

Untuk lingkungan bisnis dan infrastruktur, lanjutnya yang dinilai antara lain peraturan di bidang lingkungan, emisi CO2, konsentrasi partikulat berbahaya, spesies yang dilindungi, keselamatan, terorisme, dan keandalan pelayanan polisi.

Dari 73 unsur yang menjadi bahan penilaian, tambahnya, yang menjadi domain kebijakan Kemenbudpar hanya 12 unsur. Sisanya sebanyak 28 unsur, berada di bawah koordinasi dengan kementerian lain. Dan 34 unsur lainnya harus dibangun oleh seluruh rakyat Indonesia seperti keramahtamahan, kebersihan, ramah tamah, dan lainnya.

"Kordinasi dengan kementerian lain akan kami upayakan setelah rampung Perpres tentang koordinasi yang ditargetkan rampung 2 bulan ke depan,” terangnya.
Ke-12 domain Kemenbudpar, lanjut Firmansyah akan terus ditingkatkan, di antaranya pembangunan sektor pariwisata yang berkelanjutan, etika eksekutif berbisnis pariwisata, dan sikap masyarakat terhadap wisatawan.

Menurut Firmansyah lagi, kendati peringkat ini tidak mempengaruhi jumlah kedatangan wisman ke Indonesia secara langsung. Namun tetap dibutuhkan untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan pariwisata kita. “Wisatawan tidak melihat peringkat ini untuk datang atau tidak ke Indonesia. Peringkat ini lebih untuk kebutuhan investasi,” paparnya.

Menurut konsultan komunikasi Aselina Endang Trihastuti, terkait atau tidaknya dengan menurunnya peringkat indeks daya saing pariwisata Indonesia, bisa jadi karena minimnya koordinasi antar instansi lain dalam membangun pariwisata Indonesia. “Selain itu juga kurangnya komunikasi, terutama promosi pariwisata.”

Salah satu upaya untuk memperbaiknya, lanjut Aselina, pemerintah harus fokus dalam menggarap pariwisatanya, mengingat masih banyak yang belum tergarap dengan baik.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yaho.com)


Read more...

Kamis, 08 April 2010

Pengembangan Obyek Minat Khusus Luar Jawa & Bali



Selain destinasi yang sudah populer di 14 provinsi, tahun ini Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan (Kemenbudpar) juga akan fokus mengembangkan sejumlah obyek wisata minat khusus yang kian favorit antara lain Raja Ampat dan Wakatobi. Namun untuk urusan biaya masuk, akomodasi, dan tarif kegiatan di masing-masing obyek tersebut diserahkan pihak pengelola atau investornya.

Selain destinasi yang sudah populer di 14 provinsi, tahun ini Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan (Kemenbudpar) juga akan fokus mengembangkan sejumlah obyek wisata minat khusus yang kian favorit antara lain Raja Ampat dan Wakatobi. Namun untuk urusan biaya masuk, akomodasi, dan tarif kegiatan di masing-maing obyek tersebut diserahkan pihak pengelola atau investornya.

Demikian disampaikan Sekretaris Ditjen Pengembangan Destinasi Pariwisata Kemenbudpar Winarno Sudjas disela-sela diskusi dengan sejumlah media yang tergabung dalam Forum Wartawan Kebudayaan dan Pariwisata (Forbudpar) di Hotel Ambhara, Jakarta, (8/4).

Pengembangan obyek wisata minat khusus di luar Jawa dan Bali tersebut, lanjut Winarno terkait adanya perubahan tren atau prilaku wisatawan. “Dulu banyak wisatawan yang berwisata konvensional seperti ke Borobudur kemudian melihat tari-tarian. Belakangan ini banyak yang berwisata special interest atau minat khusus seperti diving, hiking, dan lainnya,” jelasnya.

Dalam pengembangan obyek wisata minat khusus tersebut, tambah Winarno, Kemenbudpar bersinergi dengan kementerian terkait seperti Kementerian Perhubungan, Kelautan, dan Pekerjaan Umum (PU). “Dari Perhubungan misalnya menyediakan kapal laut atau pesawat ke obyek wisata tersebut, sedangkan PU membuat fasilitas umum seperti toilet, tempat sampah, dan lainnya di masing-masing obyek,” terangnya.

Menyoal mahalnya biaya wisata di obyek-oyek minat khusus seperti di Raja Ampat yang kerap dikeluhkan wisatawan domestik, Winarno menjelaskan itu tergantung kelengkapan dan kualitas fasilitas obyek tersebut. “Bisa jadi investor yang membangun obyek tersebut, sejak semula memang membidik pangsapasarnya untuk wisatawan asing dengan tarif sesuai kualitas dan kelengkapan fasilitasnya. Kalau tarifnya diturunkan, mungkin mereka sulit balik modal atau dapat untung,” jelasnya.

Kemenbudpar, lanjut Winarno tidak bisa campur tangan dalam urusan penetapan biaya atau tarif dalam menikmati obyek tersebut, karena itu urusan investor atau pengelolanya. “Pemerintah hanya mengembangkan supaya obyek tersebut semakin berkembang dan dikunjungi wisatawan dengan cara menyediakan sarana dan prasarananya,” ungkapnya.

