. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Senin, 05 Februari 2024

Jelajah Baduy Luar saat Baduy Dalam Kawalu, Ini Sederet Kegiatan dan Kelebihannya


Berdasarkan keputusan Lembaga Adat Tangtu Tilu Jaro, Tujuh Lembaga Adat Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, melalui Kepala Desa Kanekes, tiga kampung inti di Baduy Dalam (Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik) ditutup untuk kunjungan wisata sepanjang Kawalu mulai Selasa 13 Februari - 13 Mei 2024 atau selama tiga bulan. 

Informasi tersebut tertuang dalam surat pemberitahuan penutupan seba budaya Baduy pada bulan Kawalu (Bulan Larangan Adat) yang ditandatangani Saija selaku kepala Desa Kanekes pada 1 Februari 2024 yang kemudian diunggah oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak di akun Instagram (IG)-nya @disbudparlebak.

Unggahan surat tersebut mendapat respons warganet. Ada yang bertanya bagaimana dengan Baduy Luar? Apakah boleh dikunjungi? 


Amatan TravelPlus Indonesia, ada juga warganet yang menjawab pertanyaan tersebut yang intinya penutupan kunjungan wisata sebagaimana tersebut di surat pemberitahuan tersebut hanya berlaku untuk Baduy Dalam (wilayah Tangtu) sedangkan Baduy Luar (wilayah Panamping) masih menerima kunjungan wisata.

Supaya lebih yakin TravelPlus pun langsung menghubungi orang Baduy atau urang Kanekes, Mursid dan Misja.

Menurut Misja yang tinggal di Cibeo, salah satu kampung inti di Baduy Dalam, selama Kawalu pengunjung memang tidak diizinkan masuk wilayah Baduy Dalam. "Kalau Baduy Luar masih boleh," ungkapnya lewat pesan WA.

Mursid, abang kandung Misja yang menetap di kampung Baduy Luar membenarkan hal itu. "Kalau berkunjung ke Baduy Luar, masih boleh kok," balasnya.


Berdasarkan pengalaman TravelPlus mengunjungi Baduy Luar tahun lalu bersama rekan Marno, Djoko, Sonny, dan Hendrik saat Baduy Dalam dilarang dikunjungi karena warganya sedang Kawalu, ada sederet kegiatan wisata yang kami lakukan selama berkunjung di kawasan Panamping tersebut.

Sederet kegiatan wisata yang kami lakukan antara lain menginap di imah (rumah) warga Baduy Luar, melihat rutinitas keseharian warga Baduy luar, menyambangi Dangdang Ageung, melintasi Jembatan Bambu, mengunjungi Jembatan Akar, dan belanja aneka kerajinan tangan khasnya.


Kami memilih menginap semalam di Sulah Nyanda atau rumah khas orang Baduy, tepatnya di kediamannya Mursid di Kampung Cempaka, Baduy Luar, Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.

Suasananya agak sepi karena lebih sedikit rumah warganya dan dekat dengan Situ Dangdang Ageung yang juga lebih dikenal dengan nama Danau Baduy.

Kenapa kami menginap semalam di Sulah Nyanda? Ya supaya kami dapat merasakan atmosfer yang sangat berbeda dengan di kota. Jauh lebih hening lantaran berada di perkampungan yang dikelilingi pepohonan perkebunan/ladang beberapa di antaranya dekat dengan sungai.


Selain itu lebih gelap lantaran meraka pantang memakai penerang listrik. Kelebihan lainnya dapat merasakan seperti berada di masa lampau serta lebih back to nature karena rumahnya berkonsep ekologis terbuat dari material alam seperti kayu, bambu, batu kali sebagai alas tiang-tiang kayu penyangganya, dan daun rumbia kering sebagai atapnya.

Aktivitas berikutnya, saat menginap atau berada di kampung Baduy Luar, kami  melihat bermacam rutinitas keseharian pemilik rumah ataupun tetangganya, misalnya ngobrol santai dengan pemilik rumah terutama dengan kepala rumah tangganya.

Kami juga melihat pemilik rumah memasak dari bahan-bahan masakan seperti mie, ikan kaleng, minyak goreng, telor, garam, kopi, dan gula serta beras yang kami bawa, lalu makan bersama dengan menu tambahan dari mereka seperti pete dan sambal.

Di kampung Baduy Luar lainnya, kami juga sempat melihat aktivitas warga menenun, membuat gula aren, dan lainnya. Kalau nanti anda ingin mengabdikan rutinitas mereka, sebaiknya meminta izin terlebih dahulu. Kalau mereka berkenan, ya silakan abadikan.


Aktivitas selanjutnya kami menyambangi Dangdang Ageung atau "Danau Besar" yang berada sekitar sekitar 10 menit berjalan kaki melewati setapak alami dari Kampung Cempaka. Kami dipandu Indra, putra sulungnya Mursid yang masih bocil (bocah kecil).

Di danau alami yang dihuni beberapa jenis ikan tawar seperti nila itu kami mengabadikan pesonanya. Di sekelilingnya didominasi pohon palem. 


Besok paginya, usai sarapan kamu lanjut  mengunjungi Jembatan Bambu, salah satu spot ikonis yang ada di Baduy luar, tepatnya di sisi Barat wilayah Baduy. Dari kampung Cempaka ke Jembatan Bambu yang berada di Kampung Gajeboh butuh waktu sekitar 1 jam berjalan kaki di setapak alami dengan medan naik turun. Kami kembali dipandu Indra, yang langkahnya begitu cepat.

