11 Multiplier Effect Salat Id di Garung dengan View Dua Gunung bagi Pariwisata Wonosobo
Amatan TravelPlus Indonesia, sekurangnya ada sebelas (11) multiplier effect yang ditimbulkan dari kombinasi antara kegiatan ibadah dalam Islam ini dengan lokasi penyelenggaraannya yang istimewa di Garung yang memiliki pemandangan megah berupa dua gunung berketinggian di atas 3000 Mdpl tersebut, yakni Gunung Sumbing dan Sindoro.
Apa saja ke-11 efek positif yang ditimbulkannya? Sebelum TravelPlus Indonesia jelaskan satu persatu, ada baiknya kita pahami terlebih dulu multiplier effect dalam dunia pariwisata.
Multiplier effect atau dalam bahasa Indonesia "efek pengganda" merupakan efek/dampak positif yang muncul dan dirasakan berbagai pihak akibat dari adanya satu kegiatan atau daya tarik buatan manusia yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan di tempat tersebut.
Contohnya konser musik ataupun festival yang menampilkan antara lain band/penyanyi ternama yang memiliki banyak peminat atau yang tengah naik daun di venue indoor ataupun outdoor.
Ada pula yang bilang multiplier effect adalah efek/dampak positif dari adanya daya tarik alam yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan saat mengunjungi objek tersebut.
Contohnya pemandangan alam yang indah dari gunung-gunung yang ramah bagi pendaki pemula seperti Gunung Papandayan di Garut, Jabar; Prau (Kejajar, Wonosobo, Jateng); Andong (Ngablak, Megelang, Jateng); Kembang (via Lengkong, Wonosobo, Jateng); Luhur (Sukamakmur, Bogor, Jabar); Artapela (Kertasari, Bandung, Jabar); Gunung Batur di Kintamani, Bangli, Bali; dan gunung lainnya yang mampu menarik minat banyak pendaki untuk mendaki dan menggapai puncak gunung-gunung tersebut.
TravelPlus Indonesia sendiri berpendapat multiplier effect itu merupakan efek/dampak positif yang muncul dan dirasakan berbagai pihak akibat dari adanya kegiatan (daya tarik buatan manusia) ataupun daya tarik alam dan atau perpaduan antara dua daya tarik buatan manusia maupun kombinasi daya tarik buatan manusia dengan daya tarik alam yang mampu menjaring kunjungan wisatawan hingga terjadi perputaran uang yang dibelanjakan wisatawan di lokasi tersebut.
Contoh perpaduan 2 kegiatan (daya tarik buatan manusia) antara lain pagelaran musik di destinasi buatan yang menawan seperti Borobudur Symphony di Candi Borobudur, Magelang, Jateng serta Prambanan Jazz Festival dan Swara Prambanan di Candi Prambanan, Jogja dan Jateng.
Selain itu beberapa sport tourism seperti Borobudur Marathon di Magelang, Jateng serta MotoGP dan World Superbike (WSBK) di Mandalika Circuit, Lombok, NTB.
Adapun contoh kombinasi daya tarik buatan manusia dengan daya tarik alam antara lain Jazz Atas Awan dalam Dieng Culture Festival di Wonosobo, Jateng; Banyuwangi Beach Jazz Festival (pantai di Banyuwangi, Jatim); dan Jazz Gunung Series di Gunung Slamet, Jateng dan Ijen, Jatim.
Contoh lainnya sejumlah sport tourism seperti Tour de Singkarak di Sumbar; Tour de Banyuwangi Ijen (Banyuwangi, Jatim); Ironman Bintan (Bintan, Kepri); Belitong Geopark Ultra Run (Belitung, Babel); dan Liga Selancar Dunia atau World Surf League (WSL) Krui Pro di Pantai Tanjung Setia, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung.
Sementara yang menggabungkan kegiatan ibadah Islam dengan keindahan alam, satu di antaranya adalah pelaksanaan salat id di lapangan Garung yang berada di Kampung/Dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, Jateng.
Pantauan langsung TravelPlus Indonesia, salat Iduladha 1447 H tepatnya pada Rabu, 27 Mei 2026 di lapangan Garung yang area utamanya mampu menampung hingga 7.000 orang, jemaahnya sampai penuh bahkan meluber kemana-mana.