Menjual paket wisata minat khusus dengan harga murah, menurut Winarno juga bukanlah solusi tepat untuk menjaring banyak wisatawan. “Biarlah paket tersebut mahal karena memang tidak ada di negara lain. Yang terpenting bagaimana kita mengemas keunikan setempat dengan baik dan menarik serta menjaga keamanan dan kenyamanan agar wisatawan betah dan lebih lama tinggal,” terangnya.

Menyinggung diskusi hari ini yang juga menghadirkan pembicara wartawan senior H Khodiyat dengan moderator Koko Sudjatmiko, Winarno menjelaskan tujuannya antara lain untuk meningkatkan wawasan pers khusus Budpar sekaligus peranan Humas Budpar dalam mempermudah kinerja wartawan dalam peliputannya. “Diskusi ini sebagai titik awal membuka wacana baru kerjasama antara Kemenbudpar dengan media. Dan akan dilanjutkan dengan diskusi-diskusi berikutnya,” janjinya.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Minggu, 04 April 2010

Memupuk Multikulturalisme di Lembah Hijau



Sejumlah pelajar Sekolah Mene-ngah Pertama (SMP) se-DKI Jakarta baru saja mengikuti kegiatan sosialisasi budaya damai dalam masyarakat multikultural di Indonesia dalam bentuk dialog interaktif dan outbond. Acara yang digelar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata ini berlangsung di Lembah Hijau Mountain Resort Hotel, Ciloto, Puncak, Jawa Barat, selama 2 hari Sabtu-Minggu (3-4/4).

Ada 30 SMP se-DKI Jakarta yang mengikuti kegiatan ini. Masing-masing sekolah diwakili 2 pelajar berprestasi yang ditunjuk oleh masing-masing sekolah dan mendapat ijin dari orang tua. Karena sesuatu hal, antara lain sakit, 3 pelajar berhalangan hadir sehingga jumlah peserta yang mengikuti kegiatan ini 57 pelajar berbeda suka, budaya, dan agama.

Rombongan pelajar berangkat dengan 3 bus dari halaman Gedung Sapta Pesona, Jakarta pukul 7.20 WIB menuju Puncak Bogor. Setibanya di lokasi, langsung menuju aula Lembah Hijau Resort untuk mengikuti acara pembukaan.

Acara dibuka secara resmi oleh Sekretaris Jenderal Kemenbudpar, Wardiyatmo setelah Staf Ahli Menteri Bidang Multikultur Kemenbudpar Sri Rahayu Budiarti menyampaikan laporan kegiatan ini. Menurut Sri Rahayu Budiarti dengan kegiatan ini diharapkan Kemenbudpar mendapat masukan mengenai potret pelajar khususnya para siswa SMP mengenai pandangannya sebagai anak Indonesia baik kendala, peluang maupun harapannya. “Berdasarkan itu, Kemenbudpar dapat menyusun kebijakan multikulturalisme yang bermuara pada pembangunan karakter dan jatidiri bangsa sejak dini,” jelasnya.

Dalam sambutannya Wardiyatmo berpesan kepada panita untuk menyampaikan pembekalan sosialisasi budaya damai ini dengan bahasa sederhana sesuai tingkatan pelajar SMP “Bisa lewat mendongeng, diselingi pantun atau puisi dan permainan yang menarik agar makna multikurlturasilme mudah diserap pelajar dalam prilaku nyata,” imbuhnya. Sedangkan bagi peserta, Wardiyatmo berpesan agar pelajar menceritakan kepada teman-temannya apa saja yang didapat dalam pembekalan sosialisasi budaya damai ini.

Usai makan siang, peserta mengikuti dialog interaktif dengan menghadirkan 3 narasumber yang dipandu Asep Kambali, pendiri Komunitas Historia Indonesia, pencinta bangunan bersejarah sebagai moderator. Pembicara pertama pendongeng anak sekaligus guru besar UI Murti Bunanta yang membawakan beberapa dongeng terkait multikulturalisme.

Pembicara kedua pemuda berprestasi Shofwan Al Banna Choiruzzad yang menyajikan makalah bertajuk "Jangan Cuma Superter Bola!" yang mengajak peserta untuk menjadikan agama sebagai inspirasi bagi kemajuan dan kedamaian.

Dilanjutkan pembicara ketiga Aisah Dahlan dengan mengetengahkan bahasan "Multikulturalisme Dalam Perspektif Nasional" yang mengajak peserta untuk memahami bahwa manusia diciptakan Tuhan dalam keanekaragaman kebudayaan, oleh karena itu pembangunan manusia harus memperhatikan keanekaragaman tersebut. “Dalam konteks pembangunan Indonesia, harus didasarkan atas multikulturalisme mengingat kenyataan negeri ini berdiri di atas keragamanan budaya,” jelas Aisah.

Dalam dialog interaktif, sejumlah pelajar ikut aktif berdialog dengan melontarkan pertanyaan yang menarik dan membuat narasumber tercengang.

