Sosok Prosper di Mata Perempuan pada Masa Keemasan Bertualang
Supaya lebih komplet, tulisan kedua gue masih tentang Prosper ini memuat pendapat/persepsi/tanggapanlpeniilaian beberapa perempuan mengenai sosok yang dalam tulisan pertama kemarin, gue sebut "Sang Petualang di Atas Rata-Rata dari TAPAL" .
Tentu saja perempuan-perempuan yang gue maksud di sini adalah perempuan-perempuan yang sewaktu masih kuliah pada era tahun 90-an bukan hanya berstatus mahasiswi pun anggota dari organisasi mahasiswa pencinta alam (Ompa) TAPAL di IISIP Jakarta, tempat mereka, Prosper, dan gue kuliah dulu.
Mereka yang gue kontak lewat WA ini, rata-rata mengenal baik Prosper dan sering juga mengikuti sederet aktivitas luar ruang (outdoor activities) bermuatan petualangan bersama Prosper, seperti mendaki gunung, susur pantai, jelajah hutan, dan lainnya.
Sekurangnya ada lima perempuan yang gue pilih untuk mengetahui pendapatnya masing-masing mengenai sosok Prosper yang mereka kenal semasa keemasan bertualang.
Kelima perempuan itu, terdiri atas empat perempuan yang pernah bertualang bareng Prosper, gue, dan lainnya ke Taman Nasional (TN) Ujung Kulon di Kabupaten Pandeglang, Banten pada tahun 1992 selama sekitar sepekan, yaitu Irma, Santa, Anisti, dan Wina.
Satu perempuan lagi, meminta gue untuk tidak menyebut nama, status, dan tempat kuliahnya. Untuk keperluan tulisan ini, gue memakai nama samarannya "Jelita".
Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1985 ini, Prosper yang berdarah Batak dan pernah hilang di daerah pedalaman dayak, Kalimantan itu, orangnya low profile, bijaksana, sedikit bicara tapi banyak bekerja dalam setiap kegiatan petualangan.
"Bertualang dengan dia, gue berasa aman banget, nggak takut nyasar," ungkapnya.
Prosper juga sering menjadi penyemangat anggota TAPAL dan simpatisan untuk terus bertualang.
"Dia selalu memotivasi kita untuk terus bertualang seperti mengunjungi gunung yang belum pernah kita daki atau daerah/pulau yang belum pernah kita jelajahi," terang perempuan berdarah Aceh ini.
Dimata Irma, sosok Prosper adalah seorang petualang sejati yang tidak punya naluri takut. "Kalau lagi jelajah hutan yang jarang dijamah pendaki, dia berada paling depan membuka jalan dengan golok dan keberaniannya," tambahnya lagi.
Di luar petualangan, ada satu hal yang paling diingat Irma tentang Prosper dan ini boleh dibilang aneh. "Dia (Prosper) nggak mau bikin KTP. Katanya kalau punya KTP dan dia mati nanti malah nyusahin orang," ungkap Irma.
Lain lagi dengan Santa. Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1990 berdarah Batak ini, Prosper sosok petualang yang memiliki keunikan tersendiri.
"Sebagai manusia biasa, tentu dia ada plus minus-nya. Namun bagi gue, Prosper itu merupakan guru petualangan di alam," ungkapnya singkat.
Anisti atau yang akrab disapa Ithink juga punya tanggapan tersendiri. Menurut anggota TAPAL angkatan kuliah 1990 ini Prosper itu orang yang baik, tulus, dan mau berkorban apapun untuk teman-temannya.
"Dia petualang sejati dan sebenarnya punya cita cita yang tinggi," terangnya.
Begitupun dengan Wina yang biasa dipanggil Wince. Menurut anggota TAPAL, juga kuliah di IISiP angkatan 1990 ini, Prosper itu baik walau 'batu: maksudnya cuek.
"Kayaknya dia tuh orang yang nggak ada susahnya. Enjoy terus," ungkapnya.
"Satu lagi, dia kayaknya kebal. Waktu di gunung, pacet aja males nempel ke badannya😂," beber Wina seraya tertawa.
Kalau lagi bertualang, Prosper itu sosok abang yang perhatian sama adik-adiknya. "Misalnya kalau gue lagi ogah makan, dia yang ngingetin supaya isi perut biar nggak sakit. Mungkin karena gue kurus ya waktu itu hehehe," terang perempuan berdarah Minang ini.
Ketika gue tanya "Kalau Prosper masih ada, kira-kira TAPAL bakal masih "berdenyut" kayak dulu nggak ya?". Jawab Wina bisa jadi. "Asal ada regenerasi dan manajemen keorganisasiannya dibenahi," pungkasnya.
Perempuan kelima atau terakhir yang gue WA seperti tercantum di atas, gue kasih nama samarannya "Jelita".
Menurut Jelita, Prosper itu sosok petualang yang baik dan bertanggung jawab. "Dia kerap mengorbankan dirinya untuk keselamatan dan kenyamanan orang lain saat bertualang," akunya.
Secara fisik dan penampilan, Prosper itu memang kelihatan sangar. " Tapi dibalik itu, dia orangnya pemalu dan sangat romantis hehehe," ujarnya.
Berdasarkan pengakuan Jelita, Prosper pernah mengungkapkan rasanya kepada Jelita yang lebih dari sekadar abang. Tapi waktu itu Jelita tidak membalas/menerimanya, juga tidak pula menolaknya.
"Sebenarnya gue juga sayang sama dia tapi gue nggak yakin, salah satu penyebabnya karena terhalang perbedaan keyakinan," ungkap Jelita.
Prosper juga pernah mengirm surat lewat kartu pos berwarna kuning ke rumah Jelita. Surat terakhir itu sampai di rumahnya sehari sebelum kejadian nahas yang merenggut nyawa Prosper di Lumajang, kaki Gunung Semeru tahun 1995.
Dalam surat itu, Prosper mengatakan sebenarnya dia ingin hidup bersama Jelita tapi karena sadar itu tidak mungkin tercapai, dia terpaksa pergi meninggalkan Jakarta untuk selamanya.
"Katanya dia mau tinggal di satu pulau tapi nggak menyebutkan nama pulaunya. Di ujung suratnya itu, Prosper pamitan dan menulis kata-kata "peluk sayang terakhir untuk gue"," terang Jelita.
Usai membaca surat itu, Jelita mengaku kaget, shock, dan bingung. "Gue sampe nangis sendirian di kamar," bebernya.
Menurut Jelita semua yang diutarakannya itu, selama ini dia simpan rapat-rapat dan hanya menjadi rahasia pribadi. "Dan baru kali ini gue ceritain semua sama elu," pungkasnya.
Mendapat isi WA yang panjang dan mendalam dari Jelita, jujur gue agak terkejut juga. Sejauh ini gue mengira Prosper cuma dekat dan terlihat intens mendekati Ithink. Dan teman-teman yang lain juga menduga hubungan Prosper dan Ithink waktu itu, lebih dari sebatas abang-adik alias pacaran.
Tapi sayang, kodrat atau takdir tidak bisa diubah. Prosper lebih dulu meninggalkan adik-adiknya, teman-teman dekatnya, dan orang yang dicintainya untuk selamanya, sebelum semua cita dan cintanya benar-benar terwujud.
Buat Prosper, terima kasih sudah menjadi rekan petualangan yang baik dengan begitu banyak kelebihannya dibanding kekurangannya. Damai dan bahagia selamanya di sana, di sisi-Nya 🤲.
Terima kasih pula untuk Irma, Santa, Ithink, Wina, dan "Jelita" yang sudah berbagi cerita tentang sosok Prosper.
Saat ngobrol tentang sosok Prosper dengan lima perempuan tersebut, seketika gue terinspirasi bikin 2 lagu bertajuk "Tak Bisa Lupa" dan "Romansa Lama".
Ini lirik lagu "Tak Bisa Lupa*:
🎶... Bertukar cerita
Tentang sosok dia
Lewat pesan WA
Jadi lagu & tulisan
Ternyata ada
Setangkup rasa
Tersimpan rapat
Kini terungkap
Mendaki gunung
Jelajah hutan
Sewaktu muda
Semasa gagah
Memori indah
Tak bisa lupa ... 🎶
Berikutnya lirik lagu "Romansa Lama":
🎶... Ada rasa diantara kisah
Ada cinta warnai cerita
Saat muda kala berkelana
Bertualang kemana-mana
Kini terkuak semua
Romansa lama terindah
Slama ini tak diungkap
Disimpan rapat
Dia yang dulu mendekat
Bilang suka, ungkap cinta
Tak dibalas, tak ditolak
Dia pergi tak pernah kembali ... 🎶.
Sehat-sehat terus ya semua, panjang usia, dan penuh kebermanfaatan🙏.
Naskah: Adji TravelPlus, IG @adjitropis , Tiktok @FaktaWisata.id & YouTube @kelana180
Captions:
1-7 : Prosper saat bertualang: mendaki gunung, susur pantai, jelajah hutan, trekking ke air terjun, dan menyambangi pulau bersama anggota dan simpatisan Ompa TAPAL, serta ketika berada di Kampus Tercinta, IISIP - Jakarta. (foto-foto: dok.irma/tapal)
8. Anisti (Ithink), Santa, Irma, Wayank, gue (rompi biru), Gusur, Ubay & Wina (Wince) yang mengenal baik Prosper dan pernah bertulang bareng ke Ujung Kulon dll. (foto: dok.halbil tapal 2024)









0 komentar:
Posting Komentar