Kabarnya total jemaah yang hadir membludak kurang lebih 27.000 orang hingga lapangan tersebut tidak bisa menampung dan akhirnya jemaah banyak yang salat di jalanan, halaman depan rumah penduduk bahkan di bagian atas rumah/bagunan milik warga yang bertingkat maupun di rooftop-nya.
Diminati Ribuan Wisatawan
Mengapa pelaksanaan salat id di Garung masih begitu diminati ribuan wisatawan bukan cuma lokal pun nusantara bahkan mancanegara? Ya karena lokasinya memiliki daya tarik alam yang menawan, berupa megahnya pemandangan dua gunung yang masuk daftar gunung populer di Wonosobo yakni Gunung Sumbing di bagian Timur dan Gunung Sindoro di Barat. Ditambah suasananya yang syahdu (cuacanya sejuk dingin) dan punya muatan syiar Islam yang meneduhkan.
Ketiga pemicu itulah yang membuat TravelPlus Indonesia bukan sekadar datang ke Garung dan melaksanakan salat Iduladha tahun ini, pun meliputnya hingga menjadi beberapa tulisan dan konten video.
Apalagi kegiatan tersebut kerap terekpos dalam berita maupun artikel di sejumlah media online bahkan selalu viral di ragam medsos disertai dengan predikat atau julukan yang istimewa yakni "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" sebagaimana tertera di gapura atau gerbang/pintu masuk di jalan menuju lapangan Garung.
Berkat semua itu akhirnya banyak wisatawan yang belum pernah menjadi penasaran, lalu datang. Bahkan banyak wisatawan yang bertandang berkali-kali untuk merasakan lagi salat id di Garung, Wobosobo yang memang menghadirkan vibes yang berbeda.
Lalu apa saja 11 multiplier effect dari kegiatan salat id di kampung Garung tersebut buat sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo?
Efek positif yang pertama, bikin nama Garung mendunia. Bukan cuma lapangan Garung, pun kampung/dusun Garung, Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo, dan nama Provinsi Jawa Tengah ikut melangit. Bahkan 2 gunung di Wonosobo yang berada di depan dan belakang lapangan Garung yakni Gunung Sindoro dan Sumbing juga ikut terdongkrak lantaran mendapatkan banyak publikasi baik dari sejumlah wartawan media online maupun netizen/jemaah/wisatawan lewat ragam medsos seperti FB, IG, TikTok, dan YouTube.
Sejumlah objek lain seperti beberapa masjid, homestay, kedai kopi, pasar, tempat oleh-oleh, tempat kuliner, BC pendakian Gunung Sumbing via Garung, dan lainnya, termasuk yang ada di luar Garung juga ikut terangkat namanya dikarenakan tersiar lewat mulut ke mulut maupun terpublikasikan lewat tulisan, foto, dan konten video di berbagai media tersebut.
Dampak positif kedua, meningkatkan kunjungan wisatawan ke Garung yang otomatis berujung pada penambahan jumlah kunjungan wisatawan ke Kabupaten Wobosobo.
Wisatawan yang datang bukan cuma dari berbagai daerah di Jateng atau disebut wisatawan lokal (wislok) termasuk warga setempat yang merantau lalu mudik untuk berlebaran di kampung halaman, pun wisatawan dari luar Jateng seperti DKI Jakarta, Banten, Jabar bahkan dari Sumatra seperti Lampung, Sumsel, Riau, dan Sumbar serta beberapa provinsi dari pulau lainnya atau juga disebut wisatawan nusantara (wisnus). Bahkan pernah sampai didatangi sejumlah wisatawan mancanegara (wisman) dari Malaysia, beberapa negara dari kawasan Timur Tengah, dan Afrika.
Berikutnya atau efek positif yang ketiga, menarik kunjungan wisatawan minat khusus ke objek wisata pendakian Gunung terutama pendakian Gunung Sumbing, Sindoro dan gunung-gunung di sekitarnya antara lain Gunung Kembang.