Di beberapa titik, kami menikmati pemandangan bentangan hutan berlatar gunung di kejauhan, perkebunan, dan hamparan padi huma (ladang) yang merupakan jenis padi tadah hujan.


Setibanya di jembatan yang terbuat dari bambu yang terbentang di atas sungai Ciujung di antara dua pohon Angsana yang besar, kami meniti dan mengabadikannya. Sebelumnya kami sempat bermain air, foto-foto di bebatuan sungai, dan istirahat sejenak di beberapa warung yang menjual bermacam makanan/minuman ringan dan suvenir di sana.

Jembatan Akar
Kegiatan menarik kami selanjutnya, menyambangi spot alam ikonis lain yang ada di Baduy Luar yakni Jembatan Akar yang terbentang di atas sungai Cisimeut selebar sekitar 30 meter, tepatnya di seputar Kadukohak - Penyerangan di wilayah Baduy sisi Timur.

Ada dua pilihan menjangkau jembatan yang kabarnya sudah berusia lebih dari 1 abad itu dari Kampung Cempaka. Pertama, jalan kaki dari belakang kampung dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Kami memilih alternatif kedua, turun ke Ciboleger lanjut naik ojek sepeda motor ke Warung Pojok. Ongkosnya Rp 100 ribu per orang pergi-pulang. Waktu tempuhnya jelas lebih singkat.


Selanjutnya dari Warung Pojok (luar Baduy), kami dipandu Misja kemudian berjalan kaki lewati jalan lebar berbatu, kemudian masuk ke setapak alami dengan trek naik turun, lalu menyeberang jembatan menuju Kampung Barata (kampung Baduy Luar) hingga ke Jembatan Akar dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam.

Aktivitas yang kami lakukan di Jembatan Akar yang menghubungkan masyarakat Baduy dengan dunia luar itu, tentu saja menitinya hingga ujung dan mengabadikannya. Selain itu bersih-bersih atau mandi di sungainya atau berfoto-foto di bebatuan sungai. TravelPlus dan Misja sempat mandi di sungai itu.


Sebelum pulang, kami sempatkan belanja  membeli aneka kerajinan tangan atau suvenir khas Baduy buat oleh-oleh. Sebelumnya kami sudah beli beberapa jenis kerajinan di kediaman Mursid.

Jenis kerajinan khas Baduy cukup banyak antara lain tas koja (tas rajut), tas kepek, kain tenun beraneka motif dan warna, ikat kepala, bermacam gantungan kunci/gelang/kalung, baju orang Baduy berwarna hitam atau putih, kaos bertuliskan Baduy atau gambar rumah Baduy/peta wilayah Baduy, topi/tudung kepala, aneka anyaman, parang/golok, bermacam miniatur rumah Baduy, mangkuk/cangkir dari tempurung kelapa, dan gelas dari bambu. Sedangkan hasil bumi yang bisa dibeli antara lain gula aren, madu hutan, durian, jengkol, pete, dan lainnya.

Kami sarankan, sebaiknya memang membelinya di rumah orang Baduy tempat Anda menginap. Jika tidak ada, baru membelinya di tempat/kampung lain seperti di perjalanan sebelum ke Kampung Gajeboh, sekitar Ciboleger, dan lainnya. 

Berapa harga gula aren dan madu asli Baduy sekarang? Lewat pesan WA, Misja kembali membalas WA TravelPlus.

"Gula aren dalam kemasan per bungkusnya  30 ribu. Kalau yang dibungkus daun cuma 12 ribu. Sedangkan madu botol kecil 75 ribu dan yang besar 120 ribu," jawabnya dengan menyertakan foto gula aren.


Kelebihan menjelajah ragam daya tarik  Baduy Luar sebagimana tersebut di atas saat Baduy Dalam ditutup untuk kunjungan wisata karena Kawalu, suasananya justru jauh lebih tenang. Kenapa? Ya karena pengunjung yang datang tidak terlalu banyak. 

Kelebihan lainnya, punya waktu agak lebih lama (tidak terburu-buru) untuk mengabadikan setiap daya tarik yang ada di Baduy Luar, sehingga lebih puas.

Naskah & foto: Adji TravelPlus IG @adjitropis & TikTok @FaktaWisata.id

Captions:
1. Tugu Selamat Datang di Ciboleger, pintu masuk menuju wisata budaya dan alam Baduy.
2. Surat pemberitahuan penutupan seba budaya Baduy pada bulan Kawalu tahun 2024. (foto: dok. @disbudparlebak)
3. Berfoto di pintu masuk menuju Baduy via Ciboleger.
4. Makan bareng Misja (orang Baduy Dalam) di rumah Mursid (abangnya) yang berada di Kampung Cempaka, Baduy Luar.
5. Melewati salah satu kampung di Baduy Luar.
6. Situ Dangdang Ageung atau disebut juga Danau Baduy. 
7. Indra (putra sulungnya Mursid) jadi pemandu kami ke Kampung Gajebo dan Jembatan Bambu.
8. Jembatan Bambu di atas Sungai Ciujung.
9. Misja mandi di Sungai Cisimeut, tepat di bawah Jembatan Akar yang ikonis.
10. Gula aren salah satu oleh-oleh khas Baduy dalam kemasan dan bungkusan daun. (foto: dok. Misja)
11. Jelajah daya tarik Baduy Luar saat Baduy Dalam ditutup karena Kawalu, justru banyak kelebihannya.


0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP