Keuntungan Nanjak Nge-camp Gunung Kembang Diluar Akhir Pekan dan Tipsnya
Mendaki Gunung Kembang via Lengkong secara nge-camp diluar akhir pekan membuahkan sederet keuntungan, di antaranya atmosfernya jauh lebih santai dan lengang.
Sebelum TravelPlus Indonesia jelaskan kenapa bisa begitu serta keuntungan lainnya, ada baiknya kita telusuri terlebih dulu alamat dan keberadaan basecamp (BC) pendakian gunung berketinggian 2340 meter di atas permukaan laut (Mdpl) tersebut.
BC pendakian Gunung Kembang via Lengkong beralamat di Dusun Salaman, Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah (Jateng).
Biasanya pendaki yang datang dari sekitar Jateng lebih dominan mengunakan sepeda motor. Sedangkan dari luar Jateng selain motor juga ada yang membawa mobil pribadi atau mobil rombongan open trip (OT). Tak sedikit pula yang menggunakan moda transportasi umum.
Pendaki yang datang dari Jabodetabek dengan kendaraan umum, lebih memilih menggunakan bus dengan tujuan Terminal Mendolo, Wonosobo. Kemudian ke BC dengan ojek sekitar Rp40.000 – Rp50.000 per orang. Bila datang dalam kelompok kecil (small group) biasanya sewa mobil jenis pick up atau bakter dan lainnya sekitar Rp200.000 untuk kapasitas minimal 5 orang ke BC Lengkong.
Di BC lanjut registrasi dengan tarif Rp30.000 per orang. Kalau bawa motor biaya parkir Rp10.000 dan Rp25.000 untuk mobil. Dari BC ke Pos 1 bila mengunakan ojek gunung Rp25.000 per orang. Oiya, jangan khawatir, tukang ojek gunungnya ramah dan menggunakan motor yang rata-rata besar sehingga aman saat melewati tanjakan terjal maupun turuan curam dan berbatu.
Seusai registrasi di BC, setiap pendaki juga harus melaporkan jumlah dan jenis logistik yang dibawa selama pendakian seperti botol minuman, bungkus/kemasan makanan, plastik (kantong, jas hujan), dan lainnya.
Harus diingat, sampah logistik yang dibawa setiap pendaki harus dibawa turun dan dilaporkan kembali ke petugas BC dengan jumlah yang sama sewaktu dilaporkan, sekalipun itu cuma bungkus permen, puntung rokok filter, kemasan minuman sachet, dan lainnya.
Penerapan sungguh-sungguh atas peraturan yang kental bermuatan pro konservasi alam itulah yang membuat jalur pendakian Gunung Kembang, akhirnya mendapat predikat sebagai jalur pendakian gunung terbersih se-Indonesia sekalipun beberapa tahun belakangan ini merupakan jalur pendakian yang ramai peminatnya.
Fasilitas BC Lengkong sendiri terbilang lumayan memadai antara lain ada lahan parkir, ruang istirahat, kamar mandi, dan toilet. Di seberangnya ada rental peralatan pendakian dan merchandise, warung sembako, dan pujasera "Pasar Manis" yang menjual aneka makanan seperti nasgor, soto ayam, mie rebus, gorengan, dan lainnya dengan harga standar.
Kembali ke perihal keuntungan pendakian Gunung Kembang via Lengkong secara nge-camp diluar akhir pekan, yang pertama yakni jauh lebih santai lantaran durasi pendakiannya lebih panjang daripada tektok karena menginap semalam di puncak yang menjadi area camp.
Waktu keberangkatan dari BC ke Pos 1 pun bisa dimulai pukul 9 pagi atau setelah sarapan dengan menggunakan ojek gunung. Jadi start pendakiannya bukan tengah malam sebagaimana pendakian tektok agar bisa melihat pesona matahari terbit (sunrise) di puncak.
Lebih lengang, lantaran pendakian Gunung Kembang pada hari kerja atau weekday (Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis) jumlah pendakinya tidak seramai dibanding pada akhir pekan atau weekend (Sabtu-Minggu) apalagi saat long weekend dan libur panjang.
Keuntungan lainnya jauh lebih leluasa melakukan berbagai aktivitas menarik dan bermanfaat serta lebih nyaman karena bisa istirahat sejenak di setiap pos sehingga fisik tidak terlalu capek.
Aktivitas yang dapat dilakukan dalam pendakian Gunung Kembang via Lengkong secara nge-camp antara lain mengabadikan spot-spot buatan maupun alam yang menarik atau beda dengan yang ada di gunung lain.
Spot buatannya antara lain dimulai dari depan BC. Di sini biasanya para pendaki berfoto bersama berlatar belakang tulisan "Basecamp Pendakian Gunung Kembang via Lengkong", sebelum naik ojek gunung atau berjalan kaki ke Pos 1.
Spot buatan selanjutnya gerbang kayu berwarna coklat bertuliskan "Gunung Kembang via Lengkong" berikut dengan lambang Perhutani dan plang Pos 1 atau Gerbang Ndeles berwarna merah yang berada di ketinggian 1689 Mdpl dengan tulisan berwarna putih.
Di pos yang menjadi pemberhentian terakhir ojek gunung dari BC tersebut, juga ada beberapa warung yang menjual aneka minuman dan makanan ringan seperti gorengan tempe. Di sini, biasanya ketua rombongan pendaki memberikan arahan dan memimpin doa bersama sebelum memulai pendakian.
Spot buatan selanjutnya plang Pos 2 (Pakis Suri) di ketinggian 2851 Mdpl, plang Pos Mata Air 1 (di sini pendaki bisa mengambil/meminum airnya bila tidak kering), plang Pos 3 (Ngratan) 2005 Mdpl, plang Pos 4 (Igir Bima) 2064 Mdpl, plang warna hitam dengan tulisan "Tanjakan Sakit Hati" berwarna putih, plang Mata Air 2, papan kayu berwarna coklat bertuliskan "Awas Jurang" berwarna putih, plang Pos 5, dan gerbang kayu berwarna coklat bertuliskan "Pelawangan" berwarna putih, dan tentu saja beberapa plang berlabel "Puncak Gunung Kembang" di area puncak.
Tak jauh dari area puncak menuju kaldera, ada plang kayu bertuliskan "Pintu Langit, dan bila trekking ke atas akan menemukan spot plang kayu bertuliskan "Bongkeng Sunrise Camp".
Adapun sederet spot alamnya antara lain pintu/gerbang alami dari pohon serta kelebatan dan ketedukan hutan yang berada setelah Pos 3 menuju Pos 4.
Selain itu kalau beruntung bisa mengabadikan beberapa satwa burung di sekitar Pos 4 dan puncak, melihat dan merasakan langsung Tanjakan Sakit Hati, dan sabana di pelawangan serta sederet spot alam di kawasan puncak seperti lautan awan, sunrise dengan sederet gunung antara lain Sindoro (paling dekat), Sumbing, Merapi, Merbabu, dan Telemoyo selepas subuh.
Tak kalah menariknya, mengabadikan spot alam milky way, bulan purnama berlatar ranting pepohonan, dan city light pada malam dan dini hari bila cuaca lagi bersahabat. serta menyusuri kaldera yang dikenal dengan nama Kawah Bimo Pengkok pada pagi dan siang hari.
Namanya pendakian nge-camp tentu saja harus membawa perlengkapan bermalam yang nyaman dan memadai sesuai jumlah pendaki yang ikut antara lain tenda, foot print, flysheet berikut dengan tiang, tali prusik, dan pasaknya, matras, lampu tenda, sleeping bag, dan pakaian tidur yang hangat termasuk kaos kaki.
Membawa pula perlengkapan masak dan makan antara lain kompor gas, gas kaleng, nasting, piring, sendok, gelas, pisau, dan lainnya.
Tak ketinggalan logistik buat makan siang, makan malam, dan sarapan. Bekal makan siang bisa membeli nasi bungkus di warung pujasera dekat BC.
Berikutnya memakai perlengkapan trekking seperti sepatu trek dan kaos kaki yang nyaman, sandal jepit buat mondar-mandir di sekitar area camp, treking pole, head lamp/senter kepala, celana dan pakaian yang nyaman dan mudah kering, dan jas hujan/ponco untuk antisipasi hujan.
Selanjutnya membawa serta perlengkapan dokumentasi antara lain kamera digital atau kamera HP, charger, dan atau drone.
Jika nanjaknya dalam kelompok sedang sekitar 8 orang sebaiknya membawa 2 tenda berkapasitas masing-masing 4 orang. Tapi kalau pesertanya ada yang berbadan besar, bisa ditambah lagi dengan satu tenda berkapasitas 2 orang.
Kalau tidak mau keberatan membawa beban, bisa menggunakan jasa satu porter lokal. Tugas porternya antara lain membawa perlengkapan tim seperti tenda, logistik, peralatan masak, dan makan lalu pasang bongkar tenda serta membawa turun sampah logistik tim.
Alternatif lain mengikuti open trip yang diadakan tour operator berpengalaman, tepat waktu keberangkatannya, dan yang sudah menyiapkan kendaraan terbaik untuk pergi pulang serta semua perlengkapan tidur khususnya tenda tim serta perlangkapan masak dan makan.
Khusus buat pendaki muslim yang ingin menunaikan salat zuhur dijamak dengan asar, bisa dilakukan di Pos 4 dengan menggelar matras atau sajadah traveling dan dengan ber-tayamum. Sedangkan salat magrib dan isya dapat dilaksanakan di dalam tenda di area puncak. Begitupun dengan salat subuh.
Bila mendakinya dilakukan pada hari Kamis dan keesokannya mau salat Jumat di masjid dekat BC Lengkong, sebaiknya turun dari puncak paling lambat Jumat pukul 8 pagi, supaya masih ada waktu buat bersih-bersih, mandi, dan makan siang di warung dekat BC sebelum menunikan salat Jumat.
Buat rombongan pendaki dari Jakarta yang menggunakan OT untuk mendaki Gunung Kembang secara nge-camp pada hari Kamis, usahakan mulai bergerak/berangkat dari titik kumpul pada hari Rabu pukul 3 sore, supaya tiba di BC Lengkong masih ada waktu untuk registrasi, istirahat sejenak, packing ulang, adaptasi dengan suhu setempat, dan pemanasan sebelum nanjak.
Bila menggunakan transportasi umum seperti bus, sebaiknya pilih bus dengan keberangkatan Rabu pagi.
Pendakian Gunung Kembang secara nge-camp ini cocok buat siapa saja peminat pendakian gunung, terutama pendaki berusia senja di atas 50 tahun. Selain itu cocok juga untuk new comer atau pendaki pemula dan atau yang baru kali pertama mendaki gunung serta buat pendaki yang ingin meng-eksplor flora dan fauna di sepanjang jalur pendakian Gunung Kembang secara lebih lama/leluasa.
Sederet keuntungan dan tips sebagaimana tercantum di atas merupakan hasil pengalaman dan pengamatan saya dari media online TravelPlus Indonesia, usai melakukan pendakian Gunung Kembang secara nge-camp semalam bersama Dion dari Indonesian Mountains dan Carter Pendaki, Willy (Jogja) tapi akhirnya memilih tektok, Trisnie-Jejakmakpacker (Depok), Boy dan istrinya Uci (Cipete, Jaksel), Icha (Kemayoran, Jakpus), dan Septi dari Depok serta Witno porter dari Patak Banteng-Prau.
Nah, buat traveler atau pembaca setia TravelPlus Indonesia yang punya rencana ingin melakukan pendakian Gunung Kembang seperti di atas dan ingin mengetahui kontak BC Lengkong, tour operator yang membuat open trip, sewa mobil, dan juga porter, bisa menghubungi TravelPlus Indonesia dengan cara DM akun IG @adjitropis. InsyaAllah, nanti saya balas dan kasih nomor kontak WA orang-orang tersebut.
Naskah & foto: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Captions:
1. Mengabadikan sepenggal pesona sunrise dari puncak Gunung Kembang.
2. Selfie bareng di depan BC pendakian Gunung Kembang via Lengkong. (foto: willy)
3. Dion dari Indonesian Mountains memberi arahan dan memimpin doa bersama sebelum memulai pendakian di Pos 1.
4. Ini bukti kalau jalur pendakian Gunung Kembang via lengkong layak menyandang predikat jalur pendakian gunung terbersih se-Indonesia.
5. TravelPlus Indonesia dengan porter dari Patak Banteng di gerbang Pos 1 sebelum turun ke BC Lengkong naik ojek gunung. (foto: tukang ojek gunung)
6. Mejeng sejenak di Pos 2.
7. Foto bareng di gerbang "Pelawangan" sebelum summit attack.
8. Sarapan di depan tenda usai puas mengabadikan sunrise. (foto: boy)
9. Mampir ke spot Bongkeng Sunrise Camp sebelum turun ke kaldera.
10. Sederet gunung terlihat jelas dari puncak Gunung Kembang antara lain Sindoro, Sumbing, Merapi. Merbabu, dan Telomoyo.
11. TravelPlus Indonesia, media online yang sejak dulu konsen memajukan sektor pariwisata, ekonomi kreatif, konservasi alam dan budaya, bukan hanya melakukan pendakian secara nge-camp pun sekaligus meliput dan menyebarluaskan keistimewaan Gunung Kembang lewat tulisan, nyanyian, dan konten video.












0 komentar:
Posting Komentar