Buktinya pada pelaksanaan salat id di lapangan Gaung tahun ini beberapa wisnus meluangkan waktu mendaki gunung. Ada yang nanjak Gunung Sumbing, Sindoro, dan tak sedikit yang memilih mendaki Gunung Kembang setelah ataupun sehari selepas salat Iduladha di Garung.
Dampak positif keempat, menarik kunjungan wisatawan ke objek-objek wisata non pendakian antara lain ke pemandian United Hotspring yang berada di Jl. Soeparjo Roestam, Andongsili, Wonosobo dengan harga tiket Rp 25 per orang, ke perkebunan teh Tambi, dan lainnya.
Efek positif kelima, meningkatkan hunian homestay atau penginapan yang ada di Garung dan daerah di sekitarnya seperti KunangKunang Homestay, Anjani Homestay, Berlin Homestay, Elkana View Homestay, dan lainnya.
Selanjutnya atau dampak positif yang keenam, meningkatkan penjualan kuliner.
Faktanya banyak wisatawan yang mampir ke street food warga yang ada di sepanjang jalan menuju lapangan Garung sebelum maupun sesudah salat id. Banyak pula yang sarapan dan santap siap dengan sego megono atau nasi megono khas Wobosobo dengan bermacam menu terutama tempe kemul juga khas Wobosobo di rumah-rumah makan lokal, dan ngopi santai di Kedai KunangKunang (K3} di samping Masjid Al-Amin. Pilihan lainnya, ada yang makan di warung pecel, bakso, nasgor, atau belanja di mini market yang ada di jalan raya di depan Garung.
Tak cuma itu, tak sedikit juga wisnus yang kulineran mie ongklok khas Wobosobo antaran lain ke mie ongklok Longkrang di Wonosobo Timur serta ke bebek dan ayam goreng Mas Budi di Kertek, Wonosobo.
Efek positif ketujuh, meningkatkan penjualan dari sektor ekonomi kreatif (ekraf) yang erat kaitannya dengan pariwisata.
Buktinya banyak juga wisnus yang belanja outfit thrifted/thrift items atau barang bekas untuk kegiatan outdoor yang masih sangat bagus seperti jaket/kaos untuk mendaki gunung di toko barang hemat (thrift shop) Agung yang berada sekitar 50 meter dari Masjid Al-Amin.
Ada juga yang membeli topi di toko serba ada di depan jalan raya dan atau menyewa peralatan mendaki di rental outdoor dan membeli aneka merchandise yang ada di Garung dan basecamp (BC) gunung lainnya.
Selain itu banyak juga yang memborong aneka oleh-oleh khas Wonosobo antara lain carica, opak, teh purwaceng dan lainnya di Sinsu Park yang beralamat di Jalan Raya Sindoro-Sumbing KM 17 atau di Pasar Reco, pasar tradisonal yang berada tak jauh dari Garung.
Faktanya banyak wisnus yang datang dengan menggunakan bus umum dari daerah asal ke Terminal Mendolo, Wonosobo lalu disambung naik bus ke Garung. Ada juga yang men-carter mobil milik warga Garung dari Terminal Mendolo ke Garung dan sebaliknya.
Daya Tarik Bertambah
Berikutnya atau efek positif yang kesembilan, menambah daya tarik dan jenis wisata yang sudah ada di Garung yang selama ini dikenal sebagai lokasi BC pendakian Gunung Sumbing, objek wisata alam, dan agrowisata kemudian bertambah menjadi destinasi wisata yang kental bernuansa religi Islam saat Idulfitri dan Iduladha dengan adanya pelaksanaan salat id di lapangan Garung setiap tahun.
Dampak positif kesepuluh, memicu tour/trip operator (TO) untuk membuat paket open trip (OT) salat id di lapangan Garung plus mendaki gunung.
Buktinya ada TO Indonesian Mountains yang mengemas OT tersebut saat Iduladha tahun ini ditambah dengan pendakian Gunung Kembang dengan total durasi 4 hari (Rabu - Sabtu).
Terakhir atau efek positif yang kesebelas, memacu semangat masyarakat Garung berikut panitia pelaksana salat id, dan stakeholder pariwisata setempat untuk terus berbenah menjadi tuan rumah yang benar-benar semakin siap, di antaranya mengatur pelaksanaan salat id dan menata kampung dan desa termasuk akomodasi, masjid, dan tempat jualan street food-nya menjadi lebih bersih, rapih, dan tertata sehingga membuat wisatawan yang datang betah, terkesan, lalu belanja, dan ingin datang lagi.
Bukan cuma itu. sejumlah warga Garung bukan hanya menyediakan tikar untuk alas salat id bagi wisatawan yang tidak kebagian tempat di lapangan Garung lalu salat id di jalanan atau di depan rumahnya pun menyuguhkan minuman teh dan sarapan dengan aneka menu khas rumahan, salah satunya di rumah Pak Abud yang memiliki usaha antar-jemput pendaki gunung dari Terminal Mendolo dengan mobil luxio dan atau pickup (bakter) ke BC Garung Gunung Sumbing atau ke BC gunung-gunung lainnya yang ada di Wonosobo. MasyaAllah baik dan ramahnya.
Kesebelas multiplier effect dari pelaksanaan salat id di Garung itu, tentu saja akhirnya bermuara pada peningkatkan jumlah kunjungan wisatawan bagi sektor pariwisata Kabupaten Wonosobo dan tak kalah penting sekaligus membuahkan penambahan pendapatan bagi masyarakat setempat.
Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis, Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Captions:
1. Jumlah jemaah/wisatawan yang mengikuti pelaksanaan salat Iduladha 1447 H, Rabu, 27 Mei 2026 di lapangan Garung, Wobosobo membludak sampai banyak yang salat id di jalanan dan depan rumah warga.
2. Selfie bareng bestie ba'da salat Iduladha 1447 H di Garung.
3. Masjid Al-Amin berlatar Gunung Sindoro namanya ikut terdongkrak saat pelaksanaan salat id di lapangan Garung setiap tahun.
4. Peserta open trip (OT) salat Iduladha 1447 H plus mendaki Gunung Kembang yang dirancang tour operator (TO) Indonesian Mountains, berfoto bersama di tepi lapangan Garung. (foto: dok/rekan jemaah/wisnus)
5. Selain di jalanan dan rumah warga, banyak pula wisatawan/jemaah yang salat Iduladha 1447 H di atas bangunan bertingkat karena lapangan Garung sudah penuh.
6. TravelPlus Indonesia bukan sekadar datang ke Garung dan melaksanakan salat Iduladha tahun ini, pun meliputnya hingga menjadi beberapa tulisan dan konten video.
7. Pintu gerbang bertuliskan "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" di jalan menuju lapangan Garung yang berlatar Gunung Sumbing.
8. Usai salat Iduladha 1447 H di Garung. banyak juga wisatawan minat khusus yang mendaki gunung di sekitar Wonosobo, antara lain Gunung Kembang seperti yang dilakukan TravelPlus Indonesia.
9. KunangKunang Homestay dekat Kedai KunangKunang (K3) dan Masjid Al-Amin menjadi salah penginapan yang ramai diminati wisatawan yang ingin salat id di Garung.
10. Sebelum dan sesudah salat id di Garung, banyak juga wisatawan yang ngopi dan ngemil santai di K3.
11. Selepas salat id di Garung ataupun mendaki gunung terdekat, sejumlah wisatawan kulineran mie ongklok khas Wobosobo, salah satunya di Mie Ongklok Longkrang.
12. Banyak juga wisatawan yang borong aneka oleh-oleh khas Wobosobo antara lain carica, opak, dan teh purwaceng usai salat id di Garung.
13. Gapura atau gerbang/pintu masuk menuju lapangan Garung yang bertuliskan "Kampung Garung, Tempat Salat Id dengan View Termegah di Dunia" jadi spot buatan yang diminati jemaah/wisatawan untuk foto bersama.
14. Sepenggal video jemaah mengaminkan doa yang disampaikan khatib salat Iduladha 1447 H di Garung.
15. Saya dari TravelPlus Indonesia berfoto berlatar Gunung Sindoro di rooptop Anjani Homestay di Garung usai salat Iduladha 1447 H. (foto: dok.rekan jemaah/wisnus).















0 komentar:
Posting Komentar