Selepas makan malam, acara dilanjutkan dengan pengumuman juara lomba esai. Menurut Sri Rahayu Budiarti, esai yang dibuat masing-masing pelajar bagus semuanya, sesuai dengan tema multikulturalisme. Tim juri akhirnya menentukan 6 pemenangnya, yakni:
-Harapan III Umi Latifah dari SMU 84 Jakarta Utara, judul “Aku Bangga Indonesia Kaya akan Alam dan Budaya”.
-Harapan II Adityo Binowo dari SMP Kolese Kanisius Jakarta Pusat, judul “Memandang Masa Depan Indonesia”.
-Harapan I Hani Ramadhani dari SMP 75, judul “Jadikan Indonesia Permata Dunia Melalui Museum”.
-Juara II Muhammad Arlis dari SMPN 115 Jaksel, judul “Menjaga Potensi Bangsa Indonesia dan Melestarikan Menjaga Keanekaragaman Budaya”.
-Juara I, A. Szami Ilham dari SMP Labschool Kebayoran, judul “Aku Ingin Berbuat Sesuatu untuk Indonesia yang Lebih Baik”.
-Juara I Irfan Fadillah dari SMP Budi Luhur, judul “Mengapa Kasus Pengklaiman Budaya Indonesia oleh Negara Lain Dapat Terjadi?”. Pemenang pertama berhak atas hadiah uang sebesar Rp 750.000.

Dalam esainya, Irfan yang berhasil menjadi juara pertama mempertanyakan mengapa banyak budaya Indonesia yang diklaim oleh negara lain seperti angklung, batik dan lainnya. Pelajar kelas 1 ini juga mengungkapkan keperhatiannya terhadap realita banyaknya Warga Negara Indonesia yang tidak bangga dengan kebudayaannya sendiri. “Buktinya kalau berwisata banyak orang Indoensia yang lebih senang ke Singapura atau Malaysia, cuma untuk belanja. Padahal di Indonesia lebih banyak dan indah obyek wisata dan budayanya,” jelasnya.

Mendaki Bukit
Pada hari kedua, usai sarapan, peserta melakukan kegiatan outbond dengan mendaki bukit di belakang penginapan. Peserta di bagi menjadi beberapa kelompok. Peserta harus mendaki medan menanjak dan berhutan pinus serta melewati beberapa pos yang dijaga panitia. Di setiap pos, kelompok peserta diberi pertanyaan seputar obyek wisata dan budaya serta menyanyikan lagu daerah dan nasional.

Kemudian peserta kumpul di tengah lapang rumput untuk memainkan sejumlah games yang bertujuan membentuk kerjasama kelompok (team building). Lagi-lagi, panitia yang dipandu oleh Remaja Islam Sunda Kelapa (RISKA) selaku event organizer kegiatan ini, memberikan permainan yang bermuatan multikulturalisme. Seluruh peserta nampak begitu antusias menikmati permainan di lapangan rumput hijau berudara sejuk pegunungan, berpemandangan indah berlatar Gunung Gede dan Pangrango serta sejumlah perbukitan khas kawasan Puncak.

Sebelum kegiatan ini ditutup secara resmi oleh Sri Rahayu Budiarti yang mengikuti acara dari awal hingga akhir. Panita memberikan penghargaan baik kepada peserta, tim juri, dan panitia RISKA. Ada penghargaan untuk peserta terbaik, teraktif, dan peserta tergokil (tergila).

Terpilih sebagai peserta terbaik dalam kegiatan Sosialisasi Budaya Damai ini, A. Szami Ilham dari SMP Labschool Kebayoran. Menurut pelajar kelas 2 berusia 13 tahun ini, banyak manfaat yang didapat dari kegiatan ini antara lain mendapat banyak teman, ilmu, dan rasa cinta tanah air serta pemahaman keragaman suku dan budaya bangsa ini. “Saya berharap kegiatan ini dapat diteruskan setiap tahun dan kalau bisa waktunya diperpanjang lagi agar lebih banyak kegiatan yang didapat,” imbaunya.

Usai makan siang, rombongan peserta menuju Istana Bogor. Sepanjang perjalanan menuju istana presiden tersebut macet. Untungnya rombongan tiba pukul 4 sore lebih dan petugas istana masih mengijinkan masuk.

Selepas menikmati sejumlah koleksi di dalam dan di luar serta serta berfoto bersama di depan Istana Bogor, rombongan kembali ke Jakarta. Sepanjang perjalanan, nampak kehangatan antar pelajar berbeda sekolah ini terjalin lebih akrab, tidak seperti sewaktu berangkat. Canda dan gurau tercipta di dalam bus yang diisi kelompok 1 dan 2, menghadirkan tawa tiada putus. Rupanya kegiatan Sosialisasi Budaya Damai yang baru saja dilakukannya, berhasil memupuk mutikulturalisme di antara mereka.

Naskah & Foto: Adji Kurniawan (adji_travelplus@yahoo.com)

Read more...

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP