Enam Keuntungan Menyaksikan Langsung Seba Baduy 2026
Berdasarkan pengalaman TravelPlus Indonesia meliput langsung Seba Baduy beberapa kali, sekurangnya ada enam keuntungan yang bakal didapat traveler jika melihat langsung tradisi tahunan masyarakat Baduy tersebut.
Keuntungan pertama, traveler bisa menyaksikan sekaligus merasakan betapa tangguhnya orang Baduy berjalan kaki tanpa alas kaki (sandal maupun sepatu) alias nyeker sambil membawa aneka hasil bumi mereka dari titik kumpul dan keberangkatan di Ciboleger (terminal sekaligus pintu masuk ke perkampungan Baduy yang berada di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten) menuju Rangkasbitung, Ibu kota Kabupaten Lebak, tepatnya di Pendopo Bupati Lebak.
Bila traveler berjiwa petualang, berfisik kuat, dan sudah terbiasa atau sering melakukan aktivitas berjalan kaki di luar ruang (outdoor), mungkin bisa saja mengikuti mereka berjalan kaki dari Ciboleger - Rangkasbitung sekaligus untuk mengabadikan mereka, dari tanggal 23-24 April. Tapi ingat jangan sampai mengganggu, karena mereka bukan sekadar berjalan kaki biasa melainkan tengah melakukan tradisi adat yang dipegang kuat sejak dulu.
Dari pengalaman menarik dan cukup menantang tersebut, saya yakin traveler akan sepakat/setuju kalau Baduy amat pantas menyandang predikat sebagai kelompok masyarakat adat (bukan suku) pejalan kaki tanpa alas kaki paling tangguh dan kompak di Indonesia bahkan mungkin dunia.
Cara lain, traveler bisa berjalan kaki dengan mereka hanya beberapa kilometer saja (disesuaikan dengan kemampuan fisik), kemudian disambung naik kendaraan pribadi/sewa (sepeda motor/mobil), mengikuti mereka dari belakang sampai Rangkasbitung. Namun tetap tertib.
Pilihan berikutnya dan ini yang paling santai (tidak terlalu menguras tenaga), traveler bisa menunggu kedatangan mereka mulai dari Jembatan Keong atau juga mulai dari Alun-alun Rangkasbitung dan mengabadikannya sampai menuju Pendopo Bupati Lebak di seberang alun-alun tersebut pada Jumat, 24 April siang sampai sore.
Keuntungan kedua, traveler bisa menyaksikan seru dan nikmatnya babacakan jeung urang Kanekes atau makan bersama dengan orang Baduy peserta Seba Baduy 2026 di Pendopo Bupati Lebak.
Amatan TravelPlus Indonesia, acara makan bersama beralas daun pisang tersebut boleh dibilang menjadi salah satu special moment dalam rangkaian perhelatan Seba Baduy.
Kenapa spesial? Karena babacakan yang digelar ba’da (lepas) salat magrib itu paling ditunggu-tunggu bukan hanya oleh ribuan warga Baduy usai berjalan kaki puluhan kilometer dari kampung-kampung asrinya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, sebelah Utara Kabupaten Lebak ke Rangkasbitung, pun oleh para pejabat, tamu undangan, wisatawan, dan tentu saja sejumlah awak media yang meliput upacara tahunan khas Baduy tersebut. Terlebih di momen tersebut diikuti orang nomor satu Lebak alias bupati Lebak.
Babacakan jeung urang Kanekes pada Seba Baduy 2026 akan berlangsung Jumat, 24 April sesudah magrib sampai selesai di halaman Pendopo Bupati Lebak.
Berikutnya atau keuntungan yang ketiga, traveler bisa melihat langsung orang Baduy baik itu orang Baduy Dalam atau biasa disebut Tangtu, yang mengenakan pakaian putih-putih dan ikat kepala juga putih polos tak bermotif maupun orang Baduy Luar atau bisa disebut Panamping dengan ciri khas berpakaian serba hitam dengan ikat kepala warna biru dan hitam bermotif khas.
Setiap Seba Baduy, jumlah warga Panamping yang ikut biasanya lebih dominan dibanding Tangtu. Ini dikarenakan jumlah Panamping yang tinggal di sejumlah kampung di Desa Kanekes, tepatnya di bagian Barat, Timur, dan Utara dari wilayah Tangtu memang lebih banyak dibanding Tangtu yang hanya menetap di tiga kampung inti Tangtu yakni Cikeusik, Cibeo, dan Cikartawarna.
Faktor lainnya terkait jarak. Warga Tangtu tentu harus menempuh jarak yang lebih panjang dibanding masyarakat Panamping. Mereka harus naik turun lereng dan bukit-bukit Pegunungan Kendeng terlebih dulu atau sekitar 3-4 jam berjalan kaki menuju kampung Baduy Luar, baru kemudian bersama-sama Seba Baduy ke Rangkasbitung yang berjarak berkilo-kilo meter.
Bukan hanya melihat, traveler juga bisa mengabadikannya dari dekat bahkan mengobrol ringan.
Perlu diingat, tidak semua orang Baduy Dalam maupun Luar cakap berbahasa Indonesia. Hanya kalangan tertentu saja yang bisa dan biasanya yang sering melakukan perjalanan niaga (berdagang) madu dan kerajinan khas Baduy di sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Rangkasbitung, dan daerah lainnya sehingga mereka mau tak mau sering mendengar dan atau berkomunikasi dengan orang luar dan akhirnya lama-lama bisa berbahasa Indonesia.
Satu lagi yang perlu diingat, orang Baduy umumnya pendiam alias tak banyak bicara dan bertingkah berlebihan saat makan, berjalan maupun berbicara dengan orang lain. Mereka tidak berbicara berlebihan apalagi bercanda. Mereka juga masyarakat adat yang berpenampilan bersahaja (sedehana), bisa dilihat dari cara berpakaian mereka yang simpel.
Semua itu bukanlah kekurangan tapi justru menjadi kelebihan mereka lantaran semakin membuat mereka nampak begitu spesial, unik, menarik, dan tentunya mengundang rasa keingintahuan banyak orang.
Keuntungan keempat, traveler bisa membeli aneka produk kerajinan, makanan, dan oleh-oleh khas Baduy baik yang dibawa oleh orang Baduy yang ikut Seba Baduy 2026 maupun di deretan stan di sekitaran Alun-alun Rangkasbitung.
Keuntungan kelima, traveler bisa memyaksikan pula bermacam kegiatan yang dibuat panitia Seba Baduy 2026 antara lain sarasehan budaya Baduy di panggung utama, pembukaan kemah budaya, perlombaan permainan tradisional, dan opening ceremony pada Kamis (23/4) mulai pagi sampai malam.
Bisa juga melihat acara pelepasan warga Baduy menuju Serang pada Sabtu, 25 April pukul 6 pagi di Alun-alun Rangkaslbitung dan sederet acara lainnya.
Untuk info detail rundown acara Seba Baduy 2026 dari Kamis s/d Minggu (23-26 April), bisa traveler lihat dari unggahan di akun Instagram (IG) resmi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Lebak @disbudparlebak.
Terakhir atau keuntungan yang keenam, traveler bisa membuat bermacam konten seperti video, tulisan, foto maupun vlog terkait Seba Baduy hasil amatan langsung untuk ditayangkan di ragam medsos maupun youtube sehingga bisa bertambah koleksi konten budayanya sekaligus turut menggaungkan Seba Baduy secara lebih komplet.
Seba Baduy bukan sekadar menjalankan kearifan lokal urang Kanekes tapi sekaligus sudah menjadi salah satu daya tarik wisata atau acara budaya unggulan bagi Kabupaten Lebak bahkan Provinsi Banten.
Kenapa TravelPlus Indonesia bisa bilang begitu? Karena Seba Baduy mampu menjaring sekaligus menambah kunjungan wisatawan ke Lebak maupun Banten, terutama wisatawan lokal (wislok) dan wisatawan nusantara (wisnus).
Berkat acara budaya tahunan ini, nama Baduy pun semakin mengangkasa dan akhirnya semakin banyak traveler dari luar Banten yang kepincut untuk bertandang langsung ke wilayah Baduy, baik Panamping maupun Tangtu.
Buktinya, terpantau setiap akhir pekan mulai dari Jumat dan Sabtu banyak travelers dalam small group (kelompok kecil terdiri atas 5-10 orang) maupun big group (kelompok besar/rombongan di atas belasan orang) yang menjadikan Stasiun Rangkasbitung sebagai tikum (titik kumpul) menuju Baduy Luar maupun Baduy Dalam.
Ayo ramai-ramai lihat langsung Seba Baduy 2026 di Rangkasbitung bareng TravelPlus Indonesia. Setelah itu masukkan Baduy sebagai destinasi wisata alam dan budaya Anda berikutnya🙏.
Naskah, foto & video: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Captions:
1. Orang Baduy atau urang Kanekes adalah komunitas masyarakat adat yang pantas menyandang predikat para pejalan kaki tanpa alas kaki paling tangguh dan kompak di Indonesia bahkan mungkin dunia.
2. Deretan kaki orang Baduy yang terbiasa jalan jauh tanpa alas kaki (nyeker) dan di depannya orang kota berdiri lengkap dengan sepatunya.
3-6: Seba Baduy yang pernah TravelPlus Indonesia liput beberapa kali.
7. Video sejumlah wisnus tengah berwisata dan bersantap di salah satu rumah orang Baduy Luar.

.jpg)





0 komentar:
Posting Komentar