. q u i c k e d i t { d i s p l a y : n o n e ; }

Rabu, 30 Desember 2020

Gambaran Kondisi Hutan dan Kehutanan Indonesia Terangkum di Buku Ini, Namanya SOIFO 2020


SOIFO itu kependekan dari The State of Indonesia's Forest, yaitu buku yang merangkum dengan sebaik dan se-sistematis mungkin kebijakan kehutanan Indonesia. 

Begitu penjelasan Menteri LHK Siti Nurbaya setelah meluncurkan buku tersebut dalam acara Refleksi Akhir Tahun 2020 bertajuk "SOIFO 2020, HINTS, dan SEEK 2021" di Jakarta, Rabu (30/12).

Saat menyampaikan refleksi kinerja KLHK selama tahun 2020 dan persiapan langkah-langkah sektor LHK tahun 2021, Menteri Siti menjelaskan kalau buku SOIFO 2020 ini merangkum dengan sebaik dan se-sistematis mungkin kebijakan kehutanan Indonesia yang bisa dilihat saat didalami buku ini, dimana terdapat pemantapan nilai-nilai serta pemantapan sasaran nasional.

Buku ini menginformasikan berbagai tindakan strategis dan cepat yang dilakukan terhadap berbagai persoalan dalam pengelolaan hutan Indonesia, terutama berbagai persoalan yang menjadi perhatian dunia internasional, antara lain seperti luas dan tutupan hutan, deforestasi dan degradasi hutan, peran masyarakat dalam pengelolaan hutan, pengelolaan kawasan konservasi, kebijakan pengelolaan hutan Indonesia dan komitmen Indonesia, implementasi dalam upaya pengendalian perubahan iklim global (climate change), serta kontribusi ekonomi dari hutan & peran swasta. 


Sebagaimana buku SOIFO 2018 yang telah mendapat sambutan positif masyarakat internasional, Menteri Siti berharap buku SOIFO 2020 ini juga dapat menjadi referensi utama perkembangan dan kemajuan tentang status kehutanan di Tanah Air sekaligus menjelaskan berbagai tindakan dan kebijakan yang ditempuh oleh pemerintah dalam memenuhi amanat konstitusi.

Dari catatan yang dimiliki KLHK, lanjut Menteri Siti, sebetulnya tidak banyak negara yang mampu menyusun status hutan dan kehutanan nasionalnya.

"Jadi kita Indonesia boleh berbangga telah berhasil menyusun SOIFO 2 tahun sekali," ungkapnya seraya berharap SOIFO 2020 juga akan terus diperbaharui pada masa-masa mendatang.

Bagi pemerintah Indonesia, sambung Menteri Siti, gambaran keadaan hutan dan kehutanan Indonesia dalam SOIFO 2020 dapat dianggap sebagai sebuah dokumen politik yang merefleksikan proses partisipatif dalam mencapai konsesus berbagai pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan hutan Indonesia yang menunjukkan konsistensi corrective actions dan dapat menjadi referensi internasional.

"Kehadiran buku ini menjadi bukti penting untuk 'Write what you do' dan 'Do what you write'. Jadi tulis apa yang kamu kerjakan, jangan mengarang-ngarang," ungkap Menteri Siti.


Penasihat Senior Menteri LHK Efransjah, selaku editor pelaksana SOIFO 2020 mengatakan buku ini menunjukkan kepada dunia internasional tentang transparansi pengelolaan kehutanan di Indonesia.

"Kita menyajikan apa adanya dalam buku ini. Meski begitu, silahkan saja kalau ada yang mau membahas dari aspek keilmuan lain misalnya," ujarnya.

Bekerjasama dengan Food and Agriculture Organization (FAO), buku SOIFO pertama kali diterbitkan pada tahun 2018, dan mendapat respons positif khususnya dari kalangan internasional. Berdasarkan pengalaman tersebut, SOIFO akan diperbarui secara berkala, untuk memenuhi harapan publik.

FAO Indonesia Representative Ad Interim, Richard Trenchard menyampaikan apresiasi atas peluncuran SOIFO 2020 ini.

"Buku yang luar biasa, mencakup laporan hutan dan kehutanan Indonesia yang disusun dengan baik. Buku ini saya harap dapat dibaca tidak hanya di level nasional, tetapi juga di tataran internasional," ucap Richard.


Apresiasi terhadap SOIFO 2020 juga datang dari pelaku usaha kehutanan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) Indroyono Soesilo, mengatakan publikasi ini akan menjadi referensi bagi khalayak luas, khususnya bagi kalangan pelaku usaha kehutanan.

"Saya ingat pada tahun 2018, kami sempat bingung untuk mencari sumber informasi dan data kehutanan Indonesia. Oleh karena itu, kehadiran buku ini sangat membantu kami mendapatkan referensi yang kredibel," ujarnya.

Acara Refleksi Akhir Tahun 2020 yang digelar secara hybrid (offline & online) dan dipandu Prita Laura ini juga dihadiri Wakil Menteri LHK Alue Dohong dan seluruh jajaran pejabat tinggi KLHK.

Acara ini bertujuan mengevaluasi atas pekerjaan setelah perencanaan dan pelaksanaan, sekaligus guna merenungkan kembali suatu tindakan yang telah dilakukan, memahami proses masalah maupun kendala yang dihadapi, sehingga dengan refleksi ini harapannya bisa menjadi landasan dan pertimbangan untuk perbaikan kedepan.

Naskah: adji kurniawan (kembaratropis@yahoo.com, ig: @adjitropis)
Foto: adji & screenshot pdf buku soifo 2020

0 komentar:

Film pilihan

Bermacam informasi tentang film, sinetron, sinopsis pilihan
Klik disini

Musik Pilihan

Bermacam informasi tentang musik, konser, album, lagu-lagu pribadi dan pilihan
Klik disini

Mencari Berita/Artikel

  © Blogger templates Psi by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP